• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sarana dan Prasarana Desa

Dalam dokumen M.Nuryadin Adam 05/189812/SP/21250 (Halaman 59-0)

BAB IV DESKRIPSI WILAYAH

4.2 Profil Desa Sungai Tuak

4.2.4 Sarana dan Prasarana Desa

Secara administratif desa Sungai Tuak dibagi menjadi 2 (dua) dusun yaitu Dusun 1 (meliputi RT 1, 2, 3, 4, 5 dan 6) dan Dusun 2 (meliputi RT 7, 8, 9, 10, 11, dan 12). Beberapa desa lain terhubung dengan desa Sungai Tuak melalui sisi Hulu (Dusun 2) dan dermaga kapal untuk penyeberangan ke Tanah grogot (yang sekarang menjadi lokasi Jembatan Kandilo) berada di tengah-tengah Dusun 1 dan Dusun 2, sehingga masyarakat dari desa tetangga juga sering melalui jalan desa Sungai Tuak di bagian Hulu. Penduduk di bagian Hilir selama ini juga lebih banyak menyeberang dari tepi sungai di depan rumah masing-masing karena

No. Indikator Th. 2007 Th. 2008 Th. 2009 Th. 2010 Th. 2011

1 Jumlah Keluarga 296 313 343 387 339

2 Jumlah Keluarga Pra Sejahtera 207 212 210 200 220

3 Jumlah Keluarga Sejahtera 1 83 96 128 132 114

4 Jumlah Keluarga Sejahtera 2 5 5 5 5 5

5 Jumlah Keluarga Sejahtera 3 - - - -

-49 lokasi yang memungkinkan untuk menyeberang langsung ke kota Tanah Grogot, bahkan penduduk di bagian Hilir bisa langsung menjangkau Pasar Senaken yang merupakan pusat perdagangan kebutuhan sehari-hari di kota Tanah Grogot karena di sekitar pasar tersebut juga terdapat dermaga-dermaga yang dapat digunakan untuk bongkar muat barang dengan kapal ukuran kecil, berbeda dengan penduduk di bagian hulu yang tidak bisa menyeberang dari tepi sungai di depan rumah penduduk karena bentuk alur sungai yang bercabang dan menjauh dari tepi kota Tanah Grogot.

Jalan di desa Sungai Tuak adalah jalan tanah dengan lebar berkisar 3 meter di bagian Hilir dan 3-6 meter di bagian Hulu. Letak jalan yang sejajar dengan alur sungai dan hanya berjarak kurang lebih 20-30 meter dari tepi sungai menjadikan beberapa lokasi sering terendam air saat air sungai dalam kondisi pasang ( biasanya berlangsung sekitar 2 jam) dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa sehingga sulit untuk dilewati warga. Setelah air surut pun jalanan yang tadinya terendam masih sulit dilewati karena kondisi jalan menjadi sangat becek, begitu juga saat memasuki musim hujan, kebanyakan jalanan desa akan susah dilewati oleh kendaraan terutama mobil. Kondisi tersebut menyebabkan lalu lintas orang dan barang menjadi kurang lancar.

Terdapat beberapa jembatan yang terbuat dari kayu ulin di jalan desa karena adanya saluran anak-anak sungai yang melintang di jalan. anak-anak sungai tersebut juga yang dijadikan sumber pengairan untuk sawah-sawah milik penduduk karena saluran buatan untuk mengairi areal pertanian yang dibangun oleh Pemerintah di awal Tahun 1980an tidak pernah dikembangkan, sementara

50 areal pertanian semakin meluas, sehingga para petani membutuhkan sumber air yg lain selain dari saluran khusus pertanian yang sudah ada. Warga yang tergabung dalam kelompok tani bergotong-royong untuk membersihkan saluran-saluran anak sungai yang ada.

Gambar 4.3

Kondisi Jalan Desa Sungai Tuak di Dusun Hulu (gambar kiri) dan Dusun Hilir (gambar kanan)

Sumber : Dokumentasi Lapangan , Desember 2012

Masyarakat Sungai Tuak mengandalkan Sungai Kandilo sebagai sumber air untuk keperluan sehari-hari, hal ini karena desa tersebut tidak memiliki fasilitas pengolahan air baku dan juga tidak dialiri oleh air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Distribusi air bersih oleh PDAM pernah dilakukan dengan dibuatnya jalur pipa air bersih dari kota Tanah Grogot melalui pemipaan di dasar Sungai Kandilo yang memisahkan Desa Sungai Tuak dengan kota tanah Grogot, namun karena kuatnya arus sungai kandilo lama-kelamaan jalur pipa tersebut terputus dan tidak pernah dilakukan perbaikan.

51 Jaringan listrik terbentang sepanjang jalan desa yang sejajar dengan alur sungai. Penerangan jalan desa di malam hari sangat minim, hanya beberapa rumah warga saja yang memberikan lampu penerangan secara sukarela untuk jalan desa, hal ini sangat menyulitkan warga yang berpergian di malam hari karena kondisi jalan juga kurang baik. Belum ada jaringan telepon kabel, namun peerimaan sinyal telepon satelit sudah cukup baik sehingga penduduk Sungai Tuak bisa menggunakan telepon selular untuk komunikasi.

Gambar 4.4

Kantor Kepala Desa sekaligus Pos Penyuluhan Desa (kiri) dan Sekolah Dasar Negeri 025 (kanan)

Sumber : Dokumentasi lapangan, Desember 2012

Desa Sungai Tuak memiliki 5 buah Masjid sebagai sarana ibadah masyarakat. Masjid-masjid tersebut digunakan juga untuk kegiatan ceramah agama dan pengajaran baca tulis Al-qur’an. Pelayanan kesehatan masyarakat dilayani di Poliklinik Desa (Polindes) yang ditenagai oleh 1 orang bidan dan 1 orang perawat, dengan jam kerja pukul 08.00 -12.00 dari hari Senin hingga Sabtu.

Prasarana pendidikan di desa Sungai Tuak yaitu 2 unit Sekolah Dasar Negeri dan 2 unit Taman Kanak-Kanak. Untuk kepentingan Penyuluhan Desa dilakukan di Kantor Kepala Desa.

79 BAB V ANALISIS DATA

5.1 Pengantar

Keberhasilan pembangunan bukan hanya mengenai peningkatan hasil, namun juga pemerataan. Keadilan sosial merupakan amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan tertuang juga dalam Sila ke 5 Pancasila, sehingga menjadi kewajiban Pemerintah selaku penyelenggara kehidupan bersama dalam sebuah negara untuk mewujudkan keadilan sosial tersebut.

Desa Sungai Tuak sebagai bagian dari Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser , telah lama tertinggal dalam pembangunan yang berlangsung.

Desa Sungai Tuak yang terpisahkan oleh Sungai Kandilo dari kota Tanah Grogot seperti terlupakan dan hanya menjadi penonton perkembangan kawasan kota di seberangnya yang berjarak hanya sekitar 80 meter. Pembangunan jembatan Kandilo untuk meningkatkan aksesbilitas desa Sungai Tuak diharapkan menjadi pendorong percepatan pembangunan di desa tersebut.

Peningkatan harga jual tanah di desa Sungai Tuak secara signifikan setelah adanya jembatan telah mendorong masuknya para orang berharta dari kota yang dananya relatif lebih kuat dari kebanyakan penduduk desa. Semakin mudahnya transportasi juga meningkatkan interaksi warga desa dan kota yang bisa mempengaruhi cara pandang masyarakat desa mengenai pekerjaan, peluang usaha, nilai-nilai kehidupan sosial, dan sebagainya.

53 Pembangunan selalu memiliki dampak, baik itu bersifat positif ataupun negatif. Masyarakat Sungai Tuak menyambut dengan gembira pembangunan Jembatan Kandilo karena jembatan tersebut memang sudah sejak lama diharapkan oleh masyarakat. Tentu masyarakat memiliki harapan yang besar agar desa tersebut dapat lebih cepat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan penduduknya. Desa Sungai Tuak sebelum adanya jembatan tidak banyak mengalami perubahan selama puluhan tahun, sekarang setelah adanya jembatan, penduduk Sungai Tuak yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dengan tingkat pendidikan yang rendah harus berhadapan dengan arus pembangunan. Untuk mengetahui dampak sosial yang timbul sebagai akibat berdirinya jembatan Kandilo bagi masyarakat desa Sungai Tuak, berikut ini akan dibahas dampak-dampak tersebut dari sisi Kependudukan, Ekonomi, Pelayanan Publik dan Sosial Budaya masyarakat.

5.2 Kependudukan

Sebelum adanya jembatan, penduduk desa Sungai Tuak sudah cukup banyak yang pindah ke kota Tanah grogot. Penduduk yang pindah keluar desa tersebut biasanya disebabkan oleh pernikahan dengan penduduk dari luar desa atau juga karena alasan mencari peruntungan di kota. Jumlah penduduk yang berpindah keluar desa tidak diketahui dengan pasti karena sebagian besar dari penduduk yang pindah tersebut masih tercatat sebagai warga Sungai Tuak, selain itu terdapat juga transmigran dari provinsi Sulawesi Selatan yang sebenarnya hanya ‘menumpang’ tercatat di kartu keluarga penduduk desa, kebanyakan transmigran tersebut diajak oleh keluarganya yang merupakan warga Sungai Tuak

54 yang memang mayoritas bersuku Bugis yang merupakan suku asli dari pulau Sulawesi, namun di Kabupaten Paser para pendatang tersebut memilih tinggal di kota Tanah Grogot untuk mencari pekerjaan.

Bapak Ardi, salah seorang warga menuturkan bahwa beberapa anggota keluarga juga sebagian tetangganya yang pindah ke Tanah Grogot masih tercatat sebagai warga Sungai Tuak, hal ini menurutnya karena warga yang pindah tersebut masih memiliki lahan di Sungai Tuak sehingga mungkin ada kekhawatiran akan timbul masalah karena ketidaksesuaian data bila berpindah alamat dari desa. Selain itu ada kemungkinan warga yang berpindah tersebut masih akan kembali untuk tinggal di desa di waktu mendatang.

Terkait adanya masyarakat yang tercatat sebagai warga desa namun tidak bertempat tinggal di Sungai Tuak, Kepala Desa menuturkan :

“untuk mereka yang tidak lagi bertempat tinggal di desa Sungai Tuak namun masih tercatat sebagai warga sudah kita sarankan sejak Tahun 2005 supaya mengurus surat kepindahan ke tempat tinggal yang baru, terutama warga pendatang dari Sulawesi, sekarang jumlahnya saya rasa sudah sedikit sekali (yang masih tercatat sebagai warga desa)”

Semenjak jembatan mulai bisa dilintasi oleh warga pada Tahun 2010, beberapa warga yang tadinya sudah bertempat tinggal di luar desa mulai kembali tinggal di desa karena sekarang warga dapat dengan mudah berpergian, berbeda disaat sebelum adanya jembatan, warga yang meskipun memiliki kendaraan bermotor untuk digunakan di kota masih harus menyeberang dengan menggunakan perahu untuk menuju desa, hal tersebut tentu mengurangi

55 kelancaran transportasi warga terutama saat cuaca hujan ataupun saat arus sungai cukup kuat.

Perubahan jumlah penduduk Sungai Tuak saat penelitian ini dilakukan belum ada perubahan secara signifikan, namun perkembangannya dalam beberapa tahun ke depan perlu diantisipasi sejak awal. Tahun 2006 hingga 2009 terjadi kenaikan jumlah penduduk. Tahun 2006 adalah saat ditetapkannya rencana pembangunan Jembatan Kandilo, beberapa transmigran tercatat sebagai warga desa namun tidak semuanya tinggal di desa seperti yang disampaikan oleh Kepala Desa.

Saat penelitian dilakukan sudah ada beberapa Pengembang Perumahan yang mulai memasarkan kapling tanah di desa Sungai Tuak, tidak hanya para Pengembang, beberapa warga yang memiliki lahan cukup luas juga mulai menjual tanah kapling untuk perumahan. Saat ini tanah-tanah kapling tersebut memang belum siap bangun karena belum ada akses jalan yang memadai, namun sudah cukup banyak warga dari luar desa yang berminat membeli tanah kapling tersebut karena lokasi desa Sungai Tuak memang sangat dekat dengan kota dan harga tanah masih relatif murah dibanding harga tanah di kota.

Arus transportasi penduduk keluar dan masuk desa meningkat pesat. hal ini terlihat dari semakin banyaknya kendaraan bermotor yang melintas di jalan desa, Arbi, salah seorang warga menuturkan :

“sekarang rame orang lewat sini, kalau dulu bisa dihitung jari orang lewat pakai kendaraan (bermotor), kebanyakan jalan kaki atau naik sepeda.

56 sekarang motor mobil banyak lewat, jalanan juga jadi cepat rusak karena banyak mobil lewat bawa barang khan”

Jumlah kendaraan bermotor milik warga desa setelah adanya jembatan juga meningkat. Sebagian warga membeli sepeda motor baru dengan pembayaran kredit, sebagian yang lain membeli sepeda motor bekas. Beberapa warga desa sebelum adanya jembatan memang sudah memiliki sepeda motor untuk beraktifitas di kota, sepeda motor milik warga desa tersebut tidak dibawa pulang ke desa setiap hari karena untuk membawa kendaraan ke desa harus memutar melalui kecamatan paser belengkong dengan jarak lebih dari 10 km dengan melintasi jalan tanah yang rusak, dan juga karena lebih sering digunakan untuk keperluan di kota sehingga kendaraan warga tersebut dititipkan di rumah warga daerah tepian kota Tanah Grogot, juga di dalam areal sebuah kantor bank yang letaknya di tepian sungai kandilo, namun setelah adanya jembatan warga tidak perlu lagi menitipkan kendaraan.

5.3 Dampak Sosial Ekonomi 5.3.1 Pola Mata Pencaharian

Desa Sungai Tuak masih mengandalkan pertanian sebagai sumber ekonomi warga, dengan jumlah anggota Kelompok Tani sebanyak 336 Kepala Keluarga (KK) dan total luas lahan persawahan 475 Ha, rata-rata setiap KK memiliki lahan seluas 1,4 Ha, dengan masa tanam sebagian besar lahan hanya 1

57 kali dalam setahun dan pendapatan rata-rata per KK sebesar Rp. 3.000.000/ bulan (Tahun 2011)10.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa penduduk yang berprofesi sebagai petani, belum ada manfaat tambahan yang signifikan bagi pertanian terkait dengan adanya jembatan Kandilo karena selama ini mereka hasil panen selalu dijual ke pabrik penggilingan yang sekaligus pengepul padi di desa. Para petani tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk mengangkut gabah, menggiling dan mengemas dalam karung, semua ditangani oleh pengepul. Harga jual beras ke pengepul diterima bersih oleh petani sebesar Rp. 7.000/Kg, sementara bila menjual langsung ke pedagang besar dihargai Rp. 7.500/Kg, selisih antara harga jual ke pengepul dan pedagang besar tersebut dianggap para petani terlalu kecil sementara bila ingin menjual langsung ke pedagang masih juga harus memikirkan biaya angkut, penggilingan, pengemasan serta menyediakan tempat untuk menyimpan sementara hasil panen.

Pada Tahun 2007/2008 Pemerintah Kabupaten Paser memperluas areal persawahan dengan membagikan lahan secara gratis kepada sejumlah keluarga yang belum memiliki lahan dan tempat tinggal sendiri, salah satu lokasinya adalah desa Sungai Tuak yang membagikan lahan seluas 65 Ha. Penduduk yang mendapatkan pembagian lahan tersebut diharuskan merawat lahan selama minimal 3 Tahun sebelum tanah tersebut bisa diberi sertifikat hak milik, namun karena saluran irigasi masih terbatas, lahan yang dibagikan tersebut hanya dibersihkan dan dirawat dari tanaman liar, belum digunakan untuk pertanian.

10 Data Kantor Kepala Desa Sungai Tuak Tahun 2011

58 Lahan yang dibagikan tersebut memang dimaksudkan untuk perluasan areal persawahan, namun tidak ada aturan yang mewajibkan penggunaan lahan tersebut sebagai sawah, sehingga sebagian lahan tersebut setelah lewat masa perawatan minimal 3 tahun akhirnya berpindah kepemilikan ke pembeli yang mayoritas berasal dari luar desa.

Marsuki, salah seorang penerima lahan pembagian tersebut telah menjual setengah dari lahan yang ia terima dan hasil penjualannya digunakan untuk membeli kapal kecil yang menjadi modal untuk mengangkut kayu Galam yang menjadi penghasilan tambahan, sebelumnya Marsuki hanya berkerja sebagai pengrajin atap daun Nipah bersama istrinya serta menjadi tenaga serabutan.

Marsuki berencana membangun rumah di sisa tanah pembagian miliknya yang belum dijual dan membuka warung kecil di rumah itu nantinya.

Nasir, warga RT 10 mengalihfungsikan sebagian lahan sawah miliknya menjadi kolam pemancingan sejak tahun 2011. Ia melihat peluang tersebut karena beberapa lokasi wisata pemancingan yang lain berada cukup jauh dari kota, sementara desa Sungai Tuak letaknya relatif lebih dekat dengan kota, dan juga ketersediaan air melimpah. Kolam pemancingan tersebut mulai ramai dikunjungi setiap akhir pekan oleh warga dari Tanah Grogot. Kolam pemancingan milik Nasir tersebut saat ini hanya sebatas kolam pemancingan saja, belum tersedia fasilitas dapur untuk pengunjung yang ingin memesan makanan seperti di tempat pemancingan yang lain dan pengelolaannya pun masih ditangani oleh Nasir sendiri dibantu oleh anggota keluarganya.

59 Hal di atas menunjukkan semakin menurunnya minat masyarakat untuk mengembangkan pertanian di desa Sungai Tuak, terutama bagi warga yang usianya relatif muda. Menurut Kepala Desa, hal ini bisa jadi disebabkan warga mengalami kejenuhan karena kegiatan bertani sudah dilakukan sejak lama, sementara saluran irigasi juga tidak ada peningkatan yang berarti sehingga lahan pertanian masyarakat belum bisa dimanfaatkan secara optimal, yang akhirnya berimbas pada pendapatan dari hasil pertanian yang sulit ditingkatkan, ditambah juga dengan keberadaan jembatan Kandilo yang meningkatkan kelancaran transportasi sehingga mendorong masyarakat untuk mencari peluang kerja dan usaha di luar bidang pertanian.

Sebagian warga mendirikan warung di depan rumah mereka, setidaknya ada 5 buah warung yang baru berdiri setelah adanya jembatan Kandilo, 2 diantaranya berada persis di samping jembatan. kedua warung yang berada di dekat jembatan tersebut menjajakan makanan berupa aneka kue tradisional serta minuman seperti es kelapa, dsb. Sementara warung yang letaknya agak jauh dari jembatan menjual kebutuhan sehari-hari seperti sabun cuci, bumbu dapur, dsb.

Tabel 5.1 Perkembangan kios / warung di desa Sungai Tuak Jumlah warung / kios

Dusun Hulu Dusun Hilir

Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah

1 5 0 1

Sumber : Data lapangan Januari 2013

60 Bapak Arbi, warga RT 10 yang mendirikan warung kecil di depan rumahnya mengatakan :

“Baru-baru juga ini kita buka warung, setelah rame orang lewat mau ke jembatan ini khan. Paling nda ada yang kita tunggu (hasilnya), apalagi kita yang tua ini jarang sudah turun ke sawah. Sawah sekali aja kita ikut tanam, (periode tanam) yang kedua nda ikut”. Bapak Ardi hanya menanami sawah miliknya 1 kali karena merasa agak jenuh berkerja di sawah, beberapa petak sawah miliknya bahkan dibiarkan tidak terawat.

Keberadaan jembatan Kandilo mendorong masyarakat Sungai Tuak untuk mencari pekerjaan lain selain bertani, minat para generasi yang muda untuk meneruskan kegiatan pertanian semakin menurun, masyarakat yang memang sudah mulai jenuh dengan kegiatan bertani mendapatkan kesempatan untuk mencari sumber pendapatan lain dengan adanya jembatan.

5.3.2 Perubahan Pendapatan dan Pengeluaran

Penduduk desa mulai melihat peluang untuk menambah penghasilan dengan semakin banyaknya orang yang berkunjung ke desa mereka. Beberapa warga yang mempunyai peliharaan seperti ayam dan bebek mulai menitipkan telur hasil ternak mereka di warung-warung yang baru berdiri di dekat lokasi jembatan dan juga dibawa ke pasar bila hasilnya cukup banyak. Sebelum desa mereka ramai dikunjungi orang dari luar desa, hasil ternak biasanya hanya dikonsumsi sendiri atau dijual kepada tetangga, begitu juga dengan buah Ampalam yang pohonnya banyak tumbuh di sekitar rumah warga, banyak warga dari kota datang membeli

61 buah dari pohon-pohon milik warga terebut. Pendapatan penduduk desa sedikit meningkat dengan adanya hasil tambahan tersebut.

Semakin mudahnya akses keluar masuk desa Sungai Tuak juga dimanfaatkan oleh para pedagang keliling, baik pedagang makanan maupun peralatan rumah tangga. Masuknya para pedagang dari kota Tanah Grogot tersebut dirasakan oleh sebagian warga menjadikan pengeluaran mereka meningkat, salah satu sebabnya karena anak-anak warga mulai sering membeli makanan dari pedagang keliling yang masuk ke desa.

Tidak hanya masuknya pedagang dari luar, semakin mudahnya mencapai kota dengan adanya jembatan, beberapa warga merasakan peningkatan pengeluaran karena penduduk desa juga meningkat kunjungannya ke kota.

Marsuki, warga RT 09 yang berusia 35 tahun mengaku merasakan peningkatan dalam pengeluaran bulanan, dalam wawancara ia menyatakan :

“Kalau pengeluaran jelas sudah meningkat,khan sekarang kita makin sering ke Grogot, paling nda ada uang keluar buat beli makanan kah, kadang mau juga kita beli-beli pakaian baru”.

Faridah, pemilik warung yang berada di dekat jembatan menyatakan :

“Kalau pendapatan ada memang bertambah dari warung ini, tapi bertambah juga pengeluaran kita karena jadi sering ke seberang,ya…cari-cari hiburan, malah sepertinya lebih besar naiknya pengeluaran daripada pendapatan”

Hal ini menunjukkan dengan semakin meningkatnya kemudahan transportasi menjadi pendorong meningkatnya sifat konsumtif dari masyarakat

62 desa. Peningkatan sifat konsumtif warga tentu perlu diimbangi dengan peningkatan sifat produktif dari warga. Pekerjaan utama sebagian besar penduduk sebagai petani memberikan waktu luang yang cukup banyak di luar waktu untuk penanaman dan panen. Penduduk laki-laki biasanya memanfaatkan waktu luang dengan berkerja sebagai buruh pasir, tukang bangunan, mencari kayu Galam (Melaleuca leucadendron), dan sebagainya. Sementara penduduk perempuan tidak memiliki banyak kegiatan, padahal jumlahnya mencapai 49% dari total penduduk Sungai Tuak, tentu waktu luang yang dimiliki penduduk perempuan ini merupakan suatu potensi yang penting untuk diperhatikan.

Kepala Desa menyatakan bahwa bantuan yang masuk ke desa selama ini 75% dalam bentuk pembangunan fisik, hanya 25% program pemberdayaan, itupun hanya terkait kegiatan organisasi Karang Taruna yang jumlah pesertanya sangat minim. Sementara program-program pelatihan non pertanian seperti pengembangan industri rumah tangga tidak pernah ada. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan agar masyarakat desa, dengan tingkat kesejahteraan dan pendidikan yang masih belum baik tidak justru menjadi korban pembangunan karena tidak bisa menyesuaikan dengan perkembangan yang berlangsung.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keberadaan jembatan mendorong telah peningkatan pendapatan warga desa namun juga meningkatkan pengeluaran. Peningkatan pendapatan dirasakan oleh warga yang memanfaatkan peluang yang terbuka dengan semakin mudahnya transportasi, seperti berdagang hasil ternak atau berkerja di kota sebagai pembantu rumah tangga ataupun pelayan

63 toko / rumah makan, sementara hasil dari pertanian tidak mengalami nilai tambah dengan keberadaan jembatan.

Meningkatnya pengeluaran warga baik untuk membangun rumah ataupun karena meningkatnya belanja setelah adanya jembatan, menjadikan kebanyakan dana simpanan warga mulai menipis, hanya beberapa keluarga yang memiliki usaha di luar bidang pertanian dan juga keluarga yang terkena pembebasan lahan untuk pembangunan jembatan dan jalan yang bisa memiliki simpanan yang relatif besar, sementara keluarga yang lainnya sulit dikatakan memiliki tabungan karena sebagian besar keluarga bergantung pada hasil pertanian yang hanya dapat dipanen 1-2 kali dalam setahun, sehingga uang yang dimiliki harus dipergunakan dengan cermat untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan selama masa tanam padi. Warga desa melihat lahan pertanian mereka yang tadinya bernilai rendah sekarang merupakan tabungan yang sangat bernilai karena nilai jual tanah di desa tersebut meningkat pesat setelah adanya jembatan, karena desa sungai tuak letaknya memang sangat dekat dengan pusat kegiatan ekonomi kota Tanah Grogot.

Berdasarkan data Kantor Desa Tahun 2009-2012, masing-masing

Berdasarkan data Kantor Desa Tahun 2009-2012, masing-masing

Dalam dokumen M.Nuryadin Adam 05/189812/SP/21250 (Halaman 59-0)