• Tidak ada hasil yang ditemukan

REPRESENTASI NASIONALISME DALAM FILM MERAWAT INGATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "REPRESENTASI NASIONALISME DALAM FILM MERAWAT INGATAN"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

REPRESENTASI NASIONALISME DALAM FILM MERAWAT INGATAN

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi

Program Studi S1 Ilmu Komunikasi

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS KOMUNIKASI DAN BISNIS

TELKOM UNIVERSITY BANDUNG 2021

(2)

i DAFTAR ISI

DAFTAR ISI... i

DAFTAR GAMBAR ... ii

DAFTAR TABEL ... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar belakang ... 1

1.2 Fokus penelitian ... 4

1.3 Identifikasi masalah ... 5

1.4 Tujuan penelitian ... 5

1.5 Manfaat penelitian ... 5

1.5.1 Manfaat teoritis ... 5

1.5.2 Manfaat praktis ... 5

1.6 Waktu penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Rangkuman teori ... 7

2.1.1 Komunikasi massa ... 7

2.1.2 Film... 8

2.1.3 Nasionalisme ... 9

2.1.4 Bentuk-bentuk nasionalisme ... 10

2.1.5 Representasi ... 10

2.1.6 Mise-en-scene ... 11

2.1.7 Sinematografi ... 11

2.1.8 Semiotika ... 12

2.1.9 Semiotika John Fiske ... 13

2.2 Penelitian terdahulu... 14

2.3 Kerangka pemikiran ... 20

BAB III METODE PENELITIAN ... 21

3.1 Paradigma penelitian ... 21

3.2 Metode penelitian ... 22

(3)

ii

3.3 Objek penelitian ... 23

3.4 Unit analisis penelitian ... 23

3.5 Teknik pengumpulan data ... 25

3.6 Teknik analisis data ... 25

3.7 Teknik keabsahan data... 25

DAFTAR PUSTAKA ... 27

(4)

iii DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.2 Poster Film “Merawat Ingatan” ... 3 Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ... 20

(5)

iv DAFTAR TABEL

Table 1.1 Waktu penelitian ... 5

Tabel 2.1 Kajian Literatur ... 14

Tabel 2.2 Kajian Literatur ... 14

Tabel 2.3 Kajian Literatur ... 15

Tabel 2.4 Kajian Literatur ... 15

Tabel 2.5 Kajian Literatur ... 16

Tabel 2.6 Kajian Literatur ... 16

Tabel 2.7 Kajian Literatur ... 16

Tabel 2.8 Kajian Literatur ... 17

Tabel 2.9 Kajian Literatur ... 17

Tabel 2.10 Kajian Literatur ... 18

Tabel 2.11 Kajian Literatur ... 18

Tabel 2.12 Kajian Literatur ... 19

Tabel 2.13 Kajian Literatur ... 19

Tabel 3.1 Profil Film “Merawat Ingatan” ... 22

Tabel 3.2 Unit Analisis Penelitian ... 23

(6)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Indonesia saat ini sudah banyak terpengaruh oleh adanya globalisasi yang terjadi di Indonesia. Globalisasi memunculkan tren bahwa generasi sekarang memiliki pola pikir yang terbuka seperti pola pikir yang dimiliki oleh budaya barat. Tren tersebut yang membuat generasi sebelumnya khawatir bahwa generasi sekarang tidak memiliki rasa nasionalisme yang tinggi seperti sebelum-sebelumnya.

Hal tersebut juga sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Soedarmo pada merdeka.com yang menjelaskan bahwa berdasarkan survei nilai-nilai kebangsaan yang dilakukan oleh Bapan Pusat Statistik (BPS) tingkat nasionalisme di Indonesia semakin melemah. Dari survei tersebut menyatakan bahwa 18 dari 100 orang Indonesia tidak mengetahui judul lagu kebangsaan Republik Indonesia. Kemudian 24 dari 100 orang Indonesia juga tidak hafal sila-sila yang terkandung dalam Pancasila. Selain itu terdapat pula 53 persen orang Indonesia yang tidak hafal dengan lirik lagu kebangsaan Republik Indonesia (Yodanta, 2017).

Nasionalisme sendiri merupakan sebuah perasaan bangga dan cinta yang tinggi terhadap tanah air serta tidak memandang rendah bangsa lain. Hans Kohn juga memberikan pengertian yang hingga saat ini juga masih digunakan yaitu nasionalisme merupakan suatu paham yang melihat pada kesetiaan individu harus diberikan kepada negaranya sendiri (Sari, 2020). Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, nasionalisme merupakan paham atau ajaran untuk mencintai dan bangga terhadap bangsa serta negara. Hal tersebut digunakan untuk mencapai, mengabadikan dan mempertahankan identitas, intergritas serta kekuatan bangsa.

Nasionalisme bagi bangsa Indonesia merupakan jiwa kebangsaan yang harus ada dalam setiap jiwa masyarakatnya mengingat bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama, dan juga budaya (Bakry, 2010). Nasionalisme merupakan salah satu paham yang diciptakan untuk mempertahankan kedaulatan sebuah negara agar negara tersebut memiliki identitas bersama untuk sekelompok orang yang berada di negara tersebut. Dari nasionalisme inilah, kesadaran anak bangsa terbentuk untuk menjadikan negaranya menjadi negara independen agar terbebas dari segala bentuk penindasan, penjajahan, dominasi, dan dominasi.

(7)

2 Pada dasarnya nasionalisme Indonesia terbentuk dari adanya jiwa antikapitalisme dan anti-imperealisme serta adanya kesadaran para generasi penerus bangsa Indonesia. Hal ini merupakan cita-cita yang besar yang berkaitan dengan sebuah masa depan bangsa Indonesia untuk kehidupan mendatang, dengan adanya komitmen serta konsistensi untuk membangun sebuah masyarakat yang memiliki sifat adil dan makmur. Namun dengan adanya berbagai persoalan pada bangsa menjadi penghambat tumbuhan rasa nasionalisme dan juga wawasan terhadap nasionalisme untuk mengaktualisasikan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik (Ilahi, 2012).

Nasionalisme perlu ditanamkan pada pikiran semua generasi pada masyarakat Indoensia saat ini karena tidak bisa dipungkiri bahwa rasa nasionalisme sudah mulai terkikis. Hal ini dapat dilihat bahwa generasi saat ini tidak sekokoh dan sekuat pada era paska proklamasi dulu (YAI, 2021). Contoh kasus-kasus yang terjadi di Indonesia akibat kurangnya rasa nasionalisme. Hal tersebut bisa dilihat dari kasus viral pada media sosial tiktok dimana bendera merah putih dibakar di Malaysia oleh warga Negara Indonesia yang berdomisili di Aceh pada januari 2021. Kasus tersebut merupakan salah satu kasus dimana warga Indonesia sudah mulai terkikis rasa cintanya terhadap negaranya sendiri, oleh sebab itu perlu ditanamkan kembali rasa nasionalisme dalam diri masing-masing individu (DetikCom, 2021).

Untuk memerangi kurangnya rasa nasionalisme, maka dibutuhkan contoh bagaimana untuk menanamkan rasa nasionalisme yang ditunjukan pada bangsanya. Rasa nasionalisme dapat dilakukan melalui mematuhi aturan hukum yang berlaku di negara Indonesia, sebagai masyarakat indonesia juga harus ikut melestarikan budaya Indonesia, seperti ikut serta melestarikan batik khas Indonesia dengan memakainya serta dapat pula ikut mempromosikan tarian-tarian daerah dari Indonesia agar lebih dikenal lagi baik dikalangan masyarakatnya sendiri maupun masyarakat luar. Nasionalisme juga ditunjukkan melalui masyarakat yang mampu membela bangsanya, dan mencintai produk-produk yang berasal dari negeri sendiri (Saputo, 2020).

Namun contoh sikap nasionalisme juga perlu ditunjukkan untuk menghargai pahlawan bangsa yang telah gugur mendahului kita dengan mengikuti upacara kemerdekaan Republik Indonesia. Tetapi jika kita tidak mampu mengikuti upacara Kemerdekaan Republik Indonesia, kita dapat melakukan cara lain yaitu dengan memasang bendera merah putih di depan halam rumah kita serta mengheningkan cipta untuk mendoakan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Hal tersebut

(8)

3 merupakan salah satu bentuk dari sikap nasionalisme yang mampu kita lakukan untuk menghormati para pahlawan kita.

Contoh-contoh sikap nasionalisme tersebut dapat disebarkan melalui sebuah karya berbentuk film karena film merupakan sebuah karya sinematografi yang memiliki fungsi sebagai alat pendidikan budaya untuk masyarakat luas. Selain itu film juga digunakan sebagai media yang memperjualbelikan hiburan, namun sering pula digunakan sebagai media untuk propaganda, pendidikan, dan sebagai alat penerangan. Berdasarkan penjelasan tersebut, film merupakan media efektif untuk menyampaikan nilai-nilai nasionalisme pada masyarakat luas (Trianton, 2013).

Beberapa kelebihan film yang digunakan sebagai media untuk menyampaikan nilai- nilai nasionalisme yaitu, pertama, gambar yang disuguhkan lebih hidup dan pesan yang disampaikan menjadi lebih efektif untuk diterima oleh penonton; kedua, dengan penyuguhan gambar yang hidup tersebut dapat mengurangi adanya rasa ragu terhadap penerimaan pesan serta menjadi lebih mudah diingat (Aziz, 2016 : 426).

Salah satu film yang memuat nilai-nilai nasionalisme merupakan film karya tim Operasi Silang yang anggotanya adalah gabungan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan dengan judul “Merawat Ingatan”. Film ini merupakan film yang mendapat penghargaan sebagai film pendek terbaik versi Perum Produksi Film Negara (PFN) dalam rangka 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Gambar 1.2 Poster Film “Merawat Ingatan”

Sumber : pfn.co.id

(9)

4 Film “Merawat Ingatan” adalah film yang dirilis pada Agustus 2020 dengan durasi singkat yaitu 3 menit 10 detik. Namun meskipun memiliki durasi yang singkat, nyatanya film ini mampu menampilkan pesan yang akan disampaikan dan mampu menyampaikan maknanya secara mendalam. Film “Merawat Ingatan” menceritakan tentang seorang janda tua yang ditinggalkan oleh suaminya yang merupakan seorang veteran. Ia merasa sedih akibat tidak diadakannya upacara peringatan 17 Agustus akibat adanya pandemic Covid-19 sehingga ia tidak bisa mengenang suaminya. Namun di akhir cerita, janda tua tersebut mengambil bendera dan memasangnya di halaman rumahnya kemudian mengheningkan cipta sejenak untuk mengenang suaminya.

Film merupakan sebuah karya yang dibangun berdasarkan unsur tanda dan juga simbol didalamnya. Dalam film “Merawat Ingatan” juga terdapat banyak tanda serta simbol didalamnya terutama yang berkaitan dengan nasionalisme. Unsur simbol dan tanda tersebut dapat ditelaah menggunakan metode semiotika. Dimana dengan digunakannya semiotika akan mempermudah peneliti untuk mengungkap dan menelaah makna-makna yang tersirat akan nilai-nilai nasionalismenya. Semiotika sendiri berasal dari bahasa Yunani, Semeion yang diartikan sebagai tanda. Dalam bahasa Indonesia, semiotika diartikan sebagai unsur yang memiliki peran penting untuk memunculkan sebuah makna sehingga pesan yang disampaikan dapat dimengerti. Salah satu tokoh yang membahas tentang semiotika ada John Fiske.

Semiotika John Fiske memiliki aturan pasti untuk menganalisis sebuah film karena memiliki tiga level yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi. Level realitas adalah kode-kode sosial yang ada pada film, level representasi adalah kode-kode Teknik yang digunakan dalam film, serta level ideologi adalah penerimaan hubungan sosial oleh kode-kode ideologi. Oleh karena itu peneliti menggunakan semotika John Fiske untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis film “Merawat Ingatan” yang berdurasi tiga menit 10 detik.

1.2 Fokus penelitian

Fokus pada penelitian ini adalah bagaimana interaksi pemain dalam film “Merawat Ingatan” melalui metode semiotika John Fiske untuk mengetahui representasi nasionalisme yang terkandung dalam film tersebut.

(10)

5 1.3 Identifikasi masalah

Adapun permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, sebagai berikut:

a. Bagaimana level realititas dalam film “Merawat Ingatan” merepresentasikan nasionalisme?

b. Bagaimana level representasi dalam film “Merawat Ingatan” merepresentasikan nasionalisme?

c. Bagaimana level ideologi dalam film “Merawat Ingatan” merepresentasikan nasionalisme?

1.4 Tujuan penelitian

Tujuan dalam melakukan penelitian terhadap film “Merawat Ingatan” sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui level realitas dalam film “Merawat Ingatan” yang merepresentasikan nasionalisme.

b. Untuk mengetahui level representasi dalam film “Merawat Ingatan” yang merepresentasikan nasionalisme.

c. Untuk mengetahui level ideologi dalam film “Merawat Ingatan” yang merepresentasikan nasionalisme.

1.5 Manfaat penelitian 1.5.1 Manfaat teoritis

Diharapkan penelitian ini mampu memberikan gambaran, pengertian, dan juga penjelasan dalam sesuai dengan apa yang dibahas dalam penelitian ini yaitu representasi nasionalisme dalam film “Merawat Ingatan” dalam lingkup Ilmu Komunikasi dan umum.

1.5.2 Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pelajaran untuk kedepannya bahwa sebagai masyarakat Indonesia harus memiliki nasionalisme yang tinggi untuk mempertahankan bangsa Indonesia.

1.6 Waktu penelitian

Table 1.1 Waktu penelitian

No. Tahapan kegiatan Tahun 2021

Agu Sep Okt Nov Des

(11)

6 1. Menentukan topik

dan objek untuk penelitian 2. Menyusun bab 1 3. Menyusun bab 2 4. Menyusun bab 3 5. Pendaftaran DE 6. Revisi DE 7. Menyusun bab 4 8. Menyusun bab 5 9. Pendaftaran siding

skripsi

10. Sidang skripsi

Sumber : Olahan penulis

(12)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rangkuman Teori

2.1.1 Komunikasi Massa

Komunikasi massa merupakan sebuah komunikasi yang terjadi pada dunia modern ini yang meliputi radio, koran dan televisi yang ditujuakan untuk masyarakat umum serta mampu memberikan dampak terhadap khalayak luas (Effendy, 2000 : 91).

Komunikasi massa adalah komunkasi yang menggunakan media massa baik berbentuk cetak maupun elektronik yang dikelola oleh sebuah lembaga maupun orang yang melembaga untuk menyampaikan pesan terhadap masyarakat luas (Tambunan, 2018). Secara lebih ringkasnya komunikasi massa adapat dikatakann sebagai proses komunikasi yang menggunakan media massa. Berkembangnya media massa sendiri sering dikaitkan dengan berbagai faktor diantaranya jumlah masyarakat yang sadar akan membaca sangat banyak, berkembangnya ekonomi secara pesat, adanya suatu kemajuan pada teknologi informasi dan komunikasi, fenomena perpindahan masyarakat desa ke kota atau urbanisasi, dan faktor iklan (Halik, 2013 : 2).

Komunikasi massa memiliki ciri-ciri yaitu diarahkan pada khalayak luas, heterogen dan anonim, pesannya disampaikan secara terbuka, komunikasi bergerak pada organisasi yang kompleks yang melibatkan biaya cukup besar, sifatnya satu arah yang tidak melibatkan komunikasi antar peserta komunikasi, dan khalayak yang tersebar dimana-mana (Halik, 2013 : 9).

Proses komunikasi massa sangat kompleks dan rumit, menurut McQuail (McQuail, 1994 : 33) menjelaskan bahwa sebuah proses komunikasi massa dapat terlihat berproses dalam bentuk :

a. Melakukan distribusi atau penyebaran dan penerimaan suatu informasi yang memeiliki skala besar.

b. Proses komunikasi massa dilakukan dengan satu arah yang berasal dari komunikator kemudian diterima oleh komunikasn.

c. Dalam komunikasi massa prosesnya terjadi secara asimetris antara komunikator dengan komunikan.

d. Proses dalam komunikasi massa terjadi secara interpersonal dan tanpa menggunakan nama.

(13)

8 e. Proses komunikasi massa terjadi juga sesuai dengan hubungan-hubungan yang

terjadi dalam masyarakat sesuai kebutuhannya.

2.1.2 Film

Film disebut juga sinema atau rangkaian gambar yang bergerak. Dalam kamus besar bahasa indonesia atau KBBI, film memiliki dua pengertian, yang pertama film adalah selaput tipis yang terbuah dari seluloid untuk meletakkan gambar negatif maupun positif, yang kedua film adalah sebuah lakon atau cerita yang menggambarkan tentang kehidupan (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1990 : 242).

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1992, film didefinisikan sebagai sebuah karya cipta seni dan budaya yang merupakan bagian dari media komunikasi massa dengan menggunakan asas sinematografi dan direkan menggunakan pita seluloid, pita video, piringan video dan beberapa penemuan- penemuan hasil teknologi lainnya dengan adanya suara maupun tidak adanya suara, yang dapat ditunjukan dan juga dipertontonkan menggunakan sistem eletronik, proyeksi mekanik dan alat lainnya yang mendukung film tersebut untuk ditayangkan (Undang-Undang Dasar, 1992 : 83-85).

Film merupakan sebuah fenomena sosial, fenomena psikologi, dan fenomena estetika yang dikemas secara kompleks yang berbentuk dokumen dengan isi sebuah cerita dan gambar yang dikemas menarik dengan kata-kata serta musik. Kehadiran film ditengah adanya kehidupan dalam masyarakat menjadi sangat penting dan setara dengan media-media lainnya. Keberadaannya yang praktis dan kemudahan untuk mengaksesnya membuat film dapat disamakan dengan kebutuhan sandang dan pangan manusia. Dapat dikatakann juga bahwa manusia yang berbudaya maju hampir tidak pernah tidak tersentuh oleh adanya media ini (Siregar, 2000 : 176).

Film selalu dapat membuat serta membentuk pandangan masyarakat berdasarkan isi pesan yang terkandung dalam film tersebut. Film selalu merekam dan juga memproyeksikan apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan masyarakat yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah jalan cerita agar dapat ditampilkan dalam layar (Sobur, 2006 : 127).

Film menjadi media komunikasi audio visual yang sangat akbrab dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat yang memiliki gender dan usia yang berbeda serta tingkat sosial yang berbeda pula. Kekuatan dan kemampuan yang dimiliki oleh film untuk menjangkau banyak banyak segmen sosial dan berbagai generasi membuat para

(14)

9 ahli menganggap film memiliki dampak dalam mempengaruhi khalayak (Sobur, 2004 : 27).

Dalam penelitian ini, genre film yang digunakan yaitu drama, dimana drama merupakan sebuah genre yang menceritakan sebuah kisah yang diangkat dari kisah nyata atau yang sering terjadi dalam kehidupan kita yang berhubungan dengan setting, karakter, tema, dan juga cerita (Nugraha, 2021).

2.1.3 Nasionalisme

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, nasionalisme diartikan sebagai paham atau ajaran untuk mencintai negara dan bangsanya sendiri. Selain itu juga dapat diartikan sebagai kesadaran dalam diri setiap anggota pada suatu bangsa yang secara potensial maupun aktual dengan bersama-sama mencapai, mengabadikan, dan juga mempertahankan integritas, kemakmuran, identitas serta kekuatan yang dimiliki oleh bangsa itu (Ilahi, 2012 : 9).

Nasionalisme merupakan suatu semangat yang memang harus dimiliki oleh setiap warga Indonesia untuk mencintai tanah airnya. Jika dilihat dari istilah etimologinya, nasionalisme berasal dari kata nasionalism dan nation dalam bahasa inggris. Nation berasal dari bahasa Latin yaitu natio yang meiliki arti “saya lahir”

atau berasal dari kata natus sum yang artinya “saya dilahirkan”. Seiring dengan perkembangannya, kata nation merujuk pada sebuah bangsa maupun kelompok manusia yang menempati dan menjadi penduduk resmi suatu negara dalam mencintai tanah airnya (Ilahi, 2012 : 10).

Selain itu nasionalisme merupakan suatu paham kebangsaan yang tumbuh dan berkembang karena terdapat sebuah persamaan nasib dan sejarah juga kepentingan untuk hidup secara bersama sebagai suatu bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, maju, dan demokratis dalam satu kesatuan negara dan bangsa serta cita-cita bersama guna memelihara, mencapai, dan mengabdi identitas, persatuan, kekuatan atau kekuasaan, dan kemakmuran negara tersebut (Zulfikar, 2021).

Nasionalisme sudah menjadi pandang kuat yang pertama sejak Revolusi Amerika dan Perancis. Selain itu baru kemudian menyebar ke Eropa Tengah, Eropa Timur, dan ke Tenggara. Nasionalisme sendiri berkembang di Afrika dan Asia sejak awal abad ke-20. Hal tersebut juga menjadi kebangkitan dan perjuangan kuat untuk maskayarakat yang ada di dua benua tersebut. Di Indonesia sendiri, benih-benih nasionalisme juga muncul pada abad yang sama yaitu abad ke-20 dan berawal dari lahirnya Budi Utomo yang didirikan oleh Wahidin Soedirohoesoedo dan Soetomo

(15)

10 pada 20 Mei 1908. Dari adanya Budi Utomo inilah rakyat Indonesia memiliki rasa nasionalisme pada negaranya dan Budi Utomolah yang menjadi pemicu kesadaran pada para tokoh pergerakan nasionalisme untuk berjuangan dengan cara mengikuti organisasi ini (Welianto, 2019).

2.1.4 Bentuk-Bentuk Nasionalisme

Nasionalisme merupakan bentuk dari adanya sebuah persamaan dari kelompok manusia yang mengakibatkan adanya kesadaran sebagai bangsa. Nasionalisme atau semangat kebangsaan tidak datang dengan sendirinnya namun dipegaruhi oleh beberapa unsur yaitu perasaan nasional, karakter nasional, batas nasional, bahasa nasional dan peralatan nasional. Berdasarkan unsur-unsur tersebutlah muncul bentuk- bentuk nasionalisme sebagai berikut (Retno, 2012) :

a. Nasionalisme kewarganegaraan

Nasionalisme kewarganegaraan merupakan nasionalisme yang negaranya memperoleh sebuah kebenaran terhadap politik dari partisipasi aktif rakyatnya, keanggotaan suatu bangsa yang sifatnya sukarela.

b. Nasionalisme etnis

Nasionalisme etnis merupakan nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik yang berasal dari budaya asal atau etnis di sebuah masyarakat.

c. Nasionalisme romantik/organik/identitas

Nasionalisme romantik merupakan nasionalisme yang dimana negaranya memperoleh kebenaran politik sebagai sesuatu yang sifatnya alamiah dan merupakan ekspresi yang ditunjukkan dari sebuah bangsa maupun ras.

d. Nasionalisme budaya

Nasionalisme budaya merupakan nasionalisme yang memperoleh kebenaran politik dari budaya suatu budaya bersama dan sifatnya tidak turun-temurun seperti ras, warna kulit dan sebagainya.

e. Nasionalisme kenegaraan

Nasionalisme kenegaraan merupakan nasionalismee yang merupakan gabungan dari nasionalisme etnis dimana suatu komoditas yang memberikan aksi langsung atau kontribusi terhadap suatu pemeliharaan dan juga kekuatan sebuah bangsa.

f. Nasionalisme agama

Nasionalisme agama merupakan nasionalisme yang mendapatkan legitimasi politik dari adanya persamaan agama.

2.1.5 Representasi

(16)

11 Representasi merupakan bagaimana suatu objek maupun realita itu ditampilkan. Istilah representasi lebih mengarah pada bagaimana seseorang, kelompok maupun pendapat ditunjukkan dalam media massa (Yusanto, 2020).

2.1.6 Mise-en-scene

Mise-en-scene merupakan unsur sinematik yang paling sering dan mudah ditemukan hampir diseluruh gambar pada produksi suatu film. Namun penerapannya juga dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu (Pratista, 2017):

a. Kostum

Kostum ini lebih khususnya membahas tentang bagaimana menunjukkan kepribadian dalam sebuah film maupun drama. Seperti contoh pakaian klasik, religius, konservatif maupun paian yang modern sudah dipastika merupakan gambaran citra dari seseorang yang sedang memakainya.

b. Riasan

Riasan merupakan pendukung yang penting karena riasannya lah yang mendukung berbagai macam adegan peran agar sesuai dengan tampilan wajah yang akan ditampilkan pada film.

c. Perilaku

Mencerminkan tindakan seseorang yang menunjukkan postur tubuh sesuai dengan kondisi emosional dan relaksasi maupun ketegangan mereka. Berkaitan dengan kemarahan, agresivitas, inferioritas dan superioritas.

d. Setting

Menunjukkan lokasi maupun situasi dimana seorang indivisu berada. Yang mencakup lingkungan antaranya stasiun, rumah, pinggir jalan, taman, dan sebagainya.

e. Gerakan

Sesuatu yang timbul akibat kaki, tangan, lengan, pinggul, serta kepala. Sebuah gerakan dapat dilihat dengan sifat lemah lembut, dingin, dan juga emosinya.

f. Pemain dan pergerakannya

Menyangkut tentang fisik yaitu gerakan pada tubuh (gesture) dan ekspresi yang ditampilkan pada wajah pemain.

2.1.7 Sinematografi

Sinematogeafi merupakan suatu pengaturan pada cahaya yang dilakukan oleh pengambil gambar untuk merekan gambar yang dilakukan pada sebuah sinema.

Dengan penataan kamera yang baik akan mempermudah penonton untuk menikmati

(17)

12 keseluruhan cerita yang ditampilkan dan juga dapat memahami alur yang ingin ditunjukkan oleh pembuat film.

Pengambilan kamera berdasarkan jaraknya dibagi sebagai berikut (Pratista, 2017):

a. Extreme long shot

Jarak kamera yang diambil dengan objek berada di paling jauh dan hampir tidak terlihat. Lebih digunakan untuk memperlihatkan keindahan ataupun suasan lingkungan sekitar.

b. Long shot

Pada jarak ini terlihat tubuh manusia sangat jelas dengan latar belkang yang dominan.

c. Medium long shot

Teknik ini memperlihatkan tubuh manusia dari lutut hingga atas.

d. Medium shot

Teknik ini digunakan untuk memperlihatkan tubuh manusia dari pinggang hingga keatas. Ekpresi juga mulai terlihat pada pengambilan gambar ini.

e. Medium close-up

Teknik ini digunakan untuk memperlihatkan tubuh manusia dari dada hingga keatas dengan latar belakang yang tidak telihat dominan.

f. Close-up

Teknik digunakan untuk menunjukkan suatu ekpresi maupun gestur seseorang dengan sangat jelas umumnya memperlihatkan wajah, tangan, kaki, dan sebagainya.

g. Extreme close-up

Pada teknik memperlihatkan sesuatu yang lebih detail lagi dari sebuah objek.

2.1.8 Semiotika

Semiotika merupakan sebuah metode analisis atau ilmu yang digunakan untuk mengkaji suatu tanda. Dengan adanya tanda yang mewakili sesuatu, semiotika melihat komunikasi sebagai pembangkitan makna dalam pesan.

Semiotika bertujuan untuk mengetahui makna-makna yang terdapat pada sebuah tanda yang digunakan untuk menafsirkan makna tersebut agar memiliki arti yang dapat dipahami oleh komunikator. Kontruksi pada makna inilah yang akhirnya dijadikan dasar terbentuknya ideologi dalam sebuah tanda (Prasetya, 2019 : 4).

Semiotika dikelompokkan menjadi tiga tingkatan yaitu:

(18)

13 a. Syntatic level, bagaimana tanda memiliki arti terhadap tanda-tanda yang lainnya.

b. Semantic level, bagaimana tanda berkaitan dengan tanda yang lain.

c. Pragmantic level, bagaimana tanda digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

2.1.9 Semiotika John Fiske

Semiotika adalah sebuah pengetahuan yang berkaitan dengan tanda, pemaknaan yang asalnaya dari tanda yang ditunjukkan sebelumnya, ilmu tentang tanda, dan juga pemaknaan pada teks media (Fiske, 2004 : 282).

Semiotika John Fiske mempunyai tiga pembagian yaitu:

a. Tanda itu sendiri

Terdiri dari beberapa studi megenai yang berbeda, cara tanda-tanda tersebut berkaitan dengan manusia yang menggunakannya. Tanda merupakan hal yang dibuat atau dikonstruksi oleh manusia, maka hanya manusia sendiri pula yang dapat memahaminya.

b. Kode

Studi ini memperlajari bagaimana cara berbagai kode dicakup untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan yang ada dalam masyarakat atau budaya untuk mengeksploitasi saluran komunikasi yang telah tersedia dan kemudian ditransmisikan.

c. Budaya

Hal ini bergantung pada penggunaan kode maupun tanda-tanda untuk keberadaan dan penggunaannya sendiri.

John Fiske membagi kode menjadi tiga level tayangan televisi, dimana juga berlaku pada film maupun drama, sebagai berikut (Puspita & Nurhayati, 2019):

a. Level realitas

Peristiwa yang ditandakan (encoded) sebagai suatu realitas tampilan berupa lingkungan, percakapan, pekaian yang digunakan, gesture yang ditunjukkan, ekspresi, suara, perilaku, dan dalam bahasa tulis seperti dokumen, transkrip, wawancara, maupun bahasa tulis lainnya.

b. Level representasi

Realitas yang terkode encoded electronically harus ditampilkan pada kode teknikal berupa kamera, pencahayaan, editing, suara, dan juga suara. Elemen tersebut kemudian ditransmisikan menjadi suatu kode representasional yang dapat diaktualisasi dari karakter, narasi, dialog, action, dan setting.

(19)

14 c. Level ideologi

Semua elemen diorganisasikan dan dikelompokkan menjadi kode-kode ideologis, seperti patriarki, kapitalisme, materialisme, dan kode-kode ideologis lainnya.

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian ini merupakan sebuah studi literatur terhadap jurnal maupun skripsi terdahulu dimana memiliki masalah yang relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Penelitian tersebut sebagai berikut:

Tabel 2.1 Kajian Literatur Kajian Literatur Skripsi

Judul Representasi Nasionalisme Dalam Film Rudy Habibie Karya Hanung Bramantyo

Tahun 2018

Peneliti Hasim Ashari

Sumber http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/8714/

Hasil Film ini merepresentasikan adanya nasionalisme dengan ditunjukkannya adegan-adegan yang berisi identitas bangsa Indonesia, seperti bahasa, makanan khas, dan ekspresi kebudayaan daerah

Perbedaan Perbedaannya terletak pada objek yang digunakan yaitu film Habibie Ainun karya Hanung Bramantyo dengan metode penelitian semiotika Roland Barthes.

Sumber : olahan penulis

Tabel 2.2 Kajian Literatur Kajian Literatur Skripsi

Judul Representasi Nasionalisme Dalam Film “The Lady”

Tahun 2012

Peneliti Affan Ahadian

Sumber http://eprints.upnjatim.ac.id/4392/

Hasil Film “The Lady” merepresentasikan adanya nasionalisme yang ditunjukkan dibalik kisah percintaan antara dua tokoh yang menjadi pemera utamanya.

Perbedaan Perbedaannya teletak pada objek yang digunakan pada penelitian ini yaitu

(20)

15 film “The Lady”

Sumber : olahan penulis

Tabel 2.3 Kajian Literatur Kajian Literatur Skripsi

Judul Representasi Nasionalisme Dalam Iklan Bukalapak Versi “Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia”

Tahun 2018

Peneliti Rilla Hesti Prayoga

Sumber http://digilib.uinsby.ac.id/22864/1/Rilla%20Hesti%20Prayoga_B96214104.p df

Hasil Hasil penelitian ini yaitu pemaknaan nasionalisme yang lebih mengarah pada arti cinta, pemaknaan mengenai pengorbanan dan pemaknaan nasionalisme terkait agama.

Perbedaa n

Perbedaan pada penelitian ini dengan milik peneliti yaitu pada objek dengan iklan bukalapak versi dirgahayu kemerdekaan Indonesia dan metode

penelitiannya menggunakan semiotika Rolan Barthes.

Sumber : olahan penulis

Tabel 2.4 Kajian Literatur Kajian Literatur Skripsi

Judul Representasi Nilai-Nilai Nasionalisme Dalam Film “Di Balik 98”

Tahun 2018

Peneliti Canceria Eka Wulandari

Sumber https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/10752/Skripsi- Canceria%20Eka%20Wulandari-

14321119_3.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Hasil Hasil dari penelitian ini yaitu ditemukannya nilai nasionalisme pada lagu bagimu negeri, bendera merah putih, dan adanya lambang burung garuda dan juga mematahkan pernyataan Lukman Sardi bahwa di film ini tidak terdapat unsur nasionalismenya melainnkan unsur humanisme.

Perbedaan Perbedaannya terletak pada objek film yang digunakan yaitu film Di Balik 98 dan metode yang digunakan semiotika Roland Barthes.

(21)

16 Sumber : olahan penulis

Tabel 2.5 Kajian Literatur Kajian Literatur Skripsi

Judul Representasi Nasionalisme dalam Film Merah Putih Tahun 2012

Peneliti Christina Ineke Widhiastuti Sumber http://eprints.untirta.ac.id/144/

Hasil Representasi nasionalisme dalam film ini digambarkan dengan hal berbentuk fisik seperti, senjata, bambu runcing, bendera, tentara, maupun perang. Film ini hanya menggambarkan nasionalisme yang sifatnya sempit karena masih mengotak-otakkan nasionalisme itu sendiri.

Perbedaan Perbedaannya terletak pada objek yaitu film Merah Putih dan metode penelitiannya yang menggunakan Roland Barthes.

Sumber : olahan penulis

Tabel 2.6 Kajian Literatur Kajian Literatur Jurnal Nasional

Judul Analisis Representasi Semangat Nasionalisme Pada Visual Film Garuda Di Dadaku

Tahun 2020

Peneliti Kevin Justin, Samuel David, dan Shelvensia Thenata

Sumber https://ojs.uph.edu/index.php/KOMA-DKV/article/view/2990 Hasil Film Garuda di Dadaku merepresentasikan sebuah nuansa semangat

nasionalisme dan beberapa identitas nasional ditampilkan melalui adegan- adegan pertandingan.

Perbedaan Penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian peneliti yaitu pada objeknya dimana penelitian ini menggunakan film Garuda Di dadaku, sedangkan peneliti menggunakan film Merawat Ingatan.

Sumber : olahan penulis

Tabel 2.7 Kajian Literatur Kajian Literatur Jurnal Nasional

(22)

17 Judul Representasi Nasionalisme Dalam Film “5 CM”

Tahun 2013

Peneliti Rahmi Ramadhani

Sumber http://www.journal.unair.ac.id/download-fullpapers- commb5e63ec51afull.pdf

Hasil Film ini merupakan film yang menyuguhkan bagaimana konsep

nasionalisme ditampilkan dengan adanya simbol bendera merah putih dan setting gunung semeru yang merupakan salah satu kekayaan alam

Indonesia serta adanya intrumental lagu Indonesia Raya.

Perbedaan Pada penelitian ini menggunakan objek film “5 CM” dengan metode penelitian milik Pierce, sedangkan peneliti menggunakan film “Merawat Ingatan” dengan metode penelitian semiotika John Fiske.

Sumber : olahan penulis

Tabel 2.8 Kajian Literatur Kajian Literatur Jurnal Nasional

Judul Representasi Nasionalisme Dalam Film Habibie Dan Ainun Tahun 2014

Peneliti Rony Oktari Hidayat

Sumber https://publikasi.mercubuana.ac.id/index.php/viskom/article/view/1662 Hasil Hasi penelian ini yaitu dalam film Habibie & Ainun terdapat ideologi

nasionalisme dari sosok Habibie. Meskipun film Habibie dan Ainun dibungkus dengan drama percintaan Habibie dan Ainun.

Perbedaan Perbedaan penelitian ini dengan penelitian milik peneliti yaitu pada objek film yang digunakan.

Sumber : olahan penulis

Tabel 2.9 Kajian Literatur Kajian Literatur Jurnal Nasional

Judul Representasi Nasionalisme Dan Patriotisme Dalam Film “Tanah Surga..

Katanya”

Tahun 2013

Peneliti Rina Fakum Indria Sari

(23)

18 Sumber http://eprints.ums.ac.id/27341/8/02.NASKAH_PUBLIKASI.pdf

Hasil Hasilnya yaitu film ini menampilkan rasa nasionalisme melalui adanya bendera dan lagu kebangsaan meskipun berlatas pada daerah perbatasan dengan konflik identitas.

Perbedaan Pada penelitian ini menggunakan film “Tanah Surga.. Katanya” dan juga metode semiotika Rolan Barthes.

Sumber : olahan penulis

Tabel 2.10 Kajian Literatur Kajian Literatur Jurnal Internasional

Judul Nasionalism: Character Education Orientation in Learning Development Tahun 2020

Peneliti Dian Arief Pradana, Mahfud, Candra Hermawan, Herdiana Dyah Susanti Sumber https://bircu-journal.com/index.php/birci/article/view/1501

Hasil Penelitian ini lebih menjelaskan bahwa pendidikan karakter merupakan sebuah hasil dari pembentukan jati diri, konsep diri, harga diri, watak, kepribadian, psikologi, dan perilaku individualistis.

Perbedaan Pada penelitian ini lebih menekankan bahwa nasionalisme bisa dibentuk melalui adanya pendidikan karakter bukan melalui sebuah film yang dimana menceritakan adanya nasionalisme.

Sumber : olahan penulis

Tabel 2.11 Kajian Literatur Kajian Literatur Jurnal Internasional

Judul The Nasionalism Defense Value Character in Ketoprak Manuscript of Kyai Kala Gumarang

Tahun 2019

Peneliti Anton Kurniawan, Suyitno dan Ani Rakhmawati

Sumber https://eprints.eudl.eu/id/eprint/3683/1/eai.2-11-2019.2294892.pdf Hasil Penelitian ini menunjukkan adanya beberapa nilai karakter tokoh Kyai

Kala Gumarang dimana beliau menunjukkan bela negara yang harus dimiliki oleh setiap warga negara agar lebih mencintai negaranya sendiri.

Perbedaan Penelitian ini berfokus pada karakter tokoh Kyai Kala Gumarang

(24)

19 menunjukkan adanya rasa nasionalisme melalui bela diri sedangkan

penelitian miliki peneliti lebih menunjukkan adanya nasionalisme pada suatu film.

Sumber : olahan penulis

Tabel 2.12 Kajian Literatur Kajian Literatur Jurnal Internasional

Judul The Meaning of Nasionalism of Urban Students, Interpretive study of State Defense in South Jakarta

Tahun 2019

Peneliti Wahidah R. Bulan dan Damayanti Baskoro

Sumber https://ijmmu.com/index.php/ijmmu/article/view/601/416 Hasil Hasilnya yaitu terdapat faktor yang mempengaruhi pemaknaan

nasionalisme pada siswa yaitu a). Keterlibatan siswa dengan program- program yang berkaitan dengan pengembangan nasionalisme siswa di sekolah, b). materi pembelajaran PPKN c). interaksi siswa dengan wacana nasionalisme di sekolah (dalam organisasi sekolah) dan di luar sekolah (dalam keluarga, kelompok sebaya, dan internet).

Perbedaan Penelitian ini berfokus pada bagaimana nasionalisme dibentuk oleh sekolah kepada siswa-siwa mereka, sedangkan milik peneliti yaitu lebih menunjukkan nasionalisme yang terdapat pada film.

Sumber : olahan penulis

Tabel 2.13 Kajian Literatur Kajian Literatur Jurnal Internasional

Judul Interaction And Nasionalism Of Millennial Generation In The Novel How To Love Indonesia By Buma M. Sembiring (Interaksi Dan Sikap

Nasionalime Generasi Milenial Dalam Novel How To Love Indonesia Karya Buma M. Sembiring)

Tahun 2021

Peneliti Dzul Asfi Waraihan dan Purwati Anggraini

Sumber http://ejournal.stkip-pgri-sumbar.ac.id/index.php/jurnal- gramatika/article/view/3459

(25)

20 Hasil Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kecenderungan

perilaku tokoh utama dalam interaksi sosialnya dengan tokoh lain dan mengkaji dampak baik dan buruk yang diterima tokoh utama sebagai cerminan bagaimana bersikap ramah sosial seperti yang tertuang dalam novel How to Cinta Indonesia dalam rangka mewujudkan sikap

nasionalisme generasi milenial.

Perbedaan Perbedaannya terletak pada objek yang digunakan yaitu novel, sedangkan milik peneliti menggunakan film.

Sumber : olahan penulis

2.3 Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Sumber : Olahan penulis Film Merawat Ingatan

Nasionalisme

Semiotika John Fiske

Realitas (tampilan, perilaku, gerakan, dan ekspresi)

Representasi (kamera dan

pergerakannya) Idelogi (nasionalisme)

(26)

21 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Paradigma Penelitian

Pada hakikatnya, penelitian merupakan suatu upaya untuk menemukan kebenaran atau membenarkan kebenaran yang ada. Pada penelitian ini menggunakan paradigma kritis yang merupakan proses menemukan suatu hal yang sebenarnya terjadi dalam pandangan peneliti itu sendiri, karena observasi maupun pengalaman tidaklah jelas dengan sendirinya. Paradigma ini meyakini untuk berupaya menghindari konteks sosial akan menghasilkan distorsi yang serius. Teori kritis yang dipraktikan dalam Mazhab Frankfrut diarahkan ke berbagai kehidupan seperti masyarakat modern, yaitu ekonomi, kebudayaan, politik, ilmu pengetahuan, seni yang diselubungi oleh ideologi-ideologi yang menguntungkan pihak tertentu mengakibatkan pengasingan individu manusia dari masyarakatnya (Luthfiyah, 2018:211)

Analisis teori kritis tidak dipusatkan pada adanya kebenaran/ketidakbenaran struktur tata Bahasa atau proses penafsiran yang menekankan pada produksi dari sebuah makna.

Frankfurt mengembangkan teori paradigma kritis yang mendefinisikan fenomena sosial sebagai suatu proses secara kritis dengan berusaha mengungkap kebenaran dibalik ilusi, yang dinampakkan dunia materi, dengan tujuan membantu membentuk suatu kesadaran sosial agar memperbaiki dan merubah kondisi kehidupan manusia (Luthfiyah, 2018:277).

Sehingga dalam hal ini, untuk menganalisis adanya ketidakpedulian terhadap bangsanya atau kurangnya rasa nasionalisme pada bangsanya sendiri. Hal tersebut ditepis dengan adanya film “Merawat Ingatan” bahwa rasa nasionalisme masih ada hingga saat ini, bahkan generasa tua sangat menjunjung tinggi rasa nasionalisme mereka. Dengan paradigma kritis ini, membantu penulis supaya dapat berpikir dan memandang nasionalisme masih ada hingga saat ini melalui film meupun realita.

3.2 Metode Penelitian

Metode penelitian yang dipilih penulis untuk digunakan yaitu metode kualitatif.

Metode kualitatif merupakan metode yang digunakan untuk memperoleh data secara mendalam dan data tersebut memiliki arti. Pendekatan kualitatif bertujuan agar dapat memahami fenomena sosial melalui gambaran holistic dan memperbanyak pemahaman mendalam mengenai suatu objek yang diteliti. Mekanisme kerja penelitian kualitatif mengandalkan uraian deskriptif kata ataupun kalimat yang telah disusun secara cermat

(27)

22 dan sistematis, mulai dari menghimpun data hingga menafsirkan juga melaporkan hasil penelitian (Ibrahim, 2015:52-53).

Penelitian ini mengkaji tentang adanya tanda-tanda yang ditampilkan dengan melakukan pengamatan terhadap film “Merawat Ingatan” yang berdurasi tiga menit sepuluh detik melalui akun youtube bakteri project. Peneliti menggunakan metode semiotika John Fiske karena ingin menganalisis tentan nasionalisme yang ada pada film tersebut menggunakan tiga level John Fiske.

3.3 Objek Penelitian

Objek penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah representasi nasionalisme dalam film “Merawat Ingatan”. Dilihat dari kurangnya rasa nasinalisme yang terjadi pada warga negara Indonesia terhadap negaranya, maka peneliti ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana bentuk-bentuk nasionalisme yang digambarkan dalam film “Merawat Ingatan”

agar lebih mudah memberikan gambaran bagaimana pentingnya nasionalisme.

Tabel 3.1 Profil Film “Merawat Ingatan”

No. Profil Keterangan

1. Poster film

2. Durasi 3:10 menit

3. Genre Drama

4. Talent Mbah Madiwiyono as Pertiwi, Mirza Al-Fajar as Tejo

5. Producer Ivan Mandalika

6. Line Producer Nazri Fahmi

(28)

23 7. Location Kombang Nabil, Adnan Hiram Damara, Wahyu

Jatmika

8. PU Zaky Zulfikar Yahya, Rivan Fauzan

9. Script Writer Rumah Paman

10. Director Aklis Ali Rohman

11. Ass Director Badhi Fadlul 12. Talent Coordinator Elgalista

13. Script Cont Aziz Maulana Malik

14. Clapper Enka

15. DOP Aidil Akbar Simorangkir

16. Ass Cam Chandra Aditya

17. Lighting Sidik Yulianto, Abdul Aziz Al Hakim

18. Artistic Bima Albiansyah

19. Master Prop Dzulfikar Usman Hafidz

20. Wardrope Monika Ayu Atari, Dewi Puspita Sari 21. Soundman Adi Safitra, Reksa Sandika

22. BTS Adly Azhar

23. Editor Ahmad Wildan

24. Music Ilustration Erza Prayogi 25. Poster Design Sidik Dwi Pramono

Sumber : youtube bakteri project (https://www.youtube.com/watch?v=PEnAgHy0TDA) diakses tanggal 17 Oktober 2021

3.4 Unit Analisis Penelitian

Unit analisis dalam penelitian ini dibagi menjadi beberapa screenshot dibawah ini:

Tabel 3.2 Unit Analisis Penelitian

No. Waktu Screenshot adegan Keterangan

1. 0:26 Memperlihatkan

nenek sedang berjalan-jalan disekitar desanya yang sepi di hari

(29)

24 peringatan

kemerdekaan Indonesia.

2. 0:59 Menampilkan

salah satu pemuda desa yang sedang mengunjungi rumah nenek untuk

memberikan bantuan sembako.

3. 2:00

Nenek sedang melihat foto mendiang

suaminya dan membersihkan foto tersebut dari debu.

4. 3:07 Nenek memasang

bendera merah putih di depan rumahnya serta mendengarkan suara radio yang memperdengarkan suara proklamasi Indonesia oleh Bung Karno.

Sumber : Olahan Penulis

(30)

25 3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdapat dua cara yaitu:

a. Data Primer

Data primer adalah data utama, yang digunakan oleh peneliti yaitu potongan scene-scene yang terdapat pada film “Merawat Ingatan” dalam bentuk capture gambar sebagai perwakilan gambar untuk diteliti.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data pendukung atau penguat dari data primer. Penulis menggunakan studi literatur, buku-buku, penelitian terdahulu, artikel, berita, karya ilmiah dan internet untuk mendukung penelitian.

3.6 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dilakukan oleh penulis untuk meneliti film “Merawat Ingatan” sebagai berikut :

a. Melakukan observasi terhadap film “Merawat Ingatan” dengan menonton dan mengamati setiap scene dan shot dalam film tersebut melalui akun youtube bakteri project.

b. Langkah selanjutnya yaitu memilih scene atau shot yang ada dalam film “Merawat Ingatan” yang memiliki kaitan dengan representasi nasionalisme didalamnya.

c. Kemudian membuat bagan yang tersusun dari waktu, adegan yang akan diambil dan memberikan keterangan jelas sehingga menjadi lebih mudah untuk dipahami.

d. Setelah tersusun maka akan dilakukan analisis terhadap tanda, suara dan juga gambar menggunakan semiotika John Fiske untuk mencari representasi nasionalisme di dalam film “Merawat Ingatan”.

e. Langkah berikutnya yaitu melakukan verifikasi terhadap hasil analisis yang sudah dilakukan dengan teori teori yang sudah dijelaskan dan disebutkan di dalam bab II.

f. Terakhir yaitu mengambil kesimpulan terhadap penelitian yang sudah dilakukan.

3.7 Teknik Keabsahan Data

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Sebab penelitian berasal dari suatu fenomena dan adanya kebutuhan pendukung data berupa sumber, sehingga penelitian ini menggunakan uji keabsahan triangulasi sumber menjadi alat yang relevan untuk menentukan pola atau bentuk melalui analisis berlandaskan pada

(31)

26 teori dan sumber. Penelitian ini adalah analisis semiotika yang bersifat kualitatif dimana datanya berupa kata, kata, gambar, perilaku dan banyak hal yang tidak didominasi angka.

Sehingga peneliti menggunakan data dokumentasi sebagai pengukurnya. Juga, peneliti menggunakan data-data sekunder dan sumber yang lebih beragam terkait film “Merawat Ingatan” tanpa dibatasi oleh angka-angka, variabel, dan perhitungan statistik. Peneliti mengembangkan dan memaparkan konsep, fakta dan data yang telah diperoleh kemudian di interpretasikan dengan rujukan, acuan, juga referensi ilmiah sehingga tidak kehilangan atau mengurangi nilai keunikan individual

(32)

27 DAFTAR PUSTAKA

Aziz, A. (2016). Ilmu Dakwah (5th ed.). Kencana.

Bakry, N. M. (2010). Pendidikan Pancasila (1st ed.). Pustaka Pelajar.

DetikCom. (2021). Heboh Bendera Merah Putih Dibakar WNI yang Tinggal di Malaysia.

News.Detik.Com. https://news.detik.com/berita/d-5355282/heboh-bendera-merah-putih- dibakar-wni-yang-tinggal-di-malaysia

Effendy, O. U. (2000). Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi (2nd ed.). Citra Aditya Bakti.

Fiske, J. (2004). Cultural and communication studies. Jalasutra.

Halik, A. (2013). Komunikasi Massa (M. Amin (ed.); 1st ed.). Alauddin University Press.

http://repositori.uin-alauddin.ac.id/338/1/KOMUNIKASI MASSA full.pdf

Ilahi, M. T. (2012). Nasionalisme dalam Bingkai Pluralitas Bangsa (M. Sandra (ed.); 1st ed.). AR-Ruzz Media.

McQuail, D. (1994). Mcquail’s mass communication theory. London Sage Publications.

Nugraha, J. (2021). Mengenal Jenis-jenis Film dan Penjelasannya, Perlu Diketahui.

Merdeka.Com. https://www.merdeka.com/jateng/mengenal-jenis-jenis-film-dan- penjelasannya-perlu-diketahui-kln.html

Prasetya, A. B. (2019). Analisis Semiotika Film dan Komunikasi (1st ed.). Intrans Publishing.

Pratista, H. (2017a). Memahami Film (E. Damayanti (ed.); Ke-2). Homerian Pustaka.

Pratista, H. (2017b). Memahami Film (E. Damayanti (ed.); 2nd ed.). Homerian Pustaka.

Puspita, D. F. R., & Nurhayati, I. K. (2019). Analisis Semiotika John Fiske Mengenai Realitas Bias Gender Pada Iklan Kisah Ramadhan Line Versi Adzan Ayah. ProTVF, 2(2), 157. https://doi.org/10.24198/ptvf.v2i2.20820

Retno, L. (2012). Pendidikan Karakter dalam Metode Aktif, Inovatif dan Kreatif. Erlangga.

Saputo, P. (2020). Nasionalisme Adalah Sikap Cinta Tanah Air, Setiap Warga Negara Wajib Tahu Arti Pentingnya. Plus.Kapanlagi.Com. https://plus.kapanlagi.com/nasionalisme- adalah-sikap-cinta-tanah-air-setiap-warga-negara-wajib-tahu-arti-pentingnya-

f0dc94.html

(33)

28 Sari, E. N. (2020). Nasionalisme - Bahan Ajar Latsar Gol. III Angkatan ke-37.

https://pusdiklat.bps.go.id/diklat/bahan_diklat/BA_2841.pdf

Siregar, A. (2000). Menyingkap Media Penyiaran Membaca Televisi. LP31.

Sobur, A. (2004). Analisis Teks Media. Remaja Rosda Karya.

Sobur, A. (2006). Semiotika Komunikasi. Remaja Rosda Karya.

Tambunan, N. (2018). Pengaruh Komunikasi Massa Terhadap Audiens. JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study, 4(1), 24.

https://doi.org/10.31289/simbollika.v4i1.1475

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka.

Trianton, T. (2013). Film Sebagai Media Belajar (1st ed.). Graha Ilmu.

Undang-Undang Dasar. (1992). Undang-Undang Dasar. Pustakan Anugrah Harapan.

Welianto, A. (2019). Nasionalisme: Arti, Sejarah, dan Tujuan. Kompas.Com.

https://www.kompas.com/skola/read/2019/12/29/180000269/nasionalisme-arti-sejarah- dan-tujuan

YAI. (2021). 6 CARA MENUMBUHKAN JIWA NASIONALISME PADA GENERASI MUDA.

Yai.Ac.Id. https://www.yai.ac.id/gallery/6-cara-menumbuhkan-jiwa-nasionalisme-pada- generasi-muda

Yodanta, C. (2017). Dirjen Polpum sebut nasionalisme bangsa Indonesia semakin turun.

Merdeka.Com. https://www.merdeka.com/peristiwa/dirjen-polpum-sebut-nasionalisme- bangsa-indonesia-semakin-turun.html

Yusanto, F. (2020). Semiotika Iklan Televisi (T. Mediamore (ed.); 1st ed.). TEL-U Press.

Zulfikar, F. (2021). Nasionalisme: Arti, Tujuan, dan Contohnya. Detik.Com.

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5643019/nasionalisme-arti-tujuan-dan- contohnya

Gambar

Gambar 1.2 Poster Film “Merawat Ingatan”
Table 1.1 Waktu penelitian
Tabel 2.1 Kajian Literatur  Kajian Literatur Skripsi
Tabel 2.3 Kajian Literatur  Kajian Literatur Skripsi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Film adalah bagian dari karya cipta seni dan budaya yang merupakan komunikasi massa audio visual yang dibuat berdasarkan asas sinematografi, dimana cahaya direkam

6 Tahun 1992, Bab 1 Pasal 1 yang dikutip (Baksin, 2003 : 6) bahwa yang dimaksud dengan film adalah : “Karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi

Definisi Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi

Di dalam Undang Undang Nomor 8 Tahun 1992 tentang Perfilman disebutkan bahwa yang dimaksud dengan film adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi

Menurut Undang – undang Nomor 8 tahun 1992 tentang Perfilman, yang dimaksud dengan Film adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang –

Definisi film menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi

Menurut Undang – undang Nomor 8 tahun 1992 tentang Perfilman, yang dimaksud dengan Film adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang –

UU No 8 tahun 1992 pasal 1 ayat 1 menjelaskan bahwa film adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat