Tabuh Kreasi Pepanggulan AMANDE
Pande Gede Widya Supriyadnyana, Pande Gede Mustika dan Ketut Muryana
Institut Seni Indonesia
Jalan Nusa Indah Denpasar, Telp (0361) 227316, Fax (0361) 236100
Email : [email protected]
ABSTRAK
Amande merupakan sebuah tabuh kreasi pepanggulan yang tercipta dari hasil adopsi bunyi pukulan palu serta hiasan-hiasan yang terdapat dalam kerajinan tangan bokor yang dilakukan oleh masyarakat Pande di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng. Pepanggulan merupakan tabuh kreasi yang ngadopsi lelambatan, akan tetapi tidak menggunakan uger-uger atau aturan-aturan yang berlaku dalam lelambatan tanpa menghilangkan unsur tabuh. Terciptanya Amande bertujuan untuk menuangkan daya kreativitas pada potensi seni yang ada. Adapun manfaat yang didapatkan melalui penciptaan karya seni ini tidak lain untuk menambah pengalaman serta wawasan menciptakan karya seni.
Ada tiga tahap proses kreativitas yang digunakan dalam menciptakan Amande yaitu penjajagan (eksplorasi), percobaan (improvisasi), dan tahap pembentukan (forming). Tahap penjajagan (eksplorasi) merupakan tahap awal dalam proses kreativitas yakni menentukan ide, konsep suatu dan rancang bentuk garapan. Tahap percobaan (improvisasi) merupakan tahap proses penggarapan setelah ide, konsep dan rancang bentuk garap terbentuk. Tahap pembentukan (forming) merupakan tahap akhir dari ketiga proses berkreativitas yakni menjadikan satu kesatuan komposisi yang utuh.
Wujud dari komposisi ini adalah tabuh kreasi pepanggulan dengan judul Amande aktivitas yang mengadopsi suara-suara palu dan bentuk hiasan dari proses pembuatan bokor. Dilihat dari struktur, komposisi ini dibagi menjadi tiga bagian (kawitan, pengawak, dan pengecet). Bagian kawitan mendeskripsikan proses awal dari sebuah bentuk bokor sendiri. Pengawak adalah bagian kelanjutan proses awal yaitu proses menghiasi dengan ukiran. Pengecet merupakan bagian akhir yang mendeskripsikan bagian bokor tahap terakhir yakni nyikat memakai air keras serta menggunakan buah asam untuk membuat bokor itu lebih bersih. Komposisi ini didukung oleh 34 orang penabuh termasuk penata dengan menggunakan barungan gamelan Gong Kebyar.
Kata kunci: tabuh kreasi pepanggulan, bokor, uger-uger, Amande
ABSTRACT
Amande is a new creation and formation of music in the form of Tabuh Kreasi Pepanggulan. It was composed by adapting the sound of hammer and embelishments which exist in the process of making Bokor by pande’s people at Tejakula village, Buleleng regency. Pepanggulan is a new creation music adopted from Lelambatan but not using the rules (uger- uger) which contains in lelambatan itself. The purpose of Amande is to express creativity and potention of arts. The benefits of this creation is to gain experience and knowledge in the field of composing traditional art music.
There were three steps used when composing Amande, such as: Exploration, Improvisation, and Formation. Exploration is the first step which consider with ideas mapping and concepting the music. Improvisation is a step where the idea and concept start to be applied. Formation is the final step in this process about how to unite the whole things into a real art music.
The form of this composition is Tabuh Kreasi Pepanggulan named Amande, composed by adapting the sound of hammer and embelishments which exist in the process of making Bokor. From the structure, this composition divided into three parts: Kawitan, Pengawak, Pengecet. Kawitan describes about the shape
of bokor. Pengawak is the next part which illustrating how the pande’s people put carved object on it. The last part called Pengecet which express the activity of how to clean the Bokor using acid. This mucis was supported by 34 gamelan players including the composer itself using Gong Kebyar.
Keywords: Tabuh Kreasi Pepanggulan, Bokor, Rules (uger-uger), Amande
PENDAHULUAN
Masyarakat di Bali mengenal adanya berbagai stratifikasi sosial warga atau soroh, salah satunya adalah soroh Pande yaitu soroh dari seseorang yang dahulu leluhurnya mempunyai profesi sebagai memande. Memande adalah suatu pekerjaan yang hasilnya sangat diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Memande dan berdagang memang sudah digeluti oleh para pande sejak dahulu. Berdasarkan hasil wawancara pada hari Sabtu, 18 Maret 2017 dengan Made Wiyasa mengatakan bahwa kegiatan memande di Bali dapat digolongkan menjadi dua yaitu angandring dan angaluh. Angandring merupakan kegiatan memande berupa besi atau perunggu, misalnya membuat keris, pisau, gamelan, dan lain sebagainya, sedangkan angaluh merupakan kegiatan memande berupa emas, perak atau kuningan misalnya membuat perhiasan seperti kalung, cincin, anting-anting, gelang, maupun alat-alat keagamaan yaitu salah satunya adalah membuat bokor.
Bokor menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Idonesia) adalah kata benda yang cekung dan bertepi lebar biasanya di buat dari kuningan dan perak. Bokor merupakan hasil kerajinan tangan yang terbuat dari kuningan dan perak yang dibentuk dengan sedemikaian rupa. Namun dalam konteks sebuah karya seni, bokor merupakan wujud karya seni yang memiliki karakter tiga dimensi meliputi panjang, tinggi, dan lebar. Dengan kata lain, bokor merupakan sebuah produk budaya berwujud benda.
Kerajinan memande bokor menjadi sebuah keterampilan seni yang sudah turun temurun digeluti oleh warga pande di desa Tejakula serta memiliki berbagai ciri khas jika dibandingkan dengan pengerajin bokor di daerah lain. Penata yang hidup di lingkungan memande bokor merasa kagum dengan proses pembuatan bokor tersebut. Proses yang dimaksud adalah dari awal pembuatan bokor yang beranjak dari bahan kuningan dan perak yang berbentuk lingkaran. Setelah terbentuk, maka lingkaran yang terbuat dari kuningan tersebut disambung dengan besi yang sesuai dengan bentuk dari kuningan hingga menjadi sebuah bentuk kerajinan bokor. Alat-alat yang digunakan dalam membuat kerajaninan bokor adalah palu, pahat dan lain sebagainya.
Berdasarkan pemaparan di atas, terketuk hati penata untuk menciptakan sebuah komposisi karawitan yang mengadopsi proses pembuatan bokor dari bunyi pukulan palu serta hiasan-hiasan yang ada dalam kegiatan memande bokor. Agar tidak tergerus oleh zaman globalisasi, maka kerajinan memande bokor yang penuh dengan nilai-nilai estetika perlu dikonservasi, karena pengerajin bokor di desa Tejakula semakin berkurang. Dari kegiatan memande bokor yang dilakukan oleh warga pande Tejakula, ditemukan berbagai keunikan dalam proses pembuatannya. Hal inilah yang menjadi ciri khas dalam proses memande maupun produk bokor yang dihasilkan oleh pengrajin di desa Tejakula. Keunikan ini penata transformasikan ke dalam wujud musikal dengan mengaplikasikan serta mengolah unsur-unsur musik seperti melodi, ritme, tempo, dinamika, dan lain-lain, serta ornamentasi yang senantiasa merefleksikan kompleksitas dalam pembuatan bokor sehingga terbentuk sebuah garapan tabuh kreasi pepanggulan berjudul Amande yang diambil dari kata memande.
Terkait dengan hal tersebut penata ingin membuat sebuah karya tabuh kreasi pepanggulan, yang keluar dari pakem-pakem lelambatan itu sendiri. Pakem-pakem yang dimaksud seperti uger-uger atau aturan-aturan yang menentukan dalam tabuh-tabuh lelambatan klasik tanpa menghilangkan unsur tabuh. Tabuh kreasi merupakan susunan gending dari hasil kreativitas penata yang mengandung unsur-unsur kebaruan. Kebaruan yang dimaksud sesuatu yang belum pernah ada. Kata pepanggulan berasal dari kata panggul yang berarti alat pemukul, dan mendapat awalan pe- serta akhiran –an. Jadi, kata pepanggulan mempunyai makna menggunakan panggul (Kariasa, 2010). Disini penata menekankan terhadap penjelasan dari kata pepanggulan itu sendiri yakni menggunakan panggul terhadap intrumen kendang, meski semua instrumen menggunakan panggul kecuali instrumen ceng-ceng, suling dan rebab.
Disisi lain, tabuh kreasi pepanggulan itu sendiri mengadopsi dari dua nuansa komposisi karawitan Bali. Adapun nuansa yang dimaksud adalah tabuh kreasi dan tabuh lelambatan kreasi. Menurut I Gede Yudarta dalam artikelnya “Tabuh Kreasi Pepanggulan Bentuk Komposisi “Baru” Dalam Seni Karawitan Gong Kebyar, mengatakan bahwa tabuh kreasi pepanggulan adalah mengadopsi dari tabuh kreasi karena
unsur-unsur ornamentasinya menyerupai bahkan sudah jelas bersumber dari ornamentasi tabuh kreasi kakebyaran pada umumnya. Tabuh kreasi pepanggulan dikatakan mengadopsi genre lelambatan karena sama-sama menggunakan instrumen terompong sebagai pembawa melodi, serta instrumen pemade dan kantilan memakai teknik pukulan norot dan nyog-cag, serta memakai pola gineman atau perangrang (Yudarta, 2017). Garapan ini termasuk komposisi karawitan baru yang berangkat dari pola-pola yang masih tetap menggunakan triangga yaitu kawitan, pengawak dan pengecet.
Untuk mewujudkan tabuh kreasi pepanggulan ini penata memilih media ungkap gamelan Gong Kebyar, karena gamelan Gong Kebyar sangat fleksibel dapat mendukung suasana dari garapan, dan memiliki sifat yang dinamis. Gamelan Gong Kebyar adalah barungan gamelan tradisonal Bali yang berlaras pelog 5 (lima) nada. Gong Kebyar terdiri atas dua kata, yaitu kata Gong dan Kebyar. Kedua kata tersebut mempunyai pengertian yang berbeda. Gong artinya satu barungan gamelan, dan sebagai suatu nama instrumen. Kebyar adalah sebutan suatu fenomena yang terjadi secara tiba-tiba seperti lampu menyala seketika. Istilah kebyar juga digunakan untuk menyebut nama barungan gamelan, kemungkinan karena adanya kesan dari tabuhan-nya yang serentak seketika, bunyitabuhan-nya yang keras diibaratkan seperti lampu yang ditabuhan-nyalakan dengan terang (byar) (Sukerta, 2010:185).
Menurut I Made Bandem (2013:38) Gong Kebyar awal kemunculannya pada abad XX, diperkirakan pada tahun 1914 di Bali Utara. Gamelan ini secara kuantitas mengalami perkembangan yang sangat pesat dan hingga saat ini diakui sebagai gamelan popular di Bali. Kepopuleran gamelan ini tidak lepas dari fleksibelitas yang dimiliki, khususnya di Bali gamelan ini dimanfaatkan/difungsikan berkaitan dengan upacara agama, hiburan, pendidikan dan barang dagangan, dalam bentuk tabuh instrumental maupun sebagai pengiring tari-tarian.
Ide atau gagasan merupakan rancangan yang tersusun dalam sumber pemikiran yang integral dalam perwujudan karya. Suatu karya seni akan mustahil terwujud tanpa adanya ide garapan. Penciptaan sebuah komposisi tabuh pada umumnya didahului dengan eksplorasi ide, yaitu menentukan keinginan menyampaikan sesuatu kesan tertentu lewat karya tabuh kreasi pepanggulan. Ide menentukan proses, sedangkan proses menentukan hasil. Proses dianggap berhasil apabila penata mampu mengungkapkan ekspresi musikal yang sesuai dengan ide dan terjadi rasa (transfer of feeling) dari pencipta terhadap penikmat (Sugiartha, 2012:95). Ide garapan harus dipikirkan terlebih dahulu sebelum membuat karya seni khususnya karya komposisi tabuh. Tanpa adanya ide garapan, mungkin garapan itu akan menjadi garapan yang tidak mempunyai identitas atau jati diri yang sesungguhnya. Ide garapan dapat diperoleh dari mana saja, kapan saja, dan dimana saja. Dalam kontek penciptaan seni khususnya penciptaan komposisi karawitan Bali, penata menemukan sebuah ide yang berangkat dari proses pembuatan bokor.
Proses pembuatan memande bokor merupakan gambaran yang mengedepankan metamorfosa dalam hal penciptaan karya seni. Penata melihat bahwa metamorfosa itu berangkat dari hal yang sederhana hingga ke hal yang sifatnya sangat rumit dan sarat akan nilai kompleksitas. Berdasarkan fenomena pembuatan kerajinan bokor itu, penata menganalogikan bahwa proses pembuatan bokor itu sama halnya dengan pembuatan sebuah komposisi yang berangkat dari hal yang sederhana hingga pada tahap menghias (ornamentasi). Semua fenomena itu penata transformasikan ke dalam wujud musikal dengan merefleksikannya sebagai proses garap dalam membuat sebuah komposisi. Komposisi ini penata beri judul Amande. Penata ingin mewujudkan sebuah komposisi baru yang berpijak dari pakem-pakem tradisi. Garapan ini muncul dari kisah kehidupan masyarakat yang sebagian besar sebagai pengerajin bokor kuningan, perak, membuat pisau dan dulunya katanya ada yang membuat gamelan Gong Kebyar.
Nilai-nilai kompleksitas dalam wujud fisik bokor penata analogikan dengan pola ornamentasi yang senantiasa mengisi setiap celah partitur garapan ini. Tidak hanya itu, bokor juga merefleksikan bagaimana kehidupan ini dilalui dengan jalan yang tidak mudah dan begitu penuh dengan tantangan.
Pada dasarnya, di dalam penyelesaian dan proses suatu karya sudah jelas mempunyai tujuan dan sasaran. Tujuan dan sasaran yang hendak dicapai menjadi sebuah motivasi dalam mendorong terwujudnya suatu garapan. Adapun tujuan dari garapan yang sudah penata buat terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umunya yaitu: 1) untuk menuangkan daya kreativitas, serta potensi dalam kesenian melalui penggarapan komposisi karawitan guna menciptakan karya yang bermutu dan berkualitas; 2) untuk menambah repotoar penciptaan karawitan dengan menggunakan media ungkap gamelan Gong Kebyar; dan 3) untuk mengembangkan kreativitas teknik permaian melodi, tempo, ritme, dan dinamika di dalam garapan komposisi karawitan ini, sehingga terbentuk suatu kompoisi karawitan yang utuh. Tujuan Khususnya yaitu:
1) untuk mewujudkan komposisi karawitan tabuh kreasi pepanggulan Amande, dengan menggunakan media ungkap barungan gamelan Gong Kebyar; 2) untuk menggunakan kreativitas teknik permaianan seperti melodi, tempo, ritme, dinamika di dalam mendukung tema pelestarian budaya garapan sehingga terkesan utuh dan harmonis; dan 3) penata mencoba menghasilkan sebuah garapan komposisi tabuh kreasi pepanggulan Amande yang kreatif dan inovatif melalui eksplorasi teknik, pengolahan unsur-unsur dan pengembangan motif-motif yang telah ada.
Manfaat garapan yang dapat diperoleh dari tabuh kreasi pepanggulan Amande ini yaitu: 1) dapat meningkatkan kreativitas, pengalaman, serta menambah wawasan dalam berkarya seni yang nanti bisa berguna baik bagi penata maupun masyarakat: 2) garapan ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap perkembangan kreativitas dan ilmu khususnya diranah dunia karawitan; dan 3) menambah khasanah sajian seni karawitan di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang kiranya bermanfaat sebagai acuan, serta sebagai bahan perbandingan dalam meningkatkan kreativitas karya seni, khususnya di bidang seni karawitan
Untuk menghindari salah persepsi terhadap garapan ini, maka penata memberikan batasan pemahaman terhadap karya ini sebagai berikut: 1) garapan komposisi karawitan ini berjudul Amande; 2) tema dalam garapan komposisi ini yaitu pelestarian budaya, disini bagaimana penata merealisasikan konsep ke dalam sebuah bentuk garapan, dengan judul Amande menjadi lebih khusus kedalam proses pembuatan bokor itu sendiri yang semakin punah; 3) struktur garapan ini terbagi atas tiga bagian yang disebut Tri Angga yaitu kawitan, pengawak, dan pengecet dengan durasi waktu kurang lebih 12 menit: dan 4) garapan yang berjudul Amande adalah merupakan garapan tabuh kreasi pepanggulan yang menggunakan barungan gamelan Gong Kebyar sebagai media ungkap.
INTI
Penulian suatu karya ilmiah selalu dilandasi oleh sumber tertulis maupun tidak tertulis yang dijadikan dasar pijakan untuk mewujudkan sebuah garapan tabuh kreasi pepanggulan Amande. Sumber tersebut tentu memberikan manfaat sehingga garapan ini dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Sumber-sumber yang digunakan sebagai berikut :
Sumber Pustaka
Terwujudnya suatu komposisi karawitan, tidak lepas dari sumber dan informasi. Untuk menghasilkan karya seni yang didalamnya mengandung nilai filsafat, etika dan sistematika, maka komposisi ini didukung dengan beberapa sumber-sumber, diantaranya :
1. Kreativitas Musik Bali Garapan Baru Persfektif Cultural Studies oleh I Gede Arya Sugiartha 2012. Dalam buku ini banyak mengulas tentang bagaimana seorang penata berkreativitas, meski kreasi dikatakan bebas akan tetapi tidak merubah bentuk itu sendiri. Dalam buku ini penata mendapatkan bagaimana seorang berkreativitas dalam berkesenian.
2. Gamelan Bali Di Atas Panggung Sejarah oleh I Made Bandem 2013. Dalam buku ini banyak mengulas tentang aspek-aspek dan seluk beluk tentang gamelan Bali dan asal mula gamelan Bali. Buku ini memberikan pengetahuan terhadap gamelan Bali.
3. Metode Penyusunan Karya Musik oleh Pande Made Sukerta 2011. Buku ini mengulas tentang bagaimana cara menyusun suatu musik baru dan penjelasan cara awal dari pembuatan suatu karya musik itu sendiri. Dari uraian tersebut penata dapat cara menyusun suatu karya seni.
4. Pengetahuan Karawitan Bali, oleh Drs. I W.M. Aryasa, dkk, 1984/1985. Buku ini menguraikan tentang vokal seperti pengertian karawitan vokal, jenis tembang dan tata penyajian tembang, karawitan instrumental, seperti alat-alat karawitan instrumental, barungan gamelan atau ensambel, fungsi dan bentuk karawitan instrumental, tata penyajian tetabuhan, serta modus dan lagu. Secara subtansi buku ini menuntun penata untuk memahami hal mendasar dalam ilmu karawitan Bali sebagai bekal pertama untuk menyusun sebuah komposisi.
5. Prakempa Sebuah Lontar Gamelan Bali, oleh I Made Bandem, 1986. Buku ini menjelaskan tentang empat unsur pokok dalam gamelan Bali yaitu filsafat atau logika, etika atau susila, estetika (lango) dan gegebug (teknik). Buku ini bermanfaat bagi penata untuk memahami tentang logika, etika, estetika, dan teknik dalam menyusun sebuah komposisi.
6. Ubit-ubitan Sebuah Teknik Permainan Gamelan Bali, oleh I Made Bandem, 1991. Sumber tertulis ini membahas tentang ubit-ubitan yang jumlahnya mencapai empat belas jenis, antara lain bebaru, aling-aling, kabelit, kabelet, kabelet ngecog, oles-oles, ubitan nyendok, nyalimput, nyalimped,
gagulet, gagelut, tulak wali, aling-aling cunguh temisi, dan gegejer. Beberapa dari keempat belas teknik tersebut penata memakai beberapa dan menjadikan dasar dalam mengembangkan teknik permainan yang digunakan dalam garapan ini.
Sumber Diskografi
Karya ini juga didukung berbagai sumber discografi melalui rekaman-
rekaman kaset yang ada hubungan dengan penciptaan karya komposisi karawitan Amande yang dibuat penata, diantaranya :
1. Rekaman MP3 dan Video tugas akhir Kirtanam karya I Made Dwi Andika Putra tahun 2014. Dalam karya ini penata mendapat inpirasi pengolahan melodi yang agung serta nuansa yang ditimbulkan untuk pembuatan karya
2. Tabuh kreasi pepanggulan Cakra Arnawa karya I Wayan Darya. Dalam karya ini penata mendapatkan sebuah melodi mandarin serta permainan patutan.
3. Tabuh kreasi pepanggulan Mahardika karya I Wayan Darya. Dalam karya ini penata meniru teknik permainan gangsa yang berkelompok.
4. Tabuh kreasi Kete-kete karya Dewa Made Suparta. Dalam karya ini penata mendapatkan bentuk pukulan seperti pukulan palu dalam kegiatan memande.
Perwujudan suatu karya seni tentu dimulai dari proses yang melalui tahapan-tahapan penting, yaitu berawal dari rangsangan dan dorongan batin dari seorang seniman itu sendiri. Proses tersebut bisa berjalan dengan lambat dan cepat, akan tetapi bisa juga berjalan sangat lama. Proses tidak dapat berjalan dengan mudah apabila pada awalnya si seniman kurang memiliki konsep yang pasti dan adanya keragu-raguan. Setiap proses karya seni pasti si seniman memiliki ciri khas tersendiri yang merupakan akibat dari pengaruh dan pengalaman-pengalaman yang dimiliki seniman itu sendiri sehingga menjadi suatu identitas sebuah karya. Proses kreativitas agar sebuah karya tidak monotone kreativitas memerlukan pola pemikiran yang kreatif dan mempunyai temuan-temuan baru, serta pembentukan sebuah jati diri sehingga garapan tersebut memiliki rasa orisinalitas tersendiri. Sebagaimana yang dikatakan oleh Pande Sukerta bahwa kreativitas orang yang seneng otak-atik (dalam bahasa Jawa) untuk mencari kebaruan baik dalam garap maupun dalam bentuk karya.
I Gede Arya Sugiartha menjelaskan bahwa salah satu hakikat kreativitas adalah “membuat yang baru dengan menata lagi yang lama”. Pandangan ini sesuai dengan konsep kreativitas musik kreasi baru bahwa bentuk-bentuk musik baru dihasilkan dari proses pengembangan terhadap yang sudah ada. Kreativitas musik kreasi baru kendatipun menggunakan pemikiran dekonstruktif, motivasi penciptaannya tidak untuk menghancurkan atau mengacaukan tatanan yang ada, tetapi untuk melahirkan sebuah konstruksi baru yang lebih inovatif sesuai dengan perkembangan zaman (Sugiartha, 2012:89).
Penata meminjam konsep yang dikemukakan oleh Alma M. Hawkins dalam bukunya Creating Through Dance, yang di terjemahkan oleh bapak Y. Sumandiyo Hadi bahwa penciptaan suatu karya seni ditempuh melalui tiga tahapan yaitu: tahap penjajagan (Eksplorasi), tahap percobaan (Improvisasi), dan tahap pembentukan (Forming).
1.Tahap Penjajagan (Eksplorasi)
Eksplorasi termasuk berpikir, berimajinasi, merasakan dan merespon segala sesuatu yang timbul dari pikiran. Pada tahap ini, munculnya ide bisa disebabkan oleh proses imajinasi lama dan dapat pula inspirasi dalam waktu sekejap yang tak pernah terduga sebelumnya. Timbulnya suatu ide juga dapat muncul suatu saat kejadian atau peristiwa yang sedang atau sudah terjadi. Tahap awal dari sebuah proses pembuatan kerajinan tangan di desa Tejakula dijadikan sebagai landasan ide untuk mewujudkan sebuah komposisi.
Kegiatan lain yang penata lakukan setelah penentuan ide yakni menentukan tema, judul, dan konsep melalui proses berpikir, berimajinasi, merasakan, serta menafsirkan. Pencarian sumber-sumber baik tertulis maupun tak tertulis yang berhubungan dengan karya Amande. Pencarian ini penata lakukan baik melalui literatur terkait dengan garapan maupun berupa rekaman musik (mp3), serta video garapan Ujian Tugas Akhir yang telah dipertunjukkan sebelumnya. Tahap selanjutnya penata melakukan wewancara dengan seseorang yang dulunya pengerajin bokor pada Sabtu, 18 Maret 2017 yaitu Made Wiyasa untuk mendapatkan suatu informasi yang lebih jelas mengenai proses pembuatan bokor itu sendiri.
Dalam karya seni ini, penata menemukan ide ketika berwawancara terhadap seorang yang dulunya pengerajin bokor yaitu Made Wiyasa. Berangkat dari sana penata menemukan warna suara yang dihasilkan dari pukulan palu dan hiasan dari proses pembuatan bokor seperti pepatran, kekarangan, dan keketusan yang
menjadi ciri khas sendiri yang terdapat di desa Tejakula. Dari proses ini memberikan imajinasi yang kemudian dituangkan melalui bahasa musik lewat sebuah penyajian komposisi karawitan tabuh kreasi Pepanggulan Amande. Setelah penentuan judul garapan, maka langkah selanjutnya penata memilih pendukung untuk nantinya mendukung garapan tabuh kreasi pepanggulan ini. Penata memakai penabuh komunitas Rare Mekar yang terdapat di desa Tejakula.
Tabuh kreasi pepanggulan Amande ini sebelumnya sudah dapat dipresentasikan dalam kelas berupa video sebagai tugas mata kuliah komposisi III. Penata di sini banyak menerima komentar maupun kritikan untuk membangun dan mengembangkan komposisi ini menjadi lebih baik dari sebelumnya. Komposisi kreasi pepanggulan Amande ini sudah banyak mengalami proses pengurangan atau penambahan melodi dan beberapa ornamentasi pada beberapa bagian setelah kelas komposisi tersebut. Sebelumnya tabuh kreasi pepanggulan ini berjudul Bokor. Ide dan konsep garap dengan judul yang dipakai dalam tabuh kreasi pepanggulan yang sekarang tidak jauh berbeda.
Hal lain yang perlu dipersiapkan dalam tahap penjajagan (eksplorasi) ini adalah persiapan secara niskala dengan melakukan upacara Nuasen, yaitu upacara pencarian hari baik untuk hari pertama mulai latihan serta memohon keselamatan dalam berproses, agar memiliki taksu dan selalu dalam lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Nuasen dilakukan di Pura yang terdapat di kantor kepala desa Tejakula pada Rabu Gumbreg (sasih Kesanga), 3 Maret 2017.
2. Tahap Percobaan (Improvisasi)
Tahap improvisasi merupakan tahap kedua dalam proses penggarapan, pada tahapan ini
memberikan kesempatan yang lebih besar imajinasi, seleksi dan mencipta dari tahap eksplorasi. Dalam tahap ini penata menuangkan garapan ke dalam catatan kecil yang berisi notasi tabuh sebelum dibahasakan ke dalam gamelan Gong Kebyar. Konsep ditransformasikan ke dalam media ungkap melalui pengolahan melodi dimana kemungkinan-kemungkinan yang diimajinasikan dalam sebuah bentuk tabuh kreasi pepanggulan.
Setelah melakulan penjajagan ide dan konsep, maka penata mencoba membuat rancangan bentuk yang nantinya tertuang ke dalam sebuah komposisi karawitan. Pada awalnya penata membuat suatu orak-orek atau sebuah rancangan melodi komposisi tabuh ke dalam catatan kecil yang nantinya dituangkan kepada pendukung. Proses ini tidak bisa berjalan sesuai dengan rencana karena hambatan kecil yang terjadi pada pendukung itu sendiri.
Penata mencoba menuangkan melodi yang sebelumnya dibuat dalam catetan kecil dengan beberapa pendukung. Penata menuangkan bagian kawitan pada Jumat 3 Maret 2017. Penata menjelaskan ide dan konsep tabuh kreasi pepanggulan Amande agar pendukung dapat memahami dan mengetahui konsep yang nantinya dituangkan oleh penata. Setelah memahami tentang konsep yang dibuat, kemudian penata mencoba menuangkan kawitan yang dituangkan dengan motif kebyar dan pola geguletan kendang sesuai dengan ide dan imajinasi yang dibuat penata. Begitu cepatnya pendukung menerima dan menangkap pola-pola yang diberikan, sehingga penata merasa bersemangat untuk mencari temuan baru dan motif-motif baru untuk dimasukan ke dalam tabuh kreasi pepanggulan.
3. Tahap Pembentukan (Forming)
Tahap ketiga penggarapan adalah pembentukan forming. Tahap akhir dari sebuah garapan komposisi tabuh kreasi pepanggulan Amande yaitu menjadikan kesatuan komposisi yang utuh dari rancangan notasi yang dibuat oleh penata dan dituangkan kedalam satu barungan gamelan Gong Kebyar walaupun terdapat bagian-bagian yang masih kasar.
Penata sebelumnya latihan dengan sebagian dari pendukung yang dipakai untuk ujian akhir, dikarenakan faktor kesibukan pendukung. Dengan demikian penata tidak menyerah meski dengan sedikit pendukung, penata tetap melakukan latihan untuk cepatnya mewujudkan komposisi tabuh kreasi pepanggulan Amande.
Bimbingan-bimbingan baik karya cipta maupun karya tulis lebih intensif dilakukan agar mendapat motivasi, saran, dan masukan untuk menunjang garapan. Penyatuan rasa juga perlu dilakukan sehingga dapat terbentuk garapan yang benar-benar utuh. Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan agar komposisi karawitan ini lebih rapi dan apik. Aksentuansi tertentu ditonjolkan sebagai suatu identitas agar diperoleh sebuah komposisi tabuh yang berkualitas.
Setelah tahapan ini dilakukan tahap finishing untuk mengakhiri proses kreativitas dengan lebih menghaluskan dan menghayati garapan. Penjiwaan dan kekompakan pendukung sangat dibutuhkan karena hal tersebut sangat berperan dalam penyampaian kesan dan pesan yang terkandung dalam garapan kepada
penikmat. Penata juga melakukan pembakuan terhadap setting yang dipergunakan dan dicoba sebelum dilaksanakannya gladi bersih serta Ujian Tugas Akhir (TA).
Garapan ini merupakan bentuk penyajian komposisi tabuh kreasi Pepanggulan dengan judul Amande. Aktivitas yang mengadopsi suara-suara palu yang berasal dari proses pembuatan bokor. Komposisi ini didukung oleh 34 orang penabuh termasuk penata. Pendukung karya ini adalah komunitas seni Rare Mekar desa Tejakula, dengan durasi waktu kurang lebih 12 menit.
Deskripsi Garapan
Amande merupakan sebuah garapan tabuh kreasi pepanggulan dengan menggunakan gamelan Gong Kebyar sebagai media ungkap. Adapun tema yang diangkat dalam garapan ini adalah pelestarian budaya. Tema ini diangkat dikarenakan kepedulian penata terhadap proses pembuatan kerajinan tangan (bokor) yang semakin memunah (menghilang). Tema di atas sesuai dengan struktur garapan yang menjadi satu kesatuan yang utuh. Struktur garapan ini terdiri dari kawitan, pangawak dan pangecet.
Garapan komposisi Amande disajikan dalam bentuk konser karawitan yang mandiri. Pagelaran karya seni ini disajikan di atas stage Natya Mandala ISI Denpasar, dengan perlengkapan sound system dan tata lampu modern. Garapan ini didukung oleh 34 orang penabuh dan sejumlah staf produksi (terlampir) dengan durasi waktu penyajian kurang lebih 12 menit. Adapun pesan yang ingin disampaikan melalui garapan Amande adalah melestarikan kerajinan bokor dan menggugah generasi muda untuk menekuni kerajinan bokor yang ada di desa Tejakula agar tidak punah.
Struktur Garapan
Struktur atau susunan suatu karya seni adalah aspek yang menyangkut keseluruhan dari suatu karya itu dan meliputi juga peranan masing-masing bagian dalam keseluruhan itu (Djelantik, 1999:37). Dalam struktur sebuah garapan ada hubungan tertentu antara bagian-bagian yang tersusun dan saling berkaitan. Struktur garapan dihubungkan dengan sebuah jembatan-jembatan penghubung yang disebut transisi. Dilihat dari struktur, komposisi ini dibagi menjadi tiga bagian ( kawitan, pengawak, dan pengecet). Setiap bagian mendeskrisikan tentang proses Amande yang khususnya dalam proses pembuatan bokor itu sendiri. Adapun pola struktur dalam komposisi tabuh kreasi pepanggulan Amande adalah sebagai berikut
1) Bagian kawitan
Bagian ini diawali dengan motif kebyar yang dimainkan bersamaan, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan permainan penyacah, jublag dan jegog serta permainan kelompok giying yang diolah saling bersautan. Dilanjutkan dengan permainan terompong (geginam). Dalam bagian kawitan mendeskripsikan awal proses pembuatan bokor itu sendiri yakni dari pembentukan bahan kuningan yang dibuat diameter sesuai bentuk yang diinginkan. Setelah dibentuk sesuai dengan keinginan, baru dikaitkan dengan besi yang sesuai dengan ukuran diameter kuningan yang dibentuk tadi, lalu dilajutkan dengan membentuk bokor secara kasar tanpa hiasan (nyongcong).
Kawitan K.BSM :.7.77713413455.55134534575.7.745754545345434(3)3 kantilan :1331345745343 K.BSM :3.1.13..43131345754534541343713133.4411.331143143 M :45451.751.7 K.BSM :5.5753.57535351.7.4754.575745.7171574545715745457157 M :57.571333.3334534 R :13143134131431341431341113713713... K.BSM :71314341435474547.3573573573571177557117.117.175745 751754754.55454343 M : 3333777744445555 3x 545345.45345431345.57.7545.3.4.45.34. K.BSM :545345.45345 Kendang :O O O O O O .O O -O -O O _O .O.O.O O -O -.. . -O - R : 3171314311.1.14311.1.1431.1 T : ..1..1.1.1177117711.3.45..5..5.5.5433443344..
353535353535353513571357135714371357135715715 713..3..3.3.3.53355..311431133..53355..3114 31133..53355..5335577..5..5..5.5.5.55.54.31 R : 11.1.1431 G : 7575713...54343134.. T : 53.45.. G : 55555555555555555.1345.37.13.41.34.53.45 T :.5545445433431131 K.BSM : .5.71..1..1.1.1.1.1 M : 13471731347517134134173453 G : 33343543444...555457 R : 77.7777.77517575175751751431431431431431...354 314317317.354314317317.11715713 G : 33.4455..35431431..71..431(7) M.BSM : 713411.1111.11371(3) Motif Gegenderan M.BSM : 4571.345.34313.177134.5.171.53 333 1111 3333 1111 5.3.3.3.13.17.13.17.7.3.4.1... 131313454.3143457.175475 .13135.13135.13135.3.5.3.5.3.5.1751.75.5 .3.5.5.7.3.1.3.7.7.7.134..5.13135.13135.13135.3 .5.3.5.1.5.4.11..1 17517.1341343.17543.1754(3) Penyalit menuju bagian pengawak
.3.3.1.7.3.4.5.7.5.4.3.75173143535 3531434531571(3)
2) Bagian pengawak
Bagian ini merupakan permainan melodi pengawak seperti pengawak lelambatan, akan tetapi tidak memakai aturan kolotomik lelambatan pada umumnya. Pada bagian pengawak ini menceritakan bokor yang sudah dihiasi dengan ukiran seperti pepatran, kekarangan, dan keketusan yang menjadi ciri khas sendiri yang terdapat di desa Tejakula.
Pengawak M :.3.1.5.7131.713.17.13454315143.3.1..231764712.1.. 2317646717..75.71.7175(4) Ketukan dipercepat M :.5.4.1.4.17.4.1.5.1.5.7.713.713.457.457.431.713.5 .3.5.3.5.3..(3)
Pengulangan setengah dari pengawak
M :.3.1.5.7131.713.17.13454315143.3.1..231764712.1.. 2317646717..75.71.7175(4) Penyalit K.BSM : ..71345754.34.134541.71.1345431.71 Riong :1.313.1.313.1.3.13.131.313.131.31.313.1.313. 1.31.34.3457..7543.3457.543.3457.3.43.1431. ...571.571.13.1.31.571.571.13... 3) Bagian pengecet
Bagian pengecet penata menganalogikan proses finishing dari sebuah pembuatan bokor itu sendiri. Dalam pengecet penata mencoba mendeskripsikan proses finishing dari proses pembuatan bokor itu sendiri seperti nyikat memakai air keras serta menggunakan buah asam untuk membuat bokor itu lebih bersih. Pengecet
G : 1.1.1.57.17.7.5.5.754.45.1.4.431.13.31.71. 3.31.51.3.3151.57.57.75.7.5.7.5.7.5.754.5.4 .5.4.5.4.5.4.431.3.1.3.1.3.1.3.1 T : 75713.(3) BSM : 75737573757357135431...(1) .3.5.3.1.3.5.3.1.4.4.7.1.7.5.3.1.1.1.1.3 Tempo seketika turun
M : 4571.1.437134.1.43 6x Tempo lebih cepat
M : .3.4.3.5.5.5.5.53212.3.1.23516.1216.516535 .335321321.7.5.7.1.3.5.3.15715...(3)
Pengulangan melodi
BSM : 75737573757357135431...(1)
.3.5.3.1.3.5.3.1.4.4.7.1.7.5.3.1.1.1.1.3 Tempo seketika turun
M : 4571.1.437134.1.43 6x Tempo lebih cepat
M : .3.4.3.5.5.5.5.53212.3.1.23516.1216.516535 .335321321.7.5.7.1.3.5.3.15715...(3) Kebyar K.BSM : 341.3.4.54.341.3.4.545353535375431431177143 4157. M : 7.1.3.5... S : 17646.4.3 Analisa Simbol
Simbol merupakan tanda konvensional, sesuatu yang dibangun oleh masyarakat atau individu dengan arti tertentu yang kurang lebih standar dan disepakati atau dipakai anggota masyarakat itu sendiri. Arti simbol dalam konteks ini sering dilawankan dengan tanda ilmiah (www.pengertiansimbol.com). Simbol dapat dipergunakan untuk menyampaikan maksud tertentu kepada penikmatnya dan menjadi tanda yang mampu mengungkapkan ide atau gagasan dalam garapan itu sendiri. Dalam garapan Amande, simbol digunakan untuk penulisan notasi karawitan Bali, warna lampu (lighting), dan kostum.
Dalam karawitan Bali memiliki dua jenis laras, yakni laras pelog dan laras selendro yang masing-masing mempunyai sistem notasi yang sama dan cara baca yang berbeda. Sistem notasi biasanya disebut dengan titi laras. Adapun sistem notasi yang dipergunakan dalam garapan Amande adalah sistem notasi ding, dong berupa ulu, tedong, taleng, suku, dan carik yang simbolnya berasal dari penganggening aksara Bali. Dalam garapan Amande penganggening aksara dibaca ding, dong, deng, dung, dan dang.
Simbol 3 4 5 6 7 1 2
Nama Ulu Tedong Taleng Ilut Suku Carik Pepet
No. Instrumen Lambang Peniru Bunyi
1 Jegogan ^ Sesuai dengan nada
2 Klemong - Tong
3 Kempur + Pur
4 Gong ( ) Gir/Gur
5
Kendang Lanang ^
Dug (dipukul bagian muka dengan panggul). Tut (dipukul bagian muka dengan tangan kanan pengiwa ditutup dengan tangan kiri)
6
Kendang Wadon O
Dag (dipukul bagian muka dengan panggul). De (dipukul bagian muka dengan tangan kanan)
7
Kendang Lanang -
Ka/Pa (pukulan pada bagian pengiwa bagian muka kendang ditutup dengan jari)
8
Kendang Wadon <
Ka/Pa (pukulan bagian pengiwa bagian muka kendang ditutup dengan jari)
Selain sistem ding dong yang diambil dari penganggening aksara Bali, ada juga simbol dan tanda-tanda yang berkaitan dengan karya ini, seperti:
- - - - Tanda ulang artinya lagu yang dimainkan secara berulang-ulang
- - Garis nilai yang berharga 1/2 artinya setiap satu ketuk terdapat dua ritme
- - - - Garis nilai yang berharga 1/4 artinya setiap satu ketuk terdapat empat ritme.
Analisa Materi
Materi merupakan unsur terpenting dalam membangun wujud sebuah karya seni khususnya garapan Amande. Dalam garapan Amande, elemen penting sebagai materi yang patut dianalisa ditentukan berdasarkan motif-motif lagu, teknik pukulan dan cara-cara mengekplorasi bunyi untuk membentuk karakter masing-masing bagian. Tujuan analisa materi ini adalah agar garapan mudah dicerna oleh penikmatnya. Ada beberapa motif yang digunakan dalam garapan Amande adalah sebagai berikut.
1) Motif Pengulangan
Dalam garapan Amande terdapat pengulangan untuk memberikan kesan dan menegaskan pesan yang ingin disampaikan. Pada pengulangan, beberapa motif diulang beberapa kali, tetapi dalam pengulangan juga dilakukan pengolahan motif. Hal ini dapat dilihat pada pengolahan ritme dan kotekan yang diolah pada melodi yang sama.
2) Motif Gegilakan
Motif gegilakan adalah salah satu ciri dari struktur komposisi pepanggulan. Biasanya motif ini menggunakan hitungan genap (4, 8, 16, dan seterusnya), tetapi dalam garapan Amande motif gegilakan 7, 6, dan 8.
3) Ritme
Ritme adalah rangkaian beberapa suara yang berbeda panjang-pendeknya; jika sudah memakai nada-nada maka ia menjadi lagu dengan sifat-sifat nada-nada tinggi dan rendah (Aryasa, 1984:27). Amande adalah garapan tabuh kreasi pepanggulan dengan mengolah ritme yang bersumber timbre (warna suara) dari media ungkap gamelan Gong Kebyar.
4) Melodi
Melodi adalah rangakain nada secara berurutan yang berbeda panjang-pendeknya dan beberapa pola tinggi rendahnya, teratur susunannya memiliki irama (tempo dan isi) (Aryasa, 1984:27). Dalam garapan Amande melodi dimainkan oleh instrumen penyacah, suling, dan ugal.
5) Tempo
Tempo adalah waktu, cepat dan lambat dalam langkah tertentu (Aryasa, 1984:84). Dalam pola permainan yang dimainkan/dilakukan tempo memegang peran yang sangat penting. Adapun tempo yang digunakan dalam garapan Amande meliputi lambat, sedang, dan cepat.
6) Dinamika
Dinamika berarti keras lirihnya dalam cara memainkan musik (Aryasa, 1984:84). Dinamika merupakan salah satu bagian terpenting dalam garapan. Dinamika sebagai ekspresi dalam penggarapan, menyangkut aksen pada teknik permainan instrumen, keras lirihnya suara, serta panjang pendeknya motif maupun teknik permainan instrumen yang dilakukan untuk mengasilkan kesan dinamis dalam sebuah garapan.
Analisa Estetis
Estetika merupakan salah satu bagian penting dalam penggarapan sebuah karya seni. Semua hal-hal yang diciptakan dan diwujudkan oleh manusia yang dapat memberikan kita kesenangan dan kepuasan dengan penikmatnya denga rasa indah merupakan sebuah ungkapan yang timbul saat kita menikmati suatu sajian karya seni. Keindahan membuat seseorang menjadi senang, enak dipandang dan menimbulkan rasa bahagia. Penilaian terhadap keindahan tergantung bagaimana cara pandang masing-masing seseorang dalam menilai maupun menikmati suatu karya yang disajikan. Hanya saja nilai-nilai estetis tersebut sifatnya sangat subyektif yang berada pada masing-masing individu berdasarkan tingkat kepekaan yang ada dalam diri penikmat, pengalaman artistik dan lain-lainya dalam menikmati sebuah penyajian karya seni.
Ada tiga unsur keindahan pada karya seni yang harus diperhatikan khususnya dalam garapan Amande, yaitu wujud, bobot, dan penampilan (Djelantik, 1990: 14).
1. Wujud
Wujud adalah sesuatu hal yang dapat dilihat dan dapat didengar. Wujud
dapat secara nyata dipersepsikan melalui mata dan telinga. Dalam sebuah karya seni khususnya seni musik memiliki unsur bentuk dan struktur.
Garapan komposisi Gong Kebyar yang berjudul Amande adalah berbentuk tabuh kreasi pepanggulan yang masih berpegang pada pola-pola tradisi, yang terinspirasi dari suara palu yang berasal dari proses pembuatan bokor. Garapan komposisi Amande ini disajikan secara konsert/instrumental dalam durasi kurang lebih 12 menit. Garapan ini secara struktur mengacu pada struktur kakebyaran yang terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian kawitan, pengawak, dan pengacet. Ketiga bagian ini dihubungkan dengan adanya transisi (penghubung) antara satu bagian dengan bagian yang lainnya yang mengacu pada ide dan konsep garapan penata itu sendiri.
2. Bobot
Bobot dari suatu karya ini merupakan isi atau makna yang terkandung dalam karya tersebut. Bobot suatu karya seni dapat dirasakan dan dihayati melalui kedalaman rasa penikmat. Bobot pada karya ini terdiri dari dua aspek utama yaitu gagasan atau ide dan pesan yang terkandung di dalamnya.
Gagasan atau ide pada garapan Amande adalah membuat sebuah tabuh kreasi pepanggulan dengan media ungkap gamelan Gong Kebyar, yang dalam pengolahannya terinspirasi dari suara-suara palu yang berasal dari proses pembuatan bokor. Pesan yang terkandung dalam karya ini adalah ungkapan sebuah imajinasi yang mengapresiasikan suatu kerajinan bokor ke dalam karya kreativitas gamelan dan menjaga agar tidak punahnya suatu kerajinan bokor yang terdapat di desa Tejakula.
Analisa Penyajian/Penampilan
Tata penyajian atau penampilan dapat dilihat dari sudut properti, busana dan setting. Properti/dekorasi digunakan untuk mendukung karakter suasana, sedangkan busana/pakain penabuh dalam penyajian komposisi Amande ditata sedemikian rupa agar sesuai dengan konsep yang diharapkan.
Garapan Amande disajikan sebagai komposisi karawitan yang mandiri atau konsert, didukung oleh 35 orang penabuh melaui media ungkap Gong Kebyar. Adapun tema yang diangkat adalah pelestarian seni budaya. Tema ini diangkat untuk menggugah para pengerajin karena kegiatan pembuatan bokor di desa Tejakula kian ditinggalkan oleh beberapa warga. Hal ini disebabkan ketidakseimbangan antara aspek produksi dengan pemasaran atau hasil. Garapan Amande berdurasi kurang lebih 12 menit dengan struktur tri angga yang terdiri bagian kawitan, pengawak, dan pengecet yang diharapkan mampu menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga dapat terwujud karya yang diinginkan oleh penata. Tempat pementasan di Stage Natya Mandala, ISI Denpasar, panggung ini berbentuk proscenium yaitu penonton menyaksikan langsung dari depan.
Sesuatu yang indah tidak saja timbul dari karya seni, tetapi juga timbul dari ornamentasi yang mendukung karya seni tersebut, yang dapat memperkuat rasa estetik suatu karya seni. Dalam komposisi tabuh kreasi pepanggulan Amande untuk menunjang rasa estetis dan kesan yang ditimbulkan digunakan beberapa ornamentasi yaitu pengunaan dekorasi seperti tedung, bandrangan dan gebogan.
1. Instrumen dan Fungsi
Instrumen menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yaitu alat untuk dipakai mengerjakan sesuatu (seperti alat yang dipakai oleh pekerja tehnik, alat kedokteran, optik dan kimia), alat-alat musik (seperti piano, biola, gitar, suling, terompet). Intrumen juga dapat diartikan bagian terkecil dari suatu barungan gamelan. Dalam karya ini penata menggunakan satu barungan gamelan Gong Kebyar, yakni: Instrumen Terompong, Instrumen Kendang (lanang-wadon), Instrumen Suling dan Rebab, Instrumen Ugal/giying, Instrumen Ceng-ceng, Instrumen Kajar, Instrumen Gangsa, Intrumen Kantilan, Instrumen Jublag, Intrumen Penyacah, Intrumen Jegog, Intrumen Riyong, Intrumen Gong (lanang-wadon), Intrumen Kempur, dan intrumen Bebende. 4.6.2 Setting Gamelan
12 11 4 4 10 11 9 8 8 7 7 9 8 8 7 7 10 6 5 1 3 3 3 2 2 3 3 16 14 13 13 15
Keterangan :
1. Instrumen Terompong 11. Instrumen Jegog 2. Instrumen Kendang (Lanang-Wadon) 12. Instrumen Riyong
3. Instrumen Suling 13. Instrumen Gong (Lanang-Wadon) 4. Instrumen Ugal/giying 14. Instrumen Kempur
5. Instrumen Ceng-ceng 15. Instrumen Bebende 6. Instrumen Kajar 16. Intrumen Rebab 7. Instrumen Gangsa
8. Instrumen Kantilan 9. Instrumen Jublag 10. Instrumen Penyacah
4.6.3 Kostum/Tata Busana
Kostum atau tata busana merupakan elemen yang tidak kalah penting perannya dalam sebuah pertunjukan karya seni. Kostum juga berfungsi mempertegas ide, tema dan konsep dari karya seni yang disajikan. Penataan kostum dapat mempengaruhi nilai artistik suatu karya seni. Dalam seni pertunjukan garapan Amande, digunakan konstum modifikasi sesuai kebutuhan garapan dari segi aspek ide, tema disamping disesuaikan juga dengan efek tata lampu (lighting).
PENUTUP
Proses suatu karya seni memerlukan limit waktu yang cukup lama baik dari proses berkreativitas maupun penyelesaian dalam skrip karyanya. Tabuh kreasi Pepanggulan Amande merupakan sebuah proses karya seni yang mengambil konsep dan tema tentang pelestarian budaya yang terdiri dari beberapa bagian yaitu, bagian kawitan, pengawak dan pengecet.
Karya karawitan tabuh kreasi pepanggulam Amande merupakan sebuah garapan yang menggunakan media ungkap gamelan Gong Kebyar. Pengembangan berkreativitas dan berinovasi terdapat dalam pola-pola permainan, pengolahan unsur-unsur musikal dan teknik-teknik permainan yang sudah ada (ubit-ubitan) yang menjadi sebuah satu-kesatuan yang utuh untuk menggambarkan suasanan dalam sebuah garapan Amande. Garapan komposisi ini disajikan dalam bentuk konsert/karawitan mandiri dalam durasi waktu kurang lebih 12 menit.
Proses dalam berkarya seni tidaklah semudah yang dibayangkan, dan tidak selalu selancar yang kita inginkan. Dalam suatu proses karya seni pasti banyak hambatan dan rintangan, suka cita serta hal ini menambah suatu pengalaman berharga yang belum pernah pencipta alami sebelumnya.
Dalam kesempatan ini penata menyampaikan beberapa saran yang kiranya bermanfaat nantinya bagi mahasiswa yang berkiblat dalam karya seni khususnya seni karawitan. Dalam mewujudkan suatu berkarya seni merupakan hal yang tidak mudah, kesiapan mental sangat diperlukan dalam menentukan ide-ide yang ingin dituangkan dalam sebuah karya yang sesuai dengan harapan yang dicapai. Sebelum berproses, penentuan ide dan konsep yang matang merupakan sebuah kunci untuk meraih keberhasilan dalam berkarya. Para seniman diharapkan semakin tergugah untuk mencipta suatu karya seni yang berkualitas dan kreatif, tentunya yang dapat diterima dalam kalangan masyarakat akademis maupun non akademis. Proses kreatif jangan saat menjelang Ujian Tugas Akhir, akan tetapi tetap diharapkan secara terus menerus baik dalam lingkungan akademik maupun non akademik (lingkungan masyarakat).
DAFTAR SUMBER
Sumber Pustaka
Aryasa, I WM. 1984. Pengetahuan Karawitan Bali. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudyaan Bali. Arya Sugiartha, I Gede. 2012. Kreativitas Musik Bali dalam Garapan Baru, Persfektif Cuktural Studies.
Denpasar: UPT Penerbitan ISI Denpasar.
Bandem, I Made. 1986. PRAKEMPA, Sebuah Lontar Gamelan Bali. Denpasar: Akademi Seni Tari Indonesia.
_______. 1988. Ubit-ubitan Sebuah Teknik Permainan Gamelan Bali. Denpasar. Ditjen Tinggi Depatermen Pendidikan dan Kebudayaan.
_______. 2013. Gamelan Bali di Atas Panggung Sejarah. Denpasar: BP Stikom Bali.
Djelantik, A.AM. 1987. Pengantar Dasar Ilmu Estetika, Jilid 1 Estetika Instrumental Edisi ke-2. Denpasar: Proyek Pengembangan Akademi Seni Tari Indonesia.
Dwi Andika Putra, I Made. 2013. Skrip Karya Seni Kirtanam. Denpasar: Institut Seni Indonesia.
Kariasa, I Nyoman. 2011. Tabuh Kreasi Pepanggulan Gamelan Smarandhana “Lemayung”, Bagian I
Kiriman. Dikutip dari:
http://repo.isi-dps.ac.id/.611/1/.Tabuh_Kreasi_Pepanggulan_Gamelan_Smarandhana_”Lemayung”%2C_Bagian_I .pdf
Sumandiyo Hadi, Y. 1990. Mencipta Lewat Tari (terjemahan buku Creating Trought Dance oleh Alma M.Hawkins). Yogyakarta: Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Sukerta, Pande Made.2009. Gong Kebyar Buleleng Perubahan dan Keberlanjutan Tradisi Gong Kebyar. Surakarta: Program Pasca Sarjana.
________.2010. Tetabuhan Bali I. Surakarta: ISI Press Solo.
________.2011. Metode Penyusunan Karya Musik “Sebuah Alternatif”. Surakarta: ISI Press Solo. Tim Penyusun. 2012. Pedoman Tugas Akhir. Denpasar: Fakultas Seni Pertunjukan.
Yasa, I Putu. 2015. Skrip Karya Seni Karawitan Lima Jari. Denpasar: Institut Seni Indonesia.
Yudarta, I Gede. 2017. Tabuh Kreasi Pepanggulan Bentuk Komposisi “Baru” dalam Seni Karawitan Gong
Kebyar. Dikutip dari:
_PEPANGGULAN_BENTUK_KOMPOSISI_BARU_DALAM _SENI_KARAWITAN_GONG_KEBYAR/amp.
Sumber Discografi
Rekaman MP3 dan Video tugas akhir Kirtanam karya I Made Dwi Andika Putra tahun 2014. Tabuh kreasi pepanggulan Cakra Arnawa karya I Wayan Darya.
Tabuh kreasi pepanggulan Mahardika karya I Wayan Darya. Tabuh kreasi Kete-kete karya Dewa Made Suparta.
SINOPSIS
Amande merupakan sebuah tabuh kreasi pepanggulan. Amande tercipta dari hasil adopsi bunyi pukulan palu serta hiasan-hiasan yang terdapat dalam kerajinan tangan bokor yang dilakukan oleh masyarakat/warga Pande di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng. Terciptanya Amande bertujuan untuk menuangkan daya kreativitas pada potensi seni yang ada dan menyadarkan kembali terhadap proses kerajianan tangan bokor, dengan tanpa meninggalkan unsur-unsur musik seperti:melodi, dinamika, tempo dan ritme.
Penata : Pande Gede Widya Supriyadnyana Jurusan : Karawitan 2013