Kecamatan yang bersangkutan.

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENCABUTAN PERKARA CERAI GUGAT PADA TINGKAT BANDING

(Makalah Diskusi IKAHI Cabang PTA Pontianak)

===========================================================

1. Pengantar.

Pencabutan perkara banding dalam perkara cerai gugat akan melibatkan Pengadilan Agama pada pelayanan terhadap Pembanding yang akan mencabut perkara bandingnya. Pada tataran ini apakah memerlukan tambahan panjar biaya banding atau tidak. Apakah Panitera berkewajiban membuat akta pencabutan banding atau tidak. Apakah harus ada permohonan pencabutan banding dan pernyataan tertulis diatas meterai yang cukup dari Pembanding dan Terbanding atau tidak.

Disamping itu, formulasi permohonan pencabutan banding apakah dalam bentuk :

1.1. Permohonan pencabutan banding saja;

1.2. Permohonan pembatalan putusan Pengadilan Agama yang dimohonkan banding; atau

1.3. Permohonan pencabutan banding dan sekaligus permohonan pembatalan putusan Pengadilan Agama yang dimohonkan banding.

Berbeda lagi, ketika proses permohonan banding sampai di Pengadilan Tinggi Agama. Terhadap permohonan pencabutan banding, Pengadilan Tinggi Agama sebagai peradilan ulangan akan memberikan jawaban dengan putusan yang kemungkinan akan berbunyi :

a. Mengabulkan permohonan pencabutan banding; b. Menolak permohonan pencabutan banding;

c. Membatalkan putusan Pengadilan Agama yang dimohonkan banding; d. Mengabulkan permohonan pencabutan banding dan membatalkan

putusan Pengadilan Agama yang dimohonkan banding; atau e. Bentuk putusan lainnya.

Sehubungan pencabutan banding ini terdapat prosedur yang berada di Pengadilan Agama dan proses penentuan hukumnya berada di Pengadilan Tinggi Agama, maka akan lebih lengkap apabila pembahasannya melibatkan minimal sebagian Hakim dan Panitera Pengadilan Agama se Kalimantan Barat dan setidak-tidaknya diwakili oleh Pengadilan Agama Pontianak.

Pencabutan perkara ketika masih dalam proses di Pengadilan Agama memang tidak diatur dalam RBg maupun HIR, namun untuk mengisi kekosongan hukum dapat berpedoman Pasal 271 dan 272 Rv. Dalam prakteknya, pencabutan perkara pada Pengadilan Agama tidak serumit ketika pencabutan perkara banding yang telah menjadi wilayah kewenangan Pengadilan Tinggi Agama.

Dalam perkara cerai gugat, apabila sudah menjadi kompetensi Pengadilan Tinggi Agama (terhitung sejak dibuat dan ditanda tangani Akta Banding dan bukti

(2)

panjar biaya banding) dicabut karena Pembanding dan Terbanding sudah rukun kembali dalam rumah tangga dan pencabutannya dikabulkan atau ditolak, maka akan menimbulkan implikasi sebagai berikut :

Pertama : Dalam hal putusan Pengadilan Agama yang mengabulkan gugatan Penggugat, maka putusan Pengadilan Agama tersebut menjadi inkract van gewijsde (berkekuatan hukum tetap). Artinya perkawinan antara suami dan istri telah putus atau telah terjadi perceraian. Apabila menginginkan meneruskan membina rumah tangga lagi harus dengan perkawinan baru di Kantor Urusan Agama Kecamatan yang bersangkutan.

Kedua : Dalam hal putusan Pengadilan Agama yang menolak gugatan Penggugat, maka putusan Pengadilan Agama tersebut menjadi inkract van gewijsde (berkekuatan hukum tetap). Artinya perkawinan antara suami dan istri belum putus atau belum terjadi perceraian. Apabila menginginkan meneruskan membina rumah tangga lagi tidak perlu dengan perkawinan baru di Kantor Urusan Agama Kecamatan yang bersangkutan.

Ketiga : Dalam hal putusan Pengadilan Agama yang mengabulkan gugatan Penggugat, sedang Pengadilan Tinggi Agama mengabulkan pencabutan banding sekaligus membatalkan putusan Pengadilan Agama yang terkait dengan perkara banding, maka putusan Pengadilan Agama tersebut menjadi inkract van gewijsde (berkekuatan hukum tetap). Artinya perkawinan antara suami dan istri tidak putus atau tidak terjadi perceraian. Apabila menginginkan meneruskan membina rumah tangga lagi tidak perlu dengan perkawinan baru di Kantor Urusan Agama Kecamatan yang bersangkutan.

2. Problematika Pencabutan Permohonan Banding.

Dalam menghadapi kasus pencabutan permohonan yang demikian itu, akan timbul beberapa pertanyaan yang antara lain :

2.1. Apakah Pembanding mengajukan permohonan pencabutan banding yang telah didaftarkan kepada Pengadilan Tinggi Agama;

2.2. Apakah Pembanding mengajukan permohonan pembatalan putusan Pengadilan Agama kepada Pengadilan Tinggi Agama; atau

2.3. Apakah Pembanding mengajukan permohonan pencabutan banding sekaligus mencantumkan permohonan pembatalan putusan Pengadilan Agama kepada Pengadilan Tinggi Agama.

3. Pembahasan dan Pemecahan.

Dalam menghadapi problematika seperti ini, terdapat beberapa konstruksi pemikiran yang telah dikemukakan oleh praktisi hukum, seperti :

3.1. Drs. H. Mukti Arto, SH yang intinya sebagai berikut :

3.1.1. Jika pada pemeriksaan tingkat banding terjadi perdamaian (antara suami istri telah rukun kembali) perkaranya dicabut dengan persetujuan suami istri.

(3)

3.1.2. Pengadilan Tinggi Agama membuat penetapan yang berisi :

3.1.2.1. Mengizinkan kepada Pembanding untuk mencabut perkara bandingnya.

3.1.2.2. Membatalkan putusan Pengadilan Agama yang mengabulkan cerai gugat karena terjadi perdamaian sebelum putusan tersebut berkekuatan hukum tetap.

3.1.2.3. Menyatakan bahwa suami dan istri tersebut masih dalam ikatan perkawinan yang sah. (hlm.283).

3.2. Prof. Dr. Abdul Manan, SH, S.IP,M.Hum yang pada pokoknya menyatakan sebagai berikut :

3.2.1. Pengadilan Agama memberikan saran agar Pembanding tidak mencabut perkara bandingnya dan tetap disidangkan oleh Pengadilan Tinggi Agama.

3.2.2. Kemudian Pengadilan Agama yang memberitahukan kepada Pengadilan Tinggi Agama bahwa antara kedua belah pihak yang berperkara yang sedang dimohonkan banding sudah terjadi perdamaian dan sudah rukun kembali dengan melampirkan surat pernyataan dari pihak-pihak yang menyatakan bahwa yang bersangkutan telah rukun kembali.

3.2.3. Atas dasar terjadinya perdamaian Pembanding dan Terbanding rukun lagi telah diberitahukan oleh Pengadilan Agama kepada Pengadilan Tinggi Agama, maka Majelis Pengadilan Tinggi Agama mengadili sendiri dengan menjatuhkan putusan tidak menerima permohonan banding Pembanding. (hlm.119-120)

Pemeriksaan perkara yang sudah dimohonkan banding meskipun berkasnya belum dikirim ke Pengadilan Tinggi Agama bukan menjadi domain Pengadilan Agama. Sebenarnya yang menjadi kapling bagi Pengadilan Agama adalah memberikan pelayanan kepada pihak yustiabelen yang sedang menghadapi persoalan banding dan telah rukun kembali. Dalam hal semacam ini, arahan apa yang dapat kita berikan kepada mereka.

Apakah kita berikan arahan seperti formulasi Drs. H. Mukti Arto, SH yang pada prinsipnya perkara bandingnya dicabut atau versi Prof. Dr. Abdul Manan, SH, S.IP, M.Hum yang pada intinya perkara bandingnya tidak perlu dicabut atau versi lain dengan mengajukan permohonan pembatalan putusan Pengadilan Agama yang telah dimhonkan banding.

Dalam praktek litigasi di Pengadilan Agama, ketika perkara sudah diajukan banding yang kemudian kedua belah pihak telah rukun kembali, tampaknya Pembanding mengajukan permohonan pencabutan perkara banding kepada Pengadilan Tinggi Agama melalui Pengadilan Agama. Hal ini dapat kita lihat pada :

Pertama :

Putusan Pengadilan Tinggi Agama Surabaya Nomor 225/Pdt.G /2008/ PTA.Sby tanggal 28 Oktober 2008. Putusan Pengadilan Agama Lamongan

(4)

Nomor 1013/Pdt.G/2008 tanggal 10 Juli 2008. Adapun pertimbangan Pengadilan Tinggi Agama Surabaya adalah sebagai berikut :

Menimbang, bahwa Pembanding dan Terbanding sebagai suami istri menyatakan mencabut perkara banding dengan alasan antara Pembanding dan Terbanding telah rukun kembali;

Menimbang, bahwa Pengadilan Tinggi Agama Surabaya berpendapat bahwa permohonan pencabutan Pembanding dapat dibenarkan karena ternyata perkara permohonan banding tersebut belum disidangkan, sehingga dapat diterima dengan berpedoman pada Pasal 171 dan Pasal 172 Rv;

Menimbang, bahwa ternyata kedua belah pihak sebagai suami istri menghendaki tidak terjadi perceraian karena mereka yang semula telah terjadi perselisihan dan pertengkaran dan sudah tidak ada harapan akan hidup rukun kembali berdasarkan pernyataan Pembanding dan Terbanding;

Menimbang, bahwa oleh karena sekarang ini Pembanding dan Terbanding sebagai suami istri telah hidup rukun kembali, maka putusan Pengadilan Agama Lumajang Nomor 1013/Pdt.G/2008 tanggal 10 Juli 2008 tidak dapat dipertahankan dan Pengadilan Tinggi Agama Surabaya akan mengadili sendiri dengan menolak gugatan Penggugat/Pembanding karena alasan perceraian yang didalilkan dalam surat gugatannya sudah tidak terbukti ada;

Menimbang, bahwa dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, kemudian Pengadilan Tinggi Agama Surabaya menjatuhkan putusan sebagai berikut :

MENGADILI

- Menyatakan permohonan banding Pembanding dapat diterima;

- Membatalkan putusan putusan Pengadilan Agama Lamongan Nomor 1013/Pdt.G/2008 tanggal 10 Juli 2008;

Dengan mengadili sendiri :

- Menolak gugatan Penggugat/Pembanding;

- Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara pada tingkat pertama sejumlah Rp.156.000; (seratus lima puluh enam ribu rupiah); - Menghukum Penggugat/Pembanding untuk membayar biaya perkara

pada tingkat banding sejumlah Rp.64.000; (enam puluh empat ribu rupiah);

Kedua :

Putusan Pengadilan Tinggi Agama Jambi Nomor .../Pdt.G/2012/PTA.Jb tanggal 24 September 2012 dan Putusan Pengadilan Agama Jambi Nomor .../Pdt.G/2012/PTA.Jb tanggal 23 April 2012. Adapun alasan pencabutan banding adalah antara Pembanding dan Terbanding telah rukun kembali. Atas alasan tersebut Pengadilan Tinggi Agama Jambi memberikan pertimbangan sebagai berikut :

(5)

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan banding ini telah dicabut oleh Pembanding dengan alasan telah terjadi perdamaian antara Pembanding dan Terbanding dan keduanya telah hidup rukun kembali dalam rumah tangga seperti dimaksud suratnya tanggal 9 Agustus 2012, maka Pengadilan Tinggi Agama Jambi harus mengadili dengan pertimbangannya sendiri;

Menimbang, bahwa putusan Pengadilan Agama Jambi Nomor .../Pdt.G/2012/PTA.Jb tanggal 23 April 2012 yang amarnya memberi izin kepada Pemohon untuk menjatuhkan talak kepada Termohon tidak mempunyai urgensi lagi, oleh sebab itu putusan tersebut harus dibatalkan; Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka permohonan banding Pembanding harus dinyatakan tidak diterima; Menimbang, bahwa dengan pertimbangan-pertimbangan diatas, Pengadilan Tinggi Agama Jambi menjatuhkan putusan yang amarnya sebagai berikut :

MENGADILI

- Menyatakan permohonan banding Pembanding dapat diterima;

- Membatalkan putusan Pengadilan Agama Jambi Nomor .../Pdt.G/2012/PTA.Jb tanggal 23 April 2012;

Dengan mengadili sendiri :

- Menyatakan permohonan Pemohon tidak dapat diterima;

- Membebankan Penggugat untuk membayar biaya perkara pada tingkat pertama sejumlah Rp.191.000; (seratus sembilan puluh satu ribu rupiah); - Membebankan Penggugat/Pembanding untuk membayar biaya perkara

pada tingkat banding sejumlah Rp.150.000; (seratus lima puluh ribu rupiah);

Merujuk pada sinopsis yang telah dipaparkan diatas adalah bermuara dari permohonan pencabutan perkara banding oleh Pembanding, karena Pembanding dan Terbanding telah rukun kembali. Akan tetapi apabila dicermati putusan Pengadilan Tinggi Agama, meskipun Pembanding hanya mengajukan permohonan pencabutan perkara banding, namun dalam putusan Pengadilan Tinggi Agama membatalkan putusan Pengadilan Agama. Menurut logika yang runtut, permohonan pencabutan perkara banding hanyalah dijawab oleh Pengadilan Tinggi Agama dengan putusan mengabulkan atau menolak permohonan pencabutan perkara banding.

Jika Pembanding hanya mengajukan permohonan pencabutan perkara banding, sedang di lain pihak Pengadilan Tinggi Agama mencantumkan amar putusan membatalkan, berarti Pengadilan Tinggi Agama mengabulkan melebihi yang dituntut, yang lebih dikenal dengan ultra petita. Artinya adalah pejatuhan putusan oleh Hakim atas perkara yang tidak dituntut atau memutus melebihi yang diminta.

Padahal, Mahkamah Agung telah memberikan penegasan melalui putusan Nomor 389 K/Sip/1969 yang berisi, bahwa Hakim tidak boleh mengabulkan lebih

(6)

yang dituntut atau memutus hal-hal yang tidak diminta. Langkah putusan yang mengabulkan permohonan pencabutan yang diikuti amar membatalkan putusan Pengadilan Agama yang dilakukan oleh Pengadilan Tinggi Agama, selanjtnya menjadi tidak tepat.

Dalam hukum perdata berlaku asas Hakim bersifat pasif atau Hakim tidak boleh berbuat apa-apa, dalam arti ruang lingkup atau luas pokok sengketa yang diajukan untuk diperiksa pada asasnya ditentukan oleh pihak-pihak yang berperkara, Hakim hanya mempertimbangkan hal-hal yang diajukan para pihak dan tuntutan hukum yang didasarkan kepadanya.

Dalam praktek, ada 3 (tiga) klasifikasi putusan Pengadilan Tinggi Agama:

1. Menguatkan, apabila putusan yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama telah dianggap adil dan benar menurut hukum yang berlaku. 2. Memperbaiki, jika putusan yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama

kurang tepat menurut rasa keadilan.

3. Membatalkan, apabila putusan Pengadilan Agama tidak adil dan tidak selaras dengan hukum yang berlaku. (mengacu pada ketentuan Pasal 16 Undang Undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951).

Dengan memperhatikan teori Drs. Mukti Arto, SH dan Prof. Dr. Abdul Manan, SH, MH, yang terkesan berputar-putar, maka Dra. Hj. Laila Nurhayati, MH berpendapat bahwa dalam hal perkara perceraian yang telah diajukan upaya banding dan suami istri telah rukun kembali dalam rumah tangga, nampak lebih tepat jika Pembanding mengajukan permohonan pembatalan putusan Pengadilan Agama ke Pengadilan Tinggi Agama dalam bentuk akta yang dibuat oleh Pengadilan Agama yang memutus perkara disertai lampiran surat pernyataan yang ditanda tangani oleh Pembanding dan Terbanding bahwa antara keduanya telah rukun kembali, dengan demikian amar putusan Pengadilan Tinggi Agama akan berbunyi “membatalkan putusan Pengadilan Agama”.

Dengan dijatuhkan putusan Pengadilan Tinggi Agama yang membatalkan atau menganulir putusan Pengadilan Agama, maka secara otomatis putusan Pengadilan Agama tidak mempunyai daya ikat dan daya laku lagi terhadap suami istri yang bersangkutan dan sekaligus terhindar dari bertentangan dengan asas ultra petita.

Untuk memahami versi ketiga (permohonan pembatalan putusan Pengadilan Agama) menurut penulis masih diperlukan kajian lebih mendalam lagi. Dengan diajukannya permohonan banding, kemudian setelah itu Pembanding merasa sudah berdamai, rukun kembali dengan Terbanding, berkeinginan untuk mengajukan permohonan pembatalan putusan Pengadilan Agama kepada Pengadilan Tinggi Agama memberi kesan bahwa Pembanding telah mengajukan permohonan banding yang kedua kalinya setelah ia mengajukan permohonan banding. Disamping itu, permohonan pembatalan putusan Pengadilan Agama setelah diajukan permohonan banding tidak ada rujukannya baik peraturan perundang-undangan, yurisprudensi

(7)

maupun praktek peradilan, sebaliknya lembaga permohonan pencabutan perkara banding masih dapat dikaitkan dengan ketentuan Pasal 171-172 Rv.

Barang kali langkah yang tidak bersinggungan dengan asas ultra petita dan asas Hakim bersifat pasif, dalam hal pencabutan perkara banding yang Pembanding dan Terbanding dalam perkara perceraian telah berdamai, rukun kembali dalam rumah tangga, dapat ditempuh langkah pengajuan permohonan pencabutan perkara banding sekaligus permohonan pembatalan putusan Pengadilan Agama. Langkah keempat ini menuntun berfikir runtut dalam hal-hal sebagai berikut :

1. Pembanding dalam memenuhi keinginannya agar perkaranya yang sudah terlanjur bending tidak berakibat timbulnya prosedur hukum yang panjang (seperti nikah baru), maka ia menempuh proses hukum melalui lembaga pencabutan perkara, dalam hal ini adalah pencabutan perkara banding. 2. Tuntutan Pembanding adalah jelas, yaitu permohonan mencabut

permohonan banding dan permohonan pembatalan putusan Pengadilan Agama.

3. Jawaban Hakim Tinggi dalam amar putusan yang tidak bersinggungan dengan asas ultra petita dan asas Hakim bersifat pasif, dapat berupa :

3.1. Mengabulkan permohonan Pembanding untuk mencabut perkara bandingnya.

3.2. Membatalkan putusan Pengadilan Agama ... Nomor .../Pdt.G/20..../PA... tanggal ...;

4. Langkah keempat ini tidak bertentangan dengan :

4.1. Rujukan pencabutan perkara yang dalam kekosongan hukum mempedomani Pasal 171-172 Rv.

4.2. Asas ultra petita dan asas Hakim bersifat Pasif. Dengan langkah yang keempat ini, Hakim Tinggi yang mengabulkan permohonan pencabutan perkara banding dan sekaligus membatalkan putusan Pengadilan Agama tidak bersinggungan dengan asas ultra petita.

Adapun hal-hal yang harus dipenuhi dalam menempuh langkah keempat ini adalah sebagai berikut :

a. Mengajukan permohonan pencabutan perkara banding dan sekaligus membatalkan putusan Pengadilan Agama kepada Ketua Pengadilan Agama melalui Panitera.

b. Permohonan tersebut dibuat dalam bentuk akta yang dibuat oleh Panitera. c. Akta yang dibuat Panitera tersebut dilampiri surat pernyataan bermeterai

cukup yang ditanda tangani oleh Pembanding dan Terbanding bahwa antara keduanya telah rukun kembali.

Konstruksi pertimbangan putusan Pengadilan Tinggi Agama adalah sebagai berikut :

Menimbang, bahwa Pembanding dengan persetujuan Terbanding sebagai suami istri menyatakan mencabut perkara bandingnya dengan alasan antara keduanya telah rukun kembali sebagaimana akta permohonan pencabutan

(8)

perkara banding dan permohonan pembatalan putusan Pengadilan Agama..., Nomor .../Pdt.G/20..../PA....tanggal ...;

Menimbang, bahwa Pengadilan Tinggi Agama Pontianak berpendapat bahwa permohonan pencabutan Pembanding dapat dibenarkan karena ternyata perkara permohonan banding tersebut belum diputus, sehingga dapat diterima dengan berpedoman pada Pasal 171 dan Pasal 172 Rv;

Menimbang, bahwa ternyata kedua belah pihak sebagai suami istri menghendaki tidak terjadi perceraian sebagaimana maksud putusan Pengadilan Agama..., Nomor .../Pdt.G/20..../PA....tanggal ..., karena mereka yang semula telah terjadi perselisihan dan pertengkaran, dan sudah tidak ada harapan akan hidup rukun kembali berdasarkan pernyataan Pembanding dan Terbanding;

Menimbang, bahwa oleh karena sekarang ini Pembanding dan Terbanding sebagai suami istri telah hidup rukun kembali, maka putusan Pengadilan Agama ... Nomor .../Pdt.G/20.../PA... tanggal ... tidak mempunyai urgensi lagi dan oleh karena itu tidak dapat dipertahankan dan Pengadilan Tinggi Agama Pontianak akan mengadili sendiri dengan membatalkan putusan Pengadilan Agama Nomor .../Pdt.G/2000/PA... tanggal ... karena alasan perceraian yang didalilkan dalam surat gugatannya sudah tidak terbukti ada;

Menimbang, bahwa dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, kemudian Pengadilan Tinggi Agama Pontianak menjatuhkan putusan sebagai berikut :

MENGADILI

I. Menyatakan permohonan banding Pembanding secara formal dapat diterima;

II. Membatalkan putusan Pengadilan Agama ... Nomor .../Pdt.G/20.../PA... tanggal ...;

Dengan mengadili sendiri :

1. Mengabulkan permohonan Pembanding untuk mencabut perkara bandingnya Nomor .../Pdt.G/2000/PTA.Ptk tanggal ...;

2. Menyatakan bahwa Pembanding dan Terbanding masih tetap terikat sebagai suami isteri sah menurut Akta Nikah Nomor ..., tanggal ...;

III. Membebankan kepada Penggugat untuk membayar biaya perkara tingkat pertama sejumlah Rp... (...) dan membebankan kepada Pembanding untuk membayar biaya perkara pada tingkat banding sejumlah Rp... (...);

(9)

4.Penutup.

Demikian makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dari Pengurus Cabang IKAHI PTA Pontianak, Nomor : 02/PC-IKAHI/PTA.PTK/I/2018 tanggal 03 Januari 2018, dengan harapan mendapatkan masukan untuk penyempurnaan lebih lanjut. Selanjutnya terima kasih atas penyempurnaannya dan mohon maaf atas segala kekurangannya.

Pontianak, 10 Januari 2018 Penyusun,

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata Di Lingkungan Peradilan Agama, Yayasan Al Hikmah, Jakarta, Cetakan ke II, 2001.

Chatib Rasyid dan Saifuddin, Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktek Pada Peradilan Agama.

Hensyah Syahlani, Model Teknis Penyusunan Putusan Banding Pengadilan Tiggi Agama, Tanpa Penerbit, Jakarta, 2004.

Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1996.

Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Administrasi Peradilan Agama Buku II, Direktorat Jenderal Peradilan Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia, Edisi Revisi, 2014.

Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Pertdata, Binacipta, Bandung, 1989.

---, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Cetakan Ke V, Jakarta, 2007.

Kitab Undang Undang Hukum Perdata, Soedaryo Soimin, Sinar Grafika, Cetakan ke XV, 2015

Himpunan Peraturan Perundang Undangan Di Lingkungan Peradilan Agama, Direktorat Jenderal Peradilan Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia, 2014.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Bulan Bintang, 2002.

htp : //palamongan.net, Laila Nurhayati, Pencabutan versus Pembatalan, diakses tanggal 10-01-2018.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :