BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Kelurahan Pekayon Jaya 4.1.1 Batas Administratif dan Geografis
Kelurahan Pekayon Jaya merupakan salah satu kelurahan yang terdapat di Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi dengan luas wilayahnya kurang lebih 425 Hektar. Kelurahan Pekayon Jaya berbatasan dengan Kelurahan Marga Jaya dan Kelurahan Bojong Rawa Lumbu di sebelah Timur, sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Kayuringin Jaya, dan di sebelah Barat dan sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Jaka Setia.
Kelurahan Pekayon Jaya terletak 19 meter di atas permukaan laut dengan topografi daerahnya berupa dataran. Iklim di Kelurahan Pekayon Jaya tergolong ke dalam iklim tropis dengan suhu rata-ratanya adalah 30 derajat celcius dan curah hujan rata-rata 1941 mm/tahun. Jarak dari Kelurahan Pekayon Jaya ke pusat pemerintahan sangat dekat yaitu hanya berjarak satu kilometer dengan pusat pemerintahan Kecamatan, sedangkan jarak dari Kelurahan Pekayon Jaya dengan Ibukota Bekasi hanya berjarak tiga kilometer, dekatnya jarak tersebut memudahkan penduduk Kelurahan Pekayon Jaya dalam mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan pemerintahan.
4.1.2 Administratif Kewilayahan
Kelurahan Pekayon Jaya secara administrasi kewilayahan meliputi 12 Rukun Warga (RW), dan 62 Rukun Tetangga (RT). Berdasarkan data yang diperoleh dari Laporan Tahunan Kelurahan Pekayon Jaya tahun 2008 bahwa jumlah penduduk Kelurahan Pekayon Jaya adalah 46.325 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 10.460 KK. Penduduk pria di Kelurahan Pekayon Jaya sebanyak 23.390 jiwa, sedangkan penduduk wanita yaitu 22.938 jiwa.
4.1.3 Sosial Ekonomi Penduduk
Kondisi sosial ekonomi penduduk Kelurahan Pekayon Jaya menurut data yang diperoleh dari Laporan Tahunan Kelurahan Pekayon Jaya tahun 2008 menunjukan lebih dari 65 persen penduduk yaitu sekitar 30.579 jiwa memiliki mata pencaharian utama sebagai karyawan, baik sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), ABRI/Polri, Pegawai Swasta, dan lain-lain. Mata pencaharian lain yang dimiliki oleh penduduk Kelurahan Pekayon Jaya adalah sebagai wiraswasta, pertukangan, pensiunan, serta petani. Mata pencaharian penduduk sebagai petani dapat diperkirakan sebanyak satu persen, hal ini dapat terlihat dari penggunaan lahan yang digunakan. Lahan pertanian yang digunakan hanya satu Hektar tanah itu pun hanya sebagai sawah pasang surut, sebagian besar lahan lainnya yang terdapat di Kelurahan Pekayon Jaya digunakan untuk pemukiman penduduk serta untuk pembangunan berbagai sarana seperti sarana kesehatan, pendidikan, perekonomian, dan hiburan.
4.1.4 Sarana dan Prasarana Wilayah 4.1.4.1 Sarana Kesehatan
Kondisi sarana kesehatan di Kelurahan Pekayon Jaya sangat terbatas.
Terdapat satu Puskesmas yang dapat diakses oleh seluruh warga Kelurahan Pekayon Jaya. Selain itu terdapat dua klinik 24 jam, lima apotek serta satu tempat pengobatan tradisional. Meskipun tidak ada Rumah Sakit (RS), akan tetapi sarana pelayanan kesehatan yang terdapat di Kelurahan Pekayon Jaya sudah memadai bagi seluruh penduduk untuk pemenuhan pelayanan kesehatan.
4.1.4.2 Sarana Pendidikan
Kondisi sarana pendidikan yang terdapat di Kelurahan Pekayon Jaya sudah sangat memadai. Terdapat 16 Taman Kanak-Kanak (TK), sebelas Sekolah Dasar (SD), tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan dua Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain itu terdapat pula dua Pondok Pesantren, dua Madrasah Ibtidaiyah (MI) setara dengan SD, dua Madrasah Tsanawiyah (MTs) setara dengan SMP, serta satu Madrasah Aliyah (MA) setara dengan SMA. Berdasarkan
data yang diperoleh dari Laporan Tahunan Kelurahan Pekayon Jaya tahun 2008, dari 9.827 penduduk yang berusia di atas 19 tahun keseluruhannya memiliki tingkat pendidikan minimal SMA, lebih dari 50 persen penduduk mendapat gelar sarjana. Hal ini dapat menggambarkan bahwa tingkat pendidikan penduduk Kelurahan Pekayon Jaya cukup tinggi.
4.1.4.3 Sarana Perekonomian
Penduduk Kelurahan Pekayon Jaya cukup mudah dalam pemenuhan kebutuhannya sehari-hari. Hal tersebut dapat terlihat dari sarana perekonomian yang memadai seperti terdapatnya tiga swalayan, 27 toko, serta 53 warung milik penduduk. Selain itu di Kelurahan Pekayon Jaya juga terdapat dua mall yang dapat dimanfaatkan penduduk baik oleh penduduk Kelurahan Pekayon Jaya maupun oleh penduduk di luar Kelurahan Pekayon Jaya.
4.1.4.4 Sarana Hiburan
Dalam pemenuhan kebutuhan, selain kebutuhan mendasar kebutuhan tersier juga cukup terpenuhi. Hal ini dapat terlihat dari adanya fasilitas hiburan yang dapat dinikmati oleh penduduk di Kelurahan Pekayon Jaya. Terdapat satu hotel, sepuluh restaurant, dua cafe, dan dua bioskop yang dapat memenuhi kebutuhan tersier penduduk Kelurahan Pekayon Jaya.
4.2 Gambaran Umum Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah (RW 8, 9, 10 dan 11)
Perumahan Pondok Pekayon Indah merupakan salah satu perumahan yang terletak di Kelurahan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan. Akses menuju Perumahan Pondok Pekayon Indah tergolong baik. Pertama karena letaknya yang strategis sehingga dapat dilalui oleh angkutan perkotaan nomor 02 Pondok Gede, 05, 05A, dan 26A. Secara fisik jalan tersebut berupa jalan beraspal sehingga dapat dilalui oleh kendaraan roda dua dan juga roda empat. Kedua Perumahan Pondok Pekayon Indah relatif dekat dengan fasilitas umum seperti: (1) Rumah Sakit Budi Lestari
dan Global Awal Bros Hospital, (2) Universitas Gunadarma, (3) Pusat perbelanjaan seperti Mal Metropolitan (MM) Bekasi, Giant, Ramayana, Bekasi Cyber Park dan Bekasi Square.
4.2.1 Administrasi Kewilayahan Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah (RW 8, 9, 10 dan 11)
Berdasarkan data Laporan Tahunan Kelurahan Pekayon Jaya tahun 2008, diperoleh bahwa jumlah Rukun Tetangga (RT) Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah untuk RW 8, 9, 10 dan 11 sampai dengan Desember 2008 meliputi 16 RT. Sedangkan untuk jumlah penduduk dari 4 RW tersebut adalah 2.883 orang dengan jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 639 KK. Jumlah penduduk dan kepala keluarga untuk empat RW tersebut dapat terlihat pada Tabel 4 dibawah ini.
Tabel 4. Jumlah Penduduk, Rukun Tetangga dan Kepala Keluarga RW 8, 9, 10 dan 11
No Rukun Warga (RW) Jumlah Penduduk Jumlah kepala Keluarga (KK)
1. 8 758 122
2. 9 618 147
3. 10 770 177
4. 11 737 193
Sumber: Laporan Tahunan Kelurahan Pekayon Jaya Tahun 2008
4.2.2 Sosial Ekonomi Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah (RW 8, 9, 10 dan 11)
Mayoritas warga Kompleks Perumahan PPI RW 8, 9, 10 dan 11 beragama Islam. Terkait dengan agama, kelembagaan sosial keagamaan yang terdapat di RW 8, 9, 10 dan 11 adalah Majelis Ta’lim dan pengajian. Kelembagaan sosial lainnya yang terdapat di RW 8, 9, 10 dan 11 adalah arisan RW dan RT. Bangunan fisik yang terdapat di RW 8, 9, 10 dan 11 Perumahan Pondok Pekayon Indah meliputi:
1. Masjid Daarussalam yang terdiri dari sekolah Taman Kanak-Kanak Islam, MI, MTS dan MA serta Daarussalam Medical Center.
2. Taman Bacaan (Manca), merupakan Taman Bacaan yang didirikan oleh Pengurus GPL pada 5 Mei 2005. Manca merupakan Taman Bacaan yang dapat dimanfaatkan oleh warga Kompleks Perumahan PPI (khususnya anak-anak) maupun warga di luar Kompleks Perumahan PPI untuk menambah pengetahuan. Fungsi lain dari Manca adalah sebagai balai pertemuan atau tempat penyuluhan dan pelatihan GPL, serta tempat pemasaran pupuk kompos dan hasil produksi keterampilan dari limbah kain perca GPL.
3. Rumah Perca yang bertempat di Taman Bacaan (Manca) karena selain digunakan sebagai taman bacaan, Manca juga digunakan sebagai tempat pembuatan keterampilan dari limbah kain perca GPL serta tempat penyimpanan bahan dasar dan hasil keterampilan dari limbah kain perca tersebut.
4. Unit Pengelolaan Kompos Kawasan, yang didirikan pada 21 Februari 2006. Di tempat ini selain untuk proses pembuatan kompos kawasan dari mulai pengumpulan sampah organik sampai ke tahap akhir yaitu pengepakkan juga merupakan tempat penghijauan dan pembibitan GPL. Selain itu, tempat ini juga berfungsi sebagai tempat untuk menjamu tamu kunjungan yang datang ke GPL.
4.2.3 Lingkungan Hidup Perumahan Pondok Pekayon Indah (RW 8, 9, 10 dan 11)
Kondisi jalan di lingkungan RW 8, 9, 10 dan 11 berupa jalan beraspal yang dapat dilalui oleh sepeda motor, mobil, dan angkutan umum (nomor 26A).
Suhu di wilayah RW 8, 9, 10, dan 11 Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah (PPI) cukup sejuk. Hal ini dikarenakan letak rumah di lingkungan tersebut berdekatan sehingga dapat menghalangi pantulan sinar matahari. Selain itu, warga RW 8, 9, 10 dan 11 juga rajin menanam tanaman dan pekarangan rumah atau halamannya, di sepanjang jalan, dan juga dengan cara menggantung tanaman di
jalan depan rumah mereka. Tanaman-tanaman ini dapat menambah kesejukkan yang terdapat di lingkungan RW 8, 9, 10 dan 11.
Sampah yang terdapat di RW 8, 9, 10 dan 11 mayoritas berasal dari sampah domestik atau sampah rumah tangga, baik berupa sampah organik, anorganik dan juga sampah B3. Sampah-sampah tersebut tergolong sebagai limbah padat domestik yang merupakan bahan sisa proses produksi atau hasil sampingan kegiatan rumah tangga. Sampah-sampah tersebut dipisahkan lagi untuk dimanfaatkan kembali, seperti untuk sampah organik dikumpulkan secara komunal dan dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan kompos, sedangkan sampah anorganik yang ada masih dimanfaatkan oleh pemulung.
Pemerintah Daerah Kelurahan Pekayon Jaya juga menyediakan sarana dan prasarana kebersihan untuk tiap RW di wilayahnya. Sarana kebersihan tersebut berupa tong sampah, gerobak dan petugas kebersihan. Akan tetapi untuk RW 8, 9, 10 dan 11 terdapat penambahan berupa tong sampah kompos yang merupakan tong khusus untuk pengumpulan sampah organik di RW tersebut. Selain itu, terdapat juga Baktor atau gerobak pengangkut sampah organik yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kompos dengan diangkut oleh petugas pengangkut sebanyak 2 orang. Sarana lain yang terdapat di RW 8, 9 , 10 dan 11 yaitu adanya papan himbauan yang berisi mengenai pentingnya menjaga lingkungan sekitar.
BAB V
GERAKAN PEDULI LINGKUNGAN (GPL)
5.1 Sejarah Berdirinya GPL
Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) adalah kelompok masyarakat yang mempunyai komitmen tinggi dalam upaya turut melestarikan lingkungan hidup di Indonesia pada umumnya dan di lingkungan mereka sendiri yaitu Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah (PPI) pada khususnya. Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) berdiri pada tanggal 4 April 2003 yang dipelopori oleh Majelis Ta’lim Ibu-ibu Darussalam (MTIID) dan Himpunan Pemuda Pondok Pekayon Indah (HIPPI). Awal mula dibentuknya GPL adalah karena keprihatinan terhadap masalah sampah di sekitar mereka yaitu di daerah Bekasi Selatan, khususnya di sekitar Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah (PPI), misalnya seperti:
banyaknya tempat sampah liar di luar Kompleks Perumahan PPI yang memberikan dampak negatif pada daerah di dalam Kompleks Perumahan PPI serta bau sampah yang tercium hingga di dalam Kompleks Perumahan PPI. Oleh karena itu, dengan melihat secara langsung sebelumnya contoh pola pengelolaan sampah domestik yang terdapat di Kelurahan Banjarsari, Jakarta Pusat, serta dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan dengan didampingi oleh Ibu Jadi Soejono, mahasiswi S2 Universitas Indonesia, Psikologi Lingkungan, maka terbentuklah GPL yang saat ini diketuai oleh ibu Ir. Lala Gozali.
Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) mempunyai visi untuk menciptakan Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah menjadi lingkungan yang bersih, sehat, asri, harmoni dan lestari serta memberdayakan masyarakat dalam bidang pengelolaan dan pelestarian lingkungan. Sedangkan Misi dari GPL antara lain:
1. Menanamkan dan meningkatkan kesadaran dan wawasan masyarakat terhadap masalah lingkungan.
2. Menggalang dukungan dan partisipasi aktif dari setiap individu maupun kelompok masyarakat.
3. Melaksanakan secara swadaya dan swakarsa.
4. Membangun perilaku dan budaya baru berwawasan lingkungan secara berkelanjutan.
Program GPL yang utama adalah pemberdayaan masyarakat, pemilahan dan pengomposan sampah, serta pembibitan atau penghijauan. Beberapa Unit Pengembangan GPL yang sudah dibentuk yaitu: Unit Pengelolaan Kompos Kawasan, Unit Taman Bacaan, Unit Arisan GPL, Unit Buletin dan Unit GPL Kids. Gambar 3 merupakan struktur organisasi dari Gerakan Peduli Lingkungan (GPL):
Gambar 3. Struktur Organisasi GPL
Adapun program atau kegiatan yang dilaksanakan dari masing-masing kelompok kerja Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) diatas dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini:
Ketua RW/RT di PPI Ketua Wakil Ketua
Sekretaris
• Pemerintah
• Lembaga Swasta
• Pemerhati
• Donor Bendahara
Kelompok Kerja:
1. Pemberdayaan masyarakat 2. Humas
3. Pemilahan/Pengomposan 4. Keterampilan Limbah 5. Penghijauan dan Pembibitan 6. Keuangan
Block Leader (di 16 RT):
1. 4 RT di RW 8 2. 4 RT di RW 9 3. 4 RT di RW 10 4. 4 RT di RW 11
Unit Pengembangan:
1. Buletin GPL 2. Taman Bacaan
Kompleks Perumahan PPI 3. Arisan GPL
4. Pengelolaan Kompos Kawasan
5. GPL Kids
Tabel 5. Program atau Kegiatan GPL per Kelompok Kerja
No Kelompok Kerja (Pokja) Program atau Kegiatan
1. Pemberdayaan Masyarakat a. Program Paket Penyuluhan dan Promosi b. Program Peningkatan Kualitas Kader
Penyuluh
c. Program Penyuluhan ke PKK/RT/RW Kompleks Perumahan PPI
d. Program Penyuluhan ke Luar Kompleks Perumahan PPI
2. Humas a. Program Sosialisasi Ke Dalam Kompleks Perumahan PPI
b. Program Promosi GPL ke Luar Kompleks Perumahan PPI
c. Program Pencarian Dana ke Perusahaan (Corporate Social Responsibility)
3. Pemilahan/Pengomposan a. Program Penggalakan Pemilahan Sampah di 4 RW di Kompleks Perumahan PPI
b. Program Pembenahan Unit Pengelolaan Kompos Kawasan (penambahan beberapa unit bangunan fisik )
c. Pemasaran Kompos
4. Keterampilan Limbah a. Program Peningkatan Kualitas Produk b. Kerajinan Perca dan Plastik
c. Program Diversifikasi Produk d. Program Pemasaran
5. Penghijauan dan Pembibitan a. Program Penghijauan di Skala RT/RW b. Program Perbanyakan Tanaman c. Program Bertani Sayuran Organik d. Program Pembuatan TOGA per RW
e. Program Pemeliharaan Tanaman di Fasos (fasilitas sosial) atau taman
6. Keuangan a. Program Rencana Pengeluaran dan
Pemasukan Uang
b. Evaluasi Keuangan tiap Pokja per 3 bulan Sumber : Laporan Kegiatan GPL
5.2 Kegiatan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL)
Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) melaksanakan kegiatannya dengan target sasaran dari berbagai kalangan masyarakat, seperti siswa sekolah atau pelajar (terutama TK dan SD), anggota PKK (Program Kesejahteraan Keluarga),
RT, RW dan organisasi keagamaan di Komplek Perumahan Pondok Pekayon Indah. Beberapa Kegiatan yang telah dilakukan GPL pada tahun 2003-2007 antara lain:
1. Melakukan sosialisasi melalui media spanduk, papan slogan, leaflet, kaos, bendera, banner, dan lain-lain.
2. Mengadakan pelatihan Pengembangan Diri dan Kesehatan Lingkungan kepada pengurus Gerakan Peduli Lingkungan (GPL).
3. Melakukan penyuluhan Kesehatan Lingkungan dan Persampahan ke forum RT/RW, arisan, pengajian, dan masyarakat umum.
4. Membuat RT percontohan sebagai RT yang sudah menjaga kebersihan dengan baik (RT 3 dan RT 4 yang terletak di RW 11).
5. Membuat dua lokasi pembibitan dengan menggalakkan kembali kebun TOGA (Tanaman Obat Keluarga) dan membudidayakan sayuran organik di lahan percontohan.
6. Melakukan penghijauan di dua lokasi fasilitas umum yang terdapat di empat RW yaitu RW 8, 9, 10 dan 11.
7. Memproduksi keterampilan dari limbah kertas, plastik, dan kain.
8. Membentuk Unit Arisan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) yang diadakan pertemuannya setiap bulan.
9. Membentuk Unit Buletin Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) yang diterbitkan setiap 2 bulan untuk menyebarkan informasi mengenai kegiatan yang akan dan sudah dilakukan oleh GPL kepada masyarakat.
10. Membentuk Unit Pengelolaan Kompos Kawasan dan Unit GPL Kids.
11. Membangun Taman Bacaan PPI untuk Siswa TK, SD, SLTP bekerjasama dengan Yayasan Taman Baca Indonesia.
12. Mengadakan lomba-lomba bertemakan lingkungan.
13. Mengikuti acara seminar, lokakarya, sarasehan yang relevan.
14. Menerima kunjungan dari berbagai kelompok ibu-ibu, bapak-bapak, dan siswa sekolah.
15. Mengadakan aksi sosial seperti Gerakan penghijauan dan penutupan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) Liar.
Tahun 2007-2008, Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) ditunjuk sebagai Stakeholder PPK-IPM (Program Pendanaan Kompetisi - Indek Pembangunan Masyarakat) untuk Jawa Barat, dengan mengadakan kegiatan ToT (Training of Trainer) untuk 24 kader dan memandu kegiatan replikasi ke empat Kelurahan dengan jumlah peserta 100 orang.
Perumahan Pondok Pekayon Indah saat ini menjadi salah satu titik pantau penilaian program Adipura tingkat nasional karena dinilai telah secara proaktif melakukan kegiatan peningkatan lingkungan, khususnya proses pembuatan kompos kawasan dan penghijauan. Kegiatan pengelolaan sampah dan gerakan penghijauan yang telah dilakukan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) menghasilkan berbagai penghargaan seperti:
a. Juara I Lomba Kreatifitas Daur Ulang Sampah yang diselenggarakan oleh KLH dan MNUPW pada Desember 2003.
b. Penghargaan dalam bidang Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga dari Walikota Bekasi pada Desember 2004.
c. Penghargaan sebagai Pelopor Peduli Lingkungan dari Walikota Bekasi pada Juni 2005.
d. Juara II Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga Tingkat Provinsi Jabar dari Gubernur Jabar pada Juli 2005.
e. Juara I Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga Tingkat Kota Bekasi pada Juli 2005.
Dalam pelaksanaan berbagai program dan kegiatan GPL juga melakukan kerjasama dengan berbagai stakeholders. Berikut merupakan beberapa mitra kerja yang terlibat dalam kegiatan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL), yaitu:
Kementrian Negara Lingkungan Hidup (KNLH), APPB (Aliansi Perempuan dalam Pembangunan Berkelanjutan), JICA (Japan International Cooperation Agency), BPPT (Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi), Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Yayasan Mantif Indonesia, Yayasan Taman Baca Indonesia, Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Pemkot Bekasi, Dinas Sosial
Pemkot Bekasi, Dinas Kebersihan Pemkot Bekasi, Dinas Kesehatan Pemkot Bekasi, Kecamatan Bekasi Selatan, Kelurahan Pekayon Jaya, beberapa radio seperti Radio Dakta, Delta, dan Suara Metro, Stasiun Televisi seperti ANTV dan DAI TV, SD Al-azhar dan TK Tunas Jaka Sampurna, serta beberapa kelompok Majelis Ta’lim dan PKK.
5.3 Program Kerja Gerakan Peduli Lingkungan (GPL)
Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) memiliki beberapa program kerja yang akan dilaksanakan pada tahun 2008 s/d 2010 yaitu: Peningkatan kualitas lingkungan Perumahan Pondok Pekayon Indah serta program kerjasama. Dengan diadakannya peningkatan kualitas lingkungan diharapkan Perumahan Pondok Pekayon Indah dapat berkontribusi sebagai lokasi percontohan kawasan perumahan ramah lingkungan tingkat Nasional. Beberapa kegiatan yang akan dijalankan meliputi:
1. Penyuluhan kembali ke 16 RT, khususnya di forum arisan ibu-ibu PKK.
Beberapa alternatif materi yang dapat digunakan, yaitu: Pemanasan Global, Persampahan (Kesehatan Lingkungan, Pemilahan Sampah, Konsep 4R), Pengomposan Skala Rumah Tangga dan Kawasan, Bertani di Lahan Sempit, Pola Hidup Sehat dan Hemat.
2. Pelatihan atau ToT (Training of Trainer) bagi block leader, tim penyuluh dan mentor GPL Kids.
3. Mengembangkan 1 RT percontohan di 3 RW yang belum memiliki RT percontohan yaitu RW 8, 9 dan 10.
4. Membuat tempat pemilahan di beberapa titik untuk batu baterai dan plastik refill.
5. Menambah beberapa papan slogan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL).
6. Menggalakkan kembali Pengomposan Skala Rumah Tangga.
7. Menyediakan sarana pemilahan bahan organik di setiap RT yaitu 5-10 tong/RT untuk proses Pengomposan Skala Kawasan.
8. Membenahi dan melengkapi peralatan di lokasi Unit Pengelolaan Kompos Kawasan.
9. Meningkatkan jumlah dan kualitas lokasi pembibitan.
10. Melakukan penghijauan di jalan-jalan raya dan fasilitas umum.
11. Membuat taman TOGA (Tanaman Obat Keluarga) di masing-masing RW.
12. Menggalakkan penghijauan di rumah-rumah (setiap rumah disarankan menentukan tanaman unggulan yang dipelihara).
13. Meningkatkan produksi keterampilan dari limbah seperti: plastik, perca, botol, kulit telur, dan kertas.
14. Memperingati ulang tahun Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) setiap bulan April, dan Hari Kemerdekaan setiap bulan Agustus dengan mengadakan lomba-lomba yang memotivasi warga.
15. Menerbitkan buletin Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) dengan tampilan yang baru dan lebih baik, membentuk tim redaksi dan mendapatkan sponsor tetap 16. Merealisasikan program-program GPL Kids seperti: Program “Sahabat
Lingkungan” Cilik, Program Kreatifitas (Membuat Pin, Stiker, Mading, Papan slogan, Topi, Kaos dan lain-lain), Penyuluhan ke anak Taman Bacaan PPI (TK/SD).
17. Turut memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia setiap bulan Juni yaitu berupa kegiatan sosial yang dikoordinir oleh Gerakan peduli Lingkungan (GPL). Selain itu, juga dapat mengikuti program yang diadakan oleh Kementrian Negara Lingkungan Hidup atau kerjasama dengan lembaga atau instansi lainnya.
BAB VI
PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT GERAKAN PEDULI LINGKUNGAN (GPL)
6.1 Pemilahan Sampah Rumah Tangga
Pemilahan sampah rumah tangga merupakan salah satu program Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) yang dilakukan dengan mengadakan paket pelatihan atau penyuluhan untuk berbagi pengalaman. Paket pelatihan dan penyuluhan GPL mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama memelihara dan memecahkan masalah penurunan kualitas lingkungan khususnya yang disebabkan oleh sampah yang semakin memprihatinkan. Program pelatihan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) tersebut adalah program pelatihan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Adapun tujuan diadakannya pelatihan tersebut antara lain:
a. Membuka wawasan pentingnya peran masyarakat dalam memelihara lingkungan.
b. Memotivasi masyarakat untuk tergerak melakukan kegiatan-kegiatan pro-lingkungan, khususnya pengelolaan sampah rumah tangga.
c. Menimbulkan perilaku baru masyarakat berbudaya lingkungan.
d. Memberikan inspirasi kepada masyarakat lainnya untuk melakukan kegiatan yang sama.
Metode dari pelatihan ini berupa pre-test, ice breaker, paparan materi dengan menggunakan perangkat LCD, diskusi kelompok, presentasi dari kelompok, games, lembar kerja untuk di rumah. Adapun sasaran dari pelatihan tersebut adalah kelompok pendidik atau guru, kelompok ibu-ibu (PKK, Keagamaan, Kelompok Arisan, dan lain-lain), kelompok kepemudaan (Karang Taruna, dan lain-lain), siswa SMU dan sederajat, siswa SLTP, siswa SD, dan siswa TK. Materi pelatihan yang diberikan kepada masing-masing sasaran pelatihan juga berbeda berdasarkan target sasaran (Tabel 6).
Tabel 6. Materi Penyuluhan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL)
No Sasaran Penyuluhan Materi Pelatihan
1. Ibu-ibu/Bapak-bapak Kesehatan lingkungan (dampak pencemaran tehadap kesehatan, penyakit-penyakit yang ditimbulkan, cara pencegahan), persampahan (konsep 4R, pemilahan, pengomposan), pemanasan global, pola hidup bersih dan sehat, pola konsumsi berkelanjutan, bertani di lahan sempit,manfaat tanaman obat, dan lain-lain.
2. Pemuda, siswa SMU dan SLTP
Pola hidup bersih dan sehat, pemanasan global, studi kasus lingkungan dan pemecahannya, pengomposan skala kawasan, keterampilan kertas daur ulang, dan lain-lain.
3. Siswa SD Kesehatan lingkungan, ayo hidup hemat, pemilahan sampah, pembibitan, bertanam di dalam pot, pengomposan skala rumah tangga, dan lain-lain.
4. Siswa TK Ayo hidup hemat, sampahku tanggung jawabku, bertanam di dalam pot, dan lain-lain.
Sumber: Laporan Kegiatan GPL
Gambar 4. Kegiatan Pelatihan Gerakan Peduli lingkungan (GPL)
Proses pemilahan sampah yang sudah dilakukan oleh Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) saat ini adalah dengan adanya program pemilahan sampah rumah tangga warga Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah. Sasaran program Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) dalam pemilahan sampah yaitu warga RW 8, 9, 10 dan 11. Langkah konkrit yang dapat dilakukan dalam
pemilahan sampah tersebut adalah dengan membedakan pembuangan sampah rumah tangga menjadi 3 macam, yaitu sampah organik, anorganik, dan sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
Mekanisme pemilahan sampah rumah tangga yang dapat diterapkan di rumah sesuai yang disarankan oleh pihak GPL pada saat mengadakan pelatihan atau pun saat sosialisasi program, yaitu:
1. Tulis 4 kategori sampah pada kertas tebal (sampah organik, sampah anorganik, dan sampah B3).
2. Tempel di dapur atau tempat sampah.
3. Sosialisasikan ke anggota keluarga lainnya bagaimana memilah sampah yang baik.
4. Beri contoh kepada keluarga lainnya.
5. Kontrol pelaksanaan pemilahan sampah yang telah dilakukan.
Gambar 5. Tong Pemilahan Sampah Organik, Anorganik, dan Sampah B3
Program pemilahan sampah rumah tangga yang diterapkan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) yaitu dengan mensosialisasikan kepada sasaran di lingkungan Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah RW 8, 9, 10 dan 11. Pada tahun 2003, RW 11 dijadikan sebagai RW percontohan yang melakukan pemilahan sampah, kemudian pada tahun-tahun berikutnya mulai diikuti oleh warga di tiga RW lainnya yaitu RW 8, 9 dan 10. Jumlah pemilah sampah pada tahun pertama sebanyak 135 KK, pada tahun ke dua sebanyak 160 KK, dan pada tahun ketiga yaitu 2008 bertambah menjadi 200 KK. Pada tahun 2004 dilakukan sosialisasi pemilahan sampah kepada sasaran program GPL. Dalam mensosialisasikan
program tersebut Gerakan Peduli Lingkungan mengadakan penyuluhan terlebih dulu kepada warga, setelah itu diadakan pelatihan atau TOT (Training of Trainer) kepada masing-masing fasilitator yang sudah ditentukan di tiap RT yang menjadi perwakilan dari masing-masing RW tersebut.
Sosialisasi untuk program pemilahan sampah tersebut misalnya seperti yang sudah dilakukan oleh RW 08 yaitu selain disosialisasikan kepada ibu-ibu rumah tangga di lingkungan mereka melalui arisan, sosialisasi juga dilakukan dengan memberikan penyuluhan kepada para pembantu rumah tangga, hal ini dilakukan karena bagi mereka pembantu rumah tangga juga perlu tahu bagaimana memilah sampah rumah tangga. Hal ini seperti diungkapkan oleh Ibu ES (54 tahun):
“Sosialisasi di RT kami tidak hanya dilakukan kepada ibu-ibu rumah tangga saja, para pembantu rumah tangga juga harus bisa memilah sampah, sehingga meskipun ibu-ibu rumah tangga tersebut tidak ada di rumah karena sibuk, setidaknya ada para pembantu yang sudah bisa memilah sampah.”
Berbeda dengan yang sudah dilakukan di RW 08, diketahui bahwa terdapat salah satu RW yang belum mau melaksanakan program pemilahan sampah dikarenakan alasan truk pengangkut sampah yang biasa mengangkut sampah ke TPA selalu datang terakhir ke lingkungan mereka, hal ini berdampak bahwa sampah yang diangkut oleh truk ke lingkungan tersebut tidak dapat diangkut semua dan sampah yang diangkut juga berceceran di jalan karena truk pengangkut sampah tersebut sudah penuh. Hal lain yang menjadi alasan RW tersebut adalah karena dengan tidak memilah sampah yang telah dihasilkan dari rumah tangga mereka sendiri sudah dapat mereka selesaikan masalahnya tanpa dengan cara memilah sampah. Seperti pernyataan yang diungkapkan ibu YR (54 tahun):
“Tidak semua RW sudah mensosialisasikan program pemilahan sampah, alasan mereka ada-ada saja. Bahkan ada salah satu RW yang tidak mau melakukan pemilahan hanya karena alasan sampah mereka yang dibuang dengan cara tidak dipilah saja tidak dapat diangkut sepenuhnya oleh truk pengangkut sampah, mereka pun berpendapat apa gunanya sampah yang dipilah sebelumnya, karena sampah yang diangkut oleh truk pun berceceran dimana-mana. Padahal sebenarnya dengan memilah sampah justru dapat mengurangi timbunan sampah yang dihasilkan.”
Program pemilahan sampah rumah tangga yang dilakukan oleh warga lain yaitu di RW 9 dan 10 juga disosialisasikan melalui arisan-arisan. Dari proses sosialisasi tersebut hampir semua warga sudah memiliki keinginan untuk memilah sampah rumah tangga, akan tetapi untuk merealisasikannya hanya baru beberapa warga saja. Sedangkan untuk proses pemilahan sampah rumah tangga di RW 11 dilakukan dengan melakukan sosialisasi berupa penyuluhan kepada para pembantu rumah tangga, karena proses pemilahan sampah di RW 11 sudah dilaksanakan dari dulu maka untuk saat ini tidak terlalu sulit dilakukan. RW 11 lebih memfokuskan sosialisasi kepada ibu-ibu rumah tangga atau para pembantu rumah tangga yang belum mulai memilah sampah.
6.2 Pengomposan
6.2.1 Pengomposan Skala Rumah Tangga
Kompos merupakan limbah organik yang berasal dari taman, halaman, meja makan atau dapur, maupun limbah rumah tangga lainnya yang telah mengalami proses pelapukan (karena adanya mikroorganisme yang bekerja di dalamnya) yang dapat digunakan sebagai pupuk tanaman. Dalam program pengomposan skala rumah tangga ini hal pertama yang dilakukan adalah pemilahan sampah rumah tangga, karena dalam pengomposan yang menjadi bahan dasar utamanya adalah sampah organik seperti bekas potongan sayur, kulit buah yang lunak, daun kering, rumput, tebangan pohon, ampas kelapa atau teh, serutan kayu, atau makanan basi (dicuci terlebih dahulu).
Pembuatan kompos skala rumah tangga dapat dilakukan dengan cara menyediakan wadah dan bahan yang akan dipakai mengompos, yaitu: wadah dapat berupa drum atau pot atau ember, lubangi bagian bawah untuk pembuangan leachete, usahakan wadah tempat pengomposan memiliki tutup agar suhu dapat tetap terjaga, sediakan bahan organik yang sudah dicacah sebelumnya, serta sediakan pasir, tanah, kotoran hewan (mikroba), kapur. Berikut ini merupakan langkah-langkah dalam pembuatan kompos skala rumah tangga yang disarankan oleh pihak GPL pada saat mengadakan pelatihan atau pun saat sosialisasi program, yaitu:
1. Lubangi bagian wadah tempat pengomposan terlebih dahulu.
2. Tuang pasir ke dalam wadah tersebut kurang lebih 5 cm.
3. Potong sayur atau sampah organik lain yang akan dijadikan bahan kompos.
4. Masukkan bahan-bahan kompos tersebut sebagai lapisan kedua.
5. Masukkan kotoran hewan (jika ada) atau cairan mikroba seperti EM 4 sebagai lapisan ketiga.
6. Masukkan kapur pertanian atau dolomit (jika ada).
7. Masukkan tanah sebagai lapisan keempat.
8. Kemudian disiram dengan sedikit air.
9. Bahan-bahan tersebut bisa menjadi kompos setelah 5 sampai 7 minggu.
Selain menggunakan cara tersebut, cara lain dalam pembuatan kompos skala kawasan yang disarankan oleh pihak GPL pada saat mengadakan pelatihan atau pun saat sosialisasi program adalah dengan metode keranjang takakura, yaitu:
1. Siapkan keranjang plastik (misalnya tempat pakaian kotor) berventilasi ukuran 30x40x50 cm.
2. Lapisi dinding bagian dalam keranjang dengan karton atau kardus.
3. Letakkan bantal berventilasi berisi gabah pada dasar keranjang (bantal 1).
4. Isi keranjang dengan kompos yang sudah jadi atau matang setinggi 25 cm.
5. Masukkan bahan organik yang sudah dicacah.
6. Aduk bahan-bahan tersebut sampai bahan organik tercampur atau tertutup dengan kompos.
7. Letakkan bahan berventilasi berisi gabah diatasnya (bantal 2).
8. Tutup dengan kain hitam, lalu tutup keranjangnya.
9. Ulangi tahap 5 s/d 8 berkali-kali sampai keranjang tersebut penuh.
Keterangan :
a. Semprotkan terlebih dahulu cairan mikroba ke karton atau kardus dan kedua bantal (bantal 1 dan bantal 2).
b. Bila kondisinya terlalu kering, bias disemprotkan cairan mikroba ke campuran kompos dan bahan organik secukupnya.
Program pengomposan skala rumah tangga Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) merupakan rangkaian program pengomposan skala kawasan yang dilakukan. Program pengomposan skala rumah tangga GPL belum banyak dilakukan oleh warga sekitar, hal ini dikarenakan bahwa sudah adanya program pengomposan skala kawasan sehingga warga sekitar lebih banyak yang mengikuti pengomposan skala kawasan dibandingkan dengan pengomposan skala rumah tangga.
6.2.2 Pengomposan Skala Kawasan
Program pengomposan skala kawasan yang dilakukan Gerakan peduli Lingkungan (GPL) berawal dari didirikannya unit pengelolaan kompos kawasan pada tanggal 21 Februari 2006 dengan swadaya warga dan subsidi Pemerintah Kota Bekasi berupa alat atau mesin pengomposan.
Gambar 6. Unit Pengelolaan Kompos Kawasan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL)
Sebelum diresmikannya unit pengelolaan kompos kawasan, warga Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah (PPI) bersama Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) mengadakan program penutupan TPS liar yang berada disekitar lingkungan Perumahan Pondok Pekayon Indah yang kemudian diresmikan penutupan TPS liar tersebut oleh Kelurahan Pekayon Jaya pada 19 Juni 2005. Selain program penutupan TPS liar, langkah selanjutnya yang dilakukan adalah adanya fasilitas door to door oleh Dinas Pertamanan Pemerintah Kota Bekasi.
Gambar 7. Program Penutupan TPS Liar
Adanya pengelolaan sampah yaitu pembuatan kompos skala kawasan maka volume sampah yang diangkut ke TPA dapat berkurang ± 58%. Bagi kawasan perumahan atau wilayah pemukiman yang mempunyai sarana lahan utuk mengolah kompos, maka pengelolaan kompos skala kawasan lebih baik dilakukan dibandingkan dengan pengelolaan kompos secara individu atau rumah tangga.
Adapun tujuan dari pengolahan kompos skala kawasan yang dilaksanakan GPL antara lain:
a. Mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.
b. Efisiensi pengangkutan sampah.
c. Menyerap tenaga kerja.
d. Menghasilkan kompos yang berkualitas.
e. Lingkungan bersih, sehat dan asri.
f. Memberikan keuntungan secara ekonomi.
g. Menghijaukan lingkungan
h. Kebanggaan bagi GPL dan warga ( berkontribusi nyata )
Gambar 8 merupakan struktur Unit Pengelolaan Kompos Kawasan (PKK) Gerakan Peduli Lingkungan (GPL):
Gambar 8. Sruktur Unit Pengelolaan Kompos Kawasan GPL
(a) (b) (c)
Gambar 9 (a, b,dan c). Mesin pengomposan
Program pengelolaan kompos skala kawasan yang sudah dilakukan saat ini berawal dari adanya pemilahan sampah rumah tangga yang dihasilkan dari setiap rumah tangga. Dengan pemilahan sampah yang sudah dilakukan sebelumnya, diperoleh sampah organik yang menjadi bahan dasar pembuatan kompos. Setelah proses pemilahan, sampah tersebut dibuang ke tong kompos yang sudah disediakan di setiap gang komplek perumahan. Tong kompos merupakan tong sampah khusus kompos yang menampung bahan dasar untuk membuat kompos berupa sampah organik. Akan tetapi terdapat kelemahan di penempatan tong kompos ini, karena tidak semua gang sudah terdapat tong kompos. Seperti pernyataan yang diungkapkan oleh ibu RH (54 tahun):
GPL
Kepala Unit
Seksi:
1. Produksi Kompos 2. Pemasaran 3. SDM 4. Keuangan 5. Kas kecil
“Di daerah rumah saya belum semua melakukan pemilahan sampah, hal ini dikarenakan sampah yang telah dipilah tidak dapat dibuang langsung ke tong kompos yang seharusnya disediakan di setiap gang. Sebenarnya tong kompos tersebut sudah dikasih oleh GPL, tetapi belum tahu penempatan yang baik dimana karena warga tidak ada yang mau di depan rumahnya ditempati tong kompos tersebut”.
Gambar 10. Tong khusus Kompos
Gambar 11. Baktor Pengangkut Sampah Kompos
Setelah proses pembuangan ke tong kompos tahap selanjutnya yaitu pengangkutan sampah dengan menggunakan baktor atau bak sampah oleh petugas khusus. Untuk saat ini petugas sampah yang bertugas adalah Bapak Kosim dan Bapak Timan. Selain bertanggung jawab terhadap pengangkutan sampah Bapak Kosim dan Bapak Timan juga menjadi petugas pembuat Kompos. Berikut merupakan proses pengumpulan sampah organik yang menjadi bahan dasar pembuatan kompos skala kawasan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) :
Hasil Pemilahan Sampah di Rumah
Tempat Pengumpulan Sampah Organik (dapat berupa 1 tong kecil/KK atau 1 drum/4-5 KK)
Diangkut dengan BAKTOR 2x Seminggu
Dikumpulkan ke Lokasi Pengelolaan Kompos Kawasan
Gambar 12 dibawah ini merupakan proses pengumpulan sampah organik sebagai bahan dasar pembuatan kompos skala kawasan:
Gambar 12. (a) Sampah Organik dari Rumah (b) Tempat Pengumpulan Individu (c) Tempat Pengumpulan Kolektif
Kapasitas produksi kompos yang dihasilkan minimum sebesar 2.000 kg/bulan yang menghasilkan 100 pak kompos dengan menggunakan bahan baku 6.000 kg sampah organik. Bahan baku yang digunakan berupa sampah organik yang berasal dari timbulan sampah 600 KK di empat RW yaitu RW 8, 9, 10 dan 11 dengan laju timbulan sampah 1/3 kg/hari/KK. Biaya operasional per bulan unit pengolahan kompos ini mencapai Rp 1.500.000. Kompos yang diproduksi dijual ke masyarakat sekitar dengan harga Rp. 2.500 per 2 (dua) kilogram dan untuk produk daur ulang dijual dengan kisaran harga Rp. 10.000 - Rp. 100.000. Warga
Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah didorong untuk berpartisipasi secara aktif dengan memberikan insentif 10% dari hasil penjualan kompos. Selain pembuatan kompos tersebut, Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) juga mengembangkan dengan variasi produk lainnya seperti: kompos, pupuk cair, media tanam, tanah hitam, gabah dan pupuk kandang. Selain itu GPL juga menerima jasa dalam bidang penebangan atau pemangkasan pohon, pembersihan taman, dan pemotongan rumput. Target pemasaran dari pembuatan kompos skala kawasan adalah dengan dipasarkan melalui outlet seperti Taman Bacaan (Manca) tempat pembibitan GPL (Tempat Unit Pengelolaan Kompos Kawasan) Di 16 RT (RW 8, 9, 10 dan 11 ) konsinyasi di tukang kembang, kebun tanaman sayuran/bunga/buah, dan lain-lain.
Gambar 13. Leacheat sebagai Bahan Pupuk Cair
Dalam pembuatan kompos skala kawasan terdapat proses yang dilakukan selama 2 minggu, yang terdiri dari:
1. Sampah organik di pilah dan di lapukkan/di layukan (di siram-siram) 2. Digiling dengan menggunakan mesin pencacah
3. Di fermentasi di bak
4. Dicampur dengan pupuk kandang dan lain-lain (dengan menggunakan mesin molen)
5. Pupuk dijemur
6. Setelah pupuk kering, kompos diayak 7. Pupuk di pak dan diberi label
8. Kompos siap di jual
Gambar 14. Proses Pembuatan Pengelolaan Kompos Kawasan
Jenis pupuk lain yang diproduksi oleh GPL saat ini yaitu pupuk
“Kascing” yang merupakan pupuk yang bahan dasar pembuatannya berasal dari pupuk kompos setengah jadi yang ditambahkan oleh cacing. Dalam proses pembuatannya diperlukan waktu ± 3 hari untuk menghasilkan pupuk Kascing tersebut. Setelah waktu ± 3 hari tersebut, cacing yang sudah dicampur dengan pupuk kompos setengah jadi akan bercampur dengan kotoran cacing, sebelumnya pupuk kompos setengah jadi dan cacing dimasukkan ke dalam bak/baskom/ember dalam keadaan tertutup. Setelah kotoran cacing sudah bercampur rata dengan pupuk kompos yang setengah jadi kemudian hasilnya dijemur seperti pembuatan kompos pada umumnya, setelah itu diayak dan juga dipak. Dalam pembuatan pupuk Kascing, pemberian cacing pada pupuk kompos setengah jadi sebanyak satu kilogram akan menghasilkan setengah kilogram kotoran cacing, dan dari hasil tersebut akan menghasilkan pupuk Kascing sebanyak satu setengah kilogram
pupuk Kascing yang dihasilkan dijual dengan harga Rp. 5000. Produksi dari pupuk Kascing yang dihasilkan saat ini masih tergantung dengan pemesanan saja, harga pupuk Kascing lebih mahal dibandingkan dengan pupuk biasa karena pupuk Kascing memiliki keunggulan sendiri yaitu: hanya digunakan untuk tanaman khusus seperti aglonema, adenium, ephorbia. Selain itu kelebihan dari pupuk Kascing lainnya adalah dapat mempercepat pertumbuhan tunas pada tanaman.
6.3 Kerajinan/Keterampilan dari Limbah/Sampah
Program kerajinan atau keterampilan dari limbah atau sampah yang dilaksanakan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) berawal dari keinginan untuk mengurangi timbunan sampah yang dihasilkan di lingkungan Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah. Kerajinan atau keterampilan dari limbah atau sampah yang dilakukan berawal dari proses kerajinan atau keterampilan dari limbah kertas dengan memanfaatkan sumber daya pemuda yang terdapat di lingkungan Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah. Akan tetapi dalam pelaksanaannya tidak berjalan dengan baik dikarenakan sumber daya pemuda yang melaksanakan proses kerajinan atau keterampilan dari limbah kertas tersebut terbentur oleh waktu. Hal ini seperti diungkapkan oleh Ibu SN (53 tahun):
“Tenaga ahli untuk ketrampilan limbah kertas sudah ada, akan tetapi sumber daya dalam pelaksanaannya yaitu para pemuda tidak ada karena mereka memiliki kesibukan sendiri seperti sekolah, kuliah ataupun kerja.”
Kerajinan atau keterampilan dari limbah yang dilaksanakan Gerakan Peduli Lingkungan selanjutnya setelah kerajinan atau keterampilan dari limbah kertas adalah kerajinan atau keterampilan dari limbah plastik, akan tetapi dalam pelaksanaannya juga tidak berjalan dengan baik dikarenakan dalam proses kerajinan atau keterampilan dari limbah plastik tersebut masih menggunakan zat kimia. Selain itu dalam membuat kerajinan atau keterampilan dari limbah plastik juga memiliki kendala dalam sumber daya manusia yang sedikit serta teknik dalam membuat variasi produk yang dihasilkan masih sederhana. Dalam prosesnya kerajinan atau keterampilan dari limbah plastik dilakukan hanya sebatas pembuatan tas dari sisa kemasan produk rumah tangga seperti sunlight, minyak goreng, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan proses daur ulang terhadap
sampah plastik tidak dilanjutkan karena tidak adanya tenaga ahli atau profesional yang memberikan pelatihan untuk membuat beragam variasi atau teknik sehingga dapat bersaing dengan produk kerajinan atau keterampilan yang berasal dari limbah plastik lainnya. Seperti pernyataan yang diungkapkan oleh Ibu SN (53 tahun):
“Limbah plastik di lingkungan kami sebenarnya dapat dimanfaatkan dengan baik untuk membuat produk-produk yang memiliki nilai tambah seperti tas, payung, tempat handphone dan lain-lain. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya kami hanya terpaku pada pembuatan tas saja sehingga produk kami kalah bersaing dengan produk lainnya”.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Ibu RH (54 tahun):
“Untuk ketrampilan dari limbah plastik tidak berjalan lancar karena tidak adanya pelatihan yang diberikan untuk membuat produk-produk dari limbah plastik tersebut. Selain itu, kemauan warga untuk mengikuti ketrampilan dari limbah plastik relatif rendah.”
Gambar 15. Hasil Karya Pokja Kerajinan dari Limbah
Selain itu, pelatihan juga pernah dilakukan oleh GPL dengan adanya kerjasama dari Dinas Pendidikan (DIKNAS) Kota Bekasi bagian Pemberdayaan Perempuan pada tahun 2008. Pelatihan bersama DIKNAS berupa pelatihan yang berawal dari peserta Keaksaraan Fungsional (KF) Lestari, dari peserta tersebut kemudian dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu untuk kelompok menjahit dan kelompok pembuatan mute. Hasil dari pelatihan ini adalah keterampilan untuk pembuatan gelang, kalung, tas, dan lain-lain. Selain pelatihan pihak DIKNAS juga memberikan bantuan kepada GPL berupa dua mesin jahit.
Kerajinan atau keterampilan dari limbah lainnya yang dilakukan oleh Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) adalah keterampilan menjahit dengan
memanfaatkan limbah kain perca. Dengan adanya keterampilan tersebut dapat mengurangi sampah dengan memanfaatkan kain perca untuk dibuat menjadi sapu tangan, serbet, tas kain, bantal sofa, ataupun bed cover. Pengurangan sampah dengan adanya pemanfaatan kain perca tersebut adalah dengan pengurangan penggunaan tissue yang dapat diganti dengan sapu tangan serta pengurangan penggunaan kantong plastik yang dapat digantikan dengan tas kain.
Kerajinan atau keterampilan dari limbah kain perca berawal dari adanya pelatihan oleh ibu Wiwi selaku tenaga profesional dalam keterampilan menjahit selama tiga bulan yaitu pada bulan Januari 2009 - Maret 2009. Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan tersebut adalah fasilitator sebanyak 10 orang dan juga warga sebanyak 20 orang. Melalui proses pelatihan tersebut diperoleh tiga orang fasilitator yang masih ikut dalam proses keterampilan tersebut sampai sekarang dan juga 14 warga yang dibagi dua menjadi enam orang yang tergolong dalam ketrampilan menjahit dan delapan orang yang masuk dalam keterampilan sulam menyulam. Bahan dasar yang digunakan yaitu limbah kain perca diperoleh dari warga Perumahan Pondok Pekayon Indah dan konveksi yang terletak tidak jauh dari Perumahan Pondok Pekayon Indah yaitu Konveksi Produksi Seprai Permata Jati. Praktek atau workshop pembuatan keterampilan dari limbah kain perca dilakukan di Taman Bacaan (MANCA) pada hari Jumat pukul 13.00-15.00 WIB untuk kelompok binaan MANCA I, dan untuk kelompok binaan MANCA II setiap hari Senin dan Kamis pukul 13.00-15.00 WIB.
Pemasaran yang dilakukan GPL untuk produk hasil keterampilan dari limbah kain perca yaitu melalui pameran-pameran, bazaar, ataupun kepada warga sekitar. Beberapa pameran dan bazaar yang sudah diikuti oleh GPL misalnya:
Pameran Hari Lingkungan Hidup di JCC 2009, Pameran Pendidikan di Bekasi Square, bazaar AGOGO (Alita Go Green) di PT.Alita, dan lain-lain. Untuk saat ini, produk yang dihasilkan dari keterampilan ini antara lain: daster, sebet, taplak meja, sarung bantal sofa, sarung kulkas, sarung dispenser, bed cover, tas, sapu tangan, baju, dan lain-lain. Oleh sebab itu, keterampilan yang difokuskan saat ini oleh GPL adalah keterampilan dari limbah kain perca, sedangkan untuk menanggulangi sampah anorganik lainnya berupa plastik, kaleng, logam dan lain- lain pihak GPL dan warga Kompleks Perumahan PPI masih bekerja sama dengan
pemulung. Alasan yang menyebabkan GPL memfokuskan pada keterampilan dari limbah kain perca adalah karena sumber daya manusia sudah ada, pelatihan serta teknik yang dikuasai sudah memadai, hasil produksi yang dihasilkan dapat memperoleh manfaat baik dari segi ekonomi, pengetahuan, maupun keterampilan.
Selain itu, GPL juga memberikan penambahan kesejahteraan ekonomi bagi peserta atau SDM yang mengikuti keterampilan menjahit dari limbah kain perca.
Hal ini seperti diungkapkan oleh Ibu MY (45 tahun) yang merupakan salah satu ibu binaan dari keterampilan dari limbah kain perca:
“Setelah mengikuti keterampilan menjahit di sini, alhamdulillah saya sudah bisa menambah penghasilan saya, selain itu saya juga sudah bisa membuat sendiri baju untuk anak saya. Selain mendapat pengetahuan tentang menjahit, saya juga dapat tambahan uang.”
6.4 Penghijauan dan Pembibitan
Program penghijauan dan pembibitan GPL merupakan program yang memiliki perubahan yang cukup pesat yang dapat terlihat langsung di sekitar Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah. Penghijauan yang sudah dilakukan antara lain dengan pemanfaatan taman atau fasum (fasilitas umum) yang masih kosong sehingga tampak lebih hijau dan asri. Penghijauan dan pembibitan yang dilakukan GPL juga bertempat di Unit Pengelolaan Kompos Kawasan GPL.
Dalam melaksanakan program penghijauan GPL melakukan penghijauan di dua lokasi fasilitas umum. Sedangkan untuk program pembibitan GPL membuat dua lokasi pembibitan dengan menggalakkan kembali kebun TOGA (Tanaman Obat Keluarga) dan membudidayakan sayuran organik di lahan percontohan.
Gambar 16. Penghijauan GPL
Gambar 17. Pembibitan GPL
Dalam pelaksanaannya penghijauan di lingkungan Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah berawal dari diadakannya lomba Blok Asri oleh GPL pada Agustus 2003. Dari hasil lomba tersebut terpilih RT 3 dan RT 4 yang terletak di RW 11 sebagai RT percontohan yang dapat menjadi panutan bagi RT dan RW lainnya. Perkembangannnya untuk saat ini penghijauan yang dilakukan GPL yaitu dengan cara memanfaatkan taman atau fasum (fasilitas umum) dengan menanam tanaman obat (TOGA) ataupun sayuran organik. Selain itu, peghijauan yang dilakukan tidak hanya penghijauan di kawasan Kompleks Perumahan PPI tetapi juga penghijauan di halaman rumah. Sementara itu, untuk program pembibitan saat ini berada di tempat Unit Pengelolaan Kompos Kawasan.
(a) (b)
Gambar 18 (a dan b). Penghijauan Kawasan Kompleks Perumahan PPI Tahun 2003
(a) (b)
Gambar 19 (a dan b). Perubahan Penghijauan Kawasan Kompleks Perumahan PPI Tahun 2006
Program penghijauan dan pembibitan GPL saat ini lebih difokuskan pada tanaman hias seperti pohon sukun, pohon jarak dan pohon mahkota dewa karena lebih banyak pemesanannya. Dahulu GPL juga menyediakan pohon palem untuk penghijauan akan tetapi karena resiko penanaman pohon palem yang cukup lama yaitu ± 2,5 tahun maka untuk penghijauan tanaman palem tidak diteruskan lagi.
Penghijauan GPL untuk kedepannya akan diusahakan untuk tanaman obat (TOGA) seperti jahe merah dan sambiloto karena pada bulan Juni 2009 kemarin beberapa anggota GPL terutama bapak-bapak ikut serta dalam pemanfaatan tanaman obat jahe merah sebagai pengobatan alternatif. Sementara itu untuk pembibitan GPL saat ini sedikit berkurang, hal ini disebabkan karena semakin sedikitnya pemesanan terhadap pembibitan tanaman.
6.5 Pembuatan Lubang Biopori
Program pembuatan Lubang Biopori merupakan salah satu program yang mulai kembali dicanangkan GPL pada tahun 2009. Lubang biopori merupakan sumur resapan yang dapat meningkatkan daya resap air pada tanah dengan cara membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos. Pada awal pencanangan kembali pembuatan lubang biopori dilakukan bersamaan dengan ulang tahun GPL yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2009. Selain masyarakat yang ikut terlibat, dalam pencanangan program tersebut juga terdapat ikut serta dari pihak pemerintahan yang diwakili langsung oleh Bapak Camat Kota Bekasi.
(a) (b) Gambar 20 (a dan b). Pencanangan Lubang Biopori
Dalam pelaksanaan program pembuatan lubang biopori, dahulu GPL membuat lubang biopori di sekitar fasum (fasilitas umum) yang terdapat di lingkungan Kompleks Perumahan PPI. Akan tetapi dalam prosesnya terdapat kendala pada lubang biopori yang sudah dibuat, karena lubang biopori yang sudah dibuat tidak diberi penutup. Lubang biopori yang ada sudah dipenuhi oleh sampah sehingga menyebabkan tanah yang berada disekitarnya menjadi longsor. Hal ini menyebabkan perlunya tutup di lubang biopori, sehingga bersamaan dengan ulang tahun GPL kembali dicanangkan program pembuatan lubang biopori untuk semua sasaran GPL yaitu RW 8, 9, 10 dan 11. Pada pelaksanaannya program lubang biopori mendapat bantuan dari pihak Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota Bekasi berupa delapan alat untuk membuat Lubang Biopori.
Adanya fasilitas yang memadai dalam pembuatan lubang biopori tersebut memudahkan masyarakat untuk menerapkannya, karena setiap RW sasaran mendapatkan dua alat pembuatan lubang biopori.
BAB VII
TINGKAT PARTISIPASI PENGELOLAAN SAMPAH
BERBASIS MASYARAKAT GERAKAN PEDULI LINGKUNGAN (GPL)
7.1 Tahap Partisipasi Masyarakat 7.1.1Tahap Sosialisasi Program
Tahap sosialisasi program merupakan tahap penyampaian informasi dan publikasi dari Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) kepada warga Kompleks Perumahan Pondok Pekayon Indah (PPI), baik secara langsung maupun tidak langsung. Proses sosialisasi program GPL dilakukan melalui penyuluhan kepada warga Kompleks Perumahan PPI melalui arisan ibu-ibu. Sosialisasi yang diberikan oleh GPL merupakan proses penyampaian informasi kepada warga mengenai program-program yang akan dilaksanakan oleh GPL, misalnya seperti penyuluhan dan ToT (Training of Trainer) baik kepada ibu-ibu maupun kepada pembantu rumah tangga yang terdapat di Kompleks Perumahan PPI.
Bentuk sosialisasi lain yang dilakukan oleh GPL juga dilakukan dengan adanya papan himbauan atau slogan yang berisi tentang kepedulian terhadap lingkungan. Papan himbauan tersebut merupakan bentuk kerjasama yang dilakukan oleh GPL dengan Sekolah Cita Buana dengan tujuan untuk menghimbau warga sekitar untuk menjaga lingkungan mereka sendiri. Contoh pesan yang disampaikan dari himbauan kebersihan tersebut misalnya:
“Manfaatkan kembali barang-barang bekas sebelum menjadi sampah”, “Kurangi penggunaan kantong kresek atau plastik”, dan lain-lain. Selain itu, bentuk sosialisasi lain yang sudah dilakukan oleh pihak GPL yaitu melalui buletin GPL yang diterbitkan setiap dua bulan sekali untuk menyebarkan informasi mengenai kegiatan yang akan dan sudah dilakukan oleh GPL kepada masyarakat.
(a) (b)
Gambar 21 (a dan b). Papan Himbauan GPL
Gambar 22. Buletin GPL
Tabel 7. Jumlah Responden menurut Tingkat Sosialisasi Program Gerakan Peduli Lingkungan (GPL)
Tahap Sosialisasi
Kader dan fasilitator GPL Warga Kompleks PPI Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)
Baik 31 96,9 29 90,6
Buruk 1 3,1 3 9,4
Total 32 100 32 100
Merujuk pada Tabel 7 diketahui bahwa tingkat sosialisasi responden baik kader dan fasilitator GPL maupun warga Kompleks PPI terhadap program GPL adalah tinggi. Responden kader dan fasilitator GPL menilai bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh GPL tergolong baik yaitu sebanyak 96,9 persen. Demikian pula responden warga Kompleks PPI sebanyak 90,6 persen menilai sosialisasi yang dilakukan GPL tergolong baik. Berdasarkan hasil tersebut dapat terlihat bahwa proses sosialisasi GPL terhadap program-programnya selama ini berjalan
dengan baik, akan tetapi masih terdapat 3,1 persen yang dinyatakan oleh kader dan fasilitator GPL maupun sebanyak 9,4 persen dinyatakan oleh warga Kompleks PPI menilai bahwa proses sosialisasi GPL buruk. Alasan yang mendukung bahwa sosialisasi yang diberikan buruk yaitu karena proses sosialisasi yang diberikan GPL hanya dilaksanakan ketika program GPL akan dilaksanakan.
7.1.2 Tahap Pengambilan Keputusan (Perencanaan)
Tahap perencanaan adalah keikutsertaan masyarakat dalam merencanakan dan membuat keputusan terhadap program yang akan dijalankan. Pada tahap perencanaan yang dinilai adalah keterlibatan responden dalam program dan kehadiran responden dalam rapat perencanaan program serta melihat keaktifan dalam rapat tersebut. Keterlibatan partisipasi masyarakat dalam tahap pengambilan keputusan atau perencanaan ini dapat dilihat dari keikutsertaan warga hadir dalam rapat perencanaan program-program GPL. Pada tahap ini keaktifan responden dalam mengikuti rapat pengambilan keputusan (perencanaan) juga dilihat seperti keaktifan responden tidak hanya untuk hadir saja dalam rapat tersebut tetapi kegiatan seperti bertanya, memberi usul atau pendapat, dan pendapat atau usul mereka dapat diterima.
Tabel 8. Jumlah Responden menurut Tingkat Partisipasi pada Tahap Perencanaan dalam Pengelolaan Sampah GPL
Tahap Perencanaan
Kader dan fasilitator GPL Warga Kompleks PPI Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)
Tinggi 26 81,25 11 34,4
Rendah 6 18,75 21 65,6
Total 32 100 32 100
Tingkat partisipasi responden pada tahap perencanaan dalam pengelolaan sampah program GPL pada Tabel 8 menunjukkan sebanyak 81,25 persen kader dan fasilitator GPL ikut terlibat dalam proses perencanaan program GPL.
Berdasarkan hasil tersebut dapat terlihat bahwa tingkat partisipasi kader dan
fasilitator GPL pada tahap perencanaan program GPL sebelum program-program tersebut dilaksanakan cukup tinggi, akan tetapi masih terdapat 18,75 persen yang menyatakan bahwa tingkat partisipasi kader dan fasilitator GPL pada tahap perencanaan program rendah. Alasan yang diungkapkan oleh salah satu fasilitator GPL yaitu karena pada tahap perencanaan tidak semua fasilitator ikut serta dikarenakan tidak adanya waktu yang sesuai dengan jadwal yang ada untuk pertemuan rapat perencanaan program GPL.
Hal ini berbeda dengan hasil yang diperoleh dari warga Kompleks PPI.
Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa sebanyak 65,6 persen menyatakan bahwa tingkat partisipasi warga Kompleks PPI pada tahap perencanaan program GPL rendah. Alasan yang dinyatakan oleh warga yaitu tidak adanya keterlibatan secara langsung dari semua warga untuk ikut serta, karena hanya diperoleh sebanyak 34,4 persen warga Kompleks PPI yang menyatakan ikut serta dalam tahap perencanaan program GPL. Partisipasi warga untuk ikut serta pada tahap perencanaan yaitu pada pertemuan-pertemuan yang diadakan GPL untuk mendiskusikan mengenai program kerja yang akan dilakukan oleh GPL.
7.1.3 Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan adalah keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Partisipasi pada tahap pelaksanaan dinilai berdasarkan keikutsertaan responden dalam program-program Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) yaitu pemilahan sampah, pengomposan skala rumah tangga, pengomposan skala kawasan, keterampilan dari limbah atau sampah kain perca, penghijauan dan pembibitan tanaman, dan pembuatan lubang biopori.
Merujuk pada Tabel 9 diketahui bahwa tingkat partisipasi kader dan fasilitator GPL pada tahap pelaksanaan dalam pengelolaan sampah program GPL sebanyak 71,9 persen. Berdasarkan hasil tersebut dapat terlihat bahwa partisipasi warga pada tahap pelaksanaan program GPL sudah ada akan tetapi belum semua kader dan fasilitator GPL terlibat, hal ini terlihat dari masih terdapatnya 28,1 persen yang menyatakan bahwa tingkat partisipasi kader dan fasilitator GPL pada
tahap pelaksanaan program rendah. Rendahnya partisipasi kader dan fasilitator GPL tersebut dikarenakan tidak semua program sudah diikuti, program yang diikuti oleh kader dan fasilitator GPL rata-rata hanya terlibat pada pelaksanaan pemilahan sampah, pengomposan skala kawasan, keterampilan dari limbah atau sampah kain perca dan penghijauan.
Tabel 9. Jumlah Responden menurut Tingkat Partisipasi pada Tahap Pelaksanaan dalam Pengelolaan Sampah GPL
Tahap Pelaksanaan
Kader dan fasilitator GPL Warga Kompleks PPI Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)
Tinggi 23 71,9 20 62,5
Rendah 9 28,1 12 37,5
Total 32 100 32 100
Tingkat partisipasi warga Kompleks PPI pada tahap pelaksanaan program GPL yang terlihat pada tabel 9 juga tergolong tinggi yaitu sebnyak 62,5 persen.
Akan tetapi, masih terdapat 37,5 persen yang menyatakan bahwa keikutsertaan warga Kompleks PPI pada tahap pelaksanaan program GPL rendah. Partisipasi warga yang rendah tersebut dikarenakan rata-rata warga hanya baru ikut serta pada program pemilahan sampah dan penghijauan GPL saja.
7.1.4 Tahap Menikmati Hasil
Tahap menikmati hasil adalah keikutsertaan masyarakat dalam menikmati hasil program pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dilaksanakan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL). Pada tahap menikmati hasil, kader dan fasilitator GPL serta warga Kompleks PPI merasakan manfaat terhadap kondisi lingkungan di sekitar mereka setelah adanya program Gerakan Peduli Lingkungan (GPL).
Tabel 10. Jumlah Responden menurut Tingkat Partisipasi pada Tahap Menikmati Hasil dalam Pengelolaan Sampah GPL
Tahap Menikmati
Hasil
Kader dan fasilitator GPL Warga Kompleks PPI Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)
Tinggi 30 93,75 30 93,75
Rendah 2 6,25 2 6,25
Total 32 100 32 100
Tingkat partisipasi responden pada tahap menikmati hasil terhadap pengelolaan sampah program GPL baik yang dinyatakan oleh kader dan fasilitator GPL maupun oleh warga Kompleks PPI (Tabel 10) tergolong tinggi yaitu sebanyak 93,75 persen. Berdasakan hasil tersebut dapat terlihat bahwa kader dan fasilitator GPL maupun warga Kompleks PPI sudah dapat merasakan manfaat program GPL, akan tetapi masih terdapat 6,25 persen yang menyatakan bahwa tingkat partisipasi warga pada menikmati hasil program GPL sangat rendah. Hal ini dikarenakan bahwa warga belum bisa merasakan manfaat dari program GPL bagi lingkungan sekitar mereka. Sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Ibu YN (39 tahun):
“Manfaat dari program GPL belum bisa saya rasakan sepenuhnya, contoh kecilnya saja di lingkungan saya belum semua warga berpartisipasi ikut serta dalam program GPL, selain itu fasilitas kebersihan yang seharusnya sudah ada seperti tong khusus kompos untuk menunjang program GPL belum tersedia.”
Tingginya tingkat partisipasi kader dan fasilitator GPL maupun warga Kompleks PPI pada tahap menikmati hasil dapat dilihat pada perubahan yang cukup signifikan pada kondisi lingkungan Kompleks PPI. Perubahan yang dapat dilihat yaitu kondisi lingkungan Kompleks PPI yang lebih bersih dan asri.
Manfaat yang dirasakan yaitu pengurangan sampah yang dihasilkan untuk dibuang ke TPA, selain itu lingkungan yang lebih asri di Kompleks PPI juga sudah dapat dirasakan. Hal ini disebabkan adanya partisipasi aktif dari setiap warga untuk mengadakan penghijauan baik di lingkungan mereka sendiri maupun untuk fasilitas umum yang berda di lingkungan mereka.
7.1.5 Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi adalah keikutsertaan masyarakat dalam mengevaluasi program pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dilaksanakan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL). Tahap evaluasi dapat dilakukan dengan melihat partisipasi responden membuat laporan baik secara lisan atau tulisan terhadap program GPL. Pada tahap ini, kader dan fasilitator GPL mengevaluasi program GPL melalui pertemuan ataupun ketika para kader dan fasilitator GPL melakukan sosialisasi dengan warga Kompleks PPI melalui arisan dan pertemuan-pertemuan warga.
Tabel 11. Jumlah Responden menurut Tingkat Partisipasi pada Tahap Evaluasi dalam Pengelolaan Sampah GPL
Tahap Evaluasi Kader dan fasilitator GPL Warga Kompleks PPI Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)
Tinggi 21 65,6 8 25
Rendah 11 34,4 24 75
Total 32 100 32 100
Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa tingkat partisipasi responden pada tahap evaluasi terhadap pengelolaan sampah program GPL berbeda, hampir semua responden yang berasal dari kader dan fasilitator GPL ikut serta dalam tahap evaluasi program GPL yaitu sebanyak 65,6 persen. Dengan hasil tersebut dapat terlihat bahwa belum semua kader dan fasilitator GPL berpartisipasi dalam mengevaluasi program GPL yaitu sebanyak 34,4 persen. Partisipasi warga Kompleks PPI dalam tahap evaluasi program GPL tergolong sangat rendah yaitu hanya sebanyak 25 persen, masih terdapat 75 persen warga Kompleks PPI yang tidak ikut berpartisipasi dalam tahap ini.
7.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Masyarakat 7.2.1 Faktor Pendukung Partisipasi Masyarakat
Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan akan terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi faktor-faktor yang mendukungnya menurut Slamet (1994), yaitu:
a. Adanya kesempatan, yaitu adanya suasana atau kondisi lingkungan yang disadari oleh orang tersebut bahwa dia berpeluang untuk berpartisipasi.
b. Adanya kemauan, yaitu adanya sesuatu yang mendorong atau menumbuhkan minat dan sikap mereka untuk termotivasi berpartisipasi, misalnya berupa manfaat yang dapat dirasakan atas partisipasinya tersebut.
c. Adanya kemampuan, yaitu adanya kesadaran atau keyakinan pada dirinya bahwa dia mempunyai kemampuan untuk berpartisipasi, bisa berupa pikiran, tenaga, waktu, atau sarana dan material lainnya.
Menurut Sahidu (1998) dalam Suhendar (2004) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemampuan untuk berpartisipasi adalah motif harapan, needs, rewards, dan penguasaan informasi. Faktor yang memberikan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi adalah pengaturan dan pelayanan, kelembagaan, struktur, dan stratifikasi sosial, budaya lokal, kepemimpinan, sarana, dan prasarana. Faktor yang mendorong adalah pendidikan, modal, dan pengalaman yang dimiliki.
Berdasakan pengamatan di lapangan dan informasi dari bebearapa informan diperoleh bahwa faktor yang mempengaruhi partisipasi warga Kompleks PPI dalam proram pengelolaan sampah GPL dipengaruhi oleh sudah adanya kesempatan warga untuk berpartisipasi yaitu adanya manfat yang dapat dirasakan oleh warga misalnya seperti pengurangan jumlah sampah yang di angkut ke TPA, selain itu adanya perubahan kondisi lingkungan Komples PPI dalam penghijauan.
Adanya penghijauan yang sudah dilakukan oleh hampir seluruh warga Kompleks PPI menjadikan lingkungan Kompleks PPI menjadi lebih asri dan teduh.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi seseorang menurut Pangestu dalam Pratiwi (2008) meliputi dua hal, yaitu:
a. Faktor internal dari individu yang mencakup ciri-ciri atau karakteristik individu yang meliputi: umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, luas lahan garapan, pendapatan, pengalaman berusaha, dan kosmopolitan.
b. Faktor eksternal yang merupakan faktor diluar karakteristik individu yang meliputi hubungan antara pengelola dengan masyarakat, kebutuhan masyarakat, pelayanan pengelola, dan kegiatan penyuluhan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Apriani Wulandari (2009) diketahui bahwa beberapa faktor internal yang mempengaruhi warga Kompleks PPI dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat GPL yaitu:
a. Faktor umur, dimana semakin tinggi umur responden maka akan semakin meningkatkan peluang responden untuk berpartisipasi.
b. Faktor pendidikan, dimana semakin tinggi pendidikan responden maka dapat meningkatkan partisipasi responden.
c. Status ibu, dimana responden yang tidak bekerja atau hanya sebagai ibu rumah tangga memiliki peluang yang lebih besar untuk berpartisipasi dibandingkan dengan responden yang bekerja.
Berdasarkan hasil pengamatan terbatas di lapangan, faktor lain yang dapat mempengaruhi warga Kompleks PPI berpartisipasi antara lain:
a. Fasilitas yang memadai dari pihak GPL.
b. Penyuluhan intens dari GPL kepada warga Kompleks PPI.
c. Monitoring dari kader dan fasilitator GPL.
d. Keterlibatan semua stakeholders, baik warga, pemerintah, maupun mitra kerja GPL.
Faktor-faktor tersebut dapat tergolong ke dalam faktor eksternal yang mempengaruhi partisipasi warga dalam pelaksanaan program GPL meliputi hubungan antara pengelola dengan masyarakat, kebutuhan masyarakat, pelayanan pengelola, dan kegiatan penyuluhan. Adanya fasilitas kebersihan yang terdapat di setiap RW sasaran GPL menjadi salah satu faktor pendukung warga untuk berpartisipasi misalnya seperti fasilitas tong khusus kompos. Hal ini dapat dilihat dari sudah lengkapnya tong khusus kompos di sekitar RW 11, adanya tong khusus tersebut berpengaruh terhadap partisipasi warga untuk ikut serta dalam memilah