• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Ergonomi Pengertian Ergonomi Tujuan Ergonomi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Ergonomi Pengertian Ergonomi Tujuan Ergonomi"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

LANDASAN TEORI 2.1 Ergonomi

2.1.1. Pengertian Ergonomi

Menurut (Tarwaka, 2004), Ergonomi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu “Ergon” yang artinya kerja dan “Nomous” yang artinya aturan atau hukum. Sehingga maksud dari gabungan kata Ergon-Nomous (ergonomi) adalah suatu aturan dalam suatu sistem kerja dengan tujuan optimalisasi fungsi manusia terhadap aktivitas yang dilakukannya.

Secara umum penerapan ergonomi dapat dilakukan dimana saja pada setiap melakukan pekerjaan atau aktivitas. Mulai dari lingkungan rumah, lingkungan perkantoran, lingkungan pabrik, maupun di lingkungan kerja lainnya. Pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan tanpa unsur ergonomi akan berdampak kepada ketidak nyamanan pada saat bekerja sehingga berpotensi untuk dampak lanjutan seperti cedera otot, performa kerja menurun, bahkan dapat mengakibatkan kecelakaan. Oleh karena itu penerapan ergonomi dalam segala aktivitas adalah suatu keharusan.

2.1.2. Tujuan Ergonomi

Ergonomi memilki beberapa tujuan. Menurut (Santoso, 2004) tujuannya antara lain :

1. Memaksimalkan efisiensi dari pekerajan karyawan.

2. Memperbaiki kesehatan tubuh dan keselamatan kerja karyawan pada saat melakukan segala sesuatu.

3. Menganjurkan agar karyawan dapat bekerja dengan aman, nyaman, dan lebih bersemangat.

4. Memaksimalkan bentuk kerja yang meyakinkan.

(2)

2.1.3. Penerapan Ergonomi

Penerapan ergonomi berupaya untuk menciptakan sebuah kombinasi yang paling sesuai antara sub-sistem peralatan dan lingkungan kerja dengan sub-sistem manusia sebagai penggunanya atau biasa disebut operator. Dengan terbentuknya keserasian dari kedua sub-sistem tersebut dapat meningkatkan kenyamanan dan keselamatan dalam bekerja serta dapat pula mengurangi resiko kesalahan dan kecelakaan dalam bekerja. Sehingga dengan hal ini dapat pula meningkatkan dalam segi efektif dan efisiensi kerja (kinerja) yang pada akhirnya menghasilkan pekerjaan yang lebih produktif. Berikut adalah diagram konsep dasar ergonomi:

Gambar 2. 1 Diagram Konsep Dasar Ergonomi

Pada engineering, fokus ergonomi sangat berkaitan dengan aspek-aspek human (manusia) didalam proses perencanaan dan juga perancangan seperti perancangan alat-alat, mesin, sistem produksi, dan lain-lain, termasuk juga dampak bagi pengguna atau operatornya. Oleh karena itu ergonomi mengarahkan kepada kemampuan teknis yang lebih baik agar produk sesuai dengan kemampuan dan batasan manusia sebagai penggunanya.

(3)

2.1.4. Desain Produk Ergonomis

Dalam mendesain sebuah alat secara ergonomis yang digunakan dalam sebuah kegiatan, harus disesuaikan dengan manusia yang berada dilingkungan tersebut atau penggunanya.

Apabila tidak ergonomis maka akan menyebabkan berbagai dampak negatif bagi penggunanya. Dampak negatif dalam waktu jangka pendek (short terrm) atapun dalam waktu jangka panjang (long term) (Santoso, 2013).

Bekerja dengan kondisi yang tidak ergonomis dapat menyebabkan berbagai permasalahan. Permasalahan tersebut antara lain ; cedera otot, kelelahan, bahkan kecelakaan. Saat ini terdapat 80% manusia hidup setelah dewasa merasakan atau mengalami nyeri pada bagian tubuh belakang (back pain) karena berbagai sebab termasuk salah satu penyebabnya yaitu kondisi tidak ergonomis dan back pain ini menyebabkan 40% orang tidak masuk kerja. (Santoso, 2013)

Gambar 2. 2 Chart Produk Ergonomis Berdasarkan Antropometri.

(Sumber: Santoso, 2013)

(4)

2.2 Antropometri

Antropometri adalah salah satu bidang dalam ergonomi yang menyangkut masalah pada pengukuran jarak bagian tubuh manusia.

Antropometri sendiri berasal dari kata “antrho” yang memiliki arti manusia dan “metri” yang memiliki arti ukuran. Dengan hal ini antropometri memiliki arti menelaah ukuran tubuh manusia dan mengupayakan agar manusia dalam melaksanakan kegiatannya dapat dilakukan dengan mudah dan gerakannya sederhana.

Antropometri adalah satu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik ukuran tubuh manusia dan bentuk serta penerapan dari data tersebut untuk penganganan masalah.

(Andaiviana, 2008)

Data antropometri dapat digunakan untuk merancang sebuah produk alat, stasiun kerja, fasilitas kerja, maupun desain dari sebuah produk dengan tujuan mendapatkan ukuran yang sesuai dan juga layak digunakan oleh dimensi tubuh pengguna produk tersebut.

Menurut (Wignjoesoebroto, 2008), dalam pengukuran dimensi struktur tubuh (static anthropometry) terdapat beberapa anggota tubuh yang akan diukur dimensinya. Diantaranya adalah :

Gambar 2. 3 Antropometri Tubuh (sumber : Wignjoesoebroto, 2008)

(5)

Keterangan gambar diatas dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2. 1 Keterangan Dimensi Antropometri

No Keterangan

1 Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai sampai ujung kepala)

2 Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak 3 Tinggi bahu dalam posisi berdiri tegak

4 Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus)

5 Tinggi Genggaman Tangan (Knuckle) pada Posisi Relaks kebawa 6 Tinggi badan pada posisi duduk

7 Tinggi mata dalam posisi duduk 8 Tinggi bahu dalam posisi duduk

9 Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus) 10 Tebal atau lebar paha

11 Panjang paha yang diukur dari pantat sampai ujung lutut

12 Panjang paha yang diukur dari pantat sampai bagian belakang dari lutut/betis

13 Tinggi lutut yang bisa diukur baik dalm posisi berdiri ataupun duduk

14 Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantai sampai dengan paha

15 Lebar dari bahu bisa diukur baik dalm posisi berdiri ataupun duduk

16 Lebar pinggul/pantat 17 Tebal dada

18 Tebal perut

19 Panjang siku yang diukur dari siku sampai ujung jari – jari dalam posisi siku tegak lurus

20 Lebar kepala

21 Panjang tangan diukur dari pergelangan sampai ujung jari 22 Lebar telapak tangan

23 Jarak Bentang dari Ujung Jari Tangan Kiri ke Kanan

24 Tinggi Pegangan Tangan (grip) pada Posisi Tangan Vertikal ke Atas & Berdiri Tegak

25 Tinggi Pegangan Tangan (grip) pada Posisi Tangan Vertikal ke Atas & Duduk

26 Jarak jangkauan tangan yang terjulur ke depan diukur dari bahu sampai ujung jari tangan

(6)

Gambar 2. 4 Antropometri Tangan (sumber : Nurmianto, 1991)

Keterangan gambar diatas dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2. 2 Keterangan Dimensi Antropometri

No. Dimensi Tangan

1 Panjang tangan

2 Panjang telapak tangan 3 Panjang ibu jari

4 Panjang jari telunjuk 5 Panjang jari tengah 6 Panjang jari manis 7 Panjang jari kelingking 8 Lebar ibu jari

9 Tebal ibu jari 10 Lebar jari telunjuk 11 Tebal jari telunjuk 12 Lebar telapak tangan

13 Lebar telapak tangan (sampai ibu jari) 14 Lebar telapak tangan minimum 15 Tebal telapak tangan

16 Tebal telapak tangan sampai ibu jari 17 Diameter genggam

18 Lebar maksimum ibu jari ke kelingking 19 Lebar fungsional

20 Segi empat minimum yang dapat dilewati telapak tangan

(7)

2.3 Musculoskeletal Disorder

2.3.1 Definisi Musculoskeletal Disorder (MSDs)

Keluhan Musculoskeletal disorders menurut (Tarwaka, 2004) adalah keluhan pada otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai keluhan yang sangat berat. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, maka dapat mengakibatkan beberapa keluhan berupa sakit pada bagian sendi, ligament, tendon, atau bagian otot lainnya. Keluhan-keluhan ini disebut juga musculoskeletal disorders atau biasa disingkat menjadi MSDs, yang memiliki arti lain cedera pada sebagian otot. Secara garis besar, keluhan pada otot dikelompokan menjadi dua. Yaitu:

1. Keluhan otot sementara (Reversible). Yaitu keluhan otot yang terjadi apabila otot menerima beban berupa beban statis, keluhan tersebut segera hilang pada saat pembebanan dihentikan.

2. Keluhan otot tetap (Persistent). Yaitu keluhan otot yang bersifat tetap. Walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, rasa sakit pada otot masih tetap dirasakan oleh tubuh.

2.3.2 Penyebab Keluhan MSDs

Keluhan musculoskeletal akan terjadi karena beberapa penyebab yang diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Perenggangan otot yang berlebih. Pada umumnya perenggangan otot yang berlebihan dirasakan oleh pekerja yang aktivitasnya membutuhkan tenaga yang besar seperti mengangkat beban, mendorong beban, menarik beban, ataupun menahan beban.

2. Sikap kerja yang tidak alami. Maksud dari sikap kerja yang tidak alami adalah pergerakan tubuh yang menjauhi posisi alamiahnya. Contohnya punggung terlalu membungkuk, tengan terlalu mengulur, kepala terlalu miring, dan lain-lain. Hal

(8)

tersebut jika dilakukan dalam tempo berulang-ulang atau dalam waktu yang lama, dapat menyebabkan cedera musculoskeletal.

3. Aktivitas yang berulang. Pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus seperti menggergaji kayu, mengayuh sepeda, mencangkul, dan lain-lain.

4. Faktor sekunder. Beberapa faktor sekunder yang juga berpengaruh pada cedera musculoskeletal yaitu suhu ruangan, getaran, cahaya ruangan, dan lain-lain.

5. Faktor kombinasi. Faktor kombinasi adalah gabungan dari banyak faktor yang sudah disebutkan diatas dalam waktu bersamaan. Sehingga faktor kombinasi memiliki tingkat resiko cedera atau keluhan yang lebih besar.

2.3.3 Gejala MSDs

Berikut ini adalah gejala umum yang biasanya menjadi tanda terjadinya MSDs pada tubuh pekerja

1. Gejala tahap 1

Tubuh merasa lelah, terasa tidak nyaman, nyeri yang terasa saat bekerja dan hilang atau membaik saat istirahat.

2. Gejala tahap 2

Nyeri kronis dan lebih intens, kemudian disusul dengan rasa kesemutan dan rasa seperti terbakar (panas menjalar diarea tubuh yang cedera). Rasa cedera tersebut memburuk saat bekerja dan tetap terasa saat aktivitas sehari-hari.

3. Gejala tahap 3

Nyeri kronis yang membuat tubuh terasa berat serta diikuti penurunan kekuatan otot dan kontrol pergerakan.

4. Gejala tahap 4

Nyeri yang cukup kuat dan berlangsung secara terus menerus.

(De Carvalho et al., 2009)

(9)

2.3.4 Jenis-jenis MSDs

Gangguan musculoskeletal yang diakibatkan karena cedera pada saat bekerja yang dipengaruhi oleh cara bekerja dan lingkungan kerja itu sendiri, mengakibatkan kerusakan pada otot, syaraf, tendon, dan juga persendian. Terdapat beberapa jenis dari MSDs yang diakibatkan oleh postur tubuh yang tidak alami dan kurang proporsioal. Diantaranya:

1. Nyeri leher. Yaitu gejala umum yang berada pada bagian leher, peningkatan tegangan otot, leher kaku (tengeng).

2. Low Back Pain. Yaitu adanya penekanan pada daerah tulang ekor (Lumbal L4 & L5). Dan apabila dalam menjalankan aktivitasnya posisi tubuh membungkuk kedepan, maka akan terjadi penekakan pada bagian jaringan lunak antar ruas tulang belakang (discus) (Bridger, 2008)

3. Tennis Elbow. Yaitu nyeri dan peradangan yang berada pada bagian sendi di sisi luar siku. Keadaan ini dapat terjadi saat tekanan yang berlebih pada bagian otot dan jaringan ikat yang menghubungkan otot dengan tulang di bagian lengan bawah sekitar siku. (Chesterton, et al. 2011)

4. Thoracic Outlet Syndrome. Atau biasa juga disebut Cervical Syndrome, yaitu kondisi dimana sekumpulan gejala berupa nyeri, kaku, otot melemah, kesemutan, rasa nyeri pada leher, pundak, lengan, hingga jari. Hal ini dapat terjadi karena adanya tekanan pada saraf dan pembuluh darah saat melewati area sekitar leher dan bahu sehingga mengganggu kinerja pembuluh disekitarnya. (Buller LT, et al. 2015)

5. Carpal Tunnel Syndrome. Yaitu kondisi dimana tangan mengalami rasa nyeri, melemah, kesemutan, hingga mati rasa.

Sindrom ini terjadi karena saraf didalam pergelangan tangan terhimpit atau tertekan. (Wipperman, J. & Goerl, K. 2016)

(10)

6. Sprain. Atau bahasa lainnya yaitu keseleo. Yaitu terjadi pada saat otot atau ligament menerima tekanan yang disebabkan oleh adanya postur yang memberi beban terhadap tubuh.

2.3.5 Mengatasi Keluhan MSDs

Terdapat beberapa langkah untuk mengatasi keluhan musculloskeletal menurut (Tarwaka et al, 2004) sebagai berikut:

A. Rekayasa teknik

Rekayasa teknik dilakukan dengan cara pemilihan beberapa alternatif rekayasa sebagai berikut:

1. Eleminasi. Yaitu menghilangkan penyebab atau sumber- sumber bahaya yang ada. Hal ini cukup jarang dilakukan karena mengingat kondisi dan tuntutan pekerjaan yang mengharuskan pekerja menggunakan peralatan yang tersedia.

2. Partisi. Yaitu melakukan pemisahan antara pekerja dengan sumber bahayanya. Contohnya yaitu memisahkan ruang kerja mesin dengan ruang kerja planner.

3. Subtitusi. Yaitu menukar alat atau mesin yang sudah lama dengan yang baru ataupun dengan melakukan perawatan mesin secara rutin demi penyempurnaan prosedur penggunaan peralatan.

4. Ventilasi. Yaitu penambahan ventilasi udara pada setiap ruang kerja guna mengurangi resiko pengap yang dapat meningkatkat depresi pekerja sehingga ceroboh dalam penggunaan alat.

B. Rekayasa manajemen

Rekayasa manajemen dapat dilakukan dengan beberapa tindakan sebagai berikut:

1. Pelatihan dan pendidikan kerja. Melalui pelatihan dan pendidikan kerja, pekerja akan lebih memahami alat kerja yang akan digunakannya dan memahami lingkungan

(11)

kerjanya. Dan dengan hal ini diharapkan pekerja menjadi lebih inovatif dalam berupaya pencegahan resiko cedera akibat kerja

2. Manajemen waktu kerja dan istirahat yang seimbang (allowance time) . Menyesuaikan karakteristik pekerjaan dan kondisi lingkungan pekerjanya. Sehingga dapat mencegah tenaga berlebih yang digunakan pekerja untuk dialihkan menjadi istirahat agar tidak cedera.

3. Pengawasan intensif. Dengan melakukan hal ini dapat melakukan pencegahan secara lebih dini kepada pekerja terhadap kemungkinan terjadinya resiko cedera akibat kerja.

2.4 Produktivitas Kerja

Produktivitas diambil dari serapan bahasa inggris yaitu productive yang berarti produktif atau dalam definisi kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) produktif adalah sesuatu yang mampu menghasilkan sesuatu.

Dalam sudut pandang psikologis produktivitas kerja menunjukan tingkah laku pekerja sebagai keluaran (output) dari sebuah proses berbagai macam latar belakang komponen kejiwaan yang berada dalam pekerja tersebut.

Produktivitas kerja membahas tingkah laku individu, yaitu tingkah laku produktivitasnya. Terkhusus lagi didalam bidang kerja atau organisasi kerja.

(Sedarmayanti, 2004).

2.4.1 Faktor yang Mempengaruhi produktivitas kerja

Pada dasarnya, produktivitas kerja ditentukan oleh 2 faktor.

Yaitu :

1. Faktor teknis, yaitu faktor yang berhubungan dengan pemakaian dan penerapan fasilitas produksi secara lebih baik, efektif, dan efisien.

2. Faktor manusia, yaitu faktor yang mempunyai pengaruh terhadap usaha-usaha yang dilakukan manusia didalam

(12)

menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.

2.4.2 Sumber Produktivitas Kerja

Sumber produktivitas kerja yaitu manusia sebagai tenaga kerja secara individu maupun secara kelompok, yang mana pekerjaan sepenuhnya terarah dengan usaha mencari cara yang dapat meningkatkan produktivitasnya dalam bekerja, terutama dalam hal peningkatan kualitas dalam pelaksanaan kerjanya. Sumber-sumber produktivitas tersebut adalah:

1. Penggunaan akal pikiran. Produktivitas kerja tinggi yaitu pekerjaan yang dapat memperoleh hasil maksimal dengan menggunakan cara termudah, dalam artian lain tidak perlu banyak pikiran dan kerumitan yang perlu dilakukan.

2. Penggunaan tenaga fisik. Produktivitas kerja tinggi yaitu memperoleh hasil yang banyak dan berkualitas, tentunya ditunjangi dengan tenaga fisik yang baik.

3. Penggunaan waktu. Produktivitas kerja tinggi yaitu pekerjaan dapat dilakukan dengan secepat mungkin tanpa membuang banyak waktu.

4. Penggunaan ruangan. Produktivitas kerja tinggi yaitu menggunakan ruang yang secukupnya dan tidak memerlukan mobilitas yang jauh.

5. Penggunaan material. Produktivitas kerja tinggi yaitu penggunaan material atau bahan baku atau peralatan lainnya tidak banyak terbuang sia-sia dan harganya tidak terlalu mahaln tanpa mengurangi kualitas yang dihasilkan sehingga dapat menghemat pengeluaran. (Sedarmayanti, 2004)

(13)

2.5 Evaluasi Sikap Kerja

2.5.1. Nordic Body Map (NBM)

Nordic Body Map atau biasa disingkat NBM adalah suatu cara pengukuran gangguan atau keluhan sakit MSDs yang dirasakan oleh pekerja. Dengan kuisioner NBM tersebut dapat diketahui bagian otot mana yang sering mengalami gangguan atau cedera dengan tingkat keluhan mulai dari Tidak Sakit (A), Agak Sakit (B), Sakit (C), dan Sangat Sakit (D). Berirkut adalah tabel kuisioner NBM:

Gambar 2. 5 Kuisioner Nordic Body Map

(14)

(Sumber : Tabel Standard Nordic Questionaire )

2.5.2. Manual Handling Assesment Chart (MAC) Tool

MAC Tool adalah sebuah metode yang dikembangkan oleh Health and Safety Executive (HSE) di Negara Inggris untuk membantu perusahaan terutama untuk manajer K3 perusahaan dalam menilai faktor resiko umum yang memiliki tingkatan resiko tinggi maupun rendah dan juga membawa tim kedalam penaganan operasi yang dikembangkan untuk mengidentifikasi resiko yang akan terjadi. Hal ini akan mengarahkan kita untuk memodifikasi dalam pengendalian resiko yang akan terjadi.

Tujuan penilaian tingkat resiko kerja ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengurangi tingkat resiko kerja terutama pada kegiatan material handling. Untuk membuat penilaian tingkat resiko kerja, dalam metode ini diklasifikasikan berdasarkan tabel warna berikut ini:

Tabel 2. 3 Tingkatan Nilai Resiko (Sumber: HSE)

Aktivitas yang dinilai pada MAC Tool terbagi menjadi 3, yaitu lifting (mengangkat), carrying (membawa), dan team handling (penanganan tim). Masing-masing dari aktivitas penilaian tersebut memiliki prosedur penilaian yang berbeda. Berikut ini adalah penjelasan prosedur dari masing-masing aktivitas penilaian:

(15)

2.5.2.1. Penilaian Lifting Operations 1. Berat Beban dan Frekuensi

Catat berat beban dan frekuensi (atau laju pengulangan) dari operasi pengangkatan. Baca pita risiko dari grafik di bawah ini dan masukkan pita warna dan skor numerik ke lembar skor.

Jika pita warna ungu, Anda harus memeriksa tugas dengan sangat cermat karena dapat menimbulkan risiko cedera yang serius dan harus diperbaiki.

Gambar 2. 6 Grafik Beban

2. Jarak Tangan dari Punggung Bawah

Amati jarak horizontal antara tangan pekerja dan punggung bawah. Anda harus menilai 'skenario terburuk', termasuk mengangkat dan menjatuhkan. Gunakan ilustrasi dan deskripsi berikut sebagai panduan:

(16)

Lengan atas vertikal dan batang tubuh

tegak

Lengan atas miring menjauh

dari batang tubuh

Tubuh ditekuk kedepan

Batang tubuh tegak. Lengan

sepenuhnya terulur

Lengan atas miring jauh dari batang

tubuh kedepan

G/0 A/3 A/3 R/6 R/6

Gambar 2. 7 Penilaian MAC Tools

3. Zona Pengangkatan Vertical

Amati posisi vertikal tangan pekerja di awal dan akhir pengangkatan barang. Catat pita warna / skor kasus terburuk.

Gunakan ilustrasi dan deskripsi berikut sebagai panduan:

Tinggi tangan sejajar dengan siku

Tinggi tangan sejajar dengan

lutut

Tinggi tangan sejajar dengan

bahu

Tinggi tangan sejajar dengan kaki atau lantai

Tinggi tangan sejajar dengan kepala atau

diatas kepala

G/0 A/1 A/1 R/3 R/3

Gambar 2. 8 Penilaian MAC Tools

4. Postur Tubuh Memutar dan Membungkuk ke Samping Amati batang tubuh pekerja saat beban diangkat. Jika orang tersebut memelintir batang tubuh dalam kaitannya dengan pinggul atau bersandar ke satu sisi saat beban diangkat, pita warna kuning dan nilainya 1. Jika batang tubuh memutar dan menekuk ke samping saat beban diangkat, pita warna merah dan skornya 2.

(17)

Sedikit atau tidak ada batang tubuh yang berputar atau bengkok

Batang tubuh memelintir

batang tubuh bengkok kesamping

Batang tubuh memelintir dan bengkok kesamping

G/0 A/1 A/1 R/2

Gambar 2. 9 Penilaian MAC Tools

5. Kendala Postural Tubuh (Posisi Alamiah Tubuh)

Menurut Susihono dan Rubianto (2013), sikap kerja yang tidak alami adalah penyebab bagian tubuh tidak bedara posisi alamiahnya atau bergerak menjauhi posisi almiahnya seperti tangan terlalu mengangkat tinggi, punggung yang membungkuk, atau yang lainnya. Semakin jauh dari posisi alamiahnya, semakin tinggi pula resiko cedera muskuluskeletal. Sehingga pada penilaian ini adalah untuk menilai postural alamiah pekerjanya.

Tidak ada kendala postur Postur tubuh terbatas postur sangat terbatas

G/0 A/1 R/3

Gambar 2. 10 Penilaian MAC Tools

6. Grip atau Pegangan Pada Beban

Lihatlah kualitas pegangan yang bisa digunakan pekerja untuk memegang dan mengontrol beban. Pekerja mungkin perlu mengatur ulang posisi tangan mereka pada objek saat lift berlangsung.

(18)

Pegangan / pegangan yang cocok untuk tujuan yang disesuaikan dengan ukuran dan

berat muatan

Pegangan tangan terlalu kecil atau jarak jari kurang atau hanya jari yang menopang beban

Tidak ada area untuk pegangan

Kasar, licin atau dengan titik-titik bertekanan

G/0 A/1 R/2 R/2

Pegangan silinder atau barang yang dapat dibungkus

oleh seluruh tangan dengan nyaman

Tidak ada pegangan atau pegangan tetapi bisa dipegang di bawah, atau

memiliki pegangan tali atau lingkaran

Pegangan atau kekuatan telapak tangan, cubit,

atau ujung jari yang digunakan untuk menyatukan barang

Tidak teratur, besar, atau tidak kaku

G/0 A/1 R/2 R/2

Gambar 2. 11 Penilaian MAC Tools

7. Permukaan Lantai

Perhatikan kondisi lantai tempat tugas penanganan berlangsung. Perhatikan bahwa untuk pekerjaan di luar ruangan, hal ini tergantung pada cuaca. Selalu nilai skenario terburuk.

Tidak licin, kering, bersih, kesat rata dan

tidak rusak

Tidak licin, kering, bersih, kesat, sebagian besar kering dan bersih (lembab

atau dan tidak rusak beberapa kotoran), atau cukup keras atau kerusakan kecil

Licin (berminyak, basah, dingin) atau banyak serpihan atau lunak atau tidak

stabil atau kerusakan parah

G/0 A/1 R/2

Gambar 2. 12 Penilaian MAC Tools

8. Faktor Lingkungan

Amati lingkungan kerja dan nilai jika operasi penanganan berlangsung: suhu ekstrim; dengan gerakan udara yang kuat;

atau dalam kondisi pencahayaan yang ekstrim (gelap, terang atau kontras buruk). Jika salah satu faktor risiko ada skor 1, jika dua atau lebih faktor risiko ada skor 2.

Tidak ada faktor Terdapat 1 faktor Terdapat 2 faktor atau lebih

G/0 A/1 R/2

Gambar 2. 13 Penilaian MAC Tools

(19)

2.5.2.2. Penilaian Carrying Operations 1. Berat Beban dan Frekuensi

Langkah pertama yaitu memberikan penilaian berat dari beban yang akan diangkat dan juga frekuensi pengulangan pada aktivitas mengangkatnya. Grafik untuk mengatahui nilai resikonya dapat dilihat pada gambar dibawah ini

Gambar 2. 14 Penilaian MAC Tools

2. Jarak Tangan Dari Punggung Bawah

Kemudian melakukan penilaian dengan cara mengidentifikasi jarak antara tangan yang mengangkat beban degan posisi punggung. Jarak terbilang dekat apabila posisi tangan certikal dan tulang punggung tegak. Dan sebaliknya, jika tangan membentuk sudut tertentu dan posisi tulang punggung membungkuk, berarti jaraknya jauh. Lebih jelasnya, ada pada gambar berikut:

(20)

Lengan atas vertikal dan batang tubuh tegak

Lengan atas miring menjauh dari batang

tubuh

Tubuh membungkuk kedepan

Lengan atas miring menjauh dari batang tubuh dan tubuh

membungkuk kedepan

G/0 A/3 A/3 R/6

Gambar 2. 15 Penilaian MAC Tools

3. Batang Tubuh atau Beban Asimetris

Pada saat membawa beban, faktor simetri tubuh juga cukup berpengaruh dalam faktor cedera MSDs. Maka dalam tahap ini dapat dilihat penilaiannya sebagai berikut:

Gambar 2. 16 Penilaian MAC Tools

4. Kendala Postural

Untuk penilaian kendala postural tubuh,dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Tidak ada kendala

postur Postur tubuh terbatas Postur yang sangat terbatas

G/0 A/1 R/3

Gambar 2. 17 Penilaian MAC Tools

5. Pegangan Pada Beban

Kemudian tahap selanjtnuya adalah menilai pegangan beban.

Untuk penilaiannya dapat dilihat pada gambar berikut:

Beban dan tangan simetris di depan

batang tubuh

Batang tubuh simetris tetapi beban dibawa ke satu sisi

Beban tidak simetris

Menggendong dua tangan ke samping

G/0 A/1 A/1 R/2

(21)

Pegangan yang cocok untuk tujuan yang disesuaikan dengan ukuran dan berat muatan

Pegangan tangan terlalu kecil atau jarak jari kurang atau hanya jari yang menopang beban

Tidak ada pegangan atau area untuk

menahan

Kasar, licin atau dengan titik- titik bertekanan

G/0 A/1 R/2 R/2

Gagang silinder atau barang yang dapat dibungkus seluruh tangan dengan nyaman

Tidak ada pegangan tetapi bisa dipegang di bawahnya, atau memiliki pegangan tali

pengikat

Pegangan atau kekuatan telapak tangan, cubit, atau ujung jari yang digunakan untuk menyatukan barang

Tidak beraturan, besar atau tidak kaku

G/0 A/1 R/2 R/2

Gambar 2. 18 Penilaian MAC Tools

6. Permukaan Lantai

Kondisi lantai juga termasuk dalam kritreria dalam penilaian aktivitas pengangkatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Tidak licin, kering, bersih, kencang, rata dan

tidak rusak

Sebagian besar kering dan bersih (lembab atau sedikit kotoran), atau cukup keras atau kerusakan

ringan

Lapisan yang licin (berminyak, basah, dingin) di beberapa area atau lunak atau tidak stabil

atau kerusakan parah

G/0 A/1 R/3

Gambar 2. 19 Penilaian MAC Tools

7. Jarak Membawa Beban

Kemudian tahap selanjutnya yaitu penilaian jarak ativitas membawa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Antara 2 - 4 meter Antara 4 - 10 meter Diatas 10 meter

G/0 A/1 R/2

Gambar 2. 20 Penilaian MAC Tools

(22)

8. Hambatan di Rute

Pada tahap ini yaitu menilai halang rintang yang berada di area tempat pekerja saat membawa beban. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Tidak ada rintangan dan membawa rute datar atau miring dengan lembut

Satu jenis rintangan atau lereng yang curam

Tangga atau setidaknya dua jenis rintangan

G/0 A/2 R/3

Gambar 2. 21 Penilaian MAC Tools

9. Faktor Lingkungan

Kemudian tahapan terakhirnya yaitu menilai faktor lingkungan pekerjanya. Faktor-faktor yang dimaksud seperti pencahayaan, suhu ruangan, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Tidak ada faktor Memiliki 1 faktor Memiliki 2 faktor atau lebih

G/0 A/1 R/2

Gambar 2. 22 Penilaian MAC Tools

2.5.2.3. Penilaian Team Handling Operations 1. Berat Beban

Langkah pertama yaitu memberi penilaian dari berat dari beban yang akan diangkat dan juga dilakukan oleh berapa orang kegiatan tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

2 orang <35 kg 3 orang <55 kg 4 orang <75 kg

2 people 35–65 kg 3 people 55–95 kg 4 people 75–130 kg

2 people 65–85 kg 3 people 95–130 kg 4 people 130–170 kg

2 people > 85 kg 3 people > 130 kg 4 people > 170 kg

G/0 A/4 R/6 P/10

Gambar 2. 23 Penilaian MAC Tools

2. Jarak Tangan Dari Punggung Bawah

Kemudian tahap berikutnya adalah menilai posisi tangan sejajar vertikal dengan batang tubuh atau tidak. Semakin tegak semakin minim resiko cedera, sedangkan semakin membungkuk semakin tinggi nilai resikonya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

(23)

Lengan atas vertikal dan batang tubuh

tegak

Lengan atas miring menjauh dari batang tubuh atau batang tubuh yang

ditekuk ke depan

Lengan atas miring menjauhi batang tubuh dan batang tubuh

membungkuk ke depan

G/0 A/3 R/6

Gambar 2. 24 Penilaian MAC Tools

3. Zona Pengangkatan Vertikal

Pada poin ini yang dinilai adalah ketika beban baru mulai diangkat secara vertikal. Untuk penilaian lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Tinggi tangan di antara lutut dan siku

Tangan di bawah lutut dan atau di atas tinggi siku

Tangan setinggi lantai atau di bawah atau tinggi kepala ke atas

G/0 A/1 R/3

Gambar 2. 25 Penilaian MAC Tools

4. Tubuh Memutar dan Membungkuk ke Samping

Pada poin ini penilaian dilakukan pada posisi batang tubuh pekerja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Sedikit atau tidak ada batang tubuh yang berputar atau

menekuk ke samping

Batang tubuh terpelintir atau bengkok ke samping

Batang tubuh keduanya terpelintir dan bengkok ke samping

G/0 A/1 R/2

Gambar 2. 26 Penilaian MAC Tools

(24)

5. Kendala Postur Tubuh

Untuk penilaian kendala postural tubuh,dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Tidak ada kendala postur Postur tubuh terbatas Postur yang sangat terbatas

G/0 A/1 R/3

Gambar 2. 27 Penilaian MAC Tools

6. Pegangan Pada Beban

Pada poin ini yang diberi penilaian adalah bentuk genggaman beban yang dibawa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Pegangan yang cocok untuk tujuan yang disesuaikan dengan

ukuran dan berat muatan

Pegangan tangan terlalu kecil atau jarak jari kurang atau hanya jari yang menopang

beban

Tidak ada pegangan atau area pegangan

Kasar, licin atau dengan titik-titik bertekanan

G/0 A/2 R/4 R/4

Pegangan silinder atau barang yang dapat dibungkus oleh seluruh tangan dengan nyaman

Tidak ada pegangan tetapi bisa dipegang di bawahnya, atau memiliki

pegangan tali pengikat

Pegangan atau kekuatan telapak tangan, cubit, atau ujung jari yang digunakan untuk menyatukan barang

Tidak beraturan, besar atau tidak kaku

G/0 A/1 R/4 R/4

Gambar 2. 28 Penilaian MAC Tools

7. Permukaan Lantai

Pada poin ini yang diberi penilaian adalah kondisi permukaan lantai area pemindahan beban. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

(25)

Tidak licin, kering, bersih, kencang, rata dan tidak

rusak

Sebagian besar kering dan bersih (lembab atau serpihan di beberapa

area), atau cukup keras atau sedikit kerusakan

Licin (berminyak, berminyak, basah, dingin) atau serpihan di beberapa area atau kerusakan lunak atau tidak stabil atau parah

G/0 A/1 R/3

Gambar 2. 29 Penilaian MAC Tools

8. Jarak Membawa Beban

Pada poin ini penilaian diberikan sesuai dengan jarak pemindahan beban. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Jarak antara 2 - 4 meter Jarak antara 4 - 10 meter Jarak lebih dari 10 meter

G/0 A/1 R/3

Gambar 2. 30 Penilaian MAC Tools

9. Hambatan di Rute

Pada tahap ini yaitu menilai halang rintang yang berada di area tempat pekerja saat membawa beban. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Tidak ada rintangan dan membawa rute datar atau miring dengan lembut

Salah satu jenis rintangan atau lereng yang curam

Tangga atau setidaknya dua jenis rintangan

G/0 A/2 R/3

Gambar 2. 31 Penilaian MAC Tools

10. Komunikasi, Koordinasi, dan Kontrol

Penilaian pada poin ini dilihat dan disesuaikan dengan komunikasi, koordinasi, dan kontrol para pekerjanya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Komunikasi, koordinasi dan kontrol yang baik

Komunikasi, koordinasi, dan kontrol yang wajar

Komunikasi, koordinasi, dan kontrol yang buruk

G/0 A/1 R/3

Gambar 2. 32 Penilaian MAC Tools

11. Faktor Lingkungan

Kemudian tahapan terakhirnya yaitu menilai faktor lingkungan pekerjanya. Faktor-faktor yang dimaksud seperti pencahayaan, suhu ruangan, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Tidak ada faktor Memiliki 1 faktor Memiliki 2 faktor atau lebih

G/0 A/1 R/2

Gambar 2. 33 Penilaian MAC Tools

(26)

2.5.3. Lembar Perhitungan MAC Tools

Berikut adalah lembar perhitungan untuk melakukan rekapitulasi penilaian menggunakan MAC Tools:

Tabel 2. 4 Tabel Rekapitulasi MAC Tools (Sumber : HSE)

Faktor Resiko Pita Warna Score Numerik (untuk

perbandingan) (G,O,R, atau P)

Lifting Carry Team Lifting Carry Team

Beban berat / frekuensi

Jarak tangan dari punggung bawah

Zona pengangkatan vertikal N/A N/A

Batang tubuh memutar dan

membungkuk ke samping atau batang tubuh atau beban asimetris (carrying)

Kendala postur tubuh

Pegangan (grip) bebannya

Permukaan lantai

Jarak membawa beban N/A N/A

Hambatan dalam perjalanan N/A N/A

Komunikasi, koordinasi dan kontrol N/A N/A N/A N/A

Faktor lingkungan

Total Score:

Referensi

Dokumen terkait

manusia dalam pekerjaan mereka, (dan) manajemen sumber daya manusia meneliti hal-hal yang dapat atau harus dilakukan untuk menjadikan orang yang bekerja menjadi lebih

Fungsi utama pada fisiologi adalah sistem yang mengizinkan setiap individu untuk bekerja tanpa dipengaruhi kelelahan yang berlebihan sehingga saat pekerjaan berakhir

Pada pengukuran kerja secara langsung dimana setiap aktivitas yang dilakukan sesuai dengan lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.. Pengukuran ini dapat

Jenis pekerjaan adalah macam pekerjaan yang sedang atau pernah dilakukan oleh orang-orang yang mencari pekerjaan dan pernah bekerja.. Jenis pekerjaan ini dibagikan dalam 8

Ketika fungsi tujuan adalah sejajar dengan satu dengan satu batasan yang mengikat, maka fungsi tujuan akan memiliki nilai optimal yang sama di lebih dari satu titik sudut. Karena

Turner, dkk halaman 208, waktu normal adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan operator terlatih untuk melakukan suatu pekerjaan dalam kondisi kerja yang biasa dan bekerja

Kesimpulan dari kelebihan dan kekurangan pembelajaran model Make A Match adalah bahwa kelebihannya dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, karena adanya unsur

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah proses atau kegiatan dimana karyawan diberikan pembelajaran yang sesuai dan dibutuhkan