• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III LANDASAN TEORI"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1 Antiseptik

Antiseptik atau germisida adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan yang hidup seperti pada permukaan kulit dan membran mukosa. Antiseptik berbeda dengan antibiotik dan disinfektan. Antibiotik digunakan untuk membunuh mikroorganisme di dalam tubuh, dan disinfektan digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati. Oleh karena itu antiseptik lebih aman diaplikasikan pada jaringan hidup, daripada disinfektan. Penggunaan disinfektan lebih ditujukan pada benda mati, contohnya wastafel atau meja. Namun, antiseptik yang kuat dan dapat mengiritasi jaringan kemungkinan dapat dialihfungsikan menjadi disinfektan contohnya adalah fenol yang dapat digunakan baik sebagai antiseptik maupun disinfektan. Penggunaan antiseptik sangat direkomendasikan ketika terjadi epidemi penyakit karena dapat memperlambat penyebaran penyakit.

(2)

Efektivitas antiseptik dalam membunuh mikroorganisme bergantung pada beberapa faktor, misalnya konsentrasi dan lama paparan. Konsentrasi mempengaruhi adsorpsi atau penyerapan komponen antiseptik. Pada konsentrasi rendah, beberapa antiseptik menghambat fungsi biokimia membran bakteri, namun tidak akan membunuh bakteri tersebut. Ketika konsentrasi antiseptik tersebut tinggi, komponen antiseptik akan berpenetrasi ke dalam sel dan mengganggu fungsi normal seluler secara luas, termasuk menghambat pembuatan makromolekul dan persipitasi protein intraseluler dan asam nukleat (DNA atau RNA}.Banyaknya kerusakan pada sel mikroorganisme berbanding lurus dengan lamanya bagian tubuh yang terpapar. Mekanisme kerja antiseptik terhadap mikroorganisme berbeda-beda, misalnya saja dengan mendehidrasi (mengeringkan) bakteri, mengoksidasi sel bakteri, mengkoagulasi (menggumpalkan) cairan di sekitar bakteri, atau meracuni sel bakteri. Beberapa contoh antiseptik diantaranya adalah hydrogen peroksida, garam merkuri, boric acid, dan triclosan.

Pemakaian antiseptik tangan dalam bentuk sediaan gel di kalangan masyarakat maupun industri sudah menjadi hal yang umum. Hal ini dikarenakan dengan semakin meningkatnya kesadaran tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan. Beberapa sediaan paten antiseptik tangan dapat dijumpai di pasaran.

(3)

Cara pemakaian yang praktis namun efektif juga menjadi salah satu minat penggunaan antiseptik tangan ini. Cara pemakaian adalah dengan menenteskan pada telapak tangan, kemudian diratakan pada permukaan tangan. Di negara maju penggunaan antiseptik tangan telah berjalan sangat pesat.

Hand sanitizer mampu membersihkan tangan dari kuman dengan mudah dan praktis. Tidak seperti mencuci tangan dengan sabun dan air, hand sanitizer digunakan untuk membersihkan tangan dari kuman, bukan untuk menyingkirkan kotoran tersisa ditangan. Hand sanitizer mengandung bahan aktif yaitu isopropanol, etanol, n-propanol, klorheksidin, triklosan dan povidone iodine. Bahan tersebut merupakan bahan yang dapat membunuh kuman, virus dan jamur. Bahan tersebut kemudian dicampurkan dalam minyak tumbuhan.

Bahan golongan alkohol (etanol, propanol, isopropanol) banyak digunakan sebagai antiseptik/desinfektan untuk infeksi permukaan dan kulit yang bersih, tetapi tidak untuk luka. Alkohol sebagai desinfektan mempunyai sifat bakterisid, bekerja terhadap berbagai jenis bakteri, tetapi tidak terhadap virus dan jamur. Akan tetapi karena pelarut organik, alkohol dapat melarutkan lapisan lemak dan sebum pada kulit, dimana lapisan tersebut berfungsi sebagai pelindung terhadap infeksi mikroorganisme.

(4)

Dengan menggunakan hand sanitizer dipercaya dapat mencegah timbulnya beberapa penyakit.

1. Pilek

Sebuah studi yang dilakukan oleh Departement of Pediatic di University of Virginia School of Medicine menyebutkan bahwa rhinovirus (virus penyebab pilek) dapat diatasi dengan baik oleh hand sanitizer berbahan alkohol. Sekitar 80% virus berhasil dihilangkan dari tangan.

2. Flu Perut

Flu jenis ini memiliki gejala berupa diare, kram perut, mual, muntah dan demam. Ini disebabkan oleh 2 strain virus norovirus dan rotavirus.

3. Flu H1N1

Ketika sabun dan air tidak tersedia, pembersihan tangan menggunakan hand sanitizer dapat membantu mencegah penyebaran flu babi (H1N1).

(5)

4. Flu H5N1

Departemen kedokteran di University of Minnesota menyimpulkan, penggunaan hand sanitizer berbasis alkohol dapat membantu membunuh virus dengan satu kali aplikasi.

Umur simpan merupakan rentang waktu antara saat produk mulai dikemas dengan mutu produk yang masih memenuhi syarat digunakan. Dimana mutu sangat berpengaruh pada suatu produk, semakin baik mutu suatu produk maka semakin memuaskan konsumen. Pencantuman informasi umur simpan menjadi sangat penting karena terkait dengan keamanan produk dan untuk memberikan jaminan mutu pada saat produk sampai ke tangan konsumen. Informasi umur simpan produk sangat penting bagi banyak pihak, baik produsen, konsumen, penjual, dan distributor. Konsumen tidak hanya dapat mengetahui tingkat keamanan dan kelayakan produk untuk digunakan, tetapi juga dapat memberikan petunjuk terjadinya perubahan, penampakan dan kandungan dari produk tersebut. Perubahan-perubahan tersebut secara langsung akan mempengaruhi mutu dari suatu produk. Untuk itu, perlu diketahui umur simpan dari setiap produk.

Umur simpan antiseptik yang digunakan di dalam PT. Sandoz indonesia di lakukan pengujian kembali setelah antiseptik tersebut dibuka dan dipindahkan

(6)

kedalam kemasan yang digunakan di perusahaan tersebut tersebut. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana daya simpan dan daya tahan antiseptik yang digunakan dalam kondisi lingkungan, penggunaan serta kemasan yang tersedia di perusahaan.

3.2 Pengendalian Mutu

Mutu Merupakan faktor dasar yang mempengaruhi pilihan konsumen untuk berbagai jenis produk dan jasa yang berkembang pesat dewasa ini, Mutu telah menjadi satu-satunya kekuatan terpenting yang membuahkan keberhasilan organisasai dan pertumbuhan perusahaan baik di pasar berskala nasional maupun internasional. Tingkat pengembalian investasi dari program mutu yang tangguh dan efektif akan menghasilkan probabilitas yang mengggiurkan jika didukung dengan strategi mutu yang efektif. Wujud nyata dari hal ini terlihat pada peningkatan penetrasi pasar secara besar-besaran, peningkatan produktivitas total secara mencolok, penurunan biaya dalam jumlah besar, dan kepeloporan yang tangguh dalam persaingan.

Menurut Mitra dalam bukunya Introduction to Quality Control dan the

Total Quality System, Kualitas didefinisikan sebagai kesesuaian dengan

spesifikasi dan cocok digunakan dilihat dari sudut pandang dimensi kualitas. Adapun dimensi kualitas itu meliputi performansi (performance), keistimewaan

(7)

produk (features), kehandalan (reliability), kesesuaian (conformance), keawetan (durability), kegunaan (serviceability), estetika (aesthetics), dan kualitas yang dipersepsikan (perceived quality).

Pengendalian kualitas atau Quality Control secara umum didefinisikan sebagai sebuah sistem yang digunakan untuk mencapai tingkatan kualitas yang diinginkan dari sebuah produk atau jasa. Quality control adalah kegiatan inspecting, testing dan grading dengan menggunakan statistik sebagai analisa data yang tepat sebagai jawaban untuk pembanding dan estimasi yang baik dan yang tidak baik dipisah-pisahkan (grading) untuk mencari mana yang dapat diterima (accept) dan mana yang ditolak. Tujuannya adalah untuk mendapatkan spesifikasi produk atau jasa sesuai dengan kualitas yang diharapkan. Pengendalian kualitas ini dilakukan ketika proses pembuatan barang hingga selesai dan sampai barang tersebut berada ditangan konsumen sehingga diharapkan ketika produk itu sudah jadi maka produk tersebut sesuai dengan kualitas yang diharapkan. Keuntungan pengendalian kualitas bagi produk atau jasa antara lain:

1. Dapat melakukan perbaikan kualitas produk atau jasa.

2. Sistem secara kontinu dievaluasi dan dimodifikasi untuk memenuhi 3. kebutuhan pelanggan yang berubah-ubah.

(8)

5. Peningkatan produktivitas ini berarti penurunan scrap dan proses ulang.

6. Menurunkan biaya produksi.

7. Meningkatkan produktivitas dengan menurunkan leadtime pembuatan part atau subassemblies.

8. Dapat melakukan perbaikan kualitas dan produktivitas secara terus-menerus.

3.2.1 Kendali Mutu dan Pekerjaan Kendali mutu Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu 1. Market (pasar) 2. Money (uang) 3. Management (manajemen) 4. Men (Manusia) 5. Motivation (Motivasi) 6. Materials (Bahan)

7. Machines and Mechanization (Mesin dan mekanisasi)

8. Modern Information Methods (Metode informasi modern)

(9)

Pekerjaan Kendali Mutu, bersesuaian dengan proses produksi dan jasa, dan salah satu cara pembedaan di antara mereka menunjukkan bahwa ada empat klasifikasi alami di mana mereka termasuk di dalamnya yaitu : (Amitava Mitra,1993)

1. Pengendalian rancangan baru

termasuk di sini adalah usaha kendali mutu pada sebuah produk baru sementara karakteristik kemampuannya sedang dipilih, parameter-parameter rancangan dan keterandalan sedang dibuat dan dibuktikan melalui uji prototype, proses pembuatan sedang direncanakan dan dihitung biayanya, dan standar mutu sedang ditentukan. Rancangan-rancangan produk dan proses ditinjau untuk menghapus kemungkinan munculnya sumber gangguan mutu sebelum dimulainya produksi sebenarnya untuk meningkatkan kemudahan pemeliharaan dan meniadakan ancaman bagi keterandalan mutu.

2. Mengendalikan bahan masuk

Di sini adalah prosedur-prosedur untuk penerimaan aktual bahan, suku cadang, dan komponen yang dibeli dari perusahaan-perusahaan lain atau barangkali dari unit–unit operasi lain dari perusahaan yang sama. Spesifikasi dan standar dibuat sebagai

(10)

kriteria untuk penerimaan bahan baku, suku cadang dan komponen. Sejumlah teknik kendali mutu diterapkan agar penerimaan terjadi pada pada tingkatan paling ekonomis. Teknik-teknik ini mencakup evaluasi mutu penjual, pemberian sertifikat oleh penjual untuk bahan dan komponen, teknik penerimaan sampel penerimaan, dan uji laboratorium.

3. Pengendalian Produk

Menyertakan pengendalian atas produk-produk pada sumber produksi sehingga penyimpangan dari spesifikasi mutu dapat dikoreksi sebelum produk yang cacat dan tak sesuai dibuat. Pengendalian produk tidak hanya menyertakan pengendalian atas bahan dan suku cadang tetapi juga pengendalian proses yang berkontribusi terhadap karakteristik mutu selama operasi pembuatan. Pengendali produk bertujuan menghasilkan produk-produk yang dapat diandalkan . Oleh karena itu pengendalian produk juga menyertakan aktivitas-aktivitas mutu setelah produksi dan di lapangan dan pelayanan produk, yang menjamin kembalinya konsumen untuk memperoleh fungsi produk yang dimaksudkan.

(11)

4. Kajian proses khusus

Yang berhubungan dengan penyelidikan dan pengujian untuk mencari penyebab produk yang cacat dan yang tak sesuai dan melakukan tindakan korektif yang permanen. Kerja proses khusus ini diselaraskan menuju perbaikan produk dan proses, bukan hanya untuk memperbaiki karakteristik mutu tetapi juga untuk menurunkan biaya.

Salah satu peranan statistik adalah sebagai perkakas untuk digunakan sebagai bagian dari empat pola kendali mutu terpadu. Empat pekerjaan kendali mutu tersebut adalah:

1. Menetapkan standar 2. Menilai Kesesuaian

3. Mengambil tindakan korektif 4. Merencanakan perbaikan

Strategi pengendalian proses statistikal adalah membawa suatu proses industri berada di bawah pengendalian secara statistikal. Pengendalian proses statistikal berarti proses itu dikendalikan berdasarkan catatan data secara terus menerus dikumpulkan dan dianalisis agar menghasilkan informasi yang dapat

(12)

digunakan dalam mengendalikan dan meningkatkan proses sehingga proses itu memiliki kemampuan untuk memenuhi spesifikasi output yang diinginkan pelanggan.

Pada dasarnya langkah-langkah pengendalian proses statistikal dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Merencanakan penggunaan alat-alat statistikal (statistical tools). 2. Memulai menggunakan alat-alat tersebut.

3. Mempertahankan proses melalui menghilangkan faktor penyebab khusus yang dianggap merugikan.

4. Merencanakan perbaikan proses secara terus menerus (continuous process improvment = kaizen) melalui mengurangi penyebab-umum

5. Mengevaluasi dan meninjau ulang.

Pengendalian kualitas adalah suatu sistem yang digunakan untuk memelihara level kualitas produk atau jasa yang diharapkan atau suatu cara yang digunakan untuk menetapkan dan mencapai standar mutu. Dengan demikian, pengendalian kualitas mencakup semua langkah yang diperlukan dalam perumusan dan pelaksanaan rencana mutu.

(13)

Pengendalian Kualitas untuk produksi dan penjualan produk industri bergerak dalam sebuah lingkaran W.E. Demming (1990) melukiskan pengendalian kualitas ini sebagai sebuah roda yang berputar tanpa ada habisnya pada landasan kesadaran mutu/kualitas dan rasa tanggung jawab terhadap mutu produk. Semula produk itu direncanakan, kemudian dibuat lalu diperiksa berikutnya barulah dijual. Ketiga langkah ini terjadi dalam perusahaan, tetapi ada langkah keempat yang terjadi di luar perusahaan yang mencakup penelitian pasar untuk mengidentifikasi kebutuhan konsumen, dan langkah akhir ini secara alami menuntun kembali pada langkah pertama melalui perencanaan berdasarkan hasil survey pasar. Pengendalian kualitas dibagi dalam dua kelompok yaitu Pengendalian Proses Secara Statistik (PPS) dan Perencanaan Sampling Penerimaan (PSP). (Amitava Mitra,1993).

Pengendalian Mutu Proses Statistik (PPS) adalah pengendalian mutu produk selama masih dalam proses. Dalam mengendalikan mutu tersebut dapat digambarkan batas atas dan batas bawah beserta garis tengahnya. Pengendalian mutu proses statistik meliputi pengendalian mutu proses untuk data variable dan pengendalian mutu proses untuk data atribut.

Pengendalian mutu proses statistik data variabel adalah data mengenai ketepatan pengukuran produk yang masih berada dalam proes dengan standar yang telah ditetapkan. Penukuran ini meliputi pengukuran panjang, diameter,

(14)

ketebalan, lebar dan jumlah bakteri. Penyimpangan dari pengukuran yang diharapkan tetapi masih ada dibawah batas atas dan di atas batas bawah masih dianggap sebagai produk yang baik yang berarti dalam proses terdapat berbagai variasi atau penyimpangan. Namun bila data pengukuran yang dihasilkan ada di luar batas pengenalian, baik di atas batas atas maupun dibawah batas bawah, maka proses tersebut dianggap berada di luar batas pengendalian (Out Of Control) yang berarti proses tersebut mengalamu kerusakan. Oleh karena itu revisi terhada peta pengendalian tersebut sehingga data pengukuran berada di dalam batas pengendalian. Pengukuran yang ada pada center line adalah pengukuran yang diharapkan dapat tercapai. Penyimpangan yang dimaksud adalah penyimpangan dari pengukuran nilai tengah. Hal ini dapat digambarkan seperti pada gambar 3.2.1

Gambar 3.2.1 Peta Pengendalian Mutu Proses Statistik Data Variabel

Pengukuran

Waktu

Lower Control Line Center Line Upper Control Line

(15)

Apabila kondisi produk yang diuji berada diluar batas pengendalian, maka harus dilihat apakah penyebab kesalahan ini merupakan sebab umum yang tidak dapat dihindari atau sebab khusus yang seharusnya dapat dihindari. Bila merupakan sebab umum maka data tersebut di anggap in control sehingga tidak perlu dilakukan revisi, namun bila merupakan sebab khusus maka data dianggap sebagai out of control sehingga harus direvisi terhadap center line, batas atas dan batas bawahnya sampai semua data ada di dalam batas pengendalian.

3.3 Tujuan Pengendalian Mutu

Pengendalian mutu bertujuan untuk: (Amitava Mitra,1993) 1. Memperbaiki kualitas produk/jasa.

2. Mengevaluasi dan memodifikasi sistem secara kontinu sesuai dengan keinginan konsumen.

3. Menciptakan efisiensi.

3.4 Variabel Dan Atribut

Data adalah catatan tentang sesuatu, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif yang dipergunakan sebagai petunjuk untuk bertindak. Berdasarkan data

(16)

kita dapat mempelajari fakta-fakta yang ada dan kemudian mengambil tindakan yang tepat berdasarkan fakta tersebut.

3.4.1 Karakteristik Kualitas Variabel

Karakteristk kualitas variabel adalah karakteristik kualitas yang dapat diukur secara numeris. Data variabel merupakan data kuantitatif yang diukur untuk keperluan analisis. Contoh karakteristik kualitas variabel adalah :

1. Panjang sebuah komponen 2. Diameter sebuah pipa 3. Ketebalan produk 4. Konsentrasi elektrolit

5. volume

6. Berat sebuah kaleng minuman 7. Kekuatan sebuah batang baja 8. Viskositas suatu cairan

3.4.2 Karakteristik Kualitas Atribut

Karakteristik kualitas atribut, data atribut merupakan data kualitatif yang dapat dihitung untuk pencatatan dan analisis. Kualitas atribut adalah kualitas yang

(17)

dikaitkan dengan non conformity dan non conforming suatu produk. Non

conformity adalah karakteristik kualitas yang menyatakan bahwa suatu produk

tidak dapat memenuhi spesifikasi tapi mungkin dapat menjalankan fungsinya. Sebagai contoh, misal ketebalan suatu produk ditetapkan sebesar 4  0.1 mm. Jika kita mendapatkan produk yang tebalnya misal 2,15 mm tapi masih dapat menjalankan fungsinya, maka produk tersebut kita kategorikan sebagai produk yang non conformity.

Sedangkan non conforming adalah karakteristik kualitas yang digunakan untuk menyatakan suatu produk yang mempunyai salah satu atau lebih non

conformity sedemikian sehingga produk tersebut tidak dapat menjalankan

fungsinya. Jadi karakteristik kualitas atribut adalah karakteristik kualitas yang mengklasifikasikan produk ke dalam dua kelompok, yaitu produk yang

conforming dan produk yang non conforming. Istilah non conformity sering juga

disebut dengan defect (cacat), sedangkan non conforming dengan defective (tidak dapat diterima).

3.5 Peta Kendali Mutu Proses Statistik Data Variabel Peta kendali mutu proses statistik data variabel meliputi : 1. Peta pengendali rata-rata (Mean Chart atau X-Chart)

(18)

digunakan untuk mengetahui penyimpangan pengukuran dari pengukuran rata-rata variabel yang diukur dalam hal ini angka total bakteri.

2. Peta kendali range (R-Chart) dan peta kendali standar deviasi (SD-Chart).

Peta kendali untuk mengetahui tingkat keakurasian pemrosesan. R-chart lebih mudah diterapkan daripada Chart, tetapi SD-Chart lebih tepat.

3. Peta Kendali Individu (Individual Control Chart)

peta kendali yang digunakan apabila hanya memproduksi satu unit dalam setiap harinya.

4. Peta kendali regresi (Trend-chart)

Peta pengendali yang digunakan untuk perusahaan yang mempunyai data yang bentuknya merupakan suatu kecenderungan naik turun.

3.5.1 Penggunaan Peta Kendali Rata-rata dan Range

Peta kendali rata-rata merupakan peta pengendali untuk melihat apakah proses masih berada dalam batas pengendalian atau tidak. Kondisi tersebut dapat dilihat dari produk yang sedang berada dalam proses dan pengukuran. Peta

(19)

masih baik atau tidak. Peta kendali ini harus digunakan bersamaan dengan peta kendali range untuk mengetahui tingkat keakurasian proses.

... 3.1)

... 3.2) R = X max – Xmin ... 3.3) ∑ ... 3.4) Dimana :

X : rata-rata pengukuran untuk setiap kali observasi. X : center line untuk peta kendali rata-rata.

R : Range data pada setiap kali observasi R : Center line untuk peta kendali range

Menurut konsepnya, batas kendali 3σ utuk peta kendali rata-rata adalah X ± 3 σ x ... 3.5)

(20)

Batas kendali untuk peta kendali rata-rata adalah : UCL X, LCL X =

= ... 3.7)

Dimana nilai dapat dilihat pada kolom A2 pada tabel 1.1 sehingga batas ats dan batas bawah untuk peta kendali rata-ratanya adalah :

UCL X, LCL X =

Sedangkan pda peta kendali untuk range adalah : UCL R =

Karena

( ) dimana dan Sehingga UCL R = R dan LCL R = R. D3 ... 3.8) Nilai D3 dan D4 juga dapat dilihat pada tabe 1.1

(21)

3.5.2 Penggunaan Peta Kendali Rata-rata dan Standar Deviasi

Peta kendali rata-rata juga dapat digunakan bersamaan dengan peta kenali standar deviasi, namun pada kendali deviasi lebih tepat daripada peta kendali range dalam mengetahui tingkat akurasi proses.

... 3.9)

UCL s = s + √ karena 1 + √ = B4 maka UCL s = B4 . s LCL s = s - √ karena 1 - √ = B3 maka UCL s = B3 . s UCL x = x + jadi, UCL x = x + A3.s

LCL x = x + jadi, UCL x = x - A3.s Nilai A3, B3 dan B4 dapat dilihat pada tabel Dimana :

s = standar deviasi data untuk setiap kali observasi s = center line untuk peta kendali standar deviasi

Gambar

Gambar 3.2.1 Peta Pengendalian Mutu Proses Statistik Data Variabel

Referensi

Dokumen terkait

Mitra (2008) menyatakan bahwa pengendalian kualitas dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem yang digunakan untuk menjaga tingkatan kualitas pada produk atau jasa

jadi dapat diambil kesimpulan bahwa proses produksi peleburan dan pencetakan adalah suatu cara yang digunakan untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan yang diinginkan

Sistem FMEA dapat digunakan untuk menganalisa suatu sistem pada tingkata/level mmanapun,dari piece-part level sampai sistem level.Pada tingkat/level terendah,FMEA

Fogeinbaum (1991) menyatakan bahwa pengendalian kualitas merupakan suatu sistem yang efektif untuk memadukan usaha-usaha pengembangan kualitas, pemeliharaan kualitas

Dimensi digunakan untuk memenuhi kepuasan pelanggan dalam suatu pelayanan jasa. Ada beberapa dimensi yang digunakan untuk mengukur kualitas suatu industri

Steganografi pada media digital file citra digunakan untuk mengeksploitasi keterbatasan kekuatan sistem penglihatan manusia dengan cara menurunkan kualitas warna pada file citra

Menurut Gasperz (2002), peramalan adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk membantu memberikan gambaran tentang permintaan terhadap produk atau jasa tertentu di masa

kerangkapan data (controlled redundancy) dengan cara- cara tertentu sehingga mudah untuk digunakan atau ditampilkan kembali, dapat digunakan oleh satu atau lebih program