• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEDAULATAN PETANI DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEDAULATAN PETANI DI INDONESIA"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

KEDAULATAN PETANI

DI INDONESIA

(2)
(3)

KEDAULATAN PETANI

DI INDONESIA

Penulis:

Sri Wahyuni

Editor:

Syahyuti

INDONESIAN AGENCY FOR AGRICULTURE RESEARCH AND

DEVELOPMENT (IAARD) PRESS

(4)

Kedaulatan Petani di Indonesia Cetakan 2017

Hak cipta dilindungi undang-undang

© Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2017

Katalog dalam terbitan

Kedaulatan Petani di Indonesia:

Penyusun Sri Wahyuni; Editor Syahyuti, 2017 xii, 94 hlm.: ill.; 14,5 cm

ISBN 978-602-344-162-4

1. Kedaulatan 2. Petani 3. Indikator Inisiasi I. Judul II. Sri Wahyuni

338.439 Pelaksana Penyunting : Tita Dvijati Permata

De

Cover : Yanuar Budi Haristono

sain dan Tata Letak : Edi Ahmad Saubari

Alamat Redaksi:

Sekretariat Badan Litbang Pertanian Jl. Ragunan No 29 Jakarta 12540 Telp 021-7806202 Fax 022-7800644 e-mail: [email protected] ANGGOTA IKAPI NO: 445/DKI/2012

(5)

KATA PENGANTAR

Undang-undang terkini tentang pangan “UU No.18 Tahun 2012” menambahkan aspek kedaulatan pangan yang dalam UU No.7 Tahun 1996 belum tertuang. Tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini merupakan usaha pemerintah dalam terus berusaha memperbaiki pangan rakyat, namun berbagai kritik muncul. Diantaranya kedaulatan pangan dalam RPJMN dikatakan hanya setengah hati, RPJMN 2015-2019 yang disusun pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla tidak sejalan dengan visi kedaulatan pangan, rencana pembangunan dalam urusan pangan hanya terbatas pada peningkatan produktivitas semata.

Buku ini mengemukakan: 1) Konsep kedaulatan pangan berdasarkan UU, berbagai pendapat tentang konsep kedaulatan pangan, kedaulatan petani sebagai konsumen pangan, kedaulatan petani sebagai produsen pangan. 2) Pemahaman instansi terkait terhadap konsep kedaulatan pangan yang ternyata masih bervariasi. Variasi tersebut diantaranya kurangnya pemahaman bahwa petani adalah konsumen sekaligus produsen yang indikatornya perlu dibedakan sesuai status. Sebagai konsumen maka indikator untuk mengevaluasi statusnya adalah indikator ketahanan pangan yang sudah baku, sedangkan sebagai produsen indikatornya dicoba digali sebagai langkah awal. 3) implementasi konsep kedaulatan pangan petani sebagai produsen pangan di wilayah potensial untuk pengembangan pertnian di Indonesia yaitu di lahan kering dan rawa Provinsi Kalimantan Selatan.

Indikator yang dikemukakan diharapkan terus diperbaiki hingga diperoleh indikator baku sebagai indikator Nasional untuk mengevaluasi sampai dimanakah level kedaulatan petani atas usahatani yang diusahakan. Berdasarkan level atau posisi kedaulatan petani yang ada selanjudnya bisa diperoleh peta kedaulatan petani atas usahatani. peta kedaulatan tersebut sekaligus merupakan dasar untuk membuat kebijakan yang lebih operasional dalam mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.

Bogor, April 2017 Penulis

(6)

ULASAN PEMBACA

Menurut penulis, untuk mencapai kedaulatan pangan terlebih dahulu perlu diperhatikan kedaulatan petani atas usahatani yang dikelola, namun kedaulatan petani sebagai produsen belum ada indikator yang baku sehingga penulis menginisiasi untuk merumuskan indikator tersebut.

Berbagai konsep, pendapat umum maupun individu dari instansi terkait pangan dan kritik tentang kedaulatan pangan telah direview dalam buku ini kemudian diramu untuk mendapatkan indikator kedaulatan petani inisiasi (IKPI). Indikator yang telah dirumuskan selanjutnya dicoba diterapkan di dua wilayah potensial bagi pengembangan pertanian yaitu lahan rawa dan lahan kering di Provinsi Kalimantan Selatan.

Diperoleh fakta bahwa petani di kedua wilayah “cukup berdaulat” terhadap indikator sumber daya alam yaitu lahan dengan status pemilik, dimana luas masing-masing sehingga memiliki kontrol terhadap produksi sesuai dengan keinginannya dan mencapai tingkat “sudah berdaulat” untuk indikator sarana produksi yaitu benih, obat-obatan, konsumsi dan pemasaran. Selanjutnya petani di ke dua wilayah juga “cukup berdaulat” terhadap Indikator kedaulatan teknologi sehingga mampu mengatasi indikator kedaulatan lainnya yang “belum berdaulat” seperti kedaulatan terhadap pupuk dan air.

Penulis mengharapkan penyempurnaan KDI menuju indikator Kedaulatan Petani Baku (IKPB) melalui implementasi IKPI di berbagai wilayah dengan sampel yang lebih luas agar diperoleh validitas data yang maksimal.

(7)

Kata Pengantar ... vi

Daftar Isi ... vii

A. Kedaulatan Pangan ... 3

Konsep Kedaulatan Pangan Berdasarkan Undang-Undang ... 3

Berbagai Pendapat Tentang Konsep Kedaulatan Pangan ... 6

Kedaulatan Petani sebagai Konsumen atas Pangan ... 7

Kedaulatan Petani sebagai Produsen atas Sarana Usahatani ... 9

B. Strategi Mewujudkan Kedaulatan Pangan ... 15

Pemahaman Aparat Instansi Terkait Terhadap Konsep Kedaulatan Pangan ... 15

Peran Institusi Terkait dalam Merespon Kebijakan UU Pangan No. 18 Tahun 2012 ... 21

Peraturan Menteri Pertanian... 25

Peraturan Menteri Perdagangan ... 26

Respon Pemerintah Daerah Terhadap UU Pangan No. 18 Tahun 2012 Terkait Keorganisasian dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan ... 27

Persepsi Aparat tentang Indikator Kedaulatan Pangan ... 37

Kebijakan dan Program Terkait Sumber Daya Lahan ... 40

Kebijakan dan Program Terkait Sumber Daya Air ... 44

Kebijakan dan Program Terkait Teknologi Pertanian ... 45

Kebijakan dan Program Terkait Pemenuhan Saprodi ... 47

Kebijakan dan Program Terkait Konsumsi Pangan Masyarakat ... 48

C. Implementasi Konsep Kedaulatan Petani Sebagai Produsen ... 55

Petani Bagaimana yang Dikategorikan Berdaulat: Indikator Kedaulatan Petani Inisiasi (IKPI) ... 55

Penentuan Wilayah Implementasi Indikator Kedaulatan Petani Inisiasi (IKPI) sebagai Produsen ... 57

Level Kedaulatan Petani di Lahan Kering dan Lahan Rawa Kabupaten Tapin, Provinsi Kelimantan Selatan ... 63

(8)

Karateristik Petani... 64

Kedaulatan Petani atas Sumber Daya Alam... 66

Kedaulatan Petani atas Sarana Produksi ... 71

Kedaulatan Petani atas Teknologi ... 74

Kedaulatan Petani atas Produksi (Konsumsi dan Pemasaran) ... 78

Ucapan Terima Kasih ... 84

Daftar Pustaka ... 85

Indeks ... 90

(9)

Karateristik Petani... 64

Kedaulatan Petani atas Sumber Daya Alam... 66

Kedaulatan Petani atas Sarana Produksi ... 71

Kedaulatan Petani atas Teknologi ... 74

Kedaulatan Petani atas Produksi (Konsumsi dan Pemasaran) ... 78

Ucapan Terima Kasih ... 84

Daftar Pustaka ... 85

Indeks ... 90

Biodata ... 92

Gambar 1. Kerangka Pemikiran untuk Mengkatagorikan Kedaulatan Petani ... 56

Gambar 2. Peta Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan ... 60

Gambar 3. Alih fungsi lahan pertanian menjadi industri batu bara di Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan ... 67

Gambar 4. Rumah Petani di Kecamatan Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan ... 70

Gambar 5. Tim Peneliti “Studi Penyusunan Strategi Pemberdayaan Petani Memperkuat Kedaulatan Pangan sebagai Implementasi UU No.18 Tahun 2012”... 84

(10)
(11)

|

1 Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia

(12)
(13)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di Indonesia

A. KEDAULATAN PANGAN

“Perhatian pemerintah kepada petani secara khusus dituangkan dalam UU Pangan No.18 Tahun 2012, namun timbul berbagai pendapat tentang konsep Kedaulatan Pangan. Penyebabnya, masyarakat umumnya belum menyadari bahwa petani di Indonesia adalah produsen sekaligus konsumen sehingga kedaulatan mereka perlu dipilah sesuai dengan status mereka yaitu Petani Sebagai Konsumen Pangan dan atau Petani Sebagai Produsen”. Konsep Kedaulatan Pangan dalam uraian berikut disajikan berdasarkan UU Pangan No.18 Tahun 2012, disertai berbagai pendapat tentang konsep Kedaulatan Pangan, analisa kedaulatan petani sebagai konsumen pangan dan kedaulatan petani sebagai produsen pangan.

Konsep Kedaulatan Pangan Berdasarkan Undang-undang

Undang-undang terkini tentang pangan adalah “UU No.18 Tahun 2012” dimana menambahkan kedaulatan pangan yang dalam UU sebelumnya (UU No.7 Tahun 1996) tidak tertuang. Dalam UU Pangan No.18 Tahun 2012 BAB I, pasal 1 ayat 2 (Republik Indonesia,2012) tentang Kedaulatan Pangan dijabarkan bahwa Kedaulatan Pangan adalah “hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan pangan yang menjamin hak atas pangan bagi rakyat dan bagi masyarakat untuk menentukan sistem pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal”. Fakta ini menunjukkan bahwa pemerintah terus berupaya memperbaiki kondisi pangan masyarakat sekaligus kepada petani dengan menekankan “masyarakat” dalam menentukan sistem pangan. Namun tiga tahun setelah UU Pangan No.18 Tahun 2012 dirilis, muncul berbagai kritik yang puncaknya ketika diimplementasikan program upaya khusus (UPSUS) peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai dengan target swasembada pangan justru oleh mayoritas masyarakat dianggap hanya mengejar target produksi tanpa mempedulikan petani.

Berbagai kritik tersebut diantaranya dimuat dalam (Beritasatu.com, 2015) dengan topik “JKW-JK: Kedaulatan Pangan Setengah Hati dalam RPJMN”, terdapat peningkatan anggaran dan target terkait urusan pangan, tetapi secara garis besar terbatas pada

(14)

Konsep Kedaulatan PanganKonsep Kedaulatan Pangan

peningkatan produktivitas semata sehingga tidak sejalan dengan kedaulatan pangan, yang intinya untuk memanusiakan para produsen pangan Indonesia. Koordinator Aliansi untuk Desa Sejahtera Tejo Wahyu Jatmiko juga mengkritisi RPJMN 2015-2019 yang disusun pemerintah JKW-JK yang menurutnya tidak sejalan dengan visi kedaulatan pangan, karena secara garis besar rencana pembangunan dalam urusan pangan hanya terbatas pada peningkatan produktivitas semata. Guru Besar Ilmu Pertanian IPB, Dwi Andreas Santosa dalam (Bisnis.com, 2015) juga menyayangkan bahwa RPJMN 2015-2019 masih belum memperlihatkan Indonesia akan siap berdaulat dalam halpangan.

Contoh kritik yang dikemukakan diatas berlawanan dengan fakta yang diupayakan pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan, Kementerian Pertanian telah menjabarkan melalui kebijakan pembangunan pertanian dalam program “swasembada padi, jagung dan kedelai”. Target swasembada tersebut dapat dicapai dengan cara menetapkan upaya khusus peningkatan produksi dengan kegiatan antara lain: rehabilitasi jaringan irigasi tersier, penyediaan alat dan mesin pertanian, penyedia dan penggunaan benih unggul, penyediaan dan penggunaan pupuk berimbang, pengaturan musim tanam dengan menggunakan kalender musim tanam, dan pelaksanaan program gerakan penerapan pengelolaan tanaman terpadu (GPPTT). Kegiatan yang ditempuh melalui program UPSUS pajale diatas sangat jelas ditujukan untuk petani (Kridanto, 2015) agar berdaulat, terlebih dengan GPPTT yang diberikan langsung kepada petani melalui kelompok tani. Program GPPTT yang sarat dengan hibah dilaporkan dapat memotivasi petani dilahan kering dan lahan rawa yang semula belum berusaha tani menjadi berusahatani (Sunarsih et. al.,2015).

Kritik yang bermunculan diantaranya juga disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap perbedaan antara Kedaulatan pangan, Kemandirian Pangan dan Ketahanan Pangan. Dalam UU pangan No.18 Tahun 2012 BAB I, pasal 1 ayat 3 dan 4 (Republik Indonesia, 2012) dijelaskan bahwa “Kemandirian Pangan adalah kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi Pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan Pangan yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam,

(15)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat. “Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Penjelasan perbedaan konsep Kemandirian, Ketahanan dan Kedaulatan pangan dapat dicermati berdasarkan kata kunci dan dasar pencapaian tujuan masing-masing program (Tabel 1). Mencermati Tabel 1. Sangat jelas bahwa kedaulatan pangan menekankan adanya kata “Hak” masing-masing untuk Negara, rakyat, dan masyarakat (Petani?).

Tabel 1. Konsep Kemandirian, Ketahanan dan Kedaulatan Pangan, Berdasarkan Kata Kunci, dan Dasar Pencapaian Tujuan

No. Konsep Kata kunci Dasar pencapaian tujuan 1 Kemandirian

Pangan Kemampuan memproduksi pangan dari dalam negeri. Menjamin kebutuhan pangan.

Sistem pangan sesuai potensi sumber daya lokal.

2 Ketahanan

Pangan Kondisi Pangan terpenuhinya Cukup aman, beragam, bergizi,merata, (jumlah dan mutu) terjangkau, tidak bertentangan dengan agama, keyakinan,dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif,produktif secara berkelanjutan). 3 Kedaulatan

pangan Hakdan masyarakat dalam : Negara, rakyat, menentukan kebijakan pangan

Potensi sumber daya alam,

manusia, sosial, ekonomi dan kearifan lokal secara bermartabat. Sumber: Badan Ketahanan Pangan (2015)

(16)

Konsep Kedaulatan PanganKonsep Kedaulatan Pangan

Berbagai Pendapat Tentang Konsep Kedaulatan Pangan

Menurut Patel (2009), kedaulatan pangan adalah “hak masyarakat untuk menentukan pangan dan pertanian mereka sendiri, untuk melindungi dan mengatur produksi pertanian domestik dan perdagangan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, untuk menentukan sejauh mana mereka ingin menjadi mandiri, untuk membatasi pembuangan produk di pasar mereka. Kedaulatan pangan tidak menegaskan perdagangan, melainkan mempromosikan perumusan kebijakan perdagangan dan praktek yang melayani hak-hak masyarakat untuk aman, sehat dan berkelanjutan secara ekologis produksi". Menurut deklarasi Forum untuk Kedaulatan Pangan "Kedaulatan pangan mengutamakan ekonomi, pasar lokal dan nasional serta memberdayakan petani dan pertanian, artisanal petani berbasis keluarga-memancing, penggembala yang dipimpin penggembalaan, dan produksi pangan, distribusi dan konsumsi berdasarkan kedaulatan pangan keberlanjutan sesuai lingkungan, sosial dan ekonomi, mempromosikan perdagangan transparan yang menjamin hanya pendapatan bagi semua orang serta hak-hak konsumen untuk mengontrol makanan dan gizi mereka”. Ini memastikan bahwa hak untuk menggunakan dan mengelola lahan, wilayah, air, bibit, ternak dan keanekaragaman hayati di tangan orang-orang yang memproduksi makanan. Kedaulatan pangan menyiratkan hubungan sosial baru yang bebas dari penindasan dan ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan, orang-orang, kelompok ras, kelas sosial dan ekonomi dan generasi.

Berbagai pendapat tersebut secara prinsip intinya terkandung dalam definisi konsep kedaulatan pangan pada undang-undang pangan No.18 Tahun 2012, bahkan melengkapi dengan perhatian khusus untuk petani sebagai produsen, dan aspek gender. Pendapat yang senada dikemukakan Syahyuti et.al.,(2015), bahwa kedaulatan pangan sebagai strategi dasar untuk melengkapi ketahanan pangan sebagai tujuan akhir pembangunan pangan dimana kedaulatan pangan menekankan perhatian terhadap hak dan akses petani terhadap seluruh sumber daya pertanian. Penulis setuju dengan pernyataan tersebut mengingat tanpa memperhatikan hak dan akses petani sebagai produsen terhadap sumberdaya pertanian maka mustahil ketahanan pangan bisa diwujudkan.

Berdasarkan review yang telah dikemukakan, pendapat penulis tentang Konsep Kedaulatan Pangan adalah sebagai

(17)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia penyempurna konsep ketahanan dan kemandirian pangan atau dengan kata lain, di dalam kedaulatan pangan terkandung ketahanan dan kemandirian pangan. Jadi, kedaulatan pangan adalah Hak Negara, rakyat, dan masyarakat dalam menentukan kebijakan pangan dalam usaha memenuhi pangan dengan Kemampuan memproduksi pangan dari dalam negeri dengan dasar pencapaian tujuan pangan yang cukup (jumlah dan mutu) aman, beragam, bergizi, merata, terjangkau, tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, produktif secara berkelanjutan) dan sesuai dengan potensi sumberdaya alam lokal dengan memperhatikan hak dan akses petani terhadap sumberdaya pertanian berdasarkan aspek gender.

Kedaulatan Petani Sebagai Konsumen Atas Pangan

Kembali mengacu pengertian kedaulatan pangan dalam UU Pangan No.8 Tahun 2012 Pasal 1 Ayat 2 yaitu “hak negara dan

bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan Pangan yang

menjamin hak atas Pangan bagi rakyat dan yang memberikan hak

bagi masyarakat untuk menentukan sistem Pangan yang sesuai

dengan potensi sumber daya lokal”, diperoleh tiga hak individu yang berbeda (kata-kata huruf tebal miring) yaitu negara, rakyat dan masyarakat (petani) yang terlibat dalam menentukan sistem pangan.

Hak Negara/bangsa Indonesia secara mandiri dalam menentukan kebijakan pangan sudah sangat jelas terjamin, terbukti tidak ada negara manapun yang mencampuri urusan kebijakan pangan di Indonesia. Disamping itu Indonesia juga telah bergabung sebagai anggota Asean Economic Community (AEC) yang merupakan ajang strategi meningkatkan kompetisi perdagangan di bidang pangan (Heriawan et al., 2016). Hak rakyat atas pangan sudah sangat jelas dikemukakan dalam konsep ketahanan pangan, dimana indikator ketahanan pangan individu sudah ditentukan dengan jelas (Tabel 2) sehingga status individu, tingkat rumahtangga, dan seterusnya hingga level provinsi bisa diidentifikasi dan disimpulkan pada level mana ketahanan pangan yang telah dicapai, misalnya rawan, rawan sedang atau sangat rawan. Bahkan peta rawan panganpun sudah dibuat dan merupakan tugas Badan Ketahanan Pangan.

(18)

Konsep Kedaulatan PanganKonsep Kedaulatan Pangan

Tabel 2. Indikator Keberhasilan Program Ketahanan Pangan

Indikator Indikator Outcome Ukuran Ketersediaan

pangan 1. Ketersediaan energi/kapita Minimum 2.200 kilokalori/hari 2. Ketersediaan protein/kapita Minimum 57 gram/hari Kemandirian

pangan 3. Ketergantungan impor Persentase impor terhadap kebutuhan Kemandirian

Pangan 4. Ketergantungan impor Persentase impor terhadap kebutuhan Cadangan pangan 5. Jumlah cadangan pangan Minimal untuk 3 bulan Stabilitas harga 6. Perbedaan harga antara

musim panen dan non- panen

Perbedaan maksimum 10% Status gizi 7. Harapan hidup Tahun

8. Kematian bayi Kematian bayi per 1000 kelahiran bayi

9. Anemia gizi besi (AGB) Persen balita dengan kadar Hb<11 gr/dl

10. Gangguan akibat

kekurangan Iodium (GAKI) Persen anak usia sekolah dengan pembesaran gondok 11. Kurang vitamin A Persen balita dengan serum

retinol<20 mikro/dl

12. Balita gizi kurang dan buruk Persen balita gizi kurang dan buruk

13. Angka kecukupan energy Minimum 2.200 kilokalori/hari 14. Angka kecukupan protein Minimum 52 gram/hari Kerawanan pangan 15. Persen capaian AKE Sangat rawan (konsumsi

energi<70%) Kerawanan sedang (konsumsi energi 70-90% AKE)

Diversifikasi

konsumsi pangan 16. Pola pangan harapan 17. Keragaman pangan Skore PPH Indeks entropy Keamanan

pangan 18. Kasus keracunan pangan Jumlah kasus keracunan pangan Sumber: Badan Ketahanan Pangan (2012)

Petani di Indonesia adalah produsen sekaligus konsumen, sebagai konsumen (rakyat, dalam konsep kedaulatan) maka kedaulatan petani perlu dibedakan sesuai dengan status yang disandang. Sebagai konsumen maka indikator kedaulatan petani yang lebih relevan adalah “kedaulatan petani atas pangan” yang notabene adalah indikator ketahanan pangan. Petani sebagai rakyat/konsumen yang berdaulat atas pangan adalah petani yang sudah terpenuhi kebutuhan pangannya sesuai dengan 18 indikator outcome ketahanan pangan. Membedakan kedaulatan petani

(19)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia sebagai konsumen dan produsen sangat penting mengingat kebutuhan yang diperlukan petani berbeda sesuai dengan status yang disandang. Penjelasan ini diharapkan mampu mengatasi berbagai isu yang mempermasalahkan perbedaan ketahanan dan kedaulatan pangan, contohnya (Anonimous 2)2015) “Ketahanan

Pangan Vs Kedaulatan Pangan: Kemana Arah Jokowi “yang isinya mempertanyakan “Sebenarnya apa yang dimaksud dengan kedaulatan pangan, sementara yang sudah maupun akan dilakukan pemerintah justru semakin menjauh dari cita-cita kedaulatan pangan karena hanya menekankan swasembada pangan demi mewujudkan ketahanan pangan sementara kedaulatan pangan berarti juga kedaulatan petani”. Pernyataan tersebut mengandung dua pesan yaitu: bahwa bicara kedaulatan pangan prinsipnya harus mempertimbangkan hak petani, kedua mencerminkan bahwa petani adalah juga konsumen/ rakyat masih terlupakan.

Dalam rangka ikut mendukung pembangunan nasional, Badan Ketahanan Pangan (2013) mempunyai visi tahun 2015-2019, yaitu: “Terwujudnya ketahanan pangan melalui penganekaragaman pangan berbasis sumber daya lokal berlandaskan kedaulatan pangan dan kemandirian pangan”. Keberhasilan ketahanan pangan diharapkan juga menjamin kedaulatan petani (sebagai konsumen) atas pangan. Sekali lagi, keberhasilan ketahanan pangan adalah berarti terwujudnya kedaulatan pangan bagi petani sebagai konsumen dengan indikator ketahanan pangan, sedangkan kedaulatan petani sebagai produsen belum ada indikator yang baku sehingga uraian berikut mencoba menggali “ Indikator Kedaulatan Petani Inisiasi (IKPI) sebagai produsen pangan.

Sebagai produsen pangan, petani memerlukan hak dan akses terhadap sarana dan prasarana dalam berusahatani. Sarana dan prasarana tersebut dimulai dari lahan, air, modal, tenaga kerja, pengetahuan tentang budidaya komoditas yang ditanam mulai dari benih, pupuk, cara tanam hingga panen dan proses pasca panen yang mayoritas memerlukan alat mesin pertanian dan akhirnya produksi untuk dikonsumsi dan dipasarkan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, seberapakah ukuran sarana prasarana yang harus dimiliki petani agar mereka bisa dikatakan berdaulat? Jika ukuran ketahanan pangan seseorang sudah sangat jelas, misalnya untuk energi minimum 2.200 kilokalori/kapita/hari dan protein52

(20)

Konsep Kedaulatan PanganKonsep Kedaulatan Pangan

gram/kapita/hari berapakah standar luas lahan, perolehan air, modal, jumlah tenaga kerja dan sarana prasarana lain yang harus dimiliki petani agar mereka dikatakan atau dikatagorikan berdaulat?.Uraian berikut mencoba menjawab mengacu pada pendapat berbagai pakar.

Beberapa ahli berpendapat bahwa pilar penting kedaulatan pangan adalah kesejahteraan petani. Tidak ada kedaulatan pangan tanpa kedaulatan (baca: kesejahteraan) petani (Simatupang, 2016). Sejahtera adalah suatu kondisi telah terpenuhinya kebutuhan dasar (kecukupan dan mutu pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan, lingkungan bersih, aman dan nyaman, terpenuhinya hak asasi dan partisipasi serta terwujudnya masyarakat beriman dan bertaqwa (Anonimous3), 2016).

Apakah indikator kesejahteraan petani?, Heriawan (2016) memaparkan pemahaman indikator kesejahteraan petani dimulai dengan menganalogkan sejahtera berarti tidak miskin, jika memang demikian maka petani yang sejahtera mereka yang tidak tergolong miskin. Jumlah mereka telah dilaporkan oleh BPS setiap semester, sementara index kesejahteraan petani belum pernah dirilis karena baru disadari dan baru mulai dibahas, difikirkan, diperhtikan.Fakta ini menunjukkan bahwa tidak miskin berbeda dengan sejahtera. Pertanyaan lain yang dikemukakan juga apakah nilai tukar petani relevan sebagai ukuran perubahan kesejahteraan?. Paparan ditutup dengan renungan: betulkah petani kurang sejahtera karena mayoritas penguasaan lahan yang sempit dan kurangnya kebijakan/dukungan pemerintah terhadap subsidi saprodi hingga pemasaran dan pasca panen serta akses teknologi untuk petani. Paparan penutup yang dikemukakan Heriawan (2016) tersebut bisa diartikan bahwa secara implisit luas lahan, kebijakan pemerintah dan akses teknologi merupakan indicator-indikator kesejahteraan petani sebagai produsen. Suharianto (2016) menambahkan bahwa petani belum sejahtera bukan hanya karena penguasaan lahan pertanian yang mayoritas sempit, tetapi juga lantaran pembangunan pertanian terlalu berorientasi pada peningkatan produksi, keterbatasan akses ke sumber daya produktif dan mata rantai perdagangan yang terlalu panjang. Maka perlu dicatat bahwa lagi-lagi lahan, kebijakan pemerintah, akses terhadap sumberdaya produktif merupakan variabel penting jika berbicara tentang kesejahteraan. Opsi lain untuk mengukur kesejahteraan petani dikemukakan oleh

(21)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia Simatupang (2016) dimana kesejahteraan petani dapat dihitung dengan data reguler BPS yaitu status rawan pangan dan gizi, status kemiskinan dan indeks pembangunan manusia keluarga tani. Ditambahkan juga perlunya mengkaji indeks harta aset petani dan indeks kebahagiaan petani di masa depan. Pendapat yang lebih jelas dan secara tersurat/eksplisit menyebutkan para produsen adalah Santosa (2015), dimana ciri-ciri kedaulatan pangan adalah terciptanya harmoni antar petani dan petani dengan alam. Kedua, adanya proteksi pemerintah dan mendorong peran pasar lokal. Ketiga, kedaulatan pangan juga anti paten dan bersifat komunal. Keempat, ramah terhadap lingkungan (rasionalisme hijau) dimana inti kedaulatan pangan, adalah memanusiakan para produsen pangan Indonesia. Sholihatun (2014) menekankan bahwa kedaulatan pangan adalah salah satu pilar penentu keberhasilan program pencapaian ketahanan pangan yang mengarah pada ketahanan nasional dan kemandirian nasional. Pendapat Santoso (2015) dan Sholihatun (2014) ini sudah sangat gamblang bahwa untuk mewujudkan Kedaulatan Pangan adalah mutlak harus memanusiakan produsen pangan yaitu petani, yang merupakan pilar utama dalam mewujudkan Ketahanan Pangan. Sebelum petani berdaulat, produksi pangan tidak akan maksimal. Konsekwensinya ketahanan pangan tentu belum bisadicapai.

Indikator secara rinci yang diperoleh dari pendalaman beberapa konsep kedaulatan, terutama Nawacita dan standard internasional telah diintisarikan oleh Syahyuti et. al. (2015) yaitu lahan, air, sarana produksi (pupuk dan pestisida), teknologi, pemasaran dan konsumsi. Indikator terakhir yaitu konsumsi, ditegaskan oleh Trisnanto (2015), bahwa Kedaulatan Pangan adalah misi mutlak negara agraris. Pemerintah dapat fokus pada revitalisasi irigasi, perbaikan sistem perbenihan, pengelolaan lahan, penguatan SDM dan kelembagaan, penerapan teknologi, dan penguatan industri hilir pertanian. Wibisono (2011) menegaskan bahwa mendata kajian dan pengembangan kedaulatan pangan Indonesia, hendaknya berorientasi pada penguatan ketahanan pangan berbasis sumberdaya lokal dan mengembangkan pangan tradisional secara terkelanjutkan. Serikat Petani Indonesia (2014) memiliki visi Kedaulatan Pangan Indonesia 2014-2024 dimana poin penting dalam visi tersebut adalah pelaksanaan pembaruan agraria dengan mendistribusikan lahan untuk petani. Garis besar visi kedaulatan pangan Indonesia terdiri atas pembaruan agraria, pembangunan

(22)

Konsep Kedaulatan Pangan Konsep Kedaulatan Pangan

penguatan organisasi tani, akses modal dan jaminan pasar bagi petani, serta jaminan sosial untuk petani. Erwidodo (2015) menyatakan bahwa merupakan suatu keniscayaan bagi Indonesia untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional semata. Maka menjadi keharusan adanya komitmen politik negara untuk mengalokasikan anggaran yang cukup untuk perluasaan lahan pangan termasuk pencetakan sawah beririgasi di luar Jawa menggantikan terus berkurangnya lahan pertanian (pangan) di Jawa akibat laju konversi lahan di Jawa yang melaju sangat cepat (Rachmat, 2015). Reorientasi pembangunan pangan diarahkan kepada terbangunnya ketahanan pangan yang mandiri dan berdaulat sebagaimana diamanatkan dalam UU pangan No.18 Tahun 2012 tentang Pangan. Reorientasi pambangunan pangan mencakup:(1) peningkatan fokus pembangunan dari swasembada kepada kemandirian pangan yang berdaulat, (2) membangun budaya pangan lokal, (3) peningkatan partisipasi masyarakat dalam ketahanan pangan, (4) peningkatan komitmen politik pangan,dan(5) membangun keserasian pemerintah pusat dan daerah.

Uraian diatas membuktikan bahwa: 1) Belum ada indikator kedaulatan pangan yang jelas dan rinci untuk petani sebagai produsen. 2) Memberikan gambaran bahwa diperlukan menyusun indikator kedaulatan petani sebagai produsen pangan. Jika terdapat kejelasan bahwa kedaulatan petani sebagai konsumen indikatornya adalah ketahanan pangan sedangkan indikator kedaulatan petani sebagai produsen maka akan lebih mudah memahami program dan mengimplementasikan pembangunan pertanian dalam mewujudkan kedaulatan Pangan. Sebagai contoh, dokumen V Kebijakan dan Program Pembangunan Pertanian 2015-2019 (Kementan, 2014), mencantumkan sasaran strategis adalah meningkatnya ketahanan pangan dimana No.1. Adalah menyediaan pangan pokok dan sasaran No.4 meningkatnya kesejahteraan petani serta memberikan perlindungan dan pemberdayaan petani. Analisis dalam makalah ini diharapkan mampu mengklarifikasi makna ketahanan dan kedaulatan pangan lalu menentukan Indikator Kedaulatan Petani Inisiasi (IKPI) untuk petani sebagai produsen.

(23)

|

13 Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia

|

13 13 B.

(24)
(25)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di Indonesia

B. STRATEGI MEWUJUDKAN KEDAULATAN PANGAN “Diperlukan strategi dalam mewujudkan program Kedaulatan Pangan, untuk itu terlebih dahulu mutlak diperlukan persamaan pemahaman terhadap konsep Kedaulatan Pangan antar individu di lembaga terkait sebagai pelaksana program agar langkah yang ditempuh sinergi. Persamaan pemahaman akan tercermin dari respon masing-masing instansi terhadap UU pangan No.18 Tahun 2012, apakah ada kebijakan yang dirilis di wilayah kerja masing-masing sebagai acuan dalam melaksanakan undang-undang. Kemudian program- program apakah yang diimplementasikan sebagai realisasi dalam merespon UU No. 18 Tahun 2012. Dengan demikian tahapan perencanaan yang disusun fokus pada tujuan yang hendak dicapai. Pelaksanaan suatu program perlu disertai dengan tolok ukur atau indikator sebagai alat untuk mengevalusi sejauhmana tujuan telah dicapai dan langkah ke depan yang harus ditempuh berdasarkan hasil yang diperoleh dari evaluasi, maka perlu diketahui persepsi aparat instansi terkait tentang indikator apa yang dipakai untuk mengevaluasi pencapaian program“. Selanjutnya indikator tersebut perlu diuji melalui implementasi di lapangan agar diperoleh masukan/cara untuk memperbaiki indikator Kedaulatan inisiasi (KDI) yang diimplementasikan.

Pemahaman Aparat Instansi Terkait Terhadap Konsep Kedaulatan Pangan

Informasi tentang pemahaman aparat terhadap konsep kedaulatan pangan digali melalui survei secara ilmiah sehingga diharapkan hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan. Metode survei mengacu pada Wahyu (2014) yang mendefinisikan “Survei digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil. Populasi tersebut bisa berkenaan dengan orang, instansi, lembaga/organisasi dan unit kemasyarakatan lainnya tetapi sumber utamanya adalah orang. Design survei tergantung pada penggunaan jenis kuesioner. Penelitian survei memiliki tigatujuan

(26)

Strategi Mewujudkan Kedaulatan PanganStrategi Mewujudkan Kedaulatan Pangan

utama yaitu menggambarkan keadaan saat itu, mengidentifikasi secara terukur keadaan sekarang untuk membandingkan, menentukan hubungan kejadian yang spesifik”. Pengertian tersebut diacu mengingat dari aspek sampel yang hanya mewawancarai aparat dari instansi terkait langsung dengan kedaulatan pangan yaitu Badan Ketahanan Pangan dan Dinas Pertanian, jumlah provinsi juga tergolong sedikit yaitu hanya tiga (dari seluruh 34 provinsi yang ada di Indonesia) yaitu di kabupaten Tapin-Provinsi Kalimantan Selatan, Kabupaten Sampang di Pulau Masuda - Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Bandung- Provinsi Jawa Barat.

Metode survei juga sesuai untuk menggali informasi yang mampu menggambarkan pertanyaan berikut: 1) Pemahaman aparat instansi terhadap konsep kedaulatan pangan. 2) Peran institusi dalam mewujudkan kedaulatan pangan. 3) Kebijakan pendukung dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan 4) Persepsi aparat tentang indikator kedaulatan pangan. Informasi dikumpulkan melalui wawancara dengan informan kunci di instansi terkait mulai dari tingkat pusat (BKP, SDMP, PU dan BPS), di level provinsi dan di kabupaten (BKP dan Dinas Pertanian). Informasi dilengkapi data

kuantitatif sekunder yang utama diperoleh dari laporan instansi

terkait dilengkapi dengan berbagai referensi dari publikasi yang relefan. Informasi yang diperoleh dianalisis secara deskriptif mengacu pada Sukaca (2013) “penelitian secara deskriptif yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat generalisasi hasil penelitian. Analisis data statistik yang disajikan mencdeakup tabel, grafik, diagram, persentase, frekuensi. Analisis statistik deskriptif mengakumulasikan data secara deskriptif tanpa menguraikan hubungan, menguji hipotesis, bahkan melakukan penarikan kesimpulan. Adapun yang termasuk dalam teknik analisis statistik deskriptif antara lain: 1. Penyajian data dalam bentuk tabel atau distribusi frekuensi dan tabulasi silang. Dengan menggunakan analisis ini maka akan dapat diketahui suatu kecenderungan hasil penelitian, apakah termasuk dalam kategori rendah, sedang, atau tinggi. Hal tersebut juga dapat memudahkan dalam menunjukkan banyaknya data dalam setiap kategori dengan syarat untuk setiap data hanya dapat dimasukkan ke dalam satu kategori. 2. Penyajian data dalam bentuk visual seperti histogram, polygon, ogive, diagram batang, diagram lingkaran, diagram pastel, dandiagram

(27)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia lambang. Penggunaan analisis tersebut adalah untuk mencari ataupun menemukan pola dan hubungan antar variabel dalam penelitian. 3. Perhitungan ukuran tendensi sentral (mean, median, dan modus).

Hasil dari implementasi metodologi yang dikemukakan diperoleh bahwa pemahaman para aparat instansi terkait terhadap konsep “Kedaulatan Pangan” (Sunarsih et. al., 2015), ternyata masih bervariasi, belum diperoleh kesamaan ((Tabel 3). Termasuk pemahaman aparat di tingkat pusat terhadap konsep kedaulatan pangan juga masih beragam. Sampai saat ini, baik di pusat maupun daerah, belum pernah ada forum khusus yang membahas dan mengoperasionalkan konsep kedaulatan pangan. Secara konsep, ketahanan pangan, kemandirian pangan dan kedaulatan pangan selalu muncul bersama dalam UU 18 pangan Tahun 2012. Dari hasil wawancara dengan aparat diperoleh empat pola pemahaman terhadap konsep kedaulatan pangan sebagai berikut.

Tabel 3. Pemahaman Aparat tentang Konsep Kedaulatan Pangan, Tahun 2015

No. Level aparat Pemahaman aparat tentang kedaulatan pangan

Pusat

1. BKP II, III

2. BPSDM I

3. PU I

4. DKP II, III

Provinsi Kalsel Jatim Jabar

5. BKP I I 6. Dinas Pertanian I I 7. Dinas PU I 8. Dinas Pertanian Kabupaten IV IV IV 9. BKP Kabupaten IV IV IV

Sumber: Sunarsih et. al.(2015)

Keterangan: I = Kedaulatan pangan adalah tujuan aikhir; II = Ketahanan pangan merupakan tujuan akhir; III = Kedaulatan pangan adalah otoritas Negara; IV = Kedaulatan pangan memiliki tujuan sama dengan ketahanan pangan

(28)

Strategi Mewujudkan Kedaulatan PanganStrategi Mewujudkan Kedaulatan Pangan

Pertama, kedaulatan pangan diposisikan sebagai tujuan akhir. Sebagian pihak berpendapat bahwa, terwujudnya kedaulatan memang harus melalui tahapan yang dimulai dari ketahanan, lalu mandiri, dan akhirnya berdaulat. Dalam makna ini, kedaulatan pangan dipahami sebagai tujuan paling atas atau paling tinggi. Ketahanan pangan hendaknya tercapai terlebih dahulu dimana pangan bisa diperoleh dari mana saja baik produksi sendiri maupun impor. Tahap kedua terwujudnya kemandirian pangan dimana produksi pangan bertumpu pada kemampuan memproduksi sendiri dan akhirnya kedaulatan pangan merupakan pencapaian terakhir dimana kekuatan memproduksi sendiri sudah stabil dan ditunjang dengan kemampuan lingkungan alam serta lingkungan sosial ekonomi untuk mengakses produksi yang sudah tersedia secara stabil.

Aparat Dinas Pertanian Kalimantan Selatan berpendapat bahwa tugasnya berada di tahap pertama, terkait aspek teknis, yaitu menyediakan atau memproduksi pangan sebagai langkah awal dari kedaulatan pangan. Tugas tahap tertama ini masih perlu ditindaklanjuti setelah pangan tersedia yaitu oleh Badan Ketahanan Pangan yang bertugas menyakinkan bahwa pangan benar-benar sudah tersedia, kemudian terdistribusi dengan merata hingga akhirnya pangan bisa diakses oleh masyarakat dan dikonsumsi sesuai kebutuhkan dan keputusan masyarakat. Diakui dan disadari bahwa tahapan pertama dalam mewujudkan kedaulatan pangan ini hanya akan bisa berlangsung dan berhasil maksimal dengan kerjasama instansi terkait secara sungguh-sungguh, konsisten dan berkelanjutan seperti uraian dalam sub-subbab organisasi. Dengan demikian untuk mencapai level tertinggi (kedaulatan pangan) diperlukan road map atau tahapan, prioritas mana atau apa yang harus disediakan dan dikerjakan terlebih dahulu. Pemahaman yang sama dikemukakan oleh aparat Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat sehingga peningkatan produktivitas pangan merupakan target yangdiprioritaskan.

Kedua, kedaulatan pangan sebagai semangat untuk mencapai ketahanan pangan, jadi tujuan akhir adalah ketahanan pangan. Walaupun tujuan akhirnya sama, namun terdapat perbedaan, yaitu tidak ada pentahapan dalam mencapai tujuan akhir (ketahanan pangan). Kedaulatan pangan dinilai sebagai bagian untuk mencapai kedaulatan pangan. Pemahaman senada ditekankan oleh Badan Ketahanan Pangan Pusat bahwa kedaulatan pangan adalah dasar

(29)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia berfikir atau philosofi dalam mewujudkan ketahanan pangan sehingga tetap menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Ketiga, pemahaman bahwa kedaulatan pangan adalah otoritas negara dalam menentukan sistem pangan. Sesuai dengan makna ini, maka ada pihak yang menyatakan bahwa saat ini sesungguhnya kedaulatan pangan sudah tercapai. Indikatornya adalah pemerintah bebas menyusun kebijakan dan program pembangunan pertanian dan swasembada pangan. Tidak ada negara mana pun secara politik yang dapat mengintervensi pemerintah secaralangsung.

Secara politik otoritas tersebut memang diakui, namun dalam konteks pasar otoritas tersebut belum mutlak. Buktinya, meskipun Indonesia tidak dipaksa oleh negara manapun untuk mengimpor, namun karena produksi pangan Indonesia yang masih belum memadai, maka Indonesia “terpaksa” juga melakukan impor. Jadi, secara ekonomi Indonesia belum lagi berdaulat, meskipun secara politik sudah.

Keempat, Kedaulatan pangan memiliki tujuan yang sama dengan ketahanan pangan, hanya beda label. Apa yang dipahami oleh aparat tentang “kedaulatan pangan” tidak berbeda dengan “ketahanan pangan”. Upaya mencapai ketahanan pangan adalah yang paling pokok dari semua persoalan. Aparat Badan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan menyatakan belum memahami konsep kedaulatan pangan namun meyakini telah mengimplementasikan konsep kedaulatan pangan sesuai dengan tujuan pembangunan pangan yang telah ditetapkan oleh pusat. Pemahaman tersebut diperjelas oleh aparat Badan Ketahanan Pangan Jawa Timur yang memiliki pemahaman bahwa pembangunan bidang ketahanan pangan ditujukan untuk mewujudkan kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan. Hal ini tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan menyatakan bahwa tujuan tersebut sangat jelas sudah menjamin kedaulatan. Hal yang sama dilaporkan oleh aparat Badan Ketahanan Pangan Jawa Barat yang secara gamblang mengemukakan bahwa program yang dilakukan

(30)

Strategi Mewujudkan Kedaulatan PanganStrategi Mewujudkan Kedaulatan Pangan

selama ini adalah menuju kedaulatan petani atas pangan, hanya perlu label saja. Hal ini dibuktikan bahwa untuk mewujudkan pembangunan bidang pangan telah dilakukan berbagai usaha yang berhasil meningkatkan ketersediaan pangan serta mempertahankan budaya masyarakat di daerah tertentu untuk mengkonsumsi pangan sesuai budaya masyarakat. Daerah tersebut misalnya di Desa Cireundeu yang mempertahankan mengkonsumsi pangan utama dari singkong dan di daerah Cianjur masyarakat mempertahankan varietas padi Cianjur.

Mengacu definisi kedaulatan pangan dalam UU No.18/2012 tentang Pangan, Pasal 1 ayat 2 kedaulatan pangan adalah: Hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan pangan yang menjamin hak atas pangan bagi rakyat dan yang memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem pangan yang sesuai dengan sumber daya lokal”. Kedaulatan pangan adalah konsep pemenuhan hak atas pangan yang berkualitas gizi baik dan sesuai secara budaya, diproduksi dengan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Artinya, kedaulatan pangan sangat menjunjung tinggi prinsip diversifikasi pangan sesuai dengan budaya lokal yang ada. Kedaulatan pangan juga merupakan pemenuhan hak manusia untuk menentukan sistem pertanian dan pangannya sendiri yang lebih menekankan pada pertanian berbasiskan keluarga.

Peran Institusi Terkait Dalam Merespon Kebijakan UU Pangan No.18 Tahun 2012

Kebijakan pemerintah pusat untuk mewujudkan kedaulatan pangan di tingkat daerah dikemukakan dalam pasal 18 UU No.18 Tahun 2012 tentang Pangan, yaitu: Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam memenuhi kebutuhan Pangan berkewajiban: (a) Mengatur mengembangkan, dan mengalokasikan lahan pertanian dan sumber daya air; (b) Memberikan penyuluhan dan pendamping- an; (c) Menghilangkan berbagai kebijakan yang berdampak pada penurunan daya saing; dan (d) Melakukan pengalokasian anggaran (penerapan pasal 2 UU 18/2012). Setidaknya dibutuhkan satu peraturan presiden (Perpres), 32 peraturan pemerintah (PP), dan setiap daerah harus mempunyai empat peraturan daerah (Perda) yang harus diselesaikan hingga tahun 2015 untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Di tingkat pusat sudah disusun dan dikeluarkan

(31)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia Perpres No. 17/2015 tentang pangan dan gizi, sehingga setidaknya diperlukan satu perpres lagi yaitu tentang lembaga yang menangani pangan.

Provinsi Kalimantan Selatan

Respon Pemerintah Daerah di Tingkat I maupun II belum ada, melummembuatPerda/Pergub/Perbupuntukmenjalankankewajiban menindaklanjuti kebijakan diatas. Bahkan penyusunan tata ruang dan tata wilayah RT/RW di Kalimantan Selatan yang sudah dibahas selama 10 tahun hingga kini belum selesai, padahal kunci kedaulatan pangan terletak pada keberadaan lahan pertanian. Namun demikian dikemukakan bahwa instansi sudah melakukan kegiatan yang secara tidak langsung telah menunjang terwujudnya kedaulatan pangan. Terdapat beberapa kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah yang terkait dengan lahan pertanian yang merupakan aspek pokok untuk mewujudkan kedaulatan. Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan telah mengeluarkan Perda Nomor: 2 Tahun 2014 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan (LP2B). Contoh regulasi turunan/produk hukum/aturan terhadap indikator yang mendukung Undang-Undang No.18. Tahun 2012 tentang Pangan di lingkup Dinas Pertanian dan Badan Ketahanan pangan diantaranya: Pada Tahun 2005, sebelum ada UU No.18/2012 juga telah dilakukan pencetakan sawah sesuai dengan Perpres No.10 tahun 2005 dan ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 299/Kpts/OT.140/7/2005.

Badan Ketahanan Pangan Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan juga telah mengeluarkan Pergub No.35 Tahun 2013 dan No.79 Tahun 2014 tentang Penyediaan dan Penyaluran Cadangan Pangan Pokok. Sehubungan dengan INPRES No.3 Tahun 2010 Tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan dan Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RAN-PG), Gubernur mengeluarkan Pergub No.74 Tahun 2011 Tentang RAD-PG Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2011-2015. Terkait Keamanan Pangan, guna mengendalikan penyalahgunaan bahan berbahaya dalam pangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan ditindaklanjuti dengan mengeluarkan Perda No.18 Tahun 2012 Tentang Pengawasan Bahan Tambahan Pangan dan Peredaran Bahan Berbahaya yang disalahgunakan dalamPangan.

(32)

Strategi Mewujudkan Kedaulatan PanganStrategi Mewujudkan Kedaulatan Pangan

Kebijakan terkait UU Nomor: 18 Tahun 2012 yang diimplementasikan oleh Badan Ketahanan Pangan sebelumnya adalah Peraturan Pemerintah No.68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan, serta Pergub No.35 Tahun 2013 dan No.79 Tahun 2014 tentang Penyediaan dan Penyaluran Cadangan Pangan Pokok. Sehubungan Inpres No.3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan dan Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RAN-PG), Gubernur mengeluarkan Pergub No.74 Tahun 2011 tentang RAD-PG Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2011-2015. Terkait Keamanan Pangan, guna mengendalikan penyalahgunaan bahan berbahaya dalam pangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menindaklanjuti dengan mengeluarkan Perda No.18 Tahun 2012 tentang Pengawasan Bahan Tambahan Pangan dan Peredaran Bahan Berbahaya yang Disalahgunakan dalamPangan.

Provinsi Jawa Timur

Pengendalian laju perubahan fungsi lahan persawahan menjadi nonpersawahan di Provinsi Jawa Timur dilakukan melalui Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur, Nomor: 5 Tahun 2013, tanggal 21 Juni 2013 yaitu Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Badan Ketahanan Pangan mempunyai enam kebijakan yang mengacu pada Renstra SKPD (2014-2019) yaitu: (1) Meningkatkan pengembangan usaha pangan; (2) Meningkatkan penanganan percepatan pengembangan konsumsi pangan; (3) Meningkatkan akses petani dan nelayan terhadap faktor produksi, teknologi, informasi, pemasaran dan permodalan sehingga memiliki daya saing tinggi;4) Meningkatkan kelancaran distribusi pangan;

(5) Meningkatkan fasilitasi pengembangan kawasan agropolitan;dan (6) Meningkatkan pengembangan teknologipangan.

Provinsi Jawa Timur belum memiliki Perda atau Pergub yang khusus untuk menjalankan UU No.18 Tahun 2012 namun demikian, sebelumnya telah dikeluarkan Pergub No.71 Tahun 2009 tentang petunjuk Pelaksanaan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber daya Lokal. Sesungguhnya materi dalam Pergub tersebut masih relevan, namun secara sistematika hukum Pergub ini bukan merupakan turunan dari UU Pangan yang baru.

(33)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia Provinsi Jawa Barat

Alih fungsi lahan di Jawa Barat terjadi sangat pesat sehingga peraturan daerah Nomor: 22 Tahun 2010 tentang RT/RW Jabar direvisi pada Tahun 2014. Revisi dilakukan mengingat potensi alih fungsi lahan dengan aturan tersebut selama 20 tahun bisa mencapai 200 ribu hectare (Anwar, 2013). Aturan RT/RW Jabar yang dinyatakan lebih berpihak pada pembangunan infrastruktur misalnya pendirian kawasan pabrik baru di Purwakarta, dan kawasan industri di Majalengka. Adapun Bogor terbuka untuk pertambangan, alih fungsi lahan juga terjadi di Sumedang dengan pendirian waduk Jatigede, rencana pendirian bandara di Majalengka seluas 3000-4000 haktare, dan daerah pesisir Jawa Barat selatan dari Sukabumi hingga Tasik sebagai tambang pasir besi. "Dalam kurun 1999-2004 saja sudah terjadi alih fungsi lahan 30-45 ribu hektare.

Selain aturan RT/RW, potensi besar alih fungsi lahan di Jawa Barat berasal dari kebijakan Percepatan Pembangunan Ekonomi Nasional oleh pemerintah pusat yang mengarahkan Jawa Barat sebagai daerah industri dan jasa nasional. Pertanian sudah dirancang tidak bisa diandalkan, hutan lindung hanya 18 persen dari total luas, jauh dari ketentuan 30 persen oleh pemerintah, dan cita- cita pemerintah provinsi Jawa Barat yang mencapai 45 persen.

Untuk wilayah pertanian terdapat peraturan daerah khuus provinsi Jawa Barat No.28 Tahun 2010 tentang pengembangan wilayah Jawa Barat bagian selatan Tahun 2010-2029 (Anonimous 4),

2010) yang dikemukakan pada Bab II Bagian ke satu Pasal 2 dimana tujuan penetapan pengembangan wilayah Jawa Barat bagian Selatan Tahun 2010-2029 adalah untuk mewujudkan wilayah Jawa Barat bagian Selatan menjadi kawasan agribisnis, agroindustri, industri kelautan dan pariwisata terpadu, yang mengoptimalkan sumberdaya lahan, pesisir dan kelautan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Bagian Kedua Pasal 3 Sasaran penyelenggaraan pengembangan wilayah Jawa Barat bagian Selatan adalah: a) terwujudnya pengembangan aktivitas agribisnis, agroindustri, industri kelautan dan pariwisata terpadu berbasis potensi lokal. b) terwujudnya arahan pengembangan infrastruktur pendukung baik yang bersifat regional maupun lokal, terutama untuk pengembangan agribisnis, agroindustri, industri kelautan dan pariwisata terpadu dan c) terwujudnya pengelolaan wilayahJawa

(34)

Strategi Mewujudkan Kedaulatan PanganStrategi Mewujudkan Kedaulatan Pangan

Barat bagian Selatan secara terpadu dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam mengembangkan aktivitas ekonomi maupun dalam menjaga kelestarian lingkungan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat bagian Selatan. Pasal 4 Rencana pengembangan wilayah Jawa Barat bagian Selatan merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2025 dan pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029, dalam mengembangkan aktivitas ekonomi, menjaga kelestarian lingkungan dan berfungsi sebagai: a) pengarah kebijakan pengembangan ekonomi dan b) acuan bagi instansi Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pengembangan ekonomi di Jawa Barat bagianSelatan.

Di tingkat pusat, respons kebijakan setelah UU No.18 Tahun 2012, diantaranya Peraturan Pemerintah Republik Indonesai Nomor 17 Tahun 2015 Tentang Ketahanan Pangan dan Gizi yang isinya Pada BAB I pasal 1 dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan: Ketahanan Pangan dan Gizi adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan Pangan dan Gizi bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, memenuhi kecukupan Gizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk mewujudkan Status Gizi yang baik agar dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman. Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata,dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Pasal 1 tersebut sangat jelas mendukung kedaulatan pangan mengingat tersurat kata tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat

(35)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia Hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Mengacu definisi diatas maka BKP di tingkat pusat maupun daerah menganggap bahwa semua kegiatan sudah meimplementasikan kedaulatan pangan, hanya lebelnya saja yang belum dikatakan program kedaulatan pangan.

Selain PP 17/2015 sudah ada beberapa Kepmen yang menjadikan UU 18/2012 sebagai pertimbangan dan acuan diantaranya: 1) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor: 32 Tahun 2013 tentang Penugasan Kepada Perusahaan Umum Bulog untuk Pengamanan Harga dan Penyaluran Kedelai dan Peraturan Presiden Nomor: 71 Tahun 2015 tentang Penetapan Dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting.

2) Instruksi Presiden Nomor: 5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah dan 10 Peraturan Menteri Pertanian sebagaiberikut:

Peraturan Menteri Pertanian

1. Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 43/Permentan/OT.140/10/ 2009 Tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber DayaLokal.

2. Permentan No.65 Tahun 2010 tentang SPM Bidang Ketahanan Pangan.

3. Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 15/Permentan/Ot.140/2/ 2013 tentang Program Peningkatan Diversifikasi dan Ketahanan Pangan Masyarakat Badan Ketahanan Pangan Tahun Anggaran 2013.

4. Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 27 Tahun 2012 tentang Pedoman Harga Pembelian Gabah danBeras.

5. Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 15/Permentan/HK.140/4/ 2015 tentang Pedoman Desa Mandiri Pangan Tahun 2015. 6. Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 16/Permentan/HK.140/4/

2015 tentang Pedoman Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat Tahun2015.

7. Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 17/Permentan/OT.140/4/ 2015 tentang Pedoman Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat Tahun2015.

(36)

Strategi Mewujudkan Kedaulatan PanganStrategi Mewujudkan Kedaulatan Pangan

8. Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 18/Permentan/HK.140/4/ 2015 tentang Pedoman Gerakan Percepatan Penganekaragam- an Konsumsi Pangan Tahun2015

9. Peraturan Menteri Petanian Nomor: 14.1/Permentan/RC.220/4/ 2015 tentang Pedoman Upaya Khusus Percepatan Swasembada Pangan dan Peningkatan Produksi Komuditas Strategis Melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan Tahun Anggaran2015

10. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 21/Permentan/PP.200/4/ 2015 tentang Pedoman Harga Pembelian Gabah dan Beras di Luar Kualitas olehPemerintah

Peraturan Menteri Perdagangan

1. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 23/M-DAG/PER/5/2013 tentang Program Stabilisasi HargaKedelai

2. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 24/M-DAG/PER/5/2013 tentang Ketentuan Impor Kedelai dalam Rangka Program Stabilisasi HargaKedelai

3. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 25/M-DAG/PER/6/2013 tentang Penetapan Harga Pembelian Kedelai Petani dalam Rangka Program Stabilisasi HargaKedelai

4. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 26/M-DAG/PER/6/2013 tentang Penetapan Harga Penjualan Kedelai di Tingkat Pengerajin Tahu/Tempe dalam Rangka Program Stabilitas HargaKedelai

5. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 37/M-DAG/PER/7/2013 tentang Penetapan Harga Penjualan Kedelai di Tingkat Pengerajin Tahu/Tempe dalam Rangka Program Stabilisasi HargaKedelai

6. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 45/M-DAG/PER/8/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Permendag Nomor : 24/M- DAG/PER/5/2013 Tentang Ketentuan Impor Kedelai dalam Rangka Program Stabilisasi HargaKedelai

7. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 49/M-DAG/PER/9/2013 tentang Penetapan Harga Penjualan Kedelai diTingkat

(37)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia Pengerajin Tahu/Tempe dalam Rangka Program Stabilisasi Harga Kedelai

8. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 51/M-DAG/PER/9/2013 tentang Pencabutan Permendag Nomor 23/M-DAG/PER/5/2013 tentang Program Stabilisasi Harga Kedelai dan Peraturan Pelaksanaannya

9. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 52/M-DAG/PER/9/2013 tentang Pengamanan Harga Kedelai di Tingkat Petani dan Penyaluran Kedelai di Tingkat Pengrajin Tahu/Tempe

10. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 17/M-DAG/PER/3/2014 tentang Perubahan Kedua atas Permendag Nomor 46/M- DAG/8/2013 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Hewan dan Produk Hewan

11. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 19/M-DAG/PER/3/2013 tentang Ketentuan Ekspor dan ImporBeras

12. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 45/M-DAG/PER/8/2014 tentang Penetapan Harga Patokan Petani Gula Kristal Putih Tahun2014

13. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 01/M-DAG/PER/1/2015 tentang Penetapan Harga Pembelian Kedelai Petani dalam Rangka Pengamanan Harga Kedelai di TingkatPetani

Respon Pemerintah Daerah Terhadap UU Pangan No: 18 Tahun 2012 Terkait Keorganisasian dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan

Badan Ketahanan Pangan (BKP) sebagai salah satu unit kerja setingkat Eselon I dalam struktur organisasi Kementerian Pertanian, ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 61/Permentan/OT.140/10/2010 tanggal 14 Oktober 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian. Dalam peraturan tersebut tugas Badan Ketahanan Pangan yaitu: "Melaksanakan pengkajian, pengembangan, dan koordinasi di bidang pemantapan ketahanan pangan". Disamping itu, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor: 83 Tahun 2006, BKP juga secara ex-officio bertugas sebagai Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan (DKP). Mengingat luasnya substansi dan banyaknya pelaku yangberperan

(38)

Strategi Mewujudkan Kedaulatan PanganStrategi Mewujudkan Kedaulatan Pangan

Dalam pembangunan ketahanan pangan, maka sangat diperlukan kerjasama yang sinergis dan terarah antar institusi dan komponen masyarakat serta koordinasi program dan kegiatan berbagai subsektor dan sektor. Guna mewujudkan sinergi dan harmonisasi kebijakan dan program, serta memperkuat koordinasi peningkatan ketahanan pangan antar sektor, antar wilayah, dan antar waktu, dibentuk Dewan Ketahanan Pangan (DKP) yang bertugas merumuskan kebijakan serta melaksanakan evaluasi dan pengendalian dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional melalui Keppres Nomor: 132 Tahun 2001 yang disempurnakan dengan Perpres Nomor: 83 Tahun 2006 tentang Dewan Ketahanan Pangan (DKP), menetapkan BKP secara ex-officio sebagai Sekretariat DKP yang diketuai oleh Presiden dan Ketua Harian oleh Menteri Pertanian. BKP selaku Sekretariat DKP memfasilitasi pelaksanaan tugas Menteri Pertanian selaku Ketua Harian DKP dalam membantu Presiden RI untuk: (1) Merumuskan kebijakan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional;dan

(2) Melaksanakan evaluasi dan pengendalian dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional. Tugas BKP meliputi kegiatan di bidang: penyediaan pangan, distribusi pangan, cadangan pangan, penganekaragaman pangan, serta pencegahan dan penanggulangan masalah pangan dan gizi. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari,BKP didukung oleh empat Eselon II dengan struktur organisasi,yaitu:

1. Sekretariat Badan, mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis dan administratif kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Badan KetahananPangan.

2. Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, mempunyai tugas melaksanakan pengkajian, penyiapan perumusan kebijakan, pengembangan, pemantauan, dan pemantapan ketersediaan pangan, serta pencegahan dan penanggulangan kerawanan pangan.

3. Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan, mempunyai tugas melaksanakan pengkajian, penyiapan perumusan kebijakan, pengembangan, pemantauan, dan pemantapan distribusi pangan.

4. Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, mempunyai tugas melaksanakan pengkajian,penyiapan

(39)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia perumusan kebijakan, pengembangan, pemantauan, dan pemantapan konsumsi dan keamanan pangan.

Undang Undang Pangan No. 18 tahun 2012 pasal 126-129 telah mengamanatkan pembentukan lembaga pemerintah yang menangani bidang pangan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Lembaga ini berkewajiban melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pangan. Adanya tugas dan kewenangannya yang jelas, lembaga ini diharapkan bisa menjadi komandan dalam koordinasi masalah pangan dari hulu ke hilir, pusat-daerah. Secara eksplisit sebagaimana diatur dalam Bab XII Pasal 126 hingga 129, sebagai berikut:

 Pasal 126: dalam hal mewujudkan Kedaulatan Pangan, Kemandirian Pangan, dan Ketahanan Pangan nasional, dibentuk lembaga Pemerintah yang menangani bidang Pangan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepadaPresiden.

 Pasal 127: Lembaga Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 126 mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidangPangan.

 Pasal 128: Lembaga Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 127 dapat mengusulkan kepada Presiden untuk memberikan penugasan khusus kepada badan usaha milik negara di bidang Pangan untukmelaksanakan

 Produksi, pengadaan, penyimpanan, dan/atau distribusi Pangan Pokok dan Pangan lainnya yang ditetapkan olehPemerintah.

 Pasal 129: Ketentuan lebih lanjut mengenai organisasi dan tata kerja lembaga Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 126 sampai Pasal 128 diatur dengan Peraturan Presiden.

Pemerintah saat ini sedang merancang Peraturan Presiden tentang Badan Pangan Nasional (BPN). Badan ini memiliki fungsi: (a) koordinasi, pengkajian, dan perumusan kebijakan di bidang ketersediaan dan kerawanan pangan, distribusi dan pelembagaan pangan, konsumsi dan pengawasan keamananpangan;

(b) pelaksanaan pembinaan dan supervisi di bidang ketersediaan dan kerawanan pangan; (c) pemantauan dan evaluasi pelaksanaan; dan (d) pengembangan dan pengelolaan data informasi pangan. BPN juga bisa mengusulkan kepada Presiden agar memberikan

(40)

Strategi Mewujudkan Kedaulatan PanganStrategi Mewujudkan Kedaulatan Pangan

penugasan khusus kepada badan usaha milik negara di bidang pangan untuk melaksanakan produksi, pengadaan, penyimpanan, dan/atau distribusi pangan pokok dan pangan lainnya yang ditetapkan oleh pemerintah.

Pasal 151 Lembaga Pemerintah yang menangani bidang pangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 harus telah terbentuk paling lambat tiga tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan. Hal itu berarti lembaga tersebut sudah harus terbentuk paling lambat tahun 2015 ini. Saat ini rancangan tentang lembaga tersebut telah dibuat dan sedang menunggu untuk ditandatangani Presiden.

Selain BKP, dalam pengelolaan pangan juga terdapat Badan Pengawas Obat dan Makanan dan Bulog, Dewan Ketahanan Pangan (DKP), yang beranggotakan 16 kementerian dan dua lembaga dengan fungsi sebagai lembaga fungsional koordinatif antarkementerian/lembaga yang diketuai langsung presiden, dengan ketua harian menteri pertanian, dan ex-officio adalah BKP. Namun, kenyataannya beberapa kelembagaan pangan tersebut oleh berbagai pihak dianggap belum maksimal dalam mengatasi problematika pangan di negeri ini dan seringkali termentahkan pada tingkat koordinasi. Berkaca pada kondisi tersebut, lembaga pangan yang baru kelak harus punya otoritas, integritas, dan tugas serta fungsi yangkuat.

Saat ini yang menangani pangan terdiri dari beberapa instansi, baik di pusat maupun daerah, antara lain Badan Ketahanan Pangan (BKP) dengan kerjasama dengan eselon I lain di Kementerian Pertanian. Struktur organisasi BKP belum ada perubahan setelah diundangkan UU Pangan No.18/2012. Dengan kata lain, belum ada bagian khusus di kantor tersebut yang menangani permasalahan kedaulatan pangan. Sementara di daerah, struktur organisasi Badan Ketahanan Pangan mengacu pada struktur organisasi pusat. Karena itulah, hingga saat penelitian dilakukan, struktur organisasi kedua instansi di kedua lokasi penelitian yaitu Kalimantan Selatan dan Provinsi Jawa Timur belum ada perubahan. Strukturnya masih sama seperti sebelum UU No. 18/2012 tentang Pangandiberlakukan.

Struktur organisasi di Badan Ketahanan Pangan di Kalimantan Selatan mengacu juga pada Peraturan Pemerintah Nomor: 65 Tahun

(41)

Kedaulatan Pangan Posisi Kedaulatan Petani di IndonesiaKedaulatanPanganPosisiKedaulatanPetanidiIndonesia 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis dan Penyusunan dan Penetapan SPM dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 65/Permentan/OT.140/12/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Selain itu juga diacu Perda No.17 Tahun 2001 tentang pembentukan Sekretariat Dewan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, Peraturan Gubernur Nomor: 19 Tahun 2007 tanggal 1 Mei 2007 dan Peraturan Daerah Propinsi Kalimantan Selatan No.06 tanggal 15 April 2008 menjadi Badan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan. Badan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan, terdiri atas Kepala Badan, Sekretariat, lalu Bidang Ketersediaan dan Cadangan Pangan (Subbid Ketersediaan Pangan dan Penanganan Kerawanan Pangan), Bidang Distribusi Pangan (Subbid Analisis Distribusi/Akses Pangan dan Analisis Harga Pangan), dan Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan (Subbid Konsumsi dan Penganekaragaman Pangan dan Keamanan/PreferensiPangan).

Selain peraturan pusat, struktur organisasi di Badan Ketahanan Pangan Jawa Timur mengacu pada Perda No.10 Tahun 2008 dan PERGUB No.107 Tahun 2008 dan saat ini sedang disusun perubahan organisasi dari badan menjadi dinas dengan harapan adanya wewenang lebih tinggi dalam menanganan masalah pangan. Struktur di Jawa Timur sedikit berbeda, yaitu terdiri atas Kepala Badan, Sekretariat, Bidang Ketersediaan dan Cadangan Pangan, Bidang Distribusi Pangan, Bidang Penganekaragaman dan Konsumsi Pangan, dan Bidang KewaspadaanPangan.

Semua produk peraturan yang diacu dalam pembentukan struktur organisasi, baik di Kalimantan Selatan maupun Jawa Timur tersebut dibuat sebelum tahun 2012, dan tidak ada perubahan sesudahnya. Hal itu berarti bahwa UU 18/2012 tentang Pangan tidak menjadi salah satu acuan dalam penyusunan struktur organisasi. Dalam hal ini, daerah menunggu respons di tingkat pusat terlebih dahulu.

Selain penguatan otoritas kelembagaan pangan di pusat, tidak kalah penting adalah tata kerja yang harus dibangun antara pusat dan daerah di era otonomi daerah. Kelembagaan yang menangani ketahanan pangan yang sudah terbentuk di provinsi dan

Gambar

Tabel 1. Konsep Kemandirian, Ketahanan dan Kedaulatan Pangan,  Berdasarkan Kata Kunci, dan Dasar Pencapaian Tujuan
Tabel 2. Indikator Keberhasilan Program Ketahanan Pangan
Tabel 3. Pemahaman Aparat tentang Konsep Kedaulatan Pangan,  Tahun 2015
Tabel  4.  Kerjasama  Organisasi  Terkait  yang  Diperlukan  untuk  Mewujudkan  Keberhasilan  Program  Kedaulatan  Pangan,  Tahun 2015
+7

Referensi

Dokumen terkait

Adapun makna ‘urf secara terminologi menurut Dr.H.Rahmad Dahlan adalah seseuatu yang menjadi kebiasaan manusia, dan mereka mengikutinya dalam bentuk setiap perbuatan yang

Berdasarkan hasil wawancara dengan teman gay Triana, dalam menggunakan simbol ekpresi wajah, pada kaum gay sama seperti orang normal, ekspresi wajah akan disesuaikan dengan

This opinion concludes that “a lawyer may use an online ‘cloud’ computer data backup system to store client files provided that the lawyer takes reasonable care to ensure that

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesuburan Entisol pada lahan hutan lebih tinggi dari lahan pertanian dengan nilai indeks kualitas tanah kesuburan Entisol pada lahan

Dengan demikian, perencanaan strategis harus menganalisa faktor faktor strategis suatu usaha (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada pada saat

Pengembangan sistem manajemen keamanan pangan sebaiknya dilakukan dengan mendasarkan pada dokumentasi sestem manajemen mutu ISO 9001 yang sudah diterapkan perusahaan dengan

Pertumbuhan dan perkembangan adalah ciri khas anak-anak. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan suatu proses yang kontinu dan berkelanjutan. Karena itu setiap anak

Jika terjadi penarikan simpanan pada usia di atas 76 tahun, maka klaim yang akan dibayar sebesar saldo simpanan terendah sesuai dengan ketentuan huruf (b), (c), dan