SIFAT KARKAS DAN NON KARKAS SAPI SILANGAN
LOKAL PADA BERBAGAI KONDISI
PERLEMAKAN TUBUH
ACHMAD UBAIDILLAH
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Sifat Karkas dan Non-Karkas Sapi Silangan Lokal pada Berbagai Kondisi Perlemakan Tubuh adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Agustus 2013
Achmad Ubaidillah NIM D14090045
ABSTRAK
ACHMAD UBAIDILLAH. Sifat Karkas dan Non-Karkas Sapi Silangan Lokal pada Berbagai Kondisi Perlemakan Tubuh. Dibimbing oleh RUDY PRIYANTO dan HENNY NURAINI.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Body Condition Score (BCS) sapi silangan lokal pada sifat karkas dan non karkas. Penelitian ini menggunakan 73 ekor sapi silangan lokal jantan yang disembelih di rumah potong hewan daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Data bobot potong, bobot karkas dan non-karkas pada BCS dicatat. Data yang diperoleh kemudian dianalisis ragam (ANOVA) dengan prosedur General Linear Model (GLM). Perbedaan antar BCS diuji lanjut dengan uji Duncan. Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan meningkatnya BCS dari kurus sampai gemuk mengakibatkan peningkatan bobot potong dan bobot karkas secara signifikan (P<0.05) kecuali persentase karkas panas. Bobot non-karkas meningkat dengan meningkatnya BCS. Namun perbedaan BCS yang nyata (P<0.05) pada sifat non-karkas hanya terletak pada persentase offal dan ekor.
Kata kunci: body condition score, sapi silangan lokal, sifat karkas dan non karkas
ABSTRACT
ACHMAD UBAIDILLAH. Carcass and non-carcas Characteristic of Local Crossbreed Cattle at Different Body Condition Score. Supervised by RUDY PRIYANTO and HENNY NURAINI.
The study was aimed to examining the effect of body condition score (BCS) of local crossbreed cattle on carcass and non-carcass characteristics. This study used 73 bulls of local crossbreed cattle slaughter on state abbatoar at West Java, Central Java, and East Java. The slaughter weight, carcass and non-carcass weights at different BCS were recorded. The collected data were analyzed by analysis of variance (ANOVA) using general linear model (GLM) procedure. The differences between BCS were tested using Duncan multiple range test. Result showed that increased of BCS from 2 to 4, slaughter weight and carcass weight were increased (P<0.05), except carcasses dressing percentage. The non-carcas weight obviously increased with increasing body condition score (BCS). However significant between BCS differences in non-carcas characteristics occurred only in percentages of offal and tail.
Keywords: body condition score, carcass and non carcas characteristic, local crossbred cattle
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan
pada
Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
ACHMAD UBAIDILLAH
SIFAT KARKAS DAN NON KARKAS SAPI SILANGAN
LOKAL PADA BERBAGAI KONDISI
PERLEMAKAN TUBUH
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi: Sifat Karkas dan Non Karkas Sapi Silangan Lokal pada Berbagai Kondisi Perlemakan Tubuh
Nama : Achmad UbaidiUah
NIM : 014090045
Oisetujui oJeh
Dr Ir Henny Nuraini, MSi Pembimbing II
'¢~/l~':' _
LR ,.". .. l Ketua Departemen
" Tanggal Lulus:
2 3
l~'
J 2011
Judul Skripsi : Sifat Karkas dan Non-Karkas Sapi Silangan Lokal pada Berbagai Kondisi Perlemakan Tubuh
Nama : Achmad Ubaidillah NIM : D14090045
Disetujui oleh
Dr Ir Rudy Priyanto Pembimbing I
Dr Ir Henny Nuraini, MSi Pembimbing II
Diketahui oleh
Prof Dr Ir Cece Sumantri, MAgrSc Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juni 2012 ini sifat karkas dan non-karkas sapi silangan lokal pada berbagai kondisi perlemakan tubuh.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Rudy Priyanto dan Ibu Dr Ir Henny Nuraini MSi selaku pembimbing skripsi, serta Bapak Prof Dr Ir Muladno MSA yang telah banyak memberi saran. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada dosen penguji ujian sidang saya Ibu Ir Komariah MSi, Ibu Ir Anita S. Tjakradijaja MRurSc, serta panitia ujian sidang Bapak Dr Ir Afton Atabany MSi yang telah banyak memberikan saran. Terima kasih penulis sampaikan kepada dosen pembimbing akademik Dr Ir Rudy Priyanto. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Lia Julianty, Zulham Mirza Prabowo, Irmawan Purpranoto, Muhammad Ismail SPt dan Tim Lab Ruminansia Besar. Terima kasih penulis sampaikan kepada penghuni kandang ABC (Waluyo, Syeh, Al, Fajar, dan Ipin) serta keluarga besar IPTP 46. Terima kasih juga kepada Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Kementrian Pertanian Republik Indonesia atas terlaksananya penelitian ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu atas segala doa dan kasih sayangnya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Agustus 2013
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi DAFTAR LAMPIRAN vi PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Tujuan Penelitian 2Ruang Lingkup Penelitian 2
METODE 2
Waktu dan Tempat Penelitian 2
Bahan 2
Alat 3
Prosedur 3
HASIL DAN PEMBAHASAN 4
Kondisi Umum Penelitian 4
Sapi Silangan Lokal 5
Sifat Karkas Sapi Silangan Lokal 5
Sifat Non-Karkas Sapi Silangan Lokal 8
SIMPULAN DAN SARAN 10
DAFTAR PUSTAKA 10
LAMPIRAN 13
DAFTAR TABEL
1 Rataan sifat karkas sapi silangan lokal jantan pada berbagai Body
Condition Score (BCS) 6
2 Rataan bobot non-karkas sapi silangan lokal jantan pada berbagai Body
Condition Score (BCS) 8
3 Rataan persentase non-karkas sapi silangan lokal jantan pada berbagai
Body Condition Score (BCS) 9
DAFTAR LAMPIRAN
1 Hasil analisis ragam bobot potong 13
2 Hasil analisis ragam bobot karkas 13
3 Hasil analisis ragam persentase karkas 13
4 Hasil analisis ragam bobot kulit 13
5 Hasil analisis ragam bobot offal merah 13
6 Hasil analisis ragam bobot offal hijau kosong 14
7 Hasil analisis ragam bobot kaki 14
8 Hasil analisis ragam bobot kepala 14
9 Hasil analisis ragam bobot ekor 14
10 Hasil analisis ragam persentase kulit 14
11 Hasil analisis ragam persentase offal merah 14
12 Hasil analisis ragam persentase offal hijau kosong 15
13 Hasil analisis ragam persentase kaki 15
14 Hasil analisis ragam persentase kepala 15
15 Hasil analisis ragam persentase ekor 15
16 Hasil analisis ragam bobot trim lemak 15
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Daging sapi merupakan salah satu bahan pangan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Di Indonesia, daging sapi menjadi bahan pangan sumber protein yang digemari setelah daging unggas. Menurut Ditjen PKH (2012) produksi daging sapi di Indonesia sebesar 505 477 ton. Produksi daging sapi tersebut paling banyak dihasilkan oleh jenis sapi potong, contoh sapi potong meliputi sapi Peranakan Ongole (PO), sapi bali, sapi madura, sapi silangan lokal dan sapi perah yang sudah tidak produktif. Sapi silangan lokal memiliki kontribusi yang lebih tinggi dalam memenuhi kebutuhan daging.
Sapi silangan lokal merupakan hasil dari persilangan antara bangsa sapi lokal (Bos indicus) dengan bangsa sapi impor (Bos taurus). Jenis sapi persilangan yang berkembang di Indonesia diantaranya adalah sapi SIMPO (Simmental x PO) dan LIMPO (Limousin x PO). Sapi silangan lokal memiliki performa yang lebih baik dibandingkan dengan sapi lokal dan memiliki pertumbuhan yang cepat dan tubuh yang besar (Endrawati et al. 2010). Performa sapi dapat dievaluasi dengan menggunakan Body Condition Score (BCS). Body Condition Score (BCS) merupakan suatu indikator dalam penilaian produktivitas suatu ternak. Evaluasi BCS ialah dengan menilai kondisi perlemakan tubuh. Penilaian kondisi perlemakan tubuh dilakukan dengan melihat deposit lemak dalam tubuh ternak di bagian punggung, rusuk, pangkal ekor, dada serta perut. Perbedaan hasil evaluasi BCS dapat dipengaruhi oleh kondisi dan potensi wilayah di Indonesia yang berbeda-beda.
Kondisi dan potensi wilayah di Indonesia yang beragam menyebabkan kondisi lingkungan, sistem pemeliharaan dan pakan yang tersedia akan berbeda-beda. Perbedaan sistem pemeliharaan, penggunaan pakan dan bangsa ternak akan mengakibatkan keragaman Body Condition Score ternak (Wulandari 2005). Selain itu, keadaan peternak yang terdesak akan kebutuhan ekonomi merupakan suatu permasalahan utama yang terjadi di dalam pemotongan sehingga sapi yang belum mencapai kondisi tubuh yang optimal terpaksa dipotong. Apple (1999) menyatakan bahwa BCS sangat menentukan hasil potongan komersial, karkas dan penampilan sapi. Sapi dengan BCS gemuk akan menghasilkan potongan karkas yang lebih besar.
Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan penelitian ini untuk mengetahui sebaran sapi yang dipotong serta sifat karkas dan non-karkas sapi silangan lokal pada berbagai kondisi perlemakan tubuh. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui BCS yang ideal untuk dilakukan pemotongan ternak agar menghasilkan sifat karkas dan non-karkas yang tinggi. Selanjutnya, data yang diperoleh dapat dijadikan acuan peternak sebagai tolak ukur dalam memprediksi daging untuk meningkatkan produktivitas ternak sebagai upaya pemenuhan kebutuhan daging di Indonesia.
2
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari sifat karkas dan non-karkas sapi silangan lokal pada berbagai Body Condition Score (BCS) ternak yang dipotong di Rumah Pemotongan Hewan (RPH).
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah melakukan pengamatan produktivitas karkas sapi silangan lokal yang dipotong di rumah pemotongan hewan. Pengelompokkan sapi didasarkan pada kondisi perlemakan tubuh ternak kemudian dihitung data karkas dan non-karkas.
METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu dari bulan Juni sampai Agustus 2012. Pengambilan data karkas dan non-karkas dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) pada tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Adapun rincian lokasi penelitian yaitu Provinsi Jawa Barat (RPH PT Elders Indonesia Bogor, UPTD RPH Kota Bogor, dan RPH Cibinong Kabupaten Bogor), Jawa Tengah (RPH Kota Semarang dan RPH Kota Salatiga) dan Jawa Timur (RPH Kota Pegirian dan RPH Suryajaya).
Bahan
Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi silangan lokal jantan sebanyak 73 ekor dengan Body Condition Score (BCS) kurus, sedang dan gemuk masing-masing 18, 44 dan 11 ekor. Pada Gambar 1 diperlihatkan kondisi sapi penelitian.
A. BCS 2 (kurus) B. BCS 3 (sedang) C. BCS 4 (gemuk) Gambar 1 Sapi silangan lokal dengan Body Condition Score (BCS) kurus, sedang
3 Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan sapi hidup, timbangan karkas dan non-karkas. Selain itu, alat tambahan lain yang digunakan seperti kamera, alat tulis, form identifikasi serta fasilitas peralatan rumah pemotongan hewan (RPH).
Prosedur
Sebelum penelitian dilakukan tahapan awal yaitu perizinan kepada dinas peternakan dan RPH setempat. Survei dilakukan untuk mengetahui kondisi di RPH. Identifikasi ternak dilakukan sebelum sapi dipotong dan sapi diklasifikasikan pada kategori Body Condition Score (BCS). Penilaian BCS pada sapi silangan lokal yang dipotong di RPH dengan melihat kondisi perlemakan tubuh. Penilaian dilakukan secara visual dengan melihat struktur tulang ada penonjolan atau tidak. Setelah tertutupi dan tampak membulat baru dilakukan perabaan timbunan lemak. Penilaian deposit lemak dalam tubuh diantaranya pada bagian punggung (back or loin), rusuk (ribs), pangkal ekor (tailhead), sandung lamur (brisket), samcam (flank), vulva/rectum, dan kelenjar mamae (mammary gland). Penilaian kondisi perlemakan tubuh yang tercatat adalah sapi BCS kurus (BCS 2), BCS sedang (BCS 3), dan BCS gemuk (BCS 4). Hal ini sesuai dengan kondisi yang ada di lapang. Kemudian sapi ditimbang untuk diperoleh bobot potongnya.
Proses penyembelihan secara halal dengan memotong bagian leher dekat tulang rahang bawah antara tulang osipital dan tulang os.atlas sehingga oesophagus, vena jugularis, arteri carotis, dan trachea dapat terpotong secara sempurna. Pemisahan kepala dilakukan dengan memotong bagian persendian tulang leher dan tengkorak. Pemisahan kaki depan dan belakang dilepaskan pada sendi carpus-metacarpus dan sendi tarsus-metatarsus. Pengulitan yang dilakukan dengan membuat irisan dari kulit daerah anus sampai leher di bagian perut dan dada. Proses pengeluaran organ-organ dengan memotong pada bagian tulang dada dan perut. Organ-organ tersebut meliputi jantung, trakea, paru-paru, ginjal, limpa dan hati ditimbang sebagai bobot offal merah. Lambung, usus dan lemak yang menyelimuti organ-organ ditimbang sebagai bobot offal hijau kosong. Bagian-bagian yang telah dipisahkan tadi seperti kepala, kaki dan kulit masing-masing ditimbang dan dicatat bobotnya.
Teknik pemotongan karkas masing-masing RPH memiliki perbedaan. Teknik pemotongan di RPH Jawa Barat karkas dibelah menjadi empat bagian sepanjang tulang belakang dari sakral (Ossa vertebrae sacralis) sampai leher (Ossa vertebrae cervicalis) secara simetris dan ekor tidak terikut dalam karkas. Sedangkan RPH Jawa Tengah dan RPH Jawa Timur karkas dibelah menjadi dua bagian sepanjang tulang belakang sampai leher dan ekor terikut dalam karkas. Karkas yang dihasilkan setiap pemotongan di masing-masing RPH merupakan karkas panas dan sudah dikurangi ekor serta diharapkan sesuai standar karkas menurut BSN (2008), yaitu karkas panas adalah karkas hasil penimbangan bagian tubuh sapi sehat yang telah disembelih secara halal, telah dikuliti, dikeluarkan jeroan, dipisahkan kepala dan kaki mulai dari tarsus/karpus ke bawah, organ
4
reproduksi dan ambing, ekor, serta lemak yang berlebih. Selanjutnya karkas ditimbang sebagai bobot karkas panas.
Rancangan Percobaan
Penelitian terhadap sifat karkas dan non-karkas menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan tiga kondisi perlemakan tubuh yaitu kurus, sedang, dan gemuk. Model matematika menurut Mattjik dan Summertajaya (2002) yang digunakan yaitu:
Yij = µ + pi + ԑij Keterangan:
𝑌𝑖𝑗 : Nilai Sifat-sifat karkas dan non-karkas pada hewan yang ke-ij µ : Rataan Umum sifat-sifat karkas dan non-karkas
𝑝𝑖 : Pengaruh perlakuan BCS ke-i 𝜀𝑖𝑗 : Pengaruh galat percobaan Analisis Data
Data diuji menggunakan sidik ragam (ANOVA) dengan prosedur General Linear Model (GLM). Bila terdapat perbedaan rataan antar BCS maka dilanjutkan uji lanjut jarak berganda Duncan (Gasperz 1992).
Peubah yang diamati
1. Bobot potong. Bobot potong (kg) diperoleh dari hasil penimbangan sapi sesaat sebelum dipotong.
2. Bobot karkas. Bobot karkas (kg) diperoleh dengan menimbang karkas panas yang dipisahkan dari bagian-bagian non-karkas.
3. Persentase karkas. Persentase karkas (%) diperoleh dari bobot karkas panas dibagi dengan bobot potong dikalikan 100%.
4. Bobot non-karkas. Bobot non-karkas (kg) adalah hasil penimbangan kepala, kulit, ekor, kaki, offal merah (jantung, trakhea, limpa, ginjal, hati dan paru-paru), dan offal hijau (lambung, usus dan lemak internal).
5. Persentase non-karkas. Persentase non-karkas diperoleh dari perbandingan bobot organ-organ non-karkas (kulit, kepala, ekor, kaki, offal merah, offal hijau kosong) dengan bobot karkas dikalikan 100%.
6. Bobot trim lemak. Bobot trim lemak diperoleh dari hasil penimbangan lemak subkutan yang telah dilakukan penyayatan pada karkas.
7. Persentase trim lemak. Persentase trim lemak diperoleh dari perbandingan bobot trim lemak dengan bobot karkas dikalikan 100%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Penelitian
Sapi silangan lokal pada penelitian ini didapatkan dari rumah pemotongan hewan (RPH) yang berada di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurut BSN (1999), rumah pemotongan hewan adalah kompleks bangunan dengan disain dan konstruksi khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan higieni tertentu serta digunakan sebagai tempat pemotongan hewan selain unggas bagi konsumsi
5 masyarakat. RPH pada penelitian ini terdiri atas RPH milik pemerintah dan RPH milik swasta. Masing-masing RPH memiliki fasilitas dan fungsi yang berbeda.
Fasilitas yang terdapat di RPH milik pemerintah meliputi fasilitas pemotongan serta adanya tempat penampungan hewan, pemeriksaan hewan hidup dan kantor. Fasilitas di RPH milik swasta hampir sama dengan RPH milik pemerintah tetapi RPH milik swasta dilengkapi dengan adanya alat pendingin atau pembekuan di ruang penyimpanan karkas (chilling room), ruang pemisahan karkas (deboning), ruang penyimpanan dan distribusi. RPH milik pemerintah pada umumnya berfungsi sebagai tempat sewa pemotongan ternak sehingga proses penanganan maupun pemotongan sapi yang dipotong disana tergantung dari pemilik sapi tersebut. RPH milik swasta memiliki prosedur pemotongan yang sudah diterapkan sehingga sapi yang dipotong harus mengikuti prosedur pemotongan tersebut.
Sapi Silangan Lokal
Sapi silangan lokal merupakan hasil dari persilangan antara bangsa sapi lokal (Bos indicus) dengan bangsa sapi impor (Bos taurus). Sapi silangan lokal di Indonesia sudah mulai banyak dikembangkan oleh peternak khususnya peternak rakyat. Endrawati et al. (2010) menjelaskan bahwa sapi silangan banyak dimanfaatkan dan dibudidayakan oleh peternak di Indonesia karena dianggap mempunyai keunggulan dalam produksi dibandingkan sapi Peranakan Ongole (PO). Sumadi et al. (2008) menyatakan bahwa komposisi sapi PO, SIMPO, LIMPO dan lainnya di Jawa Barat masing-masing sebesar 21.17%, 19.74%, 22.92%, dan 36.14%. Daerah Jawa Tengah masing-masing 51.93%, 36.50%, 11.57%, dan 0%. Daerah Jawa Timur masing-masing 44.27%, 28.84%, 24.59%, dan 2.31%. Berdasarkan data komposisi sapi tersebut dapat diindikasikan bahwa kondisi wilayah serta ketersediaan pakan akan berpengaruh terhadap bangsa sapi yang dipelihara.
Sapi silangan lokal jantan yang didapatkan pada penelitian ini sebanyak 73 ekor dan dibedakan pada berbagai Body Condition Score (BCS). Persentase masing-masing sebaran BCS 2 (kurus), BCS 3 (sedang) dan BCS 4 (gemuk) pada penelitian ini sebesar 25%, 60% dan 15%. BCS 4 (gemuk) memiliki tingkat persentase yang kecil dalam tingkat pemotongan ternak pada penelitian ini. Hal ini dikarenakan peternak memerlukan dana tunai untuk memenuhi kebutuhan hidup pokoknya sehingga menjual sapi yang belum mencapai tingkat BCS yang optimal. Soehadji (1995) menjelaskan bahwa peternakan rakyat secara umum masih bersifat sambilan yang dibatasi oleh usaha yang kecil, teknologi sederhana dan produksi yang dihasilkan rendah.
Sifat Karkas Sapi Silangan Lokal
Suatu produktivitas ternak dapat dilihat dari sifat karkas yang dihasilkan. Salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas karkas adalah penilaian Body Condition Score (BCS). Rataan sifat karkas sapi silangan lokal jantan pada berbagai Body Condition Score (BCS) dapat dilihat pada Tabel 1 sifat karkas
6
tersebut meliputi bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, bobot trim lemak dan persentase trim lemak.
Tabel 1 Rataan sifat karkas sapi silangan lokal jantan pada berbagai Body Condition Score (BCS)
Peubah Body Condition Score (BCS) Rataan
BCS 2 BCS 3 BCS 4
Bobot Potong 338.44 ± 81.50a 368.54 ± 65.05a 434.64 ± 56.49b 371.08 ± 73.66 Bobot Karkas Trim Lemak 176.66 ± 49.21a 1.55 ± 0.78a 196.31 ± 38.06a 9.53 ± 6.62b 227.52 ± 33.52b 9.13 ± 1.72ab 196.17 ± 42.88 7.70 ± 5.67 Persentase (%) Karkas Trim lemak 51.74 ± 3.29 1.40 ± 0.71 53.13 ± 2.94 5.78 ± 3.94 52.25 ± 2.47 4.01 ± 0.63 52.65 ± 2.99 4.34 ± 3.24 Keterangan: Huruf yang berbeda pada angka di baris yang sama menunjukkan perbedaan yang
nyata (P<0.05). Bobot Potong
Bobot potong merupakan bobot tubuh ternak yang ditimbang sebelum dipotong. Rataan bobot potong sapi BCS 2 (kurus), BCS 3 (sedang) dan BCS 4 (gemuk) masing-masing sebesar 338.44 kg, 368.54 kg dan 434.64 kg. Hal ini memperlihatkan adanya kecenderungan kenaikan bobot potong dengan meningkatnya BCS ternak. Sapi dengan BCS 4 (gemuk) akan memperlihatkan bobot potong yang semakin berat. Hal ini sesuai pendapat Apple (1999) bahwa semakin meningkatnya BCS akan meningkatkan bobot potong. Nielsen (2003) menjelaskan bahwa bobot badan memiliki hubungan yang positif terhadap tingkat kegemukan ternak.
Nilai rataan bobot potong hasil penelitian ini lebih ringan dibandingkan nilai rataan bobot potong hasil program penggemukan atau feedlot dalam penelitian Muhibbah (2007) bahwa sapi hasil inseminasi buatan (Bos taurus vs Bos indicus) BCS 2 (kurus), BCS 3 (sedang) dan BCS 4 (gemuk) masing-masing memiliki rataan bobot potong sebesar 620 kg, 639.8 kg dan 702.3 kg. Nilai bobot potong yang berbeda dapat disebabkan adanya keragaman persepsi individu dalam penilaian BCS. Bobot potong sapi dalam penelitian Muhibbah telah mencapai bobot potong yang optimal karena ternak berasal dari peternakan penggemukan sehingga memiliki perbedaan bobot potong yang signifikan. Sedangkan bobot sapi silangan lokal yang didapatkan pada penelitian ini belum mencapai bobot potong yang optimal karena sapi yang dipotong pada umumnya berasal dari peternakan rakyat yang menerapkan pola pemeliharaan secara tradisional. Selain itu, ternak yang dipotong pada umumnya berumur muda (1-2 tahun) sehingga dapat diindikasikan belum mencapai pertumbuhan yang optimal.
Hasil uji menunjukkan bahwa sapi dengan BCS 2 (kurus) dan BCS 3 (sedang) memiliki rataan bobot potong yang tidak berbeda. Hal ini diakibatkan kondisi isi saluran pencernaan ternak saat sebelum dilakukan pemotongan. Kondisi isi saluran pencernaan sangat menentukan nilai bobot potongnya. Muhibbah (2007) menyatakan bahwa bobot potong yang sama pada BCS yang berbeda disebabkan adanya isi saluran pencernaan.
7 Bobot Karkas
Bobot karkas yang digunakan dalam penelitian ini adalah bobot karkas panas. Bobot karkas merupakan salah satu parameter yang penting dalam sistem evaluasi karkas (Hatta 2009). Tabel 1 menunjukkan bahwa semakin bagus BCS ternak, maka nilai rataan bobot karkas cenderung meningkat untuk BCS 2 (176.66 kg), BCS 3 (196.31 kg) dan BCS 4 (227.52 kg). Hal ini sesuai pendapat Apple (1999) bahwa bobot karkas meningkat seiring meningkatnya BCS ternak. Muhibbah (2007) melaporkan bahwa sapi hasil inseminasi buatan (Bos taurus x Bos indicus) dengan BCS 4 (gemuk) memiliki bobot potong 702.3 kg dan bobot karkas sebesar 377.28 kg. Hasil penelitian Muhibbah menunjukkan bahwa nilai rataan bobot karkas yang lebih berat karena memiliki bobot potong yang lebih berat pula. Sesuai dengan pendapat Rianto et al. (2006) bahwa nilai karkas yang tinggi diperoleh dari nilai bobot potong yang tinggi pula.
Hasil uji menunjukkan bahwa sapi dengan BCS 2 (kurus) dan BCS 3 (sedang) mempunyai bobot karkas dan bobot potong yang tidak berbeda nyata. Sedangkan sapi dengan BCS 2 (kurus) dan BCS 4 (gemuk) mempunyai bobot karkas dan bobot potong yang berbeda (P<0.05). Hal tersebut menjelaskan bahwa peningkatan bobot karkas seiring dengan peningkatan bobot potong. Rianto et al. (2006) menjelaskan bahwa peningkatan bobot potong diikuti oleh meningkatnya bobot karkas yang diakibatkan adanya peningkatan pertumbuhan ternak. Kurniawan (2005) menambahkan bahwa bobot karkas berkorelasi positif dengan bobot potong. Rataan bobot karkas BCS 2 (kurus) ke BCS 4 (gemuk) meningkat secara signifikan (P<0.05) dari 176.66 ± 49.21 sampai 227.52 ± 37.52 kg. Hal ini mengindikasikan bahwa dengan peningkatan BCS yang semakin tinggi cenderung akan meningkatkan bobot karkas. Rianto et al. (2006) menjelaskan dengan adanya pertambahan bobot tubuh akan menyebabkan peningkatan bobot potong diikuti oleh meningkatnya bobot karkas.
Persentase Karkas
Nilai rataan persentase karkas pada BCS 2 (kurus), BCS 3 (sedang) dan BCS 4 (gemuk) sebesar 51.74%, 53.13% dan 52.25%. Hasil tersebut lebih kecil dalam penelitian Muhibbah (2007) bahwa sapi hasil inseminasi buatan (Bos Taurus x Bos Indicus) dengan sistem pemeliharaan peternakan feedlot memiliki persentase karkas yang lebih tinggi. Nilai persentase karkas BCS 2 (kurus), BCS 3 (sedang) dan BCS 4 (gemuk) sebesar 52.8%, 56.18% dan 53.74%. Perbedaan ini menunjukkan sistem pemeliharaan serta faktor pakan yang diberikan berbeda. Carvalho et al. (2010) menyatakan bahwa faktor pakan yang diberikan dapat menghasilkan bobot potong yang maksimal sehingga akan berpengaruh terhadap bobot karkas dan persentase karkas.
Hasil uji menunjukkan bahwa persentase karkas pada BCS 2 (kurus) dan BCS 4 (gemuk) tidak berbeda akan tetapi memiliki perbedaan yang nyata (P<0.05) pada bobot potong. Ketidaksesuaian ini dikarenakan adanya perbedaan bobot non-karkas yang dihasilkan. Purbowati et al. (2011) menjelaskan bahwa bobot potong yang tinggi belum tentu menghasilkan persentase karkas yang tinggi karena persentase karkas dipengaruhi oleh bobot karkas dan non-karkas ternak. Hasil analisis menunjukkan bahwa persentase karkas tidak mengalami perbedaan pada berbagai BCS. Persentase karkas pada setiap BCS ternak tidak menunjukkan perbedaan karena adanya pengaruh organ non-karkas. Liasari (2007) menyatakan
8
bahwa persentase karkas yang sama dipengaruhi oleh adanya perbedaan organ non-karkas.
Bobot dan Persentase Trim Lemak
Proses trimming lemak yang dilakukan setiap RPH memiliki keragaman. Keragaman ini tergantung dari tujuan pasar dan kebutuhan konsumen. Konsumen pasar tradisional menyukai daging dengan lemak seminimal mungkin sedangkan konsumen pasar khusus menginginkan adanya lemak pada karkas terutama lemak marbling (Halomoan et al. 2000).
Hasil menunjukkan bahwa rataan bobot trim lemak BCS 2 (kurus), BCS 3 (sedang) dan BCS 4 (gemuk) sebesar 1.40 kg, 9.53 kg dan 9.13 kg. Semakin meningkatnya BCS ternak cenderung akan menghasilkan lemak yang tinggi tetapi banyaknya trim lemak yang diperoleh disebabkan adanya perbedaan pada proses penyayatan lemak yang dilakukan karena setiap RPH memiliki keragaman dalam trimming lemak. Banyaknya bobot trim lemak yang diperoleh dari trimming lemak tidak mengindikasikan lemak secara keseluruhan pada tubuh sapi.
Sifat Non-Karkas Sapi Silangan Lokal
Selain karkas terdapat pula bagian non-karkas yang dihasilkan dari pemotongan ternak dan memiliki nilai ekonomis untuk dijual. Komponen non-karkas yang diamati meliputi kulit, offal merah (jantung, trakea, limpa, ginjal, hati dan paru-paru), dan offal hijau (lambung, usus dan lemak internal). Bobot dan persentase non-karkas sapi silangan lokal jantan pada berbagai Body Condition Score (BCS) dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3.
Tabel 2 Rataan bobot non-karkas sapi silangan lokal jantan pada berbagai Body Condition Score (BCS)
Peubah Body Condition Score (BCS) Rataan
BCS 2 BCS 3 BCS 4
Bobot (Kg)
Kulit 27.49 ± 7.05a 30.15 ± 6.42a 37.39 ± 7.73b 30.71 ± 7.41
Offal Merah 11.99 ± 4.58a 13.75 ± 3.95a 25.78 ± 10.23b 15.30 ± 7.23
Offal Hijau Kosong Kaki Kepala Ekor 21.57 ± 5.72a 8.19 ± 1.72a 18.19 ± 3.04a 1.02 ± 0.28 20.46 ± 7.20a 8.56 ± 1.86a 18.68 ± 2.72a 1.15 ± 0.25 23.38 ± 7.13b 10.85 ± 1.79b 23.19 ± 2.70b 1.14 ± 0.21 21.20 ± 6.85 8.85 ± 2.00 19.30 ± 3.29 1.12 ± 0.26 Keterangan: Huruf yang berbeda pada angka di baris yang sama menunjukkan perbedaan yang
nyata (P<0.05).
Tabel 2 menunjukkan bahwa rataan bobot-non karkas meliputi kulit, offal merah, offal hijau kosong, kaki, kepala dan ekor cenderungan mengalami peningkatan dengan adanya peningkatan BCS. Dengan meningkatnya BCS maka akan meningkatkan bobot potong dan bobot non-karkas. Liasari (2007) menyebutkan bahwa organ non-karkas akan semakin tinggi dengan meningkatnya bobot potong. Bobot kulit BCS 4 (gemuk) menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05) pada BCS 2 (kurus) dan BCS 3 (sedang). Hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya BCS maka akan meningkatkan bobot potong sehingga
9 bobot potong yang besar akan memperluas kulit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hudallah et al. (2007) bahwa bobot potong yang semakin besar akan menghasilkan kulit yang semakin luas sehingga bobot kulit akan semakin besar. Peningkatan BCS ternak akan mempengaruhi bobot non-karkas salah satunya bobot offal merah. Bobot offal merah BCS 4 (gemuk) sebesar 25.78 kg sedangkan bobot offal merah BCS 2 (kurus) sebesar 11.99 kg. Perbedaan selisih sekitar 13.79 kg antara sapi dengan BCS 2 (kurus) dengan BCS 4 (gemuk) akan berpengaruh terhadap nilai ekonomis. Rata-rata harga offal merah berkisar Rp 40 000/kg. Dengan adanya selisih bobot offal merah sekitar 13.79 kg antara sapi BCS 4 (gemuk) dengan BCS 2 (kurus) maka mengakibatkan selisih perbedaan harga sebesar Rp 551 600.
Hasil uji menunjukkan bahwa bobot offal merah dan offal hijau kosong BCS 4 (gemuk) menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05) pada BCS 2 (kurus) dan BCS 3 (sedang). Hal ini diindikasikan seiring dengan meningkatnya BCS maka organ-organ non-karkas akan tetap berkembang secara normal sesuai dengan berat tubuh. Nutrisi yang masuk ke dalam tubuh sapi akan diserap oleh hati sehingga pakan yang dimakan akan berpengaruh terhadap perkembangan. Konsumsi makanan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan organ internal (offal merah dan offal hijau). Peningkatan pertumbuhan offal merah dan offal hijau yang cepat dipengaruhi oleh faktor makanan (Meiaro 2008). Widiarto et al. (2009) menambahkan bahwa pertumbuhan jantung, hati dan paru-paru tetap berkembang sesuai dengan berat tubuh.
Tabel 3 Rataan persentase non-karkas sapi silangan lokal jantan pada berbagai Body Condition Score (BCS)
Peubah Body Condition Score (BCS) Rataan
BCS 2 BCS 3 BCS 4
Persentase (%)
Kulit 15.90 ± 2.13 15.68 ± 2.24 16.57 ± 3.12 15.88 ± 2.36
Offal Merah 6.79 ± 1.35a 7.13 ± 1.71a 11.23 ± 3.68b 7.72 ± 2.58
Offal Hijau Kosong Kaki Kepala Ekor 12.41 ± 1.58b 4.81 ± 0.69 10.79 ± 1.83 0.59 ± 0.08ab 10.50 ± 2.84a 4.50 ± 0.92 9.82 ± 1.29 0.61 ± 0.14b 10.30 ± 2.76a 4.79 ± 0.62 10.29 ± 1.07 0.51 ± 0.10a 10.92 ± 2.68 4.62 ± 0.83 10.13 ± 1.44 0.59 ± 1.26 Keterangan: Huruf yang berbeda pada angka di baris yang sama menunjukkan perbedaan yang
nyata (P<0.05).
Tabel 3 menunjukkan bahwa persentase kulit, kaki dan kepala tidak mengalami perbedaan yang nyata terhadap peningkatan BCS dan karkasnya. Persentase offal hijau kosong, offal merah dan kulit mengalami perbedaan yang nyata (P<0.05) seiring dengan adanya peningkatan BCS dan bobot karkas. Hasil menunjukkan bahwa persentase kaki dan kepala mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya BCS dan bobot karkas. Hal ini disebabkan karena kaki dan kepala mengalami pertumbuhan yang lambat dan pertumbuhan masak dini seiring dengan meningkatnya BCS dan bobot karkas sehingga akan mempengaruhi terhadap persentasenya. Hal ini sesuai dengan penelitian Hatta (2009) bahwa kaki dan kepala terdiri dari tulang-tulang dengan sedikit daging dan termasuk bagian ternak yang mengalami masak dini. Hudallah et al. (2007) menyatakan bahwa
10
kaki dan kepala merupakan organ non-karkas yang mengalami pertumbuhan besar pada awal kehidupan dan menurun saat akhir kehidupan.
Hasil pada Tabel 3 menunjukkan bahwa persentase offal merah pada BCS gemuk memiliki perbedaan yang nyata (P<0.05) terhadap BCS 2 dan BCS 3. Hal ini dikarenakan pertumbuhan fisiologis offal merah seperti paru-paru, limfa dan hati tetap berkembang secara normal seiring meningkatnya BCS. Hatta (2009) menyatakan bahwa persentase paru-paru, limpa dan hati dalam kondisi fisiologis yang normal tetap berkembang sesuai dengan proporsi perkembangan bobot tubuh. Widiarto et al. (2009) menyatakan pertumbuhan jantung, hati dan paru-paru akan tetap berkembang sesuai dengan berat tubuh.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Perbedaan BCS pada sapi silangan lokal dapat mempengaruhi bobot potong, bobot karkas tetapi tidak pada persentase karkas panas. Sapi yang dipotong di rumah pemotongan hewan belum mencapai bobot potong yang optimal. Pemotongan sapi silangan lokal sebaiknya dilakukan pada BCS 4 (gemuk) karena berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa BCS 4 (gemuk) memiliki bobot potong dan bobot karkas yang lebih tinggi dibandingkan dengan BCS 2 (kurus) dan BCS 3 (sedang).
Saran
Sapi dengan BCS 2 (kurus) sebaiknya dilakukan penundaan pemotongan dan dilakukan penggemukan terlebih dahulu agar menghasilkan sifat karkas dan non-karkas yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Apple JK. 1999. Influence of body condition score on live and carcass value of cull beef cows. J. Anim. Sci. 77: 2610-2620.
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 1999. [SNI] Standarisasi Nasional Indonesia Nomor 6159 : 1999 tentang Rumah Pemotongan Hewan. Jakarta (ID) : Badan Standarisasi Nasional.
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2008. [SNI] Standarisasi Nasional Indonesia Nomor 3932:2008 tentang Mutu Karkas dan Daging Sapi. Jakarta (ID) : Badan Standarisasi Nasional.
Carvalho MC, Soeparno, Ngadiyono N. 2010. Pertumbuhan dan produksi karkas sapi Peranakan Ongole dan Simmental Peranakan Ongole jantan yang dipelihara secara feedlot. Bul Petern. 34(1): 38-46.
11 [Ditjen PKH] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2012. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan. Jakarta (ID) : Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
Endrawati E, Baliarti E, Budhi SPS. 2010. Performans induk sapi silangan Simmental – Peranakan Ongole dan induk sapi Peranakan Ongole dengan pakan hijauan dan konsentrat. Bul Petern. 34(2): 86-93.
Gaspersz V. 1992. Teknik Analisa dalam Penelitian dan Percobaan I. Bandung (ID): Tarsito.
Halomoan F, Priyanto R, Nuraini H. 2000. Karakteristik ternak dan karkas sapi untuk kebutuhan pasar tradisional dan pasar khusus. Media Petern. 24(2):12-17. Hatta M. 2009. Karakteristik produksi karkas dan non-karkas domba jantan lokal
yang diberikan pakan berbagai taraf limbah udang [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Hudallah, Lestari CMS, Purbowati E. 2007. Persentase karkas dan non karkas domba lokal jantan dengan metode pemberian pakan yang berbeda. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007. Semarang (ID): Universitas Diponegoro.
Kurniawan D. 2005. Produktivitas karkas dan kualitas daging sapi Brahman Cross pada beberapa kategori bobot potong dan ketebalan lemak punggung untuk kebutuhan pasar tradisional [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor. Liasari GH. 2007. Ukuran tubuh dan karakteristik karkas sapi hasil inseminasi
buatan yang dipelihara secara intensif pada berbagai kategori bobot potong [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Mattjik AA, Sumertajaya IM. 2002. Perancangan Percobaan. Jilid 1. Ed ke-2. Bogor (ID) : IPB Pr.
Meiaro A. 2008. Bobot potong, bobot karkas dan non karkas domba lokal yang digemukkan dengan pemberian ransum komplit dan hijaun [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Muhibbah V. 2007. Parameter tubuh dan sifat-sifat karkas sapi potong pada kondisi tubuh yang berbeda [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor. Nielsen HM. Friggens NC, Lovendhl P, Jensen J, Ingvartsen KL. 2003. Influence
of breed, parity, and stage of lactation on lactational performance and relationship between body fatness and live weight. Livestock Prod Sci 79:119-133.
Purbowati E, Prurnomoadi A, Lestari CMS, Kamiyatun. 2011. Karakteristik karkas sapi jawa (Studi Kasus di RPH Brebes, Jawa Tengah). Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2011. Semarang (ID) : Universitas Diponegoro.
Rianto E, Lindasari E, Purbowati E. 2006. Pertumbuhan dan komponen fisik karkas domba ekor tipis jantan yang mendapat dedak padi dengan aras berbeda. J Produksi Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto. 8(1): 28-33.
Soehadji. 1995. Tinjauan Aspek Perundang-undangan dalam Membangun Agribisnis Peternakan yang Tangguh Menghadapi Era Pasar Bebas. Jakarta (ID) : Direktorat Jenderal Peternakan.
12
Sumadi T, Hartutik, Ngadiyono N, Satria IGSB, Mulyadi H, Aryadi B. 2008. Sebaran populasi sapi potong di pulau Jawa dan pulau Sumatera. Kerjasama APFINDO dengan Fakultas Peternakan. Yogyakarta (ID) : Universitas Gadjah Mada.
Widiarto W, Widiarti R, Budisatria IGS. 2009. Pengaruh berat potong dan harga pembelian domba dan kambing betina terhadap gross margin jagal di rumah potong hewan Mentik, Kresen, Bantul. Bul Petern. 33(2) : 119-128.
Wulandari V. 2005. Penampilan produksi dan reproduksi sapi potong pada dua kecamatan di Kabupaten Kebumen [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
13
LAMPIRAN
Lampiran 1 Hasil analisis ragam bobot potong Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 63 887.6079 31 943.8039 6.84 0.0019 Galat 70 326 764.3990 4 668.0628 Total 72 390 652.0068
Lampiran 2 Hasil analisis ragam bobot karkas Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 17 662.0013 8 831.0006 5.39 0.0067 Galat 70 114 693.3867 1 638.4770 Total 72 132 355.3880
Lampiran 3 Hasil analisis ragam persentase karkas Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 26.6129861 13.3064930 1.51 0.2285 Galat 70 617.8123619 8.8258909 Total 72 644.4253479
Lampiran 4 Hasil analisis ragam bobot kulit Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 670.606668 335.303334 7.27 0.0014 Galat 64 2 952.147162 46.127299 Total 66 3 622.753830
Lampiran 5 Hasil analisis ragam bobot offal merah Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 1 477.693043 738.846521 23.98 0.0001 Galat 64 1 971.505014 30.804766 Total 66 3 449.198057
14
Lampiran 6 Hasil analisis ragam bobot offal hijau kosong Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 76.462121 38.231060 0.81 0.4495 Galat 64 3 022.250396 47.222662 Total 66 3 098.712516
Lampiran 7 Hasil analisis ragam bobot kaki Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 54.1338280 27.0669140 8.22 0.0007 Galat 64 210.8527361 3.2945740 Total 66 264.9865642
Lampiran 8 Hasil analisis ragam bobot kepala Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 201.5228842 100.7614421 12.51 0.0001 Galat 64 515.3405338 8.0521958 Total 66 716.8634179
Lampiran 9 Hasil analisis ragam bobot ekor Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 0.20114646 0.10057323 1.56 0.2172 Galat 64 4.11595205 0.06431175 Total 66 4.31709851
Lampiran 10 Hasil analisis ragam persentase kulit Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 6.8040799 3.4030400 0.60 0.5501 Galat 64 360.9606740 5.6400105 Total 66 367.7647540
Lampiran 11 Hasil analisis ragam persentase offal merah Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 163.4422095 81.7211048 18.92 0.0001 Galat 64 276.4835919 4.3200561 Total 66 439.9258015
15 Lampiran 12 Hasil analisis ragam persentase offal hijau kosong
Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 46.7245444 23.362272 3.50 0.0361 Galat 64 427.2647122 6.6760111 Total 66 473.9892566
Lampiran 13 Hasil analisis ragam persentase kaki Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 1.45086214 0.72543107 1.05 0.3554 Galat 64 44.15415841 0.68990873 Total 66 45.60502055
Lampiran 14 Hasil analisis ragam persentase kepala Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 11.1711557 5.5855778 2.83 0.0665 Galat 64 126.3916736 1.9748699 Total 66 137.5628293
Lampiran 15 Hasil analisis ragam persentase ekor Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 0.08497171 0.04248586 2.84 0.0661 Galat 64 0.95911414 0.01498616 Total 66 1.04408585
Lampiran 16 Hasil analisis ragam bobot trim lemak Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 145.0821262 72.5410631 2.93 0.0957 Galat 11 272.6537095 24.7867009 Total 13 417.7358357
Lampiran 17 Hasil analisis ragam persentase trim lemak Sumber Keragaman DB JK KT F hitung Pr > F Kondisi Tubuh 2 40.7832348 20.3916174 2.35 0.1411 Galat 11 95.3395124 8.6672284 Total 13 136.1227472
16
RIWAYAT HIDUP
Achmad Ubaidillah dilahirkan di Tangerang, Banten pada tanggal 22 Januari 1991. Penulis adalah anak pertama dari empat bersaudara pasangan H Mulyadi dan Hj Sri Wahyuni. Pendidikan sekolah menengah dimulai dari tahun 2003 di MTs Darunnajah Petukangan Jakarta Selatan sampai tahun 2006. Pendidikan lanjutan menengah atas ditempuh pada tahun 2006 sampai tahun 2009 di SMA Negeri 108 Jakarta. Penulis diterima sebagai mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) dan terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2009 melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).
Selama di IPB, penulis aktif di organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Produksi Ternak (HIMAPROTER) selama periode tahun 2010-2012 sebagai anggota dan ketua Klub Unggas. Penulis juga aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Futsal. Penulis aktif ikut serta di Kejuaraan Nasional Futsal Fakultas Peternakan Se-Indonesia Tahun 2010-2012. Penulis juga aktif di berbagai kepanitian selama di IPB dan Fakultas Peternakan. Penulis juga berkesempatan menjadi penerima beasiswa BBM tahun 2011-2013.