17
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Perikatan 1. Perikatan
1) Definisi Perikatan
Hukum Perikatan diatur dalam buku III KUHPerdata mengenai definisi hukum perikatan/ Verbentenis/ Obligatio sendiri tidak ada dalam pasal apa yang di maksud dengan perikatan, namun berdasarkan pendapat para ahli: Yustinianus mengatakan bahwa: “Suatu perikatan hukum atau Obligation adalah suatu kewajiban dari seseorang untuk mengadakan prestasi terhadap pihak lain”, definisi tersebut ditinjau dari segi kewajiban atau segi pasifnya saja. Menurut Von Savigny mengatakan: “Perikatan Hukum adalah hak dari seseorang (kreditur) terhadap orang lain (debitur)”, yang mana ditinjau dari segi hak atau aktifnya saja.
Sedangkan menurut Prof. R. Subekti, S.H. mengatakan bahwa:
“Suatu Perikatan adalah hubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hak dari pihak lain, dan pihak lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu”. Definisi tersebut di atas mengandung dua segi yakni segi aktif (hak) dan segi pasif (kewajiban).
18
18 Komariah, Hukum Perdata (edisi revisi), UMM Press, Malang, 2016, hal 117.
18
2) Unsur-unsur Perikatan
Suatu perikatan harus memenuhi unsur-unsur atau elemen-elemen sebagai berikut:
a. Ada hubungan hukum, artinya hubungan yang diberi akibat oleh undang-undang.
b. Di dalam bidang hukum harta kekayaan, yaitu peraturan- peraturan hukum yang mengatur hak dan kewajiban manusia yang bernilai uang.
c. Antara dua pihak, yaitu antara kreditur yang berhak atas suatu prestasi dengan debitur yang berkewajiban menunaikan prestasi.
d. Isi dan tujuan, yaitu prestasi.
193) Mulai dan berakhirnya perikatan
Ada beberapa macam perikatan ditinjau dari mulai dan berakhirnya perikatan yaitu:
a. Perikatan Bersyarat (pasal 1253-1267 KUHPerdata)
Menurut pasal 1253 KUHPerdata, perikatan bersayarat ialah perikatan berdasarkan pada peristiwa yang masih akan akan datang dan yang masih belum tentu terjadi, baik secara menanguhkan maupun secara membatalkan perikatan. “Syarat”
pada perikatan hukum bersyarat harus memenuhi:
19 Ibid, hal 118.
19
a) Syarat tidak boleh bertentangan dengan undang-undang.
b) Syarat tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan.
c) Syarat yang dapat atau mungkin dilaksanakan.
d) Syarat yang ditetapkan oleh kedua belah pihak
b. Perikatan dengan ketetapan waktu (pasal 1268-1271 KUHPerdata)
Perikatan hukum dengan ketetapan waktu ialah suatu perikatan yang didasarkan dengan atas kejadian di kelak kemudian hari dan pasti terjadi. Menurut pasal 1268 KUHPerdata, perikatan dengan ketetapan waktu tidak menangguhkan perikatan, akan tetapi menangguhkan pelaksanaan.
20B. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian 1. Definisi Perjanjian
Pengertian perjanjian diatur dalam pasal 1313 KUHPerdata
“Perjanjian atau persetujuan adalah suatu perbuatan hukum dimana seorang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap seseorang atau lebih”.
Atau juga dapat diartkan suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain, atau dimana dua orang saling berjanji untuk melaksankan sesuatu.
20 Ibid, hal 123.
20
Perjanjian tersebut menerbitkan perikatan, oleh karena itu perjanjian merupakan sumber terpenting yang melahirkan perikatan. Dalan bentuknya perjanjian itu berupa suatu rangkaian kata-kata yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis.
2. Unsur-unsur Perjanjian
Suatu perjanjian harus memenuhi tiga macam unsur:
a. Essentialia, ialah unsur yang sangat esensil/ penting dalam suatu perjanjian yang harus ada. Misalnya, di dalam perjanjian ada kata sepakat antara kedua belah pihak, di dalam perjanjian jual beli tertulis barang dan harga.
b. Naturalia, ialah unsur perjanjian yang sewajarnya ada jika tidak dikesampingkan oleh kedua belah pihak. Misalnya, menurut pasal 1474 KUHPerdata dalam perjanjian jual beli barang, penjual wajib menjamin cacat yang tersembunyi.
Namun kewajiban ini dapat ditiadakan dengan kesepakatan kedua belah pihak.
c. Accidentalia, ialah unsur perjanjian yang ada jika dikehendaki oleh kedua belah pihak.
3. Bentuk-bentuk Perjanjian
Bentuk-bentuk perjanjian dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu tertulis dan tidak tertulis. Perjanjian tertulis adalah
21
perjanjian yang dibuat oleh para pihak dalam bentuk tulisan.
Sedangkan perjanjian lisan suatu perjanjian yang dibuat oleh para pihak dalam wujud lisan (cukup kesepakatan para pihak). Ada tiga bentuk perjanjian tertulis, sebagimana dikemukakan berikut ini :
21a. Perjanjian di bawah tangan yang ditandatangani oleh para pihak yang bersangkutan saja. Perjanjian itu hanya mengikat para pihak dalam perjanjian, tetapi tidak mempunyai kekuatan mengikat pihak ketiga. Dengan kata lain, jika perjanjian tersebut disangkal pihak ketiga maka para pihak atau salah satu pihak dari perjanjian itu berkewajiban mengajukan bukti-bukti yang diperlukan untuk membuktikan keberatan pihak ketiga dimaksud tidak berdasar dan tidak dapat dibenarkan.
b. Perjanjian dengan saksi notaris untuk melegalisir tanda tangan para pihak. Fungsi kesaksian notaris atau suatu dokumen semata-mata hanya untuk melagilisir kebenaran tanda tangan para pihak. Akan tetapi, kesaksian tersebut tidaklah mempengaruhi kekuatan hukum dari isi perjanjian.
Salah satu pihak mungkin saja menyangkal isi perjanjian namun pihak yang menyangkal itu adalah pihak yang harus membuktikan penyangkalannya.
21 Salim, Hukum Kontrak , Sinar Grafika, Jakarta , 2008, hal 42-43.
22
c. Perjanjian yang dibuat dihadapan dan oleh notaris dalam bentuk akta notariel. Akta notariel adalah akta yang dibuat di hadapan dan di muka pejabat yang berwenang untuk itu.
Pejabat yang berwenang untuk itu adalah notaris, camat, PPAT, dan lain-lain.
Jenis dokumen ini merupakan alat bukti yang sempurna bagi para pihak yang bersangkutan maupun pihak ketiga. Ada fungsi akta notariel (autentik), yaitu :
a. Sebagai bukti bahwa para pihak yang bersangkutan telah mengadakan perjanjian tertentu.
b. Sebagai bukti bagi pra pihak bahwa apa yang telah tertulis dalam perjanjian adalah menjadi tujuan dan keinginan para pihak.
c. Sebagai bukti kepada pihak ketiga bahwa pada tanggal tertentu, kecuali jika sitentukan sebaliknya para pihak telah mengadakan perjanjian dan bahwa isi perjanjian adalah sesuai dengan kehendak para pihak.
224. Asas –asas Perjanjian
Di dalam ilmu hukum dikenal adanya 10 asas perjanjian, yaitu:
a. Asas Konsensualitas
22 Ibid, hal 43.
23
Artinya dengan adanya kata sepakat anatara kedua belah pihak, perjanjian sudah mengikat. Jadi perikatan lahir sejak detik tercapainya kesepakatan. Dapat disimpulkan dari pasal 1320 KUHPerdata yang menentukan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian adalah kata sepakat.
b. Bentuk Perjanjian Bebas
Artinya perjanjian tidak terikat pada bentuk tertentu. Jadi boleh diadakan secara tertulis, lisan maupun sebagainya.
c. Asas Kebebasan Berkontrak
Artinya a) setiap orang bebas membuat jenis-jenis perjanjian yang diatur dalam undang-undang; b) membuat atau tidak membuat perjanjian; c) mengadakan perjanjian dengan siapapun; d) menentukan isi perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya; e) menentukan bentuk perjanjian apakah tertulis/ lisan. Asas ini dapat disimpulkan dari pasal 1338 ayat 1 KUHPerdata yang menentukan: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undng-undang bagi mereka yang membuatnya”.
d. Apa Yang Diperjanjikan Mengikat Kedua Belah Pihak
Asas ini dapat kita simpulkan dari pasal 1338 ayat 1
KUHPerdata seperti halnya asas kebebasan berkontrak tersebut
diatas yakni mengikat artinya masing-masing pihak dalam
24
perjanjian tersebut harus menghormasti dan melaksanakan isi perjanjian, serta tidak boleh melakukan perbuatan yang bertentangan dengan isi perjanjian. Isi perjanjian yang mengikat tersebut berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
e. Asas Persamaan Hak
Asas ini menempatkan para pihak dalam perjanjian mempunyai persamaan derajat, dengan tidak mengindahkan perbedaan bangsa, ras, agama, golongan, jenis kelamin maupun status social. Masing-masing pihak wajib mengakui persamaan hak ini dan harus menghormatinya.
f. Asas Kepercayaan
Para pihak yang akan mengadakan perjanjian karena adanya kepercayaan satu sama lain bahwa masing-masing akan melaksanakan prestasi (bagi debitur) dan tegen/ kontra prestasi (bagi kreditur).
g. Asas Keseimbangan
Bahwa para pihak dalam perjanjian masing-masing
mempunyai hak dan kewajiban yang seimbang. Prestasi harus
seimbang dengan dan tegen/ kontra prestasi, kreditur
mempunyai kekuatan untuk menuntut prestasi dan sebaliknya
25
debitur mempunyai kekuatan untuk menuntut dan tegen/
kontra prestasi.
h. Asas Kepatutan
Asas ini dituangkan dalam pasal 1339 KUHPerdata bahwa perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesutau yang menurut sifat perjanjian diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan dan undang-undang. Menurut asas ini ukuran tentang hubungan para pihak ditentukan juga oleh rasa keadilan dalam masyarakat.
i. Asas Kepastian Hukum
Pasal 1338 KUHPerdata menegaskan semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Dari pasal ini tertuang asas kepastian hukum, karena mengakui isi sebagai undang-undang bagi para pihak yang disebutkan dengan arti konkrit, yakni undang- undang yang lahir dari perjanjan dan hanya berlaku pada para pihak dalam perjanjian.
j. Asas Moral
Asas ini menunjukkan adanya moral dalam melaksanakan
perikatan, sebagaimana dalam zaakwarneming (perwakilan
tanpa kuasa) yang diatur dalam pasal 1354 KUHPerdata.
26
Seseorang mewakili urusan orang lain dengan sukarela, tanpa punya hak tegen prestasi, mempunyai kewajiban hukum untuk meneruskan dan menyelesaiakan perbuatannya.
23k. Asas Itikad Baik
Asas ini disimpulkan dari Pasal 1338 ayat 3 KUHPerdata “Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”, asas ini mengisyaratkan: para pihak harus melaksanakan, substansi kontrak berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh atau kemauan yang baik dari para pihak.
Itikad baik dibagi menjadi dua: Itikad baik nisbi yakni memperhatikan sikap dan tingkah laku nyata dari subyek.
Itikad baik mutlak yakni penilainnya pada akal sehat dan keadilan, dibuat penilaian yang obyektif menurut norma yang obyektif. Dan jika ada orang yang menganggap itikad buruk yang menuduh harus membuktikan.
l. Asas Kepribadian (Personalitas)
Asas ini dapat dilihat pada Pasal 1315 dan 1340 KUHPerdata. Pasal 1315 KUHPerdata, “Pada umumnya tak seorang dapat mengikatkan diri atas nama diri sendiri atau meminta ditetapkannya suatu janji dari pada untuk dirinya sendiri” Pasal 1318 KUHPerdata “Jika seorang minta
23 Ibid, hal 143-146.
27
diperjanjikan sesuatu hal, maka dianggap bahwa itu untuk ahli waris-ahli warisnya dan orang-orang yang memperoleh hak daripadanya, kecuali jika dengan tegas ditetapkan atau dapat disimpulkan dari sifat perjanjian, bahwa tidak sedemikianlah maksudnya” disamping mengikat para pihak juga mengikat ahli waris secara otomatis walaupun tidak disebutkan. Untuk kepentingan: diri sendiri, ahli waris, dan orang-orang yang memperoleh hak daripadanya.
Pasal 1340 KUHPerdata, “Suatu perjanjian hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya”. Pengecualian: Pasal 1317 KUHPerdata (perjanjian untuk pihak ketiga).
245. Syarat Sah Perjanjian
Menurut pasal 1320 KUHPerdata untuk sahnya perjanjian diperlukan empat syarat, yaitu:
a. Sepakat mereka mengikatkan dirinya
Dengan sepakat dimaksudkan bahwa pihak-pihak yang mengadakan perjanjian itu harus bersepakat, setuju atau sekata berkehendak mengenai hal-hal yang pokok dari perjanjian yang diadakan itu.
b. Kacakapan untuk membuat suatu perjanjian
24 Isdian Anggraeny, Bab Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, Dalam Pembelajaran Power Point, Universitas Muhammadiyah Malang, 2018
28
Dalam pasal 1330 KUHPerdata disebutkan orang-orang yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian, yaitu:
a) Orang-orang yang belum dewasa
b) Orang-orang yang di bawah pengampuan
Pasal 433 KUHPerdata “Setiap orang dewasa yang selalu dalam keadaan dungu, sakit otak atau mata gelap harus ditaruh di bawah pengampuan, bahkan ketika ia kadang- kadang cakap menggunakan pikirannya. Masih menurut pasal yang sama, orang dewasa yang sangat boros pun layaknya ditaruh di bawah pengampuan.”
c. Suatu hal tertentu
Suatu hal tertentu artinya barang yang menajdi objek perjanjian harus dapat ditentukan. Paling sedikit harus dapat ditentukan jenisnya diatur dalam pasal 1333 KUHPerdata, dalam pasal 1332 KUHPerdata yakni barang-barang yang diperdagangkan, barang yang ada di kemudian hari pada pasal 1334 ayat 1 KUHPerdata kecuali warisan belum terbuka pasal 1334 ayat 2 KUHPerdata.
d. Suatu sebab atau causa yang halal
Sebab atau causa ini yang dimaksudkan undang-undang adalah
isi dari perjanjian itu sendiri.
29
Pasal 1335 KUHPerdata perjanjian tanpa kausa “Suatu perjanjian tanpa sebab,atau yang telah dibuat karena sesuatu sebab yang palsu atau terlarang,tidak mempunyai kekuatan.”
Pasal 1336 KUHPerdata “Jika dinyatakan sesuatu sebab, ataupun jika ada suatu sebab lain daripada yang dianyatakan, diperjanjikanya namun demikian adalah sah.”
Pasal 1337 KUHPerdata “Suatu sebab adalah terlarang, apabila dilarang oleh undang-undang, atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum.”
6. Pembatalan Perjanjian
a. Perjanjian dapat dibatalkan
Syarat sahnya perjanjian yang disebutkan dalam pasal 1320 KUHPerdata mengenai syarat a. kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya dan b. kecakapan membuat suatu perjanjian disebut syarat subjektif, karena syarat tersebut harus dipenuhi oleh subjek atau para pihak dalam perjanjian.
Akibat hukum apabila perjanjian tidak memenuhi syarat
subjektif, misalnya kesepakatan para pihak tidak sempurna
atau tidak cakap bertindak dalam hukum perjanjian dapat
dibatalkan (vernietigbaar) artinya:
30
a) Perjanjian tersebut batal apabila ada yang
memohonkan pembatalan ke Pengadilan.
b) Batalnya perjanjian sejak ada Putusan Pengadilan yang sudah incracht (telah berkekuatan hukum tetap).
c) Akibat hukum yang terbit sejak lahirnya perjanjian hingga perjanjian dibatalkan diakui oleh undang- undang.
b. Perjanjian batal demi hukum
Syarat sahnya perjanjian yang disebutkan dalam pasal 1320 KUPerdata mengenai syarat hal tertentu dan sebab atau causa yang halal merupakan syarat objektif karena syarat tersebut harus dipenuhi oleh objek perjanjian. Sedang akibat hukum apabila perjanjian tidak memenuhi syarat objektif, misalnya tidak menentukan jenisnya, ukuran, jumlahnya, atau diluar perdagangan yang dilarang dalam undang-undang adalah perjanjian, batal demi hukum. Artinya:
a. Tanpa dimohonkan pembatalan, perjanjian tersebut dianggap sudah batal sejak saat diadakan perjanjian.
Dengan demikian undang-undang tidak mengakui telah
terjadi adanya perjanjian antara para pihak.
31
b. Akibat hukum yang terbit dari undang-undang yang batal demi hukum (nietigbaar) tidak diakui oleh undang-undang.
25Mengenai pembatalan perjanjian atau juga dinamakan pemecahan perjanjian, sebagai sanksi atas kelalaian seorang debitur, mungkin ada orang yang tidak dapat melihat sifat pembatalannya atau pemecahan tersebut sebagai suatu hukuman karena debitur menganggap dibebaskan dari kewajiban memenuhi prestasi. Pembatalan perjanjian, bertujuan membawa kedua belah pihak kembali pada keadaan sebelum perjanjian diadakan. Kalau suatu pihak sudah menerima sesuatu dari pihak yang lain, baik uang maupun barang, maka itu harus dikembalikan.
Pasal 1266 KUHPerdata menentukan: “Syarat batal dianggap selamanya dicantumkan dalam perjanjian- perjanjian yang timbal balik, manakala salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya.
Dalam hal demikian perjanjian tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan kepada hakim. Permintaan ini juga harus dilakukan, meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban itu dinyatakan dalam perjanjian. Jika syarat batal tidak dinyatakan dalam perjanjian, hakim leluasa menurut
25 Komariah, Op.cit, hal 148.
32
keadaan atas permintaan si tergugat, untuk memberikan suatu jangka waktu guna kesempatan memenuhi kewajibannya, jangka waktu mana tidak boleh lebih dari satu bulan”. Berdasarkan ketentuan pasal di atas maka jelas bahwa pembatalan perjanjian tidak terjadi secara otomatis pada waktu debitur nyata–nyata melalaikan kewajibannya, akan tetapi harus dimintakan kepada hakim dan disebutkan dengan jelas, bahwa perjanjian itu tidak batal demi hukum.
C. Tinjauan Umum Tentang Prestasi 1. Prestasi
Salah satu unsur dari suatu perikatan adalah adanya suatu isi atau tujuan perikatan, yakni suatu prestasi yang terdiri tiga macam:
a. Memberikan sesuatu, misalnya membayar harga, menyerahkan barang. Pasal 1235 ayat 1 KUHPerdata menyerahkan kekuasaan nyata (penyerahan nyata) dan menyerahkan kekuasaan yuridis (penyerahan yuridis) atas benda dari debitur kepada kreditur.
26b. Berbuat sesuatu, melakukan perbuatan seperti yang telah ditetapkan dalam perjanjian/ melakukan suatu pekerjaan.
Misalnya memperbaiki barang yang rusak, membangun gedung.
26 Isdian Anggraeny, Op.cit.
33
c. Tidak berbuat sesuatu, tidak melakukan perbuatan seperti yang telah ditetapkan dalam perjanjian. Misalnya perjanjian untuk tidak mendirikan suatu bangunan.
2. Syarat Prestasi
Prestasi dalam suatu perikatan tersebut harus memenuhi syarat- syarat:
a. Suatu prestasi tertentu atau sedikitinya dapat ditentukan jenisnya, tanpa adanya ketentuan akan sulit untuk menentukan apakah debitur telah memenuhi prestasi atau belum.
b. Prestasi harus dihubungkan dengan suatu kepentingan, tanpa suatu kepentingan orang tidak dapat mengadakan tuntutan.
c. Prestasi harus diperbolehkan oleh undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum.
d. Prestasi harus mungkin dilaksankan.
D. Tinjauan Umum tentang Force Majeure
1. Definisi Force Majeure menurut para ahli
Istilah Force Mejeure sering disebut, Overmacht, Act of God,
Keadaan Memaksa, Keadaan Darurat, atau Keadaan kahar. Penggunaan
Istilah Force Majeure , keadaan memaksa, keadaan darurat, keadaan kahar
sering digunakan dalam perjanjian (kontrak) jual-beli, sewa menyewa,
perjanjian (kontrak) antara Pemerintah dengan rekanan, perjanjian
(kontrak) antara pelaku usaha dalam dan luar negeri. Dalam praktik
34
penggunaan kata Force Majeure di dalam isi perjanjian senantiasa selalu ada dan biasanya dicantumkan pada akhir klausula perjanjian.
27Definisi Force Majeure menurut Para Ahli, Beberapa ahli hukum juga memberikan pandangannya mengenai konsep keadaan memaksa (Force Majeure /Overmacht) diantaranya adalah :
28R. Subekti: Debitur menunjukkan bahwa tidak terlaksananya apa yang dijanjikan itu disebabkan oleh hal-hal yang sama sekali tidak dapat diduga, dan di mana ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap keadaan atau peristiwa yang timbul di luar dugaan tadi. Dengan perkataan lain, hal tidak terlaksananya perjanjian atau kelambatan dalam pelaksanaan itu, bukanlah disebabkan karena kelalaiannya.
Ia tidak dapat dikatakan salah atau alpa, dan orang yang tidak salah tidak boleh dijatuhi sanksi-sanksi yang diancamkan atas kelalaian. Untuk dapat dikatakan suatu “keadaan memaksa” (Overmacht), selain keadaan itu “di luar kekuasaannya” si debitur dan “memaksa”, keadaan yang telah timbul itu juga harus berupa keadaan yang tidak dapat diketahui pada waktu perjanjian itu dibuat, setidak-tidaknya tidak dipikul risikonya oleh si debitur.
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan yang menyitir H.F.A. Vollmar:
Overmacht adalah keadaan di mana debitur sama sekali tidak mungkin
27Edy Lisdiyono, Guru Besar Ilmu Hukum UNTAG Semarang, “Force Majeure Dalam Praktek Putusan Peradilan Di Indonesia” dalam materi power point webinar tahun 2020.
28 Rahmat S.S. Soemadipradja, Penjelasan Hukum tentang Keadaan Memaksa, Jakarta, Nasional Legal Reform Program, 2010, hal 7.
35
memenuhi perutangan (absolute Overmacht) atau masih memungkinkan memenuhi perutangan, tetapi memerlukan pengorbanan besar yang tidak seimbang atau kekuatan jiwa di luar kemampuan manusia atau dan menimbulkan kerugian yang sangat besar (relative Overmacht).
Purwahid Patrik mengartikan Overmacht atau keadaan memaksa adalah debitur tidak melaksanakan prestasi karena tidak ada kesalahan maka akan berhadapan dengan keadaan memaksa yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian keadaan memaksa atau Force Majeure adalah suatu keadaan di mana salah satu pihak dalam suatu perikatan tidak dapat memenuhi seluruh atau sebagian kewajibannya sesuai apa yang diperjanjikan, disebabkan adanya suatu peristiwa di luar kendali salah satu pihak yang tidak dapat diketahui atau tidak dapat diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan, di mana pihak yang tidak memenuhi kewajibannya ini tidak dapat dipersalahkan dan tidak harus menanggung risiko.
292. Pengaturan Force Majeure dalam KUHPerdata
Dalam hukum perdata materiil Indonesia istilah Force Majeure memang tidak diatur secara tegas, namun di dalam buku III BW pasal 1244 dan 1245 KUHPerdata rumusan kausa Force Majeure namun dapat
29 Ibid.
36
dirumuskan pada Pasal 1244 KUHperdata: “Debitur harus dihukum untuk mengganti biaya, kerugian dan bunga. bila ia tak dapat membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan perikatan itu disebabkan oleh sesuatu hal yang tak terduga, yang tak dapat dipertanggungkan kepadanya”.
Pasal 1245 KUH Perdata: “Tidak ada penggantian biaya, kerugian dan bunga bila karena keadaan memaksa atau karena hal yang terjadi secara kebetulan, debitur terhalang untuk memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan, atau melakukan suatu perbuatan yang terlarang baginya.”
30Keadaan memaksa atau Overmacht atau Force Majeure diatur dalam pasal 1244 dan 1245 KUHPerdata ialah suatu keadaan dalam mana seseorang dengan tidak dapat diduga lebih dahulu berada dalam keadaan memaksa, sehingga ia tidak dapat memenuhi kewajibannya, karena hal-hal yang terjadi di luar kekuatan manusia. Kesemuanya itu, sebelum debitur lalai untuk memenuhi prestasinya pada saat timbulnya keadaan tersebut.
Debitur wajib membuktikan tentang terjadinya Overmacht , yang menyebabkan perjanjian atau prestasi itu tidak dapat dilaksanakan. Selain pasal-pasal diatas ada pasal lain yang tersebar dalam KUHPerdata yang mengandung Force Majeure, seperti:
30 R.Subekti, R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), Jakarta, PT Balai Pustaka, 2004, hal 324-325.
37
a) Pasal 1237 KUHPerdata (tentang Perikatan untuk memberikan
suatu kebendaan tertentu)
b) Pasal 1460 KUHPerdata (Perjanjian Jual Beli)
c) Pasal 1544 KUHPerdata (Perjanjian Tukar-Menukar) d) Pasal 1553 KUHPerdata (Perjanjian Sewa Menyewa) 3. Unsur-unsur dalam Force Majeure
Berdasarkan ketentuan pasal 1244 dan 1245 KUHperdata, maka unsur utama yang dapat menimbulkan keadaan Force Majeure adalah:
a) Adanya kejadian yang tidak terduga
b) Adanya halangan yang menyebabkan suatu prestasi tidak mungkin dilaksanakan.
c) Ketidakmampuan tersebut tidak disebabkan oleh kesalahan debitur
d) Ketidakmampuan tersebut tidak dapat dibebankan risiko kepada debitur.
4. Jenis-jenis Force Majeure
Karena luasnya kemungkinan keadaan atau situasi Force Majeure, maka para pihak untuk mendapatkan kepastian hukum biasanya mencantumkan klausula dengan daftar peristiwa yang dapat menjadi Force Majeure dalam perjanjian mereka seperti:
Force Mejeure Event means the occurrence of an event of:
38
a) Act of God (such as, but not limited to fires, explosions,
earthquakes, drought, tidal waves and floods);
b) War, hostilities (whether war be declared or not), invasion, act of foreign enemies, mobilization, requisition, or embargo;
c) Rebellion, revolution, insurrection, or military or usurped power, or civil war;
d) Contamination by radio-activity from any nuclear fuel, or from any nuclear waste from the combustion of nuclear fuel, radio- active toxic explosive, or other hazardous properties of any explosive nuclear assembly or nuclear component of such assembly;
e) Riot, commotion, strikes, go slows, lock outs or disorder, unless solely restricted to employees of the Supplier or of his Subcontractors;
f) Acts or threats of terrorism; or
g) Other unforeseeable circumstances beyond the control of the Parties against which it would have been unreasonable for the affected party to take precautions an which the affected party cannot avoid event by using best efforts.
31Sebagaimana contoh di atas, pada daftar terakhir biasanya terdapat klausula yang menyatakan jika “Kejadian-kejadian lain di
31 Ibid.
39
luar kemampuan debitur” atau sejenisnya, sehingga membuat ruang lingkup Force Majeure menjadi luas kembali.
a. Force Majeure Berdasarkan Penyebab
Force Majeure berdasarkan penyebab pertama, dikarenakan keadaan alam yaitu keadaan memaksa yang disebabkan oleh suatu peristiwa alam yang tidak dapat diduga dan dihindari oleh setiap orang karena bersifat alamiah tanpa unsur kesengajaan. Misalnya banjir, longsor, gempa bumi, badai, gunung meletus, dan sebagainya. Kedua, karena keadaan darurat, yaitu keadaan memaksa yang ditimbulkan oleh situasi atau kondisi yang tidak wajar, keadaan khusus yang bersifat segera dan berlangsung dengan singkat, tanpa dapat diprediksi sebelumnya, misalnya peperangan, blokade, pemogokan, epidemi, terorisme, ledakan, kerusuhan massa, termasuk di dalamnya adanya kerusakan suatu alat yang menyebabkan tidak terpenuhinya suatu perikatan.
Ketiga, disebabkan karena musnahnya atau hilangnya barang
obyek perjanjian karena kebijakan atau peraturan pemerintah, yaitu
keadaan memaksa yang disebabkan oleh suatu keadaan di mana terjadi
perubahan kebijakan pemerintah atau hapus atau dikeluarkannya
kebijakan yang baru, yang berdampak pada kegiatan yang sedang
berlangsung. Misalnya terbitnya suatu peraturan Pemerintah (pusat
40
maupun daerah yang menyebabkan suatu objek perjanjian/perikatan menjadi tidak mungkin untuk dilaksanakan.
b. Force Majeure/Overmacht Berdasarkan Sifat
Force Majeure/overmacht berdasarkan sifat pertama, overmacht tetap yaitu keadaan memaksa yang mengakibatkan suatu perjanjian tidak mungkin dilaksanakan atau tidak dapat dipenuhi sama sekali, keadaan memaksa bersifat tetap, perjanjian berhenti sama sekali.
Misalnya musnahnya barang yang akan diserahkan. Kedua, disebut Overmacht sementara yakni keadaan memaksa yang mengakibatkan pelaksanaan suatu perjanjian ditunda daripada waktu yang
ditentukan semula dalam perjanjian. Dalam keadaan yang demikian, perikatan tidak berhenti (tidak batal), tetapi hanya pemenuhan prestasinya yang tertunda. Pada saat keadaan memaksa tidak ada lagi, perjanjian berlaku (bekerja) kembali”. Sebagai contoh, adanya larangan mengekspor barang dalam jangka waktu tertentu.
Apabila larangan ini dicabut, maka perjanjian kembali mempunyai daya kerja, sehinggga prestasi harus dilaksanakan
c. Force Majeure/Overmacht Berdasarkan Obyek
Jika dilihat berdasarkan objeknya dibagi menjadi dua yakni
Overmacht lengkap artinya mengenai seluruh prestasi itu tidak dapat
dipenuhi oleh debitur dan Overmacht sebagian, artinya hanya sebagian
dari prestasi itu yang tidak dapat dipenuhi oleh debitur.
41
d. Force Majeure/Overmacht Berdasarkan Subyek
Pada dasarnya keadaan memaksa dapat dibedakan atas keadaan memaksa absolute dan keadaan memaksa relatif. “Keadaan memaksa absolut adalah suatu keadaan dimana debitur sama sekali tidak dapat memenuhi perutangannya (perikatannya) kepada kreditur”.
Selanjutnya “keadaan memaksa relatif adalah suatu keadaan yang menyebabkan debitur masih mungkin untuk melaksanakan prestasinya, tetapi pe laksanaan prestasi itu harus dilakukan dengan memberikan pengorbanan yang besar, yang tidak seimbang”.
Perbedaan antara overmacht absolut dan overmacht relatif merupakan turunan dari teori tentang overmacht (keadaan memaksa).
Dalam sejarah pemikiran tentang keadaan memaksa, terdapat dua ajaran yaitu;
1) Ajaran yang objektif (de objectieve overmachtsleer atau overmacht absolut.
2) Ajaran yang subjektif (de subjectieve overmachtsleer) atau overmacht relatif.
Dalam overmact yang objektif (absolut), pemenuhan prestasi tidak
mungkin dilaksanakan oleh siapapun juga (imposibilitas) Misalnya
jika objek perjanjian musnah karena bencana, maka siapapun orangnya
tidak mungkin akan melakukan penyerahan.
42
Pada overmacht yang subjektif (relatif), debitur masih mungkin memenuhi prestasi, tetapi dengan kesulitan atau pengorbanan yang besar (difficulties). Artinya bahwa debitur dengan mengingat keadaan pribadinya, tidak dapat memenuhi prestasinya. Dalam hal ini ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu;
1) Ketidakmungkinan untuk memenuhi prestasi dalam perikatan hanya ada pada debitur yang bersangkutan, tidak pada setiap orang.
2) Secara teorits pemenuhan prestasi masih mungkin, tetapi praktis menimbulkan banyak kesulitan.
32e. Force Majeure/ Overmacht Berdasarkan Ruang Lingkup
Overmach berdasarkan ruang lingkup yakni Overmacht umum artinya iklim, kehilangan, dan pencurian dan Overmacht khusus artinya berlakunya suatu peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini, tidak berarti prestasi tidak dapat dilakukan, tetapi prestasi tidak boleh dilakukan.
f. Force Majeure/ Overmacht Berdasarkan Waktu
Apabila dilihat dari segi jangka waktu berlakunya keadaan yang menyebabkan terjadinya Force Majeure/ Overmacht dapat dibeda- bedakan ke dalam:
33Force Majeure permanen, Suatu Force Majeure dikatakan bersifat permanen jika sama sekali sampai kapapun suatu
32 Joni Emirzon, Op.Cit.
33 R.Subekti, Op.cit.
43
prestasi yang terbit dari kontrak tidak mungkin dilakukan lagi. Force Majeure temporer, Sebaliknya, suatu Force Majeure dikatakan bersifat temporer bilamana terhadap pemenuhan prestasi dari kontrak tersebut tidak mungkin dilakukan untuk sementara waktu.
5. Akibat Hukum dari Force Majeure
Force Majeure secara umum diatur dalam Pasal 1244-1245 KUHPerdata yang pokoknya pada saat debitur tidak bisa menunaikan kewajiban sebagaimana diperjanjikan, debitur dibebaskan dari segala biaya, ganti rugi dan bunga sepanjang debitur dapat membuktikan adanya Force Majeure atau keadaan memaksa yang mengakibatkan tidak dapat terlaksananya poin-poin yang diperjanjikan tersebut.
Akibat Force Majeure menurut Asser dalam buku Pengajian Hukum Perdata Belanda (hal.368-369) terdapat dua kemungkinan:
34Pertama, pengakhiran perjanjian terjadi ketika halangan bersifat tetap. Misalnya, seorang penyanyi yang sudah menandatangani kontrak untuk tampil dalam konser tiba-tiba harus dioperasi tenggorokannya, sehingga tidak memungkinkan lagi yang bersangkutan dapat menyanyi lagi. Pada situasi ini Force Majeure menyebabkan berakhirnya perjanjian. Dengan berakhirnya perjanjian, maka kontra prestasi juga ikut berakhir, misalnya kewajiban pihak penyelenggara konser untuk membayar penyanyi tersebut. Kedua, penundaan kewajiban terjadi ketika peristiwa Force
34 Asser, Pengajian Hukum Perdata Belanda, Dian Rakyat, Jakarta, 1991.
44
Majeure sifatnya sementara. Bila keadaan halangan telah pulih kembali maka pelaksanaan pejanjian dapat dilanjutkan atau diteruskan misal larangan ekspor dicabut kembali, maka kewajiban dari penjual kembali pulih untuk menyerahkan barang ekspor tersebut.
6. Kedudukan Force Majeure dalam Hukum Kontrak
Force Majeure merupakan salah satu klausula yang lazimnya berada dalam suatu perjanjian, karena kedudukan Force Majeure dalam suatu kontrak/perjanjian berada di dalam perjanjian pokok, tidak terpisah sebagai perjanjian tambahan dan dikaitkan dengan perjanjian pokok selayaknya perjanjian accesoir. Dengan kata lain Force Majeure termasuk bagian pasal yang penting dalam isi/substansi kontrak/perjanjian.
7. Fungsi Force Majeure dalam Hukum Kontrak
Fungsi Force Majeure dalam hukum kontrak berdasarkan berbagai
aturan hukum, doktrin, putusan pengadilan menunjukan bahwa fungsi
pokok diadakan klausula Force Majeure untuk mencegah terjadinya
kerugian salah satu pihak dalam suatu kontrak karena act of god, seperti
banjir, gempa, kebakaran, hujan badai, perang, mogok massal, enbargo,
sanksi terhadap suatu pemerintahan. Unsur-unsur yang menyatakan
bagaimana suatu keadaan dapat dinyatakan sebagai Force Majeure (vis
maior, act of god, etc.) lazimnya memiliki kesamaan dalam setiap aturan
hukum dan putusan pengadilan dalam setiap interpretasi terhadap kata
Force Majeure.
45
E. Tinjauan Umum Tentang Wanprestasi
1. Definisi Wanprestasi
Suatu perjanjian dapat terlaksana dengan baik apabila para pihak memenuhi prestasinya masing-masing seperti yang telah diperjanjikan tanpa ada pihak yang dirugikan. Tetapi adakalanya perjanjian tersebut tidak terlaksana dengan baik karena adanya wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak atau debitur.
Pengertian wanprestasi dalam hukum perdata. Wanprestasi sendiri berasal dari bahasa belanda yaitu wanprestatie yang berarti ingkar janji, kealpaan atau kelalaian, prestasi yang buruk atau prestasi yang tidak layak.
Wanprestasi yaitu salah satu pihak yang mengingkari atau tidak bersungguhsungguh menjalankan segala syarat yang telah mereka sepakati bersama dalam perjanjian.
35Wanprestasi atau dikenal dengan istilah ingkar janji, yaitu kewajiban dari debitur untuk memenuhi suatu prestasi, jika dalam melaksanakan kewajiban bukan terpengaruh keadaan, maka debitur dianggap ingkar janji.
Menurut Yahya Harahap, wanprestasi merupakan suatu pelaksanaan kewajiban yang tidak tepat pada waktunya atau dilakukan tidak menurut selayaknya. Dengan demikian seorang debitur tersebut berada dalam keadaan wanprestasi, apabila seseorang dalam melakukan wanprestasi
35 J. Satrio, Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hal 22.
46
melakukan kesalahan dan telah lalai, sehingga terlambat dari jadwal/waktu yang telah ditentukan ataupun melakukan tetapi tidak sepatutnya.
36Menurut Subekti, wanprestasi (kealpaan atau kelalaian) seorang debitur dapat berupa empat macam:
a) Tidak melakukan apa yang disanggupi untuk dilakukannya.
b) Melakukan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan.
c) Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat.
d) Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.
37Suatu perjanjian yang telah disetujui oleh para pihak tidak tertutup kemungkinan terjadinya suatu pelanggaran penyimpangan, kesalahan hingga menyebabkan terjadinya wanprestasi. Sehingga apabila terjadinya wanprestasi para pihak memiliki hak dan kewajiban masing-masing berdasarkan hukum yang berlaku. Dasar hukum seseorang melakukan wanprestasi adalah terdapat dalam pasal 1365 KUHPerdata, yang menentukan: “Setiap perbuatan yang melanggar hukum, yang membawaanya kerugian kepada orang lain mewajibkan orang yang karena kesalahannya menerbitkan kerugian dengan menggantikan kerugian”.
38
36 Yahya Harahap, Segi-segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, 1986, hal 6.
37 R. Subekti, Aneka Perjanjian, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995, hal 45.
38 R. Subekti, Op.cit, hal 346.
47
2. Penyebab terjadinya wanprestasi
Dalam kenyataannya sulit untuk menetukan kapan seseorang dapat dikatakan memenuhi prestasi dan kapan melakukan wanprestasi, karena pada saat mengadakan perjanjian para pihak tidak menentukan waktu untuk melakukan suatu prestasi tersebut. Adapun beberapa seseorang dapat dikatakan wanprestasi adalah sebagai berikut:
39a) Karena kesalahan debitur, baik karena kesengajaan ataupun kelalaiannya.
Kesalahan di sini adalah kesalahan yang menimbulkan kerugian. Dikatakan orang mempunyai kesalahan dalam peristiwa tertentu kalau ia sebenarnya dapat menghindari terjadinya peristiwa yang merugikan itu baik dengan tidak berbuat atu berbuat lain dan timbulnya kerugian itu dapat disalahkan kepadanya. Sedangkan kelalaian adalah peristiwa dimana seorang debitur seharusnya tau atau patut menduga bahwa dengan perbuatan atau sikap yang diambil olehnya akan timbul kerugian.
40Disini debitur belum tahu pasti apakah kerugian akan muncul atau tidak, tetapi sebagai orang yang normal seharusnya tau atau bisa menduga akan kemugkinan munculnya kerugian tersebut.
39 R. Subekti, Op.cit, hal 55.
40 J. Satrio, Wanprestasi Menurut KUH Perdata, Doktrin, dan Yurisprudensi, Citra Adtya Bakti, Bandung, 2012, hal 90.
48
Dengan demikian kesalahan di sini berkaitan dengan masalah
“dapat menghindari” (dapat berbuat atau bersikap lain) dan “dapat menduga” (akan timbulnya kerugian).
41b) Karena keadaan memaksa (Overmacht/Force Majeure)
Di luar kemampuan debitur atau debitur tidak bersalah Keadaan memaksa ialah keadaan di mana tidak dapat dipenuhinya prestasi oleh pihak debitur karena terjadi suatu peristiwa bukan karena kesalahannya peristiwa mana tidak dapat diketahui atau tidak dapat diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan.
423. Bentuk-bentuk wanprestasi
Adapun bentuk dari wanprestasi atau ingkar janji, yaitu:
43a) Tidak memenuhi prestasinya sama sekali;
Dengan adanya debitur yang tidak dapat memenuhi/
melaksanakan prestasinya maka dikatakan debitur tidak bisa memenuhi prestasinya sama sekali.
a) Terlambat memenuhi prestasi;
Dalam prestasi debitur masih dapat diharapkan pemenuhannya, maka seorang debitur dianggap memenuhi prestasi tetapi tidak tepat pada waktunya.
b) Memenuhi prestasi secara tidak sempurna;
41 Ibid, hal. 91.
42 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1990, hal 27.
43 J. Satrio, Op.cit, hal 84.
49
Debitur yang memenuhi prestasi, tetapi dalam pemenuhannya debitur kurang sempurna, apabila prestasi yang kurang sempura atau keliru tersebut tidak dapat diperbaiki lagi maka debitur dikatakan tidak bisa memenuhi prestasinya sama sekali.
c) Melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban atau isi perikatan;
Misalnya, perikatan negatif yakni prestasinya adalah tidak melakukan atau berbuat sesuatu, seperti tidak mendirikan bangunan.
444. Akibat adanya Wanprestasi
Adapun akibat adanya Wanprestasi : a) Perikatan tetap ada.
b) Debitor harus membayar ganti rugi kepada kreditor (Pasal 1243 KUH Perdata).
c) Beban resiko beralih untuk kerugian debitor jika halangan itu timbul setelah debitor wanprestasi.
d) Jika perikatan lahir dari perjanjian timbal balik, kreditor dapat membebaskan diri dari kewajibannya memberikan kontra prestasi dengan menggunakan Pasal 1266 KUH Perdata.
45
44 Komariah, Op.cit, hal 127.
45 Salim, Op.cit hal 180.
50
Ingkar janji membawa akibat yang merugikan bagi debitur, karena sejak saat tersebut debitur berkewajiban mengganti kerugian yang timbul sebagai akibat dari pada ingkar janji, kreditur dapat menuntut:
a. Pemenuhan perjanjian
Pasal 1267 KUHPerdata “Pihak yang terhadapnya perikatan tidak dipenuhi, dapat memilih; memaksa pihak yang lain untuk memenuhi persetujuan, jika hal itu masih dapat dilakukan, atau menuntut pembatalan persetujuan, dengan penggantian biaya, kerugian dan bunga.”
b. Pemenuhan perjanjian dengan ganti rugi (Pasal 1267 BW) c. Ganti rugi
Pasal 1243 KUHPerdata “Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan Ialai, tetap Ialai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan”.
d. Pembatalan perjanjian
Pasal 1266 KUHPerdata “Syarat batal dianggap selalu
dicantumkan dalam persetujuan yang timbal balik, andaikata
51
salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Dalam hal demikian persetujuan tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan kepada Pengadilan.
e. Pembatalan perjanjian dengan ganti rugi (Pasal 1267 KUHPerdata)
Ganti rugi ini dapat merupakan pengganti dari prestasi pokok, akan tetapi dapat juga sebagai tambahan disamping prestasi pokoknya. Dalam pasal 1243 KUHPerdata, debitur diwajibkan membayar ganti kerugian yang telah diderita oleh kreditur:
Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur walaupun dinyatakan lalai, tetapi lalai untuk memenuhi perikatan itu, jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan dalam waktu yang melampaui batas waktu yang ditentukan.
f. Peralihan risiko
Peralihan risiko sebagai sanksi ketiga atas kelalaian seorang debitur disebutkan dalam Pasal 1237 ayat 2 Kitab Undang- undang Hukum Perdata.Yang dimaksudkan dengan “risiko”
adalah kewajiban untuk memikul kerugian jika terjadi suatu
peristiwa diluar kesalahan salah satu pihak, yang menimpa
barang yang menjadi objek perjanjian.
52
Peralihan risiko dapat digambarkan demikian menurut pasal 1460 KUHPerdata, maka risiko dalam jual-beli barang tertentu dipikulkan kepada si pembeli, meskipun barangnya belum diserahkan. Kalau penjual itu terlambat menyerahkan barangnya, maka kelalaian ini diancam dengan mengalihkan risiko tadi dari si pembeli kepada si penjual. Jadi dengan lalainya si penjual, risiko itu beralih kepada dia.
g. Pembayaran biaya perkara
Tentang pembayaran ongkos biaya perkara sebagai sanksi keempat bagi seorang debitur yang lalai adalah tersimpul dalam suatu peraturan Hukum Acara, bahwa pihak yang dikalahkan diwajibkan membayar biaya perkara (Pasal 181 ayat 1 HIR). Seorang debitur yang lalai tentu akan dikalahkan kalau sampai terjadi suatu perkara di depan hakim.
Akibat dari terjadinya wanprestasi itu biasanya dapat
dikenakan sanksi yang berupa ganti rugi, peralihan resiko,
pembatalan kontrak, maupun melakukan membayar biaya
perkara. Debitur dituduh telah melakukan perbuatan yang telah
melawan hukum, lalai atau tidak sengaja melaksanakan sesuai
yang telah disepakati dalam kontrak diawal perjanjian, apabila
terbukti maka debitur tersebut harus mengganti kerugian,
termasuk ganti rugi, bunga, dan biaya perkaranya.
53
5. Pembebasan Wanprestasi yang dapat dilakukan Debitur
Seorang debitur yang dituduh lalai (wanprestasi) dan dimintakan hukuman atas kelalaiannya, dapat membela diri dengan beberapa macam alasan untuk membebaskan dirinya dari hukuman-hukuman atau dari akibat yang ditanggung karena wanprestasi itu ada 3 macam :
a. Mengajukan adanya keadaan memaksa (Overmacht atau Force Majeure).
Keadaan memaksa atau Overmacht atau Force Majeure diatur dalam pasal 1244 dan 1245 KUHPerdata.
b. Mengajukan bahwa kreditur sendiri telah lalai (expetio non adimpleticontactus).
Ialah pembelaan debitur yang mengatakan bahwa kreditur sendiri juga tidak menepati janji (wanprestasi). Kelalaian/
wanprestasi yang dilakukan oleh kreditur disebut
moracreditoris. Misalnya, dalam perjanjian timbal balik,
bahwa para pihak sama-sama melakukan kewajibannya, seperti
pembeli menuduh si penjual terlambat menyerahkan barang
sedangkan si pembeli tidak atau belum memberikan uang muka
yang telah diperjanjikan. Dalam pasal 1478 KUHPerdata
menentukan “Si penjual tidak diwajibkan menyerahkan
barangnya, jika si pemebeli belum membayar harganya,
54
sedangkan si penjual tidak mengijinkan penundaan pembayaran tersebut”.
c. Mengajukan bahwa kreditur telah melepaskan haknya untuk menuntut ganti rugi (pelepasan hak atau recht-verweking).
Ialah suatu sikap kreditur dimana pihak debitur boleh menyimpulkan bahwa kreditur sudah tidak akan menuntut ganti rugi.
46F. Tinjauan Umum Tentang Kredit Perbankan
Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, definisi perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.
Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan
46 Komariah, Op.cit, hal 133.
55
pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Agunan adalah jaminan tambahan yang diserahkan Nasabah Debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah.
1. Pemakaian Perjanjian Baku dalam Perjanjian Kredit
Pada mulanya, suatu perjanjian terjadi berlandaskan azas
kebebasan berkontrak diantara para pihak yang mempunyai
kedudukan yang seimbang dan berusaha mencapai kesepakatan yang
diperlukan bagi terjadinya perjanjian melalui suatu proses negosiasi
diantara para pihak. Namun pada dewasa ini kecenderungan makin
memperlihatkan bahwa banyak perjanjian dalam masyarakat terjadi
bukan melalui proses negosiasi yang seimbang diantara para pihak,
tetapi perjanjian itu terjadi dengan cara pihak yang satu telah
menyiapkan syarat-syarat baku pada suatu formulir perjanjian yang
telah dicetak sebelumnya dan kemudian disodorkan kepada pihak
lainnya untuk disetujui dengan hampir tidak memberikan kebebasan
sama sekali kepada pihak lainnya untuk melakukan negosiasi atas
syarat-syarat yang disodorkan tersebut. Perjanjian yang demikian ini
dinamakan perjanjian standar atau perjanjian baku atau perjanjian
adhesi.
56
Tumbuhnya perjanjian standaard ini adalah keadaan sosial/ekonomi perusahaan yang besar-besar, perusahaan-perusahaan semi pemerintah atau perusahaan-perusahaan pemerintah mengadakan kerja sama dengan pihak lainnya dan untuk kepentingannya menciptakan syarat-syarat tertentu secara sepihak untuk diajukan kepada contract-partnernya. Pihak lawannya yang pada umumnya mempunyai kedudukan ekonomi yang lemah baik karena posisinya maupun karena ketidak tahuannya lalu hanya menerima apa yang disodorkan itu. Sedangkan latar belakang lahirnya perjanjian baku pada dunia perbankan di Indonesia berbeda dengan latar belakang lahirnya dengan perjanjian standaard pada umumnya. Jika perjanjian standaard yang umum lahir karena perbedaan sosial ekonomi para pihak, maka perjanjian baku pada perbankan lahir dengan tujuan untuk mendorong pertumbuhan pengusaha ekonomi lemah.
2. Perjanjian Kredit Bank
Bagi bank, salah satu dasar yang cukup kuat atas keharusan
adanya suatau perjanjian dalam pemberian kredit terhadap
nasabahnya, diperoleh dari pasal 1 ayat 11 Undang-Undang Nomor. 7
Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diperbaharui
dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang rumusannya
sebagai berikut :
57
“Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan-tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam- meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan”
Pencantuman kalimat persetujuan atau kesepakatan pinjam-
meminjam dalam rumusan pasal diatas, memiliki maksud-maksud
sebagai berikut; (1) bahwa pembentuk undang-undang bermaksud
untuk menegaskan bahwa hubungan kredit bank adalah hubungan
kontraktual antara bank dengan nasabah debitor yang berbentuk
pinjam-meminjam. Dengan demikian bagi hubungan kredit bank
belaku Buku Ketiga (tentang Perikatan) pada umumnya dan Bab
Ketigbelas (tentang pinjam-meminjam) KUH Perdata pada
khususnya, (2) bahwa pembentuk undang- undang bermaksud untuk
mengharuskan hubungan kredit bank dibuat berdasarkan perjanjian
kredit tertulis. Akan tetapi kalau semata-mata hanya dari rumusan
ketentuan pasal tersebut, akan sulit menafsirkan bahwa ketentuan
tersebut memang mengharuskan agar pemberian kredit bank
berdasarkan perjanjian tertulis. Ketentuan undang-undang tersebut
harus dikaitkan dengan Instruksi Presedium Kabinet
No.15/EK/IN/10/1966 tanggal 3 Oktober 1966 jo Surat Edaran Bank
58
Negara Indonesia Unit I No.2/539/ UPK/Pemb. tanggal 8 Oktober 1966 dan Surat Edaran Bank Negara Indonesia Unit I No.2/649/UPK/Pemb. tanggal 20 Oktober 1966 serta Instruksi Presidium Kabinet Ampera No. 10/EK/IN/2/1967 tanggal 6 Februari 1967 yang menentukan bahwa dalam memberikan kredit dalam bentuk apapun perbankan wajib mempergunakan atau membuat perjanjian kredit tertulis.
3. Pengertian Perjanjian Kredit
Berdasarkan Pasal 1754 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) terdapat istilah perjanjian pinjam- meminjam, yang dinyatakan sebagai berikut: Pinjam-meminjam adalah perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang menghabis karena pemakaian,dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula.
Perjanjian Kredit adalah perjanjian pendahuluan dari penyerahan uang. Perjanjian pendahuluan ini merupakan hasil permufakatan antara pemberi dan penerima pinjaman mengenai hubungan-hubungan hukum antar keduanya.
47Oleh karena itu,
47 Mariam Darus Baruldzaman, Bab-bab tentang Credit Verband , Gadai dan Fiducia, PT Citra Aditya Bahkti, Bandung, 1991, hal 28.
59
pengertian perjanjian kredit tidak terbatas pada apa yang telah dijelaskan diatas akan tetapi lebih luas lagi penafsirannya.
Perjanjian kredit dapat juga disebut perjanjian pokok (prinsipil) yang bersifat riil. Sebagai perjanjian prinsipiil, maka perjanjian jaminannya adalah assesoirnya.
Ada dan berakhirnya perjanjian jaminan bergantung pada perjanjian pokok. Arti riil ialah bahwa terjadinya perjanjian kredit ditentukan oleh penyerahan uang oleh bank kepada nasabah debitor.
48Sehingga dapat dikatakan juga perjanjian kredit merupakan perjanjian baku, dengan di sana sini diadakan penyesuaian seperlunya.
Biasanya pihak bank telah mempunyai draft tersendiri, dimana para pihak dapat mengisi data pribadi dan data tentang pinjaman yang diambil, sedangkan jangka waktu dan bentuknya sudah dicetak secara baku. Apabila debitur menerima semua ketentuan dan persyaratan yang ditentukan oleh bank, maka debitur berkewajiban untuk menandatangani perjanjian kredit tersebut.
Apabila debitur menolak, maka debitur tidak perlu untuk menandatangani perjanjian kredit tersebut. Selanjutnya untuk dapat terjadinya suatu perjanjian, maka ada beberapa syarat yang harus
48 Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana, 2007, hal 71.
60
dipenuhi salah satunya adalah sepakat, sehingga dengan ditandatanganinya perjanjian kredit tersebut berarti berlakulah perjanjian kredit antara kreditur dan debitur.
4. Isi Perjanjian Kredit
Pada praktek isi perjanjian kredit berbeda-beda antara satu bank dengan bank lainnya, disesuaikan dengan kebutuhan masing- masing. Perjanjian kredit tersebut dapat mengacu pada ketentuan- ketentuan dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata), dapat pula berdasarkan atas kesepakatan bersama, akan tetapi untuk aturan-aturan yang memaksa harus sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KUHPerdata.
Hal-hal yang dicantumkan dalam perjanjian kredit meliputi definisi serta istilah-istilah yang akan digunakan dalam perjanjian.
Jumlah dan batas waktu pinjaman, pembayaran kembali pinjaman (repayment), hak si peminjam dan dendanya apabila debitur lalai membayar bunga terakhir dicantumkan berbagai klausula seperti hukum yangberlaku untuk perjanjian tersebut.
5. Subyek-Subyek Dalam Perjanjian Kredit
a. Pemberi Kredit (kreditur) Berdasarkan Pasal 1 butir 12
Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 menyebutkan
bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana
61
dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Undang-undang tersebut diatas, maka yang dimaksud kreditur adalah Bank.
49b. Penerima Kredit (Debitur) Rumusan mengenai penerima kredit diatur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992, akan tetapi menurut Pasal 8 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992, “dalam pemberian kredit, bank umum wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan”. Keyakinan bank tersebut menurut penjelasan Pasal 8 Undang- undang Nomor 7 Tahun 1992 berdasarkan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan prospek usaha debitur.
Berkenaan dengan hal tersebut pengaturan tentang debitur tidak diatur secara tegas siapa saja yang dapat menjadi debitur, akan tetapi hanya disebutkan bahwa debitur adalah orang yang mendapat fasilitas dari pihak kreditur (bank) berupa kredit dengan kewajiban
49 Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hal 387.
62
mengembalikan pada waktu yang telah disepakati. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa debitur adalah perseorangan atau badan usaha yang mendapatkan kredit dan wajib mengembalikan setelah jangka waktu yang telah ditentukan.
6. Jaminan pada Perjanjian Kredit
Kredit yang diberikan oleh bank mengandung risiko dalam pelaksanaannya. sehingga, bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat. Perjanjian kredit dibuat berdasarkan prinsip Character, Capacity, Capital, Collateral dan Conditio of Economic yang merupakan unsur penting untuk menganalisa apakah calon debitur bisa mendapat kredit dari bank atau tidak. Fungsi jaminan ini antara lain adalah sebagai pengaman apabila di kemudian hari debitur tidak memenuhi kewajiban-kewajibannya.
50Berdasarkan Pasal 1131 dan Pasal 1132 Kitab Undang- undang Hukum Perdata (KUHPerdata) yang mengatur jaminan.
Pasal 1131 menyebutkan bahwa segala kebendaan si berhutang, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan.
50 Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, Jakarta, 1994, hal 145.
63
Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa semua harta kekayaan si berhutang di jadikan jaminan bagi semua kewajibannya, yang mana hutang tersebut meliputi :
a. Benda bergerak dan tidak bergerak;
b. Benda yang sudah ada pada saat perjanjian dibuat;
c. Benda yang baru akan ada pada saat perjanjian dibuat.
Selanjutnya Pasal 1132 KUHPerdata menjelaskan bahwa kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang menghutangkan padanya, pendapatan penjualan benda- benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing, kecuali apabila di antara para berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka Pasal 1131 dan 1132 KUHPerdata merupakan suatu perlindungan kepada kreditur yang bersifat umum yang artinya bahwa yang dapat dijadikan jaminan adalah semua harta debitur.
Menurut Hartono Hadisoeprapto menjelaskan yang
dimaksud dengan jaminan adalah sesuatu yang diberikan kepada
kreditur untuk menimbulkan keyakinan bahwa debitur akan
memenuhi kewjiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul
dari suatu perikatan. Jadi tujuannya adalah untuk memberikan
64
keyakinan kepada kreditur bahwa piutangnya akan dikembalikan oleh debitur.
51Pandangan Subekti menjelaskan berkenaan dengan lembaga jaminan sebagai berikut: karena lembaga jaminan yang baik, adalah lembaga yang dapat secara mudah membantu memperoleh kredit itu bagi pihak yang memerlukan,yang mana tidak melemahkan posisi (kekuatan) si Kreditur untuk melakukan atau meneruskan usahanya, serta dapat memberikan kepastian kepada si pemberi kredit dalam arti barang jaminan setiap waktu tersedia untuk di eksekusi,artinya jaminan tersebut dapat dengan mudah diuangkan untuk melunasi hutang si penerima kredit.
52Perjanjian Jaminan merupakan salah satu perjanjian yang bersifat accesoir (tambahan) yaitu perjanjian yang selalu menyertai perjanjian pokok. sehingga perjanjian Jaminan dapat berakhir bila perjanjian pokoknya telah berakhir.
7. Jangka Waktu
Perjanjian kredit perlu ditentukan jangka waktu. Karena kredit adalah pinjaman dan akhirnya pada suatu waktu harus dikembalikan kepada penyedia kredit. Terlebih lagi untuk
51 Hadi Soeprapto, Hartono, Pokok-Pokok Hukum Perikatan dan Hukum Jaminan.
Liberty, Yogyakarta ,1984, hal 50
52 Subekti, Jaminan-Jaminan untuk Pemberian Kredit menurut Hukum diIndonesia, Alumni, Bandung, 1982, hal 29.
65
perbankan bahwa kredit yang diberikan itu berasal dari dana masyarakat.
53Oleh karena itulah perlu dicantumkannya item jangka waktu agar setiap kreditur dapat bertanggung jawab terhadap kewajibannya.
Jika jangka waktu telah ditentukan dan penerima kredit ingkar janji, perlu ditentukan hukuman atas kelalaian itu,apakah berupa denda, bunga,biaya dan lain- lain. Sehingga penyelesaian kredit itu tidak berlarut-larut. Hal ini akan memudahkan proses penyelesaian baik dilihat dari sudut penyedia dan penerima kredit
54
53 Ibid.
54 Jurnal: Ashadi L.Diab, Perjanjian Kredit Pada Bank Pengkreditan Rakyat, Volume 10, Nomor 10, Januari 2017, Jurnal Al-A’dl.