• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI (Studi Putusan Nomor 01/Pid.Sus- Anak/2018/PN.MME)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI (Studi Putusan Nomor 01/Pid.Sus- Anak/2018/PN.MME)"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI (Studi Putusan Nomor 01/Pid.Sus- Anak/2018/PN.MME)

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas Akhir dan Memenuhi Syarat-Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara

OLEH:

JHOSEPHINE ELLISNA SIRAIT NIM : 150200062

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS HUKUM

MEDAN 2019

(2)
(3)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini : NAMA

NIM

Judul Skripsi

:JHOSEPHINE ELLISNA SIRAIT :150200062

:“Pertanggung jawaban pidana terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana aborsi (Studi putusan No.1/Pid.Sus-Anak/2018/PN.MME) Dengan ini menyatakan :

1. Bahwa isi skripsi yang telah saya tulis tersebut di atas adalah benar tidak merupakan tiruan dari skripsi atau karya ilmiah orang lain.

2. Apabila terbukti dikemudian hari skripsi tersebut adalah tiruan dari orang lain maka segala akibat hukum yang timbul menjadi tanggung saya.

Demikian pernyataan ini saya perbuat dengan sebenarnya tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

Medan, 1 Juli 2019

JHOSEPHINE ELLISNA SIRAIT NIM. 150200062

(4)

dan penyertaan-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana Aborsi”, dengan lancar dan tepat waktu sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan skripsi ini, Penulis menyadari terdapatnya kekurangan, untuk itu Penulis dengan senang hati menerima semua kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak yang memberi perhatian terhadap skripsi ini. Selama Penulisan Skripsi ini tentunya penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktunya untuk membantu dan membimbing Penulis dengan ikhlas dalam memperoleh bahan-bahan yang diperlukan untuk penyusunan skripsi ini.

Pada kesempatan ini penulis tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih, penghargaan dan rasa hormat kepada semua pihak yang turut baik secara langsung maupun tidak langsung memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis sejak awal penulis menjalani perkuliahan hingga selesainya penyusunan skripsi ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Bapak Prof.Dr.Runtung Sitepu,S.H.,M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof.Dr.Budiman Ginting,S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Prof.Dr.OK.Saidin,S.H M.Hum., selaku Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

(5)

Universitas Sumatera Utara.

6. Bapak Dr.M.Hamdan,S.H.M.Hum., sebagai Ketua Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

7. Ibu Liza Erwina,S.H.M.Hum., sebagai Sekretaris Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

8. Bapak Prof.Dr.Madiasa Ablisar,S.H.M.Hum., sebagai Dosen Pembimbing I penulis, yang telah mengajar penulis serta bersedia meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini.

9. Bapak Dr.M.Eka Putra,S.H.M.Hum., sebagai Dosen Pembimbing II penulis, yang telah telah mangajar penulis serta bersedia meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini.

10. Kepada Yang Terkasih Kedua Orang Tua Penulis Bapak Donald Marihot Sirait dan Ibunda Tumannggo Lasima Lubis beserta adik-adik penulis yaitu yus melani sirait.

Jojoria elisabeth sirait, dan bashado kurniawan sirait yang paling saya sayangi, yang selalu memberikan dukungan baik doa,semangat, dan material kepada penulis dan telah membimbing penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

11. Sahabat-Sahabat penulis yang terkasih Vina Adelina Ginting,Mesty Angelita Pakpahan, terima kasih telah menjadi tempat untuk berkeluh kesah,teman berbagi, dan teman yang sangat memotivasi penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

(6)

13. Teruntuk Abangda Jan Sinaga yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing dan membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

14. Pengurus Komisariat GMKI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara mb 2017-2018, terima kasih atas kebersamaan dan dukungan yang diberikan kepada penulis semoga semua teman-teman cepat lulus dan kita bersama-sama sukses kedepannya.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak, kiranya Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati kita semua. Besar harapan penulis kiranya skripsi ini dapat bermanfaat bagi setiap pembacanya.

Medan, 1 Juli2019 Penulis,

Jhosephine Ellisna Sirait Nim: 150200062

(7)

KATA PENGANTAR . ... i

DAFTAR ISI . ... iv

ABSTRAK………..vii

BAB I : PENDAHULUAN. ... 1

A. Latar Belakang. ... 1

B. Rumusan Masalah. ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan. ... 7

D. Keaslian Penulisan. ... 8

E. Tinjauan Kepustakaan. ... 9

1. Pengertian Tindak Pidana. ... 9

2. Batasan Usia Anak. ... 12

3. Pengertian Pertanggungjawaban Pidana.. ... 14

F. Metode Penelitian. ... 17

1. Jenis Penelitian. ... 18

2. Sifat Penelitian. ... 18

3. Sumber Data ... 19

4. Metode Pengumpulan Data. ... 19

5. Analisis Data. ... 20

G. Sistematika Penulisan. ... 20

BAB II :PENGATURAN TERHADAP ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR .11 TAHUN 2012. ... 22

A. Pengaturan Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum Menurut Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2012. ... 22

1. Anak Sebagai Korban. ... 23

2. Anak Sebagai Saksi. ... 23

3. Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum. ... 25

B. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Kenakalan Anak. ... 30

(8)

1. Pasal 299 KUHP. ... 40

2. Pasal 346 KUHP. ... 41

3. Pasal 348 KUHP. ... 41

4. Pasal 349 KUHP. ... 41

B. UU NO.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.... 45

1. Pasal 75. ... 46

2. Pasal 76. ... 49

3. Pasal 77. ... 49

4. Pasal 194. ... 51

C. PP NO.61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi. ... 51

1. Pasal 31. ... 52

2. Pasal 32. ... 53

3. Pasal 34. ... 53

4. Pasal 37. ... 55

BAB IV : PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN OEH ANAK . ... 58

A. KasusPosisi ... 58

B. Dakwaan . ... 63

C. Tuntutan . ... 64

D. Fakta Hukum . ... 65

E. Putusan Hakim ... 69

F. Analisis Kasus. ... 70

1. Analisis Dakwaan. ... 70

2. Analisis Tuntutan. ... 73

3. Analisis Putusan. ... 74

a. Kemampuan Bertanggung jawab. ... 77

b. Kesalahan. ... 79

- Dolus ... 79

- Culpa ... 81

c. Alasan Penghapusan Pidana ... 82

(9)

DAFTAR PUSTAKA ... 90

(10)

Jhosephine Ellisna Sirait *) Madiasa Ablisar **)

M.Ekaputra ***)

Skripsi ini berjudul Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana Aborsi (Studi Putusan Nomor 01/Pid.Sus-Anak/2018/PN.MME) latar belakang dari judul diatas yaitu adanya Perkembangan teknologi yang semakin maju membuat pola pikir masyarakat berubah, tekhususnya dikalangan remaja, dampak dari perkembangan zaman ini tidak hanya bergerak ke arah positif tetapi juga mengarah ke sisi negatif karena sebenarnya perkembangan teknologi sendiri memiliki berbagai dampak bagi moral dan suatu bangsa.

Dalam hal ini salah satu sisi negatif yang ditimbulkan adalah tindak pidana aborsi yang dilakukan oleh remaja baik yang sudah terikat hubungan pernikahan atau pun yang belum terikat hubungan permikahan. Adapun permsalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaturan hukum tindak pidana aborsi.Bagaimana pertanggungjawaban pidana aborsi yang dilakukan oleh anak.(Studi Putusan Nomor 01/Pid.Sus- Anak/2018/PN.MME)

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaturan hukum tindak pidana aborsi,untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap anak pelaku tindak pidana aborsi,untuk mengetahui pertanggungjawaban pidana aborsi yang dilakukan oleh anak.

Jenis penelitian yang digunakan adalah hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka

Hasil penelitian sebagai jawaban atas permasalahan diatas adalah anak yang berhadapan dengan hokum terdiri atas 3 yaitu anak sebagai korban,anak sebagai pelaku dan anak yang berkonflik dengan hokum, adapun tindak pidana aborsi diatur dalam KUHPidana, Pasal 346 KUHP,Pasal 347 KUHP,Pasal 348 KUHP,Pasal 349 KUHP, Tindak pidana aborsi diluar KUHPidana yaitu Undang-Undang No.36 tahun 2009 Tentang kesehatan Pasal 75 ayat (2),Pasal 194 dan Undang-Undang No.61 tahun 2014 tentang kesehatan reproduksi Pasal 31,Pasal 32 dan Pasal 34.Pada dasarnya pertanggungjawaban pidana terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana aborsi harus memenuhi unsur-unsur pertanggungjawaban pidana.secara keseluruhan unsur ini juga diterapkan dalam putusan Nomor.1/Pid.Sus-Anak/2018/PN.Mme, menyatakan Anak telah terbukti secara sah dan bersalah melakukan tindak pidana aborsi yaitu menjatuhkan pidana terhadap anak berupa 1 (satu) tahun 3 (tiga) bulan penjara dan 3 (bulan) pelatihan kerja.

Kata Kunci : Pertanggungjawaban Pidana terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana Aborsi

* Mahasiswa Fakultas Hukum USU

** Dosen Pembimbing I/Dosen Fakultas Hukum USU

***Dosen Pembimbing II/Dosen Fakultas Hukum USU

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Zaman yang semakin maju dan perkembangan teknologi yang semakin pesat dewasa ini membuat pola pikir masyarakat menjadi berubah,terkhusus di kalangan anak muda, imbas dari perkembangan zaman ini tidak hanya bergerak ke arah positif tetapi juga mengarahkan sisi negatifnya karena sebenarnya perkembangan teknologi sendiri memilik berbagai dampak bagi moral suatu bangsa.Dalam hal ini salah satu sisi negatif yang ditimbulkan perkembangan zaman ini adalah tindak pidana aborsi yang dilakukan oleh remaja dan wanita dewasa baik yang sudah terikat hubungan pernikahan atau pun yang belum terikat dengan hubungan pernikahan.1

Membahas persoalan aborsi sudah bukan merupakan rahasia umum dan bukan hal yang tabu untuk dibicarakan. Hal ini dikarenakan aborsi yang terjadi dewasa ini sudah menjadi hal yang aktual dan peristiwanya dapat terjadi dimana- mana serta bisa saja dilakukan oleh berbagai kalangan khususnya pada kalangan remaja yang terlibat pergulan bebas yang disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Diantaranya adalah mudahnya para remaja dalam mengakses media yang bermuatan pornografi, baik di internet, majalah, dan lain-lain serta minimnya pengawasanorang tua dan faktor fisik remaja yang sedang mengalami pubertas sehingga keingintauan mereka tentang

1Maria ulfah ansor, Fiqih Aborsi Wacana Penguatan Hak Reproduksi Perempuan, (Jakarta,Kompas Media Nusantara,2006).hlm .3

(12)

sex mengalami peningkatan. Keberadaan pergaulan bebas dan kurangnya kesadaran terhadap bahaya sex bebas mengakitbatkan banyaknya anak-anak muda yang telah menyalahgunakan dirinya.

Dalam memandang bagaimana kedudukan aborsi di Indonesia sangat perlu dilihat kembali apa yang manjadi tujuan dari perbuatan aborsi tersebut. Apakah perbuatan tersebut dilakukan untuk menolong nyawa si ibu (indikasi medis) atau karena untuk menutup aib keluarga dan perasaan malu.

Kelahiran anak yang seharusnya dianggap sebagai anugerah yang tidak terhingga dari Tuhan Yang Maha Esa, justru dianggap sebagai suatu beban yang kehadirannya tidak diinginkan. Sungguh ironis, karena di satu sisi terdapat sekian banyak pasangan suami istri yang mendambakan kehadiran seorang anak selama bertahun-tahun masa perkawinannya dan belum mendapatkan momongan, namun di sisi lain terdapat seseorang yang membuang anaknya atau janin yang dalam kandungannya tanpa mempertimbangkan nurani kemanusiaan atau yang lebih dikenal dengan aborsi.

Pemerintah mempunyai peran penting dalam upaya mengurangi kasus-kasus aborsi khususnya yang dilakukan oleh anak, disamping itu pemerintah juga mempunyai peran penting untuk melindungi anak sebagai pelaku tindak pidana aborsi tersebut. Dalam hal ini pemerintah telah mengatur Kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengenai tindakan aborsi ini dan tindakan aborsi tersebut jelas dilarang. Dalam pasal 346 KUHP jelas dikatakan “bahwa seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun”, selain dari

(13)

pasal 346 KUHP, pengaturan mengenai aborsi tersebut juga diatur dalam pasal 347 yang jelas dikatakan :

(1) bahwa barang siapa dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungan dengan tidak dengan izin perempuan itu, dihukum dengahn hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun.

(2) Jika perbuatan itu berakibat perempuan itu mati ia dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun.

Dan pada pasal 348 dikatakan bahwa :

(1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuan wanita itu,diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

(2) Bila perbuatan itu mengakibatkan wanita itu meninggal, ia diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Serta 349 KUHP yang mengatakan bahwa “ Jika seorang dokter, bidan atau juru obat melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam manakejahatan dilakukan.”2 Keempat pasal tersebut menyatakan bahwa tidak memperbolehkan seseorang melakukan aborsi dengan alasan apapun dan untuk segala jenis perbuatan aborsi akan dikenakan sanksi pidana.

2Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

(14)

Permasalahan aborsi ini juga bukan hanya diatur didalam KUHP melainkan juga di atur dalam Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009. Namun dalam Undang-Undang Kesehatan tersebut memperbolehkan dilakukannya aborsi dalam hal tertentu yaitu dilakukannya aborsi karena alasanmedis yang membahayakan nyawa ibu dan aborsi akibat perkosaan yang menimbulkan trauma psikologis bagi ibu. Ketentuan tersebut diatur dalam pasal 75 ayat (2) Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 yang berbunyi “Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan ;

a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetic berat dan/atau cacat bawaan, maupun tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup diluar kandungan,atau

b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.

Bukan hanya diatur dalam pasal 75 ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tetapi menurut pasal 194 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009mengatakan bahwa“jika setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak Rp.1.000.000.000.00 (satu milliar rupiah).”

(15)

Pasal 31 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014, Tindakan aborsi hanya dapat dilakukan berdasarkan:3

(1) Tindakan aborsi hanya dapat dilakukan berdasarkan:

a. Indikasi kedaruratan medis b. Kehamilan akibat perkosaan.

Tindakan aborsi akibat perkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 (empat puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.

Pasal 32 yang mendasari pengecualian larangan aborsi meliputi:

(1) kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan ibu dan/atau janin.

(2) kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan janin, termasuk yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan.

Pasal 34 Peraturan Pemerintah dinyatakan bahwa:4

(1) kehamilan akibat perkosaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) huruf b merupakan kehamilan hasil hubungan seksual tanpa adanya persetujuan dari pihak perempuan sesuai dengan ketentuan Peraturan PerundangUndangan.

(2) kehamilan akibat perkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan:

3Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Reproduksi.

4Ibid,pasal34

(16)

a. Usia kehamilan sesuai dengan kejadian perkosaan, yang dinyatakan oleh surat keterangan dokter

b. Keterangan penyidik, psikolog, dan/atau ahli lain mengenai adanya dugaanperkosaan.

Bagi orang menggugurkan atau mengaborsi anak yang berada didalam kandungan atau janin dan meskipun pelakunya masih berada dibawah umur pantaslah Ia memperoleh hukuman dari pemerintah seperti kasus yang ada di maumere yang dialami oleh Lentifiana Magdalena yang biasa dipanggil Lenti yang berusia 16 Tahun masih berstatus pelajar yang dengan sengaja melakukan aborsi terhadap anak yang masih dalam kandungan dengan alasan bahwa anak tersebut merasa malu dan risih dirinya hamil diluar nikah,sehingga orang tuanya membawa lenti ke poliklinik lalu pada saat itu lenti mengeluh sakit nyeri haid dan dokter memberikan obat pelancar haid, disamping itu lentifiana tetap berupaya menghilangkan janinnya dengan cara mengurut-urut serta menekan-nekan perutnya dengan sekuat tenaga secara berulang kali sehinga lentifiana merasakan kesakitan dan mengeluarkan banyak darah sampai janinnya keluar lalu pada akhirnya melahirkan seorang bayi lalu pada saat itu ibu dari lentifiana meminta pertolongan kepada warga agar anaknya dibawa ke puskemas nitakarena bayinya sudah lemah dan akhirnya meninggal. Bahwa pada saat lentifani mengandung, aparat desa ingin mengunjungi lentifiani guna untuk mengetahui kondisi kehamilan lentifiani tetapi keluarga dari lentifiani menolak kunjungan aparat desa lalu aparat desa memberikan surat panggilan kepada yang bersangkutan dan orang

(17)

tua dari lentifiani tetapi yang bersangkutan tidak pernah hadir kerumahnya. Hal tersebut telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana aborsi.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka Penulis tertarik untuk membuat penulisan skripsi dengan judul, “Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana Aborsi (Studi Putusan No.1/Pid.Sus-

Anak/2018/PN.Mme).”

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Pengaturan Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012?

2. Bagaimana Pengaturan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Aborsi Di Indonesia?

3. Bagaimana Pertanggungjawaban Pidana Aborsi yang dilakukan oleh Anak?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui Pengaturan Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012.

b. Untuk mengetahui Pengaturan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Aborsi Di Indonesia.

(18)

c. Untuk mengetahui pertanggungjawaban pidana aborsi yang dilakukan oleh anak.

Adapun manfaat yang hendak dicapai dalam penulisan ini sebagai berikut : a. Manfaat Teoritis

Bagi penulis sebagai mahasiswa program hukum pidana, untuk menambah dan lebih memperdalam ilmu pengetahuan dalam bidang hukum pidana, serta memperluas pemikiran ilmu pengetahuan hukum pidana khususnya di bidang pertanggungjawaban pidana terhadap tindak pidana aborsi yang dilakukan oleh anak.

b. Manfaat Praktis

Memberikan informasi kepada masyarakat agar lebih mengerti dan memahami pengaturan tentang tindak pidana aborsi, termasuk bagaimana pertanggungjawaban sehingga dapat meminimalisir angka aborsi khusus anak di kemudian hari.

D. Keaslian Penulisan

Penulisan skripsi ini yang berjudul Pertanggungjawaban Pidana terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana Aborsi (Studi Putusan No.1/Pid.Sus- Anak/2018/PN.Mme). Berdasarkan hasil pemeriksaan dan penelusuran skripsi di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan kearsipan di Departemen Hukum Pidana, belum pernah ada yang menulis sebelumnya tentan pertanggungjawaban pidana terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana aborsi.

Proses mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan tindak pidana aborsi yang dilakukan oleh anak dan perlindungan hukum terhadap anak diambil

(19)

mulai dari buku-buku hukum,literatur-literatur dan media elektronik yang berhubungan dengan skripsi ini. Namun apabila ada kemiripan atau pun kesamaan dengan karya ilmiah lain hal itu merupakan ketidaksengajaan dan tentunya memiliki objek kajian yang berbeda dan dapat dipertanggung jawabkan bahwa skripsi ini asli.

E. Tinjauan Kepustakaan 1. Tindak Pidana

Tindak pidana merupakan terjemahan dari “strafbaar feit”, di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak terdapat penjelasan mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan strafbaar feit itu sendiri. Biasanya tindakpidana disinonimkan dengan delik, yang berasal dari bahasa latin yakni kata delictum. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tercantum sebagai berikut :“Delik adalah perbuatan yang dapat dikenakan hukuman karena merupakan pelanggaran terhadap undang-undang tindak pidana.”5 Dalam hal ini pengertian Tindak Pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan diancam dengan pidana, di mana pengertian perbuatan di sini selain perbuatan yang bersifat aktif (melakukan sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh hukum) juga perbuatan yang bersifat pasif (tidak berbuat sesuatu yang sebenarnya diharuskan oleh hukum).6

Adapun pengertian tindak pidana menurut beberapa ahli dibawah ini yaitu:7

5Teguh Prasetyo, Hukum Pidana,(Jakarta:PT.RAJAGRAFINDO PERSADA, 2014)hlm.47

6Ibid.,hlm.50

7Mohammad Ekaputra, Dasar-Dasar Hukum Pidana,(Medan,USU Press, 2015)hlm.85

(20)

1. W.P.J.Pompe yang menyatakan bahwa strafbaar feit (Tindak Pidana) adalah perbuatan yang bersifat melawan hukum, yang dilakukan kesalahan (schuld) bukanlah sifat mutlak untuk adanya tindak pidana (strafbaar feit).

2. Simons dalam P.A.F. Lamintang, merumuskan strafbaar feit sebagai suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabakan atas tindakannya dan yang oleh undang- undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum.

3. J.Baumann dalam Sudarto merumuskan, bahwa tindak pidana merupakan perbuatan yang memenuhi rumusan delik, bersifat melawan hukum dan dilakukan dengan kesalahan

4. Wirjono Prodjodikoro, menyatakan tindak pidana berarti suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana8

Adami Chazawi telah menginventarisir istilah-istilah yang pernah digunakan dalam berbagai literatur hukum sebagai terjemahan dari istilah Straafbaar feit yaitu Tindak Pidana dapat dikatakan berupa istilah resmi dalam perundang-undangan pidana kita.dalam hampir seluruh peraturan perundang-undangan menggunakan istilah tindak pidana seperti dalam UU No.6 Tahun 1982 tentang Hak cipta, UU No.31 Tahun 1999 Tentang

8Ibid, hlm,89

(21)

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo UU No.20 Tahun 2001 dan perundang-undangan lainnya.9

Istilah tindak pidana menunjukkan pengertian gerak-gerik tingkah laku dan gerak-gerik jasmani seseorang. Hal-hal tersebut terdapat juga seseorang untuk tidak berbuat, akan tetapi dengan tidak berbuatnya dia, dia telah melakukan tindak pidana.10

Setelah mengetahui defenisi dan pengertian dari tindak pidana maka didalam tindak pidana tersebut terdapat unsur-unsur tindak pidana yaitu:

a) Unsur Objektif.

Unsur yang terdapat diluar si pelaku. Unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan di mana tindakan-tindakan si pelaku itu harus dilakukan. Terdiri dari :

1. Sifat melanggar hukum 2. Kualitas dari si pelaku 3. Kausalitas

b) Unsur subjektif

Unsur yang terdapat atau melekat pada diri si pelaku atau yang dihubungkan dengan diri si pelaku dan termasuk di dalamnya segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya.

Unsur ini terdiri dari :11

1. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa)

9Ibid, hlm, 77

10Teguh Prasetyo, Op.Cit,hlm. 49 11Ibid,hlm.50-51

(22)

2. Maksud pada suatu percobaan,seperti ditentukan dalam Pasal 53 ayat (1) KUHP.

3. Macam-macam maksud seperti terdapat dalam kejahatan- kejahatan pencurian,penipuan,pemerasan, dan sebagainya.

4. Merencanakan terlebih dahulu, seperti tercantum dalam Pasal 340 KUHP, yaitu pembunuhan yang direncanakan terlebih dahulu.

5. Perasaan takut seperti terdapat dalam Pasal 308 KUHP.

2. Batasan Usia Anak

Sejak dahulu para tokoh pendidikan dan para ahli sudah memperhatikan perkembangan perkembangan kejiwaan anak, karena anak adalah anak, anak tidak sama dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh karena taraf perkembangan anakmemang selalu berlainan dengan sifat-sifatnya dan ciri- cirinya, dimulai pada usia bayi,remaja,dewasa dan usia lanjut, akan berlainan psikis maupun jasmaninya.12

Adapun proses perkembangan anak terdiri dari beberapa fase pertumbuhan yang bisa digolongkan berdasarkan para paralelitas perkembangan jasmani anak dengan perkembangan jiwa anak. Penggolongan tersebut dibagi kedalam 3 fase,yaitu :13

1. Fase pertama adalah dimulainya pada usia anak 0 tahun sampai dengan 7 tahun yang bisa disebut sebagai masa anak kecil dan fungsi-fungsi tubuh,perkembangan kehidupan emosional,bahasa bayi dan arti bahasa bagi anak-anak.

12Wagiati Soetodjo, Hukum Pidana Anak,(Bandung,PT. Refika Aditama,2010)hlm.6

13Ibid,hlm.7-8

(23)

2. Fase kedua adalah dimulai pada usia 7 sampai 14 tahun disebut sebagai masa kanak-kanak.

3. Fase ketiga adalah dimulai pada usia 14 sampai 21 tahun, yang dinamakan masa remaja, dalam arti sebenarnya yaitu fase pubertas dan adolescent, dimana terdapat masa penghubung dan masa peralihan dari anak menjadi orang dewasa.

Usia anak ditetapkan dalam suatu batasan umur tertentu sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang No.4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan anak dalam KUHPerdata bahwa anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum kawin, namun khusus mengenai batas usia bagi pemidanaan anak di indonesia telah di tegaskan dalam Pasal 4 Undang-Undang No.3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan anak, yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut:

1) Batas umur Anak Nakal yang dapat diajukan ke sidang anak adalah sekurang-kurangnya 8 tahun tetapi belum mencapai umur 18 tahun dan belum pernah kawin.

2) Dalam hal anak melakukan tindak pidana pada batas umur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan diajukan ke sidang pengadilan, setelah anak yang bersangkutan melampaui batas umur tersebut tetapi belum

mencapai umur 21 tahun, tetap diajukan ke sidang anak.14

Menurut Pasal 69 ayat (2) UU Sistem Peradilan Pidana anak, seorang pelaku tindak pidana anak dapat dikenakan dua jenis sanksi yaitu tindakan

14Ibid,hlm. 26

(24)

bagi pelaku tindak pidana yang berumur 14 tahun dan pidana bagi pelaku tindak pidana yang berumur 15 tahun ke atas.sedangkan menurut Pasal 32 ayat (2) UU Sistem Peradilan Pidana Anak menyatakan bahwa penahanan anak hanya dapat dilakukan dengan syarat anak telah berumur 14 tahun atau diduga melakuan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun atau lebih.15

3. PertanggungJawaban Pidana

Menurut Kamus Besar Bahasa indonesia Tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala suatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan ,diperkarakan,dsb),sedangkan pertanggungjawaban artinya adalah perbuatan hal dan sebagainya atau sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.16

Sedangkan menurut Mr.Roeslan Saleh pertanggung jawaban pidana adalah pebuatan yang tercela oleh masyarakat, di pertanggung jawabkan kepada si pembuatnya, artinya : celaan yang obyektif terhadap perbuatan itu kemudian di teruskan kepada si terdakwa.17 Dengan mempertanggung jawabkan perbuatan yang tercela pada sipembuatnya, maka kita akan berkesimpulan : ataukah dipembuatnya juga dicela, ataukah si pembuatnya tidak di cela. Dalam hal pertama, maka sipembuatnya tentu tidak di pidana,

15Tri Jata Ayu Pramesti, Hal-Hal penting yang diatur dalam UU Sistem Peradilan Pidana Anak,https://m.hukumonline.com/klinik/detail/lt53f55d046878/hal-hal-penting-yang- diatur-dalam-uu-sistem-peradilan-pidana-anak/, pada tanggal 24 Januari 2019,Pukul 00.14.

16Kamus Besar Bahasa Indonesia(Jakarta, PT. Balai Pustaka,2005)hlm .1139

17Mr Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggung jawab Pidana,(Jakarta,Aksara Baru,1981)hlm.10

(25)

sedangkan dalam hal kedua sipembuat tentu tidak di pidana.18 nyatalah bahwa hal dipidana atau tidaknya si pembuat bukanlah bergantung pada apakahada perbuatan pidana atau tidak, melainkan pada apakah si terdakwa tercela atau tidak karena telah melakukan perbuatan pidana itu.Dapat pula dikatakan bahwa orang tidak mungkin dipertanggung jawabkan dan dijatuhi pidana kalau tidak melakukan perbuatan pidana, tetapi meskipun dia melakukan perbuatan pidana, tidaklah selalu dia dapat dipidana.19

Seseorang mempunyai kesalahan, apabila pada waktu melakukan perbuatan pidana, dilihat dari segi masyarakat, dia dapat dicela oleh karenanya, sebab dianggap dapat berbuat lain,jika memang tidak ingin berbuat demikian, “ Dilihat dari segi masyarakat” ini menunjukkan pandangan yang normatif mengenai kesalahan seperti diketahui mengenai kesalahan ini dulu orang berpandangan psychologisch. Kemudian pandangan ini ditinggalkan orang dan orang lalu berpandangan normatif.ada atau tidaknya kesalahan tidaklah ditentukan bagaimana dalam keadaan senjata bathin daripada terdakwa, tetapi bergantung pada bagaimanakah penilaian hukum mengenai keadaan bathinnya tersebut apakah dipernilai ada ataukah tidak ada kesalahan.

Pompe menyingkat kesalahan ini dengan dapat dicela (verwijtbaarheid) dan dapat dihindari (vermijdbaarheid) perbuatan yang dilakukan dikatakannya :” menurut akibatnya, hal ini adalah dapat dicela, menurut hakekatnya dia adalah dapat dihindarinya kelakuan yang melawan hukum

18Ibid,hlm.80

19Ibid,hlm .81

(26)

itu.karena kehendak sipembuat itu terlihat pada kelakuan yang bersifat melawan hukum, maka ini dapat dicelakan padanya.Menurut Pompe, kelakuan adalah suatu kejadian yang ditimbulkan oleh seorang yang nampak keluar dan yang diarahkan kepada tujuan yang menjadi obyek hukum.20dalam pengertian kesalahan lain Simons juga mengatakan bahwa kesalahan adalah keadaan psychis orang yang melakukan perbuatan dan hubungannya dengan perbuatan yang dilakukan, yang sedemikian rupa sehingga orang itu dapat dicela karena perbuatan tadi. Sebagai ikhtisar dapat dikatakan bahwa :21

1) Mengenai keadaan bathin dari orang yang melakukan perbautan, dalam ilmu hukum pidana meupakan soal yang lazim disebut masalah kemampuan bertanggung jawab

2) Mengenai hubungan antara bathin itu dengan perbuatan yang dilakukan, merupakan masalah kesengajaan, kealpaan, serta alasan pemaaf sehingga mampu bertanggung jawab, mempunyai kesengajaan atau kealpaan serta tidak adanya alasan pemaaf merupakan unsur-unsur dari kesalahan.Untuk adanya kesalahan yang mengakibatkan dipidananya terdakwa, maka terdakwa haruslah :22

a. Melakukan perbuatan pidana b. Mampu bertanggung jawab

c. Dengan kesengajaan atau kealpaan d. Tidak adanya alasan pemaaf

20Ibid,hlm .82

21Ibid,hlm .83

22Ibid, hlm .84

(27)

Orang yang mampu bertanggung jawab itu harus memenuhi tiga syarat :23 a. Dapat menginsyafi makna yang senjatanya daripada

perbuatannya.

b. Dapat menginsyafi bahwa perbuatannya itu tidak dapat dipandang patut dalam pergaulan masyarakat

c. Mampu untuk menentukan niat atau kehendaknya dalam melakukan perbuatan.

Dalam hal tidak mampu bertanggung jawab keadaan bathinnya tidak normal adalah karena organ bathinnya memang tidak normal, sedangkan dalam alasan pemaaf,fungsi bathinnya yang tidak normal dan ini disebabkan karena keadaan dari luar. Organ bathinnya sendiri adalah normal. Orang yang akalnya tidak sehat tidak dapat diharpkan menentukan kehendaknya sesuai dengan kehendaknya sesuai dengan yang dikehendaki oleh hukum, sedangkan orang yang akalnya sehat dapat di harapkan menentukan kehendaknya sesuai dengan dikehendaki oleh hukum, walaupun dalam kenyataanya ada orang yang tidak menyesuaikan kehendaknya dengan yang dikehendaki oleh hukum atau yang tidak mungkin diharapkan agar dia menyesuaikan kehendaknya dengan dikehendaki oleh hukum. 24

F. Metode Penelitian

Penelitian hukum pada dasarnya merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan

23Ibid,hlm .85

24Ibid, hlm. 86

(28)

menganalisisnya, juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala bersangkutan.

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Hukum Normatif atau penelitian hukum kepustakaan, yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer,bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Bahan-bahan tersebut disusun dengan secara sistematis, dikaji, kemudia ditarik suatu kesimpulan dalam hubungannya dengan telitiMenurut Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif adalah jenis penelitian yang mencakup asas- asas hukum, penelitian terhadap taraf sinkronisasi hukum, penelitian sejarah hukum dan penelitian perbandingan hukum.25

2. Sifat Penelitian

Sifat penelitiannya adalah deskriptif. Penelitian Deskriptif adalah suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif yang bersumber dari study kasus,study korelasi,study perbandingan ataupun study evaluasi.26

Metode deskriptif merupakan proses pencarian fakta dengan interprestasi yang tepat serta mempelajari masalah yang ada dalam masyarakat.

25Soerjono Soekanto,Pengantar Penelitian Hukum,( Jakarta,UI Press,1986) hlm.51

26Johnny Ibrahim,Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif,(Malang ,Boymedia Publishing,2006)hlm.303

(29)

3. Sumber Data

A. Bahan Hukum Primer, Yakni :

 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

  Undang-Undang .No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

 Undang-Undang RI No.11Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

  Undang-Undang RI No.61 Tahun 2014 Tentang Kesehatan

Reproduksi

B. Bahan Hukum Sekunder merupakan data yang diperoleh dari hasil penelaah kepustakaan atau berbagai literatur yang berkaitan dengan masalah atau materi penelitian, yaitu berupa penelitian,jurnal hukum,hasil karya ilmiah para sarjana, dan sebagainya.

C. Bahan Hukum Tersier merupakan bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yang meliputi berupa kamus hukum,ensiklopedia, dan sebagainya.

4. Metode Pengumpulan Data

Dalam penulisan skripsi ini metode yang dipakai dalam pengumpulan data mempergunakan pengumpulan data kepustakaan. Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku,dan literatur-literatur untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan diteliti.

(30)

5. Analisis Data

Analisis data dalam skripsi ini menggunakan analisis kualitatif, artinya menganalisis data-data yang diuraikan melalui kalimat-kalimat yang merupakan penjelasan-penjelasan atas hal-hal yang terkait dalam skripsi ini, yang kemudian dari hasil analisis tersebut diharapkan dapat digunakan untuk menjawab permasalahan yang dikemukakan dalam skripsi ini dan dapat ditarik kesimpulan berdasarkan fakta-fakta hukum dalam masalah atau materi penelitian.

G. SISTEMATIKA PENULISAN

Skripsi ini disusun dalam 5 bab, setiap bab dibagi menjadi beberapa sub-bab yang saling mendukung. Bab-bab tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain, sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini merupakan bab awal yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan,manfaat penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : PENGATURAN TERHADAP ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012

Bab ini akan membahas tentang pengaturan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 serta pada bab ini juga akan menjelaskan apa-apa saja faktor penyebab kenakalan anak.

(31)

BAB III : PENGATURAN HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI DI INDONESIA

Bab ini akan membahas dan menjelaskan tentang peraturan hukum terhadap pelaku tindak pidana aborsi di Indonesia.

BAB IV : PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN OEH ANAK

Bab ini akan membahas dan menguraikan tentang Pertanggungjawaban pidana aborsi yang dilakukan oleh anak berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Maumere NO.1/PID.SUS-ANAK/2018/PN.MME BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bab akhir yang akan dirumuskan mengenai kesimpulan yang didapat berdasarkan uraian pembahasan terhadap pokok-pokok permasalahan yang timbul dalam skripsi ini, kemudian dari hasil penulisan tersebut akan diakhiri dengan saran-saran dari penulis.

(32)

BAB II

PENGATURAN TERHADAP ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM MENURUT UU NO.11 TAHUN 2012

A. Pengaturan Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum Menurut UU NO.11 Tahun 2012

Berdasarkan Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak Pasal 1 butir 2 menyatakan bahwa “ Anak yang berhadapan dengan hukum adalah Anak yang berkonflik dengan hukum, anak menjadi korban tindak pidana,dan anak menjadi saksi tindak pidana”.Berbagai faktor memungkinkan bagi anak untuk melakukan kenakalan dan kegiatan kriminal yang membuat mereka terpaksa berhadapan dengan hukum dan sistem peradilan di Indonesia. Anak yang melakukan tindak pidana ini bisa disebutkan dengan anak yang berhadapan dengan hukum.27

Dalam kepustakaan hukum, ABH disebutkan adalah Anak yang telah mencapai usia 12 (dua belas) tahun tetapi belum mencapai usia 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah :

1. Yang diduga, disangka, didakwa, atau dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana.

2. Yang menjadi korban tindak pidana atau yang melihat dan/atau mendengar sendiri terjadinya suatu tindak pidana.

27Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak,pasal 1 butir 2

(33)

Dalam hal ini Anak yang Berhadapan dengan Hukum dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

1. Anak Sebagai Korban

Berdasarkan Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak Pasal 1 butir 4 mengatakan bahwa “Anak yang menjadi Korban Tindak Pidana yang selanjutnya disebut Anak Korban adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang mengalami penderitaan fisik,mental, dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana.”28

2. Anak sebagai Saksi

Berdasarkan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak Pasal 1 butir 5 menyatakan bahwa “Anak yang Menjadi Saksi Tindak Pidana yang selanjutnya disebut Anak Saksi adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang didengar, dilihat, dan/atau dialaminya sendiri”29

3. Anak Yang Berkonflik dengan Hukum

Berdasarkan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak menurut pasal 1 butir 3 mengatakan bahwa “ Anak yang berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.30

28Ibid,pasal 1butir 4

29Ibid,pasal 1butir 5

30Ibid, pasal 1butir 3

(34)

Menurut Apong Herlina anak yang berkonflik dengan hukum dapat juga dikatakan sebagai anak yang terpaksa berkonflik dengan sistem pengadilan pidana karena :31

a. Disangka,didakwa, atau dinyatakan terbukti bersalah melanggar hukum; atau

b. Telah menjadi korban akibat perbuatan pelanggaran hukum dilakukan orang/ kelompok orang/ lembaga/ Negara terhadapnya;

c. Telah melihat,mendengar,merasakan atau mengetahui suatu peristiwa pelanggaran hukum.

Kata konflik itu sendiri berarti menunjukkan adanya suatu peristiwa yang tidak selaras atau bertentangan dengan suatu peristiwa,sehingga dapat dikatakan sebagai permasalahan,oleh karena itu pengertian anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang mempunyai permasalahan karena suatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum.Kenakalan anak sering disebut dengan juvenile delinquency, yang diartikan sebagai anak yang cacat sosial.Seperti diketahui berbagai macam pendapat tentang juvenile delinquency seperti diuraikan dibawah ini.

Menurut Romli Atmasasmita.32

“Delinquency adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh seseorang anak yang dianggap bertentangan dengan ketentuan-ketentuan

31Apong Herlina, dkk, Perlindungan Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum, Buku Saku Untuk Polisi,(Jakarta, Unicef, 2014) hlm.17

32Romli Atmasasmita dkk, Peradilan Anak Di Indonesia,(Bandung, Mandar Maju, 1977) hlm .15

(35)

hukum yang berlaku disatu Negara dan oleh masyarakat itu sendiri dirasakan serta ditafsirkan sebagai perbuatan yang tercela.”

Menurut Wagiati Soetodjo dan Melani.33

“Kenakalan anak ini diambil dari istilah Juvenile delinquency tetapi tetapi kenakalan anak ini bukan kenakalan yang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 489 KUHPidana, Juvenile artinya Young, anak-anak,anak muda,ciri karasteristik pada masa muda sifat-sifat khas pada periode remaja sedangkan delinquency artinya doing wrong, terabaikan/mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, a-sosial,criminal,pelanggar aturan,pembuat rebut,pengacau,penteror,tidak dapat diperbaiki lagi,durjana,durcila,dan lain-lain.”

Menurut Kartini Kartono.34

“Delinquency itu selalu memiliki konotasi serangan pelanggaran,kejahatan,dan keganasan yang dilakukan oleh anak-anak muda dibawah usia 22 (dua puluh dua) tahun.”

Menurut Sudarsono.35

“Suatu perbuatan dikatakan Delinquency apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma yang ada dalam masyarakat dimana ia hidup atau suatu perbuatan yang anti sosial yang didalmnya terkandung unsur-unsur normatif.”

33Wagiati Soetodjo dan Melani, Op cit, hlm. 9

34Kartini Kartono, Pathologi Sosial 2 Kenakalan Remaja, (Jakarta, RajawaliPers,1992) hlm.7

35Sudarsono, Kenakalan Remaja,(Jakarta, Rienak Cipta, 1991) hlm.10

(36)

Menurut Sri Widoyanti.36

“Kenakalan remaja berarti hal-hal yang berbeda dalam golongan sama,pada waktu yang berbeda.”

Anak yang berkonflik dengan hukum merupakan bagian masyarakat yang tidak berdaya baik secara fisik, mental dansosial sehingga dalam penanganannya perlu mendapat perhatian khusus. Anak - anak yang terlindungi dengan baik menciptakan generasi yang berkualitas, yang dibutuhkan demi masa depan bangsa37

Dalam penggunaan yang popular pengertian kenakalan remaja digunakan untuk melukiskan sejumlah besar melukiskan tingkah laku anak-anak dan remaja yang tidak baik atau tidak disetujui. Dalam pengertian ini, hampir segala sesuatu yang dilakukan oleh remaja tidak disukai oleh orang lain disebut sebagai kenakalan remaja. Dikalangan masyarakat, suatu tindak pidana yang dilakukan oleh anak-anak, bisa disebut dengan kenakalan remaja.

Suatu kebijakan yang rasional untuk menanggulangi kejahatan disebut dengan politik kriminal. Kebijakan kriminal bila dilihat lingkupnya,sangat luas dan tinggi komplekitasnya, pada hakikatnya kejahatan merupakan masalah kemanusiaan dan sekaligus masalah sosial yang memerlukan pemahaman tersendiri. Kejahatan sebagai masalah sosial merupakan kejahatan yang dinamis, selalu tumbuh dan terkait dengan gejala dan struktur kemasyarakatan lainnya yang sangat kompleks, yang merupakan suatu sociopolitical problems.

36Sri Widoyanti, Anak dan Wanita Dalam Hukum,(Jakarta, Pradnya Paramitha, 1984) hlm.48

37Maidin Gultom, Op-cit, hlm.15

(37)

Asas-asas yang mendasari kejahatan penanggulangan kenakalan anak berbeda dengan orang dewasa, modifikasi langkah-langkah penal maupun nonpenal dalam politik kriminal bagi kenakalan anak adalah kebutuhan bagi keterpaduan antara kebijaksanaan penanggulangan kejahatan dengan politik sosial dan politik penegakan hukum.Dalam konteks penanggulangan kenakalan anak dan perilaku kenakalan anak perlu dimodifikasi politik kesejahateraan masyarakat dan politik perlindungan masyarakat secara umum. Faktor- faktor yang dapat

mempengaruhi tindak pidana anak : Menurut Sri Widoyanti :38

a. Keluarga yang Broken Home b. Keadaan ekonomi

c. Sikap masyarakat terhadap anggota masyarakat d. Kepadatan penduduk

e. Lingkungan pendidikan

f. Pengaruh Film,Televisi,dan hiburan lain g. Perasaan disingkirkan oleh teman-teman h. Sifat anak itu sendiri.

Di sisi lain, anak yang melakukan tindak pidana tidak lepas dari adanya faktor luar yang mendorongnya melakukan tindak pidana tertentu. Anak sebagai pelaku tindak pidana ini disebut dengan anak nakal.39

38Ibid,hlm.49

39Pasal 1 butir 2 UU Pengadilan Anak. Anak Nakal adalah: Anak yang melakukan tindak pidana; atau Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.

(38)

Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak mengenalkan istilah khusus bagi anak yang telah mencapai umur 8 (delapan) tahun yang melakukan tindak pidana atau yang melakukan perbuatan yang dilarang bagi anak dan terbukti, bukan sebagai penjahat melainkan Anak Nakal.40

Romli Atmasasmitamemberikan pula perumusan Juvenile Deliquency, yaitu

“Setiap perbuatan atau tingkah laku seseorang anak di bawah umur 18 tahun dan belum kawin yang merupakan pelanggaran terhadap norma-norma hukum yang berlaku serta dapat membahayakan perkembangan pribadi si anak yang bersangkutan”41

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Anak Nakal adalah:

1. Anak yang melakukan tindak pidana; atau

2. Anak yang melakukan perbuatan yang terlarang bagi anak, baik menurut peraturan perundangundangan maupun peraturan hukum yang berlaku di masyarakat.

Anak sebagai pelaku tindak pidana dapat dikenakan pidana pokok atau pidana tambahan sesuai dengan Pasal 71 ayat (1) dan ayat (2) UU.No.11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Jenis-jenis pidana pokok yang dapat dikenakan kepada anak sebagai berikut :

1. Pidana peringatan 2. Pidana dengan syarat :

a. Pembinaan diluar lembaga b. Pelayanan masyarakat

40Undang-Undang No.3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, pasal 1 butir 2

41Ibid, hlm.11

(39)

c. Pengawasan 3. Pelatihan Kerja

4. Pembinaan dalam lembaga 5. Penjara

1. Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana 2. Pemenuhan kewajiban adat.

Anak yang berkonflik dengan hukum tersebut dapat dikenakan pidana pokok atau pidana tambahan sesuai dengan yang tertulis diatas.Di dalam putusan No.01/Pid.Sus-Anak/2018/Pn.MME penulis menemukan bahwa anak yang berkonflik dengan hukum dalam hal ini sebagai pelaku aborsi dipidana dengan pidana pokok selama 1 tahun 3 bulan. Didalam KUHP dan UU.No.35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak tidak ditemukan secara tertulis aturan mengenai anak sebagai pelaku tindak pidana aborsi, yang ditemukan hanyalah aturan pelaku aborsi secara umum, akan tetapi hal tersebut tidak menjadikan seorang anak sebagai pelaku tindak pidana aborsi dinyatakan tidak bersalah. Bahwasanya seorang anak juga dapat dipidana dengan ketentuan yang diatur dalam Sistem Peradilan Pidana Anak.

Anak dapat dipidana sesuai dengan pasal 81 ayat (2) UU No.11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang berbunyi sebagai berikut “ Pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada anak paling lama ½ (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa”. Oleh karena itu anak

(40)

sebagai pelaku aborsi dapat dipenjara selama hukumannya tidak melebihi ½ dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa.

B. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Kenakalan Anak

Kenakalan anak diambil dari istilah asing Juvenile Deliquency. Juvenille artinya, anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda sifat-sifat khas pada periode remaja, sedangkan Deliquency artinya terabaikan/mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat,a-sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau, penteror, tidak dapat diperbaiki lagi, durjana, dursila dan lain-lain.42Menurut Kartini Kartono, kenakalan Remaja merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.

Sedangkan menurut Santrock bahwa kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.43

Kenakalan anak setiap tahun selalu meningkat, apabila dicermati perkembangan tindak pidana yang dilakukan anak selama ini, baik dari kualitas maupun modus operansi yang dilakukan, kadang-kadang tindakan pelanggaran yang dilakukan anak dirasakan telah meresahkan semua pihak khususnya paraorang tua. Fenomena meningkatnya perilaku tindak kekerasan yang dilakukan anak seolah-olah tidak berbanding lurus dengan usia pelaku.44

42Wagiati Soetodjo, Hukum Pidana Anak,(Bandung, PT Refika Aditama, 2010) hlm. 9

43Kartini Kartono, Psikologi Remaja,(Bandung ,Rosda Karya, 1988) hlm. 93 44Nandang Sambas, Pembaharuan Sistem Pemidanaan Anak di Indonesia,(

Yogyakarta, Graha Ilmu, 2010)hlm.103

(41)

Menurut Zakiah Daradjat, bahwa generasi muda dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu sebagai berikut :45

1. Kanak-kanak : 0 – 12 tahun Masa ini dibagi atas 3 (tiga) tahap yaitu : a) Masa bayi : 0 – menjelang 2 tahun b) Masa Kanak-Kanak I : 2 – 5 tahun c) Masa kanak-Kanak II : 5 – 12 tahun 2. Masa Remaja : 13 – 20 tahun 3. Masa Dewasa Muda : 21 – 25 tahun

Pada masa-masa inilah, seorang anak berada dalam kondisi labil dan dalam posisi pencarian jati diri. Proses pembentukan pola pikir yang tidak stabil menjadikannya mudah terintimidasi oleh apa pun, artinya kondisi dan suasana apapun dapat saja menjadi pemicu munculnya behavioral deviation (penyimpangan perilaku), yang kemudian mengarah kepada juvenile delinquency (kenakalan remaja).

kenakalan remaja (juvenile delinquency) sebagai salah satu bentuk penyimpangan perilaku (behavioral deviation) merupakan salah satu akibat kegagalan pertumbuhan intelegensia dalam diri anak tersebut, yang memang harus diakui karena masih dalam masa pertumbuhan.

Kemampuan intelegensi tersebut, menurut Alfed Biner, memuat 3 (tiga) aspek, yaitu:46

1. Direction; Kemampuan untuk memusatkan kepada suatu masalah yang harus dipecahkan.

45Gatot Supramono, Hukum Acara Pengadilan Anak, (Jakarta, Djambatan, 2005)hlm.1 46Ibid, hlm. 94

(42)

2. Adaptation; Kemampuan untuk mengadakan adaptasi terhadap masalah yang dihadapinya atau fleksibel didalam menghadapi masalah.

3. Criticisem; Kemampuan untuk mengadakan kritik, baik terhadap masalah yang dihadapi maupun terhadap dirinya sendiri.

Berdasarkan uraian tersebut, maka nampak jelas bahwa perkembangan seorang anak, baik dari sisi fisik maupun non-fisik, masih sangat jauh dari stabilitas. Kemampuan intelegensi seorang anak tidak akan mampu menganalisa dan menelaah problem sosial dan perkembangan sosial serta perubahan sosial karena pesatnya globalisasi industri komunikasi, sehingga faktor eksternal, sebagaimana diungkapkan oleh Soerjono Soekanto, menjadi faktor utama dalam memicu sifat-sifat negatif yang alamiah ada pada diri manusia dini.47

Sebab-sebab timbulnya kenakalan anak atau faktor-faktor yang mendorong anak melakukan kenakalan anak atau dapat juga dikatakan latar belakang dilakukannya perbuatan tersebut, dengan perkataan lain, perlu diketahui motivasinya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa yang dikatakan„motifasi‟ itu adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu perbuatan dengan tujuan tertentu.Motivasi sering juga diartikan sebagai usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok tertentu tergerak untuk melakukan suatu perbuatan karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.48

47Soerjono Soekanto, Bahan Bacaan Teoritis Dalam Sosiologi Hukum, (Jakarta, Ghalia Indonesia, 1985)hlm.73

48Wagiati Soetodjo,Hukum Pidana Anak,(Bandung,Refika Aditama, 2006)hlm.16

(43)

Bentuk dari motivasi tersebut ada 2 (dua) macam,yaitu : motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah dorongan atau keinginan pada diri seseorang yang tidak perlu disertai perangsang dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang datang dari luar diri seseorang.

Romli Atmasasmita mengemukakan pendapatnya mengenai motivasi intsrinsik dan ektrinsik dari kenakalan anak :49

1. Yang termasuk motivasi intrinsik dari pada kenakalan anak-anak adalah :

a. Faktor intelegentia

Intelegentia merupakan kesanggupan seseorang untuk menimbang dan memberi keputusan.Anak-anak ini pada umumnya mempunyai intelegentia verbal lebih rendahdan wawasan sosial yang kurang tajam, sehingga mereka mudah sekali terseret oleh ajakan buruk untuk menjadikan delukuen jahat.

b. Faktor usia

Stephen Hurwitz mengungkapkan “age is importance in the causation of crime”(usia adalah faktor yang paling penting dalam sebab musabab timbulnya kejahatan).

49Ibid, hlm.21

(44)

c. Faktor kelamin

Paul W.Tappan mengemukakan pendapatnya, bahwa kenakalan anak dapat dilakukan oleh anak laki-laki maupun oleh anak perempuan, sekalipun dalam prakteknya jumlah anak laki-laki yang melakukan kenakalan jauh lebih banyak dari pada anak perempuan pada batas usia tertentu.

d. Faktor kedudukan anak dalam keluarga

Kedudukan seorang anak dalam keluarga menurut urutan kelahirannya, kebanyakan delinquency dan kejahatan dilakukan oleh anak pertama dan atau anak tunggal atau oleh anak wanita atau dia satu-satunya di antara sekian saudara-saudaranya (kakak atau adik-adiknya).

2. Yang termasuk motivasi ekstrinsik adalah :50 a) Faktor rumah tangga

Keluarga memiliki peranan yang penting dalam perkembangan anak,keluarga yang baik akan berpengaruh positif bagi perkembangan anak sedangkan keluarga yang jelek akan berpengaruh negatif. Oleh karena sejak kecil anak dibesarkan oleh keluarga dan untuk seterusnya, sebagian besar waktunya adalah di dalam keluarga maka sepantasnya kalau kemungkinan timbulnya delinquency itu sebagian juga berasal dari keluarga.Adapun keluarga yang menjadi sebab timbulnya

50Ibid, hlm.22

(45)

delinquency dapat berupa keluarga yang tidak normal (broken home) dan keadaan jumlah anggota keluarga yang kurang menguntungkan.

Menurut Moelyatno bahwa menurut pendapat umum pada broken home ada kemungkinan besar bagi terjadinya kenakalan anak, di mana terutama perceraian atau perpisahan orang tua mempengaruhi perkembangan si anak. Keadaan keluarga yang tidak normal bukan hanya terjadi pada broken home, akan tetapi dalam masyarakat modern sering pula terjadi suatu gejala adanya broken home semu (quasi broken home) ialah kedua orang tuanya masih utuh,tetapi karena masing- masing anggota keluarga mempunyai kesibukan masing-masing sehingga orang tua tidak sempat memberikan perhatiannya terhadap pendidikan anak-anaknya. Pada dasarnya kenakalan anak yang disebabkan karena broken home dapat diatasi atau ditanggulangi dengan cara-cara tertentu, dalam broken home cara mengatasi agar anak tidak menjadi delikuen ialah orang tua yang bertanggungjawab dalam memelihara anak-anaknya hendaklah mampu memberikan kasih sayang sepenuhnya sehingga anak tersebut merasa seolah-olah tidak pernah kehilangan ayah dan ibunya, disamping itu keperluan anak secara jasmani harus dipenuhi

(46)

pula sebagaimana layaknya sehingga anak tersebut terhindar dari perbuatan yang melanggar hukum.

b) Faktor pendidikan dan sekolah

Sekolah adalah sebagai media atau perantara bagi pembinaan jiwa anak-anak atau dengan kata lain, sekolah ikut bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak,baik pendidikan keilmuan maupun pendidikan tingkah laku (character).

Banyaknya atau bertambahnya kenakalan anak secara tidak langsung menunjukan kurang berhasilnya sistem pendidikan di sekolah-sekolah.Dalam konteks ini sekolah merupakan ajang pendidikan yang kedua setelah keluarga bagi anak, selama mereka menempuh pendidikan di sekolah terjadi interaksi antara anak dengan sesamanya, juga interaksi antara anak dengan guru. Interaksi yang mereka lakukan di sekolah sering menimbulkan akibat sampingan yang negatif bagi perkembangan mental anak sehingga menjadi delikuen, disisi lain anak-anak yang masuk sekolah ada yang berasal dari keluarga yang kurang memperhatikan kepentingan anak dalam belajar yang kerap kali berpengaruh pada temannya yang lain.

Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa sekolah merupakan tempat pendidikan anak-anak dapat menjadi sumbe terjadinya konflik-konflik psikologis yang pada prinsipnya memudahkan anak menjadi delikuen.

(47)

Menurut Kenney bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :51

a. Sekolah harus merencanakan suatu program sekolah yang sesuai atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari semua anak untuk mengahasilkan kemajuan dan perkembangan jiwa yang sehat.

b. Sekolah harus memperhatikan anak-anak yang memperlihatkan tanda-tanda yang tidak baik (tanda-tanda kenakalan) dan kemudian mengambil langkah-langkah seperlunya untuk mencegah dan memperbaikinya.

c. Sekolah harus bekerja sama dengan orang tua murid dan pemimpin-pemimpin yang lainnya untuk membantu

menyingkirkan atau menghindarkan setiap faktor di sekelilingnya yang menyebabkan kenakalan pada mereka.

Dengan demikian, proses pendidikan yang kurang menguntungkan bagi perkembangan jiwa anak kerap kali memberi pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap anak didik di sekolah hingga dapat menimbulkan kenakalan anak (juvenili delinquency).

c) Faktor pergaulan anak

Dalam situasi sosial yang menjadi semakin longgar, anak-anak kemudian menjauhkan diri dari keluarganya untuk kemudian menegakkan eksistensi dirinya yang dianggap sebagai tersisih

51Ibid,hlm .23

(48)

dan terancam, mereka lalu memasuki satu unit keluarga baru dengan subkultur baru yang sudah delikuen sifatnya. Dengan demikian anak menjadi delikuen karena banyak dipengaruhi oleh berbagai tekanan pergaulan yang semuanya memberikan pengaruh yang menekan dan memaksa pada pembentukan perilaku buruk, sebagai produknya anak-anak tadi suka melanggar peraturan,norma sosial dan hukum formal. Anak- anak ini menjadi delinkuen/jahat sebagai akibat dari transfromasi psikologis sebagai reaksi terhadap pengaruh eksternal yang menekan dan memaksa sifatnya.Dalam hal ini peran orang tua untuk menyadarkan dan mengembalikan kepercayaan anak tersebut serta harga dirinya sangat diperlukan, perlu mendidik anak agar bersikap formal dan tegas supaya mereka terhindar dari pengaruh-pengaruh yang datang dari lingkungan pergaulan yang kurang baik.

d) Faktor media masa

Bagi anak yang mengisi waktu senggangnya dengan baca- bacaan yang buruk, maka hal itu akan berbahaya dan dapat menghalang-halangi mereka untuk berbuat hal-hal yang baik.

Demikian pula tontonan yang berupa gambar-gambar porno akan memberikan rangsangan seks terhadap anak. Mengenai hiburan film ada kalanya memiliki dampak kejiwaan yang baik, akan tetapi hiburan tersebut dapat memberikan pengaruh

(49)

yang tidak menguntungkan bagi perkembangan jiwa anak jika tontonannya menyangku aksi kekerasan dan kriminalitas. Oleh karena itu upaya yang dapat dilakukan dengan cara mengadakan penyensoran film-film yang berkualitas buruk terhadap psikis anak dan mengarahkan anak pada tontonan yang lebih menitikberatkan aspek pendidikan, mengadakan ceramah melalui media massa mengenai soal-soal pendidikan pada umumnya,mengadakan pengawasan terhadap peredaran dari buku-buku komik, majalah-majalah, pemasangan- pemasangan iklan dan lain sebagainya.52

52Ibid, hlm .25

(50)

BAB III

PENGATURAN HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI DI INDONESIA

A. Pengaturan Tindak Pidana Aborsi menurut KUHP

Tindak Pidana Aborsi didalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) diatur dalam pasal Pasal 299,Pasal 346-349. Ketentuan dalam aborsi dapat dilihat dalam Bab XIX tentang kejahatan terhadap nyawa, khususnya pada Pasal 346-349. Adapun rumusan selengkapnya dalam pasal-pasal tersebut sebagai berikut :

Pasal 299:

(1) Barangsiapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya diobati,dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat puluh ribu rupiah.

(2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan,atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib,bidan, atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.

(3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencariannya, dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.

(51)

Menurut Pasal 346 “Seorang wanita yang sengaja mengugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan ppidana penjara paling lama empat Tahun”

Pasal 347:

(1) Barangsiapa dengan sengaja mengugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Pasal 348:

(1) Barangsiapa dengan sengaja menggurkan atau mematikan kandung seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Pasal 349 mengatakan bahwa “Jika seorang dokter,bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan bersadarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan itu dilakukan.”53

Jika diamati pasal-pasal tersebut maka dapat diketahui bahwa ada 3 faktor pada kasus penguguran kandungan,yaitu :54

53Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

54Leden Marpaung, Tindak Pidana Terhadap nyawa dan tubuh(Jakarta, Sinar Grafika, 2000,)hlm.46

Referensi

Dokumen terkait

Pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tindak pidana korupsi Pengadaan Mesin Jahit dan Sapi Impor yang terjadi di Kementerian Sosial adalah dilihat

Pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana pemalsuan bilyet deposito dalam perkara Putusan Nomor: 1343/Pid/Sus/204/PN-Tjk adalah terdakwa melakukan perbuatan

Penerapan hukum pidana materil oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Maros pada perkara Nomor 06/Pid.Sus/2013/PN.MRS yang menyatakan bahwa terdakwa Muhammadong Bin Dg

Menimbang, bahwa dipersidangan Jaksa Penuntut Umum telah mengajukan seorang yang bernama Trikarna Lewenussa Alias Cetril sebagai Terdakwa dan dipersidangan Terdakwa

Dalam hal putuan hakim pada perkara anak AM Putusan Nomor 18/Pid.Sus.Anak/2019/PN.Rbi seharusnya hakim, tidak serta merta menjatuhkan hukuma pidana penjara terhadap anak,

Dalam pertimbangan hukum Hakim, harus memperhatikan keadaan serta berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan, adanya alasan-alasan pemaaf dan pembenar yang

Tentunya dalam perkara tindak pidana Majelis Hakim dalam pertimbangan hukumnya akan menganalisa terkait apakah unsur pasal yang didakwakan oleh Penuntut Umum misalnya dalam hal ini

Majelis hakim menjatuhkan pidana kepada para terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 3 tiga bulan, dan denda sebesar Rp500.000,- lima ratus ribu rupiah dengan ketentuan