• Tidak ada hasil yang ditemukan

ELIZABETH KARLINDA P H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ELIZABETH KARLINDA P H"

Copied!
189
0
0

Teks penuh

(1)

KETERKAITAN ANTARA TATA KELOLA EKONOMI

DAERAH DENGAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL

BRUTO PER KAPITA DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

KABUPATEN/KOTA PROPINSI JAWA TENGAH

ELIZABETH KARLINDA P

H14080025

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

ELIZABETH KARLINDA P. Keterkaitan Tata Kelola Ekonomi Daerah dengan Produk Domestik Regional Bruto per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah. Dibimbing oleh BAMBANG JUANDA.

Prestasi ekonomi suatu negara dapat dinilai dengan berbagai ukuran agregat. Secara umum, prestasi tersebut diukur melalui sebuah besaran dengan istilah pendapatan nasional. Menurut Todaro (2003), produk nasional bruto per kapita merupakan konsep yang paling sering dipakai sebagai tolok ukur tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk di suatu negara. Ketidakmerataan distribusi juga terjadi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Pulau Jawa. Menurut BPS, PDRB per kapita Jawa Tengah merupakan yang terendah dari lima Provinsi lain di Pulau Jawa. Tidak hanya itu, distribusi PDRB per kapita tahun 2010 pun tidak merata di Jawa Tengah. Lima kabupaten dengan PDRB per kapita tertinggi memiliki nilai di atas Rp 17 juta. Sedangkan lima daerah terendah memiliki PDRB per kapita hanya Rp 5 juta. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak pemerintah daerah di kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah masih belum optimal dalam mengelola potensi daerahnya untuk meningkatkan perekonomian. Oleh karena itu dibutuhkan tata kelola ekonomi daerah yang baik dari pemerintah daerah. Baik buruknya tata kelola ekonomi daerah tergantung peran pemerintah daerah dalam mengelola pemerintahan di kabupaten/kota masing-masing. Di era otonomi daerah ini, pemerintah daerah sudah seharusnya berlomba dalam meningkatkan perekonomian masing-masing.

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kondisi tata kelola ekonomi daerah kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah, (2) menganalisis keterkaitan tata kelola ekonomi daerah dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah, (3) menganalisis implementasi kebijakan yang dapat diambil oleh pemerintah daerah dalam meningkatkan PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah.

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder tersebut adalah data tahun 2007 tata kelola ekonomi daerah kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah yang diperoleh dari Komite Pemantauan Penyelenggaraan Otonomi Daerah, data Anggaran Pendapatan Belanja Daerah diperoleh dari Kementerian Keuangan, serta Produk Domestik Regional Bruto per kapita, pertumbuhan ekonomi dan Indeks Pembangunan Manusia diperoleh dari Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deksriptif, analisis korelasi dan analisis regresi OLS. Analisis korelasi digunakan untuk menganalisis hubungan variabel tata kelola ekonomi daerah dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi sedangkan analisis regresi OLS digunakan untuk menganalisis pengaruh tata kelola ekonomi daerah, APBD serta IPM terhadap PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan analisis korelasi, variabel tata kelola ekonomi daerah yang memiliki hubungan signifikan dengan PDRB per kapita yang sejalan dengan teori adalah lama kepengurusan sertifikat tanah, persentase perusahaan yang memperoleh TDP, persepsi pemda selalu menindaklanjuti langkah-langkah

(3)

infrastruktur jalan. Sementara variabel tata kelola ekonomi daerah yang berhubungan signifikan namun tidak sejalan adalah persepsi frekuensi penggusuran, persepsi frekuensi konflik, persepsi izin usaha bebas KKN, persepsi kualitas penanganan oleh polisi dan persepsi tingkat hambatan pajak terhadap kinerja perusahaan. Variabel yang berhubungan signifikan dengan pertumbuhan ekonomi adalah lama kepengurusan sertifikat tanah, persentase perusahaan yang memiliki TDP, persentase perusahaan yang mengetahui keberadaan forum komunikasi, persepsi pemda melakukan konsultasi publik sebelum membuat kebijakan yang terkait dunia usaha, persepsi pemda mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah yang dihadapi dunia usaha serta kualitas infrastruktur jalan.

Berdasarkan analisis regresi OLS, variabel yang berpengaruh signifikan terhadap PDRB per kapita adalah IPM, belanja modal dan belanja pendidikan pemerintah, lama kepengurusan sertifikat tanah serta dummy persepsi mengenai pemda selalu menindaklanjuti langkah-langkah masalah yang telah ditentukan Kepala Daerah. IPM, belanja modal, belanja pendidikan dan dummy pemda selalu menindaklanjuti langkah-langkah masalah yang telah ditentukan Kepala Daerah berpengaruh positif terhadap PDRB per kapita. Variabel lama pengurusan sertifikat tanah berpengaruh negatif terhadap PDRB per kapita. Hasil regresi OLS juga menunjukan bahwa variabel belanja kesehatan, variabel persentase perusahaan yang memiliki TDP dan dummy kualitas infratruktur jalan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Variabel IPM dan belanja pendidikan memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, implikasi kebijakan yang dapat diambil adalah adalah perbaikan dan peningkatan kualitas di bidang perizinan sertifikat tanah maupun sertifikat usaha, peningkatan koordinasi antara kepala daerah dengan instansi pemda dalam penanganan masalah di dunia usaha, peningkatan dukungan pemda melalui penyediaan fasilitas di dunia usaha, efektifitas forum komunikasi untuk membicarakan masalah yang terkait dunia usaha, penurunan biaya pungutan dan retribusi agar tidak memberatkan para pelaku usaha, serta peningkatan kualitas infratruktur dan mempercepat lama perbaikan infrastruktur, terutama infratruktur jalan. Di samping itu, perlu adanya sosialisasi mengenai pemindahan padagang kaki lima agar para PKL mau untuk dilokalisasi ke tempat yang lebih baik.

Kata kunci: tata kelola ekonomi daerah, PDRB per kapita, uji korelasi Spearman, uji korelasi Pearson, regresi OLS

(4)

DAERAH DENGAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL

BRUTO PER KAPITA DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

KABUPATEN/KOTA PROVINSI JAWA TENGAH

Oleh

ELIZABETH KARLINDA P H14080025

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(5)

Produk Domestik Regional Bruto per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah

Nama : Elizabeth Karlinda P NRP : H14080025

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Prof.Dr.Ir. Bambang Juanda,MS NIP. 19640101 198803 1 061

Mengetahui,

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi

Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim,M.Ec NIP. 19641022 198903 1 003

(6)

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI SAYA INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, Juli 2012

Elizabeth Karlinda P NIM H14080025

(7)

Penulis lahir pada tanggal 26 Juli 1991 di Tegal, Jawa Tengah. Penulis merupakan anak dari pasangan Alm. Supriyadi dan Heni Patriasih. Penulis menamatkan sekolah dasar di SDN Mangkukusuman 7 Tegal pada tahun 2002, kemudian melanjutkan ke SLTP Negeri 2 Tegal dan lulus pada tahun 2005. Pada tahun yang sama, penulis diterima di SMA Negeri 1 Tegal dan lulus SMA pada tahu 2008. Penulis masuk melalui jalus Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.

Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif mengikuti beberapa organisasi. Pada tahun 2008, penulis menjadi sekretaris asrama putri A3. Pada tahun 2010, penulis aktif menjadi kepala divisi perekonomian Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Pada tahun 2011, penulis aktif menjadi staf Kemeterian Pertanian Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Institut Pertanian Bogor.

(8)

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Keterkaitan Antara

Tata Kelola Ekonomi Daerah dengan Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah.

Tata kelola ekonomi daerah merupakan faktor penting yang dapat dilakukan untuk mendorong pembangunan daerah. Oleh karena itu, penulis tertarik melakukan penelitian dengan topik ini, khususnya di Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih serta rasa hormat kepada :

1. Prof.Dr.Ir.Bambang Juanda,MS selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan sehingga pembuatan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

2. Dr.Wiwiek Rindayati selaku dosen penguji utama yang telah menguji hasil skripsi ini. Semua saran dan kritikan beliau merupakan hal yang sangat berharga bagi penyempurnaan skripsi ini.

3. Salahuddin el Ayyubi, MA selaku dosen penguji dari komisi pendidikan yang telah memberi masukan mengenai tata cara penulisan skripsi yang baik.

4. Orangtua penulis, Ibu Heni Patriasih dan Alm. Bapak Supriyadi atas semua pengorbanan, doa dan dukungannya.

5. Para dosen, staf dan Seluruh civitas akademika Departemen Ilmu Ekonomi yang telah memberikan ilmu dan bantuan kepada penulis selama menjalani studi di Departemen Ilmu Ekonomi.

6. Bayu Tri Laksana, Meita Puspitasari, Mbak Santi, Mas Sutarsono, Pak Adhitya Wardhana dan Bu Andi Tombolotutu atas semua dukungan saran dan diskusi mengenai penelitian yang terkait tata kelola ekonomi daerah.

7. Semua mahasiswa IE 45, terima kasih atas bantuan, dukungan serta kebersamaan selama menjalani studi di Departemen Ilmu Ekonomi.

(9)

Putu, Mbak Elva dan Mbak Nisa atas dukungan, saran dan doa atas perbaikan skripsi ini.

9. Selain itu, penulis juga berterimakasih kepada seluruh pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis berharap semoga informasi pada skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca serta dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya.

Bogor, Juli 2012

Elizabeth Karlinda P H14080025

(10)

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Permasalahan ... 7 1.3. Tujuan Penelitian ... 10 1.4. Manfaat Penelitian ... 10 1.5. Ruang Lingkup... 11

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Pembangunan Ekonomi ... 13

2.1.2. Teori Pertumbuhan ekonomi ... 15

2.1.3. Indeks Pembangunan Manusia ... 16

2.1.4. Pengeluaran Pemerintah ... 18

2.1.5. Otonomi Daerah ... 19

2.1.6. Tata Kelola Pemerintahan 2.1.6.1. Pengertian Good Governance ... 22

2.1.6.2. Prinsip Good Governance ... 24

2.1.6.3. Tata Kelola Ekonomi Daerah ... 25

2.1.7. Hubungan PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi dengan IPM ... 28

2.1.8. Hubungan Pendapatan per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi dengan Belanja Pemerintah ... 29

(11)

2.2. Penelitian Terdahulu ... 31

2.3. Kerangka Pemikiran... 35

2.4. Hipotesis Penelitian ... 38

III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data ... 39

3.2. Definisi Operasional ... 40

3.3. Metode Analisis Data 3.3.1. Analisis Deskriptif ... 41

3.3.2. Analisis Korelasi ... 41

3.3.3. Analisis Regresi Berganda ... 44

3.4. Model Analisis Berganda ... 45

3.5. Uji Statistik Model ... 47

3.6. Uji Ekonometrika ... 51

IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Letak Geografis ... 54

4.2. Kondisi Demografi Provinsi Jawa Tengah ... 55

4.3. Kondisi Pembangunan Manusia ... 56

4.4. Kondisi Sosial Budaya ... 58

4.5. Kondisi Perekonomian Provinsi Jawa Tengah ... 59

4.6. Ketenagakerjaan ... 62

4.7. Tata Kelola Ekonomi Daerah ... 62

4.7.1. Gambaran Umum Tata Kelola Ekonomi Daerah ... 62

4.7.2. Instrumen Penelitian ... 64

(12)

4.7.6 Interaksi Pemerintah Daerah (Pemda) dengan Pelaku

Usaha ... 73

4.7.7. Program Pengembangan Usaha Swasta (PPUS) ... 73

4.7.8. Kapasitas dan Integritas Kepala Daerah ... 76

4.7.9. Biaya Transaksi ... 77

4.7.10. Infrastruktur Daerah ... 79

4.7.11. Keamanan dan Penyelesaian Konflik ... 80

4.7.12. Kualitas Peraturan Daerah (Perda) ... 81

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Tata Kelola Ekonomi Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah ... 83

5.2. Keterkaitan Variabel Tata Kelola Ekonomi Daerah dengan PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah 5.2.1. Keterkaitan Variabel Akses Lahan dengan PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah ... 91

5.2.2. Keterkaitan Variabel Izin Usaha dengan PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah ... 96

5.2.3. Keterkaitan Variabel Interaksi Pemda dengan Pelaku Usaha dengan PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah ... 100

5.2.4. Keterkaitan Variabel Program Pengembangan Usaha Swasta dengan PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah ... 107

5.2.5. Keterkaitan Variabel Kapasitas dan Integritas Bupati/Walikota dengan PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah ... 109

(13)

5.2.7. Keterkaitan Variabel Biaya Transaksi dengan PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di

Provinsi Jawa Tengah ... 113

5.2.8. Keterkaitan Variabel Infrastruktur Daerah dengan PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah ... 116

5.2.9. Keterkaitan Sub-Indeks dan Indeks Tata Kelola Ekonomi Daerah dengan PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah ... 119

5.3. Pengaruh Tata Kelola Ekonomi Daerah terhadap PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah ... 122

5.3.1. Uji Asumsi Klasik ... 124

5.3.2. Uji Statistik ... 125

5.3.3. Analisis Pengaruh Tata Kelola Ekonomi Daerah terhadap PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah ... 126

5.4. Implementasi Kebijakan ... 131 VI. PENUTUP 6.1. Kesimpulan ... 138 6.2. Saran ... 142 DAFTAR PUSTAKA ... 143 LAMPIRAN ... 146

(14)

di pulau Jawa tahun 2005-2009 (ribu rupiah) ... 3 2 Pertumbuhan ekonomi enam provinsi di Pulau Jawa tahun 2006-2010

(persen) ... 4 3 PDRB per kapita tanpa minyak dan gas kabupaten/kota di provinsi

Jawa Tengah tahun 2010 ... 5 4 PDRB per kapita dan indeks tata kelola ekonomi daerah lima

kabupaten/kota tertinggi dan terendah di Jawa Tengah tahun 2007 ... 8 5 Jenis dan sumber data ... 39 6 Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Jawa Tengah tahun

1961-2010 ... 55 7 Produk domestik regional bruto menurut harga berlaku dan kontribusi

tiap sektor terhadap pembentukan produk domestik regional bruto

tahun 2010 ... 61 8 Indeks TKED tahun 2007 kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah ... 90 9 Korelasi Pearson ln PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi

dengan lama kepengurusan status tanah ... 92 10 Korelasi Spearman PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi

dengan persepsi kemudahan perolehan lahan, persepsi penggusuran lahan oleh pemda, persepsi frekuensi konflik dan persepsi keseluruhan

permasalahan lahan usaha... 93 11 Korelasi Pearson ln PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi

dengan persentase perusahaan yang memiliki TDP, waktu perolehan

TDP dan persentase keberadaan mekanisme pengaduan... 97 12 Korelasi Spearman PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi

dengan persepsi kemudahan perolehan TDP, persepsi tingkat biaya yang memberatkan usaha, persepsi pelayanan izin usaha bebas KKN,

efisien dan bebas pungli serta persepsi tingkat hambatan izin usaha ... 99 13 Korelasi Spearman PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi

dengan variabel interaksi pemda dengan pelaku usaha ... 101 14 Korelasi Spearman PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi

dengan variabel program pengembangan sektor swasta ... 102 15 Korelasi Spearman PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi

dengan variabel kapasitas dan integritas bupati/walikota ... 108 16 Korelasi Pearson ln PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi

dengan tingkat kejadian pencurian di tempat usaha ... 109 17 Korelasi Pearson in PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi dan

pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kejadian pencurian di tempat

usaha ... 110 18 Korelasi Spearman PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi

dengan kualitas penanganan masalah kriminal oleh polisi, kualitas penanganan demonstrasi buruh oleh polisi, tingkat hambatan

keamanan dan penyelesaian masalah terhadap kinerja perusahaan ... 111 19 Korelasi Pearson ln PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi

(15)

pembayaran biaya informal terhadap polisi dan tingkat hambatan

biaya transaksi terhadap kinerja perusahaan ... 114 21 Korelasi Pearson ln PDRb per kapita dan pertumbuhan ekonomi

dengan lama perbaikan infrastruktur, persentase perusahaan yang

tidak memakai genset dan lama pemadaman listrik ... 117 22 Korelasi Spearman PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi

dengan kualitas infrastruktur dan tingkat hambatan infrastruktur

terhadap kinerja perusahaan ... 118 23 Korelasi Pearson PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi dengan

sub-indeks dan indeks tata kelola ekonomi daerah... 120 24 Hasil estimasi PDRB per kapita dengan metode OLS ... 123 25 Hasil estimasi pertumbuhan ekonomi dengan metode OLS ... 124

(16)

2 Faktor penggerak produktivitas perekonomian daerah... 26

3 Keadaan lingkungan usaha di daerah ... 27

4 Kenaikan belanja pemerintah dalam perpotongan Keynessian ... 30

5 Bagan kerangka pemikiran ... 37

6 Wilayah kabupaten dan kota Provinsi Jawa Tengah ... 54

7 Indeks Pembangunan Manusia Jawa Tengah tahun 2005-2009 ... 57

8 Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah tahun 2001-2010 ... 60

9 PDRB per kapita Provinsi Jawa Tengah tahun 2001-2009 ... 62

10 Persentase sampel menurut ukuran usaha... 66

11 Persentase sampel menurut sektor usaha ... 67

12 Hubungan ln PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi dengan lama kepengurusan status tanah... 92

13 Boxplot persepsi penggusuran lahan dengan PDRB per kapita ... 93

14 Boxplot persepsi frekuensi konflik dengan PDRB per kapita ... 94

15 Boxplot persepsi kemungkinan penggusuran lahan dengan pertumbuhan ekonomi. ... 94

16 Boxplot persepsi konflik lahan dengan pertumbuhan ekonomi ... 95

17 Hubungan ln PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi dengan persentase perusahaan yang memiliki TDP ... 98

18 Boxplot pelayahan izin usaha bebas KKN dengan PDRB per kapita ... 100

19 Hubungan pertumbuhan ekonomi dengan persentase perusahaan yang mengetahui keberadaan forum komunikasi. ... 101

20 Boxplot instansi pemda menindaklanjuti pemecahan masalah yang ditentukan oleh kepala daerah dengan PDRB per kapita ... 103

21 Boxplot dukungan pemda melalui penyedian fasilitas yang mendukung dunia usaha dengan PDRB pe kapita ... 104

22 Boxplot instansi pemda melakukan konsultasi publik ketika akan membuat kebijakan yang terkait dunia usaha dengan PDRB pertumbuhan ekonomi ... 106

23 Boxplot instansi pemda mengadakan pertemuan untuk membicarakan permasalahan yang dihadapi dunia usaha dengan PDRB pertumbuhan ekonomi ... 106

24 Boxplot tindakan tepat waktu oleh polisi dalam menangani kasus kriminal dengan PDRB per kapita ... 112

25 Boxplot solusi yang diberikan polisi dalam menangani kasus kriminal dengan PDRB per kapita ... 113

26 Hubungan lama perbaikan infrastruktur jalan dan persentase perusahaan yang tidak memakai genset dengan PDRB per kapita ... 118

27 Hubungan sub-indeks dan indeks tata kelola ekonomi daerah dengan PDRB per kapita ... 121

28 Boxplot instansi pemda mengadakan pertemuan untuk membicarakan permasalahan yang dihadapi dunia usaha dengan PDRB pertumbuhan ekonomi. ... 122

(17)

2 Hasil uji korelasi Spearman variabel akses lahan dengan PDRB per

kapita... 150 3 Hasil uji korelasi Spearman variabel izin usaha dengan PDRB per

kapita... 151 4 Hasil uji korelasi Spearman variabel interaksi pemerintah daerah

dengan pelaku usaha dengan PDRB per kapita ... 152 5 Hasil uji korelasi Spearman variabel program pengembangan sektor

swasta dengan PDRB per kapita ... 153 6 Hasil uji korelasi Spearman variabel kapasitas dan integritas kepala

daerah dengan PDRB per kapita ... 154 7 Hasil uji korelasi Spearman variabel keamanan dan penyelesaian

konflik dengan PDRB per kapita ... 155 8 Hasil uji korelasi Spearman variabel biaya transaksi dengan PDRB per

kapita... 156 9 Hasil uji korelasi Spearman variabel infrastruktur daerah dengan

PDRB per kapita ... 157 10 Hasil uji korelasi Pearson variabel infrastruktur daerah dengan PDRB

per kapita ... 158 11 Hasil uji korelasi Pearson variabel sub-indeks dan indeks tata kelola

ekonomi daerah dengan PDRB per kapita ... 159 12 Hasil uji normalitas ... 160 13 Hasil uji Glejser ... 161 14 Modus dan median persepsi perusahaan kabupaten/kota Provinsi Jawa

Tengah mengenai indikator akses lahan ... 162 15 Modus persepsi perusahaan kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah

mengenai indikator izin usaha ... 163 16 Persentase perusahaan yang memiliki TDP, lama kepengurusan TDP

dan persentase keberadaan mekanisme pengaduan perusahaan

kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah... 164 17 Modus persepsi perusahaan kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah

mengenai indikator interaksi pemda dengan pelaku usaha (1) ... 165 18 Modus persepsi perusahaan kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah

mengenai indikator interaksi pemda dengan pelaku usaha (2) ... 166 19 Modus persepsi perusahaan kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah

mengenai indikator program pengembangan usaha swasta ... 167 20 Modus persepsi perusahaan kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah

mengenai indikator kapasitas integritas bupati/walikota ... 168 21 Modus dan median persepsi perusahaan kabupaten/kota Provinsi Jawa

Tengah mengenai indikator keamanan dan penyelesaian konflik ... 169 22 Lampiran 21 Modus dan median persepsi perusahaan kabupaten/kota

Provinsi Jawa Tengah mengenai indikator biaya transaksi ... 170 23 Modus persepsi perusahaan kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah

mengenai indikator infrastruktur daerah ... 171 24 Median persepsi perusahaan kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah

(18)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap negara atau wilayah di berbagai belahan dunia pasti melakukan kegiatan pembangunan ekonomi, dimana kegiatan pembangunan tersebut bertujuan untuk mencapai social welfare (kemakmuran bersama) serta menghapuskan kemiskinan, atau paling tidak mengurangi tingkat kemiskinan di negara atau wilayah tersebut. Tidak hanya negara yang relatif sudah maju (negara berkembang) saja yang melakukan kegiatan pembangunan, negara yang belum maju pun melakukan kegiatan pembangunan. Dalam suatu negara atau wilayah, pembangunan ekonomi menjadi sesuatu yang sangat penting karena ketika berbicara mengenai pembangunan ekonomi berarti di dalamnya terdapat sebuah proses pembangunan yang melibatkan pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan beberapa perubahan. Perubahan-perubahan itu antara lain mencakup perubahan struktur ekonomi (dari pertanian ke industri atau jasa) dan perubahan kelembagaan, baik lewat regulasi maupun reformasi kelembagaan itu sendiri (Kuncoro, 1997).

Prestasi ekonomi suatu negara dapat dinilai dengan berbagai ukuran agregat. Secara umum, prestasi tersebut diukur melalui sebuah besaran dengan istilah pendapatan nasional. Meskipun bukan merupakan satu-satunya ukuran untuk menilai prestasi ekonomi suatu negara, itu cukup representatif dan sangat lazim digunakan. Pendapatan nasional bukan hanya berguna untuk menilai perkembangan ekonomi suatu negara dari waktu ke waktu, tapi juga membandingkannya dengan negara lain. Rinciannya secara sektoral dapat menerangkan stuktur perekonomian negara yang bersangkutan. Di samping itu,

(19)

dari angka pendapatan nasional selanjutnya dapat pula diperoleh ukuran turunannya, sepeti pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita (Dumairy,1996).

Berhasil atau tidaknya proses pembangunan yang dilakukan oleh suatu negara atau wilayah dapat dilihat dari perkembangan indikator-indikator perekonomian tersebut, apakah mengalami peningkatan atau penurunan. Salah satu indikator yang dapat dilihat adalah Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan untuk daerah tertentu disebut Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Selain PDRB, pendapatan per kapita juga salah satu konsep penting dalam perekonomian suatu Negara. Menurut Todaro (2003), produk nasional bruto per kapita merupakan konsep yang paling sering dipakai sebagai tolok ukur tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk di suatu Negara.

Indonesia telah memberlakukan otonomi daerah pada tahun 2001 dimana pemerintah daerah diberi kewenangan untuk mengatur sendiri urusan pemerintahannya termasuk urusan pembangunan ekonomi, namun pada kenyataannya sampai saat ini Pulau Jawa masih menjadi pusat pembangunan ekonomi bagi Indonesia. Bahkan dilihat dari Pulau Jawa sendiri, ketidakmerataan distribusi juga terjadi PDRB di Pulau Jawa. Menurut data Badan Pusat Statistik, PDRB per kapita Provinsi Jawa Tengah merupakan yang terendah diantara provinsi lain di Pulau Jawa. Provinsi DKI Jakarta merupakan Provinsi dengan PDRB per kapita tertinggi, disusul Provinsi Jawa Timur, Provinsi Banten, Provinsi Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan yang terakhir adalah Provinsi Jawa Tengah. Provinsi DKI Jakarta memiliki PDRB sekitar delapan kali lebih tinggi dari pada PDRB Provinsi Jawa Tengah. Perkembangan PDRB Per

(20)

Kapita Tanpa Minyak & Gas Enam Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Perkembangan PDRB per kapita tanpa minyak dan gas enam provinsi di Pulau Jawa tahun 2005-2009 (ribu rupiah)

Provinsi Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 DKI Jakarta 48.570 55.610 62.199 73.713 81.746 Jawa Timur 11.033 12.796 14.456 16.635 18.285 Jawa Barat 9.468 11.28 12.434 13.987 15.121 Banten 9.329 10.585 11.408 12.756 13.598 DI Yogyakarta 7.529 8.652 9.584 10.985 11.830 Jawa Tengah 6.372 7.565 8.419 9.543 10.416 Sumber: BPS

Selain pendapatan per kapita, rata-rata pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah relatif lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan provinsi lainnya di Pulau Jawa. Peringkat pertama ditempati oleh Provinsi Banten dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 8,95 persen. Provinsi DKI Jakarta menempati peringkat kedua dengan persentase rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 6,03 persen. Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat menempati peringkat ketiga dan keempat dengan persentase rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 5,95 persen dan 5,8. Persen. Dua posisi terakhir diduduki oleh Provinsi Jawa Tengah dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen dan Provinsi DI. Yogyakarta dengan 4,47 persen.

(21)

Tabel 2 Pertumbuhan ekonomi enam provinsi di Pulau Jawa tahun 2006-2010 (persen) Provinsi Tahun Rata-rata 2006-2010 2006 2007 2008 2009 2010 Banten 5,57 6,04 22,53 4,69 5,94 8,95 DKI Jakarta 5,95 6,44 6,23 5,02 6,51 6,03 Jawa Timur 5,8 6,11 6,16 5,01 6,68 5,95 Jawa Barat 6,02 6,48 6,21 4,19 6,09 5,8 Jawa Tengah 5,33 5,59 5,61 5,14 5,84 5,5 DI, Yogyakarta 3,7 4,31 5,03 4,43 4,87 4,47 Jawa 5,78 6,19 7,03 4,81 6,3 6,02 Sumber: BPS

Jika dilihat dari PDRB per kapita kabupaten dan kota di Jawa Tengah, perekonomian Provinsi Jawa Tengah ternyata hanya terpusat di beberapa daerah. Hal ini ditunjukkan dari PDRB per kapita di Jawa Tengah masih belum merata. Data BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 menunjukkan hanya sekitar sepuluh kabupaten dan kota di Jawa Tengah yang memiliki PDRB per kapita lebih tinggi dari rata-rata PDRB per kapita Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten dan kota lainnya memiliki PDRB per kapita kurang dari rata-rata di Jawa Tengah. Lima kabupaten dan kota yang memiliki PDRB per kapita tertinggi berturut-turut adalah Kabupaten Kudus, Kota Semarang, Kabupaten Cilacap, Kota Surakarta serta Kota Magelang dimana PDRB per kapita daerahnya jauh lebih tinggi dari kabupaten dan kota yang lainnya yaitu di atas Rp 17 juta per tahun. Sedangkan lima daerah yang memiliki PDRB per kapita terendah berturut adalah Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Kebumen serta Kabupaten Demak. Daerah-daerah tersebut memiliki PDRB per kapita yang relatif sangat rendah dibandingkan yang lain yaitu hanya sekitar Rp 5 juta per tahun.

Dari data Tabel 3, dapat diduga bahwa masih ada pemerintah daerah kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah yang belum optimal dalam

(22)

membangun perekonomian dengan memberdayakan potensi ekonomi di wilayahnya. Padahal di era otonomi daerah ini, pemerintah daerah sudah diberi wewenang untuk mengelola potensi di daerah masing-masing. Wewenang ini yang seharusnya dapat dioptimalkan pemerintah daerah dalam membangun perekonomian daerah.

Tabel 3 PDRB per kapita tanpa minyak dan gas kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010

No Kabupaten/Kota PDRB per Kapita No Kabupaten/Kota PDRB per Kapita

1 Kudus 40.471.198 19 Jepara 8.310.082

2 Kota Semarang 27.891.154 20 Pati 7.880.407

3 Cilacap 24.030.196 21 Sragen 7.860.941

4 Kota Surakarta 19.908.672 22 Banjarnegara 7.712.477

5 Kota Magelang 17.806.644 23 Batang 7.454.500

6 Kota Pekalongan 13.516.524 24 Temanggung 7.154.116 7 Sukoharjo 12.025.057 25 Wonogiri 6.937.837 8 Kendal 11.969.893 26 Pubalingga 6.796.774 9 Semarang 11.895.657 27 Magelang 6.788.665 10 Karanganyar 11.343.175 28 Banyumas 6.648.928 11 Kota Tegal 10.998.560 29 Pemalang 6.391.781 12 Kota Salatiga 10.856.888 30 Tegal 5.689.566 13 Klaten 9.975.148 31 Demak 5.620.418

14 Purwerejo 9.299.166 32 Kebumen 5.590.039

15 Boyolali 8.706.517 33 Wonosobo 5.202.502

16 Pekalongan 8.622.288 34 Blora 5.165.508

17 Brebes 8.437.736 35 Grobogan 4.966.466

18 Rembang 8.402.062 Jawa Tengah 10.809.358

Sumber: BPS Provinsi Jateng

Dengan berlakunya otonomi daerah, maka untuk melaksanakan pembangunan diperlukan kemandirian dan kemampuan dari pemerintah daerah untuk membiayai kebutuhan dana pembangunan. Dengan demikian, pemerintah daerah tentu harus mampu menggali sumber-sumber ekonomi dan mengolah potensi yang ada di daerahnya sehingga pembangunan di daerah tersebut dapat terus terlaksana. Selain dengan cara menggali sumber-sumber ekonomi daerah sebagai sumber pendanaan pembangunan, tentunya diperlukan penanaman modal

(23)

baik yang berasal dari dalam negeri (PMDN) maupun dari luar negeri (PMA) untuk mengembangkan perekonomian di suatu wilayah.

Ada dua pihak yang secara garis besar berinteraksi dalam menentukan kinerja perekonomian daerah yaitu pemerintah daerah dan pelaku usaha. Pemerintah daerah sebagai pembuat kebijakan publik yang terkait dunia usaha memiliki peran yang besar dalam penentuan bentuk kompetisi pasar di daerah. Sedangkan pelaku usaha sebagai pencipta nilai tambah ekonomi turut menentukan kinerja perekonomian daerah melalui peranan investasi yang berasal dari pemodalan swasta.

Kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda) terutama tercermin pada berbagai Peraturan Daerah (Perda), diantaranya perda tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Melalui APBD yang merupakan alat kebijakan utama, pemda membuat kebijakan pengeluaran untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik. Setelah fungsi pelayanan publik mendapatkan perbaikan kualitas maka tahapan berikutnya pada proses pembangunan berkelanjutan adalah penciptaan keadaan berusaha yang mendukung pergerakan ekonomi daerah. Pengembangan usaha swasta harus menjadi motor penggerak ekonomi lokal karena APBD memiliki banyak keterbatasan dalam hal jumlah dan cakupan program pembangunan yang dapat dibiayainya (KPPOD 2007).

Melihat pentingnya peran pemerintah daerah melalui tata kelola pemerintahan daerah dalam meningkatkan perekonomian, maka penelitian ini ingin menjelaskan keterkaitan antara tata kelola ekonomi daerah dengan Pendapatan Regional Domestik Bruto (PDRB) per kapita dan pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian mengenai tata kelola

(24)

ekonomi daerah ini didasarkan pada survei Tata Kelola Ekonomi Daerah (TKED) yang dilaksanakan oleh Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) pada tahun 2007. Survei ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai kualitas tata kelola ekonomi daerah di Indonesia. Pada tahun 2007, survei dilaksanakan di 243 kabupaten dan kota di 15 provinsi di Indonesia.

Penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh McCulloch dan Malesky (2010) mengenai dampak tata kelola pemerintahan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di Indonesia. Namun, hasilnya sangat mengejutkan yakni hanya ada sedikit atau tidak ada hubungan yang signifikan antara tata kelola perekonomian daerah dengan pertumbuhan ekonomi daerah. Hal yang mendorong hasil ini dimungkinkan karena dalam penelitian tersebut menganalisis dampak tata kelola perekonomian daerah terhadap pertumbuhan secara agregat. Untuk menganalisis hal tersebut menggunakan skor indeks akhir serta sub-indeks tata kelola ekonomi daerah. Sementara ada 90 pertanyaan dari kuisioner yang ditanyakan kepada para responden memiliki skala pengukuran yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penelitian ini akan menggunakan analisis secara parsial yaitu menganalisis variabel-variabel yang ditanyakan kepada responden untuk mengetahui keterkaitan setiap indikator tata kelola ekonomi daerah terhadap PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi.

1.2. Permasalahan

Perekonomian di provinsi Jawa Tengah pun hanya terfokus di beberapa kabupaten dan kota. Data BPS Provinsi Jawa tengah pada tahun 2007, PDRB per kapita tertinggi di Jawa Tengah berturut-turut adalah Kabupaten Kudus, Kota Semarang, Kabupaten Cilacap, Kota Surakarta serta Kota Magelang dimana

(25)

PDRB per kapita daerahnya jauh lebih tinggi dari kabupaten dan kota yang lainnya yaitu di atas Rp 17 juta per tahun. Peringkat daerah dengan PDRB per kapita tertinggi tahun 2007 tersebut sama dengan peringkan PDRB per kapita tahun 2010. Artinya, kelima daerah tersebut secara konsisten memiliki perekonomian yang lebih besar dari daerah lainnya. Sedangkan lima daerah yang memiliki PDRB per kapita tahun 2007 terendah berturut adalah Kabupaten Tegal, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Blora serta Kabupaten Grobogan. Daerah-daerah tersebut memiliki PDRB per kapita yang relatif sangat rendah dibandingkan yang lain yaitu hanya sekitar Rp 5 juta per tahun.

Tabel 4 PDRB per kapita dan indeks tata kelola ekonomi daerah lima kabupaten/kota tertinggi dan terendah di Jawa Tengah tahun 2007

Pering kat Kabupaten/Kota PDRB per kapita (Rp) Pering kat Kabupaten/Kota Indeks TKED 1 Kudus 35.615.217 1 Purbalingga 71,1 2 Kota Semarang 23.067.839 2 Kota Magelang 70,5 3 Cilacap 18.526.334 3 Kudus 69 4 Kota Surakarta 15.831.794 4 Kota Salatiga 68,6 5 Kota Magelang 14.173.787 5 Wonosobo 68,2 31 Tegal 4.586.950 31 Karanganyar 59 32 Kebumen 4.556.330 32 Kota Surakarta 58,7 33 Wonosobo 4.422.065 33 Pemalang 57,5 34 Blora 4.204.875 34 Kota Semarang 57,2 35 Grobogan 3.973.827 35 Kebumen 55,2

Sumber: BPS dan KPPOD

Namun, dilihat dari indeks tata kelola ekonomi daerah, kabupaten/kota dengan tata kelola ekonomi daerah terbaik adalah Kabupaten Purbalingga, Kota Magelang, Kabupaten Kudus, Kota Salatiga dan Kabupaten Wonosono. Sedangkan kabupaten/kota dengan tata kelola ekonomi daerah terburuk adalah Kabupaten Karanganyar, Kota Surakarta, Kabupaten Pemalang, Kota Semarang dan Kabupaten Kebumen. Menariknya, Kota Semarang yang merupakan

(26)

kabupaten tertinggi kedua di Jawa Tegah ternyata menempati peringkat tata kelola ekonomi daerah terburuk kedua, setelah Kabupaten Kebumen. Tidak hanya itu, Kabupaten Wonosobo yang merupakan salah satu kabupaten dengan pendapatan per kapita terendah pun ternyata memiliki tata kelola ekonomi daerah terbaik di peringkat kelima. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai ketidaksesuaian dalam pelaksanaan pembangunan.

Baik buruknya tata kelola ekonomi daerah tergantung peran pemerintah daerah dalam mengelola pemerintahan di kabupaten/kota masing-masing. Di era otonomi daerah ini, pemerintah daerah sudah seharusnya berlomba dalam meningkatkan perekonomian masing-masing. Salah satu peran yang utama dari pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian daerah adalah melalui tata kelola ekonomi daerah.

Penelitian mengenai tata kelola ekonomi daerah ini didasarkan pada survei Tata Kelola Ekonomi Daerah (TKED) yang dilaksanakan oleh Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang disurvei oleh KPPOD di tahun 2007. Survei ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai kualitas tata kelola ekonomi daerah di Indonesia. Pada tahun 2007, survei dilaksanakan di 243 kabupaten dan kota di 15 provinsi (KPPOD 2007).

Berdasarkan uraian diatas, yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana kondisi tata kelola ekonomi daerah kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah?

(27)

2. Bagaimana keterkaitan tata kelola ekonomi daerah dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah?

3. Bagimana implementasi kebijakan yang dapat diambil oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi kabupaten dan kota di Jawa Tengah?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka penulis merumuskan tujuan penelitian ini adalah:

1. Menganalisis kondisi tata kelola ekonomi daerah kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah.

2. Menganalisis keterkaitan tata kelola ekonomi daerah dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah.

3. Menganalisis implementasi kebijakan yang dapat diambil oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi

kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak sebagai berikut :

1. Bagi peneliti sendiri, penelitian ini menjadi jawaban atas permasalahan yang ingin diketahui dan menjadi tambahan pengetahuan.

(28)

2. Bagi para penentu kebijakan di pemerintah Provinsi Jawa Tengah serta Pemerintah Daerah di Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat dalam menambah pemahaman tentang aspek atau indikator dalam tata kelola ekonomi daerah yang berpengaruh terhadap PDRB per kapita. Pemahaman tersebut membantu penentu kebijakan untuk fokus dalam membuat kebijakan dalam meningkatkan meningkatkan perekonomian kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah.

3. Bagi para pemangku peran masyarakat serta LSM, penelitian ini diharapakan dapat digunakan sebagai alat advokasi kepada para pemimpin daerah untuk melakukan perbaikan tata kelola ekonomi daerah.

4. Bagi masyarakat umum, mahasiswa dan peneliti lain, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan informasi, tambahan pengetahuan, dan sumber rujukan bagi penelitian terkait selanjutnya bagi peneliti yang berminat di bidang tata kelola ekonomi daerah.

1.5. Ruang Lingkup

Penelitian ini berdasar pada survei tata kelola ekonomi daerah yang dilakukan oleh KPPOD. Kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang disurvei di tahun 2007. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan data cross section dengan unit analisis kabupaten dan kota di Jawa Tengah pada tahun 2007.

Penelitian ini akan menggunakan pendekatan analisis deskriptif dan analisis kuantitatif. Pendekatan analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui kondisi tata kelola ekonomi daerah dan PDRB per kapita di kabupaten dan kota

(29)

Provinsi Jawa Tengah. Pendekatan analisis kuantitatif digunakan untuk mencari keterkaitan tata kelola ekonomi daerah dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah dengan menggunakan unit analisis variabel-variabel tata kelola ekonomi daerah. Indikator tata kelola ekonomi daerah yang dianalisis dalam penelitian ini adalah : (1) akses lahan usaha dan kepastian berusaha, (2) perizinan usaha, (3) interaksi pemda dan pelaku usaha, (4) program pengembangan usaha swasta, (5) kapasitas dan integritas Kepala Daerah, (6) biaya transaksi, (7) kebijakan infrastruktur daerah, (8) keamanan dan penyelesaian sengketa, dan (9) kualitas peraturan daerah. Penelitian ini juga menganalisis faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi PDRB per kapita dan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah yakni belanja pemerintah daerah dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

(30)

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Tinjauan Teori

2.1.1. Pembangunan Ekonomi

Istilah pembangunan ekonomi biasanya dikaitkan dengan perkembangan ekonomi di negara-negara berkembang. Sebagian ahli ekonomi mengartikan istilah ini sebagai pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh perubahan-perubahan dalam struktur dan corak kegiatan ekonomi seperti mempercepat pertumbuhan ekonomi dan masalah pemerataan pendapatan. Hal ini dikenal sebagai economic development is growth plus change-yaitu pembangunan ekonomi (Sukirno, 2001).

Pembangunan secara tradisional diartikan sebagai kapasitas dari sebuah perekonomian, yang kondisi awalnya kurang lebih bersifat statis dalam kurun waktu yang cukup lama untuk menciptakan dan mempertahankan kenaikan tahunan atas pendapatan nasional bruto. Produk nasional bruto per kapita merupakan konsep yang paling sering dipakai sebagai tolok ukur tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk di suatu negara (Todaro, 2003). Selanjutnya pembangunan ekonomi menurut Jhingan (2008) diartikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk meningkat dalam jangka panjang. Terdapat tiga elemen penting yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi, yaitu:

a. Pembangunan sebagai suatu proses. Pembangunan sebagai suatu proses, artinya bahwa pembangunan merupakan suatu tahap yang harus dijalani oleh setiap masyarakat atau bangsa. Setiap bangsa harus menjalani tahap-tahap perkembangan untuk menuju kondisi yang adil, makmur, dan sejahtera.

(31)

b. Pembangunan sebagai suatu usaha untuk meningkatkan pendapatan per kapita. Sebagai suatu usaha, pembangunan merupakan tindakan aktif yang harus dilakukan oleh suatu negara dalam rangka meningkatkan pendapatan per kapita. Dengan demikian, sangat dibutuhkan peran serta masyarakat, pemerintah, dan semua elemen untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan. Hal ini dilakukan karena kenaikan pendapatan per kapita mencerminkan perbaikan dalam kesejahteraan masyarakat.

c. Peningkatan pendapatan per kapita harus berlangsung dalam jangka panjang. Suatu perekonomian dapat dinyatakan dalam keadaan berkembang apabila pendapatan per kapita dalam jangka panjang cenderung meningkat. Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa pendapatan per kapita harus mengalami kenaikan terus-menerus.

Besarnya Gross National Product (GNP) per kapita, pertumbuhan ekonomi, dan pertumbuhan lapangan kerja serta inflasi yang terkendali, merupakan prestasi-prestasi pembangunan yang menjadi tolok ukur utama pembangunan. Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh percepatan pertumbuhan ekonomi tetapi lebih pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih utuh (Kuncoro, 1997). Tinggi rendahnya kemajuan pembangunan daerah diukur berdasarkan tingkat pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), baik secara keseluruhan maupun per kapita, yang diyakini akan menetes dengan sendiri sehingga menciptakan lapangan pekerjaan dan berbagai peluang ekonomi yang pada akhirnya akan menumbuhkan berbagai kondisi yang diperlukan demi terciptanya distribusi hasil-hasil pertumbuhan ekonomi dan sosial secara lebih merata.

(32)

Pembangunan saat ini tidak lebih diukur dari suatu prestasi kuantitatif semata. Proses pembangunan pada dasarnya bukanlah sekedar fenomena ekonomi semata, namun memiliki perspektif yang luas. Dalam proses pembangunan dilakukan upaya yang bertujuan untuk mengubah struktur perekonomian ke arah yang lebih baik (Kuncoro, 1997).

2.1.2. Teori Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat (Sukirno, 2000). Jadi pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian serta kemampuan suatu negara untuk menghasilkan barang dan jasa akan meningkat. Kemampuan yang meningkat ini disebabkan oleh pertambahan faktor-faktor produksi baik dalam jumlah dan kualitasnya. Investasi akan menambah barang modal dan teknologi yang digunakan juga makin berkembang. Di samping itu tenaga kerja bertambah sebagai akibat perkembangan penduduk seiring dengan meningkatnya pendidikan dan keterampilan mereka.

Salah satu sasaran pembangunan ekonomi daerah adalah meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan pertumbuhan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut harga konstan. Laju pertumbuhan PDRB akan memperlihatkan proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Penekanan pada ”proses”, karena mengandung unsur dinamis, perubahan atau perkembangan. Oleh karena itu pemahaman indikator pertumbuhan ekonomi biasanya akan dilihat dalam kurun waktu tertentu, misalnya tahunan. Aspek tersebut relevan untuk dianalisa sehingga

(33)

kebijakan-kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh pemerintah untuk mendorong aktivitas perekonomian domestik dapat dinilai efektifitasnya (Rustiono, 2008). 2.1.2.1. Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik

Menurut ekonom Klasik, Smith, pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni pertumbuhan output total dan pertumbuhan penduduk. Unsur pokok dari sistem produksi suatu negara ada tiga, yaitu sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan stok modal.

Menurut Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik, pertumbuhan ekonomi bergantung pada faktor-faktor produksi (Sukirno, 2001). Persamaannya adalah :

Δ Y = f (ΔK, ΔL) Δ Y = tingkat pertumbuhan ekonomi

Δ K = tingkat pertambahan barang modal Δ L = tingkat pertambahan tenaga kerja

2.1.3. Indeks Pembangunan Manusia

Ukuran pembangunan yang digunakan selama ini, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB) dalam konteks nasional dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dalam konteks regional, hanya mampu memotret pembangunan ekonomi saja. Untuk itu dibutuhkan suatu indikator yang lebih komprehensif, yang mampu menangkap tidak hanya perkembangan ekonomi akan tetapi juga perkembangan aspek sosial dan kesejahteraan manusia. Pembangunan manusia memiliki banyak dimensi. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan ukuran agregat dari dimensi dasar pembangunan manusia dengan melihat perkembangannya.

(34)

Probowoningtyas (2011) menyebutkan penghitungan IPM sebagai indikator pembangunan manusia memiliki tujuan penting, diantaranya:

1. Membangun indikator yang mengukur dimensi dasar pembangunan manusia dan perluasan kebebasan memilih.

2. Memanfaatkan sejumlah indikator untuk menjaga ukuran tersebut sederhana. 3. Membentuk satu indeks komposit daripada menggunakan sejumlah indeks

dasar.

4. Menciptakan suatu ukuran yang mencakup aspek sosial dan ekonomi.

Indeks tersebut merupakan indeks dasar yang tersusun dari dimensi berikut ini:

1. Umur panjang dan kehidupan yang sehat, dengan indikator angka harapan hidup;

2. Pengetahuan, yang diukur dengan angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah; dan

3. Standar hidup yang layak, dengan indikator PDRB per kapita dalam bentuk Purchasing Power Parity (PPP).

Konsep Pembangunan Manusia yang dikembangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menetapkan peringkat kinerja pembangunan manusia pada skala 0,0 – 100,0 dengan katagori sebagai berikut :

1. Tinggi : IPM lebih dari 80,0

2. Menengah Atas : IPM antara 66,0 – 79,9 3. Menengah Bawah : IPM antara 50,0 – 65,9 4. Rendah : IPM kurang dari 50,0.

(35)

2.1.4. Pengeluaran Pemerintah

2.1.4.1. Pengeluaran Pemerintah Keynes

Identitas keseimbangan pendapatan nasional Y = C + I + G merupakan pandangan kaum Keynesian akan relevansi campur tangan pemerintah dalam perekonomian tertutup. Formula ini dikenal sebagai identitas pendapatan nasional. Y merupakan pendapatan nasional, C merupakan pengeluaran konsumsi, dan G merupakan Pengeluaran Pemerintah. Dengan membandingkan nilai G terhadap Y serta mengamati dari waktu ke waktu dapat diketahui seberapa besar kontribusi pengeluaran pemerintah dalam pembentukan pendapatan nasional (Dumairy,1997).

Inti dari kebijakan makro Keynes adalah bagaimana pemerintah bisa memengaruhi permintaan agregat. Dengan demikian, akan memengaruhi situasi makro agar mendekati posisi “Full Employment”-nya. Menurut Keynes untuk menghindari timbulnya stagnasi dalam perekonomian, pemerintah berupaya untuk meningkatkan jumlah pengeluaran pemerintah (G) dengan tingkat yang lebih tinggi dari pendapatan nasional sehingga dapat mengimbangi kecenderungan mengkonsumsi (C) dalam perekonomian.

2.1.4.2. Teori Wagner

Wagner menyatakan dalam suatu perekonomian apabila pendapatan per kapita meningkat, secara relatif pengeluaran pemerintah akan meningkat. Terutama disebabkan karena Pemerintah harus mengatur hubungan yang timbul dalam masyarakat, hukum, pendidikan, rekreasi, kebudayaan dan sebagainya.

(36)

Wagner mendasarkan pandangannya pada suatu teori yang disebut organic theory of state yaitu teori yang menganggap pemerintah sebagai individu yang bebas bertindak, terlepas dengan masyarakat yang lain. Menurut Wagner, ada lima hal yang menyebabkan pengeluaran pemerintah selalu meningkat yaitu : 1. Tuntutan peningkatan perlindungan keamanan dan pertahanan

2. Kenaikan tingkat pendapatan masyarakat

3. Urbanisasi yang mengiringi pertumbuhan ekonomi 4. Perkembangan demografi

5. Ketidakefisienan birokrasi

Pertumbuhan ekonomi akan menyebabkan hubungan antarindustri dan hubungan antarindustri dengan masyarakat akan semakin kompleks sehingga potensi terjadinya kegagalan eksternalitas negatif menjadi semakin besar. Namun teori Wagner memiliki kelemahan yaitu tidak didasari pada teori pemilihan barang-barang publik (Dumairy,1997).

2.1.5. Otonomi Daerah

Pengertian desentralisasi menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Otonomi daerah menurut Undang-undang tersebut adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri

(37)

urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah ini meletakkan prinsip-prinsip baru agar penyelenggaraan otonomi daerah lebih sesuai dengan prinsip demokrasi, adanya peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan berdasarkan potensi dan keanekaragaman daerah. Undang-undang tersebut memaknai otonomi daerah sebagai pemberian kewenangan yang luas, nyata dan bertanggungjawab kepada daerah secara proporsional. Pemberian kewenangan ini diwujudkan dengan pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumberdaya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah.

Alasan penerapan kebijakan desentralisasi di berbagai negara umumnya adalah dalam rangka memperbaiki kinerja sektor publik demi mencapai kesejahteraan masyarakat dengan mendekatkan perencanaan. Selain itu, alasan desentralisasi lainnya adalah memperbaiki pelayanan kepada masyarakat. Alasan yang terakhir adalah untuk mendukung pembangunan ekonomi daerah, dengan menyerahkan sejumlah kewenangan pengelolaan pembangunan kepada pemerintah daerah secara otonom (Murwito, 2008).

Menurut Rasyid (2005), tujuan utama dari kebijakan desentralisasi adalah di satu pihak, membebaskan pemerintah pusat dari beban-beban yang tidak perlu dalam menangani urusan domestik serta pemerintah pusat diharapkan lebih mau berkonsentrasi pada perumusan kebijakan makro nasional yang bersifat strategis. Di lain pihak, dengan desentralisasi kewenangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah, maka daerah akan mengalami proses pemeberdayaan yang signifikan.

(38)

Kemampuan prakarsa dan kreativitas daerah akan terpacu, sehingga kapabilitas dalam mengatasi berbagai masalah domestik akan semakin kuat.

Visi otonomi daerah dapat dirumuskan dalam tiga ruang lingkup interaksinya yang utama: politik, ekonomi serta sosial dan budaya. Di bidang politik, otonomi daerah adalah buah dari kebijakan desentralisasi dan demokratisasi, maka otonomi daerah harus dipahami sebagai sebuah proses untuk membuka ruang bagi lahirnya kepala pemerintahan daerah yang dipilih secara demokratis. Hal ini memungkinkan berlangsungnya penyelenggaraan pemerintah yang responsif terhadap kepentingan masyarakat luas dan memelihara suatu mekanisme pengambilan keputusan yang taat pada asas pertanggungjawaban publik. Otonomi daerah juga berarti kesempatan membangun struktur pemerintah yang sesuai dengan kebutuhan daerah membangun sistem dan pola karir politik dan administrasi yang kompetitif, serta mengembangkan sistem manajemen pemerintahan yang efektif.

Di bidang ekonomi, otonomi daerah di satu pihak harus menjamin lancarnya pelaksanaan kebijakan ekonomi nasional di daerah, dan di lain pihak terbukanya peluang bagi pemerintah daerah mengembangkan kebijakan regional dan lokal untuk mengoptimalkan pendayagunaan potensi ekonomi di daerahnya. Dalam konteks ini, otonomi daerah akan memungkinkan lahirnya berbagai prakarsa pemerintah daerah untuk menawarkan fasilitas investasi, memudahkan proses perizinan usaha, dan membangun berbagai infrastruktur yang menunjang perputaran ekonomi di daerahnya. Dengan demikian otonomi daerah akan membawa masyarakat ke tingkat kesejahteraan lebih tinggi dari waktu ke waktu.

(39)

Di bidang sosial budaya, otonomi daerah harus dikelola sebaik mungkin. Pengelolaan otonomi yang baik ini demi menciptakan dan memelihara harmoni sosial. Selain itu, tujuan lain di bidang sosial budaya adalah memelihara nilai-nilai lokal yang dipandang kondusif terhadap kemampuan masyarakat merespon dinamika kehidupan sekitarnya.

Dalam era otonomi daerah, dengan Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah yang telah diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dijelaskan bahwa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang di antaranya meliputi :

a. Perencanaan dan pengendalian pembangunan

b. Perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang c. Pengendalian lingkungan hidup.

2.1.6. Tata Kelola Pemerintahan 2.1.6.1. Pengertian Good Governance

Menurut dokumen United Nations Development Program (UNDP), tata pemerintahan adalah penggunaan wewenang ekonomi politik dan administrasi guna mengelola urusan-urusan negara pada semua tingkat. Tata pemerintahan mencakup seluruh mekanisme, proses dan lembaga-lembaga dimana warga dan kelompok-kelompok masyarakat mengutarakan kepentingan mereka, menggunakan hak hukum, memenuhi kewajiban dan menjembatani perbedaan-perbedaan diantara mereka. Good Governance menurut Bank Dunia adalah suatu penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah

(40)

alokasi dana investasi, dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun administratif, menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya aktivitas usaha. Masyarakat Transparansi mendefinisikan Good Governance sebagai pengelolaan pemerintahan yang baik. Kata „baik‟ disini dimaksudkan sebagai mengikuti kaidah-kaidah tertentu sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Good Governance.

Tata kepemerintahan yang baik (good governance) menurut Buku Pegangan Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (2007) merupakan suatu konsepsi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, demokratis dan efektif, serta di dalamnya mengatur pola hubungan yang sinergis dan konstruktif antara pemerintah, dunia usaha swasta dan masyarakat. Tata kepemerintahan yang baik meliputi tata kepemerintahan untuk sektor publik (good public governance) yang merujuk pada lembaga penyelenggara negara (eksekutif, legislatif dan yudikatif) dan tata kepemerintahan untuk dunia usaha swasta (good corporate governance), serta adanya partisipasi aktif dari masyarakat (civil society). Para pihak inilah yang sering disebut sebagai tiga pilar penyangga penyelenggaraan pemerintahan yang baik.

(41)

Sumber: Buku Pegangan Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 2007

Gambar 1 Pola interaksi tiga pilar good governance.

Jelas bahwa good governance adalah masalah perimbangan antara negara, pasar dan masyarakat. Memang sampai saat ini, sejumlah karakteristik kebaikan dari suatu governance lebih banyak berkaitan dengan kinerja pemerintah. Pemerintah berkewajiban melakukan investasi untuk mempromosikan tujuan ekonomi jangka panjang seperti pendidikan kesehatan dan infrastruktur. Tetapi untuk mengimbangi negara, suatu masyarakat warga yang kompeten dibutuhkan melalui diterapkannya sistem demokrasi, rule of law, hak asasi manusia, dan dihargainya pluralisme. Good governance sangat terkait dengan dua hal yaitu (1) good governance tidak dapat dibatasi hanya pada tujuan ekonomi dan (2) tujuan ekonomi pun tidak dapat dicapai tanpa prasyarat politik tertentu (Lalolo Krina, 2003).

2.1.6.2. Prinsip Good Governance

UNDP merekomendasikan beberapa karakteristik governance, yaitu legitimasi politik, kerjasama dengan institusi masyarakat sipil, kebebasan berasosiasi dan berpartisipasi, akuntabilitas birokratis dan keuangan (financial),

(42)

manajemen sektor publik yang efisien, kebebasan informasi dan ekspresi, sistem yudisial yang adil dan dapat dipercaya. Sedangkan World Bank mengungkapkan sejumlah karakteristik good governance adalah masyarakat sipil yang kuat dan partisipatoris, terbuka, pembuatan kebijakan yang dapat diprediksi, eksekutif yang bertanggung jawab, birokrasi yang profesional dan aturan hukum. Masyarakat Transparansi Indonesia menyebutkan sejumlah indikator seperti: transparansi, akuntabilitas, kewajaran dan kesetaraan, kesinambungan, partisipasi masyarakat, tegaknya supremasi hukum serta efektivitas dan efisiensi.

Jelas bahwa terdapat berbagai prinsip yang melandasi tata pemerintahan yang baik. Berbagai prinsip ini berbeda dari satu institusi ke institusi lain, dari satu pakar ke pakar lainnya. Namun ada tiga prinsip utama yang melandasi good governance, yaitu akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat.

2.1.6.3. Tata Kelola Ekonomi Daerah

Ada dua pihak yang secara garis besar berinteraksi dalam menentukan kinerja perekonomian daerah yaitu pemerintah daerah dan pelaku usaha. Pemerintah daerah sebagai pembuat kebijakan publik yang terkait dunia usaha memiliki peran yang besar dalam penentuan bentuk kompetisi pasar di daerah. Sedangkan pelaku usaha sebagai pencipta nilai tambah ekonomi turut menentukan kinerja perekonomian daerah melalui peranan investasi yang berasal dari pemodalan swasta.

Faktor penggerak produktivitas daerah yang terbentuk pada suatu daerah merupakan sebuah mekanisme dinamika yang terjadi pada sektor swasta. Hal ini terlihat pada Gambar 2. Kompetisi dan inovasi dari adanya kehadiran perusahaan dan tenaga kerja yang berkualitas baik diharapkan dapat menciptakan tingkat

(43)

investasi tertentu. Peranan sektor swasta di daerah dapat menjadi faktor penggerak produktivitas daerah yang mencerminkan keadaan berusaha yang baik. Berdasarkan hipotesa ini, keberadaan perusahaan di kabupaten/kota tertentu menjadi sangat penting (KPPOD, 2007).

Sumber: KPPOD 2007

Gambar 2 Faktor penggerak produktivitas perekonomian daerah.

Kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda) terutama tercermin pada berbagai Peraturan Daerah (Perda), diantaranya perda tentang Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Melalui APBD yang merupakan alat kebijakan utama, Pemda membuat kebijakan pengeluaran untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik. Disamping itu melalui kebijakan pendapatannya, pemda diharapkan mampu mendorong kegiatan berusaha ekonomi sehingga diharapkan tercipta sejumlah pemasukan yang berasal dari pajak dan retribusi daerah yang cukup memadai. Setelah fungsi pelayanan publik mendapatkan perbaikan kualitas maka tahapan berikutnya pada proses pembangunan berkelanjutan adalah penciptaan

(44)

keadaan berusaha yang mendukung pergerakan ekonomi daerah. Pengembangan usaha swasta harus menjadi motor penggerak ekonomi lokal karena APBD memiliki banyak keterbatasan dalam hal jumlah dan cakupan program pembangunan yang dapat dibiayainya.

Berbagai bentuk kewenangan telah didesentralisasikan dari pemerintah pusat ke pemda. Dengan demikian, pemda berperan besar dalam hal meningkatkan kompetisi antarperusahaan di daerah bersangkutan dan mendorong berbagai inovasi yang berasal dari perkembangan praktek berusaha yang mendorong kepada penggunaan teknologi. Gambar 3 menggambarkan kemungkinan bentuk interaksi antara pihak eksekutif dalam hal ini pemda, pihak legislatif yaitu Dewa Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), dan pemerintah pusat yang mempengaruhi keadaan berusaha di daerah.

Konsep tata kelola ekonomi daerah menyoroti sejumlah kebijakan daerah terkait dunia usaha di kabupaten/kota Indonesia. Namun kebijakan terkait dunia usaha yang dihadapi pelaku usaha sehari-hari di daerah tidak hanya dibuat oleh pemda. Didalam interaksinya terdapat kebijakan pusat yang berlaku di daerah, pihak legislatif daerah, dan pihak eksekutif daerah. Interaksi diantara ketiganya sedikit-banyak memengaruhi keadaan berusaha di suatu daerah.

Sumber: KPPOD 2007

(45)

KPPOD merumuskan beberapa indikator yang memengaruhi keadaan tata kelola ekonomi daerah. Indikator tersebut dirumuskan menjadi variabel-variabel yang digunakan dalam sembilan aspek sebagai berikut: akses lahan, infrastruktur, perizinan usaha, kualitas peraturan di daerah, biaya transaksi, kapasitas dan integritas bupati/walikota, interaksi pemda dengan pelaku usaha, program pengembangan usaha swasta (PPUS) serta keamanan dan penyelesaian konflik. Sembilan indikator itu yang dapat menggambarkan tata kelola ekonomi daerah.

2.1.7. Hubungan PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi dengan IPM Sumberdaya manusia merupakan faktor terpenting dalam perekonomian. Menurut Jhingan (2008), peningkatan GNP per kapita yang tinggi ternyata berkaitan erat dengan pengembangan faktor manusia sebagaimana terlihat dalam efisiensi atau poduktivitas yang melonjak di kalangan tenaga buruh. Menurut Todaro (2003), sumberdaya manusia dari suatu bangsa, bukan modal fisik atau sumber daya material, merupakan faktor paling menentukan karakter dan kecepatan pembangunan sosial dan ekonomi suatu bangsa bersangkutan.

Laporan tahunan UNDP secara konsisten menunjukkan bahwa pembangunan manusia mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang tidak memperhatikan pembangunan manusia tidak akan bertahan lama (sustainable). Agar berjalan positif dan berkelanjutan harus ditunjang oleh kebijakan sosial (social policy) pemerintah yang pro pembangunan manusia (sosial).

Suryadi (1994) yang mengkaji lebih dalam mengenai peran pendidikan formal dalam menunjang perekonomian menyatakan bahwa semakin tinggi

(46)

pendidikan formal yang diperoleh, maka produktivitas tenaga kerja akan semakin tinggi pula. Pendidikan memiliki pengaruh terhadap peningkatan output perekonomian karena pendidikan berperan di dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Jika setiap orang memiliki penghasilan yang lebih tinggi karena pendidikannya lebih tinggi, maka pertumbuhan ekonomi penduduk dapat ditunjang.

Pembangunan sumberdaya manusia secara tepat untuk pembangunan ekonomi dapat dilakukan dengan cara berikut. Pertama, harus ada pengendalian atas perkembangan penduduk. Sumberdaya manusia dapat dimanfaatkan dengan baik apabila jumlah penduduk dapat dikendalikan dan diturunkan. Kedua, harus ada perubahan dalam pandangan tenaga buruh. Hanya tenaga buruh yang terlatih dan terdidik dengan efisiensi tinggi yang akan membawa masyarakat kepada pembangunan ekonomi yang tepat.

2.1.8. Hubungan Pendapatan per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomidengan Belanja Pemerintah

Pengeluaran pemerintah merupakan seperangkat produk yang dihasilkan yang memuat pilihan atau keputusan yang dibuat oleh pemerintah. Pengeluaran pemerintah ini digunakan untuk menyediakan barang-barang publik dan pelayanan kepada masyarakat. Total pengeluaran pemerintah merupakan penjumlahan keseluruhan dari keputusan anggaran pada masing-masing tingkatan pemerintahan (pusat – provinsi – daerah) (Rustiono 2008).

Belanja pemerintah adalah salah satu komponen pengeluaran. Jika belanja pemerintah naik sebesar ∆G, maka kurva pengeluaran yang direncanakan ke atas sebesar ∆G, seperti pada Gambar 4 ekulibrium perekonomian bergerak

(47)

dari titik A ke titik B, dan pendapatan meningkat dari Y1 ke Y2. Gambar 4

menunjukkan bahwa kenaikan belanja pemerintah mendorong adanya kenaikan dalam pendapatan yang lebih besar, yaitu ∆Y lebih besar dari ∆G. Rasio ∆Y/∆G disebut pengganda belanja pemerintah (Mankiw 2006).

Sumber: Mankiw (2000)

Gambar 4 Kenaikan belanja pemerintah dalam perpotongan Keynesian.

2.1.9. Hubungan PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi dengan Tata Kelola Pemerintahan

Hubungan tata kelola pemerintahan dengan peningkatan perekonomian hingga kini masih menjadi dilema. Namun, beberapa penelitian membuktikan bahwa ada hubungan kuat antara tata kelola pemerintahan dengan pertumbuhan ekonomi. Rodrik et al (2004) meneliti hubungan institusi, integrasi ekonomi (perdagangan internasional) dan geografi terhadap pembangunan ekonomi di beberapa negara dengan menggunakan data cross section. Kualitas institusi ditemukan memiliki dampak yang lebih besar terhadap tingkat akumulasi modal fisik dibandingkan modal manusia. Semakin pentingnya peranan institusi mampu Pengeluaran, E A B Pendapatan, output, Y ∆Y ∆G

Gambar

Tabel 1  Perkembangan PDRB per kapita tanpa minyak dan gas enam provinsi di  Pulau Jawa tahun 2005-2009 (ribu rupiah)
Tabel  2    Pertumbuhan  ekonomi  enam  provinsi  di  Pulau  Jawa  tahun  2006-2010  (persen)  Provinsi  Tahun  Rata-rata   2006-2010 2006 2007 2008 2009 2010  Banten  5,57  6,04  22,53  4,69  5,94  8,95  DKI Jakarta  5,95  6,44  6,23  5,02  6,51  6,03  Ja
Tabel 3  PDRB per kapita tanpa minyak dan gas kabupaten/kota di Provinsi Jawa  Tengah tahun 2010
Tabel  4    PDRB  per  kapita  dan  indeks  tata  kelola  ekonomi  daerah  lima  kabupaten/kota tertinggi dan terendah di Jawa Tengah tahun 2007  Pering kat  Kabupaten/Kota  PDRB per  kapita (Rp)  Peringkat  Kabupaten/Kota  Indeks TKED  1  Kudus  35.615.21
+7

Referensi

Dokumen terkait

Rencana struktur ruang wilayah terdiri atas a) rencana sistem pusat pelayanan; dan b) rencana sistem jaringan prasarana. Rencana sistem pusat pelayanan terdiri atas

Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara media sosialisasi dan sikap WUS dengan perilaku deteksi dini kanker serviks, sehingga diperlukannya inovasi baru yang dapat

 MIKROSKOPIS : Massa tumor terdiri atas sel-sel tumor berbentuk bulat / polihedral, tersusun padat, difus, inti hiperkromatik, aiantaranya terdapat jaringan ikat

Teori khusus terdiri dari, sistem informasi akuntansi persediaan, pengertian persediaan fungsi persediaan, jenis persediaan, dokumen yang terkait dengan persediaan,

Pengamanan komputer untuk menjaga agar data pada sistem komputer dapat siap digunakan oleh pengguna yang mempunyai otoritas menggunakan

Menganalisis pengaruh investasi, tenaga kerja, ekspor, inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi sektor pertanian dan sektor industri baik secara simultan maupun secara parsial

sebahagian besar daripada KIR yang telah terlibat dalam berkongsi manfaat aktiviti dan program di bawah SPKR memaklumkan bahawa mereka tidak menerima sebarang kemudahan dari

BPRS se-Provinsi Lampung berdasarkan hasil perhitungan regresi dan temuan lapangan maka yang dilakukan oleh BPRS yang terdapat di Provinsi Lampung mengenai