28 BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Konsep Dasar Zakat 1. Pengetian zakat
Zakat secara bahasa memiliki kata dasar zaka yang artinya tumbuh (numuww), dan bertambah (ziyadah). Jika diucapkan zaka al-zar’ maka artinya tanaman itu tumbuh dan bertambah. Jika diucapkan zakat al-nafaqah maka artinya nafkah tumbuh dan bertambah. Kata ini juga sering dikemukakan untuk makna suci (thaharah).38 Dengan demikian, zakat itu membersihkan (menyucikan) diri seseorang dan hartanya, pahalanya bertambah, hartanya tumbuh (berkembang), dan membawa berkat. Sesudah mengeluarkan zakat, seseorang telah suci (bersih) dari penyakit kikir dan tamak, hartanyapun telah bersih karena tidak ada lagi hak orang lain pada harta tersebut.39
Lembaga Penelitian dan Pengkajian Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Bandung/UNISBA (1991) dalam buku Mursyidi memberikan penjelasan mengenai pengertian zakat secara bahasa sebagai berikut:
a. Tumbuh, artinya bahwa harta yang dikenai zakat merupakan harta yang dapat tumbuh atau berkembang baik dengan sendirinya maupun dengan diusahakan atau campuran dari kedua hal tersebut. Apabila harta tersebut sudah dizakati maka akan lebih tumbuh atau berkembang, serta menumbuhkan mental kemanusiaan dan keagamaan bagi muzakki dan mustahiq.
b. Baik, artinya bahwa harta yang dikenai zakat adalah harta yang baik secara mutu, dan jika harta tersebut telah dizakati akan semakin meningkat mutunnya, serta meningkatkan kualitas muzakki dan mustahiqnya.
38 Wahbah Al-Zuhayly, Zakat: Kajian Berbagai Mazhab, 1997, Bandung: Remaja Rosdakarya, halaman 82.
39 Ali Hasan, Zakat dan Infak Salah Satu Solusi Mengatasi Problema Sosial Di Indonesia, 2008, Jakarta: Kencana, halaman 15.
c. Berkah, artinya bahwa harta yang dikenai zakat merupakan harta yang mengandung berkah atau berpotensial bagi perekonomian, dan membawa membawa berkah bagi setiap orang yang terlibat.
d. Suci, artinya bahwa harta yang dikenai zakat merupakan harta yang suci dari usaha yang haram. Apabila telah berzakat maka dapat mensucikan mental muzakki.40
Adapun beberapa pengertian zakat secara istilah, yang pertama menurut Mazhab Maliki bahwa zakat yaitu mengeluarkan sebagian yang khusus dari harta yang khusus yang telah mencapai nishab (batas kuantitas yang mewajibkan zakat) kepada orang-orang yang berhak menerimanya (mustahiq). Dengan catatan, kepemilikan itu penuh dan mencapai haul (setahun) bukan barang tambang dan bukan pertanian. Menurut Mazhab Hanafi zakat didefinisikan dengan menjadikan sebagian harta yang khusus dari harta yang khusus sebagai milik orang yang khusus, yang ditentukan oleh syari’at karena Allah SWT. Menurut Mazhab Syafi’i, zakat didefinisikan sebagai sebuah ungkapan untuk keluarnya harta atau tubuh sesuai dengan cara khusus. Sedangkan menurut Mazhab Hambali, zakat yaitu hak yang wajib dikeluarkan dari harta yang khusus untuk kelompok yang khusus.41
Dalam Undang-Undang No.23 Tahun 2011 mengemukakan pengertian zakat.42
Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam.
Dari pengertian diatas, secara istilah, zakat dapat diartikan dengan sebagian harta tertentu yang wajib dikeluarkan dengan syarat tertentu dan
40 Mursyidi, Akuntansi Zakat Kontemporer, 2011, Bandung: Remaja Rosdakarya, halaman 75-76.
41 Wahbah Al-Zuhayly, . . . . .halaman 83-85.
42 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, Pasal 1.
waktu yang telah ditentukan untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.
Kata zakat disebut sebanyak 32 kali dalam Al-Qur’an. Berikut beberapa ayat Al-Qur’an yang membahas mengenai zakat, yaitu :
نِإ ْْۖمِهْيَلَعِ لَصَواَِبِ ْمِهْيِ كَزُ تَو ْمُهُرِ هَطُت ًةَقَدَص ْمِِلِٰوْمَأ ْنِمْذُخ ل ْيَِمِ ُ َّلَو ْمُ لِ لنَنَك َ َتٰوَلَص
ِلََ
لمْي
Artinya : “ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka, dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. (QS At-Taubah : 103)
ُفِعْضُمْلل ُمُه َ ِئَٰلوُأَف ِ َّل َهْجَو َنوُديِرُت ٍةاَكَز ْنِم ْمُتْ يَ تآ اَمَو
َنو
...Artinya : “...dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka itulah orang- orang yang melipatgandakan (pahalanya)”. (QS Ar-Rum : 39) Adapun beberapa Hadist Nabi Muhammad SAW yang membahas mengenai zakat, yaitu :
Artinya : “Zakat itu dipungut dari orang-orang kaya diantara mereka, dan diserahkan kepada orang-orang miskin”. (HR Bukhari)43
2. Jenis zakat a. Zakat fitrah
Zakat fitrah merupakan zakat jiwa (zakah al-nafs), yaitu zakat yang diwajibkan atas setiap muslim baik untuk orang yang sudah dewasa maupun belum dewasa, dan dibarengi dengan ibadah puasa (shaum).
Zakat fitrah wajib dikeluarkan sebelum shalat ied, ada juga yang memperbolehkan mengeluarkannya mulai pada pertengahan bulan puasa, namun tidak diperbolehkan apabila dilakukan setelah shalat ied karena sifatnya menjadi shadaqah biasa bukan zakat fitrah.44 Hal ini sesuai sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW :
43 Sri Nurhayati dan Wasilah...halaman 285-286.
44 Mursyidi...halaman 78.
ِ ََّل ُلوُكَر َضَرَ ف ( :َلاَق اَمُهْ نََ ُ ََّل َيِضَر ٍسا بََ ِنْبِل ِنَََو َةاَكَز ملكو هيلَ لله لص
ِثَف رللَو ,ِوْغ للَل َنِم ِمِئا صلِل ًةَرْهُط ;ِرْطِفْلَل, َيِهَف ِة َلَ صلَل َل ْبَ ق اَهل دَأ ْنَمَف ,ِينِكاَسَمْلِل ًةَمْعُطَو ُبْقَم لةاَكَز َد صلَل َنِم لةَقَدَص َيِهَف ِة َلَ صلَل َدْعَ ب اَهل دَأ ْنَمَو ,لةَلو ِِاَق
ُنْبلَو ,َدُولَد وُبَأ ُهلَوَر
ْهَجاَم, ُ مِكاَْلَْل ُهَح حَصَو
Artinya : “ Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak berguna dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barang siapa yang mengeluarkannya sebelum shalat ied, ia menjadi zakat yang diterima, dan barang siapa yang mengeluarkannya sesudah shalat ied, maka itu termasuk salah satu shadaqah dari shadaqah-shadaqah biasa”.
Zakat fitrah wajib dikeluarkan atas setiap pribadi dari kaum muslimin tanpa membedakan antara orang merdeka dengan hamba sahaya, antara laki-laki dan perempuan, antara anak-anak dan orang dewasa, serta antara orang kaya dengan orang miskin. Syarat utamanya yaitu Islam, dan ukuran kewajiban zakatnya adalah kelebihan dari makan orang yang bersangkutan atau orang yang menjadi tanggungjawabnya.
Jadi walaupun seseorang itu miskin, ia wajib untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagi bentuk pembersihan dirinya.
Untuk jenis benda yang dikeluarkan ketika berzakat fitrah yaitu makanan pokok yang disesuaikan dengan kebutuhan pokok pada suatu masyarakat, dengan ukuran yang disesuaikan dengan kondisi ukuran atau timbangan yang berlaku. Di Indonesia, zakat fitrah diukur dengan beras sebanyak 2,5 Kg.45 Selain makanan pokok pada zaman sekarang, uang dapat diserahkan sebagai zakat fitrah dimana senilai dengan beras pada saat itu. Namun menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, tidak dibenarkan mengeluarkan zakat dengan uang sebagai pengganti dari makanan pokok. Tetapi Imam Ats Tsauri, Imam Abu Hanafi, dan
45 Mursyidi...halaman 78.
beberapa ulama lainnya berpendapat bahwa uang juga dapat diserahkan sebagai zakat fitrah.46
Adapun hikmah dari zakat fitrah yaitu:
1) Bagi orang yang berpuasa pada bulan ramadhan
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika berpuasa seperti, pancaindra yang diupayakan untuk berpuasa, pikiran pun harus ikut brpuasa agar tidak memikirkan hal-hal yang tidak baik menurut agama, demikian juga hati supaya tidak ada yang melintas dalam hati perasaan yang buruk. Puasa seseorang dapat dikatakan sempurna apabila sudah melakukan hal-hal tersebut. Namun selaku manusia, terkadang mengatakan hal-hal yang buruk, memfitnah orang lain, memaki, dan menghasut. Mata dibiarkan melihat sesuatu yang tidak dianjurkan oleh agama Islam. Telinga sengaja mendengar hal yang tidak baik. Pikiran dibiarkan membuat rencana untuk merusak suatu hal, mengadu domba, dan sebagainya. Dengan melaksanakan zakat fitrah diharapkan dapat membersihkan diri yang berlumuran dosa.
2) Bagi masyarakat
Setiap orang memiliki keadaan ekonomi yang berbeda-beda, begitu juga dengan status sosial dalam masyarakat, ada yang hidupnya senang dan bahkan mewah, ada orang yang hidupnya sederhana dimana cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, dan ada pula yang hidup dalam kemiskinan. Zakat fitrah diharapkan dapat mengatasi kesulitan yang mereka hadapi dan sekurang-kurangnya pada saat itu mereka dapat bersuka ria.47
b. Zakat maal
Zakat maal adalah zakat kekayaan, artinya zakat yang dikeluarkan dari kekayaan atau sumber kekayaan. Zakat maal adalah zakat yang dikenakan atas harta yang dimiliki oleh individu dengan syarat-syarat dan
46 Ali Hasan...112.
47 Ali Hasan, . . . . .halaman 109-110.
ketentuan yang telah ditetapkan. Harta yang akan dikeluarkan sebagai zakat harus memenuhi syarat tertentu yaitu, milik penuh, berkembang, mencapai nisab, lebih dari kebutuhan pokok, bebas dari hutang, berlalu satu tahun (haul). Macam-Macam Zakat Maal, yaitu sebagai berikut:
1) Zakat binatang ternak (Zakat An’am)
Ada 3 jenis hewan yang wajib dikeluarkan zakatnya setelah memenuhi persyaratan tertentu seperti unta, sapi atau kerbau, dan kambing atau domba. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad SAW, yaitu :
Artinya : “Tidaklah seseorang memiliki unta atau sapi atau kambing lalu ia tidak mengeluarkan zakatnya, melainkan hewan- hewan tersebut akan datang pada Hari Kiamat dalam bentuk yang besar dan gemuk sambil menanduk-nanduk tuannya dan mencakarnya dengan kuku kakinya, setelah sampai pada barisan terakhir, barisan pertama kembali lagi dan melakukan hal yang sama, sampai tiba pengadilan Allah”. (HR. Muslim)
Sedangkan diluar dari ketiga jenis hewan tersebut, para ulama berbeda pendapat. Menurut Abu Hanifah, binatang kuda juga dikenakan kewajiban zakat, sedangkan menurut Imam Maliki dan Imam Syafi’i tidak mewajibkannya kecuali kuda itu diperjualbelikan.
Jika melihat dalil-dalil dalam Al-Qur’an maupun AS-Sunnah bahwa selain 3 jenis hewan ternak tersebut, seperti perternakan ayam, dan bebek, maka tidak masuk dalam kategori zakat hewan ternak melainkan masuk dalam zakat perdagangan.48
a) Unta
Di Indonesia sendiri sangat jarang yang mempunyai hewan unta, bahkan dapat dikatakan tidak ada, tetapi kita perlu mengetahui nishabnya.
Tabel 2.1 Nishab unta
Nishab Unta Banyaknya Zakat
5-9 ekor 1 ekor kambing
48 Sri Nurhayati dan Wasilah, . . . . .halaman 290.
10-14 ekor 2 ekor kambing
15-19 ekor 3 ekor kambing
20-24 ekor 4 ekor kambing
25-35 ekor 1 ekor bintun makhad 36-45 ekor 1 ekor bintun labun
46-60 ekor 1 ekor hiqqah
61-75 ekor 1 ekor jadza’ah
76-90 ekor 2 ekor bintun labun
91-120 ekor 2 ekor hiqqah
120 ekor 3 ekor bintun labun
Keterangan :
(1) Bintun makhad : unta 1 tahun (2) Bintun labun : unta 2 tahun (3) Hiqqah : unta 3 tahun (4) Jadza’ah : unta 4 tahun
Kepemilikan unta mulai dari 121 ekor, zakatnya dihitung tiap-tiap 40 ekor unta, yakni sebayak 1 ekor unta umur 2 tahun lebih; tiap-tiap 50 ekor, zakatnya 1 ekor unta dengan umur 3 tahun lebih; zakat dari 130 ekor unta adalah 2 ekor unta yang berumur 2 tahun dan 1 ekor unta umur 3 tahun; zakat dari 140 ekor unta adalah 1 ekor unta berumur 2 tahun dan 2 ekor unta yang berumur 3 tahun; zakat dari 150 ekor unta adalah 3 ekor unta yang berumur 3 tahun; dan seterusnya.49 Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad SAW :
Artinya : “Zakat yang wajib dikeluarkan dari setiap empat puluh ekor unta yang diberi makan dari gembalaan umum adalah bintu labun”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’i)
49 Hasbiyallah, Fiqh dan Ushul Fiqh Metode Istinbath dan Istidlal, 2013, Bandung: Remaja Rosdakarya, halaman 257.
b) Sapi atau kerbau
Sapi atau kerbau merupakan binatang ternak yang bernilai cukup tinngi. Orang yang memiliki ternak sapi atau kerbau tentunya memiliki kekayaan harta yang cukup tinggi, sehingga wajib untuk mengeluarkan zakat. Berikut nishab untuk binatang ternak sapi atau kerbau :
Tabel 2. 2 Nishab sapi atau kerbau
Nishab Sapi Banyaknya Zakat 30-39 ekor 1 tabi’i atau tabi’ah
40-59 ekor 1 musinnah
60 ekor 2 tabi’i atau tabi’ah 70 ekor 1 tabi’i dan 1 musinnah
80 ekor 2 musinnah
90 ekor 3 tabi’i
100 ekor 2 tabi’i dan 1 musinnah Keterangan :
(1) Tabi’i : Sapi jantan 1 tahun (2) Tabi’ah : Sapi betina 1 tahun (3) Musinnah : Sapi betina 2 tahun
Setiap memiliki 30 ekor sapi atau kerbau maka wajb mengeluarkan zakat dengan satu ekor sapi umur 1 tahun, dan setiap memiliki 40 ekor sapi maka wajib mengeluarkan zakat dengan satu ekor sapi umur 2 tahun. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW :
Artinya : “Bahwasanya Nabi mengutusnya ke negeri Yaman, maka beliau memerintahkan kepadanya untuk memungut zakat dari setiap 30 ekor sapi satu ekor tabi’ atau tabi’ah dan dari setiap 40 ekor satu ekor musinnah”. (HR Ibnu Majah, Abu Dawud, At-Tirmidzi)
c) Kambing atau domba
Untuk zakat binatang ternak kambing atau domba, nishabnya dimulai dari 40 ekor kambing. Berikut nishabnnya :
Tabel 2.3 Nishab Kambing atau domba Nishab Kambing Banyaknya Zakat
1-39 ekor 0
40-120 ekor 1 ekor kambing
121-200 ekor 2 ekor kambing
201-300 ekor 3 ekor kambing
Untuk kepemilikan binatang ternak kambing atau kerbau diatas 300, maka setiap pertambahan 100 ekor dikenai satu ekor kambing. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad SAW : Artinya : “Dalam empat puluh hingga seratus dua puluh ekor
kambing, zakatnya adalah satu ekor kambing. Apabila lebih dari satu saja dari seratus dua puluh ekor, maka zakatnya adalah dua kambing, dan ini hingga dua ratus ekor kambing. Apabila bertambah satu dari dua ratus hingga tiga ratus ekor, maka zakatnya adalah tiga ekor kambing. Apabila jumlahnya lebih dari tiga ratus ekor, maka zakatnya tidak lebih dari tiga kambing hingga jumlahnya mencapai empat ratus ekor. Apabila jumlah kambingnya lebih banyak lagi, maka zakat yang wajib dikeluarkan dalam setiap seratus ekor adalah satu ekor kambing”. (HR Bukhari dan Muslim)
2) Zakat emas dan perak
Emas dan perak adalah harta yang benilai tinggi sehingga wajib untuk dikeluarkan zakatnya. Kewajiban zakat atas emas dan perak ini terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits.
يِبَك ِفِ اَهَ نوُقِفْنُ ي لاَو َة ضِفْللَو َبَه ذلل َنوزنْنَي َنيِذ للَو يِلَأ ٍبلَذَعِب ْمُهْرِ شَبَ ف ِ َّل ِل
ٍم
َو ْمُهُهاَبِج اَِبِ ىَوْنُتَ ف َم نَهَج ِرَنَ ِفِ اَهْ يَلََ َمُْيُ َمْوَ ي َذَه ْمُهُروُهُظَو ْمُهُ بوُنُج
ُْتزنَك اَم ل
َنوزنْنَت ْمُتْ نُك اَم لوُقوُذَف ْمُنِسُفْ نلأ
Artinya : “...Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih; pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi, lambung, dan punggung mereka, (lalu dikatakan)
kepada mereka, Inilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kalian simpan itu”. (QS At-Taubah : 34-35)
Nishab zakat emas dan perak adalah 20 misqal atau 20 dinar, sedangkan nishab perak adalah 200 dirham. Terdapat perbedaan pendapat mengenai 20 misqal tersebut setara dengan berapa gram emas, ada ulama yang menyatakan 96 gram emas, 93 gram emas, 91 gram emas, 85 gram emas, bahkan 70 gram emas. Menurut Yusuf Al- Qardhawi, 20 misqal setara dengan 85 gram emas. Dan 200 dirham setara dengan 595 gram perak, dengan besarnya zakat 2.5%.
Adapun pembahasan mengenai zakat emas dan perak yaitu zakat perhiasan. Para ulama berbeda pendapat mengenai zakat untuk perhiasan yang halal dipakai dan tidak melampaui batas kewajaran.
Menurut Imam Syafi’i, Imam Malik, tidak diwajibkan zakat.
Sedangkan menurut Hanafi diwajibkan untuk mengeluarkan zakat.
Yusuf Al-Qardhawi memberikan pendapat bahwa tidak diwajibkan zakat atas perhiasan yang halal dipakai dan tidak berlebihan. Jumhur ulama sepakat bahwa pengenaan zakat untuk perhiasan yang disimpan dan tidak dipergunakan dan juga menyepakati tidak wajib zakat untuk perhiasan diluar emas dan perak seperti mutiara, intan, permata, karena dianggap tidak berkembang.50
3) Zakat pertanian (Zakat Zira’ah)
Segala macam hasil pertanian seperti padi, gandum, jagung, kentang dan sebagainya yang sifatnya menjadi bahan makanan pokok bagi masyarakat di suatu negara, maka wajib dizakati. Berbeda dengan zakat maal lainnya, zakat pertanian tidak menunggu 1 tahun (haul) untuk dikeluarkan zakatnya, namun setiap kali panen. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT :
آَو ِهِداَصَح َمْوَ ي ُه قَح لوُت ...
50 Sri Nurhayati dan Wasilah, . . . . .halaman 292.
Artinya : “dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya”. (QS Al-An’am : 141)
Adapun nishab hasil pertanian adalah 5 wasaq, dan wajib mengeluarkan zakatnya 5% jika hasil panennya diusahakan oleh manusia. Jika tidak memerluka usaha manusia, maka zakatnya adalah 10%. Hal ini sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW :
ِرْشُعْلل ُفْصِن ِحْض نلِبِ َ ِقُك اَمَو ، ُرْشُعْلل ايًِّرَثََ َناَك ْوَأ ُنوُيُعْللَو ُءاَم سلل ِتَقَك اَميِف
Artinya : “Tanaman yang diairi dengan air hujan atau dengan mata air atau dengan air tada hujan, maka dikenai zakat 1/10 (10%). Sedangkan tanaman yang diairi dengan mengeluarkan biaya, maka dikenai zakat 1/20 (5%)”. (HR Bukhari dan Ahmad)
Ukuran 1 wasaq sama dengan 60 sha’, 5 wasaq berarti 300 sha’.
1 sha’ sama dengan 3,1 liter. Jadi 300 sha’ sama dengan 930 liter. Di Indonesia, nishab untuk hasil pertanian ini adalah 1.050 liter.
4) Zakat barang temuan (Rikaz) dan barang tambang (Alma’adin)
Rikaz adalah temuan berupa barang-barang berharga. Jika menemuka barang temuan (rikaz) maka wajib mengelurkan zakat sebanyak 20% dengan nishab 85 gram emas. Zakat rikaz tidak perlu menunggu selama 1 tahun (haul), tetapi apabila didapat, maka segera dikeluarkan zakatnya pada saat itu juga. Sebagian Ulama berpendapat bahwa tidak ada nishab pada zakat rikaz ini, sama seperti tidak adanya haul. Sedangkan hasil tambang adalah sesuatu yang dihasilkan dari kekayaan alam. Nishabnya adalah sama dengan nishab emas atau perak, nisab ini berlaku terus (akumulasi) baik barang tambang itu diperoleh sekaligus dalam sekali penggalian ataupun dengan beberapa kali penggalian. Barang tambang tidak disyaratkan haul, jadi harus segera dikeluarkan zakatnya ketika barang tambang itu berhasil
didapatkan, dan zakatnya sebesar 2,5%.51 Untuk kewajiban zakat maal jenis ini terdapat dalam Firman Allah SWT :
َأ ا ِمَِو ْمُتْ بَسَك اَم ِِاَبِ يَط ْنِم لوُقِفْنَأ لوُنَمآ َنيِذ لل اَهُّ يَأ َيًّ
َلاَو ْۖ ِضْرَْلأل َنِم ْمُنَل اَنْجَرْخ
ُ ت ْنَأ لاِإ ِهيِذِخِبِ ْمُتْسَلَو َنوُقِفْنُ ت ُهْنِم َثيِبَْلْل لوُم مَيَ ت ََ َ َّل نَأ لوُمَلَْلَو ِهيِف لوُضِمْغ
يِن
َِح
لدي
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS Al-Baqarah : 267)
5) Zakat perdagangan (Tijarah)
Berdagang menurut sebagian Ulama Fiqh yaitu mencari kekayaan dengan pertukaran harta kekayaan, sedangkan kekayaan dagang adalah segala yang dimaksud untuk diperjualbelikan dengan maksud untuk mencari suatu keuntungan. Adapun syarat untuk zakat perdagangan ini, yaitu sudah belalu 1 tahun (haul), bebas dari hutang, lebih dari kebutuhan pokok, merupakan hak milik, nisabnya 85 gram, dan besarnya zakat yaitu 2,5%. Kewajiban mengeluarkan zakat perdagangan ini terdapat dalam Sabda Nabi Muhammad SAW : Artinya : “Rasulullah SAW memerintahkan kami agar mengeluarkan
zakat dari semua yang kami persiapkan untuk berdagang”.
(HR Abu Dawud) 6) Zakat investasi
Investasi adalah kekayaan yang ditanamkan pada berbagai bentuk aset jangka panjang baik untuk tujuan mendapatkan pendapatan atau ditujukan untuk diperdagangkan. Investasi dapat berupa surat-surat berharga seperti saham dan obligasi; dan bisa juga
51 Hasbiyallah, . . . . .halaman 258-259.
berupa aset tetap seperti properti dan tanah. Menurut Yusuf Qardhawi jika saham diperdagangkan dan bergerak pada bidang industri maupun perdagangan, maka dikenakan zakat sebesar 2,5% atas harga saham dan keuntungannya sekaligus karena dianalogikan dengan urudh tijarah (komoditas perdagangan). Sedangkan jika saham tersebut tidak diketahui harganya dan bergerak pada bidang non-industri maupun non-perdagangan, maka keuntungannya harus dizakati sebesar 10%
karena dianalogikan dengan zakat pertanian. Sama halnya dengan saham, zakat yang dikenakan pada investasi dalam obligasi yaitu sebesar 2,5%, dengan nisab 85 gram, dan mencapai haul. Sedangkan pada zakat investasi dalam aset, tidak dikenakan wajib zakat, namun hanya dikenakan pada penghasilan bersih atau keuntungan sebesar 10%, jika dari penghasilan kotor maka besarnya yaitu 5%, dengan nisab 85 gram, dan mencapai haul.52
7) Zakat profesi dan penghasilan
Pekerjaan dibagi menjadi dua jenis yaitu yang pertama pekerjaan yang mempunyai kontrak kerja baik tertulis ataupun tidak tertulis dimana hasil dari pekerjaan ini berupa gaji, upah, komisi, dan sebagainya; jenis pekerjaan yang kedua adalah pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga ahli seperti dokter, akuntan, notaris, dan sebaginya. Nishab zakat atas pendapatan dari suatu pekerjaan tersebut yaitu sebesar 85 gram, dan besarnya zakat yaitu 2,5%, zakat ini dikeluarkan setiap dikeluarkan gaji.53
8) Zakat atas uang
Uang merupakan alat tukar yang sah, diterbitkan oleh pemerintah atau badan yang diberi izin oleh pemerintah untuk menerbitkanya. Zakat atas uang, dikenakan untuk uang yang dimiliki baik dalam bentuk simpanan maupun hadiah. Nishab zakat atas uang dalam bentuk simpanan yang akan diperhitungkan zakatnya yaitu 85
52 Sri Nurhayati dan Wasilah, . . . . .halaman 294-296.
53 Musyidi, . . . . .halaman 98.
gram, dan besarnya zakat yaitu 2,5%. Sedangkan untuk zakat atas uang dalam bentuk hadiah, maka besarnya 2,5% jika hadiah terkait dengan gaji; kadar 10% jika hasil dari presentase keuntungan perusahaan kepada pegawai; dan juga bisa kadarnya 20% jika uang tersebut berupa hibah yang tidak terduga.54
3. Penyaluran zakat a. Fakir dan miskin
Fakir adalah orang yang tidak mencukupi kebutuhan kesehariannya dan tidak memiliki mata pencaharian. Sedangkan miskin adalah orang yang mempunyai mata pencaharian tetapi hasil dari mata pencaharian tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak ada perbedaan antara orang miskin dan fakir dari segi berhaknya mereka menerima zakat, adapun kadar zakat yang diberian adalah sejumlah yang dapat membebaskan dari kemiskinan kepada kemampuan, dari kebutuhan kepada kecukupan.
b. Amil zakat
Orang yang bertugas melaksanakan pengumpulan dan pembagian zakat. Diberikan kepada amil karena untuk imbalan atas jasanya.
c. Mualaf
Golongan yang diusahakan untuk dirangkul, ditarik, dan dikukuhkan hatinya dalam keislaman disebabkan belum mantapnya iman mereka.
d. Budak
Zakat diberikan untuk budak yang telah dijanjikan oleh tuannya akan merdeka apabila telah melunasi harga dirinya.
e. Orang yang berhutang
Zakat diberikan kepada mereka yang memikul utang untuk mendamaikan sengketa atau menjamin utang orang lain sehingga harus membayarnya yang berakibat menghabiskan hartanya. Bisa juga
54 Sri Nurhayati dan Wasilah, . . . . .halaman 298.
dibagikan kepada mereka yang terpaksa berhutang untuk keperluan kehidupannya.55
f. Ibnu Sabil
Menurut golongan Syafi’i, Ibnu Sabi terdiri dari 2 macam yaitu:
Pertama, orang yang mengadakan perjalanan di negeri tempat tinggalnya, artinya di tanah airnya sendiri; Kedua, orang yang menjadi musafir, yang melintas sesuatu negeri. Maka kedua golongan ini berhak menerima zakat. Sedangkan menurut Malik dan Ahmad, Ibnu sabil yang berhak menerima zakat adalah yang melewati suatu negeri.
g. Fisabilillah
Fisabilillah mencakup semua kepentingan umum bagi agama, yang menjadi tegaknya agama dan negara. Dana yang dikeluarkan untuk fisabilillah dimasa sekarang yaitu untuk penyebaran agama Islam, membiayai sekolah yang didalamnya mengajarkan pengetahuan agama Islam.56
B. Konsep Infak dan Shadaqah 1. Pengertian Infak
Infak secara bahasa yaitu membelanjakan, sedangkan secara istilah infak adalah mengeluarkan harta karena taat dan patuh kepada Allah SWT.
Infak dapat dikeluarkan oleh seorang muslim sebagai bentuk rasa syukur ketika menerima rezeki dari Allah SWT, dimana jumlah yang dikeluarkan untuk infak sesuai dengan kerelaan dan kehendak muslim tersebut. Hal ini sesuai dengan firman Allah :
ِةَنُلْه تلل َلَِل ْمُنْيِدْيَِبِ لْوُقْلُ ت َلاَو ِ ٰ َّل ِلْيِبَك ِْفِ لْوُقفْنَلَو َْينِنِسْحُمْلل ُّبُِيُ َ ٰ َّ نِل لْوُ نِسْحَلَو
Artinya : “Dan infakkanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri,
55 Hasbiyallah, . . . . .halaman 250-251.
56 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 3, 1988, Bandung: Alma’arif, halaman 101-103.
dan berbuat baiklah. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS 2 : 195)
Infak dibagi menjadi 2 jenis yaitu infak wajib dan infak sunnah. Infak wajib terdiri atas zakat dan nazar dimana bentuk dan jumlah pemberiannya telah ditentukan. Sedangkan infak sunnah adalah infak yang dilakukan oleh seorang muslim untuk mencari ridha Allah SWT.
2. Pengertian Shadaqah
Adapun shadaqah adalah segala pemberian atau kegiatan untuk mengaharap pahala dari Allah SWT. Shadaqah memiliki dimensi yang lebih luas dari pada infak, yaitu:
a. Shadaqah merupakan pemberian kepada fakir miskin yang membutuhkan tanpa mengharapkan imbalan (azzuhaili).
b. Shadaqah dapat berupa zakat, karena didalam Al-Qur’an dan As-Sunnah ada yang tertulis dengan lafal shadaqah padahal yang dimaksud dalam ayat itu adalah mengenai zakat.
ُمْللَو اَهْ يَلََ َينِلِماَعْللَو ِينِكاَسَمْللَو ِءلَرَقُفْلِل ُِاَقَد صلل اَ نَِّإ ْللَو ِباَقِ رلل ِفَِو ْمُهُ بوُلُ ق ِةَف لَؤ
َينِمِراَغ
ََ ُ َّلَو ِ َّل َنِم ًةَضيِرَف ْۖ ِليِب سلل ِنْبلَو ِ َّل ِليِبَك ِفَِو
لميِنَح لميِل
Artinya : “Sesungguhnya zakat-zakat itu adalah bagi orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil-amil zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah : 60)
Begitu pula sabda Nabi Muhammad SAW kepada Mu’adz bin Jabal RA ketika diutus Nabi ke Yaman :
لَ لله لص ِبِ نلَل نَأ ( :اَمُهْ نََ ُ ََّل َيِضَر ٍسا بََ ِنْبِل ِنََ
لله يضر لًذاَعُم َثَعَ ب ملكو هي
ِنَمَيْلَل َلَِإ هنَ
َ تْ فِل ِدَق َ ََّل نَأ ( :ِهيِفَو ,َثيِدَْلَْل َرَكَذَف ِِلِلَوْمَأ ِفِ ًةَقَدَص ْمِهْيَلََ َضَر
,ْم
ََْأ ْنِم ُذَخْؤُ ت ْمِهِئلَرَقُ ف ي ِف ُّدَرُ تَ ف ,ْمِهِئاَيِن
ْيَلََ لقَف تُم
ِه , ِ يِراَخُبْلِل ُظْف لللَو
Artinya : “...beritahukanlah kepada mereka (Ahli Kitab yang telah masuk Islam), bahwa Allah telah mewajibkan zakat atas mereka, yang diambil dari orang kaya diantara mereka. Dan diberikan kepada fakir diantara mereka...” (HR Bukhari dan Muslim).
c. Shadaqah adalah sesuatu yang ma’ruf (benar dalam pandangan syariah).
Pengertian ini yang membuat definisi atas shadaqah menjadi lebih luas, hal ini sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad SAW :
Artinya : “Setiap kebajikan adalah Shadaqah”. Jadi selain berupa material, shadaqah juga dapat berupa non-material seperti berbuat kebaikan untuk orang lain atau diri sendiri, sesuai dengan Hadis Nabi Muhammad SAW : “Dari Abu Musa Al- Asyary R.A. dari Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tiap-tiap Muslim haruslah bersedekah”; Sahabat bertanya;
“Bagaimana kalau dia tidak mampu Ya Rasulullah?”; Nabi menjawab, “Dia harus berusaha dengan kedua tangan (tenaga)nya hingga berhasil untuk dirinya dan untuk bersedekah”; Sahabat bertanya, “bagaimana kalau dia tidak mampu?”; Nabi menjawab; “menolong orang yang mempunyai kebutuhan dan keluhan”; Sahabat bertanya,
“bagaimana kalau dia tidak mampu?”; Nabi menjawab, “Dia melakukan sesuatu perbuatan baik atau menahan dirinya dari perbuatan munkar (kejahatan) itupun merupakan shodaqoh baginya”.57
Shadaqah hukumnya sunnah muakkad dan bisa juga menjadi wajib apabila pemberi shadaqah mendapati seseorang dalam keadaan yang benar- benar dalam keadaan kritis dan membutuhkan shadaqahnya serta si pemberi memiliki persediaan yang melebihi kebutuhan pokoknya. Dalam bershadaqah, pemberi shadaqah disunnahkan untuk mengiringi aktivitas shadaqah dengan bacaan basmallah, menyerahkan shadaqahnya dengan kemurahan hati, tidak menyimpan motif tertentu dengan mengharapkan manfaat dari orang yang diberi shadaqah, memberikan shadaqahnya secara sembunyi-sembunyi agar terhindar dari sifat ria.58
57 Sri Nurhayati dan Wasilah, . . . . .halaman 282-283.
58 Abdul Aziz dan Abdul Wahhab, Fiqh Ibadah, 2013, Jakarta: Amzah, halaman 426-427.
C. Lembaga Pengelola Zakat
Dalam surah At-Taubah ayat 60, dikemukakan bahwa salah satu golongan yang berhak menerima zakat (mustahiq) adalah orang-orang yang bertugas mengurus zakat (‘amilina‘alaiha). Amil adalah orang-orang yang ditugaskan oleh imam/pemerintah untuk mengambil, menuliskan, menghitung, dan mencatat zakat yang diambilnya dari para muzakki untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.59 Berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: 8 Tahun 2011 tentang Amil zakat yaitu:60
Seseorang atau sekelompok orang yang diangkat oleh pemerintah untuk mengelola pelaksanaan ibadah zakat, atau seseorang atau sekelompok orang yang dibentuk oleh masyarakat dan disahkan oleh pemerintah untuk mengelolapelaksanaan ibadah zakat.
Amil zakat atau pengelola zakat harus memiliki beberapa persyaratan, yaitu: Pertama, Beragama Islam; Kedua, Mukallaf yaitu orang dewasa yang sehat akal pikirannya; Ketiga, memiliki sifat amanah dan jujur; Keempat, mengerti dan memahami hukum-hukum zakat; Kelima, memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya; Keenam, kesungguhan amil dalam melaksanakan tugasnya.61 Lembaga pengelola zakat di Indonesia terdiri dari :
1. Lembaga Amil Zakat (LAZ)
Lembaga amil zakat adalah intitusi pengelolaan zakat yang sepenuhnya dibentuk atas prakarsa masyarakat dan oleh masyarakat yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan kemaslahatan umat Islam.
a. Pengesahan atau Pengukuhan LAZ
Untuk mendapatkan pengukuhan, sebelumnya calon LAZ harus mengajukan permohonan kepada pemerintah sesuai dengan tingkatan
59 Didin Hafifuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, 2002, Jakarta: Gema Insani Press, halaman 125.
60 Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa MUI Bidang Ibadah, 2015, Emir, halaman 202.
61 Didin Hafifuddin, . . . . .halaman 127-129.
ORMAS Islam yang memilikinya dengan melampirkan syarat-syarat sebagai berikut:
1) Akta pendirian (berbadan hukum).
2) Data Muzakki (yang membayar zakat) dan Mustahiq (yang berhak menerima zakat).
3) Daftar susunan pengurus.
4) Rencana Program kerja jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
5) Neraca atau laporan posisi keuangan.
6) Surat pernyataan bersedia untuk diaudit.
Sebelum dilakukan pengukuhan, terlebih dahulu harus dilakukan penelitian persyaratan yang telah dilampirkan. Apabila telah memenuhi syarat, maka dapat dilakukan pengukuhan. Selain melakukan pengukuhan, pemerintah juga melakukan pembinaan kepada LAZ.
b. Kewajiban LAZ
Lembaga amil zakat yang telah memenuhi syarat, dan kemudian dikukuhkan oleh pemerintah, memiliki kewajiban yang harus dilakukan, yaitu:
1) Segera melakukan kegiatan sesuai dengan program kerja yang telah dibuat.
2) Menyusun laporan, termasuk laporan keuangan.
3) Mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit melalui media massa.
4) Menyerahkan laporan kepada pemerintah.
c. Pencabutan pengukuhan LAZ
Lembaga amil zakat yang telah dikukuhkan dapat ditinjau kembali, apabila tidak lagi memenuhi syarat dan tidak melaksanakan kewajiban, maka diberi peringatan secara tertulis samapai 3 (tiga) kali dan baru dilakukan pencabutan pengukuhan. Dengan demikian, pencabutan pengukuhan LAZ tersebut dapat menghilangkan hak pembinaan, perlindungan, dan pelayanan dari pemerintah, tidak diakuinya bukti
setoran zakat yang dikeluarkan sebagai pengurang penghasilan kena pajak dan tidak dapat melakukan pengumpulan dana zakat.
2. Badan Amil Zakat (BAZ)
Badan amil zakat adalah organisasi pengelola zakat yang dibentuk oleh pemerintah, yang terdiri dari unsur masyarakat dan pemerintah dengan tugas mengumpulkan, mendistribusikan, dan mendayagunakan zakat sesuai dengan ketentuan agama.
a. Pembentukan BAZ
Pembentukan BAZ merupakan hak otoritatif pemerintah, sehingga hanya pemerintah yang berhak membentuk BAZ, baik untuk tingkat nasional sampai dengan tingkat kecamata. Semua tingkatan tersebut memiliki hubungan kerja yang bersifat koordinatif, konsultatif, dan informatif. Badan amil zakat dibentuk sesuai dengan tingkatan wilayahnya masing-masing, yaitu:
1) Nasional, dibentuk oleh presiden atas usul menteri;
2) Daerah provinsi dibentuk oleh gubernur atas usul kepala kantor wilayah departemen agama provinsi;
3) Daerah kota atau kabupaten dibentuk oleh wali kota atau bupati atas usul kepala kantor departemen agama kota atau kabupaten; dan
4) Kecamatan dibentuk oleh camat atas usul kepala kantor urusan agama kecamatan.
b. Kewajiban BAZ
Dalam melaksanakan seluruh kegiatannya, Badan Amil Zakat memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan, yaitu:
1) Segera melakukan kegiatan sesuai dengan program kerja yang telah dibuat.
2) Membuat laporan tahunan, yang didalamnya termasuk laporan keuangan.
3) Mempublikasikan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit oleh akuntan publik atau lembaga pengawas pemerintah yang berwenang
melalui media massa, selambat-lambatnya enam bulan setelah tahun buku berakhir.
4) Menyerahkan laporan tersebut kepada pemerintah dan dewan perwakilan rakyat sesuai dengan tingkatannya.
5) Merencanakan kegiatan tahunan.
6) Mengutamakan pendistribusian dan pendayagunaan dari dana zakat yang diperoleh di daerah masing-masing sesuai dengan tingkatannya.
c. Pembubaran BAZ
Badan amil zakat dapat ditunjau ulang pembentukannya, apabila tidak melaksanakan kewajiban seperti yang telah ditentukan. Mekanisme peninjauan ulang terhadap BAZ tersebut melalui tahapan sebagai berikut:
1) Diberikan peringatan secara tertulis oleh pemerintah sesuai dengan tingkatannya yang telah membentuk BAZ.
2) Bila peringatan telah dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali dan tidak ada perbaikan, maka pembentukan dapat ditunjau ulang dan pemerintah dapat membentuk kembali BAZ dengan susunan pengurus yang baru.62
D. Akuntansi Zakat
1. Pengertian akuntansi zakat
Menurut Husein Sahatah akuntansi zakat dianggap sebagai salah satu cabang ilmu akuntansi yang dikhususkan untuk menentukan dan menilai aset wajib zakat, menimbang kadarnya, dan mendistribusikan hasilnya dengan berdasarkan kaidah syariat Islam. Sistem akuntansi harus memiliki kerangka tertentu yang menentukan batasan- batasan dan hubungannya dengan sistem Islam lainnya.63 Akuntansi zakat adalah bingkai pemikiran dan aktivitas yang mencakup dasar-dasar akuntansi dan proses-proses operasional yang berhubungan dengan penentuan, perhitungan, dan
62 Andri Soemantri, . . . . .halaman 419-423.
63 M. Arif Mufraini, Akuntansi dan Manajemen Zakat: Mengkomunikasikan Kesadaran dan Membangun Jaringan, 2006, Jakarta: Kencana, halaman 27-28.
penilaian harta dan pendapatan yang wajib dizakati. Adapun landasan hukum akuntansi zakat terdapat pada Q.S Al-Israa ayat 35:
ِلَٰذ ِميِقَتْسُمْلل ِساَطْسِقْلِبِ لوُنِزَو ْمُتْلِك لَذِإ َلْيَنْلل لوُفْوَأَو ًلَيِوَْتَ ُنَسْحَأَو لرْ يَخ َ
Artinya: “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
2. Akuntan zakat
Akuntan zakat adalah seseorang yang memenuhi kelayakan baik dari segi kepribadian, intelektual, maupun kinerjanya bagi proses perhitungan zakat dan pembagiannya kepada yang berhak. Syarat yang harus dipenuhi oleh seorang akuntan zakat, yaitu muslim, mukallaf, dan baligh; mengetahui atau mempunyai ilmu di bidang Al-Quran dan Hadits; menpunyai ilmu tentang fiqh zakat dan dasar-dasar perhitungannya; harus memiliki sifat ikhlas, jujur, amanah; dan mampu untuk mengambil keputusan.64
3. Prinsip-prinsip akuntansi zakat
Beberapa prinsip akuntansi yang dapat diterapkan mengikuti karakteristik aset wajib zakat dalam konsep fikih, diantaranya yaitu:
a. Prinsip tahunan (annual/haul), zakat dihitung ketika telah melewati dua belas bulan hijriyah. Tahun zakat dimulai ketika harta tersebut mencapai nisab. Namun untuk zakat pertanian dan rikaz tidak menggunakan prinsip ini.
b. Prinsip independensi tahun zakat, setiap tahun zakat independen dari tahun-tahun zakat lainnya (tahun sebelum dan sesudahnya), tidak boleh mewajibkan dua zakat atas satu jenis harta dalam tahun yang sama, sebagimana satu jenis harta tidak boleh dikenakan zakat dua kali dalam setahun.
c. Prinsip standar aset produktif atau potensi produktif, harta yang dikenakan zakat haruslah harta yang berkembang seperti harta perdagangan dan binatang ternak atau harta tersebut dihukumi sebagai
64 Husein As-Syahatan, Akuntansi Zakat Panduan Praktis Perhitungan Zakat Kontemporer, 2004, Jakarta: Pustaka Progressif, halaman 29-30.
harta berkembang seperti harta tunai yang tidak diinvestasikan, yang mana jika harta tersebut diinvestasikan akan berkembang.
d. Prinsip standar mencapai nisab, adanya konsep nishab menunjukan bahwa yang menjadi objek zakat hanyalah aset surplus saja. Secara sederhana, seorang muzakki harus mempunyai sisa harta sebesar nishab setelah memenuhi kebutuhan pokok nya.
e. Prinsip laba bersih, mewajibkan muzakki untuk mengurangi harta yang akan dizakati dengan utang-utang atau benda lainnya yang ada pada pendapatan tersebut. Misalnya, zakat gaji dihitung atas jumlah bersih harta setelah dikurangi pembiayaan yang harus dikeluarkan.
f. Prinsip monetery unit, pada saat menentukan jumlah kekayaan yang wajib untuk dizakati, maka harus dihitung selurug kekayaan yang dimiliki muzakki baik yang ada di Indonesia atau di liar negeri. Harta tersebut harus digabungkan lalu dikurangi dengan utang-utang.
g. Prinsip penentuan nilai dengan harga pasar, menilai barang pada akhir masa haul berdasarkan prinsip nilai tukar yang berlaku di pasar pada saat itu. Misalnya harta perdagangan dihitung nilainya berdasarkan harga grosir (partai) dipasar dan zakat piutang dihitung berdasarkan nilai/jumlah yang diharapkan pelunasannya.65
E. Perlakuan Akuntansi (PSAK 109)
Perlakuan akuntansi dalam pembahasan ini mengacu pada PSAK No.109, ruang lingkupnya hanya untuk amil yang tujuan utamanya menerima dan menyalurkan zakat dan infak/shadaqah. PSAK ini wajib diterapkan oleh amil yang mendapatkan izin dari regulator namun amil yang tidak mendapatkan izin dari regulatorpun dapat menerapkan PSAK ini. PSAK No.109 merujuk pada beberapa fatwa MUI, yaitu sebagai berikut:
1. Fatwa MUI No.8/2011 tentang amil zakat, menjelaskan tentang kriteria, tugas amil zakat serta pembebanan biaya operasional kegiatan amil zakat
65 Arif Mufraini, . . . . .halaman 29-35.
yang dapat diambil dari bagian amil, atau dari bagian fisabilillah dalam batas kewajaran, proposional serta sesuai dengan kaidah islam.
2. Fatwa MUI No.13/2011 tentang hukum zakat atas harta haram, dimana zakat harus ditunaikan dari harta yang halal baik jenis atau cara perolehannnya.
3. Fatwa MUI No.14/2011 tentang penyaluran harta zakat dalam bentuk aset kelolaan. Yang dimaksudkan dengan aset kelolaan adalah sarana dan/atau prasarana yang diadakan dari harta zakat dan secara fisik berada didalam pengelolaan pengelola sebagai wakil mustahiq zakat, sementara manfaatnya diperuntukkan bagi mustahiq zakat. Jika digunakan bukan oleh mustahiq zakat, maka pengguna harus membayar atas manfaat yang digunakannya dan diakui sebagai dana kebajikan oleh amil zakat.
4. Fatwa MUI No.15/2011 tentang penarikan, Pemeliharaan dan penyaluran harta zakat. Tugas amil zakat adalah melakukan penghimpunan, pemeliharaan, dan penyaluran. Jika amil menyalurkan zakat tidak langsung kepada mustahiq zakat, maka tugas amil zakat dianggap selesai pada saat mustahiq zakat menerima dana zakat. Amil harus mengelola zakat sesuai dengan prinsip syariah dan tata kelola yang baik. Penyaluran dana zakat muqayyadah, apabila membutuhkan biaya tambahan dapat dibebankan
kepada muzakki.
1. Akuntansi untuk Zakat
a. Penerimaan zakat diakui pada saat kas atau aset nonkas diterima dan diakui sebagai penambah dana zakat. Jika diterima dalam bentuk kas, diakui sebesar jumlah yang diterima tetapi jika dalam bentuk nonkas diakui sebesar nilai wajar aset.
Jurnal :
D Kas xxx
D Aset Nonkas (nilai wajar) xxx
K Penerimaan Zakat xxx
b. Jika Muzakki menentukan mustahiq yang menerima penyaluran zakat melalui amil, maka tidak ada bagian amil atas zakat yang diterima dan amil dapat menerima ujrah atas kegiatan penyaluran tersebut.
Jika atas jasa tersebut amil mendapatkan ujrah/fee maka diakui sebagai penambah dana amil.
Jurnal saat mencatat penerimaan fee :
D Kas xxx
K Penerimaan Dana Amil xxx
c. Penurunan nilai aset zakat diakui sebagai :
1) Pengurang dana zakat, jika terjadi tidak disebabkan oleh kelalaian amil.
Jurnal :
D Penurunan Nilai Aset xxx
K Aset Nonkas xxx
2) Kerugian dan pengurangan dana amil, jika disebabkan oleh kelalaian amil.
Jurnal :
D Kerugian Penurunan Nilai-Dana Amil xxx
K Aset Nonkas xxx
d. Zakat yang disalurkan kepada mustahik diakui sebagi pengurang dana zakat dengan keterangan sesuai dengan kelompok mustahiq termasuk jika disalurkan kepada amil, sebesar :
1) Jumlah yang diserahkan, jika pemberian dilakukan dalam bentuk kas.
Jurnal :
D Penyaluran Zakat-Dana Amil xxx
D Penyaluran Zakat-Mustahiq Non-Amil xxx
K Kas xxx
2) Jumlah tercatat, jika pemberian dilakukan dalam bentuk aset nonkas.
Jurnal :
D Penyaluran Zakat-Dana Amil xxx
D Penyaluran Zakat-Mustahiq Non-Amil xxx
K Aset Nonkas xxx e. Amil berhak mengambil bagian dari zakat untuk menutup biaya
operasional dalam menjalankan fungsinya.
Jurnal :
D Beban-Dana Fisabilillah xxx
K Kas xxx
f. Beban penghimpunan dan penyaluran zakat harus diambil dari porsi amil.
D Beban-Dana Amil xxx
K Kas xxx
g. Dana zakat yang disalurkan dalam bentuk perolehan aset tetap (aset kelolaan) misalnya mobil ambulan, rumah sakit diakui sebagai:
1) Penyaluran zakat seluruhnya, jika aset tetap tersebut diserahkan untuk dikelola kepada pihak lain yang tidak dikendalikan amil.
Jurnal ketika membeli aset tetap :
D Aset Tetap xxx
K Kas xxx
Jurnal ketika menyalurkan aset tetap tersebut :
D Penyaluran Zakat-Mustahiq xxx
K Aset Tetap xxx
2) Penyaluran zakat secara bertahap diukur sebesar penyusutan aset tetap tersebut sesuai dengan pola pemanfaatannya, jika aset tetap tersebut masih dalam pengendalian amil atau pihak lain yang dikendalikan amil.
Jurnal ketika membeli aset tetap :
D Aset Tetap xxx
K Kas xxx
Jurnal penyaluran bertahap :
D Penyaluran Zakat-Beban Depresiasi xxx
K Akumulasi Penyusutan xxx
Jurnal ketika sudah disalurkan sepenuhnya :
D Akumulasi Penyusutan xxx
K Aset Tetap xxx
h. Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut terkait dengan transaksi zakat, tetapi tidak terbatas pada :
1) Kebijakan penyaluran zakat, seperti penentuan skala prioritas penyaluran zakat dan mustahiq-non-amil;
2) Kebijakan penyaluran zakat untuk amil dan mustahiq-non-amil, seperti persentase pembagian, alasan, dan konsistensi kebijakan;
3) Metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan zakat berupa aset nonkas;
4) Rincian jumlah penyaluran dana zakat untuk masing-masing mustahiq;
5) Penggunaan dana zakat dalam bentuk aset kelolaan yang masih dikendalikan oleh amil atau pihak lain yang dikendalikan amil, jika ada, diungkapkan jumlah dan persentase terhadap seluruh penyaluran dana zakat serta alasannya; dan
6) Hubungan pihak-pihak berelasi antara amil dan mustahiq yang meliputi:
a) Sifat hubungan istimewa;
b) Jumalah dan jenis aset yang disalurkan; dan
c) Persentase dari setiap aset yang disalurkan tersebut dari total penyaluran selama periode.
7) Keberadaan dana non halal, jika ada, diungkapkan mengenai kebijakan atas penerimaan dan penyaluran dana, alasan, dan jumlahnya; dan
8) Kinerja amil atas penerimaan dan penyaluran dana zakat dan dana infak/shadaqah.
2. Akuntansi untuk Infak/Shadaqah
a. Penerimaan infak/shadaqah diakui pada saat kas atau aset nonkas diterima dan diakui sebagai penambah dana infak/shadaqah terikat atau tidak terikat sesuai tujuan pemberiannya. Jika diterima dalam bentuk kas,
diakui sebesar jumlah yang diterima tetapi jika dalam bentuk nonkas sebesar nilai wajar. Untuk penerimaan aset nonkas dapat dikelompokan menjadi aset lancar atau aset tidak lancar. Aset lancar adalah aset yang harus segera disalurkan, dan dapat berupa bahan abis pakai seperti bahan makanan; atau barang yang memiliki manfaat jangka panjang misalnya mobil untuk ambulan. Aset nonkas lancar dinilai sebesar nilai perolehan.
Jurnal :
D Kas xxx
D Aset Nonkas (nilai perolehan)-Lancar xxx
K Penerimaan Infak/Shadaqah xxx
b. Aset tidak lancar yang diterima dan diamanahkan untuk dikelola oleh amil dinilai sebesar nilai wajar dan diakui sebagai aset tidak lancar infak/shadaqah. Penyusutan dari aset tersebut diperlakukan sebagai pengurang dana infak/shadaqah terikat apabila penggunaan atau pengelolaan aset tersebut sudah ditentukan oleh pemberi.
Jurnal :
D Aset Nonkas (Nilai Wajar)-Tidak Lancar xxx
K Penerinaan Infak/Shadaqah xxx
D Penyaluran Infak/Shadaqah-Beban Depresiasi xxx
K Akumulasi Depresiasi xxx
c. Penurunan nilai aset infak/shadaqah diakui sebagai :
1) Pengurangn dan infak/shadaqah, jika terjadi tidak disebabkan oleh kelalaian amil.
Jurnal :
D Penurunan Nilai xxx
K Aset Nonkas xxx
2) Kerugian dan pengurangan dana amil, jika disebabkan oleh kelalaian amil.
Jurnal :
D Kerugian Penurunan Nilai-Dana Amil xxx
K Aset Nonkas xxx
d. Penyaluran dana infak/shadaqah diakui sebagai pengurang dana infak/shadaqah sebesar :
1) Jumlah yang diserahkan, jika dalam bentuk kas.
Jurnal :
D Penyaluran Infak/Shadaqah xxx
K Kas xxx
2) Nilai tercatat aset yang diserahkan, jika dalam bentuk aset nonkas.
Jurnal :
D Penyaluran Infak/Shadaqah xxx
K Aset Nonkas xxx
e. Penyaluran infak/shadaqah oleh amil kepada amil lain merupakan penyaluran yang mengurangi dana infak/shadaqah sepanjang amil tidak akan menerima kembali aset infak/shadaqah yang disalurkan tersebut.
Jurnal :
D Penyaluran Infak/Shadaqah xxx
K Kas xxx
f. Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut terkait dengan transaksi infak/shadaqah, tetapi tidak terbatas pada :
1) Kebijakan penyaluran infak/shadaqah, seperti penentuan skala prioritas penyaluran dan penerimaan;
2) Kebijakan pembagian antara dana amil dan dana non-amil atas penerimaan infak/shadaqah, seperti persentase pembagian, alasan, dan konsistensi kebijakan;
3) Metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan infak/shadaqah berupa aset nonkas;
4) Keberadaan dana infak/shadaqah yang tidak langsung disalurkan tetapi dikelola terlebih dahulu, jika ada, maka harus diungkapkan jumlah dan persentase dari seluruh penerimaan infak/shadaqah selama periode pelaporan serta alasannya;
5) Hasil yang diperoleh dari pengelolaan yang dimaksud di huruf (d) diungkapkan secara terpisah;
6) Penggunaan dana infak/shadaqah menjadi aset kelolaan yang diperuntukan bagi yang berhak, jika ada, jumlah dan persentase terhadap seluruh penggunaan dana infak/shadaqah serta alasannya;
7) Rincian dana infak/shadaqah berdasarkan peruntukannya, terikat dan tidak terikat; dan
8) Hubungan pihak-pihak berelasi antara amil dengan penerima infak/shadaqah yang meliputi:
a) Sifat hubungan istimewa;
b) Jumlah dan jenis aset yang disalurkan; dan
c) Persentase dari aset yang disalurkan tersebut dari total penyaluran selama periode.
9) Keberadaan dana non halal, jika ada, diungkapkan mengenai kebijakan atas penerimaan dan penyaluran dana, alasan, dan jumlahnya; dan
10) Kinerja amil atas penerimaan dan penyaluran dana zakat dan dana infak/shadaqah.66
3. Laporan Keuangan Lembaga Amil
Amil menyajikan dana zakat, dana infak/shadaqah, dana amil, dan dana non-halal secara terpisah dalam neraca (laporan posisi keuangan).
Laporan keuangan amil terdiri dari :67 a. Neraca (Laporan Posisi Keuangan)
Entitas amil menyajikan pos-pos dalam neraca (laporan posisi keuangan) dengan memperhatikan ketentuan dalam PSAK terkait, yang mencakup, tetapi tidak terbatas pada: Aset (a) kas dan setara kas (b) instrumen keuangan (c) piutang (d) aset tetap dan akumulasi penyusutan Kewajiban (e) biaya yang masih harus dibayar (f) kewajiban imbalan kerja Saldo dana (g) dana zakat (h) dana infak/sedekah (i) dana amil (j) dana nonhalal.
66 Sri Nurhayati dan Wasilah, . . . . .halaman 312-319.
67 Ikatan Akuntansi Indonesia, Exposure Draft (ED) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 109 Akuntansi Zakat dan Infak/Shadaqah, 2008, Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan.
b. Laporan Perubahan Dana.
Amil menyajikan laporan perubahan dana zakat, dana infak/sedekah, dana amil, dan dana nonhalal. Penyajian laporan perubahan dana mencakup, tetapi tidak terbatas pada pos-pos berikut:
Dana zakat (a) Penerimaan dana zakat (i) Bagian dana zakat (ii) Bagian amil, (b) Penyaluran dana zakat (i) Entitas amil lain (ii) Mustahiq lainnya, (c) Saldo awal dana zakat, (d) Saldo akhir dana zakat.
Dana infak/sedekah (e) Penerimaan dana infak/sedekah (i) Infak/sedekah terikat (muqayyadah) (ii) Infak/sedekah tidak terikat (mutlaqah), (f) Penyaluran dana infak/sedekah (i) Infak/sedekah terikat (muqayyadah) (ii) Infak/sedekah tidak terikat (mutlaqah), (g) Saldo awal dana infak/sedekah, (h) Saldo akhir dana infak/sedekah.
Dana amil (i) Penerimaan dana amil (i) Bagian amil dari dana zakat (ii) Bagian amil dari dana infak/sedekah (iii) Penerimaan lainnya, (j) Penggunaan dana amil (i) Beban umum dan administrasi, (k) Saldo awal dana amil, (l) Saldo akhir dana amil.
Dana nonhalal (m) Penerimaan dana nonhalal (i) Bunga bank (ii) Jasa giro (iii) Penerimaan nonhalal lainnya, (n) Penyaluran dana nonhalal, (o) Saldo awal dana nonhalal, (p) Saldo akhir dana nonhalal.
c. Laporan Perubahan Aset Kelolaan.
Entitas amil menyajikan laporan perubahan aset kelolaan yang mencakup tetapi tidak terbatas pada: (a) Aset kelolaan yang termasuk aset lancar (b) Aset kelolaan yang termasuk tidak lancar dan akumulasi penyusutan (c) Penambahan dan pengurangan (d) Saldo awal (e) Saldo akhir.
d. Laporan Arus Kas.
Entitas amil menyajikan laporan arus kas sesuai dengan PSAK 2.
e. Catatan atas Laporan Keuangan.
Amil menyajikan catatan atas laporan keuangan sesuai dengan PSAK 101.