IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN SAVI
(SOMATIS, AUDITORI, VISUAL, INTELEKTUAL) UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VSD
Oleh:
I Gede Redika A.U¹, Ign. Suwatra², Made Suarjana³
¹
,²
,³Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia.
e-mail: [email protected]¹, [email protected]
2,
[email protected]³,
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah :Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika setelah diterapkan model SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual) pada siswa kelas V di Sekolah Dasar No. 1Sembiran kecamatan Tejakula kabupaten Buleleng Tahun Pelajaran 2013/2014.
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subyek penelitian ini adalah 28 orang siswa kelas V Sekolah Dasar Nomor 1 Sembiran yang terdiri dari 12 orang siswa laki-laki dan 16 orang siswa perempuan. Penelitian Tindakan Kelas ini dirancang dalam dua siklus yang terdiri dari siklus I dan siklus II, setiap siklus dari rancangan ini terdiri dari lima tahapan yaitu : 1) Tahap refleksi awal, 2) tahap perencanaan tindakan (planning), 3) tahap pelaksanaan tindakan (acting), 4) tahap observasi (observing) dan evaluasi (evaluating), dan 5) tahap refleksi (reflecting). Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan metode tes. Kemudian data dianalisis dengan tekhnik deskriptif kuantitatif
Hasil penelitian ini adalah : 1) pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa 68,68 dan ketuntasan belajar 68,68%, 2) Pada siklus II dengan peningkatan hasil belajar siswa menjadi 82,36 dan ketuntasan belajar 82,36%., 3) peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II : 68,68 % siklus I dan 82,36 % siklus II. Dalam siklus II ternyata ada peningkatan 13,68 %.
Kata-kata kunci : model pembelajaran SAVI, hasil belajar. Abstract
he purpose of this study were: Knowing the increase in the learning outcomes of students in learning mathematic as applied method of SAVI learning model in class V semester academic year 2013/2014 on the basis of the number 1 Sembiran elementary school Districts Tejakula Buleleng Regency. This research is Classroom Action Research ( CAR ) with the subject of this study is 28 Elementary School fourth grade students of Sembiran elementary school consisting of 12 boys and 16 girls . Classroom Action Research is designed in two cycles consisting of the first cycle and second cycle , each cycle of this design consists of five stages , namely : 1 ) first reflection, 2) the action planning stage ( planning) , 3 ) the implementation phase of the action ( acting ) , 4 ) observation phase ( observing ) and evaluation ( evaluating ) , and 5 ) the stage of reflection ( reflecting ) . Data was collected through observation and testing methods . Then the data were analyzed with descriptive quantitative techniques. The results of this study are : 1 ) in the first cycle of student learning average of 68,68 and a mastery of learning outcomes study 68,68 % , 2 ) In the second cycle of which is also coupled with improved learning outcomes be 82,36 and 82,36 % mastery learning . , 3 ) an increase learning outcomes from cycle I to cycle II : 68,68 % and 82,36 % first cycle second cycle . In the second cycle turns out there is an increase of 13,68%.
PENDAHUULUAN
Pendidikan merupakan salah satu wahana dalam upaya menghasilkan dan mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kesiapan untuk menghadapi serta mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Pendidikan harus menyiapkan generasi yang berkualitas dan mampu bersaing, memiliki ketangguhan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Bidang pendidikan memang menjadi tumpuan harapan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan sepatutnya mendapat perhatian secara terus menerus dalam upaya peningkatan mutunya. Peningkatan mutu pendidikan berarti pula peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Kedudukan matematika dalam dunia pendidikan memiliki manfaat yang sangat besar sebagai alat dalam perkembangan pendidikan dan kecerdasan akal. Hudojo (2003) menyatakan bahwa “matematika merupakan alat utama untuk memberikan cara berpikir, yakni menyusun pemikiran yang jelas, tepat, teliti, dan taat azas”. Gita
(2008) juga menambahkan bahwa
“matematika merupakan alat yang efisien dan diperlukan oleh semua ilmu
pengetahuan dan tanpa bantuan
matematika semuanya tidak akan mendapat kemajuan yang berarti”. Dengan demikian, pendidikan dalam bidang matematika berpotensi memainkan peranan strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Mengingat pentingnya peranan matematika dalam
kehidupan dan pengembangan
pengetahuan, sudah sepantasnya konsep-konsep matematika perlu dikuasai dengan baik.
Menurut Gagne, dkk., (dalam Suwatra, dkk., 2007:5) menyatakan bahwa “pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa”. Dalam pernyataan tersebut tersirat bahwa siswalah yang aktif belajar. Siswa menjadi pusat belajar. Guru bukan lagi menjadi pusat belajar. Segala aktivitas belajar dilakukan oleh siswa. Namun, seringkali terjadi siswa tidak diberikan aktif untuk mencari apa yang ingin mereka pelajari,
sehingga itu tidak akan mengolah daya berpikirnya. Belajar merupakan proses aktif bukan merupakan kegiatan yang pasif. Para siswa adalah pencari tahu jawaban. Apalagi pada mata pelajaran matematika. Penerapan pembelajaran yang pasif seperti itu sepertinya kurang berhasil untuk meningkatkan prestasi siswa.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SD No.1 Sembiran, ditemukan
beberapa permasalahan dalam
pembelajaran matematika. Kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru, siswa masih bersifat pasif dan interkasi yang terjadi antara guru dengan siswa maupun interaksi antarsiswa masih sangat kurang. Di samping itu, berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas V ditemukan beberapa permasalahan yang dialami selama pelaksanaan pembelajaran, yaitu: 1) siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran matematika, 2) siswa masih belum memiliki keberanian untuk mngerjakan soal di depan kelas. Selain melalui observasi dan wawancara,
berdasarkan pencatatan dokumen
ditemukan bahwa hasil belajar yang dicapai siswa masih di bawah KKM. KKM yang ditetapkan, yaitu 60 dengan tingkat ketuntasan yang dicapai siswa masih 50%.
Berdasarkan kajian permasalahan yang diuraikan di atas, maka penelitian ini dilaksanakan di SD No. 1 Sembiran pada siswa kelas V semester II dengan
menempatkan penerapan model
pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual) untuk meningkatkan hasil belajar matematika. Peneliti menerapkan model pembelajaran SAVI dalam pembelajaran matematika karena model pembelajaran SAVI merupakan model pembelajaran yang menyatakan bahwa belajar yang baik adalah belajar yang melibatkan emosi, seluruh tubuh, semua indera, dan segenap kedalaman serta keluasan pribadi.
METODE
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V semester II SD No. 1 Sembiran tahun pelajaran 2013/2014 dengan jumlah siswa sebanyak 28 orang,
dengan rincian, yaitu laki-laki 14 orang dan perempuan 14 orang.
Objek sasaran yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah model pembelajaran SAVI, hasil belajar matematika.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dilaksanakan dalam beberapa siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu 1) perencanaan tindakan, meliputi: menyusun rumusan masalah, menentukan tujuan, dan metode penelitian serta membuat rencana tindakan; 2) pelaksanaan tindakan, apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya perubahan yang dilakukan; 3) evaluasi, untuk mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan terhadap siswa, serta 4) refleksi, yaitu peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan.
Siklus I dilakukan dalam beberapa langkah antara lain: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta melakukan refleksi pada akhir siklus.
1. Perencanaan Tindakan
Sebelum terjun ke lapangan, diperlukan beberapa persiapan. Persiapan perlu dilakukan agar pelaksanaan tindakan di lapangan berjalan lancar. Persiapan ini dilakukan dengan menyusun perencanaan tindakan. Dalam tahap perencanaan tindakan dilakukan beberapa kegiatan, sebagai berikut.
1) Berkoordinasi dengan kepala sekolah dan guru untuk membahas persiapan sebelum melakukan penelitian.
2) Menyesuaikan jadwal penelitian dengan jadwal pelajaran di sekolah. 3) Menganalisis silabus untuk
menyesuaikan pokok bahasan agar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang harus dikembangkan.
4) Peneliti menjelaskan kepada guru mengenai prosedur penerapan model pembelajaran SAVI.
5) Menyusun RPP sebagai acuan saat melaksanakan proses belajar mengajar yang berorientasi pada model
pembelajaran SAVI dan
mempersiapkan LKS.
6) Menyiapkan instrumen berupa tes dan Menyiapkan materi, bahan, dan media yang digunakan dalam pembelajaran. 2. Pelaksanaan Tindakan
Sesuai dengan rencana tindakan di atas, pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini akan dilaksanakan secara kolaborasi antara guru matematika dan peneliti. Tahap pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan pembelajaran berdasarkan RPP yang telah disusun, yaitu RPP yang mengacu pada sintaks model pembelajaran
SAVI. Adapun langkah-langkah
pelaksanaan tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1) Memberikan penjelasan tentang kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pelaksanakan pembelajaran dalam kaitannya dengan penerapan model pembelajaran SAVI.
2) Melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pada akhir pertemuan, siswa diberikan tes evaluasi secara individual.
3. Evaluasi
Evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data, berdasarkan data tersebut kemudian dibuat keputusan. Evaluasi ini dilaksanakan terhadap hasil belajar yang dicapai siswa pada akhir siklus.
4. Refleksi
Pada akhir siklus I, peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan proses pembelajaran.
Metode pengumpulan data
merupakan teknik yang digunakan dalam penelitian untuk memperoleh data yang dibutuhkan agar dapat menjawab permasalahan yang telah dirumuskan. Setiap metode memiliki pedoman yang digunakan untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Adapun data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data mengenai hasil belajar siswa. Untuk memperoleh data-data tersebut digunakan metode pengumpulan data. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes. Metode tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai siswa.
1. Metode Tes
Metode tes pada hakikatnya merupakan cara pengumpulan data dengan memberikan berbagai pertanyaan atau tugas yang semuanya harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta tes dan hasil tes berupa skor atau bersifat interval. Dalam penelitian ini, metode tes digunakan untuk mengumpulkan data mengenai hasil belajar siswa.
Pelaksanaan tes dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengukur penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan dalam bentuk hasil yang diperoleh siswa. Tes yang digunakan adalah tes hasil belajar dalam bentuk tes tulis. Jadi, data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data hasil belajar matematika siswa setelah diterapkannya model pembelajaran SAVI secara efektif.
Langkah-langkah analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Penilaian Hasil Belajar Siswa
Menghitung Skor Rata-rata Hasil Belajar M =
N
X
Keterangan:M = skor rata-rata hasil belajar
X
= jumlah skor hasil belajar N = jumlah siswa(Sumber: Agung, 2005:95) Setelah mendapatkan skor rata-rata hasil belajar (M), kemudian dilanjutkan dengan menghitung persentase hasil belajar (M%), dengan rumus sebagai berikut.
SMI M
M% x 100%
Keterangan:
M% = rata-rata persen hasil belajar
M = rata-rata skor
SMI = skor maksimal ideal (Sumber: Agung, 2005:96) Secara keseluruhan penelitian ini dikatakan berhasil apabila kriteria keberhasilan ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal, yaitu memenuhi kriteria tinggi dengan persentase minimal 80%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penyajian hasil penelitian memberikan gambaran secara menyeluruh tentang berhasil atau tidaknya suatu penelitian. Dalam penyajian hasil penelitian ini akan tergambar data yang telah dikumpulkan dengan metode dan teknik tertentu serta langkah-langkah yang dipakai untuk menganalisis data yang diperoleh dalam penelitian. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus untuk menentukan tindakan terbaik dengan penerapan model SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V mata pelajaran Matematika dengan materi energi dan penggunaannya.
1. Perencanaan Tindakan Siklus I
Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan tindakan, yaitu: 1) mensosialisasikan mengenai prosedur penerapan model pembelajaran SAVI kepada guru; 2) menyusun RPP sebagai acuan saat melaksanakan proses belajar mengajar yang berorientasi pada model pembelajaran SAVI dan mempersiapkan LKS; 3) menyiapkan instrumen berupa tes dan lembar observasi; serta 4) menyiapkan materi, bahan, dan media yang digunakan dalam pembelajaran.
2. Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Siklus I dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan. Dua kali pertemuan untuk kegiatan pembelajaran dan satu kali pertemuan untuk tes akhir siklus I.
1) Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 25 Februari 2014. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan RPP I dan LKS I. Materi yang dibahas dalam pertemuan ini adalah menghitung keliling persegi panjang. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan kegiatan pendahuluan, yaitu siswa dikoordinasikan dan dipusatkan perhatiannya untuk belajar, dijelaskan mengenai tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, dan siswa diberikan pertanyaan yang berkaitan dengan keliling persegi panjang dan siswa menanggapi pertanyaan tersebut.
Kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan inti. Kegiatan inti dimulai dengan melaksanakan eksplorasi yang meliputi siswa mengkaji buku mengenai keliling persegi panjang.
Tahap selanjutnya adalah elaborasi. Pada tahap ini, siswa melakukan diskusi untuk menyelesaikan permasalahan yang terdapat dalam LKS I dan menggunakan media pembelajaran yang telah dibagikan untuk membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan keliling persegi panjang serta siswa juga melibatkan media benda konkret berupa meja dan papan tulis untuk lebih memahami mengenai konsep keliling persegi panjang.
Tahap selanjutnya setelah elaborasi adalah konfirmasi. Pada tahap ini siswa menyajikan hasil kerja kelompok di depan kelas. Setiap kelompok yang tampil diberikan penguatan dan meluruskan apabila ada konsep yang masih menyimpang dari materi keliling persegi panjang. Siswa juga masih belum memiliki
keberanian untuk menyampaikan
tanggapan dan pertanyaan, hanya beberapa siswa yang berani.
Kegiatan pembelajaran yang terakhir adalah kegiatan penutup. Kegiatan penutup yang dilaksanakan meliputi menyimpulkan mengenai keliling persegi panjang, siswa mengerjakan tes invidu, serta siswa diberikan tugas rumah (PR) dan menyampaikan pokok bahasan yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya. 2) Pertemuan Kedua
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Selasa, 4 Maret 2014. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan RPP II dan LKS II. Materi yang dibahas dalam pertemuan ini adalah menghitung keliling persegi. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan kegiatan pendahuluan, yaitu siswa dikoordinasikan dan dipusatkan perhatiannya untuk belajar, dijelaskan mengenai tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, dan siswa diberikan pertanyaan yang berkaitan dengan keliling persegi dan siswa menanggapi pertanyaan yang tersebut.
Kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan inti. Kegiatan inti dimulai dengan melaksanakan
eksplorasi yang meliputi siswa mengkaji buku mengenai keliling persegi. Selanjutnya siswa diorganisasikan ke dalam tujuh kelompok belajar dengan anggota masing-masing kelompok empat orang. Sebelum melaksanakan diskusi kelompok, disajikan materi yang berkaitan dengan keliling persegi.
Tahap selanjutnya adalah elaborasi. Pada tahap ini, siswa melakukan diskusi untuk menyelesaikan permasalahan yang terdapat dalam LKS II dan menggunakan media pembelajaran yang telah dibagikan untuk membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan keliling persegi serta siswa juga melibatkan media benda konkret berupa lantai untuk lebih memahami mengenai konsep keliling persegi.
Tahap selanjutnya setelah elaborasi adalah konfirmasi. Pada tahap ini siswa menyajikan hasil kerja kelompok di depan kelas. Tiap-tiap kelompok secara bergiliran menyampaikan hasil kerjanya dan siswa pada kelompok lain diberikan kesempatan untuk menyampaikan tanggapan dan pertanyaan terhadap hasil kerja kelompok yang tampil. Setiap kelompok yang tampil diberikan penguatan dan meluruskan apabila ada konsep yang masih menyimpang dari materi keliling persegi panjang.
Kegiatan pembelajaran yang terakhir adalah kegiatan penutup. Kegiatan penutup yang dilaksanakan meliputi menyimpulkan mengenai keliling persegi, siswa mengerjakan tes invidu, serta siswa diberikan tugas rumah (PR) dan menyampaikan pokok bahasan yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya. 3) Pertemuan Ketiga
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Selasa, 11 Maret 2014. Pada pertemuan ini siswa diberikan tes akhir siklus I untuk mengetahui tingkat hasil belajar matematika yang dicapai siswa.
Hasil analisis data hasil belajar siswa menunjukkan bahwa untuk skor tertinggi adalah 96 dan skor terendah adalah 56. Berikut analisis data mengenai hasil belajar siswa pada siklus I.
Jumlah skor hasil belajar ( X ) = 1923
Jumlah siswa (N) = 28 SMI = 100
M =
N
X
Berdasarkan rumus di atas maka dapat dicari skor rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I, yaitu:
M =
N
X
= 28 1923 = 68,68Setelah mendapatkan skor rata-rata hasil belajar (M), kemudian dilanjutkan dengan menghitung persentase hasil belajar (M%), dengan rumus sebagai berikut. SMI M M% x 100% = 100 68 , 68 x 100% = 68,68%
Jadi skor rata-rata persen hasil belajar matematika siswa pada siklus I adalah 68,68%. Tingkat skor rata-rata persen hasil belajar dapat ditentukan dengan membandingkan M% ke dalam PAP skala lima. M% = 68,68% dan jika dikonversikan ke dalam PAP skala lima, maka skor rata-rata hasil belajar matematika siswa pada siklus I masuk ke dalam kategori sedang.
3. Refleksi Siklus I
Refleksi dilaksanakan pada akhir siklus I, pedoman yang digunakan dalam refleksi ini adalah lembar observasi pada setiap kegiatan pembelajaran dan nilai yang diperoleh siswa pada tes akhir siklus I. Pada siklus I, nilai yang diperoleh siswa sudah ada peningkatan dari hasil observasi dan pencatatan dokumen hasil ulangan matematika siswa pada semester I yang dilakukan sebelum tindakan. Tetapi, hasil belajar tersebut belum memenuhi indikator keberhasilan yang ditargetkan, hal ini disebabkan siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan. Pada tes siklus I ketuntasan klasikal pada aktivitas sebesar 70,8% yang ada pada kategori cukup aktif dan pada hasil belajar
sebesar 68,68% yang berada pada kategori sedang. Berdasarkan data tersebut, maka dapat direfleksikan beberapa hal sebagai berikut.
1) Siswa belum terampil menggunakan media pembelajaran
2) Dalam mengerjakan LKS siswa masih kurang aktif untuk melakukan diskusi kelompok.
3) Dilihat dari tingkat kemampuan siswa dalam kelompok, rata-rata anggota setiap kelompok memiliki kemampuan yang sama.
4) Hasil tes akhir siklus I menunjukkan, hasil belajar yang dicapai siswa sudah meningkat, namun belum memenuhi indikator keberhasilan yang ditetapkan. Hal ini disebabkan siswa belum mampu mengerjakan soal yang bersifat penerapan.
Berdasarkan hasil refleksi siklus I, penelitian ini dipandang perlu dilanjutkan ke siklus II untuk lebih mengoptimalkan hasil yang diperoleh. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mewujudkan hal ini adalah sebagai berikut.
1) Menekankan kembali kepada siswa bahwa pada saat belajar pergunakan waktu seoptimal mungkin untuk belajar, 2) Selama kegiatan pembelajaran
berlangsung dan pada saat berdiskusi memberikan perhatian penuh kepada
semua siswa dan memberikan
penguatan
3) Saat pembelajaran berlangsung, bimbingan dilaksanakan dengan lebih intensif kepada setiap kelompok dan siswa dalam kelompok. Selain itu, siswa lebih banyak diberikan latihan soal, sehingga siswa bisa memecahkan apapun bentuk soal yang diberikan dan hasil belajar yang diperoleh siswa pun optimal.
1. Perencanaan Tindakan Siklus I
Sebagai upaya perbaikan tindakan pada siklus II, peneliti mempersiapkan hal-hal yang pada dasarnya sama seperti hal-hal yang ada pada siklus I. Perencanaan tindakan pada siklus II disesuaikan dengan rumusan hasil refleksi pada siklus I. Perbaikan yang dilaksanakan untuk mengatasi kendala yang ditemui pada
siklus I adalah dengan merevisi RPP, merevisi LKS, meningkatkan pengelolaan kelas, menyajikan permasalahan yang lebih kontekstual yang sesuai dengan kemampuan dan pengalaman siswa, serta
menyiapkan materi dan media
pembelajaran, yaitu bangun persegi dan persegi panjang (kertas manila) untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan luas persegi dan persegi panjang. 2. Pelaksanaan Tindakan Siklus II
Siklus II dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan. Dua kali pertemuan untuk kegiatan pembelajaran dan satu kali pertemuan untuk tes akhir siklus II.
1) Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama dialaksanakan pada hari Selasa, 18 Maret 2014. Sesuai dengan RPP III dan LKS III dengan materi luas persegi panjang. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan kegiatan pendahuluan, yaitu siswa dikoordinasikan dan dipusatkan perhatiannya untuk belajar, dijelaskan mengenai tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, dan siswa diberikan pertanyaan yang berkaitan dengan luas persegi panjang dan siswa menanggapi pertanyaan tersebut.
Kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan inti. Kegiatan inti dimulai dengan melaksanakan eksplorasi yang meliputi siswa mengkaji buku mengenai luas persegi panjang. Selanjutnya siswa diorganisasikan ke dalam tujuh kelompok belajar dengan anggota masing-masing kelompok empat orang yang terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan heterogen. Masing-masing kelompok diberikan LKS III untuk didiskusikan dan dibantu dengan media bangun persegi panjang (kertas manila). Sebelum melaksanakan diskusi kelompok, disajikan materi yang berkaitan dengan luas persegi panjang.
Setelah melakukan eksplorasi, tahap selanjutnya adalah elaborasi. Pada tahap ini, siswa melakukan diskusi untuk menyelesaikan permasalahan yang terdapat dalam LKS III dan menggunakan media pembelajaran yang telah dibagikan untuk membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan luas
persegi panjang serta siswa juga melibatkan media benda konkret berupa meja dan papan tulis untuk lebih memahami mengenai konsep luas persegi panjang. Dalam melaksanakan diskusi kelompok, siswa dibimbing dan diarahkan secara intensif agar siswa bisa memecahkan permasalahan mengenai luas persegi panjang dan bisa mengerjakan semua jenis soal yang diberikan.
Tahap selanjutnya setelah elaborasi adalah konfirmasi. Pada tahap ini siswa menyajikan hasil kerja kelompok di depan kelas. Tiap-tiap kelompok secara bergiliran menyampaikan hasil kerjanya dan siswa pada kelompok lain diberikan kesempatan untuk menyampaikan tanggapan dan pertanyaan terhadap hasil kerja kelompok yang tampil. Setiap kelompok yang tampil diberikan penguatan berupa pujian dan tepuk tangan, serta meluruskan apabila ada konsep yang masih menyimpang dari materi luas persegi panjang.
2) Pertemuan Kedua
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Kamis, 20 Maret 2014. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan RPP IV dan LKS IV. Materi yang dibahas dalam pertemuan ini adalah menghitung luas persegi. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan kegiatan pendahuluan, yaitu siswa dikoordinasikan dan dipusatkan perhatiannya untuk belajar, dijelaskan mengenai tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, dan siswa diberikan pertanyaan yang berkaitan dengan luas persegi dan siswa menanggapi pertanyaan tersebut.
Kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan inti. Kegiatan inti dimulai dengan melaksanakan eksplorasi yang meliputi siswa mengkaji buku mengenai luas persegi. Selanjutnya siswa diorganisasikan ke dalam tujuh kelompok belajar dengan anggota masing-masing kelompok empat orang. Masing-masing kelompok diberikan LKS IV untuk didiskusikan dan dibantu dengan media bangun persegi (kertas manila). Sebelum melaksanakan diskusi kelompok, disajikan materi yang berkaitan dengan luas persegi.
Tahap selanjutnya setelah elaborasi adalah konfirmasi. Pada tahap ini siswa
menyajikan hasil kerja kelompok di depan kelas. Tiap-tiap kelompok secara bergiliran menyampaikan hasil kerjanya dan siswa pada kelompok lain diberikan kesempatan untuk menyampaikan tanggapan dan pertanyaan terhadap hasil kerja kelompok yang tampil. Setiap kelompok yang tampil diberikan penguatan dan meluruskan apabila ada konsep yang masih menyimpang dari materi luas persegi.
Kegiatan pembelajaran yang terakhir adalah kegiatan penutup. Kegiatan penutup yang dilaksanakan meliputi menyimpulkan
mengenai luas persegi, siswa mengerjakan tes invidu, serta siswa diberikan tugas rumah (PR) dan menyampaikan pokok bahasan yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
3) Pertemuan Ketiga
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Selasa, 1 April 2014. Pada pertemuan ini siswa diberikan tes akhir siklus II untuk mengetahui tingkat hasil belajar matematika yang dicapai siswa.
3. Evaluasi Siklus II 1) Data Hasil Belajar Matematika Siswa
Data hasil belajar matematika dikumpulkan dengan memberikan tes esai. Banyak soal yang diberikan adalah 8 butir soal. Berikut ini disajikan data mengenai hasil belajar matematika siswa.
Hasil analisis data hasil belajar siswa menunjukkan bahwa untuk skor tertinggi adalah 100 dan skor terendah adalah 68. Berikut analisis data mengenai hasil belajar siswa pada siklus II.
Jumlah skor hasil belajar ( X ) = 2306 Jumlah siswa (N) = 28 SMI = 100 M =
N
X
Berdasarkan rumus di atas maka dapat dicari skor rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II, yaitu:
M =
N
X
= 28 2306 = 82,36Setelah mendapatkan skor rata-rata hasil belajar (M), kemudian dilanjutkan dengan menghitung persentase hasil belajar (M%), dengan rumus sebagai berikut. SMI M M% x 100% = 100 36 , 82 x 100% = 82,36%
Jadi skor rata-rata persen hasil belajar matematika siswa pada siklus II
adalah 82,36%. Tingkat skor rata-rata persen hasil belajar dapat ditentukan dengan membandingkan M% ke dalam PAP skala lima. M% = 82,36% dan jika dikonversikan ke dalam PAP skala lima, maka skor rata-rata hasil belajar matematika siswa pada siklus II masuk ke dalam kategori tinggi.
4. Refleksi Siklus II
Tindakan yang dilakukan pada siklus II merupakan penyempurnaan atau perbaikan dari siklus I. Melalui perbaikan dan penyempurnaan proses pembelajaran serta pelaksanaan penilaian tindakan pada siklus I. Dalam siklus II telah tampak hal-hal sebagai berikut.
1) Secara umum kegiatan pembelajaran sudah berjalan sesuai dengan RPP. 2) Kondisi pembelajaran tampak lebih
kondusif. Antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran sudah meningkat.
3) Siswa sudah terampil menggunakan media pembelajaran.
4) Hasil tes akhir siklus II menunjukkan hasil belajar siswa sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan dan nilai yang diperoleh sudah memenuhi KKM yang ditetapkan di sekolah.
Adapun kekurangan-kekurangan yang dialami dalam implementasi model pembelajaran SAVI, yaitu masih ada beberapa siswa yang kurang dalam kegiatan somatis (melakukan gerakan pindah tempat saat mengeksplorasi media) dan kegiatan intelektual (memecahkan soal yang bersifat penerapan).
Berdasarkan refleksi hasil siklus II ini dapat disimpulkan bahwa implementasi
model pembelajaran SAVI dalam
pembelajaran matematika dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD No.1 Sembiran. Hal ini berarti hasil
belajar secara klasikal telah memenuhi indikator keberhasilan yang ditetapkan sebelumnya, maka penelitian ini dihentikan. Berikut ini disajikan mengenai rekapitulasi hasil penelitian pada siklus I dan siklus II.
Tabel 4.9 Rekapitulasi Data Hasil PTK Siklus I dan Siklus II
No Tahap Jenis Data
Hasil Belajar
1 Siklus I 68,68%
2 Siklus II 82,36%
Berdasarkan data tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa adalah 68,68 % pada siklus I yang termasuk ke dalam kategori sedang meningkat pada siklus II menjadi 82,36 % yang termasuk kategori tinggi. Besarnya peningkatan tersebut adalah 13,68%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa implementasi model pembelajaran SAVI dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa kelas V SD No. 1 Sembiran pada semester II tahun pelajaran 2013/2014 sudah mengalami peningkatan. SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
Implementasi model pembelajaran SAVI dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika pada pokok bahasan keliling dan luas persegi dan persegi panjang siswa kelas V SD No. 1 Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2013/2014. Hal ini terlihat dari skor rata-rata persen hasil belajar siswa pada siklus I adalah 68,68% yang temasuk ke dalam kategori sedang mengalami peningkatan sebanyak 13,68% pada siklus II, yaitu menjadi 82,36% yang termasuk ke dalam tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Abas. 2010. “Model-model Pembelajaran”. Tersedia pada Error! Hyperlink reference not valid. (diakses tanggal 10 Pebruari 2012).
Agung, A.A. Gede. 1999. Metodologi Penelitian Pendidikan. Singaraja: STKIP.
---. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Singaraja: Fakultas Ilmu Pendidikan, IKIP Negeri Singaraja. Aisyah, Nyimas, dkk. 2007. Pengembangan
Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Anitah, Sri, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Junaidi, Wawan. 2010. “Aktivitas Belajar Siswa”. Tersedia pada Error! Hyperlink reference not valid. (diakses tanggal 10 Pebruari 2012). Meier, Dave. 2002. The Accelerated
Learning Handbook. Bandung: Kaifa.
Mulyasa. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Nurkancana, Wayan dan Sunartana. 1990.
Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Sudjana, Nana. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suherman, H, Erman. 2008. “Model belajar dan Pembelajaran”. Tersedia pada http://pkab.wordpress.com/2008/04/2 9/model-belajar-dan-pembelajaran-berorientasi-kompetensi-siswa/ (diakses tanggal 10 Pebruari 2014).