• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebun Raya Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebun Raya Bogor"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kebun Raya Bogor

KRB pada mulanya merupakan bagian dari 'samida' (hutan buatan atau taman buatan) yang paling tidak telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, 1474-1513) dari Kerajaan Sunda, sebagaimana tertulis dalam prasasti Batutulis. Hutan buatan itu ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih-benih kayu yang langka.

Oleh karenanya sejak Reinwardt tiba di Indonesia pada tahun 1816 dia melihat setidaknya terdapat satu instansi botani yang sebenarnya sudah berjalan yang berkedudukan di Bogor (Goss 2004).

Goss (2004) menerangkan ketika Hasskarl datang ke Bogor tahun 1817 dia melihat kebun sebagai taman yang cantik namun tidak ada sentuhan sains. Sejak itu Hasskarl mentransformasi kebun raya dari taman kantor gubernur jenderal menjadi instansi yang didedikasikan untuk menginterpretasikan alam daerah kolonisasi dan sebagai pusat pengetahuan alam. Reinwardt mendapatkan wewenang untuk mengurus sains dan pertanian di daerah koloni Belanda ini untuk segera menjawab tugasnya antara lain mengumpulkan informasi tentang flora yang memiliki manfaat ekonomi. Sejak awal abad 20 instansi biologi pemerintahan kolonial Belanda diidentikkan dengan KRB.

KRB saat ini merupakan suatu kawasan konservasi ex situ yang mengoleksi berbagai spesies tumbuhan yang ditata dalam tatanan arsitektur lanskap.

Tumbuhan koleksinya diutamakan berasal dari Indonesia, yang dimanfaatkan sebagai tempat penelitian, pendidikan lingkungan dan rekreasi. Koleksi KRB dicatat di Bagian Registrasi agar menjadi jelas asal usul tumbuhan tersebut (Yuzammi et al. 2006).

Secara umum masyarakat mengenal kebun raya sebagai tempat rekreasi alam, namun sebenarnya fungsi kebun raya bukan sekedar tempat rekreasi. Ruang lingkup tugas dan fungsi Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor (PKT- KRB), LIPI diuraikan dengan jelas dalam Keputusan Presiden RI Nomor 103 tahun 2001 serta Keputusan Ketua LIPI Nomor 1151/M/2001 (LIPI 2002).

Adapun tugas KRB diuraikan sebagai berikut:

(2)

Melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, pemberian bimbingan teknis, penyusunan rencana dan program, pelaksanaan penelitian bidang konservasi ex situ tumbuhan tropika serta evaluasi dan penyusunan laporan.

Sedangkan fungsi PKT-KRB adalah:

1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan bidang konservasi ex situ tumbuhan tropika.

2. Penyusunan pedoman, pembinaan, dan pemberian bimbingan teknis penelitian bidang konservasi ex situ tumbuhan tropika.

3. Penyusunan rencana dan program pelaksanaan penelitian bidang konservasi ex situ tumbuhan tropika.

4. Pemantauan pemanfaatan hasil penelitian bidang konservasi ex situ tumbuhan tropika.

5. Pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi bidang konservasi ex situ tumbuhan tropika.

6. Evaluasi dan penyusunan laporan penelitian bidang konservasi ex situ.

7. Pelaksanaan urusan tata usaha.

Sementara itu secara global misi kebun raya di dunia sebenarnya adalah (International Agenda Botanic Gardens in Conservation):

1. Mencegah kehilangan spesies dan keanekaragaman genetik tumbuhan.

2. Mencegah degradasi lingkungan alam.

3. Meningkatkan pemahaman masyarakat akan nilai penting tumbuhan dan ancaman yang dihadapinya.

4. Meningkatkan manfaat alam lingkungan.

5. Mempromosikan dan menjamin pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan.

Dari tugas dan fungsi serta misi secara global di atas maka dapat disimpulkan pada hakekatnya terdapat 4 fungsi utama dari suatu kebun raya, yaitu:

1. Fungsi konservasi, yaitu melestarikan representasi keanekaragaman tumbuhan secara ex situ untuk menjadi back up yang penting dan sumber pemulihan jenis-jenis tumbuhan terancam kepunahan serta lahan-lahan terdegradasi.

(3)

2. Fungsi penelitian, yaitu melaksanakan dan memfasilitasi berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang botani, konservasi, hortikultura dan pemanfaatan tumbuhan.

3. Fungsi pendidikan, yaitu menyajikan informasi yang jelas dan memberikan kemudahan bagi pengunjung untuk meningkatkan pengetahuan di bidang botani, konservasi, lingkungan, budidaya dan pemanfaatan tumbuhan, serta mampu merangsang tumbuh-kembangkan kesadaran, kepedulian, tanggungjawab dan komitmen masyarakat terhadap pelestarian sumberdaya hayati.

4. Fungsi rekreasi, yaitu mampu menciptakan suasana yang nyaman, aman, menyegarkan dan inspiratif untuk mendukung kehidupan sosial kemasyarakatan yang lebih baik.

2.2. Tumbuhan Obat

Sepanjang sejarah kehidupan manusia, tumbuhan obat merupakan kebutuhan utama di alam sehingga sangat dekat hubungan antara manusia dengan pengembangan botani dan pengetahuan tumbuhan obat (Shan-an and Zhong-ming 1991). Tumbuhan obat telah berabad-abad didayagunakan oleh bangsa Indonesia dalam bentuk jamu untuk memecahkan berbagai masalah kesehatan yang dihadapinya dan merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia yang perlu dipelihara dan dilestarikan. Pengetahuan tentang obat tumbuh-tumbuhan asli Indonesia dan cara pemakaiannya diperoleh hanya dengan melihat dan mendengar belaka dari orang tuanya. Sementara di luar negeri pengobatan dengan tumbuh- tumbuhan itu oleh beberapa pihak dianjurkan secara kuat dan meyakinkan (Sastroamidjojo 1997).

Tumbuhan obat didefinisikan sebagai jenis tanaman yang sebagian, seluruh tanaman dan atau eksudat tanaman tersebut digunakan sebagai obat, bahan, atau ramuan obat-obatan. Ahli lain mengelompokkan tumbuhan berkhasiat obat menjadi tiga kelompok (Siswanto 2004), yaitu:

1. Tumbuhan obat tradisional merupakan spesies tumbuhan yang diketahui atau dipercayai masyarakat memiliki khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional.

(4)

Pengertian obat tradisional berdasarkan UU RI No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan pasal 1 menyebutkan bahwa: Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dan bahan-bahan tersebut, yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

2. Tumbuhan obat modern merupakan spesies tumbuhan yang secara ilmiah telah dibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan secara medis.

3. Tumbuhan obat potensial merupakan spesies tumbuhan yang diduga mengandung atau memiliki senyawa atau bahan bioaktif berkhasiat obat tetapi belum dibuktikan penggunaannya secara ilmiah-medis sebagai bahan obat.

Sedangkan Departemen Kesehatan RI mendefinisikan tanaman obat Indonesia seperti yang tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.149/SK/Menkes/IV/1978, yaitu:

1. Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional atau jamu.

2. Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pemula bahan baku obat (precursor).

3. Tanaman atau bagian tanaman yang diekstraksi dan ekstrak tanaman tersebut digunakan sebagai obat.

Selanjutnya berdasarkan keputusan Kepala Badan POM RI No.

HK.00.05.4.2411 tentang ketentuan pokok pengelompokan dan penandaan obat bahan alam Indonesia, obat tradisional dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka (Suharmiati dan Handayani 2006). Obat alami didefinisikan sebagai sediaan obat, baik berupa obat tradisional, fitofarmaka dan farmasetik, berupa simplisia (bahan segar atau yang dikeringkan), ekstrak, kelompok senyawa atau senyawa murni

Organisasi kesehatan dunia memperkirakan sekitar 400 juta orang di dunia percaya akan obat herbal dan 25% resep-resep pengobatan didasarkan pada bahan-bahan obat yang berasal dari tumbuhan (Rai et al. 2000). Sementara itu saat ini diperkirakan lebih dari 50.000 spesies tumbuhan tingkat tinggi di dunia digunakan untuk keperluan obat dan 15.000 spesies tumbuhan obat secara global

berasal dari alam (Helmi 2008).

(5)

mengalami ancaman diakibatkan kehilangan habitat, pemanenan berlebihan untuk perdagangan, tekanan jenis-jenis invasif dan pencemaran (Hamilton 2008).

Peran tumbuhan obat menurut Schopp-Guth and Fremuth (2001) sangat penting dalam bidang biologi dan ekologi yaitu sebagai pondasi dimana tumbuhan obat memberikan akses keterlibatan masyarakat dalam konservasi di habitat alaminya. Dalam kata lain keterkaitan tumbuhan obat dengan manusia cukup besar dalam mengatur dan menentukan konservasi serta pemanfaatan tumbuhan secara berkelanjutan.

2.3. Kriteria Kelangkaan dan Prioritas Konservasi

IUCN telah mengatur kriteria yang tepat untuk mengevaluasi risiko kepunahan ribuan spesies dan subspesies. Tujuannya adalah untuk menyampaikan urgensi isu-isu konservasi kepada publik dan pembuat kebijakan, serta membantu komunitas internasional untuk mencoba mengurangi kepunahan spesies. (IUCN 2010).

1.

Berdasarkan kriteria IUCN tahun 2008 (IUCN 2010) spesies diklasifikasikan ke dalam sembilan kelompok, didasarkan pada tingkat penurunan dan ukuran populasi, wilayah distribusi geografis, dan derajat fragmentasi populasi. Sembilan kriteria tersebut adalah sebagai berikut:

2.

Punah (EX) - tidak ada individu yang tersisa.

3.

Punah di alam (EW) - dikenal hanya untuk bertahan hidup di penangkaran, atau sebagai populasi naturalisasi di luar jangkauan bersejarah.

4.

Kritis (CR) – resiko kepunahan ekstrim di alam liar dalam waktu dekat.

5.

Genting (EN) - risiko kepunahan sangat tinggi di alam liar.

6.

Rawan (VU) - risiko kepunahan tinggi di alam liar.

7.

Hampir terancam (NT) - kemungkinan menjadi langka dalam waktu dekat.

8.

Risiko rendah (LC) - tidak memenuhi syarat untuk kategori risiko punah. Taksa menyebar luas dan melimpah termasuk dalam kategori ini.

9.

Data belum mencukupi (DD) - tidak cukup data untuk membuat penilaian risiko kepunahan.

Belum dievaluasi (NE) - belum dievaluasi terhadap kriteria

(6)

Berdasarkan kriteria kelangkaan tersebut di atas, Red list IUCN tumbuhan Indonesia tercatat 740 spesies di antaranya 204 termasuk kategori rawan, 70 genting, dan 112 kritis (IUCN 2010). Kelangkaan menurut versi Nature Serve Conservation (2010) meliputi ukuran populasi (untuk spesies), luas penguasaan daerah, luas penghunian, jumlah kemunculan (populasi yang berbeda), jumlah kemunculan atau persentase area dengan viabilitas yang baik, dan spesifisitas lingkungan.

Beberapa spesies tumbuhan obat dinyatakan langka serta terancam kepunahan. Di Indonesia, kegiatan eksploitasi hutan, konversi hutan dan pemanfaatan lahan hutan oleh masyarakat, serta pengambilan tumbuhan obat dengan tidak mempertimbangkan aspek kelestarian dapat dipandang sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi kelestarian dan penurunan populasi tumbuhan obat, sehingga secara tidak disadari kelangkaan spesies tumbuhan obat terus meningkat (Herlina 2010). Hasil penelitian Hidayat (2006) beberapa sebab kelangkaan tumbuhan obat di alam antara lain adalah:

Namun demikian untuk menetapkan prioritas konservasi tidak hanya didasarkan kepada kriteria kelangkaan tetapi juga faktor lainnya seperti ekonomi, politik, dan sosial (Risna et al. 2010).

1. Penebangan liar 2. Diversifikasi lahan 3. Pemanenan langsung

4. Pemakaian bagian tertentu tumbuhan secara berlebihan 5. Populasi hidup mengelompok

6. Pemanfaatan tumbuhan multiguna 7. Sedikit menghasilkan anakan 8. Struktur populasi tidak seimbang 9. Bencana alam

Meelis et al. (2004) menyatakan bahwa penyebab kelangkaan tumbuhan obat dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu kelangkaan secara alami dan kelangkaan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia yang tidak sesuai dengan kaidah ekologi/lingkungan. Noerdjito dan Maryanto (2005) menyatakan bahwa penyebab utama kepunahan adalah perburuan dan perdagangan yang tidak

(7)

terkendali dari spesies langka serta kerusakan habitat yang diakibatkan oleh kegiatan manusia.

Ironisnya pengetahuan yang tersedia mengenai tumbuhan obat di lembaga- lembaga konservasi masih sangat kurang. Hal ini merupakan tantangan utama dalam prioritas kegiatan konservasi dan dalam rangka menjamin pemanfaatan tumbuhan yang berkelanjutan. Di antara berbagai permasalahan dalam penelitian, pendugaan keberadaan tumbuhan obat dan ancaman potensialnya butuh perhatian utama (Dhar et al. 2000). Menurut Hamilton (2008) kajian potensi dan pemanfaatan berkelanjutan tumbuhan obat saat ini merupakan kunci untuk pelestarian di seluruh habitatnya. Pernyataan ini mengantisipasi kenyataan banyak lembaga konservasi di dunia saat ini terfokus pada kegiatan yang berhubungan dengan sumberdaya genetika tumbuhan khususnya pada tumbuhan pangan dan tumbuhan obat liar, namun sangat kurang aplikasi pemanfaatannya (Meilleur and Hodgkin 2004). Dalam kaitan ini Kala (1999) memperkirakan dalam 50 tahun ke depan hampir 50% spesies tumbuhan tingkat tinggi di dunia akan mengalami kepunahan.

Diperlukan program pemulihan spesies terancam dan langka diakibatkan meningkatnya konsumsi terhadap sumberdaya seperti obat-obatan. Bahkan peningkatan perhatian kehilangan keanekaragaman hayati perlu menjadi trend dalam program pemulihan spesies (Kerkvlieta and Langpapc 2007). Pada dekade ini, dengan meningkatnya kepedulian terhadap resiko kepunahan dan kehilangan variasi genetika, pusat konservasi ex situ dan in situ, secara terwakili telah berkembang di belahan dunia dengan tujuan umum adalah menyelamatkan tumbuhan, keanekaragaman gen, dan membuatnya selalu tersedia dan siap untuk dimanfaatkan (Barazani et al. 2008). Sebagian besar tumbuhan (selain serealia dan kacang-kacangan) memiliki biji non ortodoks atau berbiak secara vegetatif, sehingga metode pelestarian yang sesuai adalah kebun koleksi (Leunufna 2007).

2.4. Pengertian Konservasi

Konservasi berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have) secara bijaksana

(8)

(wise use). Secara tertulis ide ini pertama kali dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) seorang Amerika. Sebenarnya jauh sebelum itu konservasi dalam pelaksanaannya telah dimulai di Asia. Raja Asoka (252 SM) di India mengumumkan bahwa perlu dilakukan perlindungan terhadap binatang liar, ikan dan hutan. Sedangkan di Inggris, Raja William I (1804 M) pada saat itu telah memerintahkan para pembantunya untuk mempersiapkan sebuah buku berjudul Doomsday Book yang berisi inventarisasi dari sumber daya alam milik kerajaan

yang digunakan sebagai dasar untuk membuat perencanaan rasional bagi pengelolaan dan pembangunan negaranya (Mackinnon 1993).

Dalam UU RI No 5 tahun 1990 Konservasi sumber daya alam hayati didefinisikan sebagai pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Menurut Bari dan Supriatna (1999), konservasi muncul karena adanya kekhawatiran terjadinya kepunahan. Konservasi ini diartikan oleh para ahli sebagai kebijaksanaan dan program jangka panjang untuk mempertahankan komunitas alami dalam kondisi yang memungkinkan berlangsungnya evolusi.

Konservasi tumbuhan mengandung pengertian manajemen penggunaan oleh manusia atas tumbuhan sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan keuntungan optimal yang berkelanjutan bagi generasi masa kini pada saat yang bersamaan harus memelihara potensi-potensinya untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi generasi mendatang. Konservasi tumbuhan tidak hanya bermakna perlindungan tumbuhan dari ancaman kepunahan, tetapi juga mengandung pengertian jaminan keberlanjutan pemanfaatannya bagi peningkatan kesejahteraan manusia sebagai modal dasar pembangunan (Basuki et al. 1999).

Pikiran yang salah tentang konservasi adalah anggapan bahwa masalah konservasi adalah masalah teknis/ilmiah semata. Pengalaman Indonesia dan negara-negara lain menunjukkan bahwa konservasi bukanlah semata-mata masalah teknis/ilmiah melainkan masalah yang kompleks meliputi masalah teknis, ilmiah, ekonomi, dan sosial (Suhirman 2001).

Ada dua metode utama untuk mengkonservasi biodiversitas, yaitu konservasi in situ (dalam habitat alaminya) dan konservasi ex situ (di luar habitat

(9)

alaminya). Menurut Zuhud et al. (dalam Herlina 2010) tujuan konservasi ex situ adalah a) untuk diintroduksi kembali ke habitat aslinya, b) untuk kegiatan pemuliaan dan c) untuk tujuan penelitian dan pendidikan. Prioritas konservasi ex situ diberikan untuk spesies yang habitatnya telah rusak atau tidak dapat

diamankan lagi. Konservasi ex situ juga harus digunakan untuk meningkatkan spesies lokal yang hampir punah menjadi tersedia kembali di alam.

Konservasi ex situ tidak selalu secara tegas dapat dipisahkan dari konservasi in situ. Sebagai contoh adalah konservasi tumbuhan obat yang membutuhkan dua

metode konservasi secara terpadu (integrated). Keterikatan secara khusus konservasi tumbuhan obat dengan sistem budaya, mata pencaharian dan perekonomian memberikan peranan penting dalam kehidupan manusia. Berjuta- juta orang di dunia telah menggunakan herbal obat, sementara berjuta-juta orang lainnya telah mendapatkan penghasilan dari pemanenan secara alam maupun hasil budidaya tumbuhan obat, atau terlibat langsung dalam perdagangan dan proses- prosesnya. Tumbuhan obat secara signifikan telah menjadi lambang kemakmuran di beberapa sistem budaya, dan seringkali dijadikan sebagai sumber kekuatan.

(Hamilton 2009).

2.5. Masyarakat Terkait Tumbuhan Obat

Penggunaan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam bidang pengobatan adalah suatu seni yang sama tuanya dengan sejarah peradaban umat manusia (Waluyo 2009). Zuhud (2009) bahkan mengatakan ramuan jamu atau obat tradisional berkembang bukan atas landasan saintifik gaya ilmu farmasi barat, tetapi sepenuhnya atas dasar empiris yang teruji melalui trial dan error secara turun menurun. Pengetahuan masyarakat akan tumbuhan obat tertentu juga dapat ditelusuri dengan nama-nama yang dijadikan nama kampungnya. Di Kabupaten Bogor tidak kurang dari 20 kecamatan dan 100 desa memakai nama tumbuhan sebagai nama kampungnya, sebagian di antaranya adalah nama tumbuhan obat (Hidayat 2009).

(10)

2.5.1. Masyarakat umum

Meskipun bangsa Indonesia sejak dahulu kala hidup di tengah-tengah kekayaan sumber daya alam, akan tetapi sejarah juga mencatat bahwa kebanyakan tanaman perdagangan berasal dari negara lain. Seiring dengan kemajuan zaman dan toleransi masyarakat terhadap invasi kebudayaan luar menyebabkan secara perlahan banyak sekali spesies tumbuhan asing yang telah melebur dalam kehidupan sehari-hari (Waluyo 2009). Terlebih lagi potensi ekonomi cukup besar di sektor obat herbal ini. Pasar obat herbal Indonesia pada 2003 sebesar Rp 2,5 triliun, dan meningkat menjadi Rp 8 triliun-Rp 10 triliun pada 2010.

Pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat sebenarnya sudah lama seperti di berbagai daerah dengan tradisinya dan juga adanya TOGA, namun menurut Damayanti et al. (2009) dengan masuknya program kesehatan dari pemerintah yang berkiblat ke pengobatan modern, kemandirian masyarakat akan kesehatan masing-masing semakin menurun. Menurut Suharmiati dan Handayani (2006) program Toga sebenarnya lebih mengarah kepada self care untuk menjaga kesehatan anggota keluarga serta untuk menangani penyakit ringan. Meskipun pengobatan modern berkembang pesat, namun menurut Padua et al. (1999) tumbuhan obat masih merupakan hasil hutan non kayu yang bernilai penting dan menjadi prioritas serta isu konservasi di masyarakat.

2.5.2. Masyarakat industri obat/jamu

Pada awalnya tumbuhan obat hanya dikonsumsi langsung dalam bentuk segar, rebusan, atau racikan. Pada perkembangannya tumbuhan obat dikonsumsi lebih praktis dalam bentuk pil, kapsul, sirup, atau kaplet dan diproduksi dalam skala industri yang memiliki teknologi modern (Siswanto 2004). Industri jamu adalah industri yang memiliki aspek ekonomi, sosial dan budaya. Segala spesies bahan baku yang digunakan industri jamu 98% berasal dari dalam negeri dan sisanya saat ini sudah berhasil dibudidayakan. Industri jamu banyak memberi manfaat karena melibatkan ratusan ribu petani, melibatkan para peneliti di bidang pertanian, teknologi pangan, bioteknologi, farmakognosi, farmakologi, serta kimia.

(11)

Jumlah industri obat tradisional di Indonesia terus mengalami peningkatan.

Pada tahun 1997 baru 449 industri yang terdiri dari 429 industri kecil obat tradisional (IKOT) dan 20 industri obat tradisional (IOT), sepuluh tahun kemudian tepatnya pada tahun 2008 telah menjadi 1166 industri terdiri dari 1037 IKOT dan 129 IOT (Balittro 2010). Dengan meningkatnya jumlah industri dan produksi obat tradisional secara langsung meningkatkan penggunaan bahan baku tumbuhan obat.

2.5.3. Masyarakat praktisi obat tradisional

Praktisi obat tradisional atau pengobat tradisional merupakan ujung tombak untuk masyarakat di sekitarnya yang sangat berpengaruh dalam menghadapi berbagai masalah kesehatan. Pengobat tradisional seperti tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 1076 2003 dikelompokkan menjadi empat yaitu (1) kelompok pengobat tradisional ramuan, (2) pengobat tradisional keterampilan, (3) pengobat tradisional supranatural, dan (4) pengobat tradisional berdasar pada kaidah agama (Pudjiastuti 2009).

Pengobat tradisional di Indonesia sering diidentikkan dengan dukun. Pada umumnya mereka berpendirian bahwa ilmu pengobatan yang suci ini sekali-kali tidak boleh diumumkan kepada khalayak ramai, sehingga belum pernah disiarkan karangan tentang pengetahuan mereka yang memenuhi syarat ilmiah (Sastroamidjojo 1997). Pada kenyataannya di Indonesia dukun memegang peran penting dalam penanganan kesehatan pertama di berbagai wilayah pedesaan (Padua et al. 1999).

2.5.4. Masyarakat peneliti

Selain pengobat tradisional secara formal saat ini sudah ada beberapa rumah sakit di Indonesia yang sudah menggunakan herbal sebagai pengobatan. Beberapa rumah sakit itu adalah RS Persahabatan Jakarta, Pusat Kanker Nasional Dharmais Jakarta, RS Sardjito Yogyakarta, RS Karyadi Semarang, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Dr Sutomo Surabaya, RS Syaiful Anwar Malang, RSAL Mintohardjo Jakarta, RS Pirngadi Medan, RS Kandou Manado, RS Sanglah Bali, RS Holistic Tourism Hospital Purwakarta dan RS Wahidin Sudirohusodo

(12)

Makassar. Obat tradisional dari tumbuhan mulai mendapat perhatian yang layak dari dunia penelitian kedokteran sejak masuknya bala tentara Jepang ke Indonesia yang menyebabkan persediaan obat menipis (Sastroamidjojo 1997).

Penelitian tumbuhan obat telah berlangsung di Indonesia lebih dari 50 tahun. Penelitian ditekankan pada sample koleksi, inventarisasi, etnobotani, bioteknologi, agronomi, kandungan kimia, skrining farmakologi dan toksikologi, standardisasi produksi, formulasi dan konservasi (Padua et al. 1999).

Upaya pendekatan penyelamatan sumberdaya genetika tumbuhan melalui pola kolaboratif dan partisipatif merupakan alternatif untuk menjawab tantangan konservasi. Semua ini tentu saja didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat memiliki kepentingan dan keterkaitan dengan sumberdaya alam di sekitarnya. Di sisi lain, masyarakat cenderung akan mau memberikan komitmen jangka panjang dalam upaya konservasi sumberdaya genetika tumbuhan di Indonesia. Komitmen itu tidak saja muncul tanpa adanya kepastian akses manfaat dan akses kepada proses pengambilan kebijakan dalam upaya penyelamatan tumbuhan pada tataran teknis/lapangan (Wirasena 2010). Peneliti dari berbagai disiplin ilmu sangat diperlukan untuk menjembatani upaya konservasi tumbuhan obat dengan komitmen masyarakat. Di samping penelitian botani, penelitian biokimia harus dilakukan untuk mengatasi potensi kegunaan tumbuhan. KRB dengan hasil eksplorasinya yang kaya dapat menyumbangkan material dengan identitas ilmiahnya serta lokasi dimana material tersebut berada (Suhirman 1999).

Referensi

Dokumen terkait

5.5 Sintesis Pengembangan Tumbuhan Obat Keluarga .... Jenis dan metode pengumpulan data ... Pemanfaatan lahan/penggunaan lahan di Desa Karacak ... Mata pencaharian masyarakat

Pemanfaatan tanaman obat sebagai bahan baku obat, terutama obat tradisional mencapai lebih dari 1000 jenis, dimana 74% diantaranya merupakan tumbuhan liar yang hidup di hutan

di Kebun Raya Bogor memakan 48 jenis tumbuhan yang sebagian besar (74,38%) merupakan tumbuhan hutan dan bagian yang dimakan adalah buah dan daun (Suyanto 2001). Meskipun demikian,

Menurut Aliadi dan Roemantyo (1994), tumbuhan obat merupakan salah satu hasil hutan yang bernilai ekonomi tinggi. Pengobatan tradisional secara langsung atau tidak

(2002) spesies asing invasif adalah spesies flora ataupun fauna, termasuk mikroorganisme yang hidup di luar habitat alaminya, tumbuh dengan pesat karena tidak memiliki musuh

di Kebun Raya Bogor memakan 48 jenis tumbuhan yang sebagian besar (74,38%) merupakan tumbuhan hutan dan bagian yang dimakan adalah buah dan daun (Suyanto 2001). Meskipun demikian,

5.5 Sintesis Pengembangan Tumbuhan Obat Keluarga .... Jenis dan metode pengumpulan data ... Pemanfaatan lahan/penggunaan lahan di Desa Karacak ... Mata pencaharian masyarakat

Tumbuhan bawah atau disebut juga tumbuhan penutup tanah merupakan suatu komunitas tumbuhan atau vegetasi dasar yang tumbuh berada di lantai hutan.. Tumbuhan