• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Pendapatan dan Pengeluaran

Dalam dokumen M.Nuryadin Adam 05/189812/SP/21250 (Halaman 71-0)

BAB V ANALISIS DATA

5.3 Dampak Sosial Ekonomi

5.3.2 Perubahan Pendapatan dan Pengeluaran

Penduduk desa mulai melihat peluang untuk menambah penghasilan dengan semakin banyaknya orang yang berkunjung ke desa mereka. Beberapa warga yang mempunyai peliharaan seperti ayam dan bebek mulai menitipkan telur hasil ternak mereka di warung-warung yang baru berdiri di dekat lokasi jembatan dan juga dibawa ke pasar bila hasilnya cukup banyak. Sebelum desa mereka ramai dikunjungi orang dari luar desa, hasil ternak biasanya hanya dikonsumsi sendiri atau dijual kepada tetangga, begitu juga dengan buah Ampalam yang pohonnya banyak tumbuh di sekitar rumah warga, banyak warga dari kota datang membeli

61 buah dari pohon-pohon milik warga terebut. Pendapatan penduduk desa sedikit meningkat dengan adanya hasil tambahan tersebut.

Semakin mudahnya akses keluar masuk desa Sungai Tuak juga dimanfaatkan oleh para pedagang keliling, baik pedagang makanan maupun peralatan rumah tangga. Masuknya para pedagang dari kota Tanah Grogot tersebut dirasakan oleh sebagian warga menjadikan pengeluaran mereka meningkat, salah satu sebabnya karena anak-anak warga mulai sering membeli makanan dari pedagang keliling yang masuk ke desa.

Tidak hanya masuknya pedagang dari luar, semakin mudahnya mencapai kota dengan adanya jembatan, beberapa warga merasakan peningkatan pengeluaran karena penduduk desa juga meningkat kunjungannya ke kota.

Marsuki, warga RT 09 yang berusia 35 tahun mengaku merasakan peningkatan dalam pengeluaran bulanan, dalam wawancara ia menyatakan :

“Kalau pengeluaran jelas sudah meningkat,khan sekarang kita makin sering ke Grogot, paling nda ada uang keluar buat beli makanan kah, kadang mau juga kita beli-beli pakaian baru”.

Faridah, pemilik warung yang berada di dekat jembatan menyatakan :

“Kalau pendapatan ada memang bertambah dari warung ini, tapi bertambah juga pengeluaran kita karena jadi sering ke seberang,ya…cari-cari hiburan, malah sepertinya lebih besar naiknya pengeluaran daripada pendapatan”

Hal ini menunjukkan dengan semakin meningkatnya kemudahan transportasi menjadi pendorong meningkatnya sifat konsumtif dari masyarakat

62 desa. Peningkatan sifat konsumtif warga tentu perlu diimbangi dengan peningkatan sifat produktif dari warga. Pekerjaan utama sebagian besar penduduk sebagai petani memberikan waktu luang yang cukup banyak di luar waktu untuk penanaman dan panen. Penduduk laki-laki biasanya memanfaatkan waktu luang dengan berkerja sebagai buruh pasir, tukang bangunan, mencari kayu Galam (Melaleuca leucadendron), dan sebagainya. Sementara penduduk perempuan tidak memiliki banyak kegiatan, padahal jumlahnya mencapai 49% dari total penduduk Sungai Tuak, tentu waktu luang yang dimiliki penduduk perempuan ini merupakan suatu potensi yang penting untuk diperhatikan.

Kepala Desa menyatakan bahwa bantuan yang masuk ke desa selama ini 75% dalam bentuk pembangunan fisik, hanya 25% program pemberdayaan, itupun hanya terkait kegiatan organisasi Karang Taruna yang jumlah pesertanya sangat minim. Sementara program-program pelatihan non pertanian seperti pengembangan industri rumah tangga tidak pernah ada. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan agar masyarakat desa, dengan tingkat kesejahteraan dan pendidikan yang masih belum baik tidak justru menjadi korban pembangunan karena tidak bisa menyesuaikan dengan perkembangan yang berlangsung.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keberadaan jembatan mendorong telah peningkatan pendapatan warga desa namun juga meningkatkan pengeluaran. Peningkatan pendapatan dirasakan oleh warga yang memanfaatkan peluang yang terbuka dengan semakin mudahnya transportasi, seperti berdagang hasil ternak atau berkerja di kota sebagai pembantu rumah tangga ataupun pelayan

63 toko / rumah makan, sementara hasil dari pertanian tidak mengalami nilai tambah dengan keberadaan jembatan.

Meningkatnya pengeluaran warga baik untuk membangun rumah ataupun karena meningkatnya belanja setelah adanya jembatan, menjadikan kebanyakan dana simpanan warga mulai menipis, hanya beberapa keluarga yang memiliki usaha di luar bidang pertanian dan juga keluarga yang terkena pembebasan lahan untuk pembangunan jembatan dan jalan yang bisa memiliki simpanan yang relatif besar, sementara keluarga yang lainnya sulit dikatakan memiliki tabungan karena sebagian besar keluarga bergantung pada hasil pertanian yang hanya dapat dipanen 1-2 kali dalam setahun, sehingga uang yang dimiliki harus dipergunakan dengan cermat untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan selama masa tanam padi. Warga desa melihat lahan pertanian mereka yang tadinya bernilai rendah sekarang merupakan tabungan yang sangat bernilai karena nilai jual tanah di desa tersebut meningkat pesat setelah adanya jembatan, karena desa sungai tuak letaknya memang sangat dekat dengan pusat kegiatan ekonomi kota Tanah Grogot.

Berdasarkan data Kantor Desa Tahun 2009-2012, masing-masing kelompok tani mengambil pinjaman dari Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Sungai Tuak dengan besaran Rp. 2.500.000,- s/d Rp. 10.000.000,- yang dikembalikan dengan cara dicicil, baik bulanan maupun musiman, namun 80%

dari pinjaman tersebut macet dan 15 % sisanya diragukan pelunasannya

64 5.3.3 Meningkatnya Kegiatan Pembangunan

Keberadaan jembatan telah mendorong peningkatan pembangunan fisik di desa, terutama warga yang membangun rumah menggunakan semen serta perbaikan jalan usaha tani. Sebelum adanya jembatan Kandilo, hampir semua rumah warga desa dibangun menggunakan kayu, karena selain rumah warga kebanyakan adalah rumah panggung untuk mengantisipasi pasang surut air sungai, usaha untuk membawa bahan bangunan dari kota cukup merepotkan dan memerlukan biaya tinggi. Meningkatnya kegiatan pembangunan tersebut dirasakan turut membantu meningkatkan pendapatan penduduk yang berkerja sebagai pencari pasir, tukang dan buruh bangunan, serta pencari kayu Galam karena permintaan atas jasa mereka juga semakin meningkat.

Kondisi jalan utama desa yang sebagian besar masih berupa jalan tanah tanpa perkerasan dikeluhkan oleh masyarakat, terutama saat ini semakin banyak kendaraan roda empat yang membawa muatan cukup berat sehingga memperburuk kondisi jalan yang daya dukung bebannya belum baik. Masyarakat merasakan Pemerintah Daerah bergerak lambat mengatasi permasalahan jalan ini.

Masyarakat yang cukup kecewa dengan kondisi jalan di beberapa bagian rusak parah bahkan menanam pohon pisang bagian jalan yang rusak tersebut sebagai bentuk protes. Masyarakat juga mengumpulkan sumbangan sukarela untuk membeli batu yang dihamparkan pada badan jalan yang rusak parah, dan ada juga politisi lokal dari kota Tanah Grogot yang memberikan bantuan untuk perbaikan jalan desa namun begitu kondisi jalan tersebut masih belum baik.

65 Pemerintah Kabupaten Paser sudah memutuskan akan membangun jalan penghubung antara desa Sungai Tuak dengan desa Belebak yang berada di Kecamatan Paser Belengkong, namun lokasi trase jalan yang direncanakan bukan berada pada jalan desa yang sekarang digunakan masyarakat. Trase jalan yang akan dibangun tersebut berada sekitar 200m dari tepi sungai, sementara jalan desa yang sekarang hanya berjarak sekitar 10-20 m dari tepi sungai. Masyarakat berharap jalan desa yang sudah ada bisa diperbaiki terlebih dahulu agar masyarakat bisa semakin lancar dalam beraktifitas, dan kesempatan berusaha juga semakin terbuka bagi warga.

Pemerintah Kabupaten juga mempunyai rencana pembangunan Stadion Olahraga dan fasilitas pendukungnya di desa Sungai Tuak, serta penataan kawasan tepi sungai dengan penurapan dan pembuatan taman seperti di kawasan tepian kota Tanah Grogot. Saat penelitian dilakukan, rencana tersebut sedang dalam tahap negosiasi dengan penduduk desa yang tanahnya akan dibebaskan untuk proyek pembangunan Stadion olahraga serta penurapan tepi sungai.

Diharapkan peningkatan pembangunan tersebut menjadi pendorong peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat.

5.4 Fasilitas dan Pelayanan Publik

Permintaan pelayanan untuk keperluan administratif di Kantor Kepala Desa Sungai Tuak mengalami peningkatan yang pesat, terutama terkait urusan legalitas kepemilikan tanah. Sebelum adanya jembatan, masyarakat Sungai Tuak kebanyakan merasa tidak perlu untuk mengurus surat-surat kepemilikan tanah.

Pemindahan kepemilikan tanah di waktu sebelum adanya jembatan kebanyakan

66 hanya antar warga desa saja dengan dasar kepercayaan, namun seiring waktu masyarakat mulai menyadari pentingnya surat bukti kepemilikan tanah, hal ini tidak terlepas dari meningkatnya minat warga luar desa untuk membeli lahan karena posisinya yang dekat dengan kota dan adanya akses melalui jembatan menjadikan harga tanah di desa Sungai Tuak naik tinggi dari harga sebelum adanya jembatan. Pembebasan lahan untuk proyek milik Pemerintah Kabupaten juga mengharuskan warga untuk segera melengkapi legalitas kepemilikan tanah yang akan dibebaskan.

Keberadaan Jembatan Kandilo turut memperlancar pelayanan yang diberikan oleh Kantor Desa kepada masyarakat, Kepala Desa menyatakan dalam wawancara :

“Alhamdulillah sekarang kita bisa ambil staff dari seberang (kota) karena mudah orang menyeberang, kalau dulu (sebelum ada jembatan) kerja kita sering terhambat karena sumber daya manusianya terbatas, terutama untuk staff yang mengoperasikan komputer”.

Warga desa juga sangat menantikan masuknya jaringan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), karena selama ini warga hanya mengandalkan air dari Sungai Kandilo, dengan adanya jembatan maka hal tersebut diharapkan cepat diwujudkan. Begitu juga dengan jaringan listrik, Jaringan listrik yang ada saat ini hanya berada pada jalur sepanjang tepi sungai, sehingga warga yang ingin membangun rumah dengan jarak cukup dari sungai masih harus menunggu perluasan jaringan listrik tersebut, padahal beberapa penduduk yang rumahnya berada di tepi sungai harus mempersiapkan tempat

67 tinggal baru karena rumah mereka akan dibongkar untuk proyek penurapan tepi sungai.

Fasilitas pelayanan kesehatan saat penelitian dilakukan adalah sebuah Poliklinik Desa (Polindes) dengan tenaga kesehatan 1 orang bidan dan 1 oang perawat dengan jam kerja Pukul 08.00-12.00 Waktu Setempat. Tenaga Kesehatan yang ada sekarang merupakan penduduk kota Tanah Grogot, sehingga tidak ada tenaga kesehatan yang siap siaga di desa setelah jam kerja Polindes berakhir.

Keberadaan Polindes tersebut dianggap tidak lagi memadai untuk melayani masyarakat, sehingga Pemerintah Desa mulai mendirikan bangunan baru dan ditingkatkan statusnya menjadi Puskesmas Pembantu (Pusban). Tenaga Kesehatan di Pusban nantinya akan tinggal di desa sehingga diharapkan dapat menolong warga yang membutuhkan bantuan di luar jam kerja.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keberadaan Jembatan Kandilo telah meningkatkan harapan publik atas fasilitas dan pelayanan publik yang lebih baik, hal ini disebabkan oleh pandangan masyarakat bahwa tidak ada lagi alasan bagi pemerintah bergerak lambat dalam peningkatan infrastruktur maupun peningkatan pelayanan publik karena sekarang aksesibilitas desa sudah semakin baik, masyarakat ingin infrastruktur pendukung jembatan seperti jalan,perluasan jaringan listrik dan air bersih dapat segera dikerjakan agar manfaat keberadaan jembatan lebih dirasakan. Begitu juga dengan tenaga kesehatan diharapkan bisa tinggal di desa dengan dibangunnya puskesmas pembantu yang sekaligus menjadi tempat tinggal untuk bidan yang bertugas, seperti yang ada di desa-desa yang lain.

68 5.5 Kehidupan Sosial Budaya

Semakin ramainya lalu lintas orang keluar masuk desa Sungai Tuak mulai membawa dampak bagi keamanan lingkungan. Jembatan Kandilo sendiri menjadi tempat yang ramai dikunjungi masyarakat untuk menikmati pemandangan, namun sangat disayangkan beberapa pengunjung yang tidak bertanggung jawab menjadikan jembatan tersebut sebagai tempat untuk mabuk-mabukan, hal tersebut biasanya berlangsung saat tengah malam. Meskipun selama ini warga desa Sungai Tuak yang melintas belum pernah mengalami kejadian seperti pemerasan, pelecehan,dan sebagainya, namun kekhawatiran warga akan hal-hal tersebut tetap ada.

Marsuki, warga RT 10 dalam wawancara menyebutkan :

“Biasanya malam minggu selalu rame jembatan, kalau yang minum-minum (mabuk) biasanya jam jam 12 , jam 1. pernah juga ada yang ditangkap polisi di jembatan situ bawa obat (narkoba)”

Kepala Desa juga menyatakan mengenai kekhawatiran warga :

“kita khawatir juga sebenarnya kalau orang-orang yang kumpul di jembatan tengah malam itu masuk ke desa, apalagi di daerah atas (daerah persawahan) gelap, jauh juga dari rumah warga, jangan sampai desa kita dijadikan tempat (untuk) berbuat yang tidak-tidak”

Desa Sungai Tuak memang belum memiliki Pos Keamanan Lingkungan, dan tidak ada sistem ronda yang berjalan. Terkait hal ini, Faridah warga RT 07 menyebutkan :

69

“kalau pos jaga nda ada memang di sini, ada rencana dibuatkan di dekat jembatan sini tapi belum ada lagi kesepakatan giliran jaganya, kalau dibuat pos belum ada yang jaga, warga malah khawatir juga nanti posnya dijadikan tempat kumpul-kumpul pemuda yang nda jelas apa dikerja”

Kepala Desa Sungai Tuak juga memberikan gambaran bagaimana situasi keamanan desa setelah adanya jembatan

“Masalah keamanan dirasa memang perlu kita tingkatkan, Semenjak adanya jembatan ini, kita sudah pernah yang namanya ngejar maling, pencurian, malah Polindes (Poli Klinik Desa) beberapa kali sudah dimasuki orang. Dulu (sebelum ada jembatan) nda ada kejadian seperti itu. Waktu Lomba Desa Tahun 2012 ini kami juga dapat himbauan dari Polsek Tanah Grogot supaya membuat pos jaga karena saat ini sama sekali nda ada pos jaga, memang kendalanya sekarang warga khawatir nantinya pos jaga dipake pemuda-pemuda nakal untuk tempat kumpul-kumpul yang malah membuat warga jadi ndak tenang”

Penerangan jalan desa memang masih sangat minim di malam hari, hanya beberapa rumah yang memasang lampu untuk jalan di depan rumah mereka.

Penerangan yang minim dan kondisi sebagian ruas jalan desa yang terendam air pasang saat malam menjadikan warga desa Sungai Tuak tidak banyak beraktifitas di luar rumah saat malam tiba.

Terkait masalah tidak adanya kesepakatan sistem ronda di desa Sungai Tuak setidaknya memberikan gambaran bagaimana kehidupan sosial masyarakat desa Sungai Tuak. Permasalahan yang sifatnya untuk kepentingan bersama seperti giliran ronda tersebut tidak dapat diselesaikan bersama padahal kebutuhan akan

70 pos ronda dan pengaturan giliran jaga sudah tidak dapat dikesampingkan lagi mengingat kejadian kriminal mengalami peningkatan semenjak adanya Jembatan Kandilo.

Meskipun bahaya narkoba dan minuman keras meningkat setelah adanya jembatan, menurut Kepala Desa belum ada indikasi bahwa warga Sungai Tuak ikut tertular kebiasaan tersebut. Warga desa juga cukup pro aktif mengkoordinasikan dengan perangkat desa bila ada hal-hal yang mencurigakan di sekitar wilayah mereka.

Warga Sungai Tuak, seperti kebanyakan warga kabupaten paser, tidak memiliki jadwal kumpul rutin seperti rapat dusun maupun RT / RW. Perkumpulan yang rutin di tingkat desa hanya perkumpulan Kelompok Tani yang biasanya dilakukan setiap 3 bulan. Tidak adanya pertemuan rutin warga setiap bulan menjadikan pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama menjadi lambat dan tidak terkoordinasi dengan baik. Salah satu contoh adalah adanya bantuan yang masuk dari salah seorang politikus lokal dari Kota Tanah Grogot berupa bantuan dana untuk perbaikan jalan. Dana tersebut masuk melalui salah seorang warga yang dekat dengan politikus tersebut tanpa dikoordinasikan dengan pihak desa ataupun dengan Kepala Dusun. Kepala Desa dan juga warga yang lain tidak mengetahui dari siapa batu-batuan yang digunakan untuk menimbun jalan desa yang rusak datang, dan dikhawatirkan nantinya pihak Kantor Desa juga dimintai pertanggungjawaban penggunaan bantuan tersebut oleh pemberi dana sementara Kantor Desa tidak mendapatkan laporan mengenai adanya bantuan masuk.

71 Kegiatan gotong royong untuk memperbaiki rumah warga yang rusak, menanam dan memanen padi, atau membersihkan lingkungan tetap berjalan seperti biasa setelah adanya jembatan Kandilo. Sebagian warga merasa keakraban warga meningkat terutama karena adanya proyek pembangunan Jembatan dan rencana pembangunan jalan di tepi sungai sehingga warga yang lahannya terkena pembebasan sering berkumpul untuk membahas masalah terkait pembebasan lahan tersebut, namun hanya terbatas pada kelompok tersebut saja.

Pemerintah Kabupaten saat penelitian ini dilakukan tengah menegosiasikan harga ganti tanah warga yang akan dibangun kawasan stadion olahraga seluas 40 Ha. Ada sekitar 70 Kepala Keluarga yang lahannya direncanakan diganti oleh Pemerintah. menurut keterangan beberapa warga, sebagian besar pemilik lahan yang akan diganti tersebut sudah menyetujui harga yang telah diajukan Pemerintah, namun ada beberapa warga yang memiliki lahan relatif luas dibanding puluhan warga lainnya, mengajukan harga jauh lebih tinggi dari nilai yang disanggupi Pemerintah, sehingga kepastian lokasi pembangunan proyek tersebut menjadi tidak jelas, dan beredar kabar bahwa lokasinya akan dipindahkan ke Kota Tanah Grogot, dekat dengan kawasan perkantoran yang sedang di bangun.

Ardiansyah, salah seorang warga menyampaikan pendapatnya mengenai hal tersebut :

“Kalau kita berharap jangan ada yang berkeras minta harga begitu, kalau sebagian besar sudah setuju jangan kita mempersulit, yang penting desa kita cepat-cepat dibangun, nanti warga desa kita juga yang merasakan enaknya

72 kalau sudah rame. Sekarang jangan-jangan Pemerintah bosan dengan kita, dulu urusan tanah jembatan begitu juga masalahnya, terhambat semua pembangunan kita, nanti kita minta jalan dibagusin sudah nda mau lagi pemerintah ngurusin kita, istilahnya, desanya mau dibangun kok malah mempersulit.”

Proses pengambilan keputusan bersama dalam kehidupan masyarakat Sungai Tuak baik sebelum dan setelah adanya jembatan (saat penelitian ini dilakukan) didominasi oleh pihak yang menguasai sumber daya alam / lahan yang lebih besar, yang pada umumnya memiliki kemampuan ekonomi lebih baik dari kebanyakan penduduk desa. Penghargaan atas fungsi dan keahlian cenderung terkalahkan oleh penguasaan sumber daya ekonomi, dimensi proses yang demikian bisa menghambat pembangunan desa dan nilai-nilai yang dicita-citakan oleh masyarakat desa terutama bila penguasaan sumber daya ekonomi tidak merata.

Pergaulan penduduk remaja tidak banyak mengalami perubahan setelah ada jembatan meskipun di jembatan Kandilo setiap sore ramai dikunjungi oleh remaja dari kota. Penduduk remaja Sungai Tuak biasanya hanya beraktifitas di sekitar rumah saja setiap sorenya. Begitu juga dengan bahaya narkoba, minuman keras dan pergaulan bebas dirasakan masyarakat tidak berkembang di masyarakat meskipun ada peningkatan kasus oleh pengunjung jembatan dari luar desa.

Meskipun dampak keberadaan jembatan Kandilo bagi kesejahteraan penduduk desa Sungai Tuak belum begitu dirasakan, namun kepuasan warga untuk tinggal di desa tampak meningkat, terutama karena aksesibilitas desa yang meningkat dengan adanya jembatan. Penduduk desa juga memiliki harapan bahwa

73 pembangunan desa akan semakin baik dan tidak lagi terus tertinggal dibanding daerah lainnya. Secara umum dampak sosial ekonomi pembanguan jembatan Kandilo bagi warga desa Sungai Tuak dapat dilihat pada Tabel berikut :

Tabel 5.2 Dampak Pembangunan Jembatan Kandilo bagi Desa Sungai Tuak DAMPAK Sebelum Ada Jembatan Setelah Ada Jembatan

Positif Negatif Positif Negatif

Kependudukan • Penduduk

74 Fasilitas &

Pelayanan Publik

• Terhambatnya pelayanan saat cuaca hujan karena sulit

menjangkau desa

• Tenaga pelayan publik dapat masuk berkerja dengan lebih teratur dengan adanya

jembatan

• Permintaan pelayanan administratif meningkat drastis

75 BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Keberadaan jembatan Kandilo perlahan mulai menunjukkan dampaknya dalam aspek sosial ekonomi kehidupan masyarakat desa Sungai Tuak. Dampak pada bidang ekonomi saat penelitian dilakukan terlihat lebih menonjol dibanding dampak pada bidang sosial kemasyarakatan, hal ini disebabkan karena penelitian dilakukan dalam waktu yang relatif dekat dengan selesainya pembangunan jembatan ( 2 tahun setelah jembatan mulai digunakan warga) sehingga kehidupan bersama masyarakat desa Sungai Tuak belum banyak mengalami perubahan yang berarti, tidak adanya perkumpulan rutin warga yang diadakan baik tingkat Rukun Tetangga ataupun tingkat Desa, serta tidak ada upaya nyata untuk meningkatkan keamanan lingkungan melalui sistem jaga malam menunjukkan rendahnya modal sosial masyarakat desa Sungai Tuak, walaupun untuk kegiatan gotong-royong kebersihan lingkungan desa tetap berjalan setiap bulan. Masalah keamanan lingkungan yang menurun adalah hal yang paling mendapat perhatian dari warga semenjak adanya jembatan Kandilo, sementara untuk pergaulan remaja belum menampakkan adanya perubahan yang berarti.

Dalam bidang ekonomi, minat warga desa untuk berusaha dalam bidang pertanian semakin menurun seiring dengan aksesibilitas desa yang meningkat.

Kondisi tersebut dapat menurunkan produktivitas masyarakat desa Sungai Tuak dimana sekitar 58% warga merupakan penduduk usia kerja, dan sekitar 40%

76 (sekitar 300 jiwa) dari penduduk usia kerja tersebut merupakan Ibu Rumah Tangga. Berkurangnya minat penduduk laki-laki untuk menggarap lahan pertanian menjadikan penduduk wanita memiliki banyak waktu luang yang sebelumnya digunakan untuk membantu penduduk laki-laki di sawah. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan dengan membawa kegiatan ekonomi baru yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat desa, selain juga untuk menurunkan kejenuhan warga desa karena minimnya kegiatan. Pengembangan kegiatan ekonomi baru bagi warga desa juga sangat penting untuk mengimbangi peningkatan pengeluaran rumah tangga setelah adanya jembatan penghubung dengan daerah kota.

Keberadaan jembatan Kandilo telah meningkatkan kepuasan warga untuk tinggal di desa dan membawa harapan baru bagi masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan, namun pihak Pemerintah Daerah perlu memperhatikan dengan cermat bagaimana keberadaan jembatan tersebut mulai meningkatkan pengeluaran masyarakat serta mendorong perubahan pola mata pencaharian penduduk sementara potensi sumber daya alam yang ada di desa belum juga dimanfaatkan secara optimal.

6.2 Saran

Saran yang dapat diberikan terkait hasil Penelitian Dampak Sosial Peknomi Pembangunan Jembatan Kandilo adalah :

1. Keberadaan jembatan Kandilo perlu didukung dengan perbaikan jalan desa eksisting agar dampak positif dalam bidang ekonomi dapat dipercepat.

77 2. Pemerintah Daerah perlu untuk segera mengembangkan saluran irigasi pertanian di desa Sungai Tuak. Selama ini mayoritas lahan milik warga

77 2. Pemerintah Daerah perlu untuk segera mengembangkan saluran irigasi pertanian di desa Sungai Tuak. Selama ini mayoritas lahan milik warga

Dalam dokumen M.Nuryadin Adam 05/189812/SP/21250 (Halaman 71-0)