PENINGKATAN PEMAHAMAN DAN PRESTASI BELAJAR IPA
BIOLOGI MATERI SISTEM DALAM KEHIDUPAN TUMBUHAN
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN EXPERIENTIAL LEARNING
PADA SISWA VIII B SMP N 3 TULUNG KLATEN
SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Harjono
Abstrak : Penelitian ini dilakukan sebagai upaya menjawab permasalahan yang terjadi di kelas VIII B SMPN 3 Tulung, yaitu, kurangnya motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII B dalam memahami dan menjawab soal-soal yang berkaitan dengan Sistem Kehidupan Tumbuhan dalam Pelajaran IPA Biologi. Rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa materi Sistem Kehidupan Tumbuhan ini menyebabkan banyak siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dalam Pelajaran IPA Biologi. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII SMPN 3 Tulung Sukorini dalam Pelajaran IPA Biologi. Metode yang digunakan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam penelitian ini adalah Metode Experiential Learning atau Pembelajaran melalui pengalaman.Penelitian ini menggunakan empat tahap PTK, yaitu, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi, penulis berhasil meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa secara signifikan. Dari hasil yang diperoleh melalui penelitian ini, penulis berkesimpulan bahwa metode pembelajaran Experiential Learning mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII B SMPN 3 Tulung dalam memahami materi Sistem Kehidupan Tumbuhan.
Kata Kunci : Kehidupan Tanaman, Experiential Learning LATAR BELAKANG MASALAH
Pemeo klasik mengatakan, “Pengalaman adalah guru yang terbaik.” Maka, orang bijak adalah orang yang bisa belajar dari pengalaman, ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali. Sayangnya, yang lebih banyak terjadi dalam proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah adalah pemberian teori dan konsep tanpa praktik dan pengalaman langsung. Padahal, tanpa pengalaman langsung, pelajaran berupa teori dan konsep nyaris tidak bermakna bagi kehidupan seseorang. Terlebih dalam pelajaran IPA Biologi selalu berkaitan dengan alam dan kehidupan makhluk hidup. Materi pembelajaran dalam IPA Biologi hampir seluruhnya berkaitan dengan kehidupan nyata yang membutuhkan pengamatan langsung, pengalaman, dan praktik secara nyata. Mulai dari pemahaman tentang pertumbuhan dan perkembangan manusia, sistem gerak pada manusia, sistem pencernaan manusia, sistem pernapasan manusia, sistem peredaran darah hingga materi yang berkaitan dengan sistem dalam kehidupan tumbuhan.
Sayangnya, pembelajaran biologi selama ini masih lebih banyak disampaikan dalam bentuk teori di kelas sehingga siswa mengalami kesulitan untuk
mema hami la ngsung apa da n bagaimana sesungguhnya proses perkembangan dalam tumbuhan itu. Dengan belajar secara langsung mengalami dalam praktik, siswa akan merasa bahwa Biologi berisi hal-hal konkret yang bisa diamati, dipraktikkan dan diuji kebenarannya melalui eksperimen dan pengalaman langsung dengan objek materi yang disampaikan.
Pelajaran Biologi merupakan salah satu mata pelajaran yang membutuhkan praktik dan pengalaman langsung dengan metode pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan pemahaman dan prestasi belajar siswa di sekolah. Selain dibutuhkan eksperimen atau demonstrasi dalam pembelajaran,, juga dibutuhkan suasana yang mendukung proses pembelajaran siswa agar tidak terjadi kejenuhan dan kebosanan siswa saat belajar di kelas. Oleh sebab itu, dibutuhkan metode pembelajaran yang tepat dan mampu menunjang penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
Oleh karenanya, dibutuhkan metode pengajaran baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan para siswa dan mampu menghidupkan situasi di kelas menjadi lebih aktif, kreatif dan menumbuhkan semangat para siswa untuk bekerjasama dan belajar secara lebih baik. Dibutuhkan metode belaja r kooperatif untuk membangun jiwa kebersamaan dan kebiasaan bekerjasama di antara para siswa agar lebih dapat memaksimalkan hasil belajar mereka.
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran menggunakan sistem pengelompokkan atau tim kecil, yaitu antara empat sampai lima orang yang mempunyai latar belaka ng kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda atau heterogen (Sanjaya, 2008: 242). Tokoh lain mengungkapkan, pembelajaran kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja sama (Semiawan, 1992: 4).
Dengan model pembelajaraan kooperatif mela lui metode Experiential Learni ng atau pembelajaran melaui pengalaman dan praktik langsung di lapangan diharapkan siswa kelas VIII B SMPN 3 Tulung, Klaten dapat meningkatkan pemahaman dan prestasi belajar untuk Materi Sistem dalam Kehidupan Tumbuhan dalam Mata Pelajaran IPA sehingga memiliki nilai akademik yang melebihi standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang dikemukakan di atas, penulis merumuskan dua masalah pokok dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Baga imanaka h pengaruh metode pembelajaraan kooperatif tipe Experiential Learning pada Pembelajaran IPA Biologi dalam meningkatkan pemahaman siswa kelas VIII B SMPN 3 Tulung, Klaten terhadap materi Sistem dalam Kehidupan Tumbuhan?
2. Bagaimanakah pengaruh pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi Sistem dalam Kehidupan Tumbuhan dalam Pembelajaran IPA Biologi pada siswa Kelas VIII B SMPN 3 Tulung, Klaten? METODOLOGI
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena objek penelitian memiliki kriteria-kriteria sebagaimana dijelaskan Moleong (2005: 8-13) sebagai berikut: (1) Latar alamiah; (2) Manusia sebagai alat (instrumen); (3) Menggunakan metode kualitatif; (4) Analisis data secara induktif; (5) Teori dari dasar (grounded theory); (6) Deskriptif; (7) Lebih mementingkan proses daripada hasil; (8) Adanya batas yang
ditentukan oleh fokus; (9) Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data; (10) Desain yang bersifat sementara; dan (11) Hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama.
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau yang lebih dikenal dengan istilah action research. Hakikat dari action research terletak pada adanya tindakan atau aksi dalam situasi yang alami untuk mengenali adanya masalah dalam proses pembelajaran tertentu, kemudian berusaha memberikan solusi at as masa lah ini guna meningkatkan dan memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukan selama ini. Penelitian tindakan kelas merupakan suatu tindakan yang secara khusus diamati terus-menerus, dilihat plus-minusnya, kemudian diadakan pengubahan terkontrol sampai pada upaya maksimal dalam bentuk tindakan yang paling tepat (Arikunto, 2006: 3).
Prosedur penelitian ini dirancang dengan menggunakan model penelitian tindakan yang terdiri dari empat komponen tindakan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi dalam suatu sistem saling terkait yang disebut siklus atau daur. Setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah, yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. Model PTK yang digunakan dalam penelitian ini dapat dijelaskan melalui lingkaran PTK Hopkins (1993: 48) sebagai berikut:
Gambar Siklus PTK Hopkins
Merujuk pada gambar di atas, setiap siklus dilaksanakan dalam empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pertama penulis merencanakan metode dan stra tegi pembelajaran yang tepat untuk setiap sesi pertemuan. Setelah rencana dibuat, kemudian dilaksanakan dalam proses belajar-mengajar, diamati, dan direfleksikan dalam bentuk evaluasi dan penilaian atas seluruh proses ini. Setelah dilakukan refleksi, penulis melakukan revisi atau perbaikan atas rencana pada siklus pertama agar mendapatkan hasil maksimal pada siklus kedua. Perbaikan rencana penelitian ini akan diterapkan pada tahap-tahap penelitian selanjutnya seperti dalam siklus pertama, yaitu, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Dalam siklus kedua inilah diharapkan akan dicapai hasil maksimal sesuai dengan yang ditargetkan dalam penelitian ini.
Siklus dalam penelitian ini dibatasi dalam dua siklus. Pembatasan pada dua siklus ini dimaksudkan agar peneliti benar-benar dapat memperoleh hasil yang maksimal dari penerapan strategi experiential learning untuk meningkatkan pemahaman dan prestasi belajar siswa Kelas VIII B SMPN 3 Tulung,
Klaten dalam pelajaran IPA Biologi. Artinya, jika dalam Siklus 1 belum ditemukan hasil yang maksimal, maka pada Siklus 2 digunakan pendekatan yang berbeda agar diperoleh hasil yang diinginkan. PEMBAHASAN
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, strategi pembelajar an experiential learning untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pelajaran IPA Biologi untuk materi Sistem dalam Kehidupan Tumbuhan.
Strategi pembelajaran experiential learning pertama kali digagas oleh David A. Kolb (1984) dengan mengadopsi filsafat John Dewey Kurt Levin. Kolb memaknai belajar sebagai “proses di mana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman” (1984: 38). Teori Kolb disajikan dalam sebuah model siklus atau lingkaran pembelajaran yang digambarkan sebagai berikut:
Gambar Lingkaran Experiential Learning dari Kolb Lingkaran Kolb ihwal Strategi Pembelajaran Eksperiensial (Kolb’s Experiential Learning Cycle) adalah lingkaran pembelajaran yang dimulai dengan: (1) pengalaman konkret (concrete experience), dari pengalaman konkret ini kemudian dilakukan; (2) pengamatan dan perenungan atau observasi dan refleksi (observation and reflection); setelah itu, (3)
membentuk konsep-konsep abstra k (forming abstract concepts); dan diakhiri dengan (4) pengujian dalam situasi yang baru dan berbeda (testing in new situations). Proses ini bisa dimulai dari mana saja, tetapi harus dilanjutkan dengan langkah berikutnya sebagai satu rangkaian dalam putaran yang tak terputus.
Langkah-langkah experiential learning menurut bagan di atas dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Siswa menceritakan pengalaman yang relevan dengan materi Sist em dala m Kehidupan Tumbuhan;
2. Pengalaman ini kemudian dijadikan tema bahasan agar semua siswa memahami cara belajar dari pengalaman;
3. Siswa diberi pemahama n ihwal cara mengungkapkan pengalaman dalam bentuk konsep;
4. Konsep siswa kemudian diuji oleh guru dan siswa lain dengan merujuk pada buku panduan mata pelajaran Biologi Kelas VIII.
Sebelum melangkah pada pelaksa naan tindakan, peneliti melakukan perencanaan untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas VIII B SMPN 3 Tulung agar dapat meningkatkan nilai pelajaran IPA Biologi untuk materi Sistem Kehidupan pada Tumbuhan yang menjadi tugas peneliti sebagai guru pengajar. Karenanya, sebelum dilakukan PTK, peneliti menentukan target penelitian atau indikator kinerja, yaitu, lebih dari 70 persen siswa yang menjadi subyek penelitian ini mampu mendapatkan nilai sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu pada angka 75. Artinya, setelah penelitian tindakan kelas ini dilakukan, setidaknya ada lebih dari 18 siswa yang mampu mendapatkan nilai minimal 75 atau lebih.
Target ini dibuat mengingat sebelum dilakukan PTK, keadaan nilai siswa masih jauh dari harapan, yaitu, 16 orang siswa atau 61,5% siswa masih memiliki nilai di bawah KKM, tujuh siswa atau 27 % berhasil mencapai KKM (75), dan sisanya, 3 siswa atau 11,5 % berhasil mencapai nilai di atas KKM. Untuk lebih jelasnya, kondisi nilai hasil belajar siswa dalam pelajaran IPA Biologi, terutama dalam materi Sistem dalam Kehidupan Tumbuhan dapat dijelaskan melalui tabel di bawah ini.
Tabel 4.4.
Persentase Nilai Siswa Kelas VIII B Pra-PTK Berdasarkan KKM
Grafik Nilai Siswa Kelas VIII B Pra-PTK Berdasarkan KKM
Hasil pengamatan di atas menjadi bahan pertimbangan peneliti untuk melaksanakan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan nilai siswa dalam pembelajaran materi Sistem dalam Kehidupan Tumbuhan dalam Mata Pelajaran IPA Biologi di SMP Kela s VIII B. Peneliti menetapkan model pembelajaran experiential learning sebagai model
No Nilai Diukur
dari KKM Jumlah Persentase
1 Di atas KKM 3 11,5 %
2 Mencapai KKM 7 27%
3 Di bawah KKM 16 61,5 %
pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan pemahaman dan nilai siswa dalam bidang IPA Biologi, terutama yang berkaitan dengan materi Sistem dalam Kehidupan Tumbuhan. Siklus I a. Perencanaan Pada tahap perencanaan, hal pertama yang peneliti lakukan adalah menyusun rencana program pengajaran (RPP) yang akan dijadikan panduan untuk mener apkan metode pembelajaran experiential learning di kelas VIII BSMPN 3 Tulung, Kla ten. Peneliti menyusun RPP berdasarkan kurikulum IPA Biologi untuk kelas VIII B dan meminta para siswa untuk ikut menentukan model pengajaran di kelas selama tiga bulan, dimulai dari Juli hingga September 2016.
RPP dirancang sesuai dengan kurikulum yang berlaku di kelas VIII B semester ganjil tahun pelajaran 2016/2017. Untuk penelitian tindakan kelas ini, penulis focus pada satu pokok bahasan yang menjadi tema utama penelitian ini, yaitu, Sistem dalam Kehidupan Tumbuhan. Tema ini sedikitnya memiliki lima sub-tema, yaitu: Struktur Tumbuhan; Pengangkutan Air pada Tumbuhan; Cara Tumbuhan Memperoleh Energi; Macam-macam Gerak pada Tumbuhan; serta Hama dan Penyakit pada Tumbuhan.
b. Pelaksanaan
Pelajaran IPA Biologi di kelas VIII B SMPN 3 Tulung, Klaten diberikan setiap hari Selasa, mulai jam 9.30 sampai dengan jam 11.00 WIB. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 19 Juli 2016. Pada pertemuan ini tema yang dibahas adalah Struktur Tumbuhan.
Di awal pertemuan, peneliti mengajukan pertanyaan kepada siswa, siapa saja yang sudah
pernah melihat tumbuhan dan struktur-struktur yang menyusunnya ini. Hampir seluruh siswa mengacungkan tangannya sebagai jawaban afirmatif atas pertanyaan ini. Artinya, hampir semua siswa mengaku pernah dan bahkan sering melihat tumbuhan dan struktur-struktur yang menyusunnya. Atas dasar ini, peneliti meminta siswa satu per satu untuk menjelaskan struktur dan nama tumbuhan yang sering atau pernah mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan ini, hal pertama yang dilakukan peneliti adalah membimbing siswa untuk memerhatikan dengan seksama beberapa jenis tanaman yang ada di sekolah. Ternyata, pada dasarnya semua jenis tanaman yang ada di sekitar lingkungan sekolah dibangun atas tiga organ dasar yang sama, yaitu akar, batang dan daun. Kemudian peneliti memberi pertanyaan, apakah fungsi dari masing-masing organ tanaman tersebut?
Masing-masing siswa boleh memberikan jawa ban ber dasarka n pengetahuan dan pengalaman masing-masing, tetapi juga boleh menjawab dengan mencari bahan-bahan bacaan dalam buku pembelajaran sehingga lebih lengkap dan mendekati fakta yang sebenarnya.
Peneliti kemudian menjelaskan bagian-bagian tubuh tanaman yang dimulai dari penjelasan tentang akar, batang, dan daun. Akar memiliki rambut-rambut akar yang berfungsi menyerap air dan mineral dari dalam tanah. Semakin banyak rambut akar yang dimiliki, semakin luas daerah permukaan epidermis akar yang dapat bersentuhan dengan tanah. Luasnya daerah permukaan berakibat pada semakin banyaknya air dan mineral dari tanah yang diserap oleh akar.
c. Pengamatan
Dalam pengamatan terhadap penguasaan siswa atas materi IPA Biologi yang telah dibahas dalam dua pertemuan sebelumnya. Siswa diberi kesempatan untuk menjawab setiap soal yang peneliti berikan dengan cara mereka sendiri, tidak boleh mencontek hasil pekerjaan teman, tetapi boleh bertanya pada peneliti bila ada soal yang kurang jelas.
Hasil dari pengamatan ini berusaha menjelaskan adanya peningkatan pemahaman dan kemampuan siswa dalam pelajaran IPA Biologi. Peningkatan pemahaman siswa ini dibuktikan dengan meningkatnya kema mpuan siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang peneliti ajukan berkaitan dengan materi pembelajaran di kelas dan peningkatan nilai siswa. Peningkatan pemahaman terkait dengan peningkatan prestasi siswa.
Peningkatan pemahaman siswa diukur berdasarkan kemampuan siswa menguasai materi-materi pembelajaran di kelas yang dikaitkan dengan pengalaman langsung yang mereka alami sehingga siswa lebih mudah menyerap pelajaran yang disampaikan. Selama pengamatan yang peneliti lakukan di kelas, siswa lebih cepat merespons pelajaran yang disampaikan karena berkaitan langsung dengan pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pengama tan ini, peningkatan pema haman siswa ini ditunjukkan dengan peningkatan nilai siswa dibandingkan sebelumnya, yaitu: tujuh siswa atau 27 % siswa mendapat nilai di atas KKM, sepuluh siswa atau 38,5 % siswa mendapat nilai KKM dan sisanya, yaitu, sembilan siswa atau 34,5 % siswa mendapat nilai di bawah
KKM. Untuk lebih jelasnya, peningkatan nilai siswa dapat dijelaskan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.5
Persentase Nilai Siswa Kelas VIII B Seteleh Siklus I Berdasarkan KKM
Grafik
Nilai Siswa Kelas VIII B Setelah Siklus I
d. Refleksi
Berdasarkan pengamatan di atas, peneliti menemukan adanya peningkatan pemahaman siswa melalui model pembelajaran experiential learning, tetapi hasil yang diinginkan masih belum maksimal. Target yang ingin peneliti capai, yaitu, 22 orang siswa atau lebih berhasil mendapat nilai di atas KKM. Meskipun demikian, sudah ada peningkatan prestasi siswa yang ditunjukkan dengan meningkatnya nilai siswa secara umum.
Oleh karenanya, peneliti harus melakukan perubahan strategi pengajaran untuk mencapai hasil yang diinginkan. Namun, perubahan strategi ini tetap berpijak pada model pembelajaran
No Nilai Diukur
dari KKM Jumlah Persentase
1 Di atas KKM 7 27%
2 Mencapai KKM 10 38,4 %
3 Di bawah KKM 9 34,6 %
experiential learning yang menjadi kerangka penelitian ini. Artinya, setiap siswa tetap harus memerhatikan pengalaman riil aktual yang mereka hadapi dengan kerangka tema atau pokok bahasan IPA Biologi yang dibahas di kelas.
Siklus II
a. Perbaikan Rencana
Dalam Siklus II ini, peneliti berencana menerapkan model pembelajaran experiential learning secara lebih maksimal pada siswa kelas VIII B SMPN 3 Tulung, Klaten. Pada Siklus II peneliti akan lebih menekankan pada keaktifan siswa untuk membaca dengan merancang setiap pertemuan sebagai sarana untuk menyampaikan pendapat dan bertukar pikiran serta pengalaman melalui diskusi kelompok.
b. Pelaksanaan
Pertemuan pertama Siklus II dimulai pada hari Selasa, 9 Agustus 2016. Pada pertemuan ini, tema yang dibahas adalah “Fotosintesis.” Ada dua sub-pokok bahasan dalam tema ini, yaitu: (1) Fotosintesis sebagai sumber energi; dan (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi fotosintesis.
Pada pertemuan pertama, kelompok I membahas sub-pokok bahasan “Fotosintesis sebagai sumber energi.” Kelompok I menjelaskan, mengapa daun pada tumbuhan sebagian besar berwarna hijau? Karena tanaman umumnya memiliki klorofil atau zat hijau daun.
Terhadap pernyataan kelompok I ini, kelompok II memberi tanggapan sebagai berikut: “Mengapa daun-daun pada tanaman berubah warna sebelum akhirnya gugur? Warna apa yang tampak pada daun sebelum gugur?” Selanjutnya kelompok II menjelaskan bahwa, kurangnya cahaya secara tidak langsung dapat mengakibatkan
rusaknya klorofil. Bila klorofil rusak, daun tumbuhan tidak akan berwarna hijau untuk waktu yang lama. Klorofil ini harus ada dalam daun tumbuhan agar terjadi proses fotosintesis. Energi cahaya yang ditangkap oleh klorofil, diperlukan untuk mereaksikan karbondioksida dan air untuk membentuk gula (makanan) dan oksigen seperti pada persamaan reaksi sederhana berikut.
Dari persamaan reaksi tersebut jelas bahwa karbondioksida dibutuhkan dalam proses fotosintesis. Gula adalah makanan yang dihasilkan oleh tumbuhan. Makanan yang tidak langsung digunakan oleh tumbuhan, dapat disimpan dalam akar, batang, daun, buah, dan biji. Oksigen menjadi bagian udara yang kita hirup saat bernapas. Hampir 90% oksigen yang ada di atmosfer kita berasal dari hasil proses fotosintesis. Hewan dan tumbuhan memakai makanan dan oksigen yang dihasilkan melalui proses fotosintesis. Kelompok III dan IV menjelaskan tentang “Gerak Semu pada Tumbuhan.” Gerak semu pada tumbuhan dipengaruhi oleh rangsangan yang datang pada tumbuhan. Respons tumbuhan terhadap gravitasi bumi disebut geotropisme. Pucuk tumbuhan yang tumbuh ke arah sinar matahari merupakan contoh gerak fototropisme positif sekaligus gerak geotropisme negatif. Arah tumbuh akar ke dalam tanah merupakan contoh geotropisme positif sekaligus hidrotropisme positif. Gerak tumbuh sulur yang membelit karena stimulus sentuhan sulur dengan tempat tumbuhnya merupakan contoh gerak tigmotropisme. Keseluruhan tropisme adalah respons yang membantu tumbuhan bertahan dalam upaya memperoleh sinar matahari, air atau mineral yang terlarut dalam tanah.
Ada jenis gerakan lain yang juga dilakukan tumbuhan sebagai tanggapan atas rangsangan lingkungan. Yaitu, gerakan tumbuhan berpindah tempat. Gerak pindah tempat tumbuhan karena pengaruh stimulus dikenal dengan gerak taksis. Gerak taksis ini dapat berupa gerak pindah tempat tumbuhan secara keseluruhan, maupun sebagian. Sebagai contoh gerak pindah tempat organel kloroplas di dalam sel ketika sel-sel Elodea disinari. Contoh lainnya adalah gerak sel gamet jantan menuju sel gamet betina pada lumut.
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada Selasa, 23 Agustus 2016. Dalam pertemuan ini tema yang dibahas adalah “Penyakit dan Hama pada Tanaman.” Yang menjadi pembahas kali ini adalah kelompok V dan VI. Kelompok V tampil menjelaskan bahwa Penyakit adalah penyebab tanaman menjadi sakit. Tanaman dikatakan sakit jika ada perubahan seluruh atau sebagian organ-organ tanaman yang menyebabkan terganggunya kegiatan fisiologisnya, atau sakit adalah penyimpangan dari keadaan normal. Misalnya tanaman tomat yang semula segar tiba-tiba menjadi layu. Daun kedelai yang awalnya berwarna hijau segar, sekarang tiba-tiba kelihatan bercak-bercak cokelat.
Tanaman-tanaman tersebut menyimpang dari keadaan normal dan biasanya orang mengatakan sakit. Penyebab sakit ini bermacam-macam, seperti bakteri, cendawan, virus, kekurangan atau kelebihan air,
kekurangan atau kelebihan unsur hara atau karena tanaman mendapatkan stress lingkungan misalnya suhu lingkungan yang terlalu panas atau terlalu dingin.
Hama adalah binatang perusak tanaman budidaya. Tanaman yang dirusak tersebut misalnya kol, sawi, selada, tomat, terung, jagung, jeruk, mangga. Sementara itu, binatang yang merusak atau hama diantaranya adalah bermacam-macam ulat, belalang, siput, bekicot, serangga dan sebagainya.
Tindakan yang dilakukan agar tanaman terlindung dari serangan penyakit dan hama disebut proteksi tanaman. Pengendalian hama yang baik yaitu dengan cara biologis. Pengendaliannya meliputi penggunaan predator, binatang pemakan hama atau penggunaan parasit dan bakteri yang dapat menyebabkan sakit pada hama tetapi tidak pada tumbuhan. Pemberantasan secara biologis ini hanya akan mematikan hama. Sementara itu, serangga lain yang bukan hama akan terhindar dari kematian.
c. Pengamatan
Pengamatan sebenarnya dilakukan berbarengan dengan pelaksanaan siklus II. Akan tetapi, pengamatan terhadap hasil belajar siswa dilakukan pada pertemuan kelima, tanggal 6 September 2016. Pada pertemuan ini, peneliti mengadakan evaluasi untuk menget ahui pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPA Biologi, Sistem Kehidupan pada Tanaman. Dari hasil evaluasi ini, tampak jelas peningkatan yang sangat signifikan dalam kemampuan siswa menyerap da n memahami pelajaran yang disampaikan.
Dengan menggunakan model pembelajaran experiential learning didapat lebih dari 70 % siswa mampu mendapatkan nilai di atas KKM. Artinya, dari 26 siswa yang menjadi subjek penelitian ini, ada 18 siswa yang mampu mendapatkan nilai di atas KKM, sedangkan selebihnya, yaitu 8 siswa, mendapatkan nilai KKM dan dinyatakan lulus untuk mata pelajaran IPA Biologi.
Untuk lebih jelasnya, pengamatan atas hasil pembelajaran tersebut peneliti tuangkan dalam bentuk tabel di bawah ini:
Tabel 4.6
Persentase Nilai Siswa Kelas VIII B Seteleh Siklus II Berdasarkan KKM
Grafik
Nilai Siswa Kelas VIII B Setelah Siklus II
KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan di atas, peneliti mendapatkan data bahwa model pembelajaran experientia l learning sa ngat efektif dalam meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa kelas VIII B SMPN 3 Tulung, Klaten dalam Pelajaran IPA Biologi. Dengan model pembelajaran experiential learning siswa dapat termotivasi untuk lebih banyak
No Nilai Diukur
dari KKM Jumlah Persentase
1 Di atas KKM 18 70%
belajar dan membaca materi pelajaran sehingga dapat menunjukkan kemampuannya di kelas pada saat sesi tanya jawab maupun diskusi.
Oleh karenanya, model pembelajaran experiential learning ini bisa dijadikan salah satu model pengajaran di kelas untuk memacu motivasi dan semangat belajar siswa hingga dapat meningkatkan pemahaman dan prestasi belajar siswa dalam IPA Biologi.
Model pembelajaran experiential learning dira ncang sebagai model pembela jaran yang menyenangkan, aktif, dan kreatif sehingga siswa memiliki peran yang sangat penting dalam proses belajar-mengajar di kelas. Dengan cara ini, siswa merasa memiliki peran yang penting dan dibutuhkan bagi pengembangan prestasi mereka dan juga peningkatan suasana belajar di kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal. Dasar-dasar Penulisan Karya Ilmiah. (Jakarta: Grasindo, 2006).
Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Penilai. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002).
Darmodjo & Kaligis. Ilmu Alamiah Dasar. (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004) Kimball. Biologi Jilid 1,2,3. (Jakarta: Erlangga, 2003) Kolb, David A. Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development. (Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, N.J., 1984).
Martin. Biology. (Southbank: Thompson & Brokes/ Cole, 2005).
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005).
Nader, S.S. Biology. (Boston: Mc. Graw–Hill, Inc., 2004).
Neufeldt, Victoria A. Webster’s New World College. (New York: MacMillan, 1996).
Purves, W.K, and Helier. Life: The Science of Biology. (Sunderland: Sinaver Assosiates, Inc., 2004).
Purwanto, M. Ngalim. Ilmu Pendidikan: Teori dan Praktik (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995). Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 1994).
Raves, P.H. Biology, Edisi Ketujuh. (Boston: Mc. Graw–Hill, Inc., 2005).
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran. (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2008).
Semiawan, Pendekatan Ketrampi lan Proses. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992). Soehartono, Irawan. Metode Penelitian Sosial,
(Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya, 2002). Sudia na, Yaya n. Ensiklopedi Populer Anak.
(Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2004). Sudijono, Anas. Pengantar Statistik Pendidikan,
(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2001).
Sugiono, Metode Penelitian Administrasi, (Jakarta: CV. Alfabeta, 2003).
Suroso AY, dkk. Ensiklopedi Sains dan Kehidupan. (Jakarta: Tarity Samudra Berlian, 2003). Syukur, Abdul. Ensiklopedi Umum untuk Pelajar.