KATA PENGANTAR. Semarang, 22 maret 2018 KEPALA STASIUN. Ir. TUBAN WIYOSO, MSi NIP STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

30 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

i

KATA PENGANTAR

Stasiun Klimatologi Semarang setiap tahun menerbitkan buku Prakiraan Musim Hujan dan Prakiraan Musim Kemarau daerah Propinsi Jawa Tengah. Buku Prakiraan Musim Hujan diterbitkan setiap bulan September dan Prakiraan Musim Kemarau setiap bulan Maret.

Buletin Prakiraan Musim kemarau 2018 ini memuat informasi Prakiraan Awal Musim Kemarau 2018, Perbandingan antara Prakiraan Awal Musim Kemarau 2018 terhadap Rata – rata atau Normalnya selama 30 tahun (1981 – 2010), dan Prakiraan Sifat Hujan selama periode Musim Kemarau 2018. Selain itu juga memuat informasi Analisa Awal Musim Hujan 2017/2018 dan Analisa Perbadingan Awal Musim Hujan 2017/2018 terhadap rata-ratanya.

Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data serta memperhatikan perkembangan kondisi fisis dan dinamika atmosfer regional maupun global yang sedang berlangsung serta kecenderungannya yang dapat mempengaruhi kondisi iklim di Jawa Tengah, Awal Musim Kemarau 2018 di wilayah Jawa Tengah umumnya diprakirakan terjadi pada bulan Mei dan Juni 2018. Awal Musim kemarau paling awal terjadi pada bulan April Dasarian III (Kota Tegal dan Pekalongan, sebagian wilayah Kab. Wonogiri; sebagian wilayah utara Kab. Tegal, Pemalang dan Rembang; wilayah barat laut Batang; wilayah timur Pati) dan yang paling akhir pada bulan Juni Dasarian III (sebagian wilayah Kab. Purbalingga, Banjarnegara dan Wonosobo; sebagian wilayah selatan Cilacap dan Pekalongan; sebagian kecil wilayah utara Purworejo dan wilayah tenggara Pemalang). Untuk Sifat Hujannya umumnya diprakirakan Normal (N).

Guna memenuhi kebutuhan Informasi iklim pada daerah Kabupaten/Kota, maka buku ini disusun berdasarkan wilayah administratif, untuk mempermudah pemahaman bagi pengguna jasa, informasi ini kami sajikan dalam bentuk uraian, tabel dan peta serta dilengkapi dengan pengertian istilah-istilah yang digunakan.

Untuk penyempurnaan isi buku ini, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran dari pengguna jasa.

Semarang, 22 maret 2018 KEPALA STASIUN

Ir. TUBAN WIYOSO, MSi NIP. 196306281989031001

(3)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR LAMPIRAN ... iii

I. PENGERTIAN ... 1

A. AWAL MUSIM ... 1

B. SIFAT HUJAN ... 1

C. DASARIAN : ... 1

D. ZOM DAN NON ZOM ... 2

II. UMUM ... 2

A. KONDISI DINAMIKA ATMOSFER DAN LAUT ... 4

III. ANALISA MUSIM HUJAN 2017/2018 DI JAWA TENGAH ... 6

A. ANALISA AWAL MUSIM HUJAN 2017/2018 ... 6

B. PERBANDINGAN ANALISA AWAL MUSIM HUJAN 2017/2018 TERHADAP RATA-RATANYA. ... 6

IV. PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2018 DI JAWA TENGAH ... 7

A. PRAKIRAAN AWAL MUSIM KEMARAU 2018 ... 7

B. PRAKIRAAN SIFAT HUJAN SELAMA MUSIM KEMARAU 2018 ... 8

C. PERBANDINGAN PRAKIRAAN AWAL MUSIM KEMARAU 2018 TERHADAP RATA-RATANYA ... 9

(4)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG iii DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1 LAMPIRAN 2 LAMPIRAN 3 LAMPIRAN 4 LAMPIRAN 5 LAMPIRAN 6 LAMPIRAN 7 LAMPIRAN 8 : : : : : : : :

TABEL1. ANALISA MUSIM HUJAN 2017/2018 DI JAWA TENGAH

TABEL 2. PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2018 DI JAWA TENGAH

PETA ANALISA AWAL MUSIM HUJAN 2017/2018 DI JAWA TENGAH

PETA ANALISA PERBANDINGAN AWAL MUSIM HUJAN 2017/2018 TERHADAP RATA-RATANYA DI JAWA TENGAH

PETA PRAKIRAAN AWAL MUSIM KEMARAU 2018 DI JAWA TENGAH

PETA PRAKIRAAN SIFAT HUJAN MUSIM KEMARAU 2018 DI JAWA TENGAH

PETA PERBANDINGAN PRAKIRAAN AWAL MUSIM KEMARAU 2018 TERHADAP RATA-RATANYA DI JAWA TENGAH

PETA PRAKIRAAN PANJANG MUSIM KEMARAU 2018 DI JAWA TENGAH

(5)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

1

I. PENGERTIAN A. AWAL MUSIM

1. Awal Musim hujan

ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya. Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya (rata-rata 1981-2010).

2. Awal Musim kemarau

ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya. Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya (rata-rata 1981-2010).

B. SIFAT HUJAN

Sifat Hujan : merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim hujan atau satu periode musim kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981-2010).

Sifat hujan dibagi menjadi 3 (tiga) katagori, yaitu :

1. Atas Normal (AN) : Jika nilai curah lebih dari 115% terhadap rata-ratanya.

2. Normal (N) : Jika nilai curah hujan antara 85%-115% terhadap rata-ratanya.

3. Bawah Normal (BN) : Jika nilai curah hujan kurang dari 85% terhadap rata-ratanya.

C. DASARIAN :

Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari, dalam satu dasarian dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

Dasarian I : Tanggal 1 - 10 Dasarian II : Tanggal 11 - 20

Dasarian III : Tanggal 21 - akhir bulan. Contoh :

Awal Musim Kemarau : APR III = Tanggal 21 – 30 April. : JUNI I = Tanggal 1 - 10 Juni

(6)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

2

D. ZOM DAN NON ZOM

Zona Musim (ZOM) adalah adalah daerah yang pola hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim kemarau dan musim hujan (umumnya pola Monsun).

Non ZOM adalah Daerah-daerah yang pola hujan rata-ratanya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim kemarau dan musim hujan

II. UMUM

Secara umum kondisi musim di Indonesia dipengaruhi oleh fenomena iklim global seperti El Nino Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean

Dipole(IOD) dan fenomena iklim regional seperti sirkulasi monsun

Asia-Australia, Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis atau Inter Tropical

Convergence Zone (ITCZ) yang merupakan daerah pertumbuhan awan

serta ditentukan pula oleh kondisi dinamika atmosfer dan perkembangan suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia.

Fenomena yang Mempengaruhi Iklim / Musim di Indonesia

1. El Nino Southern Oscillation (ENSO)

El Nino Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global

dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Ekuator Pasifik Tengah dimana jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Nino, namun jika anomali suhu permukaan laut Negatif disebut La Nina. Sementara itu dampak pengaruh El Nino di Indonesia, sangat tergantung dengan kondisi perairan wilayah Indonesia. El Nino yang berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara drastis, baru akan terjadi bila kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin. Namun bila kondisi suhu perairan Indonesia cukup hangat, El Nino tidak menyebabkan berkurangnya curah hujan secara signifikan di Indonesia. Disamping itu, mengingat luasnya wilayah Indonesia, tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh El Nino. Sedangkan La Nina secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia. Seperti halnya El Nino, dampak La Nina tidak berpengaruh ke seluruh wilayah Indonesia.

(7)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

3

2. Indian Ocean Dipole (IOD)

Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi laut–

atmosfer di Samudera Hindia yang dihitung berdasarkan perbedaan nilai (selisih) antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dengan perairan di sebelah barat Sumatera. Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Indeks (DMI).

Untuk DMI positif, umumnya berdampak kurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat, sedangkan nilai DMI negatif, berdampak meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.

3. Sirkulasi Monsun Asia – Australia

Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di Australia dan Asia. Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun yang mengakibatkan sirkulasi angin di Indonesia umumnya membentuk pola monsun, yaitu sirkulasi angin yang mengalami perubahan arah setiap setengah tahun sekali. Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Pola angin timuran/ tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

4. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone / ITCZ)

ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi selalu berubah mengikuti pergerakan posisi matahari ke arah utara dan selatan khatulistiwa. Wilayah Indonesia yang berada di sekitar khatulistiwa, maka pada daerah-daerah yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadinya pertumbuhan awan-awan hujan.

5. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia. Jika suhu permukaan laut dingin berpotensi sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, sebaliknya panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan banyaknya uap air di atmosfer.

(8)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

4

A. KONDISI DINAMIKA ATMOSFER DAN LAUT

Dinamika atmosfer dan laut dipantau dan diprakirakan berdasarkan aktivitas fenomena alam, meliputi : El Nino Southern Oscillation

(ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), Sirkulasi Monsun Asia-Australia,

Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan Suhu Permukaan Laut

Indonesia.

Monitoring dan prakiraan kondisi dinamika atmosfer dan laut yang akan terjadi pada Musim Kemarau 2018, adalah :

1. Monitoring dan Prakiraan Fenomena ENSO dan IOD a. El Nino Southern Oscillation (ENSO)

Sejak bulan September tahun 2017, kondisi di Ekuator Pasifik Tengah (region Nino3.4) berada pada kondisi yang cenderung dingin, kondisi ini diprediksi terus berlanjut hingga Mei 2018 kemudian meluruh menuju Netral pada Juni-Juli 2018. Pada akhir Februari 2018 indeks Nino3.4 berada pada kondisi La Nina Lemah dengan indeksnya bernilai -0.87.

Beberapa prediksi menunjukkan bahwa kondisi La Nina Lemah akan meluruh pada pertengahan tahun 2018. Dalam kaitan ini memberikan indikasi bahwa Musim Kemarau 2018 umumnya pada kisaran kondisi normalnya.

b. Indian Ocean Dipole (IOD)

Nilai Dipole Mode Index (DMI) dalam 3 bulan terakhir adalah : -0.38 (Desember 2017); -0.33 (Januari 2018) dan +0.53 (Februari 2018). Sementara, prediksi Dipole Mode Indeks (DMI) pada bulan Maret hingga Juli 2018 berkisar pada nilai -0.20 s/d +0.38. Nilai ini berada pada kondisi normal. Dengan demikian, mengindikasikan bahwa pada Musim Kemarau 2018, uap air dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia dalam kondisi Normal.

2. Monitoring dan Prakiraan Fenomena Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ, dan Suhu permukaan Laut Indonesia

a. Sirkulasi Monsun Asia – Australia

Hingga akhir Februari 2018 sirkulasi monsun di Indonesia umumnya masih dalam kisaran normalnya. Sirkulasi angin pada lapisan 850mb untuk wilayah Indonesia bagian selatan bertiup dari arah barat, sedangkan di wilayah Indonesia bagian

(9)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

5

utara angin berbelok dari arah timur laut ke tenggara. Diprakirakan bahwa monsun Asia diprediksi masih normal hingga Maret 2018.

3. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone / ITCZ)

Posisi ITCZ pada akhir Februari 2018 dominan masih berada di selatan ekuator dan akan bergerak ke arah utara menuju garis ekuator mengikuti pergerakan tahunannya. Jika dibandingkan terhadap posisi rata-ratanya, posisi tersebut cukup sesuai dengan kisaran rata-rata, sehingga potensi sifat musim kemarau di beberapa wilayah diprakirakan akan cenderung normal sesuai kondisi rata-rata wilayah masing-masing

4. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

Hingga akhir Februari 2018, kondisi suhu permukaan laut di perairan Indonesia, pada umumnya berada pada kondisi netral dengan anomali suhu berkisar -1°C s/d +1°C. Daerah dengan suhu permukaan laut relatif lebih hangat berada di perairan utara Sulawesi dan sekitar kepulauan Maluku yang anomali suhu permukaan lautnya mencapai +1°C

Suhu permukaan laut di Indonesia selama Musim Kemarau 2018 diprakirakan sebagai berikut :

1) Umumnya wilayah perairan Indonesia diprakirakan akan hangat hingga Juli 2018 dengan anomali suhu berkisar 0.5°C s/d +2°C.

2) Wilayah perairan Indonesia lainnya seperti Sumatera bagian utara diprakirakan akan cenderung normal dengan anomali suhu permukaan laut berkisar antara -0.5oC s/d 0.5°C.

B. RINGKASAN PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2018 DI JAWA TENGAH

a. Awal Musim Kemarau 2018 di wilayah Jawa Tengah diprakirakan terjadi paling awal pada bulan April Dasarian III dan paling akhir pada bulan Juni Dasarian III, yaitu sekitar 6 ZOM (11.1%) pada bulan April 2018, 25 ZOM (46.3%) pada bulan Mei 2018 dan 23 ZOM (42,6%) pada bulan Juni 2018.

b. Sifat hujan Musim Kemarau 2018 di Jawa Tengah diprakirakan sekitar 2 ZOM (3,7%) wilayah di Jawa Tengah Bawah Normal

(10)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

6

(BN), 32 ZOM (59.3%) Normal (N) dan 20 ZOM (37.0%) Atas Normal (AN).

c. Bila dibandingkan terhadap rata-ratanya, di wilayah di Jawa Tengah yang awal musim kemaraunya lebih awal (Maju) dari rata-ratanya sekitar 5 ZOM (9.3%) , 33 ZOM (61.1%) lebih lambat dari rata-ratanya (Mundur) dan 16 ZOM (29.6%) sama dengan rata-ratanya.

III. ANALISA MUSIM HUJAN 2017/2018 DI JAWA TENGAH A. ANALISA AWAL MUSIM HUJAN 2017/2018

1. Awal Musim Hujan terjadi pada bulan September 2017 meliputi: Kota Semarang, Kab. Kendal, Temanggung, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap; sebagian besar wilayah Kab.Batang, Kebumen, Magelang, Semarang dan Wonosobo; sebagian wilayah Kab. Brebes, Tegal, Pekalongan dan Kota Salatiga; sebagian kecil wilayah Kab. Demak, Grobogan, Boyolali dan Purworejo.

(Luasan Zona Musim + 44.2% )

2. Awal Musim Hujan terjadi pada bulan Oktober 2017 meliputi : Sebagian besar wilayah Kab. Purworejo, Klaten dan Sukoharjo; sebagian wilayah Kota Salatiga, Kab.Kudus, Grobogan, Demak, Sragen dan Boyolali; sebagian kecil wilayah Kab. Blora, Pati, Karanganyar, Tegal, Pemalang, Pekalongan dan Wonogiri.

(Luasan Zona Musim + 21.2% )

3. Awal Musim Hujan terjadi pada bulan November 2017 meliputi : Kab. Rembang dan Jepara; sebagian besar wilayah Kab. Blora dan Pati; sebagian wilayah Kab. Grobogan; sebagian kecil wilayah Kab. Tegal, Pemalang, Batang, Wonogiri dan Brebes (Luasan Zona Musim + 34.6% )

B. PERBANDINGAN ANALISA AWAL MUSIM HUJAN 2017/2018 TERHADAP RATA-RATANYA.

1. Daerah - daerah yang lebih Awal (Maju) dari rata-ratanya meliputi:

Kota Semarang, Kab. Kendal, Wonosobo dan Temanggung; sebagian besar wilayah Kab. Brebes, Tegal, Cilacap, Banjarnegara, Banyumas, Kebumen, Batang, Magelang, Semarang, Jepara, Pati dan Blora; sebagian wilayah timur laut Kab. Wonogiri; sebagian wilayah Kota Salatiga, Kab. Pemalang, Purbalingga, Pekalongan,

(11)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

7

Demak, Boyolali, dan Grobogan; sebagian wilayah utara Kab. Purworejo, Rembang dan Kudus; wilayah timur Kab. Karanganyar. (Luasan Zona Musim + 55.8% )

2. Daerah-daerah yang sama dengan rata-ratanya meliputi :

Sebagian besar wilayah Kab. Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Demak dan Purworejo; sebagian wilayah Kota Salatiga, Kab. Karanganyar, Kudus, Boyolali, Banyumas, Pemalang, Pekalongan dan Kebumen; sebagian wilayah timur Kab. Rembang; sebagian wilayah selatan Kab. Cilacap, Semarang dan Pati; sebagian kecil wilayah selatan Kab. Brebes, Tegal dan Magelang; sebagian wilayah barat Kab. Banjarnegara; sebagian kecil wilayah barat laut Kab. Grobogan. (Luasan Zona Musim + 28.8% )

3. Daerah daerah yang lebih lambat (Mundur) dari rata-ratanya meliputi:

Kota Tegal, Kota Surakarta dan Kota Pekalongan; sebagian wilayah Kab. Brebes, Tegal, Jepara Grobogan, Rembang dan Pati; sebagian wilayah utara Kab. Pemalang, Pekalongan, Blora, Kudus, Sukoharjo dan Klaten; sebagian wilayah selatan Kab. Boyolali dan Sragen; wilayah barat laut Kab. Batang dan Karanganyar; sebagian kecil wilayah selatan Demak dan Magelang.

(Luasan Zona Musim + 15.4% ).

IV. PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2018 DI JAWA TENGAH A. PRAKIRAAN AWAL MUSIM KEMARAU 2018

1. Awal Musim Kemarau diprakirakan terjadi pada bulan April 2018 meliputi :

Kota Tegal dan Kota Pekalongan; sebagian wilayah Kab. Rembang, Pati dan Wonogiri; sebagian kecil wilayah timur laut Kab. Jepara; sebagian wilayah utara Kab. Tegal, Pemalang dan Pekalongan; sebagian wilayah barat laut Kab. Batang.

(Luasan Zona Musim + 11.1%)

2. Awal Musim Kemarau diprakirakan terjadi pada bulan Mei 2018 meliputi :

Kab. Karanganyar; Kota Tegal, Pekalongan dan Surakarta; sebagian besar wilayah Kab. Wonogiri; sebagian wilayah Kab. Jepara, Pati, Rembang dan Blora; Kab. Brebes dan Sukoharjo bagian utara; sebagian wilayah utara Kab. Tegal, Pemalang dan Pekalongan; sebagian wilayah selatan Kab. Sragen; sebagian wilayah timur Kab. Grobogan; wilayah tenggara Kab. Boyolali; wilayah timur laut Kab. Batang.

(12)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

8

3. Awal Musim Kemarau diprakirakan terjadi pada bulan Juni 2018 meliputi :

Kota Salatiga; Kab. Purbalinga, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung dan Semarang; sebagian besar wilayah Kab. Cilacap dan Banyumas; sebagian wilayah Kab. Boyolali, Pekalongan dan Batang; sebagian wilayah selatan Kota Semarang, Kab. Tegal, Pekalongan, Kendal, Brebes, Banyumas, Cilacap dan Magelang; sebagian wilayah timur Kab. Sragen; sebagian wilayah utara Kab. Purworejo dan Kebumen; sebagian kecil wilayah barat daya Kab. Grobogan.

(Luasan Zona Musim + 42.6%)

B. PRAKIRAAN SIFAT HUJAN SELAMA MUSIM KEMARAU 2018 1. Sifat hujan Bawah Normal (BN) meliputi :

Kota Tegal, Kota Pekalongan; wilayah tengah Kab. Brebes; sebagian wilayah Kab. Tegal; sebagian wilayah utara Kab. Pemalang dan Pekalongan; sebagian wilayah barat laut Kab. Batang.

(Luasan Zona Musim + 3.7 %) 2. Sifat hujan Normal (N) meliputi:

Kota Magelang, Kota Surakarta, Kab. Klaten dan Sukoharjo; sebagian besar wilayah Kab. Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Magelang, Kendal, Kota Semarang, Grobogan dan Sragen; sebagian wilayah Kab.Purbalingga, Banjarnegara, Purworejo, Temanggung, Jepara, Pati, Rembang dan Blora; sebagian wilayah utara Kab. Kudus dan Wonogiri; Wilayah barat Kab. Karanganyar; sebagian kecil wilayah Kab. Wonosobo, Semarang dan Demak.

(Luasan Zona Musim + 59.3%)

3. Sifat hujan Atas Normal (AN) meliputi:

Kota Salatiga; sebagian besar wilayah Kab. Demak, Kudus, Wonosobo, Semarang, Pati dan Wonogiri; sebagian wilayah Kab. Boyolali, Purbalingga, Banjarnegara, Temanggung, Purworejo, Jepara, Rembang, Blora dan Grobogan; wilayah timur Kab. Karanganyar; sebagian wilayah selatan Kab.Pekalongan, Batang dan Kendal; sebagian wilayah timur Kota Semarang, Kab. Banyumas, dan Kebumen; sebagian wilayah barat Kab. Cilacap dan Sragen; sebagian kecil wilayah utara Kab. Magelang

(13)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

9

C. PERBANDINGAN PRAKIRAAN AWAL MUSIM KEMARAU 2018 TERHADAP RATA-RATANYA

1. Daerah-daerah Kabupaten yang lebih awal (Maju) dari rata-ratanya meliputi :

Kota Semarang, Kota Magelang, Kab. Wonosobo, Temanggung dan Kendal; sebagian besar wilayah Kab. Cilacap, Brebes, Tegal, Banyumas, Pemalang, Kebumen, Banjarnegara, Jepara, Batang, Semarang, Pati, Grobogan, Sragen dan Blora; sebagian wilayah Kab. Pekalongan, Boyolali, Demak dan Kudus; sebagian wilayah utara Kab. Purworejo, Rembang dan Kota Salatiga; sebagian besar wilayah timur Kab. Karanganyar; sebagian wilayah timur laut Kab. Wonogiri.

(Luasan Zona Musim + 9.3%)

2. Daerah-daerah Kabupaten yang sama dari rata-ratanya meliputi:

Sebagian besar wilayah Kab. Purworejo, Demak, Klaten, Sukoharjo dan Wonogiri; sebagian wilayah Kab. Banjarnegara, Pemalang, Banyumas, Kebumen, Pekalongan, Boyolali, Sragen, Pati dan Karanganyar; sebagian besar wilayah utara Kab. Purbalingga; sebagian wilayah barat Kab. Sragen; sebagian besar wilayah selatan Kab. Cilacap; sebagian wilayah timur Kab. Rembang; Kota Salatiga dan Kab. Kudus bagian selatan; sebagian besar wilayah tenggara Kab. Semarang; sebagian kecil wilayah Kab. Brebes, Tegal, Batang, Magelang dan Grobogan. (Luasan Zona Musim + 29.6%)

3. Daerah-daerah Kabupaten yang lebih lambat (Mundur) dari rata-ratanya meliputi:

Kota Tegal, Pekalongan dan Surakarta; sebagian wilayah Kab. Brebes, Tegal, Boyolali, Sragen, Grobogan, Jepara dan Pati; sebagian wilayah utara Kab. Pemalang, Pekalongan, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Kudus dan Blora; sebagian wilayah timur Kab. Wonogiri; sebagian wilayah selatan Kab. Rembang; sebagian kecil wilayah Kab. Magelang dan Demak.

(14)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

10

Lampiran 1.

TABEL 1

ANALISA MUSIM HUJAN TAHUN 2017/2018 PER KOTA/KABUPATEN DI JAWA TENGAH

NO. KABUPATEN DAN

KOTA

ANALISA MUSIM HUJAN 2017/2018 AWAL MUSIM HUJAN

PERBANDINGAN THD RATA-RATA (Dasarian) ( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) 1 BREBES UTARA NOV I -1 TENGAH NOV II -1

BARAT DAYA SEP III -1

TENGGARA SEP III -2

SELATAN SEP III -2

2 TEGAL

UTARA NOV III 1

BARAT NOV II -1

TENGAH OKT III -1

SELATAN SEP III -2

3 KOTA TEGAL NOV III -1

4 PEMALANG

UTARA NOV III 1

TENGAH OKT III -1

BARAT DAYA SEP III -2

TENGGARA SEP III 0

5 PEKALONGAN

UTARA NOV III 1

BARAT OKT III -1

TIMUR SEP III -2

SELATAN SEP III 0

6 KOTA PEKALONGAN NOV III -1

7 BATANG

BARAT LAUT NOV III 1

TIMUR LAUT SEP III -3

TENGAH SEP III -2

SELATAN SEP III -2

8 KENDAL

UTARA SEP III -3

TENGAH SEP III -3

BARAT DAYA SEP III -2

SELATAN SEP III -2

TENGGARA SEP III -3

9 KOTA SEMARANG

UTARA SEP III -3

BARAT DAYA SEP III -3

TENGGARA SEP III -1

(15)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

11

Lanjutan Tabel 1:

NO. KABUPATEN DAN

KOTA

ANALISA MUSIM HUJAN 2017/2018 AWAL MUSIM HUJAN

PERBANDINGAN THD RATA-RATA (Dasarian) ( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) 10 DEMAK UTARA NOV II -1

TENGAH OKT III 0

BARAT SEP III -3

SELATAN SEP III -1

11 JEPARA

BARAT NOV II -1

UTARA NOV II -1

SELATAN NOV II -1

TIMUR NOV II 2

TIMUR LAUT NOV II -1

12 KUDUS

UTARA NOV II -1

TENGAH OKT III 0

SELATAN OKT III 0

13 PATI

UTARA NOV II -1

TIMUR LAUT NOV II -1

TENGAH NOV II -1

BARAT LAUT NOV II -1

BARAT OKT III 0

SELATAN NOV II 3 14 REMBANG UTARA NOV II -1 TIMUR NOV II 0 TENGAH NOV II 3 SELATAN NOV II 3 15 BLORA UTARA NOV II -3 TENGAH NOV II -3 SELATAN OKT I -1 16 GROBOGAN

UTARA OKT III 1

BARAT OKT III 1

BARAT DAYA SEP III -1

SELATAN OKT I -1

TIMUR LAUT NOV II 3

TIMUR NOV II -3

17 KAB. SEMARANG

TIMUR LAUT SEP III -1

BARAT LAUT SEP III -3

BARAT DAYA SEP III -2

(16)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

12

Lanjutan Tabel 1:

NO. KABUPATEN DAN

KOTA

ANALISA MUSIM HUJAN 2017/2018 AWAL MUSIM HUJAN

PERBANDINGAN THD RATA-RATA

(Dasarian)

( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 )

TENGGARA OKT III 0

SELATAN SEP III -2

18 KOTA SALATIGA

UTARA SEP III -3

SELATAN SEP III 0

19 BOYOLALI

UTARA OKT I -2

BARAT LAUT SEP III -2

TENGAH OKT III 0

SELATAN NOV I 1

BARAT DAYA SEP III -2

TENGGARA NOV I 1

20 TEMANGGUNG

UTARA SEP III -2

BARAT SEP III -2

TIMUR SEP III -3

SELATAN SEP III -2

21 MAGELANG

UTARA SEP III -2

TENGAH SEP III -1

BARAT SEP III -1

TIMUR SEP III -2

TENGGARA SEP III 1

22 KOTA MAGELANG SEP III -2

23 WONOSOBO

UTARA SEP III -2

BARAT SEP III -1

SELATAN SEP III -1

TENGGARA SEP III -1

TIMUR SEP III -2

BARAT DAYA SEP III -1

24 BANJARNEGARA

TIMUR LAUT SEP III -2

BARAT LAUT SEP III 0

TIMUR SEP III -1

TENGGARA SEP III -1

BARAT DAYA SEP III -1

25 PURBALINGGA

UTARA SEP III 0

TIMUR SEP III -1

SELATAN SEP III -1

BARAT SEP III -2

BARAT LAUT SEP III 0

(17)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

13

Lanjutan Tabel 1:

NO. KABUPATEN DAN

KOTA

ANALISA MUSIM HUJAN 2017/2018 AWAL MUSIM HUJAN

PERBANDINGAN THD RATA-RATA

(Dasarian)

( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 )

26 BANYUMAS

UTARA SEP III 0

TENGAH SEP III -2

TENGGARA SEP III 0

BARAT DAYA SEP III -1

SELATAN SEP III -2

27 CILACAP

SELATAN SEP III 0

TIMUR SEP III -1

BARAT DAYA SEP III -1

TENGAH SEP III -1

BARAT LAUT SEP III -1

28 KEBUMEN

UTARA SEP III -1

SELATAN SEP III -1

TENGGARA OKT II 0

TIMUR OKT II 0

BARAT SEP III 0

29 PURWOREJO

SELATAN OKT II 0

UTARA SEP III -1

BARAT LAUT OKT I -1

TIMUR OKT II 0

TENGAH OKT II 0

BARAT OKT II 0

30 KLATEN

SELATAN OKT III 0

TENGAH OKT III 0

UTARA NOV I 1

31 SUKOHARJO

UTARA OKT III 0

TENGAH NOV I 1

SELATAN NOV I 1

TIMUR NOV I 0

32 KOTA SURAKARTA NOV I 1

33 KARANGANYAR

BARAT LAUT NOV I 1

BARAT NOV I 0

TIMUR OKT I -2

34 SRAGEN

SELATAN NOV I 1

UTARA OKT I -1

BARAT OKT III 0

(18)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

14

Lanjutan Tabel 1:

NO. KABUPATEN DAN

KOTA

ANALISA MUSIM HUJAN 2017/2018 AWAL MUSIM HUJAN

PERBANDINGAN THD RATA-RATA (Dasarian) ( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) 35 WONOGIRI SELATAN NOV I 0 TENGAH NOV I 0 TIMUR NOV II 1

TIMUR LAUT OKT I -2

BARAT NOV I 0

(19)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

15

Lampiran 2.

TABEL 2

PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU TAHUN 2018 PER KOTA/KABUPATEN DI JAWA TENGAH

NO .

KABUPATEN DAN KOTA

PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2018 AWAL MUSIM KEMARAU 2018 PERBANDINGAN TERHADAP RATA-RATA (Dasarian) SIFAT HUJAN PANJANG MUSIM KEMARAU 2018 (Dasarian) (1) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) (5) (6) 1 BREBES UTARA MEI II 1 N 18

TENGAH MEI III 2 B 16

BARAT DAYA JUN I 1 N 14

TENGGARA JUN II 0 N 14

SELATAN JUN I 1 N 13

2 TEGAL

UTARA APR III -1 B 21

BARAT MEI III 2 B 16

TENGAH MEI II 0 N 19

SELATAN JUN II 0 N 14

3 KOTA TEGAL APR III -1 B 21

4 PEMALANG

UTARA APR III -1 B 21

TENGAH MEI II 0 N 19

BARAT DAYA JUN II 0 N 14

TENGGARA JUN III -1 N 11

5 PEKALONGAN

UTARA APR III -1 B 21

BARAT MEI II 0 N 19

TIMUR JUN II 0 N 11

SELATAN JUN III -1 N 11

6 KOTA

PEKALONGAN APR III -1 B 21

7 BATANG

BARAT LAUT APR III -1 B 21

TIMUR LAUT MEI III 0 N 15

TENGAH JUN II 0 N 11

SELATAN JUN II 2 A 10

8 KENDAL

UTARA MEI III 0 N 15

TENGAH MEI III 0 N 15

BARAT DAYA JUN II 0 N 11

SELATAN JUN II 0 N 12

TENGGARA JUN I 3 N 15

9 KOTA

SEMARANG

UTARA MEI III 0 N 15

(20)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG 16 Lanjutan Tabel 2: NO . KABUPATE N DAN KOTA

PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2018 AWAL MUSIM KEMARAU 2018 PERBANDINGAN TERHADAP RATA-RATA (Dasarian) SIFAT HUJAN PANJANG MUSIM KEMARAU 2018 (Dasarian) (1) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) (5) (6)

BARAT DAYA JUN I 3 N 15

TENGGARA JUN I 2 A 13

10 DEMAK

UTARA MEI II 2 A 18

TENGAH MEI II 2 A 17

BARAT MEI III 0 N 15

SELATAN JUN I 2 A 13

11 JEPARA

BARAT MEI II 2 A 18

UTARA MEI II 2 A 18

SELATAN MEI II 2 A 18

TIMUR MEI III 0 N 17

TIMUR LAUT APR III 2 N 22

12 KUDUS

UTARA MEI III 0 N 17

TENGAH MEI II 2 A 17

SELATAN MEI II 2 A 17

13 PATI

UTARA APR III 2 N 22

TIMUR LAUT APR III 1 A 21

TENGAH MEI I 1 A 19

BARAT LAUT APR III 2 N 22

BARAT MEI II 2 A 17

SELATAN MEI I 0 N 17

14 REMBANG

UTARA APR III 1 A 21

TIMUR MEI I 2 A 19 TENGAH MEI I 0 N 17 SELATAN MEI I 0 N 17 15 BLORA UTARA MEI I 1 A 18 TENGAH MEI I 1 A 18 SELATAN MEI I 1 N 16 16 GROBOGAN UTARA MEI I 0 N 16 BARAT MEI I 0 N 16

BARAT DAYA JUN I 2 A 13

SELATAN MEI I 1 N 16

TIMUR LAUT MEI I 0 N 17

TIMUR MEI I 1 A 18

(21)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG 17 Lanjutan Tabel 2: NO KABUPATEN DAN KOTA

PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2018 AWAL MUSIM KEMARAU 2018 PERBANDINGAN TERHADAP RATA-RATA (Dasarian) SIFAT HUJAN PANJANG MUSIM KEMARAU 2018 (Dasarian) (1) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) (5) 17 SEMARANG

TIMUR LAUT JUN I 2 A 13

BARAT LAUT JUN II 0 A 12

BARAT DAYA JUN I 1 N 15

TENGGARA JUN I 3 A 15 SELATAN JUN I 1 N 15 18 KOTA SALATIGA UTARA JUN II 0 A 12 SELATAN JUN I 3 A 15 19 TEMANGGUNG UTARA JUN II 0 N 12 BARAT JUN II 2 A 10 TIMUR JUN II 0 A 12 SELATAN JUN I 1 N 15 20 BOYOLALI

BARAT LAUT JUN I 2 A 13

TENGAH JUN I 3 A 15

SELATAN MEI II 1 N 18

BARAT DAYA JUN I 1 N 15

TENGGARA MEI II 1 N 17 21 MAGELANG UTARA JUN I 1 N 15 TENGAH JUN I 0 N 13 BARAT JUN I 0 N 13 TIMUR JUN I 1 N 15 TENGGARA MEI II 1 N 18 22 KOTA MAGELANG 23 WONOSOBO JUN II 2 A 10

UTARA JUN III 2 A 10

BARAT JUN III 2 A 10

SELATAN JUN I 0 N 13

TENGGARA JUN II 2 A 10

TIMUR JUN II 2 A 10

24 BANJARNEGARA

TIMUR LAUT JUN II 2 A 10

BARAT LAUT JUN III -1 N 11

TIMUR JUN III 2 A 10

TENGGARA JUN II 0 N 12

BARAT DAYA JUN III 0 A 10

(22)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG 18 Lanjutan Tabel 2: NO KABUPATEN DAN KOTA

PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2018 AWAL MUSIM KEMARAU 2018 PERBANDINGAN TERHADAP RATA-RATA (Dasarian) SIFAT HUJAN PANJANG MUSIM KEMARAU 2018 (Dasarian) (1) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) (5) (6) 25 PURBALINGGA

UTARA JUN III -1 N 11

TIMUR JUN III 0 A 10

SELATAN JUN III 0 A 10

BARAT JUN I 1 N 13

BARAT LAUT JUN II -1 N 9

26 BANYUMAS

UTARA JUN II -1 N 9

TENGAH JUN I 1 N 13

TENGGARA JUN II 2 N 10

BARAT DAYA JUN I 2 N 15

SELATAN JUN I 1 N 13

27 CILACAP

SELATAN JUN III 0 N 9

TIMUR MEI II -1 N 14

BARAT DAYA JUN I 1 A 12

TENGAH JUN I 2 N 15

BARAT LAUT JUN I 1 N 14

28 KEBUMEN UTARA JUN II 0 N 12 SELATAN MEI II -1 N 14 TENGGARA MEI I 1 A 16 TIMUR MEI I 1 A 18 BARAT JUN II 2 N 10 29 PURWOREJO SELATAN MEI I 1 A 16

UTARA JUN III 2 A 10

BARAT LAUT JUN I 0 N 15

TIMUR MEI I 1 N 14 TENGAH MEI I 1 A 18 BARAT MEI I 1 A 18 30 KLATEN SELATAN MEI I 1 N 18 TENGAH MEI I 1 N 18 UTARA MEI II 1 N 18 31 SUKOHARJO UTARA MEI II 1 N 17 TENGAH MEI I 1 N 18 SELATAN MEI I 1 N 18 TIMUR MEI I 1 N 17 Dilanjutkan di halaman 19

(23)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG 19 Lanjutan Tabel 2: NO . KABUPATEN DAN KOTA

PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2018 AWAL MUSIM KEMARAU 2018 PERBANDINGAN TERHADAP RATA-RATA (Dasarian) SIFAT HUJAN PANJANG MUSIM KEMARAU 2018 (Dasarian) (1) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) (5) 32 KOTA SURAKARTA MEI II 1 N 17 33 KARANGANYAR

BARAT LAUT MEI II 1 N 17

BARAT MEI I 1 N 17 TIMUR MEI II 1 A 15 34 SRAGEN SELATAN MEI II 1 N 17 UTARA MEI I 1 N 16 BARAT JUN I 3 A 15 35 WONOGIRI

SELATAN APR III 1 A 21

TENGAH MEI I 1 A 18

TIMUR MEI II 2 A 16

TIMUR LAUT MEI II 1 A 15

BARAT APR III -1 N 18

UTARA MEI I 1 N 17 KETERANGAN : 1. SIFAT HUJAN AN : ATAS NORMAL N : NORMAL BN : BAWAH NORMAL

2. Perbandingan Analisa dan Prakiraan Hujan terhadap Rata-Ratanya -1 : Maju 1 Dasarian dari Rata-Ratanya

-2 : Maju 2 Dasarian dari Rata-Ratanya -3 : Maju 3 Dasarian dari Rata-Ratanya 0 : Sama dengan Rata-Ratanya

+1 : Mundur 1 Dasarian dari Rata-Ratanya +2 : Mundur 2 Dasarian dari Rata-Ratanya +3 : Mundur 3 Dasarian dari Rata-Ratanya

(24)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

20

(25)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

21

(26)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

22

(27)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

23

(28)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

24

(29)

STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

25

(30)

1

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :