Pada bab ini, peneliti memaparkan peran hakim dalam penentuan hak asuh anak. Selain itu, temuan-temuan mengenai psikologi hakim dalam pembuatan keputusan yudisial serta evaluasi kualitas keputusan yang hakim hasilkan juga akan diuraikan pada bab ini. Selanjutnya, untuk mempertajam persoalan pembuatan keputusan hakim tentang hak asuh anak, konsep hak asuh anak juga akan dibahas. Pada akhir bab ini, peneliti mencantumkan kerangka berpikir sebagai alur penelitian ini secara garis besar.
2.1 Peran Hakim Dalam Penentuan Hak Asuh Anak
Dalam menangani perkara hak asuh anak, seorang hakim berperan sebagai pembuat keputusan yudisial. Dengan mempertimbangkan aspek- aspek penting terkait penentuan hak asuh anak, hakim dapat membuat keputusan yang tepat. Adams dan Sevitch (dalam Kunin 1992) menandai beberapa faktor yang harus dipertimbangkan oleh hakim dalam membuat keputusan tentang hak asuh anak, yaitu kesehatan, keamanan, dan kesejahteraan anak, kesinambungan situasi hidup anak, kemampuan orang tua untuk mencintai anaknya, minat antara anak dan orang tua, dukungan emosional terhadap anak, dan pilihan orang tua biologis atau orang tua psikologis anak. Untuk menakar unsur-unsur tersebut, hakim, baik secara mandiri maupun melibatkan amicus curiae (sahabat peradilan, misalnya psikolog) dapat menggunakan panduan-panduan evaluasi tentang hak asuh anak berdasarkan “Ethical Principles of Psychologists and Code of Conduct”
yang disusun American Psychological Association (dalam APA 2010). Salah satu poin panduannya menekankan bahwa tujuan dilakukannya evaluasi tentang penetapan hak asuh adalah membantu menentukan kepentingan terbaik bagi anak secara psikologis. Dengan begitu, hakim dapat membuat
keputusan yang tepat karena memegang prinsip kepentingan terbaik bagi anak (the best interest of child). Keputusan hakim yang tepat akan memperbesar peluang bagi anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik bersama sosok yang bertanggung jawab selaku pengasuhnya.
Dalam membuat keputusan tentang hak asuh anak, hakim berperan sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk menentukan hal-hal yang merupakan kepentingan terbaik bagi anak dengan seobjektif mungkin serta menghilangkan pendapat-pendapat yang bersifat subjektif. Apabila diperlukan, hakim juga dapat mengupayakan adanya evaluasi pengasuhan anak agar keputusannya semakin berdampak baik bagi anak. Hal ini selaras dengan temuan Bow & Quinnell (2004) yang mengungkapkan, pada umumnya hakim berpendapat bahwa evaluasi pengasuhan sebelum hakim menetapkan hak asuh anak merupakan hal yang paling penting untuk dilakukan
Terkait prinsip kepentingan terbaik bagi anak, Freeman (2007) mengemukakan bahwa menentukan kepentingan terbaik anak merupakan hal ambigu. Hakim bisa saja mengklaim bahwa ia telah mempertimbangkan semua hal yang merupakan kepentingan terbaik bagi anak, namun tetap ada kemungkinan bahwa hakim akan bersifat subjektif. Artinya, pada saat menentukan sesuatu yang terbaik bagi anak, hakim tetap berhadapan dengan situasi yang tidak tentu dan bersifat spekulatif. Skivenes (2010) juga menduga keputusan yang dibuat oleh hakim di persidangan hanya sebatas penalaran yang masuk akal atau sekedar prasangka subjektif.
Salah satu unsur yang dapat dianggap sebagai pertimbangan berdasarkan prinsip kepentingan terbaik bagi anak adalah perlunya hakim dibekali dengan keterampilan dan pengetahuan yang memadai tentang anak, khususnya mengenai kondisi psikologis anak. Jika hakim dibekali dengan
kemampuan dan pengetahuan tersebut, maka hakim akan dapat lebih memahami tentang perilaku dan kebutuhan-kebutuhan anak. Dengan pemahaman yang baik itulah, hakim diharapkan lebih mampu mengambil keputusan yang tepat. Baron (2003) mengemukakan bahwa agar dapat menyidangkan perkara penentuan hak asuh secara baik, sebelum bertugas, hakim perlu diberikan pembekalan berupa pengetahuan tentang perkembangan anak, teori kelekatan, kekerasan dan penelantaran, kekerasan domestik, dan penyalahgunaan narkoba.
Faktanya, tingkat pengetahuan hakim mengenai psikologi anak masih minim. Padahal Araji dan Bosek (dalam Amriel, 2012) mengemukakan, minimnya keterlibatan psikologi di ranah pengadilan keluarga akan berpengaruh pada kurang berkualitasnya keputusan-keputusan hakim tentang hak asuh anak. Secara spekulatif, minimnya tingkat keterampilan dan pengetahuan hakim tentang psikologi anak lumrah terjadi karena hakim memang belum memiliki akses yang mudah guna memperoleh pengetahuan tentang psikologi anak. Hardcastle (2005) mengemukakan bahwa sekolah hukum di Amerika tidak membekali siswanya dengan pengetahuan tentang psikologi anak dan perkembangan anak. Itu sebabnya, ketika ditanyakan kepada hakim, Baron (2003) lewat risetnya menemukan para hakim berpendapat bahwa mereka sangat membutuhkan pengetahuan tentang psikologi anak dan perkembangan anak. Melengkapi temuan tersebut, Khaleeli (2007) menemukan bahwa hakim membutuhkan pengetahuan terutama tentang keterasingan dan penyesuaian anak, kemungkinan anak mengalami kekerasan seksual, dan masalah perkembangan anak.
Jika tingkat keterampilan dan kemampuan hakim masih minim atau belum memadai, dampak yang bisa dirasakan langsung oleh anak adalah adanya peluang anak diasuh oleh pihak yang tidak tepat. Selain itu, dampak
psikologis pada anak yang mungkin terjadi akibat proses pengadilan yang cacat adalah keterasingan anak terhadap orang tua (parental alienation).
Gardner (1985) menyebutkan parent alienation sebagai gangguan yang hampir selalu muncul secara eksklusif dalam konteks persengketaan hak asuh anak. Ini terjadi akibat salah satu pihak orang tua (yang mengasingkan) melakukan pencemaran terhadap orang tua lainnya (yang diasingkan). Hal ini menyebabkan anak merasa terasing dari salah satu pihak orang tuanya.
Tidak menutup kemungkinan anak mulai menunjukkan tanda-tanda kebencian kepada salah satu orang tuanya (yang diasingkan) tersebut karena secara tidak sadar orang tua yang mengasingkan telah mencuci otak anak tersebut untuk membenci orang tuanya (yang diasingkan).
Manakala keputusan hakim berefek kontraproduktif bagi si anak, hal ini disebut dengan istilah jurigenic effect. Menurut Schma (dalam Amriel, 2012), jurigenic effect adalah sebuah istilah yang menandai adanya dampak- dampak negatif yang dialami individu (yang menjadi subjek keputusan pengadilan) setelah menjalani persidangan yang tidak mempertimbangkan unsur-unsur relevan dan kompleks secara memadai berkaitan dengan subjek tersebut.
2.2 Psikologi Pengambilan Keputusan Oleh Hakim
Kinerja hakim dalam menangani perkara hak asuh anak sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan yang memadai terkait kasus yang ia tangani. Semakin banyak perbendaharaan pengetahuan yang hakim miliki terkait dengan kasus yang ia tangani, semakin baik pula kinerjanya dalam membuat keputusan. Ini yang disebut oleh Gizbert-Studnicki dan Klinowski (2009) dengan istilah Hercules Model. Dengan kata lain, informasi-informasi terkait dengan kasus yang ditangani hakim akan sangat mempengaruhi diri hakim dalam membuat pertimbangan-pertimbangan dalam menetapkan hak
asuh anak. Selain itu, dalam bingkai psikologi terdapat rational choice theory yang dijelaskan oleh Green (2002) bahwa individu pengambil keputusan berusaha memaksimalkan kemanfaatan (utility) yang bisa diperolehnya dari pilihan-pilihan yang tersedia. Artinya, dalam membuat keputusan, hakim mempertimbangkan segala macam pilihan yang tersedia dan berusaha mengambil manfaat dari keputusan yang diambilnya sehingga keputusan yang ia hasilkan merupakan keputusan yang terbaik.
Kunin, Ebbesen, dan Konecni (1992) melakukan kajian terhadap 282 kasus hak asuh anak dan menemukan ada dua faktor yang mempengaruhi keputusan hakim secara langsung, yaitu preferensi anak dan rekomendasi dari evaluator (psikolog atau konselor). Rekomendasi ini ditujukan untuk menyediakan opini dan informasi yang objektif dalam membantu penetapan hak asuh anak. Atas dasar itu, hakim perlu mengumpulkan berbagai informasi penting ketika membuat keputusan dengan melibatkan anak maupun sahabat peradilan, misalnya psikolog yang melakukan asesmen terhadap kompetensi orang tua dalam mengasuh.
Di sisi lain, tingkat pengetahuan dan keterampilan hakim yang seringkali terbatas menyebabkan hakim bekerja hanya dengan mengandalkan dan bergantung pada aturan-aturan legal sederhana dalam membuat keputusan dan mengabaikan informasi-informasi penting lainnya.
Proses kerja hakim tersebut dikenal dengan istilah heuristik. Guthrie, Rachlinski, dan Wistrich (2001) menguraikan bahwa proses heuristik ini berpotensi mengarah kepada kekeliruan dan bias sistematis.
Mekanisme psikologis hakim dalam membuat keputusan, termasuk keputusan tentang hak asuh anak juga berbeda-beda. Terdapat empat model terkait dengan cara hakim membuat sebuah keputusan, yaitu legal model, attitudinal model, strategic model, dan case manager model.
1. Legal model
Model ini mengemukakan bahwa hakim membuat sebuah keputusan yudisial dengan cara mengaplikasikan peraturan / undang- undang yang terkait dengan kasus yang ditangani. Dari situ, hakim berusaha membuat interpretasi hukum secara benar dan mencoba membuat hukum yang baik dengan cara bergantung kepada aturan- aturan legal / piranti hukum dalam mengambil keputusan, termasuk keputusan tentang hak asuh anak. Sebagai konsekuensi dari bergantungnya hakim kepada aturan-aturan legal, Edwards (1985) menekankan bahwa hukum-lah yang akan mengontrol perilaku hakim pada saat membuat keputusan. Dalam perkara hak asuh anak di Indonesia, terdapat dua piranti hukum yang mengurusi ihwal hak asuh anak, yaitu Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (UUPA). Artinya, melalui legal model dapat dijelaskan bahwa mekanisme perilaku hakim manakala menelurkan keputusan tentang hak asuh anak dipengaruhi aturan-aturan legal yang dijadikan landasan / dasar hukum, yaitu KHI ataupun UUPA.
2. Attitudinal model
Model ini menekankan bahwa sikap yang dimiliki hakim terhadap aspek-aspek tertentu akan mempengaruhi keputusan yang diambilnya.
Rasionalisasinya, dalam membuat keputusan, hakim akan cenderung mementingkan ideologi, sikap, pengalaman pribadi, preferensi, dan kebijakan yang mereka sukai meskipun hakim telah memiliki pedoman hukum. Segal dan Spaeth (2002) mengemukakan bahwa fakta dan hukum tetap disaring oleh sikap dan preferensi hakim. Efeknya, keputusan hakim tidak akan terlepas dari faktor-faktor ekstralegal meskipun hakim berpegang teguh pada aturan-aturan legal terkait.
Alhasil, faktor ekstralegal tersebut berpotensi mempengaruhi hakim dalam membuat keputusan tentang hak asuh anak
3. Social background model.
Model ini merupakan lanjutan dari attitudinal model. Selaras dengan model tersebut, social background model juga melihat bahwa sikap yang dimiliki hakim terhadap aspek-aspek tertentu berpotensi memberikan pengaruh dalam proses pembuatan keputusan yudisial.
Model ini, khususnya menekankan bahwa sikap hakim terhadap aspek demografi mempengaruhi hakim dalam membuat sebuah keputusan.
Artinya, faktor jenis kelamin, usia, suku dan agama dapat memberikan pengaruh pada pembuatan keputusan yang dilakukan hakim. Lewat risetnya, (Lizarraga, Baquedano, & Cardelle-Elawar, 2007) menemukan, aspek demografi, misalnya jenis kelamin, memiliki pengaruh terhadap keputusan yudisial
4. Strategic model
Model ini menyebutkan bahwa hakim cenderung membuat sebuah keputusan dengan strategi-strategi tertentu yang akan mendatangkan hal-hal menguntungkan untuk dirinya. Robbennolt, MacCoun, dan Darley (2010) menyebutkan bahwa strategic model terjadi ketika hakim tidak lagi berpusat pada dirinya dan pada kasus yang ia tangani. Jika hakim melihat kemungkinan bahwa dengan membuat keputusan tertentu akan mendatangkan keuntungan bagi dirinya, misalnya mendapat opini yang positif dari publik, maka hakim akan cenderung membuat keputusan berdasarkan pertimbangan strategis tersebut. Sebaliknya, jika hakim merasa keputusan tersebut tidak akan mendatangkan keuntungan untuknya, maka hakim tidak akan berpihak pada keputusan tersebut.
Dari model-model pembuatan keputusan hakim diatas, dapat dipahami bahwa pola perilaku hakim dalam membuat keputusan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor intralegal seperti landasan / dasar hukum yang diandalkan hakim, maupun faktor ekstralegal seperti sikap dan preferensi yang dimiliki oleh hakim.
Berkaitan dengan pola perilaku hakim dalam membuat keputusan yudisial, terdapat lima norma untuk mengevaluasi perilaku hakim (judicial behavior), yaitu social, moral, legal, coherence, dan efficacy norms (Mitchell, 2010).
1. Social norm
Norma ini menjelaskan bahwa evaluasi perilaku hakim ketika membuat sebuah keputusan dilakukan dengan cara membandingkan keputusan hakim tersebut dengan keputusan-keputusan hakim yang lain.
Ketika keputusan yang dibuat hakim cenderung sesuai dengan tren keputusan-keputusan hakim lainnya, maka keputusan tersebut dianggap baik. Namun, sebaliknya jika keputusan yang dibuat hakim bertentangan dengan keputusan hakim pada umumnya, maka keputusan hakim tersebut dianggap menyimpang.
2. Moral norm
Melalui norma ini, digambarkan bahwa kualitas keputusan hakim dianggap baik manakala keputusan yang dihasilkan hakim sebangun atau kongruen dengan nilai-nilai moral yang beredar pada masyarakat tertentu.
3. Legal norm
Norma ini menekankan bahwa evaluasi perilaku hakim dilakukan dengan cara melihat seberapa jauh hakim bergantung pada aturan-aturan hukum / legal yang relevan untuk membuat sebuah keputusan. Ketika
keputusannya berlandaskan oleh aturan-aturan hukum yang relevan, maka kualitas keputusan hakim tersebut dianggap baik. Di sisi lain, jika keputusan hakim tidak berlandaskan oleh aturan-aturan hukum yang relevan serta tidak menerapkan doktrin-doktrin hukum yang berlaku, maka kualitas keputusan hakim tersebut patut dipertanyakan.
4. Coherence norm
Norma ini menjelaskan, evaluasi perilaku hakim dilakukan dengan menilai sejauh mana pertimbangan keputusan hakim merupakan sebuah unit tunggal atau menyeluruh sehingga pertimbangan hakim tersebut menjadi sebangun / kongruen dengan pertimbangan-pertimbangan lainnya.
5. Efficacy norm
Melalui norma ini, keputusan hakim dievaluasi dengan cara melihat seberapa jauh keputusan yang diambil terbenarkan secara empiris.
Artinya, keputusan yang diambil oleh hakim dinilai baik ketika keputusannya didukung oleh hasil-hasil kajian ilmiah termasuk disiplin non-hukum serta jauh dari asumsi yang subjektif (subjective presumption)
Berdasarkan kelima norma di atas, dapat dikategorikan bahwa penelitian ini menggunakan legal norm. Konkretnya, peneliti mencermati pola perilaku hakim terkait seberapa sering hakim mengandalkan aturan legal / hukum yang relevan dalam membuat keputusan tentang hak asuh anak, yakni UUPA dan KHI.
2.3 Hak Asuh Anak
Dalam perkara hak asuh anak, aplikasi konsep kepentingan terbaik bagi anak bukan hal yang sederhana. Mulai dari adanya pertentangan dalam konsep aturan-aturan hukum / aspek legal yang mengurusi persoalan hak asuh anak hingga beragamnya mekanisme psikologis pembuatan keputusan
hakim di pengadilan yang mengandung kompleksitas tersendiri. Walker, Brooks, dan Wrightsman (1998) menyatakan bahwa tidak ada bahasan di dalam psikologi forensik yang membutuhkan keahlian melebihi area hak asuh anak.
Memperjelas istilah hak asuh anak, berdasarkan Uniform Child-Custody Jurisdiction and Enforcement Act (1997), Article 1, Section 102(3) (dalam Amriel 2012), Hak asuh anak (child custody) adalah keputusan, ketetapan, ataupun bentuk-bentuk perintah lainnya yang dihasilkan oleh lembaga peradilan yang memberikan kewenangan atas hak asuh legal (legal custody) atas hak asuh fisik (physical custody) atas anak serta kunjungan (visitation) orangtua pascaperceraian ke anak–anak mereka.
Berkaitan dengan asal-usul dasar penetapan hak asuh anak, pada zaman dahulu terdapat sebuah doktrin yang disebut property rights. Doktrin ini beranggapan bahwa anak merupakan properti (Ackerman, 1999). Pada penerapannya, ketika ada persengketaan hak asuh anak, ayah dipandang sebagai pihak yang paling berhak untuk mendapatkan hak asuh anak.
Pertimbangannya, karena laki-laki merupakan pihak yang dianggap paling berhak bagi properti / hak kepemilikan, maka hak asuh jatuh di tangan ayah.
Seiring berkembangnya zaman, pada saat era Revolusi Industri muncul paradigma yang disebut sebagai tender years. Berbeda dengan doktrin property rights, kali ini ayah tidak lagi dianggap sebagai pihak yang paling berhak untuk mendapatkan hak asuh anak. Ayah dipandang sebagai orang tua yang kurang mampu memenuhi kebutuhan anak yang usianya masih berada pada tahun-tahun peka tersebut (Ackerman, 1999). Alhasil, preferensi hak asuh pun bergeser menjadi hak ibu.
Tipe pengasuhan tunggal dalam konsep property rights maupun tender years ini disebut sole custody. Wrightsman dan Folero (2005) menyebutkan
sole custody adalah hak asuh yang diberikan hanya kepada salah satu dari orang tua (ayah atau ibu) anak sebagai pemegang tunggal hak asuh anak.
Sebagai pemegang tunggal hak asuh anak, orang tua tersebut memiliki hak untuk mengambil segala keputusan atas kehidupan anaknya.
Sebagai salah satu aturan hukum yang membahas perkara hak asuh anak, Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI) digunakan hakim sebagai rujukan hukum dalam mengambil keputusan tentang perkara hak asuh anak. Meskipun KHI tidak secara khusus membahas perkara-perkara yang berkaitan dengan anak, KHI mencantumkan persoalan hak asuh anak sehingga keberadaannya dijadikan rujukan oleh hakim dalam mengambil keputusan. Substansi KHI menyiratkan adanya preferensi gender, yaitu menganggap bahwa pihak yang lebih berhak sebagai pemegang hak asuh anak adalah ibu. Hal ini dilihat dari Pasal 105 KHI yang mengungkapkan bahwa pemeliharan anak yang berusia dibawah 12 tahun merupakan hak ibunya.
Di sisi lain, istilah “kepentingan terbaik anak” baru dirumuskan (Goldstein, Freud, & Sonit, 1973) pada rentang 60an dan 70an. Indonesia secara resmi mengadopsi prinsip tersebut ke dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Persoalan hak asuh anak bukan lagi memperdebatkan isu preferensi gender yang melihat kepantasan pemegang hak asuh berdasarkan jenis kelamin, melainkan menekankan bahwa kepantasan pemegang hak asuh didasarkan pada kompetensi orang tua untuk mengasuh anak (parental competency). Dengan begitu, anak sepenuhnya berhak untuk diasuh oleh pihak yang betul-betul mampu memberikan pengasuhan terbaik, terlepas apapun jenis kelamin pihak pengasuh tersebut.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dalam pasal 4 menyebutkan “Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Berangkat dari hal tersebut, fokus persoalan hak asuh anak bergeser dari domain orang tua menjadi domain anak sehingga konsep kepentingan terbaik anak dapat diterapkan.
Dari uraian beberapa paragraf di atas, tersirat bahwa KHI dapat diasumsikan menganut doktrin tender years. Hal ini disebabkan karena KHI menaruh preferensi kepada ibu sebagai pihak yang paling berhak mengasuh anak. Berseberangan dengan KHI, UUPA tidak menaruh preferensi gender dalam persoalan hak asuh anak melainkan menekankan prinsip kepentingan terbaik bagi anak. Substansi UUPA secara eksplisit mengungkapkan bahwa anak berhak diasuh oleh kedua orang tuanya (joint custody). Pasal 26 ayat 1a UUPA menyebutkan, “Orang tua [berarti ayah dan ibu] berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak [mereka].”. Ini membuktikan bahwa substansi UUPA tidak mengandung keberpihakan kepada jenis kelamin tertentu (preferensi gender).
Memperjelas istilah sebelumnya, joint custody adalah hak asuh yang diberikan kepada kedua orang tua (ayah dan ibu) untuk mengasuh anaknya.
Dalam tipe hak asuh ini, meskipun bercerai, anak tetap dapat diasuh oleh kedua orang tuanya secara bergantian. Lewat risetnya, Felner dan Terre (1987) menjelaskan, waktu bagi anak untuk melewati pengasuhan secara fisik pada masing-masing orang tua relatif sama.
Di samping sole dan joint custody, pada prakteknya hakim juga bisa menjatuhkan hak asuh terbelah (split custody) ketika pemegang hak asuh anak terbagi menjadi dua pihak. Wrightsman dan Folero (2005) menjelaskan,
dengan menerapkan hak asuh terbelah, salah satu anak hidup bersama salah satu orang tua, sementara anak yang lain tinggal bersama orang tua lainnya.
2.4 Doktrin Hukum
Dalam mengambil keputusan tentang hak hak asuh anak, seorang hakim harus membingkai keputusannya berdasarkan hukum-hukum formal yang berlaku. Dengan mencantumkan hukum-hukum formal yang ada, hakim dapat membuat sebuah keputusan yang baik. Hariri (2012) menjelaskan salah satu hukum formal adalah doktrin hukum. Doktrin hukum adalah pendapat seorang atau beberapa sarjana hukum yang terkenal dalam ilmu pengetahuan hukum. Itu sebabnya, hakim perlu memperhatikan doktrin- doktrin hukum yang berlaku ketika membuat sebuah keputusan yudisial.
Berkaitan dengan pentingnya hakim memperhatikan doktrin-doktrin hukum yang berlaku, terdapat doktrin hukum yang krusial dan tidak dapat dikesampingkan hakim, yaitu lex posteriori derogate lege priori, lex superiori derogate lege priori, dan lex specialis derogate lege generali. Secara urut, istilah tersebut mengandung maksud bahwa peraturan yang terbaru mengesampingkan peraturan yang sebelumnya, peraturan yang lebih tinggi mengesampingkan peraturan yang lebih rendah, dan peraturan yang lebih khusus mengesampingkan peraturan yang bersifat lebih umum (Hariri, 2012).
Keberadaan ketiga unsur doktrin tersebut memunculkan konsekuensi pada kinerja hakim. Agar dapat menghasilkan keputusan yang sebaik mungkin, hakim diharuskan mengikuti doktrin atau panduan kognitif tersebut.
Konkretnya, ketika hakim berhadapan dengan dua aturan hukum (legislasi) yang kontradiktif, maka hakim harus memilih legislasi yang akan ia terapkan sesuai dengan doktrin / panduan kognitif tersebut. Dengan kata lain, kinerja
hakim dalam membuat keputusan selalu berpatokan kepada doktrin-doktrin hukum yang berlaku
Dengan menjadikan tiga unsur doktrin tersebut sebagai acuan kerja hakim, dapat dikatakan bahwa UUPA merupakan aturan yang lebih terkini dibandingkan KHI karena UUPA lahir tahun 2002 sementara KHI dilahirkan tahun 1991. Selain itu, UUPA merupakan aturan hukum yang memiliki derajat hukum yang lebih tinggi dibandingkan KHI, karena pada prinsipnya undang- undang memiliki derajat hukum yang lebih tinggi dibandingkan KHI yang merupakan Instruksi presiden / Inpres. Ditambah lagi, UUPA merupakan aturan hukum yang lebih khusus membahas persoalan tentang anak karena membahas segala persoalan tentang anak dibandingkan KHI yang lebih bersifat lebih umum. Artinya, UUPA sebagai aturan legal yang lebih terkini, lebih tinggi dan lebih khusus dibandingkan KHI, semestinya digunakan hakim sebagai aturan legal / piranti hukum yang relevan dalam menetapkan hak asuh anak.
Persoalannya, secara spekulatif, konsep kepentingan terbaik bagi anak yang dimiliki UUPA masih sebatas prinsip belaka. Pada prakteknya, UUPA masih terlihat normatif, dan belum sepenuhnya diimplementasikan. Ada dugaan, keputusan hakim tentang hak asuh anak masih cenderung merujuk kepada KHI yang mengandung unsur preferensi gender sehingga keputusan hakim cenderung bersifat by default untuk menjatuhkan hak asuh kepada ibu.
Dengan kata lain, hakim masih memiliki ketergantungan kepada legislasi / aturan hukum yang sebetulnya kurang relevan lagi bagi penerapan prinsip kepentingan terbaik bagi anak dan hakim terindikasi belum memiliki pengetahuan yang luas terkait kasus yang ia tangani. Padahal, berdasarkan Pasal 53, Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, disebutkan bahwa dalam keputusan yang dihasilkan hakim harus
memuat pertimbangan hakim yang didasarkan pada alasan dan dasar hukum yang tepat dan benar. Ditambah lagi, sesuai dengan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim dalam poin 10.1,disebutkan bahwa hakim harus meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kualitas pribadinya. Artinya, jika hakim senantiasa memperkaya pengetahuannya, maka sesungguhnya hakim meningkatkan kualitas kinerjanya. Pada akhirnya, penelitian ini mencoba menjawab persoalan tentang sejauh mana hakim mengandalkan aturan-aturan hukum yang relevan dalam membuat keputusan tentang hak asuh anak.
2.5 Kerangka Berpikir
Perceraian
Hak Asuh Anak
Hakim Pengadilan Agama
Keputusan Hakim
UUPA = KHI UUPA > KHI UUPA < KHI UUPA & KHI
Identifikasi masalah :
1. Saat hakim membuat keputusan terkait perkara hak asuh anak, aturan-aturan hukum apakah yang menjadi acuan bagi perilaku pembuatan keputusan tersebut?
2. Dalam proses pembuatan keputusan, seberapa sering hakim menggunakan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (UUPA) dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai dasar hukum terkait perkara hak asuh anak?
Legal norm