Analisis pendapat Ibnu Qudamah tentang ketidakharusan izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah

104  Download (0)

Teks penuh

(1)

MELAKUKAN AKAD NIKAH

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1)

Dalam Ilmu Syari’ah

Oleh:

AHMAD MUKHOLIL NIM: 032111171

JURUSAN AHWAL SYAHSIYAH

FAKULTAS SYARI’AH

IAIN WALISONGO SEMARANG

(2)

ii

Lamp : 5 (lima) eksemplar Hal : Naskah Skripsi

a.n. Sdr. Ahmad Mukholil

Assalamua’alaikum Wr.Wb.

Setelah saya meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, bersama ini saya kirimkan naskah skripsi saudara:

Nama : Ahmad Mukholil Nomor Induk : 032111171 Jurusan : AS

Judul Skripsi : ANALISIS PENDAPAT IBNU QUDAMAH TENTANG KETIDAKHARUSAN IZIN DARI WALI BAGI ORANG SAFIH YANG MELAKUKAN AKAD NIKAH

Selanjutnya saya mohon agar skripsi saudara tersebut dapat segera dimunaqasyahkan

Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Semarang, Mei 2009 Pembimbing I, Pembimbing II,

Drs.H. Slamet Hambali Ali Murtadho, M.Ag NIP. 150 198 821 NIP. 150 289 379

(3)

iii

JL. Prof. Dr. HAMKA KM.2 Ngalian Telp. (024) 7601291 Semarang 50185

PENGESAHAN

Skripsi saudara : Ahmad Mukholil

NIM : 032111171

Fakultas : Syari’ah

Jurusan : AS

Judul :ANALISIS PENDAPAT IBNU QUDAMAH

TENTANG KETIDAKHARUSAN IZIN DARI WALI BAGI ORANG SAFIH YANG MELAKUKAN AKAD NIKAH

Telah dimunaqasahkan oleh Dewan Penguji Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang dan dinyatakan lulus, pada tanggal:

17 Juni 2009

Dan dapat diterima sebagai syarat guna memperoleh gelar sarjana Strata1 tahun akademik 2008/2009

Semarang, Juli 2009

Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,

Hj. Rr. Sugiharti, SH, MH Drs.H. Slamet Hambali

NIP. 150 104 180 NIP. 150 198 821

Penguji I, Penguji II,

Drs. H.A. Ghozali, M.Si Drs. H. A. Noer Ali

NIP. 150 261 992 NIP. 150 177 474

Pembimbing I, Pembimbing II,

Drs.H. Slamet Hambali Ali Murtadho, M.Ag NIP. 150 198 821 NIP. 150 289 379

(4)

iv

ﻦﺤِﻜﻨﻳ ﻥﹶﺃ ﻦﻫﻮﹸﻠﻀﻌﺗ ﹶﻼﹶﻓ ﻦﻬﹶﻠﺟﹶﺃ ﻦﻐﹶﻠﺒﹶﻓ ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ ﻢﺘﹾﻘﱠﻠﹶﻃ ﺍﹶﺫِﺇﻭ

ِﻑﻭﺮﻌﻤﹾﻟﺎِﺑ ﻢﻬﻨﻴﺑ ﹾﺍﻮﺿﺍﺮﺗ ﺍﹶﺫِﺇ ﻦﻬﺟﺍﻭﺯﹶﺃ

Artinya : Kalau kamu menthalak perempuan lantas sampai iddahnya, maka janganlah kamu (yang jadi wali) mencegah mereka menikah dengan laki-laki itu, apabila mereka sudah suka sama suka dengan cara yang sopan. (Q. S. Al-Baqarah, 232).∗

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Surabaya: Surya Cipta Aksara, 1993, hlm. 56. .

(5)

v

dan air mata kupersembahkan karya tulis skripsi ini teruntuk orang-orang yang selalu hadir dan berharap keindahan-Nya. Kupersembahkan bagi mereka yang tetap setia berada di ruang dan waktu kehidupan ku khususnya buat:

o Orang tuaku tersayang (Bapak Wardan dan Ibu Salimah) yang selalu memberi semangat dan motivasi dalam menjalani hidup ini.

o Kakak dan Adikku Tercinta (Abdussomad dan Mbak Nur Kholifah, Mas Al-Musafi', dan Mbak Rikhaniyah) yang kusayangi yang selalu memberi motivasi dalam menyelesaikan studi.

o Teman-Temanku jurusan AS, angkatan 2003 Fak Syariah yang selalu bersama-sama dalam meraih cita dan asa.

(6)

vi

Dengan penuh kejujuran dan tanggung

jawab, penulis menyatakan bahwa

skripsi ini tidak berisi materi yang telah

pernah ditulis oleh orang lain atau

diterbitkan. Demikian juga skripsi ini

tidak berisi satupun

pemikiran-pemikiran orang lain, kecuali informasi

yang terdapat dalam daftar kepustakaan

yang dijadikan bahan rujukan.

Jika di kemudian hari terbukti

sebaliknya maka penulis bersedia

menerima sanksi berupa pencabutan

gelar menurut peraturan yang berlaku

Semarang, 14 Mei 2009

AHMAD MUKHOLIL NIM: 032111171

(7)

vii

saling menyukai dan merasa akan mampu hidup bersama dalam menempuh bahtera rumah tangga. Namun demikian, pernikahan itu sendiri mempunyai syarat dan rukun yang sudah ditetapkan baik dalam al-Qur’an. Yang menjadi rumusan masalah adalah bagaimana pendapat Ibnu Qudamah tentang ketidakharusan izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah? Bagaimana metode istinbat hukum Ibnu Qudamah tentang ketidakharusan izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah?

Dalam menyusun skripsi ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data Primer, yaitu Kitab al-Mughni. Sebagai data sekunder, yaitu literatur lainnya yang relevan dengan judul skripsi ini. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, sedangkan metode analisisnya adalah metode deskriptif yang diterapkan dengan cara mendeskripsikan pendapat dan metode istinbat hukum pendapat Ibnu Qudamah tentang tidak harus izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah.

Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Menurut Ibnu Qudamah, akad nikah yang dilakukan orang safih (dungu) adalah sah, baik dia memperoleh izin dari walinya atau tidak, hal ini sebagaimana ia tegaskan bahwa hukumnya anak kecil dan orang gila sama seperti hukumnya orang safih (dungu/idiot), sang wali boleh memberi ijin kepadanya dalam sebagian perbuatan sehingga perbuatan tersebut dinyatakan sah dan lulus di antaranya ialah nikah, maka bilamana wali mengijinkan dia untuk menikah kemudian dia melaksanakan sendiri maka perbuatannya itu sah. Jikalau seorang safih menikah tanpa mendapat ijin dari walinya maka nikahnya itu sah, kemudian apabila safih

ingin nikah nikah untuk jangka waktu tertentu yaitu yang lamanya bergantung pada permufakatan antara laki-laki dan wanita yang akan melaksanakannya, bisa sehari, seminggu, sebulan, dan seterusnya) maka dia boleh melakukannya meskipun tidak diijinkan walinya. Sama juga dia telah meminta kepada walinya yang kemudian ditolak maupun tidak ditolak. Namun nikahnya tidak sah kecuali dengan mahar misil. Dalam perspektif Ibnu Qudamah bahwa ketidakharusan izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah adalah karena orang safih diqiyaskan dengan laki-laki pada umumnya yang tidak perlu wali. Selain itu pernikahan tidak menyangkut harta benda melainkan masalah kodrat biologis. Atas dasar itu pernikahan orang safih

dianggap sah meskipun tidak ada izin dari wali. Dengan demikian istinbat

yang dipakai Ibnu Qudamah adalah qiyas. .

(8)

viii

Segala puji bagi Allah yang maha pengasih dan penyayang, bahwa atas taufiq dan hidayah-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi

ini. Skripsi yang berjudul: “ANALISIS PENDAPAT IBNU QUDAMAH

TENTANG KETIDAKHARUSAN IZIN DARI WALI BAGI ORANG SAFIH YANG MELAKUKAN AKAD NIKAH” ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S.1) Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dan saran-saran dari berbagai pihak sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs. H. Muhyiddin, M.Ag selaku Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang.

2. Bapak Drs. H. Slamet Hambali selaku Dosen Pembimbing I dan Ali Murtadho, M.Ag selaku Dosen Pembimbing II yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Pimpinan Perpustakaan Institut yang telah memberikan izin dan layanan kepustakaan yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini.

4. Para Dosen Pengajar di lingkungan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo, beserta staf yang telah membekali berbagai pengetahuan

5. Orang tuaku yang senantiasa berdoa serta memberikan restunya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Akhirnya hanya kepada Allah penulis berserah diri, dan semoga apa yang tertulis dalam skripsi ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan para pembaca pada umumnya. Amin.

(9)

ix

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN DEKLARASI... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR... viii

DAFTAR ISI ... ix

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Telaah Pustaka ... 8

E. Metode Penelitian ... 12

F. Sistematika Penulisan ... 14

BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG POSISI WALI DALAM PERNIKAHAN A. Pengertian Nikah dan Dasar Hukumnya ... 16

B. Syarat dan Rukun Nikah ... 30

C. Wali dalam Nikah ... 38

1. Pengertian Wali dan Dasar Hukumnya ... 38

2. Macam-Macam Wali ... 43

(10)

x

KETIDAKHARUSAN IZIN DARI WALI BAGI ORANG SAFIH YANG MELAKUKAN AKAD NIKAH

A. Biografi Ibnu Qudamah, dan Karya-Karyanya ... 49 1. Latar Belakang Ibnu Qudamah ... 49 2. Karya-Karyanya ... 51 B. Pendapat Ibnu Qudamah tentang Ketidakharusan Izin

dari Wali bagi Orang Safih yang Melakukan Akad Nikah .... 54

BAB IV : ANALISIS PENDAPAT IBNU QUDAMAH TENTANG KETIDAKHARUSAN IZIN DARI WALI BAGI ORANG SAFIH YANG MELAKUKAN AKAD NIKAH

A. Analisis Pendapat Ibnu Qudamah tentang Ketidakharusan Izin Dari Wali Bagi Orang Safih yang Melakukan Akad Nikah... 66 B. AnalisisMetode Istinbat Hukum Ibnu Qudamah tentang

Ketidakharusan Izin dari Wali bagi Orang Safih yang

Melakukan Akad Nikah ... 77

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 87 B. Saran-saran ... 88 C. Penutup ... 88 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(11)

1

A. Latar Belakang Masalah

Allah SWT menciptakan dunia dan seluruh makhluk yang mendiami jagad raya ini dibentuk dan dibangun dalam kondisi berpasang-pasangan. Ada gelap dan terang, ada kaya dan miskin. Demikian pula manusia diciptakan dalam berpasangan yaitu ada pria dan wanita. Pria dan wanita diciptakan dengan disertai kebutuhan biologis.

Dalam memenuhi kebutuhan biologis ada aturan-aturan tertentu yang harus dipenuhi dan bila dilanggar mempunyai sanksi baik di dunia maupun di akhirat. Sanksi yang dimaksud yaitu manakala pria dan wanita dalam memenuhi kebutuhan biologisnya tanpa diikat oleh suatu tali pernikahan.

Pernikahan itu terjadi melalui sebuah proses yaitu kedua belah pihak saling menyukai dan merasa akan mampu hidup bersama dalam menempuh bahtera rumah tangga. Namun demikian, pernikahan itu sendiri mempunyai syarat dan rukun yang sudah ditetapkan baik dalam al-Qur’an maupun dalam Hadits.

Menurut Sayuti Thalib pernikahan ialah perjanjian suci membentuk keluarga antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan.1 Sementara Mahmud Yunus menegaskan, pernikahan ialah akad antara calon laki istri

1

(12)

untuk memenuhi hajat jenisnya menurut yang diatur oleh syariat.2 Sedangkan Zahry Hamid merumuskan nikah menurut syara ialah akad (ijab qabul) antara wali calon istri dan mempelai laki-laki dengan ucapan tertentu dan memenuhi rukun serta syaratnya.3 Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah mengungkapkan menurut bahasa, nikah berarti penyatuan. Diartikan juga sebagai akad atau hubungan badan. Selain itu, ada juga yang mengartikannya dengan percampuran.4

As Shan’ani dalam kitabnya "Subul al-Salam" memaparkan bahwa al-nikah menurut pengertian bahasa ialah penggabungan dan saling memasukkan serta percampuran. Kata “nikah” itu dalam pengertian “persetubuhan” dan “akad”. Ada orang yang mengatakan “nikah” ini kata majaz dari ungkapan secara umum bagi nama penyebab atas sebab. Ada juga yang mengatakan bahwa “nikah” adalah pengertian hakekat bagi keduanya, dan itulah yang dimaksudkan oleh orang yang mengatakan bahwa kata “nikah” itu musytarak

bagi keduanya. Kata nikah banyak dipergunakan dalam akad. Ada pula yang mengatakan bahwa dalam kata nikah itu terkandung pengertian hakekat yang bersifat syar’i. Tidak dimaksudkan kata nikah itu dalam al-Qur’an kecuali dalam hal akad.5

2

Mahmud Yunus, Hukum Pernikahan dalam Islam, Jakarta: PT Hidakarya Agung, Cet. 12, 1990, hlm. 1.

3

Zahry Hamid, Pokok-Pokok Hukum Pernikahan Islam dan Undang-Undang Pernikahan di Indonesia, Yogyakarta: Bina Cipta, 1978, hlm. 1.

4

Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah, Al-Jami' Fi Fiqhi an-Nisa, terj. M. Abdul Ghofar, "Fiqih Wanita", Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2002, hlm. 375.

5

Sayyid al-Iman Muhammad ibn Ismail as-San’ani , Subul Salam Sarh Bulugh al-Maram Min Jami Adillati al-Ahkam, Juz 3, Kairo: Dar Ikhya’ al-Turas al-Islami, 1960, hlm. 350.

(13)

Dari berbagai pengertian di atas, meskipun redaksinya berbeda akan tetapi ada pula kesamaannya. Karena itu dapat disimpulkan pernikahan ialah suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa ketentraman serta kasih sayang dengan cara yang diridhai Allah SWT. Dalam konteks ini Rasulullah bersabda:

ﻝﺎﻗ ﻢﹼﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﱯﻨﻟﺍ ﺏﺎﺤﺻﺃ ﻦﻣ ﺍﺮﻔﻧ ﹼﻥﺃ ﺲﻧﺃ ﻦﻋ

ﻢﻬﻀﻌﺑ

:

ﺝﻭﺰﺗﺃ ﻻ

,

ﻢﻬﻀﻌﺑ ﻝﺎﻗﻭ

:

ﻡﺎﻧﺃ ﻻﻭ ﻲﹼﻠﺻﺃ

,

ﻢﻬﻀﻌﺑ ﻝﺎﻗﻭ

:

ﻻﻭ ﻡﻮﺻﺃ

ﺮﻄﻓﺃ

,

ﻎﻠﺒﻓ

ﻝﺎﻘﻓ ﻢﹼﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﱯﻨﻟﺍ ﻚﻟﺫ

":

ﻝﺎﺑ ﺎﻣ

ﺮﻄﻓﺃﻭ ﻡﻮﺻﺃ ﻲﻨﻜﻟ ﺍﺬﻛﻭ ﺍﺬﻛ ﺍﻮﻟﺎﻗ ﻡﺍﻮﻗﺃ

,

ﻡﺎﻧﺃﻭ ﻲﹼﻠﺻﺃﻭ

,

ﺝﻭﺰﺗﺃﻭ

ﺐﻏﺭ ﻦﻤﻓ ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ

ﻲﻨﻣ ﺲﻴﻠﻓ ﻲﺘﻨﺳ ﻦﻋ

."

)

ﻪﻴﻠﻋ ﻖﻔﺘﻣ

(.

6

Artinya : Dari Anas : sesungguhnya beberapa orang dari sahabat Nabi SAW sebagian dari mereka ada yang mengatakan: “aku tidak akan menikah”. Sebagian dari mereka lagi mengatakan: “aku akan selalu shalat dan tidak tidur”. Dan sebagian dari mereka juga ada yang mengatakan: “aku akan selalu berpuasa dan tidak akan berbuka”. Ketika hal itu di dengar oleh Nabi SAW beliau bersabda: apa maunya orang-orang itu, mereka bilang begini dan begitu? Padahal di samping berpuasa aku juga berbuka. Di samping sembahyang aku juga tidur. Dan aku juga menikah dengan wanita. Barang siapa yang tidak suka akan sunnahku, maka dia bukan termasuk dari golonganku. (Muttafaq A'laih) Dari hadits di atas mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak menyukai seseorang yang berprinsip anti menikah. Karena itu menikah merupakan bagian dari sunnah Rasul, dan salah satu rukun dari nikah yaitu adanya wali.

6

(14)

Dalam hubungannya dengan wali, bahwa dalam prakteknya tidak sedikit adanya hubungan muda-mudi yang tidak direstui orang tuanya sehingga mengambil jalan pintas dengan cara menikah tanpa wali. Dalam kaitan ini ada hadits yang menegaskan sebagai berikut :

ﻦﻋ

ﻝﺎﻗ ﻢﹼﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﹼﻠﺻ ﱯﻨﻟﺍ ﻦﻋ ﻰﺳﻮﻣ ﰊﺃ

":

ﻻﺍ ﺡﺎﻜﻧ ﻻ

ﹼﱄﻮﺑ

."

)

ﻰﺋﺎﺴﻨﻟﺍ ﹼﻻﺍ ﺔﺴﻤﳋﺍ ﻡﺎﻣﻻﺍﻭ ﺪﲪﺍ ﻩﺍﻭﺭ

(

7

Artinya : Bersumber dari Abu Musa dari Nabi SAW beliau bersabda : tidak ada nikah sama sekali kecuali dengan adanya seorang wali (HR Ahmad dan Kelompok Imam lima kecuali an-Nasa’i)

Dari hadits di atas menunjukkan bahwa adanya wali merupakan bagian yang mutlak untuk sahnya pernikahan. Karena itu kedudukan wali merupakan salah satu rukun akad nikah. Tanpa adanya wali maka pernikahan itu menjadi batal. Akan tetapi kenyataan menunjukkan masih adanya keberanian muda-mudi melakukan nikah tanpa wali dan hal itu bukan tidak berdasar, melainkan karena adanya sebagian ulama yang membolehkan wanita gadis menikah tanpa wali. Salah seorang ulama di Indonesia Ahmad Hassan dalam bukunya

Soal Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama menegaskan:

Keterangan-keterangan itu tak dapat dijadikan alasan untuk mewajibkan perempuan menikah harus disertai wali, karena berlawanan dengan beberapa keterangan dari al-Qur'an, Hadits dan riwayatnya yang sahih dan kuat. Dengan tertolaknya keterangan-keterangan yang mewajibkan wali itu, berarti wali tidak perlu, artinya tiap-tiap wanita boleh menikah tanpa wali. Jika sekiranya seorang wanita tidak boleh menikah kecuali harus ada wali, tentunya al-Qur'an menyebutkan tentang itu.8

7

Ibid., hlm. 193.

8

Ahmad Hassan, Soal Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama, Jilid 1-2, Bandung: Cet. 12, CV Diponegoro, 2003, hlm. 244-263.

(15)

Sehubungan dengan keterangan tersebut, Fiqih Tujuh Madzhab yang dikarang oleh Mahmud Syalthut menguraikan bahwa nikah tanpa wali terdapat perbedaan pendapat yaitu ada yang menyatakan boleh secara mutlak, tidak boleh secara mutlak, bergantung secara mutlak, dan ada lagi pendapat yang menyatakan boleh dalam satu hal dan tidak boleh dalam hal lainnya.9

Dalam Kitab Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtasid, Ibnu Rusyd menerangkan:

ﺷ ﺔﻳﻻﻮﻟﺍ ﻞﻫ ﺀﺎﻤﻠﻌﻟﺍ ﻒﻠﺘﺧﺍ

ﻡﺍ ﺡﺎﻜﻨﻟﺍ ﺔﺤﺻ ﻁﻭﺮﺷ ﻦﻣ ﻁﺮ

ﹼﱄﻮﺑ ﻻﺍ ﺡﺎﻜﻧ ﻥﻮﻜﻳﻻ ﻪﻧﺃ ﱃﺍ ﻚﻟﺎﻣ ﺐﻫﺬﻓ ؟ﻁﺮﺸﺑ ﺖﺴﻴﻟ

,

ﺎﻬﻧﺃﻭ

ﻪﻨﻋ ﺐﻬﺷﺃ ﺔﻳﺍﻭﺮىﻓ ﺔﺤﺼﻟﺎىﻓ ﻁﺮﺷ

, ,

ﻲﻌﻓ ﺎﺸﻟﺍ ﻝﺎﻗ ﻪﺑﻭ

.

10

Artinya: Ulama berselisih pendapat apakah wali menjadi syarat sahnya nikah atau tidak. Berdasarkan riwayat Asyhab, Malik berpendapat tidak ada nikah tanpa wali, dan wali menjadi syarat sahnya nikah. Pendapat yang sama dikemukakan pula oleh Imam al-Syafi'i.

Sedangkan Abu Hanifah, Zufar asy-Sya’bi dan Azzuhri berpendapat apabila seorang perempuan melakukan akad nikah tanpa wali, sedang calon suami sebanding, maka nikahnya itu boleh. Yang menjadi alasan Abu Hanifah membolehkan wanita gadis menikah tanpa wali adalah dengan mengemukakan alasan dari Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 234 yang berbunyi:

9

Mahmud Syalthut, Fiqih Tujuh Madzhab, terj. Abdullah Zakiy al-Kaaf, Bandung: CV Pustaka Setia, 2000, hlm. 121.

10

Abul Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibnu Rusyd, Al-Faqih, Bidayat al-Mujtahid Wa nihayat al-Muqtasid, Beirut: Dar al- Jiil, juz 2, 1409H/1989M, hlm. 6.

(16)

...

ﻦِﻬِﺴﹸﻔﻧﹶﺃ ﻲِﻓ ﻦﹾﻠﻌﹶﻓ ﺎﻤﻴِﻓ ﻢﹸﻜﻴﹶﻠﻋ ﺡﺎﻨﺟ ﹶﻼﹶﻓ ﻦﻬﹶﻠﺟﹶﺃ ﻦﻐﹶﻠﺑ ﺍﹶﺫِﺈﹶﻓ

ﲑِﺒﺧ ﹶﻥﻮﹸﻠﻤﻌﺗ ﺎﻤِﺑ ﻪﹼﻠﻟﺍﻭ ِﻑﻭﺮﻌﻤﹾﻟﺎِﺑ

)

ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ

:

234

(

Artinya: ”Kemudian apabila telah habis masa iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para Wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka” (Q.S. Al-Baqarah: 234). 11

Dalam hubungannya seorang safih yang menikah tanpa izin dari wali, maka Imam Syafi'i dan Imamiyah menyatakan bahwa seorang safih yang hendak menikah harus memperoleh izin dari wali, jika tidak mendapat izin maka nikahnya tidak sah. Sedangkan menurut Ibnu Qudamah bahwa akad-nikah yang dilakukan orang safih (dungu) adalah sah, baik dia memperoleh izin dari walinya atau tidak.12 Hal ini sebagaimana ia katakan:

ﺍ ﰲ ﻢﻜﳊﺍﻭ

ﻪﻴﻔﺴﻟﺍ ﰲ ﻢﻜﳊﺎﻛ ﻥﻮﻨﺍﻭ ﱯﺼﻟ

,

ﰲ ﻪﻧﺫﺄﻳ ﻥﺃ ﱄﻮﻠﻟﻭ

ﻥﺄﺑ ﻪﻧﺫﺇ ﺍﺫﺇ ﱄﻮﻟﺍ ﻥﺈﻓ ﺝﺍﻭﺰﻟﺍ ﻚﻟﺫ ﻦﻣﻭ ﺬﻔﻨﺘﻓ ﺕﺎﻓﺮﺼﺘﻟﺍ ﺾﻌﺑ

ﺬﻔﻨﻳ ﻪﻧﺈﻓ ﻪﺴﻔﻨﺑ ﻚﻟﺫ ﺮﺷﺎﺒﻓ ﺝﻭﺰﺘﻳ

.

ﻥﺫﺇ ﻼﺑ ﻪﻴﻔﺴﻟﺍ ﺝﻭﺰﺗ ﺍﺫﺇﻭ

ﺣﺎﻜﻧ ﻥﺈﻓ ﻪﻴﻟﻭ

ﺤﺻ ﻥﻮﻜﻳ ﻪ

ﱄﺇ ﺔﺟﺎﺣ ﰲ ﻪﻴﻔﺴﻟﺍ ﻥﺎﻛﺍﺫﺇ ﰒ

ﻪﻴﻟﻭ ﻪﻧﺫﺄﻳ ﱂ ﻥﺇﻭ ﻞﻌﻔﻳ ﻥﺃ ﻪﻟ ﻥﺈﻓ ﺔﻣﺪﺧﻭﺃ ﺔﻌﺘﳌ ﺝﺍﻭﺰﻟﺍ

ﺀﺍﻮﺳﻭ

ﻞﺜﳌﺍ ﺮﻬﲟ ﻻﺇ ﻪﺟﺍﻭﺯ ﺬﻔﻨﻳﻻ ﻦﻜﻟﻭ ﻪﻌﻨﳝ ﱂﻭﺃ ﻪﻌﻨﻣﻭ ﻪﻨﻣ ﺐﻠﻃ

13

Artinya: hukumnya anak kecil dan orang gila sama seperti hukumnya orang safih (dungu/idiot, sang wali boleh memberi ijin kepadanya dalam sebagian perbuatan sehingga perbuatan tersebut dinyatakan sah dan lulus diantaranya ialah nikah,

11

Yayasan Penyelenggara Penterjemah/ Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Depag, 1978, hlm 57.

12

Muhammad Jawad Mughniyah, al-Fiqh ‘Ala al-Mazahib al-Khamsah, Terj. Masykur, Afif Muhammad, Idrus al-Kaff, "Fiqih Lima Mazhab", Jakarta: Lentera, 2001, hlm. 317.

13

(17)

maka bilamana wali mengijinkan dia untuk menikah kemudian dia melaksanakan sendiri maka perbuatannya itu sah. Jikalau seorang safih menikah tanpa mendapat ijin dari walinya maka nikahnya itu sah, kemudian apabila safih ingin nikah untuk mendapatkan kesenangan atau pelayanan maka dia boleh melakukannya meskipun tidak diijinkan walinya. Sama juga dia telah meminta kepada walinya yang kemudian ditolak maupun tidak ditolak. Namun nikahnya tidak sah kecuali dengan mahar misil.

Sisi menariknya judul ini adalah karena dalam perspektif Ibnu Qudamah bahwa akad-nikah yang dilakukan orang safih (dungu) adalah sah, baik dia memperoleh izin dari walinya atau tidak.

Berdasarkan keterangan tersebut mendorong peneliti memilih tema ini

dengan judul: ANALISIS

PENDAPAT

IBNU QUDAMAH TENTANG

KETIDAKHARUSAN IZIN DARI WALI BAGI ORANG SAFIH YANG MELAKUKAN AKAD NIKAH

B. Perumusan Masalah

Dengan memperhatikan latar belakang masalah, maka yang menjadi rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pendapat Ibnu Qudamah tentang ketidakharusan izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah?

2. Bagaimana metode istinbat hukum Ibnu Qudamah tentang ketidakharusan izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah?

C. Tujuan Penelitian

(18)

1. Untuk mengetahui pendapat Ibnu Qudamah tentang ketidakharusan izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah.

2. Untuk mengetahui metode istinbat hukum Ibnu Qudamah tentang ketidakharusan izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah.

D. Telaah Pustaka

Sampai dengan disusunnya skripsi ini, penulis belum menjumpai penelitian yang temanya sama dengan penelitian yang hendak disusun, namun ditemukan satu skripsi yang temanya tentang wali, yaitu skripsi yang disusun oleh Rosalin (Tahun 2005) dengan judul: Analisis Pendapat Ahmad Hassan tentang Bolehnya Wanita Gadis Menikah Tanpa Wali.14 Dalam kesimpulannya diutarakan bahwa salah seorang ulama di Indonesia yaitu Ahmad Hassan membolehkan gadis menikah tanpa wali. Menurutnya, keterangan-keterangan yang mensyaratkan adanya wali dalam pernikahan itu tak dapat dijadikan alasan untuk mewajibkan menikah harus disertai wali, karena berlawanan dengan beberapa keterangan dari al-Qur'an, Hadits dan riwayatnya yang sahih dan kuat. Dengan tertolaknya keterangan-keterangan yang mewajibkan wali itu, berarti wali tidak perlu, artinya tiap-tiap wanita boleh menikah tanpa wali. Jika sekiranya seorang wanita tidak boleh menikah kecuali harus ada wali, tentunya al-Qur'an menyebutkan tentang itu. Demikian pendapat A.Hassan.

14

Rosalin, Analisis Pendapat Ahmad Hassan tentang Bolehnya Wanita Gadis Menikah Tanpa Wali, (Skripsi, Untuk meraih Sarjana Hukum Islam: tidak dipublikasikan ), Semarang: Perpustakaan Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo, 2005.

(19)

Di dalam mempertahankan pendapatnya itu, Ahmad Hassan menggunakan surat al-Baqarah ayat 232 dan hadits dari Abu Hurairah. Setelah diadakan analisis terhadap ayat yang dipergunakan Ahmad Hassan ternyata penafsirannya keliru. Selanjutnya tentang hadits yang dipergunakan sebagai dasar diperbolehkannya nikah tanpa wali, maka di sini pun Ahmad Hassan keliru, karena hadits itu menunjuk bahwa wanita gadis menikah harus memakai wali.

Skripsi yang disusun oleh Kirmanto (Tahun 2006) dengan judul:

Analisis Pendapat Imam al-Syafi'i tentang Akibat Hukum Nikah Tanpa Wali. Dalam kesimpulannya diutarakan bahwa menurut Imam al-Syafi'i, pernikahan tanpa wali maka pernikahan demikian batal, karena pernikahan harus ada izin dari walinya. Alasan Imam al-Syafi'i berpendapat bahwa seperti ini didasarkan pada istinbat hukum berupa al-Qur'an, yaitu al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 232, surat an-Nisa ayat 34, surat an-Nisa ayat 25, dan hadis dari Abu Burdah r.a. dari Abu Musa, r.a. yang diriwayatkan oleh Abu Daud At Tirmidzi, An Nasa'i dan Ibnu Majah), dan dinilai shahih oleh Ibnul Madini, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban

Pendapat Imam al-Syafi'i yang mengharuskan adanya wali dalam pernikahan sangat relevan dengan realitas kehidupan masa kini. Jika dibolehkan nikah tanpa wali, maka sebelum nikah orang akan berani mengadakan hubungan badan sebelum nikah karena orang itu akan beranggapan nikah itu sangat mudah, dan jika ia sudah menikah hak dan kewajiban masing-masing menjadi tidak jelas. Kedudukan hukum wanita

(20)

menjadi lemah apalagi dalam soal waris mewarisi antara ayah dengan anak-anaknya. Problem madaratnya sudah bisa dibayangkan. Karenanya untuk mencegah madaratnya, maka adanya wali sangat diperlukan. Kontekstualisasi pendapat Imam al-Syafi'i tentang keharusan adanya wali dalam pernikahan dalam hukum perkawinan kontemporer. Sangat tepat kalau peristiwa pernikahan itu memerlukan wali dan melibatkan keluarga, terutama wali. Berbeda dengan masyarakat Barat yang sudah "modern", peristiwa pernikahan relatif hanya melibatkan mereka yang menikah saja. Jadi, lebih bersifat individual. Dalam masyarakat adat atau masyarakat yang bersifat kekeluargaan atau masyarakat yang hubungan kekeluargaannya masih kuat, keberadaan wali masih sangat dibutuhkan. Menafikan keluarga dalam masalah pernikahan bukan saja bertentangan, tetapi juga akan terasa janggal dan tidak lazim dilakukan.

Adapun beberapa kitab atau buku yang mengungkapkan tentang kedudukan wali dalam pernikahan dapat disebutkan di bawah ini :

1. Fikhus Sunnah disusun oleh Sayyid Sabiq dalam buku ini dijelaskan panjang lebar tentang masalah pernikahan. Dalam hubungannya dengan wali bahwa wali merupakan suatu ketentuan hukum yang dapat dipaksakan kepada orang lain sesuai dengan bidang hukumnya. Wali ada yang umum dan ada yang khusus. Yang khusus ialah berkenaan dengan manusia dan harta benda. Di sini yang dibicarakan wali terhadap manusia, yaitu masalah perwalian dalam pernikahan.15

15

(21)

2. Al-Muwatta’ hasil karya Imam Malik ibn Anas. Kitab ini merupakan kitab fiqih yang pada dasarnya berisi hadits-hadits yang cukup baik untuk dikaji dan direnungi. Dalam kitab tersebut diungkapkan pula masalah wali dengan penegasan bahwa seorang janda lebih berhak atas dirinya dari pada walinya, dan seorang gadis harus meminta persetujuan walinya. Sedangkan diamnya seorang gadis menunjukkan persetujuannya.16

3. Fath al- Mu’in, disusun oleh Syaikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary. Dalam kitab ini terdapat pula pembahasan tentang pernikahan dan tentang wali. Pengarang kitab tersebut menyatakan wali mempunyai kedudukan yang penting dalam pernikahan. Karena itu wali menjadi bagian dari rukun pernikahan disamping rukun lainnya seperi ada calon suami, calon isteri, dua orang saksi, dan adanya ijab qabul.17

4. Fath al-Qarib disusun oleh Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi. Kitab ini pun menerangkan pula tentang masalah hukum-hukum pernikahan di antaranya dijelaskan bahwa wali secara umum adalah seseorang yang karena kedudukannya berwenang untuk bertindak terhadap dan atas nama orang lain. Wali Nikah ialah: "orang laki-laki yang dalam suatu akad nikah berwenang mengijabkan pernikahan calon mempelai perempuan" Adanya Wali Nikah merupakan rukun dalam akad nikah.18

16

Imam Malik Ibn Annas, al-Muwatha’, Beirut Libanon: Dar al-Kitab Ilmiyah tth, hlm.121.

17

Syaikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary, Fath al-Mu’in Bi Sarkh Qurrah al-‘Uyun, Semarang: Maktabah wa Matbaah, karya Toha Putera , tth, hlm. 72.

18

Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi, Fath al-Qarib, Indonesia: Maktabah al-lhya at-Kutub al-Arabiah, tth, hlm. 22.

(22)

5. Fiqih Wanita hasil karya Ibrahim Muhammad al-Jamal. Dalam buku ini diungkapkan pula beberapa hadits yang menegaskan tidak sahnya nikah jika tanpa wali.19

6. Fiqih Tujuh Madzhab yang dikarang oleh Mahmud Syalthut. Dalam buku itu diungkapkan bahwa nikah tanpa wali terdapat perbedaan pendapat yaitu ada yang menyatakan boleh secara mutlak, tidak boleh secara mutlak, bergantung secara mutlak, dan ada lagi pendapat yang menyatakan boleh dalam satu hal dan tidak boleh dalam hal lainnya.20

7. Hukum-Hukum Fiqih Islam hasil karya TM Hasbi Ash-Shiddiqie. Dalam buku ini dijelaskan bahwa menurut Imam al-Syafi'i, tidak sah nikah melainkan dengan adanya wali yang lelaki.21

Berdasarkan telaah pustaka yang telah disebutkan di atas, maka penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Perbedaannya yaitu penelitian yang telah dijelaskan tersebut belum mengungkapkan pendapat Ibnu Qudamah tentang tidak harus izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah

E. Metode Penelitian

Metode penelitan bermakna seperangkat pengetahuan tentang langkah-langkah sistematis dan logis dalam mencari data yang berkenaan dengan masalah tertentu untuk diolah, dianalisis, diambil kesimpulan dan selanjutnya

19

Ibrahim Muhammad al-Jamal, Fiqih Wanita, terj. Ansori umara sitanggal, Semarang: CV Asyfa, 19960, hlm. 34.

20

Mahmud Syalthut, Fiqih Tujuh Madzhab, terj. Abdullah Zakiy al-Kaaf, Bandung: CV Pustaka Setia, 2000, hlm. 121.

21

TM Hasbi ash-Shiddieqy, Hukum-Hukum Fiqih Islam, Semarang: PT Pustaka Rizki Putera, 2001, hlm. 223.

(23)

dicarikan cara pemecahannya. Metode penelitian dalam skripsi ini dapat dijelaskan sebagai berikut:22

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu dengan jalan melakukan penelitian terhadap sumber-sumber tertulis, maka penelitian ini bersifat kualitatif. Sedangkan Library Research menurut Sutrisno Hadi, adalah suatu riset kepustakaan atau penelitian murni.23 Dalam penelitan ini dilakukan dengan mengkaji dokumen atau sumber tertulis seperti kitab/buku, majalah, dan lain-lain.

2. Sumber Data

a. Data Primer, yaitu data yang langsung yang segera diperoleh dari sumber data oleh penyelidik untuk tujuan yang khusus itu.24 Data yang dimaksud adalah Kitab al-Mughni.

b. Data Sekunder, yaitu data yang telah lebih dahulu dikumpulkan oleh orang diluar diri penyelidik sendiri, walaupun yang dikumpulkan itu sesungguhnya adalah data yang asli.25 Dengan demikian data sekunder yang relevan dengan judul di atas, di antaranya: I'anah al-Talibin; Sahih al-Bukhari; Sahih Muslim; Fath al-Wahab; Bughyatul Musytarsidin; al-Muhazzab; Tasir Ibnu Kasir; Tafsir al-Maragi, Tafsir

22

Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1991, hlm. 24.

23

Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid I, Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi, UGM, 1981, hlm. 9.

24

Winarno Surahmad, Pengantar Penelitian-Penelitian Ilmiah, Dasar Metoda Teknik, Edisi 7, Bandung: Tarsito, 1989, hlm. 134-163.

25

(24)

at-Tabari; Tafsir al-Manar; Tafsir Ahkam; Kitab Mazahib al-Arba'ah;

Fath al-Qarib; Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid; Kifayah al-Akhyar; Fathul Mu'in; Subulus Salam; Nail al-Autar.

3. Metode Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data ini penulis menggunakan metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.26. dengan demikian metode ini dilakukan dengan menghimpun data dari literatur, dan literatur yang digunakan tidak terbatas hanya pada buku-buku tapi berupa bahan dokumentasi, agar dapat ditemukan berbagai teori hukum, dalil, pendapat, guna menganalisis masalah, terutama masalah yang berkaitan dengan masalah yang sedang dikaji.

4. Metode Analisis Data

Data-data hasil penelitian kepustakaan yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan metode deskriptif analisis. Metode ini diterapkan dengan cara mendeskripsikan pendapat dan metode istinbat

hukum pendapat Ibnu Qudamah tentang tidak harus izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab yang

26

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, Cet. II, 1998, hlm. 206

(25)

masing menampakkan titik berat yang berbeda, namun dalam satu kesatuan yang saling mendukung dan melengkapi.

Bab pertama berisi pendahuluan, merupakan gambaran umum secara global namun integral komprehensif dengan memuat: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian dan sistematika Penulisan.

Bab kedua berisi tinjauan umum tentang posisi wali dalam pernikahan yang meliputi pengertian nikah dan dasar hukumnya, syarat dan rukun nikah, wali dalam nikah (pengertian wali dan dasar hukumnya, macam-macam wali, kedudukan dan kewenangan wali dalam pernikahan).

Bab ketiga berisi pendapat Ibnu Qudamah tentang ketidakharusan izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah yang meliputi biografi Ibnu Qudamah dan karyanya (latar belakang Ibnu Qudamah, karya-karyanya), pendapat Ibnu Qudamah tentang ketidakharusan izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah.

Bab keempat berisi analisis pendapat Ibnu Qudamah tentang ketidakharusan izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah yang meliputi analisis pendapat Ibnu Qudamah tentang ketidakharusan izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah, analisis metode

istinbat hukum Ibnu Qudamah tentang ketidakharusan izin dari wali bagi orang safih yang melakukan akad nikah.

Bab kelima merupakan penutup yang berisi kesimpulan, saran dan penutup.

(26)

16

TINJAUAN UMUM TENTANG POSISI WALI DALAM PERNIKAHAN

A. Pengertian Nikah dan Dasar Hukumnya

Pernikahan merupakan kebutuhan fitri setiap manusia yang

memberikan banyak hasil yang penting.1 Pernikahan amat penting dalam

kehidupan manusia, perseorangan maupun kelompok. Dengan jalan pernikahan yang sah, pergaulan laki-laki dan perempuan terjadi secara terhormat sesuai kedudukan manusia sebagai makhluk yang berkehormatan. Pergaulan hidup berumah tangga dibina dalam suasana damai, tenteram, dan rasa kasih sayang antara suami dan istri. Anak keturunan dari hasil pernikahan yang sah menghiasi kehidupan keluarga dan sekaligus merupakan kelangsungan hidup manusia secara bersih dan berkehormatan.2

Berdasarkan hal itu, pada tempatnya apabila Islam mengatur masalah pernikahan dengan amat teliti dan rinci, untuk membawa umat manusia hidup berkehormatan, sesuai kedudukannya yang amat mulia di tengah-tengah makhluk Allah yang lain. Hubungan manusia laki-laki dan perempuan ditentukan agar didasarkan atas rasa pengabdian kepada Allah sebagai Al Khaliq (Tuhan Maha Pencipta) dan kebaktian kepada kemanusiaan guna melangsungkan kehidupan jenisnya. Pernikahan dilaksanakan atas dasar

1Ibrahim Amini,

Principles of Marriage Family Ethics, Terj. Alwiyah Abdurrahman, "Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri", Bandung: al-Bayan, 1999, hlm. 17.

2Ahmad Azhar Basyir,

(27)

kerelaan pihak-pihak bersangkutan, yang dicerminkan dalam adanya ketentuan peminangan sebelum nikah dan ijab-kabul dalam akad nikah yang dipersaksikan pula di hadapan masyarakat dalam suatu perhelatan (walimah). Hak dan kewajiban suami istri timbal-balik diatur amat rapi dan tertib; demikian pula hak dan kewajiban antara orang tua dan anak-anaknya. Apabila terjadi perselisihan antara suami dan istri, diatur pula bagaimana cara mengatasinya. Dituntunkan pula adat sopan santun pergaulan dalam keluarga dengan sebaik-baiknya agar keserasian hidup tetap terpelihara dan terjamin.

Hukum pernikahan mempunyai kedudukan amat penting dalam Islam sebab hukum pernikahan mengatur tata-cara kehidupan keluarga yang merupakan inti kehidupan masyarakat sejalan dengan kedudukan manusia sebagai makhluk yang berkehormatan melebihi makhluk-makhluk lainnya. Hukum pernikahan merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang wajib ditaati dan dilaksanakan sesuai ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Al-qur’an dan Sunnah Rasul. 3

Kata nikah menurut bahasa sama dengan kata kata, zawaj. Dalam

Kamus al-Munawwir, kata nikah disebut dengan an-nikh ( حﺎﻜﻨﻟا ) dan az -ziwaj/az-zawj atau az-zijah

(

ﻪﺠﻳﺰﻟا

-

جاوﺰﻟا

-

جاوﺰﻟا

). Secara harfiah, an-nikh berarti al- wath'u (ءطﻮﻟا ), adh-dhammu ( ﻢﻀﻟا ) dan al-jam'u ( ﻊﻤﺠﻟا ). Al-wath'u berasal dari kata wathi'a - yatha'u - wath'an (

ﺄﻃو

-

ﺄﻄﻳ

-

ﺄﻃو

), artinya berjalan di atas, melalui, memijak, menginjak, memasuki, menaiki, menggauli

3

(28)

dan bersetubuh atau bersenggama.4Adh-dhammu, yang terambil dari akar kata dhamma - yadhummu – dhamman (

ﺎﻤﺿ

-

ﻢﻀﻳ

-

ﻢﺿ

) secara harfiah berarti mengumpulkan, memegang, menggenggam, menyatukan, menggabungkan, menyandarkan, merangkul, memeluk dan menjumlahkan, juga berarti bersikap lunak dan ramah.5

Sedangkan al-jam'u yang berasal dari akar kata jama’a - yajma'u - jam'an (

ﺎﻌﻤﺟ

-

ﻊﻤﺠﻳ

-

ﻊﻤﺟ

) berarti: mengumpulkan, menghimpun, menyatukan, menggabungkan, menjumlahkan dan menyusun. Itulah sebabnya mengapa bersetubuh atau bersenggama dalam istilah fiqih disebut dengan al-jima' mengingat persetubuhan secara langsung mengisyaratkan semua aktivitas yang terkandung dalam makna-makna harfiah dari kata al-jam'u.6

Sebutan lain buat pernikahan ialah az-zawaj/az-ziwaj dan az-zijah. Terambil dari akar kata zaja-yazuju-zaujan (

ﺎﺟوز

-

جوﺰﻳ

-

جاز

) yang secara harfiah berarti: menghasut, menaburkan benih perselisihan dan mengadu

domba. Namun yang dimaksud dengan az-zawaj/az-ziwaj di sini ialah

at-tazwij yang mulanya terambil dari kata zawwaja- yuzawwiju- tazwijan

-

جّوز

)

جّوﺰﻳ

-ﺎﺠﻳوﺰﺗ

( dalam bentuk timbangan "fa'ala-yufa'ilu- taf'ilan"

-

ﻞّﻌﻔﻳ

-

ﻞّﻌﻓ

)

ﻼﻴﻌﻔﺗ

( yang secara harfiah berarti menikahkan, mencampuri, menemani,

mempergauli, menyertai dan memperistri.7

4Ahmad Warson Al-Munawwir,

Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997, hlm. 1461.

5Muhammad Amin Suma,

Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2004, hlm.42-43

6

Ibid, hlm. 43.

7

(29)

Syeikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary dalam kitabnya mengupas tentang pernikahan dan tentang wali. Pengarang kitab tersebut menyatakan nikah adalah suatu akad yang berisi pembolehan melakukan persetubuhan dengan menggunakan lafadz menikahkan atau menikahkan. Kata nikah itu sendiri secara hakiki bermakna persetubuhan.8

Kitab Fath al-Qarib yang disusun oleh Syekh Muhammad bin Qasim

al-Ghazzi menerangkan pula tentang masalah hukum-hukum pernikahan di antaranya dijelaskan kata nikah diucapkan menurut makna bahasanya yaitu kumpul, wati, jimak dan akad dan diucapkan menurut pengertian syara’ yaitu suatu akad yang mengandung beberapa rukun dan syarat.9

Menurut Zakiah Daradjat, pernikahan adalah suatu aqad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa

ketenteraman serta kasih sayang dengan cara yang diridhai Allah SWT.10

Menurut Zahry Hamid, yang dinamakan nikah menurut Syara' ialah: "Akad (ijab qabul) antara wali colon isteri dan mempelai laki-laki dengan ucapan-ucapan tertentu dan memenuhi rukun dan syaratnya.11

Dari segi pengertian ini maka jika dikatakan: "Si A belum pernah nikah", artinya bahwa si A belum pernah mengkabulkan untuk dirinya

8Syaikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary,

Fath al- Mu’in, Beirut: Dar al-Fikr, t.th, hlm. 72.

9Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi,

Fath al-Qarib, Indonesia: Maktabah al-lhya at-Kutub al-Arabiah, tth, hlm. 48.

10Zakiah Daradjat,

Ilmu Fiqh, jilid 2, Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995, hlm. 38.

11Zahry Hamid,

Pokok-Pokok Hukum Pernikahan Islam dan Undang-Undang Pernikahan di Indonesia, Yogyakarta: Bina Cipta, 1978, hlm. 1. Beberapa definisi pernikahan dapat dilihat pula dalam Moh. Idris Ramulyo, Hukum Pernikahan Islam, Suatu Analisis dari Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2002, hlm. 1-4.

(30)

terhadap ijab akad nikah yang memenuhi rukun dan syaratnya. Jika dikatakan: "Anak itu lahir diluar nikah", artinya bahwa anak tersebut dilahirkan oleh seorang wanita yang tidak berada dalam atau terikat oleh ikatan pernikahan berdasarkan akad nikah yang sah menurut hukum.

Menurut Hukum Islam, pernikahan ialah: "Suatu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga dan untuk berketurunan, yang dilaksanakan menurut ketentuan-ketentuan Hukum Syari'at Islam".12

Dalam Pasal 1 Bab I Undang-undang No. : 1 tahun 1974 tanggal 2 Januari 1974 dinyatakan; "Pernikahan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa".13

Di antara pengertian-pengertian tersebut tidak terdapat pertentangan satu sama lain, bahkan jiwanya adalah sama dan seirama, karena pada hakikatnya syari'at Islam itu bersumber kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Hukum pernikahan merupakan bahagian dari hukum Islam yang memuat ketentuan-ketentuan tentang hal ihwal pernikahan, yakni bagaimana proses dan prosedur menuju terbentuknya ikatan pernikahan, bagaimana cara menyelenggarakan akad pernikahan menurut hukum, bagaimana cara

12

Ibid.

13Muhammad Amin Suma,

op. cit, hlm. 203. Dalam pasal 2 Kompilasi Hukum Islam (INPRES No 1 Tahun 1991), pernikahan miitsaaqan ghalizhan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau ghalizhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Lihat Saekan dan Erniati Effendi, Sejarah Penyusunan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Surabaya: Arkola, 1977, hlm. 76.

(31)

memelihara ikatan lahir batin yang telah diikrarkan dalam akad nikah sebagai akibat yuridis dari adanya akad itu, bagaimana cara mengatasi krisis rumah tangga yang mengancam ikatan lahir batin antara suami isteri, bagaimana proses dan prosedur berakhirnya ikatan pernikahan, serta akibat yuridis dari berakhirnya pernikahan, baik yang menyangkut hubungan hukum antara bekas suami dan isteri, anak-anak mereka dan harta mereka. Istilah yang lazim dikenal di kalangan para ahli hukum Islam atau Fuqaha ialah Fiqih Munakahat atau Hukum Pernikahan Islam.

Masing-masing orang yang akan melaksanakan pernikahan, hendaklah memperhatikan intisari dari sabda Rasulullah SAW. yang menggariskan, bahwa semua amal perbuatan itu disandarkan atas niat dari yang beramal itu, dan bahwa setiap orang akan memperoleh hasil dari apa yang diniatkannya. Oleh karenanya maka orang yang akan melangsungkan akad pernikahan hendaklah mengetahui benar-benar maksud dan tujuan pernikahan. Maksud dan tujuan itu adalah sebagai berikut:

a. Mentaati perintah Allah SWT. dan mengikuti jejak para Nabi dan Rasul,

terutama meneladani Sunnah Rasulullah Muhammad SAW., karena hidup beristeri, berumah tangga dan berkeluarga adalah termasuk Sunnah beliau.

b. Memelihara pandangan mata, menenteramkan jiwa, memelihara nafsu

seksualitas, menenangkan pikiran, membina kasih sayang serta menjaga kehormatan dan memelihara kepribadian.

(32)

c. Melaksanakan pembangunan materiil dan spiritual dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga sebagai sarana terwujudnya keluarga sejahtera dalam rangka pembangunan masyarakat dan bangsa.

d. Memelihara dan membina kualitas dan kuantitas keturunan untuk

mewujudkan kelestarian kehidupan keluarga di sepanjang masa dalam rangka pembinaan mental spiritual dan phisik materiil yang diridlai Allah Tuhan Yang Maha Esa.

e. Mempererat dan memperkokoh tali kekeluargaan antara keluarga suami

dan keluarga istri sebagai sarana terwujudnya kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera lahir batin di bawah naungan Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.14

Adapun dasar hukum melaksanakan akad nikah sebagai berikut:

Pada dasarnya pernikahan merupakan suatu hal yang diperintahkan dan dianjurkan oleh Syara'. Beberapa firman Allah yang bertalian dengan disyari'atkannya pernikahan ialah:

1) Firman Allah ayat 3 (An-Nisa'):

ﻨﻟﺍ ﻦﻣ ﻢﹸﻜﹶﻟ ﺏﺎﹶﻃ ﺎﻣ ﹾﺍﻮﺤِﻜﻧﺎﹶﻓ ﻰﻣﺎﺘﻴﹾﻟﺍ ﻲِﻓ ﹾﺍﻮﹸﻄِﺴﹾﻘﺗ ﱠﻻﹶﺃ ﻢﺘﹾﻔِﺧ ﹾﻥِﺇﻭ

ﺀﺎﺴ

ﹰﺓﺪِﺣﺍﻮﹶﻓ ﹾﺍﻮﹸﻟِﺪﻌﺗ ﱠﻻﹶﺃ ﻢﺘﹾﻔِﺧ ﹾﻥِﺈﹶﻓ ﻉﺎﺑﺭﻭ ﹶﺙﹶﻼﹸﺛﻭ ﻰﻨﹾﺜﻣ

..

)

ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ

:

3

(

Artinya:Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka (nikahlah) seorang saja (Q.S.An-Nisa': 3). 15

14Zahry Hamid,

op. cit, hlm. 2.

15Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an,

Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Depag RI, 1986, hlm. 115.

(33)

2) Firman Allah ayat 32 Surah 24 (An-Nur):

ﻷﺍ ﺍﻮﺤِﻜﻧﹶﺃﻭ

ﺍﻮﻧﻮﹸﻜﻳ ﻥِﺇ ﻢﹸﻜِﺋﺎﻣِﺇﻭ ﻢﹸﻛِﺩﺎﺒِﻋ ﻦِﻣ ﲔِﺤِﻟﺎﺼﻟﺍﻭ ﻢﹸﻜﻨِﻣ ﻰﻣﺎﻳ

ﻢﻴِﻠﻋ ﻊِﺳﺍﻭ ﻪﱠﻠﻟﺍﻭ ِﻪِﻠﻀﹶﻓ ﻦِﻣ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﻢِﻬِﻨﻐﻳ ﺀﺍﺮﹶﻘﹸﻓ

)

ﺭﻮﻨﻟﺍ

:

32

(

Artinya: Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (bernikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui (Q.S.An-Nuur': 32). 16

.

3) Firman Allah ayat 21 Surah 30 (Ar-Rum):

ﹶﻞﻌﺟﻭ ﺎﻬﻴﹶﻟِﺇ ﺍﻮﻨﹸﻜﺴﺘﱢﻟ ﹰﺎﺟﺍﻭﺯﹶﺃ ﻢﹸﻜِﺴﹸﻔﻧﹶﺃ ﻦﻣ ﻢﹸﻜﹶﻟ ﻖﹶﻠﺧ ﹾﻥﹶﺃ ِﻪِﺗﺎﻳﺁ ﻦِﻣﻭ

ِﻓ ﱠﻥِﺇ ﹰﺔﻤﺣﺭﻭ ﹰﺓﺩﻮﻣ ﻢﹸﻜﻨﻴﺑ

ﻵ ﻚِﻟﹶﺫ ﻲ

ﱢﻟ ٍﺕﺎﻳ

ﹶﻥﻭﺮﱠﻜﹶﻔﺘﻳ ٍﻡﻮﹶﻘ

)

ﻡﻭﺮﻟﺍ

:

21

(

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dari dijadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Q.S.Ar-Rum: 21). 17

Beberapa hadis yang bertalian dengan disyari'atkannya pernikahan ialah:

ﺩﻮﻌﺴﻣ ﻦﺑﺍ ﻦﻋ

ﻪﻨﻋ ﱃﺎﻌﺗ ﷲﺍ ﻲﺿﺭ

ﻝﺎﻗ

:

ﹼﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻝﺎﻗ

ﻢﹼﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ

":

ﺝﻭﺰﺘﻴﻠﻓ ﺓﺀﺎﺒﻟﺍ ﻢﻜﻨﻣ ﻉﺎﻄﺘﺳﺍ ﻦﻣ ﺏﺎﺒﺸﻟﺍ ﺮﺸﻌﻣ ﺎﻳ

16 Ibid, hlm. 549. 17 Ibid, hlm. 644.

(34)

ﻪﻧﺈﻓ ﻡﻮﺼﻟﺎﺑ ﻪﻴﻠﻌﻓ ﻊﻄﺘﺴﻳ ﱂ ﻦﻣﻭ ﺮﺠﻔﻠﻟ ﻦﺼﺣﺃﻭ ﺮﺼﺒﻠﻟ ﺾﻏﺃ ﻪﻧﺈﻓ

ﺀﺎﺟﻭ ﻪﻟ

."

ﺔﻋﺎﻤﳉﺍ ﻩﺍﻭﺭ

.

18

Artinya: Dari Ibnu Mas'ud ra. dia berkata: "Rasulullah saw. bersabda: "Wahai golongan kaum muda, barangsiapa diantara kamu telah mampu akan beban nikah, maka hendaklah dia menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat memejamkan pandangan mata dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu (menikah), maka hendaklah dia (rajin) berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu menjadi penahan nafsu baginya". (HR. Al-Jama'ah).

ﻝﺎﻗ ﺹﺎﹼﻗﻭ ﰊﺃ ﻦﺑ ﺪﻌﺳ ﻦﻋﻭ

" :

ﻢﹼﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﹼﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﺩﺭ

ﺎﻨﻴﺼﺘﺧﻻ ﻪﻟ ﻥﺫﺃ ﻮﻟﻭ ﻞﺘﺒﺘﻟﺍ ﻥﻮﻌﻈﻣ ﻦﺑ ﻥﺎﻤﺜﻋ ﻰﻠ

) "

ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ

ﻢﻠﺴﳌﺍﻭ

(

19

Artinya: Dari Sa’ad bin Abu Waqqash, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah melarang Utsman bin mazh'un membujang. Dan kalau sekiranya Rasulullah saw. mengizinkan, niscaya kami akan mengebiri". (HR. Al Bukhari dan Muslim).

ﻝﺎﻗ ﻢﹼﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﹼﻠﺻ ﱯﻨﻟﺍ ﺏﺎﺤﺻﺃ ﻦﻣ ﺍﺮﻔﻧ ﹼﻥﺃ ﺲﻧﺃ ﻦﻋﻭ

ﻢﻬﻀﻌﺑ

:

ﺝﻭﺰﺗﺃ ﻻ

,

ﻢﻬﻀﻌﺑ ﻝﺎﻗﻭ

:

ﻡﺎﻧﺃ ﻻﻭ ﻲﹼﻠﺻﺃ

,

ﻢﻬﻀﻌﺑ ﻝﺎﻗﻭ

:

ﺮﻄﻓﺃﻻﻭ ﻡﻮﺻﺃ

,

ﻝﺎﻘﻓ ﻢﹼﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﹼﻠﺻ ﱯﻨﻟﺍ ﻚﻟﺫ ﻎﻠﺒﻓ

":

ﻝﺎﺑ ﺎﻣ

ﺬﻛﻭ ﺍﺬﻛ ﺍﻮﻟﺎﻗ ﻡﺍﻮﻗﺃ

ﻡﻮﺻﺃ ﻲﻨﻜﻟ ﺍ

ﺮﻄﻓﺃﻭ

,

ﻡﺎﻧﺃﻭ ﻲﹼﻠﺻﺃﻭ

,

ﺝﻭﺰﺗﺃﻭ

ﻲﻨﻣ ﺲﻴﻠﻓ ﻲﺘﻨﺳ ﻦﻋ ﺐﻏﺭ ﻦﻤﻓ ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ

) ."

ﻪﻴﻠﻋ ﻖﻔﺘﻣ

(

20

Artinya: Dari Anas: "Sesungguhnya beberapa orang dari sahabat Nabi saw. sebagian dari mereka ada yang mengatakan: "Aku tidak akan menikah". Sebagian dari mereka lagi mengatakan: "Aku akan selalu bersembahyang dan tidak tidur". Dan sebagian dari mereka juga ada yang mengatakan: "Aku akan selalu berpuasa dan tidak akan berbuka". Ketika hal itu

18Muhammad Asy Syaukani,

Nail al–Autar, Beirut: Daar al-Qutub al-Arabia, juz 4, 1973, hlm. 171.

19

Ibid, hlm. 171

20

(35)

didengar oleh Nabi saw. beliau bersabda: "Apa maunya orang-orang itu, mereka bilang begini dan begitu?. Padahal disamping berpuasa aku juga berbuka. Disamping sembahyang aku juga tidur. Dan aku juga menikah dengan wanita. Barangsiapa yang tidak suka akan sunnahku, maka dia bukan termasuk dari (golongan) ku".(HR. Al Bukhari dan Muslim).

ﻝﺎﻗ ﲑﺒﺟ ﻦﺑ ﺪﻴﻌﺳ ﻦﻋﻭ

:

ﺱﺎﺒﻋ ﻦﺑﺍ ﱄ ﻝﺎﻗ

:

ﺖﻠﻗ ؟ﺖﺟﻭﺰﺗ ﻞﻫ

:

,

ﻝﺎﻗ

:

ﺀﺎﺴﻧ ﺎﻫﺮﺜﻛﺃ ﺔﻣﻷﺍ ﻩﺬﻫ ﲑﺧ ﹼﻥﺎﻓ ﺝﻭﺰﺗ

).

ﺪﲪﺃ ﻩﺍﻭﺭ

ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍﻭ

(

21

Artinya: Dari Sa'id bin Jubair, dia berkata: "Ibnu Abbas pernah bertanya kepadaku: "Apakah kamu telah menikah?". Aku menjawab: "Belum". Ibnu Abbas berkata: "Menikahlah, karena sesungguhnya sebaik-baiknya ummat ini adalah yang paling banyak kaum wanitanya". (HR. Ahmad dan Al-Bukhari).

ﺓﺮﲰ ﻦﻋ ﻦﺴﳊﺍ ﻦﻋ ﺓﺩﺎﺘﻗ ﻦﻋﻭ

" :

ﻢﹼﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﹼﻠﺻ ﱯﻨﻟﺍ ﹼﻥﺃ

ﻞﺘﺒﺘﻟﺍ ﻦﻋ ﻰ

"

,

ﺓﺩﺎﺘﻗ ﺃﺮﻗﻭ

) :

ﺎﻨﹾﻠﻌﺟﻭ ﻚِﻠﺒﹶﻗ ﻦﻣ ﹰﻼﺳﺭ ﺎﻨﹾﻠﺳﺭﹶﺃ ﺪﹶﻘﹶﻟﻭ

ﹰﺔﻳﺭﹸﺫﻭ ﹰﺎﺟﺍﻭﺯﹶﺃ ﻢﻬﹶﻟ

) (

ﺪـﻋﺮﻟﺍ

:

38

) .(

ﻦـﺑﺍﻭ ﻱﺬـﻣﺮﺘﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ

ﻪﺟﺎﻣ

.(

22

Artinya: dari Qatadah dari Al Hasan dari Samurah: "Sesungguhnya Nabi saw. melarang membujang. Selanjutnya Qatadah membaca (ayat): "Dan sesungguhnya kami telah mengutus beberapa orang Rasul sebelum kamu dan kami berikan kepada mereka beberapa isteri dan anak cucu". (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Menurut At Tirmidzi, hadits Samurah tersebut adalah hadits Hasan yang gharib (aneh). Al Asy'ats bin Abdul Mulk meriwayatkan hadis ini dari

21Ibid 22

Ibid. Lihat juga TM.Hasbi ash Shiddieqy, Koleksi Hadits-Hadits Hukum, Semarang: PT.Pustaka Rizki Putra, jilid 8, 2001, hlm. 3-8. TM.Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadits, jilid 5, Semarang; PT.Pustaka Rizki Putra, 2003, hlm. 3-8

(36)

Hasan dari Sa'ad bin Hisyam dari Aisyah dan ia dari Nabi saw. Dikatakan bahwa kedua hadits tersebut adalah shahih.

Hadis senada diketengahkan oleh Ad Darimi dalam Musnad Al Firdaus dari Ibnu Umar, dia mengatakan: "Rasulullah saw. bersabda: "Berhajilah nanti kamu akan kaya. Bepergianlah nanti kamu akan sehat, dan menikahlah nanti kamu akan banyak. Sesungguhnya aku akan dapat membanggakan kamu dihadapan umat-umat lain". Dalam isnad hadis tersebut terdapat nama Muhammad bin Al Harits dari Muhammad bin Abdurrahman Al Bailamni, keduanya adalah perawi yang sama-sama lemah.

Hadis senada juga diketengahkan oleh Al Baihaqi dari Abu Umamah dengan redaksi: "Menikahlah kamu, karena sesungguhnya aku akan membanggakan kalian dihadapan ummat-ummat lain, dan janganlah kalian seperti para pendeta kaum Nasrani". Namun dalam sanadnya terdapat nama-nama Muhammad bin Tsabit, seorang perawi yang lemah.

Hadis senada lagi diriwayatkan oleh Daraquthni dalam Al Mu'talaf dari Harmalah bin Nu'man dengan redaksi: "Wanita yang produktif anak itu lebih disukai oleh Allah ketimbang wanita cantik namun tidak beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kalian di hadapan ummat-ummat lain pada hari kiamat kelak". Namun menurut Al Hafiz Ibnu Hajar, sanad hadis ini lemah.

Para Fukaha berbeda pendapat tentang status hukum asal dari pernikahan. Menurut pendapat yang terbanyak dari fuqaha madzhab Syafi'i, hukum nikah adalah mubah (boleh), menurut mazhab Hanafi, Maliki, dan

(37)

Hambali hukum nikah adalah sunnat, sedangkan menurut madzhab zahiry dan

Ibn. Hazm hukum nikah adalah wajib dilakukan sekali seumur hidup.23

Adapun Hukum melaksanakan pernikahan jika dihubungkan dengan kondisi seseorang serta niat dan akibat-akibatnya, maka tidak terdapat perselisihan di antara para ulama, bahwa hukumnya ada beberapa macam, yaitu:24

Pernikahan hukumnya wajib bagi orang yang telah mempunyai keinginan kuat untuk nikah dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul beban kewajiban dalam hidup pernikahan serta ada kekhawatiran, apabila tidak nikah, ia akan mudah tergelincir untuk berbuat zina.

Alasan ketentuan tersebut adalah sebagai berikut: menjaga diri dari perbuatan zina adalah wajib. Apabila bagi seseorang tertentu penjagaan diri itu hanya akan terjamin dengan jalan nikah, maka bagi orang itu melakukan pernikahan hukumnya wajib. Qa'idah fiqhiyah mengatakan, "Sesuatu yang mutlak diperlukan untuk menjalankan suatu kewajiban, hukumnya adalah wajib"; atau dengan kata lain, "Apabila suatu kewajiban tidak akan terpenuhi tanpa adanya suatu hal, hal itu wajib pula hukumnya." Penerapan kaidah tersebut dalam masalah pernikahan adalah apabila seseorang hanya dapat menjaga diri dari perbuatan zina dengan jalan pernikahan, baginya pernikahan itu wajib hukumnya.

Pernikahan hukumnya sunnah bagi orang yang telah berkeinginan kuat untuk nikah dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan

23Zahry Hamid,

op, cit., hlm. 3-4.

24Ahmad Azhar Basyir,

(38)

memikul kewajiban-kewajiban dalam pernikahan, tetapi apabila tidak nikah juga tidak ada kekhawatiran akan berbuat zina.

Alasan hukum sunnah ini diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi sebagaimana telah disebutkan dalam hal Islam menganjurkan pernikahan di atas. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa beralasan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi itu, hukum dasar pernikahan adalah sunnah. Ulama madzhab al-Syafi’i berpendapat bahwa hukum asal pernikahan adalah mubah. Ulama-ulama madzhab zahiri berpendapat bahwa pernikahan wajib dilakukan bagi orang yang telah mampu tanpa dikaitkan adanya kekhawatiran akan berbuat zina apabila tidak nikah.25

Pernikahan hukumnya haram bagi orang yang belum berkeinginan serta tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul kewajiban-kewajiban hidup pernikahan sehingga apabila nikah juga akan berakibat menyusahkan isterinya. Hadis Nabi mengajarkan agar orang jangan sampai berbuat yang berakibat menyusahkan diri sendiri dan orang lain.

Al-Qurthubi dalam kitabnya Jami li Ahkam al-Qur’an (Tafsir

al-Qurthubi) berpendapat bahwa apabila calon suami menyadari tidak akan mampu memenuhi kewajiban nafkah dan membayar mahar untuk isterinya, atau kewajiban lain yang menjadi hak isteri, tidak halal menikahi seseorang kecuali apabila ia menjelaskan keadaannya itu kepada calon isteri; atau ia bersabar sampai merasa akan dapat memenuhi hak-hak isterinya, barulah ia boleh melakukan pernikahan. Lebih lanjut Al-Qurthubi dalam kitabnya Jami'

25

(39)

li Ahkam al-Qur’an mengatakan juga bahwa orang yang mengetahui pada dirinya terdapat penyakit yang dapat menghalangi kemungkinan melakukan hubungan dengan calon isteri harus memberi keterangan kepada calon isteri agar pihak isteri tidak akan merasa tertipu. Apa yang dikatakan Al-Qurthubi itu amat penting artinya bagi sukses atau gagalnya hidup pernikahan. Dalam bentuk apa pun, penipuan itu harus dihindari. Bukan saja cacat atau penyakit yang dialami calon suami, tetapi juga nasab keturunan. kekayaan. kedudukan, dan pekerjaan jangan sampai tidak dijelaskan agar tidak berakibat pihak istri merasa tertipu.26

Hal yang disebutkan mengenai calon suami itu berlaku juga bagi calon istri. Calon isteri yang tahu bahwa ia tidak akan dapat memenuhi kewajibannya terhadap suami, karena adanya kelainan atau penyakit, harus memberikan keterangan kepada calon suami agar jangan sampai terjadi pihak suami merasa tertipu. Bila ia mencoba menutupi cacat yang ada pada dirinya, maka suatu hari masalah ini akan berkembang dengan pertengkaran dan penyesalan.

Bahkan kekurangan-kekurangan yang terdapat pada diri calon isteri, yang apabila diketahui oleh pihak colon suami, mungkin akan mempengaruhi maksudnya untuk menikahi, misalnya giginya palsu sepenuhnya, rambutnya habis yang tidak mungkin akan tumbuh lagi hingga terpaksa memakai rambut palsu atau wig dan sebagainya, harus dijelaskan kepada colon suami untuk menghindari jangan sampai akhirnya pihak suami merasa tertipu.

26Sikap terus terang antara calon suami isteri sangat penting karena untuk membangun

sikap jujur yang justru harus dimulai pada saat saling mengenal. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari sekap menyesal.

(40)

Pernikahan hukumnya makruh bagi seorang yang mampu dalam segi materiil, cukup mempunyai daya tahan mental dan agama hingga tidak khawatir akan terseret dalam perbuatan zina, tetapi mempunyai kekhawatiran tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadap isterinya, meskipun tidak akan berakibat menyusahkan pihak istri; misalnya, calon isteri tergolong orang kaya atau calon suami belum mempunyai keinginan untuk nikah.

Imam Ghazali berpendapat bahwa apabila suatu pernikahan dikhawatirkan akan berakibat mengurangi semangat beribadah kepada Allah dan semangat bekerja dalam bidang ilmiah, hukumnya lebih makruh dari pada yang telah disebutkan di atas.27

Pernikahan hukumnya mubah bagi orang yang mempunyai harta, tetapi apabila tidak nikah tidak merasa khawatir akan berbuat zina dan andaikata nikah pun tidak merasa khawatir akan menyia-nyiakan kewajibannya terhadap istri. Pernikahan dilakukan sekedar untuk memenuhi syahwat dan kesenangan bukan dengan tujuan membina keluarga dan menjaga keselamatan hidup beragama.28

B. Syarat dan Rukun Nikah

Untuk memperjelas syarat dan rukun nikah maka lebih dahulu dikemukakan pengertian syarat dan rukun baik dari segi etimologi maupun terminologi. Secara etimologi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rukun

27Ahmad Azhar Basyir,

op. cit, hlm. 16

28

(41)

adalah "yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan,"29 sedangkan syarat adalah "ketentuan (peraturan, petunjuk) yang harus diindahkan dan dilakukan."30 Menurut Satria Effendi M. Zein, bahwa menurut bahasa, syarat

adalah sesuatu yang menghendaki adanya sesuatu yang lain atau sebagai tanda,31 melazimkan sesuatu.32

Secara terminologi, yang dimaksud dengan syarat adalah segala sesuatu yang tergantung adanya hukum dengan adanya sesuatu tersebut, dan tidak adanya sesuatu itu mengakibatkan tidak ada pula hukum, namun dengan

adanya sesuatu itu tidak mesti pula adanya hukum.33 Hal ini sebagaimana

dikemukakan Abd al-Wahhab Khalaf,34 bahwa syarat adalah sesuatu yang

keberadaan suatu hukum tergantung pada keberadaan sesuatu itu, dan dari ketiadaan sesuatu itu diperoleh ketetapan ketiadaan hukum tersebut. Yang dimaksudkan adalah keberadaan secara syara’, yang menimbulkan efeknya.

Hal senada dikemukakan Muhammad Abu Zahrah, asy-syarth (syarat) adalah

sesuatu yang menjadi tempat bergantung wujudnya hukum. Tidak adanya syarat berarti pasti tidak adanya hukum, tetapi wujudnya syarath tidak pasti wujudnya hukum.35 Sedangkan rukun, dalam terminologi fikih, adalah sesuatu yang dianggap menentukan suatu disiplin tertentu, di mana ia merupakan

29Departemen Pendidikan Nasional,

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2004, hlm. 966.

30

Ibid., hlm. 1114.

31Satria Effendi M. Zein,

Ushul Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2005, hlm. 64

32Kamal Muchtar,

Ushul Fiqh, Jilid 1, Yogyakarta: PT Dana Bhakti Wakaf, 1995, hlm. 34

33Alaiddin Koto,

Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 50

34Abd al-Wahhab Khalaf, ‘

IlmUsul al-Fiqh, Kuwait: Dar al-Qalam, 1978, hlm. 118.

35Muhammad Abu Zahrah,

(42)

bagian integral dari disiplin itu sendiri. Atau dengan kata lain rukun adalah penyempurna sesuatu, di mana ia merupakan bagian dari sesuatu itu.36

Adapun syarat dan rukun nikah sebagai berikut: sebagaimana diketahui bahwa menurut UU No 1/1974 Tentang Pernikahan Bab: 1 pasal 2 ayat 1 dinyatakan, bahwa pernikahan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya.37

Bagi ummat Islam, pernikahan itu sah apabila dilakukan menurut syariat Islam, Suatu akad nikah dipandang sah apabila telah memenuhi segala rukun dan syaratnya sehingga keadaan akad itu diakui oleh Hukum Syara'.

Rukun akad nikah ada lima, yaitu: 1. Calon suami, syarat-syaratnya:

a. Beragama Islam. b. Jelas ia laki-laki. c. Tertentu orangnya.

d. Tidak sedang berihram haji/umrah.

e. Tidak mempunyai isteri empat, termasuk isteri yang masih dalam

menjalani iddah thalak raj'iy.

f. Tidak mempunyai isteri yang haram dimadu dengan mempelai

perempuan, termasuk isteri yang masih dalam menjalani iddah thalak raj'iy.

36Abdul Ghofur Anshori,

Hukum dan Praktik Perwakafan di Indonesia, Yogyakarta: Pilar Media, 2006, hlm. 25.

37Arso Sosroatmodjo dan A.Wasit Aulawi,

Hukum Pernikahan di Indonesia, Jakarta; Bulan Bintang, 1975, hlm. 80

(43)

g. Tidak dipaksa.

h. Bukan mahram calon isteri. 2. Calon Isteri, syarat-syaratnya:

a. Beragama Islam, atau Ahli Kitab. b. Jelas ia perempuan.

c. Tertentu orangnya.

d. Tidak sedang berihram haji/umrah.

e. Belum pernah disumpah li'an oleh calon suami.

f. Tidak bersuami, atau tidak sedang menjalani iddah .dari lelaki lain.

g. Telah memberi idzin atau menunjukkan kerelaan kepada wali untuk

menikahkannya.

h. Bukan mahram calon suami.38 3. Wali. Syarat-syaratnya:

a. Beragama Islam jika calon isteri beragama Islam. b. Jelas ia laki-laki.

c. Sudah baligh (telah dewasa). d. Berakal (tidak gila).

e. Tidak sedang berihram haji/umrah.

f. Tidak mahjur bissafah (dicabut hak kewajibannya). g. Tidak dipaksa.

h. Tidak rusak fikirannya sebab terlalu tua atau sebab lainnya. i. Tidak fasiq.

38Slamet Abidin dan Aminuddin,

Fiqih Munakahat, Jilid I, Bandung: CV Pustaka Setia, 1999, hlm. 64.

(44)

4. Dua orang saksi laki-laki. Syarat-syaratnya: a. Beragama Islam.

b. Jelas ia laki-laki.

c. Sudah baligh (telah dewasa). d. Berakal (tidak gila),:

e. Dapat menjaga harga diri (bermuru’ah) f. Tidak fasiq.

g. Tidak pelupa.

h. Melihat (tidak buta atau tuna netra). i. Mendengar (tidak tuli atau tuna rungu). j. Dapat berbicara (tidak bisu atau tuna wicara). k. Tidak ditentukan menjadi wali nikah.

l. Memahami arti kalimat dalam ijabqabul. 39 5. Ijab dan Qabul.

Ijab akad nikah ialah: "Serangkaian kata yang diucapkan oleh wali nikah atau wakilnya dalam akad nikah, untuk menerimakan nikah calon suami atau wakilnya".

Syarat-syarat ijab akad nikah ialah:

a. Dengan kata-kata tertentu dan tegas, yaitu diambil dari "nikah" atau "tazwij" atau terjemahannya, misalnya: "Saya nikahkan Fulanah, atau saya nikahkan Fulanah, atau saya perjodohkan - Fulanah"

b. Diucapkan oleh wali atau wakilnya.

39Zahry Hamid,

op. cit, hlm. 24-28. Tentang syarat dan rukun pernikahan dapat dilihat juga dalam Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1977, hlm. 71.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...