Kata Pengantar
Dalam rangka mendukung program Kementerian Pertanian
menuju terwujudnya pertanian unggul berkelanjutan yang berbasis
sumberdaya lokal serta untuk meningkatkan kemandirian pangan,
nilai tambah, daya saing, ekspor dan kesejahteraan petani, Badan
Litbang Pertanian mulai tahun 2011 mencanangkan Model
Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi (MP3MI) sebagai
program pembangunan pertanian, dalam rangka meningkatkan
jankauan kegiatan diseminasi melalui spektrum diseminasi multi
channel (SDMC).
Spirit
pengembangan
M-P3MI
didasari
keberhasilan
PRIMATANI yang telah terbukti mampu menjadi pendorong utama
pertumbuhan dan perkembangan usaha dan sistem agribisnis
komoditas pertanian di berbagai daerah.
M-P3MI merupakan suatu konsep diseminasi inovasi yang
tidak hanya fokus dalam percepatan penyebaran inovasi pertanian,
tetapi juga memperluas dan memperbesar spektrum diseminasi.
Samarinda, April 2012
Kepala BPTP Kaltim
Daftar Isi
Kata Pengantar ... iI
Daftar Isi ... iiI
Daftar Gambar ... iii
Pendahuluan ... 1
Konsep dan Strategi Pelaksanaan M-P3MI ... 3
1. Konsep Model ... 3
2. Strategi Pendekatan Model ... 4
3. Tujuan ... 4
4. Keluaran dan Manfaat ... 4
5. Sasaran ... 5
Indikator Kinerja ... 6
Rancangan Program ... 7
1. Fase I : Inisiasi Model ... 7
2. Fase II : Pengawalan Teknologi ... 12
3. Fase III : Pengembangan ... 16
4. Fase IV : Pemasalan ... 16
Road Map ... 17
Organisasi Pelaksana, Pembiayaan dan Jadual Kegiatan ... 21
1. Organisasi Pelaksana ... 21
2. Pembiayaan ... 23
3. Jadual Kegiatan ... 23
Daftar Pustaka ... 24
Daftar Gambar
Gambar 1. Saluran Penyampaian Informasi Teknologi ... 15
Gambar 2. Spektrum Diseminasi Multi Channel ... 19
TIM PENYUSUN
Penanggung
Jawab
: Dr. Ir. Muhammad Hidayanto, MP.
Kepala Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Kalimantan Timur
Ketua
: Dhyani Nastiti P., SP., MP.
Ketua Pelaksana M-P3MI
Anggota
: Ir. Nurbani
Ir. Agus Heru W., M.Sc
Desain Cover dan Layout : Bagus Indarto. S, A.md
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kaltim
Jl. Pangeran M. Noor, Sempaja
Telp.
: (0541) 220857, 220691
Fax.
: (0541) 220857
Samarinda, 75119
Email :
[email protected]
I. Pendahuluan
Pembangunan sektor pertanian tidak dapat dipisahkan dengan
pembangunan perdesaan, karena pembangunan perdesaan adalah
prasyarat bagi upaya peningkatan pendapatan masyarakat petani
melalui optimalisasi penggunaan sumberdaya pertanian. Dengan
tercapainya kondisi sosial ekonomi yang lebih baik, peningkatan
pemerataan dan pertumbuhan ekonomi di perdesaan untuk
tercapainya kesejahteraan petani.
\
Dukungan teknologi pertanian untuk pengembangan pertanian
di perdesaan telah tersedia melalui jasa penelitian maupun
pengkajian yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian. Sebagian
teknologi tersebut telah tersebar di tingkat pengguna dan
stakeholder, namun pengembangannya ke target area yang lebh luas
perlu dilakukan upaya percepatan.
Sampai saat ini, program tersebut telah mampu menyebarkan
inovasi teknologi ke tingkat pengguna dan pengambil kebijakan di
daerah. Sejumlah inovasi diantaranya telah digunakan sebagai
tenaga pendorong utama pertumbuhan dan pengembangan usaha
agribisnis di perdesaan.
Dalam rangka mendukung program Kementerian Pertanian
menuju terwujudnya pertanian unggul berkelanjutan yang berbasis
sumberdaya lokal serta untuk meningkatkan kemandirian pangan,
nilai tambah, daya saing, ekspor dan kesejahteraan petani, Badan
Litbang Pertanian mulai tahun 2011 mencanangkan Model
Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi (MP3MI) sebagai
program pembangunan pertanian, dalam rangka meningkatkan
jangkauan kegiatan diseminasi melalui spektrum diseminasi multi
channel (SDMC).
Implementasi program tersebut di lapang bebrbentuk unit
percontohan berskala pengembangan berwawasan agribisnis. Unit
percontohan bersifat holistik dan komprehensif meliputi aspek
perbaikan teknologi produksi, pasca panen, pengolahan hasil, aspek
penguatan kelembagaan sarana pendukung agribisnis. Dengan
demikian diharapkan proses pembelajaran dan diseminasi teknologi
berjalan secara simultan, sehingga spektrum diseminasi menjadi
semakin meluas.
Unit percontohan M-P3MI iitu sekaligus berfungsi sebagai
laboratorium lapang, juga sebagai ajang kegiatan pengkajian, untuk
perbaikan teknologi dan perekayasaan kelembagaan pendukung
agribisnis.
Dukungan
pengkajian
ini
dibutuhkan
untuk
mengantisapasi perubahan lingkungan biofisik dan sosial ekonomi
yang berkembang sangat dinamis. Selama proses ujicoba atau
pengkajian diharapkan mendapat umpan balik untuk penyempurnaan
model pengembangan.
M-P3MI adalah suatu Model Pengembangan Pertanian
Perdesaan Melalui Inovasi. M-P3MI merupakan suatu modus
kegiatan diseminasi melalui suatu percontohan konkrit di lapang.
Kegiatan ini merupakan suatu kegiatan peragaan inovasi teknologi,
melibatkan satu poktan atau gapoktan. Peragaan inovasi yang
dilakukan meliputi aspek teknis dan aspek kelembagaan.
Aspek teknis meliputi teknik budidaya tanaman atau ternak
sesuai komoditas yang dikembangkan dari poktan atau gapoktan
contoh. Aspek kelembagaan meliputi pemberdayaan poktan dan
gapoktan,
pemberdayaan
kelembagaan
pendukung
termasuk
kelembagaan pasar (input – output).
Pembinaan di lapang dilakukan secara gradual atau bertahap
setiap tahun, sehingga pada batas waktu tertentu (3 hingga 5 tahun)
terbentuk suatu model percontohan pertanian yang berwawasan
agribisnis.
II. Konsep dan Strategi Pelaksananaan M-P3MI
1. Konsep Model
Fokus M-P3MI adalah model percontohan, untuk tahap selanjutnya
dilakukan pemasalan inovasi sehingga arahnya menuju kepada
perluasan jangkauan penggunaan inovasi.
M-P3MI merupakan wahana untuk mengintroduksikan dan
memperluas penerpan teknologi dan kelembagaan unggul yang
dihasilkan Badan Litbang Pertanian. Inovasi teknologi yang
diujicobakan dalam unit percontohan M-P3MI merupakan teknologi
matang dan siap digunakan pada skala pengembangan serta
mempunyai potensi pemberian dampak terhadap penggunaaan
sumberdaya yang lebih optimal untuk memaksimumkan pendapatan
petani di perdesaan.
Kriteria teknologi matang yang diujicobakan adalah sebagai berikut :
Mampu menyelesaikan masalah menyelesaikan masalah teknis
penting di wilayah tersebut.
Membantu petani untuk memenuhi permintaan pasar.
Terbukti
dapat
diadaptasikan
secara
lokal
dan
dapat
diadaptasikan pada kondisi lingkungan, budaya, sosial ekonomi,
dan biofisik tertentu atau spesifik.
Teknologi tersebut memiliki dampak signifikan terhadap
peningkatan mata pencaharian keluarga petani dan masyarakat
di sekitarnya.
Input (fisik dan jasa) yang dibutuhkan untuk menerapkan
teknologi tersebut tersedia secara lokal dan terjangkau oleh
petani.
2. Strategi Pendekatan Model
1) Dalam kawasan spesifik lokasi berbasis sumberdaya lokal
dengan pendekatan agribisnis.
2) Dilaksanakan secara partisipatif dalam perencanaan dari bawah
melalui pemberdayaan masyarakat petani.
3) Pemilihan komoditas dan inovasi teknologi yang dikembangkan
ditentukan dan dibangun oleh masyarakat secara musyawarah
berdasarkan potensi dan pasar, serta berbasis pada masalah
pengembangannya.
4) Dukungan infrastruktur pertanian menjadi prasyarat utama dan
menjadi
tanggung
jawab
Pemerintah
Daaerah/Dinas
Terkait/Petani.
5) Bantuan input produksi hanya pada tahap awal pelaksanaan
penerapan teknologi, dinilai sebagai pinjaman yang harus
dikembalikan untuk digunakan sebagai modal bergulir kelompok.
3. Tujuan
Tujuan utama M-P3MI adalah untuk mepercepat arus diseminasi
teknologi,
memperluas
spektrum
atau
jangkauan
sasaran
penggunaan
teknologi
berbasis
kebutuhan
pengguna,
dan
meningkatkan kadar adopsi teknologi inovatif Badan Litbang
Pertanian
serta
untuk
memperoleh
umpan
balik
untuk
penyempurnaan model pengembangan.
4. Keluaran dan Manfaat
Keluaran akhir dari M-P3MI adalah Model Pembangunan Pertanian
Perdesaan dengan mengoptimalkan penggunaan sumbeerdaya
pertanian di perdesaan.
Manfaat yang diharapkan adalah :
a. Terjadinya percepatan penyebaran inovasi pertanian yang
dihasilkan
badan
Litbang
Pertanian
dalam
mendukung
pengembangan sistem dan usaha agribisnis.
b. Terjadinya perluasan jangkauan penggunaan teknologi kepada
berbagai pengguna utama dan pengguna usaha di sektor
pertanian dalam jangka waktu relatif singkat.
5. Sasaran
Meningkatnya produksi pertanian unggulan di perdesaan menuju
pencapaian swasembada berkelanjutan.
Meningkatnya nilai tambah, daya saing dan ekspor berbagai usaha
agribisnis di perdesaan dengan tumbuh kembangnya industri hilir
pertanian yang berbasis sumberdaya lokal dengan suntikan inovasi
teknologi dan manajemen agribisnis.
Optimalisasi penggunaan sumberdaya pertanian di perdesaan untuk
memaksimumkan pendapatan dan kontribusi sub sektor pertanian
terhadap total pendapatan petani.
Semakin banyak jumlah petani atau peternak yang mengadopsi
teknologi dalam waktu siongkat, melalui penggunaan dan
pemanfaatan berbagai channel diseminasi.
•
Meningkatnya produksi pertanian unggulan di perdesaan menuju
pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan.
•
Meningkatnya nilai tambah, daya saing dan ekspor berbagai
usaha agribisnis di perdesaan.
•
Optimalisasi penggunaan sumberdaya pertanian di perdesaan.
•
Semakin banyak jumlah petani atau peternak yang mengadopsi
III. Indikator Kinerja
Untuk mengukur keberhasilan penerapan M-P3MI di lapangan perlu
indikator kinerja, meliputi aspek penggunaan input, proses, output,
outcome, benefit dan dampak.
•
Produk pertanian memenuhi kualitas untuk mengisi permintaan
pasar
•
Produk memiliki spesifikasi karakteristik yang diinginkan oleh
konsumen akhir (quality assurance)
•
Mengadopsi teknologi paling mutakhir pada seluruh fungsi mulai
dari usahatani hingga industri pengolahan (modernisasi)
•
Menciptakan nilai tambah
•
Tumbuh-berkembang secara berkelanjutan atas kemampuan
sendiri (kemandirian progresif).
•
Tumbuhnya tokoh-tokoh pembaharu agribisnis setempat yang
mampu mendorong kerja sama antar pelaku agribisnis dari
segmen yang berbeda.
•
Mampu mengantisipasi, mengadopsi, dan menyesuaikan diri
terhadap konjungtur ekonomi (tangguh).
•
Mampu menghadapi persaingan yang ketat di pasar dunia
(memiliki keunggulan kompetitif).
IV. Rancangan Program
Perancangan M-P3MI dilakukan secara sistematis ke dalam empat
fase yang masing-masing fase terdiri dari beberaapa tahapan.
1. Fase I : Inisiasi Model
1) Penentuan Lokasi
Pemilihan lokasi sangat menentukan keberlangsungan kegiatan
M-P3MI. Lokasi harus dipilih memenuhi kriteria yang tepat
menjadi
prasyarat
untuk
mendorong
keberhasilan
dan
pencapaian tujuan.
Kriteria pemilihan lokasi dan Poktan/Gapoktan adalah sebagai
berikut :
a. Sentra produksi atau kawasan prioritas pengembangan
komoditas oleh Pemda setempat. Dalam hal ini, lokasi
ditempatkan bersinergi dengan program strategis Kemtan
seperti Primatani, PUAP, SLPTT, PSDSK, P2KH, FEATI dan
LM3.
b. M-P3MI
bisa
ditempatkan
di
salah
satu
lokasi
penyelenggaraan program strategis yang dinilai memiliki
perpektif pengembangan ke depan. Di lokasi eks Primatani,
atau di salah satu program strategis kemtan lainnya seperti
yang telah dikemukakan.
c. Letak M-P3MI harus strategis, baik dari aspek jarak maupun
aksesibiltas, mudah dijangkau sehingga mudah melakukan
advokasi kepada Pemda, Asosiasi petani, LSM, Perguruan
Tinggi, swasta, anggota DPRD, camat dan kepala desa.
d. Poktan/Gapoktan yang akan melaksanakan percontohan
dipilih dari yang sudah atau sedang ada kegiatan program
pemda, atau program lainnya seperti PUAP, FEATI, P4MI,
dan lain-lain.
Dari
sisi
agroekosistem,
M-P3MI
difokuskan
di
tiga
agroekosistem yaitu lahan sawah, lahan kering dan lahan
pasang surut. Sedangkan berdasarkan basis komoditas
difokuskan pada komoditas pangan, hortikultura, perkebunan
dan peternakan.
2) Identifikasi Permasalahan
Kegiatan ini dilakukan selain untuk menjadi langkah untuk
mencarikan solusi pemecahan permasalahan yang dihadapi
petani dan pelaki agribisnis juga sekaligus untuk merancang
dan memperbaiki teknologi petani (existing technology).
Jenis data dan informasi yang dikumpulkan pada saat
identifikasi permasalahan adalah sebagai berikut :
Keragaan data bio-fisik dan sosial ekonomi petani ; Data
bio-fisik misalnya topografi, sumber air permukaan, pola
curah hujan, jenis lahan atau Rumah. Data sosial ekonomi,
misalnya akses, transportasi, struktur keluarga petani,
struktur penguasaan lahan pertanian.
Keragaan existing teknologi misalnya teknologibudidaya
tanaman atau ternak, pola tanam dan pola usahatani yang
biasa dilakukan petani.
Keragaan existing produktivitas usahatani yang dilakukan
petani, pendapatan petani dan sumber pendapatan petani
setahun terakhir.
Keragaan
existing
kelembagaan
kelompok
petani,
kelembagaan pasar sarana produksi, kelembagaan pasar
hasil pertanian, kelembagaan kredit pertanian.
Potensi,masalah dan peluang pengembangan pertanian.
Potensi meliputi kemungkinan dilakukan intensifikasi,
diversivikasi produk atau usaha dan integrasi dalam usaha
lain. Sedangkan peluang adalah kemungkinan untuk
menambah skala usaha akibat dari adanya peluang pasar
atau permintaan. Masalah termasuk masalah teknis dan
sosial ekonomi.
perancangan model berbasis komoditas unggulan, diversifikasi
usaha (vertikal horisontal)
Pada M-P3MI yang berbasis budaya tanaman, panyusunan
model diawali dengan pola tanam termasuk peningkatan IP.
Inovasi yang perlu diperkenalkan mencangkup inovasi
teknologi dan kelembagaan. Inovasi teknologi diarahkan
pada upaya untuk menghasilkan produk yang berdaya saing
di pasar domestic (teknologi budidaya/prapanen dan pasca
panen), dan diversifikasi vertical (pengolahan hasil) sesuai
kebutuhan pasar.
Pada
M-P3MI
berbasis
integrasi
tanaman–ternak
(disersifikasi horisontal), inovasi yang diperkenalkan intinya
sama dengan M-P3MI yang berbasis tanaman yaitu
bermuatan teknologi dan kelembagaan.
Pada integrasi ini inovasi teknologi diarahkan pada upaya
mengoptimalkan sumber daya petani. Dalam hal ini pada
usaha ternak dikembangkan teknologi untuk menghasilkan
pupuk kandang dan biogas. Pupuknya dimanfaatkan untuk
tanaman dan biogas sebagai bahan bakar. Dari tanaman ,
limbahnya untuk pakan ternak.
Inovasi kelembagaan, utamanya diarahkan pada aspek
pemberdayaan poktan/gapoktan, kelembagaan pasar input
atau output dan permodalan usaha serta kemitraan dengan
pihak lain (pemilik modal dan pedagang) .
Pada saat mendisain model perlu melibatkan berbagai pihak
terkait meliputi petani/kontak tani, pemda setempat, dan
pihak lain yang berkepentingan yang mampu menunjang
kegiatan usaha agribisnis pedesaan. Sumber teknologi
dengan memanfaatkan hasil penelitian, pengkajian atau
lembaga lai diluar Badan Litbang Pertanian.
4) Implementasi Model
Disain atau rancangan M-P3MI yang telah mendapat
dukungan berbagai pihak selanjutnya diimplementasikan
dilapangan dalam bentuk Unit Percontohan yang berskala
pengembangan dan berwawasan agribisnis.
Skala pengembangan disesuaikan dengan basis komoditas
yang diusahakan. Skala percontohan bertujuan agar pihak
pengguna/stakeholder yakin bahwa tekhnologi tersebut mampu
beradaptasi baik terhadap lingkungan bio-fisik sosial ekonomi
petani.
Agar spektrum diseminasi teknologi yang diuji cobakan
semakin luas, ada dua kondisi yang harus dipenuhi :
Pertama,
tekhnologi
yang
didiseminasikan
harus
kompatibel dengan permasalahan petani yang sedang dihadapi,
atau tekhnologi yang didemontrasikan merupakan tekhnologi
yang mampu memecahkan permasalahan petani. Disamping itu
tekhnologi harus bersifat tepat guna, menguntungkan, sesuai
dengan kebutuhann, tidak rumit, hasilnya nyata, biaya murah
dan teruji.
Kedua, untuk menjamin tingginya efektivitas adopsi,
khususnya bagi petani dengan pengetahuan yang relatif
rendah, adalah melalui peragaan langsung di lapangan
menggunakan percontohan dengan skala pengembangan.
Perluasan spectrum diseminasi suatu tekhnologi dapat
menggunakan beberapa agen atau media. Agen yang dapat
digunakan adalah agen yang bersifat formal dan atau informal.
Agen formal misalnya para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)
yang ada disetiap desa, petugas pertanian dari tingkat provinsi,
kabupaten hingga kecamatan.
Agen informal adalah, petani, kontak tani, pemuka agama
tokoh atau orang yang berpengaruh didesa, kios saprodi yang
ada didesa atau tingkat kecamatan atau kabupaten, lembaga
swadaya atau perkumpulan yang ada di desa, seperti arisan,
Memperluas spectrum percepatan inovasi teknologi dapat
dilakukan
melalui
petani
atau
kontak
tani,
dengan
menggunakan pendekatan Farmer Empowerment Through
Agricultural and Tekhnology Information (FEATI). Pendekatan
ini melalui pemberdayaan petani khususnya petani kooperator
pelaksana percontohan, sehingga mereka mampu menjadi
Penyuluh Swadaya di lingkungannya. Dengan mampu mencetak
petani menjadi Penyuluh Swadaya, diharapkan proses
diseminasi kepada petani lain dalam satu target sasaran
pengembangan (petani/peternak dalam desa, luar desa hingga
desa luar kecamatan) akan berjalan secara konsisten bertahap
dan alami.
Percepatan inovasi tekhnologi dapat juga melalui
penggunaan pola P4MI (Program Peningkatan Pendapatan
Petani Melalui Inovasi). Melalui wadah KID (Komisi Investasi
Desa) yang dibentuk secara musyawarah, beranggotakan para
petani, tokoh masyarakat dan perangkat desa. Tahapan
percontohan tekhnologi yang didemonstrasikan dilaksanakan
oleh KID, sehingga proses pembelajaran langsung kepada
anggota KID yang terlibat.
Percontohan
yang
akan
dikerjakan
direncanakan,
dilaksanakan dan diawasi secara bersama-sama oleh anggota
KID lapangan. Melalui pendekatan ini petani merasa memiliki
program
tersebut
sehingga
mereka
menjadi
semakin
bertanggung jawab dalam mencapai tujuan . Dengan demikian
secara otomatis petani pelaksana percontohan juga mampu
menjadi penyuluh Swadaya di lingkungannya.
Tujuan menggunakan berbagai channel diseminasi adalah
agar diseminasi teknologi kepada pengguna dapat dipercepat.
Percepatan adopsi suatu tekhnologi, dicirikan oleh dua hal
yaitu : percepatan atau perpendekan waktu adopsi, perluasan
jangkauan atau perbanyakan adopter atau kombinasi dari
keduanya.
Agar pelaksanaan percontohan yang diselenggarakan
sesuai rencana, maka pada tahapan ini dilakukan monitoring
dan evaluasi (Monev). Inti kegiatan yang di monev diarahkan
pada aspek teknis, social ekonomi dan kelembagaan.
Selama dilakukan pengujian yang dimotori oleh BPTP,
dibutuhkan dukungan dan peran aktif Pemda setempat ,
swasta, petani, kelompok tani dan Gapoktan, dukungan dari
Badan
Litbang
Pertanian,
sampai
terwujudnya
model
pengmbangan pertanian perdesaan berwawasan agribisnis.
2. Fase II : Pengawalan Teknologi
Fase
pengawalan
tekhnologi
dilakukan
pada
tahap
pengembangan model di tingkat lapang, disesuaikan dengan keadaan
bio-fisik dan social ekonomi petani dan lingkungan pasar. Sehingga
kegiatan ini masih berada dalam koridor tugas pokok dan fungsi
(tupoksi) Badan Litbang Pertanian.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap pengawalan model, secara
simultan juga dilakukan promosi, advokasi kepada berbagai pihak
meliputi Pemerintah Daerah, Anggota DPRD, Perguruan Tinggi, LSM,
Asosiasi Petani Camat dan Kepala Desa.
Untuk mendukung terjadinya percepatan pengembangan model,
dilakukan melalui berbagai channel dengan konsep Spektrum
Diseminasi Multi Channel (SDMC) (Gambar 2)
Tahapan kegiatan pengembangan model percontohan, meliputi :
1) Melakukan kegiatan intensifikasi komoditas unggulan yang dipilih,
dengan jalan mempersempit terjadinya yield gap melalui
peningkatan produktivitas per satuan unit atau peningkatan
efisiensi usaha, sehingga daya saing produk tersebut meningkat di
pasaran.
2) Melakukan diversifikasi, yaitu melalui peningkatan Indek
Pertanaman (IP) bagi tanaman semusim, atau meningkatkan nilai
3) Optimalisasi penggunaan sumberdaya pertanian yang dimiliki
petani,
melalui
integrasi
dengan
usaha
lainnya
yang
memungkinkan secara bio-fisik dan social ekonomi.
4) Meningkatkan pemberdayaan kelembagaan pendukung usaha
agribisnis meliputi : pemberdayaan kelompok tani, kelembagaan
pasar input maupun output. Kelembagaan input misalnya dengan
memproduksi benih sendiri (sebagai penangkar benih) bila
ketersediaan benih tingkat petani terbatas/sulit didapat, atau
membeli kebutuhan sarana produksi yang dibutuhkan secara
kelompok. Kelembagaan pasar output, misalnya membentuk
kelompok penjual hasil secara bersama agar posisi tawar
(bargaining position) petani menjadi meningkat. Inisiasi kemitraan
dengan pihak lain, missal kemitraan penyediaan modal tunai atau
input produksi, kemitraan pemasaran melalui MOU dengan pihak
pembeli.
5) Promosi dan Advokasi
Untuk meningkatkan spectrum diseminasi tekhnologi yang
dicontohkan pada skala percontohan kepada Poktan dan Gapoktan
lainnya, perlu dilakukan melalui promosi dan advokasi.
Kegiatan advokasi ini sangat penting dilakukan sebagai upaya
promosi kegiatan yang dilakukan sebagai upaya promosi kegiatan
yang dilakukan kepada pengguna maupun kepada pemangku
kepentingan di daerah meliputi Pemerintah Daerah, Anggota
DPRD, Perguruan Tinggi, LSM, Swasta, BUMN, Asosiasi Petani,
Camat dan Kepala Desa.
6) Time frame untuk mendapatkan model pengembangan tekhnologi
berwawasan agribisnis dapat dilakukan alam jangka waktu
menengah (3 tahun) hingga jangka panjang (5 tahun). Time
frame ini akan sangat tergantung kepada jenis komoditas
unggulan yang akan dikembangkan.
Selama
proses
pengawalan
percontohan
lapang,
perlu
dikumpulkan data dan informasi yang relevan antara lain :
Data input output setiap cabang usahatani, yaitu analisis
usahatani setiap komoditas atau cabang usahatani yang
tekhnologinya
diperbaiki melalui
kegiatan
percontohan,
cakupan waktunya bias musiman atau tahunan.
Perkembangan kelembagaan
pendukung,
meliputi
data
perkembangan atau kemajuan dari kelembagaan kelompok
tani, kelembagaan pasar sarana produksi, kelembagaan pasar
hasil pertanian, kelembagaan keredit usahatani, perkembangan
dalam satu tahun anggaran. Kelembagaan ini bekembang
karena adanya intervensi pengkaji yang dilakukan selama
proses kajian berlangsung.
Pengembangan respon petano kooperator da non kooperator,
meliputi
data
mengenai
presepsi
pengguna
maupun
stakeholder tentang tekhnologi yang sedang dikembangkan.
Tujuannya untuk mendapatkan umpan balik guna perbaikan
tekhnologi yang sedang didemonstrasikan,
Perkembangan dukungan dari Pemda setempat, meliputi data
perkembangan dukungan Pemda setempat dalam hal ini
kontribusi Dinas Pertanian, baik berupa bantuan material,
dukungan pengembangan tekhnologi ke target area lain dan
dukungan lainnya.
Perkembangan dukungan dari LSM, pihak swasta atau
perorangan misalnya parktisi agribisnis, berupa material,
dukungan pengembangan tekhnologi atau promosi tekhnologi,
serta dukungan lainnya dalam penyebaran tekhnologi kepada
pengguna lainnya.
Perkembangan kemitraan dengan pihak lain, data dukung dari
pihak mitra dalam pengembangan teknologi tersebut, baik dari
mitra formal misalnya Dinas Pertanian setempat seperti BPSB,
Balai Benih Induk, atau pihak swasta dalam penyediaan kredit
usahatani dan sarana produksi pertanian atau dalam hal
pemasaran hasil.
pelaksanaan dalam satu tahun berjalan dan jumlah peserta
atau tamu dan asalnya dari setiap kegiatan tersebut.
Untuk
mengungkap
perkembangan
kunjungan
pelaku
agribisnis lainnya, data yang dikumpulkan adalah frekuensi
pelaksanaan selama setahun berjalan, dan jumlah peserta dan
siapa yang datang dari setiap kegiatan tersebut.
Data diatas penting dikumpulkan dan di analisis untuk
mengetahui perkembangan keberhasilan yang telah dicapai dari
setiap kegiatan, serta sebagai kegiatan, serta sebagai feedback
untuk memperbaiki teknologi yang sedang dikembangkan bila
dibutuhkan.
3. Fase III : Pengembangan
Fase ini merupakan tahap Pengembangan Kawasan Agribisnis
ke target sasaran yang lebih luas, sebagai wujud pemasalan dari
pnerapan model dan sekaligus merupakan langkah keberlanjutan
(exit strategy).
Dalam fase pengembangan model ini, peran utama berada di
pihak Direktorat Jenderal Teknis terkait sesuai komoditas unggulan
yang dikembangkan, Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Perkebunan,
Ditjen Peternakan, dan Ditjen Hortikultura serta Dinas Pertanian,
Kabupaten hingga BPP. Posisi Badan Litbang Pertanian dalam fase ini
bertindak sebagai narasumber dalam mendukung penyediaan
teknologi yang dibutuhkan dan mengawal penerapannya di lapangan.
Penyelenggaran Program M-P3MI ini secara diagramatis
digambarkan dalam bagan alir (Gambar 3)
4. Fase IV : Pemasalan
Model yang telah teruji keunggulannya dari aspek teknis,
ekonomis, social dan aspek kelembagaan, dilakukan pemasalan
pengembangannya ke target area yang lebih luas.
Pemasalan yang dimaksud adaalah mempromosikan dan
mereplikasi model dalam wujud pengembangan model percontohan
kesasaran yang lebih luas. Tujuan dari pemasalan model tersebut
adalah untuk mendukung pencpaian tujuan pembangunan pertanian
kea rah terwujudnya pertanian unggulan berkelanjutan yang berbasis
sumberdaya local, meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah,
daya saing, ekspor dan kesejahteraan petani .
V. ROAD MAP
URAIAN TAHUN I II III IV V TUJUAN Penentuan lokasi Identifikasi database lokasi Perencanaan Model Pengembangan Pertanian Perencanaan model pengembangan mendekati model ideal yang direncanakan Penyempurnaa n model pengembangan mendekati model ideal yang direncanakan Model ideal pengembangan pertanian sesuai dengan yang direncanakan Mendapatkan model yang siap untuk dikembangkan (masalisasi model)MANFAAT Data dasar
untuk mengukur perkembangan kebrhasilan implementasi Sumberdaya pertanian menjadi dimanfaatkan lebih optimal dari sebelumnya Penggunaan sumberdaya pertanian menjadi optimal Penggunaan sumberdaya pertanian menjadi optimal serta pendapatan petani maksimal Model terdiseminasi melalui berbagai channel Target area menerapkan model
OUTPUT Lokasi ujicoba
model Data baseline lokasi Model pengembangan pertanian Data perkembangan ujicoba model Model pengembangan mendekati model ideal yang direncanakan Model pengembangan sesuai dengan model yang direncanakan Model idela siap dikembangan ke target area yang lebih luas
Model yang siap dikembangkan (masalisasi) KEGIATAN Pemilihan lokasi Identifikasi potensi, masalah, peluang lokasi ujicoba model perencanaan/d esain model pengembangan pertanian Implementasi model perbaikkan teknologi komoditas unggulan Implementasi model perbaikkan teknologi komoditas unggulan Optimalisasi sumberdaya pertanian melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi komoditas unggulan, serta integrasi dengan komoditas non unggulan Pemberdayaan kelembagaan Implementasi model perbaikkan teknologi komoditas unggulan Optimalisasi sumberdaya pertanian melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi komoditas unggulan, serta integrasi dengan komoditas non unggulan Pemberdayaan kelembagaan Implementasi model perbaikkan teknologi komoditas unggulan Optimalisasi sumberdaya pertanian melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi komoditas unggulan, serta integrasi dengan komoditas non unggulan Pemberdayaan kelembagaan Permasalahan model pengembangan oleh pemangku kebijakan tingkat pusat dan daerah
kelembagaan pemasaran input dan hasil, serta kelembagaan agribisnis lainnya kelembagaan pemasaran input dan hasil, serta kelembagaan agribisnis lainnya Advokasi/prom osi model ke kelompok tani lainnya, stakeholder (Tingkat Pusat, Dinas TK I dan TK II, kecamatan, desa, agen-agen pembangunan pertanian lainnya, DPRD) Melakukan diseminasi model menggunakan berbagai channel yang sesuai kelembagaan pemasaran input dan hasil, serta kelembagaan agribisnis lainnya Advokasi/prom osi model ke kelompok tani lainnya, stakeholder (Tingkat Pusat, Dinas TK I dan TK II, kecamatan, desa, agen-agen pembangunan pertanian lainnya, DPRD) Melakukan diseminasi model menggunakan berbagai channel yang sesuai