BAB II
KONSEP TEORITIS
A. Landasan Teori 1. Strategi guru
a. Pengertian strategi guru
Stratrategi Guru menurut kamus besar indonesia (bahasa sanskerta : yang berarti guru, berarti secara harfiyah adalah “berat”) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa indonesia, guru umumnya merujuk pendidikan propesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Adapun guru menurut istilah, guru dilihat sebagai seorang yang berdiri didepan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuannya (Kamus Bahasa Indinesia).
Menurut Syaiful bahri djamarah, dalam bukunya strategi belajar mengajar adalah: mengidentipikasikan serta menetapkan spesipikasi dan kulifikasi perubahan tingkah laku dan keperibadian anak didik sebagaimana yang diharapkan. Spesipikasi dan kualipikasi perubahan tingkah laku yang bagaimana di inginkan sebagai hasil belajar mengajar yang di lakukan itu.
Strategi guru adalah pendekatan secara keseluruhan yang berberkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan ekseskusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu, pekerjaan mengajar merupakan pekerjaan yang komplek dan sifatnya dimensional. Berkenaan dengan hal tersebut, guru paling sedikit harus menguasai berbagai teknik yang erat hubungannya dengan kegiatan-
kegiatan penting dalam pengajaran. Urutan pembelajaran yang baik selalu melibatkan keputusan guru berdasarkan berbagai tugas. (Abdul Majid, 2013: 92).
2. Metode guru
Metode mengajar yang guru gunakan dalam setiap kali pertemuan kelas bukanlah asal pakai, tetapi setelah melalui seleksi yang berkesesuaian dengan perumusan tujuan intruksional khusus. Jarang sekali terlihat guru merumuskan tujuan hanya dengan satu rumusan, tetapi pasti guru merumuskan lebih dari satu tujuan. Kerenanya, guru pun selalu menggunakan metode yang lain,sementara penggunaan metode yang lain, juga digunakan untuk mencapai tujuan yang lain.
Begitulah adanya, sesuai dengan kehendak tujuan pengajaran yang telah dirumuskan(Syaiful bagri Djamarah, 2010:74).
3. Tehnik Guru
Tehnik pemberian tugas dan resitasi ini digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena melaksanakan latihan- latihan selama melakukan tugas: sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintraksi. Hal itu terjadi disebabkan siswa mendalami situasi atau pengalaman yang berbeda, tugas yang harus di kerjakan siswa, hal itu diharapkan mampu menyadarkan siswa untuk selalu memanfaatkan waktu senggangnya untuk hal-hal yang menunjang belajarnya: dengan mengisi kegiatan- kegiatan yang berguna dan kontruktif (Roestiyah N.K, 2012:133).
B. Pembelajaran kitab kuning
a. Pengertian pembelajaran kitab kuning
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidikan dan sumberbelajar pada suatu lingkungan belajar di sisi lain pembelajaran. Peroses, cara, perbuatan, menjadikan orang atau mahluk hidup belajar. (Internet:
http://id.wikipedia, pembelajaran).
MenurutDarwan Raharjo,dalam bukunyaPergulatan Dunia Pesantren Membangun dari Bawah.Adalah: dalam pembelajaran kitab-kitab, islam klasik (kitab kuning) mempunyai perananan sebagai upaya untuk meneruskan tujuan utama pesantren untuk mencetak calon-calon ulama, yang setia terhadap faham islam tradisional, bahkan ada anggapan bahwa pondok pesantren sudah tidak mengajarkan kitab kuning (kitab kelasik) maka keaslian pesantren itu semakin kabur dan lebih dapat di katakan sebagai perguruan atau madrasah. Alasan diatas memang masuk akal sebab kitab-kitab islam klasik (kitab kuning) merupakan bagian intekral dari nilai dan paham pesantren yang tidak dapat di pisah-pisahkan.
Pada mulanya, masyarakat sendiri sendiri tampaknya tidak mengerti kenapa kitab- kitab yang mereka kaji dan mereka jadikan pedoman disebut dengan “kitab kuning”.
kitab kuning yang berisi untuk menunjukkan karya-karya tulis (tulisan arab) yang di susun oleh para sarjana Islam pada abad pertengahan dan karena itu pula sering disebut dengan kitab kuno. Kitab-kitab itu meskipun dari sudut kandungan isinya dapat dilakukan berbobot secara akademisi namun dari segi sistematika penyajiannya nampak sangat sederhana, misalnya tidak dikenal tanda-
tanda baca seperti titik, tanda koma, dan tanda tanya, dan sebagainya. Pergeseran dari sup topik dengan topik yang lain tidak dengan menggunakan alenia baru, tetapi dengan pasal-pasal atau kode sejenis tatimmah, muhimmah, tanbih, far dan sebagainya. Isi yang disajikan dari kitab kuning selalu terdiri dari komponen matan dan lainnya adalah syarah (Darwan Raharjo, 1983 : 55).
Dari uraian diatas, ternyata sampai sekarang kiranya belum ada formulasi yang sudah disepakati tentang kitab kuningini, baik definisi maupun cakupan ciri- cirinya. Masing-masing masih mengasumsikan berdasarkan pengertian-pengertian yang subyektif, malah kerap kali dengan generalisasi yang berdasar emosional.
Namun dengan itu semua, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kitab kuning adalah:
a. Kitab kuningadalah kitab-kitab yang berbahasa arab tanpa syakal, yang tradisional, umumnya diajarkan di pondok pesantrenmelaluicara wetonan atau sorongan.
b. Kitab kuningadalah kitab-kitab klasik yang berkaitan dengan agama Islamatau bahasa arab, yang dianggap sudah ketinggalan zaman, baik dalam metode penulisan maupun dalam nilai akhir keilmuanya.
Demikian dari hasil uji coba perumusan ta’rif kitab kuning dari diskusi- diskusi lepas maupun interview yang pernah dilakukan oleh beberapa pihak yang tertarik masalah ini.Dari rumusan sementara diatas, dapat di identifikasikan beberapa hal dalam upaya mengenali kitab kuningantara lain:
1) Kitab-kitab tersebut berbahasa Arab.
2) Umumnya tanpa syakal, bahkan tanpa titik.
3) Revisi informasi keilmuan yang cukup berbobot.
4) Metode penulisanya dianggap kuno dan relevasinya dengan masalah keilmuan kontemporer kerap kali sudah nampak menipis.
5) Lazimnya secara tradisional dipelajari, dikaji dalam pondok-pondok Pesantren.
6) Banyak diantara kertasnya memang berwarna kuning (karena kualitasnya atau sebabnya lainnya(Darwan Raharjo, 1983 : 56).
a. pembelajaran
Strategi pembelajaran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu materi dan prosedur pembelajaran yang di gunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa (Wina sanjaya, 1985:120).
seorang yang berperang mengatur setrategi, untuk memenangkan peperangan sebelum melakukan tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan pasukan yang dimilikinya baik dilihat dari kuantitas maupun kualitasnya. Berdasarkan penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa pada dasarnya strategi pembelajaran merupakan suatu siasat atau rencana yang husus dirancang untuk mengajar peserta didik dengan materi tertentu hingga mencapai kecakapan yang diinginkan dan suatu tujuan yang telah direncanakan.
Berikut ini ada 4(empat) jenis utama strategi belajar yang di dapat dipilih dan di gunakan pembelajaran dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar di sekolah yaitu:
1. pembelajaran harus melakukan tindakan terhadap inpormasi baru yang diterimanya dan menghubungkan informasi baru ini dengan pengetahuan
awal. Strategi-strategi yang digunakan untuk proses pengkodean ini di sebut strategi mengulang atau reharsal strategies, yang terdiri dari 2 (dua) jenis, mengulang sederhan dan mengulang kompleks.
2. sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna. Strategi elaborasi ini membantu pemindahan informasi baru dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang dengan menciptakan gabungan dan hubungan antara informasi baru dan apa yang telah di ketahaui.
Pembuatan catatan membantu siswa dalam mempelajari informasi dengan singkat dan padat. Namaun sayang sekali banyak siswa yang membuat catatan secara tidak efektif.
3. Strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Strategi ini juga terdiri dari pengindentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar.
4. Strategi metakognitif berhubungan dengan bagaimana cara berpikir siswa berpikir dan mendapatkan pengetahuan serta berkaitan dengan, kemampuan mereka menggunakan strategi-strategi belajar tertentu dengan tepat.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah merupakan sesuatu siasat atau rencana yang khusus di rancang oleh guru untuk mengajar peserta didik hingga mencapai tujuan yang telah di rencanakan.
b. Prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran
Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip dalam bahasa ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan strategi pembelajaran. Prinsip umum penggunaan strategi pembeljaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digaunakan cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Hal ini seperti dikemukakan oleh killen (1998):“no teaching strategy is better than others in all circumtances, so you have to be able to use a of teaching strategies, and make rational decision about when each of the teaching stretegies is likely to most offective.”
Belajar adalah sesuatu proses yang dapat di lakukan oleh jenis-jenis mahkluk hidup tertentu sebagian besar binatang, termasuk manusia, tetapi tetumbuhan tidak. Belajar merupakan proses yang memungkinkan mahluk- mahluk ini merubah prilakunya cukup cepat dalam cara kurang-lebih sama, sehingga perubahan yang sama tidak harus terjadi lagi dan lagi pada setiap situasi baru. Perubahan yang di hasilkan oleh pertumbuhan struktur-struktur dari dalam.
Bila belajar itu terjadi terutama ketika seorang merespon dan menerima rangsangan dari lingkungan eksternalnya, proses dimana manusia dan binatang lainnya dapat melakukan. Belajar itu umumnya melibatkan interaksidengan lingkungan eksternal (Robert M. Gaqne, 1988: 17-18).
c. Prinsip-prinsip pembelajaran kitab kuning
Adapun prinsip merupakan hal yang penting dalam peroses pembelajaran, yang dapat memperoleh ke suksesan atau keberhasilan guru dalam pencapaian tujuan pendidikan. Bentuk pentingnya dalam peroses pembelajaran, guru yang menggunakan strategi. Tampak jelas, strategi merupakan kegiatan yang di lakukan guru sebelum menyusun rencana tindakan yang meliputi pengguna metode dan pemamfaatan sumber daya dalam pembelajaran, dan strategi di susun mencapai tujuan tertentu. Artinya arah dari segala keputusan dari penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan.
Sebelum menentukan strategi perlu di rumuskan tujuan yang jelas yang dapat di ukur kebehasilannya. Dalam hal ini, strategi pembelajaran yang di terapkan guru tergantung pada pendekatan yang di gunakan, pendekatan dapat di artikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap peroses pembelajaran, sebagai mana di nyatakan, bahwa ada dua pendekatan dalam pembelajaran yaitu pendekatan yang berpusat pada guru dan pendekatan yang berpusat pada siwa/siswi (Wina sanjaya, 2010 : 127)
Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus di kerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat di capai secara epektif dan efesien (Wina sanjaya, 2010 : 126).
Kinerja guru adalah hasil kerja nyata secara kualitas dan kuantitas yang di capai seorang guru dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggu jawab yang diberikan kepadanya yang meliputi menyusun program pembelajaran,
pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan evaluasi dan analisis evaluasi (Imam Wahyudi, 2012: 87).
d. Komponen-komponen pembelajaran kitab kuning
Pembelajaran yang ada di lingkungan Pondok Pesantren berbeda dengan pembelajaran di sekolah lain, hal yang demikian ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nurcholis Madjid bahwa:
“Pesantren itu terdiri dari lima elemen yang pokok, yaitu: kyai, santri, masjid, pondok, dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Kelima elemen tersebut merupakan ciri khusus yang dimiliki pesantren dan membedakan pendidikan Pondok Pesantren dengan lembaga pendidikan dalam bentuk lain”(Nurcholis Madjid, 2002:63)
Begitu juga pendapat yang diutarakan oleh Abdur Rahman Saleh, bahwa:
“Pondok Pesantren memiliki ciri sebagai berikut: 1) ada kyai yang mengajar dan mendidik, 2) ada santri yang belajar dari kyai, 3) ada masjid, dan 4) ada pondok/asrama tempat para santri bertempat tinggal. Walaupun bentuk Pondok Pesantren mengalami perkembangan karena tuntutan kemajuan masyarakat, namun ciri khas seperti yang disebutkan selalu nampak pada lembaga pendidikan tersebut. Sistem pendidikan Pondok Pesantren terutama pada Pondok Pesantren yang asli (belum dipengaruhi oleh perkembangan dan kemajuan pendidikan) berbeda dengan sistem lembaga-lembaga pendidikan lainnya”(Abdur Rahman Saleh, 1982:10).
Kegiatan pembelajaran di Pondok Pesantren akan berlangsung dengan baik jika guru memahami berbagai metode atau cara bagaimana materi itu harus disampaikan pada sasaran anak didik atau murid. Begitu pula halnya dengan kegiatan pembelajaran yang ada di Pondok Pesantren, yang selama ini banyak dilakukan oleh wakil buya/kyai (ustadz). Menurut M.Habib Chirzin, ustadz adalah pembantu kiai yang disebut badal (pengganti) atau qari’(pembaca) yang terdiri dari santri senior (M. Dawam Rahardjo,1995:88).
Di dalam proses pembelajaran yang berlangsung di pesantren, seorang ustadz dituntut untuk menguasai metode-metode pembelajaran yang tepat untuk para santrinya, termasuk juga metode yang dipakai dalam pembelajaran kitab yang dikenal tanpa harakat (kitab gundul/kitab kuning). Metode pembelajaran kitab yang lazim dipakai di pesantren, (Abdul Mujib & Jusuf Mudzakkir, 2010:236).
Dari sekian banyak metode di dalam pembelajaran kitab kuning di Pondok Pesantren tidak banyak memperoleh reaksi keras dari pihak santri dikarenakan figur seorang kyai yang selalu dan harus dihormati dan dipatuhi, hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Nurcholis Madjid bahwa:
“Keberadaan seorang kyai dalam lingkungan pesantren laksana jantung bagi kehidupan manusia. Intensitas kyai memperlihatkan peran yang otoriter disebabkan karena kyailah perintis, pendiri, pengelola, pengasuh, pemimpin, dan bahkan juga pemiliki tunggal sebuah pesantren” (Nurcholis Madjid, 2002:63)
Selain itu Bruinessen mengungkapkan adanya keyakinan dari kyai, ustadz, ataupun santri bahwa Kitab Kuning yang biasanya berwarna kuning merupakan teks klasik yang ada dan selalu diberikan di pesantren sebagai Alkutub mu’tabarah, yaitu suatu ilmu yang dianggap sudah bulat, tidak bisa diubah-ubah, dan hanya bisa diperjelas dan dirumuskan kembali manakala kyai dan ustadz menghendaki(Bruinessen, 1995:17).
Dari pemaparan di atas, peneliti mengamati adanya kesenjangan- kesenjangan yang terjadi dalam proses pembelajaran Kitab Kuning yang ada di pesantren. Kesenjangan yang dimaksud meliputi proses pembelajaran Kitab Kuning, mengapa santri mayoritas hanya berperan pasif, dalam artian selama
proses pembelajaran kitab, mereka tidak banyak mengemukakan pertanyaan- pertanyaan ataupun komentar seputar kitab yang dipelajarinya. Tidak diketahui apakah mereka diam karena mereka sudah paham ataukah ada sebab-sebab yang lain? Padahal sikap yang mereka tunjukkan di luar lingkungan pesantren berbeda dengan ketika mereka berada dalam lingkungan pesantren. Selain itu, materi atau ajaran kitab kuning yang disampaikan oleh ustadz, masih kurang menyentuh pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagian santri.
Hal ini diketahui dari pola pikir dan tingkah laku mereka sehari-hari, baik itu di lingkungan pesantren maupun di luar pesantren. Kasus inilah yang mendorong peneliti, untuk mencari sebab terjadinya kesenjangan-kesenjangan tersebut. Karena pembentukan moral di Pesantren tidak bisa dilepaskan dari sumber materi dan model pembelajaran yang diterapkan dalam proses pembelajaran di Pesantren (Bruinessen, 1995:18).
e. Langkah-langkah pembelajaran kitab kuning
Pendidikan menjadi salah satu wadah terpenting dalam pembentukan karakter dan kepribadian generasi muda. Pendidikan tidak hanya menjadikan siswa/ siswi menjadi cerdas dan pintara tetapi juga mempunyai budi pekerti, sopan santun sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat pada umumnya.
Pembelajaran kitab kuning sebagai wahana untuk menyalurkan dan mengkaji karya ulama dan cendikiawan muslim yang di lakukan oleh pesantren- pesantren, baik untuk perkembangan moral dan pemikiran para penerus islam di kemudian hari. Dalam rangka pengembangan aspek itulah maka di butuh kan
lembaga-lembaga yang mampu menyalurkan dan mengarah kan pendidikan sesuai dengan kebutuhan manusia, salah satu lembaga tersebut adalah pesantren.
Pesantren adalah suatu lembaga pendidikan yang tertua di indonesia. Sejak berdirinya, pesantren telah banyak memberikan peranannya untuk kemajuan ummat islam dan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat kita lihat dari awal mulanya masuknya islam ke indonesia yang di bawa oleh ulama-ulama terdahulu ( Abdurrahman Mas’ud, 2006 : 89).
Dari penerapan di atas, penelitian mengamati adanya kesenjangan- kesenjangan yang terjadi dalam peroses pembelajaran kitab kuning yang ada di pesantren. Dengan mengingat dan menimbang pentingnya pemahaman terhadap ajaran-ajaran yang ada dalam kitab kuning yang di pelajari di pesantren, dan apabila pemahaman para santri terhadap isi/ajaran kitab itu salah, maka dalam pensosialisasian ajaran dari kitab tersebut di tengah-tengah masyarakat akan berakibat fatal/kurang baik. Oleh karna itu seorang guru harus mampu memilih strategi yang cocok dengan keadaan. Sehingga terjadi perubahan sikap terhadap peserta didik.
Namun dengan itu semua, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kitab kuning adalah:
a. Kitab kuning adalah kitab-kitab yang berbahasa arab tanpa syakal, yang tradisional.
b. Kitab kuning dalah kitab-kitab klasik yang berkaitan dengan agama Islam atau bahasa arab.
c. Revisi informasi keilmuan yang cukup berbobot.
d. Lazimnya secara tradisional dipelajari, dikaji dalam pondok.
f. Strategi pembelajaran kitab kuning
Strategi pembelajaran kitab kuning adalah harus belajar ilmu nahwu dan ilmu sharaf, ilmu nahwu dan ilmu sharaf merupakan disiplin keilmuan yang sangat penting dikuasai bagi siapa pun yang ingin mahir berbahasa arab.
Keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat dan tidak dapat di pisahkan.
Ibarat sebuah keluarga, ilmu sharaf sebagai ibu, sedangkan ilmu nahwu sebagai bapak. Demikian menurut pakar dalam bahasa arab.
Meskipun demikian, perbedaan ilmu nahwu dan ilmu sharaf harus di ketahaui. Hal tersebut agar seseorang tidak sesat menempuh cara dan metode dalam belajar bahasa arab. Ilmu sharaf membahas tentang seluk-beluk suatu kata sebelum di jadikan kalimat. Sedangkan ilmu nahwu membahas sebuah kata saat tersusun dalam sebuah kalimat. Karena itu, agar seseorang mudah menyusun kalimat, terlebih dahulu harus menguasai ilmu sharaf. Sehingga, tepatlah jika ditanyakan bahwa ilmu sharaf sebagai ibunya ilmu (Ustadz Rusdianto, 2015: 20).
Pengertian ilmu sharaf, secara bahasa berubah. Dalam makna ini, segala bentuk perubahan dinamakan sharaf. Misalnya, air berubah menjadi es, itulah dinamakan sharaf (Ustadz Rusdianto, 2015: 19).
Banyaknya jumlah pesantren di Indonesia, serta besarnya jumlahnya.
Santri pada tiap pesantren menjadikan lembaga ini layak diperhitungkan dalam kaitannya dengan pembangunan bangsa di bidang pendidikan dan moral.
Perbaikan-perbaikan yang secara terus menerus dilakukan terhadap pesantren, baik dari segi manajemen, akademik (kurikulum) maupun fasilitas, menjadikan
pesantren keluar dari kesan tradisional dan kolot yang selama ini disandangnya (Abdul Mujib & Jusuf Mudzakkir, 2006: 237).
C. Penelitian relevan
1. Pandu, Mahasiswa FAI UIR 2009, dengan judul Skripsi; Usaha Guru Meningkatkan Kemampuan Santri Dalam Memahami Isi kitab Kuning DI Pondok Pesantren Al-Munawwarah Kota Pekanbaru. Usaha Guru Meningkatkan Kemampuan Santri Dalam Memahami Isi kitab Kuning DI Pondok Pesantren Al-Munawwarah Kota Pekanbaru, dinilai cukup. Adapun persamaanya adalah sama - sama membahas kitab kuning dan lokasinya di Pondok Pesantren Al-Munawwarah, sedangkan perbedaannya adalah peneliti sebelumnya meneliti tentang kemampuan santri dalam memahami kitab kuning dan meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam belajar kitab kuning.
Sedang penelitian yang peneliti lakukan adalah meneliti tentang strategi pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren Musthafawiyah Purba Baru.
2. Hasbi, Mahasiswa FAI UIR 2013, dengan judul Skripsi; Kreativitas guru dalam menumbuh mengembangkan rasa percaya diri siswa untuk belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al-Munawwarah, sangat baik, artiya adalah guru mempunyai kreativitas dalam menanamkan rasa percaya diri siswa dalam belajar kitab kuning. Adapun persamaanya adalah sama - sama membahas kitab kuning dan lokasinya di Pondok Pesantren Al-Munawwarah, sedangkan perbedaannya adalah peneliti sebelumnya meneliti tentang rasa percaya diri siswa dalam kitab kuning dan meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam belajar kitab kuning. Sedang penelitian yang peneliti lakukan adalah meneliti
tentang strategi pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren Musthafawiyah Purba Baru.
3. Yusnita, Mahasiswa FAI UIR 2013, dengan judul skripsi, Strategi guru pendidikan Agama Islam dalam kegiatan pembelajaran di Mts Pondok Pesantren Hidayatul Ma’arifiyah pangkalan kerinci kabupaten pelalawan.
Berangkat dari penjelasan di atas terlihat dengan jelas bahwa penelitian yang penulis lakukan dengan peneliti sebelumnya terdapat persamaan dan perbedaan.
Adapun persamaanya adalah sama-sama membahas tentang strategi guru, sedangkan perbedaannya adalah peneliti sebelumnya meneliti tentang kegiatan pembelajaran di Mts Pondok Pesantren Hidayatul Ma’arifiyah. Sedang penelitian yang peneliti lakukan adalah meneliti tentang Strategi Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru.
D.Konsep operasional
Konsep operasional ini merupakan konsep yang di pergunakan untuk memberikan penjelasan terhadap konsep-konsep teoritis agar mudah di teliti dan dipahami. Adapun konsep operasional dalam penelitian implementasi pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren musthapawiyah purbabaru.
Variabel Dimensi Indikator
Strategi Guru dalam meningkatkan pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren
musthapawiyah purba baru
Langkah-langkah penggunaan stretegi pada pembelajaran kitab kuning
1) Tujuan
a.Guru menetapkan tujuan pembelajaran.
b.Guru menetapkan langkah- langkah strategi
pembelajaran
c.Guru menetapkan objek pembelajaran.
2) Pelaksanaan
a.Guru mengusahakan pembelajaran kitab kuning dapat di ikuti, dan di amati seluruh siswa.
b.Guru menumbuhkan sikap kritis pada siswa sehingga terdapat tanya jawab, dan diskusi tentang materi yang dipelajari.
c.Guru menentukan tugas- tugas yang harus di lakukan sewaktu dan selama pelaksanaan pembelajaran kitab kuning.
d.Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba dan kesempatan untuk melakukan kegiatan, sehingga siswa merasa yakin tentang kebenaran, pengetahuan yang selama ini ia dapati.
3) Tindak lanjut
a. Guru melakukan diskusi dan mengajukan tanya jawab dengan siswa tentang materi yang dipelajari
b. Guru melakukan tes terhadap siswa tentang materi yang dipelajari
D Krangka konseptual
Berdasarkan paparan indikator diatas dapat digambarkan kerangka konseptual sebagai berikut :
` Guru menetapkan tujuan pembelajaran.
Gurumenetapkan langkah-langkah strategi pembelajaran
Guru menetapkan objek pembelajaran
Gurumengusahakan pembelajaran kitab kuning dapat dapat di ikuti dan di amati seluruh siswa Guru menumbuhkan sikap kritis pada siswa
sehingga terdapat tanya jawab, dan diskusi tentang materi yang dipelajari
Guru menentukan tugas- tugas yang harus di lakukan sewaktu dan selama pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah.
Strategi guru dalam
meningkatkan pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren musthafawiya h purba baru
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba dan kesempatan untuk melakukan kegiatan, sehingga siswa merasa yakin tentang kebenaran, pengetahuan yang selama ini ia dapati
Guru melakukan diskusi dan mengajukan tanya jawab dengan siswa tentang materi yang
dipelajari
Guru melakukan tes terhadap siswa tentang materi yang dipelajari