• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategies For Increasing Respect To The Index Paddy Crop Income And Welfare Of Rainfed Farmers In South Sumatra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Strategies For Increasing Respect To The Index Paddy Crop Income And Welfare Of Rainfed Farmers In South Sumatra"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Strategi Peningkatan Indeks Pertanaman Padi Kaitannya Terhadap

Pendapatan dan Kesejahteraan Petani Pada Lahan Tadah Hujan

di Kabupaten OKI Sumatera Selatan

Strategies For Increasing Respect To The Index Paddy Crop Income And

Welfare Of Rainfed Farmers In South Sumatra

Henny Malini1*) , Marwan Sufri2, Desi Aryani3 *1)

Staf Dosen pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya

2)

Staf Dosen pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya

3)

Staf Dosen pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya *Penulis untuk korespondensi : Tel/Faks: +62711580662/08153841792

*)

Corresponding author : [email protected]

ABSTRACT

Increased productivity in rainfed areas can be done by increasing productivity per unit area and increased cropping intensity. Low productivity and cropping intensity in rainfed areas due to water source only depends on rainfall. Thus, in rainfed areas which have a short rainfall so rice cultivation can only be done once a year, then the land is left fallow, to increase the cropping index in rainfed areas is done with the utilization of fallow land (Endjang S. et al, 2011). This study was conducted from January to June 2015. The implementation of activities includes collection of secondary data and primary data. Multistage sampling is purposive sampling In each district are selected samples of rice farmers are considered to be representative of the population. Based on the results of the study showed that the average farm income of rice farmers in rain-fed land is smaller when compared with the KHL (Living Needs). Pegiliran pattern is the optimal crop rotation farming pattern in the pattern of rotation farming land there 9 Rainfed farming rotation patterns, patterns of rotation recommended that the pattern (X6) Rice - Cabe- spinach. Strategies in an increase in index paddy crop is a system of irrigation by pumping, pattern rotation cropping, cropping patterns simultaneously, to maximize production, utilizing technological advances, creating management of farming, improved partnership, management of storage area good results, communication and transportation, choosing the right plants.

Key words: improvement of cropping index, strategy, revenue needs of decent living ABSTRAK

Peningkatan produktivitas di lahan sawah tadah hujan dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas per satuan luas dan peningkatan intensitas pertanaman. Rendahnya produktivitas dan intensitas pertanaman di lahan sawah tadah hujan disebabkan karena sumber air hanya tergantung pada curah hujan. Dengan demikian, pada lahan sawah tadah hujan yang memiliki curah hujan yang pendek maka penanaman padi hanya dapat dilakukan satu kali dalam setahun, selanjutnya lahan dibiarkan bera, untuk meningkatkan indeks pertanaman di lahan sawah tadah hujan dilakukan dengan pemanfaatan lahan bera (S. Endjang dkk, 2011). Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Juni 2015. Pelaksanaan kegiatan meliputi Pengumpulan data sekunder dan data primer.

(2)

Penarikan contoh bersifat multistage purposive sampling Pada masing-masing kecamatan tersebut dipilih sampel petani padi yang dianggap bisa mewakili populasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan usahatani petani padi di lahan tadah hujan lebih kecil apabila dibandingkan dengan KHL (Kebutuhan Hidup Layak). Pola Pegiliran tanaman yang optimal adalah Pola pergiliran usahatani di Pola pergiliran usahatani di lahan Tadah Hujan ada 9 pola pergiliran usahatani, pola pergiliran yang direkomendasikan yaitu pola (X6) Padi – Cabe- bayam . Strategi didalam peningkatan Indeks pertanaman padi adalah sistem Pengairan dengan Pompanisasi, pola pergiliran tanam, pola tanam yang serentak, memaksimalkan hasil produksi, memanfaatkan kemajuan teknologi, menciptakan manajemen usahatani yang baik, meningkatkan jalinan kemitraan, pengelolaan tempat penyimpanan hasil yang baik, komunikasi dan transportasi, memilih tanaman yang tepat.

Kata kunci : peningkatan indeks pertanaman, strategi,pendapatan kebutuhan hidup layak

PENDAHULUAN

Pangan adalah kebutuhan pokok manusia yang selalu dikonsumsi sehingga semua orang akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya itu. Kebutuhan akan pangan ini akan semakin meningkat seiring dengan berkembangnya jumlah penduduk di suatu wilayah (Miftachuddin, 2014). Ketersediaan pangan sebaiknya cukup jumlahnya, bermutu baik serta harganya dapat dijangkau oleh masyarakat. Pangan diartikan sebagai segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah (Purwono dan Purnamawati, 2013). Salah satu komoditas pangan utama yang paling dominan dikelola di setiap daerah di Indonesia adalah padi yang nantinya akan diolah menjadi beras sehingga dapat dikosumsi masyarakat (Miftachuddin, 2014).

Sumatera Selatan merupakan salah satu penyumbang produksi padi terbesar di Indonesia. Sumbangan Sumatera Selatan tehadap produksi padi nasional mencapai 5, 16 %. Kontribusi produksi padi Sumatera Selatan ini berada di urutan 7 (tujuh) besar Indonesia pada tahun 2013 dan menduduki posisi ketiga di Pulau Sumatera (Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan, 2014).

Peningkatan produktivitas di lahan sawah tadah hujan dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas per satuan luas dan peningkatan intensitas pertanaman. Rendahnya produktivitas dan intensitas pertanaman di lahan sawah tadah hujan disebabkan karena sumber air hanya tergantung pada curah hujan. Dengan demikian, pada lahan sawah tadah hujan yang memiliki curah hujan yang pendek maka penanaman padi hanya dapat dilakukan satu kali dalam setahun, selanjutnya lahan dibiarkan bera, untuk meningkatkan indeks pertanaman di lahan sawah tadah hujan dilakukan dengan pemanfaatan lahan bera (S. Endjang dkk, 2011).

Peningkatan produktivitas lahan diantaranya dapat dilakukan melalui penerapan teknologi spesifik lokasi berdasarkan potensi sumberdaya domestik dengan memperhatikan aspek lingkungan. Peningkatan produktivitas di lahan sawah tadah hujan dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas per satuan luas dan peningkatan intensitas pertanaman. Rendahnya produktivitas dan intensitas pertanaman di lahan sawah tadah hujan disebabkan karena sumber air hanya tergantung pada curah hujan. Dengan demikian, pada lahan sawah tadah hujan yang memiliki curah hujan yang pendek maka penanaman padi hanya dapat dilakukan satu kali dalam setahun, selanjutnya lahan dibiarkan bera, (Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, 2011).

Tujuan penelitian ini adalah Mengidentifikasi strategi didalam meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) pada lahan usahatani padi pada lahan tadah, Menghitung

(3)

pendapatan usahatani padi dan diversifikasi usahatani padi dan usahatani lainnya dan menganalisis pola pergiliran tanaman optimal usahatani padi dan usahatani lainnya, serta menganalisis tingkat kesejahteraan petani padi di lahan tadah hujan di kabupaten OKI di Sumatera Selatan.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, tepatnya di Kecamatan Lempuing Jaya, pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) artinya daerah penelitian dipilih berdasarkan tujuan penelitian. Pemilihan Penelitian ini dilaksanakan di lahan Tadah Hujan yaitu di Desa Muara Burnai dan Lubuk Seberuk yang mana diwilayah ini sudah melaksanakan penanaman padi sebanyak 2 kali mt dalam satu tahun. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan pada Bulan Mei sampai Juni 2015. Adapun Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei, Populasi dalam penelitian ini adalah petani padi yang ada pada lahan tadah hujan. Penarikan sampel yaitu dengan multistage purposive sampling, sampel yang dipilih sebanyak 40 petani sampel yang mempunyai lahan Tadah Hujan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

Tujuan pertama dari penelitian ini dijawab dengan menggunakan rumus:

Pd = Pn – BT

Pn = Y x Hy

BT = BTpT + BVT

Dimana:

Pd = Pendapatan usahatani padi atau usahatani non padi (Rp/lg/th) Pn = Penerimaan usahatani padi atau non padi (Rp/lg/th)

BT = Biaya total (Rp/lg/th)

Y = Jumlah produk yang dipasarkan (kg/lg/th) Hy = Harga jual (Rp/kg)

BTpT = Biaya tetap total (Rp/lg/th) BVT = Biaya variabel total (Rp/lg/th)

Dalam menghitung pendapatan total keluarga digunakan rumus: Ʃ PTK = PU + PNU

Dimana:

PTK = Pendapatan total keluarga (Rp/th)

PU = Pendapatan usahatani padi dan usahatani non padi (Rp/lg/th) PNU = Pendapatan Luar Usahatani (Rp/th)

Tujuan kedua dari penelitian ini adalah menganalisis pola pergiliran usahatani padi yang optimal dianalisis secara deskriptif digunakan kalender usahatani dan menganalisis optimalisasi diversifikasi usahatani padi tadah hujan dan tanaman palawija lainnya dengan menggunakan Linear Programming dengan menggunakan program software ABQM yang dirumuskan dengan model sebagai berikut:

Fungsi Tujuan :

n j

CjXj

Z

1 Fungsi Kendala :

n j

bi

aijXj

Z

1 Keterangan :

(4)

Z = Pendapatan (rupiah)

Xj=Kegiatan usahatani yang diusahakan

Cj=Pendapatan tiap kegiatan (koefisien fungsi tujuan) bi=Sumberdaya tersedia (kendala)

aij=Kebutuhan sumberdaya tiap kegiatan (koefisien kendala)

i= 1,2 ………...……m, j= 1,2 ………n

Tujuan Ketiga Perhitungan standar kebutuhan hidup layak akan disajikan dalam bentuk tabel dan dihitung berdasarkan beberapa komponen yang ada pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 17 Tahun 2012. Sedangkan untuk menghitung standar kebutuhan hidup layak keluarga didasarkan pada klasifikasi kriteria umur masing-masing anggota keluarga yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Klasifikasi kriteria umur anggota keluarga

No Kriteria Umur (th) Kebutuhan (%)

1 < 13 tahun 0,25

2 13 – 20 tahun 0,75

3 > 20 tahun 1

Sumber : Soediaoetama, 1987

Untuk mengetahui apakah pendapatan total kedua kriteria petani memenuhi standar kebutuhan hidup layak per keluarga per bulan yang menggambarkan tingkat kesejahteraan petani.

Untuk menjawab tujuan keempat yaitu digunakan analisis SWOT (Strengths,

Weaknesses, Opportunities, and Threats).

HASIL

A. Pendapatan Usahatani Padi dan usahatani lainnya

1. Pendapatan Usahatani Padi di Lahan Tadah Hujan Kecamatan Lempuing Jaya Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan yang diterima dengan biaya produksi yang dikeluarkan petani (Rp/ha). Penerimaan adalah nilai uang yang diterima petani dari jumlah produksi yang dikalikan dengan harga jual padi. Rincian rata-rata biaya produksi, penerimaan, total biaya pengeluaran produksi, dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata Biaya Produksi, Penerimaan, Total Biaya Pengeluaran Produksi, dan Pendapatan Petani Padi MT1 dan MT2

No. Komponen UT Padi MT1

(Rp/lg) UT Padi MT1 (Rp/ha) UT padi MT2 (Rp/lg) UT Padi MT2 (Rp/ha) 1. Produksi (Kg/lg) 1.865,90 2.332 1.330 1.662 2. Penerimaan 13.070.550,00 16.338.187 6.790.000 8.487.500 3. Biaya Produksi 4.848.008,93 6.060.010 4.625.000 5.781.125 4. Pendapatan 8.222.541,07 10.278.177 2.165.000 2.706.250

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pendapatan usahatani padi pada musim tanam 1 (mt1) lebih tinggi daripada musim tanam 2 (mt2), dikarenakan pada musim tanam 1 produksi padi tinggi apabila dibandingkan dengan produksi padi mt 2 (ulangan), begitu

(5)

juga dengan biaya produksi, tidak ada biaya sewa pompa pada mt 1 sehingga mengurangi biaya produksi dan memperbesar penerimaan.

2. Rata-rata biaya produksi, penerimaan dan pendapatan usahatani cabe petani Padi di lahan tadah hujan Kecamatan Lempuing Jaya

Tabel 2. Rata-rata Biaya Produksi, Penerimaan, dan Pendapatan Petani Usahatani cabe

No. Komponen UT cabe (Rp/kg/lg) UT cabe (Rp/Kg/ha)

1. Produksi (Kg/lg) 143,33 573,32 2. Penerimaan 6.402.500 25.610.000 3. Biaya Produksi 906.875 3.627.500 4. Pendapatan 5.624.500 22.498.000

Dari tabel diatas dapat dilihat produksi cabe sebesar 143,33 kilogram per luas garapan atau sebesar 573,32 kilogram per hektar. pendapatan dari usahatani cabe sebesar Rp. 5.624.500,- per luas garapan atau Rp.22.498.000,- perluas hektar, adapun rata-rata luas garapan usahatani bayam adalah seluas 0,25 hektar, tidak semua sampel yang ada pada penelitian ini mengusahakan tanaman cabe pada musim tanam 2 (mt2) atau mt 3, hanya 5 orang sampel yang mengusahakan tanaman cabe. Adapun produksi cabe yang dijual per kilogram dengan harga Rp. 15.000,- per kilogram sampai dengan Rp.20.000,- per kilogram

3. Rata- rata biaya Produksi Usahatani sayuran (kacang panjang) di Lahan Tadah Hujan

Tabel 3. Rata-rata Biaya Produksi, Penerimaan, Total Biaya Pengeluaran Produksi, dan Pendapatan Petani Usahatani kacang panjang

No. Komponen UT kacang panjang

(Rp/kg/lg)

UT kacang panjang (Rp/kg/ha)

1. Produksi (Kg/lg) 212,5 850 2. Penerimaan 850.000 3.400.000 3. Biaya Produksi 371.625 1.386.500 4. Pendapatan 478.375 1.913.500

Produksi usahatani kacang panjang yaitu sebesar 212,5 kilogram per luas garapan atau sebesar 850 kilogram per hektar, di tingkat petani kacang panjang dijual dengan harga Rp. 4.000,- per kilogram. Sehingga penerimaan yang diterima oleh petani yaitu sebesar Rp. 850.000 per luas garapan,- atau sebesar Rp. 3.400.000,- per hektar, dengan begitu pendapatan yang diterima oleh petani sebesar Rp. 478.375,- per luas garapan atau sebesar Rp. 1.913.500,- per hektar. Hasil usahatani kacang panjang di jual di pasar di Kecamatan Lempuing jaya. Adapun rata-rata luas garapan tanaman sayuran kacang panjang adalah 0,25 hektar.

(6)

4. Rata- rata biaya Produksi Usahatani sayuran (bayam ) di Lahan Tadah Hujan Tabel 4. Rata-rata Biaya Produksi, Penerimaan, Total Biaya Pengeluaran Produksi,

dan Pendapatan Petani Usahatani bayam

No. Komponen UT bayam (Rp/kg/lg) UT bayam (Rp/kg/ha)

1. Produksi (Kg/lg) 68,75 275 2. Penerimaan 1.183.333 4.733.332 3. Biaya Produksi 345.200 1.380.800 4. Pendapatan 838.124 3.352.496

Produksi usahatani bayam yaitu sebesar 68,75 kilogram per luas garapan atau sebesar 275 kilogram per hektar, di tingkat petani bayam dijual dengan harga Rp. 1.500,- per ikat. Sehingga penerimaan yang diterima oleh petani yaitu sebesar Rp. 1.183.333,- per luas garapan,- atau sebesar Rp. 4.733.332,- per hektar, dengan begitu pendapatan yang diterima oleh petani sebesar Rp. 838.124,- per luas garapan atau sebesar Rp. 3.352.496,- per hektar. Hasil usahatani bayam di jual di pasar kalangan dan dibawa ke Pasar Lempuing Jaya. Adapun rata-rata luas garapan tanaman sayuran bayam adalah 0,25 hektar.

5. Rata- rata biaya Produksi Usahatani kangkung di Lahan Tadah Hujan

Tabel 5. Rata-rata Biaya Produksi, Penerimaan, Total Biaya Pengeluaran Produksi, dan Pendapatan Petani Usahatani kangkung

No. Komponen UT Kangkung

(Rp/kg/lg) UT Kangkung (Rp/kg/ha) 1. Produksi (Kg/lg) 70,63 282,5 2. Penerimaan 890.688 3.562.752 3. Biaya Produksi 451.698 1.806.792 4. Pendapatan 438.990 1.755.960

Produksi usahatani kangkung yaitu sebesar 70,63 kilogram per luas garapan atau sebesar 282,5 kilogram per hektar, di tingkat petani kangkung dijual dengan harga Rp. 1.500,- per ikat. Sehingga penerimaan yang diterima oleh petani yaitu sebesar Rp. 890.688 per luas garapan,- atau sebesar Rp. 3.562.752,- per hektar, dengan begitu pendapatan yang diterima oleh petani sebesar Rp. 438.990,- per luas garapan atau sebesar Rp. 1.755.960,- per hektar. Hasil usahatani sayuran kangkung di jual di pasar Kecamatan Lempuing dan pasar-pasar kecil sekitarnya. Adapun rata-rata luas garapan tanaman sayuran kangkung adalah 0,25 hektar.

6. Rata- rata biaya Produksi Usahatani kedelai di Lahan Tadah Hujan

Tabel 6. Rata-rata Biaya Produksi, Penerimaan, Total Biaya Pengeluaran Produksi, dan Pendapatan Petani Usahatani kedelai

No. Komponen UT kedelai(Rp/kg/lg) UT Kedelai (Rp/kg/ha)

1. Produksi (Kg/lg) 350 1.400 2. Penerimaan 2.800.000 11.200.000 3. Biaya Produksi 290.625 1.162.500 4. Pendapatan 2.509.375 10.0375.000

(7)

Produksi usahatani kedelai yaitu sebesar 350 kilogram per luas garapan atau sebesar 1.400 kilogram per hektar, di tingkat petani kedelai dijual dengan harga Rp. 8.000,- per kilogram. Sehingga penerimaan yang diterima oleh petani yaitu sebesar Rp. 2.800.000,- per luas garapan,- atau sebesar Rp. 11.200.000,- per hektar, dengan begitu pendapatan yang diterima oleh petani sebesar Rp. 2.509.375,- per luas garapan atau sebesar Rp. 10.037.500,- per hektar. Hasil usahatani kedelai di jual di pasar Kecamatan Lempuing dan pasar-pasar kecil sekitarnya. Adapun rata-rata luas garapan tanaman kedelai adalah 0,25 hektar.

PEMBAHASAN

B. Pola pergilian usahatani yang Optimal dalam satu tahun pada Lahan Tadah Hujan

Secara umum pola pergiliran usahatani di wilayah penelitian yaitu di Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI ini ada 9 pola pergiliran tanaman dalam satu tahun, yaitu Pola 1 : Padi –Padi (X1), Pola 2 : Padi –kedelai (X2), Pola 3 : Padi – Kangkung-bayam (X3), Pola 4: Padi – kacang panjang- kangkung (X4) , Pola 5 : Padi- kacang panjang - bayam (X5), Pola 6 : Padi – Cabe- Bayam (X6), Pola 7 : Padi – cabe (X7) dan Pola 8: Padi –kangkung (X8) dan Pola (X9) yaitu : Padi – Kangkung- Cabe di wilayah ini sudah mulai dicoba selama dua tahun terakhir penanaman padi sudah 2 kali tanam dalam satu tahun, untuk lebih jelasnya mengenai pola pergiliran usahatani di lahan pasang surut ini dapat dilihat pada bagan berikut ini.

Tabel 7. Kalender Musim usahatani Tadah Hujan, Kecamatan Ogan Komering Ilir, 2014/2015

No. Komoditi Bulan

12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1. Padi 2. Padi 3. Kedelai 4. Kacang Panjang 5. Kangkung 6. Bayam 7. Cabe

Di lahan tadah hujan di Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten Ogan Komering Ilir, musim tanam padi 1 (mt1) ditanam pada Bulan Mei sampai dengan Bulan Agustus, musim tanam 2 (mt2) padi yaitu pada Bulan Desember sampai dengan Bulan Januari, untuk tanaman sayuran ditanam pada musim tanam 2 (mt 2) yaitu antara Bulan September sampai dengan bulan Januari. Di Kecamatan Lempuing Jaya sistem pengairan dengan sistem “Pompanisasi”, belum ada sistem pengairan berupa irigasi dan sebagainya, sehingga usahatani secara umum usahatani padi dapat dilakukan hanya 1 kali dalam satu tahun, hanya beberapa sampel petani yang sudah melakukan penanaman padi sebanyak 2 kali mt dalam satu tahun.

(8)

C. Hasil Analisis Linear Programming Pola Pergiliran Tanaman yang Optimal Hasil analisis optimalisasi faktor produksi menggunakan linear programming menunjukkan jumlah optimal produksi yang akan menghasilkan keuntungan maksimal, serta penambahan beberapa kendala sesuai batas maksimal yang diizinkan. Berikut ini penjelasan mengenai alokasi optimum penggunaan sumberdaya dari kombinasi pola pergiliran tanaman.

1. Alokasi Optimal Penggunaan Sumberdaya

Sumberdaya yang terbatas yang dibuat sebagai faktor pembatas (constraint) pada penelitian ini adalah sumber daya tenaga kerja, lahan dan modal. Sumberdaya tenaga kerja yang tersedia di wilayah penelitian terbatas yaitu sebesar 391 HOK, sumberdaya lahan yang tersedia pada masing-masing petani rata-rata sekitar 1 hektar dan modal yang tersedia untuk usahatani tersebut didapat dari usahatani-usahatani sebelumnya yaitu sebesar Rp. 36.161.200,-untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel.8. Kendala Sumberdaya di lahan Tadah Hujan Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 RHS Maximize 19.655.760 10.208.000 20.368.200 17.490.200 20.683.280 39.354.280 32.649.280 13.663.210 36.161.200 Constraint 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 <= 1 Constraint 2 260 260 391 391 391 391 260 260 260 <= 391 Constraint 3 11.080.870 6.698.312 11.911.070 12.122.400 11.270.480 17.470.050 9.163.312 9.149.396 12.776.900 <= 25.810.530

Dari hasil perhitungan optimasi faktor produksi dengan menggunakan Linear

Programming yang dilakukan menunjukkan bahwa Pola Pergiliran tanaman dengan

penggunaan faktor produksi yang optimal didapatkan bahwa Pola Pergiliran usahatani yang optimal adalah Pola 6 : yaitu Padi (1 kali musim tanam)- Cabe dan Bayam (1 kali musim tanam) , sedangkan pola pergiliran tanaman lainnya tidak direkomendasikan. Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan banyaknya pola pergiliran tanaman yang harus dilakukan.

Tabel 9. Pola Pergiliran yang di rekomendasikan pada lahan rawa tadah hujan di Kabupaten Ogan Komering Ilir

Variable Status Value

X1 NONBasic - X2 NONBasic - X3 NONBasic - X4 NONBasic - X5 NONBasic - X6 Basic 1 X7 NONBasic - X8 NONBasic - X9 NONBasic - slack 1 NONBasic - slack 2 Basic - slack 3 Basic 8.340.480 Optimal Value (Z) 39.354.280

(9)

Dari jumlah produksi yang direkomendasikan ini apabila dilakukan maka akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp.39. 354.280,- dengan kendala modal, luas lahan dan tenaga kerja, sedangkan Nilai reduced cost dari pola pergiliran tanaman lainnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel. 10. Nilai reduced cost dari pola pergiliran tanaman di Kabupaten Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan

Variable Value Reduced Cost

X1 - 19.698.520 X2 - 29.146.280 X3 - 18.986.080 X4 - 21.864.080 X5 - 18.671.000 X6 1 - X7 - 6.705.000 X8 - 25.691.070 X9 - 3.193.080

Constraint Dual Value Slack/Surplus

Constraint 1 39.354.280 -

Constraint 2 - - Constraint 3 - 8.340.480

Berdasarkan tabel diatas, hanya pola (X6) direkomendasikan Pola 6 : Padi – Cabe- Bayam (X6), Pola 1 : Padi –Padi (X1) apabila diusahakan akan mengurangi keuntungan sebesar Rp. 19.698.520,- Pola 2 : Padi –kedelai (X2) apabila diusahakan akan mengurangi keuntungan sebesar Rp. 29.146.280,- Pola 3 : Padi – Kangkung-bayam (X3) apabila diusahakan akan mengurangi keuntungan sebesar Rp. 18.986.080,- Pola 4: Padi – kacang panjang- kangkung (X4) apabila diusahakan akan mengurangi keuntungan sebesar Rp. 21.864.080,-. Pola 5 : Padi- kacang panjang - bayam (X5) apabila diusahakan akan mengurangi keuntungan sebesar Rp. 18.671.000,- Pola 7 : Padi – cabe (X7) apabila diusahakan akan mengurangi keuntungan sebesar Rp. 6.705.000,- dan Pola 8: Padi – kangkung (X8) apabila diusahakan akan mengurangi keuntungan sebesar Rp. 25.691.070,- dan Pola (X9) yaitu : Padi – Kangkung- Cabe, apabila diusahakan akan mengurangi keuntungan sebesar Rp. 3.193.080, sedangkan sumberdaya yang berlebih (slack) dalam optimalisasi produksi yaitu sumberdaya modal sebesar Rp. 8.340.480,-

D. Pendapatan rata-rata Riil dari pola Pergiliran Tanaman di Kabupaten Ogan Komering Ilir

Pendapatan rata-rata dari 9 pola pergiliran usahatani diatas dapat dilihat padi tabel berikut ini.

(10)

Tabel 11. Rata-rata pendapatan total petani dengan pola pergiliran tanaman yang berbeda

No. Komponen Jumlah (Rp/thn) Jumlah (Rp/bln)

1. Pola 1 (X1) : padi-padi 19.655.757 1.637.979

2. Pola 2 (X2) : Padi-kedelai 10.207.997 850.666

3. Pola 3 (X3) : padi –kangkung-bayam 20.368.197 1.697.349

4. Pola 4 (X4) : padi –kc.pjg- kangkung 17.490.205 1.457.517

5. Pola 5 (X5) : padi –kcg panjang – bayam

20.683.277 1.723.606

6. Pola 6 (X6) :padi –cabe- bayam 39.354.277 3.279.523

7. Pola 7 (X7) :padi –cabe 32.649.285 2.720.773

8. Pola 8 (X8) :padi - kangkung 13.663.205 1.138.600

9. Pola 9 (X9) :padi – kangkung - cabe 36.161.205 3.013.433

10. Standar KHL Per Keluarga : - 2.057.037

Dari Tabel 11. Apabila dilihat secara riil maka pola yang ke diatas dapat dilihat bahwa pola pergiliran tanaman yang kedua (X6) yang pendapatannya paling besar bila dibandingkan dengan pola-pola lainnya.

E. Pendapatan Total dan Tingkat Kesejahteraan (KHL) Petani di Lahan Tadah Hujan Kabupaten Ogan Komering Ilir

Pendapatan total keluarga petani adalah penggabungan pendapatan antara pendapatan usahatani padi 2 musim tanam, dan sayuran 1 musim tanam. dan pendapatan non usahatani lainnya. Adapun rincian pendapatan petani secara lengkap dapat dilihat pada tabel dibawah ini

Tabel 12. Rata-rata pendapatan total keluarga petani yang meningkatkan Indeks Pertanian (IP) di Lahan Tadah Hujan di Kabupaten Ogan Komering Ilir

No. Uraian Pendapatan

1. Pendapatan usahatani padi(mt1) (Rp/lg/th) 8.22.541

2. Pendapatan usahatani padi (mt2)(Rp/lg/th) 7.698.622

3. Pendapatan Kedelai (mt2)(Rp/lg/th) 2.509.375

4. Pendapatan usahatani kcg pjg (Rp/lg/th) (mt2) 478.375

5. Pendapatan kangkung (Rp/lg/th) 438.990

6. Pendapatan bayam (Rp/lg/th) 838.124

7. Pendpatan Cabe (Rp/lg/th) 5.624.500

8. Pendapatan Non Usahatani (Rp/th) 5.004.286

9. Pendapatan Total (Rp/th) 30.814.813

10. Pendapatan total (Rp/bln) 2.567.901

Dari tabel diatas rata-rata pendapatan total petani di lahan pasang surut yaitu sebesar Rp. 2.567.901,- per bulan, untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani maka di gunakan standar Kebutuhan hidup layak untuk pekerja lajang dalam sebulan yang dimuat dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja dan transmigrasi Republik Indonesia tentang Komponen dan pelaksanaan Tahapan pencapaian Kebutuhan Hidup Layak (tahun 2012), yang terdiri dari kebutuhan sandang, pangan, perumahan, pendidikan, kesehatan, transportasi, rekreasi dan tabungan yang berharga yang harga satuannya disesuaikan dengan harga yang belaku didaerah penelitian. Rincian lengkap mengenai Komponen Hidup layak untuk pekerja lajang dalam sebulan dapat dilihat pada lampiran. Setelah

(11)

diperoleh jumlah nilai kehidupan layak untuk pekerja lajang dalam sebulan di Kecamatan Lempuing jaya Kabupaten Ogan Komering Ilir yaitu sebesar Rp. 2.057.037,- maka selanjutnya nilai tersebut didasarkan pada klasifikasi kriteria umur masing-masing anggota keluarga untuk menghitung standar KHL per keluarga per bulan yang mana rinciannya secara lengkap dapat dilihat pada lampiran. Secara ringkas dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 13. Rata-rata standar KHL keluarga yang didasarkan klasifikasi kriteria umur anggota keluarga di Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten Ogan Komering Ilir

No. Kriteria Umur

(thn Kebutuhan (%) Jumlah Anggota Keluarga (Orang) KHL (Rp/bulan) 1. < 13 0,25 1 488.546 2 13 -20 0,75 1 1.234.222 3 >20 1 3 7.148.204 Jumlah 5 8.870.972

Dari Tabel 13. diatas dapat diketahui bahwa rata-rata jumlah anggota keluarga petani di Kecamatan Lempuing Jaya berjumlah 5 orang. Rata-rata standar KHL keluarga per bulan adalah sebesar Rp. 8.870.972,- maka untuk melihat pendapatan total petani memenuhi standar KHL dilakukan terlebih dahulu perbandingan antara rata-rata standar KHL per keluarga per bulan dengan rata-rata pendapatan total per bulan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 14. Perbandingan pendapatan dan Rata-rata standar KHL keluarga di Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten Ogan Komering Ilir

No. Uraian Perbandingan

1. Pendapatan Total (Rp/bln) 2.567.901

2. Standar KHL (Rp/keluarga/bln) 8.870.972

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa terdapat selisih perbedaan yang begitu besar antara pendapatan total dengan standar KHL. Pendapatan Total lebih kecil daripada standar KHL. Dari kondisi ini menunjukkan bahwa pendapatan petani di lahan Tadah Hujan Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten Ogan Komering Ilir belum memenuhi standar Kebutuhan Hidup Layak. Untuk mengetahui lebih jelas apakah pendapatan total tersebut memenuhi kriteria hidup layak dilakukan uji T sampel berpasangan (Paired

samples T Test) menggunakan program pengolahan data SPSS 16.0. hasil analisis uji T

(12)

Tabel 15. Hasil analisis Uji T (Paired sample T Test)

Paired Samples Test

Paired Differences t df Sig. (2-tailed) Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1 Pd.Tot - KHL -7.73844E6 2.56624E 6 4.05759E5 -8.55916E6 -6.91772E6 -19.072 39 .000

Dari tabel diatas dapat dilihat perbandingan pendapatan seluruh anggota sampel dengan standar kebutuhan hidup layak yaitu sebesar Rp. -7.738.446 nilai signifikan 0,000 yang lebih kecil dari α = 0,05 dan nilai t hitung yaitu -19,072 lebih besar dari t Tabel, sehingga dapat diambil kesimpulan untuk Terima Ho yang berarti pendapatan petani masih berada dibawah standar Kehidupan layak, sehingga dikategorikan dalam kondisi belum sejahtera, untuk lebih jelasnya mengenai uji T perbandingan pendapatan seluruh anggota sampel dengan standar Kebutuhan Hidup Layak dapat dilihat pada lampiran.

Berdasarkan hasil yang didapat dari perbandingan antara pendapatan total dengan standar KHL petani per bulan menggunakan Uji T sampel berpasangan hasil dari penggunaan SPSS 16.0. kesejahteraan petani di Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten Ogan Komering Ilir dalam kondisi belum sejahtera. Hal ini dikarenakan sistem pengairan di wilayah ini belum ada, sehingga petani umumnya melakukan penanaman padi 1 kali dalam satu tahun dan menanam tanaman sayuran dan Palawija pada musim tanam berikutnya.

F. Analisis SWOT Strategi Peningkatan Indeks Pertanaman di Lahan Tadah Hujan Adapun strategi didalam peningkatan Indeks Pertanaman adalah sebagai berikut : a. Strategi SO

1. Mengoptimalkan sumberdaya guna meningkatkan produksi 2. Mengefisienkan dukungan pemerintah

3. Menjalin jaringan pemasaran dengan para pedagang

4. Menggunakan kemajuan teknologi, komunikasi dan transportasi b. Strategi WO

1. Menjalin kemitraan

2. Membangun koperasi modal, bisa berupa uang maupun saprodi 3. Meminimalkan biaya tenaga kerja

4. Mengelola usahatani dengan baik c. Strategi ST

1. Mengolah hasil panen (Agroindustri) agar mempunyai nilai tambah 2. Menyimpan hasil panen padi ketika harga telah membaik

3. Memaksimalkan penggunaan pompa 4. Membuat sistem pengairan yang lebih baik d. Strategi WT

1. Memilih tanaman yang tepat 2. Penanaman secara serempak

3. Mecari solusi untuk masalah kekurangan air pada saat musim kemarau 4. Penyuluhan yang rutin

(13)

KESIMPULAN

Pendapatan total usahatani pada lahan Lahan Tadah Hujansebesar Rp. 3.079.627,- per luas garapan. Pola pergiliran usahatani di Pola pergiliran usahatani di lahan Tadah Hujan ada 9 pola pergiliran usahatani, pola pergiliran yang direkomendasikan yaitu pola (X6) Padi – Cabe- bayam dan Tingkat kesejahteraan (KHL) petani di lahan di lahan Tadah Hujan Kecamatan Lempuing Jaya OKI kondisi kesejahteraannya belum layak, pendapatan dibawah KHL.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Rektor Univeristas Sriwijaya, Ketua Unit Penelitian Universitas Sriwijaya dan anggota peneliti yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat melaksanakan penelitian. Ucapan terima kasih di sampaikan kepada Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi yang telah memberikan bantuan dana penelitian melalui penelitian Hibah Bersaing Tahun Anggaran 2015.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2013. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi di Indonesia. Jakarta.

Badan Pusat Statisk Sumatera Selatan. 2014. Produksi Tanaman Bahan Makanan di

Sumatera Selatan. BPS Provinsi Sumatera Selatan, Palembang.

Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, 2011, Air Manjunto. http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/inovasi-pola-tanam-pada-lahan-sawah-tadah-hujan-0 diakses pada 30 Desember 2015

Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, 2012. Komponen Kebutuhan Hidup Layak Untuk Pekerja Lajang dalam sebulan dengan 3000 K Kalori Per hari. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Jakarta.

Miftachuddin, A. 2014. Analisis Efisiensi Faktor-Faktor Produksi Usahatani Padi di

Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus. 2, 10:2252-6765.

Nasendi dan Anwar, 1985. Linear Programming. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor

Noor, Muhammad. 2001. Padi Lahan Marjinal. Jakarta

Purwono dan Purnamawati, H. 2013. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.

Tirta I. 2012. Pemerintah Masih Tetap Impor Beras. http://www.tempo.com. (Diakses tanggal 02 Oktober 2014).

Gambar

Tabel 1. Klasifikasi kriteria umur anggota keluarga
Tabel 2.  Rata-rata Biaya Produksi, Penerimaan, dan Pendapatan Petani Usahatani cabe  No
Tabel  5.                Rata-rata  Biaya  Produksi,  Penerimaan,  Total  Biaya  Pengeluaran  Produksi,  dan Pendapatan Petani Usahatani kangkung
Tabel  7.    Kalender  Musim  usahatani  Tadah  Hujan,  Kecamatan  Ogan  Komering  Ilir,  2014/2015
+5

Referensi

Dokumen terkait

dalam meningkatkan mutu pendidikan. 4) Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan. Indiaktor intern dalam arti bahwa prestasi belajar

KTSP SMP-K Permata Bunda Cimanggis Depok, Tahun Pelajaran 2012/2013 Memaha mi, menyadar i hak dan kewajiba nnya sebagai orang beriman kristiani di tengah masyarak at, yang

Assalamualaikum W.B.T dan salam sejahtera. Adalah menjadi hasrat dan keutamaan JPNS untuk merealisasikan visi dan misi JPNS sebagai pemacu dan peneraju pendidikan di

Adapun judul tesis ini &#34;Upaya Peningkatan Kemampuan Baca Tulis Hitung (Calistung) dengan Pendekatan Beyond Centre and Circle Time (BCCT) pada Siswa Kelas B

Anak-anak menjadi penonton segala acara, dari sisi yang positif anak-anak secara tidak sadar akan mencoba dan belajar untuk mengikuti apa yang dilihat pada film

Untuk diagnosa ketiga adalah intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik dengan outcome yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam

Disarankan agar perusahaan lebih memperhartikan kepuasan karyawan terhadap pemberian kompensasi finansial tidak langsung sehingga karyawan akan merasa aman karena

Dewasa ini banyak industri manufaktur mulai mengadopsi sistem Just In Time atau Kanban karena keberhasilan dari sistem tersebut dalam menciptakan