Bank Indonesia
Jl. MH Thamrin No.2, Jakarta Indonesia
Kajian Stabilitas Keuangan (KSK)
ini disusun sebagai bagian dari pelaksanaan kewenangan Bank Indonesia di bidang pengaturan dan pengawasan Makroprudensial sebagaimana tercantum pada Undang-undang No.21 Tahun 2011.KSK diterbitkan secara semesteran dengan tujuan untuk:
ͻ DĞŶŝŶŐŬĂƚŬĂŶǁĂǁĂƐĂŶƉƵďůŝŬĚĂůĂŵŵĞŵĂŚĂŵŝƐƚĂďŝůŝƚĂƐƐŝƐƚĞŵŬĞƵĂŶŐĂŶ ͻ DĞŶŐŬĂũŝƌŝƐŝŬŽͲƌŝƐŝŬŽƉŽƚĞŶƐŝĂůƚĞƌŚĂĚĂƉƐƚĂďŝůŝƚĂƐƐŝƐƚĞŵŬĞƵĂŶŐĂŶ
ͻ DĞŶŐĂŶĂůŝƐĂƉĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶĚĂŶƉĞƌŵĂƐĂůĂŚĂŶĚĂůĂŵƐŝƐƚĞŵŬĞƵĂŶŐĂŶ
ͻ DĞƌĞŬŽŵĞŶĚĂƐŝŬĞďŝũĂŬĂŶƵŶƚƵŬŵĞŶĚŽƌŽŶŐĚĂŶŵĞŵĞůŝŚĂƌĂƐŝƐƚĞŵŬĞƵĂŶŐĂŶLJĂŶŐƐƚĂďŝů͘
Informasi dan Order:
KSK ini terbit pada bulan Maret 2014 dan didasarkan pada data dan informasi per Desember 2013, kecuali ĚŝŶLJĂƚĂŬĂŶůĂŝŶ͘
Dokumen KSK lengkap dalam format pdf tersedia pada web site Bank Indonesia:ŚƩƉ͗ͬͬǁǁǁ͘ďŝ͘ŐŽ͘ŝĚ
^ƵŵďĞƌĚĂƚĂĂĚĂůĂŚĚĂƌŝĂŶŬ/ŶĚŽŶĞƐŝĂ͕ŬĞĐƵĂůŝũŝŬĂĚŝŶLJĂƚĂŬĂŶůĂŝŶ͘
Permintaan, komentar dan saran harap ditujukan kepada:
Bank Indonesia
Departemen Kebijakan Makroprudensial Jl.MH Thamrin No.2, Jakarta, Indonesia Email: [email protected]
Kajian Stabilitas Keuangan
( No.22, Maret 2014)
Departemen Kebijakan Makroprudensial
Grup Asesmen dan Kebijakan Makroprudensial
iii
Daftar Isi ... ... iii
Kata Pengantar ... ... vii
Bab 1. Tinjauan Umum ... 3
Bab 2. Sumber Kerentanan Eksternal dan Internal ... 9
2.1. Sumber Kerentanan Eksternal .... ... 9
2.2. Sumber Kerentanan Internal ... 12
Bab 3. Asesmen Ketahanan Industri Perbankan ... 17
3.1. Asesmen Risiko-risiko Utama di Industri Perbankan ... 17
Boks 3.1. Pengalihan Fungsi Pengawasan Bank dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan ... 34
Boks 3.2. Koordinasi Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan ... 37
Boks 3.3. Pemeringkatan Kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ... 39
Bab 4. Asesmen Ketahanan Pasar Keuangan dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) ... 43
4.1. Asesmen Risiko-risiko Utama di Pasar Keuangan... 43
4.2. Pembiayaan melalui Pasar Keuangan dan Institusi Keuangan Non Bank ... 48
4.3. Kinerja Institusi Keuangan Non Bank ... 49
Boks 4.1. Kebijakan Layanan “TRUST” Perbankan: Upaya Mendorong Stabilitas Nilai Tukar Rupiah Melalui Peningkatan Pasokan Valas Di Pasar Domestik ... 55
Bab 5. Asesmen Ketahanan Korporasi dan Rumah Tangga ... 59
5.1. Sektor Korporasi ... 59
5.2. Sektor Rumah Tangga ... 65
Boks 5.1. Simulasi Ketahanan Korporasi Terhadap Depresiasi Nilai Tukar ... 70
Boks 5.2. Penguatan Kebijakan Loan To Value ... 71
Boks 5.3. Perluasan Akses Keuangan melalui Layanan Keuangan Digital ... 74
Bab 6. Asesmen Infrastruktur Sistem Keuangan ... 79
6.1. Kinerja Sistem Pembayaran ... 79
6.2. Perkembangan Transaksi Sistem Pembayaran ... 80
6.3 Indikator Sistem Pembayaran ... 83
6.4 Risiko Sistem Pembayaran dan Upaya Mitigasi Risiko ... 84
Bab 7. Asesmen Risiko Sistemik dan Indeks Stabilitas Sistem Keuangan ... 89
7.1. Asesmen Risiko Sistemik ... 89
7.2. Indeks Stabilitas Sistem Keuangan ... 91
Bab 8. Tantangan, Outlook dan Arah Kebijakan SSK Ke Depan ... 95
8.1. Tantangan Stabilitas Sistem Keuangan ... 95
8.2. Prospek Ketahanan Perbankan dan Stabilitas Sistem Keuangan ... 97
8.3. Arah Kebijakan ... 99
Artikel... ... 103
Artikel 1 Kerangka Kebijakan Makroprudensial Indonesia ... 105
Artikel 2 Penggunaan Indeks Stabilitas Keuangan (ISSK) dalam Pelaksanaan Surveilans Makroprudensial ... 109
Daftar Isi
iv
Daftar Tabel, Grafik dan Gambar
Tabel
3.1. Pangsa Pasar Kredit 6 Kepulauan Besar Indonesia (%) 19
3.2. Pertumbuhan Kredit per BUKU (%yoy) ... 19
3.3. Perkembangan Gross NPL di 6 Kepulauan Besar Indonesia (%) ... 21
3.4. Rasio NPL gross per BUKU ... 22
3.5. Rasio NPL gross Kredit UMKM (%) ... 22
3.6. Migrasi Kolektibilitas Debitur Industri Perbankan 22 3.7. Migrasi Kolektibilitas Debitur Sektor UMKM ... 23
3.8. Pangsa Pasar DPK 6 Kepulauan Besar Indonesia (%) 25 3.9. Pertumbuhan DPK Berdasarkan BUKU ... 25
3.10. Perkembangan LDR Per Kelompok BUKU ... 26
3.11. Perkembangan Suku Bunga DPK ... 27
3.12. Perkembangan Suku Bunga Kredit ... 28
3.13. Komposisi Posisi Devisa Neto Nominal Industri Perbankan ... 29
3.14. Komposisi Posisi Devisa Neto Nominal per BUKU 29 3.15. Dampak Penurunan Harga SBN Per BUKU ... 30
3.16. Perkembangan Laba/Rugi Industri Perbankan (dalam Triliun) ... 31
3.17. Rincian Pos Pendapatan ... 31
3.18. Rasio NIM Perbankan per BUKU (dalam %) ... 32
3.19. Perkembangan CAR berdasarkan BUKU ... 33
4.1. Yield SBN 10 Tahun dan Kawasan (%) ... 44
4.2. Volatilitas Yield SBN 10 Tahun dan Kawasan (%) . 44 4.3. Kepemilikan SBN Yang Dapat Diperdagangkan .... 44
4.4. Dampak Penurunan Harga SBN ... 45
4.5. Kupon Penerbitan Obligasi Korporasi ... 45
4.6. Simulasi Potensi Kerugian Bank Jika 8 Korporasi Default ... 46
4.7. Volatilitas Indeks Saham Sektoral (%) ... 46
4.8. Perkembangan Penyaluran Pembiayaann ... 49
4.9. Penetrasi Asuransi di Negara Kawasan ... 52
4.10. Perusahaan Asuransi Terkait dengan Bank yang Listed di Bursa ... 52
5.1. Indikator Kinerja Keuangan Korporasi Komoditas Utama ... 62
5.2. Indikator Kinerja Keuangan Korporasi Sektoral ... 62
5.3. Penyaluran Kredit menurut Sektor Ekonomi ... 65
5.4. Kredit Komoditas Utama Ekspor ... 65
Tabel Boks 5.1.1. Hasil Stress Test Ketahanan Korporasi Terhadap Nilai Tukar ... 70
Tabel Boks 5.2.1. Perkembangan Debitur dengan Lebih dari Satu Fasilitas KPR ... 72
8.1. Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia ... 96
8.2. Proyeksi Perbankan dan RBB 2014 ... 81
GraĮk
2.1. Pertumbuhan Ekonomi Negara Maju ... 9
2.2. Pertumbuhan Negara Emerging Market ... 9
2.3. Indeks Saham Global ... 10
2.4. Indeks Saham Kawasan... 10
2.5. Yield 10 tahun Negara Maju ... 10
2.6. Yield 10 tahun Negara Kawasan ... 11
2.7. Nilai Tukar Negara Kawasan ... 11
2.8. Credit Default Swap (CDS) Negara Kawasan ... 11
2.9. Depresiasi Nilai Tukar terhadap USD (Mei-Agustus 2013) ... 11
2.10. Peningkatan Premi CDS (Mei-Agustus 2013) ... 12
2.11. Perubahan Yield SUN 10 tahun (Mei-Agustus 2013) 12 2.12. Penurunan Indeks Saham (Mei-Agustus 2013) .... 12
Ϯ͘ϭϯ͘ WĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶ/ŶŇĂƐŝ ... 13
2.14. Rata-rata Harian Transaksi Pasar Valas ... 13
2.15. Pangsa Kapitalisasi Pasar Modal terhadap Produk ŽŵĞƐƟŬƌƵƚŽ ... 13
3.1. Komposisi Aset Lembaga Keuangan ... 17
3.2. Pertumbuhan Kredit ... 18
3.3. Pertumbuhan Kredit Per Valuta ... 18
3.4. Pertumbuhan Kredit Per Jenis Penggunaan ... 18
3.5. Pertumbuhan Kredit Per Sektor Ekonomi ... 18
3.6. Perkembangan Kredit UMKM ... 20
3.7. Rasio Non-Performing Loans ... 20
3.8. Rasio NPL gross per Sektor Ekonomi ... 21
3.9. Rasio NPL gross per Jenis Penggunaan ... 21
3.10. Stress Test Kenaikan NPL ... 23
3.11. Credit Risk Stress Test (Scenario Based) ... 23
3.12. Pertumbuhan DPK (yoy) ... 24
ϯ͘ϭϯ͘ WĞƌƵďĂŚĂŶW<ĞƌĚĂƐĂƌŬĂŶ'ŽůŽŶŐĂŶWĞŵŝůŝŬ .. 24
3.14. Komposisi Alat Likuid Perbankan ... 26
3.15. Alat Likuid dan Non-Core Deposit (NCD) ... 26
3.16. Stress Test<ĞŶĂŝŬĂŶ^ƵŬƵƵŶŐĂ ... 28
3.17. Net Long/Short Valas Perbankan ... 29
3.18. Stress Test Pelemahan Rp ... 30
3.19. Stress TestWĞŶƵƌƵŶĂŶ,ĂƌŐĂ^E ... 31
ϯ͘ϮϬ͘ ZĂƐŝŽZĞƚƵƌŶKŶƐƐĞƚ;ZKͿƉĞƌh<h;йͿ ... 32
ϯ͘Ϯϭ͘ ZĂƐŝŽKWKƉĞƌh<h;йͿ ... 32
ϯ͘ϮϮ͘ WĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶZWĞƌďĂŶŬĂŶ;йͿ ... 33
3.23. Rasio Tier I Perbankan ... 33
4.1. Flows Non Residen͗^ĂŚĂŵ͕^E͕^/ ... 43
4.2. Yield ^E:ĂŶŐŬĂWĞŶĚĞŬ͕DĞŶĞŶŐĂŚĚĂŶWĂŶũĂŶŐ ϰϰ 4.3. Perkembangan Indeks Saham Kawasan ... 46
ϰ͘ϰ͘ WĞƌŐĞƌĂŬĂŶ^ƵŬƵƵŶŐĂWhOvernight ... 47
ϰ͘ϱ͘ WŽůĂsŽůƵŵĞdƌĂŶƐĂŬƐŝWh ... 47
ϰ͘ϲ͘ sŽůƵŵĞĞƌŝĚĂŶWŝŶũĂŵWh ... 47
ϰ͘ϳ͘ sŽůƵŵĞEĞƚĚĂŶƵŶŐĂWŝŶũĂŵWh ... 47
ϰ͘ϴ͘ sŽůĂƟůŝƚĂƐ^ƵŬƵƵŶŐĂWhZƵƉŝĂŚ ... 48
ϰ͘ϵ͘ sŽůĂƟůŝƚĂƐ^ƵŬƵƵŶŐĂWhsĂůĂƐ ... 48
4.10. Perkembangan Kinerja PP ... 49
ϰ͘ϭϭ͘ WĞŵďŝĂLJĂĂŶWWĞƌĚĂƐĂƌŬĂŶ:ĞŶŝƐhƐĂŚĂ ... 49
ϰ͘ϭϮ͘ ZĂƐŝŽEW&WW;йͿ ... 50
4.13. Sumber Dana PP ... 50
4.14. Perkembangan Sumber Dana DN vs LN ... 50
ϰ͘ϭϱ͘ WĂŶŐƐĂƐĞƚ/ŶĚƵƐƚƌŝĞƌĚĂƐĂƌŬĂŶ:ĞŶŝƐhƐĂŚĂ (per Juni 2013) ... 51
4.16. Aset dan Investasi Industri Asuransi ... 51
ϰ͘ϭϳ͘ WƌĞŵŝĚĂŶ<ůĂŝŵƌƵƚŽ/ŶĚƵƐƚƌŝƐƵƌĂŶƐŝ ... 51
4.18. Penetrasi dan Densitas Industri Asuransi ... 52
4.19. Growth Reksadana (yoy) ... 53
ϰ͘ϮϬ͘ EZĞŬƐĂĚĂŶĂĞƌĚĂƐĂƌŬĂŶ:ĞŶŝƐ ... 53
4.21. Posisi Reksadana ... 53
ϰ͘ϮϮ͘ dĂďĞůWƌŽĮůZŝƐŝŬŽWƌŽĚƵŬZĞŬƐĂĚĂŶĂ ... 54
4.23. Pergerakan Net SuďscripƟon Reksandana dan DPK ĂŶŬ<ƵƐƚŽĚŝĂŶ ... 54
5.1. Perkembangan Harga Komoditas Global ... 59
5.2. Perkembangan Realisasi dan Perkiraan Dunia Usaha ... 61
5.3. Indikator Kunci Kinerja Keuangan Korporasi ... 62
ϱ͘ϰ͘ WĞƌŐĞƌĂŬĂŶ<ŝŶĞƌũĂ<ŽƌƉŽƌĂƐŝĞƌĚĂƐĂƌŬĂŶAltman Z-Score ... 63
ϱ͘ϱ͘ WĞƌŐĞƌĂŬĂŶ<ŽƌƉŽƌĂƐŝ<ƌŝƟƐĞŶŐĂŶW ... 63
5.6. Perkembangan Rasio Kinerja Keuangan Korporasi Publik Non Keuangan ... 63
5.7. Komposisi Penyaluran Kredit Perbankan ... 64
ϱ͘ϴ͘ <ƌĞĚŝƚ<ŽƌƉŽƌĂƐŝƉĂĚĂdŝĂƉƵŬƵĂŶŬ ... 64
5.9. Pertumbuhan Penjualan Pedagang Eceran ... 66
5.10. Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen ... 66
5.11. Komposisi Pengeluaran Rumah Tangga (per Desember) ... 67
ϱ͘ϭϮ͘ /ŶĚĞŬƐŬƐƉĞŬƚĂƐŝ,ĂƌŐĂWĂĚĂŶĂŵƵůĂŶzĂŶŐ Akan Datang ... 67
5.13. Komposisi Kredit Sektor Rumah Tangga Menurut Jenisnya per Desember 2013 ... 68
5.14. Perkembangan Kredit & NPL ke Sektor Rumah Tangga 68 5.15. Perkembangan Kredit Sektor Rumah Tangga Menurut Penggunaan Utama ... 69
5.16. Perkembangan NPL Kredit Sektor Rumah Tangga Menurut Jenisnya ... 69
GraĮk Gambar
Ϯ͘ϭ͘ :ĂůƵƌdƌĂŶƐŵŝƐŝ<ĞƌĞŶƚĂŶĂŶŬƐƚĞƌŶĂůĚĂŶ/ŶƚĞƌŶĂů ϭϰ
ϲ͘ϭ͘ WĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶdƌĂŶƐĂŬƐŝ^ŝƐƚĞŵ/ͲZd'^ ... 80
ϲ͘Ϯ͘ WĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶdƌĂŶƐĂŬƐŝ/Ͳ^^^^ ... 81
ϲ͘ϯ͘ WĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶdƌĂŶƐĂŬƐŝ^<E/ ... 81
ϲ͘ϰ͘ WĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶdƌĂŶƐĂŬƐŝWD< ... 82
ϲ͘ϱ͘ WĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶdƌĂŶƐĂŬƐŝ<ĂƌƚƵdDͬĞďĞƚ ... 82
ϲ͘ϲ͘ WĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶdƌĂŶƐĂŬƐŝ<ĂƌƚƵ<ƌĞĚŝƚŚ ... 82
ϲ͘ϳ͘ WĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶdƌĂŶƐĂŬƐŝhĂŶŐůĞŬƚƌŽŶŝŬ ... 83
6.8. Perkembangan Turn Over RaƟo ... 83
6.9. Yueue TransacƟon;EŝůĂŝͿ ... 84
6.10. Yueue TransacƟon;sŽůƵŵĞͿ ... 84
ϳ͘ϭ͘ WĂŶŐƐĂĂŶŬĞƐĂƌdĞƌŚĂĚĂƉƐƐĞƚƐ ... 90
ϳ͘Ϯ͘ WĂŶŐƐĂĂŶŬĞƐĂƌdĞƌŚĂĚĂƉ/ŶĚƵƐƚƌŝ ... 90
ϳ͘ϯ͘ sŽůĂƟůŝƚĂƐEŝůĂŝdƵŬĂƌZƵƉŝĂŚ ... 91
ϳ͘ϰ͘ sŽůĂƟůŝƚĂƐ/,^' ... 91
ϳ͘ϱ͘ zŝĞůĚ^E^ĞƌŝĞŶĐŚŵĂƌŬĚĂŶ/D/ŶĚĞŬƐ ... 91
ϳ͘ϲ͘ /ŶĚĞŬƐ^ƚĂďŝůŝƚĂƐWĂƐĂƌ<ĞƵĂŶŐĂŶ ... 92
ϳ͘ϳ͘ /ŶĚĞŬƐ^ƚĂďŝůŝƚĂƐ/ŶƐƟƚƵƐŝ<ĞƵĂŶŐĂŶ ... 92
ϳ͘ϴ͘ /ŶĚĞŬƐ^ƚĂďŝůŝƚĂƐ^ŝƐƚĞŵ<ĞƵĂŶŐĂŶ;/^^<Ϳ ... 92
ϴ͘ϭ͘ WĞƌƚƵŵďƵŚĂŶ<ƌĞĚŝƚ;йLJŽLJͿ ... 98
ϴ͘Ϯ͘ WĞƌƚƵŵďƵŚĂŶW<;йLJŽLJͿ... 98
ϴ͘ϯ͘ WĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶEW>;йͿ ... 98
ĂŌĂƌ^ŝŶŐŬĂƚĂŶ
AFS Available for Sale AS ŵĞƌŝŬĂ^ĞƌŝŬĂƚ
APMK ůĂƚWĞŵďĂLJĂƌĂŶDĞŶŐŐƵŶĂŬĂŶ<ĂƌƚƵ ASEAN AssociaƟon of Southest Asian NaƟons ATM AutomaƟc Teller Dachine
ATMR ŬƟǀĂdĞƌƟŵďĂŶŐDĞŶƵƌƵƚZŝƐŝŬŽ
Bapepam-LK ĂĚĂŶWĞŶŐĂǁĂƐWĂƐĂƌDŽĚĂůĚĂŶ>ĞŵďĂŐĂ
<ĞƵĂŶŐĂŶ
BCBS Basel CommiƩee on Banking Supervision BIS Bank for /nternaƟonal SeƩlement
BI-RTGS Bank /ndonesia Real Time Gross SeƩlement BI-SSSS Bank /ndonesia Scripless SecuriƟes SeƩlement
SLJstem
BOPO ZĂƐŝŽŝĂLJĂKƉĞƌĂƐŝŽŶĂůƚĞƌŚĂĚĂƉWĞŶĚĂƉĂƚĂŶ
KƉĞƌĂƐŝŽŶĂů
BPD ĂŶŬWĞŵďĂŶŐƵŶĂŶĂĞƌĂŚ BPR ĂŶŬWĞƌŬƌĞĚŝƚĂŶZĂŬLJĂƚ BPR ĂŶŬWĞƌŬƌĞĚŝƚĂŶZĂŬLJĂƚ^LJĂƌŝĂŚ
bps Basis point
BUKU ĂŶŬhŵƵŵďĞƌĚĂƐĂƌŬĂŶ<ĞŐŝĂƚĂŶhƐĂŚĂ BUS ĂŶŬhŵƵŵ^LJĂƌŝĂŚ
CAR Capital AdeƋuacLJ RaƟo CCB CountercLJclical Capital Buīer CDS Credit Default Swap
CPO Crude Palm Oil DER Debt to ƋuitLJ RaƟo DTI Debt to /ncome RaƟo DPK ĂŶĂWŝŚĂŬ<ĞƟŐĂ
D-SIB DomesƟc SLJstemicallLJ /mportant Banks
DP Down PaLJment
EM merging Darkeƚ
FDI Foreign Direct /nvestment
FKSSK &ŽƌƵŵ<ŽŽƌĚŝŶĂƐŝ^ƚĂďŝůŝƚĂƐ^ŝƐƚĞŵ<ĞƵĂŶŐĂŶ FSAP Financial Sector Assessment Program FSB Financial StabilitLJ Board
FSI Financial StabilitLJ /ndedž G20 The Group of TwentLJ GDP Gross DomesƟc Product IDMA /nter-dealer Darket AssociaƟon IHK /ŶĚĞŬƐ,ĂƌŐĂ<ŽŶƐƵŵĞŶ IHSG /ŶĚĞŬƐ,ĂƌŐĂ^ĂŚĂŵ'ĂďƵŶŐĂŶ
IKK /ŶĚĞŬƐ<ĞLJĂŬŝŶĂŶ<ŽŶƐƵŵĞŶ IKNB /ŶƐƟƚƵƐŝ<ĞƵĂŶŐĂŶEŽŶĂŶŬ IMF /nternaƟonal DonetarLJ Fund ISIK /ŶĚĞŬƐ^ƚĂďŝůŝƚĂƐ/ŶƐƟƚƵƐŝ<ĞƵĂŶŐĂŶ ISPK /ŶĚĞŬƐ^ƚĂďŝůŝƚĂƐWĂƐĂƌ<ĞƵĂŶŐĂŶ
ISSK /ŶĚĞŬƐ^ƚĂďŝůƟĂƐ<ĞƵĂŶŐĂŶ/ŶĚŽŶĞƐŝĂ KI <ƌĞĚŝƚ/ŶǀĞƐƚĂƐŝ
KK <ƌĞĚŝƚ<ŽŶƐƵŵƐŝ
KMK <ƌĞĚŝƚDŽĚĂů<ĞƌũĂ
KPMM <ĞĐƵŬƵƉĂŶWĞŵĞŶƵŚĂŶDŽĚĂůDŝŶŝŵƵŵ KPR <ƌĞĚŝƚWĞŵŝůŝŬĂŶZƵŵĂŚ
LCR LiƋuiditLJ Coverage RaƟo LDR Loan to Deposit RaƟo LKD >ĂLJĂŶĂŶ<ĞƵĂŶŐĂŶŝŐŝƚĂů
LTV Loan to Value
LPS >ĞŵďĂŐĂWĞŶũĂŵŝŶ^ŝŵƉĂŶĂŶ L/R >ĂďĂZƵŐŝ
Minerba WĞƌƚĂŵďĂŶŐĂŶDŝŶĞƌĂůĚĂŶĂƚƵďĂƌĂ NAB EŝůĂŝŬƟǀĂĞƌƐŝŚ
NFA Net Foreign Asset NFL Net Foreign LiabiliƟes NII Net /nterest /ncome NIM Net /nterest Dargin NPF Non Performing Financing NPI EĞƌĂĐĂWĞŵďĂLJĂƌĂŶ/ŶĚŽŶĞƐŝĂ NPL Non Performing Loan OJK KƚŽƌŝƚĂƐ:ĂƐĂ<ĞƵĂŶŐĂŶ
OTC Over the Counter
PUAB WĂƐĂƌhĂŶŐŶƚĂƌĂŶŬ PD ProbabilitLJ of Default PDB WƌŽĚƵŬŽŵĞƐƟŬƌƵƚŽ
PDN WŽƐŝƐŝĞǀŝƐĂEĞƚŽ
PMK WĞƌĂƚƵƌĂŶDĞŶƚĞƌŝ<ĞƵĂŶŐĂŶ PLN WŝŶũĂŵĂŶ>ƵĂƌEĞŐĞƌŝ PP WĞƌƵƐĂŚĂĂŶWĞŵďŝĂLJĂĂŶ RBB ZĞŶĐĂŶĂŝƐŶŝƐĂŶŬ;ZͿ ROA Return on Asset
ROE Return on ƋuitLJ SBDK ^ƵŬƵƵŶŐĂĂƐĂƌ<ƌĞĚŝƚ SBI ^ĞƌƟĮŬĂƚĂŶŬ/ŶĚŽŶĞƐŝĂ SBN ^ƵƌĂƚĞƌŚĂƌŐĂEĞŐĂƌĂ SBT ^ĂůĚŽĞƌƐŝŚdĞƌƟŵďĂŶŐ SKDU ^ƵƌǀĞŝ<ĞŐŝĂƚĂŶƵŶŝĂhƐĂŚĂ
SKNBI ^ŝƐƚĞŵ<ůŝƌŝŶŐEĂƐŝŽŶĂůĂŶŬ/ŶĚŽŶĞƐŝĂ SUN ^ƵƌĂƚhƚĂŶŐEĞŐĂƌĂ
TOR Turn Over RaƟo
TPT dĞŬƐƟůĚĂŶWƌŽĚƵŬdĞŬƐƟů UMKM hƐĂŚĂDŝŬƌŽ͕<ĞĐŝůĚĂŶDĞŶĞŶŐĂŚ WEO torld conomic Outlook
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya penyusunan Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No.22, Maret 2014.
<^<ĂĚĂůĂŚƐĂůĂŚƐĂƚƵƉƵďůŝŬĂƐŝĂŶŬ/ŶĚŽŶĞƐŝĂLJĂŶŐƐĞĐĂƌĂƌƵƟŶĚŝƚĞƌďŝƚŬĂŶƐĞƟĂƉƐĞŵĞƐƚĞƌƐĞďĂŐĂŝďĞŶƚƵŬƚƌĂŶƐƉĂƌĂŶƐŝ
dan akuntabilitas pelaksanaan tugas Bank Indonesia kepada stakeholder. Penulisan KSK ini sesuai dengan kewenangan Bank /ŶĚŽŶĞƐŝĂĚŝďŝĚĂŶŐƉĞŶŐĂƚƵƌĂŶĚĂŶƉĞŶŐĂǁĂƐĂŶŵĂŬƌŽƉƌƵĚĞŶƐŝĂůƐĞďĂŐĂŝŵĂŶĂƚĞƌĐĂŶƚƵŵƉĂĚĂhŶĚĂŶŐͲƵŶĚĂŶŐEŽ͘ϮϭdĂŚƵŶ
2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.
<ŽŶĚŝƐŝƐƚĂďŝůŝƚĂƐƐŝƐƚĞŵŬĞƵĂŶŐĂŶĚŝ/ŶĚŽŶĞƐŝĂƉĂĚĂϮϬϭϯŬŚƵƐƵƐŶLJĂƉĂĚĂƐĞŵĞƐƚĞƌ//ƐĞŵƉĂƚŵĞŶŐĂůĂŵŝƚĞŬĂŶĂŶLJĂŶŐ
ĐƵŬƵƉƟŶŐŐŝƐĞďĂŐĂŝĚĂŵƉĂŬĚĂƌŝƌĞŶĐĂŶĂtapering-oīĚĂƌŝdŚĞ&ĞĚĞƌĂůZĞƐĞƌǀĞ͘,ĂůƚĞƌƐĞďƵƚƚĞƌũĂĚŝĚŝƚĞŶŐĂŚŵĞůĂŵďĂƚŶLJĂ
ƉĞƌĞŬŽŶŽŵŝĂŶŐůŽďĂůLJĂŶŐŵĞŶĚŽƌŽŶŐƉĞŶƵƌƵŶĂŶŚĂƌŐĂŬŽŵŽĚŝƚĂƐĚƵŶŝĂƐĞŚŝŶŐŐĂŵĞŵƉĞŶŐĂƌƵŚŝŬŝŶĞƌũĂĞŬƐƉŽƌ/ŶĚŽŶĞƐŝĂ
ĚĂŶŵĞŵƉĞƌďƵƌƵŬcurrent account deĮcit͘ĂƌŝƐŝƐŝŝŶƚĞƌŶĂů͕ƐŝƐƚĞŵŬĞƵĂŶŐĂŶ/ŶĚŽŶĞƐŝĂĚŝŚĂĚĂƉŬĂŶƉĂĚĂƚĞŬĂŶĂŶŝŶŇĂƐŝLJĂŶŐ
ĚŝƉŝĐƵŽůĞŚŬĞŶĂŝŬĂŶŚĂƌŐĂƉĂŶŐĂŶĚĂŶŬĞŶĂŝŬĂŶĂŚĂŶĂŬĂƌDŝŶLJĂŬ;DͿLJĂŶŐďĞƌŝŵƉůŝŬĂƐŝŵĞŶŐƵƌĂŶŐŝĚĂLJĂďĞůŝŵĂƐLJĂƌĂŬĂƚ͘
ĞƌďĂŐĂŝďĂƵƌĂŶŬĞďŝũĂŬĂŶŵŽŶĞƚĞƌĚĂŶŵĂŬƌŽƉƌƵĚĞŶƐŝĂůLJĂŶŐĚŝƚĞŵƉƵŚĂŶŬ/ŶĚŽŶĞƐŝĂƐĞƌƚĂŬŽŽƌĚŝŶĂƐŝĚĞŶŐĂŶWĞŵĞƌŝŶƚĂŚ
ĚŝϮϬϭϯƚĞůĂŚŵĞŵďĂŶƚƵƚĞƌũĂŐĂŶLJĂƐƚĂďŝůŝƚĂƐƐŝƐƚĞŵŬĞƵĂŶŐĂŶ͘ĞďĞƌĂƉĂŬĞďŝũĂŬĂŶŵĂŬƌŽƉƌƵĚĞŶƐŝĂůLJĂŶŐĚŝƚĞŵƉƵŚĂĚĂůĂŚ
ƉĞŶLJĞŵƉƵƌŶĂĂŶŬĞƚĞŶƚƵĂŶLoan to Value;>dsͿĚĂŶƉĞŶLJĞƐƵĂŝĂŶ'ŝƌŽtĂũŝďDŝŶŝŵƵŵ;'tDͿ^ĞŬƵŶĚĞƌĚĂŶ'tDLJĂŶŐĚŝŬĂŝƚŬĂŶ
dengan besaran Loan To Deposit RaƟo;'tD>ZͿďĂŐŝďĂŶŬƵŵƵŵŬŽŶǀĞŶƐŝŽŶĂů͘
ŝƚĞŶŐĂŚƉĞƌůĂŵďĂƚĂŶƉĞƌĞŬŽŶŽŵŝĂŶƚĞƌƐĞďƵƚ͕ŬĞƚĂŚĂŶĂŶƐŝƐƚĞŵŬĞƵĂŶŐĂŶ/ŶĚŽŶĞƐŝĂƚĞƚĂƉƐŽůŝĚ͘,ĂůŝŶŝĚĂƉĂƚĚŝůŝŚĂƚ
ĚĂƌŝƌŝƐŝŬŽŬƌĞĚŝƚ͕ƌŝƐŝŬŽůŝŬƵŝĚŝƚĂƐĚĂŶƌŝƐŝŬŽƉĂƐĂƌLJĂŶŐƚĞƌũĂŐĂƐĞŚŝŶŐŐĂƟĚĂŬŵĞŶŝŵďƵůŬĂŶĚĂŵƉĂŬƐŝƐƚĞŵŝŬLJĂŶŐŵĞŶŐŐĂŶŐŐƵ
ƐƚĂďŝůŝƚĂƐƐŝƐƚĞŵŬĞƵĂŶŐĂŶ͘^ĞũĂůĂŶĚĞŶŐĂŶŚĂůƚĞƌƐĞďƵƚ͕ŬĞƟŬĂǁĞǁĞŶĂŶŐƉĞŶŐĂǁĂƐĂŶŵŝŬƌŽƉƌƵĚĞŶƐŝĂůƉĞƌďĂŶŬĂŶĚŝƐĞƌĂŚŬĂŶ
ŬĞƉĂĚĂKƚŽƌŝƚĂƐ:ĂƐĂ<ĞƵĂŶŐĂŶ;K:<ͿƉĂĚĂĂŬŚŝƌƚĂŚƵŶϮϬϭϯ͕ƐĞĐĂƌĂƵŵƵŵŝŶĚƵƐƚƌŝƉĞƌďĂŶŬĂŶďĞƌĂĚĂĚĂůĂŵŬŽŶĚŝƐŝLJĂŶŐďĂŝŬ͘
,ĂůŝŶŝĂŶƚĂƌĂůĂŝŶƚĞƌĐĞƌŵŝŶƉĂĚĂŬĞƚĂŚĂŶĂŶƉĞƌŵŽĚĂůĂŶLJĂŶŐĐƵŬƵƉŬƵĂƚĚĞŶŐĂŶCapital AdeƋuacLJ RaƟo;ZͿŵĞŶĐĂƉĂŝ
ϭϴ͕ϯϲйƐĞƌƚĂƌĂƐŝŽNon Performing Loan (NPL) grosƐLJĂŶŐĐƵŬƵƉƌĞŶĚĂŚƐĞďĞƐĂƌϭ͕ϳϳй͘<ŽŶĚŝƐŝŬĞƚĂŚĂŶĂŶŝŶĚƵƐƚƌŝƉĞƌďĂŶŬĂŶ
LJĂŶŐƚĞƌƉĞůŝŚĂƌĂĚĞŶŐĂŶďĂŝŬŝŶŝũƵŐĂƟĚĂŬƚĞƌůĞƉĂƐĚĂƌŝĚƵŬƵŶŐĂŶƐŝƐƚĞŵƉĞŵďĂLJĂƌĂŶLJĂŶŐĞĮƐŝĞŶ͕ĂŵĂŶĚĂŶůĂŶĐĂƌ͘
<ĞĚĞƉĂŶ͕ŐƵŶĂŵĞŵƉĞƌŬƵĂƚƐƚĂďŝůŝƚĂƐƐŝƐƚĞŵŬĞƵĂŶŐĂŶ͕ĂŶŬ/ŶĚŽŶĞƐŝĂĂŬĂŶƚĞƌƵƐďĞƌŬŽŽƌĚŝŶĂƐŝĚĞŶŐĂŶŽƚŽƌŝƚĂƐůĂŝŶ
LJĂŶŐƚĞƌŬĂŝƚ͕ƚĞƌŵĂƐƵŬK:<ƐĞďĂŐĂŝƟŶĚĂŬůĂŶũƵƚĚĂƌŝƉĞŶĂŶĚĂƚĂŶŐĂŶĂŶ^ƵƌĂƚ<ĞƉƵƚƵƐĂŶĞƌƐĂŵĂĂŶƚĂƌĂĂŶŬ/ŶĚŽŶĞƐŝĂĚĂŶ
K:<ƚĂŶŐŐĂůϭϴKŬƚŽďĞƌϮϬϭϯ͘<ŽŽƌĚŝŶĂƐŝĚĂŶŬĞƌũĂƐĂŵĂƚĞƌƐĞďƵƚůĞďŝŚĚŝƉĞƌŬƵĂƚůĂŐŝĚĞŶŐĂŶĂĚĂŶLJĂŬŽŽƌĚŝŶĂƐŝĚĂŶŬĞƌũĂƐĂŵĂ
ĂŶƚĂƌůĞŵďĂŐĂĚĂůĂŵƉĞŶĐĞŐĂŚĂŶĚĂŶƉĞŶĂŶŐĂŶĂŶŬƌŝƐŝƐŵĞůĂůƵŝ&ŽƌƵŵ<ŽŽƌĚŝŶĂƐŝ^ƚĂďŝůŝƚĂƐ^ŝƐƚĞŵ<ĞƵĂŶŐĂŶ;&<^^<Ϳ͘^ĞůĂŝŶ
ŝƚƵŬŽŽƌĚŝŶĂƐŝĚĞŶŐĂŶWĞŵĞƌŝŶƚĂŚĂŬĂŶƚĞƌƵƐĚŝůĂŬƵŬĂŶĚĂůĂŵŵĞŵďĂŶƚƵƉƌŽƐĞƐƉĞŶLJĞƐƵĂŝĂŶŬĞƐĞŝŵďĂŶŐĂŶĞŬŽŶŽŵŝƐĞƌƚĂ
ŵĞŶũĂŐĂĨƵŶĚĂŵĞŶƚĂůƐŝƐƚĞŵŬĞƵĂŶŐĂŶĂŐĂƌƚĞƚĂƉƐĞŚĂƚ͘
^ĞŵŽŐĂ<ĂũŝĂŶ^ƚĂďŝůŝƚĂƐ<ĞƵĂŶŐĂŶEŽ͘ϮϮ͕DĂƌĞƚϮϬϭϰŝŶŝĚĂƉĂƚďĞƌŵĂŶĨĂĂƚďĂŐŝstakeholderĚĂŶďĂŐŝŬŝƚĂƐĞŵƵĂ͘<Ăŵŝ
ŵĞŶŐŚĂƌĂƉŬĂŶƐĂƌĂŶ͕ŬŽŵĞŶƚĂƌĚĂŶŬƌŝƟŬĚĂƌŝƐĞŵƵĂƉŝŚĂŬĚĞŵŝƉĞŶLJĞŵƉƵƌŶĂĂŶŬĂũŝĂŶŝŶŝĚŝŵĂƐĂŵĞŶĚĂƚĂŶŐ͘
Kata Pengantar
Jakarta, Maret 2014 'hZEhZE</EKE^/
Agus D. W. Martowardojo
Bab 1
Tinjauan Umum
halaman ini sengaja dikosongkan
Bab 1 Tinjauan Umum
Di tengah berbagai tantangan baik dari eksternal maupun internal selama 2013, stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga. Tantangan eksternal dipicu oleh belum pulihnya pertumbuhan perekonomian dunia, penurunan ŚĂƌŐĂ ŬŽŵŽĚŝƚĂƐ ŐůŽďĂů͕ ƐĞƌƚĂ ƟŶŐŐŝŶLJĂ ŬĞƟĚĂŬƉĂƐƟĂŶ Ěŝ
pasar keuangan global. Rencana ƚaƉĞƌinŐͲŽī The Federal Reserve yang diumumkan pada Mei 2013 menyebabkan investor mengalihkan investasinya (capital outflow) dari Emerging Market (EM) sehingga berdampak pada pelemahan nilai tukar negara EM termasuk Indonesia. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) melemah sebesar 22,1%
sejak Juni hingga Desember 2013. Di lain pihak, Indonesia masih menghadapi masalah ketergantungan pada impor LJĂŶŐƟŶŐŐŝĚĂŶĞŬƐƉŽƌLJĂŶŐŵĞůĞŵĂŚƐĞŚŝŶŐŐĂŵĞŶĚŽƌŽŶŐ
peningkatan current account ĚeĮcit. Salah satu upaya untuk mengatasi current account deficit adalah pengurangan ƐƵďƐŝĚŝŚĂƌŐĂD͕ŶĂŵƵŶŚĂůƚĞƌƐĞďƵƚŵĞŶLJĞďĂďŬĂŶŝŶŇĂƐŝ
meningkat tajam dari 4,3% (yoy) di akhir 2012 menjadi 8,38%
di akhir 2013 setelah mencapai puncaknya sebesar 8,79%
pada Agustus 2013.
TingginLJa keƟdakpasƟan di pasar keuangan global meningkatkan tekanan di pasar keuangan domesƟk antara lain tercermin pada kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada periode Mei hingga akhir September 2013 yield SBN meningkat sebesar 252 bps. Pergerakan harga SBN yang kurang menguntungkan tersebut mengakibatkan turunnya ŶŝůĂŝ ŝŶǀĞƐƚĂƐŝ ƉŽƌƚŽĨŽůŝŽ ŝŶĚƵƐƚƌŝ ƉĞƌďĂŶŬĂŶ ĚĂŶ /ŶƐƟƚƵƐŝ
Keuangan Non Bank (IKNB). Kondisi ini telah mendorong
peningkatan biaya penerbitan SBN di pasar perdana bagi Pemerintah. Sementara itu IHSG pada semester II 2013 mengalami penurunan sebesar 11,3% dari 4.818,90 pada akhir semester I menjadi 4.274,28 dengan posisi terendah pada akhir Agustus di level 3.967,84. Meskipun demikian, pada akhir periode laporan risiko di pasar keuangan mengalami ƉĞŶƵƌƵŶĂŶ͘,ĂůŝŶŝƟĚĂŬƚĞƌůĞƉĂƐĚĂƌŝƵƉĂLJĂLJĂŶŐĚŝůĂŬƵŬĂŶ
oleh Bank Indonesia dan Pemerintah dalam meningkatkan kepercayaan pasar (market conĮdence) sehingga menarik minat investor untuk kembali melakukan investasi di pasar ŬĞƵĂŶŐĂŶĚŽŵĞƐƟŬ͘
Di tengah kondisi ekonomi domesƟk dan global LJang kurang menguntungkan, risiko-risiko di industri perbankan masih terjaga meskipun beberapa indikator sempat menunjukkan adanya tekanan. Selama semester II 2013, risiko likuiditas sempat meningkat antara lain disebabkan ŽůĞŚ ƉĞƌƚƵŵďƵŚĂŶ ŬƌĞĚŝƚ LJĂŶŐ ůĞďŝŚ ƟŶŐŐŝ ĚŝďĂŶĚŝŶŐŬĂŶ
laju kenaikan DPK. Namun demikian, kemampuan likuiditas ŝŶĚƵƐƚƌŝ ƉĞƌďĂŶŬĂŶ ŵĂƐŝŚ ŵĞŵĂĚĂŝ ƵŶƚƵŬ ŵĞŶŐĂŶƟƐŝƉĂƐŝ
potensi penarikan dana oleh nasabah.
Sebagaimana risiko likuiditas, risiko pasar industri perbankan juga meningkat terutama karena kenaikan suku bunga Dana Wihak <eƟga (DW<) jangka pendek dan pelemahan nilai tukar Rupiah. Di tengah terbatasnya likuiditas industri perbankan, persaingan untuk mendapatkan sumber dana jangka pendek meningkat sehingga mendorong naiknya suku bunga deposito terutama deposito 1 bulan.
Meskipun terdapat peningkatan risiko suku bunga karena kenaikan suku bunga DPK, namun dari sisi suku bunga kredit
ŵĂƐŝŚ ďĞůƵŵ ƚĞƌĚĂƉĂƚ ƉĞŶŝŶŐŬĂƚĂŶ LJĂŶŐ ƐŝŐŶŝĮŬĂŶ ĂŶƚĂƌĂ
lain karena secara historis perbankan baru menyesuaikan suku bunga kredit antara 5-6 bulan sejak kenaikan BI Rate.
Berbeda dengan kedua risiko tersebut di atas, risiko kredit industri perbankan menunjukkan penurunan. Hal ini tercermin dari cukup rendahnya rasio Non Performing Loan (NPL) gross yaitu sebesar 1,77% atau turun dibandingkan ƐĞŵĞƐƚĞƌƐĞďĞůƵŵŶLJĂƐĞďĞƐĂƌϭ͕ϴϴй͘<ŽŶĚŝƐŝƚĞƌƐĞďƵƚƟĚĂŬ
terlepas dari upaya perbankan dalam meningkatkan kualitas manajemen risiko dan melakukan penyesuaian pertumbuhan ŬƌĞĚŝƚĚŝƚĞŶŐĂŚƉĞƌůĂŵďĂƚĂŶƉĞƌĞŬŽŶŽŵŝĂŶĚŽŵĞƐƟŬ͘
Di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dan trend kenaikan suku bunga, profitabilitas industri perbankan masih meningkat. Peningkatan profitabilitas tersebut antara lain tercermin dari peningkatan pertumbuhan laba bersih (yoy) semester II 2013 yang mencapai 18,03%, lebih tinggi dibandingkan semester sebelumnya sebesar 11,78%. Kenaikan laba tersebut terutama didorong oleh ŵĞŶŝŶŐŬĂƚŶLJĂǀŽůƵŵĞŬƌĞĚŝƚĚŝƐĞƌƚĂŝĚĞŶŐĂŶƵƉĂLJĂĞĮƐŝĞŶƐŝ
oleh industri perbankan di tengah makin menipisnya spread ƐƵŬƵďƵŶŐĂŬƌĞĚŝƚĚĂŶW<͘DĞŵďĂŝŬŶLJĂƉƌŽĮƚĂďŝůŝƚĂƐũƵŐĂ
ďĞƌĚĂŵƉĂŬƉŽƐŝƟĨƚĞƌŚĂĚĂƉƉĞŶŝŶŐŬĂƚĂŶŬĞƚĂŚĂŶĂŶŝŶĚƵƐƚƌŝ
perbankan yang tercermin dari apital deƋuacy RaƟo (CAR) yang meningkat dari 17,98% pada semester I menjadi 18,36%
pada semester II 2013. Selain faktor laba, membaiknya ƉĞƌŵŽĚĂůĂŶŝŶĚƵƐƚƌŝƉĞƌďĂŶŬĂŶƟĚĂŬƚĞƌůĞƉĂƐĚĂƌŝƚĂŵďĂŚĂŶ
setoran modal oleh Pemegang Saham Pengendali (PSP) dari beberapa bank.
Selain berdampak terhadap pasar keuangan dan industri perbankan, perlambatan ekonomi juga mempengaruhi kinerja sektor riil (Korporasi dan Rumah Tangga/RT). ^ĞĐĂƌĂ ƵŵƵŵ͕ ŬŝŶĞƌũĂ <ŽƌƉŽƌĂƐŝ ŵĂƐŝŚ ƌĞůĂƟĨ
terjaga meskipun profitabilitas pada 2013 mengalami penurunan, kecuali di sektor Properti. Menurunnya ƉƌŽĮƚĂďŝůŝƚĂƐƟĚĂŬďĞƌĚĂŵƉĂŬƐŝŐŶŝĮŬĂŶƚĞƌŚĂĚĂƉůŝŬƵŝĚŝƚĂƐ
korporasi. Pada sisi lain, menghadapi depresiasi Rupiah, mayoritas Korporasi telah melakukan penyesuaian sehingga
cukup mampu menghadapi kenaikan risiko nilai tukar.
Sementara itu, kredit ke sektor RT didominasi oleh Kredit WĞƌƵŵĂŚĂŶZĂŬLJĂƚ;<WZͿĚĂŶŬƌĞĚŝƚDƵůƟŐƵŶĂLJĂŶŐƐĞŵƵůĂ
ŵĞŶƵŶũƵŬŬĂŶƉĞƌƚƵŵďƵŚĂŶƌĞůĂƟĨƟŶŐŐŝ͕ŶĂŵƵŶƉĂĚĂĂŬŚŝƌ
2013 telah menunjukkan perlambatan. Perlambatan ini juga ĚŝŝŬƵƟŽůĞŚƌĂƐŝŽEW>gross yang cenderung menurun. Selain itu, kemampuan RT dalam memenuhi kewajiban keuangannya ŵĂƐŝŚŵĞŵĂĚĂŝLJĂŶŐƚĞƌůŝŚĂƚĚĂƌŝƌĞůĂƟĨƌĞŶĚĂŚŶLJĂDebt to /ncome RaƟo (DTI Rasio).
Di tengah pengaruh faktor eksternal dan internal, dinamika yang terjadi pada risiko-risiko utama (risiko pasar, likuiditas dan kredit) di sistem keuangan selama periode laporan belum menimbulkan dampak sistemik yang mengganggu stabilitas sistem keuangan. Hal ini terutama tercermin dari berkurangnya prosiklikalitas kredit di industri perbankan dan belum adanya indikasi penularan risiko di industri perbankan dan pasar keuangan. Selain itu, systemic importance dari bank-bank besar yang merupakan hasil interaksi dari faktor ukuran, kompleksitas usaha dan ŬĞƚĞƌŬĂŝƚĂŶ ĂŶƚĂƌ ŝŶƐƟƚƵƐŝ ŬĞƵĂŶŐĂŶ͕ ĐĞŶĚĞƌƵŶŐ ŵĞŶƵƌƵŶ͘
Meskipun demikian, ke depan perlu dicermati potensi peningkatan risiko sistemik yang muncul dari kemungkinan terjadinya peningkatan berbagai jenis risiko di sistem keuangan.
Stabilitas sistem keuangan yang terjaga tidak terlepas dari respon kebijakan Bank Indonesia melalui bauran kebijakan di bidang moneter, makroprudensial, maupun mikroprudensial serta hasil koordinasi dengan Pemerintah selama periode laporan. Beberapa kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia selama 2013 antara lain mencakup penguatan permodalan, pengelolaan likuiditas dan perkreditan bank. Dalam rangka memperkuat permodalan bank, telah dilakukan penyempurnaan ketentuan Kecukupan Pemenuhan Modal Minimum (KPMM) antara lain untuk ŵĞŶŐĂŶƟƐŝƉĂƐŝĚĂŵƉĂŬƉĞƌĞŬŽŶŽŵŝĂŶƚĞƌŚĂĚĂƉŬĞƚĂŚĂŶĂŶ
perbankan. Sementara itu, untuk mengatasi meningkatnya tekanan likuiditas sekaligus untuk memperbaiki kualitas
pengelolaan likuiditas bank, telah diterbitkan beberapa ketentuan antara lain penyempurnaan Giro Wajib Minimum (GWM) Sekunder dan penurunan batas atas GWM-Loan to Deposit Ratio (LDR) dari 100% menjadi 92%. Adapun kebijakan di bidang perkreditan yang cukup berpengaruh signifikan di industri perbankan adalah penyempurnaan ketentuan Loan to Value (LTV). Dengan penyempurnaan ŬĞƚĞŶƚƵĂŶŝŶŝĚŝŚĂƌĂƉŬĂŶƌŝƐŝŬŽŬƌĞĚŝƚĚŝƐĞŬƚŽƌƉƌŽƉĞƌƟůĞďŝŚ
terjaga, pemerataan kesempatan memperoleh pembiayaan kepemilikan rumah tercipta, perlindungan konsumen sektor properti meningkat dan pada akhirnya membuat sektor ƉƌŽƉĞƌƟĚĂƉĂƚƚƵŵďƵŚƐĞĐĂƌĂƐĞŚĂƚĚĂŶďĞƌŬĞůĂŶũƵƚĂŶ͘
Seiring dengan upaya perbaikan perekonomian di beberapa negara maju, perekonomian global 2014 diperkirakan membaik. Perbaikan perekonomian tersebut ĂŶƚĂƌĂůĂŝŶĚŝƚŽƉĂŶŐŽůĞŚŵĞŶƵƌƵŶŶLJĂƟŶŐŬĂƚƉĞŶŐĂŶŐŐƵƌĂŶ
dan kebijakan pelonggaran pemberian kredit yang berpotensi ŵĞŶŝŶŐŬĂƚŬĂŶ ŬŽŶƐƵŵƐŝ ĚŽŵĞƐƟŬ Ěŝ ŶĞŐĂƌĂͲŶĞŐĂƌĂ ŵĂũƵ͘
Namun demikian, di tengah kondisi pemulihan perekonomian dunia tersebut, pelaksanaan kebijakan tapering-off The Federal Reserve diperkirakan dapat memicu gejolak di pasar keuangan terutama di EM, termasuk Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014 diperkirakan membaik ke batas bawah dari kisaran 5,8% - 6,2%. Perbaikan ini ditopang oleh peningkatan konsumsi RT sebagai dampak ŵĞŶŝŶŐŬĂƚŶLJĂũƵŵůĂŚƉĞŶĚƵĚƵŬŬĞůĂƐŵĞŶĞŶŐĂŚĚĂŶĂŬƟǀŝƚĂƐ
Pemilu 2014 serta peningkatan investasi yang didorong oleh komitmen Pemerintah untuk menambah alokasi anggaran infrastruktur. Dari sisi keseimbangan eksternal, current account deĮcit diperkirakan mengalami perbaikan didukung oleh optimisme peningkatan pertumbuhan ekspor dan berbagai usaha yang ditempuh Pemerintah dalam membatasi ŝŵƉŽƌ͘ŝƐĂŵƉŝŶŐŝƚƵ͕ƚƌĂŶƐĂŬƐŝŵŽĚĂůĚĂŶĮŶĂŶƐŝĂůĚĂůĂŵ
bentuk Foreign Direct Investment diperkirakan masih ŵĞŶŐĂůĂŵŝŬĞŶĂŝŬĂŶLJĂŶŐĚŝĚƵŬƵŶŐŽůĞŚƉĞƌƐĞƉƐŝƉŽƐŝƟĨĂŬĂŶ
terjadinya perbaikan kondisi di pasar keuangan. Selanjutnya, inflasi 2014 diperkirakan berada pada kisaran sebesar
4,5%±1% seiring dengan pemulihan bertahap pertumbuhan ĞŬŽŶŽŵŝĚŽŵĞƐƟŬĚĂŶŐůŽďĂůƐĞƌƚĂĚŝĚƵŬƵŶŐďĞƌďĂŐĂŝďĂƵƌĂŶ
kebijakan Bank Indonesia dan penguatan koordinasi dengan Pemerintah.
Prospek perbankan Indonesia di tahun 2014 masih cukup baik namun perlu diwaspadai potensi peningkatan risiko likuiditas dan risiko kredit. Intermediasi perbankan diperkirakan tumbuh lebih lambat dibandingkan 2013 dengan ŬĞƚĂŚĂŶĂŶ LJĂŶŐ ŵĂƐŝŚ ƚĞƚĂƉ ƚĞƌũĂŐĂ͘ ĞŶŐĂŶ ŵĞŶĐĞƌŵĂƟ
prospek dan tantangan di sistem keuangan serta beralihnya fungsi pengawasan mikroprudensial perbankan dari Bank Indonesia ke OJK, maka arah kebijakan makroprudensial ϮϬϭϰ ĚŝĨŽŬƵƐŬĂŶ ƉĂĚĂ ůĂŶŐŬĂŚͲůĂŶŐŬĂŚ ƵŶƚƵŬ ŵĞŵŝƟŐĂƐŝ
risiko sistemik termasuk transmisinya dari risiko kredit, risiko likuiditas, dan risiko pasar melalui penguatan struktur permodalan bank, pengaturan perkreditan, penguatan infrastruktur dan pengawasan sistem pembayaran, penguatan koordinasi BI-OJK, penguatan akses keuangan kelompok usaha dan masyarakat kecil-menengah, serta peningkatan likuiditas pasar melalui pendalaman pasar.
Bab 2
Sumber Kerentanan Eksternal dan
Internal
halaman ini sengaja dikosongkan
7 6 5 4 3 2 1 0 -1 12
Q1 2010
Amerika
% yoy
Q2 Q3 Q4 Q1 2011 Q2 Q3 Q4 Q1
2012 Q2 Q3 Q4 Q1
2013 Q2 Q3 Q4
Euro Inggris Jepang India Indonesia China Korea Turki
14 12 10 8 6 4 2 0
Q1 2010
% yoy
Q2 Q3 Q4 Q1 2011 Q2 Q3 Q4 Q1
2012 Q2 Q3 Q4 Q1
2013 Q2 Q3 Q4
Bab 2 Sumber Kerentanan Eksternal dan Internal
2.1 SUMBER KERENTANAN EKSTERNAL
Tahun 2013 merupakan periode penuh tantangan bagi perekonomian global yang ditandai dengan belum pulihnya pertumbuhan perekonomian dunia, penurunan harga komoditas global, serta tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global. Kondisi yang penuh tantangan tersebut dirasakan baik di negara-negara maju maupun EM.
Proses pemulihan perekonomian pasca krisis keuangan global belum memperlihatkan hasil yang memuaskan, meskipun
Sumber utama kerentanan eksternal berasal dari melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Hal ini ŵĞŶŐĂŬŝďĂƚŬĂŶŵĞŶƵƌƵŶŶLJĂŬŝŶĞƌũĂĞŬƐƉŽƌ/ŶĚŽŶĞƐŝĂĚĂŶŵĞŵƉĞƌďƵƌƵŬĐƵƌƌĞŶƚĂĐĐŽƵŶƚĚĞĮƐŝƚ͘<ŽŶĚŝƐŝŝŶŝ
ƐĞŵĂŬŝŶĚŝƉĞƌƉĂƌĂŚŽůĞŚƌĞŶĐĂŶĂŬĞďŝũĂŬĂŶƚĂƉĞƌŝŶŐͲŽīĚĂƌŝdŚĞ&ĞĚĞƌĂůZĞƐĞƌǀĞLJĂŶŐƐĞŵƉĂƚŵĞŵŝĐƵƉĞůĂƌŝĂŶ
dana dari EM, termasuk Indonesia. Sementara itu dari dalam negeri, sumber utama kerentanan berasal dari ŵĞŶŝŶŐŬĂƚŶLJĂŝŶŇĂƐŝLJĂŶŐĂŶƚĂƌĂůĂŝŶĂŬŝďĂƚŬĞŶĂŝŬĂŶŚĂƌŐĂD͘<ĞĚƵĂƐƵŵďĞƌŬĞƌĞŶƚĂŶĂŶƚĞƌƐĞďƵƚƐĞŵƉĂƚ
menimbulkan instabilitas di sistem keuangan dengan puncaknya pada Agustus 2013. Setelah menempuh berbagai ŬĞďŝũĂŬĂŶ͕ ĂŶŬ /ŶĚŽŶĞƐŝĂ ĚĂŶ WĞŵĞƌŝŶƚĂŚ ďĞƌŚĂƐŝů ŵĞŵďĂǁĂ ŬŽŶĚŝƐŝ ƉĞƌĞŬŽŶŽŵŝĂŶ ĚĂŶ ƉĂƐĂƌ ŬĞƵĂŶŐĂŶ
menjadi lebih kondusif sehingga stabilitas sistem keuangan dapat terjaga.
beberapa negara maju telah berupaya menerapkan berbagai kebijakan pemulihan. Negara-negara EM yang selama ini diandalkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi dunia justru menghadapi tantangan karena kenaikan tekanan ŝŶŇĂƐŝ͕ƉĞůĞŵĂŚĂŶŶŝůĂŝƚƵŬĂƌ͕ĚĂŶŐĞũŽůĂŬĚŝƉĂƐĂƌŬĞƵĂŶŐĂŶ͘
Selain itu, aliran modal ke negara-negara EM secara umum ďĞůƵŵĚĂƉĂƚĚŝĨƵŶŐƐŝŬĂŶƐĞĐĂƌĂŽƉƟŵĂůƵŶƚƵŬŵĞŶĚƵŬƵŶŐ
kesinambungan pertumbuhan ekonomi.
Sumber : Blomberg, diolah
Pertumbuhan Ekonomi Negara Maju GraĮk ϱ.1.
Sumber : Blomberg, diolah
Pertumbuhan Ekonomi Negara Maju GraĮk 2.1.
Sumber : Blomberg, diolah
Pertumbuhan Negara Emerging Market GraĮk 2.2.
IHSG MSCI World MSCI Euro MSCI Asia 150
140 130 120 110 100 90 80
Jan-13 Feb-13 Mar
-13 Apr-13
Mei-13 Jun-13 Jul-13 Ags-13 Sep-13 Okt-13 Nov
-13 Des-13 rebased 1/1/2012
Indonesia Thailand Korea Philipina
180 170 160 150 140 130 120 110 100 90 80
Jan-13 Feb-13 Mar
-13 Apr-13
Mei-13 Jun-13 Jul-13 Ags-13 Sep-13 Okt-13 Nov
-13 Des-13 rebased 1/1/2012
USA UK GER JAP
3,0
2,5
2,0
1,5 1,0
0,5
0,0
Jan-13 Jan-13 Feb-13 Mar-13 Mar-13 Apr-13 Mei-13 Mei-13 Jun-13 Jul-13 Jul-13 Ags-13 Sep-13 Okt-13 Okt-13 Nov-13 Des-13 Des-13
Perlambatan pertumbuhan perekonomian global telah menyebabkan lemahnya permintaan global terhadap komoditas yang pada gilirannya menurunkan harga komoditas. Penurunan harga komoditas global tersebut juga disebabkan oleh terjadinya over supply pada komoditas pertanian dan pertambangan. Hal ini berdampak pada melemahnya pertumbuhan ekspor yang selanjutnya memberikan tekanan terhadap kinerja sektor eksternal negara-negara EM, termasuk Indonesia.
Di tengah perlambatan perekonomian, pasar keuangan global juga menghadapi permasalahan terkait dengan wacana penerapan kebijakanƚĂƉĞƌŝŶŐͲŽī oleh The Federal Reserve pada akhir Mei 2013. Tapering-off merupakan ŬĞďŝũĂŬĂŶLJĂŶŐĚŝƚƵũƵŬĂŶƵŶƚƵŬŵĞŶŐƵƌĂŶŐŝƐƟŵƵůƵƐŵŽŶĞƚĞƌ
melalui pengurangan pembelian surat berharga ;YƵĂŶƟƚĂƟǀĞ
Easing) sejalan dengan indikasi penguatan perekonomian Amerika Serikat (AS) di awal 2013. Rencana ini diperkuat dalam pertemuan &ĞĚĞƌĂůKƉĞŶDĂƌŬĞƚŽŵŵŝƩĞĞ (FOMC) The Federal Reserve pada 18 Juni 2013 yang berencana melakukan ƚĂƉĞƌŝŶŐͲŽī paling cepat akhir 2013.
Rencana ƚĂƉĞƌŝŶŐͲŽĨĨ ini menyebabkan gejolak di pasar keuangan global hingga akhir Agustus 2013. Hal ini karena ƚĂƉĞƌŝŶŐͲŽĨĨ merupakan kebijakan baru yang
belum pernah diambil sebelumnya, sehingga menimbulkan ƟŶŐŬĂƚŬĞƟĚĂŬƉĂƐƟĂŶLJĂŶŐůĞďŝŚƟŶŐŐŝ͘^ĞůĂŝŶŝƚƵ͕ƌĞŶĐĂŶĂ
kebijakan ƚĂƉĞƌŝŶŐͲŽī tersebut menyadarkan pelaku pasar bahwa kebijakan akomodatif The Federal Reserve akan segera berakhir. Hal ini telah mengakibatkan peningkatan yield obligasi jangka panjang AS. Di sisi lain, situasi tersebut menyebabkan terjadinya ĐĂƉŝƚĂůŽƵƞůŽǁ dari negara-negara EM, sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan yield obligasi pemerintah, penurunan harga saham, dan pelemahan nilai tukar yang tajam di negara-negara EM.
Sumber : Bloomberg, diolah
Indeks Saham Global 'ƌĂĮŬϮ͘ϯ͘
Sumber : Bloomberg, diolah
Indeks Saham Kawasan 'ƌĂĮŬϮ͘ϰ͘
Sumber : Bloomberg, diolah
Yield 10 tahun Negara Maju 'ƌĂĮŬϮ͘ϱ͘
13.2%
16.3%
6.0% 6.1%
-1.7%
5.5%
11.4%
8.7%
1.9%
4%
2%
0%
2%
4%
6%
8%
10%
12%
14%
16%
18%
INDO INDI THAI MAL KOR PHIL BRZ TUR AFSEL
Indonesia Thailand Korea Philipina
10 9 8 7 6 5 4 3 2
Jan-13 Feb-13 Mar
-13 Apr-13
Mei-13 Jun-13 Jul-13 Ags-13 Sep-13 Okt-13 Nov
-13 Des-13
%
Indonesia Thailand Korea Philipina
300
250
200
150 100
50
0
Jan-13 Feb-13 Mar
-13 Apr-13
Mei-13 Jun-13 Jul-13 Ags-13 Sep-13 Okt-13 Nov
-13 Des-13 rebased 1/1/2012
Indonesia Thailand Korea Philipina
140
130
120
110 100
90
80
Jan-13 Feb-13 Mar
-13 Apr-13
Mei-13 Jun-13 Jul-13 Ags-13 Sep-13 Okt-13 Nov
-13 Des-13 rebased 1/1/2012
Sumber : Bloomberg, diolah
Credit Default Swap (CDS) Negara Kawasan GraĮk 2.ϴ.
Sumber : Bloomberg, diolah
Yield 10 tahun Negara Kawasan GraĮk 2.ϲ.
Sumber : Bloomberg, diolah
Nilai Tukar Negara Kawasan GraĮk 2.ϳ.
Sumber : Bloomberg, diolah
Depresiasi Nilai Tukar terhadap USD (Mei-Agustus 2013)
GraĮk 2.ϵ.
ϮϬϭϯ͘DĞŵĂƐƵŬŝĞƐĞŵďĞƌϮϬϭϯ͕ŵĞƐŬŝƉƵŶǀŽůĂƟůŝƚĂƐŶŝůĂŝ
ƌƵƉŝĂŚƚĞůĂŚŵĞŶŐĂůĂŵŝƉĞŶƵƌƵŶĂŶ͕ŶĂŵƵŶŶŝůĂŝƚƵŬĂƌƌƵƉŝĂŚ
ŵĂƐŝŚďĞƌĂĚĂĚŝůĞǀĞůLJĂŶŐƌĞůĂƟĨƟŶŐŐŝ͘ĞŶŐĂŶĚĞŵŝŬŝĂŶ͕
Rupiah secara point-to-point melemah 20,8% (yoy) selama ϮϬϭϯ ŬĞ ůĞǀĞů ZƉϭϮ͘ϭϳϬ ƉĞƌ ŽůĂƌ ^͘ ^ĞŵĞŶƚĂƌĂ ŝƚƵ /,^'
ŵĞŶŐĂůĂŵŝƉĞŶƵƌƵŶĂŶLJĂŶŐƐŝŐŶŝĮŬĂŶLJĂŶŐĚŝďĂƌĞŶŐŝĚĞŶŐĂŶ
ƉĞŶŝŶŐŬĂƚĂŶyield SBN dan premi CDS.
Di Indonesia, renĐana penerapan tapering-off berdampak lebih berat dibandingkan dengan negara-negara kawasan terutama karena masih Ɵngginya current account ĚĞĮĐŝƚ yang terjadi sejak triwulan I 2012 dan menĐapai punĐaknya di leǀel ϰ,ϰй pada triwulan II 2013.WĞŶŝŶŐŬĂƚĂŶ
current account deĮcit ƚĞƌũĂĚŝ ĂŬŝďĂƚ ŵĞŶƵƌƵŶŶLJĂ ĞŬƐƉŽƌ
ŶŽŶŵŝŐĂƐ ƐĞŵĞŶƚĂƌĂ ŶŝůĂŝ ŝŵƉŽƌ /ŶĚŽŶĞƐŝĂ ŵĂƐŝŚ ƟŶŐŐŝ͘
,Ăů ƚĞƌƐĞďƵƚ ƉĂĚĂ ŐŝůŝƌĂŶŶLJĂ ŵĞŶŝŵďƵůŬĂŶ ƚĞŬĂŶĂŶ ƉĂĚĂ
ŶŝůĂŝƚƵŬĂƌZƵƉŝĂŚŬŚƵƐƵƐŶLJĂƐĞũĂŬĂŬŚŝƌDĞŝŚŝŶŐŐĂŐƵƐƚƵƐ
INDO
-17% -17%
-1% -2% -4%
-13%
-7%
1%
-23%
INDI 5%
0%
-10%
-20%
-25%
-5%
-15%
THAI MAL KOR PHI BRA TUR AFSEL
INDO 272,5
138,8
41,1 74,2
54 54,1
143,7 177,8
89
INDI 300
250
150
50
0 200
100 bps
THAI MAL KOR PHI BRA TUR AFSEL
76%
37%
87%
12%
55%
41%
83%
25%
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
INDO THAI MAL KOR PHI BRZ TUR AFSEL
round eīect) pada kenaikan harga-harga barang dan jasa ůĂŝŶŶLJĂŬŚƵƐƵƐŶLJĂƚƌĂŶƐƉŽƌƚĂƐŝ͘/ŶŇĂƐŝŵĞŶŝŶŐŬĂƚƚĂũĂŵĚĂƌŝ
ϰ͕ϯй;LJŽLJͿĚŝĂŬŚŝƌϮϬϭϮŵĞŶũĂĚŝϴ͕ϯϴйĚŝĂŬŚŝƌϮϬϭϯƐĞƚĞůĂŚ
ŵĞŶĐĂƉĂŝ ƉƵŶĐĂŬŶLJĂ ƐĞďĞƐĂƌ ϴ͕ϳϵй ƉĂĚĂ ŐƵƐƚƵƐ ϮϬϭϯ͘
DĞŶƵƌƵŶŶLJĂ ŝŶŇĂƐŝ ƚĞƌƐĞďƵƚ ƟĚĂŬ ƚĞƌůĞƉĂƐ ĚĂƌŝ ďĞƌďĂŐĂŝ
ŬĞďŝũĂŬĂŶLJĂŶŐĚŝĂŵďŝůŽůĞŚĂŶŬ/ŶĚŽŶĞƐŝĂĚĂŶWĞŵĞƌŝŶƚĂŚ͘
dĞŬĂŶĂŶŝŶŇĂƐŝƚĞƌƐĞďƵƚũƵŐĂĚŝƉĞŶŐĂƌƵŚŝŽůĞŚƉĞƌƐŽĂůĂŶ
ƐƚƌƵŬƚƵƌĂů LJĂŶŐ ŵĞƌƵƉĂŬĂŶ ƐĂůĂŚ ƐĂƚƵ ĨĂŬƚŽƌ LJĂŶŐ ƉĞƌůƵ
ŵĞŶĚĂƉĂƚ ƉĞƌŚĂƟĂŶ͘ dĞƌďĂƚĂƐŶLJĂ ƉĂƐŽŬĂŶ ďĂŚĂŶ ƉĂŶŐĂŶ
ĚŽŵĞƐƟŬĚĂůĂŵŵĞŵĞŶƵŚŝƉĞƌŵŝŶƚĂĂŶŵĞƌƵƉĂŬĂŶƐĂůĂŚƐĂƚƵ
ƉĞƌŵĂƐĂůĂŚĂŶƐƚƌƵŬƚƵƌĂůLJĂŶŐƉĞƌůƵƐĞŐĞƌĂĚŝďĞŶĂŚŝ͘^ĂĂƚŝŶŝ͕
ŬĞƚĞƌďĂƚĂƐĂŶƉĂƐŽŬĂŶĚŽŵĞƐƟŬĚŝƉĞŶƵŚŝŵĞůĂůƵŝŝŵƉŽƌƉĂĚĂ
ďĂŶLJĂŬƉƌŽĚƵŬƉĞƌƚĂŶŝĂŶƐĞƉĞƌƟďĞƌĂƐ͕ďĂǁĂŶŐŵĞƌĂŚĚĂŶ
ƉƵƟŚ͕ ŬĞĚĞůĂŝ͕ ĚĂŐŝŶŐ ƐĂƉŝ ĚĂŶ ůĂŝŶŶLJĂ͘ hƉĂLJĂ ƉĞŶŐĂƚƵƌĂŶ
ƚĂƚĂ ŶŝĂŐĂ ŝŵƉŽƌ ũƵƐƚƌƵ ĂŬĂŶ ŵĞŶĂŝŬŬĂŶ ŚĂƌŐĂ ĚŽŵĞƐƟŬ͘
WĞƌŵĂƐĂůĂŚĂŶƐƚƌƵŬƚƵƌĂůůĂŝŶŶLJĂĂĚĂůĂŚƌĞŶĚĂŚŶLJĂĚƵŬƵŶŐĂŶ
ŝŶĨƌĂƐƚƌƵŬƚƵƌ ĂŶƚĂƌĂ ůĂŝŶ ŬŽŶĚŝƐŝ ƉĞůĂďƵŚĂŶ ĚĂŶ ďĂŶĚĂƌĂ
LJĂŶŐ ŬƵƌĂŶŐ ŵĞŵĂĚĂŝ ƐĞƌƚĂ ƚƌĂŶƐƉŽƌƚĂƐŝ ĂŶƚĂƌ ƉƵůĂƵ LJĂŶŐ
ďĞůƵŵŬŽŶĚƵƐŝĨ͘ĞƌďĂŐĂŝƉĞƌŵĂƐĂůĂŚĂŶƚĞƌƐĞďƵƚŵĞŶĚŽƌŽŶŐ
peningkatan biaya transportasi dan biaya overhead lainnya.
WĞƌŵĂƐĂůĂŚĂŶ ďĞƌŝŬƵƚŶLJĂ ĂĚĂůĂŚ ƉĞƌƚƵŵďƵŚĂŶ
ĞŬŽŶŽŵŝ/ŶĚŽŶĞƐŝĂLJĂŶŐůĞďŝŚďĂŶLJĂŬĚŝĚƵŬƵŶŐŽůĞŚŬŽŶƐƵŵƐŝ
ZƵŵĂŚ dĂŶŐŐĂ ĚĂŶ ĞŬƐƉŽƌ ŬŽŵŽĚŝƚĂƐ ƉƌŝŵĞƌ͘ <ƵĂƚŶLJĂ
^ƵŵďĞƌ͗ůŽŽŵďĞƌŐ͕ĚŝŽůĂŚ
Peningkatan Premi CDS (Mei-Agustus 2013) GraĮk 2.10.
^ƵŵďĞƌ͗ůŽŽŵďĞƌŐ͕ĚŝŽůĂŚ
Perubahan Yield SUN 10 tahun (Mei-Agustus 2013)
GraĮk 2.11.
^ƵŵďĞƌ͗ůŽŽŵďĞƌŐ͕ĚŝŽůĂŚ
Penurunan Indeks Saham (Mei-Agustus 2013) GraĮk 2.12.
2.2. SUMBER KERENTANAN INTERNAL
Di sisi internal, stabilitas makroekonomi juga terganggu akibat meningkatnya tekanan inŇasi yang didorong oleh kenaikan harga pangan dan harga BBM bersubsidi. WĂĚĂ
ĂǁĂůϮϬϭϯ͕ƚĞŬĂŶĂŶŝŶŇĂƐŝďĂŶLJĂŬĚŝƉĞŶŐĂƌƵŚŝŽůĞŚŬĞŶĂŝŬĂŶ
ŚĂƌŐĂ ƉĂŶŐĂŶ ĂŬŝďĂƚ ŬĞďŝũĂŬĂŶ ƉĞŵďĂƚĂƐĂŶ ŝŵƉŽƌ ƉƌŽĚƵŬ
ŚŽƌƟŬƵůƚƵƌĂĚĂŶĨĂŬƚŽƌĐƵĂĐĂ͘dĞŬĂŶĂŶŝŶŇĂƐŝŵĞŶũĂĚŝƐĞŵĂŬŝŶ
ŬƵĂƚ ƐĞũĂŬ :ƵŶŝ ϮϬϭϯ ŬĞƟŬĂ WĞŵĞƌŝŶƚĂŚ ŵĞŶĂŝŬŬĂŶ ŚĂƌŐĂ
DďĞƌƐƵďƐŝĚŝLJĂŶŐŵĞŵďĞƌŝŬĂŶĚĂŵƉĂŬůĂŶũƵƚĂŶ(second
38,6
234,8
137,0
65,6 73,7 92,1
0 50 100 150 200 250 300 350
Indonesia Singapore Malaysia Philippines Thailand Korea
2005 2006
2007 2008
2009 2010
2011 2012 3
7 5
44
20
5
11
48 44
0 10 20 30 40 50 60
Indonesia Malaysia Philippines Thailand Korea China
2007 2010 2013
USD juta
1) Sumber: BIS Survey 2013 0
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Jan Mar Mei Jul Sept Nov Jan Mar Mei Jul Sept Nov Jan Mar Mei Jul Sept Nov
2011 2012 2013
/ŶŇĂƐŝ/,<
Administered price /ŶƟ
VolaƟle Food йLJŽLJ
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Perkembangan InŇasi GraĮk 2.13.
Sumber: Bloomberg, diolah
Rata-rata Harian Transaksi Pasar Valas GraĮk 2.1ϰ.
Sumber: Bloomberg, diolah
Pangsa Kapitalisasi Pasar Modal terhadap Produk DomesƟk Bruto
GraĮk 2.1ϱ.
konsumsi Rumah Tangga didorong oleh peningkatan kelas ŵĞŶĞŶŐĂŚĚĂŶĚŝĚƵŬƵŶŐŽůĞŚƐƚƌƵŬƚƵƌĚĞŵŽŐƌĂĮ/ŶĚŽŶĞƐŝĂ
LJĂŶŐ ĚŝĚŽŵŝŶĂƐŝ ŽůĞŚ ŬĞůŽŵƉŽŬ ƵƐŝĂ ƉƌŽĚƵŬƟĨ͘ <ŽŶĚŝƐŝ ŝŶŝ
ŵĞŶLJĞďĂďŬĂŶŬŽŶƐƵŵƐŝZƵŵĂŚdĂŶŐŐĂŵĞŶŝŶŐŬĂƚƟŶŐŐŝƉĂĚĂ
saat perekonomian bertumbuh yang pada gilirannya semakin ŵĞŶĚŽƌŽŶŐ ŝŵƉŽƌ ďĂƌĂŶŐͲďĂƌĂŶŐ ŬŽŶƐƵŵƐŝ͘ ŝ ƐŝƐŝ ůĂŝŶ͕
ekspor Indonesia sangat didominasi oleh komoditas primer, ƐĞŵĞŶƚĂƌĂƉŽƌƐŝĞŬƐƉŽƌŝŶĚƵƐƚƌŝŵĂŶƵĨĂŬƚƵƌĐĞŶĚĞƌƵŶŐƚƵƌƵŶ͘
ŝƐĞŬƚŽƌŬĞƵĂŶŐĂŶ͕ƉĞƌŵĂƐĂůĂŚĂŶƐƚƌƵŬƚƵƌĂůĚŝƚĂŶĚĂŝ
oleh pasar keuangan Indonesia yang masih dangkal dengan ƉĞƌĂŶŝŶǀĞƐƚŽƌĂƐŝŶŐLJĂŶŐƐĂŶŐĂƚĚŽŵŝŶĂŶ͘WĂƐĂƌŬĞƵĂŶŐĂŶ
LJĂŶŐ ĚĂŶŐŬĂů ƚĞƌĐĞƌŵŝŶ ƉĂĚĂ ŵĂƐŝŚ ƌĞŶĚĂŚŶLJĂ ǀŽůƵŵĞ
transaksi di berbagai instrumen keuangan dibandingkan ŶĞŐĂƌĂͲŶĞŐĂƌĂŬĂǁĂƐĂŶ͘ZĂƚĂͲƌĂƚĂǀŽůƵŵĞƚƌĂŶƐĂŬƐŝǀĂůĂƐĚŝ
/ŶĚŽŶĞƐŝĂďĞƌŬŝƐĂƌh^ϯͲϱŵŝůŝĂƌƉĞƌŚĂƌŝ͕ůĞďŝŚƌĞŶĚĂŚĚĂƌŝ
DĂůĂLJƐŝĂĚĂŶdŚĂŝůĂŶĚLJĂŶŐƚĞůĂŚŵĞŶĐĂƉĂŝh^ϭϭͲϭϯŵŝůŝĂƌ͕
ŚŝŶĂh^ϰϰŵŝůŝĂƌ͕ĚĂŶ<ŽƌĞĂh^ϰϴŵŝůŝĂƌƉĞƌŚĂƌŝ1͘WĂŶŐƐĂ
kapitalisasi pasar saham Indonesia juga tergolong sangat ƌĞŶĚĂŚ͘^ĞůĂŝŶŝƚƵ͕ŬĞƉĞŵŝůŝŬĂŶĂƐŝŶŐĚŝƉĂƐĂƌŬĞƵĂŶŐĂŶũƵŐĂ
ƟŶŐŐŝ͘^ĞďĂŐĂŝĐŽŶƚŽŚ͕ŬĞƉĞŵŝůŝŬĂŶĂƐŝŶŐĚŝ^E͕ŵĞŶĐĂƉĂŝ
ϯϭйƉĂĚĂĂŬŚŝƌϮϬϭϯ͕ĂƚĂƵŵĞŶŝŶŐŬĂƚƚĂũĂŵĚĂƌŝϭϴйƉĂĚĂ
ĂŬŚŝƌϮϬϬϵ͘ŬŝďĂƚŶLJĂ͕ŬĞƌĞŶƚĂŶĂŶĚŝƐĞŬƚŽƌŬĞƵĂŶŐĂŶĂŬĂŶ
meningkat baik pada saat terjadi aliran masuk likuiditas ŐůŽďĂů ƐĞĐĂƌĂ ĚĞƌĂƐ ŵĂƵƉƵŶ ƉĂĚĂ ƐĂĂƚ ĂůŝƌĂŶ ŵŽĚĂů ĂƐŝŶŐ
ŬĞůƵĂƌĚĂƌŝ/ŶĚŽŶĞƐŝĂ͘
Berbagai kerentanan baik yang bersumber dari eksternal maupun internal tersebut di atas berpotensi meningkatkan risiko kredit, risiko pasar, dan risiko likuiditas yang dikhawaƟrkan dapat menimbulkan risiko sistemik yang mengganggu stabilitas sistem keuangan Indonesia.ĂƌŝũĂůƵƌ
eksternal, lemahnya kinerja pertumbuhan perekonomian dunia yang berdampak pada penurunan harga komoditas mengakibatkan pelemahan kinerja ekspor Indonesia. Hal ini dapat meningkatkan risiko kredit karena penurunan ĞŬƐƉŽƌ ĂŬĂŶ ŵĞŵƉĞŶŐĂƌƵŚŝ ŬĞŵĂŵƉƵĂŶ ĞŬƐƉŽƌƟƌ ƵŶƚƵŬ
mengembalikan utang kepada bank sehingga NPL dapat meningkat. Di samping meningkatnya risiko kredit, penurunan ekspor juga menyebabkan peningkatan risiko likuiditas karena berkurangnya pasokan likuiditas valas dari hasil ekspor.
Pada sisi lain, menurunnya pasokan likuiditas valas dapat meningkatkan tekanan pada nilai tukar yang berpotensi meningkatkan risiko pasar.
ĞŵŝŬŝĂŶƉƵůĂŚĂůŶLJĂŬĞƟŬĂƚĞƌũĂĚŝƌĞŶĐĂŶĂƚĂƉĞƌŝŶŐͲ Žī͕ĐĂƉŝƚĂůŽƵƞůŽǁ meningkatkan risiko pasar dan likuiditas.
Peningkatan risiko pasar terjadi melalui pelemahan nilai
tukar, peningkatan premi CDS, serta penurunan harga saham dan obligasi. ĂƉŝƚĂů ŽƵƞůŽǁ juga mendorong terjadinya kekeringan likuiditas valas dan pelemahan nilai tukar Rupiah.
Ăƌŝ ũĂůƵƌ ŝŶƚĞƌŶĂů͕ ƉĞŶŝŶŐŬĂƚĂŶ ŝŶŇĂƐŝ LJĂŶŐ ĚŝƌĞƐƉŽŶ
dengan peningkatan suku bunga menyebabkan peningkatan biaya produksi dan overhead lainnya. Peningkatan biaya-biaya ini pada gilirannya mengakibatkan penurunan kinerja sektor riil (Korporasi dan Rumah Tangga) yang sekaligus juga menjadi salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan risiko kredit.
^ĞŵĞŶƚĂƌĂ ŝƚƵ ƉĞŶŝŶŐŬĂƚĂŶ ŝŶŇĂƐŝ ũƵŐĂ ĂŬĂŶ ŵĞŶLJĞďĂďŬĂŶ
penurunan DPK di perbankan sehingga dapat menimbulkan ƌŝƐŝŬŽůŝŬƵŝĚŝƚĂƐƉĂĚĂƐĂĂƚŬƌĞĚŝƚƚĞƚĂƉƚƵŵďƵŚƟŶŐŐŝ͘
Sumber :Bank Indonesia, diolah
Jalur Transmisi Kerentanan Eksternal dan Internal Gambar 2.1.
Permasalahan Tapering-oī
Pasar Keuangan
Global
Capital Kuƞlow
Pasar Keuangan DomesƟk
Pelemahan Ekspor Perlambatan Perekonomian
Dunia
/ŶŇasi
Kenaikan Suku Bunga
Penurunan Repayment Capacity
Risiko Pasar Risiko Likuiditas Risiko Kredit
Penurunan Pendapatan
Risiko Sistemik
Nilai Tukar Current
Account DeĮcit
Jalur Eksternal Jalur Internal
Penurunan Harga Komoditas
Bab 3
Asesmen Ketahanan Industri
Perbankan
halaman ini sengaja dikosongkan
78,5%
1,2%
2,6%
10,1%
6,7% 0,1%
0,5%0,1%
0,1%
Perbankan BPR Dana Pensiun
Asuransi
Perusahaan Pembiayaan Perusahaan Penjaminan
Pegadaian
Perusahaan Modal Ventura Manager Investasi *)
Bab 3 Asesmen Ketahanan Industri Perbankan
Secara keseluruhan, industri perbankan masih memegang peranan dominan dalam sistem keuangan Indonesia. Pangsa pasar industri perbankan dalam sistem keuangan meningkat dari 77,9% pada semester I 2013 menjadi 78,5% pada semester II 2013. Peningkatan terjadi karena kenaikan aset perbankan dan perusahaan ƉĞŵďŝĂLJĂĂŶ͕ƐĞŵĞŶƚĂƌĂĂƐĞƚ/ŶƐƟƚƵƐŝ<ĞƵĂŶŐĂŶEŽŶĂŶŬ
;/<EͿŵĞŶƵƌƵŶĂŶƚĂƌĂůĂŝŶĂŬŝďĂƚƚĞƌŐĞƌƵƐŶLJĂŚĂƌŐĂͲŚĂƌŐĂ
aset di pasar keuangan.
ŝ ƚĞŶŐĂŚ ŬĞƟĚĂŬƐĞŝŵďĂŶŐĂŶ ĞŬƐƚĞƌŶĂů ƉĞƌĞŬŽŶŽŵŝĂŶ /ŶĚŽŶĞƐŝĂ͕ ƌŝƐŝŬŽ ĚĂŶ ŬĞƚĂŚĂŶĂŶ ƐŝƐƚĞŵ
ŬĞƵĂŶŐĂŶƚĞƌƵƚĂŵĂƉĞƌďĂŶŬĂŶŵĂƐŝŚƚĞƌũĂŐĂ͘,ĂůƚĞƌƐĞďƵƚƚĞƌĐĞƌŵŝŶĚĂƌŝƌŝƐŝŬŽŬƌĞĚŝƚ͕ůŝŬƵŝĚŝƚĂƐĚĂŶ
ƉĂƐĂƌLJĂŶŐƌĞůĂƟĨƌĞŶĚĂŚƐĞƌƚĂĚŝĚƵŬƵŶŐŽůĞŚƉĞƌŵŽĚĂůĂŶƉĞƌďĂŶŬĂŶLJĂŶŐĐƵŬƵƉƟŶŐŐŝ͘/ŶƚĞƌŵĞĚŝĂƐŝ
ƉĞƌďĂŶŬĂŶ ƚƵŵďƵŚ ŵĞůĂŵďĂƚ ƐĞŵĞŶƚĂƌĂ ůŝŬƵŝĚŝƚĂƐ ŝŶĚƵƐƚƌŝ ŵĂƐŝŚ ŵĞŵĂĚĂŝ ŵĞƐŬŝƉƵŶ ƐĞŵƉĂƚ
ŵĞŶŐĞƚĂƚƉĂĚĂĂǁĂůƐĞŵĞƐƚĞƌ//ϮϬϭϯ͘
3.1. ASESMEN RISIKOͳRISIKO UTAMA DI INDUSTRI PERBANKAN
Secara umum, hasil asesmen risiko-risiko utama (risiko kredit, risiko pasar dan risiko likuiditas) di industri perbankan masih terkendali. Hasil stress test menunjukkan ketahanan industri perbankan masih cukup memadai untuk menyerap potensi risiko ke depan. Hal tersebut antara lain karena cukup ƟŶŐŐŝŶLJĂƌĂƐŝŽŬĞĐƵŬƵƉĂŶŵŽĚĂů(Capital AdeƋuacy RaƟo).
3.1.1 Risiko Kredit
ϯ͘ϭ͘ϭ͘ϭWĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶ<ƌĞĚŝƚ/ŶĚƵƐƚƌŝWĞƌďĂŶŬĂŶ Pertumbuhan kredit industri perbankan cenderung menurun terutama karena perlambatan ekonomi domesƟk dan pengaruh gejolak eksternal. Meskipun secara nominal terdapat peningkatan kredit industri perbankan dari 20,64%
;LJŽLJͿ ƉĂĚĂ ĂŬŚŝƌ ƐĞŵĞƐƚĞƌ / ϮϬϭϯ ŵĞŶũĂĚŝ Ϯϭ͕ϲϬй ;LJŽLJͿ͕
namun apabila menghilangkan pengaruh pelemahan nilai tukar Rupiah, maka pertumbuhan kredit akhir 2013 melambat menjadi hanya sebesar 17,45%.
Pelemahan nilai tukar Rupiah selama semester II 2013 menyebabkan pangsa kredit valas terhadap total kredit industri perbankan meningkat dari 15,45% menjadi 17,38%.
EĂŵƵŶ ĚĞŶŐĂŶ ŵĞŶŐŚŝůĂŶŐŬĂŶ ƉĞŶŐĂƌƵŚ ƉĞůĞŵĂŚĂŶ ŶŝůĂŝ
tukar Rupiah maka pangsa kredit valas pada akhir 2013 hanya Pertumbuhan Ekonomi Negara Maju
GraĮk ϱ.1.
^ƵŵďĞƌ͗ĂŶŬ/ŶĚŽŶĞƐŝĂĚĂŶK:<͕ĚŝŽůĂŚ
Komposisi Aset Lembaga Keuangan GraĮk 3.1.
<ĞƚĞƌĂŶŐĂŶ͗
ΎͿWŽƐŝƐŝ:ƵŶŝϮϬϭϯ
40%
29,33% 29,63%
35,64%
21,03%
24,07% 24,18%
31,58%
21,71%
34,57%
21,60%
15%
20%
25%
30%
35%
7,63%
0%
5%
10%
15%
Sem II-2012 Sem I-2013 Sem II-2013 34,95%
40%
20,43%
13,67%
15%
20%
25%
30%
35%
0%
5%
10%
K K I
K K
M K
2012 SemI 2013 2013
Sem II-2012 Sem I-2013 Sem II-2013
40%
19,27%
34,10%
21,60%
20%
25%
30%
35%
0%
5%
10%
15%
R i h V l T l
Rupiah Valas Total
Sem II-2012 Sem I-2013 Sem II-2013
7.50%
21.60%
17.45%
15%
16%
17%
18%
19%
20%
21%
22%
23%
24%
5%
6%
6%
7%
7%
8%
8%
Jan Feb Mar Apr Mei Jun
2013
Jul Ags Sep Okt Nov Des
BI rate (skala kiri) Pertumbuhan Kredit (yoy) Pertumbuhan Kredit Adj Va(yoy) Semester - II Semester - I
sebesar 14,46%. Penurunan ini terutama karena melambatnya ŝŵƉŽƌƐĞũĂůĂŶĚĞŶŐĂŶŵĞůĂŵďĂƚŶLJĂƉĞƌĞŬŽŶŽŵŝĂŶĚŽŵĞƐƟŬ͘
di tengah kondisi perlambatan ekonomi menunjukkan masih ĐƵŬƵƉŬƵĂƚŶLJĂŽƉƟŵŝƐŵĞĚĂƌŝƉĂƌĂƉĞůĂŬƵďŝƐŶŝƐ͘
Di sisi lain, Kredit Konsumsi (KK) tumbuh melambat dibandingkan semester I 2013 dari 17,95% (yoy) menjadi 13,67% pada akhir semester II 2013. Perlambatan diperkirakan terutama sebagai dampak kebijakan LTV untuk kredit perumahan dan Down Payment (DP) untuk kredit kendaraan bermotor yang berlaku sejak Juni 2012 serta penyempurnaan kebijakan LTV (termasuk di dalamnya larangan pemberian kredit/pembiayaan untuk DP) yang ƐĞĐĂƌĂĞĨĞŬƟĨďĞƌůĂŬƵŵƵůĂŝϯϬ^ĞƉƚĞŵďĞƌϮϬϭϯ͘
^ƵŵďĞƌ͗ĂŶŬ/ŶĚŽŶĞƐŝĂ͕ĚŝŽůĂŚ
^ƵŵďĞƌ͗>ĂƉŽƌĂŶƵůĂŶĂŶĂŶŬhŵƵŵ͕ĚŝŽůĂŚ
^ƵŵďĞƌ͗>ĂƉŽƌĂŶƵůĂŶĂŶĂŶŬhŵƵŵ͕ĚŝŽůĂŚ
Pertumbuhan Kredit
Pertumbuhan Kredit Per Jenis Penggunaan
Pertumbuhan Kredit Per Sektor Ekonomi GraĮk 3.2.
GraĮk 3.ϰ.
GraĮk 3.5.
^ƵŵďĞƌ͗ĂŶŬ/ŶĚŽŶĞƐŝĂ͕ĚŝŽůĂŚ
Pertumbuhan Kredit Per Valuta GraĮk 3.3.
Dari sisi jenis penggunaan, peranan kredit ke sektor produkƟf (Kredit Modal Kerja/KMK dan Kredit Inǀestasi/
KI) masih tetap dominan dalam mendukung pertumbuhan sektor riil. WĂŶŐƐĂ ŬƌĞĚŝƚ ƉƌŽĚƵŬƟĨ ƚĞƌŚĂĚĂƉ ƚŽƚĂů ŬƌĞĚŝƚ
meningkat dari 71,2% pada semester lalu menjadi 72,4%.
,ĂůŝŶŝĚŝĚƵŬƵŶŐŽůĞŚŬĞŶĂŝŬĂŶƉĞƌƚƵŵďƵŚĂŶ</ĚĂƌŝϯϯ͕ϯϱй
;LJŽLJͿŵĞŶũĂĚŝƐĞďĞƐĂƌϯϰ͕ϵϱйĚĂŶ<D<ĚĂƌŝϭϲ͕ϳϭйŵĞŶũĂĚŝ
ƐĞďĞƐĂƌϮϬ͕ϰϯй͘WĞƌƚƵŵďƵŚĂŶ</ĚĂŶ<D<LJĂŶŐŵĞŶŝŶŐŬĂƚ