• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR TRANSFER 137 Cs DAN 60 Co DARI TANAH KE PARE (Momordica charantia L) ABSTRACT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FAKTOR TRANSFER 137 Cs DAN 60 Co DARI TANAH KE PARE (Momordica charantia L) ABSTRACT"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PTKMR-BATAN, FKM-UI, KEMENKES-RI 126

FAKTOR TRANSFER

137

Cs DAN

60

Co DARI TANAH KE PARE

(Momordica charantia L)

Leli Nirwani1, Heni Susiati2, Yurfida1, Wahyudi1, dan Jumaher1 1 Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN

2 Pusat Pengembangan Energi Nuklir - BATAN

ABSTRAK

FAKTOR TRANSFER 137Cs DAN 60Co DARI TANAH KE PARE (Momordica charantia L). Telah

dilakukan penelitian studi faktor transfer radionuklida 137Cs dan 60Co dari tanah ke Pare dengan percobaan pot yang ditempatkan di dalam green house. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan faktor transfer

137Cs dan 60Co dari tanah ke pare. Pare ditanam pada media tanah yang diambil dari Jepara dan ditempatkan pada green house. Setelah panen, pare dan media tanah dikeringkan, ditimbang, kemudian ditempatkan di dalam vial, dan diukur dengan Spektrometer Gamma. Faktor taransfer didapatkan dengan membandingkan konsentrasi radionuklida 137Cs dan 60Co pada contoh buah pare kering dengan konsentrasi radionuklida 137Cs dan 60Co pada tanah kering. Faktor transfer 137Cs dari tanah ke pare yang diperoleh bervariasi antara 0,19 – 1,15 dengan nilai rerata 0,60 ± 0,58 Faktor transfer 60Co dari tanah ke pare bervariasi antara 0,10 – 0,47 dengan nilai rata-rata 0,27± 0,51.

Kata kunci : faktor transfer, 137Cs, 60Co, tanah, pare

ABSTRACT

137

Cs AND 60Co TRANSFER FACTOR FROM SOIL TO BITTER MELON (Momordica charantia L). A study of 137Cs and 60Co transfer factor from soil to bitter melon plant has been conducted using pot treatment in green house. The aim of the research is to determine transfer factor of 137Cs and 60Co from soil to bitter melon. Bitter melon grown in media land taken from Jepara and placed in green house. After harvest, the weight of dried plant and soil were measured in vial, and then the concentration activities were counted with Spectrometer Gamma. Transfer factor was determined according to the accumulation of 137Cs and 60Co concentration in bitter melon and soil 137Cs transfer factor from soil to bitter melon was found in the ranges between 0.19 and 1.15 with the average of 0.60 ± 0.58 and 60Co transfer factor from soil to bitter melon was found in the ranges between 0.10 and 0.47 with the average of 0.27± 0.51.

Key words: transfer factor, 137Cs, 60Co, soil, bitter melon.

I. PENDAHULUAN

Saat ini di Indonesia beroperasi tiga buah reaktor penelitian dan juga sedang disiapkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Semenanjung Muria, Jawa Tengah. Sehubungan dengan hal tersebut, pengkajian dosis radiasi interna karena masuknya radionuklida kedalam tubuh manusia yang berkaitan dengan lepasan radionuklida dari instalasi nuklir

dapat dilakukan dengan suatu model pengkajian radiologik. Dalam perhitungannya model pengkajian radiologik tersebut memerlukan parameter transfer radionuklida 1. Saat ini untuk wilayah tropis dan sub tropis data faktor transfernya belum tersedia. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai studi transfer radionuklida pada komponen lingkungan di Indonesia. Faktor transfer yang diperoleh dari hasil penelitian ini juga dapat dijadikan

(2)

PTKMR-BATAN, FKM-UI, KEMENKES-RI 127 masukan untuk IAEA dalam menyusun buku

pegangan parameter transfer untuk wilayah tropis 2.

Setiap komponen lingkungan mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mengakumulasi berbagai jenis radionuklida. Perbandingan antara konsentrasi radionuklida yang terakumulasi di dalam satu komponen lingkungan dengan konsentrasi radionuklida yang terakumulasi pada komponen lingkungan lain yang mentransfer radionuklida yang sama disebut faktor transfer. Faktor transfer dari tanah ke tanaman adalah perbandingan konsentrasi radionuklida dalam tanaman kering dengan konsentrasi radionuklida dalam tanah kering (Bq/g tanaman kering/Bq/g tanah kering) 1. Data faktor transfer diperlukan sebagai salah satu parameter dalam perhitungan pengkajian dosis radiasi interna karena masuknya radionuklida ke dalam tubuh manusia melalui jalur tanah – tanaman – manusia yang berkaitan dengan lepasan radionuklida dari instalasi nuklir.Beberapa hal yang mempengaruhi faktor transfer adalah jenis radionuklida, jenis tanaman, jenis tanah, sifat fisika tanah (tekstur tanah) dan sifat kimia tanah (pH tanah, kandungan bahan organik tanah, dan kapasitas tukar kation tanah) 2.

Radionuklida 137Cs memancarkan radiasi  pada energi 661,66 KeV dengan P= 0,85 dan mempunyai waktu paro sekitar 30 tahun. 137Cs dalam atmosfer dapat masuk ke dalam tanah yang selanjutnya dapat juga sampai ke tanaman. 137Cs cenderung diikat oleh tanah sehingga sedikit sekali yang terserap oleh akar tanaman. 137Cs dapat

masuk ke dalam tubuh secara langsung bila mengkonsumsi makanan dari tanaman yang terkontaminasi. Apabila masuk ke dalam tubuh, 137Cs dapat mengendap pada hampir semua jaringan lunak tubuh manusia, karena mempunyai sifat yang sama dengan unsur stabil Kalium (K) 3,4.

Radionuklida 60Co mempunyai waktu paro 5,27 tahun, memancarkan radiasi

 dengan E = 1173,24 KeV dan 1332,50 KeV dengan P =0,99 3. Di dalam tanah, konsentrasi Co pada umumnya sangat kecil seperti hasil analisa yang dilaporkan untuk tanah permukaan bahwa konsentrasi Co adalah 8 ppm 4. Unsur Co termasuk unsur hara mikro yang berguna bagi pertumbuhan tanaman dalam proses fiksasi nitrogen oleh bakteri simbiotik dan penyusun vitamin B-12 yang penting untuk pembentukan hemoglobin pada bintil-bintil akar pengikat nitrogen 5.

Tanaman Pare (paria) adalah tanaman herba berumur satu tahun atau lebih yang tumbuh menjalar dan merambat. Tanaman yang merupakan sayuran buah ini mempunyai daun yang berbentuk menjari dengan bunga yang berwarna kuning. Buahnya buni, bulat telur memanjang, warna hijau kuning sampai jingga, permukaan buahnya berbintil-bintil dan rasa buahnya pahit. Bijinya keras berwarna coklat kekuningan. Tanaman pare memerlukan tanah yang banyak mengandung bahan organik dan memerlukan pH antara 5-6 6,7.

Adapun tanaman ini termasuk kelas Kingdom Plantae (Tumbuhan), Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh),

(3)

PTKMR-BATAN, FKM-UI, KEMENKES-RI 128 Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan

biji), Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga), Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil), Sub Kelas : Dilleniidae, Ordo : Violales, Famili : Cucurbitaceae (suku labu-labuan), Genus : Momordica Spesies :

Momordica charantia L. 8

Dengan demikian maka pada tulisan ini disajikan hasil penelitian faktor transfer 137Cs dan 60Co dari tanah ke pare.

II. TATA KERJA

II.1. Pengujian sampel tanah

Contoh tanah yang digunakan pada penelitian ini diambil dari lokasi calon tapak pendirian Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia, yaitu Ujung Lemah Abang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Tanah yang diambil adalah tanah permukaan dengan kedalaman sampai 20 cm. Tanah yang telah kering udara ditumbuk dan disaring dengan ayakan bermata saring 2 mm digunakan untuk analisis pendahuluan meliputi pH, bahan organik, tekstur, konsentrasi P, K, Al, H, dan Nilai Tukar Kation yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat di Bogor. Selain itu, dilakukan juga pengukuran 137Cs dan 60Co dalam tanah kering sebelum dilakukan percobaan pot.

II.2. Percobaan pot

Percobaan dilaksanakan secara Rancangan Acak Lengkap mengujikan 2 perlakuan yaitu pemberian tanah dengan dan

tanpa radionuklida 137Cs dan 60Co dengan ulangan masing-masing 10 kali. Pada setiap pot diisi tanah yang telah kering udara, ditumbuk dan disaring dengan memakai ayakan bermata saring 2 mm lalu diaduk merata dan ditimbang seberat 4,5 kg.

Aktivitas radionuklida 137Cs dan 60Co yang diberikan masing-masing adalah 27,84 kBq/pot dan 23 kBq/pot. Contoh tanah diberikan 137Cs dan 60Co didiamkan selama 1 bulan untuk mencapai kesetimbangan. Benih pare ditanam sebanyak 3-5 benih per pot. Pupuk N, P dan K diberikan untuk menjaga kesetimbangan unsur hara dalam tanah. Pupuk N diberikan dalam bentuk Urea sebanyak 35,20 mg/pot, P dalam bentuk TSP dengan takaran 100 mg/pot, dan K dalam bentuk KCL dengan takaran 50 mg/pot. Pupuk urea yang digunakan mengandung 45% N, pupuk P mengandung 46% P2O5 ,dan pupuk KCL mengandung 60% K2O. Penyiraman dengan air dilakukan setiap hari. Pengendalian hama menggunakan Decis 2,5 EC secara penyemprotan yang dilakukan bila ada serangan hama.

II.3. Analisis dan pengukuran

Panen tanaman dilakukan pada saat tanaman berumur 47 hari. Pare dikeringkan dalam oven pada suhu 105°C selama 48 jam,

dan kemudian ditimbang untuk mengetahui bobot kering contoh.. Contoh kering dimasukkan dalam vial dan ditutup untuk kemudian dilakukan pengukuran 137Cs dan 60Co dengan Alat Spektrometer Gamma.

Tanah pasca panen dikeringkan, lalu ditimbang dan dimasukkan ke dalam vial,

(4)

PTKMR-BATAN, FKM-UI, KEMENKES-RI 129 untuk dilakukan pengukuran 137Cs dan 60Co

dengan Alat Spektrometer Gamma.

Penghitungan :

1. Konsentrasi 137Cs dan 60Co dalam pare dan tanah ditentukan dengan persamaan berikut ini.

A (Bq/gr) = Cc – Cb x 100 ... (1) E.Y.60.W

dengan :

A = Konsentrasi 137Cs dan 60Co

dalam pare atau tanah (Bq/gr)

Cc = Laju cacah sampel (cps) Cb = Laju cacah latar (cps) E = Efisiensi pencacahan (%) Y = kelimpahan energi gamma 137Cs 60 = faktor konversi dari dpm ke Bq W = berat contoh (gr)

2. Faktor Transfer radionuklida ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut ini :

FT = ATm ... (2)

ATn

dengan :

FT = Faktor transfer radionuklida ATm = Konsentrasi 137Cs dan 60Co

dalam contoh kering (Bq/gr) ATn = Konsentrasi 137Cs dan 60Co

dalam tanah kering (Bq/gr)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis kimia dan fisika pada tanah sebelum digunakan sebagai media tanam ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil analisis kimia dan fisika pada contoh tanah

No. Parameter Unsur/Senyawa Kadar/Nilai

1. Tekstur Pasir 1% Debu 20% Liat 79% 2. Bahan Organik C 1,04% N 0,09% C/N 12 3. P dan K (HCl 25%) P2O5 213 mg/100g K2O 7 mg/100g P (Bray 1) P2O5 19,1 ppm

4. Nilai Tukar Kation ( NH4- Acetat 1N, pH=7) Ca 1,19 cmol(+)/kg Mg 0,29 cmol(+)/kg K 0,12 cmol(+)/kg Na 0,13 cmol(+)/kg KTK 10,06 cmol(+)/kg KB 17% 5. Al & H (KCl 1N) Al+3 2,36 cmol(+)/kg H+ 0,42 cmol(+)/kg 6. PH : H2O 4,6 KCl 3,9

(5)

PTKMR-BATAN, FKM-UI, KEMENKES-RI 130 Tabel 2. Kriteria Penilaian Sifat-sifat Kimia Tanah (Puslitbang Tanah dan Agroklimat, 1994).

Sifat tanah Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi C (%) <1,00 1,00 – 2,00 2,01 – 3,00 3,01 – 5,00 >5,00 N (%) <0,10 0,10 – 0,20 0,21 – 0,50 0,51 – 0,75 >0,75 C/N <5 5 - 10 11 – 15 16 – 25 >25 P2O5 HCl (mg/100g) <10 10 - 20 21 – 40 41 – 60 >60 P2O5 Bray 1 (ppm) <10 10 - 15 16 – 25 26 – 35 >35 P2O5 Olsen (ppm) <10 10 - 25 26 – 45 46 – 60 >60 K2O HCl 25 % (mg/100g) <10 10 - 20 21 – 40 41 – 60 >60 KTK (mg/100g) <5 5 - 16 17 – 24 25 – 40 >40 Susunan kation: K (me/100g) <0,1 0,1 – 0,2 0,3 – 0,5 0,6 – 1,0 >1,0 Na (me/100g) <0,1 0,1 – 0,3 0,4 – 0,7 0,8 – 1,0 >1,0 Mg (me/100g) <0,4 <0,4 – 1,0 1,1 – 2,0 2,1 – 8,0 >8,0 Ca (me/100g) <2 2 - 5 6 – 10 11 – 20 >20 Kejenuhan Basa (%) <20 20 - 35 36 – 50 51 – 70 >70 Kejenuhan Aluminium (%) <10 10 - 20 21 – 30 31 – 60 >60 Sangat masam Masam Agak masam Netral Agak Alkalis Alkalis

pH H2O <4,5 4,5 – 5,5 5,6 – 6,5 6,6 – 7,5 7,6 – 8,5 >8,5 Salah satu faktor yang menentukan

nilai faktor tansfer adalah keasaman (pH) tanah, dimana pada contoh tanah ini pHnya bersifat asam (4,6) yang akan berpengaruh kurang baik pada pertumbuhan tanaman pare, dimana pH tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman pare adalah 5-6 7. Untuk mengatasi hal ini, telah diberikan pupuk standar (Urea, TSP dan KCl), agar

tanaman pare tumbuh dengan baik. Nilai Tukar Kation yang diperoleh dari hasil analisis tanah ini termasuk rendah yaitu 10, 06. Hal ini dapat mempengaruhi rendahnya faktor transfer radionuklida dari tanah ke buah pare. Data berat kering tanaman yang diperoleh setelah panen dapat dilihat pada Tabel 3.

(6)

PTKMR-BATAN, FKM-UI, KEMENKES-RI 131 Tabel 3. Berat kering pare (gr)

Ulangan Perlakuan dengan

137Cs dan 60Co Perlakuan tanpa 137Cs dan 60Co

1 - 14,67 2 7,72 7,78 3 10,94 6,95 4 8,05 8,03 5 6,99 10,05 6 8,71 6,82 7 7,94 14,14 8 7,33 7,08 9 13,46 1,62 10 6,44 - Rerata= 8,62 Rerata =8,57 Ket : - = tanaman mati

Hasil penelitian yang diperoleh yaitu berat kering tanaman pare yang diberikan 137Cs dan 60Co bervariasi antara 6,44 gr sampai 13,46 gr dengan nilai rerata 8,62 gr dan pada tanaman pare kontrol bervariasi antara 1,62 gr sampai 14,14 gr dengan nilai rata-rata 8,57 gr (Tabel 3). Berat kering tertinggi ditemukan pada tanaman pare yang media tanahnya diberikan 137Cs dan 60Co , ini berarti telah terjadi transfer 137Cs dari tanah ke tanaman pare yang berakibat pada pertambahan berat kering tanaman.Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa perlakuan pemberian 137Cs dan 60Co pada tanaman pare berpengaruh nyata terhadap berat kering tanaman pare. Hal ini dimungkinkan karena sifat Caesium sama dengan Kalium (sama-sama Gol. I), dimana Kalium merupakan unsur hara makro yang dalam jumlah besar diperlukan oleh tanaman. Demikian juga halnya dengan Cobalt merupakan unsur hara

mikro yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhannya.

Tabel 4. Konsentrasi 137Cs dan 60Co dalam pare (Bq/gr) Ula-ngan Perlakuan dengan 137Cs Perlakuan tanpa 137Cs Perlakuan dengan 60Co Perlakuan tanpa 60Co 1 - TTD - TTD 2 4,48 TTD 0,82 TTD 3 5,27 TTD 2,11 TTD 4 2,18 TTD 0,41 TTD 5 3,15 TTD 0,49 TTD 6 1,68 TTD 0,32 TTD 7 2,44 TTD 0,32 TTD 8 7,90 TTD 0,74 TTD 9 2,86 TTD 0,20 TTD 10 4,00 - 0,78 -

Ket : - = tanaman mati

Konsentrasi 137Cs dalam pare yang diberikan 137Cs bervariasi antara 1,68 Bq/g sampai 7,90 Bq/g pare kering. Pada pare kontrol (tanpa 137Cs) semuanya tidak terdeteksi adanya 137Cs. Konsentrasi 60Co dalam pare yang diberikan 60Co bervariasi antara 0,20 Bq/g sampai 2,11 Bq/g pare kering dan pada pare kontrol (tanpa 60Co ) semuanya tidak terdeteksi, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4. Nilai faktor transfer 137Cs dari tanah latosol ke pare bervariasi antara 0,19 – 1,15 dengan nilai rerata 0,60 + 0,58 (σn – 1) dan 60Co antara 0,10 – 0,47 dengan nilai rata-rata 0,27+ 0,51 (σn – 1). Hasil Faktor Transfer 137Cs dan 60Co dari tanah ke pare tercantum dalam Tabel 5 di bawah ini.

(7)

PTKMR-BATAN, FKM-UI, KEMENKES-RI 132 Tabel 5. Faktor transfer 137Cs dan 60Co dari tanah ke pare.

Ulangan dalam tanaman kering (Bq/g) Konsentrasi 137Cs dan 60Co Konsentrasi dalam tanah kering (Bq/g) 137Cs dan 60Co Faktor Transfer 137Cs 60Co 137Cs 60Co 137Cs 60Co 1 - - - - 2 4,48 0,82 4,96 1,73 0,90 0,47 3 5,27 2,11 7,76 6,03 0,67 0,34 4 2,18 0,41 8,92 1,04 0,24 0,39 5 3,15 0,49 3,32 2,22 0,94 0,22 6 1,68 0,32 8,68 2,43 0,19 0,13 7 2,44 0,32 9,71 1,63 0,25 0,19 8 7,90 0,74 6,82 1,75 1,15 0,42 9 2,86 0,20 4,79 1,20 0,59 0,16 10 4,00 0,78 9,01 7,22 0,44 0,10 FT.rerata = 0,60+ 0,58 0,27+0,51

Faktor transfer Cs-137 dan C0-60 dari tanah ke

Pare

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nomor Sampel Fa k tor Tra ns fe r Cs-137 Co-60

Gambar 1. Grafik faktor transfer 137Cs dan 60Co dari tanah ke pare. Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa

faktor transfer 137Cs pada pare nilainya lebih tinggi dibanding faktor transfer 60Co pada tanaman yang sama. Hal ini kemungkinan karena sifat 137Cs yang mobil dalam tanah sehingga lebih banyak terangkut ke tanaman dan sifatnya hampir sama dengan Kalium yang merupakan unsur hara makro dan diperlukan tanaman untuk pertumbuhan tanaman. Sedangkan 60Co dimana Cobalt

merupakan unsur hara mikro yang diperlukan tanaman dalam jumlah lebih sedikit untuk pertumbuhannya.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian diperoleh nilai faktor transfer 137Cs dari tanah Latosol yang berasal dari Ujung Lemah Abang, Jepara, Jawa Tengah ke pare bervariasi antara 0,19 – 1,15 dengan nilai rerata 0,60 + 0,58 dan 60Co

(8)

PTKMR-BATAN, FKM-UI, KEMENKES-RI 133 antara 0,10 – 0,47 dengan nilai rata-rata 0,27

 0,51. Data ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi IAEA dalam penyusunan Hand Book parameter faktor

transfer.

Disarankan bahwa perlu dilakukan penelitian faktor transfer dari berbagai jenis tanah dan tanaman pangan lainnya.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Jumaher, Bapak Mashud, Bapak Mian dan kawan-kawan yang telah banyak membantu hingga selesainya penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. INTERNATIONAL ATOMIC ENERGY AGENCY, Hand Book of Parameter values for the Prediction of radionuclide transfer in temperate environments, Technical Report Series No. 364, Vienna, 1994.

2. INTERNATIONAL ATOMIC ENERGY AGENCY, Generic Models and Parameters for Assessing the Environmental Transfer of Radionuclides from Routine Releases, Procedures and data, Safety Series No.57, Vienna, 1982. 3. INTERNATIONAL ATOMIC ENERGY

AGENCY, Measurement of Radionuclides in Food and The Environment, Tech. Rep. Series No. 295, Vienna, 1989.

4. AKHADI, M., Dasar-dasar Proteksi Radiasi, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 2000.

5. SARWONO HARDJOWIGENO, Ilmu Tanah. PT. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta, 1987

6. ANONIM, Usaha Tani Tanaman Pare, Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian DKI, Jakarta, 1996

7. http://www.tabloidnova.com/articles

asp?id Pare, si Pahit yang banyak khasiat, Jakarta, 24 September 2007.

8. http://www.plantamor.com/index.

php?plant=861, Pare. Jakarta, 1 September 2009.

9. SOEPRAPTOHARDJO, Klassifikasi Tanah Indonesia, Lembaga Penelitian Tanah Indonesia, Bogor, 1975.

TANYA JAWAB

1. Penanya : Bungkus Pratikno - PATIR Pertanyaan :

1. Bagaimana pembuatan tanah yang dikontaminasi 137Cs dan 60Co, dibuat homogen atau di permukaan saja? Jawaban : Leli Nirwani

1. Tanah dibuat homogen dan didiamkan selama satu bulan setelah pencampuran untuk kesetimbangan. 2. Penanya : Sofiati Purnami - PTKMR

Pertanyaan :

1. Dilakukan penelitian pendahuluan tentang sifat-sifat fisika untuk apa? 2. Apa bedanya perlakuan dengan 60Co

dan tanpa 60Co? Jawaban : Leli Nirwani

1. Untuk mengetahui sifat-sifat tanah yang mempengaruhi faktor transfer atau pertumbuhan tanaman untuk tanah latosol teksturnya tertentu. 2. Perlakuan dengan 60Co dan tanpa 60Co

setelah diukur menunjukkan dengan 60Co ada nilai yang terukur sedangkan tanpa 60Co tidak terdeteksi.

3. Penanya : Agus Martinus - PATIR Pertanyaan :

1. Mohon penjelasan mengenai faktor transfer?

2. Apakah semakin besar faktor transfer semakin cepat pertumbuhannya? Jawaban : Leli Nirwani

1. Faktor transfer tanaman adalah perbandingan konsentrasi radionuklida komponen bahan yang

(9)

PTKMR-BATAN, FKM-UI, KEMENKES-RI 134 dapat dimakan dengan tanah tempat

tumbuhnya tanaman tersebut.

2. Tentang kecepatan faktor transfer pada tanaman pare belum dilakukan penelitian.

4. Penanya : Indra M. Pratama Pertanyaan :

1. Sejauh mana faktor transfer berpengaruh terhadap tamanan pare di Jepara?

2. Hubungannya dengan pembangunan PLTN bagaimana perkembangannya? 3. Apakah ada parameter faktor transfer

di IAEA?

Jawaban : Leli Nirwani

1. Dari data faktor transfer ini dapat dihitung perkiraan dosis interna dari tanaman pare ke manusia bila terjadi kecelakaan nuklir.

2. Data ini dibutuhkan sebagai pendukung dalam pembangunan PLTN di Jepara.

3. Faktor-faktor yang berpengaruh pada faktor transfer dari IAEA antara lain : jenis tanah, jenis radionuklida, jenis radionuklida, pH, BO dan lain-lain.

Gambar

Tabel 1. Hasil analisis kimia  dan fisika pada contoh tanah
Tabel  4.   Konsentrasi  137 Cs    dan  60 Co    dalam

Referensi

Dokumen terkait

Membahas lebih jauh, Reverse osmosis adalah sebuah proses mengalirkan sebuah solvent dari sebuah daerah konsentrasi solute tinggi melalui sebuah

yang dilahirkan oleh sapi-sapi induk pada tahun I (calon bibit). Penjualan produk utama berupa bibit baru akan dilaksanakan di tahun ke 3. Penjualan produk

Kesenian Reog Wayang Wong Tedjo Budoyo merupakan salah satu kesenian rakyat di dusun Bayuran yang masih bertahan hingga sekarang. Kesenian tersebut didukung oleh

Dari permasalahan tersebut, harus ada upaya untuk menyelesaikannya, munculnya konsep Open Course Ware (OCW) sebagai platform baru dibidang teknologi pendidikan

Pencemaran air dari nitrat dan nitrit bersumber dari tanah dan tanaman. Nitrat dapat terjadi baik dari NO 2 atmosfer maupun dari pupuk-pupuk yang digunakan dan dari

Komisi Pencegahan Diskriminasi dan Perlindungan Kaum Minoritas dan badan-badan yang dibentuk sesuai dengan Kovenan- Kovenan Internasional tentang Hak Asasi Manusia

Dengan demikian, dapat dilihat bagaimana HAM adalah suatu hak yang kodrati yang secara inheren melekat pada setiap manusia sejak lahir ke dunia sampai meninggal