• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Nanosains dan nanoteknologi merupakan pengembangan ilmu sains yang melibatkan sintesis dan pengembangan berbagai material berukuran nano. Nanosains dan nanoteknologi adalah suatu teknik memanipulasi material pada skala atomik dan molekuler sehingga dihasilkan produk berskala nano, yaitu 1-100 nm (Solomon dkk., 2007; Udapudi dkk., 2012). Perubahan ukuran material dari skala makro menjadi nano mengakibatkan terjadinya perubahan sifat-sifat material. Perubahan sifat material berdampak terhadap kinerja piranti atau produk yang dihasilkan. Faktor penting dalam pengembangan nanosains dan nanoteknologi adalah sintesis suatu material agar dihasilkan produk-produk berskala nano (Dzenis, 2004).

Salah satu yang menjadi sorotan utama para akademisi dan industri adalah produksi massal elektroda konduktif transparan atau transparent conductive electrodes (TCEs) berbasis nanowires (NWs) dan nanorods (NRs) logam. TCEs diaplikasikan untuk berbagai piranti optoelektronika seperti penampil (display) dan aplikasi layar sentuh (touch screen). Jumlah piranti penampil dan layar sentuh berbasis NWs dan NRs terus mengalami peningkatan secara signifikan dengan meningkatnya produksi smartphone, laptop, komputer, dan televisi layar lebar. Pada tahun 2011, sebanyak 2 milyar panel sentuh telah diproduksi dan terus akan mengalami peningkatan sebesar 20% setiap tahun sampai tahun 2020 (Dinh dkk., 2013; Fried dkk., 2014). Tingginya permintaan pasar terhadap kebutuhan TCEs menjadikan peluang besar dalam produksi atau sintesis NWs dan NRs dalam skala besar.

Sintesis NWs dan NRs dilakukan dengan bantuan prekursor logam. Logam yang banyak digunakan dalam sintesis NWs dan NRs adalah perak (Ag), alumunium (Al), emas (Au), silikon (Si), dan tembaga (Cu). Logam Ag lebih

(2)

2

banyak diminati untuk disintesis menjadi NWs dan NRs dibandingkan dengan logam lain. Logam Ag dalam bentuk perak nitrat (AgNO3) mudah dibentuk

menjadi nanokristal atau nanostruktur, seperti Ag nanoparticles (AgNPs), Ag nanowires (AgNWs), dan Ag nanorods (AgNRs) (Tohmyoh dkk., 2010; Khan dkk., 2011; Nghia dkk., 2012; Preetha dkk., 2014). Logam Ag memiliki nilai konduktivitas listrik, konduktivitas termal, transparansi, dan stabilitas lebih tinggi dibandingkan dengan logam lain, seperti Cu, Al, dan Au,. Konduktivitas listrik dan termal dari logam perak mencapai 6,3×107 S.m−1 dan 429 Wm−1K−1 (Kim dkk., 2012; Mi dkk., 2014; Chen dkk., 2016). AgNWs yang dihasilkan diaplikasikan untuk pembuatan TCEs. Keunggulan dari TCEs berbasis AgNWs adalah transmitansi (T) tinggi mencapai 90% dan resistansi lembar (Rs) rendah di

bawah 20 Ω/sq. TCEs berbasis AgNWs juga dapat dikembangkan di atas substrat fleksibel dengan biaya produksi yang rendah (Dihn dkk., 2013; Ghosh dkk., 2013; Bang dkk., 2016; Wang dkk., 2016). Metode dalam sintesis AgNWs masih menjadi salah satu yang menjadi perhatian utama. Metode yang digunakan dalam sintesis AgNWs berpengaruh terhadap morfologi dan ukuran AgNWs yang dihasilkan.

Metode yang selama ini digunakan dalam sintesis AgNWs adalah: (1) hidrotermal atau solvotermal (Moreno dkk., 2012; Xu dkk., 2014; Melendrez dkk., 2015); (2) radiasi ultraviolet (Liu dkk., 2013; Xu dkk., 2013; Park dkk., 2015); dan (3) poliol (Johan dkk., 2014; Lee dkk., 2015; Lin dkk., 2015). Metode solvotermal merupakan metode sintesis AgNWs dalam suatu tabung tertutup (autoclave) dari menggunakan suhu dan tekanan yang tinggi. Metode ultrasonikasi adalah metode sintesis AgNWs dengan bantuan gelombang ultrasonik, yaitu gelombang akustik dengan frekuensi sekitar 30-40 kHz. Metode poliol merupakan metode paling sederhana dibandingkan dengan metode solvotermal dan radiasi ultraviolet dalam sintesis AgNWs. Metode poliol umumnya menggunakan penangas minyak (oil bath) sebagai media transfer panas saat sintesis berlangsung. Sintesis AgNWs dilakukan dengan bantuan pelarut dan reduktor, serta polimer capping agent. Pelarut yang telah berhasil digunakan dalam sintesis AgNWs adalah etilen glikol (Lim dkk., 2014; Cheng dkk., 2015;

(3)

3

Lin dkk., 2015), air (Zhang dkk., 2001; Becker dkk., 2010), 1,2-propendiol (Johan dkk., 2014), gliserol (Jia dkk., 2014; Shobin dkk., 2014), dan propilen glikol (Lee dkk., 2015). Etilen glikol (EG) lebih sering digunakan sebagai pelarut karena dapat terurai menjadi glikol aldehid dan air yang berperan dalam reduksi ion-ion Ag+ menjadi atom-atom Ag0. Etilen glikol memiliki titik lebur (melting point)

sekitar 197 oC yang mendekati titik lebur AgNO

3, yaitu 209 oC sehingga dapat

menghasilkan AgNWs dengan aspek rasio tinggi. Polimer capping agent yang digunakan dalam sintesis AgNWs adalah polivinil pirolidon (PVP). PVP memiliki titik lebur sekitar 150 sampai 180 oC. PVP berperan untuk mengendalikan pembentukan benih-benih (seeds) nanostruktur Ag, seperti polycrystals, single-crystal, single-twin particle (STP), dan multiple-twin particles (MTPs) (Yang dkk., 2015).

AgNWs yang disintesis menggunakan PVP (AgNWs-PVP) memiliki keunggulan dalam hal diameter. Diameter AgNWs-PVP diperoleh sampai 20-30 nm (Dihn dkk., 2013; Kang dkk., 2014; Kaili dkk.,, 2015). Panjang AgNWs-PVP rata-rata baru mencapai 20-40 µm (Cheng dkk., 2015; Lee dkk., 2015; Lin dkk., 2015). Diameter yang rendah berdampak pada rasio panjang/diameter (p/ϕ) yang tinggi. Rasio p/ϕ sangat berpengaruh terhadap transmitansi dan resistansi lembar ketika AgNWs diaplikasikan sebagai TCEs. Rasio p/ϕ yang tinggi (di atas 200) dapat meningkatkan transmitansi dan konduktivitas listrik (σdc) dari lapisan tipis

(thin film) berbasis AgNWs (Bergin dkk., 2012; Kumar dkk., 2013; Lee dkk., 2015). Fokus penelitian AgNWs adalah membuat TCEs yang memiliki transmitansi tinggi (T > 90%) dan resistansi lembar rendah (Rs < 50 Ω/sq) dengan

mengontrol diameter dan panjang AgNWs serta teknik deposisi. Pengontrolan diameter dan panjang AgNWs dapat dilakukan dengan mengendalikan parameter-parameter dalam sintesis AgNWs. Parameter-parameter-parameter tersebut mencakup suhu

oil bath, rasio molar [PVP:AgNO3],stirrer, kecepatan injeksi larutan AgNO3, dan

penambahan garam.

Permasalahan pada AgNWs-PVP adalah dalam hal panjang AgNWs. Kondisi ini menyebabkan sulitnya memperoleh TCEs dengan transmitansi di atas 90% dan resistansi lembar di bawah 50 Ω/sq. Transmitansi rata-rata dari TCEs

(4)

4

berbasis AgNWs-PVP baru mencapai 85% sehingga sulit untuk diaplikasikan menjadi penampil dan layar sentuh (Bergin dkk., 2012; Kumar dkk., 2013; Margulis dkk., 2013). Transmitansi dan resistansi lembar merupakan syarat penting ketika akan dibuat lapisan tipis (thin film) untuk aplikasi TCEs (Yang dkk., 2011; Dinh dkk., 2013; Selzer dkk., 2014; Cann dkk., 2016). Para peneliti masih terus mengoptimasi berbagai parameter dalam sintesis AgNWs-PVP agar diperoleh AgNWs yang panjang (di atas 100 µm) (He dan Ye, 2015). Permasalahan lain dari AgNWs-PVP adalah mudah rusak dan patah ketika disonikasi. Sonikasi dilakukan sebagai tahap awal dalam preparasi larutan AgNWs sebelum dideposisi di atas substrat. Lemahnya ikatan antara atom Ag dan O (Ag-O) oleh PVP menyebabkan AgNWs sangat rentan patah dan rusak sehingga menurunkan rasio p/ϕ dari AgNWs. Kondisi ini disebabkan karena masih rendahnya kekuatan mekanik dari PVP, yaitu sekitar 0,63 - 0,82 MPa (Baccaro dkk., 1995; Zhang dkk., 2011).

Penggunaan PVP sebagai satu-satunya polimer capping agent dalam sintesis AgNWs juga dapat menjadi kendala. Permintaan pasar yang tinggi terhadap kebutuhan TCEs berbasis AgNWs menyebabkan tingginya harga koloid AgNWs. Harga koloid AgNWs dipengaruhi oleh ukuran (diameter dan panjang) dari AgNWs yang dihasilkan. Harga koloid AgNWs dengan diameter sekitar 120-150 nm dan panjang sekitar 20-50 µm berkisar Rp. 120 juta/liter dan Rp. 160 juta/liter untuk diameter 60 nm dan panjang 10 µm. Harga AgNWs ini dipengaruhi oleh mahalnya bahan-bahan dalam pembuatan AgNWs seperti PVP sebagai salah satu bahan utama (Lee dkk., 2010; Madaria dkk., 2010; Zeng dkk., 2010; Gaynor dkk., 2011; Yu dkk., 2011; Sun dkk., 2011; Garnett dkk., 2012; Zhu dkk., 2011; Feliciano dan Martínez-Iñesta, 2012). Ketergantungan kepada PVP dalam sintesis AgNWs dipandang perlu untuk dihindari. Salah satu yang menjadi pilihan adalah penggunaan polimer capping agent selain PVP. Banyaknya pilihan polimer capping agent berdampak pada peningkatan produksi AgNWs dan penurunan biaya untuk sintesis AgNWs.

Dari pemaparan di atas, maka dipandang perlu untuk melakukan sintesis AgNWs dengan menggunakan jenis polimer capping agent selain PVP. Pada

(5)

5

penelitian ini digunakan polimer capping agent dari polivinil alkohol (PVA). Alasan utama penggunaan PVA karena memiliki karakteristik yang mirip dengan PVP. PVA merupakan polimer yang tersusun dari monomer N-vinil alkohol (CH2-CH-OH) dan PVP tersusun monomer N-vinil pirolidon dengan rumus

molekul C6H9-NO. Kedua polimer ini dapat larut dalam pelarut polar protic, yaitu

pelarut polar yang melepaskan proton, seperti air (H-O-H), etanol (CH3-CH2-OH),

methanol (CH3-OH), asam format (CH3-OH), dan asam asetat (CH3-C(=O)OH).

PVP dan PVA juga dapat larut dalam pelarut polar aprotic, yaitu pelarut polar yang tidak melepaskan proton. PVA memiliki banyak keunggulan dibandingkan PVP. PVA bersifat tidak beracun (non-toxicity), biokompatibel, memiliki kekuatan mekanik tinggi (40-60 MPa), permeabilitas membran rendah, dan kemampuan membentuk film yang baik (Ogur, 2005; Rajeswari dkk., 2013).

Kekuatan mekanik tinggi dari PVA diharapkan dapat menghasilkan AgNWs yang lebih panjang. AgNWs yang disentesis dengan PVA (AgNWs-PVA) tidak mudah patah ketika sentrifugasi dan sonikasi. AgNWs-PVA juga memiliki daya tahan lebih kuat dibandingkan dengan AgNWs-PVP selama proses sintesis dan penyimpanan. AgNWs-PVA juga lebih murah ditinjau dari faktor biaya (cost) (Reddy dkk., 2006; Guirguis dan Moselhey, 2012). Kelebihan yang dimiliki PVA menyebabkan kebutuhan AgNWs dapat terpenuhi dengan harga yang relatif lebih murah. Keberhasilan AgNWs yang disintesis dengan PVA juga akan meningkatkan jumlah produksi TCEs sehingga kebutuhan pasar dapat terpenuhi.

Pada penelitian ini dilakukan optimasi dalam sintesis AgNWs dan pembuatan lapisan tipis berbasis AgNWs menggunakan dua buah polimer capping agent (PVA dan PVP). Sintesis AgNWs dilakukan dengan metode poliol. Pembuatan lapisan tipis dilakukan dengan metode meyer-rod coating di atas substrat polycarbonate (PC) berukuran 2,54×2,54 cm2. Metode meyer-rod coating

digunakan karena lebih mudah, murah, dan mampu menghasilkan lapisan dengan ukuran yang relatif luas serta homogen. Bahan-bahan yang digunakan untuk sintesis AgNWs adalah etilen glikol sebagai pelarut, AgNO3 sebagai prekursor

logam, PVA dan PVP sebagai capping agent, dan garam dari NaCl, tembaga (II) klorida (CuCl2), dan besi (III) klorida (FeCl3) sebagai pengontrol ukuran.

(6)

6

Penambahan in klorida dalam bentuk NaCl, CuCl2, FeCl3 diharapkan dapat

mengendalikan pembentukan benih kristal tunggal dan MTPs Ag dan mencegah terjadinya pengikisan oleh asam nitrat. Optimasi parameter-parameter dalam sintesis AgNWs mencakup suhu oil bath, rasio molar [PVA:AgNO3], rasio molar

[PVP:AgNO3], rasio molar [PVA:PVP], stirrer, kecepatan injeksi larutan AgNO3,

dan jumlah ion klorida. Optimasi parameter-parameter fisis dilakukan untuk mengetahui kondisi optimum dalam sintesis AgNWs. Pembuatan lapisan tipis AgNWs dilakukan dengan memvariasi jumlah lapisan [AgNWs]N. Jumlah lapisan

AgNWs berdampak pada transmitansi dan resistansi lembar dari lapisan tipis. Uji parameter fisis AgNWs dan lapisan tipis AgNWs mencakup uji sifat optik, sifat listrik, morfologi, ukuran, dan struktur kristal. Uji sifat optik dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-vis dan Fourier Transform Infrared (FTIR). Uji sifat listrik dilakukan menggunakan current-voltage (I-V) meter dual probe dan four-point probe. Uji morofologi dan ukuran dilakukan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dan Transmission Electron Microscopy (TEM). Uji struktur dan pola difraksi dilakukan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) dan Selected Area Electron Diffraction (SAED).

I.2 Rumusan Penelitian

Tingginya permintaan pasar terhadap TCEs berbasis AgNWs menyebabkan meningkatnya produksi AgNWs. Peningkatan produksi AgNWs diimbangi dengan naiknya permintaan terhadap bahan-bahan utama untuk sintesis AgNWs. Salah satu bahan utama untuk sintesis AgNWs adalah polimer capping agent seperti PVP. Penggunaan PVP sebagai satu-satunya capping agent dapat menimbulkan masalah mahalnya harga polimer tersebut. Untuk itu perlu dilakukan sintesis AgNWs dengan polimer lain yang memiliki sifat yang sama dengan PVP seperti PVA. Beberapa hal lain yang dianggap penting dalam sintesis AgNWs adalah penentuan parameter-parameter fisis. Parameter-parameter tersebut mencakup suhu oil bath, rasio molar [capping agent:AgNO3], rasio molar

(7)

7

Dalam pembuatan lapisan tipis, perhatian difokuskan pada struktur AgNWs yang digunakan, morfologi, dan ketebalan dari lapisan tipis agar diperoleh konduktivitas listrik dan transmitansi yang tinggi. Kajian dilakukan untuk menentukan hubungan antara morfologi, dan ketebalan dengan konduktivitas optik, resistansi lembar, dan transmitansi dari lapisan tipis. Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang dikaji pada penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana membuat AgNWs dengan rasio p/ϕ tinggi (di atas 200) menggunakan polimer PVP dan PVA sebagai capping agent dengan metode poliol?.

2. Bagaimana mengoptimasi parameter-parameter fisis dalam sintesis AgNWs, seperti suhu oil bath, rasio molar [capping agent:AgNO3], rasio molar

[PVA:PVP], stirrer, dan kecepatan injeksi?.

3. Bagaimana pengaruh penambahan ion klorida terhadap diameter dan panjang AgNWs?.

4. Bagaimana pengaruh jumlah lapisan [AgNWs]N terhadap konduktivitas optik

(σop), resistansi lembar (Rs), dan transmitansi (T) lapisan tipis dengan metode

meyer-rod coating?.

I.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mendapatkan parameter-parameter fisis dalam sintesis AgNWs. Adapun tujuan penelitian secara terperinci adalah sebagai berikut:

1. Mendapatkan AgNWs berdiameter dengan rasio p/ϕ di atas 200 menggunakan polimer PVP dan PVA sebagai capping agent dengan metode poliol.

2. Mendapatkan parameter-parameter fisis yang optimum dalam sintesis AgNWs, meliputi suhu oil bath, rasio molar [capping agent:AgNO3], rasio

(8)

8

3. Menentukan pengaruh penambahan ion klorida terhadap diameter dan panjang AgNWs.

4. Mengkaji pengaruh jumlah lapisan [AgNWs]N terhadap konduktivitas optik

resistansi lembar, dan transmitansi lapisan tipis dengan metode meyer-rod coating.

I.4 Batasan Penelitian

Berbagai metode sintesis AgNWs telah banyak dilaporkan pada penelitian sebelumnya. Dari kajian yang telah dilakukan, maka batasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Sintesis AgNWs dilakukan dengan metode poliol pada suhu oil bath 60-180

oC.

2. Menggunakan dua jenis polimer capping agent, yaitu PVP (BM = 55000 g/mol, 360000 g/mol, dan 1300000 g/mol) dan PVA (BM = 31000-50000 g/mol).

3. Menggunakan logam perak yang berasal dari perak nitrat (AgNO3).

4. Menggunakan ion klorida yang berasal dari NaCl, CuCl2, FeCl3 untuk

mengontrol ukuran AgNWs.

5. Menggunakan substrat PC tranparan untuk pembuatan lapisan tipis AgNWs dengan metode meyer-rod coating.

I.5 Unsur Kebaharuan

Dari berbagai pemaparan di atas, unsur kebaharuan dalam penelitian ini adalah: (1) penggunaan dua jenis polimer capping agent (PVP dan PVA) dalam sintesis AgNWs, (2) penggunakaan suhu rendah dalam sintesis AgNWs dengan metode poliol, (3) penggunaan tiga jenis ion klorida sebagai prekursor, yaitu NaCl, CuCl2, FeCl3, (4) pembuatan lapisan tipis dilakukan dengan

(9)

9

I.6 Hipotesis

Penggunaan PVA dalam sintesis AgNWs dengan metode poliol belum ada yang mengembangkan. Sifat fisis yang mirip antara PVA dan PVP memberikan pedoman bahwa sintesis AgNWs menggunakan PVA dapat dilakukan. Kendala utama yang dihadapi dalam sintesis AgNWs-PVA adalah sulitnya mengontrol pertumbuhan benih kristal tunggal dan MTPs Ag. PVA memiliki ion H+ (proton) yang akan berikatan dengan ion NO3- dari sisa hasil reduksi AgNO3. Apabila ion

H+ berikatan dengan ion NO3-, maka terbentuk asam nitrat (HNO3). Asam nitrat

bersifat sebagai racun (poison) yang dapat merusak dan mengikis benih-benih nanokristal Ag.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, dilakukan penambahan garam yang memiliki logam alkali dan ion klorida. Pembambahan garam dalam bentuk NaCl, CuCl2, FeCl3 diharapkan dapat mengendalikan pembentukan benih kristal tunggal

dan MTPs Ag dan mencegah terjadinya pengikisan oleh asam nitrat. Ion klorida juga berfungsi sebagai reduktor AgNO3 menjadi [Ag+]/[Cl-] dan membentuk

nanopartikel perak klorida (AgCl). Penambahan ion klorida dapat memperlambat terjadinya reduksi ion Ag+ menjadi atom Ag0. Golongan alkali dari Na, Cu, dan Fe berberan untuk mengambil ikatan NO3- dari sisa reduksi AgNO3. Pengurangan

jumlah NO3- bebas mampu meminimialisir jumlah asam nitrat selama reaksi

berlangsung. Benih-benih MTPs Ag dapat tumbuh menjadi AgNWs sepanjang arah bidang (100) dan (111) melalui proses capping oleh PVA maupun PVP ketika jumlah asam nitrat diminimalisasi.

(10)

10

I.7 Hasil Penelitian AgNWs Menggunakan Capping Agent PVP

No Pustaka Pereduksi dan

Pembungkus

Pengontrol ukuran

Metode Karakterisasi Hasil

1 Zhang dkk., 2008

Etilen glikol dan PVP (BM = 55000 g/mol) -- Poliol UV-Vis, XRD, SEM. TEM AgNWs (d = 100-300 nm dan l = 20 µm) 2 Tang dkk., 2009

Etilen glikol dan PVP (BM 44000 g/mol)

NaCl Poliol UV-Vis, XRD,

TEM

AgNWs (d = 40 nm dan l = 5-30 µm) 3 Luu dkk., 2011 Etilen glikol dan PVP (BM

= 58.000 dan 130000 g/mol)

NaCl Solvotermal UV-Vis, XRD, AFM, TEM

AgNWs (d = 50-200 nm dan l = 5-30 µm) 4 Moreno dkk.,

2012

Etilen glikol dan PVP (BM 55000 g/mol)

NaCl Solvotermal UV-Vis, XRD, SEM

AgNWs (d = 117-200 nm dan l = 10 µm) 5 Mao dkk.,

2012

Etilen glikol dan PVP (BM = 44000-54000 g/mol)

-- Poliol UV-Vis, FTIR,

XRD, Raman, TGA-DSC, SEM

AgNWs (d = 100 nm dan l = 6-10 µm) 6 Kim dkk., 2012 Etilen glikol dan PVP (BM

55000 g/mol)

KBr dan NaCl

Poliol UV-Vis, SEM AgNWs (d = 62,5 nm dan l = 13,5 µm) 7 Lin dkk.,

(2014)

Etilen glikol dan PVP (BM = 44000 dan 360000 g/mol) -- Poliol UV-Vis, XRD, SEM AgNWs (d = 170 nm dan l = 20 µm) 8 Kumar dkk., 2013

Etilen glikol dan PVP (BM 360000 g/mol)

KBr Poliol UV-Vis, four point probe, SEM

AgNWs (d = 40 nm dan l = 20 µm) 9 Araki dkk.,

2013

Etilen glikol dan PVP (BM 360000 g/mol)

FeCl3 Poliol UV-Vis, SEM AgNWs (d = 70 nm

(11)

11

I.8 Pengaruh Diameter dan Panjang AgNWs Terhadap Transmitansi dan Resistansi Lembar Lapisan Tipis AgNWs

No Pustaka Metode Deposisi

Ukuran AgNWs Parameter Optik dan Listrik

Diameter (nm) Panjang (µm) Transmitansi (%) Resistansi lembar (Ω/sq)

1 Dihn dkk., 2013 Spin coating 20-40 15-25 83-91 6,5-30

2 Gosh dkk., 2013 Spin coating 100 20-40 85 8-10

3 Sache dkk., 2013 Dip coating 60-90 7-15 85 15

4 Kang dkk., 2014 Brush painting 25-30 10-20 81,8 38,7

5 Selzer dkk., 2014 Spray coating 90 25 80,4 10,8

6 Lim dkk., 2014 Brush painting 84 21 91,3 130,8

7 Cheng dkk., 2015 Spin Coating 60-100 20-30 87-90 19,7-23,2

8 Lee dkk., 2015a Meyer-rod coating 30-50 20-40 90 110

9 Lee dkk., 2015b Spin coating 40-80 30 86,7 18

10 Park dlkk., 2015 Doctor-blade coating 50 22 95 32

11 Wang dkk., 2015 Dip coating 90 40 90 15,6

12 Bang dkk., 2016 Meyer-rod coating 40 20 90 24

13 Cann dkk., 2016 Spray coating 27-54 9,4-18 90 110

14 Chen dkk., 2016 Spin coating 40 35 80-92 9-40

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk menyebarluaskan pengetahuan dan ketrampilan kepada para penjual umbi- umbian di Pasar Telo Karangkajen

Penyerapan tenaga kerja merupakan jumlah tertentu dari tenaga kerja yang digunakan dalam suatu unit usaha tertentu atau dengan kata lain penyerapan tenaga kerja

Setelah itu teller akan memanggil dan nasabah akan memberikan sejumlah uang dan buku tabungan untuk meminta pencetakan transaksi setor tunai ke bank..

[r]

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK &amp; MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

Analisis stilistika pada ayat tersebut adalah Allah memberikan perintah kepada manusia untuk tetap menjaga dirinya dari orang-orang yang akan mencelakainya dengan jalan

Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang pemenuhannya setelah kebutuhan primer terpenuhi, namun tetap harus dipenuhi, agar kehidupan manusia berjalan dengan baik. Contoh: pariwisata

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk