• Tidak ada hasil yang ditemukan

The leader is a member of an association whom is given a certain position and expected to

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "The leader is a member of an association whom is given a certain position and expected to"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

KEKUASAAN, KEPEMIMPINAN, DAN ORGANISASI MASYARAKAT MASA LAMPAU37

KONSEP KEKUASAAN, KEPEMIMPINAN, DAN ORGANISASI

DALAM BUDAYA ISLAM

Concept of Authority, Leadership, and Organization within Islamic Culture

Widiati Isana

Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jln. A.H. Nasution No.105 Cibiru, Kota Bandung 40614

E-mail: [email protected]

Abstract

T

he leader is a member of an association whom is given a certain position and expected to act in accordance with his position. Effective leadership is realized when a leader with his authority is able to inspire his followers to achieve satisfactory performance. The influence of authority has a role as a driving force for every leader in influencing, moving, and changing the behavior of those whom he leads towards achieving organizational goals. The concept of leader- ship in Islam as a concept of interaction, relations, authority processes, activities of influences, directs and coordinates both horizontally and vertically. Islamic culture is friendly with diversity and science (Value, vision, science and renewal). In upholding values, of course, it must come from belief, virtue, beauty, truth, solidarity, love, justice and peace. Faith, Science and morals are the pillars of Islamic culture and its development. The context of leadership in Islam is able to unite the multi-culture and pluralistic Indonesian culture in the frame of diversity. So that a leader in acting and solving problems should see from various perspectives both comprehensively and inter-connectively.

Keywords: authority, leadership, and organization, Islamic culture Abstrak

P

emimpin adalah anggota dari suatu perkumpulan yang diberi kedudukan tertentu dan diharapkan dapat bertindak sesuai dengan kedudukannya. Kepemimpinan yang efektif (effective leadership) terealisasi pada saat seorang pemimpin dengan kekuasaannya mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Pengaruh kekuasaan mempunyai peranan sebagai daya dorong bagi setiap pemimpin dalam mempengaruhi, menggerakkan, dan mengubah perilaku yang dipimpinnya ke arah pencapaian tujuan organisasi.

Konsep kepemimpinan dalam Islam sebagai sebuah konsep interaksi, relasi, proses otoritas, kegiatan mempengaruhi, mengarahkan dan mengkoordinasi baik secara horizontal maupun vertikal. Budaya keislaman ramah dengan kebinekaan dan keilmuan (Nilai, visi, keilmuan dan pembaharuan). Dalam menjunjung tinggi nilai-nilai tentu harus bersumber pada: keyakinan, keutamaan, keindahan, kebenaran, solidaritas, kasih sayang, keadilan dan kedamaian. Iman, Ilmu dan akhlak menjadi pilar kebudayaan Islam dan perkembangannya. Kontek kepemimpinan dalam Islam, mampu menyatukan budaya Indonesia yang multiculture dan pluralistic dalam bingkai kebinekaan. Sehingga seorang pemimpin dalam bersikap dan memecahkan masalah harus secara komprehensif-interkonektif melihat dari berbagai sudut pandang.

Kata kunci: kekuasaan, kepemimpinan, organisasi, budaya Islam

(2)

PENDAHULUAN

S

etiap manusia pada hakikatnya adalah pemimpin, dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya kelak.1 Manusia sebagai Pemimpin minimal mampu memimpin dirinya sendiri. Setiap organisasi harus ada pemimpinnya, yang secara ideal dipatuhi dan disegani bawahannya. Organisasi tanpa pimpinan akan kacau balau. Oleh karena itu, harus ada seorang pemimpin yang memerintah dan mengarahkan bawahannya untuk mencapai tujuan individu, kelompok dan organisasi.Bottom of Form.

Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin. Kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt.

Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat.

Karakter pemimpin yang memiliki kekuasaan di dalam sebuah organisasi (pemerintahan, agama, masyarakat) sangat diperlukan. Hal tersebut penting, karena untuk memudahkan kapasitas seorang pemimpin yang harus menjalankan tanggung jawabnya melayani rakyat. Seorang pemimpin tanpa memiliki kekuasaan dalam menjalankan sebuah organisasi maka organisasi tersebut tidak akan berjalan maksimal.

Kekuasaan tersebut bukan hanya untuk dimanfaatkan secara pribadi atau sebelah pihak, akan tetapi agar pungsi pemimpin yang memimpin rakyat dan rakyat yang dipimpin berjalan sesuai tugas pokok fungsi masing- masing. Pemimpin yang memiliki kekuasaan 1 Hadits dari Ibnu Umar, diriwayatkan oleh

Bukhari dan Muslim.

adalah pemimpin yang memiliki kemampuan untuk memerintah dan memberi keputusan yang baik secara langsung maupun tidak mempengaruhi tindakan-tindakan pihak lainnya. Sehingga sebuah organisasi akan sukses dan tercapai tujuan yang diinginkan, ketika pungsi masing-masing bisa berjalan sesuai dengan kapasitasnya.

Dengan memberikan hubungan yang menyeluruh antara kepemimpinan dan kekuasaan, maka kekuasaan mempunyai peranan yang dapat menentukan nasib berjuta-juta manusia. Hubungan pemimpin dan kekuasaan adalah ibarat gula dengan manisnya, garam dengan asinnya. Dua- duanya tak terpisahkan. Kepemimpinan yang efektif terealisasi saat seorang pemimpin dengan kekuasaannya mampuh menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan.

TINJAUAN PUSTAKA

Pembahasan tentang kepemimpinan, kekuasaan dan organisasi menurut budaya Islam memang sudah banyak yang menulis, akan tetapi ada kajian-kajian lain yang berbeda dengan tulisan ini. Dalam tulisan ini dibahas tentang gambaran kepemimpinan, kekuasaan dan organisasi menurut Islam terutama berkaca dari pemimpin-pemimpin Islam masa dulu perspektif sejarah. Di antara tulisan yang sama-sama membahas tentang kepemimpinan tapi dalam kajian dan dari sudut pandang yang berbeda di antaranya adalah:

1. Masniati. Kepemimpinan dalam Islam.

Jurnal Al-Qadau Volume 2/2015, UIN Alaudin. Dalam tulisan tersebut membahas tentang kajian kepemimpinan dalam Islam perspektif hadits. Diungkap hadits- hadits terkait dengan kepemimpinan berdasarkan penelusuran ilmu-ilmu hadits. Jadi, walaupun dibahas pula tentang konsrep-konsep kepemimpinan dalam Islam, akan tapi lebih menekankan dari unsur kedudukan haditsnya.

(3)

KEKUASAAN, KEPEMIMPINAN, DAN ORGANISASI MASYARAKAT MASA LAMPAU39 2. Muhammad Dian Supyan.

Kepemimpinan Islam dalam Tafsir al- Misbah karya M.Quraish Shihab. Skripsi, 2013, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dalam tulisan tersebut dibahas tentang Kepemimpinan Islam Khusus dalam kajian Tafsir al-MIsbah. Dijelaskan kepemimpinan Islam merupakan system kepemimpinan yang menitikberatkan pada esensi substansi Ke-Islaman.

Kepemimpinan Islam menurut Q.

Shihab tidak terletak pada kemasan semata, akan tetapi secara praktek telak mengimplementasikan ruh-ruh Islam walaupun tidak terbungkus dengan Islam, bahkan walaupun pelakunya bukan Islam.

3. Sunarji Harahap. Pengaruh Kepemimpinan Islami dan Motivasi kerja terhadap kinerja karyawan PT Bank Syariah Mandiri Cabang Pembantu Sukaramai Medan. Jurnal HUMAN FALAH Volume 3 No. 2 Juli-Desember 2016, STAI Swastab Al-Ishlahiyah Binjai. Dalam tulisan tersebut dikatakan bahwa kepemimpinan Islam dan motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan PT Bank Syariah Mandiri Cabang pembantu Sukaramai Medan.

Penelitian ini merekomendasikan agar memaksimalkan kepemimpinan Isl;ami dengan baik dan benar

PEMBAHASAN Pengertian

Pertama, Kekuasaan. Hal yang melekat dengan seorang pemimpin adalah kekuasaan.

Sebagaimana dalam Islam, Nabi adalah seorang pemimpin yang memiliki wewenang dalam berbagai hal, salah satunya adalah pengadilan.

Seperti digambarkan dalam Al-Quran Surat An-Nuur 48, yang artinya “Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul- Nya, agar rasul menghukum &mengadili’ di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang”. Dalam ayat di atas, terdapat pesan-pesan dinamika kehidupan berorganisasi. Sebuah organisasi akan terdapat

pihak-pihak yang selalu berbeda pandangan, dan kepentingan yang bisa menampakkan sikap oposisi bahkan menolak bekerja sama kepada seorang pemimpin yang sedang berkuasa. Disinilah pentingnya kekuasaan dan politik organisasi dijalankan oleh seorang pemimpin, agar dapat mempengaruhi orang yang dipimpinnya melalui hard power atau pun soft power. Dapat dilihat dalam ayat tersebut, bagaimana Nabi diberi kekuasaan oleh Allah untuk menghukum individu.

Dalam bukunya Winardi, mendefinisakn kekuasaan sebagai: “…. the ability to produce intended effects”. Kekuasaan, mengimplikasi kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain.2 Dalam arti yang paling umum, kekuasaan menunjukkan: Kemampuan, (baik yang digunakan, maupun tidak) untuk menimbulkan kejadian tertentu atau, pengaruh seseorang atau kelompok melalui alat apapun juga atas kelakuan orang lain, sesuai dengan apa yang diinginkan. Sebuah kepemimpinan, tidak akan lepas juga dari istilah kekuasaan. Kekuasaan ini bersifat dominan, karena apabila kekuasaan tidak ada dalam diri seorang pemimpin, maka kurang utuhlah wewenang dari pemimpin yang bersangkutan.

Kedua, Kepemimpinan. Menurut Henry Pratt Fairchild adalah seorang yang memimpin dengan jalan memprakasai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha atau upaya orang lain, atau melalui prestise, kekuasaan atau posisi.3 Konsepsi kepemimpinan itu harus dikaitkan dengan kekuasaan, kewibawaan dan kemampuan, dalam melaksanakan kepemimpinan dalam suatu organisasi.

Al-Quran menyebut manusia sebagai khalifah di muka bumi. Kata khalifah memiliki arti “orang yang berada di belakang yang lainnya, atau dapat pula pengganti dan 2 Winardi. 1990. Kepemimpinan dalam

Manajemen (Bandung: Rineka Cipta,1990), hlm. 75.

3 Shalih Bin Ghanim As-Sadlan, Aplikasi Syariat Islam, (Jakarta, Darul Fallah, 2002), hlm 21.

(4)

pelaksana hukum di bumi.4 Dan dalam Lisan al-Arabi diartikan meminta digantikan oleh orang yang ada di belakangnya.5 Keseluruhan kata tersebut berasal dari khalafa, yang pada mulanya berarti “di belakang”. Dari sini kata khalifah sering kali diartikan sebagai

“pengganti” (karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya. Ar-Ragib al-Isfahani6, menjelaskan bahwa menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, baik bersama yang digantikannya maupun sesudahnya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kekhalifahan tersebut dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuhan orang yang digantikan, atau penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.

Perkataan khalifah dipakai setelah Rasulullah SAW wafat, para sahabat Rasul yang dikenal dengan sebutan khalifahur- Rasyidin atau dengan perkataan lain yaitu

”Amir” disebut juga penguasa. Allah SWT menyebut khalifah dalam Al-Quran untuk menyatakan pemimpin yang bersifat non formal, dalam firman-Nya:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata:

“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(QS: Albaqarah 30).

4 Syekh Ibu Ajibah Al-Hasani, Al-Bahru al- Madid fi Tafsir Al-Quran al-Majid, Juz 1, (Mesir; Maktabah Syamilah, 99 M), hlm.93.

5 Ibnu Manzur, Lisan al-Arabi, (Beirut; Dar as- sadir, Maktabah Syamilah, 1990), hlm.320.

6 Al-Ragib al-Isfahani, dalam Mufradat fi Gharib Al-Quran, (Mishra; dar al-Ulum, 1978), hlm.176.

Dalam ayat di atas, tidak sekedar menunjukan pada para khalifah pengganti Rasulullah SAW, bahwa Allah SWT menciptakan nabi Adam dan anak cucunya yang disebut manusia dan dibebani tugas untuk memakmurkan bumi.7 Tugas yang disandangnya itu menempatkan setiap manusia sebagai pemimpin, yang menyentuh dua hal penting dalam kehidupannya di muka bumi. Tugas pertama adalah menyerukan dan menyuruh orang lain berbuat amal makruf.

Sedangkan tugas kedua adalah melarang atau menyerukan atau menyuruh orang lain meninggalkan perbuatan mungkar.8 Sehingga dapat diambil suatu kesimpulan bahwa predikat khalifah yang disandang manusia itu merupakan suatu tugas dan amanah yang dititipkan Allah kepadanya.

Dalam konsep Islam, bahwa segala perintah dan larangan Tuhan jika dipatuhi adalah bernilai suatu pengabdian kepada sang khaliq. Fungsi tersebut mesti dilaksanakan dengan bersih dan kosong dari kepentingan pribadi atau golongan, yang ada hanya kepentingan bersama dan kesejahteraan bersama, baik secara material ataupun immaterial.Keberhasilan seorang pemimpin dalam melaksanakan fungsinya tidak hanya ditentukan oleh salah satu aspek semata-mata, melainkan antara sifat, perilaku, dan pengaruh kekuasaan saling menentukan sesuai dengan situasi yang mendukungnya.

Ketiga, organisasi. Organisasi pada intinya adalah interaksi antara beberapa orang dalam sebuah wadah untuk melakukan sebuah tujuan yang sama. Namun dalam Islam, organisasi dipandang dengan sisi yang berbeda. Organisasi merupakan suatu kebutuhan dan sangat penting. Organisasi tidak hanya diartikan semata-mata sebagai wadah perkumpulan beberapa orang

7 Al-Jazairy, Aysar at-Tafsir lil Jazairy Juz 1, (Lebanon; Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Maktabah Syamilah, 2018), hlm. 40.

8 Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam, (Yogyakarta, Gajah Mada University Press,2001), hlm, 17.

(5)

KEKUASAAN, KEPEMIMPINAN, DAN ORGANISASI MASYARAKAT MASA LAMPAU41 dengan cita-cita dan tujuan bersama. Hal

ini dikarenakan organisasi itu memiliki dua pengertian. Pertama, yaitu organisasi sebagai wadah atau tempat, dan kedua organisasi memiliki makna sebagai proses yang dilakukan secara bersama-sama, dengan landasan yang sama, tujuan yang sama, dan juga dengan cara-cara yang sama.

Dalam Islam secara tidak langsung setiap manusia dituntun untuk berorganisasi dan hidup dalam struktur yang terorganisasi dengan baik. Hal ini sesuai dengan yang terdapat dalam salah satu kutipan hadist,

“setiap manusia yang terdiri dari tiga orang misalnya ketika dalam suatu perjalanan maka dianjurkan untuk memilih salah satu di antara mereka untuk menjadi seorang pemimpin bagi mereka”. Secara logika kita berpikir bahwa untuk jumlah orang yang sedikit begitu, tidak perlu seorang yang memimpin, karena semuanya biasa diatasi bersama. Namun kita tak pernah menduga bahwa dalam Islam telah diprediksikan bahwa setiap manusia ini mempunya hasrat, rasa, kepentingan dan kebutuhan yang berbeda dengan yang lainnya. Karena kebutuhan dan kepentingan yang berbeda tersebut, seseorang sering kali mengabaikan atau bahkan menindas yang lainnya demi mencapai yang diinginkannya.

Oleh karena itu Islam menganjurkan hal tersebut yaitu memilih pemimpin untuk setiap kegiatan yang dilakukan oleh lebih dari dua orang. Karena jika telah ada seorang pemimpin di antara ketiganya itu telah memberikan sebuah struktur yang ada orang mengorganisasikannya dengan baik, khususnya dalam mencapai tujuannya.

Syarat dan Tugas Pemimpin dalam Budaya Islam

Setelah Rasulullah SAW wafat, berdasarkan fakta sejarah dalam Islam, Umat Islam terpecah belah akibat perdebatan mengenai kepemimpinan dalam Islam, khususnya mengenai proses pemilihan pemimpin dalam Islam dan siapa yang berhak atas kepemimpinan dalam Islam. Sehingga

definisi dan makna kepemimpinan, serta kewenangan yang harus dilaksanakan dalam budaya Islam seyogyanya sesuai dengan prinsip-prinsip yang digariskan Al-Quran atau sunnah.9 Manusia sebagai pelaksana kepemimpinan, harus memiliki kemampuan dalam mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan.

Para pakar telah lama menelusuri Al- Quran dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh Rasulullah SAW sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1) Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2) Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt.

Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul.

Lawannya adalah bodoh. (4) Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).

Selain syarat-syarat yang sudah dijelaskan di atas, Baharudin menambahkan bahwa Sifat- sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah sebagai berikut.10

1. Bertakwa kepada Allah swt, sebagai syarat mutlak sebagai pemimpin yang telah menjadi karakter kepribadiannya.

9 Muhammad Ahmad, Al-Buraey, Islam Lan- dasan Alternative Administrasi Pembangunan, (Jakarta, CV Rajawali, 1985), Hlm 375.

10 Baharuddin, Kepemimpinan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Arruz Media, 2012), hlm 138.

(6)

2. Siddiq, membenarkan dan meyakini apa saja yang diwahyukan Allah kepada Rasulnya.

3. Amanah artinya jujur, tidak pernah berdusta, selalu menempati janji, berani mengatakan yang haknya, bertindak adil dan professional.

4. Tabligh artinya menyampaikan, pemimpin sebagai informan tentang segala sesuatu yang penting diketahui oleh pengikutnya.

5. Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul.

6. Tegas dan teguh pendirian.

7. Pemaaf, adil, sabar, bertanggung jawab, dan ;

8. Senang bermusyawarah.

Kualifikasi khalifah yang lain adalah Tawhidullah dan teladan.11 Tawhidullah berarti menjalin hubungan manusia dan alam atau dengan sesamanya, bukan hubungan antara penakluk dan yang ditaklukan, atau antara tuan dengan hamba, tetapi hubungan kebersamaan dalam ketundukan kepada Allah swt. Kalau pun manusia mampu mengelola (menguasai), hal tersebut bukan akibat kekuatan yang dimilikinya, tetapi akibat Tuhan menundukannya untuk manusia.

Jika hubungan manusia, alam dan Tuhan- Nya berjalan sinergis, itulah terjadinya Tawhidullah. Oleh karena itu, manusia dalam visi kekhalifahannya bukan saja menggantikan, namun dengan arti yang luas ia harus senantiasa mengikuti perintah yang digantikan (Allah). Untuk melaksanakan tugasnya sebagai khalifah, Allah telah memberikan kepada manusia seperangkat potensi (fitrah) yang berupa akal, qalb dan nafs. Dengan kedudukan dan fungsi, serta kelebihan yang diberikan Allah Swt kepadanya

11 Nanang Gojali, Manusia dalam Al-Quran dan al-Hadits dalam Tafsir Hadits tentang Pendidikan, (Bandung, Pustaka Setia, 2013), 64-70.

melebihi makhluk lain, maka manusia harus memiliki nilai moral yang religious, dan harus mempertanggungjawabkan semua aktivitas kehidupannya dihadapan sang Khaliq.

Selanjutnya teladan, di mana Khalifah memiliki makna yang sama dengan imam. Hanya kata imam digunakan untuk keteladanan, karena ia diambil dari kata yang mengandung arti

“depan” yang berbeda dengan khalifah yang diambil dari kata “belakang”. Ini berarti bahwa informasi tentang sifat-sifat terpuji dari seorang khalifah dengan menelusuri ayat-ayat yang menggunakan kata imam.

Berkaitan dengan tugas kepemimpinan,di antaranya Allah swt mengisyaratkan dalam Al-Quran surat Al-Hajj ayat 41:

”(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma´ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Ayat ini menjelaskan bahwa ada 4 tugas orang-orang yang memperoleh kekuasaan, menjadi pemimpin:12

1. Pemeran Tuhan di muka bumi.Sesuai dengan pengertian khalifah yang sudah dijelaskan di atas, predikat khalifah yang disandang manusia itu merupakan suatu tugas dan amanah yang dititipkan Allah kepadanya.

2. Mendirikan shalat, Maksudnya adalah seorang pemimpin mestilah senantiasa baik dari sisi spritualitas. Jiwa yang baik, yang terlahir dari hubunganya yang baik dengan Allah, akan mendorong seorang pemimpin agar tidak lalai dan memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan dirinya atau orang-orang yang satu golongan dengannya saja. Hal ini merupakan gambaran dari hubungan baik dengan Allah.

12 Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: Raja Gravindo Persada, 2004), hlm 36.

(7)

KEKUASAAN, KEPEMIMPINAN, DAN ORGANISASI MASYARAKAT MASA LAMPAU43 3. Melaksanakan zakat, Zakat adalah

kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.

Dalam hampir semua ayat yang memerintahkan shalat, selalu diiringi dengan perintah kewajiban zakat. Ini menunjukkan pentingnya zakat dalam Islam. Tujuan diwajibkannya zakat adalah menanamkan pemahaman bahwa pada harta setiap orang yang berkemampuan lebih terdapat hak orang lain, yaitu orang-orang miskin. Zakat juga mengajarkan tentang nilai solidaritas, kepedulian kepada golongan yang tidak mampu. Zakat merupakan gambaran dari keharmonisan hubungan dengan sesame manusia.

4. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dua prinsip ini sifatnya sangat umum. Karena umum, kita memerlukan kepada acuan budaya dan pedoman agama dalam memahami apa saja perkara yang merupakan kebaikan dan kemungkaran. M’ruf adalah suatu istilah yang berkaitan dengan segala sesuatu yang dianggap baik oleh agama, akal dan budaya, dan kebalikan dari mungkar.

Dengan tugas-tugas itu semua, seorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang kehidupan masyarakatnya harmonis, agama, akal maupun budayanya terpelihara.

Hak dan kewajiban kepada Allah selaku pencipta, hak dan kewajiban terhadap sesama manusia dan sesama makhluk Allah, dan alam lingkungannya merupakan amanat yang harus dijalankan dengan baik untuk dipertanggungjawabkan kelak.

Jika kembali kepada Q.S. Al-baqarah ayat 30, (“…Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi

“…), secara tersirat terdapat tugas khalifah di muka bumi ini sebagai: planing (perencana), organizing (pengorganisasian), koordinating (kordinasi), staffing (menentukan, memilih, menempatkan dan membimbing), dirrecting

(usaha memberi bimbingan), controling (pengendalian), leading (pengarahan) dan evaluating (penilaian).

Kaitan Kekuasaan, Kepemimpinan, dan Organisasi dalam Budaya Islam

Hubungan pemimpin dan kekuasaan adalah ibarat gula dengan manisnya, ibarat garam dengan asinnya, dua-duanya tak terpisahkan. Kepemimpinan yang efektif (effective leadership) terealisasi pada saat seorang pemimpin dengan kekuasaannya mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Ketika kekuasaan ternyata bisa timbul tidak hanya dari satu sumber, kepemimpinan yang efektif bisa dianalogikan sebagai movement untuk memanfaatkan genesis (asal usul) kekuasaan, dan menerapkannya pada tempat yang tepat. Pengaruh kekuasaan mempunyai peranan sebagai daya dorong bagi setiap pemimpin dalam mempengaruhi, menggerakkan, dan mengubah perilaku yang dipimpinnya ke arah pencapaian tujuan organisasi.

Refleksi dari kepemimpinan yang efektif, bertanggung jawab, dan terbalutnya hubungan sinergis antara pemimpin dengan yang dipimpin, adalah makna filosofis dari nasehat Rasulullah SAW:

menerapkannya pada tempat yang tepat. Pengaruh kekuasaan mempunyai peranan sebagai daya dorong bagi setiap pemimpin dalam mempengaruhi, menggerakkan, dan mengubah perilaku yang dipimpinnya ke arah pencapaian tujuan organisasi.

Refleksi dari kepemimpinan yang efektif, bertanggungjawab, dan terbalutnya hubungan sinergis antara pemimpin dengan yang dipimpin, adalah makna filosofis dari nasehat Rasulullah SAW:

ِﻦْﺑ ِ َّللها ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ ٍ ِلكﺎَﻣ ْﻦَﻋ َﺔَﻤَﻠ ْﺴَﻣ ُﻦْﺑ ِ َّللها ُﺪْﺒَﻋ ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُ َّللها َّﲆ َﺻ ِ َّللها َلﻮ ُﺳَر َّنَٔا َﺮَ ُﲻ ِﻦْﺑ ِ َّللها ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ ٍرﺎَﻨﻳِد

ْ ُﲂُّ ُﳇَو ٍعاَر ْ ُﲂُّ ُﳇ َﻻَٔا َلﺎَﻗ ََّﲅ َﺳَو ُﲑِﻣَٔ ْﻻﺎَﻓ ِﻪِﺘَّﻴِﻋَر ْﻦَﻋ ٌلﻮُﺌ ْـﺴَﻣ

ُﻞُﺟَّﺮﻟاَو ْﻢُ ْﳯَﻋ ٌلﻮُﺌ ْـﺴَﻣ َﻮُﻫَو ْﻢِ ْﳱَﻠَﻋ ٍعاَر ِسﺎَّﻨﻟا َﲆَﻋ يِ َّلذا َﲆَﻋ ٌﺔَﻴِﻋاَر ُةَٔاْﺮَﻤْﻟاَو ْﻢُ ْﳯَﻋ ٌلﻮُﺌ ْـﺴَﻣ َﻮُﻫَو ِﻪِﺘْﻴَﺑ ِﻞْﻫَٔا َﲆَﻋ ٍعاَر ْﻢُ ْﳯَﻋ ٌ َلةﻮُﺌ ْـﺴَﻣ َ ِﱔَو ِﻩِ َلدَوَو ﺎَﻬِﻠْﻌَﺑ ِﺖْﻴَﺑ ِلﺎَﻣ َﲆَﻋ ٍعاَر ُﺪْﺒَﻌْﻟاَو

ْﻦَﻋ ٌلﻮُﺌ ْـﺴَﻣ ْ ُﲂُّ ُﳇَو ٍعاَر ْ ُﲂُّ ُﳫَﻓ ُﻪْﻨَﻋ ٌلﻮُﺌ ْـﺴَﻣ َﻮُﻫَو ِﻩِﺪِّﻴ َـﺳ ِﻪِﺘَّﻴِﻋَر

Artinya:

“Hadits ‘Abdullah ibnu Maslamah dari Malik dari Abdillah ibnu Dinar dari Abdillah Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, kamu sekalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinanmu.

Seorang imam adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggung jawaban atas pemimpinannya. Seorang ayah adalah seorang pemimpin dan ia diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang ibu adalah pemimpin dan ia di minta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang pembantu adalah pemimpin dan ia diminta pertanggung jawabannya dalam mengurus harta dan kekayaan tuannya. Seorang anak adalah seorang pemimpin dan ia di minta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dalam menjaga harta benda ayahnya.

(8)

Artinya:

“Hadits ‘Abdullah ibnu Maslamah dari Malik dari Abdillah ibnu Dinar dari Abdillah Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, kamu sekalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinanmu. Seorang imam adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggung jawaban atas pemimpinannya. Seorang ayah adalah seorang pemimpin dan ia diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang ibu adalah pemimpin dan ia di minta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang pembantu adalah pemimpin dan ia diminta pertanggung jawabannya dalam mengurus harta dan kekayaan tuannya.

Seorang anak adalah seorang pemimpin dan ia di minta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dalam menjaga harta benda ayahnya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. (H.R.

Bukhari & Muslim)

Dari hadist tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa selama manusia masih merupakan makhluk sosial, mereka selalu ingin hidup bersama dalam masyarakat. Masing-masing individu harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya, baik sebagai pemimpin resmi yang diangkat oleh kelompoknya maupun pemimpin alami, seperti dalam keluarga.

Pemimpin ideal menurut Islam erat kaitannya dengan figur Rasulullah SAW.

Beliau adalah pemimpin agama dan juga pemimpin negara. Rasulullah merupakan suri tauladan bagi setiap orang, termasuk para pemimpin karena dalam diri beliau hanya ada kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al- Quran:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan

(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab: 21) Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang berdasarkan kitab Al- Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Oleh karena itu sosok pemimpin yang disyariatkan adalah pemimpin yang beriman sehingga hukum-hukum Allah swt dapat ditegakkan dan diterapkan, agar keadilan dan kebenaran dapat terjamah oleh orang-orang yang tertindas dan terdzalimi baik itu dari kalangan muslim maupun non muslim karena pada hakekatnya Islam itu adalah rahmat bagi seluruh alam.

Dalam konsep Islam, kepemimpinan sebagai sebuah konsep interaksi, relasi, proses otoritas, kegiatan mempengaruhi, mengarahkan dan mengkoordinasi baik secara horizontal maupun vertical. Kemudian dalam teori-teori manajemen, fungsi pemimpin sebagai perencana dan pengambil keputusan, pengorganisasian, kepemimpinan dan motivasi, dan pengawasan.13 Sasaran kepimpinan dalam Islam adalah menerapkan Syariah dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membangkitkan syarat bagi tegaknya tatanan Islam. Tujuan yang suci ini harus menjadi sasaran setiap pemimpin Islam, apabila ia memang menghendaki dukungan, kepatuhan, dan ketundukan dari umat.

Dibawah ini diuraikan ketika nabi Ibrahim diangkat sebagai imam/pemimpin terkandung dalam Surat al-Baqarah ayat 124: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”.

Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”.Allah berfirman: “Janji- Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.

Ada dua hal yang harus diperhatikan menyangkut ayat diatas:

a. Kepemimpinan dalam pandangan Al- Quran bukan sekedar kontrak sosial antara 13 Ainur Rohim fakih, dkk, Kepemimpinan Islam,

(Yogyakarta: Arruz Media, 2001), hlm 3-4.

(9)

KEKUASAAN, KEPEMIMPINAN, DAN ORGANISASI MASYARAKAT MASA LAMPAU45 sang pemimpin dengan masyarakatnya,

tetapi juga merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah SWT, atau dengan kata lain, amanat dari Allah SWT.

b. Apabila amanat diabaikan maka kehancuran akan tiba. Mengabaikan adalah menyerahkan tanggung jawab kepada seseorang yang tidak wajar memikulnya.

Pemimpin ideal menurut Islam erat kaitannya dengan figur Rasulullah SAW.

Beliau adalah pemimpin agama dan juga pemimpin negara. Rasulullah merupakan suri tauladan bagi setiap orang, termasuk para pemimpin karena dalam diri beliau hanya ada kebaikan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Quran QS Al-Ahzab: 21.

Artinya:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS Al-Ahzab: 21).

Kepemimpinan sebagai bagian dari politik adalah bagian dari ajaran agama Islam.

Tidak benar pernyataan yang mengatakan bahwa agama tidak boleh dibawa ke dalam politik. Politik itu artinya adalah mengatur, sementara fungsi utama agama adalah mengatur kehidupan manusia. Jadi, politik harus bersendikan agama, dan agama harus dijadikan pedoman berpolitik.Memberikan pencerahan beragama harus jadi tujuan dalam agenda politik. Dalam politiknya, bagaimana Rasulullah saw sebagai pemimpin negara memanfaatkan kekuasaannya demi meluasnya syiar Islam, beliau jalin kerjasama dengan negara-negara tetangga melalui pengiriman utusan-utusan atau melalui surat mengajak untuk memeluk Islam. Begitu pun beliau menyatukan persaudaraan sesama muslim maupun muslim dengan non muslim melalui piagam Madinah.

Terkait dengan kekuasaan yang sekaligus melekat dalam pribadi seorang pemimpin,

Robbins menjelaskan jenis-jenis kekuasaan itu ada lima, yaitu legitimate power (Kekuasaan yang sah), coercive power (kekuasaan paksa), reward power (kekuasaan penghargaan), expert power (kekuasaan kepakaran), dan referent power (kekuasaan rujukan).14 Seorang pemimpin yang memiliki jiwa leadership adalah pemimpin yang dengan terampil mampu melakukan kombinasi dan improvisasi dalam menggunakan genesis kekuasaan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Inilah yang disebut kepemimpinan yang efektif (effective leadership), di mana implementasinya adalah dengan “memanfaatkan genesis kekuasaan, dan menerapkannya pada tempat yang tepat”.

Khalifah Abu Bakar Asshidiq, menggunakan legitimate power ketika beliau melaksanakan kebijakan pertamanya setelah Rasulullah wafat yaitu mengangkat Usamah bin Zaid sebagai pemimpin pasukan dalam melawan tentara Romawi, yang sebelumnya pada tahun 11 Hijriyah Rasulullah sudah memerintahkannya, akan tetapi belum juga terlaksana Rasulullah keburu meninggal.

Maka Abu Bakar pada posisi kekuasaan yang sah menunjuk kembali Usamah sebagaimana keinginan Rasulullah yang belum terpenuhi.

Di sisi lain Abu Bakar juga menggunakan referent power ketika meminta ijin Usamah bin Zaid agar meninggalkan Umar Bin Khattab bersama beliau di Madinah, karena hal itu merupakan rujukan dari Rasulullah keika menugaskan Usamah sejak Rasulullah masih hidup.15

Dalam keadaan yang berbeda, Abu Bakar memakai expert power yaitu Selepas meninggalnya Junjungan yang mulia Rasulullah SAW terjadi suatu perselisihan antara Ahlul Bait yang dalam hal ini Sayyidah Fatimah Az Zahra AS dengan sahabat Nabi

14 Robbins, Stephen P & Judge Timothy A, Perilaku Organisasi, edisi Dua Belas, Buku 1, (Jakarta: Salemba Empat, 2008), hlm.76.

15 Nabawiyah Mahmud, Jenderal Islam Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah, (Jakarta: Al Wafi, 2013), hlm. 125.

(10)

yaitu Abu Bakar ra. Perselisihan ini berkaitan dengan tanah Fadak. Fadak adalah tanah harta milik Rasulullah SAW. Sayyidah Fatimah Az Zahra AS menuntut bagiannya dari tanah Fadak karena itu adalah haknya sebagai Ahli Waris Rasulullah SAW. Abu Bakar ra dalam hal ini menolak permintaan Sayyidah Fatimah Az Zahra AS dengan membawakan hadis “Kami para Nabi tidaklah mewarisi dan apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah”.16 Berdasarkan hadis ini Abu Bakar ra menolak permintaan Sayyidah Fatimah AS karena harta milik Nabi Muhammad SAW tidak menjadi milik Ahli Waris Beliau SAW tetapi menjadi sedekah bagi kaum muslimin.

Dalam hal ini Abu Bakar menempatkan kekuasaannya sebagai kekuasaan kepakaran.

Selanjutnya penggunaan coercive powernya adalah ketika Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai gubernur wilayah Hejaz, untuk tidak memperbolehkan Hajjaj bin Yusuf Atssaqafi (penguasa Iraq yang dhalim) melewati kota Madinah. Meskipun secara kedudukan Hajjaj memiliki tempat istimewa di hati penguasa Daulat Bani Umaiyah.17 Dan dengan kekuatan referent power dan reward power yang dimilikinya, Umar bin Abdul Aziz telah berhasil menyatukan kelompok-kelompok Qeisiyah, Yamaniah, Khawarij, Syiah, Mutazilah, yang secara terus menerus bertikai pada masa itu. Juga berhasil mengumpulkan ulama-ulama yang shaleh dan terkemuka yang sebelumnya telah mengasingkan diri, menjauhkan diri dari kekuasaan karena kerusakan moral kekhalifahan Bani Umayah sebelumnya. Para ulama justru mendatangi Umar bin Abdul Aziz, duduk bersama untuk memecahkan masalah umat.

Mengingat sifat dan karakter kepemimpinan para sahabat (Khulafaur- Rasyidin) menunjukkan keragaman 16 Syaikh Nashiruddin Al Albani, Mukhtasar

Shahih Bukhari jilid 3, no hadis 1345, (Pustaka Azzam: Cetakan pertama, 2007), hlm. 608.

17 Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, jilid 9, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hlm. 144-145.

penempatan dan pemakaian kekuasaan.

Jenis-jenis kekuasaan mereka memakainya sesuai dengan situasi dan kondisi. Semua itu dilakukan demi ketentraman dan kesejahteraan rakyatnya. Khalifah Abi Bakar as Shidiq mempunyai karakter yang lemah lembut dan tegas. Dalam suasana yang kacau pemimpin yang berkarakter seperti Khalifah Abu Bakar as Shidiq sangat diperlukan. Dengan kelembutannya, dapat menginsafkan orang- orang terbujuk berbuat makar. Sementara orang-orang yang bersikap merongrong dihadapi secara tegas oleh Abu Bakar as Shidiq.

Khalifah Umar bin Khattab ,mempunyai karakter: Cerdas, tegas dan mengutamakan kepentingan rakyat. Kecerdasannya Umar bin Khattab sangat diperlukan untuk membangun dasar-dasar kemasyarakatan yang Islami. Masa Usman bin Affan situasi sudah aman. kemakmuran sudah tercapai di segenap lapisan masyarakat. Dalam kondisi seperti itu, karakter pemimpin yang shaleh, penyantun dan sabar sangat diperlukan.

Dengan karakter seperti Khalifah Usman bin Affan kemakmuran rakyat tercapai, baik jasmani maupun rohani. Ali bin Abi Thalib, sebagai masa peralihan dari Khalifah Usman bin Affan ke Khalifah Ali bin Abi Thalib, kekacauan kembali terjadi. Dalam kondisi negara seperti itu, karakter pemimpin yang tegas dan mengutamakan kebenaran sangat diperlukan. Ketegasan Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam membela kebenaran mirip dengan Khalifah Umar bin Khattab.18

Menurut Amin Abdullah, budaya keislaman ramah dengan kebinekaan dan keilmuan (Nilai, visi, keilmuan dan pembaharuan).19 Dalam menjunjung tinggi 18 Robbins, Stephen P & Judge Timothy A, Perilaku Organisasi, edisi Dua Belas, Buku 1, (Jakarta: Salemba Empat, 2008), hlm.77-78.

19 M.Amin Abdullah, Seminar Nasional

“Kebudayaan Lokal dalam bingkai Kebudayaan Nasional Indonesia: Budaya local elemen penting pendukung Khazanah Budaya Nasional Indonesia”, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri SGD Bandung, 5 November 2018.

(11)

KEKUASAAN, KEPEMIMPINAN, DAN ORGANISASI MASYARAKAT MASA LAMPAU47 nilai-nilai harus bersumber pada: keyakinan,

keutamaan, keindahan, kebenaran, solidaritas, kasih sayang, keadilan dan kedamaian. Mesti mengacu pada bentuk-bentuk spiritualitas:

religious (agama), mistik, humanistik, romantik dan kosmik. Iman, Ilmu dan akhlak harus menjadi pilar kebudayaan Islam dan perkembangannya. Iman (dogma/doktrin;

kepercayaan ;keimanan), Ilmu (5 rukun Islam;

ilmu-ilmu agama Islam, Kalam/teologi; Fiqih, Ushul fiqih, Ulum Al-Quran,Hadits, Tafsir, dan ilmu-ilmu lain), Akhlak (norma-norma prilaku, nilai-nilai). Dengan demikian, jika dicermati budaya Islam mampu menyatukan budaya Indonesia yang multiculture dan pluralistic dalam bingkai kebinekaan. Seorang pemimpin dalam bersikap dan memecahkan masalah harus secara komprehensif- interkonektif melihat dari berbagai sudut pandang (agama, falsafah, social-politik, hukum dan psikologi).

SIMPULAN

Kekuasaan menunjukkan: Kemampuan, (baik yang digunakan, maupun tidak) untuk menimbulkan kejadian tertentu atau, pengaruh seseorang atau kelompok melalui alat apapun juga atas kelakuan orang lain, sesuai dengan apa yang diinginkan. Kepemimpinan adalah seorang yang memimpin dengan jalan memprakasai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mngontrol usaha atau upaya orang lain, atau melalui prestise, kekuasaan atau posisi.

Organisasi tidak hanya diartikan semata-mata sebagai wadah perkumpulan beberapa orang dengan cita-cita dan tujuan bersama. Hal

ini dikarenakan organisasi itu memiliki dua pengertian. Pertama, yaitu organisasi sebagai wadah atau tempat, dan kedua, organisasi memiliki makna sebagai proses yang dilakukan secara bersama-sama, dengan landasan yang sama, tujuan yang sama, dan juga dengan cara-cara yang sama.

Seorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah (pemimpin), ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang kehidupan masyarakatnya harmonis, agama, akal maupun budayanya terpelihara. Hak dan kewajiban kepada Allah selaku pencipta, hak dan kewajiban terhadap sesama manusia dan sesama makhluk Allah, dan alam lingkungannya merupakan amanat yang harus dijalankan dengan baik untuk dipertanggungjawabkan kelak.

Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang berdasarkan kitab Al- Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Oleh karena itu sosok pemimpin yang disyariatkan adalah pemimpin yang beriman sehingga hukum-hukum Allah swt dapat ditegakkan dan diterapkan. Refleksi dari kepemimpinan yang efektif adalah bertanggung jawab dan terbalutnya hubungan sinergis antara pemimpin dengan yang dipimpin.

Sasarannya adalah menerapkan Syariah dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membangkitkan syarat bagi tegaknya tatanan Islam. Tujuan yang suci ini harus menjadi sasaran setiap pemimpin Islam, apabila ia memang menghendaki dukungan, kepatuhan, dan ketundukan dari umat yang multiculture dan pluralistic dalam bingkai kebinekaan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M.A. (2018). Seminar Nasional “Kebudayaan Lokal dalam bingkai Kebudayaan NAsional Indonesia: Budaya local elemen penting pendukung Khazanah Budaya Nasional Indonesia”. Bandung: Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri SGD Bandung.

Al Albani, S.N. (2007). Mukhtasar Shahih Bukhari jilid 3, no hadis 1345. Pustaka Azzam:

Cetakan pertama.

Al-Buraey, M.A. (1985). Islam Landasan Alternative Administrasi Pembangunan. Jakarta: CV Rajawali.

(12)

Al-Hasani, S.I.A. (99 M). Al-Bahru al-Madid fi Tafsir Al-Quran al-Majid, Juz 1. Mesir: Maktabah Syamilah.

Al-Isfahani, A. (1978). dalam Mufradat fi Gharib Al-Quran, Mishra; dar al-Ulum.

Al-Jazairy. (2018). Aysar at-Tafsir lil Jazairy Juz 1, Lebanon: Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Maktabah Syamilah.

As-Sadlan, S. B. G. (2002). Aplikasi Syariat Islam. Jakarta: Darul Fallah.

Baharuddin. (2012). Kepemimpinan pendidikan Islam. Yogyakarta: Arruz Media.

Baqi, M. F. A. (2013). Shohih Bukhari dan Muslim. Jakarta: Fathan Prima Media.

Fakih, A.R. (2001). Kepemimpinan Islam. Yogyakarta: Arruz Media.

Gojali, N. (2013). Manusia dalam Al-Quran dan al-Hadits dalam Tafsir Hadits tentang Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Hodgson. M. G.S. (1984). The Venture of Islam, Jilid 1. Chicago and London: The Univercity Of Chichago Press.

Kartono, K. (2004). Pemimpin dan kepemimpinan. Jakarta: Raja Gravindo Persada.

Mahmud, N. (2013). Jenderal Islam Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah. Jakarta: Al Wafi.

Manzur, I. (1990). Lisan al-Arabi. Beirut: Dar as-sadir, Maktabah Syamilah.

Nawawi, H. (2001). Kepemimpinan menurut Islam. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Stephen, P.R & Timothy, A.J. (2008). Perilaku Organisasi, edisi Dua Belas, Buku 1. Jakarta:

Salemba Empat.

Winardi. (1990). Kepemimpinan dalam Manajemen, Bandung: Rineka Cipta.

Katsir, I. (2008). Al Bidayah wa An Nihayah, jilid 9. Jakarta: Pustaka Azzam.

h HASIL DISKUSI 1. Aswin (Disbudpar)

Pertanyaan:

a. Kategori pemimpin ideal dalam Islam apakah sekarang ada…?

b. Bagaimana upaya untuk bisa mensosialisasikan tentang kepemimpinan seperti yang sudah disyariatkan Islam kepada anak-anak kita?

Jawaban:

a. Untuk di negara kita Indonesia, pemimpin yang ideal berdasarkan Islam memang tidak sepenuhnya melaksanakan hukum-hukum berazaskan Islam, karena Negara kita juga bukan Negara yang berdasarksn Islam. Akan tetapi untuk katagori syarat-syarat seorang pemimpin sudah mendekati sesuai dengan persyaratan yang dianjurkan dalam syariat Islam. Akan tetapi untuk hukum- hukum yang ditegakkah di negara kita, Islam juga memerintah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka pelaksanaan hukum Islam dibalut dan dipadukan lagi dengan aturan-aturan di Indonesia yang masyarakatnya beragam dalam bingkai kebinekaan. Jadi, tentu kita juga mesti mengikuti apa yang menjadi peraturan pemerintah yang berjalan.

b. Bagaimana menyiapkan pemimpin untuk masa depan, tantangannya sangat luar biasa. Dalam hal ini generasi muda yang disiapkan untuk jadi pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri dihadapkan dengan tantangan apa yang

(13)

KEKUASAAN, KEPEMIMPINAN, DAN ORGANISASI MASYARAKAT MASA LAMPAU49 disebut “imperialisme global”. Imperialisme global ini tantanganya 3 F (Food/

makanan, fun/kesenangan, dan fashion/busana). Memang menghadapi hal ini butuh komitmen dari banyak pihak untuk menanggulanginya. Apakah ada upaya? Upaya sementara waktu yang bisa dilakukan adalah dari keluarga.

Bagaimana pihak keluarga membentengi anak-anaknya untuk meminimalisir tantangan-tantangan di atas untuk diatur supaya tidak tergerus arus yang salah bahkan jangan sampai menjadi korban yang mengakibatkan hal-hal negatif yang tidak diharapkan.

2. Rully Siswanto (MGMP DKI) Pertanyaan:

- Belakangan ada berita mengenai dilarangnya sesajen di daerah Bantul, padahal tradisi itu sudah berlangsung lama. Bagaimana peran penguasa dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut dalam waktu yang lama?

Jawaban:

- Kaitan dengan sesajen, dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur harus mengacu kepada bentuk-bentuk spiritual religius mempertimbangkan bagaimana dari sisi agamanya, bagaimana humanismenya? Sesajen dilarang, padahal hubungan budaya dan agama bukan seperti minyak dengan air tetapi seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Jangan sampai tradisi menjadi ukuran keber-agama-an.

Jangan menilai hitam-putih seperti kuda lumping, pemakaian hijab dan lain-lain.

Dalam hal ini harus ada toleransi, tidak fanatik, bisa dipahami dengan pemahaman dari berbagai unsur. Perbedaan budaya dan agama bisa diselesaikan. Spiritualitas, religiusitas, dan kebenaran jangan diukur dengan keber-agama-an kita.

3. Yusuf Ambary (Disjarahad) Pertanyaan:

- Pemimpin ada yang dipilih, dibentuk, dan dilahirkan. Mungkinkan 11 asas pemimpin ideal dapat ditawarkan sebagai bahan ajar untuk disampaikan kepada anak-anak sebagai materi pendidikan?

Jawaban:

1. Syarat-sarat kepemimpinan bisa ditawarkan dalam lembaga pendidikan? Bisa.

2. Setiap bidang pelajaran sudah semestinya diintegrasikan dengan nilai-nilai agama, sebagai dasarnya. Misal, pelajaran eksak diintegrasikan dengan pelajaran agama.

Bagaimana mengenalkan dasar –dasar agama melalui Al-Quran dan Hadits kaitannya dengan materi-materi pelajaran eksak. Sehingga akan diperoleh nilai-nilai positif yang bisa dijadikan pelajaran untuk kehidupan peserta didik.

(14)

Referensi

Dokumen terkait

Bagi atlet agar meningkatkan tingkat kebugaran jasmani dan kepercayaan. diri sehingga dapat menunjang terhadap prestasi yang

[r]

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pendidikan kesehatan tentang hipertensi kehamilan terhadap peningkatan tekanan darah ibu hamil.. Jenis penelitian ini adalah

Dem;kian Laporan Hasil Evaluasi Pengadaan Barang/Pekeiaan Konstruksi/Jasa Lainnya ini dibuat dengan penuh rasa tanggung jawab untuk diDerqunakan dalam oenetaDan Demenano

46/ POKJA-PNT/BM tanggal 14 Oktober 2016 maka dengan ini kami umumkan pemenang dan pemenang cadangan untuk pekerjaan sebagai berikut:. Nama Paket : Peningkatan Jalan

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan Dan Rekreasi.

Factor analysis was done with 12 variables (OPINION) Orthogonal Varimax Rotation for the opinion of the respondents (sample irst generation entrepreneurs) towards the

DAMPAK KEBERADAAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH PANEMBONG TERHADAP LINGKUNGAN DI KELURAHAN PARUNG KECAMATAN SUBANG DAN DESA TANJUNGWANGI KECAMATAN CIJAMBE KABUPATEN