• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA. Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 KAJIAN PUSTAKA. Penelitian"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

5

Table 2.1 Penelitian Sebelumnya (State of the art)

No Nama Peneliti

Judul

Penelitian Tahun Metodologi Penelitian

Hasil Penelitian

Perbandingan dan Perbedaan

Penelitian 1. Birgitta

K.M.

Bisholt

The professio nal socializat ion of recently graduated nurses — Experien ces of an introducti on program

2012 Kualitatif Nursing education entails a three-year program leading up to a Bachelor's degree.

Recently graduated nurses lack theoretical as well as clinical skills, thus experiencing difficulties in taking on the professional role. Health care

institutions

Sama – sama melakukan pensosialisasia n, tetapi sosialisasi dalam bentuk yang berbeda.

Dalam jurnal tersebut pensosialisasia n terhadap perawat yang baru lulus, yang di sosialisasi kan yaitu pengalaman program pengenalan.

Salah satunya seperti

memperkenalka n program

(2)

have previously expressed great concern about the increase of theoretical focus at the cost of decreased clinical training and consequently employers presently offer

introduction programs after the completion of the nursing education.

The present study is part two of a larger study.

The aim of the present

pendidikan keperawatan memerlukan tiga tahun untuk mencapai gelar sarjana.

Di dalam penelitian ini pensosialisasia n juga

dilakukan, yaitu dalam hal mensosialisasik an bagaimana menggunakan sistem

pembayaran kartu atm kepada customer, apa saja bahan – bahan makanan yang tidak boleh digunakan karna

membahayakan customer.

Pensosialisasia

(3)

study was to describe and analyze how recently graduated nurses are socialized into the profession.

The research was

conducted using an ethnographic approach and the empirical data was acquired by means of participant observations, interviews and field notes. The findings revealed that the staff questions the novices'

n tersebut dilakukan juga bertujuan untuk memberikan edukasi kepada para pedagang

(4)

nursing knowledge and strongly doubts their professional skills. In order for novices to attain member status at the clinical facility, they must

constantly prove their professional ability. The findings showed furthermore that deviation by the

novices from the norms and

expectations associated with the

(5)

professional role results in their

becoming outsiders.

Within nursing education the ideology of nursing is prominent, but within the

profession the emphasis is on good occupational skills.

2. Fadia Nasser- Abu Alhija, Barbara Fresko

Socializati on of new teachers:

Does induction matter?

2010 Kuantitatif The present paper focuses on new teachers’

satisfaction with their first year of teaching from the perspective of

Pensosialisasia n yang

dilakukan dalam jurnal ini yaitu sosialisasi guru, berfokus pada kepuasan guru baru dengan tahun pertama mereka mengajar,

(6)

socialization.

The

relationship between satisfaction with

socialization and teacher background, school environment, placement, and induction variables was examined.

Data were collected from 243 Israeli beginning teachers by means of questionnaire . Results indicated that satisfaction during the induction year was

misalnya hubungan antara kepuasan dengan

sosialisasi dan latar belakang guru

lingkungan sekolah, penempatan di teliti, jadi pensosialisasia n dilakukan untuk mengukur kepuasam guru baru yang berada di sekolahan.

Pensosialisasia n dalam

proposal skripsi ini

mensoisalisasik an cara bekerja yang baik kepada para pedagang, hal itu dilakukan

(7)

moderately high.

Hierarchical regression analysis showed five significant predictor variables:

ecological support from mentor, help from the principal, assistance from other colleagues, workload, and having already completed teaching training.

Support from mentors and school colleagues had the greatest

agar adanya rasa kepuasan terhadap customer, dan agar menarik perhatian customer maka dari itu

dilakukan pesnsosialisasia n kepada par pedagang, mulai dari cara bekerja mereka, show case penampilan barang yang dijual serta lingkungan agar bersih sehingga menciptakan rasa aman dan nyaman

(8)

impact on new teachers’

assimilation.

3. Jungmi n Yoo, Minjeo ng Kim

The effects of online product presentati on on consumer responses:

A mental imagery perspectiv e

2014 Kuantitatif This study investigates the effects of online product presentation on consumer responses from a mental imagery perspective and the moderating effect of style of processing (SOP).

College women (N = 550) participated in an online experiment using a 2

Dalam jurnal ini melakukan presentasi yang memiliki obyek sebuah produk, dimana yang diukur atau diteliti yaitu pengaruh presentasi produk online pada tanggapan konsumen, dan citra pada produk tersebut.

Presentasi yang dilakukan yaitu presentasi pada produk online kepada

khalayak besar.

Sedangkan presentasi dalam proposal

(9)

(picture:

concrete consumption background vs. solid background)

× 2 (text:

concrete descriptions vs. no descriptions) between- subjects factorial design. The findings suggest that product presentation with a relevant consumption background is more effective in evoking mental imagery than one with a

skripsi ini presentasi terhadap pensosialisasia n yang

dilakukan kepada audiens tertentu yaitu para pedagang, dan citra yang didapatkan yaitu citra pada PD. Pasar Jaya serta pasar dan para

pedagangnya

(10)

solid white background.

Mental imagery increases consumers' behavioral intentions by eliciting a positive emotional response to product presentations . The

findings further show that

descriptions of

background in text interact with a picture of consumption background to stimulate mental imagery,

(11)

depending on SOP

(visualize vs.

verbalizer).

The results have practical implications for effective product presentations in online retailing.

4. Michae l S.

Wogalt er, Eric F.

Shaver, Michae l J.

Kalsher

Effect of presentati on modality in direct- to-

consumer (DTC) prescriptio n drug television advertise ments

2014 Kualitatif Direct-to- consumer (DTC) drug advertising markets medications requiring a physician's script to the general public. In television advertising, risk

disclosures (such as side

Presentasi dalam jurnal ini meneliti

pengaruh presentasi modalitas di (DTC) iklan televise obat resep, misalnya dalam iklan televise, pengungkapan sepeti efek samping pada obat tersebut apakah sudah

(12)

effects and contraindicat ions) may be communicate d in either auditory (voice) or visual (text) or both in the commercials.

This research examines presentation modality factors affecting the communicati on of the risk disclosures in DTC

prescription drug

television commercials.

The results showed that risk

disclosures presented

tersampaikan dengan baik melalui pendengaran atau visualnya.

Hasil penelitian dikatakan bahwa

pengungkapan risiko

ditampilkan secara visual atau secara visual dan audio, agar tersampaikan dengan baik dibandingkan dengan tidak ada

presentasinya.

Maka dari jurnal tersebut dapat di mengerti jika presentasi diperlukan agar penyampaian pesan dapat

(13)

either

visually only or both visually and auditorily increased recall and recognition compared to no

presentation.

Risk disclosures presented redundantly in both the visual and auditory modalities produced the highest recall and

recognition.

Visual only produced better performance than auditory only.

tersampaikan dengan baik.

Sedangkan dari proposal skripsi ini presentasi juga dilakukan agar

penyampaian pesan

tersampaikan dengan baik ke audiens

(14)

Simultaneous presentation of non-risk information together with risk

disclosures produced lower recall and

recognition compared to risk

disclosures alone—

without concurrent non-risk information.

Implications for the design of DTC prescription drug

television commercials and other audio-visual

(15)

presentations of risk information including on the Internet, are

discussed.

5. Paul M.

Leonar di, Jeffrey W.

Treem

Knowledg e

manageme nt

technolog y as a stage for strategic self- presentati on:

Implicatio

n for

knowledge sharing in organizati ons

2011 Kualitatif Artikel ini membahas mengapa seringkali sulit bagi organisasi untuk menangkap, menyimpan, dan diadakan secara

individual berbagi keahlian karyawan.

Menggambar pada studi konstruksi social keahlian dan teori sistem memori

Presentasi yang dilakukan dalam jurnal ini yaitu self- presentation tujuannya implikasi untuk berbagi

pengetahuan dalam organisasi.

Permasalahann

ya karna

seringkali sulit bagi organisasi untuk

menangkap, dan menyimpan yang intinya keahlian

karyawan, misalnya

(16)

transaktif dan presentasi diri dalam lingkungan komputer dimediasi, kami

berpendapat bahwa teknologi manajemen pengetahuan tidak wadah sederhana untuk

penyimpanan keahlian, tetapi bahwa mereka adalah tahap di mana individu memberlaku kan

pertunjukan keahlian.

Melalui studi longitudinal pekerjaan

mempresentasi kan diri dalam lingkungannya.

Sedangkan dalam proposal skripsi ini presentasi dilakukan dalam hal pensosialisan bagi para pedagang, Karena perlunya pengedukasian untuk para pedagang tersebut. Hal itu dilakukan agar para pedagan dapat

mengekspresik

an atau

menunjukkan keahliannya dengan lebih baik lagi, sehingga para pedagang juga

(17)

teknisi IT kami

menunjukkan bahwa

pengguna teknologi manajemen pengetahuan strategis kerajinan entri informasi sendiri untuk memposisika n diri sebagai ahli vis-à-vis rekan kerja mereka. Data menunjukkan bahwa

proaktif self- presentatiton yang

ditetapkan oleh beberapa actor dini dapat memacu

dapat

mempresentasi kan dirinya sendiri

dihadapan para customer

(18)

perilaku reaktif strategis presentasi diri di seluruh organisasi.

Kami mengeksplor asi implikasi dari temuan ini untuk teori sistem memori transaktif dan penggunaan teknologi dalam organisasi

2.2 Landasan Konseptual

2.2.1 Komunikasi Organisasi

Everet M. Rogers mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang ke pengkatan, dan pembagian tugas. Robert Bonington mendefinisikan organisasi sebagai sarana dimana manajemen mengoordinasikan sumber bahan dan sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang (Romli 2014: 1-2).

(19)

formal, perlu adanya pengembangan teori tentang birokrasi bila suatu studi atas sejumlah organisasi dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa organisasi- organisasi yang ditelaah tidak sepenuhnya terbirokratisasikan.

2.2.1.1 Teori Birokrasi Organisasi

Analisis atas karya Weber memberikan sepuluh ciri, yaitu (Pace dan Faules 2010, 7: 45-48):

1. Suatu organisasi terdiri dari hubungan-hubungan yang ditetapkan antara jabatan-jabatan. Blok-blok bangunan dasar dari organisasi formal adalah jabatan-jabatan. Jabatan-jabatan hampir selalu ditunjukan dengan gelar-gelar seperti penyelia, masinis, letnan, sersan, dosen, analisis senior, pelatih.

2. Tujuan atau rencana organisasi terbagi ke dalam tugas-tugas;

tugas-tugas organisasi disalurkan di antara berbagai jabatan sebagai kewajiban resmi. Ketentuan kewajiban dan tanggung jawab melekat pada jabatan. Deskripsi kerja (job description) merupakan salah satu metode untuk memenuhi karakteristik.

Suatu pembagian kerja yang jelas diantara jabatan-jabatan merupakan implikasi ciri ini yang memungkinkan terciptanya derajat spesialisasi dan keahlian yang tinggi di antara para pegawai.

3. Kewenangan untuk melaksanakan kewajiban diberikan kepada jabatan yakni satu-satunya saat bahwa seseorang diberi kewenangan untuk melakukan tugas-tugas jabatan adalah ketika ia secara sah menduduki jabatannya. Weber menyebutkan sebagai kewenangan legal. Kewenangan di sahkan oleh kepercayaan akan supremasi hukum. Dalam suatu sistem yang demikian, kepatuhan didasarkan pada seperangkat prinsip, bukan pada seseorang. Ciri ini meliputi keharusan

(20)

suatu contoh organisasi yang berdasarkan kewenangan legal.

4. Garis-garis kewenangan dan jabatan diatur menurut suatu tatanan hierarkis. Hierarkinya mengambil bentuk umum suatu piramida, yang menunjukkan setiap pegawai bertanggung jawab kepada atasannya atas keputusan-keputusan bawahannya serta keputusan-keputusannya sendiri. Ruang lingkup kewenangan atasan atas bawahan secara tegas dibatasi. Konsep-konsep komunikasi keatas (upward communication) dan komunikasi kebawah (downward communication) mencerminkan konsep kewenangan ini, dengan informasi mengalir ke bawah dari jabatan yang memiliki kewenangan lebih luas ke jabatan yang memiliki kewenangan lebih sempit.

5. Suatu sistem aturan dan regulasi yang umum tetapi tegas, yang ditetapkan secara formal, mengatur tindakan-tindakan dan fungsi-fungsi jabatan dalam organisasi. Banyak usaha administrator dalam organisasi digunakan untuk menerapkan regulasi umum tersebut kepada kasus-kasus tertentu.

6. Prosedur dalam organisasi bersifat formal dan impersonal yakni, peraturan-peraturan organisasi berlaku bagi setiap orang. Pejabat diharapkan memiliki orientasi yang impersonal dalam hubungan mereka dengan langganan dan pejabat lainnya. Mereka harus mengabaikan pertimbangan pribadi dan tidak mudah terpengaruh. Prosedur yang impersonal ini dirancang untuk menjaga perasaan pejabat agar penilaian rasionalnya tidak menyimpang dalam menjalankan kewajibannya.

(21)

rasional dan energik; tetapi, bila anggota-anggota organisasi harus membuat keputusan rasional secara independen, pekerjaan mereka tidak akan terkoordinasi, menyebabkan kurangnya efisiensi dalam organisasi. Individu yang tidak menerima kewenangan atasan mereka, yang gagal melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepada mereka, dan yang menerapkan peraturan dengan sembarangan, bukanlah orang yang sedang mengejar tujuan organisasi yang konsisten dengan filsafat efisiensi; jadi, organisasi membutuhkan suatu program disiplin untuk menjamin kerja sama dan efisiensi.

8. Anggota organisasi harus memisahkan kehidupan pribadi dan kehidupan organisasi. Keluarga anggota organisasi, misalnya, tidak dibolehkan menghubungi pegawai selama jam kerja.

Sebagian organisasi banyak berkorban untuk memperhatikan kehidupan pribadi pegawai agar pegawai secara penuh memusatkan perhatian pada pekerjaan mereka masing-masing.

9. Pegawai dipilih untuk bekerja dalam organisasi berdasarkan kualifikasi teknis, alih-alih koneksi politis, koneksi keluarga, atau koneksi lainnya.

10. Meskipun pekerjaan dalam birokrasi berdasarkan kecakapan teknis, kenaikan jabatan dilakukan berdasarkan senioritas dan prestasi kerja. Pekerjaan dalam organisasi merupakan karir seumur hidup, memberikan keamanan dalam jabatan.

Ciri-ciri ini menghasilkan pengambilan keputusan yang rasional. Ahli-ahli berpengalaman adalah orang-orang yang paling cakap untuk membuat keputusan-keputusan teknis. Kinerja berdisiplin yang diatur dengan aturan-aturan, regulasi dan kebijakan-kebijakan

(22)

sangat besar pada bagaimana manusia bertindak secara rasional untuk mencapai tujuannya (Morissan 2009: 27).

Weber mendefinisikan organisasi sebagai, “A system of purposeful, interpersonal activity designed to coordinate individual task” (suatu sistem kegiatan interpersonal bertujuan yang dirancang untuk mengkoordinasikan tugas individu). Perbedaan penting antara organisasi dan kelompok terletak pada adanya birokrasi. Organisasi memiliki sistem yang mengatur dirinya, yaitu birokrasi, namun tidak demikian halnya dengan kelompok biasa yang bukan organisasi.

Birokrasi juga dinilai berhasil memperkenalkan konsep- konsep, seperti keadilan dan kesempatan yang sama sehingga memberikan efek mendalam kepada struktur sosial di banyak negara.

Weber memandang birokrasi sebagai produk rasional sebagai hasil rekayasa sosial (social engineering), sebagaimana kemunculan mesin sebagai hasil revolusi industri. Weber menulis:

‘The decisive reason for the advance of bureaucratic organization has always been its purely technical superiority over any former organization.

The fully developed bureaucratic mechanism compares with other organizations exactly as does the machine with non-mechanical modes of production.’

(alasan penting bagi perlunya memajukan organisasi birokrasi adalah [karena] superioritas teknis yang dimilikinya dibandingkan dengan organisasi yang ada sebelumnya. Mekanisme birokratis yang dikembangkan sepenuhnya ini, jika dibandingkan dengan organisasi lainnya, adalah seperti membandingkan antara mesin dengan bentuk-bentuk produksi non-mekanis lainnya).

Bagi Weber, istilah ‘birokrasi’ tidak dapat dipisahkan dengan istilah ‘rasionalitas’ karena menggunakan pemikiran rasional dalam mengembangkan organisasi sehingga gagasan Weber ini seringkali disebut dengan istilah ‘birokrasi rasionalis’. Namun, faktor apa yang harus dimiliki untuk mewujudkan birokrasi rasional. Sebagaimana

(23)

otoritas atau kewenangan (authority), (2) spesialisasi (specialization), dan (3) peraturan (regulasi) (Littlejohn dan Foss dalam buku Teori Komunikasi Organisasi Morissan 2009: 29).

1. Otoritas

Otoritas (authority) atau kewenangan biasanya muncul bersama-sama dengan kekuasaan, tetapi pada organisasi, otoritas haruslah sah atau legitimate, yang berarti pemegang otoritas telah diberikan izin secara formal (authorized formally) oleh organisasi. Efektivitas organisasi bergantung pada seberapa besar manajemen menerima “kekuasaan sah”

(legitimate power) dari organisasi.

Organisasi dibangun sebagai suatu sistem rasional melalui kekuatan aturan yang menjadikan organisasi menjadi semacam kewenangan, atau menurut Weber, otoritas legal rasional (rational-legal authority). Menurut Weber, suatu prinsip dalam birokrasi adalah bahwa para manajer atau administrator harus ditunjuk berdasarkan kualifikasinya, walaupun ketentuan ini tidak berlaku umum.

Menurut Weber, cara terbaik untuk mengelola kewenangan legal rasional adalah melalui hierarki (hierarchy).

Dengan kata lain, atasan memiliki atasan lagi, dan atasan dengan kedudukan lebih tinggi memiliki atasan yang lebih tinggi lagi kedudukannya, begitu seterusnya. Hierarki ini secara hati-hati dan cermat diatur melalui aturan-aturan dalam organisasi. Setiap lapis manajemen memiliki kewenangan sah mereka masing-masing, dan hanya pemimpin tertinggi organisasi yang absolute jarang sekali ditunjuk atas dasar kecakapan, tetapi lebih sering dipilih atau bahkan mewarisi suatu kedudukan atau jabatan. Misalnya, sebagai suatu organisasi, negara Indonesia dipimpin oleh seorang presiden

(24)

perusahaan memilih dewan direksi yang terdiri atas direktur utama dan pada direktur. Pada perusahaan milik keluarga, pimpinan perusahaan mendapatkan kedudukannya karena keturunan, ia menerima warisan jabatan dari orang tuanya yang menjadi pimpinan sebelumnya, namun para manajer yang membantu biasanya terdiri atas orang-orang yang ditunjuk atau dipilih untuk melaksanakan perintah pimpinan.

Menurut Weber, suatu prinsip terkait dengan kewenangan birokrasi adalah bahwa karyawan perusahaan memiliki kedudukan terpisah dari pemilik. Karyawan tidak dapat memiliki perusahaan karena hal itu akan mengganggu aliran kewenangan yang sudah sah. Namun, prinsip ini adalah salah satu aspek organisasi yang telah berubah sejak masa Weber. Dewasa ini, peraturan suatu negara membuka peluang bagi karyawan untuk dapat memiliki saham perusahaan melalui program yang disebut stock plan yang berarti karyawan dapat memiliki sebagian perusahaan bahkan, bentuk kepemilikan yang lebih langsung juga dimungkinkan dimana persatuan karyawan suatu perusahaan membeli mayoritas saham perusahaan dimana mereka bekerja (morissan 2009:

29-30).

2. Spesialisasi

Prinsip komunikasi kedua adalah spesialisasi, yang berarti sejumlah individu dibagi menurut pembagian pekerjaan, dan mereka mengetahui pekerjaan mereka masing- masing dalam organisasinya. Peningkatan atau perluasan posisi atau jabatan dan uraian pekerjaan (job description).

Weber mengatakan bahwa spesialisasi adalah hal penting bagi birokrasi yang rasional dan garis batas yang jelas dan tegas yang memisahkan satu fungsi bagian dengan bagian

(25)

peraturan. Apa yang membuat koordinasi organisasi dimungkinkan adalah karena adanya pelaksanaan dari seperangkat aturan bersama yang mengatur perilaku setiap orang. Menurut weber, aturan organisasi haruslah rasional, yang berarti bahwa aturan dirancang untuk mencapai tujuan organisasi, dan supaya organisasi dapat mengikuti segala hal yang terjadi, maka setiap kegiatan operasional organisasi perlu dicatat, dan catatan perlu dipelihara secara hati-hati dan cermat agar aturan dapat di evaluasi.

Selain ketiga faktor tersebut diatas, weber juga menambahkan beberapa faktor lainnya yang pada dasarnya merupakan tambahan penjelasan terhadap ketiga faktor yang telah dikemukakan tersebut. Weber beragumentasi bahwa birokrasi rasional hanya dapat dijalankan dengan menempatkan manajer, yaitu orang-orang yang terpilih dan terlatih di bidangnya masing-masing, pada seluruh tingkatan.

Sedangkan orang yang terpilih untuk menduduki posisi puncak adalah orang yang pernah menerima rotasi jabatan, pernah ditempatkan dan bekerja pada berbagai bagian organisasi yang berbeda agar ia mendapatkan pengalaman langsung menghadapi berbagai masalah yang harus dihadapi anak buahnya di masa depan.

Untuk memastikan bahwa manajemen dibentuk berdasarkan keahlian maka penunjukan atau penugasan serta promosi jabatan harus berdasarkan pada keunggulan atau kelebihan seseorang (merit system) dan bukan berdasarkan kesukaan semata (favoritism) dan mereka yang terpilih harus menjadikan pekerjaannya sebagai kerja dan karier utamanya.

Hal lain adalah ‘impersonalitas’ yang berarti tidak boleh memiliki ketidaksukaan atau sebaliknya kesenangan terhadap

(26)

Sebagaimana dikemukakan Weber, yaitu bahwa organisasi bersifat hierarkis dan berlapis-lapis, dikontrol berbagai aturan serta tidak sensitive terhadap berbagai kebutuhan dan perbedaan individu. Prinsip-prinsip yang mengatur sebagian besar organisasi, termasuk organisasi besar dan kompleks dewasa ini, masih tetap sama dengan pandangan Weber yang dikemukakanya satu abad yang lalu.

Dalam teorinya, Weber berupaya mengidentifikasi cara terbaik bagi organisasi dalam mengelola kompleksitas kerja sejumlah individu yang memiliki satu tujuan yang sama (morissan 2009: 29-30).

Birokrasi yang sering disebut dengan istilah ‘birokrasi rasionalis’ memiliki ketiga faktor tersebut dalam mewujudkan birokrasi rasional, namun di dalam PD. Pasar Jaya birokrasi rasional yang ada lebih tertuju kearah otoritas, dimana kekuatan aturan yang menjadikan organisasi menjadi semacam kewenangan.

Untuk mencapai tujuan organisasi, organisasi mengandalkan inovasi dan harus mampu menghasilkan informasi dari para anggotanya. Aliran informasi dapat membantu menentukan proses penyampaian pesan secara berkelanjutan, karena komunikasi akan terus berlanjut atau terjadi sepanjang waktu.

2.2.2 Sifat Aliran Informasi

Aliran informasi dalam suatu organisasi, sebenarnya adalah suatu proses dinamik; dalam proses inilah pesan-pesan secara tetap dan berkesinambungan diciptakan, ditampilkan dan diinterpretasikan. Proses ini berlangsung terus dan berubah secara konstan – artinya, komunikasi

(27)

170-171)

2.2.2.1 Penyebaran Pesan Secara Serentak

Sebagian besar dari komunikasi organisasi berlangsung dari orang ke orang atau hanya melibatkan sumber pesan dan penerima – yang menginterpretasikan pesan- sebagai tujuan akhir. Meskipun demikian, cukup sering seorang manajer menginginkan informasi disampaikan kepdala lebih dari satu orang, misalnya bila diperlukan perubahan jadwal kerja atau bila sebuah kelompok harus diberi penjelasan mengenai suatu prosedur baru. Proses ini disebut penyebaran pesan secara serentak.

Pemilihan teknik penyebaran yang berdasarkan pada waktu (tiba secara serentak) memerlukan pemikiran mengenai metode penyebaran yang sedikit berbeda dari yang biasa dikerjakan. Dipihak lain suatu pertemuan mungkin merupakan cara untuk menyampaikan informasi kepada setiap anggota organisasi pada saat yang sama;

tetapi seperti yang dapat diduga, tidak semua orang dapat hadir karena pertemuan tersebut tidak cocok dengan jadwal mereka, terutama bila lokasi pertemuan cukup jauh. Memo merupakan media tertulis sedangkan pertemuan adalah bentuk lisan, atau suatu media tatap- muka. (Pace dan Faules 2010, 7: 171-172).

2.2.2.2 Penyebaran Pesan Secara Berurutan

Penyebaran pesan berurutan memperlihatkan pola “siapa berbicara kepada siapa”. Penyebaran tersebut mempunyai suatu pola sebagai salah satu ciri terpentingnya. Bila pesan disebarkan secara berurutan, penyebaran informasi berlangsung dalam waktu yang tidak beraturan, jadi informasi tersebut tiba di tempat yang berbedan dan pada waktu yang berbeda pula. Individu cenderung menyadari adanya informasi pada waktu yang berlainan. Karena adanya perbedaan

(28)

orang yang harus diberi informasi cukup banyak, proses berurutan memerlukan waktu yang lebih lama lagi untuk menyampaikan informasi kepada mereka. Selain itu kebenaran atau kecermatan informasi akan terganggu sebagai akibat dari interpretasi dan reproduksi pesan yang berlangsung dalam penyampaian pesan secara berurutan. (Pace dan Faules 2010, 7: 172-173).

Aliran informasi yang terjadi di Perusahaan Daerah Pasar Jaya terjadi secara terus menerus dan penyebaran pesan dilakukan secara serentak, karena tujuan akhir dari penyebaran pesan yaitu untuk mengedukasi pemberdayaan pedagang.

Penyampaian pesan secara lisan dengan menggunakan penyebaran pesan secara serentak dalam komunikasi yaitu merupakan presentasi.

2.2.3 Presentasi

Presentasi merupakan kegiatan komunikasi, juga merupakan kegiatan komunikasi yang penyampaian pesannya dibantu dengan alat-alat bantu audio-visual seperti transparansi, overhead projector, LCD projector, video- projector, dan tv-projection. Pengertian presentasi secara umum dapat dinyatakan sebagai kegiatan komunikasi secara lisan kepada kelompok besar yang sifat interaksi antara khalayak dan pembicara berbeda dengan bentuk komunikasi lisan lainnya. Dalam kegiatan komunikasinya, umumnya dibantu dengan alat-alat audio-visual. Jenis-jenis presentasi itu adalah briefing, rapat orientasi, program pelatihan dan laporan penelitian (Iriantara, Subarna, Rochman, 2011, 5: 8.28).

2.2.3.1 Jenis-jenis Presentasi

Secara umum ada 3 tujuan presentasi, yakni untuk (Iriantara, Subarna, Rochman, 2011, 5: 8.29). :

(29)

b. Menginformasikan atau menganalisis bila bertujuan menginformasikan atau menganalisis situasi, maka secara umum kita dan khalayak akan berinteraksi.

c. Mempersuasi atau kolaborasi, interaksi ini terjadi jika kita bertujuan mempersuasi orang lain melakukan tindakan tertentu atau mengajak orang lain berkolaborasi untuk memecahkan masalah. Dalam hal ini umumnya harus terlebih dahulu menyampaikan data dan fakta untuk meningkatkan pemahaman khalayak atas permasalahan yang dibicarakan.

Setelah itu baru menyatakan argumentasi yang mendukung kesimpulan atau rekomendasi yang ditawarkan.

Tujuan kegiatan presentasi yang ada di PD. Pasar Jaya yaitu untuk mengedukasi para pedagang dengan cara pemberdayaan, jenis yang termasuk dalam kegiatan ini : (b) menginformasikan atau menganalisis, dan (c) mempersuasi atau kolaborasi.

Presentasi di maksudkan dengan adanya tujuan dari kegiatan presentasi tersebut, untuk menjalankan tujuan tersebut maka perlu melakukan analisa khalayak.

2.2.3.2 Persiapan Presentasi

Dalam perencanaan presentasi ini, hal-hal yang harus kita persiapkan adalah sebagai berikut (Iriantara, Subarna, Rochman, 2011, 5: 8.32). :

a. Pengembangan gagasan utama

Langkah pertama adalah merumuskan gagasan utama.

Gagasan utama ini menghubungkan pokok bahasan dan tujuan dengan kerangka pengalaman khalayak, seperti yang sering kita lihat dalam iklan-iklan yang menunjukan manfaat sebuah produk untuk konsumen.

(30)

kerangka hendaknya memperhitungkan pokok bahasan, tujuan, khalayak, dan waktu tersedia untuk presentasi.

Dalam melakukan presentasi ini, untuk lebih meningkatkan efektivitas komunikasi kita sudah lazim dipergunakan alat bantu audio-visual. Pentingnya menggunakan alat bantu audio-visual ini adalah untuk membantu baik pembicara maupun khalayak mengarahkan perhatian kepada hal-hal yang penting. Gagasan utama kita jadi lebih mudah diingat dan dimengerti oleh khalayak.

Pertama-tama kita melihat dua jenis alat bantu visual ini. Pertama visualisasi teks yang dibentuk dengan menggunakan kata-kata yang akan membantu khalayak mengikuti arus gagasan. Dengan visualisasi teks ini, kita menyajikan rangkuman pesan sehingga khalayak dapat melihat pikiran-pikiran yang disampaikan. Kedua visualisasi grafis yang memberikan penekanan terhadap fakta-fakta penting. Visualisasi ini membantu khalayak memahami data numeric dan jenis informasi lain yang sukar dipahami kalau dinyatakan secara lisan.

Penggunaan alat bantu visual tersebut dapat kontraproduktif. Karena itu, agar alat bantu tersebut membantu efektivitas komunikasi yang harus diperhatikan yaitu :

a. Pastikan semua khalayak dapat melihat dengan baik.

b. Berikan kesempatan kepada khalayak untuk membaca visualisasi itu sebelum memberikan uraian.

c. Batasi setiap alat bantu visual itu hanya untuk satu gagasan.

d. Jangan menyampaikan sesuatu yang bertentangan antara penjelasan lisan dengan visualisasi.

(31)

Medium yang digunakan untuk membantu presentasi:

a. Handout. Ketika melakukan presentasi mungkin akan membagikan lembaran kertas yang berisikan agenda, kerangka program, abstrak laporan, atau bahan pendukung seperti table dan grafik. Handout ini akan membantu khalayak memperhatikan pokok gagasan.

Namun dapat juga mengganggu karena khalayak lebih tertarik pada handout daripada uraian biasa.

b. Papan tulis. Untuk presentasi pada kelompok kecil, mungkin lebih memilih menggunakan papan tulis guna menggambarkan gagasan, karena medium ini langsung dapat digunakan, maka sifatnya amat fleksibel. Namun untuk situasi tertentu penggunaan papan tulis ini terkesan sangat informal.

c. Overhead projector (OHP). Alat bantu yang paling umum dipergunakan dalam presentasi bisnis adalah OHP ini. Karena alat ini dapat memproyeksikan

transparansi pada layar di tengah sinar yang benderang.

Transparansi ini dengan mudah dapat secara manual, fotokopi, atau menggunakan komputer. Kini, sudah biasa digunakan LCD projector dan mulai mengganti OHP dalam banyak kegiatan presentasi bisnis.

d. Slide. Isi slide dapat berupa teks grafis atau gambar atau juga menggabungkan ketiganya. Sayangnya slide hanya bisa diproyeksikan di ruang yang relatif gelap.

e. Alat bantu lain. Dalam presentasi teknis maupun ilmiah, sample produk atau model dapat dipergunakan

(32)

perhatian khalayak karena disajikan secara lebih hidup dan berwarna.

Secara umum penggunaan alat bantu audio-visual dapat memperlihatkan bagaimana sesuatu terlihat, bekerja atau berhubungan satu sama lain. Namun harus dingat bahwa alat bantu audio-visual tersebut bukan merupakan pengganti kata-kata lisan, melainkan alat bantu untuk menarik dan membangun minat, serta untuk menunjukan informasi yang penting.

Bila presentasi menggunakan alat bantu seperti OHP dan LCD projector, maka sangat penting untuk mempersiapkan materi yang akan ditayangkan. Materi yang akan ditayangkan tersebut adalah kalimat-kalimat inti yang ditulis dengan singkat. Tidak perlu memuat seluruh kalimat dalam lembar transparansi bila menggunakan OHP atau slide PowerPoint bila menggunakan LCD projector karena akan menyulitkan khalayak membacanya, melainkan hanya kata-kata kunci yang penting saja.

Persiapan presentasi mulai dari menyusun kerangka hingga persiapan alat bantu visual harus benar-benar di persiapkan dengan baik, setelah itu baru mulai memilih teknik metode presentasi, agar penyampaian pesan dapat tersampaikan dengan sesuai.

2.2.3.4 Metode Presentasi

Dalam teknik penyampaian ini bisa memilih salah satu dari empat metode penyampaian berikut ini (Iriantara, Subarna, Rochman, 2011, 5: 8.37). :

a. Memori. Jangan menghafal semua pesan yang akan dipresentasikan, karena akan sulit untuk mengingat semuanya.

Cukup meningat garis besarnya saja.

(33)

melihat khalayak, mengangkat tangan, atau mengeraskan dan melembutkan suara.

c. Berbicara dengan memegang catatan. Membuat catatan hal-hal yang penting, kemudian berbicara melalui catatan tersebut.

Ketika pendengar kelihatan bingung, maka dapat menjelaskan butir tersebut atau beralih ke pokok bahasan lain.

d. Berbicara impromtu. Bila diminta bicara secara mendadak, itulah impromptu. Dalam situasi seperti ini, pikirkanlah beberapa saat apa yang hendak akan dikatakan, tapi jangan tergoda untuk melantur.

Metode penyampaian di dalam presentasi PD. Pasar Jaya lebih masuk kedalam teknik penyampaian (c), karena komunikator memegang catatan yang akan di sampaikan ke khalayak.

Komunikator harus memiliki metode atau teknik penyampaian agar memahami apa yang harus dilakukan untuk menyampaikan pesan atau informasi dalam presentasi, dan setelah komunikator selesai menyampaikan pesan atau informasi maka akan masuk sesi tanya jawab, dan ada cara-cara dalam menjawab pertanyaan tersebut.

2.2.3.5 Menjawab Pertanyaan

Dalam presentasi tentu saja ada biasanya selalu disediakan sesi tanya jawab. Apalagi bila didalam presentasi diinginkan presentasi yang dibangun dengan semangat dialog dan interaktif. Berikut ini beberapa cara menjawab pertanyaan yang diajukan khalayak presentasi (Iriantara, Subarna, Rochman, 2011, 5: 8.38). :

a. Jawab pertanyaan dengan singkat dan sikap manis. Ketika menjawab pertanyaan fokuskan perhatian pada orang yang mengajukan pertanyaan dengan memperhatikan bahas tubuh

(34)

lain memahami pertanyaan yang diajukan.

b. Jangan biarkan khalayak memonopoli perhatian. Mungkin ada satu dua khalayak yang memonopoli sesi tanya jawab.

Cobalah memberi kesempatan kepada orang lain yang duduk di bagian lain ruangan presentasi.

c. Menjawab tanpa emosional pertanyaan keras. Kebanyakan orang mengajukan pertanyaan hanya untuk sekedar meminta penjelasan atau informasi tambahan. Biasanya kita akan menjawab pertanyaan seperti ini dengan ramah, namun ada juga khalayak yang bertanya dengan keras. Ketika ini terjadi tetaplah tenang. Tataplah mata penanya dan jawablah pertanyaan sebaik mungkin tanpa memperlihatkan perasaan.

Untuk memberikan presentasi, kredibilitas sebagai pembicara sangat penting, karena itu harus berupaya memaksimalkan kredibilitas tersebut. Kredibilitas dapat ditingkatkan dengan cara sebagai berikut:

a. Menunjukan kompetensi. Pendengar akan terpengaruh oleh orang yang dipercaya memiliki kualifikasi dalam bidang tertentu. Karena itu harus (a) memiliki pengetahuan mengenai pokok bahsan, (b) memperkenalkan kredensial seperti gelar akademik dan pengalaman professional, dan (c) memperlihatkan kemampuan.

b. Raih kepercayaan khalayak. Untuk ini harus bersikap jujur dan tidak memihak.

c. Menekankan kesamaan dengan khalayak.

d. Meningkatkan imbauan pada khalayak, dengan memperhatikan penampilan.

e. Memperlihatkan ketulusan.

(35)

b. Berbicara dengan jelas dan tegas, c. Jangan berbicara terlampau cepat,

d. Pastikan suara dapat didengar semua orang, e. Berbicara dengan gaya asli sendiri,

f. Berdiri tegak,

g. Gunakan gerak-gerik yang alami,

h. Jawab pertanyaan dengan penuh kesabaran, dan i. Jaga perasaan ketika menghadapi kritik.

Menjawab pertanyaan dalam sesi tanya jawab biasanya ada di akhir sesi, karena biasanya ditujukan agar presentasi dapat dibangun dengan semangat dialog dan interaktif, serta dapat terlihat mana khalayak yang aktif dan yang pasif. Selanjutnya kerangka pemikiran diperluka untuk mengetahui garis besar topik, teori, metode, dan interprestasi hasilnya.

2.3 Kerangka Pemikiran

Penerapan komunikasi organisasi melalui presentasi di bidang usaha bagian pemberdayaan

Penyampaian pesan secara serentak, birokrasi, presentasi

Presentasi yang ada di dalam PD. Pasar Jaya menggunakan cara penyampaian pesan secara serentak, dan hasil yang mungkin akan didapatkan yaitu pesan atau informasi akan diterima secara bersamaan oleh audience dengan baik

(36)

Gambar

Table 2.1 Penelitian Sebelumnya (State of the art)

Referensi

Dokumen terkait

Psoriasis pustulosa generalisata (von Zumbuch) adalah peradangan kulit yang khas, ditandai dengan erupsi pustula tersebar generalisata pada batang tubuh dan ekstremitas disertai

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah kesanggupan Pegawai Negeri Sipil untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan

Hasil penelitian 50 hasil dari 10 buah sampel citra dengan lima kali iterasi yaitu : iterasi 100, 200, 300, 400 dan 500 terlihat bahwa segmen yang dihasilkan dari

Kus (41 tahun) dengan keluhan tinnitus tanpa vertigo dan pendengaran menurun sejak empat hari sebelumnya, didiagnosis SNHL telinga kiri dengan PTA 93,75 dB

Perencanaan Pembangunan Nasional dan Departemen Dalam Negeri, bahwa transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh

Mengacu pada hasil pengamatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa waktu transaksi untuk sistem pembayaran tol elektronik berbasis RFID yang dihasilkan lebih kecil dari nominal

Sedangkan pada penelitian yang sedang penulis lakukan lebih menyoroti perawatan serta prosedur perawatan dan dampak-dampak yang terjadi jika pelaksanaan Saturday

Setelah menyimak penjelasan guru tentang tanggung jawab warga, siswa dapat mengumpulkan informasi tentang pelaksanaan pemilihan kepala desa di desanya.. Setelah