UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN BENALU KOPI (Loranthus ferrugineus Roxb.) SEBAGAI OBAT LUKA BAKAR PADA PUNGGUNG
TIKUS PUTIH JANTAN
SKRIPSI
Disusun oleh : Annisa Dhita Syahrial
F1F118031
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI
2022
UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN BENALU KOPI (Loranthus ferrugineus Roxb.) SEBAGAI OBAT LUKA BAKAR PADA PUNGGUNG
TIKUS PUTIH JANTAN
Diajukan sebagai salah satu syarat dalam melakukan penelitian dalam rangka penelitian Skripsi Jurusan Farmasi
SKRIPSI
Disusun oleh : Annisa Dhita Syahrial
F1F118031
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI
2022
TIKUS PUTIH JANTAN
disusun oleh
ANNISA DHITA SYAHRIAL FIF118031
Telah
disetujui Dosen PembimbingSkripsi PadaTanggal 4Januari 2023
Pembimbing1 (Kesatu) PembimbingII(Kedua)
Dr.DiahRiski Gusti, S.Si.,M.Si. apt. M.Rifqi Efendi,S.Farm.,M.Farm.
NIP. 197408102000122001 NIP. 199105112022031007
i11
Annisa Dhita Syahrial,NIM FIFI18031telahdipertahankan didepan Tim Penguji
pada tanggal4Januari2023dan dinyatakan lulus.
Susunan Tim Penguji
Ketua Tim Dr. Diah Riski Gusti, S.Si.,M.Si.
SekretarisTimPenguji :apt.M.Rifqi Efendi,S.Farm.M.Farm.
Penguji Utama :Dr.Drs.Syamsurizal,M.Si.
Anggota Penguji :1. apt. Fathnur Sani K,S.Farm., M.Farm.
2.apt. Yuliawati, S.Farm.,M.Farm.
Disetujui:
PembimbingJtama PembimbihgPendamping
Dr.DiahRiski Gusti, S.Si.,M.Si.
NIP. 197408102000122001
apt.M.Rifqî Efendi,S.Farm.,M.Farm.
NIP.199105112022031007
Diketahui:
An. KetuaJurusan Farmasi Sekertaris Jurusan
Dekan
Fakultas Kedokteran dan IImu Kesehatan Universitas Jambi
Dr.dr.Humaryanto, Sp.OT. M.Kes NIP.197302092005011001
apt. Elisma, S.Farm., M.Farm.
NIP. 198510212014042001
iv
NIM :FIF118031
Jurusan JurusanFarmasi FKIKUnja
Judul Skripsi :UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUNBENALU
KOPI(Loranthus ferrugineus Roxb.) SEBAGAI OBAT LUKA BAKARPADA PUNGGUNGTIKUS PUTIH JANTAN
Denganini menyatakan dengansebenarnya bahwa TugasAkhirSkripsi yang saya
tulis ini benar-benar hasil karya sendiri, bukan merupakanpengambilan alihan
tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya
sendiri. Apabila di kemudianhari dapat dibuktikan bahwaTugas AkhirSkripsiini adalah hasil
jiplakan,maka saya bersediamenerimasanksiatasperbuatan tersebut.
Jambi, 04Januari2023 Yang Membuat Pernyataan,
ANNISA DHITA SYAHRIAL FIF118031
vi
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim, Alhamdulillah puji dan syukur atas kehadirat allah SWT atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Benalu Kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) Sebagai Obat Luka Bakar Pada Punggung Tikus Putih Jantan”. Shalawat beiringan salam yang selalu tercurahkan kepada junjungan alam nabi Muhammad SAW.
Penulisan Skripsi ini dibuat untuk memenuhi slah satu syarat memperoleh gelas Sarjana Farmasi di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi. Selain itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar besarnya kepada kedua orang tua dan saudara – saudara saya yang selalu memberikan doa terbaik, dukungan serta kasih sayang yang tak terhingga kepada penulis.
Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini, antara lain : 1. Dr. dr. Humaryanto, Sp, OT., M. Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Jambi.
2. Prof. Dr. rer. nat. Muhaimin, S. Pd., M.Si. selaku Ketua Jurusan Farmasi Universitas Jambi.
3. Dr. Diah Riski Gusti, S.Si., M.Si selaku pembimbing utama yang telah bersedia membimbing, meluangkan waktu, pikiran serta tenaga untuk memberikan bimbingan kepada penulis.
4. apt. M. Rifqi Efendi, S. Farm., M. Farm selaku pembimbing pendamping yang telah bersedia membimbing waktu, pikiran serta tenaga untuk memberikan bimbingan kepada penulis.
5. Bapak/Ibu Dosen Jurusan Farmasi yang telah memberikan banyak ilmu kepada penulis.
6. Segenap Staf Laboratorium Fakultas Peternakan, serta Staf Tata Usaha Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi yang telah banyak membantu kelancaran penelitian dan administrasi dalam perkuliahan dan tugas akhir penulis
7. Teristimewa penulis ucapkan terimakasih kepada orang tua penulis yang tercinta Bapak Syahrial dan Ibu Wahyuningsih yang selalu memberikan dukangan serta doa yang tiada henti, kasih sayang, cintas yang tak terhingga dan tak ternilai harganya serta memberikan semangat dan pengorbanan baik secara moril dan materil yang diberikan selam ini kepada penulis
vii
8. Tak Terlupakan Sahabat suka dan duka ku para Pejuang S. Farm (Emelia Oktaviani,Vionatasya Safitri dan Nurmaya Sari) terimakasih telah berjuang bersama-sama, serta senantiasa selalu memberikan semangat, dukungan dan bantuan selama perkuliahan dan penyelesaian tugas akhir ini
9. Seluruh teman – teman Ains Farmasi 2018 yang saling memberikan motivasi dan semangat.
10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses penyelesaian tugas akhir ini
Demikianlah Skripsi ini disusun semoga bermanfaat untuk kita semua.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan untuk itu penulis sangat mengharapkan masukan, kritik dan saran yang membangun guna menyempurnakan skripsi ini.
Jambi, 4 Januari 2023
Annisa Dhita Syahrial F1F118031
viii DAFTAR ISI
PERSETUJUAN SKRIPSI ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
RIWAYAT HIDUP PENULIS………...xviii
ABSTRAK ... xiv
1. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Identifikasi Masalah ... 2
1.3. Tujuan Penelitian ... 2
1.4. Manfaat Penelitian ... 3
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1 Tanaman Benalu Kopi ... 4
2.1.1 Klasifikasi Tanaman Benalu Kopi ... 4
2.1.2 Deskripsi Tanaman ... 4
2.1.3 Kandungan Kimia ... 5
2.1.4 Aktivitas Farmakologi ... 6
2.2 Ekstraksi ... 6
2.3 Anatomi dan Fisiologi Kulit... 8
2.4 Luka Bakar ... 9
2.4.1 Patofisiologi Luka Bakar ... 9
2.4.2 Klasifikasi Luka Bakar ... 9
2.4.3 Faktor yang menghambat penyembuhan ... 12
2.5 Hewan Uji (Tikus) ... 13
III. METODOLOGI PENELITIAN ... 15
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 15
3.2 Alat dan Bahan Penelitian ... 15
3.2.1 Alat Penelitian ... 15
3.2.2 Bahan Penelitian ... 15
ix
3.3 Aklimatisasi Hewan Percobaan ... 15
3.4 Metode Penelitian ... 16
3.4.1 Koleksi dan Identifikasi Sampel Daun Benalu Kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) ... 16
3.4.2 Preparasi Bahan Penelitian Sampel Daun Benalu Kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) ... 16
3.4.3 Hewan Percobaan ... 17
3.4.4 Pembuatan Ekstrak Daun Benalu Kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.)………..…..17
3.4.5Karakterisasi ... 17
3.4.6 Skrining Fitokimia ... 18
3.4.7 Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Benalu Kopi Terhadap luka Bakar Pada Tikus ... 19
3.5 Analisis Data ... 23
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 24
4.1. Hasil ... 24
4.1.4 Tabel 4 Rata-rata Diameter Luka ± Standar Deviasi ... 25
4.2. Pembahasan ... 26
4.2.1 Determinasi Tanaman ... 26
4.2.2 Simplisia Daun Benalu Kopi ... 26
4.2.3 Pembuatan Esktrak Etanol Daun Benalu Kopi ... 27
4.2.4 Karakterisasi Ekstrak Etanol Daun Benalu Kopi ... 27
4.2.5 Skrinning Fitokimia ... 28
4.2.6 Pengujian Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Benalu Kopi Terhadap Penyembuhan Luka ... 29
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 36
5.1. Keseimpulan ... 36
5.2. Saran ... 36
DAFTAR PUSTAKA ... 37
LAMPIRAN ... 43
x
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil Uji Parameter Spesifik Daun Benalu Kopi ... 24
Tabel 2. Hasil Uji Parameter Non Spesifik ... 24
Tabel 3. Hasil Uji Skrinning Fitokimia ... 24
Tabel 4. Rata-rata Diameter Luka ± Standar Deviasi ... 25
Tabel 5. Kadar Hidroksiprolin dan Jaringan Kulit Tikus ... 25
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Daun Benalu Kopi ... 4
Gambar 2. Histologi Kulit ... 8
Gambar 3. Presentase Kesembuhan Luka Bakar ... 30
Gambar 4. Kurva Standar Hidroksiprolin ... 34
Gambar 5. Grafik Kadar Hidroksiprolin... 35
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Bagian Alur penelitian ... 43
Lampiran 2. Skema Kerja Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Benalu Kopi (Loranthus ferrugineus Roxb). ... 44
Lampiran 3. Skema Kerja Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Benalu Kopi ... 45
Lampiran 4. Uji Kadar Hidroksiprolin. ... 46
Lampiran 5. Perhitungan Hewan Percobaan (federer) ... 47
Lampiran 6. Analisis Data ... 47
Lampiran 7. Hasil Analisis Data SPSS ... 48
Lampiran 8. Data Hasil Pengukuran Diamter Luka dan Presentase Kesembuhan Luka Bakar ... 51
Lampiran 9. Data Pengukuran Kadar Hidroksiprolin ... 56
Lampiran 10. Hasil Pengukuran Kurva Standar Hidroksipolin ... 57
Lampiran 11. Hasil Absorbansi dan Perhitungan Kadar Hidroksiprolin ... 58
Lampiran 12. Uji Skrinning Fitokimia dan Karakteristik Ekstrak ... 62
Lampiran 13. Pembuatan Konsentrasi Ekstrak ... 64
Lampiran 14. Induksi Luka Bakar ... 65
Lampiran 15. Surat Determinasi Tumbuhan ... 70
Lampiran 16. Surat Persetujuan Etichal Clearence ... 71
xiii
RIWAYAT HIDUP
Annisa Dhita Syahrial lahir di Semarang, pada tanggal 23 Desember 2000. Penulis merupakan anak tunggal dari pasangan Bapak Syahrial dan Ibu Wahyuningsih. Penulis memulai pendidikan di TK Taman Siswa, Batam. Pada tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikan di SD Taman Siswa Batam dan lulus pada tahun 2012. Kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di SMPN 26 Batam selama tiga tahun. Pada tahun 2015, Penulis melanjutkan pendidikan di MAN Batam dan lulus pada tahun 2018. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswi Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Penulis telah menyelesaikan tugas akhir dan menyusun skripsi dengan judul “UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN BENALU KOPI (Loranthus ferrugineus Roxb.) SEBAGAI OBAT LUKA BAKAR PADA PUNGGUNG TIKUS JANTAN”.
xiv ABSTRAK
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan yang dapat disebabkan oleh panas (api, cairan/ lemak panas, uap panas), radiasi, listrik, kimia. Luka bakar merupakan jenis trauma yang merusak dan merubah berbagai sistem. Daun benalu kopi ini merupakan salah satu tanaman yang memiliki senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid,fenolik yang berperan dalam menghasilkan efek penyembuhan luka bakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) dalam menyembuhkan luka bakar pada punggung tikus jantan dan menentukan konsentrasi terbaik ekstrak etanol daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) dalam menyembuhkan luka bakar pada punggung tikus jantan.
Penelitian ini dilakukan dengan penelitian eksperimental dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pendekatan Post Test Only Control Group Design dengan menggunakan 25 tikus yang terdiri dari 5 kelompok perlakuan yaitu kontrol positif (gel Bioplacenton), kontrol negatif (vaselin flavum), dan ekstrak etanol daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) dengan konsentrasi 5%,10%,15% yang dicampurkan dengan vaselin flavum hingga 100 gram. Parameter yang diamati dalam penelitian ini ialah pengamatan penurunan diameter luka bakar dan penentuan kadar hidroksiprolin pada kulit tikus bekas luka bakar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) memiliki efek sebagai obat luka bakar dengan konsentrasi terbaik yaitu pada konsentrasi 15% namun tidak melebihi efektivitas dari kontrol positif (gel Bioplacenton) kemudian diikuti dengan konentrasi 10% dan 5%. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) memiliki efektivitas dalam menyembuhkan luka bakar.
Kata kunci: Daun benalu kopi, Luka bakar, Tikus, Presentase kesembuhan, Hidroksiprolin
xv ABSTRACT
Burns are damage or loss that can be caused by heat (fire, hot liquid/fat, hot steam), radiation, electricity, chemicals. Burns are a type of trauma that damages and alters various systems. This coffee parasite leaf is one of the plants that has secondary metabolite compounds such as flavonoids, tannins, saponins, alkaloids, phenolics which play a role in producing the effect of healing burns. This study aims to determine the effect of administration of ethanol extract of coffee parasite leaves (Loranthus ferrugineus Roxb.) in healing burns on the backs of male rats and determine the best concentration of ethanol extract of coffee parasite leaves (Loranthus ferrugineus Roxb.) in healing burns on the backs of male rats. This research was conducted by experimental research using the Completely Randomized Design (CRD) method with the Post Test Only Control Group Design approach using 25 rats consisting of 5 treatment groups namely positive control (Bioplacenton gel), negative control (Vaseline flavum), and extract ethanol from coffee parasite leaves (Loranthus ferrugineus Roxb.) with a concentration of 5%, 10%, 15% mixed with vaselin flavum up to 100 grams. The parameters observed in this study were the decrease in the diameter of burns and the determination of hydroxyproline levels in the skin of burn-scarred rats. The results of this study indicate that the ethanol extract of coffee parasite leaves (Loranthus ferrugineus Roxb.) has the best effect as a burn medicine with the best concentration at a concentration of 15% but not exceeding the effectiveness of the positive control (Bioplacenton gel) followed by concentrations of 10% and 5% . Therefore it can be concluded that the ethanol extract of coffee parasite leaves (Loranthus ferrugineus Roxb.) has effectiveness in healing burns.
Keywords: Coffee parasite leaves, Burns, Rats, Percentage of healing, Hydroxyproline
1
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan yang dapat disebabkan oleh panas (api, cairan/lemak panas, uap panas), radiasi, listrik, kimia. Luka bakar merupakan jenis trauma yang merusak dan merubah berbagai sistem tubuh1. Kulit dengan luka bakar akan mengalami kerusakan pada epidermis, dermis maupun jaringan subkutan tergantung faktor penyebab dan lamanya kulit kontak dengan penyebab2. Luka bakar ini sering dijumpai di masyarakat dan biasanya terjadi karena percikan minyak panas, air panas dan terkena setrika3.
Penanganan luka bakar secara alami dapat dilakukan dengan membasuhnya menggunakan air yang mengalir, karena ar yang mengalir sangat membantu untuk menghilangkan panas dari luka. Akan tetapi masyarakat masih banyak yang mengoleskan pasta gigi pada penanganan pertama luka bakar, padahal penggunaan bahan kimia seperti pasta gigi akan membuat panas menjadi lebih tahan lama sehingga menimbulkan infeksi yang memperparah luka bakar4.
Benalu kopi merupakan anggota Loranthaceae yang tersebar luas di banyak negara seperti Malaysia, Sumatera, India, Singapore, Australia dan Selandia Baru5. Benalu kopi merupakan tumbuhan parasit pada inang kopi yang dapat merusak tanaman inangnya. Hal ini dapat menimbulkan kerugian terhadap petani kopi di Indonesia. Masyarakat Indonesia memanfaatkan benalu kopi sebagai obat trandisional untuk penyembuhan berbagai penyakit seperti kanker dengan cara merebus daun benalu yang sudah kering dan meminum hasil rebusan tersebut6. Disisi lain benalu kopi dalam pengobatan tradisional telah banyak di manfaatkan sebagai penurunan tekanan darah, obat batuk, kanker dan anti alergi.Benalu kopi merupakan salah satuu famili Loranthaceae dan dikenal mengandung senyawa antioksidan yang tinggi serta berpotensi memiliki aktivitas antiinflamasi7.
Penelitian luka bakar sebelumnya yang telah dilakukan oleh Sentat dan Permatasari (2015), Dengan menggunakan ekstrak etanol daun alpukat memberikan efek penyembuhan luka bakar terhadap punggung mencit putih jantan yang memiliki senyawa flavonoid, saponin, tanin, dan alkaloid4.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penelitian ini dibuat dengan menggunakan ekstrak daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) dimana menurut Yulian dan Safrijal (2018), bahwa dalam ekstrak daun benalu kopi mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin6 sehingga memungkinan untuk digunakan sebagai antiinflamasi untuk luka bakar.
Obat-obat antiinflamasi adalah golongan obat yang memiliki aktivitas menekan atau mengurangi peradangan. aktivitas ini dapat dicapai melalui berbagai cara yaitu menghambat pembentukan mediator radang prostagladin, menghambat migrasi sel-sel leukosit ke daerah radang, menghambat pelepasan prostagladin dari sel-sel tempat pembentukannya8,9.
Senyawa fitokimia yang berkhasiat sebagai antiinflamasi yaitu flavonoid.
Flavonoid dapat menghambat siklooksigenase atau lipoosigenase dan menghambat akumulasi leukosit pada area peradangan sehingga dapat menjadi antiinflamasi10.Dari uraian diatas, karena daun benalu kopi masih belum banyak dimanfaatkan potensinya sebagai sumber antiinflamasi dan juga mengandung banyak senyawa flavonoid, saponin dan tanin maka penelitian ini perlu dilakukan terhadap ekstrak daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) sebagai alternatif pengobatan luka bakar pada punggung tikus jantan.
1.2. Identifikasi Masalah
a. Bagaimana pengaruh pemberian ekstrak etanol daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) dalam menyembuhkan luka bakar pada tikus ?
b. Berapa konsentrasi terbaik dari ekstrak daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) dalam menyembuhkan luka bakar pada tikus ? 1.3. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) dalam menyembuhkan luka bakar terhadap Tikus.
b. Untuk menentukan konsentrasi terbaik ekstrak daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) sebagai penyembuhan luka bakar
terhadap Tikus.
1.4. Manfaat Penelitian
a. Meningkatkan wawasan dan pengetahuan mengenai aktivitas farmakologi dari ekstrak daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.).
b. Menambah pengetahuan tentang manfaat daun benalu kopi di bidang kesehatan dan dapat di manfaatkan sebagai obat tradisional.
c. Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan alami dapat menimalisir terjadinya efek samping.
4
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Benalu Kopi
2.1.1 Klasifikasi Tanaman Benalu Kopi
Klasifikasi tanaman benalu kopi, yaitu sebagai berikut : Kingdom : Plantae
Subkingdom : Viridiplantae Divisi : Tracheophyta Subdivisi : Euphyllophytina Kelas : Magnoliopsida Ordo : Laurales Famili : Lauraceae Genus : Loranthus
Spesies : Loranthus ferrugineus Roxb.
Gambar 1 Daun Benalu Kopi (Dokumentasi Pribasi, 2022) 2.1.2 Deskripsi Tanaman
Benalu kopi merupakan tumbuhan yang memiliki cara hidup yang unik menjadi tumbuhan perdu parasit hemi yang tumbuh pada pohon dikotil yang menempel pada inang kopi yang dapat merusak tanaman inangnya. Cabang dan ranting herba panjang, terjumbai, dan tertutup rapat dengan dibawah L.
ferrugineus ketika muda, di samping bagian bawah daun, gagang bunga, kelopak, dan mahkota. Daun berwarna karatan berlawanan arah, terletak pada tangkai daun pendek, elips, tumpul, coriaceous, dan gundul di atasnya.Daun-daun ini berbentuk elliotic, dengan panjang 4 – 8 cm permukaan bagian dalam yang rapat. Bunganya bracteas yang berukuran kecil, menempel pada ovarium dengan mahkota bunga berbentuk tabung dan terdapat 4 bagian dalam. Untuk herba yang berasal dari Hidian Timur, Pulau Penang, Singapura dan Sumatra, mahkota bunganya tertutup
rapat dengan bulu-bulu karatan dengan panjang 7 garis. Buah L. Ferrugineus berwarna kekuningan dan berbentuk bulat telur, dan merupakan hama kebun yang sering adanya parasit pada melostoma dan banyak juga di pohon lainnya5.
2.1.3 Kandungan Kimia
Berdasarkan Skrining fitokimia yang telah dilakukan oleh Yulian dan Safrijal (2018), Bahwa daun benalu kopi mengandung Flavonoid, Alkaloid, Tanin, dan Saponin6.
1. Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa fenolik yang banyak diisolasi dari tanaman karena manfaatnya sebagai antioksidan, anti mikroba, dan antikanker. Sebagai antioksidan, flavonoid dapat menangkap radikal bebas yang dapat merusak sel tubuh11. Flavonoid terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, bunga, buah dan biji. Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang tersebar ditemukan dialam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan biru dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan12.
2. Alkaloid
Alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder terbanyak yang memiliki atom nitogen, yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan dan hewan. Alkaloid dapat ditemukan pada berbagai tanaman seperti bunga,biji,daun,ranting,akar dan kulit batang13. Alkaloid mempunyai efek dalam bidang kesehatan berupa pemicu sistem saraf, menaikkan tekanan darah, mengurangi rasa sakit, antimikroba, obat penenang, obat penyakit jantung dan lain-lain14.
3. Tanin
Tanin merupakan senyawa yang mengandung sejumlah besar gugus hidroksi fenolik yang memungkinkan membentuk ikatan silang yang efektif dengan protein dan molekul-molekul lain seperti asam amino, asam lemak dan asam nukleat. Tanin dibagi menjadi dua kelompok yaitu tanin yang mudah terhidrolisis dan tanin terkondensasi15. Tanin adalah salah satu senyawa aktif
metabolit sekunder yang mempunyai beberapa khasiatseperti astringen, anti diare, antibakteri dan antioksidan16.
4. Saponin
Saponin merupakan suatu glikosida yaitu campuran karbohidrat sederhana dengan aglikon yang terdapat pada bermacam-macam tanaman. Saponin memiliki karakteristik berupa buih, sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Saponin mudah larut dalam air dan tidak larut dalam eter, memiliki rasa pahit menusuk dan menyebabkan bersin serta iritasi pada selaput lendir17. Saponin memiliki berbagai macam sifat biologis seperti kemampuan hemolitik, aktivitas antibakterial, antivirus, dan anti kanker18.
2.1.4 Aktivitas Farmakologi
Benalu adalah tumbuhan semi-parasit, yang awalnya dianggap tumbuhan yang merugikan karena merusak tanaman komersial. Namun benalu berpotensi sebagai ramuan obat-obatan. Secara tradisional beberapa spesies benalu sejak jaman dahulu digunakan untuk mencegah dan mengobati berbagai penyakit antara lain sebagai obat batuk, kanker, diuretik, antiradang, antibakteri, luka atau infeksi kapang19.
2.2 Ekstraksi
Ekstraksi merupakan suatu metode pemisahan suatu zat yang didasarkan pada perbedaan kelarutan terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya yaitu air dan yang lainnya berupa pelarut organik20. Ada beberapa jenis ekstraksi metabolit tanaman. Ekstraksi dapat terbagi menjadi ekstraksi dingin ( maserasi dan perkolasi) dan ekstraksi panas (sokletasi dan refluks). Sampai saat ini metode maserasi dan sokletasi merupakan metode klasim yang masih bertahan digunakan dalam produksi ekstrak yang mengandung senyawa bioaktif dari sampel bahan alam terutama tumbuhan obat21.
A. Metode ekstraksi dingin 1. Maserasi
Maserasi adalah proses ekstraksi suatu simplisia pada suhu kamar dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengadukan ataupun dengan cara dikocok beberapa kali. Maserasi termasuk dalam kelompok maserasi kinetim dimana suatu simplisia di aduk secara terus menerus didalam suatu pelarut.
Adapun hasil maserasi yang telah disaring dapat di maserasi kembali, proses ini dinamakan remaserasi22.
2. Perkolasi
Perkolasi adalah penyarian dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku secara perkolasi. Prinsip ektraksi dengan perkolasi adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas kebawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampel dalam keadaan jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan tekanan penyari dari cairan diatasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan gerakan ke bawah23.
B. Metode ekstraksi cara panas a. Refluks
Metode refluks merupakan metode ekstraksi yang dilakukan pada titik didih pelarut tersebut, selama waktu dan sejumlah pelarut tertentu dengan adanya pendingin baik (kondensor). Pada umumnya dilakukan tiga sampai limakali pengulangan proses pada rafinat pertama. Kelebihan metode refluks adalah padatan yang memiliki tekstur kasar dan tahan terhadap pemanasan langsung dapat diekstrak dengan metode ini. Kelemahan metode ini adalah membutuhkan jumlah pelarut yang banyak24.
b. Sokletasi
Metode ekstraksi sokletasi merupakan suatu metode pemisahan komponen yang terdapat dalam sampel padat dengan cara ekstraksi berulang-ulang dengan
pelarut yang sama, sehingga semua komponen yang diinginkan dalam sampel terisolasi dengan sempurna25.
2.3 Anatomi dan Fisiologi Kulit
Gambar 2 Histologi Kulit28
Kulit merupakan organ yang membungkus seluruh permukaan luar sekaligus merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh manusia yang meliputi 16% berat tubuh. Pada orang dewasa, sekitar 2,7-3,6 kg berat tubuhnya merupakan kulit dengan luas sekitar 1,5-1,9 meter persegi26. Struktur kulit terdiri dari 3 lapisan yaitu sebagai berikut:
1. Epidermis
Epidermis adalah bagian terluar dan keras sebagai pertahanan pertama terhadap lingkungan eksternal. Epidermis bersifat avascular (tidak mengandung pembuluh darah), sehingga untuk pemenuhan nutrisi dan pembuangan zat sisa dilakukan oleh membran basal pada dermis yangletaknya tepat dibawah epidermis. Fungsi utama epidermis adalah melindungi dari gangguan fisik maupun biologis lingkungan luar27.
2. Dermis
Dermis merupakan bagian yang dianggap sebagai “True Skin” karena 95%
dermis membentuk ketebalan kulit. Dermis menjadi tempat ujung saraf perasa, tempat keberadaan kandung rambut, kelenjar keringat, kelenjar-kelenjar palit atau kelenjar minyak. Lapisan dermis juga mengandung sel-sel khusus yang membantu mengatur suhu, melawan infeksi, air menyimpan dan suplai darah dan nutrisi ke kulit28.
3. Hipodermis
Jaringan hipodermis merupakan lapisan terdalam yang banyak mengandung sel liposit yang menghasilkan banyak lemak. Disebut juga panikulus adiposa yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Befungsi juga sebagai bantalan antara kulit dan struktur internal seperti tulang dan otot28.
2.4 Luka Bakar
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan dan kehilangan jaringan disebabkan kontak dengan sumber suhu yang sangat tinggi seperti korbaran api ditubuh, terkena air panas, tersentuh benda panas, akibat serangan listrik, akibat bahan kimia serta sengatan matahari dan suhu yang rendah.tingkat keparahan cedera biasanya ditandai ditandai dengan luasnya kulit yang terkena, lokasi anatomis, dan kedalaman cedera29.
2.4.1 Patofisiologi Luka Bakar
Luka bakar yang menyebabkan cedera akan menimbulkan denaturasi sel protein. Sebagian sel mati karena mengalami nekrosis traumatik atau iskemik.
Kehilangan ikatan kolagen juga terjadi bersama proses denaturasi sehingga timbul gradien tekanan osmotic dan hidrostatik yang abnormal dan menyebabkan perpindahan caira intravaskuler kedalam ruang interstisial. Cedera sel memicu pelepasan mediator inflamasi yang turut menimbulkan peningkatan permeabilitas kapiler secara sistemik30.
2.4.2 Klasifikasi Luka Bakar 1) Berdasarkan Mekanisme
a. Luka Bakar Termal
Luka bakar termal (panas) disebabkan oleh karena paparan panas yang berlebih seperti kontak langsung dengan panas, permukaan benda panas, hingga kobaran api31.
b. Luka Bakar Kimia
Luka bakar kimia disebabkan oleh alkali atau asam kuat. Luka bakar kimia dapat terjadi misalnya karena kontak dengan zat – zat pembersih yang sering
dipergunakan untuk keperluan rumah tangga dan berbagai zat kimia yang digunakan dalam bidang industri, pertanian dan militer31.
c. Luka Bakar Aliran Listrik
Luka bakar listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan akibat dari arus ledakan dan api. Luka bakar ini dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu lebih dari 1000 volt dapat mengakibatkan terbentuknya scars dan kurang dari 1000 volt luka bakar terbatas pada kulit namun dapat merusak hingga jaringan lebih dalam31.
d. Luka Bakar Radiasi
Luka bakar radiasi disebabkan karena paparan radioaktif dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kematian sel mendadak. Terpapar matahari dengan waktu yang sama juga akan menyebabkan kerusakan pada kulit31.
2) Berdasarkan kedalaman luka bakar
Luka bakar berdasarkan kedalamannya dibedakan menjadi:
a. Derajat Satu
Luka derajat satu hanya mengenai epidermis luar dan secara klinis tampak sebagai daerah hiperemia dan eritmia32.
b. Derajat Dua
Luka derajat dua mengenai lapisan epidermis yang lebih dalam dan sebagian dermis serta disertai lepuh, basah atau edema32. Luka bakar derajat dua dapat terbagi menjadi dua bagian antara lain. Luka bakar derajat kedua superfisial meluas ke epidermis dan sebagian lapisan dermis yang disertai lepuh dan sangat nyeri Luka bakar derajat kedua dalam meluas ke seluruh dermis33.
c. Derajat Tiga
Luka derajat tiga mengenai semua lapisan epidermis dan dermis serta biasanya secara klinis tampak sebagai luka kering, seringkali vena mengalami kogulasi dan dapat terlihat dari permukaan kulit32.
3) Proses Penyembuhan Luka Bakar
Proses penyembuhan luka bakar dapat dibagi dalam tiga fase, yaitu fase inflamasi, proliferasi, dan maturasi.
a. Fase inflamasi
Fase inflamasi terjadi segera setelah perlukaan dan mencapai puncaknya pada hari ketiga33. Fase inflamasi terbagi dua yaitu fase inflamasi awal ( fase hemostatis) dan fase inflamasi akhir. Pada saat jaringan terluka, pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan pendarahan, reaksi tubuh pertama kali adalah berusaha menghentikan pendarahan dengan mengaktifkan faktor koagulasi instrinsik dan ekstrinsif yang mengarah ke agregasi platelet. Dan fase inflamasi akut dimulai segera setlah terjadinya trauma sampai hari ke-5 pasca trauma.
Tujuan utama fase ini adalah menyingkirkan jaringan yang mati, dan pencegahan kolonisasi maupun infeksi oleh agen mikrobial patogen34.
b. Fase proliferasi
Fase profilase berlangsung mulai hari ke-3 hingga 14 pasca trauma, ditandai dengan pergantian matriks provisional yang didominasi oleh platelet dan makrofag secara bertahap digantikan oleh migrasi oleh sel fibroblast dan deposisi sintesis matriks ekstraseluler. Tujuan fase proliferasi ini adalah untuk membentuk keseimbangan antara pembentukan jaringan parut dan regenerasi jaringan.
Terdapat tiga proses utama dalam fase proliferasi antara lain neoangiogenesis pada keadaan terjadi kerusakan jaringan, proses angiogenesis berperan dalam mempertahankan kelangsungan fungsi berbagai jaringan dan organ yang terkena.
Terjadinya hal ini melalui terbentuknya pembuluh darah baru yang menggantikan pembuluh darah yang rusak. Selama angiogenesis, sel endotel memproduksi dan mengeluarkan sitokin34.
Proses kedua yaitu fibrolast yang memiliki peran sangat penting dalam fase ini. Fibroblas memproduksi matriks ekstraseluler yang akan mengisi kavitas luka dan menyediakan landasan untuk migrasi keratinosit. Matriks ekstraseluler inilah yang menjadi komponen yang paling nampak pada skar di kulit. Makrofag memproduksi growth factor seperti PDGF, FGF dan TGF- β yang menginduksi fibroblas untuk berproliferasi, migrasi, dan membentuk matriks ekstraseluler.
Dengan berjalannya waktu, matriks ekstraseluler ini akan digantikan oleh kolagen tipe III yang juga diproduksi oleh fibroblas. Kolagen ini tersusun atas 33% glisin, 25% hidroksipolin dan selebihnya berupa air, glukosa dan galaktosa.
Hidroksipolin hanya didapatkan pada kolagen, sehingga dapat dipakai sebagai tolak ukur banyaknya kolagen dengan hasilnya 7,8. Selanjutnya kolagen tipe III akan digantikan oleh kolagen tipe I pada fase maturasi34.
Proses ketiga yaitu reepitelisasi ini secara stimulan, sel-sel basal pada epitelium bergerak dari daerah tepi luka menuju daerah luka dan menutupi daerah luka. Pada tepi luka, lapisan single layer sel keratinosit akan berproliferasi kemudian bermigrasi dari membarn basal ke permukaan luka. Ketika bermigrasi, keratinosit akan menjadi pipih dan panjang dan juga membentuk tonjolan sitoplasma yang panjang. Sel keratinosit yang telah bermigrasi dan berdiferensiasi menjadi sel epitel ini akan bermigrasi diatas matriks provosional menuju ke tengah luka, bila sel-sel epitel ini telah bertemu di tengah luka, migrasisel akan bergenti dan pembentukan membran basalis dimulai34.
c. Fase maturasi
Fase maturasi ini berlangsung mulai hari ke-21 hingga sekitar 1 tahun yang bertujuan untuk memaksimalkan kekuatan dan integritas struktural jaringan baru pengisi luka, pertumbuhan epitel dan pembentukan jaringan parut. Pada fase ini terjadi kontraksi dari luka dan remodelling kolagen. Kontraksi luka terjadi akibat aktivitas fibroblas yang berdiferensiasi akibat pengaruh sitokin TGF-β menjadi myofibroblast yakni fibroblas yang mengandung komponen mikrofilamen aktin intraseluler. Fase ini dapat berlangsung hingga 1 tahun lamanya atau lebih, tergantung dari ukuran luka dan metode penutupan luka yang dipakai. Selama proses maturasi, kolagen tipe III yang banyak berperan saat fase proliferasi akan menurun kadarnya secara bertahap, digantikan dengan kolagen tipe I yang lebih kuat. Serabut-serabut kolagen ini akan disusun, dirangkai, dan dirapikan sepanjang garis luka34.
2.4.3 Faktor yang menghambat penyembuhan
Menurut Baradero et al (2009), Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka bakar adalah sebagai berikut35 :
1. Usia. Luka pada anak-anak biasanya sembuh lebih cepat karena metabolisme
tubuh mereka lebih cepat dan memiliki sirkulasi darah yang lebih baik. Orang dewasa atau lansia penyembuhannya lambat karen gangguan sirkulasi darah yang sedang dialami mereka.
2. Nutrisi. Ketidakcukupan vitamin C dan protein bisa memperlambat penyembuhan luka.
3. Sirkulasi darah yang baik bisa membawa zat nutrisi, komponen darah, dan sebagainya untuk penyembuhan luka.
4. Kortikosteroid bisa menekan inflamasi.
5. Adanya infeksi, benda asing dalam luka.
2.5 Hewan Uji (Tikus)
Tikus merupakan hewan mamalia yang sering dimanfaatkan sebagai hewan uji dalam berbagai penelitian ilmiah karena memiliki kesamaam fisiologis dengan manusia, siklus hidup yang relatif singkat, bentuk tubuh yang tidak terlalu besar dan memiliki daya adaptasi yang baik36.
Klasifikasi Tikus (Rattus norvegicus) adalah sebagai berikut36 : Kingdom : Animal
Filum : Chordata Kelas : Mamalia Ordo : Rodentia Famili : Muridae Genus : Rattus
Spesies : Rattus norvegicus
Tikus putih memiliki beberapa sifat yang menguntungkan sebagai hewan uji penelitian diantaranya perkembangbiakan cepat, memiliki ukurang yang lebih besar dibandingkan dengan mencit, mudah dipelihara dalam jumlah yang banyak.
Tikus putih memiliki ciri-ciri seperti berkepala kecil, ekor yang lebih panjang dibanding badannya, pertumbuhanny cepat, kemampuan laktasi tinggi, tempramennya baik dan tahan terhadap arsenik tiroksid. Kriteria yangdibituhkan oleh peneliti dalam menentukan tikus putih sebagai hewan percobaan, antara lain
kontrol pakan, kontrol kesehatan, recording perkawinan, jenis, umur, bobot badan, jenis kelamin, silsilah genetik37.
Terdapat tiga galur tikus putih yang memiliki kekhususan untuk digunakan sebagai hewan percobaan antara lain Wistar, Long evans dan Sprague dawley.
Penentuan umur reproduktif pada tikus adalah dengan cara mempelajari fase-fase kehidupan dan perilakunya. Beberapa fase tersebut antara lain adalah rentang hidup antara 2-3,5 tahun, mulai disapih saar umur 3 minggu, fase kematengan seksual atau pubertas mulai umur 6 minggu, fase pradewasa saat umur 63-70 hari, fase kematengan sosial saat umur 5-6 tbulan, dan fase penuaan saat umur 15-24 bulan37.
15
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Animal Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi dan Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Jambi pada bulan Oktober-November 2022
3.2 Alat dan Bahan Penelitian 3.2.1 Alat Penelitian
Perkakas yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan dan tisu. Jangka sorong, neraca analitik, pembakar spirtus, Rotary evaporator R-114, scalpel blade, alat cukur mencit, timbangan hewan, kandang hewan percobaan, alat gelas (Erlenmeyer, pipet tetes, gelas ukur, corong, gelas beaker, botol kaca, batang pengaduk, tabung reaksi, gelas piala, gelas ukur, labu ukur, vial), Spektrofotometer UV-Vis M15, lumpang, logam besi, dan alu, rak tabung reaksi, gunting, cawan petri, oven.
3.2.2 Bahan Penelitian
Sampel yang digunakan adalah daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) yang diperoleh dari Kac. Koto Tangah, Padang Kota, Provinsi Sumatra Barat. Bahan lain yang digunakan adalah Bioplacenton, vaselin flavum (kuning), cream veet, aquadest, asam klorida (HCl), eter, pereaksi meyer, pereaksi Dragendorf, serbuk Mg, Amil alkohol, FeCl3, n-heksan, alkohol 70%, Etanol 70%, H2SO4, asam asetat anhidrat, dietil eter, NaOH, castran, Hidroksiprolin, CuSO4, H2O2, 2-dimetil-aminobenzaldehid, kapas, aluminium foil, cuttonbud.
3.3 Aklimatisasi Hewan Percobaan
Aklimatimasi dibutuhkan untuk mengobservasi perilaku dan kemampuan adaptasi tikus terhadap lingkungan barunya. Tikus yang tidak memiliki adaptasi baik dengan lingkungannya, memiliki perilaku yang berbeda dengan yang lainnya akan dikeluarkan dari sampel penelitian.aklimitasi dilakukan pada hewan uji yaitu tujuan agar hewan uji bisa beradaptasi dengan kondisi yang akan ditempati selama dilakukannya percobaan. Hewan uji di adaptasikan selama 7 hari pada suhu kamar
dan diberikan pakan standar tikus dan minum secara ad libitum. Tikus ditempatkan pada kandang persegi yang terbuat dari plastik dan kawat38.
3.4 Metode Penelitian
3.4.1 Koleksi dan Identifikasi Sampel Daun Benalu Kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.)
Sampel diambil Kac. Koto Tangah, Padang Kota, Provinsi Sumatra Barat.
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara memetik daun benalu kopi yang segar terdiri dari daun tua yang diambil pada waktu pagi hari yang kemudian dimasukkan kedalam wadah penampung. Dilakukan proses determinasi untuk mengetahui identifikasi sampel penelitian, proses ini dilakuka pada Herbarium Universitas Padjajaran.
3.4.2 Preparasi Bahan Penelitian Sampel Daun Benalu Kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.)
Bagian yang digunakan dalam penelitian adalah daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.). Langkah awal dalam pembuatan simplisia adalah penyiapan sampel. Sampel diambil dalam keadaan segar dengan cara dipetik secara langsung atau dengan menggunakan alat dan didapatkan sampel segar sebanyak 3 kg, setelah itu dilakukan sortasi basah untuk memisahkan sampel yang layak untuk penelitian. Selanjutnya sampel di cuci pada air mengalir sebanyak tiga kali pengulangan untuk menghilangkan kotoran dan tanah yang masih menempel.
Kemudian, Sampel dilakukan perajangan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan. Setelah selesai di rajang sampel dikeringkan dengan metode dikering anginkan dalam udara terbuka pada suhu kamar. Sampel yang sudah kering dilakukan sortasi kering untuk memisahkan sampel yang rusak selama proses pengeringan. Sampel yang didapatkan dari proses sortasi kering diserbukkan untuk memperkecil ukuran dengan menggunakan grinder untuk mendapatkan serbuk dan didapatkan sebanyak 1,1 kg. Selanjutnya dilakukan perhitungan bobot simplisia menggunakan rumus berikut :
Rendemen Simplisia = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎 𝑎𝑤𝑎𝑙 × 100%
3.4.3 Hewan Percobaan
Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus (Rattus norvegicus), sebanyak 35 ekor berjenis kelamin jantan yang berumur 2-3 bulan dan memiliki berat badan sekitar 200-300 g. Semua hewan uji dipeliharan dengan kondisi yang sama, dengan kamar dikondisikan pada suhu ruangan. Hewan uji berasal dari lingkungan, makanan, dan jenis kelamin yang sama dengan tujuan untuk mengurangi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.
Sebelum pengujian hewan percobaan di adaptasikan dengan lingkungan selama 7 hari dan diberi makan dan minum yang cukup.
3.4.4 Pembuatan Ekstrak Daun Benalu Kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) Pembuatan ekstrak daun benalu kopi dari serbuk dilakukan dengan menggunakan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Simplisia dimasukkan satu bagian serbuk kering simplisia dan ditambahkan 10 bagian pelarut ke dalam kedalam botol kaca gelap ataupun wadah yang tidak bereaksi dengan simplisia dan pelarut, lalu dimasukkan etanol 70 %. Rendam selama 6 jam pertama sambil sesekali diaduk, kemudian diamkan selama 18 jam. Pisahkan maserat dengan cara filtrasi. Kemudian, dilakukan proses remaserasi dengan menggunakan pelarut yang sama sekurang-kurangnya satu kali dengan jenis pelarut yang sama dan jumlah volume pelarut sebanyak setengah kali jumlah volume pelarut pada penyaringan pertama. Kumpulkan semua maserat, kemudian uapkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Hitung rendemen yang diperoleh yaitu persentase bobot (b/b) antara rendemen dengan bobot serbuk simplisia yang digunakan dengan penimbangan39. Berikut rumus untuk menentukan hasil rendemennya :
Rendemen ekstrak (%) =𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑒𝑠𝑘𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑎𝑤𝑎𝑙 × 100%
3.4.5 Karakterisasi Ekstrak a. Parameter Spesifik
Parameter spesifik terdiri dari uji identitas dan uji organoleptik. Uji identitas dilakukan dengan tujuan untuk memberikan identitas objektif seperti
deskripsi tata nama, nama ekstrak, nama lain tumbuhan, bagian nama tumbuhan serta nama indonesia. Sedangkan uji organoleptik dengan tujuan untuk mendeskripsikan bentuk, warna, bau dan rasa dari ekstra yang digunakan40.
b. Parameter Non Spesifik 1. Kadar Air
Timbang seksama lebih kurang 10 g sampel, masukkan kedalam wadah yang telah di tara. Keringkan pada suhu 105° selama 5 jam, dan ditimbang.
Lanjutkan pengeringan dan ditimbang pada selang waktu 1 jam sampai perbedaan antara dua penimbangan berturut-turt tidak lebih dari 0,25%40.
Kadar air = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 (𝑔)−𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 (𝑔)
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 (𝑔) × 100%
2. Kadar Abu Total
Ditimbang 1 g ekstrak degn seksama selanjutnya dimasukkan ke dalam kurs yang sebelumnya telah dipijarkan dan ditara, ratakan. Pijarkan perlahan- lahan hingga arang habis, dinginkan dan ditimbang. Jika arang tidak hilang maka ditambahkan air panas, kemudian disaring menggunakan kertas saring bebas abu.
Pijarkan sisa kertas dan kertas saring dalam kurs yang sama. Masukkan filtrat ke dalam kurs, uapkan lalu pijarkan hingga bobot tetap pada suhu 800±25°,kemudian ditimbang. Hitung kadar abu terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara40. Kadar Abu Ekstrak = (berat cawan+abu)−(berat cawang kosong_
(𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛+𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘)−(𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)× 100%
3.4.6 Skrining Fitokimia
Skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalam ekstrak. Skrining fitokimia dalam ekstrak daun benalu kopi mengacu pada 41 :
a. Uji Alkaloid
Sebanyak 0,5 g sampel ditimbang dan dilarutkan dalam 5 mL HCL 2 N.
Larutan yang didapatkan dibagi menjadi 2 bagian, masing-masing bagian
ditambah dengan pereaksi Meyer. Hasil positif alkaloid ditandai terbentuk endapan berwarna berturut-turut yaitu putih dan coklat muda hingga kuning41.
b. Uji Flavonoid
Sebanyak 1 g ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan etanol 96%. Campuran dikocok dan dipanaskan dalam penangas selama 10 menit, kemudian disaring. Filtrat yang diperoleh ditambahkan 0,2 g serbuk Mg, dan beberapa tetes HCl pekat. Campuran dikocok dan dibiarkan memisah. Adanya flavonoid ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah, kuning atau jingga pada lapisan etanol41.
c. Uji Saponin
Sebanyak 0,5 g ekstrak dimasukkan ke dalam tabung pereaksi ditambahkan 10 mL air panas dan didinginkan, kemudian dikocok selama 10 detik. Apabila terbentuk busa setinggi 1-10 cm yang stabil dan tidak kurang dari 10 menit, tidak hilang dengan penambahan 1 tetes HCl 2 N memberikan indikasi adanya saponin41.
d. Uji Steroid/ Terpenoid
Sebanyak 1 g ekstrak ditambahkan 2 mL kloroform dan dikocok.
Kemudian ditambahkan asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat masing- masing sebanyak 2 tetes. Hasil positif terpenoid apabila terbentuk cincin berwarna jingga kemerahan pada larutan, sedangkan positif steroid apabila terjadi perubahan warna merah pada larutan pertama kali kemudian berubah menjadi biru hijau41.
e. Uji fenolik
Sebanyak 1 gekstrak ditambahkan 10 mL metanol, kemudian direaksikan dengan 1-2 tetes FeCl3. Hasil positif fenol apabila terbentuk warna biru tua kehitaman41.
3.4.7 Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Benalu Kopi Terhadap luka Bakar Pada Tikus
Hewan uji yang digunakan adalah tikus jantan dengan berat 200-300 gram dan berumur 2-3 bulan sebanyak 25 ekor deangan pemberian perlakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan bentuk desain Post-test Only Control Group Design. Dalam penelitian ini terdapat 5 kelompok perlakuan (K+, K-, P1, P2, P3) masing-masing kelompok terdapat 5 tikus putih jantan.
1. Pengelompokan Hewan Uji
Pengelompokan hewan uji ditentukan dengan rumus Federer dengan kelompok perlakuan 5 kelompok secara acak. Masing-masing kelompok terdapat 5 ekor hewan percobaan. Berikut pengelompokan hewan uji percobaan dengan rumus Fareder:
(𝑡 − 1)(𝑛 − 1) ≥ 15 (5 − 1)(𝑛 − 1) ≥ 15
4𝑛 − 4 ≥ 15 𝑛 ≥19
4 = 4,75 digenapkan menjadi 5 ekor per kelompok perlakuan.
Hewan uji yang digunakan adalah 25 ekor tikus putih jantan yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok dimana tiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus dengan kelebihan hewan uji sebanyak 2 ekor untuk menghindari hal yang tidak diinginkan selama proses penelitian.
2. Pembuatan Konsentrasi Ekstrak
Pada penelitian ini untuk pembuatan konsentrasi ekstrak yang akan diberikan kepada hewan uji dilakukan sebagai berikut :
Konsentrasi 5% : Campuran ekstrak daun benalu kopi sebanyak 5 gram ditambahkan hingga 100 gram vaselin flavum .
Konsentrasi 10% : Campuran ekstrak daun benalu kopi sebanyak 10 gram ditambahkan hingga 100 gram vaselin flavum.
Konsentrasi 15% : Campuran ekstrak daun benalu kopi sebanyak 15 gram ditambahkan hingga 100 gram vaselin flavum
Kontrol positif mengacu pada penelitian luka bakar yaitu menggunakan Bioplacenton.
3. Perlakuan dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan metode Rancangan Acak Lengkap dengan pendekatan Post Test Only Group Desaign dengan 5 perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah 3 jenis konsentrasi bertingkat ekstrak daun benalu kopi dan 2 perlakuan sebagai kontrol yang diaplikasikan secara topikal pada kulit punggung tikus. Adapun perlakuan yang digunakan adalah sebagai berikut :
K- = Vaselin flavum (kontrol negatif) K+ = Bioplacenton 15 gram
P1 = Ekstrak daun benalu kopi 5% ad vaselin flavum 100%
P2 = Ekstrak daun benalu kopi 10% ad vaselin flavum 100%
P3 = Ekstrak daun benalu kopi 15% ad vaselin flavum 100%
4. Pembuatan Luka Bakar
Tahap awal menentukan lokasi luka bakar yaitu di bagian punggung tikus, kemudian bulu dicukur sekitar 3 cm di sekitar kulit yang akan dibuat luka bakar dan kulit didesinfeksi dengan alkohol 70%. Selanjutnya dilakukan anastesi pada kulit tikus dengan menggunakan castran. Setelah itu dilakukan pembuatan luka bakar pada punggung tikus dengan menggunakan lempeng berbentuk bulat dengan diameter 20 mm yang dipanaskan di api biru selama 3 menit dan ditempelkan selama 5 detik pada punggung tikus sampai terbentuk luka bakar.
lalu luka dikompres dengan aquadest selama 1 menit. Ukur diameter luka bakar yang dihasilkan42.
5. Pengamatan Penyembuhan Ekstrak Etanol Kulit Buah Kopi Arabica Sebagai Obat Luka Bakar Pada Tikus.
Pemberian Bioplacenton dan ekstrak etanol daun benalu kopi diberikan setiap hari sebanyak 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Pengamatan proses penyembuhan luka bakar dilakukan sehari setelah hewan uji diberi perlakuan dengan interval dua hari. Hasil pengamatan akan disajikan dalam bentuk tabel, untuk lebih jelas lihat tabel. Pengamatan dilakukan selama 14 hari dengan mengukur diameter zona luka bakar menggunakan jangka sorong berskala 0.01 mm. Luka bakar yang sembuh ditandai dengan merapat dan tertutupnya luka.
Kemudian hitung diameter rata rata zona luka bakar menggunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
dx = diameter Luka Hari ke x dx1= Diameter luka hari pertama dx2= diameter luka hari kedua dx3= diameter luka hari ketiga dx4= diameter luka hari keempat
Kemudian hitung persentase kesembuhan menggunakan rumus sebagai berikut :
𝑝% =𝑑 − 𝑑𝑥
𝑑 × 100%
Keterangan :
P% : Persentase penyembuhan luka d : Diameter luka awal
dx : Diameter luka pada hari pengamatan 6. Pengamatan Diameter Luka Bakar
Pengamatan pada Diameter luka dilakukan sebelum pemberian dan sesudah pemberian perlakuan pada luka di punggung tikus hingga menunjukkan adanya tanda - tanda kesembuhan dengan cara mengukur diameter luka.
Pengukuran rata-rata diameter luka dilakukan dengan menggunakan jangka sorong.
7. Pengamatan Kandungan Hidroksiprolin
Untuk pengukuran jumlah hidroksiprolin pada bagian kulit tikus bekas luka dilakukan biopsi pada bagian kulit bekas luka pada tikus. Jaringan kulit
kemudian dikeringkan pada oven suhu 60oC selama 12 jam dan dihidrolisis dengan HCl 6 N selama 24 jam pada oven dengan suhu 110oC. kemudian dinetralkan sampai pH 7 dengan menggunakan larutan dafar dan NaOH.
Kemudian ditambahkan 1 mL CuSO4, NaOH dan H2O2 lalu campuran larutan dipanaskan pada oven selama 5vmenit menggunakan suhu 80oC. setelah dingin ditambahkan dengan 4 mL H2SO4 3M dan 2 mL 2-dimetil-aminobenzaldehid dan larutan dipanaskan lagi pada oven dengan suhu 70oC selama 16 menit. Setelah itu larutan didinginkan dan diukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV- Vis43. Penetapan jumlah hidroksiprolin dalam sampel dihitung dengan menggunakan kurva standar.
3.5 Analisis Data
Analisis data dengan kandungan metabolit sekunder pada ekstrak daun benalu kopi yang bertujuan untuk melihat aktivitas penyembuhan luka bakar dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Smirnov).
Data kemudian dianalisis dengan menggunakan metode One Way Anova untuk menentukan homogenitas dan normalitas. Jika terdapat perbedaan atau pengaruh secara nyata (P<0,05), dilanjutkan dengan menggunakan uji Post Hoc Duncan untuk melihat perbedaan nyata perlakuan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil
4.1.1 Tabel 1. Hasil Uji Parameter Spesifik Daun Benalu Kopi
4.1.2 Tabel 2 Hasil Uji Parameter Non Spesifik
4.1.3 Tabel 3 Hasil Uji Skrinning Fitokimia
Senyawa Metabolit Sekunder Hasil Skrinning
Alkaloid +
Flavonoid +
Saponin +
Triterpenoid/steroid +
Fenolik +
Keterangan :
(+) = Positif mengandung metabolit sekunder (-) = Negatif mengandung metabolit sekunder
Parameter Spesifik Hasil
Bentuk Cairan Kental
Organoleptis Bau Bau Khas
Warna Coklat Kehitaman
Rasa Kelat Kepahitan
Nama ekstrak Loranthus ferrugineus
Extractum
Nama latin tanaman Loranthus ferrugineus Roxb.
Identitas Bagian tanaman yang digunakan Daun Benalu Kopi Nama Indonesia tanaman Daun Benalu Kopi
Suku/Famili Loranthaceae
Parameter Hasil Pengujian
Kadar Abu 6%
Kadar Air 14,3%
4.1.4 Tabel 4 Rata-rata Diameter Luka ± Standar Deviasi
4.1.5 Tabel 5 Kadar Hidroksiprolin dan Jaringan Kulit Tikus
Kelompok Perlakuan Kadar Hidroksiprolin(μg/mL)
K+ 64,34c
K- 35,76a
P1 45,68b,c
P2 53,62a,b
P3 48,35a,b
Keterangan:
1. Superscript huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan yang nyata (p<0,05)
2. Kontrol positif (Bioplacenton), Kontrol negatif (Vaselin flavum), P1(5%), P2 (10%), P3 (15%).
Kelompok Perlakuan
AUC Diameter ± SEM PersentaseKesembuhan (%)
K+ 28,55±0,5 72,48%
K- 31,87±0,61 31,79%
P1 28,93±0,56 42,45%
P2 28,82±1,05 62,16%
P3 28,63±0,7 62,5%
4.2. Pembahasan
4.2.1 Determinasi Tanaman
Determinasi tumbuhan merupakan proses dalam menentukan nama/jenis tumbuhan secara spesifik. Proses determinasi terlebih dahulu sebelum digunakan dalam penelitian menggunakan tumbuhan tujuannya yaitu untuk mendapatkan kebenaran identitas dengan jelas dari tanaman yang diteliti dan menghindari kesalahan dalam pengumpulan bahan utama peneliti44,45.
Proses determinasi tanaman dilakukan di Herbarium Universitas Padjajaran dengan nomor surat 42/HB/11/2022, menyatakan bahwa hasil identifikasi sampel tanaman yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah tanaman daun benalu kopi berasal dari famili Loranthaceae dan spesies Loranthus ferrugineus Roxb (Lampiran 15).
4.2.2 Simplisia Daun Benalu Kopi
Langkah awal dalam pembuatan simplisia yaitu sortasi basah, proses ini dilakukan pemilahan hasil panen ketika tanaman masih segar dan membuang bahan yang tidak diperlukan seperti tanah, kerikil, rumput liar dan tanaman lainnya yang tidak diiinginkan. Setelah disortasi yang gunanya untuk menghilangkan kotoran yang ada di sampel selanjutnya dilakukan perajangan menggunakan gunting agar mempermudah dalam proses pengeringan. Pada proses ini terjadi pengeluaran air dari simplisia sehingga melindungi senyawa aktif dari kerusakan seperti hidrolisis air, tumbuhnya jamur dan bakteri dan menghentikan proses reaksi enzimatik46.Selanjutnya simplisia disortasi kering untuk memisahkan benda-benda asing, kemudian dihaluskan dan diayak untuk mendapatkan serbuk dengan luas permukaan bahan dengan pelarutnya lebih cepat larut.
Simplisia yang didapatkan setelah pengeringan didapatkan sebanyak 1,1 kg yang diperoleh dari sampel segar yaitu 3 kg sehingga menghasilkan rendemen sebesar 36,66%.
4.2.3 Pembuatan Esktrak Etanol Daun Benalu Kopi
Proses ekstraksi daun benalu kopi (Loranthus ferrugineus Roxb.) menggunakan metode maserasi. Adapun alasan memilih metode maserasi karena tidak memerlukan peralatan yang rumit, relatif murah dan dapat menghindari penguapan komponen senyawa karena tidak menggunakan proses pemanasan47. Pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi ini menggunakan etanol 70%, yang dimana sifatnya yang mudah melarutkan senyawa zat aktif baik yang bersifat polar, semi polar dan non polar, bersifat tidak toksik dan harga relatif murah. Dan selain itu, etanol 70% dapat membasahi sampel sehingga sel sel akan mengembang dan pelarut akan lebih mudah berpenetrasi untuk mengikat senyawa-senyawa yang terkandung dalam simplisia48.
Serbuk simplisia sebanyak 700 gram dilakukan maserasi selama 24 jam dengan pelarut etanol 70% sebanyak 3 kali selama 3 hari. Setelah itu dilakukan penyaringan dan filtrat yang didapatkan yang kemudian dilakukan evaporasi pada suhu 600C. Dari hasil maserasi menghasilkan ekstrak kental sebanyak 72,45 gram dengan nilai rendemen sebesar 10,35%. Hal ini tujuan perhitungan rendemen ekstrak yaitu untuk mengetahui jumlah simplisia yang dibutuhkan untuk pembuatan sejumlah tertentu ekstrak kental dan untuk nengetahui kadar metabolit sekunder yang terbawa oleh pelarut yang digunakan. Dimana semakin tinggi nilai rendemen menandakan jumlah ekstrak yang dihasilkan semakin banyak dan tingginya nilai rendemen yang dihasilkan terjadi karena bobot simplisia yang digunakan49.
4.2.4 Karakterisasi Ekstrak Etanol Daun Benalu Kopi
Parameter karakteristik dari suatu ekstrak adalah parameter spesifik dan non spesifik. Hal ini bertujuan untuk mengetahui bahwa keamanan dan mutu ekstrak sebagai bahan baku obat.
a. Parameter Spesifik
Dalam penentuan suatu ekstrak hal ini bertujuan untuk memberikan identitas objektif seperti deskripsi tata nama, nama ekstrak, nama lain tumbuhan,
bagian tumbuhan dan nama indonesia tumbuhan penelitian ini. Adapun sampel yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa ekstrak yang berasal dari tanaman kopi dengan nama latin Loranthus ferrugineus dan nama indonesianya benalu kopi. Dan bagian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah daun benalu.
Dalam penentuan organopetik dari ekstrak ini yang memiliki tujuan untuk mendeskripsikan bentuk,warna, bau dan rasa dari ekstrak yang dipergunakan.
b. Parameter Non Spesifik
Parameter non spesifik berupa nilai kadar abu total dan kadar air. Dapat dilihat hasil parameter non spesifik dari ekstrak etanol daun benalu kopi pada Tabel 2. Penetapan kadar abu bertujuan untuk mengetahui kandungan mineral internal dan eksternal yang terdapat dalam serbuk simplisia dan sedangkan kadar abu yang tidak larut asam ditujukan untuk mengetahui jumlah pengotoran yang berasal dari pasir atau tanah silikat50. Hasil pengujian kadar abu dalam ekstrak daun benalu kopi yaitu 6%. Kemudian hasil yang diperoleh bahwa kadar air pada ekstrak daun benalu kopi yaitu 14,3%. Tujuan dilakukan penetapan kadar air yaitu untuk mengukur kandungan air yang berada di dalam ekstrak dengan tujuan memberikan batasan minimal atau rentang besarnya kandungan air dalam suatu ekstrak. Kandungan air yang berlebihan pada bahan akan mempercepat pertumbuhan mikroba dan jugadapat mempermudah terjadinya hidrolisa terhadap kandungan kimianya sehingga dapat mengakibatkan penurunan mutu dari obat tradisonal51.
4.2.5 Skrinning Fitokimia
Skrinning fitokimia bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam suatu sampel. Pengujian skrinning fitokimia dilakukan dengan cara menambahkan reagen-reagen untuk pengujian masing- masing senyawa yang akan diamati, kemudian dilihat perubahan yang terjadi.
Hasil uji skrinning fitokimia ekstrak etanol daun benalu kopi dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan hasil uji skrinning fitokimia diketahui bahwa ekstrak etanol