i
EVALUASI DAMPAK SOSIAL EKONOMI PEMBANGUNAN JEMBATAN KANDILO BAGI WARGA DESA SUNGAI TUAK DI KABUPATEN PASER,
KALIMANTAN TIMUR
PENELITIAN TUGAS AKHIR
M.Nuryadin Adam 05/189812/SP/21250
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2013
ii
iii
Untuk kedua Orangtuaku tercinta Istriku, Elis
dan kedua buah hati kami, Mario dan A’isha
iv
PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Alhamdulillah, atas berkat, rahmat, taufik dan hidayah-Nya, penyusunan skripsi yang berjudul “Evaluasi Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan Jembatan Kandilo bagi Warga Desa Sungai Tuak di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur”
dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat beriring salam untuk suri tauladan kita Rasulullah Shallallahu‘alaihiwasallam beserta keluarga dan para sahabat beliau yang telah mendakwahkan Islam yang mulia.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini masih banyak mengalami kendala, namun berkat bantuan, bimbingan, kerjasama dari berbagai pihak dan berkah dari Allah SWT sehingga kendala-kendala yang dihadapi tersebut dapat diatasi. Untuk itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Ibu Dra. Ambar Teguh Sulistiani, M.si selaku Pembimbing Skripsi yang telah dengan sabar, tekun, tulus dan ikhlas meluangkan waktu, tenaga dan pikiran memberikan bimbingan, motivasi, arahan, dan saran-saran yang sangat berharga kepada penulis selama menyusun skripsi, juga kepada Bapak Dr. Subando Agus Margono, M.si dan Ibu Dr. Bevaola Kusumasari, M.Si selaku Penguji Samping atas arahan dan masukannya bagi terselesaikannya penyusunan skripsi ini.
Terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh Dosen dan Staff Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM atas ilmu yang telah disampaikan kepada Penulis semasa menjalani studi. Terima kasih juga untuk seluruh Staff Jurusan yang banyak membantu kelancaran studi, terutama ibu Yuli yang tidak pernah bosan memberikan dukungan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi.
Terima kasih sebesar-besarnya untuk teman-teman seangkatan yang telah banyak membantu dalam menjalani studi, dan juga untuk semua pihak yang tidak dapat penulis sebut satu persatu yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan skripsi ini
v
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan, sehingga penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini
Wassalamualaikum Warrahmatullah Wabarakatuh
Yogyakarta, Januari 2014 (Muhammad Nuryadin Adam)
vi ABSTRAK
Sektor Prasarana adalah leading sector bagi perkembangan suatu daerah.
Desa Sungai Tuak letaknya berdampingan dengan kota Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, kedua tempat tersebut dipisahkan oleh sungai kandilo yang memiliki lebar sekitar 80 meter. Desa Sungai Tuak telah tertinggal jauh dalam pembangunan dibanding kota Tanah Grogot. Jembatan Kandilo dibangun untuk menghubungkan Desa Sungai Tuak dengan kota Tanah Grogot, ketimpangan perkembangan antara kedua tempat tersebut akan membawa dampak sosial ekonomi bagi masyarakat desa yang relatif lebih lemah dalam hal sumber daya manusia dibanding masyarakat kota
Analisa dilakukan dengan teknik analisis deskriptif. Hasil analisis menunjukkan dampak pada bidang kependudukan yaitu kembalinya beberapa penduduk desa untuk menetap di desa, peningkatan arus transportasi orang dan barang, lonjakan kepemilikan kendaraan bermotor, terjadinya perubahan kepemilikan lahan dari warga desa ke warga dari luar desa, perubahan pemanfaatan lahan pertanian menjadi lahan perumahan. Dampak pada bidang ekonomi terjadinya peningkatan sifat konsumtif, peningkatan pengeluaran dirasakan lebih besar dibanding peningkatan pendapatan, semakin menurunnya minat masyarakat desa atas bidang agraria, masih kurangnya kegiatan ekonomi baru bagi masayarakat desa.Dampak pada bidang sosial yaitu meningkatnya kepuasan warga untuk tinggal di desa, menurunnya keamanan lingkungan desa, meningkatnya wawasan penduduk desa sebagai akibat interaksi dengan warga kota yang ikut meningkat. Pada bidang fasilitas dan pelayanan publik, terjadi lonjakan permintaan layanan administrasi di kanto rdesa, semakin lancarnya pelayanan publik karena aksesibilitas desa yang meningkat, dan meningkatnya harapan percepatan pembangunan di desa.
Kata kunci : Dampak, Sosial Ekonomi, Pembangunan, Paser
vii ABSTRACT
Infrastructure sector is the leading sector for the development of an area . Sungai Tuak village is located next to Tanah Grogot city, separated about 80 meters by Kandilo river, in Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, has lagged in development compared to the city. Kandilo bridge was built to connect Sungai Tuak village to the city , inequality of development between the two places will bring socio-economic impacts for rural communities that are relatively weak in terms of human resources than urban
Analysis was done by using descriptive analysis. The results of the analysis showed the impact in the field of population , namely the return of some of the villagers from the city to settle in the village, increased flow of people and goods transportation , the surge of vehicle ownership , land ownership changes from villagers to people from outside the village , land use change from agriculture to residential land . The impact on the economy the increase in consumptive nature, the increase in spending is greater than the increase in income , the decline in village communities interest over the field of agrarian, the lack of new economic activity for the community. The impact in social field namely increased satisfaction of residents for living in the village , the decline of the village’s environmental safety, increasing insight into the villagers as a result of interaction with the citizens who participated increased . In the field of public facilities and services , a surge in demand for services in the village administration office , the smoothness of the public service because of the increased accessibility of the village, and rising expectations of accelerated development of the village.
Tag :Impact, Socio Economic, Development, Paser
viii DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN. ...ii
PERSEMBAHAN ...iii
PENGANTAR ...iv
ABSTRAK ...vi
DAFTAR ISI . ...viii
DAFTAR TABEL... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 8
2.1 Interaksi Desa-Kota ... 8
2.2 Pembangunan Desa dan Permasalahannya ... 15
2.3 Dampak Sosial Pembangunan ... 19
2.4 Kerangka Pikir Penelitian ... 26
BAB III METODE PENELITIAN... 30
3.1 Pendekatan Penelitian ... 30
3.2 Lokasi Penelitian ... 33
3.3 Subyek Penelitian / Responden... 33
ix
3.4 Sumber Data ... 34
3.5 Teknik Analisis Data ... 37
BAB IV DESKRIPSI WILAYAH ... 38
4.1 Program Pembangunan Jembatan... 38
4.2 Profil Desa Sungai Tuak ... 40
4.2.1 Pemerintahan Desa Sungai... 40
4.2.2 Kondisi Alam ... 41
4.2.3 Demografi ... 42
4.2.4 Sarana dan Prasarana Desa ... 48
BAB V ANALISIS DATA ... 52
5.1 Pengantar ... 52
5.2 Kependudukan ... 53
5.3 Dampak Sosial Ekonomi ... 57
5.3.1 Pola Mata Pencaharian ... 57
5.3.2 Perubahan Pendapatan dan Pengeluaran ... 60
5.3.3 Meningkatnya Kegiatan Pembangunan ... 64
5.4 Fasilitas dan Pelayanan Publik ... 65
5.5 Kehidupan Sosial Budaya ... 67
BAB VI PENUTUP ... 75
6.1 Kesimpulan ... 75
6.2 Saran ... 76
DAFTAR PUSATAKA ... 79
x
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Tipe Riset Evaluasi………... 32
Tabel 3.2 Empat Jenis Evaluasi ………... 33
Tabel 4.1 Jarak Geografis Desa Sungai Tuak ………... 42
Tabel 4.2 Komposisi Penduduk Desa Sungai Tuak berdasarkan Kelompok Umur dan Seks ... 43
Tabel 4.3 Data Pendidikan Desa Sungai Tuak………...…… 44
Tabel 4.4 Kelompok Tani Desa Sungai Tuak ……….. 46
Tabel 4.5 Data Ketenagakerjaan Desa Sungai Tuak ……… 47
Tabel 4.6 Data Tingkat Kesejahteraan Penduduk Sungai Tuak …………... 48
Tabel 5.1 Perkembangan kios / warung di desa Sungai Tuak ………...59
Tabel 5.2 Dampak Pembangunan Jembatan Kandilo bagi Desa Sungai Tuak ………...73
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Jembatan Kandilo yang mengubungkan Kota Tanah Grogot
dengan Desa Sungai Tuak ………... 3
Gambar 2.1 Ekosistem .………... 20
Gambar 4.1 Susunan Organisasi Pemerintah Desa Sungai Tuak …………... 41
Gambar 4.2 Jumlah Penduduk Desa Sungai Tuak ………... 43
Gambar 4.3 Kondisi Jalan Desa Sungai Tuak di Dusun Hulu dan Dusun Hilir ...50
Gambar 4.4 Kantor Kepala Desa sekaligus Pos Penyuluhan Desa dan SD Negeri 025…... 51
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia dalam kehidupannya akan berusaha untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik,atau minimal menghindari keadaan yang buruk, dan untuk mencapai hal tersebut berbagai upaya dijalankan. Pembangunan merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam rangka menjaga maupun meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari waktu ke waktu kebutuhan masyarakat semakin meningkat sehingga diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk dapat memenuhinya.
Kelancaran arus distribusi orang dan barang merupakan faktor penting dalam peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat. Arus transportasi yang baik dapat mendorong perkembangan suatu wilayah, lebih lanjut juga mendorong pada modernisasi kehidupan masyarakat suatu daerah. Seringkali daerah yang letaknya tidak jauh dari pusat pemerintahan dan pusat kegiatan ekonomi menjadi daerah yang tertinggal dalam hal kesejahteraan penduduknya dikarenakan sarana dan prasarana transportasi yang kurang baik sehingga arus manusia dan barang menjadi tidak lancar maupun berbiaya tinggi, untuk mengatasi hal yang demikian pembangunan fisik perlu dilakukan.
Kabupaten Paser yang letaknya di ujung selatan Provinsi kalimantan Timur memiliki kondisi fisiografis perbukitan di daerah utara dan barat, sedangkan daerah selatan dan timur merupakan daerah dataran rendah dan pesisir.
2 Kabupaten Paser mempunyai puluhan sungai dan anak sungai yang menyebar ke seluruh pelosok kabupaten tersebut, beberapa sungai cukup panjang dan lebar, diantaranya Sungai kandilo yang panjangnya 615 Km, Sungai Telake 430 Km, Sungai Kerang 190 Km dan Sungai Apar 95 km yang kesemuanya bermuara di Selat Makasar. Sungai-sungai tersebut selain untuk sarana perhubungan juga dimanfaatkan untuk pengairan dan penangkapan ikan
Dengan kondisi alam yang banyak daerahnya dilalui oleh sungai yang cukup lebar, beberapa daerah di Kabupaten Paser menjadi lambat perkembangannya, salah satunya adalah Desa Sungai Tuak yang terletak di Kecamatan Tanah Grogot. Desa sungai Tuak terletak sangat dekat dari Ibu Kota Kecamatan Tanah Grogot, hanya terpisahkan oleh Sungai Kandilo yang lebarnya berkisar 80 meter sehingga sehari-hari masyarakat desa tersebut harus menggunakan perahu ataupun kapal kecil untuk menuju kota Tanah grogot, pilihan lain adalah melalui jalur darat namun tidak efisien karena harus memutar melalui desa lain dengan jarak sekitar 10 km dengan kondisi jalan tanah yang sulit dilalui terutama saat musim penghujan. Sebagai akibatnya, Desa Sungai Tuak yang berdampingan dengan kota Tanah Grogot terlihat kontras sekali dalam pembangunan dimana di sisi kota Tanah Grogot Pemerintah daerah Sibuk mempercantik kawasan tepian, sementara di sisi Desa Sungai Tuak masih terlihat rumah-rumah sederhana milik penduduk.
Pada tahun 2006, Pemerintah Kabupaten Paser merencanakan pembangunan jembatan yang menghubungkan kota Tanah Grogot dengan desa Sungai Tuak, rencana ini kemudian disetujui oleh DPRD Kabupaten Paser dan
3 dijadikan proyek multiyears selama 4 tahun dengan biaya total Rp. 90 Miliar dengan sumber dana 100% dari APBD Kabupaten Paser. Jembatan tersebut diharapkan selesai dan bisa digunakan pada tahun 2010, namun dalam perkembangannya proses pembangunan mengalami hambatan seputar pembebasan lahan hingga akhirnya baru selesai dibangun pada tahun 2011.
Meskipun jalanan di desa Sungai Tuak belum ditingkatkan (masih berupa jalan tanah yang tidak lebar), masyarakat sudah mulai ramai melintasi jembatan Kandilo, dan jembatan tersebut juga ramai dikunjungi warga yang ingin menyaksikan pemandangan tepian kota Tanah grogot dari atas jembatan yang memang cukup tinggi dari permukaan sungai.
Gambar 1.1
Jembatan Kandilo yang menghubungkan Kota Tanah Grogot dengan Desa Sungai Tuak
Foto Oleh : HeliAgus Panoramio, Tahun 2011
4 Prasarana fisik mempunyai peranan yang sangat penting untuk menunjang berbagai kegiatan ekonomi dan sosial dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan kesejahteraan rakyat. Sektor Prasarana akan menjadi leading sector yang akan memudahkan perkembangan sektor lainnya.
(Adisasmita, 2006 : 89-90). Pembangunan Jembatan Kandilo sudah pasti akan meningkatkan arus modal dan barang yang akan menjadikan kegiatan perekonomian desa Sungai Tuak semakin tumbuh. Meningkatnya kegiatan perekonomian suatu daerah tidak serta-merta meningkatkan kesejahteraan penduduk daerah tersebut, bisa jadi penduduk asli hanya menjadi penonton atas pemilik modal yang berasal dari luar daerah, atau keuntungan bagi warga setempat hanya dinikmati sebagian kecil warga saja. Pembangunan lingkungan fisik harus disertai pembangunan lingkungan sosial agar pembangunan yang bertujuan mengantar pada kehidupan yang lebih baik dapat terwujud, pada titik inilah evaluasi dampak sosial dari pembangunan fisik perlu dilakukan agar perubahan lingkungan sosial masyarakat menjadi terukur sehingga dapat menjadi masukan bagi pengembangan lingkungan sosial tersebut.
Dampak sosial adalah perubahan yang terjadi pada manusia dan masyarakat yang diakibatkan oleh aktivitas pembangunan, dimana aktivitas tersebut akan mempengaruhi keseimbangan sistem (masyarakat). Pengaruh itu bisa bernilai positif maupun negatif dan hanya dapat diuji dari nilai, norma, aspirasi dan kebiasaan dari masyarakat yang bersangkutan.( Hadi, 2005:23-24).
Kegiatan proyek Jembatan Kandilo berpotensi menimbulkan perubahan pola hidup atau kebiasaan masyarakat di lingkungan sekitar proyek sejak dari tahap
5 perencanaan, persiapan, pekerjaan hingga setelah proyek selesai. Lingkungan sosial masyarakat pada akhirnya akan mengalami perubahan sebagai akibat dari adanya pembangunan jembatan tersebut, baik berlangsung secara cepat maupun perlahan.
Semakin lancarnya arus orang dan barang antara kota Tanah Grogot dan desa Sungai Tuak akan membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat.
Interaksi antara desa dengan kota yang semakin lancar akan memberikan gejala baru pada bidang pendidikan, kesehatan, keamanan, kegiatan ekonomi, pola kepemilikan dan pemanfaatan lahan, serta interaksi sosial masyarakat.
Perubahan adalah suatu hal yang pasti terjadi, namun apakah perubahan tersebut menuju keadaan yang lebih baik atau tidak masih harus diteliti, karena itu kita perlu untuk melihat bagaimana perubahan yang terjadi di masyarakat desa Sungai Tuak sebagai akibat dari keberadaan Jembatan Kandilo dan bagaimana nilai perubahan tersebut bagi masyarakat desa Sungai Tuak, namun karena jembatan ini relatif baru, serta keterbatasan sumber daya peneliti maka penelitian ini dibatasi hanya pada aspek sosial ekonomi saja (dalam hal ini meliputi kesempatan berusaha, pola mata pencaharian, tingkat pendapatan keluarga, serta pola kepemilikan dan pemanfaatan lahan), hal ini peneliti anggap lebih sesuai karena perubahan kepemilikan dan penggunaan lahan mulai terjadi pada tahun 2006 dimana mulai dilakukan pembebasan lahan untuk pelaksanaan proyek jembatan tersebut, dan masyarakat yang lahan pertaniannya terkena pembebasan lahan mulai beralih mata pencaharian.
6 1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di awal, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana dampak sosial ekonomi yang timbul akibat Pembangunan Jembatan Kandilo bagi masyarakat Desa Sungai Tuak?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dampak sosial ekonomi pembangunan Jembatan Kandilo bagi masyarakat Desa Sungai Tuak, kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Secara Teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai dampak sosial ekonomi pembangunan jembatan Kandilo di desa Sungai Tuak.
1.4.2. Secara Praktis
Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.4.2.1. Pemerintah
Menjadi masukan informasi bagi Pemerintah Daerah dalam evaluasi terhadap program pembangunan Jembatan Kandilo yang menghubungkan desa Sungai Tuak dengan Kota Tanah Grogot di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. informasi yang ada terkait
7 perubahan sosial ekonomi, yaitu perubahan terkait kesempatan berusaha, pola mata pencaharian, tingkat pendapatan keluarga, serta pola kepemilikan dan pemanfaatan lahan, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan terkait terkait di masa yang akan datang.
1.4.2.2. Masyarakat
Masyarakat desa Sungai tuak diharapkan menjadi lebih mengetahui secara lebih dalam mengenai perubahan lingkungan sosial ekonomi di desa tersebut sehingga dapat mengidentifikasi peluang dan tantangan kehidupan sosial ekonomi yang ada
8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Interaksi Desa- kota
Interaksi merupakan suatu proses yang sifatnya timbal-balik dan mempunyai pengaruh terhadap perilaku dari pihak-pihak yang bersangkutan melalui kontak langsung, melalui berita yang didengar atau melalui surat kabar.
Interaksi dapat dilihat sebagai proses sosial, proses ekonomi, proses budaya ataupun proses politik dan sejenisnya yang lambat atau cepat akan menimbulkan suatu realita atau kenyataan. (Bintarto, 1983:61-62). Interaksi antara desa dan kota didorong oleh berbagai faktor, diantaranya tersedianya jaringan jalan, dan adanya kebutuhan timbal-balik (perdagangan barang-jasa, wisata, lapangan kerja,dsb).
Meskipun interaksi tersebut sifatnya timbal-balik, kenyataan yang timbul adalah kota lebih kuat mempengaruhi perubahan nilai di desa dibanding sebaliknya.
Sebagian besar desa di Indonesia merupakan desa agraris, dimana mayoritas masyarakatnya bertumpu pada kegiatan pertanian dan corak kehidupan warga juga masih sederhana. Jumlah warga yang relatif tidak banyak menjadikan warga desa memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat, serta budaya gotong royong yang tumbuh dari kesadaran akan adanya kepentingan untuk saling menguatkan dalam kondisi sumber daya yang terbatas, sebagai contoh adalah gotong royong saat panen sawah/tambak. Apa yang ditunjukkan dari proses kehidupan bersama (collective life process) warga desa tidak lain beresensikan kemandirian, kesukarelaan, kemampuan untuk mengorganisasikan diri untuk memperjuangkan
9 kepentingan, dan ketaatan warga desa terhadap aturan main yang berupa norma dan hukum yang berlaku. (Ali, 2007:2). Proses kehidupan bersama tersebut akan dipengaruhi oleh perubahan lingkungan fisik dimana proses tersebut berlangsung.
Meningkatnya kesempatan berusaha membawa kesibukan baru bagi beberapa anggota masyarakat yang dapat berakibat menurunnya kohesi sosial anggota masyarakat.
Keberadaan desa ditinjau dari segi geografi adalah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu ujud atau kenampakan di muka bumi yang ditimbulkan oleh unsur- unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang saling berinteraksi antar unsur tersebut dan juga dalam hubungannya dengan daerah-daerah lain.
(Bintarto, 1983:11).
Hal yang penting untuk diperhatikan dari suatu desa adalah unsur-unsur desa , yaitu :
1. Daerah, dalam arti tanah-tanah yang produktif dan yang tidak, beserta penggunaannya, termasuk juga unsur lokasi, luas dan batas yang merupakan lingkungan geografi setempat.
2. Penduduk, adalah hal yang meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian penduduk setempat.
3. tata kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan warga desa. Jadi, menyangkut seluk-beluk kehidupan masyarakat desa (rural society). (Bintarto dalam Bintarto, 1983:13-14).
10 Maju Mundurnya suatu desa dapat tergantung pada beberapa faktor, antara lain :
1. Potensi Desa yang mencakup potensi sumber daya alam dan potensi penduduk warga desa beserta pamongnya.
2. Interaksi antar desa dengan kota, antara desa dengan desa tercakup di dalamnya perkembangan komunikasi dan transportasi.
3. Lokasi desa terhadap daerah-daerah di sekitarnya yang lebih maju.
(Bintarto, 1983:18)
Desa memiliki fungsi dan peranan sebagai berikut :
1. Pertama, dalam hubungannya dengan kota, maka desa yang merupakan
‘Hinterland’ atau daerah dukung berfungsi sebagai suatu daerah pemberi makan pokok seperti padi, jagung, ketela, di samping bahan makan lain seperti kacang, kedelai buah-buahan, dan bahan makan lain yang berasal dari hewan.
2. Kedua, desa ditinjau dari segi potensi ekonomi berfungsi sebagai lumbung bahan mentah (raw material) dan tenaga kerja (man power) yang tidak kecil artinya.
3. Ketiga, dari segi kegiatan kerja (occupation) desa dapat merupakan desa agraris, desa manufaktur, desa nelayan, dan sebagainya. (Bintarto, 1983 : 15-16)
Desa mempunyai potensi fisis dan nonfisis. Potensi fisis meliputi antara lain : 1. tanah, dalam arti sumber tambang dan mineral, sumber tanaman yang
merupakan sumber mata pencaharian dan penghidupan.
11 2. Air, dalam arti sumber air, keadaan dan kualitas air dan tata airnya untuk
kepentingan irigasi, pertanian dan keperluan sehari-hari 3. Iklim, yang merupakan peranan penting bagi desa agraris.
4. ternak, dalam arti fungsi ternak di desa sebagai sumber tanaga, sumber bahan makan dan sumber keuangan.
5. Manusia, dalam arti tenaga kerja sebagai pengolah tanah dan sebagai produsen. tenaga kerja di desa-desa merupakan unsur penting.
Potensi Nonfisis desa meliputi antara lain :
1. Masyarakat desa yang hidup berdasarkan gotong-royong dan dapat merupakan suatu kekuatan berproduksi dan kekuatan membangun atas dasar kerja sama dan saling pengertian.
2. Lembaga-lembaga sosial, pendidikan dan organsiasi-organisasi sosial desa yang dapat memberikan bantuan sosial serta bimbingan dalam arti positif 3. Aparatur atau pamong desa yang menjadi sumber kelancaran dan tertibnya
pemerintahan desa. (Bintarto, 1977:19-20)
Meskipun interaksi antara kota dan desa merupakan suatu hubungan timbal-balik, besarnya pengaruh antara keduanya tidaklah berimbang. Kota pada umumnya dipandang sebagai pusat pendidikan, pusat kegiatan ekonomi, pusat pemerintahan dan sebagainya. Jadi fungsi dan peranannya atau sumber pengaruh banyak berasal dari kota. (Bintarto, 1983:25). Kota menjanjikan lapangan kerja, pendapatan yang lebih tinggi, taraf hidup yang lebih baik, peluang melanjutkan studi dan lainnya sehingga menjadi daya tarik bagi penduduk yang berdomisili di
12 luar kota yang bersangkutan, sehingga arus urbanisasi semakin kuat. Jadi suatu kota memiliki fungsi primer memberikan pelayanan kepada kota-kota lain (hubungan eksternal), sedangkan fungsi sekundernya adalah memberikan pelayanan kepada warga kotanya (hubungan internal). (Adisasmita, 2006:138)
Perkembangan prasarana dan sarana transportasi yang menghubungkan desa dengan kota akan mempengaruhi berbagai bidang, misalnya saja di bidang kesehatan, masyarakat dapat lebih mudah menjangkau fasilitas kesehatan yang memadai sehingga kesehatan masyarakat bisa ditingkatkan, begitu juga di bidang pendidikan, akes ke sekolah-sekolah akan makin mudah sehingga lebih banyak warga yang bersekolah, ataupun semakin banyak tenaga pendidik dari kota yang mau masuk mengajar di desa karena kelancaran transportasi memungkinkan mereka untuk tetap tinggal di kota dan tidak harus tinggal di desa yang bisa jadi menimbulkan rasa bosan. Masyarakat desa juga semakin mudah mengakses lapangan pekerjaan di kota tanpa harus berpindah tempat tinggal, hal ini juga akan membuat masyarakat desa lebih terbuka akan kemungkinan-kemungkinan lapangan pekerjaan yang baru dan bergeser dari kehidupan agraris ke sektor non formal lainnya atau bahkan memasuki sektor formal.
Semakin beragamnya aktifitas sebagai hasil dari kelancaran transportasi antara desa dan kota juga akan mendorong perubahan tata guna lahan. Lahan yang berada di daerah yang tergolong strategis untuk kegiatan perdagangan sangat mungkin akan beralih fungsi menjadi dari ladang menjadi pasar, terutama saat masyarakat desa mulai meninggalkan kehidupan berladang untuk berkerja di kota.
13 Bintarto dalam bukunya Interaksi Desa-Kota (1983:98-99), mengemukakan bahwa Interaksi antara kota dan desa dapat menimbulkan pengaruh positif maupun negatif terhadap desa dan kota termasuk penghuninya.
Pengaruh positif yang dimaksud antara lain :
1. Cakrawala pengetahuan penduduk desa menjadi lebih meningkat, karena di desa semakin banyak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Berbagai pengetahuan mengenai kemajuan di berbagai bidang juga masuk melalui institusi atau lembaga-lembaga yang ada di desa, misanya pengetahuan mengenai pemilihan bibit unggul, pengetahuan mengenai kegiatan usaha lain non agraris juga mulai menyebar.
2. Banyaknya sekolah dan guru-guru desa yang tersedia di daerah pedesaan dengan pengetahuan yang cukup luas mengenai masalah pembangunan dapat menjadi penggerak kemajuan warga desa yang bersekolah. Jumlah penduduk buta huruf akan menurun sehingga akan lebih memudahkan usaha pembangunan.
3. Prasarana dan sarana transportasi yang semakin lancar sangat meningkatkan frekuensi hubungan sosial-ekonomi warga desa dengan warga kota, sehingga stagnansi suplai bahan pangan dapat dihindarkan.
Transfer pengetahuan juga akan semakin meningkat.
4. Teknologi tepat guna di bidang pertanian dan peternakan meningkatkan produksi desa, sehingga penghasilan penduduk akan bertambah.
5. Masuknya para ahli di berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan telah banyak sekali bermanfaat bagi warga desa dalam meletarikan lingkungan
14 pedesaan khususnya pencegahan erosi dan pencarian sumber air bersih dan bidang pengairan.
6. Campur tangan pemerintah pusat atau dan pemerintah daerah telah meningkatkan kualitas dan kuantitas di bidang wiraswasta seperti kerajinan tangan, industri rumah tangga, peternak unggas dan sapi, dan bidang teknik pertukangan.
7. Pengetahuan tentang masalah kependudukan telah lebih merata di daerah pedesaan, sehingga kesadaran untuk mempunyai keluarga kecil semakin meningkat yang turut berperan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
8. Berkembangnya koperasi dan organisasi sosial di pedesaan yang membantu meringankan beban penghidupan masyarakat desa.
Pengaruh negatif yang dapat dilihat di daerah pedesaan antara lain :
1. Modernisasi kota, misalnya pengaruh fashion show atau berbagai kontes kecantikan telah ditiru juga oleh gadis-gadis dan para wanita di beberapa pedesaan sehingga dikhawatirkan meninggalkan orientasi pertanian yang menjadi pokok kehidupan mereka.
2. Peningkatan bahaya kriminalitas sebagai pengaruh dari pemberitaan televisi maupun film-film yang berbau kejahatan.
3. Pemuda desa mulai beralih ke bidang lain di luar pertanian sehingga yang tertinggal di desa hanyalah orang-orang tua yang kurang produktif.
15 4. Perluasan kota dan masuknya orang-orang kota berharta ke daerah pedesaan telah banyak mengubah tata guna lahan di pedesaan terutama di daerah yang berbatasan dengan kota, banyak daerah hijau telah beralih menjadi daerah pemukiman atau bangunan lainnya.
5. Penetrasi kebudayaan kota ke desa yang kurang atau tidak sesuai dengan kebudayaan ataupun tradisi desa cenderung mengganggu tata pergaulan atau seni budaya desa.
6. Problema lain yang timbul sebagai akibat interaksi yang kurang mengungtungkan antara lain : problema pangan, problema pengangguran, problema lingkungan, dan beberapa lainnya.
2.2 Pembangunan Desa dan Permasalahannya
Terdapat banyak kata yang memiliki makna sama dengan ‘pembangunan’, misalnya perubahan sosial, pertumbuhan, industrialisasi, transformasi, dan modernisasi. Dari kata tersebut, pembangunan lebih sering digunakan untuk menggambarkan dan memberi makna pada perubahan ke arah positif dan lebih maju dibandingkan keadaan sebelumnya. (Suharto, 2008:2)
Proses pembangunan melahirkan perubahan-perubahan yang mengandung tiga dimensi pokok, yang satu sama lain saling berkaitan, dan ketiga dimensi tersebut harus diteliti dan dicari titik-titik keterkaitannya untuk dapat memahami permasalahan pembangunan. Ketiga dimensi yang dimaksud adalah :
1. Dimensi kebudayaan. Melalui dimensi ini dapat dipelajari sistem nilai yang berlaku yang mempengaruhi sikap dan pola tingkah laku
16 anggota-anggota masyarakat, dan bagaiaman kesesuaian sistem nilai yang berlaku dengan sistem nilai yang dicita-citakan.
2. Dimensi sistem, untuk melihat apakah sistem-sistem kemasyarakatan yang berlaku menghambat atau menghalangi proses terwujudnya sistem nilai yang dicita-citakan
3. Dimensi proses,yaitu cara bagaimana anggota-anggota masyarakat dengan berbagai sistemnya menyelesaikan atau mengelola konflik- konflik yang mungkin muncul sebagai akibat pertumbuhannya.
(Alfian,1986:22)
Usaha pemerintah ke arah mengembangkan atau membangun desa ialah : pertama, menempatkan warga desa dalam wadah Indonesia, artinya tidak ada perbedaan status antara penduduk desa dengan penduduk kota seperti zaman kolonial. kedua, mengusahakan agar corak kehidupan dan penghidupan warga desa dapat ditingkatkan atas dasar alam pikiran yang logis, fragmatis dan rasional.
ketiga, mengusahakan agar warga desa dapat lebih bersifat kreatif dinamis dan fleksibel dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang dihadapi sehingga dapat lebih meningkatkan semangat pembangunannya. (Bintarto, 1983:18-19).
Pembangunan sudah semestinya menempatkan manusia sebagai sasaran utamanya, artinya pembangunan tidak boleh hanya diukur dengan sarana dan prasarana fisik, dan sebagainya. Kehidupan manusia yang harus dijadikan acuan dalam menilai pembangunan, bagaimana individu menjalani kehidupannya di masyarakat, bagaimana masyarakat bersama-sama mengatasi masalah yang timbul dari berbagai perubahan, dan berbagai aspek sosial lainnya.
17 Pada masa pemerintahan Orde Baru, program-program pembangunan dijalankan dengan pendekatan Top Down, yang lebih sering ‘’memobilisasi’’
komunitas desa, menempatkan manusia dan masyarakat sebagai objek – layaknya benda mati – yang harus mengikuti apa yang telah digariskan oleh program (pembangunan), walaupun tak relevan dengan potensi dan kebutuhan pengembangan diri mereka. ( Mubyarto dalam Ali, 2007:38). Pembangunan lebih mengejar pada perubahan lahiriah – fisik, artifisial, material – dan mengesampingkan tumbuhnya daya kesediaan – mental, spiritual, esensial – dan martabat manusia1. Hal yang demikian dapat menghilangkan modal sosial yang dimiliki masyarakat desa. Pendekatan tersebut digunakan Pemerintah Pusat selama 3 dekade dan ada kemungkinan saat ini masih juga terjadi di level pemerintahan yang lebih rendah.
Perubahan merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan, baik itu yang sifatnya material maupun nonmaterial, berlangsung cepat maupun lambat. Suatu perubahan dapat membawa ke arah perbaikan (positif) ataupun kemunduran (negatif), tergantung bagaimana pengaruh dari luar yang masuk dan diolah oleh penduduk setempat. Perubahan tersebut bisa berupa perubahan sosial, perubahan ekonomi, perubahan teknologi, perubahan budaya, dan sebagainya. (Bintarto, 1983:71). Perubahan ini dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Perubahan yang lambat atau cepat, tetapi terus maju.
1 Lihat Ali, Madekhan. Orang Desa Anak Tiri Perubahan, Averroes Press, Malang, 2007. Ali mengkritik pendekatan pembangunan top down yang dilakukan oleh Pemerintahan Order baru dalam pengembangan desa yang dianggap sebagai ‘malpraktek’ pembangunan dan menjadi sumber pelemahan keberdayaan masyarakat desa.
18 2. Perubahan ke arah kemajuan, tetapi pada suatu saat terjadi kemunduran
yang tidak terduga.
3. Perubahan yang kadang-kadang maju, kadang-kadang mundur. (Bintarto, 1983:72).
Jadi dalam hal ini selain pengaruh lalu-lintas, tingkat perubahan juga ditentukan oleh unsur manusianya.
Aktivitas manusia di tengah-tengah lingkungannya dapat dibedakan ke dalam 3 bidang, yaitu : (1) Aktivitas di bidang keluarga, (2) Aktivitas di bidang usaha, dan (3) Aktivitas di bidang sosial dan kemasyarakatan. Perubahan pada aktivitas-aktivitas tersebut erat kaitannya dengan pengaruh modernisasi, dari manusia sederhana menjadi manusia modern. (Bintarto, 1983: 74).
Untuk memberikan gambaran mengenai pengertian manusia modern, Bintarto mengutip pandangan Inkeles (1966:20) sebagai berikut : Manusia dapat dianggap modern apabila :
1. Ada kesediaan menerima pengalaman baru dan terbuka untuk penemuan dan perubahan-perubahan baru.
2. Dapat menangkap dan memahami masalah tidak hanya terkait masalah lingkungan terdekat saja namun juga dalam lingkungan yang lebih luas.
3. Berpandangan maju ke depan dengan tidak mengabaikan pengalaman- pengalaman lampau.
4. Mempunyai tindakan teratur, terutama dan teliti dalam menyelesaikan masalah.
19 5. Mempunyai perencanaan yang didasarkan pada orientasi dan pengaturan
yang matang.
6. Mempunyai keyakinan bahwa manusia mampu mengatasi kesulitan- kesulitan yang ditimbulkan oleh lingkungan dalam usaha-usaha untuk mencapai tujuan.
7. Berpandangan bahwa segala sesuatu dapat dikalkulasi.
8. Mempunyai rasa penghargaan terhadap usaha-usaha orang lain.
9. Mempunyai kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.
10. Menghargai teguran-teguran pihak lain yang baik sehubungan dengan pekerjaannnya.
Secara singkat manusia modern diartikan sebagai manusia yang terbuka untuk inovasi dengan pandangan yang luas ke depan dengan memiliki ilmu pengetahuan baru serta dapat bergaul baik dengan masyarakat sekitar. (Bintarto dalam Bintarto ,1995 :74).
Dapat disimpulkan bahwa pembangunan fisik desa tanpa disertai pembangunan manusianya akan menimbulkan kondisi yang tidak menguntungkan bagi penduduk desa baik secara individu maupun dalam kehidupan bersama sebagai masyarakat. Sifat keterbukaan akan perubahan perlu diimbangi dengan kemampuan memilih pengetahuan dan kebiasaan baru yang bernilai baik untuk diterapkan pada kehidupan masyarakat.
2.3 Dampak Sosial Pembangunan
Salah satu konsep tentang studi dampak sosial mendasarkan masyarakat sebagai bagian dari suatu ekosistem dimana perubahan suatu subsistem akan
20 mempengaruhi subsistem yang lain. Daerah yang terkena dampak (impacted area) dipandang sebagai suatu ekosistem dengan bermacam-macam komponen yang saling berhubungan. (Hadi, 2005:23). Pembangunan jembatan kandilo merupakan intervensi terhadap sistem fisik lingkungan yang akan memberikan pengaruhnya pada sistem sosial dan sistem ekonomi. Gambaran keterkaitan subsistem tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut :
Gambar 2.1 Ekosistem
Sumber : Lou D’Amore and Sheila Rittenberg, “Social Impact Assessment: A State-of-the-Art Review.” dalam Hadi (2005:24)
Perubahan lingkungan hidup manusia akan membawa perubahan sosial.
Perubahan sosial adalah perubahan dalam struktur sosial dan dalam pola-pola hubungan sosial yang antara lain mencakup : sistem status, hubungan-hubungan dalam keluarga, sistem-sistem politik dan kekuatan, dan persebaran
21 penduduk.(Tarmudji, 1991:76). Perubahan sosial tentu berpotensi menimbulkan masalah sosial, karena itu perubahan sosial yang terjadi sebagai akibat dari perubahan lingkungan fisik perlu diidentifikasi secara jelas sehingga langkah- langkah penyesuaian
Todaro (dalam Suharto, 2008:3) mengemukakan bahwa pembangunan sedikitnya harus memiliki tiga tujuan yang satu sama lain saling terkait :
1. Meningkatkan ketersediaan dan memperluas distribusi barang-barang kebutuhan dasar seperti makanan, perumahan, kesehatan dan perlindungan kepada seluruh anggota masyarakat.
2. Mencapai kualitas hidup yang bukan hanya untuk meningkatkan kesejahteraan secara material, melainkan juga untuk mewujudkan kepercayaan diri dan kemandirian bangsa. Aspek ini meliputi pendapatan, penyediaan lapangan kerja, pendidikan dan budaya, serta kemanusiaan.
3. Memperluas kesempatan ekonomi bagi individu dan bangsa melalui pembebasan dari perbudakan dan ketergantungan pada orang atau bangsa lain serta pembebasan dari kebodohan dan penderitaan.
Tujuan yang dikemukakan Todaro tersebut menunjukkan pentingnya pemahaman atas aspek sosial dalam kegiatan pembangunan disamping aspek ekonomi, ada nilai-nilai keadilan, harga diri, dan kemandirian yang harus diperhatikan dalam rangka menccapai kehidupan yang lebih baik, karena itu studi dampak sosial diperlukan.
22 Dampak sosial merupakan perubahan yang terjadi pada manusia dan masyarakat yang diakibatkan oleh aktivitas pembangunan, dimana aktivitas tersebut akan mempengaruhi keseimbangan sistem (masyarakat). Pengaruh itu bisa bernilai positif maupun negatif dan hanya dapat diuji dari nilai, norma, aspirasi dan kebiasaan dari masyarakat yang bersangkutan.( Hadi, 2005:23-24).
Perubahan tersebut menurut Armour yang dikutip Hadi (2005:25) meliputi aspek- aspek :
1. Cara hidup (way of life) termasuk di dalamnya bagaimana manusia dan masyarakat itu hidup, berkerja, bermain dan berinteraksi satu dengan yang lain. Cara hidup ini disebut sebagai “day-to-day activities” atau aktivitas keseharian. Sebagai contoh warga desa Sungai Tuak sebelumnya selalu menggunakan perahu untuk menyeberangi sungai Kandilo, perahu yang ada bahkan digunakan secara bersama dengan tetangga, keberadaan jembatan akan mengubah kebiasaan tersebut terutama bagi warga yang letak rumahnya dekat dengan jembatan.
2. Budaya, termasuk di dalamnya sistem nilai, norma dan kepercayaan.
Sebagai contoh dengan adanya jembatan masyarakat yang tadinya tidak banyak beraktivitas di luar rumah saat malam hari akan mulai berubah karena penduduk desa dapat dengan mudah pulang pergi ke kota. Salah satu sifat alami manusia adalah imitasi atau meniru, sifat ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan budaya saat anggota suatu masyarakat bersinggungan dengan masyarakat lain yang berbeda budaya dengan
23 lingkungan asalnya, hal ini sering dijumpai pada tingkat pemuda yang memiliki mobilitas cenderung tinggi.
3. Komunitas, meliputi struktur penduduk, kohesi sosial, stabilitas masyarakat, estetika, sarana dan prasarana yang diakui sebagai “public facilities” oleh masyarakat yang bersangkutan. Contoh “public facilities”
antara lain adalah balai desa, musholla, dermaga perahu. Kehadiran proyek seringkali menimbulkan dampak perpindahan penduduk sehingga kohesi sosial semakin rendah dan juga seringkali harus menggusur “public facilities”.
Menurut Carley dan Bustelo yang dikutip oleh Hadi (2005:25) ruang lingkup analisa dampak sosial paling tidak mencakup aspek berikut :
1. demografi, yang meliputi angkatan kerja dan perubahan struktur penduduk, kesempatan kerja, pemindahan dan relokasi penduduk.
2. sosial ekonomi, terdiri dari perubahan pendapatan, kesempatan berusaha, dan pola tenaga kerja.
3. Institusi, meliputi naiknya permintaan akan fasilitas seperti perumahan, sekolah, sarana rekreasi.
4. Psikologis dan sosial budaya, meliputi integrasi sosial, kohesi sosial, keterikatan dengan tempat tinggal.
Rumusan lain mengenai ruang lingkup studi dampak sosial diberikan oleh Canadian Environmental Assessment Review Council (CEARC) dalam Hadi (2005:26 sebagai berikut :
1. Perubahan yang berhubungan dengan kependudukan
24 2. Perubahan yang berkaitan dengan aspek ekonomi
3. Perubahan yang berkenaan dengan aspek budaya
4. Perubahan yang berkenaan dengan sumber daya alam yang menjadi sumber kehidupan penduduk
5. Perubahan yang berkaitan dengan fasilitas publik
Sunaryo (2008:20) memberikan rumusan indikator mengenai dampak sosial suatu program sebagai berikut :
1. Peningkatan Kemandirian, diukur melalui tingkat ketergantungan pada orang lain atau masyarakat sekitarnya.
2. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, diukur melalui tingkat kemampuan manajemen pedagang, kuantitas dan kualitas barang dagangan.
3. Peningkatan kapasitas dan kualitas organisasi paguyuban, diukur melalui intensitas/frekuensi waktu kumpul intern individu organisasi, dan antar individu dengan dinas-dinas terkait, pola komunikasi dan tingkat keluhan yang diterima organisasi.
Suratmo (2002) mengajukan berbagai sub komponen yang perlu dipertimbangkan dalam mengukur dampak sosial, yaitu:
1. Organisasi budaya dan cara hidup sehari – hari yang menyangkut jenis pranata yang ada dalam suatu komunitas, adat istiadat, norma dan tata cara serta pengelompokan masyarakat.
2. Nilai, sikap dan persepsi, baik antar kelompok maupun mengenai kegiatan yang direncanakan.
25 3. Distribusi kekuasaan dan kehidupan politik, yaitu pembagian kekuasaan yang berlaku dalam masyarakat tertentu serta pergeseran kekuasaan dalam masyarakat.
4. Struktur stratifikasi, misalnya stratifikasi sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan agama dalam masyarakat.
5. Peranan, yang dalam masyarakat menyangkut juga masalah kesempatan peranan dan tingkat spesialisasi yang ada dan diperlukan.
6. Integrasi atau kesenian, yaitu melihat proses sosial yang dapat memelihara, mencegah atau merusak keserasian.
7. Hubungan dengan daerah atau lokasi lainnya, yaitu keterkaitan yang ada antara masyarakat, dimana kegiatan pembangunan akan diadakan dengan masyarakat diluar lokasi tersebut, baik hubungan yang bersifat sosial, politik maupun ekonomi.
8. Pranata serta fungsinya dalam masyarakat yang erat hubungannya dengan subkomponen organisasi budaya dan cara hidup sehari – hari.
9. Pengalaman dengan perubahan sosial yaitu tingkat kesanggupan masyarakat menangani perubahan yang datang dari luar serta cara – cara penanganan perubahan.
10. Masalah sosial, yaitu jenis – jenis masalah sosial serta penanganannya dalam masyarakat.
11. Kesehatan lingkungan, dapat dipengaruhi oleh ciri kependudukan, cara hidup, pengguna sumber daya, keadaan biofisik serta resiko suatu proyek.
26 12. Pengguna sumber daya (produksi, distribusi, dan pola konsumsi), karena teknologi yang digunakan dalam suatu kegiatan pembangunan dapat merubah pola konsumsi setempat yang selanjutnya merubah cara hidup sehari – hari maupun penggunaan lahan tanah.
13. Lingkungan binaan, karena perubahan pada lingkungan binaan akan membawa dampak perubahan persepsi, orientasi, rasa kenyamanan dan interaksi sosial.
14. Demografi, informasi demografi diperlukan terutama bila kegiatan pembangunan menyebabkan meningkatnya mobilitas penduduk yang dapat memberi dampak perubahan terhadap struktur dan stratifikasi sosial dalam masyarakat tertentu dan terutama terhadap hubungan antara pendatang dan penduduk asli.
Ruang lingkup evaluasi dampak sosial dalam penelitian ini dibatasi hanya pada aspek sosial ekonomi saja, yaitu ini meliputi kehidupan sosial masyarakat, pola mata pencaharian, perubahan pendapatan dan pengeluaran keluarga, serta pola kepemilikan dan pemanfaatan lahan. Pembatasan pada aspek tersebut peneliti anggap lebih sesuai karena perubahan sosial ekonomi dapat dirasakan dalam waktu yang relatif singkat dibanding aspek lainnya, terutama mengingat pembangunan jembatan Kandilo baru selesai kurang dari 2 tahun saat penelitian ini dilakukan.
2.4 Kerangka Pikir Penelitian
Pandangan bahwa kehidupan masyarakat merupakan suatu ekosistem yang didalamnya terdiri dari sistem-sitem yang berkaitan seperti dikemukakan oleh
27 Hadi merupakan landasan bagi penelitian ini. Pembangunan jembatan Kandilo merupakan leading sector bagi perkembangan berbagai aspek dalam kehidupan masyakarat desa Sungai Tuak. Pembangunan jembatan tersebut merupakan bagian dari perubahan sistem fisik lingkungan yang akan membawa perubahan bagi unsur lain dalam sistem fisik itu sendiri, dan juga bagi sistem sosial dan ekonomi lingkungan tersebut.
Meningkatnya interaksi masyarakat desa dengan kota yang memiliki nilai- nilai sosial yang cenderung berbeda akan menimbulkan sifat saling mempengaruhi, namun dalam hal ini pengaruh yang diberikan oleh kota terhadap nilai-nilai yang berlaku di desa lebih kuat dibanding sebaliknya. Desa yang pada mulanya memiliki modal sosial yang kuat lama-kelamaan akan mengalami penurunan kekuatan modal tersebut sebagai akibat terserapnya perilaku dari masyarakat kota yang cenderung bersikap individualis.
Kelancaran arus orang dan barang akan mendorong perubahan di berbagai bidang, diantaranya adalah bidang ketenagakerjaan, dimana masyarakat desa terutama kalangan pemuda akan mulai meninggalkan kehidupan bertani yang merupakan tumpuan perekonomian desa. Pemuda akan mulai mencari kesempatan berkerja di kota karena transportasi yang lebih lancar, atau juga mulai membuat lapangan pekerjaan sendiri seperti berdagang karena adanya peningkatan kesempatan berusaha.
Pola kepemilikan dan pemanfaatan lahan juga akan berubah, sebagian lahan pertanian akan terkonversi menjadi lahan perumahan ataupun area komersil seperti pasar atau pertokoan. Masyarakat desa yang tidak siap dengan perubahan
28 mata pencaharian akan mengalami stress karena kekhawatiran akan ketidakpastian penghidupan bagi keluarga. Persoalan-persoalan semacam ini akan menjauhkan masyarakat dari kesejahteraan jika tidak dipahami secara baik kearah mana sebenarnya perubahan yang sedang terjadi,apakah menuju keadaan yang lebih baik atau justru sebaliknya.
Tidak ada teori maupun hipotesa yang coba dibuktikan dalam penelitian ini. Penelitian ini akan mengangkat bagaimana dampak yang terjadi di masyarakat desa Sungai Tuak sebagaimana adanya dari sudut pandang masyarakat desa itu sendiri. Evaluasi dampak sosial dalam penelitian ini dibatasi pada aspek sosial ekonomi yang meliputi kesempatan berusaha, pola mata pencaharian, tingkat pendapatan keluarga, serta pola kepemilikan dan pemanfaatan lahan.
Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Kependudukan
• Tingkat mobilitas penduduk
• tingkat kesejahteraan penduduk 2. kesempatan berusaha,
• Munculnya warung ataupun toko di sekitar area proyek pembangunan jembatan
• Ragam kegiatan usaha masyarakat desa 3. pola mata pencaharian,
• Peralihan dari pekerjaan bidang agraris ke non-agraris
o Pekerjaan non agraris meliputi meliputi pertambangan, perindustrian, perdagangan, pariwisata, dan jasa
29
• Peralihan dari sektor non formal ke sektor formal 4. Perubahan pendapatan dan pengeluaran keluarga,
• Peningkatan jumlah pendapatan dan pengeluaran keluarga
• Kesempatan kerja meningkat
5. pola kepemilikan dan pemanfaatan lahan
• Peralihan kepemilikan lahan dari penduduk desa ke no-penduduk desa
• Pemanfaatan lahan untuk kegiatan agraria
• Pemanfaatan lahan untuk perumahan
• Pemanfaatan lahan untuk kegiatan perdagangan 6. Fasilitas dan pelayanan publik
• Permintaan akan perbaikan pelayanan dan fasilitas publik 7. Kehidupan sosial budaya
• Rasa aman dan kenyamanan tinggal di desa
• dimensi proses pengambilan keputusan masyarakat
• penyakit sosial masyarakat
• kebersamaan masyarakat
30 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Evaluasi program secara tradisional artinya mengukur pencapaian suatu tujuan, berdasarkan perangkat yang dibuat sebelumnya secara hati-hati dari tujuan yang dapat diukur. (Patton, 2006:53). Pengertian tersebut pada akhirnya membatasi penelitian hanya berjalan atas hal-hal yang sesuai dengan kriteria tujuan awal program, pengumpulan data hanya difokuskan pada hal-hal sempit yang biasanya diukur secara kuantitatif, sementara temuan realitas atau “dampak nyata” yang lebih mendalam seringkali diabaikan, dan dianggap sebagai hal yang tidak dapat dikendalikan.
Adanya ketidakpuasan atas pengertian program evaluasi secara tradisional tersebut mendorong Schriven untuk memberikan pilihan lain dalam menjalankan evaluasi program yang disebut “evaluasi bebas dari tujuan”. Evaluasi bebas dari tujuan artinya mengumpulkan data secara langsung tentang pengaruh dan efektivitas program tanpa dibatasi oleh fokus sempit yang dinyatakan sebagai tujuan.(Schriven dalam Patton, 2006:53). evaluasi bebas dari tujuan dalam pencarian “akibat nyata” merupakan strategi induktif dan holistik , berupaya menyangkal pembatasan logika deduktif yang ada dalam pendekatan evaluasi kuantitatif yang biasanya berdasarkan tujuan, namun demikian evaluasi bebas dari tujuan dapat menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. (Patton, 2006:53-54).
31 Penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji suatu hipotesis, sehingga akan lebih sesuai bila menggunakan pendekatan kualitatif dimana kekuatannya adalah pada kedalaman pemanfaatan temuan di lapangan. Pertanyaan yang bersifat terbuka memberikan kesempatan untuk mendapatkan data yang lebih personal dari responden. Ide dan pendapat responden menjadi sumber data penting bagi evaluasi.
Peneliti kualitatif berupaya untuk memahami proses sosial dalam konteks penelitiannya dengan memusatkan perhatian pada keadaan alamiah dari kehidupan manusia. Peneliti berusaha menangkap realitas sosial masyarakat sebagaimana adanya tanpa bertujuan untuk menguji suatu hipotesis. (Esterberg, 2002:2-3).
Langbein (dalam Widodo, 2008:116), membedakan riset evaluasi berdasarkan metode menjadi dua tipe, yaitu metode deskriptif dan kausal. Metode deskriptif berjalan pada level process dan outcomes dari suatu kebijakan, sementara metode kausal memfokuskan pada outcomes dari suatu kebijakan. (lihat Tabel 3.1)
Riset evaluasi menggunakan metode deskriptif ditujukan untuk menggambarkan suatu pencapaian dari suatu program apakah telah tercapai dengan baik atau sebaliknya. Metode ini akan sangat membantu tiset evaluasi ketika peneliti sulit untuk menemukan atau membuat hubungan sebab akibat. Sementara riset evaluasi dengan metode kausal berorientasi access issues tentang sebab dan akibat.
Dengan melakukan riset kausal akan diperoleh jawaban dari pertanyaan apakah outcomes utama yang terjadi disebabkan oleh program utama atau dengan kata lain program utama menjadi penyebab dari dampak utama.
32 Tabel 3.1
Tipe Riset Evaluasi
Methods Process Outcomes
Descriptive (Deskriptif)
1. Apakah fasilitas, sumber daya digunakan dalam kebijakan
2. Apakah kebijakan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk
3. Bagaimana derajat manfaat/
keuntungan yang ditetapkan dalam kebijakan
4. Menentukan apakah manfaat nyata dari kebijakan dapat dinikmati oleh kelompok
sasaran (target groups)
1. Siapa yang terlibat dalam kebijakan
2. Apakah kebijakan dapat mencapai siapa yang menjadi sasaran kebijakan
Causal (Kausal)
1.Apakah kebijakan
menghasilkan outcomes yang diharapkan/tidak diharapkan.
2. Sarana (faktor)
implementasi kebijakan mana yang menghasilkan outcomes yang terbaik
3. Berusaha mencari/melihat apakah outcome utama yang terjadi dikarenakan oleh kebijakan utama
4. Apakah kebijakan utama menjadi penyebab dampak utama
Sumber : Langbein (dalam Widodo, 2008:116)
Secara operasional penelitian evaluasi dampak sosial pembangunan jembatan Kandilo ini berdasarkan pada jenis metode yang diberikan oleh Langbein termasuk dalam penelitian dengan metode evaluasi kausal yang menekankan pada outcomes dari suatu kebijakan.
Finterbusch dan Motz (Wibawa, 1994 :74) menyebut empat jenis evaluasi berdasar kekuatan kesimpulan yang diperolehnya seperti diperlihatkan pada Tabel 3.2 berikut
33 Tabel 3.2
Empat Jenis Evaluasi
Sumber : Finterbusch dan Motz (Wibawa, 1994 :74)
Berdasarkan paparan di atas, penelitian evaluasi dampak sosial ekonomi pembangunan Jembatan Kandilo ini termasuk jenis evaluasi single program before- after yang meneliti dampak yang timbul pada kelompok sasaran pada saat pelaksanaan program maupun setelah program dilaksanakan, juga mengamati keadaan kelompok sasaran sebelum program tersebut dilaksanakan tanpa adanya kelompok kontrol sebagai pembanding. Dengan demikian dapat dilihat apakah ada perubahan baik positif ataupun negatif setelah dilaksanakannya suatu program dengan membandingkan keadaan sebelum dan sesudah pengimplementasian program.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Sungai Tuak, Kecamatan Tanah Paser, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur
3.3 Subyek Penelitian / Responden
Subyek penelitian ini adalah individu dan organisasi yang terkait dengan permasalahan Pembangunan Jembatan kandilo. Subyek Penelitian dalam penelitian ini adalah ;
Sebelum Sesudah
ada ada
keadaan kelompok sasaran Perubahan keadaan kelompok sasaran
keadaan sasaran dan bukan sasaran
efek program terhadap kelompok sasaran Comprative
after-only Comparative before-after
ya tidak
ya ya
tidak ya
ya ya
Pengukuran Kondisi Kelompok Sasaran
Jenis Evaluasi Kelompok
kontrol Informasi yang diperoleh Single Program
after-only single program before-after
tak ada tak ada
34 1. Kepala Desa dan Perangkat Desa Sungai Tuak
2. Tokoh Masyarakat di sekitar Lokasi pembanguan Jembatan kandilo
3. Masyarakat desa yang bertempat tinggal di sekitar lokasi Jembatan, diambil beberapa responden dengan random sampling
Diharapkan dari informasi responden tersebut di atas dapat memberikan gambaran yang mendalam mengenai dampak sosial ekonomi pembangunan Jembatan Kandilo bagi masyarakat desa Sungai Tuak.
3.4 Sumber Data A. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber pertama melalui prosedur dan teknik pengambilan data yang dapat berupa hasil interview, observasi, maupun penggunaan instrument pengukuran yang khusus dirancang sesuai tujuannya. Data primer yang akan digunakan dalam penelitian ini berupa interview/wawancara dan observasi.
a. Interview/wawancara
Wawancara dilakukan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya terbuka kepada penduduk desa Sungai Tuak terutama yang bertempat tinggal di sekitar lokasi jembatan Kandilo. Pertanyaan wawancara yang bersifat terbuka memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mendapatkan respon yang lebih dalam karena responden dapat memberikan jawaban yang lebih lugas menurut pendapat responden.
Sementara untuk mengumpulkan informasi yang sifatnya lebih umum
35 tentang lingkungan penelitian, wawancara ditujukan kepada tokoh masyarakat dan pamong desa.
b. Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematik tentang gejala-gejala yang diamati. Observasi dalam penelitian dampak sosial biasanya adalah observasi langsung dimana disaat mengadakan wawancara peneliti melakukan pengamatan tentang ingkungan secara umum dan lingkungan dari responden yang diwawancarai . (Hadi, 2005:77). Menurut Singha (dalam Hadi, 2005:77) kelebihan teknik observasi yaitu :
a. Peneliti dapat memahami konteks dimana proyek dilaksanakan
b. informasi dan pengetahuan dari tangan pertama yang dihimpun melalui observasi memungkinkan untuk melakukan pendekatan secara induktif c. peneliti akan memperolah informasi/data yang tidak mungkin bisa
didapatkan melalui wawancara atau kuesionair, misalnya tentang siapa yang biasa hadir dalam kegiatan-kegiatan warga,dsb.
d. peneliti mampu melihat sesuatu yang rutin tetapi diluar perhatian responden tetapi sangat berharga sebagai informasi penelitian.
Beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur. (Bungin, 2007: 115).
36 a. Observasi partisipasi (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.
b. Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa menggunakan guide observasi. Pada observasi ini peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati suatu objek.
c. Observasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus.
Hasil dari observasi tersebut akan digunakan untuk menguatkan data-data dalam penelitian ini berupa penjelasan tertulis ataupun foto.
Penelitian ini nantinya akan menggunakan model observasi tidak berstruktur.
B. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung, umumnya berupa dokumen. data sekunder dapat berupa data statistik, laporan penelitian, peraturan-peraturan, dokumentasi dan sebagainya. Data sekunder digunakan sebagai data pendukung dalam penelitian ini terutama berkaitan dengan demografi penduduk yaitu komposisi penduduk dari usia, tingkat pendidikan, pendapatan,dsb.)
37 3.5 Teknik Analisis Data
Sejalan dengan tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui dampak sosial yang timbul akibat pembangunan Jembatan kandilo, tidak dimaksudkan untuk menguji suatu hipotesa, maka teknik analisis data yang dianggap sesuai adalah analisis deskriptif.
Data yang sudah didapatkan akan direduksi dengan tujuan pemusatan data, dilakukan dengan membuat abstraksi sehingga dapat dilihat bagian mana saja yang merupakan data inti. Setelah proses reduksi, data yang ada kemudian disusun secara sistematis, bisa dibantu dengan pemberian kode ataupun label nama untuk setiap kategori. Setelah data tersusun secara sistematis, kemudian dilakukan verifikasi data hasil wawancara dengan data hasil observasi lapangan, bisa bersifat melengkapi maupun koreksi untuk kemudian ditarik kesimpulan mengenai dampak yang terjadi di masyarakat.
38 BAB IV
DESKRIPSI WILAYAH
4.1 Program Pembangunan Jembatan
Desa Sungai Tuak terletak berdampingan dengan Ibu Kota Kabupaten Paser , Tanah Grogot. Meskipun letaknya berdampingan, kedua daerah tersebut terpisahkan oleh Sungai Kandilo yang mempunyai lebar sekitar 80 meter. Selama puluhan tahun masyarakat desa Sungai Tuak serta beberapa desa lainnya yang berada di seberang kota Tanah Grogot harus menggunakan perahu ataupun kapal untuk menyeberang ke kota, akibatnya perkembangan desa Sungai Tuak dan desa yang bertetangga menjadi sangat lambat dan hampir tidak ada perubahan berarti dalam kurun waktu puluhan tahun.
Masyarakat Desa Sungai Tuak melalui Kepala Desa sebenarnya sudah lama mengajukan permohonan pada Pemerintah Kabupaten Paser agar dibangun jembatan penghubung antara desa Sungai Tuak dengan kota Tanah Grogot.
Permohonan tersebut telah diajukan sejak tahun 1980-an yang lalu, namun tidak pernah mendapat jawaban dari Pemerintah Setempat. Pada Tahun 2005 Pemerintah Desa Sungai Tuak kembali memperjuangkan pembangunan jembatan tersebut hingga ke Pengadilan Tata Usaha Negara di ibu kota provinsi Kalimantan Timur, Samarinda. Permintaan Pembangunan tersebut akhirnya dipenuhi oleh Pemerintah Kabupaten Paser dengan persetujuan dari DPRD Kabupaten Paser.2
2 Hasil wawancara dengan Kepala Desa Sungai Tuak, 24 Desember 2012
39 Tujuan utama pembangunan jembatan kandilo adalah untuk kelancaran dan kemudahan akses desa-desa yang berada di seberang kota Tanah Grogot.
Pembangunan Jembatan Kandilo sangat diharapkan oleh masyarakat desa Sungai Tuak agar mereka tidak lagi tertinggal dalam laju pembangunan di Kabupaten Paser. Ketertinggalan desa Sungai Tuak dan desa sekitarnya dalam pembangunan menjadi semakin terlihat saat tahun 2004 kawasan tepi sungai Kandilo di kota tanah Grogot dijadikan kawasan taman kota setelah sebelumnya tepi sungai tersebut diberi penurapan dan pelebaran jalan aspal. Taman di tepian kota yang menjadi kawasan bersantai warga Kota Tanah Grogot berseberangan dengan rumah penduduk Sungai Tuak yang merupakan bangunan kayu, dan masih terdapat jamban-jamban yang berada di tepi sungai.
Pembangunan Jembatan Kandilo pada tahun 2006 dianggarkan dengan biaya Rp. 20,4 Miliar dengan sistem anggaran multiyears dan sepenuhnya ditanggung oleh dana APBD Kabupaten Paser. Pada perjalanannya, pembangunan tersebut mengalami kendala terutama terkait pembebasan lahan.
Harga ganti lahan yang diminta oleh warga jauh melampaui nilai yang ditawarkan Pemerintah Daerah, akibatnya pembangunan jembatan menjadi terhambat, lokasi proyek akhirnya digeser dan dilakukan perubahan dimensi jembatan, dengan biaya yang juga melambung menjadi Rp. 90 Miliar3.
Dana yang begitu besar dalam membangun jembatan Kandilo diharapkan juga mampu memberikan kemanfaatan bagi perekonomian daerah dalam jangka
3 http://www.bongkar.co.id/news/corruption-watch/637-jembatan-bingung-di-kandilo.html (Jembatan Bingung Kandilo, diakses pada 10 November 2012)
40 panjang. Di lokasi desa-desa yang selama ini terisolir oleh aliran sungai kandilo direncanakan menjadi pusat keramaian dan perekonomian baru, diantaranya rencana pengembangan desa wisata, pembangunan stadion olahraga untuk menggantikan stadion yang sudah ada, serta pembuatan pelabuhan batu bara yang daerah penambangannya berada di hulu sungai Kandilo.
Jembatan Kandilo akhirnya selesai dibangun dan mulai digunakan oleh masyarakat pada Tahun 2010, namun peresmian oleh Pemerintah Kabupaten baru dilakukan pada bulan Desember Tahun 2012 bersamaan dengan peresmian Rumah Sakit Daerah yang selesai dibangun pada pertengahan Tahun 2012.
4.2 Profil Desa Sungai Tuak
4.2.1 Pemerintahan Desa Sungai Tuak
Desa Sungai Tuak terletak di bagian timur Kabupaten Paser, Kabupaten Paser sendiri merupakan kabupaten yang terletak di bagian paling selatan dari Provinsi Kalimantan Timur. Desa Sungai Tuak merupakan salah satu dari 12 desa yang berada dalam Kecamatan Tanah Grogot. Desa ini memiliki luasan 650 Ha dan merupakan area bantaran sungai yang sebagian besar lahannya merupakan areal persawahan. Wilayah desa Sungai Tuak terbagi 12 RT (Rukun Tetangga) dengan jumlah penduduk desa 1.367 Jiwa dalam 345 KK (Kepala Keluarga)4.
Ditinjau dari tata pemerintahannya, desa Sungai Tuak memiliki 2 Lembaga Pemerintahan, yaitu Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa.
Pemerintahan Desa dikepalai oleh Kepala Desa, sedangkan untuk Kedusunan
4 Data Kantor Desa Sungai Tuak Tahun 2012
41 diketuai oleh Kepala Dusun. Setiap dusun terbagi lagi menjadi beberapa Rukun Tetangga. Dalam menjalankan tugasnya, seorang Kepala Desa dibantu oleh Sekertaris Desa yang membawahi Kepala Urusan Pembangunan, dan beberapa staff. Badan Perwakilan Desa yang merupakan badan legislatif di tingkat desa beranggotakan 5 orang.
Gambar 4.1
Susunan Organisasi Pemerintah Desa Sungai Tuak
Sumber : Kantor Kepala Desa Sungai Tuak Tahun 2012
4.2.2 Kondisi Alam
Desa Sungai Tuak berada pada ketinggian 10 meter dari permukaan laut.
Lahan di desa Sungai Tuak merupakan tanah rawa pasang surut dengan kontur relatif datar. Tumbuhan yang mendominasi adalah pohon Sagu (Metroxylon Sago Rottb.), Kelapa (Cocos Nucifera), Pedada (Sonneratia Caseolaris) dan Hampalam Palipisan (Mangifera Sp). Pohon-pohon tersebut banyak tumbuh liar dan bernilai
Staff
Kepala Dusun 1 Kepala Dusun 2
Kepala Desa
Pembantu umum Operasional komputer
Sekertaris Desa Kaur Pembangunan
Ketua RT 7
Ketua RT 8
Ketua RT 9
Ketua RT 10
Ketua RT 11
Ketua RT 12 Ketua
RT 1 Ketua
RT 2 Ketua
RT 3 Ketua
RT 4 Ketua
RT 5
Ketua RT 6