• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH

PERGERAKAN NASIONAL

INDONESIA

(2)

A H M A D I N | ii

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

Lingkup Hak Cipta

Pasal 2 :

1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketentuan Pidana

Pasal 72 :

1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual

kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3)

iii |SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA

SEJARAH

PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA

A H M A D I N

PENERBIT RAYHAN INTERMEDIA 2017

(4)

A H M A D I N | iv

SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA Copyright © 2015 Ahmadin Penerbit: RAYHAN INTERMEDIA Jl. Naja Dg. Nai Lr 4/8 Rappokalling Makassar 90216 Tlp./Fax (0411) 433602 e-mail: [email protected]

Toko Buku Online: www.jualanbukumakassar.com

Cetakan Pertama, September 2015 Cetakan Kedua, Nopember2015

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, Cetakan Ke-3: Mei 2017, Rayhan Intermedia

178 hlm (x + 168): 14 x 21 cm ISBN: 978-602-72662-0-9

(5)

v |SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA

DAFTAR ISI

PRAKATA PENULIS — v

PENGANTAR PENERBIT — vii

BAB I PERGERAKAN NASIONAL: APA DAN MENGAPA? — 1

A. Pengertian Pengerakan Nasional — 1

B. Penyebab Munculnya Pergerakan Nasional —5

BAB II ORGANISASI-ORGANISASI AWAL PERGERAKAN NASIONAL — 13 A. Budi Utomo — 13 B. Perhimpunan Indonesia — 23 C. Sarekat Islam — 39 D. Indische Partij — 50 E. Muhammadiyah — 57

BAB III CORAK BARU PERGERAKAN NASIONAL — 69

A. Partai Komunis Indonesia — 69

B. Partai Nasional Indonesia — 78 C. Partindo, PNI Baru dan Gerindo — 83

(6)

A H M A D I N | vi

BAB IV AKHIR MASA HINDIA BELANDA — 92 A. Fraksi Nasional — 92

B. Petisi Sutarjo — 95

C. Gabungan Politik Indonesia — 101

BAB V GERAKAN PEREMPUAN DAN PEMUDA — 108

A. Organisasi Perempuan — 108

B. Organisasi Pemuda dan Kepanduan — 114

BAB VI PERGERAKAN NASIONAL MASA FASISME JEPANG — 127

A. Respon Kaum Nasionalis

Tehadap Kehadiran Jepang — 121

B. Kerjasama Pihak Jepang dengan Kaum Nasionalis Indonesia — 126

C. Mobilisasi Rakyat — 136

D. Perlawanan Rakyat Terhadap Jepang — 142

BAB VII SEKITAR PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA — 149

A. Solidaritas Pemuda Sebagai Motor Penggerak — 149

B. Peristiwa Rengasdengklok — 152

(7)

vii |SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA

DAFTAR PUSTAKA — 162

(8)

A H M A D I N | viii

PENGANTAR PENERBIT

Buku yang berjudul “Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia” ini merupakan jenis buku teks yang diguna-kan untuk mata kuliah “Sejarah Pergeradiguna-kan Nasional” pada perguruan tinggi yang memiliki jurusan Sejarah atau Pendidikan Sejarah.

Pembahasan buku ini dimulai dari penemukenalan istilah pergerakan nasional, yang dimaksudkan untuk mengakrabkan pembaca pada istilah ini sekaligus mengi-dentifikasi persamaan dan perbedaannya dengan istilah “kebangunan nasional” dan “Kebangkitan Nasional”. Bahkan pada bagian ini dikemukakan akar penyebab lahirnya pergerakan nasional baik dihubungkan dengan faktor dalam maupun luar negeri.

Bagian kedua menguraikan proses kelahiran dan karakteristik organisasi-organisasi pegerakan nasional awal, mulai dari Budi Utomo hingga Muhammadiyah. Selanjutnya, diuraikan corak baru pergerakan nasional yang menunjukkan perkembangan orientasi gerakan yang sebelumnya berciri gerakan sosial, kemudian berubah menjadi gerakan politik hingga menyatakan konfrontasi langsung dengan pihak pemerintah kolonial.

(9)

ix |SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA

Bagian berikut menyajikan tipe pergerakan nasional menghadapi situasi politik menjelang runtuhnya Hindia Belanda atau akhir masa pemerintahan kolonial Belanda di Nusantara. Selanjutnya, disusul pembahasan mengenai pergerakan perempuan dan pemuda yang menunjukkan bahwa kaum perempuan dan pemuda yang tergabung dalam gerakan kepanduan pun ikut ambil bagian dalam proses perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Bagian berikut mengkaji tentang pergerakan nasional masa fasisme Jepang yang diawali dengan ulasan tentang sikap lunak kaum nasionalis atas kehadiran Jepang yang menjanjikan kemerdekaan. Kemudian diulas mengenai bentuk-bentuk mobilisasi massa yang dilakukan oleh pemerintah militer Jepang dalam bentuk pembentukan organisasi-organisasi semi-militer yang pada gilirannya menjadi kekuatan yang justru melawan Jepang. Pada bagian ini juga diungkap bentuk-bentuk perlawanan pada berbagai daerah di Indonesia.

Bagian terakir membahas tentang pergerakan nasio-nal menjelang proklamasi kemerdekaan yang dimulai dari bahasan tentang solidaritas pemuda sebagai motor penggerak, peristiwa Rengas Dengklok, hingga diprokla-masikannya kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Harus diakui bahwa buku-buku yang mengkaji se-putar perjalanan pergerakan nasional sangat banyak berikut gaya dan cara menyajikannya pun bervariasi.

(10)

A H M A D I N | x Keunggulan buku ini karena spesifik mengkaji sifat dan karakteristik masing-masing organisasi pergerakan yang lahir sebagai respon atas kondisi (situasi) politik yang diciptakan oleh kaum kolonial pada masanya. Selain itu, buku-buku sejarah pergerakan nasional lainnya (seperti yang dijadikan referensi dalam buku ini) diterbitkan tahun 1960-an, 1970-an, 1980-an, dan 1990-an, sehingga dapat dipastikan hanya dimiliki oleh sebagian pembaca saja. Dengan demikian, kehadiran buku ini setidaknya akan menjadi bacaan yang masih segar dan menjadi referensi untuk mengantar pembaca mengetahui atau menemu-kenali buku-buku bertema serupa yang pernah terbit beberapa dekade lalu. Singkatnya, buku ini relevan dengan silabus dan kurikulum jurusan sejarah di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Makassar, Februari 2015

(11)

1 |SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA

BAB I

PERGERAKAN NASIONAL:

APA DAN MENGAPA?

A. Arti Pengerakan Nasional

Pengerakan Nasionalmerupakan istilah yang

diguna-kan untuk menyebut satu fase dalam sejarah Indonesia yakni masa perjuangan mencapai kemerdekaan yakni pada kurun 1908-1945. Mengapa 1908 dijadikan sebagai tahun awal?, alasannya karena pada masa inilah per-juangan yang dilakukan rakyat termasuk dalam kategori bervisi nasional. Artinya pergerakan yang dilakukan untuk menentang kaum penjajah sebelum tahun ini, masih bersifat kedaerahan atau sebatas masing-masing memperjuangkan kelompoknya masing-masing.

Timbulnya kesadaran baru dengan cita-cita nasional disertai lahirnya organisasi modern sejak 1908, me-nandai lahirnya satu kebangkitan dengan semangat yang berbeda. Dengan demikian, masa awal perjuangan bang-sa periode ini dikenal pula dengan sebutan kebangkitan nasional. Istilah pergerakan nasional lainnya juga diguna-kan untuk melukisdiguna-kan proses perjuangan bangsa Indonesia dalam fase mempertahankan kemerdekaan (masa revolusi fisik). Pergerakan masa ini merupakan

(12)

A H M A D I N | 2 upaya untuk membendung hasrat kaum kolonial yang ingin menanamkan kembali kekuasaannya di Indonesia.

Istilah pergerakan identik dengan istilah movement

dalam bahasa Inggris. Alasan mengapa disebut

per-gerakan nasional, karena orientasi perjuangan yang dilakukan melalui wadah organisasi modern menyang-kut arah perbaikan hajat hidup bangsa Indonesia. Arti-nya, pergerakan tersebut merupakan refleksi rasa ketidakpuasan dan ketidaksetujuan terhadap keadaan masyarakat yang sangat memperihatinkan ketika itu. Mencapai kemerdekaan bersama sebagai bangsa, me-rupakan cita-cita nasional dan usaha terorganisir ini adalah sebuah pergerakan nasional.

Untuk memaknai lebih lanjut, menarik dikemukakan pandangan Henry A. Lansberger dan Yu.G. Alexandrov tentang empat dimensi penting dari sebuah gerakan, yakni: (1) tingkat adanya kesadaran bersama tentang nasib yang dialami, (2) tingkat di mana aksi itu bersifat kolektif, baik dalam lingkup orang yang terlibat maupun tingkat koordinasi dan organisasi aksi, (3) lingkup di mana aksi itu bersifat instrumental yang dirancang untuk mencapai sasaran di luar aksi itu sendiri, dan (4) tingkat di mana reaksi itu didasarkan secara ekslusif atas

kerendahan status sosial, ekonomi, dan politik.1

Kaitannya dengan pergerakan nasional, yakni ke-sadaran bersama tentang nasib merupakan sebentuk identifikasi diri atas sejumlah penderitaan yang

(13)

diakibat-3 |SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA

kan oleh ulah kaum kolonial yang pada gilirannya mencipta sikap anti-penjajah. Pada tingkat aksi kolektif berhubungan dengan perjuangan yang dilakukan secara terorganisir melalui organisasi modern. Kemudian sifat instrumental yakni menjadikan organisasi modern se-bagai alat untuk mencapai tujuan bersama yakni merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Begitu pula dengan tingkat reaksi berkaitan dengan kondisi memperihatin-kan yang dialami oleh rakyat di Nusantara selama bertahun-tahun.

Arti pergerakan nasional lebih lanjut, dapat dilihat pada uraian berikut ini:

Untuk menunjukkan sifat yang lebih aktif dan penuh menanggung risiko dalam perjuangan, maka banyak para pelaku sejarah menggunakan perkataan “pergerakan nasional” daripada “kebangkitan nasional”. Walaupun sebenarnya hal itu sama tujuannya. Bahkan apabila ditinjau dari awal perjuangan untuk mencapai cita-cita nasional, organisasi pergerakan nasional pada waktu itu menggunakan istilah “insulinde” (negeri yang cantik molek bangun dari tidurnya). Oleh karena itu, digunakan perkataan “kebangunan nasional”. Yang dimaksudkan dengan negeri cantik molek adalah Indonesia (Hindia Belanda waktu itu). Berhubung Indonesia masih dalam cengkraman penjajah, maka dikatakan masih tidur. Setelah ada organisasi pergerakan nasional, maka dikatakan “bangun dari tidurnya”. Jadi rakyatnya mulai berjuang

untuk membebaskan diri dari penjajahan.2

Uraian tersebut menunjukkan bahwa ada tiga istilah yang melekat pada eksistensi perjuangan mencapai

(14)

A H M A D I N | 4 kemerdekaan di Indonesia tersebut, yakni pergerakan nasional, kebangkitan nasional, dan kebangunan nasio-nal. Dua istilah terakhir cenderung berkonotasi peng-gambaran atas satu situasi awal atau hanya melukiskan sebuah momentum penting, sedangkan istilah pertama lebih bersifat dinamis serta menunjukkan suatu aksi. Istilah kebangkitan dan kebangunan, lebih tepat untuk menggambarkan pergerakan modern awal. Dengan demikian, istilah pengerakan sepertinya lebih pas untuk melukiskan proses dan arah perjuangan bangsa dalam kurun 1908-1945 ini.

Sartono Kartodirjo menggunakan istilah “Kebangu-nan Nasional”, tatkala melukiskan dimulainya fase baru dalam sejarah perjuangan bangsa yakni berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 di Batavia (Jakarta). Menurutnya, kelahiran organisasi ini didasar-kan atas pengalaman-pengalaman masa lampau dengan model perlawanan bersifat lokal tidak efektif. Karena itu, dalam fase ini timbul kesadaran mendalam akan persatuan dengan menghimpun secara terorganisir

segenap potensi perjuangan yang ada.3

Moedjanto menguraikan ciri perjuangan atau per-lawanan dari rakyat terhadap kolonialisme dan imperial-isme di Nusantara sebelum dan setelah 1900, sebagai berikut: (1) Sebelum 1900; perjuangan rakyat berciri perlawanan atau perjuangan bersifat kedaerahan atau lokal, menggantungkan pada tokoh kharismatik, dan

(15)

5 |SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA

belum ada tujuan yang jelas; (2) Setelah 1900; perjua-ngan rakyat berciri perjuaperjua-ngan bersifat nasional,

diplo-masi, dan perjuangan dengan organisasi modern.4

B. Penyebab Munculnya Pergerakan Nasional

Pergerakan nasional yang mewujud sebagai buah protes atas sejumlah penindasan kaum kolonial pada rakyat di Nusantara selama bertahun-tahun, bukanlah peristiwa yang terjadi tiba-tiba dalam fase sesaat. Akan tetapi, melewati serangkaian proses mulai dari bentuk-nya yang relatif sederhana (tradisional) dengan sema-ngat kedaerahan, hingga pergerakan dalam kategori modern dengan rasa sebangsa sebagai energi penggerak-nya. Dengan demikian, untuk menjelaskan penyebab timbulnya harus dihubungkaitkan bersama sejumlah prakondisi baik penyebab langsung maupun tidak langsung. Dalam banyak literatur, penyebab langsung disebut faktor dalam negeri (internal), sedangkan penyebab tidak langsung dinamakan faktor luar negeri (eksternal).

Beberapa faktor penyebab timbulnya pergerakan nasional yang bersumber dari dalam negeri (internal), antara lain digambarkan sebagai berikut:

1. Adanya tekanan dan penderitaan yang terus

menerus, sehingga rakyat Indonesia harus bangkit melawan penjajah;

(16)

A H M A D I N | 6 2. Adanya rasa senasib-sepenanggungan yang hidup

dalam cengkraman penjajah, sehingga timbul se-mangat bersatu membentuk Negara;

3. Adanya rasa kesadaran nasional dan harga diri, menyebabkan kehendak untuk memiliki tanah air

dan hak menentukan nasib sendiri.5

Tekanan dan penderitaan terus menerus yang dimaksud merupakan akumulasi dari sejumlah tindakan kaum penjajah, mulai dari Bangsa Portugis, Belanda, Inggris, Perancis, dan Jepang. Belanda merupakan pen-jajah terlama menanamkan pengaruhnya di Nusantara, sehingga berbagai bentuk penindasan yang membuat rakyat menjadi miskin, menderita, dan tertinggal telah menjadi catatan hitam dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Perlakuan sejenis yang dialami bersama itulah menimbulkan perasaan senasib dan akhirnya menjelma menjadi semangat untuk membentuk sebuah negara. Kesadaran akan pentingnya kebersatuan untuk mewu-judkan impian bersama (membebaskan diri dari beleng-gu penjajah), pada gilirannya membentuk kesadaran nasional.

Mengenai pembentukan nation6 dapat dijelaskan

dengan mengacu pada beberapa teori. Pertama, teori

kebudayaan (cultuur) yang menyebut suatu bangsa atas

dasar persamaan kebudayaan pada sekelompok manusia.

Kedua, teori negara (staat) yang menentukan

(17)

7 |SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA

di dalamnya disebut bangsa. Ketiga, teori kemauan (wils)

bersama dari kelompok manusia untuk hidup bersama dalam ikatan suatu bangsa, tanpa memandang perbedaan

kebudayaan, suku, dan agama.7

Kemauan sebagai buah dari kesadaran subyektif rak-yat untuk menentang penjajah dan membebaskan diri dari belenggu penderitaan, tereproduksi dari sentimen kelompok sedaerah menjadi rasa sebangsa dan setanah air. Rasa ini mewujud dalam kerangka kepentingan (cita-cita) yang sama sebagai pihak yang menderita bersama di bawah tekanan hegemoni kaum kolonial selama betahun-tahun lamanya. Artinya, mereka berjuang bukan lagi berbasis solidaritas sesuku/seetnik, tetapi sebagai rasa sebangsa yang terjajah.

Merujuk pada teori keinginan (wils) yang dianggap

sebagai motor penggerak timbulnya nasionalisme, maka semangat kebangsaan sesungguhnya merupakan gejala

psikologis yang disebut psychological state of mind.

Dalam banyak hal nasionalisme di Indonesia seperti halnya negara-negara Asia Tenggara lainnnya, mem-punyai basis historis pada kolonialisme dan munculnya

anti-kolonialisme sebagai imbangannya.8 Ignas Kleden

menguraikan bahwa nasionalisme dalam konteks inter-nasional, adalah kebangkitan negara-negara di dunia ketiga pada paroh pertama abad ke-20, baik untuk melepaskan diri dari penguasaan kolonial maupun untuk memiliki kedaulatan nasionalnya sendiri. Bahkan

(18)

menu-A H M menu-A D I N | 8 rutnya, secara positif nasionalisme adalah semacam

national self assertion, yakni pencarian bentuk program

national-building melalui integrasi nasional; perumusan

tujuan-tujuan nasional yang akan menggerakkan dan mengerahkan kehidupan politik nasional; dan

penguasa-an berbagai sumber daya nasional.9

Pada tingkat nasional, nasionalisme dapat didefinisi-kan sebagai peralihan dari pandangan sosial yang ahistoris kepada sikap yang lebih historis. Kehidupan sosial-politik bukanlah sesuatu yang ada dengan sendiri-nya secara alamiah, melainkan sesuatu yang dibangun dengan keputusan dan tindakan sendiri. Bahkan pada tingkat ini pula nasionalisme dapat didefinisikan sebagai peralihan dari provinsialisme yang partikularistik kepada sikap dan kesadaran nasional yang lebih terbuka, dan

terjadilah pergantian closed society oleh open society.10

Dalam konteks perubahan seperti inilah kesadaran nasio-nal dan dinamika pergerakan nasionasio-nal di Indonesia sejak kelahiran Budi Utomo 1908 hingga menjelang masa proklamasi kemerdekaan akan menjadi inti kajian.

Satu hal yang tidak boleh diabaikan bahwa ketiga pra-kondisi atau faktor internal penyebab timbulnya gerakan nasional, tidak terkonstruksi secara tunggal. Akan tetapi merupakan bagian integral tak terceraikan dari sejumlah kondisi lainnya. Maksudnya, sebab-sebab internal ter-sebut berproses secara regular, sedangkan sejumlah faktor eksternal merupakan momentum mewujudkan

(19)

9 |SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA

pergerakan nasional. Menurut Sudiyo, faktor luar negeri yang turut mempercepat proses timbulnya pergerakan nasional, antara lain:

1. Adanya faham baru, yakni liberalisme dan human

rights, akibat dari Perang Kemerdekaan Amerika

(1774-1783) dan Revolusi Perancis (1789), yang sudah mulai dikenal oleh para elit intelektual.

2. Diterapkannya pendidikan sistem Barat dalam

pelaksanaan Politik Etis (1902), yang menimbul-kan wawasan secara luas bagi pelajar Indonesia, walaupun jumlahnya sangat sedikit.

3. Kemenangan Jepang terhadap Rusia tahun 1905,

yang membangkitkan rasa percaya diri bagi rakyat Asia-Afrika dan bangkit melawan bangsa penjajah (bangsa berkulit putih).

4. Gerakan Turki Muda (1896-1918), yang bertujuan

menanamkan dan mengembangkan nasionalisme Turki, sehingga terbentuk negara kebangsaan yang bulat, dengan ikatan satu negara, satu bangsa, satu bahasa, ialah Turki.

5. Gerakan Pan-Islamisme, yang ditumbuhkan oleh

Djamaluddin al-Afgani bertujuan mematahkan dan melenyapkan imperialisme Barat untuk mem-bentuk persatuan semua umat Islam di bawah satu pemerintahan Islam pusat. Gerakan ini

(20)

menimbul-A H M menimbul-A D I N | 10 kan nasionalisme di Negara terjajah dan anti-imperialis.

6. Pergerakan nasional di Asia, seperti gerakan

Nasionalisme di India, Tiongkok, dan Philipina.11

Munculnya faham-faham baru berupa liberalisme, demokrasi, dan nasionalisme pasca Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis, tidak terlepas dari terjalinnya hubungan antara Eropa dengan Asia terutama sejak pembukaan terusan Suez. Di mana komunikasi lintas benua ini, menjadi media penyebaran isme-isme termasuk semangat nasionalisme di kalangan bangsa-bangsa Asia tak terkecuali Indonesia. Demikian pula penerapan sistem pendidikan Barat di Hindia Belanda menciptakan kaum terpelajar dan elit baru yang berpikiran modern serta kemenangan Jepang atas Rusia memicu lahirnya rasa percaya diri di kalangan kaum pribumi untuk berjuang menentang penjajah. Bahkan gerakan Turki Muda dan Gerakan Pan-Islamisme, memberi andil penting atas proses perwujudan semangat kebangsaan di kalangan kaum pribumi. Berbagai gerakan bervisi menjalin persatuan dan kesatuan sebagai satu bangsa itulah yang menciptakan sikap anti-penjajah dan pada gilirannya menjadikan organisasi-organisasi per-gerakan dalam berbagai bentuknya sebagai alat untuk meraih kemerdekaan.

(21)

11 |SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA Catatan Akhir:

1 Henry A. Landsberger dan Yu.G. Alexandrov, Pergolakan

Petani dan Perubahan Sosial, (Jakarta: Rajawali diterbitkan untuk Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, 1984), hlm. 24-25.

2 Sudiyo, Pergerakan Nasional Mencapai dan

Memper-tahankan Kemerdekaan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm 16.

3 Sartono Kartodirjo, dkk., Sejarah Nasional Indonesia V,

(Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Balai Pustaka, 1977), hlm. 181.

4 G. Moedjanto, Indonesia Abad Ke-20, (Yogyakarta: Kanisius,

1988), hlm. 25.

5 Sudiyo, op. cit., hlm 14.

6 Sekadar dikemukakan bahwa tatkala Daniel Dhakidae

memberi kata pengantar berjudul “Memahami Rasa Kebangsaan dan Menyimak Bangsa Sebagai Komunitas-komunitas Terbayang” dalam buku Benedict Anderson “Imagined Communities” (edisi bahasa Indonesia), antara

lain ia mengulas perbedaan antara bangsa (people) dan

nasion (nation). Ia mengelabolasi pandangan Mochtar

Pabottingi yang mengatakan bahwa bangsa adalah

kolektivitas sosiologis, sedangkan nasion adalah

kolektivitas politik. Bahkan Daniel Dhakidae mem-bayangkan perbedaan keduanya sebagai hal yang sangat problematik dan penuh risiko. Meski begitu, akhirnya proses perabaan dualisme bahkan multi-isme konsep itu menemukan titik terang bahwa nasionalisme bukanlah

impian seperti lazimnya the American Dream, tetapi

merupakan suatu bangunan dengan mengadaptasi istilah Bung Karno “bangunan rasa hidup” yang terdiri dari “bayang-bayang” yang pada gilirannya merumuskan aksi. Lihat ulasan selengkapnya dalam Banedict Anderson, “Imagined Communities: Reflections on the Origin and

(22)

A H M A D I N | 12

Spead of Nationalism”, terj. Omi Intan Naomi.

Komunitas-Komunitas Terbayang. Yogyakarta: Insist bekerjasama Pustaka Pelajar, 2008), hlm. vii-xli.

7 Suhartono, Sejarah Pergerakan Nasional: Dari Budi Utomo

Sampai Proklamasi 1908-1945, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994), hlm. 7.

8 Ibid., hlm. 8; Lihat juga Sartono Kartodirjo, ”Kolonialisme

dan Nasionalisme di Indonesia Abad XIX-XX”, Lembaran

Sejarah, No. 1 Tahun 1967, hlm. 32; Anthony D. Smith, Theories of Nationalism, (New York: Holmes & Meir), hlm. 65-108.

9 Ignas Kleden, Menulis Politik: Indonesia Sebagai Utopia,

(Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2001), hlm. 73.

10 Ibid., hlm. 73-74.

11 Sudiyo, op. cit., hlm. 14-15.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

 Penghasil pewarna alami yang banyak dipakai pada masakan Cina.  Penghasil zat aktif

Dalam sequence diagram Belajar Grammar akan didapat sejumlah informasi dari kegiatan belajar Grammar pada Aplikasi e-learning, User atau pengguna umum dapat belajar materi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai strategi co-branding dan keputusan pembelian terhadap pengguna aplikasi mobile messaging KakaoTalk,

Karyawan dengan kecerdasan emosi yang tinggi akan menghasilkan kinerja yang lebih baik yang dapat dilihat dari bagaimana kualitas dan kuantitas yang diberikan

Indonesian Mitsubishi Owners Club (IdMOC) Yogya, memang termasuk organisasi yang baru terbentuk, walaupun demikian Indonesian Mitsubishi Owners Club (IdMOC) beranggotakan lebih

Karena dengan beberapa persayaratan bangunan gedung Negara yaitu kantor memiliki lapangan upacara khusus, lahan parkir untuk karyawan dan RTH yang cukup

Diagram sebab dan akibat adalah alat yang digunakan untuk mengatur dan menunjukkan secara grafik semua pengetahuan yang dimiliki sebuah kelompok sehubungan dengan