• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

5

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian sejenis dilakukan oleh Kiki Sintiya (2020) yang mengkaji tentang Efektivitas Sitem Pembayaran Pajak Menggunakan E-Billing Pada Direktorat Jendral Pajak Kantor Wilayah Jawa Barat I. Penelitian tersebut menggunakan metode studi deskriptif dan Teknik pengumpulan data dengan cara studi perpustakaan dan studi lapangan untuk memperoleh data yang dilakukan melalui observasi serta wawancara pada tempat penelitian. Hasil dari penelitian ini adalah e-Billing merupakan kebijakan terbaru yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam mempermudah sistem pembayaran pajak secara elektronik. Adanya e-Billing diketahui dapat menghindari keluhan yang sebelumnya terjadi. Dengan sosialisasi yang baik maka dapat meningkatkan efesiensi sistem penerimaan pajak dan dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak di Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dari Ahmad Fikri (2020) yang mengkaji tentang Analisis Efektivitas penerapan Surat Setoran Elektronik (e- Billing) pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Palembang Ilir Barat. Penelitian

data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi dan wawancara. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Hasil dari penelitian ini adalah tingkat efektivitas penerimaan pajak sebelum diresmikan e-Billing selama 3 tahun mengalami fluktuasi sebesar 16%, dan sesudah diresmikan penerapan e-Billing sebesar 2,48% pada tahun 2018.

Hal ini menunjukan bahwa penerapan surat setoran elektronik (e-Billing) dapat meningkatkan efektivitas penerimaan pajak dan tujuan e-Billing pada KPP Pratama Palembang Ilir Barat.

Sedangkan berdasarkan Penelitian dari Nikmatul Lailiyah (2019) yang mengkaji tentang Efektivitas e-Billing System Dalam Pembayaran Pajak Bagi

(2)

6

Wajib Pajak Di KPP Pratama Batang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan Teknik analisis deskriptif presentase dan interactive model. Sumber data yang diperoleh dari penyebaran kuesioner dan w awancara kepada wajib pajak yang pernah menggunakan e- Billing System secara mandiri dengan Teknik pengambilan sampel accindetal

sampling. Hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwa efektivitas e-Billing System kurang efektif, hal ini dikarenakan kualitas sistem yang masih sering

mengalami gangguan, hal lain yang membuat kurangnya efektivitas yaitu masih rendahnya kemampuan teknologi wajib pajak, ketidakstabilan koneksi internet, dan seringnya server down, diharapkan kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk memperbaiki sistem e-Billing, dan memberikan sosailisasi kepada wajib pajak baik secara teori maupun praktik tentang administrasi elektornik pajak.

Dari penjelasan ketiga penelitian diatas memiliki persamaan dan peredaan.

Persamaan dari penelitian diatas yaitu mengenai sistem pembayaran pajak menggunakan sistem e-Billing.

Sedang yang perbedaan dari penelitian diatas adalah tahun penelitian, tempat penelitian, dan judul penelitian. Penelitian pertama membahas tentang Efektivitas Sistem Pembayaran Pajak Menggunakan e-Billing pada Direktorat Jenderal Pajak Kantor Wilayah Jawa Barat I, penelitian kedua membahas tentang Analisis Efektivitas Penerapan Surat Setoran Elektronik (e-Billing) pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Palembang Ilir Barat, penelitian ketiga membahas tentang Efektivitas e-Billing System Dalam Pembayaran Pajak Bagi Wajib Pajak di KPP Pratama Batang.

B. Landasan Teori

1. Pajak

a. Pengertian Pajak

Berikut beberapa pengertian pajak yang dikutip dari peneliti dibawah ini yaitu:

Menurut Undang-Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang perubahan ke empat atas Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan pada pasal 1 ayat 1 adalah kontribusi

(3)

7

wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Menurut Prof. Dr. P.J.A. Adriani ditulis didalam buku berjudul Administrasi Perpajakan penulis Liberti Pandiangan (2014:3) pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi-kembali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengaluaran umum terkait dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan (Adriani dalam Liberti Pandiangan, 2014:3)

Selanjutnya pengertian pajak oleh Prof. Dr.Rochmat Soemitro, S.H., yang dijelaskan dalam buku yang berjudul Perpajakan Edisi Terbaru 2016 karya Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Ak (2016:3) pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum (Rochmat Soemitro dalam Mardiasmo, 2016:3).

b. Jenis-jenis Pajak

Menurut Liberti Pandiangan (2014:7) ada dua jenis-jenis pajak yaitu:

1) Pajak Pusat

Pajak pusat yaitu pajak yang dikelola Pemerintah Pusat (Negara) khusunya oleh Direktorat Jenderal Pajak, dan Kementerian Keuangan.

2) Pajak Daerah

Pajak Daerah yaitu pajak yang dikelola Pemerintah Daerah (Pemda) baik itu Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kota/Kabupaten.

(4)

8 c. Fungsi Pajak

Menurut Siti Resmi (2016:3) terdapat dua fungsi pajak yaitu fungsi Budgetair (sumber keuangan negara) dan fungsi Regularend (pengatur)

1) Fungsi Budgetair (Sumber Keuangan Negara)

Pajak mempunyai fungsi Budgetair artinya pajak merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran, baik rutin maupun pembangunan. Sebagai sumber keuangan negara, pemerintah berupaya memasukan uang sebanyak-banyaknya untuk kas negara.

2) Fungsi Regularend (Pengatur)

Pajak mempunyai fungsi pengatur, artinya pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi serta mencapai tujuan-tujuan tertentu didalam bidang keuangan.

d. Sistem Pemungutan Pajak

Menurut Siti Resmi (2016:10&11) dalam memungut pajak dikenal beberapa sistem pemungutan, yaitu:

1) Official Assessment System

Sistem pemungutan pajak yang memberi kewenangan aparatur perpajakan untuk menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Dalam sistem in, inisiatif serta kegiatan menghitung dan memungut pajak sepenuhnya berada ditangan para aparatur perpajakan. Dengan demikian, berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak banyak tergantung pada aparatur perpajakan (peran dominan ada pada aparatur perpajakan).

2) Self Assessment System

Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang wajib pajak dalam menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Wajib pajak dianggap mampu menghitung pajak,

(5)

9

memahami undang-undang perpajakan yang sedang berlaku, mempunyai kejujuran yang tinggi, dan menyadari akan arti pentingnya membayar pajak. Berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak sebagian besar tergantung pada wajib pajak sendiri (peranan yang dominan ada pada wajib pajak).

3) With Holding System

Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga yang ditunjuk untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Penunjukan pihak ketiga ini dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan perpajakan, keputusan presiden, dan peraturan lainnya untuk memotong serta memungut pajak, menyetor, dan mempertanggungjawabkan melalui sarana perpajakan yang tersedia. Berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak banyak tergantung pada pihak ketiga yang ditunjuk. Peranan yang dominan ada pada pihak ketiga.

2. E-Billing

a. Definisi E-Billing

Merujuk pada pasal 1 ayat (3) Perdirjen Pajak Nomor PER-05/PJ/2017, sistem billing Direktorat Jenderal Pajak adalah sistem elektronik yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk menerbitkan dan mengelola kode billing yang merupakan bagian dari sistem penerimaan negara secara elektronik. Yang dimaksud dengan kode billing adalah kode identifikasi yang diterbitkan melalui sistem billing DJP atas suatu jenis pembayaran atau penyetoran pajak. Berdasarkan Pasal 4 Perdirjen Pajak Nomor PER-05/PJ/2017, wajib pajak dapat memperoleh kode billing melalui dua acara.

Pertama, layanan madiri. Kedua, penerbitan secara jabatan oleh DJP dalam hal terbit surat ketetapan pajak (SKP), surat tagihan pajak (STP), surat pemberitahuan pajak terutang (SPPT) ,pajak bumi dan bangunan

(6)

10

(PBB), STP PBB, atau SKP PBB yang mengakibatkan pajak kurang bayar.

Pembuatan kode billing melalui layanan mandiri dapat dilakukan dengan mengakses aplikasi billing DJP atau melalui layanan, penerbitan kode billing yang disediakan oleh perusahaan application service provider (ASP) dan perushaan telekomunikasi.

Berdasarkan Pasal 1 ayat (5) Perdirjen Pajak Nomor PER- 05/PJ/2017 aplikasi billing DJP adalah bagian sistem billing DJP.

Aplikasi billing DJP. Aplikasi billing DJP merupakan aplikasi berbasis web yang dapat digunakan untuk menerbitkan kode billing dan dapat diakses melalui jaringan internet atau intranet.

E-Billing merupakan bagian dari pembaruan modul penerimaan

negara generasi kedua (MPN-G2). MPN-G2 dikembangkan guna mendukung pelakasanaan cash management yang baik dengan menyajikan informasi penerimaan negara secara real time dengan memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini.

b. Isilah-istilah dalam e-Billing 1) Billing System

Billing System adalah metode pembayaran elektronik dengan

meggunakan kode billing.

2) Biller

biller adalah unit Eselon I Kementrian Keuangan yang diberi tugas

dan kewenangan untuk mengelola sistem billing dan menerbitkan kode billing.

3) Sistem Billing

Sistem Billing adalah sistem informasi yang dikelola oleh masing- masing biller dalam rangka pengadministrasian sistem Penerimaan Negara secara elektronik.

4) Kode Billing

(7)

11

Kode Billing adalah kode identifikasi yang diterbitkan melalui sistem billing atas suatu jenis pembayaran atau setoran yang akan dilakukan wajib pajak.

5) Aplikasi Billing DJP

Aplikasi Billing DJP adalah bagian dari sistem billing Direktorat Jenderal Pajak yang menyediakan antarmuka berupa aplikasi berbasis web bagi wajib pajak untuk menerbitkan kode billing dan dapat diakses melalui jaringan internet.

6) Bank/Kantor Pos Persepsi

Penyedia layanan penerimaan setoran Penerimaan Negara sebagai collecting agent dalam sistem Penerimaan Negara menggunakan

Surat Setoran Elektronik (SSE).

7) Electronic Data Capture (EDC)

Alat yang dipergunakan untuk transaksi kartu debit/kredit yang terhubung secara online dengan sistem/jaringan bank persepsi.

8) Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN)

Nomor tanda bukti pembayaran/penyetoran ke kas negara yang tertara pada Bukti Penerimaan Negara dan diterbitkan oleh sistem settlement yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan

Kementrian Keuangan.

9) Nomor Transaksi Bank (NTB)

Nomor bukti transaksi penyetoran penerimaan negara yang diterbitkan oleh bank persepsi

10) Nomor Transaksi Pos (NTP)

Nomor bukti transaksi penyetoran penerimaan negara yang diterbitkan oleh pos persepsi.

11) Bukti Penerimaan Negara (BPN)

Dokumen yang diterbitkan oleh bank/kantor pos persepsi atas transaksi penerimaan negara dengan teraan NTPN dan NTB/NTP sebagai sarana administrasi lain yang kedudukannya disamakan dengan surat setoran.

(8)

12 12) Surat Setoran Pajak (SSP)

Bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas.

13) Surat Setoran Pajak Bumi dan Bangunan (SSP PBB)

Surat setoran atas pembayaran pajak bumi dan bangunan dari wajib pajak ke bank/kantor pos persepsi.

14) Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT PBB)

Surat yang digunakan oleh DJP untuk memberitahukan besarnya OBB yang terutang kepada wajib pajak.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor: KEP- 88/PJ./2004 tanggal 14 Mei 2004 KEP-05/PJ./2005 tanggal 12 Januari 2005 tentang tata cara penyampaian

Online (SIMPONI). SIMPONI adalah sistem informasi yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Anggaran, yang meliputi Sistem Perencanaan PNBP, Sistem Billing , dan Sistem Pelaporan

Salah satu kebijakan pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak adalah pemeriksaan pajak terhadap perusahaan kena pajak tertentu, dalam rangka menyelasaian permohonan

digunakan untuk membuat SPT Elektronik. 3) Aplikasi e-SPT adalah Aplikasi SPT Elektronik yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. 4) e-FIN adalah nomor identitas

wilayah kerjanya mencakup tempat tinggal atau tempat kedudukan wajib pajak. 2.) Melaporkan tempat usaha menjadi pengusaha kena pajak pada kantor Direktorat Jenderal

Sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor 178/PJ/2004 tentang Cetak Biru (Blue Print) Kebijakan Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2001 sampai dengan Tahun 2010

Berdasarkan Pasal 22 ayat (2) Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-545/PJ/2000 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan, Penyetoran, Dan Pelaporan Pajak

Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-39/PJ/2015 tentang Pengawasan Wajib Pajak Dalam Bentuk Permintaan Penjelasan Atas Data dan/atau Keterangan dan Kunjungan