RENCANA KERJA
(RENJA) 2019
Page | 2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iii
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 3
1.2. Landasan Hukum ... 6
1.3. Maksud dan Tujuan ... 7
1.4. Sistematika Penulisan ... 7
BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA DINAS PANGAN DAN PERTANIAN KOTA BANDUNG TAHUN 2017 2.1. Evaluasi Pelaksanaan Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2017 dan Capaian Renstra ... 12
2.2. Analisis Kinerja Pelayanan Dinas Tahun 2017... 34
2.3. Isu-Isu Penting Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung ... 38 2.4. Review Terhadap Rancangan Awal RKPD... 44
2.5. Penelaahan Usulan Program dan Kegiatan Masyarakat ... 45
BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN 3.1. Telaahan Terhadap Kebijakan Nasional ………... 51
3.2. Tujuan dan Sasaran Rencana Kerja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung ... 55
3.3. Tujuan dan Sasaran Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung ... 57
3.4. Program dan Kegiatan Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2019 ……... 58
BAB IV RENCANA KERJA DAN PENDANAAN PERANGKAT DAERAH 4.1. Urusan Wajib Pangan ……….. 64
4.2. Urusan Pilihan Pertanian ……….. 64
4.3. Urusan Pilihan Perikanan dan Kelautan ……….. 65
4.4. Non Urusan (Administrasi Umum) ……….. 66
BAB V PENUTUP ………... 68
Page | 3
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Rekapitulasi Evaluasi Hasil Pelaksanaan Renja Perangkat Daerah dan Pencapaian Renstra Perangkat Daerah s/d Tahun 2018 ...
33 Tabel 2.2. Capaian Indikator Kinerja Utama Dinas Pangan dan Pertanian Kota
Bandung Tahun 2017 ……….
34 Tabel 2.3. Capaian Indikator Kinerja Dinas Pangan dan Pertanian Kota
Bandung Tahun 2017 ………...
35 Tabel 2.4. Pencapaian Kinerja Pelayanan Dinas Pangan dan Pertanian Kota
Bandung …...
37 Tabel 2.5. Analisis Kekuatan Faktor-Faktor SWOT ... 40 Tabel 2.6. Review Terhadap Rancangan Awal RKPD Tahun 2019 Kota
Bandung ………... 45 Tabel 2.7. Usulan Program dan Kegiatan dari Para Pemangku Kepentingan
Tahun 2019 Kota Bandung ... 46 Tabel 3.1. Sinkronisasi Prioritas Pembangunan Kota Bandung dengan
Prioritas Nasional ………... 53 Tabel 3.2. Target Indikator Kinerja Utama (IKU) Dinas Pangan dan Pertanian
Kota Bandung Tahun 2019 ………... 60 Tabel 4.1. Penyajian Program dan Kegiatan dilakukan berdasarkan
Urusan/Fungsi Penyelenggaraan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Perangkat Daerah ………...
63
Page | 4 BAB I
PENDAHULUAN
Kota Bandung terletak pada posisi 107º36’ Bujur Timur dan 6º55’
Lintang Selatan. Luas wilayah Kota Bandung adalah 16.729,65 Ha.
Perhitungan luasan ini didasarkan pada Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 10 Tahun 1989 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1987 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung dengan Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung. Secara administratif, Kota Bandung berbatasan dengan beberapa daerah kabupaten/kota lainnya, yaitu:
1. sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat;
2. sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi;
3. sebelah Tmur berbatasan dengan Kabupaten Bandung; dan 4. sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung.
Gambar 1 Peta Orientasi Kota Bandung
Page | 5 Secara morfologi regional, Kota Bandung terletak di bagian tengah “Cekungan Bandung”, yang mempunyai dimensi luas 233.000 Ha. Secara administratif, cekungan ini terletak di lima daerah administrasi kabupaten/kota, yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan 5 Kecamatan yang termasuk Kabupaten Sumedang.
A. Kondisi Topografi
Kota Bandung terletak pada ketinggian 791 m di atas permukaan laut (dpl). Titik tertinggi berada di daerah utara dengan ketinggian 1.050 m dpl, dan titik terendah berada di sebelah selatan dengan ketinggian 675 m dpl. Wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan membentuk Kota Bandung menjadi semacam cekungan (Bandung Basin).
B. Kondisi Geologi
Keadaan geologis di Kota Bandung dan sekitarnya terdiri atas lapisan aluvial hasil letusan Gunung Tangkuban Perahu. Jenis material di wilayah bagian utara umumnya jenis tanah andosol, sedangkan di bagian selatan serta timur terdiri atas jenis aluvial kelabu dengan bahan endapan liat. Di bagian tengah dan barat tersebar jenis tanah andosol. Secara geologis Kota Bandung berada di Cekungan Bandung yang dikelilingi oleh Gunung Berapi yang masih aktif dan berada di antara tiga daerah sumber gempa bumi yang saling melingkup, yaitu (i) sumber gempa bumi Sukabumi-Padalarang- Bandung, (ii) sumber gempa bumi Bogor-Puncak-Cianjur, serta (iii) sumber gempa bumi Garut-Tasikmalaya-Ciamis. Daerah-daerah ini aktif di sepanjang sesar-sesar yang ada, sehingga menimbulkan gempa tektonik yang sewaktu- waktu dapat terjadi. Selain itu Kota Bandung yang berpenduduk banyak dan padat serta kerapatan bangunan yang tinggi juga berisiko tinggi pada berbagai bencana.
Untuk penyusunan Renja di bidang pangan dan pertanian berdasarkan keadaan geologis dan tanah yang ada di Kota Bandung dan sekitarnya diperlukan perencanaan yang matang dalam mencapai target kinerja yang telah ditentukan dalam jangka waktu 1 (satu) tahun.
Undang – Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional telah mengamanatkan bahwa setiap Daerah harus
Page | 6 menyusun Rencana Pembangunan Daerah secara sistematis, terarah terpadu dan tanggap terhadap perubahan, dengan jenjang perencanaan jangka panjang (25 tahun ), jangka menengah (5 tahun ), maupun jangka pendek ( 1 tahun ). Berdasarkan hal itu setiap daerah harus menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Dokumen tersebut akan menjadi acuan untuk penyusunan RENJA SKPD.
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung merupakan penjabaran visi, misi, program dan kegiatan Dinas Pangan dan Pertanian yang akan dilaksanakan pada tahun 2018, penyusunan Rencana Kerja Perangkat Daerah (PD) Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung berpedoman pada RKPD Kota Bandung.
Berbagai program dan kegiatan pemerintah daerah tersebut dituangkan dalam Rencana Kerja PD sebagai acuan bagi PD dalam mengoperasionalkan RKPD yang memuat rencana pembangunan selama 1 (satu) tahun yang akan dilaksanakan oleh Perangkat Daerah Pemerintah Daerah.
Mengingat peran dan fungsi RKPD Kota Bandung sangat penting bagi pemerintah dan masyarakat maka penyusunan Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung dilakukan secara transparan dan partisipatif untuk menghasilkan dokumen rencana kerja yang baik.
1.1. LATAR BELAKANG
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017, tentang tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah,Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan Rencana Kerja
Page | 7 Pemerintah Daerah yang telah ditetapkan dijadikan pedoman penyempurnaan rancangan Renja Perangkat Daerah Kota. Program dan kegiatan dalam Renja Perangkat Daerah dirumuskan dalam rangka mewujudkan pencapaian sasaran serta target kebijakan program dan kegiatan pembangunan dalam RKPD Kota Bandung Tahun 2019. Perumusan Renja Perangkat Daerah merupakan proses yang tidak terpisahkan dan dilakukan bersamaan dengan tahap perumusan rancangan Perangkat Daerah. Penyempurnaan rancangan Renja Perangkat Daerah bertujuan untuk mempertajam tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan daerah sesuai dengan tugas dan fungsi Perangkat Daerah yang ditetapkan dalam RKPD.
Renja Perangkat Daerah merupakan dokumen perencanaan Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. Undang-undang No 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah telah mewajibkan setiap Perangkat Daerah untuk menyusun Rencana Kerja (Renja) Perangkat Daerah sebagai pedoman kerja selama periode 1 (satu) tahun dan berfungsi untuk menterjemahkan perencanaan strategis lima tahunan yang dituangkan dalam Renstra Perangkat Daerah kedalam perencanaan tahunan yang sifatnya lebih operasional.
Sebagai sebuah dokumen resmi Perangkat Daerah, Renja Perangkat Daerah mempunyai kedudukan yang strategis yaitu menjembatani antara perencanaan pada Perangkat Daerah dengan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD), sebagai implementasi pelaksanaan strategis jangka menengah (RPJMD) daerah dan Renstra Perangkat Daerah yang menjadi satu kesatuan untuk mendukung pencapaian Visi dan Misi Daerah. Renja Perangkat Daerah disusun oleh masing-masing Perangkat Daerah secara terpadu, partisipatif dan demokratis. Renja Perangkat Daerah digunakan sebagai dasar penyusunan Rencana Kerja Anggaran (RKA) Perangkat Daerah untuk penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota dan sebagai dasar pengusulan program/kegiatan yang akan dibiayai APBD Propinsi dan APBN.
Page | 8 Dokumen Renja Perangkat Daerah pada dasarnya merupakan suatu proses pemikiran strategis untuk menyikapi isu-isu yang berkembang dan mengimplementasikannya dalam program dan kegiatan Perangkat Daerah.
Kualitas dokumen Renja sangat ditentukan oleh kualitas program dan kegiatan yang akan dilaksanakan, sehingga penyusunan Renja Perangkat Daerah sangat ditentukan oleh kemampuan Perangkat Daerah dalam menyusun, mengorganisasikan, mengimplementasikan, mengendalikan dan mengevaluasi capaian program dan kegiatan sesuai tugas pokok dan fungsi Perangkat Daerah.
Berdasarkan Permendagri No.86 Tahun 2017 sistematika penyusunan Renja paling sedikit memuat :
a. pendahuluan;
b. hasil evaluasi Renja Perangkat Daerah tahun lalu;
c. tujuan dan sasaran Perangkat Daerah;
d. rencana kerja dan pendanaan Perangkat Daerah; dan e. penutup
Dalam prosesnya, penyusunan rancangan Renja Perangkat Daerah mengacu pada kerangka arahan yang dirumuskan dalam rancangan awal RKPD. Oleh karena itu penyusunan rancangan Renja Perangkat Daerah dapat dikerjakan secara simultan/paralel dengan penyusunan rancangan awal RKPD, dengan fokus melakukan pengkajian terlebih dahulu terhadap kondisi eksisting Perangkat Daerah, evaluasi pelaksanaan Renja Perangkat Daerah tahun-tahun sebelumnya dan evaluasi kinerja terhadap pencapaian Renstra Perangkat Daerah. Tahap penetapan rancangan akhir Rencana Kerja Perangkat Daerah dilakukan dengan pengesahan oleh Kepala Daerah, selanjutnya Kepala Perangkat Daerah menetapkan Renja Perangkat Daerah untuk menjadi pedoman di lingkungan Perangkat Daerah dalam menyusun program dan kegiatan prioritas Perangkat Daerah pada tahun anggaran berkenaan.
1.2. LANDASAN HUKUM
Page | 9 Landasan Hukum Penyusunan Rancangan Renja Perangkat Daerah adalah :
1) Undang-Undang Nomor 58 Tahun 2003 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);
4) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;
5) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
6) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
7) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
8) Permendagri No. 86 Tahun 2017 tentang tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah,Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan Rencana Kerja Pemerintah
Page | 10 Daerah yang telah ditetapkan dijadikan pedoman penyempurnaan rancangan Renja Perangkat Daerah Kota.Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 8 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Bandung 2005-2025;
9) Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2009 tentang Perubahan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 07 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Serta Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah;
10) Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 08 tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kota Bandung;
11) Peraturan Walikota Bandung No 1389 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung.
1.3. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan penyusunan renja Perangkat Daerah adalah : 1) Memenuhi kebutuhan akan adanya perencanaan strategis sebagai
acuan dalam penyusunan rencana kegiatan sesuai dengan UU No.
25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, yang mewajibkan setiap instansi pemerintah untuk menyusun perencanaan strategis.
2) Sebagai dokumen pelaksanaan program dan kegiatan yang berpedoman pada RKPD Kota Bandung.
1.4. SISTEMATIKA PENULISAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Mengemukakan pengertian ringkas tentang Renja Perangkat Daerah, proses penyusunan Renja Perangkat Daerah, keterkaitan antara Renja Perangkat Daerah dengan dokumen RKPD, Renstra
Page | 11 Perangkat Daerah, dengan Renja K/L dan Renja provinsi/kabupaten/kota, serta tindak lanjutnya dengan proses penyusunan RAPBD.
1.2. Landasan Hukum
Memuat penjelasan tentang undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah, dan ketentuan peraturan lainnya yang mengatur tentang SOTK, kewenangan Perangkat Daerah, serta pedoman yang dijadikan acuan dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran Perangkat Daerah.
1.3. Maksud dan Tujuan
Memuat penjelasan tentang maksud dan tujuan dari penyusunan Renja Perangkat Daerah.
1.4. Sistematika Penulisan
Menguraikan pokok bahasan dalam penulisan Renja Perangkat Daerah, serta susunan garis besar isi.
BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA PERANGKAT DAERAH TAHUN LALU
2.1 Evaluasi Pelaksanaan Renja PD Tahun Lalu
Bab ini memuat kajian (review) terhadap hasil evaluasi pelaksanaan Renja PD tahun lalu (tahun n-2) dan perkiraan capaian tahun berjalan (tahun n-1), mengacu pada APBD tahun berjalan yang seharusnya pada waktu penyusunan Renja PD sudah disahkan. Selanjutnya dikaitkan dengan pencapaian target Renstra PD berdasarkan realisasi program dan kegiatan pelaksanaan Renja PD tahun-tahun sebelumnya.
2.2 Analisis Kinerja Pelayanan PD berisi kajian terhadap capaian kinerja pelayanan PD berdasarkan indikator kinerja yang sudah ditentukan dalam SPM, maupun terhadap IKK sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008, dan Peraturan
Page | 12 Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007. Jenis indikator yang dikaji, disesuaikan dengan tugas dan fungsi masing-masing PD, serta ketentuan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kinerja pelayanan.
2.3 Isu – isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi
PD Sub bab ini berisi uraian mengenai:
1. Sejauh mana tingkat kinerja pelayanan PD dan hal kritis yang terkait dengan pelayanan PD;
2. Permasalahan dan hambatan yang dihadapi dalam menyelenggarakan tugas dan fungsi PD;
3. Dampaknya terhadap pencapaian visi dan misi kepala daerah, terhadap capaian program nasional/global, seperti SPM dan MDGs (Millenium Development Goals);
4. Tantangan dan peluang dalam meningkatkan pelayanan PD dan
5. Formulasi isu-isu penting berupa rekomendasi dan catatan yang strategis untuk ditindaklanjuti dalam perumusan program prioritas tahun rencana.
2.4 Review terhadap Rancangan Awal RKPD Sub-bab ini berisikan uraian mengenai:
1. Proses yang dilakukan yaitu membandingkan antara rancangan awal RKPD dengan hasil analisis kebutuhan;
2. Penjelasan mengenai alasan proses tersebut dilakukan;
3. Penjelasan temuan-temuan setelah proses tersebut dan catatan penting terhadap perbedaan dengan rancangan awal RKPD, misalnya: terdapat rumusan program dan kegiatan baru yang tidak terdapat di rancangan awal RKPD, atau program dan kegiatan cocok namun besarannya berbeda.
Page | 13 BAB III TUJUAN DAN SASARAN PERANGKAT DAERAH
3.1 Telaahan terhadap kebijakan nasional
Telaahan terhadap kebijakan nasional dan sebagaimana dimaksud, yaitu penelaahan yang menyangkut arah kebijakan dan prioritas pembangunan nasional dan yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi PD.
3.2 Tujuan dan sasaran Renja PD
Sub bab ini berisi perumusan tujuan dan sasaran yang didasarkan atas rumusan isu-isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi PD yang dikaitkan dengan sasaran target kinerja Renstra PD.
3.3 Program dan Kegiatan Tahun 2019 Berisikan penjelasan mengenai:
a. Faktor-faktor yang menjadi bahan pertimbangan terhadap rumusan program dan kegiatan. Misal: Pencapaian visi dan misi kepala daerah, Pencapaian MDGs, Pengentasan kemiskinan, Pencapaian SPM, Pendayagunaan potensi ekonomi daerah, Pengembangan daerah terisolir, dsb.
b. Uraian garis besar mengenai rekapitulasi program dan kegiatan, yang meliputi:
• Jumlah program dan jumlah kegiatan.
• Sifat penyebaran lokasi program dan kegiatan (apa saja yang tersebar ke berbagai kawasan dan apa saja yang terfokus pada kawasan atau kelompok masyarakat tertentu).
BAB IV. RENCANA KERJA DAN PENDANAAN PERANGKAT DAERAH
BAB V. PENUTUP
Berisikan uraian penutup, berupa :
a. Catatan penting yang perlu mendapat perhatian, baik dalam rangka pelaksanaannya maupun seandainya ketersediaan anggaran tidak sesuai dengan kebutuhan.
Page | 14 b. Kaidah-kaidah pelaksanaan.
c. Rencana tindak lanjut.
BAB II
EVALUASI PELAKSANAAN RENJA
DINAS PANGAN DAN PERTANIAN KOTA BANDUNG TAHUN 2017
Page | 15
2.1.
EVALUASI PELAKSANAAN RENJA DINAS PANGAN DANPERTANIAN KOTA BANDUNG TAHUN 2017 DAN CAPAIAN RENSTRA
Pada tahun 2017 Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung telah melaksanakan 1 (satu) Urusan Wajib yaitu Urusan Pangan dan 2 (dua) Urusan Pilihan yaitu Urusan Pertanian, dan Urusan Kelautan dan Perikanan. Terhadap masing-masing urusan tersebut dianalisis sebagai berikut :
A. URUSAN WAJIB 1. URUSAN PANGAN
Urusan Pangan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp. 2.569.846.418,- dan realisasi sebesar Rp. 2.413.995.840,- atau 93,94%. Program dan kegiatan pada Urusan Pangan dilaksanakan oleh Dinas Pangan dan Pertanian dengan hasil capaian kinerja program sebagai berikut :
No. Program Indikator Kerja
Satuan Satuan Realisasi Keterangan/Faktor Pendukung/Faktor Penghambat/Solusi
1 Program
Ketahanan Pangan
Skor Pola Pangan Harapan (PPH)
nilai 91,68 91,69 Pola Pangan Harapan
merupakan suatu metode yang digunakan untuk menilai jumlah dan komposisi atau ketersediaan pangan.
Pola Pangan harapan biasanya digunakan untuk
perencanaan konsumsi, kebutuhan dan penyediaan pangan wilayah.
Dalam menentukan
PPH ada beberapa komponen yang harus diketahui diantaranya yaitu konsumsi energi dan zat gizi total,
persentase energi dan gizi aktual, dan
Page | 16
skor kecukupan energi dan zat gizi. Dengan pendekatan Pola Pangan Harapan dapat dinilai mutu pangan penduduk
berdasarkan skor pangan (dietary score). Semakin tinggi skor mutu pangan, menunjukkan situasi pangan yang semakin beragam dan semakin baik komposisi dan mutu gizinya. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) ketersediaan pada tahun 2016 tercapai 91,67 dari
target 90,3 atau sebesar 101,52%. Dan untuk tahun
2017 dari target 91,68 terealisasi sebesar 91,69
atau 100,01%. Dalam dua tahun terakhir, indikator
Skor Pola Pangan Harapan (PPH) ketersediaan terus meningkat dan selalu mencapai target. Jika dibandingkan dengan target
akhir RPJMD padau tahun 2018, capaian kinerja pada tahun 2017 sudah mencapai 100,00%. Yaitu dari target 91,69 sudah tercapai sesuai target 91,69. Diharapkan pada akhir tahun 2018 capaian terus meningkat.
Faktor pendukung tercapainya kinerja : Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tercapainya skor PPH, yaitu :
1. Infrastruktur yang baik
2. Ketersediaan pangan selalu tersedia 3. Koordinasi yang baik
antara stake holder
Page | 17
4. Pelaksanaan sosialisasi konsumsi pangan yang intensif.
Penguatan cadangan pangan ekuivalen beras
Ton 60 79,837 Cadangan Pangan
Pemerintah Daerah yang selanjutnya disebut Cadangan Pangan Pemerintah Daerah adalah persediaan pangan yang dikuasai dan dikelola oleh Pemerintah Daerah yang dipergunakan untuk menanggulangi kekurangan pangan, bencana alam, bencana sosial dan/atau menghadapi keadaan darurat.
Cara Pengukuran Indikator Penguatan Cadangan Pangan yaitu Pemerintah Kota harus menyediakan cadangan pangan kota equivalen beras minimal 60 ton setiap tahunnya.
Pada tahun 2016 cadangan pangan daerah dari target 60 ton terealisasi sebesar 82,29 ton (137,15%). Pada tahun 2017 cadangan pangan dari target 60 ton dapat terealisasi 79,837 ton (133,06 %).
Jika dibandingkan dengan target akhir RPJMD pada tahun 2018, capaian kinerja pada tahun 2017 mencapai
133,06 %. Persentase capaian ini melebihi 100%.
Faktor pendorong pencapaian target yaitu adanya komitmen pimpinan dalam pemenuhan Standar Pelayanan Minimal Bidang Pangan berdasarkan Permentan No. 65 Tahun 2010 tentang
Page | 18
Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketahanan Pangan untuk pengadaan cadangan pangan setiap tahunnya.
Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Urusan Pangan tahun 2018 dan rumusan solusinya adalah sebagai berikut.
No. Permasalahan Solusi
1. Belum optimalnya implementasi percepatan penganekaragaman konsumsi pangan lokal (P2KP) yang diharapkan dapat mengurangi konsumsi beras, hal ini disebabkan ketersediaan pangan lokal sebagai sumber karbohidrat (pengganti beras) masih sulit diperoleh, harga pangan alternatif relatif lebih mahal, sulit menghilangkan kebiasaan
makan nasi, dan terbatasnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang pangan alternatif.
Mengoptimalkan implementasi Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), melalui sosialisasi kepada masyarakat tentang pangan alternatif, bimbingan dan pelatihan menyusun menu Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA), Program One Day No Rice, dan bekerjasama dengan kabupaten/
Mengoptimalkan implementasi Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), melalui sosialisasi kepada masyarakat tentang pangan alternatif, bimbingan dan pelatihan menyusun menu Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA), Program One Day No Rice, dan bekerjasama dengan kabupaten/Kota penghasil bahan umbi-umbian, dan program One Day No Rice.
2. Kota Bandung bukan merupakan daerah produksi sehingga pangan segar yang dijual dan dikonsumsi masyarakat sebagian besar (95
%) berasal dari luar wilayah Kota Bandung, sehingga diperlukan pengawasan pangan segar yang lebih intensif.
▪ Meningkatkan frekuensi sosialisasi keamanan pangan
▪ Meningkatkan koordinasi dengan dinas/ instansi dan lembaga terkait.
3. Pelaku usaha dan masyarakat masih kurang memahami tentang tata cara penanganan dan penyimpanan produk pangan segar serta pengetahuan tentang bahayanya penggunaan bahan kimia berbahaya.
▪ Hasil evaluasi dan tindak lanjut dari Kegiatan Peningkatan Mutu dan Keamanan Pangan Segar tahun 2017 merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pengawasan komoditi hasil pertanian dengan harapan komoditi yang beredar di Kota Bandung aman untuk dikonsumsi.
▪ Sudah ada inovasi dari Dinas yaitu dengan adanya Mini Lab Food Security di Pasar Modern dan Pasar Tradisional yang erupakan
kolaborasi antara Dinas Pangan dan Pertanian dengan Pasar Modern dan Pasar Tradisional, selain itu sudah ada juga Mobil Lab Keliling Dinas yang melakukan pemeriksaan secara
Page | 19
keliling mengenai keamanan pangan segar di Kota Bandung.
4. Terbatasnya SDM pengawas mutu pangan segar terutama petugas laboratorium yang memiliki pendidikan khusus (analis kimia).
Meningkatkan pelatihan kepada para petugas pemeriksa mini lab food security yang ada di seluruh pasar tradisional dan pasar modern
B. URUSAN PILIHAN
1. URUSAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Urusan Kelautan dan Perikanan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp.
2.318.116.150,- dan realisasi sebesar Rp2.171.788.590,- atau 93,69%.
Program dan kegiatan pada Urusan Kelautan dan Perikanan dilaksanakan oleh Dinas Pangan dan Pertanian dengan hasil capaian kinerja program sebagai berikut :
No. Program Indikator Kerja
Satuan Satuan Realisasi Keterangan/Faktor Pendukung/Faktor Penghambat/Solusi
1 Program
Pengembangan Budidaya Perikanan
Produksi Ikan Konsumsi
Ton 2.970 2.970,7 Produksi ikan
konsumsi pada tahun 2017 terealisasi sebesar 2.970,7 ton dari target 2.970 ton atau 100,02%.
Produksi ikan konsumsi diperoleh dari beberapa jenis ikan seperti ikan mas, nila, mujair, lele, sepat siam,
dengan jumlah produksi terbesar adalah Ikan Lele, diikuti oleh Ikan Nila, Mas, Mujair, dan ikan lainnya.
Ikan Sepat Siam. Ikan lele sebagai
penyumbang produksi terbesar, hal ini dikarenakan selain banyak peminatnya juga budidaya ikan lele dapat dilakukan dengan media terpal yang dapat disimpan di pekarangan rumah sehingga tidak memerlukan
Page | 20
lahan/kolam yang luas.
Daerah produksi ikan di Kota Bandung tersebar di beberapa kecamatan, diantaranya Kecamatan Cibiru, Arcamanik, dan Ujungberung.
Produksi ikan hias
Produksi ikan hias
1.121.700 1.123.590 Produksi ikan hias pada tahun 2017 terealisasi sebesar 1.123.590 ekor dari target 1.121.700 ekor atau sebesar 100,17%.
Pada tahun 2016 dari target 1.021.700 ekor dapat terealisasi sebesar 1.023.104 ekor
(100,14%). Jenis ikan hias yang
ibudidayakan di Kota Bandung ada 13 jenis, yaitu Barbir, Cupang, Frontosa,Gapi, Leuleupi, Udang Hias, Louhan, Manvis, Mas Koki,
Molly, Plati, ainbow, dan Sapu Hias, denganpenyumbang produksi terbesar adalah ikan Mas Koki dan Frontosa.
Daerah budidaya ikan hias di Kota
Bandung iantaranya Kecamatan Cibiru, Arcamanik, Regol, dan Ujungberung.
Faktor pendukung tercapainya kinerja adalah : adanya peningkatan minat dan pengetahuan
masyarakat dan petani ikan melalui
pembinaan, pelatihan- pelatihan maupun workshop yang diadakan oleh Dinas.
2. Program
Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Produksi Perikanan
Jumlah maksimum pangan segar hasil perikanan yang tercemar
Kasus 16 0 Dari hasil pengawasan
dan pemeriksaan selama tahun 2017 terhadap lebih dari 6.000 sampel yang diperiksa di laboratorium Dispangtan dan di
Page | 21
laboratorium rujukan, tidak ditemukan adanya pangan segar yang tercemar atau tidak ada kasus yang ditemukan, dari target maksimal penemuan kasus sebanyak 40 kasus ternyata selama tahun 2017 tidak ditemukan adanya kasus atau nol kasus.
Untuk menekan terjadinya kasus pencemaran produk pangan segar dilakukan sidak pengawasan pangan segar dengan melibatkan instansi terkait (Kepolisian, Satpol PP, Dinas UKM dan INDAG, BP POM, dan Dinas Kesehatan) serta meningkatkan pelatihan dan
sosialisasi ke swalayan, pasar tradisional, konsumen/PKK, ke pelaku usaha (TPA), DKM (pada saat pelatihan hewan qurban) .
Perhitungan indikator ini berbeda dengan indikator yang lain, semakin sedikit terjadinya kasus pencemaran pangan segar maka
menunjukan semakin baik kinerja dinas.
Cara pengukuran Persentase Menurun = Target-(Realisasi- Target) x 100 % Target
Faktor pendorong pencapaian target adalah :
1. tersedianya sarana dan prasarana penunjang untuk kegiatan Peningkatan mutu dan keamanan pangan, diantaranya : tersedianya
Page | 22
laboratorium dinas dan kendaraan laboratorium keliling.
2. Dalam upaya meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan mutu pangan segar yang beredar di wilayah Kota Bandung, Dinas Pangan dan Pertanian melakukan kerjasama dengan 8 holding company pasar modern dalam pengadaan mini lab food security, dan bekerjasama dengan PD. Pasar Bermartabat dalam pengadaan mini lab food security di beberapa pasar tradisional.
Jumlah pelaku usaha bidang pertanian dan perikanan
Jumlah Pelaku Usaha
50 217 Realisasi jumlah Pelaku Usaha merupakan kumulatif dari beberapa program yang ada di Dispangtan, pada program ini dari target 50 dapat terealisasi sebesar 217 pelaku usaha. Pada Tahun 2017 dari target 250 pelaku usaha dapat terealisasi sebanyak 554 (221,6 %) pelaku usaha di bidang pertanian dan perikanan. Faktor pendorong pencapaian target yaitu
tersedianya dana, SDM, sarana dan prasarana sebagai penunjang untuk kegiatan pelatihan kepada kelompok masyarakat yang berminat untuk menjadi wira usaha.
Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Urusan Kelautan dan Perikanan tahun 2017 dan rumusan solusinya adalah sebagai berikut :
No. Permasalahan Solusi
1. Semakin sempitnya lahan untuk budidaya perikanan sebagai
Mengoptimalkan pemanfaatan lahan
Page | 23
akibat alih fungsi lahan di Kota Bandung.
pekarangan melalui pemilihan komoditas yang mempunyai produktivitas tinggi, nilai ekonomis tinggi dan bisa dikembangkan dilahan yang sempit (ikan hias dan ikan lele).
2. Masih kurangnya pengetahuan pelaku usaha dan masyarakat tentang penggunaan bahan kimia berbahaya pada produk perikanan sehingga tidak memenuhi persyaratan keamanan mutu pangan
1) Meningkatkan frekuensi pemeriksaan dan pengawasan mutu pangan hasil perikanan yang beredar di Kota Bandung
2) meningkatkan pembinaan tentang pentingnya keamanan mutu pangan hasil perikanan kepada pedagang ikan yang ada di Kota Bandung
3) meningkatkan koordinasi dengan Dinas Perikanan tempat asal ikan, agar ikan yang masuk ke Kota Bandung tidak
menggunakan bahan kimia berbahaya.
4) Meningkatkan sosialisasi kepada
masyarakat tentang pentingnya keamanan mutu pangan hasil perikanan
2. URUSAN PERTANIAN
Urusan Pertanian mendapat alokasi anggaran sebesar Rp. 9.914.228.870,- dan realisasi sebesar Rp 9.443.099.555,- atau 95,25%. Program dan kegiatan pada Urusan Pangan dilaksanakan oleh Dinas Pangan dan Pertanian dengan hasil capaian kinerja program sebagai berikut :
No. Program Indikator Kerja
Satuan Satuan Realisasi Keterangan/Faktor Pendukung/Faktor Penghambat/Solusi
1 Program
Peningkatan Ketahanan Pangan (Pertanian/
Perkebunan)
Produksi Tanaman hias
Pohon/Tahun 192.000 195.442 Pada tahun 2017 realisasinya mencapai 195.442 pohon atau terealisasi 101,79 % dari target 192.000 pohon.
Jika dibandingkan dengan target akhir RPJMD, capaian kinerja pada tahun 2017 sudah melebihi target yaitu mencapai 100,23 % . Yaitu dari target 195.000 pot/tahun di akhir tahun RPJMD sudah tercapai 195.442 pohon/tahun.
Produktivitas tanaman hias ini diharapkan terus
meningkat sampai akhir tahun 2018.
Page | 24
Ada sekitar 24 jenis tanaman hias yang ada di Kota Bandung dan yang menjadi komoditas unggulan adalah jenis Anggrek, Gladiol, dan
Anthurium bunga.
Dari capaian produksi 195.442 pot tanaman hias, 5 (lima) jenis tanaman hias penyumbang produksi terbesar adalah dari jenis Gladiol, Anggrek, Anthurium bunga, Sansevieria, dan Krisan.
Tanaman hias ini tersebar di beberapa kecamatan, seperti Kecamatan
Arcamanik, kecamatan Sukasari, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kecamatan Kiaracondong, Kecamatan Ujungberung, dan Kecamatan Cibiru.
Potensi ekonomi dari bunga potong dan tanaman hias Indonesia untuk bisa berkembang di pasar lokal maupun global masih terbuka lebar, hanya saja beberapa kendalanya adalah di level petani masih terpaku pada sistem tata kelola usaha budidaya yang tradisional dan masih sedikit yang menggunakan teknologi canggih karena biaya investasinya yang besar.
Faktor pendukung tercapainya kinerja adalah peningkatan pengetahuan petani melalui pelatihanpelatihan, workshop, pameran tanaman hias yang diadakan oleh Dinas Pangan dan
Page | 25
Pertanian Kota Bandung. Selain itu juga meningkatkan pengetahuan para pegawai dinas dan petani dengan cara mengikuti diklat di balai-balai diklat milik pemerintah provinsi maupun pusat.
Produksi Tanaman Sayuran
Pohon 250.000 276.810 Produksi tanaman sayuran pada tahun 2017 realisasinya mencapai
276.810 pohon atau terealisasi 110,72 % dari target 250.000 pohon. Produksi tanaman sayuran ini diharapkan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya.
Adanya program Urban Farming yang secara masih dilaksanakan di 30 Kecamatan serta dilakukan pelatihan kampung berkebun pada tingkat RW yang ada di Kota Bandung, sehingga masyarakat mempunyai minat untuk berkebun sayuran walaupun di lahan yang sempit.
Penyuluhan dan pelatihan kepada kelompok tani pun secara rutin dilakukan oleh Penyuluh pertanian Lapangan.
Jumlah maksimum pangan segar hasil pertanian yang tercemar
Kasus 12 0 Dari hasil pengawasan
dan pemeriksaan selama tahun 2017 terhadap lebih dari 6.000 sampel yang diperiksa di laboratorium Dispangtan dan di laboratorium rujukan, tidak ditemukan adanya pangan segar yang tercemar atau tidak ada kasus yang ditemukan, dari target maksimal
Page | 26
penemuan kasus sebanyak 40 kasus ternyata selama tahun 2017 tidak ditemukan adanya kasus atau nol kasus. Untuk menekan terjadinya kasus pencemaran produk pangan segar dilakukan sidak pengawasan pangan segar dengan melibatkan instansi terkait (Kepolisian, Satpol PP, Dinas UKM dan INDAG, BP POM, dan Dinas Kesehatan) serta meningkatkan pelatihan dan sosialisasi ke swalayan, pasar tradisional, konsumen/PKK, ke pelaku usaha (TPA), DKM (pada saat pelatihan hewan qurban).
Perhitungan indikator ini berbeda dengan indikator yang lain, semakin sedikit terjadinya kasus pencemaran pangan segar maka
menunjukan semakin baik kinerja dinas.
Faktor pendorong pencapaian target adalah :
1. tersedianya sarana dan prasarana penunjang untuk kegiatan
Peningkatan mutu dan keamanan pangan, diantaranya : tersedianya laboratorium dinas dan kendaraan laboratorium keliling.
2. Dalam
upaya meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan mutu pangan segar yang beredar di wilayah Kota Bandung, Dinas Pangan dan Pertanian melakukan kerjasama
Page | 27
dengan 8 holding company pasar modern dalam pengadaan
mini lab food security, dan bekerjasama dengan PD. Pasar Bermartabat dalam pengadaan mini lab food security di beberapa pasar tradisional.
2. Program
Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian/
Perkebunan
Jumlah pelaku usaha bidang pertanian dan perikanan
Pelaku Usaha 85 97 Realisasi jumlah Pelaku Usaha merupakan kumulatif dari beberapa program yang ada di Dispangtan, pada program ini dari target 85 dapat
terealisasi sebesar 97 pelaku usaha. Pada Tahun 2017 dari target 250 pelaku usaha dapat terealisasi sebanyak 554 (221,6 %) pelaku usaha di bidang pertanian dan perikanan.
Faktor pendorong pencapaian target yaitu tersedianya dana, SDM, sarana dan prasarana sebagai penunjang untuk kegiatan pelatihan kepada kelompok masyarakat yang berminat untuk menjadi wira usaha.
3. Program
Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/
Perkebunan
Jumlah pelaku usaha bidang pertanian dan perikanan
Pelaku Usaha 30 40 Realisasi jumlah Pelaku Usaha merupakan kumulatif dari beberapa program yang ada di Dispangtan, pada program ini dari target 30 dapat terealisasi sebesar 40 pelaku usaha. Pada Tahun 2017 dari target 250 pelaku usaha dapat terealisasi sebanyak 554 (221,6 %) pelaku usaha di bidang pertanian dan
Page | 28
perikanan. Faktor pendorong pencapaian target yaitu tersedianya dana, SDM, sarana dan prasarana sebagai penunjang untuk kegiatan pelatihan kepada kelompok masyarakat yang berminat untuk menjadi wira usaha.
4. Program
Peningkatan Produksi Pertanian/
Perkebunan
Pohon produktif
Pohon 15.000 23.309 Tanaman produktif atau tanaman buah adalah tanaman yang menghasilkan buah untuk dikonsumsi.
Tanaman buah dibatasi pada pohon atau tanaman yang menghasilkan buah sebagai bahan pangan. Beberapa contoh tanaman produktif diantaranya:
Pohon mangga, pohon rambutan, pohon nangka
dan lainya. Selain dimanfaatkan untuk penghijauan fungsi tanaman hidup adalah untuk di ambil hasilnya. Pada tahun 2017 pohon produktif (tanaman buah- buahan) terealisasi sebanyak 23.309 pohon dari target 15.000 pohon atau terealisasi sebesar 155,39 %.
Faktor pendorong pencapaian target adalah adanya kebijakan untuk penghijauan kota dan dukungan anggaran.
Tingkat mutu tembakau (DBHCT)
% 100 100 Tercapainya kualitas
mutu tembakau 100 % sesuai permintaan pasar.
Faktor pendorong pencapaian target yaitu adanya pelatihan mengenai kulitas mutu tembakau kepada kelompok tani tembakau, study lapangan ke daerah
Page | 29
lain, dan workshop mengenai budidaya, pasca panen dan peraturan penggunaan tembakau.
5. Program
Pemberdayaan Penyuluh Pertanian/
Perkebunan Lapangan
Jumlah pelaku usaha bidang pertanian dan perikanan
Pelaku Usaha 10 20 Realisasi jumlah Pelaku Usaha merupakan kumulatif dari beberapa program yang ada di Dispangtan, pada program ini dari target 10 dapat
terealisasi sebesar 20 pelaku usaha. Pada Tahun 2017 dari target 250 pelaku usaha dapat terealisasi sebanyak 554 (221,6 %) pelaku usaha di bidang pertanian dan perikanan.
Faktor pendorong pencapaian target yaitu tersedianya dana, SDM,
sarana dan prasarana sebagai penunjang untuk kegiatan pelatihan kepada kelompok masyarakat yang berminat untuk menjadi wira usaha.
6. Program
Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak
Kasus Penyakit Zoonosa di Kota Bandung
Kasus 7 0 Penyakit zoonosa
merupakan penyakit atau infeksi pada binatang yang dapat ditularkan kepada manusia. Penyakit yang tergolong dalam zoonosa misalnya, Antraks, Rabies, Brucellosis, Avian Influenza, dan lain- lain.
Kota Bandung merupakan pusat pemasaran ternak terbesar di Jawa Barat, sehingga resiko masuknya penyakit zoonosa dari daerah asal ternak ke Kota Bandung relatif tinggi.
Pada tahun 2017 tidak terjadi kasus zoonosa di Kota Bandung, dari
Page | 30
target maksimal kejadian kasus sebanyak 8 kasus realisasinya nol kasus berarti melebihi target.
Cara pengukuran indicator jumlah kasus zoonosa ini
berbeda dengan indicator yang lain, semakin sedikit terjadinya kasus zoonosa maka kinerjanya semakin baik. Cara pengukuran seperti ini termasuk pengukuran
persentase menurun.
Tahun 2015 dan 2016 lebih baik dari tahun- tahun sebelumnya karena pada tahun 2015 dan 2016 juga tidak terjadi kasus zoonosa. Demikian juga pada tahun 2017 tidak terjadi
kasus zoonosa (0 kasus) dari target 7 kasus atau terealisasi sebesar 200%.
Kasus zoonosa yang sering terjadi di daerah lain yaitu flu burung (AI) dan rabies. Indonesia menjadi salah satu negara endemik virus flu burung tertinggi sejak kasus pertama pada tahun 2004.
Jumlah kasus ini menurun signifikan dari tahun ke tahun.
Namun secara nasional jumlah kasus flu burung tahun ini kembali naik. Data Kementerian Pertanian sampai dengan bulan April 2016 sudah tercatat 148 kasus, padahal sepanjang tahun 2015 tercatat 123 kasus.
Faktor pendukung
Page | 31
tercapainya target yaitu :
Secara rutin dilakukan vaksinasi hewan, tersedianya Klinik Hewan milik Pemerintah Kota Bandung, dilakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai cara penanganan hewan peliharaan, dan kolaborasi dengan pencinta hewan peliharaan untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan hewan dan vaksinasi.
7. Program
Peningkatan Produksi Hasil Peternakan
Populasi ternak Domba
Ekor 33.994 34.684 Populasi ternak domba pada tahun 2017 tercapai sebanyak 34.684 ekor dari target 33.994 ekor atau tercapai sebesar 102,03%.
Pada tahun 2016 persentase capaian sebesar 100,54% atau dari target 32.375 ekor dapat terealisasi sebanyak 32.549 ekor.
Jika dibandingkan dengan target akhir RPJMD, capaian kinerja pada tahun 2017 baru mencapai 97,17%. Yaitu dari target di akhir tahun RPJMD tahun 2018 sebesar 35.693 ekor baru tercapai 34.684 ekor pada tahun 2017.
Populasi ternak domba ini diharapkan terus meningkat sampai akhir tahun 2018 sehingga dapat mencapai target RPJMD.
Faktor pendorong pencapaian target : Peningkatan populasi ini salah satunya disebabkan oleh jumlah rumah tangga peternakan Domba yang bertambah terutama ketika
Page | 32
mendekati ibadah haji, penerapan teknologi budidaya ternak yang telah dilakukan oleh para peternak, yang diperoleh melalui pelatihan, workshop dan pembinaan yang dilakukan oleh dinas.
8. Program
Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Peternakan
Jumlah pelaku usaha bidang pertanian dan perikanan
Pelaku Usaha 50 120 Realisasi jumlah Pelaku Usaha merupakan kumulatif dari beberapa program yang ada di Dispangtan, pada program ini dari target 50 dapat
terealisasi sebesar 120 pelaku usaha. Pada Tahun 2017 dari target 250 pelaku usaha dapat terealisasi sebanyak 554 (221,6 %) pelaku usaha di bidang pertanian dan perikanan.
Faktor pendorong pencapaian target yaitu tersedianya dana, SDM, sarana dan prasarana sebagai penunjang untuk kegiatan pelatihan kepada kelompok masyarakat yang berminat untuk menjadi wira usaha.
Page | 33
Jumlah maksimum pangan segar hasil peternakan yang tercemar
Kasus 12 0 Dari hasil pengawasan
dan pemeriksaan selama tahun 2017 terhadap lebih dari 6.000 sampel yang diperiksa di laboratorium Dispangtan dan di laboratorium rujukan, tidak ditemukan adanya pangan segar yang tercemar atau tidak ada kasus yang ditemukan, dari target maksimal penemuan kasus sebanyak 40 kasus
ternyata selama tahun 2017 tidak ditemukan adanya kasus atau nol kasus. Untuk menekan terjadinya kasus pencemaran produk pangan segar dilakukan sidak pengawasan pangan segar dengan melibatkan instansi terkait (Kepolisian, Satpol PP, Dinas UKM dan INDAG, BP POM, dan Dinas Kesehatan) serta meningkatkan pelatihan dan sosialisasi ke swalayan, pasar tradisional, konsumen/PKK, ke pelaku usaha (TPA), DKM (pada saat pelatihan hewan qurban) . Perhitungan indikator ini berbeda dengan indikator yang lain, semakin sedikit terjadinya kasus pencemaran pangan segar maka
menunjukan semakin baik kinerja dinas.
Faktor pendorong pencapaian target adalah
1. tersedianya sarana dan prasarana penunjang untuk
Page | 34
kegiatan Peningkatan mutu dan keamanan pangan, diantaranya : tersedianya
laboratorium dinas dan kendaraan laboratorium keliling.
2. Dalam upaya meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan mutu pangan segar yang beredar di wilayah Kota Bandung, Dinas Pangan dan Pertanian melakukan kerjasama dengan 8 holding company pasar modern dalam pengadaan mini lab food security, dan bekerjasama dengan PD. Pasar bermartabat dalam
pengadaan mini lab food security di beberapa pasar tradisional.
9. Program
Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan
Jumlah pelaku usaha bidang pertanian dan perikanan
Pelaku Usaha 25 60 Realisasi jumlah Pelaku Usaha merupakan kumulatif dari beberapa program yang ada di Dispangtan, pada program ini dari target 25 dapat
terealisasi sebesar 60 pelaku usaha. Pada Tahun 2017 dari target 250 pelaku usaha dapat terealisasi sebanyak 554 (221,6 %) pelaku usaha di bidang pertanian dan perikanan.
Faktor pendorong pencapaian target yaitu tersedianya dana, SDM,
sarana dan prasarana sebagai penunjang untuk kegiatan pelatihan kepada kelompok masyarakat yang berminat untuk menjadi wira usaha.
Page | 35 Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Urusan Pertanian tahun 2017 dan rumusan solusinya adalah sebagai berikut :
No. Permasalahan Solusi
1. Semakin sempitnya lahan pertanian sebagai akibat alih fungsi lahan
Kebijakan yang diambil dalam rangka mengantisipasi alih fungsi lahan pertanian adalah mengembangkan model pertanian perkotaan melalui pemilihan komoditas pertanian yang memiliki produktivitas tinggi, memiliki nilai ekonomi tinggi, dan mempunyai peluang pasar yang terbuka serta dapat dikembangkan pada lahan sempit, sehingga diharapkan keterbatasan lahan bukan menjadi kendala untuk usaha dibidang pertanian, dan kegiatan Urban Farming merupakan salah satu solusi untuk pemanfaatan lahan sempit yang ada di Kota Bandung. Untuk meningkatkan nilai tambah, usaha pertanian lainnya yang dikembangkan adalah pengolahan hasil pertanian.
2. Semakin sempitnya lahan pertanian sebagai akibat alih fungsi lahan
Lebih mengintensifkan pemeriksaan lalulintas ternak yang masuk ke Kota Bandung.
3. Masih rendahnya pengetahuan dan sikap pelaku usaha dibidang pertanian serta masyarakat tentang bahayanya penggunaan bahan kimia berbahaya dan produk pertanian yang tidak memenuhi persyaratan keamanan mutu pangan
Meningkatkan pembinaan kepada para pelaku usaha pangan segar tentang pentingnya keamanan pangan serta meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan mutu pangan segar yang dipasarkan di pasar tradisional maupun di pasar modern
4. Limbah padat RPH Babi berupa jeroan dan feces tidak bisa dibuang langsung ke luar RPH
Membuat tempat pengolahan limbah padat RPH Babi dengan metode komposting karkas, dengan bekerja sama dengan staf ahli komposting karkas dari UNPAD. Hasil sudah terlihat dengan metode komposting karkas, limbah padat RPH babi sudah dapat ditangani dan hasilnya sudah dapat dibuang keluar RPH karena sudah terurai sempurna menjadi kompos
5. masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan hewan/ternak.
Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan hewan/ternak, melakukan vaksinasi secara rutin di 151 Kelurahan, dan meningkatkan pelayanan kesehatan hewan di Klinik Hewan.
Page | 36 Tabel. 2.1
Rekapitulasi Evaluasi Hasil Pelaksanaan Renja Perangkat Daerah dan Pencapaian Renstra Perngkat Daerah s/d Tahun 2018
(TERLAMPIR)