BAB I PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai dampak sosial ekonomi pembangunan jembatan Kandilo di desa Sungai Tuak.
1.4.2. Secara Praktis
Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.4.2.1. Pemerintah
Menjadi masukan informasi bagi Pemerintah Daerah dalam evaluasi terhadap program pembangunan Jembatan Kandilo yang menghubungkan desa Sungai Tuak dengan Kota Tanah Grogot di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. informasi yang ada terkait
7 perubahan sosial ekonomi, yaitu perubahan terkait kesempatan berusaha, pola mata pencaharian, tingkat pendapatan keluarga, serta pola kepemilikan dan pemanfaatan lahan, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan terkait terkait di masa yang akan datang.
1.4.2.2. Masyarakat
Masyarakat desa Sungai tuak diharapkan menjadi lebih mengetahui secara lebih dalam mengenai perubahan lingkungan sosial ekonomi di desa tersebut sehingga dapat mengidentifikasi peluang dan tantangan kehidupan sosial ekonomi yang ada
8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Interaksi Desa- kota
Interaksi merupakan suatu proses yang sifatnya timbal-balik dan mempunyai pengaruh terhadap perilaku dari pihak-pihak yang bersangkutan melalui kontak langsung, melalui berita yang didengar atau melalui surat kabar.
Interaksi dapat dilihat sebagai proses sosial, proses ekonomi, proses budaya ataupun proses politik dan sejenisnya yang lambat atau cepat akan menimbulkan suatu realita atau kenyataan. (Bintarto, 1983:61-62). Interaksi antara desa dan kota didorong oleh berbagai faktor, diantaranya tersedianya jaringan jalan, dan adanya kebutuhan timbal-balik (perdagangan barang-jasa, wisata, lapangan kerja,dsb).
Meskipun interaksi tersebut sifatnya timbal-balik, kenyataan yang timbul adalah kota lebih kuat mempengaruhi perubahan nilai di desa dibanding sebaliknya.
Sebagian besar desa di Indonesia merupakan desa agraris, dimana mayoritas masyarakatnya bertumpu pada kegiatan pertanian dan corak kehidupan warga juga masih sederhana. Jumlah warga yang relatif tidak banyak menjadikan warga desa memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat, serta budaya gotong royong yang tumbuh dari kesadaran akan adanya kepentingan untuk saling menguatkan dalam kondisi sumber daya yang terbatas, sebagai contoh adalah gotong royong saat panen sawah/tambak. Apa yang ditunjukkan dari proses kehidupan bersama (collective life process) warga desa tidak lain beresensikan kemandirian, kesukarelaan, kemampuan untuk mengorganisasikan diri untuk memperjuangkan
9 kepentingan, dan ketaatan warga desa terhadap aturan main yang berupa norma dan hukum yang berlaku. (Ali, 2007:2). Proses kehidupan bersama tersebut akan dipengaruhi oleh perubahan lingkungan fisik dimana proses tersebut berlangsung.
Meningkatnya kesempatan berusaha membawa kesibukan baru bagi beberapa anggota masyarakat yang dapat berakibat menurunnya kohesi sosial anggota masyarakat.
Keberadaan desa ditinjau dari segi geografi adalah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu ujud atau kenampakan di muka bumi yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang saling berinteraksi antar unsur tersebut dan juga dalam hubungannya dengan daerah-daerah lain.
(Bintarto, 1983:11).
Hal yang penting untuk diperhatikan dari suatu desa adalah unsur-unsur desa , yaitu :
1. Daerah, dalam arti tanah-tanah yang produktif dan yang tidak, beserta penggunaannya, termasuk juga unsur lokasi, luas dan batas yang merupakan lingkungan geografi setempat.
2. Penduduk, adalah hal yang meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian penduduk setempat.
3. tata kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan warga desa. Jadi, menyangkut seluk-beluk kehidupan masyarakat desa (rural society). (Bintarto dalam Bintarto, 1983:13-14).
10 Maju Mundurnya suatu desa dapat tergantung pada beberapa faktor, antara lain :
1. Potensi Desa yang mencakup potensi sumber daya alam dan potensi penduduk warga desa beserta pamongnya.
2. Interaksi antar desa dengan kota, antara desa dengan desa tercakup di dalamnya perkembangan komunikasi dan transportasi.
3. Lokasi desa terhadap daerah-daerah di sekitarnya yang lebih maju.
(Bintarto, 1983:18)
Desa memiliki fungsi dan peranan sebagai berikut :
1. Pertama, dalam hubungannya dengan kota, maka desa yang merupakan
‘Hinterland’ atau daerah dukung berfungsi sebagai suatu daerah pemberi makan pokok seperti padi, jagung, ketela, di samping bahan makan lain seperti kacang, kedelai buah-buahan, dan bahan makan lain yang berasal dari hewan.
2. Kedua, desa ditinjau dari segi potensi ekonomi berfungsi sebagai lumbung bahan mentah (raw material) dan tenaga kerja (man power) yang tidak kecil artinya.
3. Ketiga, dari segi kegiatan kerja (occupation) desa dapat merupakan desa agraris, desa manufaktur, desa nelayan, dan sebagainya. (Bintarto, 1983 : 15-16)
Desa mempunyai potensi fisis dan nonfisis. Potensi fisis meliputi antara lain : 1. tanah, dalam arti sumber tambang dan mineral, sumber tanaman yang
merupakan sumber mata pencaharian dan penghidupan.
11 2. Air, dalam arti sumber air, keadaan dan kualitas air dan tata airnya untuk
kepentingan irigasi, pertanian dan keperluan sehari-hari 3. Iklim, yang merupakan peranan penting bagi desa agraris.
4. ternak, dalam arti fungsi ternak di desa sebagai sumber tanaga, sumber bahan makan dan sumber keuangan.
5. Manusia, dalam arti tenaga kerja sebagai pengolah tanah dan sebagai produsen. tenaga kerja di desa-desa merupakan unsur penting.
Potensi Nonfisis desa meliputi antara lain :
1. Masyarakat desa yang hidup berdasarkan gotong-royong dan dapat merupakan suatu kekuatan berproduksi dan kekuatan membangun atas dasar kerja sama dan saling pengertian.
2. Lembaga-lembaga sosial, pendidikan dan organsiasi-organisasi sosial desa yang dapat memberikan bantuan sosial serta bimbingan dalam arti positif 3. Aparatur atau pamong desa yang menjadi sumber kelancaran dan tertibnya
pemerintahan desa. (Bintarto, 1977:19-20)
Meskipun interaksi antara kota dan desa merupakan suatu hubungan timbal-balik, besarnya pengaruh antara keduanya tidaklah berimbang. Kota pada umumnya dipandang sebagai pusat pendidikan, pusat kegiatan ekonomi, pusat pemerintahan dan sebagainya. Jadi fungsi dan peranannya atau sumber pengaruh banyak berasal dari kota. (Bintarto, 1983:25). Kota menjanjikan lapangan kerja, pendapatan yang lebih tinggi, taraf hidup yang lebih baik, peluang melanjutkan studi dan lainnya sehingga menjadi daya tarik bagi penduduk yang berdomisili di
12 luar kota yang bersangkutan, sehingga arus urbanisasi semakin kuat. Jadi suatu kota memiliki fungsi primer memberikan pelayanan kepada kota-kota lain (hubungan eksternal), sedangkan fungsi sekundernya adalah memberikan pelayanan kepada warga kotanya (hubungan internal). (Adisasmita, 2006:138)
Perkembangan prasarana dan sarana transportasi yang menghubungkan desa dengan kota akan mempengaruhi berbagai bidang, misalnya saja di bidang kesehatan, masyarakat dapat lebih mudah menjangkau fasilitas kesehatan yang memadai sehingga kesehatan masyarakat bisa ditingkatkan, begitu juga di bidang pendidikan, akes ke sekolah-sekolah akan makin mudah sehingga lebih banyak warga yang bersekolah, ataupun semakin banyak tenaga pendidik dari kota yang mau masuk mengajar di desa karena kelancaran transportasi memungkinkan mereka untuk tetap tinggal di kota dan tidak harus tinggal di desa yang bisa jadi menimbulkan rasa bosan. Masyarakat desa juga semakin mudah mengakses lapangan pekerjaan di kota tanpa harus berpindah tempat tinggal, hal ini juga akan membuat masyarakat desa lebih terbuka akan kemungkinan-kemungkinan lapangan pekerjaan yang baru dan bergeser dari kehidupan agraris ke sektor non formal lainnya atau bahkan memasuki sektor formal.
Semakin beragamnya aktifitas sebagai hasil dari kelancaran transportasi antara desa dan kota juga akan mendorong perubahan tata guna lahan. Lahan yang berada di daerah yang tergolong strategis untuk kegiatan perdagangan sangat mungkin akan beralih fungsi menjadi dari ladang menjadi pasar, terutama saat masyarakat desa mulai meninggalkan kehidupan berladang untuk berkerja di kota.
13 Bintarto dalam bukunya Interaksi Desa-Kota (1983:98-99), mengemukakan bahwa Interaksi antara kota dan desa dapat menimbulkan pengaruh positif maupun negatif terhadap desa dan kota termasuk penghuninya.
Pengaruh positif yang dimaksud antara lain :
1. Cakrawala pengetahuan penduduk desa menjadi lebih meningkat, karena di desa semakin banyak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Berbagai pengetahuan mengenai kemajuan di berbagai bidang juga masuk melalui institusi atau lembaga-lembaga yang ada di desa, misanya pengetahuan mengenai pemilihan bibit unggul, pengetahuan mengenai kegiatan usaha lain non agraris juga mulai menyebar.
2. Banyaknya sekolah dan guru-guru desa yang tersedia di daerah pedesaan dengan pengetahuan yang cukup luas mengenai masalah pembangunan dapat menjadi penggerak kemajuan warga desa yang bersekolah. Jumlah penduduk buta huruf akan menurun sehingga akan lebih memudahkan usaha pembangunan.
3. Prasarana dan sarana transportasi yang semakin lancar sangat meningkatkan frekuensi hubungan sosial-ekonomi warga desa dengan warga kota, sehingga stagnansi suplai bahan pangan dapat dihindarkan.
Transfer pengetahuan juga akan semakin meningkat.
4. Teknologi tepat guna di bidang pertanian dan peternakan meningkatkan produksi desa, sehingga penghasilan penduduk akan bertambah.
5. Masuknya para ahli di berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan telah banyak sekali bermanfaat bagi warga desa dalam meletarikan lingkungan
14 pedesaan khususnya pencegahan erosi dan pencarian sumber air bersih dan bidang pengairan.
6. Campur tangan pemerintah pusat atau dan pemerintah daerah telah meningkatkan kualitas dan kuantitas di bidang wiraswasta seperti kerajinan tangan, industri rumah tangga, peternak unggas dan sapi, dan bidang teknik pertukangan.
7. Pengetahuan tentang masalah kependudukan telah lebih merata di daerah pedesaan, sehingga kesadaran untuk mempunyai keluarga kecil semakin meningkat yang turut berperan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
8. Berkembangnya koperasi dan organisasi sosial di pedesaan yang membantu meringankan beban penghidupan masyarakat desa.
Pengaruh negatif yang dapat dilihat di daerah pedesaan antara lain :
1. Modernisasi kota, misalnya pengaruh fashion show atau berbagai kontes kecantikan telah ditiru juga oleh gadis-gadis dan para wanita di beberapa pedesaan sehingga dikhawatirkan meninggalkan orientasi pertanian yang menjadi pokok kehidupan mereka.
2. Peningkatan bahaya kriminalitas sebagai pengaruh dari pemberitaan televisi maupun film-film yang berbau kejahatan.
3. Pemuda desa mulai beralih ke bidang lain di luar pertanian sehingga yang tertinggal di desa hanyalah orang-orang tua yang kurang produktif.
15 4. Perluasan kota dan masuknya orang-orang kota berharta ke daerah pedesaan telah banyak mengubah tata guna lahan di pedesaan terutama di daerah yang berbatasan dengan kota, banyak daerah hijau telah beralih menjadi daerah pemukiman atau bangunan lainnya.
5. Penetrasi kebudayaan kota ke desa yang kurang atau tidak sesuai dengan kebudayaan ataupun tradisi desa cenderung mengganggu tata pergaulan atau seni budaya desa.
6. Problema lain yang timbul sebagai akibat interaksi yang kurang mengungtungkan antara lain : problema pangan, problema pengangguran, problema lingkungan, dan beberapa lainnya.
2.2 Pembangunan Desa dan Permasalahannya
Terdapat banyak kata yang memiliki makna sama dengan ‘pembangunan’, misalnya perubahan sosial, pertumbuhan, industrialisasi, transformasi, dan modernisasi. Dari kata tersebut, pembangunan lebih sering digunakan untuk menggambarkan dan memberi makna pada perubahan ke arah positif dan lebih maju dibandingkan keadaan sebelumnya. (Suharto, 2008:2)
Proses pembangunan melahirkan perubahan-perubahan yang mengandung tiga dimensi pokok, yang satu sama lain saling berkaitan, dan ketiga dimensi tersebut harus diteliti dan dicari titik-titik keterkaitannya untuk dapat memahami permasalahan pembangunan. Ketiga dimensi yang dimaksud adalah :
1. Dimensi kebudayaan. Melalui dimensi ini dapat dipelajari sistem nilai yang berlaku yang mempengaruhi sikap dan pola tingkah laku
16 anggota-anggota masyarakat, dan bagaiaman kesesuaian sistem nilai yang berlaku dengan sistem nilai yang dicita-citakan.
2. Dimensi sistem, untuk melihat apakah sistem-sistem kemasyarakatan yang berlaku menghambat atau menghalangi proses terwujudnya sistem nilai yang dicita-citakan
3. Dimensi proses,yaitu cara bagaimana anggota-anggota masyarakat dengan berbagai sistemnya menyelesaikan atau mengelola konflik-konflik yang mungkin muncul sebagai akibat pertumbuhannya.
(Alfian,1986:22)
Usaha pemerintah ke arah mengembangkan atau membangun desa ialah : pertama, menempatkan warga desa dalam wadah Indonesia, artinya tidak ada perbedaan status antara penduduk desa dengan penduduk kota seperti zaman kolonial. kedua, mengusahakan agar corak kehidupan dan penghidupan warga desa dapat ditingkatkan atas dasar alam pikiran yang logis, fragmatis dan rasional.
ketiga, mengusahakan agar warga desa dapat lebih bersifat kreatif dinamis dan fleksibel dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang dihadapi sehingga dapat lebih meningkatkan semangat pembangunannya. (Bintarto, 1983:18-19).
Pembangunan sudah semestinya menempatkan manusia sebagai sasaran utamanya, artinya pembangunan tidak boleh hanya diukur dengan sarana dan prasarana fisik, dan sebagainya. Kehidupan manusia yang harus dijadikan acuan dalam menilai pembangunan, bagaimana individu menjalani kehidupannya di masyarakat, bagaimana masyarakat bersama-sama mengatasi masalah yang timbul dari berbagai perubahan, dan berbagai aspek sosial lainnya.
17 Pada masa pemerintahan Orde Baru, program-program pembangunan dijalankan dengan pendekatan Top Down, yang lebih sering ‘’memobilisasi’’
komunitas desa, menempatkan manusia dan masyarakat sebagai objek – layaknya benda mati – yang harus mengikuti apa yang telah digariskan oleh program (pembangunan), walaupun tak relevan dengan potensi dan kebutuhan pengembangan diri mereka. ( Mubyarto dalam Ali, 2007:38). Pembangunan lebih mengejar pada perubahan lahiriah – fisik, artifisial, material – dan mengesampingkan tumbuhnya daya kesediaan – mental, spiritual, esensial – dan martabat manusia1. Hal yang demikian dapat menghilangkan modal sosial yang dimiliki masyarakat desa. Pendekatan tersebut digunakan Pemerintah Pusat selama 3 dekade dan ada kemungkinan saat ini masih juga terjadi di level pemerintahan yang lebih rendah.
Perubahan merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan, baik itu yang sifatnya material maupun nonmaterial, berlangsung cepat maupun lambat. Suatu perubahan dapat membawa ke arah perbaikan (positif) ataupun kemunduran (negatif), tergantung bagaimana pengaruh dari luar yang masuk dan diolah oleh penduduk setempat. Perubahan tersebut bisa berupa perubahan sosial, perubahan ekonomi, perubahan teknologi, perubahan budaya, dan sebagainya. (Bintarto, 1983:71). Perubahan ini dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Perubahan yang lambat atau cepat, tetapi terus maju.
1 Lihat Ali, Madekhan. Orang Desa Anak Tiri Perubahan, Averroes Press, Malang, 2007. Ali mengkritik pendekatan pembangunan top down yang dilakukan oleh Pemerintahan Order baru dalam pengembangan desa yang dianggap sebagai ‘malpraktek’ pembangunan dan menjadi sumber pelemahan keberdayaan masyarakat desa.
18 2. Perubahan ke arah kemajuan, tetapi pada suatu saat terjadi kemunduran
yang tidak terduga.
3. Perubahan yang kadang-kadang maju, kadang-kadang mundur. (Bintarto, 1983:72).
Jadi dalam hal ini selain pengaruh lalu-lintas, tingkat perubahan juga ditentukan oleh unsur manusianya.
Aktivitas manusia di tengah-tengah lingkungannya dapat dibedakan ke dalam 3 bidang, yaitu : (1) Aktivitas di bidang keluarga, (2) Aktivitas di bidang usaha, dan (3) Aktivitas di bidang sosial dan kemasyarakatan. Perubahan pada aktivitas-aktivitas tersebut erat kaitannya dengan pengaruh modernisasi, dari manusia sederhana menjadi manusia modern. (Bintarto, 1983: 74).
Untuk memberikan gambaran mengenai pengertian manusia modern, Bintarto mengutip pandangan Inkeles (1966:20) sebagai berikut : Manusia dapat dianggap modern apabila :
1. Ada kesediaan menerima pengalaman baru dan terbuka untuk penemuan dan perubahan-perubahan baru.
2. Dapat menangkap dan memahami masalah tidak hanya terkait masalah lingkungan terdekat saja namun juga dalam lingkungan yang lebih luas.
3. Berpandangan maju ke depan dengan tidak mengabaikan pengalaman-pengalaman lampau.
4. Mempunyai tindakan teratur, terutama dan teliti dalam menyelesaikan masalah.
19 5. Mempunyai perencanaan yang didasarkan pada orientasi dan pengaturan
yang matang.
6. Mempunyai keyakinan bahwa manusia mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan oleh lingkungan dalam usaha-usaha untuk mencapai tujuan.
7. Berpandangan bahwa segala sesuatu dapat dikalkulasi.
8. Mempunyai rasa penghargaan terhadap usaha-usaha orang lain.
9. Mempunyai kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.
10. Menghargai teguran-teguran pihak lain yang baik sehubungan dengan pekerjaannnya.
Secara singkat manusia modern diartikan sebagai manusia yang terbuka untuk inovasi dengan pandangan yang luas ke depan dengan memiliki ilmu pengetahuan baru serta dapat bergaul baik dengan masyarakat sekitar. (Bintarto dalam Bintarto ,1995 :74).
Dapat disimpulkan bahwa pembangunan fisik desa tanpa disertai pembangunan manusianya akan menimbulkan kondisi yang tidak menguntungkan bagi penduduk desa baik secara individu maupun dalam kehidupan bersama sebagai masyarakat. Sifat keterbukaan akan perubahan perlu diimbangi dengan kemampuan memilih pengetahuan dan kebiasaan baru yang bernilai baik untuk diterapkan pada kehidupan masyarakat.
2.3 Dampak Sosial Pembangunan
Salah satu konsep tentang studi dampak sosial mendasarkan masyarakat sebagai bagian dari suatu ekosistem dimana perubahan suatu subsistem akan
20 mempengaruhi subsistem yang lain. Daerah yang terkena dampak (impacted area) dipandang sebagai suatu ekosistem dengan bermacam-macam komponen yang saling berhubungan. (Hadi, 2005:23). Pembangunan jembatan kandilo merupakan intervensi terhadap sistem fisik lingkungan yang akan memberikan pengaruhnya pada sistem sosial dan sistem ekonomi. Gambaran keterkaitan subsistem tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut :
Gambar 2.1 Ekosistem
Sumber : Lou D’Amore and Sheila Rittenberg, “Social Impact Assessment: A State-of-the-Art Review.” dalam Hadi (2005:24)
Perubahan lingkungan hidup manusia akan membawa perubahan sosial.
Perubahan sosial adalah perubahan dalam struktur sosial dan dalam pola-pola hubungan sosial yang antara lain mencakup : sistem status, hubungan-hubungan dalam keluarga, sistem-sistem politik dan kekuatan, dan persebaran
21 penduduk.(Tarmudji, 1991:76). Perubahan sosial tentu berpotensi menimbulkan masalah sosial, karena itu perubahan sosial yang terjadi sebagai akibat dari perubahan lingkungan fisik perlu diidentifikasi secara jelas sehingga langkah-langkah penyesuaian
Todaro (dalam Suharto, 2008:3) mengemukakan bahwa pembangunan sedikitnya harus memiliki tiga tujuan yang satu sama lain saling terkait :
1. Meningkatkan ketersediaan dan memperluas distribusi barang-barang kebutuhan dasar seperti makanan, perumahan, kesehatan dan perlindungan kepada seluruh anggota masyarakat.
2. Mencapai kualitas hidup yang bukan hanya untuk meningkatkan kesejahteraan secara material, melainkan juga untuk mewujudkan kepercayaan diri dan kemandirian bangsa. Aspek ini meliputi pendapatan, penyediaan lapangan kerja, pendidikan dan budaya, serta kemanusiaan.
3. Memperluas kesempatan ekonomi bagi individu dan bangsa melalui pembebasan dari perbudakan dan ketergantungan pada orang atau bangsa lain serta pembebasan dari kebodohan dan penderitaan.
Tujuan yang dikemukakan Todaro tersebut menunjukkan pentingnya pemahaman atas aspek sosial dalam kegiatan pembangunan disamping aspek ekonomi, ada nilai-nilai keadilan, harga diri, dan kemandirian yang harus diperhatikan dalam rangka menccapai kehidupan yang lebih baik, karena itu studi dampak sosial diperlukan.
22 Dampak sosial merupakan perubahan yang terjadi pada manusia dan masyarakat yang diakibatkan oleh aktivitas pembangunan, dimana aktivitas tersebut akan mempengaruhi keseimbangan sistem (masyarakat). Pengaruh itu bisa bernilai positif maupun negatif dan hanya dapat diuji dari nilai, norma, aspirasi dan kebiasaan dari masyarakat yang bersangkutan.( Hadi, 2005:23-24).
Perubahan tersebut menurut Armour yang dikutip Hadi (2005:25) meliputi aspek-aspek :
1. Cara hidup (way of life) termasuk di dalamnya bagaimana manusia dan masyarakat itu hidup, berkerja, bermain dan berinteraksi satu dengan yang lain. Cara hidup ini disebut sebagai “day-to-day activities” atau aktivitas keseharian. Sebagai contoh warga desa Sungai Tuak sebelumnya selalu menggunakan perahu untuk menyeberangi sungai Kandilo, perahu yang ada bahkan digunakan secara bersama dengan tetangga, keberadaan jembatan akan mengubah kebiasaan tersebut terutama bagi warga yang letak rumahnya dekat dengan jembatan.
2. Budaya, termasuk di dalamnya sistem nilai, norma dan kepercayaan.
Sebagai contoh dengan adanya jembatan masyarakat yang tadinya tidak banyak beraktivitas di luar rumah saat malam hari akan mulai berubah karena penduduk desa dapat dengan mudah pulang pergi ke kota. Salah satu sifat alami manusia adalah imitasi atau meniru, sifat ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan budaya saat anggota suatu masyarakat bersinggungan dengan masyarakat lain yang berbeda budaya dengan
23 lingkungan asalnya, hal ini sering dijumpai pada tingkat pemuda yang memiliki mobilitas cenderung tinggi.
3. Komunitas, meliputi struktur penduduk, kohesi sosial, stabilitas masyarakat, estetika, sarana dan prasarana yang diakui sebagai “public facilities” oleh masyarakat yang bersangkutan. Contoh “public facilities”
antara lain adalah balai desa, musholla, dermaga perahu. Kehadiran proyek seringkali menimbulkan dampak perpindahan penduduk sehingga kohesi sosial semakin rendah dan juga seringkali harus menggusur “public facilities”.
Menurut Carley dan Bustelo yang dikutip oleh Hadi (2005:25) ruang lingkup analisa dampak sosial paling tidak mencakup aspek berikut :
1. demografi, yang meliputi angkatan kerja dan perubahan struktur penduduk, kesempatan kerja, pemindahan dan relokasi penduduk.
2. sosial ekonomi, terdiri dari perubahan pendapatan, kesempatan berusaha, dan pola tenaga kerja.
3. Institusi, meliputi naiknya permintaan akan fasilitas seperti perumahan, sekolah, sarana rekreasi.
4. Psikologis dan sosial budaya, meliputi integrasi sosial, kohesi sosial, keterikatan dengan tempat tinggal.
Rumusan lain mengenai ruang lingkup studi dampak sosial diberikan oleh Canadian Environmental Assessment Review Council (CEARC) dalam Hadi (2005:26 sebagai berikut :
1. Perubahan yang berhubungan dengan kependudukan
24 2. Perubahan yang berkaitan dengan aspek ekonomi
3. Perubahan yang berkenaan dengan aspek budaya
4. Perubahan yang berkenaan dengan sumber daya alam yang menjadi sumber kehidupan penduduk
5. Perubahan yang berkaitan dengan fasilitas publik
Sunaryo (2008:20) memberikan rumusan indikator mengenai dampak sosial suatu program sebagai berikut :
1. Peningkatan Kemandirian, diukur melalui tingkat ketergantungan pada orang lain atau masyarakat sekitarnya.
2. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, diukur melalui tingkat kemampuan manajemen pedagang, kuantitas dan kualitas barang dagangan.
3. Peningkatan kapasitas dan kualitas organisasi paguyuban, diukur melalui intensitas/frekuensi waktu kumpul intern individu organisasi, dan antar individu dengan dinas-dinas terkait, pola komunikasi dan tingkat keluhan yang diterima organisasi.
Suratmo (2002) mengajukan berbagai sub komponen yang perlu dipertimbangkan dalam mengukur dampak sosial, yaitu:
1. Organisasi budaya dan cara hidup sehari – hari yang menyangkut jenis
1. Organisasi budaya dan cara hidup sehari – hari yang menyangkut jenis