DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2016
Oleh :
FEBRIANA RAHMADANI 140100162
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
KARAKTERISTIK FLEBITIS PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2016
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh :
FEBRIANA RAHMADANI 140100162
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
ii
KATA PENGANTAR
Pertama saya ucapkan puji dan syukur ke kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul Karakteristik Flebitis pada Pasien Rawat Inap di RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2016 yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran.
Dalam menyelesaikan penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis menemukan banyak hambatan. Namun, berkat bantuan dari banyak pihak, penulis dapat menyelesaikan penulisan karya tulis ilmiah ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya dan penghargaan setinggi-tingginya kepada :
1. Dr. dr. Aldy Syafruddin Rambe, Sp. S (K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran USU
2. dr. Raka Jati Prasetya Sp.An selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing saya mengerjakan karya tulis ilmiah ini.
3. dr. Rini Savitri daulay, M.Ked.(Ped)., Sp.A dan dr. Rina Yunita, Sp.MK selaku Dosen Penguji yang telah memberikan banyak kritik dan saran membangun terhadap penelitian ini.
4. Kepada kedua orang tua saya, Junaidi, S.E dan Susilawati yang tidak pernah putus memberikan doa, perhatian, serta semangat kepada saya.
Juga saya ucapkan terima kasih kepada saudara saya, Ibilia Fitriani yang telah banyak memberikan bantuan dan dukungan.
5. Seluruh Pihak RSUP Haji Adam Malik Medan yang telah memberikan izin untuk penelitian ini.
6. Seluruh dosen pengajar Fakultas Kedokteran USU yang telah memberikan ilmu selama proses perkuliahan dan seluruh pegawai FK USU yang telah membantu agar skripsi ini dapat terselesaikan.
7. Sahabat-sahabat terdekat penulis Nanda Reza, Mitra Khairani, Inggrid Hanna, Maruli Liasna, Habibah, Cristya, Yohana, dan teman-teman yang selama ini telah bersama berbagi ilmu, membantu dalam kesulitan sehingga skripsi bisa selesai.
8. Semua pihak yang telah memberikan bantuan secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penelitian ini dan mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki kesalahan dan juga menambah ilmu pengetahuan yang membangun untuk penulisan karya tulis ilmiah nanti.
Medan, 8 Januari 2018 Penulis,
Febriana Rahmadani
iv
DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Persetujuan ... i
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iv
Daftar Gambar ... vi
Daftar Tabel ... vii
Daftar Singkatan ... viii
Abstrak ... ix
Abstract ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.3. 1 Tujuan Umum ... 3
1.3. 2 Tujuan Khusus ... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1 Terapi Intravena... ... 6
2.1.1 Definisi ... 6
2.1.2 Indikasi Pemberian Terapi Intravena ... 7
2.1.3 Pemilihan Perangkat Akses Vena ... 7
2.1.4 Ukuran Kateter Intravena ... 11
2.1.5 Prosedur Pemasangan Infus ... 12
2.1.6 Komplikasi Terapi Intravena ... 13
2.2 Flebitis ... 14
2.2.1 Definisi Flebitis ... 14
2.2.2 Faktor Risiko Flebitis ... 15
2.2.3 Klasifikasi Flebitis ... 19
2.2.4 Diagnosis Flebitis ... 21
2.2.5 Pengobatan Flebitis ... 24
2.2.6 Pencegahan Flebitis... 25
2.3 Kerangka Teori ... 26
2.4 Kerangka Konsep ... 27
BAB III METODE PENELITIAN ... 28
3.1. Rancangan Penelitian ... 28
3.2. Lokasi Penelitian ... 28
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 28
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 29
3.5 Alur Kerja ... 29
3.6 Metode Analisis Data ... 30
3.7 Definisi Operasional ... 30
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 34
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 43
5.1. Kesimpulan ... 43
5.2. Saran ... 44
DAFTAR PUSTAKA ... 45
LAMPIRAN ... 50
vi
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Gambaran Flebitis... 23 2.2 Bagan Kerangka Teori... 26 2.3 Bagan Kerangka Konsep... 27
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Jenis dan kegunaan dari perangkat akses vena... 10
2.2 Warna, ukuran kateter dan kecepatan alirannya... 12
2.3 Kategori IMT... 17
2.4 VIP Score menurut Andrew Jackson... 21
2.5 Skala flebitis menurut Infusion Nursing Standard 2011... 23
4.1 Distribusi Frekuensi Usia... 34
4.2 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin... 35
4.3 Distribusi Frekuensi Status Gizi... 36
4.4 Distribusi Frekuensi Ukuran Kanula... 36
4.5 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Pemasangan... 37
4.6 Distribusi Frekuensi Ruang Pemasangan... 38
4.7 Distribusi Frekuensi Cairan Infus... 39
4.8 Distribusi Frekuensi Lokasi Pemasangan... 40
4.9 Distribusi Frekuensi Penyakit... 41
viii
DAFTAR SINGKATAN
BB : Berat Badan
BMI : Body Mass Index
CD : Cluster of Differentiation
cm : Centimeter
Depkes RI : Departemen Kesehatan Republik Indonesia IMT : Indeks Massa Tubuh
UGD : Unit Gawat Darurat
IV : Intravena
KAMC : King Abdulaziz Medical City
mm : Milimeter
pH : Potential of Hydrogen
PICC : Peripherally Inserted Central Catheter PIV : Peripheral Intravenous
PVC : Polyvinyl Chloride RCN : Royal College Nursing RSU : Rumah Sakit Umum
RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat SOP : Standard Operating Procedure
SPSS : Statistical Product and Service Solution
TB : Tinggi Badan
TBC : Tuberculosis
TPN : Total Parenteral Nutrition VIP : Visual Infusion Phlebitis
ABSTRAK
Latar Belakang. Terapi intravena adalah pemberian tindakan yang dilakukan dengan cara memasukkan cairan, elektrolit, obat-obatan intravena, darah, dan nutrisi ke dalam tubuh. Salah satu cara untuk mengakses vena ini adalah melalui kateter intravena perifer. Menjadi salah satu prosedur yang paling sering dilakukan, insersi kateter intravena perifer membuat pasien rentan terhadap komplikasi. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah flebitis. Flebitis ini dapat merugikan pasien yaitu dengan bertambahnya masa rawat yang mengakibatkan bertambah tingginya biaya perawatan. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik flebitis pada pasien rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016. Metode. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode cross sectional. Penelitian ini berlokasi di RSUP H.
Adam Malik Medan. Sampel penelitian adalah pasien flebitis pada pasien rawat inap tahun 2016.
Sampel dipilih dengan menggunakan metode total sampling dengan populasi 45 orang dan disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang diambil merupakan data sekunder yaitu berasal dari rekam medis. Hasil. Jumlah Kasus Flebitis sebanyak 45 orang. Pasien Flebitis terbanyak didapati pada usia > 45 tahun sebesar 66,67%, jenis kelamin perempuan sebesar 57,6%, status gizi tidak baik sebesar 57,8%, ukuran kanula 20G sebesar 64,2%, lama pemasangan >3 hari sebesar 80%, pemasangan di ruang IGD sebesar 51,1%, pemberian cairan infus isotonik sebesar 95,6%, pemasangan di ekstremitas atas sebesar 100%, dan flebitis banyak ditemukan pada penyakit DM dan efusi pleura sebesar 11,1%. Kesimpulan. Jumlah Kasus Flebitis di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2016 ditemukan sebanyak 45 orang. Pasien Flebitis terbanyak didapati pada usia > 45 tahun, berjenis kelamin perempuan, dengan status gizi tidak baik (gizi buruk dan gizi lebih). Selain itu, ditemukan juga kasus flebitis terbanyak pada pemasangan dengan ukuran kanula 20G, pemberian infus isotonik dan lama pemasangan lebih dari 3 hari. Pada pemasangan ekstremitas atas yang dilakukan di Ruang IGD dan dengan penyakit DM serta efusi pleura juga banyak menyebabkan flebitis.
Kata Kunci : Terapi Intravena, Flebitis, RSUP H. Adam Malik Medan
x
ABSTRACT
Background. Intravenous therapy is the administration of fluids, electrolytes, intravenous drugs, blood, and nutrients into the body. The vein can be accessed through a peripheral intravenous catheter. This is one of the procedures which commonly used, and the most common complication is phlebitis. Peripheral intravenous catheter insertion makes the patient susceptible to complications which will inflicte the patient with the more cost. Purpose. To determine the characteristics of phlebitis in inpatient at RSUP H. Adam Malik Medan in 2016. Method.
Descriptive study with cross sectional design. It location at RSUP H. Adam Malik Medan. The sample is inpatients with phlebitis in 2016. The sample was selected using total sampling method with a population of 45 patients and matched with inclusion and exclusion criteria.The data was taken from a secondary data of the medical record. Outcome. The patients were 45 people. The percentage of patient with phlebitis were aged > 45 years old were 66,67%. For the women were 57,6%, bad nutritions were 57,8%, canulla with size 20G were 64,2%, the duration of the infusions instaled >3 days were 80%, the instalation at the IGD were 51,1%, the isotonic solution given were 95,6%, the used of upper limb were 100%, and flebitis was found in the DM and pleural effusion patient were 11,1%. Conclusion. The Phlebitis causes in RSUP H. Adam Malik Medan in 2016 found in 45 patients. The commonly age of the phlebitis patients were > 45 years old. Woman with the status of bad nutritions (malnutrition and obesity). Then the phlebitis also found in cannula with size 20G, isotonic solution and >3 days instalation. The upper limb instalation at ER and DM and pleural effusion also causes phlebitis.
Keywords : Intravenous Therapy, Phlebitis, RSUP H. Adam Malik Medan
1.1. LATAR BELAKANG
Pasien yang dirawat inap umumnya mengalami penurunan imunitas karena sakit, oleh sebab itu pihak rumah sakit memberikan infus sebagai nutrisi bagi pasien (Jannah et al., 2016). Yaitu pada pasien yang mengalami perdarahan, muntah, diare, pasien yang tidak bisa mendapat asupan melalui rute oral, kekurangan elektrolit dan dehidrasi maka pasien ini perlu mendapatkan infus atau terapi intravena (Fulcher dan Frazier, 2007). Terapi intravena adalah pemberian tindakan yang dilakukan dengan cara memasukkan cairan, elektrolit, obat-obat intravena, darah, dan nutrisi parentral ke dalam tubuh (Rohani, 2016).
Terapi intravena merupakan prosedur yang paling sering dilakukan di rumah sakit di seluruh dunia (Rojas-sánchez et al., 2015). Salah satu cara akses vena adalah dengan kateter intravena perifer. Kateter intravena perifer ini sederhana, murah dan dapat digunakan dalam terapi intravena jangka pendek (Cheung et al., 2009).
Menjadi salah satu prosedur yang paling umum dilakukan pada pasien rawat inap, insersi kateter intravena perifer membuat pasien rentan terhadap komplikasi (White dan Balkhy, 2014). Komplikasi lokal pada terapi intravena perifer yang terjadi di sekitar tempat tusukan diklasifikasikan sebagai infiltrasi, ekstravasasi, trombosis, flebitis, tromboflebitis, hematoma dan infeksi lokal (Tannia et al., 2016). Flebitis merupakan komplikasi yang paling sering terjadi dalam terapi intravena pada pasien rawat inap.Flebitis didefinisikan sebagai peradangan dari vena superfisial yang disebabkan oleh iritasi pada lapisan pembuluh darah (Rojas- sánchez et al., 2015).
Penelitian yang dilakukan oleh Luis Carlos do Rego Furtado di Hospital do Divino Espírito Santo Portugal menunjukkan bahwa alasan terbanyak untuk melakukan pelepasan kateter perifer IV adalah Flebitis. Insidens flebitis didapatkan sebanyak 61,5% (Carlos dan Furtado, 2011). Hal yang sama juga terjadi pada penelitian yang dilakukan oleh Anabela Salgueiro-Oliveira di Central
2
Hospital Portugal. Alasan terbanyak untuk melakukan pelepasan kateter perifer IV adalah flebitis yaitu sebanyak 43,8% yaitu 138 dari 315 kasus (Salgueiro- Oliveira et al., 2012).
Penelitian yang dilakukan di King Abdulaziz Medical City (KAMC) Saudi Arabia menunjukkan bahwa Flebitis merupakan tipe komplikasi terbanyak dibandingkan dengan komplikasi lainnya yang disebabkan oleh terapi intravena.
Dari 190 pasien yang mengalami komplikasi kateter intravena perifer, 148 diantaranya adalah flebitis. Sedangkan sisanya merupakan komplikasi berupa rasa nyeri, kebocoran ditempat penusukan, ekstravasasi, oklusi dan terlepas (White dan Balkhy, 2014).
Penelitian di Dhulikhel Hospital Kathmandu University Teaching Hospital juga menghasilkan hasil yang sama yaitu insiden flebitis adalah 59,1% yakni dari 230 pasien yang dipasang infus, sebanyak 136 mengalami flebitis (Singh et al., 2008).
Flebitis berpotensial membahayakan karena dapat menyebabkan thrombus yang selanjutnya menjadi tromboflebitis, perjalanan penyakit ini biasanya jinak, tapi walaupun demikian jika thrombus terlepas kemudian diangkut dalam aliran darah dan masuk jantung maka dapat menimbulkan kejadian seperti katup bola yang bisa menyumbat atrioventrikuler secara mendadak dan menimbulkan kematian.Salah satu dampak nyata flebitis bagi pasien adalah bertambahnya masa rawat yang mengakibatkan bertambah tingginya biaya perawatan (Hirawan et al., 2014).
Penelitian di RSU Jend. A. Yani Metro tahun 2013 menemukan angka kejadian flebitis sebesar 32% (Hirawan et al., 2014). Angka ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara TK.II. H.S.
Samosoeri Mertojoso Surabaya yaitu sebesar 32,35% (Fitriyanti, 2015).
Penelitian di Rumah Sakit Nur Hidayah Bantul menunjukkan bahwa responden yang mengalami flebitis berjumlah 80 orang (70,8%) dan yang tidak mengalami flebitis berjumlah 33 orang (29,2%) (Rimba Putri, 2016a). Hal ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan di RSUD Dr. M. M Dunda Limboto. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa dari 84 responden, yang tidak
mengalami flebitis lebih banyak daripada yang mengalami flebitis yaitu sebesar 52,4% untuk yang tidak flebitis dan 47,6% untuk yang flebitis (Bouty et al., 2014).
Di Kota Medan sendiri penelitian tentang flebitis masih kurang. Penelitian yang di lakukan di Rumah Sakit Haji Medan menghasilkan data yaitu dari 100 pasien yang diobservasi di dapat ada 52 orang (52%) yang mengalami kejadian flebitis dan 48 orang (48%) yang tidak mengalami flebitis (Pasaribu, 2008).
Sejauh ini belum ditemukan penelitian dan informasi lengkap tentang kejadian flebitis di RSUP H. Adam Malik Medan. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini pada pasien dengan penyakit flebitis pada pasien rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2016.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Karakteristik Flebitis pada Pasien Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2016.
1.3. TUJUAN PENELITIAN 1.3.1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Karakteristik Flebitis pada Pasien Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2016.
1.3.2. Tujuan Khusus
Adapun yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
1. Mengetahui jumlah kejadian flebitis pada pasien rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016
2. Mengetahui karakteristik flebitis berdasarkan usia pada pasien rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016
3. Mengetahui karakteristik flebitis berdasarkan jenis kelamin pada pasien rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016
4
4. Mengetahui karakteristik flebitis berdasarkan status gizi pada pasien rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016
5. Mengetahui karakteristik flebitis berdasarkan ukuran kanula pada pasien rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016
6. Mengetahui karakteristik flebitis berdasarkan lama waktu pemasangan infus pada pasien rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016
7. Mengetahui karakteristik flebitis berdasarkan ruang pemasangan infus pada pasien rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016
8. Mengetahui karakteristik flebitis berdasarkan cairan infus pasien rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016
9. Mengetahui karakteristik flebitis berdasarkan lokasi pemasangan infus pada pasien rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016
10. Mengetahui karakteristik flebitis berdasarkan penyakit pada pasien rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016
1.4. MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk:
1. RSUP H. Adam Malik Medan
Memberikan informasi bagi pihak RSUP H. Adam Malik Medan untuk mengetahui karakteristik pasien flebitis pada pasien rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016
2. Peneliti
Memberikan informasi pada peneliti mengenai karakteristik pasien flebitis pada pasien rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016
Peneliti memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian
Peneliti dapat mengambangkan minat dan kemampuan membuat skripsi
3. Peneliti lain
Memberikan informasi dan dapat dijadikan sumber referensi bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang berhubungan dengan flebitis
4. Masyarakat
Masyarakat bisa mengenali apa itu penyakit Flebitis dan mengetahui bagaimana gejala umum penyakit ini
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. TERAPI INTRAVENA 2.1.1. Definisi
Pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia secara fisiologis. Air merupakan komponen kritis dalam tubuh karena fungsi sel bergantung pada lingkungan cair. Air menyusun 60% – 70%
dari seluruh berat badan manusia (Hirawan et al., 2014).
Terapi kateter intravena telah digunakan selama lebih dari 300 tahun, dan telah memainkan peran sentral dalam perawatan pasien sejak kateter IV plastik pertama diperkenalkan lebih dari 70 tahun yang lalu oleh Zimmerman, Meyers, dan Massa. Diperlukan untuk administrasi langsung ke aliran darah, penempatan kateter IV tetap merupakan prosedur invasif yang paling umum dilakukan di rumah sakit di seluruh dunia (Helm et al., 2015). Pasien yang dirawat inap umumnya mengalami penurunan imunitas karena sakit, oleh sebab itu pihak rumah sakit memberikan infus sebagai nutrisi bagi pasien (Jannah et al., 2016).
Terapi cairan parentral dibutuhkan apabila asupan nutrisi melalui oral tidak memadai (Hirawan et al., 2014).
Pemberian cairan parenteral diberikan melalui terapi intravena dengan pemasangan kateter intravena. Tindakan terapi intravena bertujuan untuk menyuplai cairan melalui vena ketika pasien tidak mampu mendapatkan makanan, cairan elektrolit lewat mulut, untuk menyediakan kebutuhan garam untuk menjaga keseimbangan cairan, untuk menyediakan kebutuhan gula sebagai bahan bakar untuk metabolisme, dan untuk menyediakan beberapa jenis vitamin yang mudah larut melalui intravena serta untuk menyediakan medium untuk pemberian obat secara intravena (Hirawan et al., 2014).
2.1.2. Indikasi Pemberian Terapi Intravena
Indikasi untuk menggunakan terapi IV terbagi dalam tiga kategori yaitu, terapi pemeliharaan, terapi penggantian dan terapi restoratif. Terapi pemeliharaan meliputi memberikan nutrisi yang diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari seperti air, elektrolit, dan nutrisi untuk pasien yang tidak bisa mendapat asupan melalui rute oral.
Terapi penggantian ditunjukkan ketika pasien telah mengalami defisit dalam asupan cairan dan makanan, biasanya selama 48 jam atau lebih. Muntah, diare, perdarahan, berkeringat banyak, dan paparan panas yang berlebihan dapat menyebabkan kehilangan cairan berlebihan dan dehidrasi serta berkurangnya elektrolit. Terapi restoratif merupakan pemulihan harian cairan dan elektrolit (Fulcher dan Frazier, 2007).
2.1.3. Pemilihan Perangkat Akses Vena
Akses vena adalah salah satu komponen paling dasar namun juga kritis pada perawatan pasien di rumah sakit. Pemilihan perangkat akses vena harus disesuaikan dengan kebutuhan setiap hari pasien, jenis, durasi, dan frekuensi infus (Cheung et al., 2009). Ada berbagai pilihan yang tersedia untuk akses vena.
Kateter IV yang ditempatkan di tangan, lengan atau kaki. Ini dikenal sebagai kateter perifer. Kateter IV yang ditempatkan dalam sirkulasi sentral, seperti vena jugularis internal atau vena subklavia, dikenal sebagai kateter vena sentral (Kantor, Gareth S, 2010). Tipe yang paling umum digunakan adalah kateter intravena perifer (Waitt et al., 2004). Berikut ini adalah perangkat akses vena yaitu:
Perangkat Perifer
a. Peripheral Intravenous (PIV)
Kateter intravena perifer merupakan kateter yang sederhana, murah dan dapat digunakan untuk terapi IV jangka pendek. Kateter ini mempunyai panjang kurang dari 7,5 cm. Kateter ini harus diganti secara berkala, karena dapat meningkatkan komplikasi dari infiltrasi dan flebitis seiring
8
dengan peningkatan waktu pemakaian (Scales, 2008; Cheung et al., 2009).
b. Midline Periferal Catheter
Midline Catheter dimasukkan ke vena antekubiti (atau vena pada lengan atas lainnya). Panjang kateter ini biasanya 20 cm dan ujungnya tidak mencapai ke vena sentral di toraks. Kateter jenis ini digunakan untuk akses selama 1 sampai 4 minggu, tapi tidak disarankan untuk administrasi obat yang sangat mengiritasi karena dapat membahayakan vena perifer, misalnya pada pemberian obat kemoterapi (Scales, 2008;
Cheung et al., 2009).
Perangkat Vena Sentral
Kateter sentral diletakkan pada vena di toraks. Indikasi pemasangan dari kateter sentral adalah: (Cheung et al., 2009)
1. Administrasi dari cairan IV, obat dan produk darah, baik dalam jumlah besar atau dalam jangka waktu yang lama
2. Administrasi dari obat yang membahayakan bagi vena perifer, contohnya obat kemoterapi
3. Akses jangka panjang ke sistem vena sentral untuk prosedur yang berulang, seperti pengambilan sampel darah
4. Kurang atau tidak bisa diaksesnya akses ke vena perifer
Jenis dari kateter vena sentral yaitu :
a. Peripherally Inserted Central Catheter (PICC)
PICC merupakan kateter yang dimasukkan melalui vena perifer dan ujungnya akan mencapai ke vena sentral di toraks. Biasanya kateter ini umum dimasukkan via vena basilic, brachial dan cephalic. Insersi kateter ini lebih mudah dan aman dibandingkan centrally inserted catheter, yaitu tanpa adanya risiko dari pneumothorax dan hemothorax (Scales, 2008;
Cheung et al., 2009).
b. Centrally Inserted Catheter
Centrally Inserted Catheter adalah kateter yang langsung dimasukkan melalui vena sentral di toraks. Untuk insersi sentral, vena pilihan meliputi vena jugular internal dan eksternal. Walaupun akses ke vena subklavia secara teknis mudah yaitu dengan menggunakan tonjolan tulang tanpa adanya panduan ultrasound, umumnya tidak disarankan untuk menempatkan perangkat akses vena langsung ke vena ini karena insiden trombosis vena yang relatif tinggi dan peningkatan risiko kerusakan kateter atau fraktur yang terkait. 3 jenis utama kateter yang dimasukkan secara sentral adalah sebagai berikut: (Cheung et al., 2009).
Non-tunneled Central Catheter
Pada non-tunneled central catheter tempat tusukan kulit dan tempat tusukan vena berdekatan. Jangka waktu penggunaan kateter ini adalah 5 sampai 7 hari dan dapat menyediakan akses ke 5 lumen untuk akses terpisah. Kateter ini dikaitkan dengan risiko infeksi yang lebih tinggi dan tidak tepat untuk pasien yang membutuhkan akses vena sentral lebih dari 2 minggu (Scales, 2008; Cheung et al., 2009).
Tunneled Central Catheter
Pada Tunneled central catheter tempat tusukan kulit biasanya berjarak beberapa sentimeter dari tempat tusukan vena, yang mana akan menurunkan risiko bakteri untuk masuk ke darah dari tempat tusukan di kulit. Tunneled central catheters layak untuk penggunaan jangka waktu yang lama dan mengurangi kejadian infeksi dengan meningkatkan jarak antara tempat masuk di kulit dan vena (Scales, 2008; Cheung et al., 2009).
Implantable Port
Implantable Port adalah reservoir yang ditanam di bawah kulit, biasanya di dinding dada, dan diikat ke otot untuk menstabilkannya.
10
Untuk memasukkan obat / cairan, reservoir diraba dan jarum 'Huber' digunakan untuk menusuk membran di atas reservoir. Kelebihannya antara lain kurangnya campur tangan dengan aktivitas sehari-hari dan kurangnya risiko infeksi. Kelemahannya meliputi kebutuhan penusukan jarum suntik, ketidaknyamanan, dan risiko ekstravasasi jika ujung jarum tidak ditusukkan dengan benar ke dalam reservoir (Scales, 2008; Cheung et al., 2009).
Tabel 2.1 Jenis dan kegunaan dari perangkat akses vena (Cheung et al., 2009).
Tipe perangkat Saat untuk digunakan Saat untuk dihindari Perangkat perifer
PIV Untuk akses jangka pendek (sampai 96 jam)
Ketika akses dibutuhkan selama lebih dari beberapa hari
Midline catheter Jarang digunakan karena semakin populernya PICC
Ketika akses dibutuhkan selama lebih dari 1 bulan atau ketika vesicant
medication terlibat Perangkat vena sentral
PICC Untuk akses jangka sedang (sampai 6 bulan) dan terutama untuk antibiotik, TPN,
kemoterapi, tranfusi, dan pengambilan sampel darah yang sering
Ketika akses jangka panjang (atau
permanen) diperlukan.
Tidak dianjurkan untuk dialisis pasien.
Non-tunneled central catheter
Untuk akses jangka pendek ketika PIV tidak cocok dan terutama untuk resusitasi dan pemantauan tekanan vena sentral
Ketika akses dibutuhkan selama lebih dari beberapa hari
Tipe perangkat Saat untuk digunakan Saat untuk dihindari
Tunneled central catheter
Untuk akses jangka panjang yang sering, dan terutama untuk TPN, tranfusi, dan pengambilan sampel darah yang sering
Dapat digunakan ketika PICC dikontraindikasikan atau tidak memungkinkan
Ketika akses dari durasi yang lebih singkat diperlukan
(pertimbangakan implantable port jika akses akan kurang sering)
Implantable port Untuk akses yang jarang secara jangka panjang atau ketika kekhawatiran gaya hidup membuat pilihan lain kurang menarik
Ketika akses vena secara teratur dan sering diperlukan
2.1.4. Ukuran Kateter Intravena
Umumnya, ukuran terkecil kanula harus dipilih untuk meresepkan terapi.
Ukuran kanula yang kecil biasanya menyediakan laju alir yang cukup tinggi untuk memberikan sebagian besar terapi, serta mengurangi risiko flebitis mekanis dan kimiawi (Scales, 2005).
Rekomendasi untuk pemilihan ukuran kanula adalah: (Ogston-Tuck, 2012)
Ukuran 14 direkomendasikan pada saat situasi emergensi
Ukuran 16 – 18 diindikasikan untuk pemberian cairan dalam jumlah yang besar
Ukuran 18 – 20 direkomendasikan untuk cairan atau obat-obatan yang bersifat iritan atau vesicant solution
Ukuran direkomendasikan juga untuk vesicant dan meminimalkan risiko terjadinya flebitis
Ukuran 18 atau 20 – 22 direkomendasikan untuk administrasi produk darah.
12
Tabel 2.2 Warna, ukuran kateter dan kecepatan alirannya (Scales, 2005)
Gauge size
Catheter length (mm)
Catheter colour
Flow rate ml/min (H2O)
Flow rate l/hr (H2O)
Flow rate ml/min (blood)
22 22 Biru 42 2.5 24
20 32 Pink 67 4.9 41
18 32 Hijau 103 6.2 75
18 45 Hijau 103 6.2 63
16 45 Abu-abu 236 14.2 167
14 45 Oren 270 16.2 215
2.1.5. Prosedur Pemasangan Infus
Pelaksanaan dalam pemasangan infus harus dilaksanakan sebaik-baiknya untuk menghindari terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan. Berikut adalah prosedur dalam pemasangan infus: (Smith dan Johnson, 2010)
1. Persiapkan alat dan bahan seperti tiga buah potongan plester sepanjang 2,5 cm. Belah dua salah satu plester sampai ke bagian tengah, jarum atau kateter, kapas alkohol atau antiseptik
2. Sambungkan cairan infus dengan infus set terlebih dahulu dan periksa tidak ada udara pada infus set
3. Pasang torniket pada daerah proksimal vena yang akan di kateterisasi 60-80 mmHg
4. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan
5. Pilih vena yang akan dilakukan pemasangan, untuk anak-anak lakukan teknik transiluminasi untuk mendapatkan vena
6. Dengan kapas alkohol atau antiseptik yang tepat, bersihkan tempat insersi dan biarkan hingga mengering
7. Dorong pasien untuk tarik nafas dalam agar pasien relaksasi dan nyaman 8. Masukkan kateter ke vena sejajar dengan bagian terlurus vena, tusuk kulit
dengan sudut 30-45 derajat, setelah keluar darah pada ujung kateter, tarik sedikit jarum pada kateter, dorong kateter sampai ujung, dan ditekan ujung kateter dengan 1 jari
9. Lepaskan torniket
10. Sambungkan kateter dengan cairan infus 11. Lakukan fiksasi dengan plester atau ikat pita
12. Lakukan monitoring kelancaran infus (tetesan, bengkak atau tidaknya tempat insersi)
13. Mencatat waktu dan pemasangan ukuran kateter 2.1.6. Komplikasi Terapi Intravena
Pemberian terapi intravena diperlukan secara terus menerus dan dalam jangka waktu tertentu sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi. Ada sejumlah komplikasi yang dapat timbul ketika kateter intravena digunakan.
Beberapa bersifat ringan, namun beberapa dapat menyebabkan morbiditas dan kematian. Beberapa komplikasi yang terkait infus yaitu:(Dougherty et al., 2010;
Kantor, Gareth S, 2010; Hills, 2013)
1. Flebitis
Flebitis adalah peradangan pada tunika intima vena. Terdapat 3 tipe dari flebitis yaitu mekanik, kimia dan bakterial
2. Infiltrasi
Infiltrasi adalah administrasi secara tidak sengaja non-vesicant medication atau larutan ke dalam jaringan sekitarnya bukan ke jalur pembuluh darah.
3. Ekstravasasi
Ekstravasasi adalah administrasi secara tidak sengaja vesicant medication atau larutan ke dalam jaringan sekitarnya bukan ke jalur pembuluh darah.
Dapat terjadi kemungkinan nekrosis jaringan.
4. Hematoma
Hematoma didefinisikan sebagai perdarahan yang tidak terkontrol di lokasi tusuk, biasanya membuat pembengkakan yang menyakitkan dan keras yang penuh dengan darah
5. Pneumothorax dan Haemothorax 6. Cardiac Tamponade
14
7. Oklusi
Pembentukan fibrin di ujung kanula atau sekitar ujung kanula. Dapat disebabkan oleh penekukan dari kanula dan aliran atau arus yang terganggu.
8. Emboli udara
Emboli udara terjadi sebagai akibat dari volume udara yang masuk pembuluh darah pasien melalui IV set.
9. Kelebihan cairan
Didefinisikan sebagai tekanan vena yang meningkat karena terjadi kelebihan cairan di sirkulasi. Disebabkan oleh volume cairan yang besar yang dimasukkan terlalu cepat.
10. Thrombosis
Trombosis adalah pembentukan bekuan darah di dalam pembuluh darah 2.2. FLEBITIS
2.2.1. Definisi Flebitis
Flebitis didefinisikan sebagai peradangan dari vena superfisial yang disebabkan oleh iritasi pada lapisan pembuluh darah (Rojas-sánchez et al., 2015).
Peradangan didapatkan dari mekanisme iritasi yang terjadi pada Endotelium Tunika Intima Vena dan perlekatan Trombosit pada daerah tersebut. Flebitis sering dilaporkan sebagai komplikasi pemberian terapi infus yang disebabkan oleh karena cairan dan obat-obatan yang diberikan melalui infus, karena faktor fisik dan biologik. Tanda dan gejala yang sering di jumpai adalah nyeri disekitar area insersi, kemerahan, bengkak, dan bila berlanjut dapat menyebabkan luka nekrotik (Rohani, 2016).
Flebitis berpotensial membahayakan karena dapat menyebabkan thrombus yang selanjutnya menjadi tromboflebitis, perjalanan penyakit ini biasanya jinak, tapi walaupun demikian jika thrombus terlepas kemudian diangkut dalam aliran darah dan masuk jantung maka dapat menimbulkan kejadian seperti katup bola yang bisa menyumbat atrioventrikuler secara mendadak dan menimbulkan kematian (Hirawan et al., 2014).
2.2.2. Faktor Risiko Flebitis
Faktor risiko flebitis terkait infus perifer yaitu: (Dychter et al., 2012) a. Faktor risiko spesifik pasien
Jenis kelamin
Pasien berjenis kelamin wanita lebih banyak terkena flebitis daripada pria. Wanita lebih berisiko terjadi flebitis dikarenakan hormon yang dilepaskan pada wanita dapat mempengaruhi elastisitas dinding pembuluh darah (Fitria et al., 2008). Wanita yang menggunakan kontrasepsi kombinasi (mengandung estrogen dan progesteron, oral atau suntikan) juga mudah mengalami flebitis (Fitriyanti, 2015).
Kualitas vena perifer yang kurang
Kualitas vena perifer yang kurang bagus dapat menyebabkan terjadinya flebitis. Misalnya kondisi vena yang rapuh dan tidak elastis pada pasien usia lanjut (Fitriyanti, 2015).
Usia
Usia yang semakin meningkat akan mengalami penurunan sistem imunitas tubuh sehingga risiko untuk terserang penyakit menjadi lebih tinggi. Pada usia yang sudah lanjut terjadi perubahan-perubahan dalam sistem kekebalan tubuh, terutama pada sel T-limfosit sebagai hasil dari penuaan. Pada usia lanjut (>60 tahun) vena juga akan menjadi rapuh, tidak elastis, dan mudah hilang atau kolaps yang akan menyebabkan terjadinya flebitis (Prastika et al., 2012; Rizky dan Supriyatiningsih, 2014; Fitriyanti, 2015).
Penyakit medis yang mendasari (diabetes, kanker, penyakit infeksius, imunodefisiensi)
Penyakit yang diderita pasien dapat mempengaruhi terjadinya flebitis misalnya pada pasien diabetes melitus yang mengalami aterosklerosis akan
16
mengakibatkan aliran darah ke perifer berkurang sehingga jika terdapat luka mudah mengalami infeksi (Fitriyanti, 2015).
Status Gizi
Flebitis cenderung terjadi pada pasien dengan status gizi kurang.
Setelah antigen masuk ke dalam tubuh, antigen tersebut bergerak ke darah atau limfe dan memulai respon imunitas seluler yang berkaitan dengan sel CD4 dan CD8. Sel CD4 dan CD8 akan berkurang pada orang yang kekurangan gizi. Gizi yang kurang akan mengakibatkan daya tahan tubuh menurun sehingga mudah terkena penyakit infeksi. Pasien dengan gizi dibawah batas normal akan kekurangan energi dan berkaitan dengan kelemahan dalam fungsi fagositosit, sekresi antibodi dan produksi sitokin.
Selain itu gizi yang berlebih juga menurunkan imunitas (Prastika et al., 2012).
Perhitungan status gizi pada orang dewasa dapat menggunakan rumus IMT (Indeks Massa Tubuh) atau BMI (Body Mass Index). Untuk mengetahui nilai IMT, dapat dihitung dengan rumus berikut: (Depkes, 2011)
IMT =
Untuk orang Indonesia Standar IMT menggunakan standar Indonesia bukan Asia atau Internasional sebab untuk ukuran tubuh orang Indonesia memiliki perbedaan dengan orang Barat seperti pada tinggi badannya. Akhirnya diambil kesimpulan ambang batas IMT untuk Indonesia adalah seperti tabel di bawah ini: (Aprilia, 2014)
Tabel 2.3 Kategori IMT (Depkes, 2011; Aprilia, 2014)
Kategori Status Gizi IMT
Sangat Kurus Gizi Kurang < 17,0
Kurus Gizi Kurang 17,0 – 18,4
Normal Gizi Baik 18,5 – 25,0
Gemuk Gizi Lebih 25,1 – 27,0
Sangat Gemuk Gizi Lebih > 27,0
b. Fakor risiko spesifik kateter
Durasi pemasangan kateter
Lama pemasangan infus dapat mempengaruhi terjadinya infeksi salah satunya adalah flebitis, hal ini dikarenakan pada saat pasien terpasang infus berarti kita seperti memasukkan benda asing ke dalam tubuh pasien, semakin lama terpasang maka dapat menimbulkan infeksi. Karena pada saat terpasang infus akan menyebabkan trauma sehingga bakteri dapat dengan mudah masuk, terlebih saat teknik aseptik yang kurang saat perawatan dan pemasangan infus (Rimba Putri, 2016a). Pada saat ini aturan umum yang berlaku untuk terapi intravena dan perawatannya adalah penggantian kateter intravena setelah 72 jam atau 3 hari pemasangan (Hirawan et al., 2014).
Ukuran kateter
Ukuran kateter yang besar mempunyai risiko yang tinggi untuk menyebabkan flebitis. Ukuran kateter yang kecil mempunyai kemungkinan yang kecil untuk menyebabkan flebitis mekanis (iritasi pada dinding vena yang disebabkan oleh kanula) dan mempunyai kemungkinan yang kecil untuk menghalangi aliran darah di dalam vena. Aliran darah yang lancar membantu menyebarkan obat-obatan yang disuntikkan dan mengurangi risiko flebitis kimia (Scales, 2008).
18
Jenis kateter yang digunakan.
Kanula perifer modern biasanya terbuat dari bahan polyurethane.
Kanula yang lebih lama terbuat dari bahan polyvinyl chloride (PVC) atau teflon. Bahan pada kanula lama lebih kaku sedangkan bahan pada kanula modern lebih lembut dan tidak mudah terbelit. Hal ini membuat kerusakan pada intima pembuluh darah menjadi berkurang dan mengurangi insiden dari kegagalan kanula. Kateter dengan bahan teflon meninggikan risiko dari flebitis (Scales, 2005).
Lokasi insersi
Penempatan kateter pada area fleksi lebih sering menimbulkan kejadian flebitis, oleh karena pada saat ekstremitas digerakkan kateter yang terpasang ikut bergerak dan menyebabkan trauma pada dinding vena.
Penggunaan ukuran kateter yang besar pada vena yang kecil juga dapat mengiritasi dinding vena. Insersi kateter pada ekstremitas bawah juga lebih banyak menimbulkan flebitis (Fitriyanti, 2015).
c. Faktor risiko lainnya
Karakterisitik infus (pH yang rendah, osmolalitas yang tinggi, adanya mikropartikel)
Pada orang sehat konsentrasi plasma manusia adalah 285 mOsm/L (10 mOsm/kg H2O). Larutan sering dikategorikan sebagai larutan isotonik, hipotonik dan hipertonik, sesuai dengan osmolalitas total total larutan tersebut dibanding dengan osmolalitas plasma. Larutan isotonik adalah larutan yang memiliki osmolalitas total sebesar 280 – 310 mOsm/L, larutan yang memiliki osmolalitas kurang dari itu disebut hipotonik, sedangkan yang melebihi disebut larutan hipertonik. Dinding tunika intima akan mengalami trauma pada pemberian larutan hipertonik yang mempunyai osmolalitas lebih dari 600 mOsm/L. Cairan isotonik juga dapat menjadi lebih hipertonik apabila ditambah dengan obat, elektrolit maupun nutrisi. Cairan hipertonik dapat menyebabkan flebitis dikarenakan
larutan ini menarik air dari kompartemen intraseluler ke ekstraseluler dan menyebabkan sel-sel mengkerut, dan ruptur sehingga dapat meninggikan risiko terkena flebitis (Rizky dan Supriyatiningsih, 2014).
Orang yang melakukan pemasangan kateter kurang berpengalaman
Kurangnya pengalaman orang yang memasang kateter atau pemasangan yang tidak dilakukan sesuai SOP dapat meningkatkan risiko terjadinya flebitis. Penelitian membuktikan bahwa semakin baik perawat melaksanakan persiapan pemasangan infus dan teknik pemasangan infus sesuai SOP semakin kecil kejadian flebitis pada pasien. Sikap perawat yang hati-hati, teliti dan tidak ragu-ragu juga dapat menurunkan kejadian flebitis (Pasaribu, 2008).
Insersi kateter yang dilakukan di ruang emergensi
Insersi kateter yang dilakukan di ruang emergensi seringkali dalam keadaan yang gawat darurat sehingga pada prosedur pemasangannya sering tidak sesuai dengan SOP dan juga tanpa memperhatikan teknik asepsis yang baik sehingga dapat mengakibatkan masuknya bakteri dan menimbulkan flebitis (Fitriyanti, 2015).
2.2.3. Klasifikasi Flebitis
Klasifikasi Flebitis berdasarkan penyebab menurut Infusion Nurses Society adalah sebagai berikut: (Higginson dan Parry, 2011; Hills, 2013; CMO dan EDON, 2015; Helm et al., 2015; Rohani, 2016)
a. Flebitis Mekanis
Flebitis mekanis terjadi ketika pembuluh darah mengalami trauma oleh karena kontak fisik dengan bahan organik atau anorganik, atau komposisi bahan kanula yang digunakan selama pemberian cairan IV (CMO and EDON, 2015).Penyebabnya bisa dikarenakan beberapa hal yaitu:
20
Kanula terlalu besar untuk vena
Kanula terletak dekat dengan persendian, sehingga kanula dapat bergeser bolak-balik atau memutar di dalam vena, sehingga terjadi iritasi dinding vena
Dressing dan fiksasi yang kurang kuat sehingga kanula gampang bergeser dan menimbulkan trauma dinding vena
Komposisi bahan kanula yang digunakan. Kanula dengan bahan Teflon lebih banyak menimbulkan flebitis daripada kanula dengan bahan Vialon
b. Flebitis Kimia
Flebitis kimia adalah iritasi dinding vena yang disebabkan oleh cairan infus. Flebitis kimia lebih cenderung terjadi pada obat iritan atau vesicant drugs. Obat iritan adalah obat yang mempunyai pH yang ekstrim (<5 atau >9) atau osmolaritas yang ekstrim (>600mOsm/L). Vesicant drugs adalah obat yang dapat menyebabkan melepuh dan nekrosis jika obat tersebut keluar dari pembuluh darah ke jaringan (Scales, 2008). Beberapa penyebabnya yaitu :
Larutan hipertonik >375 mOsm/L
Obat-obatan dan larutan dengan pH <5 atau >9. Antibiotik dilaporkan dapat meningkatkan kejadian flebitis kimia karena pH-nya yang rendah
Obat-obatan dan larutan yang diklasifikasikan sebagai iritan atau vesicant.
Seperti azithromycin, vancomycin, potassium, diazepam, dll.
Larutan dengan jumlah partikel yang banyak. Partikel obat yang tidak larut secara sempurna selama pencampuran obat dapat berkontribusi terjadinya flebitis
Kecepatan dan metode pemberian infus. Vena di daerah distal dan ukuran kateter intravena yang tidak sesuai, serta aliran yang terlalu cepat berisiko terhadap terjadinya flebitis. Pemilihan penusukan kateter intravena di daerah proksmial sangat dianjurkan untuk larutan infus dengan osmolaritas
>500 mOsm/L. Hindari penusukan di daerah meta karpal (punggung tangan)
c. Flebitis Bakterial
Flebitis bakterial adalah flebitis yang berkembang sebagai akibat langsung dari sepsis atau infeksi. Hal ini sering terjadi karena migrasi bakteri yang ada di kulit ke tempat penusukan kanula, yang akhirnya akan berkolonisasi (Carlos dan Furtado, 2011). Hal-hal yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya flebitis bakterial adalah:
Teknik cuci tangan yang tidak benar.
Prosedur / tindakan pemasangan infus tidak aseptik
Memalpasi kembali tempat penusukan setelah melakukan tindakan aseptik pada kulit
Terkontaminasinya peralatan IV kateter yang digunakan
Dressing yang tidak steril
Pemasangan kateter intravena terlalu lama (lebih dari 96 jam)
2.2.4. Diagnosis Flebitis
Flebitis dapat didiagnosa atau dinilai melalui pengamatan visual. Terdapat dua pengukuran yang dapat dipakai untuk menilai flebitis.
a. Menurut Andrew Jackson skor visual untuk kejadian phlebitis, yaitu :
Tabel 2.4. VIP Score menurut Andrew Jackson (Higginson dan Parry, 2011)
SKOR KEADAAN AREA PENUSUKAN PENILAIAN
0 Tempat penusukan tampak sehat Tak ada tanda phlebitis 1 Salah satu dari tanda berikut jelas :
a. Nyeri area penusukan di dekat area penusukan
b. Sedikit kemerahan di dekat area penusukan
Mungkin tanda dini phlebitis
2 Dua dari tanda berikut jelas : a. Nyeri area penusukan b. Kemerahan
c. Pembengkakan
Stadium dini phlebitis
22
SKOR KEADAAN AREA PENUSUKAN PENILAIAN
3 Semua dari tanda berikut jelas : a. Nyeri sepanjang kanula b. Kemerahan
c. Indurasi
Stadium moderate phlebitis
4 Semua dari tanda berikut jelas dan luas : a. Nyeri sepanjang kanula
b. Kemerahan c. Indurasi
d. Venous cord teraba
Stadium lanjut phlebitis atau stadium awal
thrombophlebitis
5 Semua dari tanda berikut jelas dan luas : a. Nyeri sepanjang kanula
b. Kemerahan c. Indurasi
d. Venous cord teraba e. Demam
Stadium lanjut thromboplebitis
Skor Visual Infusion Phlebitis adalah alat yang sangat populer untuk memantau tempat penusukan infus. Skor VIP ini diperkenalkan pertama kali oleh Andrew Jackson pada tahun 1999. Ini adalah alat yang direkomendasikan oleh RCN untuk memantau tempat penusukan infus. Pada tahun 2006 Paulette Gallant dan Alyce Schultz telah menyelesaikan evaluasi Skor VIP sebagai alat yang menentukan penghentian kateter infus perifer. Gallant mengatakan bahwa “Skala VIP, seperti dievaluasi dalam studi ini, dianggap valid dan reliabel untuk menentukan kapan PIV kateter harus dilepas.” (Gallant dan Schultz, 2006).
b. Menurut Infusion Nursing Standard of Practice 2011
Tabel 2.5. Skala Flebitis menurut Infusion Nursing Standard 2011 (Becton Dickinson, 2015)
SKALA KEADAAN AREA PENUSUKAN
0 Tidak ada gejala
1 Kemerahan di tempat penusukan dengan atau tanpa rasa nyeri
2 Rasa nyeri di tempat penusukan dengan kemerahan dan/atau edema
3 a. Rasa nyeri di tempat penusukan dengan kemerahan
b. Streak formation c. Venous cord teraba
4 a. Rasa nyeri di tempat penusukan dengan kemerahan
b. Streak formation
c. Venous cord teraba dengan panjang >1 inci d. Timbul nanah
Gambaran Flebitis
Grade 0 Grade 1 dan 2
24
Grade 3 Grade 4
Gambar 2.1. Gambaran Flebitis (Becton Dickinson, 2015) 2.2.5. Pengobatan Flebitis
Pengobatan flebitis akan tergantung pada tingkat tertentu yaitu pada tingkat keparahan peradangan dan adanya trombus. Flebitis sedang biasanya akan sembuh sendiri. Pasien flebitis dengan skor vip 2 atau lebih akan dilakukan pelepasan kanula atau di rotasi.
Pengobatan awal untuk segala bentuk flebitis adalah menghentikan infus dan melepaskan kateter. Hal ini harus dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pasien, jika misalnya, kondisi hemodinamik pasien tidak stabil, kateter hanya akan dilepaskan jika kateter baru telah terpasang. Penanganan yang dilakukan jika ditemukan adanya tanda flebitis adalah sebagai berikut: (Higginson dan Parry, 2011; Dychter et al., 2012; Becton Dickinson, 2015; CMO dan EDON, 2015).
a. Hentikan infus
b. Lepaskan kanula intravena dan pasang kembali perangkat akses vena yang sesuai di lokasi baru
c. Anggota badan yang terkena harus ditinggikan.
d. Berikan kompres hangat pada tempat penusukan selama 20 menit e. Berikan obat anti-inflamasi
f. Dokumentasikan dan diskusikan dengan dokter
2.2.6. Pencegahan Flebitis
Menurut penelitian kejadian flebitis merupakan komplikasi paling umum pada terapi intravena. Oleh karena itu sangat diperlukan pengetahuan tentang faktor-faktor yang berperan dalam kejadian flebitis dan pemantauan yang ketat untuk mencegah dan mengatasi kejadian flebitis. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah flebitis: (Ingram dan Lavery, 2005; Wallis, 2005; Hirawan et al., 2014; CMO dan EDON, 2015).
a. Mencuci tangan dengan teliti sebelum kontak dengan bagian apapun dari sistem infus atau dengan pasien
b. Menggunakan teknik aseptik yang ketat pada pemasangan kateter IV c. Hindari memasang kanula pada ekstremitas bawah
d. Gunakan ukuran kateter terkecil yang memungkinkan e. Pastikan dressing kuat untuk mencegah flebitis mekanis f. Turunkan kecepatan pemberian cairan infus
g. Mengencerkan obat-obat yang mengiritasi jika memungkinkan
h. Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infeksi i. Rotasi sisi intravena setiap 48-72 jam untuk membatasi iritasi dinding vena
oleh kanula atau obat-obatan
j. Melepaskan kateter IV pada adanya tanda pertama peradangan lokal, kontaminasi atau komplikasi
k. Mengganti kanula IV yang dipasang saat keadaan gawat (dengan asepsis yang dipertanyakan) sesegera mungkin
l. Lakukan pemantauan tempat penusukan secara reguler
26
2.3. KERANGKA TEORI
Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka, maka kerangka teorinya adalah sebagai berikut :
Gambar 2.2. Bagan Kerangka Teori Flebitis
Terapi Restoratif
Terapi Penggantian
Terapi Pemeliharaan Terapi Intravena
Pasien
Usia
Jenis kelamin
Penyakit
Status nutrisi
Kualitas vena
Kateter
Durasi pemasangan
Ukuran
Jenis
Lokasi pemasangan
Lainnya
Cairan infus (pH,
osmolaritas, mikropartikel)
Kurang berpengalaman
Pemasangan di Emergensi
Flebitis Mekanis
Flebitis Kimia Flebitis Bakterial Diagnosis
VIP Score
INS
2.4 Kerangka Konsep
Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka, maka kerangka konsep dari penelitian ini adalah :
Variabel independen Variabel dependen
Gambar 2.3 Bagan Kerangka Konsep 1. Usia
2. Jenis kelamin 3. Status gizi 4. Ukuran kanula 5. Lama waktu
pemasangan infus 6. Ruang Pemasangan 7. Cairan Infus
8. Lokasi Pemasangan 9. Penyakit
Kejadian flebitis pada pasien rawat inap
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. RANCANGAN PENELITIAN
Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan metode cross sectional, yaitu semua jenis penelitian yang pengukuran variabel- variabelnya hanya dilakukan satu kali, pada satu saat (Sastroasmoro dan Ismael, 2011).
3.2. LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan pertimbangan bahwa RSUP H. Adam Malik merupakan rumah sakit tipe A, yang merupakan rumah sakit rujukan untuk wilayah pembangunan A yang meliputi provinsi Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, dan Riau. Dengan demikian data yang diperoleh lebih lengkap dan lebih bervariasi.
3.3. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien rawat inap di RSUP H.
Adam Malik yang di diagnosis dengan flebitis pada tahun 2016. Sampel penelitian dipilih dengan menggunakan metode total sampling dengan populasi 45 orang dan disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi.
Kriteria Sampel a. Kriteria Inklusi
1. Pasien rawat inap tahun 2016
2. Pasien yang di diagnosis dengan flebitis 3. Berusia lebih dari 18 tahun
b. Kriteria Eksklusi
1. Rekam medis tidak lengkap
93.4. METODE PENGUMPULAN DATA
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dengan melihat rekam medis pasien flebitis di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2016.
3.5. ALUR KERJA
Adapun alur kerja dalam penelitian ini adalah:
Populasi flebitis pada pasien rawat inap
Kriteria Inklusi
Sampel Penelitian
Kriteria Eksklusi
Analisis Data
Hasil dan Pembahasan
Ruang Pemasangan
Cairan Infus
Lokasi Pemasangan
Penyakit
Usia
Jenis Kelamin
Status Gizi
Ukuran Kanula
Lama waktu pemasangan infus
Penilaian
30
3.6. METODE ANALISIS DATA
Pengolahan data dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu editing, coding, entry, cleaning data, dan saving.
Langkah pertama, editing, dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan data
Kedua, coding, data yang telah terkumpul kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual sebelum diolah dengan computer
Ketiga, entry, data kemudian dimasukkan ke dalam program computer
Keempat, cleaning data, dengan melakukan pemeriksaan semua data yang telah dimasukkan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam memasukkan data
Terakhir, saving, data kemudian disimpan untuk siap dianalisa.
Analisis yang digunakan adalah Analisis Univariat. Analisis data ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi, presentasi, mean dan standard deviation dari variabel karakteristik flebitis meliputi usia, jenis kelamin, status gizi, ukuran kanula serta lama waktu pemasangan yang akan diteliti. Semua data yang telah dikumpulkan, dicatat, dikelompokkan, dan diolah dengan menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS). Selanjutnya data tersebut ditampilkan dalam bentuk tabel, diagram, ataupun grafik.
3.7. DEFINISI OPERASIONAL 1. Flebitis
Definisi : Peradangan dari vena superfisial yang disebabkan oleh iritasi pada lapisan pembuluh darah
Cara Pengukuran : Dilihat berdasarkan data rekam medis
Alat Ukur : Rekam Medis
Hasil Pengukuran : Flebitis
Skala Ukur : Nominal
2. Usia
Definisi : Perhitungan umur yang dimulai dari saat kelahiran sampai dengan waktu
perhitungan usia
Cara Pengukuran : Dilihat berdasarkan data rekam medis
Alat Ukur : Rekam medis
Hasil Pengukuran : ≤ 45 Tahun > 45 Tahun
Skala ukur : Ordinal
3. Jenis Kelamin
Definisi : Status jenis kelamin responden penelitian
Cara Pengukuran : Dilihat berdasarkan data rekam medis
Alat Ukur : Rekam medis
Hasil Pengukuran : Laki-laki Perempuan
Skala Ukur : Nominal
4. Status Gizi
Definisi : Perhitungan status gizi dari BB dan TB
responden
Cara pengukuran : BB dan TB responden dilihat berdasarkan rekam medis dan dihitung dengan rumus IMT
Alat Ukur : Rekam Medis
Hasil Pengukuran : Gizi kurang, gizi baik dan gizi lebih
Skala Ukur : Ordinal
5. Ukuran Kanula
Definisi : Ukuran kanula yang digunakan saat
32
penggunaan infus
Cara Pengukuran : Dilihat berdasarkan data rekam medis
Alat Ukur : Rekam medis
Hasil Pengukuran : Ukuran 24 G, Ukuran 22 G, Ukuran 20 G, Ukuran 18 G, Ukuran 16 G, Ukuran 14 G
Skala Ukur : Ordinal
6. Lama Waktu Pemasangan
Definisi : Perhitungan lama waktu pemasangan yang dimulai dari saat pemasangan infus sampai waktu timbulnya flebitis
Cara Pengukuran : Dilihat berdasarkan data rekam medis
Alat Ukur : Rekam medis
Hasil Pengukuran : < 3 hari dan ≥ 3 hari
Skala Ukur : Nominal
7. Ruang Pemasangan
Definisi : Ruangan saat melakukan pemasangan infus
Cara Pengukuran : Dilihat berdasarkan data rekam medis
Alat Ukur : Rekam medis
Hasil Pengukuran : Ruang rawat inap dan IGD
Skala Ukur : Nominal
8. Cairan Infus
Definisi : Cairan yang diberikan saat infus dipasang
Cara Pengukuran : Dilihat berdasarkan data rekam medis
Alat Ukur : Rekam medis
Hasil Pengukuran : Hipotonik : NaCl 45%, Dextrose 2,5%
Isotonik : Ringer Laktat (RL), NaCl 0,9%
Hipertonik : Dextrose 5%, Dextrose 5%
+ RL, Dextrose 5% +NaCl 0,9%, Produk darah, albumin
Skala Ukur : Nominal
9. Lokasi Pemasangan
Definisi : Lokasi dimana infus dipasang
Cara Pengukuran : Dilihat berdasarkan data rekam medis
Alat Ukur : Rekam medis
Hasil Pengukuran : Ekstremitas Atas dan Ekstremitas bawah
Skala Ukur : Nominal
10. Penyakit
Definisi : Penyakit yang diderita saat terjadi flebitis
Cara Pengukuran : Dilihat berdasarkan data rekam medis
Alat Ukur : Rekam medis
Hasil Pengukuran : Penyakit
Skala Ukur : Nominal
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian dengan judul Karakteristik Flebitis Pada Pasien Rawat Inap di RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2016 ini dilakukan di ruang penyimpanan rekam medis RSUP Haji Adam Malik kota Medan Provinsi Sumatera Utara yang berlokasi di Jalan Bunga Lau no.17, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan.
Sampel dalam penelitian ini adalah rekam medis pasien flebitis di RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2016. Jumlah seluruh pasien flebitis pada tahun 2016 di RSUP Haji Adam Malik Medan adalah sebanyak 67 orang. Setelah dilakukan pengambilan data dan diperiksa hanya terdapat 45 sampel yang memenuhi syarat kriteria sampel penelitian. Rekam medis yang tidak memenuhi syarat kriteria sebanyak 22 buah yaitu sebanyak 13 buah rekam medis dalam bentuk buku tidak tersedia dan sebanyak 9 buah data tidak lengkap di buku maupun di komputer.
Data lengkap mengenai karakteristik sampel dapat dilihat pada tabel-tabel dibawah.
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Usia Sampel
Usia N %
<45 Tahun 15 33,33
>45 Tahun 30 66,67
Total 45 100
Distribusi usia sampel yang diperoleh dari hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4.1. dimana pada usia >45 Tahun paling banyak terjadi flebitis yaitu sebanyak 30 orang (66,67%). Sedangkan pada usia <45 Tahun sebanyak 15 orang (33,3%). Hal ini sesuai dengan penelitian di RS. Bhayangkara TK.II. H.S.
Samsoeri Mertojoso Surabaya yang mendapatkan hasil bahwa dari 22 orang, flebitis lebih banyak terjadi pada pasien berusia >45 tahun yaitu sebanyak 21 orang daripada usia <45 tahun yaitu sebanyak 1 orang (Fitriyanti, 2015).
Pada usia tua, terjadi perubahan-perubahan fungsi di dalam tubuh baik secara fisik, biologis, psikologi, dan sosial. Salah satu perubahan fisik tersebut adalah penurunan sistem imunitas sehingga risiko untuk terserang penyakit menjadi lebih tinggi. Pada usia lanjut kemampuan sel dan jaringan yang dipengaruhi usia organ untuk regenerasi sel akan semakin menurun, vena juga menjadi rapuh, tidak elastis, dan mudah kolaps atau hilang yang akan menyebabkan terjadinya flebitis (Fitriyanti, 2015; Rimba Putri, 2016)
Penelitian di Divino Espirito Santo Hospital Ponta Delgada mendapatkan hasil pasien yang terkena flebitis pada usia < 20 tahun sebanyak 10 orang (76,9), usia 20 – 29 sebanyak 21 orang (48,8%), usia 30 – 39 sebanyak 14 orang (53,8%), usia 40 – 49 sebanyak 32 orang (59,3%), usia 50 – 59 tahun sebanyak 35 orang (63,6%), usia 60 – 69 sebanyak 35 orang (63,6%), dan usia >70 sebanyak 29 orang (72,5%). Walaupun jumlah dari setiap umur ini bervariasi tetapi tingkat insidennya meningkat. Sesuai dengan teori yang telah dijelaskan bahwa semakin tinggi usia maka kejadian flebitis semakin tinggi (Carlos and Furtado, 2011).
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin
Jenis Kelamin N %
Laki-laki 19 42,2
Perempuan 26 57,6
Total 45 100
Berdasarkan tabel 4.2. pasien perempuan lebih banyak mengalami flebitis dibandingkan dengan pasien laki-laki. Yaitu sebesar 26 orang (57,6%) pada pasien perempuan dan sebesar 19 orang (42,2%) pada pasien laki-laki. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sepvi Fitriyanti di RS. Bhayangkara TK.II. H.S. Samsoeri Mertojoso Surabaya yang mendapatkan bahwa pasien perempuan lebih banyak terkena flebitis dibandingkan dengan pasien laki-laki yaitu terdapat 14 orang perempuan (20,6%) dan 8 orang laki-laki (11,8%).
Pasien perempuan lebih banyak terkena flebitis daripada laki-laki dikarenakan hormon yang dilepaskan wanita dapat mempengaruhi elastisitas dinding
36
pembuluh darah, dan juga dikarenakan adanya penggunaan kontrasepsi hormonal yang membuat risiko terjadinya flebitis menjadi lebih besar (Fitriyanti, 2015).
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Status Gizi
Status Gizi N %
Gizi Tidak Baik 26 57,8
Gizi Kurang
Gizi Lebih Gizi Baik
8 18 19
17,8 40 42,2
Total 45 100
Berdasarkan tabel 4.3. diatas didapatkan bahwa kejadian flebitis lebih sering terjadi pada pasien dengan gizi yang tidak baik yaitu sebesar 26 orang (57,8%) sedangkan kejadian flebitis pada gizi baik sebesar 19 orang (42,2%). Hal ini dikarenakan gizi yang tidak baik maupun itu gizi kurang ataupun gizi lebih akan mengakibatkan gangguan pada berbagai aspek imunitas, termasuk fagositosis, respons proliferasi sel ke mitogen, serta produksi T-lymphocyte dan sitokin.
Sehingga daya tahan tubuh menurun dan akan mudah terkena penyakit infeksi.
(Siagian, 2012)
Penelitian yang dilakukan di RSUD Majalaya mendapatkan hasil yang sama seperti yang saya lakukan. Didapatkan kejadian flebitis lebih banyak terjadi pada gizi kurang daripada gizi baik. Yaitu sebanyak 21 orang (46,7%) pada gizi kurang dan pada gizi baik sebanyak 8 orang (17,8%) (Prastika et al., 2012).
Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Ukuran Kanula
Ukuran Kanula N %
24 G 2 4,4
22 G 10 22,2
20 G 29 64,2
18 G 4 8,9
Total 45 100
Berdasarkan tabel 4.4. diatas didapatkan ukuran kanula 20G paling banyak menimbulkan flebitis yaitu sebesar 64,2%, diikuti oleh ukuran 22G sebesar 22,2%, ukuran 18G sebesar 8,9% dan ukuran 24G sebesar 4,4%. Semakin besar ukuran kanula yang digunakan maka akan menyebabkan risiko terkena flebitis lebih besar. Hal ini dikarenakan ukuran kanula yang besar akan lebih mudah bergesekan dengan tunika intima pembuluh darah yang akhirnya akan mengiritasi tunika intima tersebut. Ukuran kanula yang besar juga akan menghalangi aliran darah disekitar kanula sehingga obat-obat akan kontak lebih lama dengan tunika intima pembuluh darah sehingga terjadi iritasi dan menyebabkan flebitis kimia (Scales, 2005).
Penelitian ini sesuai dengan penelitian di Divino Espirito Santo Hospital Ponta Delgada yang mendapatkan insiden flebitis paling tinggi terjadi pada penggunaan kanula dengan ukuran 18G yaitu sebesar 72,5% (66 dari 91 orang) diikuti oleh ukuran kanula 20G sebesar 57,1% (84 dari 147 orang) dan ukuran kanula 22G sebesar 48% (26 dari 48 orang) (Carlos and Furtado, 2011).
Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Lama Waktu Pemasangan
Lama Waktu Pemasangan N %
<3 hari 9 20
≥3 hari 36 80
Total 45 100
Berdasarkan tabel 4.5. diatas, perbandingan jumlah pasien yang mengalami flebitis lebih banyak pada pemasangan infus lebih dari 3 hari yaitu sebanyak 36 orang (80%), sedangkan pada pemasangan kurang dari 3 hari didapatkan kejadian flebitis sebanyak 9 orang (20%). Pada saat pasien terpasang infus secara tidak sengaja kita seperti memasukan benda asing kedalam tubuh pasien, semakin lama terpasang infus maka dapat menimbulkan infeksi. Karena pada saat terpasang infus akan menyebabkan trauma sehingga mikroorganisme dapat dengan mudah masuk dan menyebabkan flebitis (Rimba Putri, 2016). Menurut INS salah satu faktor yang berperan dalam kejadian flebitis adalah pemasangan kateter infus