Dasar Pertimbangan Majelis Hakim Dalam Memutus Perkara Tindak Pidana Pemalsuan Surat: Studi Kasus Putusan Nomor
1457/Pid.B/2019/PN Jkt.Utr
Anggieta Rizkyardya Chaerunnisa, Wahyu Mustajab Sekolah Tinggi Ilmu Hukum IBLAM
Email : [email protected], Wahyu [email protected] ABSTRAK
Penulisan karya ilmiah ini dilatarbelakangi karena adanya berbagai macam tindak pidana pemalsuan surat. Salah satu kasus yang terjadi dan penulis jadikan sebagai studi kasus yaitu tindak pidana pemalsuan buku nikah (Marriage Book). Menurut Adami Chazawi dalam bukunya yang berjudul Kejahatan Terhadap Pemalsuan, Pemalsuan merupakan kejahatan yang didalamnya mengandung unsur keadaan ketidak benaran atau palsu atas sesuatu (objek), yang sesuatunya itu tampak dari luar seolah-olah benar adanya padahal sesungguhnya bertentangan dengan yang sebenarnya. Adapun permasalahan yang dibahas dalam kaya tulis ini adalah Bagaimana Ketentuan Hukum Tentang Tindak Pidana Pemalsuan Surat dan Bagaimana dasar pertimbangan Majelis Hakim dalam memutus perkara nomor 1457/Pid.B/2019/PN Jkt.Utr. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian normatif yang menitikberatkan pada penelitian kepustakaan untuk memperoleh data sekunder dari bahan-bahan hukum. Pendekatan normatif dilakukan dengan cara mengkaji ketentuan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketentuan hukum yang berkaitan dengan pemalsuan surat telah diatur dalam Kitab Undang-undang hukum pidana (KUHP) pasal 263 dengan ancaman hukuman enam tahun kurungan penjara.
Kata Kunci : Pemalsuan Surat Sanksi Pidana
PENDAHULUAN
Melihat perkembangan zaman saat ini, cukup banyak permasalahan pidana yang terjadi, baik permasalahan yang menimbulkan kerugian pada suatu individu, kelompok, masyarakat, ataupun negara. Permasalahan yang cukup banyak terjadi di lingkungan masyarakat salah satunya adalah kejahatan pemalsuan, yang dapat mengakibatkan seseorang atau suatu pihak merasa dirugikan. Hal inilah yang membuat pemalsuan ini diatur dan termasuk suatu tindak pidana. Tindak pidana pemalsuan telah dimuat dalam Pasal 263 KUHP terkait membuat surat palsu dan memalsukan surat.20 Ketentuan pidana dalam Pasal 263 KUHP yaitu:
1. “Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat, yang dapat menerbitkan sesuatu hak, suatu perjanjian (kewajiban), atau sesuatu pembebasan utang, atau yang boleh dipergunakan sebagai keterangan bagi sesuatu perbuatan, dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan suratsurat itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, maka kalau
20 P.A.F.Lamintang dan Theo Lamintang,2013, “Delik-delik Khusus Kejahatan Membahayakan Kepercayaan Umum terhadap Surat, Alat Pembayaran, Alat Bukti, dan Peradilan”, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 4
menggunakannya dapat mendatangkan sesuatu kerugian dihukum karena pemalsuan surat, dengan hukuman penjara selama-lamanya enam tahun”.
2. “Dengan hukuman serupa itu juga dihukum, barangsiapa dengan sengaja menggunakan surat palsu atau yang dipalsukan itu seolah-olah surat asli dan tidak dipalsukan, kalau hal ini mempergunakan dapat mendatangkan sesuatu kerugian”.21 Kejahatan mengenai pemalsuan atau disingkat kejahatan pemalsuan adalah berupa kejahatan yang didalamnya mengandung unsur keadaan ketidakbenaran atau palsu atas sesuatu (objek), tampak dari luar seolah-olah benar adanya padahal sesungguhnya bertentangan dengan yang sebenarnya.22 Untuk mempermudah dalam penyusunan penelitian ini, rumusan masalah yang akan dibahas adalah:
1. Bagaimana Ketentuan Hukum Tentang Tindak Pidana Pemalsuan Surat?
2. Bagaimana dasar pertimbangan Majelis Hakim dalam memutus perkara nomor 1457/Pid.B/2019/PN Jkt.Utr?
METODE PENELITIAN
Metode Penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip- prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi.23 Metode menurut Setiono adalah suatu alat untuk mencari jawaban dari pemecahan masalah, oleh karena itu suatu metode atau alatnya harus jelas terlebih dahulu apa yang akan dicari.24
HASIL DAN PEMBAHASAN Ketentuan Hukum Tentang Tindak Pidana Pemalsuan Surat.
Pemalsuan berasal dari kata palsu yang berarti “tidak tulen, tidak sah, tiruan, gadungan, sedangkan pemalsuan masih dari sumber yang sama diartikan sebagai proses, cara, perbuatan memalsu”.25 Palsu menandakan suatu barang tidak asli, sedangkan pemalsuan adalah proses pembuatan sesuatu barang yang palsu. Sehingga dengan demikian dari kata pemalsuan ada terdapat pelaku, ada barang yang dipalsukan dan ada tujuan pemalsuan.26
Kejahatan pemalsuan adalah kejahatan yang di dalamnya mengandung sistem ketidak benaran atau palsu atas suatu hal (objek) yang sesuatunya itu nampak dari luar seolah-olah benar adanya, padahal sesungguhnya bertentangan dengan yang sebenarnya.27
Selanjutnya menurut Adami Chazawi, pembedaan prinsip antara perbuatan membuat surat palsu dan memalsu surat adalah :
21 R.Soesilo, 1995, “Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal”, Politeia:Bogor, hlm. 195
22 Adami Chazawi, Kejahatan Terhadap Pemalsuan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2000), hlm. 3
23 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2005), hlm. 35
24 Setiono, Pemahaman terhadap Metode Penelitian Hukum, (Surakarta: Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana UNS, 2002), hlm. 1
25 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PN. Balai Pustaka, 2008), hlm.. 817.
26 Ibid
27 Ismu Gunadi dan kawan-kawan, Cepat Mudah Memahami Hukum Pidana, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2011), hlm. 89.
1. Bahwa membuat surat palsu/membuat palsu surat, sebelum perbuatan dilakukan, sebelum ada surat, kemudian dibuat suatu surat yang isinya sebagian atau seluruhnya adalah bertentangan dengan kebenaran atau palsu. Seluruh tulisan dalam surat itu dihasilkan oleh perbuatan membuat surat palsu. Surat yang demikian disebut dengan surat palsu atau surat tidak asli.
2. Sedangkan dengan perbuatan memalsu surat, sebelum perbuatan ini dilakukan, sudah ada sebelum surat disebut surat asli. Kemudian pada surat asli ini terhadap isinya termasuk tanda tangan dan nama si pembuat asli dilakukan perbuatan memalsu yang akibatnya surat yang semula benar menjadi surat yang sebahagian atau seluruh isinya tidak benar dan bertentangan dengan kebenaran. Surat yang demikian disebut dengan surat yang dipalsu.28
Pemalsuan surat diatur dalam Bab XII buku II KUHP, dari Pasal 263 KUHP sampai dengan Pasal 276 KUHP, yang dapat dibedakan menjadi tujuh macam kejahatan pemalsuan surat, yaitu :
1. Pemalsuan surat pada umumnya : bentuk pokok pemalsuan surat (Pasal 263 KUHP) 2. Pemalsuan surat yang diperberat (Pasal 264 KUHP)
3. Menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam akte autentik (Pasal 266 KUHP).
4. Pemlasuan surat keterangan dokter (Pasal 267 dan Pasal 268 KUHP) 5. Pemalsuan surat-surat tertentu (Pasal 269, 270, 271 KUHP)
6. Pemalsuan surat keterangan Pejabat tentang hak milik (Pasal 274 KUHP) 7. Menyimpan bahan atau benda untuk pemalsuan surat (Pasal 275 KUHP).29
Dasar Pertimbangan Majelis Hakim dalam Memutus Perkara Nomor 1457/Pid.B/2019/PN Jkt.Utr
Berawal saat Sdr. Muhamad Yusup Bin Jembar (dilakukan penuntutan dalam berkas terpisah) memesan 2 (dua) pasang blangko buku nikah kosong atau 4 (empat) buah blangko buku nikah kosong kepada terdakwa lalu disepakati harga 1 (satu) pasang blangko buku nikah kosong adalah Rp. 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah). Atas pesanan dari Sdr. Muhamad Yusup Bin Jembar kemudian pada hari Senin tanggal 16 September 2019 bertempat di Jalan Lontar V/46 RT.001 RE.010 Kel. Tugu Utara Kec. Koja Jakarta Utara, terdakwa bertemu dengan dan Sdr. Muhamad Yusup Bin Jembar dengan tujuan menyerahkan 2 (dua) pasang blangko buku nikah kosong atau 4 (empat) buah blangko buku nikah kosong kepada Sdr. Muhamad Yusup Bin Jembar selain itu juga terdakwa menerima uang pembayaran 2 (dua) pasang blangko buku nikah kosong tersebut sebesar Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah);
Bahwa setelah Sdr. Muhamad Yusup Bin Jembar menerima 2 (dua) pasang blangko buku nikah kosong atau 4 (empat) buah blangko buku nikah kosong kemudian Sdr.
Muhamad Yusup Bin Jembar menjualnya kepada Sdr. Sumardi alias Wading Bin Abdul Somad (dilakukan penuntutan dalam berkas terpisah) atas pesanan dari Sdr. Edi Rusdianto, SH dan Sdr. Dwi Sakti Himawanto selaku petugas kepolisian yang sedang melakukan penyamaran;
Namun sebelum Sdr. Sumardi alias Wading Bin Abdul Somad menyerahkan 2 (dua) pasang blangko buku nikah kosong kepada Sdr. Edi Rusdianto, SH, terlebih dahulu Sdr.
Sumardi alias Wading Bin Abdul Somad mengisi blangko buku nikah dengan nomor seri
28 Adami Chazawi, 2011, Kejahatan Mengenai Pemalsuan, Jakarta, Raja Grafindo Persada, hlm.90
29 Ibid, hlm.98
7164221 atau dengan nomor register : 762/76/VII/2015 tertanggal 08 Juli 2015 atas nama Sudrajat Bin Darma dan Fatiyatun Binti Hasan sesuai dengan permintaan yang tertera pada formulir identitas lalu menempelkan pas foto pria wanita dan memberikan stempel nama yaitu Muis Sunarya, SAG, NIK 150285539, memberi stempel Kantor Urusan Agama (KUA) Departemen Agama Kecamatan Cilincing dan memberi stempel tulisan Cilincing Jakarta Utara DKI Jakarta sehingga seolah-olah isinya adalah benar dan tidak dipalsu;
Bahwa berdasarkan barang bukti oleh Badan Reserse Kriminal POLRI Pusat Laboratorium Forensik yang tercantum dalam Berita Acara Pemeriksaan Laboratoris Kriminalistik No Lab: 4528/DCF/2019 yang ditandatangani oleh Pemeriksa Erzyanto Yukama, ST dan Heribertus Setyowidiasmoro, S.Si, SIK MH dan Rian Aprilian S.Si dari hasil pemeriksaan disimpulkan bahwa : 1 (satu) buah Buku Nikah (Marriage Book) dengan cover warna hijau Nomor : 762/76/VII/2015 tanggal 08 Juli 2015 bukti (QB-1) adalah Non Identik atau merupakan produk cetak yang berbeda dengan pembanding (KB-1) dan 1 (satu) buah Buku Nikah (Marriage Book) dengan cover warna Coklat Nomor : 762/76/VII/2015 tanggal 08 Juli 2015 bukti (QB-2) adalah Non Identik atau merupakan produk cetak yang berbeda dengan pembanding (KB-2);
Berdasarkan keterangan Sdr. H. Amar Hasan, M.Com.I selaku Kepala Kantor Urusan Agama Cilincing Jakarta Utara bahwa buku nikah dengan nomor seri 7164221 atau dengan nomor register : 762/76/VII/2015 tertanggal 08 Juli 2015 tidak teregister pada Kantor Urusan Agama Cilincing Jakarta Utara;
Bahwa akibat perbuatan terdakwa tersebut, pihak Kantor Urusan Agama (KUA) Cilincing dirugikan nama baiknya.
Dasar Pertimbangan Majelis Hakim30
Menimbang, bahwa Terdakwa didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan tunggal yaitu Pasal 263 ayat (1) jo Pasal 56 ke-2 KUH Pidana;
Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa telah didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan yang berbentuk alternatif, sehingga berdasarkan fakta hukum yang terungkap dipersidangan Majelis Hakim akan membuktikan dakwaan alternatif kedua sebagaimana diatur dalam Pasal 263 ayat (1) jo Pasal 56 ke-2 KUH Pidana, yang unsur- unsurnya adalah sebagai berikut:
1. Barang siapa,
2. Membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal,
3. Dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu,
4. Jika pemakaian itu menimbulkan kerugian;
Menimbang, bahwa unsur-unsur tersebut akan dipertimbangkan sekaligus sebagai berikut dibawah ini;
Unsur barang siapa;
Bahwa, unsur ini perlu dipertimbangkan agar tidak terjadi kesalahan mengenai orangnya (error in persona). Yang dimaksud “ barang siapa” adalah siapa saja baik orang
30 Ibid
ataupun badan hukum sebagai subyek hukum yang mempunyai kemampuan untuk bertanggung jawab secara pidana;
Bahwa, terdakwa Abdul Hanan Bin Ahmad Rebo dengan identitas selengkapnya sebagaimana dalam dakwaan Penuntut Umum telah diajukan kepersidangan, dimana dari keterangan saksi-saksi dan keterangan terdakwa, membenarkan bahwa terdakwa sebagai orang yang dimaksud oleh Penuntut Umum dalam surat dakwaan;
Bahwa, Majelis meyakini terdakwalah sebagai orang yang dimaksud oleh Penuntut Umum dalam dakwaannya, sehingga tidak terjadi kesalahan mengenai orangnya terlepas dari pertimbangan tentang kesalahannya yang akan dibuktikan lebih lanjut dalam unsur-unsur berikutnya;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, maka unsur
“barang siapa” telah terpenuhi;
Membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal;
Menimbang, bahwa menurut Soesilo bentuk pemalsuan surat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
- Membuat surat palsu : membuat isinya bukan semestinya (tidak benar);
- Memalsu surat : mengubah surat sedemikian rupa sehingga isinya menjadi lain dari isinya yang asli. Caranya bermacam-macam, tidak senantiasa surat itu diganti dengan yang lain, dapat pula dengan cara mengurangkan, menambahkan atau merubah sesuatu dari surat itu.
- Memalsu tanda tangan juga termasuk pengertian memalsu surat;
- Penempatan foto orang lain dari pemegang yang berhak;
Menimbang, bahwa sebagaimana fakta hukum dipersidangan mendapatkan blangko Buku Nikah Nomor 7164221 warna merah dan warna Hijau tersebut yang belum di isi dan stempel / cap tersebut dengan cara membelinya seharga Rp. 60.000,- (dapat dua buah) dari Sdri Ati Susadi cara pesan lewat telepon, dan nanti diantar oleh kurirnya bernama Sdr. Iwan ke lokasi Halte bus Lampiri belakang Hero Kalimalang. bayarnya cash saat barang di terima, untuk cara pesan lewat HP pada pagi hari kemudian diambil pada siang harinya namun terkadang menunggu sampai 3 hari;
Menimbang, bahwa sesuai dengan alat bukti surat berupa Berita Acara Pemeriksaan Laboratoris Kriminalistik No Lab : 4528/DCF/2019 yang ditandatangani oleh Pemeriksa Erzyanto Yukama, ST dan Heribertus Setyowidiasmoro, S.Si, SIK MH dan Rian Aprilian, S.Si dari hasil pemeriksaan disimpulkan :
- 1 (satu) buah Buku Nikah (Marriage Book) dengan cover warna hijau Nomor:
762/76/VII/2015 tanggal 08 Juli 2015 bukti (QB-1) adalah Non Identik atau merupakan produk cetak yang berbeda dengan pembanding (KB-1);
- 1 (satu) buah Buku Nikah (Marriage Book) dengan cover warna Coklat Nomor:
762/76/VII/2015 tanggal 08 Juli 2015 bukti (QB-2) adalah Non Identik atau merupakan produk cetak yang berbeda dengan pembanding (KB-2);
Menimbang, bahwa dari pertimbangan tersebut diatas, Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur ini, telah terpenuhi;
Dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat
tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu;
Menimbang, bahwa 2 (dua) pasang blangko buku nikah kosong atau 4 (empat) buah blangko buku nikah kosong dan selanjutnya Terdakwa memasukkan datanya ke dalam buku tersebut adalah bukan merupakan kewenangan dari terdakwa, karena yang berhak membuat dan mengeluarkan buku Nikah Kantor Urusan Agama Cilincing Jakarta Utara.
Menimbang, bahwa buku nikah dengan nomor seri 7164221 atau dengan nomor register : 762/76A/II/2015 tertanggal 08 Juli 2015 dapat digunakan sebagaimana mestinya padahal keyataanya buku tersebut adalah palsu; Menimbang, bahwa dari pertimbangan tersebut diatas, Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur ini, telah terpenuhi;
Jika pemakaian itu menimbulkan kerugian;
Menimbang, bahwa sebagaimana fakta yang terungkap dipersidangan akibat adanya buku nikah dengan nomor seri 7164221 atau dengan nomor register : 762/76A/II/2015 tertanggal 08 Juli 2015 palsu, menimbulkan kerugian bagi pihak Kantor Urusan Agama (KUA) Cilincing dirugikan nama baiknya;
Menimbang, bahwa dengan demikian unsur ini juga telah terpenuhi; Menimbang, bahwa dalam persidangan, Majelis Hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka Terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya;
Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa mampu bertanggung jawab, maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana; Menimbang, bahwa dalam perkara ini terhadap Terdakwa telah dikenakan penangkapan dan penahanan yang sah, maka masa penangkapan dan penahanan tersebut harus dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan; Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa ditahan dan penahanan terhadap Terdakwa dilandasi alasan yang cukup, maka perlu ditetapkan agar Terdakwa tetap berada dalam tahanan; Menimbang, bahwa sebelum Majelis Hakim menjatuhkan pidana perlu mempertimbangkan keadaan yang memberatkan maupun yang meringankan;
Keadaan yang memberatkan:
- Perbuatan Terdakwa merugikan pihak lain;
Keadaan yang meringankan:
- Terdakwa sopan dan menyesali perbuatannya;
- Terdakwa belum pernah di hukum;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana tersebut diatas, maka hukuman yang akan dijatuhkan sebagaimana dibawah ini dipandang adil dan pantas sesuai dengan kesalahannya; Menimbang, bahwa barang bukti berupa: 1 (satu) pasang atau 2 (dua) buah buku nikah yang diduga palsu dengan nomor seri 7164221 atas nama Sudrajat dan Fatiyatun, 1 (satu) pasang atau 2 (dua) buah buku nikah yang diduga palsu dengan nomor seri 3226948 atas nama Yasin dan Siti Rokiyah, 2 (dua) buah buku nikah istri warna hijau dengan nomor seri 7167166 dan 1908209, 1 (satu) unit handphone merk Xiaomi Redmi I warna gold Provider Simpati dengan Nomor 081315446517, 1 (satu) buah stempel yang bertuiskan Koja Jakarta Utara DKI Jakarta, 1 (satu) buah stempel yang bertuiskan Cilincing Jakarta Utara DKI Jakarta, 1 (satu) buah stempel yang bertuiskan Muis Sunarya SAg NIP. 150285 539,1 (satu) buah stempel yang bertuliskan Departemen Agama Kecamatan Cilincing Kantor Urusan Agama Cilincing Jakarta Utara, 1 (satu) buah stempel yang bertuliskan Kementerian Agama Kecamatan Cilincing Kantor Urusan Agama Cilincing Jakarta Utara, 1 (satu) buah stempel yang
bertuliskan Departemen Agama Kecamatan Koja Kantor Urusan Agama Koja Jakarta Utara, 1 (satu) buah stempel warna ungu merk HERO STAM PAD, digunakan dalam perkara lain, 1 (satu) buah kertas putih berisi 2 (dua) pasang buku nikah suami istri dalam keadaan kosong, 1 (satu) buah handphone merk Samsung type Caramel G1-E1272 dengan Provider XL dengan nomor 087772469859, dirampas Untuk Dimusnahkan.
Amar Putusan
Adapun amar putusan majelis dalam perkara tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut:
1. Menyatakan Terdakwa Abdul Hanan Bin Ahmad Rebo telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “bersama-sama melakukan pemalsuan surat’’;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana Penjara selama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan;.
Analisis
Pertimbangan Majelis Hakim merupakan salah satu aspek yang terpenting dalam menentukan terwujudnya nilai dari suatu putusan hakim yang mengandung keadilan (ex aequo et bono), kepastian hukum dan manfaat bagi para pihak yang bersangkutan.
Sehingga pertimbangan hakim harus disikapi dengan teliti, baik, dan cermat.
Permasalahan yang diangkat sebagai topik dalam penelitian ini adalah mengenai ketentuan Hukum Tentang Tindak Pidana Pemalsuan Surat dan dasar pertimbangan Majelis Hakim dalam memutus perkara nomor 1457/Pid.B/2019/PN Jkt.Utr. Dalam putusan tersebut diatas, proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Majelis Hakim menurut Penulis sudah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku seperti yang dipaparkan oleh penulis sebelumnya, yaitu berdasarkan dua alat bukti yang sah.
Lalu kemudian mempertimbangkan tentang pertanggungjawaban pidana, dalam hal ini Majelis Hakim berdasarkan fakta-fakta yang timbul dipersidangan menilai bahwa terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatan yang dilakukan dengan pertimbangan bahwa pada saat melakukan perbuatannya, terdakwa sadar akan akibat yang ditimbulkan. Terdakwa dalam melakukan perbuatannya berada pada kondisi yang sehat dan cakap untuk mempertimbangkan perbuatannya.
Tindak pidana berupa pemalsuan surat/ data ketentuannya ada dalam Pasal 263 sampai dengan Pasal 265 KUHP. R Soesilo dalam bukunya (hal. 195) mengatakan bahwa yang diartikan dengan surat dalam bab ini adalah segala surat, baik yang ditulis dengan tangan, dicetak, maupun ditulis memakai mesin tik, dan lain-lainnya.31
Adapun bentuk-bentuk pemalsuan surat itu menurut Soesilo dilakukan dengan cara:32
1. Membuat surat palsu: membuat isinya bukan semestinya (tidak benar).
2. Memalsu surat: mengubah surat sedemikian rupa sehingga isinya menjadi lain dari isi yang asli. Caranya bermacam-macam, tidak senantiasa surat itu diganti dengan yang lain, dapat pula dengan cara mengurangkan, menambah atau merubah sesuatu dari surat itu.
31 Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, (Jakarta: Citra Aditya Bakti, 1993), hlm. 12
32 R. Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, (Bogor: Politea, 1976), hlm. 195
3. Memalsu tanda tangan juga termasuk pengertian memalsu surat.
4. Penempelan foto orang lain dari pemegang yang berhak (misalnya foto dalam ijazah sekolah).
Unsur-unsur pidana dari tindak pidana pemalsuan surat selain yang disebut di atas adalah:33
1. Pada waktu memalsukan surat itu harus dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan surat itu seolaholah asli dan tidak dipalsukan;
2. Penggunaannya harus dapat mendatangkan kerugian. Kata “dapat” maksudnya tidak perlu kerugian itu betul-betul ada, baru kemungkinan saja akan adanya kerugian itu sudah cukup;
3. Yang dihukum menurut pasal ini tidak saja yang memalsukan, tetapi juga sengaja menggunakan surat palsu. Sengaja maksudnya bahwa orang yang menggunakan itu harus mengetahui benar-benar bahwa surat yang ia gunakan itu palsu. Jika ia tidak tahu akan hal itu, ia tidak dihukum. Sudah dianggap “mempergunakan” misalnya menyerahkan surat itu kepada orang lain yang harus mempergunakan lebih lanjut atau menyerahkan surat itu di tempat dimana surat tersebut harus dibutuhkan.
4. Dalam hal menggunakan surat palsu harus pula dibuktikan bahwa orang itu bertindak seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, demikian pula perbuatan itu harus dapat mendatangkan kerugian.
KESIMPULAN DAN SARAN
Ketentuan mengenai tindak pidana pemalsuan surat diatur dalam Pasal diatur dalam Bab XII buku II KUHP, dari Pasal 263 KUHP sampai dengan Pasal 276 KUHP, yang dapat dibedakan menjadi tujuh macam kejahatan pemalsuan surat. Pertimbangan hukum Majelis Hakim dalam penjatuhan putusan dalam Putusan Nomor: 1457/Pid.B/2019/PN Jkt.Utr selain berdasar pada alat bukti yang sah yang terungkap di persidangan dan juga terpenuhinya unsur dari dakwaan Penuntut Umum yaitu menurut Pasal 263 ayat (1) jo Pasal 56 ke-2 KUH Pidana.
DAFTAR PUSTAKA
Adami Chazawi, 2011, Kejahatan Mengenai Pemalsuan, Jakarta, Raja Grafindo Persada Adami Chazawi, Kejahatan Terhadap Pemalsuan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2000)
Barda Nawawi Arief, Kebijakan Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002 Burhan Ashsofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Rineka Cipta,2007)
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PN. Balai Pustaka, 2008)
Harun M.Husen, 1990, Kejahatan dan Penegakan Hukum Di Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta
Ilhami Bisri, Sistem Hukum Indonesia: Prinsip-Prinsip & Implementasi Hukum di Indonesia, Rajawali Pers, Jakarta, 2012
Ismu Gunadi dan kawan-kawan, Cepat Mudah Memahami Hukum Pidana, (Jakarta:
Prestasi Pustaka, 2011)
Moeljatno, 1993, Asas-asas Hukum Pidana, Putra Harsa, Surabaya
33 Ibid., hlm. 196.
P.A.F.Lamintang dan Theo Lamintang,2013, “Delik-delik Khusus Kejahatan Membahayakan Kepercayaan Umum terhadap Surat, Alat Pembayaran, Alat Bukti, dan Peradilan”, Sinar Grafika, Jakarta
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2005) R. Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya
Lengkap Pasal Demi Pasal, (Bogor: Politea, 1976).
R.Soesilo, 1995, “Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar- Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal”, Politeia:Bogor,
Setiono, Pemahaman terhadap Metode Penelitian Hukum, (Surakarta: Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana UNS, 2002)
Soejono Soekamto dan Sri Mamudji, 1985, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif. Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003
Soerjono Soekanto, 1983, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, UI Pres, Jakarta
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas Indonesia press, 1986
Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, (Jakarta: Citra Aditya Bakti, 1993)
Suteki dan Galang TaufanMetodologi Penelitian Hukum: Filsafat, Teori dan Praktik, (Depok: Rajawali Pers, 2018),
Kitab Undang-undang hukum pidana (KUHP
Putusan Nomor Nomor 1457/Pid.B/2019/PN Jkt.Utr.
.