PADA SUSU SAPI SEGAR SECARA KCKT
DI BPMSPH BOGOR
DINA CROWNIA
PROGRAM KEAHLIAN SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
i
PERNYATAAN MENGENAI LAPORAN TUGAS AKHIR DAN
SUMBER INFORMASI
Saya menyatakan laporan Tugas Akhir dengan judul Penentuan Kadar Residu Antibiotik Tilosin pada Susu Sapi Segar secara KCKT di BPMSPH Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dosen pembimbing serta pembimbing lapang dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir laporan ini.
Bogor, Juli 2014
iii
RINGKASAN
DINA CROWNIA. Penentuan Kadar Residu Antibiotik Tilosin pada Susu Sapi Segar secara KCKT di BPMSPH Bogor. Dibimbing oleh PURANA INDRAWAN.
Susu merupakan bahan makanan utama dengan nilai gizi yang tinggi, karena mengandung unsur-unsur kimia yang dibutuhkan oleh tubuh. Kualitas susu akan berkurang jika susu mengandung bahan lain yang dapat menganggu kesehatan, contohnya residu antibiotik tilosin. Tilosin merupakan salah satu antibiotik golongan makrolida yang sering ditambahkan pada hewan ternak sebagai pengobatan dan bahan tambahan pakan untuk pemacu pertumbuhan atau growth promotor.
Pemakaian obat-obatan antibiotik pada hewan ternak yang terus menerus akan menyebabkan residu antibiotik dalam produk hewan. Residu antibiotik dapat menyebabkan reaksi alergi, resistensi, keracunan, kegagalan dan penolakan produk. Penentuan kadar residu antibiotik tilosin pada susu segar dilakukan dengan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi.
Berdasarkan hasil analisis, terdapat 10 sampel positif mengandung residu antibiotik tilosin dan hanya terdapat 1 sampel yang negatif mengandung residu antibiotik tilosin. Apabila dibandingkan dengan Maximum Residue Limit (MRL) yang ditentukan oleh Codex Alimentarius Commision yaitu 100 g/kg, terdapat 7
dari 10 sampel positif residu antibiotik tilosin yang melebihi MRL yang telah ditetapkan. Hal ini menyebabkan sampel susu segar tersebut tidak layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat atau diolah kembali menjadi produk olahan susu.
Residu antibiotik yang terdapat pada susu dapat disebabkanpeternak belum paham mengenai waktu henti obat (withdrawal time) antibiotik tilosin, penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan spesies ternak dan dosis antibiotik yang digunakan pada hewan ternak melebihi dosis yang telah ditetapkan sehingga menyebabkan timbulnya residu pada susu. Residu antibiotik tilosin pada susu sapi segar dapat dicegah dengan cara menerapkan Good Farming Practices (GFP), pengawasan dari pemerintah dan penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) pada industri pengolahan susu.
Kurva standar tilosin dengan konsentrasi 5 ppm, 2.5 ppm, 1.25 ppm, 0.625 ppm dan 0.3125 ppm menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0.9998999. Penentuan persen recovery pada sampel recovery menghasilkan nilai sebesar 88.41% yang menandakan bahwa metode penentuan kadar residu tilosin memiliki linearitas dan persen recovery yang baik.
v
PENENTUAN KADAR RESIDU ANTIBIOTIK TILOSIN
PADA SUSU SAPI SEGAR SECARA KCKT
DI BPMSPH BOGOR
DINA CROWNIA
Laporan Tugas Akhir
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya pada
Program Keahlian Supervisor Jaminan Mutu Pangan
PROGRAM KEAHLIAN SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
vii
Judul Tugas Akhir : Penentuan Kadar Residu Antibiotik Tilosin pada Susu Sapi Segar secara KCKT di BPMSPH Bogor
Nama : Dina Crownia
NIM : J3E111087
Disetujui oleh
Ir Purana Indrawan, MP Pembimbing I
Dr. drh. Puji Rahayu Pembimbing II
Diketahui oleh
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir (TA) dengan judul “Penentuan Kadar Residu Antibiotik Tilosin pada Susu Sapi Segar secara KCKT di BPMSPH Bogor”. Laporan Tugas Akhir ini disusun berdasarkan hasil Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang dilaksanakan pada 3 Maret 2014 sampai 31 Mei 2014 di Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH). Pembuatan laporan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mendapatkan gelar Ahli Madya pada Program Keahlian Supervisor Jaminan Mutu Pangan.
Selama penyusunan laporan ini, penulis telah mendapat berbagai ilmu pengetahuan terkait pengujian mutu produk hewan dan berbagai bantuan baik berupa informasi, saran maupun dukungan moral dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua dan keluarga yang telah memberikan doa dan dukungan penuh kepada penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada bapak Ir. Purana Indrawan, MP sebagai dosen pembimbing dan ibu Dr. drh. Puji Rahayu sebagai pembimbing lapangan yang telah mengarahkan dan memberikan banyak saran dan bimbingan dalam penulisan laporan Tugas Akhir. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada seluruh staff Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) atas bimbingan, arahan dan kerjasamanya selama kegiatan Praktik Kerja Lapangan. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada Devi Ratnaningrum dan Dwi Herlambang selaku teman satu tempat PKL, kepada Tressa, Elza, Rika, Destry, Yudith, Raden Harya, Zulvana, Yolanda, Intan, Ica, Novi dan rekan-rekan Supervisor Jaminan Mutu Pangan 48 yang selalu memberikan motivasi dan dukungan selama kegiatan PKL sampai penyusunan Laporan Tugas Akhir.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, baik dalam penyusunan maupun penulisan. Oleh karena itu penulis menerima kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Bogor, Juni 2014
DAFTAR ISI
1 PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Tujuan...2
2 METODE KAJIAN...2
2.1 Lokasi dan Waktu Praktik Kerja Lapangan...2
2.2 Teknik Pengumpulan Data...2
2.2.1 Pengumpulan Data Primer...2
2.2.2 Pengumpulan Data Sekunder...3
2.3 Metode Analisa...3
4 PENENTUAN KADAR RESIDU ANTIBIOTIK TILOSIN PADA SUSU SAPI SEGAR SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT)...8
4.1 Antibiotik Tilosin...8
4.2 Susu Sapi Segar...9
4.3 Preparasi dan ekstraksi sampel...10
4.4 Analisis dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)...11
4.4.1 Komponen Alat KCKT...11
4.4.2 Prinsip Kerja KCKT...13
4.4.3 Kurva Standar Tilosin...13
4.4.4 Persen Recovery...14
4.4.5 Hasil Penentuan Kadar Residu Tilosin...15
4.5 Residu Antibiotik Tilosin pada Susu Sapi Segar...17
4.6 Dampak Residu Antibiotik Tilosin pada Susu Sapi...18
4.7 Upaya Pencegahan Residu Antibiotik Tilosin pada Susu Sapi...19
5 SIMPULAN DAN SARAN...20
5.1 Simpulan...20
5.2 Saran...21
xi
DAFTAR GAMBAR
1 Logo BPMSPH 5
2 Struktur Tilosin 8
3 Rotary evaporator 11
4 Skema Alat KCKT 12
5 Kurva Kalibrasi Tilosin 14
6 Kadar Residu Tilosin pada Susu Sapi Segar 16
7 Kromatogram sampel recovery 14
DAFTAR TABEL
1 Komposisi Rata-Rata dan Kisaran Normal Susu Sapi 9 2 Hasil pengukuran kadar residu tilosin pada susu sapi segar 16 3 Persen recovery yang dapat diterima sesuai dengan konsentrasi analit 15
DAFTAR LAMPIRAN
1 Struktur Organisasi Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk 25 2 Pembuatan Larutan Standar Tilosin dan Fase Gerak 26 3 Hasil Pengukuran Standar Tilosin 5 ppm, 2.5 ppm, 1.25 ppm, 3.125 ppm
dan 0,625 ppm 28
4 Kromatogram Sampel Susu Sapi Segar 29
5 Contoh Perhitungan Konsentrasi Sampel 29
6 Contoh Perhitungan Kadar Residu Tilosin 29
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Susu merupakan bahan makanan utama dengan nilai gizi yang tinggi, karena mengandung unsur-unsur kimia yang dibutuhkan oleh tubuh. Susu mengandung komponen yang sangat penting seperti lemak, protein susu, laktosa, mineral, dan vitamin. Susu mengandung vitamin yang larut air (vitamin B dan C) dan vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E dan K). Susu harus tetap dijaga kualitasnya dan perlu perhatian yang intensif untuk keamanan produk susu agar dapat memenuhi ketersediaan susu dan kelayakan untuk dikonsumsi.
Kualitas susu akan berkurang jika susu mengandung bahan lain yang dapat mengganggu kesehatan. Hal ini membutuhkan perhatian khusus karena susu merupakan sumber utama yang rentan terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh gangguan tersebut. Gangguan kesehatan pada susu dapat disebabkan oleh cemaran mikrobiologi dan residu antibiotik.
Menurut Subronto dan Tjahajati (2008), antibiotik adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang memiliki khasiat untuk menghentikan pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lainnya. Antibiotik dipakai secara luas dalam industri peternakan dengan tujuan untuk pengobatan, sehingga dapat mengembalikan kondisi ternak menjadi normal kembali (sehat). Antibiotik juga dapat digunakan sebagai bahan tambahan pakan (feed additives) untuk memacu pertumbuhan pada hewan ternak (growth promotor). Berdasarkan struktur kimianya, antibiotik dapat digolongkan menjadi beberapa golongan, yaitu golongan β laktam, golongan aminoglikosida, golongan tetrasiklin, golongan kloramfenikol dan golongan makrolida.
Salah satu antibiotik golongan makrolida yang sering digunakan adalah tilosin. Tilosin merupakan salah satu antibiotik golongan makrolida yang sering ditambahkan pada hewan ternak sebagai pengobatan dan growth promotor. Pemakaian obat-obatan antibiotik pada hewan ternak yang terus menerus dan tidak memperhatikan waktu henti antibiotik (withdrawal time) dalam industri peternakan akan menyebabkan residu antibiotik dalam produk hewan. Residu antibiotik dapat menyebabkan reaksi alergi, resistensi dan kemungkinan keracunan (Yuningsih 2005). Oleh karena itu perlu dilakukan penentuan kadar residu antibiotik tilosin pada susu segar.
1.2 Tujuan
Tujuan umum dalam melakukan Praktik Kerja Lapangan adalah untuk memberikan gambaran nyata aplikasi ilmu yang diperoleh selama kuliah dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar, bekerja dan berinteraksi secara profesional dalam suasana kerja. Selain itu, Praktik Kerja Lapangan dilakukan untuk memberikan pengalaman bagi mahasiswa mengenai gambaran langsung kegiatan pengujian fisiko kimia pada produk hewan. Tujuan khusus dalam melakukan Paraktik Kerja Lapangan adalah untuk mempelajari, mengetahui serta menentukan kadar residu antibiotik tilosin pada susu sapi segar secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).
2 METODE KAJIAN
2.1 Lokasi dan Waktu Praktik Kerja Lapangan
Kegiatan Praktik Kerja Lapangan ini dilaksanakan di Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) yang beralamat di Jalan Pemuda No. 29A Kelurahan Tanah Sareal, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat 16161. Pelaksanaan waktu Praktik Kerja Lapangan dilakukan mulai tanggal 3 Maret 2014 sampai dengan 31 Mei 2014.
2.2 Teknik Pengumpulan Data
Dalam memperoleh data yang bersifat objektif maka digunakan suatu metode atau teknik yang bertujuan agar didapat data-data yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
2.2.1 Pengumpulan Data Primer
Data primer adalah data yang didapatkan dari sumbernya secara langsung. Metode pengumpulan data primer ini akan dilakukan dengan cara terjun langsung dalam kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) diantaranya:
1. Terjun langsung bekerja dalam kegiatan pengujian mutu pada produk hewan secara fisiko kimia.
3
3. Data yang diperoleh dalam metode ini berdasarkan wawancara langsung dengan pimpinan, pembimbing, teknisi laboratorium, pekerja dan juga pihak terkait untuk mengetahui data yang berkaitan dengan penentuan kadar residu tilosin pada susu sapi segar.
2.2.2 Pengumpulan Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung. Metode pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara memperoleh informasi melalui sumber lain yang berhubungan dengan penentuan kadar residu tilosin secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) seperti studi pustaka pada buku, jurnal dan searching internet.
2.3 Metode Analisa
Metode analisa dapat dilakukan dengan baik dan benar jika alat dan bahan serta metode kerja dijalankan sesuai dengan ketentuan. Alat dan bahan serta metode kerja yang dilakukan dalam pengujian kadar residu tilosin pada susu sapi segar, yaitu:
2.3.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah neraca analitik, vortex, tabung sentrifuse, pipet tetes, pipet mikro 1000 µL, pipet mikro 5000 µL, gelas piala 100 mL, corong gelas, filter 0.45 µm, syringe berfilter 0.45 µm, botol akuades, botol vial, rotary evaporator, labu volumetrik 500 ml, labu evaporator, sudip, sonikator, kolom KCKT fase terbalik dan KCKT Agilent.
Bahan-bahan yang digunakan adalah susu sapi segar, heksana, asetonitril, standar Tylosin Tartrate serta campuran fase gerak ammonium asetat 0.01 M dan asetonitril (8:2).
2.3.2 Metode Percobaan
Penentuan kadar residu tilosin ditentukan dengan pemisahan menggunakan kolom C18, fase gerak campuran ammonium asetat 0.01 M dan asetonitril (8:2), laju alir 1 mL/menit, volume injeksi 20 µL dan panjang gelombang 280 nm. Hasil yang diperoleh dibandingkan dengan standar.
1. Preparasi dan Ekstraksi Sampel Susu Sapi Segar
Pellet larutan hasil sentrifugasi kemudian dicampur dengan 2.5 mL Asetonitril dan disonikasi selama 15 menit. Setelah itu larutan dikocok dengan shaker selama 10 menit dengan kecepatan 400 rpm dan dikocok dengan menggunakan vortex. Larutan sampel kemudian disentrifus dengan kecepatan 3000 rpm dengan suhu 5 0C selama 10 menit. Larutan yang telah disentrifus diambil supernatannya. Supernatan yang telah diambil kemudian dicampur dengan supernatan sebelumnya ± 7.5 mL dan ditambah dengan heksana 5 mL. Campuran supernatan ini kemudian disentrifus dengan kecepatan 3000 rpm dengan suhu 5 0C selama 10 menit. Larutan yang telah disentrifus diambil supernatannya (fase heksana).
Larutan hasil ekstraksi kemudian dimasukkan ke dalam labu evaporator 50 mL kemudian dikeringkan menggunakan evaporator. Residu yang telah kering dilarutkan dengan 1 mL campuran ammonium asetat 0,01 M dan asetonitril (8:2) kemudian disaring ke dalam vial gelas 1 mL menggunakan acrodisc 0.45 µL dan diinjeksikan ke dalam kolom KCKT.
2. Pembuatan Larutan Stok Standar
Pembuatan larutan stok standar dilakukan dengan cara standar Tylosin Tartrate ditimbang sebanyak 0.0050 gram, kemudian dilarutkan dengan asetonitril sehingga diperoleh larutan stok standar tilosin dengan konsentrasi 1000 ppm.
3. Pembuatan Larutan Standar Kerja
Berdasarkan larutan stok standar 1000 ppm, dibuat larutan standar kerja konsentrasi 100 ppm sebanyak 1 mL dengan cara menambahkan 900 L fase
gerak campuran ammonium asetat dan asetonitril (8:2) ke dalam 100 L
larutan stok standar 1000 ppm. 4. Pembuatan larutan kurva standar
5
3 KEADAAN UMUM BALAI PENGUJIAN MUTU DAN
SERTIFIKASI PRODUK HEWAN
3.1 Sejarah
Awal berdirinya Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan dimulai dengan terbitnya SK Menteri No. 466/Kpts/OT.210/1994 tentang dan Tata Kerja Loka Pengujian Produk Peternakan, berkedudukan di Bogor dengan wilayah kerja seluruh Indonesia. Tahun 1995/1996, loka pengujian Mutu Produk Peternakan (LPMPP) untuk sementara berlokasi di Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BPMSOH), Gunung Sindur, Bogor. Pada tanggal 13 Maret 1998, Sekretaris Direktorat Jendral Peternakan memohon kepada pemerintah Daerah TK. II – Kota Bogor agar dapat menyediakan lahan untuk pembangunan laboraturium LPMPP, yang direspon dengan persetujuan pembangunan laboraturium LPMPP di lokasi RPH Jalan Pemuda No. 29 A, Bogor. Di tahun 1998-2000, pembangunan laboraturium LPMPP tahap pertama seluas 480 m2 dengan dana APBN dan OECF.
Pada tanggal 29 Mei 2000, ditandatangani perjanjian kerjasama antara pemerintahan Kota Bogor dengan Direktorat Jendral Bina Produksi Peternakan tentang pengelolaan laboraturium LPMPP. Pada tanggal 20 Agustus 2001, status LPMPP berubah menjadi BPMPP (Balai Pengujian Mutu Produk Peternakan) Berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 459/Kpts/OT.210/8/2001, yang ditanda tangani oleh Menteri Pertanian, Prof.Dr.Ir Bungaran Saragih, M.Ec. Pada bulan Agustus 2002 dilakukan pembangunan sarana gedung tahap kedua seluas 414
m2 dengan dana APBN. Pada tanggal 24 Mei 2013, BPMPP berubah menjadi Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 60/Permentan/OT.140/5/2013, tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan Bogor.
3.2 Visi dan Misi
3.2.1 Visi
Mewujudkan BPMSPH sebagai lembaga pemeriksaan, pengujian dan sertifikasi keamanan dan mutu produk hewan nasional yang handal dan bertaraf internasional. menjamin keabsahan atau validitas hasil pengujian dan mewujudkan produk hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal.
3. Melaksanakan sertifikasi keamanan dan mutu produk hewan.
4. Meningkatkan pemantauan, pengamatan, dan pengawasan dalam rangka mewujudkan penjaminan produk hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal. 5. Meningkatkan pengembangan teknik dan metode pengujian keamanan dan
mutu produk hewan yang didukung dengan peningkatan sarana dan prasarana.
6. Meningkatkan jejaring kerja dengan pelanggan dan stakeholders/lembaga terkait.
3.3 Kegiatan
Kegiatan aktif yaitu mengambil sampel uji yang berada di pasar-pasar seluruh wilayah Indonesia, selanjutnya dilakukan kegiatan sebagai berikut:
1. Memantau dan meninjau kontaminasi mikroba residu
2. Memeriksa sampel susu dari peternakan dan industri pengolahan susu 3. Memeriksa daging sapi lokal dan impor
4. Memeriksa produk makanan asal hewan dan produk turunannya
Kegiatan pasif yaitu menerima sampel uji yang datang dari perusahaan maupun konsumen lain, selanjutnya dilakukan kegiatan seperti:
1. Menguji sampel yang diterima dari pengguna
2. Aktivitas gabungan yang berkaitan dengan institusi atau laboratorium
7
formalin, pengawet, dan malachit green maupun pengujian yang bersifat komersil.
3.4 Tugas dan Fungsi
3.4.1 Tugas
Berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 60/Permentan/OT.140/5/2013, BPMSPH memiliki tugas dalam melakukan pemeriksaan, pengujian dan sertifikasi, keamanan dan mutu produk hewan.
3.4.2 Fungsi
BPMSPH menjalankan beberapa fungsi dalam pelaksanaan tugasnya, yaitu:
1. Penyiapan sampel produk peternakan 2. Pengujian keamanan produk peternakan
3. Perumusan hasil-hasil pengujian mutu produk peternakan
4. Pengembangan teknik dan metode pemeriksaan dan pengujian mutu produk peternakan. Pelayanan teknik pemeriksaa dan pengujian mutu produk peternakan
5. Monitoring dan surveilans mutu produk peternakan
3.5 Lokasi
Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan bertempat di Jl. Pemuda No 29A Tanah Sereal Bogor. Lokasi balai terletak di pinggir dari jalan raya, berada di sekitar lingkungan kantor pemerintahan. Bangunan balai ini terdiri atas kantor ruang tamu, mushola, ruang seminar, perpustakaan, ruang penerimaan sampel, ruang penyimpanan sampel, ruang supply guna mencuci dan sterilisasi peralatan laboratorium, dan laboratorium yang terdiri atas laboratorium cemaran mikroba, laboratorium residu bioassay dan laboratorium fisiko kimia.
3.6 Susunan Organisasi
Berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 459 /Kpts/OT.210/8/2001 tanggal 20 Agustus 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengujian Mutu Produk Peternakan. mempunyai susunan organisasi yang terdiri dari:
1. Kepala balai
Menurut organisasi dan tenaga kerja Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan, kepala Balai dalam menjalankan tugasnya melakukan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi kegiatan di lingkungan masing-masing maupun antar unit kerja di lingkungan Departemen Pertanian serta dengan instansi lain di luar Departemen Pertanian sesuai dengan tugas masing-masing.
Sub bagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, keuangan, surat-menyurat, kearsipan, perlengkapan dan rumah tangga Balai. Seksi penyiapan sampel mempunyai tugas melakukan penerimaan sampel, pencatatan, pengemasan, pelabelan, pendistribusian, dokumentasi hasil uji dan pengamatan sampel produk peternakan. Seksi pelayanan teknik mempunyai tugas melakukan pelayanan teknik kegiatan pemeriksaan dan pengujian mutu produk peternakan.
Kelompok jabatan fungsional mempunyai tugas melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan fungsional masing-masing berdarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kelompok jabatan fungsional yang ada di BPMSPH terdiri dari Tenaga Kesehatan Dokter Hewan (TKDH), Medik Veteriner, Paramedik Veteriner, Pengawas Mutu Hasil Pertanian tingkat Terampil dan Pengawas Mutu Hasil Pertanian tingkat Ahli. Bagan struktur organisasi Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan dapat dilihat pada Lampiran 1.
4
PENENTUAN KADAR RESIDU ANTIBIOTIK TILOSIN
PADA SUSU SAPI SEGAR SECARA KROMATOGRAFI
CAIR KINERJA TINGGI (KCKT)
4.1 Antibiotik Tilosin
9
Gambar 2 Struktur Tilosin Sumber: Martos et al. 2008
Tilosin merupakan antibiotik golongan makrolida yang dihasilkan oleh Streptomyces fradiae. Makrolida merupakan antibiotik yang biasa digunakan sebagai pemacu pertumbuhan (growth promotor) dan pengobatan penyakit pada hewan ternak. Makrolida merupakan antibiotik yang efektif untuk membunuh bakteri gram positif, beberapa bakteri gram negatif dan mikroplasma. Makrolida bekerja dengan mengganggu proses sintesis protein pada bakteri yang dapat menganggu pertumbuhan bakteri.
Residu antibiotik golongan tetrasiklin dan penisilin yang terdapat pada produk asal hewan telah banyak dilaporkan, namun residu antibiotik golongan makrolida belum banyak dilaporkan, kecuali dari luar negeri (Yuningsih et al. 2005). Padahal antibiotik golongan makrolida termasuk tilosin cukup sering digunakan oleh peternak. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui adanya residu antibiotik tilosin pada produk asal hewan, salah satunya adalah susu segar.
4.2 Susu Sapi Segar
Susu merupakan bahan makanan dengan komposisi yang ideal karena susu mengandung hampir semua zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuh dan dapat diserap oleh darah dengan sempurna. Komposisi susu dapat sangat beragam tergantung pada beberapa faktor, namun angka rata-rata dan kisaran normal untuk semua jenis kondisi dan jenis sapi perah adalah sebagai berikut
Tabel 1 Komposisi Rata-Rata dan Kisaran Normal Susu Sapi
Susu merupakan hasil utama pada usaha budidaya ternak perah. Susu yang dihasilkan harus memenuhi syarat ASUH yaitu aman, sehat, utuh, dan halal. Susu yang baik adalah susu yang mengandung sedikit bakteri, tidak mengandung spora mikroba patogen, bersih dari debu atau kotoran lainnya, mempunyai cita rasa (flavour) yang baik, tidak dipalsukan, dan tidak mengandung residu antibiotik. Oleh karena itu, penentuan kadar residu tilosin dilakukan untuk memastikan kualitas susu agar memenuhi syarat ASUH.
Sampel susu segar yang digunakan untuk penentuan kadar residu tilosin berasal dari beberapa TPS (Tempat Pengumpul Susu) di Kabupaten Bogor. Penentuan kadar residu antibiotik tilosin pada sampel susu segar terdiri dari beberapa tahap yaitu proses preparasi dan ekstraksi sampel, pembuatan larutan standar tilosin, dan analisis sampel ke dalam KCKT.
4.3 Preparasi dan ekstraksi sampel
Tujuan proses ekstraksi adalah untuk memisahkan suatu komponen dari campurannya dengan menggunakan pelarut. Pada pengujian ini dilakukan proses ekstraksi pada sampel susu untuk memisahkan komponen tilosin yang akan dianalisis. Selain itu ekstraksi juga dilakukan untuk menghilangkan bahan-bahan yang dapat mengganggu analisis.
Pada tahap ekstraksi sampel, sampel susu segar ditimbang kemudian ditambahkan dengan pelarut organik asetonitril. Asetonitril bersifat polar dan dapat melarutkan senyawa organik pada susu. Sampel kemudian disonikasi selama 15 menit untuk memecah interaksi antara komponen sampel sehingga mampu meningkatkan kelarutan dan dikocok dengan menggunakan shaker selama 10 menit untuk memaksimalkan proses ekstraksi sampel. Larutan sampel kemudian disentrifus selama 10 menit pada suhu 5 0C. Proses sentrifus dilakukan untuk memisahkan antara ekstrak tilosin dengan matriks padatan lain yang dapat mengganggu selama analisis dengan KCKT. Metode ini digunakan untuk mempercepat proses pengendapan dengan memberikan gaya sentrifugasi pada partikel-partikelnya. Substansi hasil sentrifugasi terbagi menjadi dua yaitu supernatan dan pellet. Supernatan adalah substansi hasil sentrifugasi yang berbobot ringan dan berwarna lebih jernih, sedangkan pellet adalah substansi hasil sentrifugasi yang berbobot jenis lebih tinggi dan berada dibawah serta berwarna lebih keruh. Pada tahap ini protein dan sebagian besar lemak pada susu diendapkan ke bawah sehingga meninggalkan filtrat yang jenih (Dudrikova et al. 1999).
11
Larutan hasil ekstraksi kemudian dimasukkan ke dalam labu evaporator dan dikeringkan dengan menggunakan rotary evaporator. Rotary evaporator bekerja seperti alat destilasi. Prinsip dari alat tersebut yaitu penurunan tekanan sehingga pelarut dapat menguap pada suhu di bawah titik didihnya. Evaporasi menyebabkan suatu pelarut akan menguap dan senyawa yang larut dalam pelarut tersebut tidak ikut menguap namun mengendap. Senyawa yang terkandung dalam pelarut tidak rusak oleh suhu tinggi karena pemanasan yang dilakukan di bawah titik didih pelarut.
Gambar 3 Rotary evaporator
Setelah evaporasi, ekstrak yang telah kering dilarutkan dengan 1 ml campuran fase gerak ammonium asetat 0,01 M dan asetonitril (8:2). Sebelum digunakan, gelembung udara pada fase gerak harus dihilangkan dengan cara sonikasi. Hal ini disebabkan gelembung gas kecil dalam fase gerak dapat terkumpul di kolom sehingga akan mengganggu analisis. Ekstrak disaring ke dalam vial gelas 1 ml menggunakan acrodisc 0,45 µl untuk menghilangkan endapan dari ekstrak dan diinjeksikan ke dalam kolom Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).
4.4 Analisis dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau biasa disebut juga dengan HighPerformance Liquid Chromatography (HPLC) merupakan suatu metode pemisahan suatu campuran menjadi komponen-komponennya diantara fase gerak dan fase diam (Hendayana S 2006). Berdasarkan fase diamnya, KCKT terbagi menjadi dua jenis, yaitu fase normal dan fase terbalik. Fase normal menggunakan fase diam polar dan fase gerak non polar sedangkan fase terbalik menggunakan fase diam non polar dan fase gerak polar (Harvey 2000).
makanan. KCKT memiliki beberapa keuntungan antara lain analisis yang cepat, memiliki kepekaan yang tinggi dan daya pisah yang baik (Johnson dan Stevenson 1991). Pada analisis residu tilosin, jenis KCKT yang digunakan adalah KCKT Agilent 1100 series.
4.4.1 Komponen Alat KCKT
Instrumen KCKT terdiri atas 6 bagian, yaitu wadah fase gerak (reservoir), pompa (pump), tempat injeksi sampel (injector), kolom (coloumn), detektor (detector) dan perekam (recorder). Masing-masing bagian instrumen KCKT memiliki sifat dan fungsi yang sangat berpengaruh terhadap analisis suatu senyawa. Skema alat KCKT dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4 Skema Alat KCKT Sumber: McMaster, 2007
1. Wadah fase gerak
Wadah fase gerak berfungsi untuk menampung fase gerak yang digunakan untuk membawa komponen campuran menuju ke detektor. Wadah fase gerak yang digunakan harus bersifat bersih dan inert terhadap fase gerak. Pelarut atau fase gerak yang digunakan pada analisis residu tilosin adalah Ammonium asetat dan Asetonitril yang bersifat polar. Hal ini disebabkan senyawa antibiotik tilosin akan lebih terikat pada senyawa yang polar.
2. Pompa
Pompa berfungsi untuk mengalirkan fase gerak cair menuju kolom. Pompa yang digunakan bertekanan tinggi agar zat cair dapat melewati kolom secara tepat dan harus bersifat inert terhadap fase gerak. Pada analisis residu tilosin, pompa yang digunakan bertekanan maksimal 400 bar.
3. Tempat Injeksi Sampel
Sampel-sampel cair disuntikkan secara langsung ke dalam fase gerak yang mengalir di bawah tekanan menuju kolom menggunakan alat penyuntik (injektor). Injektor yang digunakan pada analisis kadar residu tilosin adalah tempat injeksi secara otomatis (automatic injector).
13
Kolom HPLC terdiri dari kolom utama dan kolom pelindung (guard coloumn). Kolom utama berisi fase diam untuk melakukan pemisahan campuran menjadi komponen-komponen. Pada pengujian ini digunakan fase terbalik yaitu fase diam non polar (C 18). Selain kolom utama, terdapat juga kolom pelindung (guard coloumn) yang merupakan kolom pendek (2-10 cm) yang dipasang antara injektor dan kolom analitik (Johnson dan Stevenson 1991). Kolom pelindung (guard coloumn) memiliki fungsi untuk menyaring kotoran yang terbawa oleh fase gerak sebelum masuk ke dalam kolom.
5. Detektor
Detektor berfungsi untuk mendeteksi komponen-komponen yang telah dipisahkan oleh kolom. Detektor harus memiliki sensitivitas yang tinggi yakni mampu mendeteksi solut dalam jumlah yang kecil, mempunyai respon yang cepat terhadap solut yang dianalisis, dan tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak. Detektor UV-Vis merupakan detektor yang paling luas digunakan karena sensitivitasnya yang tinggi serta mudah operasinya. Detektor UV–Vis terutama digunakan untuk pendeteksian senyawa-senyawa organik. Menurut (Martos et al 2008), antibiotik tilosin memiliki karakteristik serapan UV-Vis pada panjang gelombang 280 nm. 6. Perekam
Perekam berfungsi untuk menunjukkan hasil pemisahan komponen yang telah dideteksi oleh detektor. Perekam (recorder) akan menangkap sinyal elektronik dari detektor dan menghasilkan kromatogram zat-zat yang dipisahkan dari suatu sampel.
4.4.2 Prinsip Kerja KCKT
Prinsip dasar KCKT adalah pemisahan komponen-komponen dalam senyawa berdasarkan interaksi antara fase gerak dan fase diam. Prinsip kerja KCKT yaitu sampel dialirkan oleh fase gerak cair dengan bantuan pompa melalui kolom dan menuju ke detektor. Sampel dimasukkan ke dalam aliran fase gerak dengan cara penyuntikan oleh injektor. Di dalam kolom akan terjadi pemisahan komponen-komponen campuran karena perbedaan kekuatan interaksi antara senyawa terhadap fase diam. Senyawa yang kurang kuat interaksinya dengan fase diam akan keluar dari kolom terlebih dahulu. Sebaliknya, senyawa yang kuat berinteraksi dengan fase diam akan keluar dari kolom lebih lama. Setiap komponen campuran yang keluar dari kolom dideteksi oleh detektor kemudian direkam dalam bentuk kromatogram (Hendayana S 2006). Kromatogram yang dihasilkan berupa pita-pita dengan puncak yang memiliki luas area dan waktu retensi.
4.4.3 Kurva Standar Tilosin
menit. Setelah didapatkan luas puncak dari masing-masing konsentrasi, dibuatlah kurva standar tilosin seperti pada Gambar 5. Kurva standar tilosin digunakan untuk menentukan persamaan regresi tilosin untuk menghitung konsentrasi residu pada sampel. Kurva standar juga digunakan untuk menguji linearitas.
Linearitas menunjukkan kemampuan suatu metode analisis untuk memperoleh hasil pengujian yang sesuai dengan konsentrasi analit dalam contoh pada kisaran konsentrasi tertentu (AOAC 2002). Linearitas suatu metode analisis adalah ukuran yang menunjukkan tingkat kesesuaian atau korelasi antara respons detektor dan konsentrasi analit yang beragam, yang dinyatakan sebagai koefisien korelasi (r). Respons detektor yang digunakan adalah luas area puncak untuk
Menurut AOAC (2002), nilai koefisien korelasi yang baik adalah lebih besar dari 0.9900. Berdasarkan data pada Gambar 5, nilai koefisien korelasi yang diperoleh dari pengukuran adalah r = 0.9998999. Hal ini menandakan bahwa nilai yang diperoleh telah memenuhi syarat yang ditetapkan dan menunjukkan adanya hubungan linier antara konsentrasi analit dengan luas puncak sehingga dapat diketahui juga bahwa detektor yang digunakan memberi respon yang baik.
4.4.4 Persen Recovery
15
waktu retensi (menit)
Gambar 6 Kromatogram sampel recovery
Persen recovery ditentukan berdasarkan hasil analisis dari sampel recovery. Sampel recovery merupakan suatu sampel yang ditambahkan standar tilosin dengan konsentrasi tertentu. Percobaan ini menggunakan penambahan larutan standar tilosin 1 ppm pada sampel recovery. Sampel recovery diberi perlakuan yang sama dengan sampel lain dan diinjek ke dalam KCKT.
Tabel 2 Persen recovery yang dapat diterima sesuai dengan konsentrasi analit
Konsentrasi Analit Persen recovery (%)
Persen recovery yang diperoleh pada pengentuan kadar residu tilosin pada susu sapi segar adalah 88.41 %. Menurut AOAC (2002), nilai persen recovery ditentukan berdasarkan konsentrasi analit pada matrik sampel, untuk konsentrasi analit yang ditambahkan 1 ppm berada dalam kisaran 75-120%. Nilai persen recovery yang mendekati 100% menunjukkan bahwa metode tersebut memiliki ketepatan yang baik dalam menunjukkan tingkat kesesuaian dari rata-rata suatu pengukuran yang sebanding dengan nilai sebenarnya
4.4.5 Hasil Penentuan Kadar Residu Tilosin
Selain larutan standar tilosin, sebanyak 11 sampel susu sapi segar dan 1 sampel+standar untuk recovery diinjek ke dalam KCKT. Penentuan kadar residu tilosin pada sampel susu sapi segar ini digunakan berdasarkan acuan dari Batas Maksimum Residu/Maximum Residu Limit (MRL) yaitu sebesar 100 g/kg untuk susu sapi. Hasil analisis tidak digunakan berdasarkan acuan Batas Maksimum
Residu (BMR) pada SNI 01-6366-2000 tentang Batas Maksimum Residu dalam Bahan Makanan Asal Hewan. Hal ini disebabkan pada SNI 01-6366-2000 hanya terdapat batas maksimum residu tilosin daging dan telur pada produk hewan.
Kadar Residu Tilosin pada Susu Sapi Segar
Tilosin sampel (ug/kg)
Gambar 7 Kadar Residu Tilosin pada Susu Sapi Segar
Berdasarkan hasil pada Gambar 7, terdapat 10 sampel positif mengandung residu antibiotik tilosin dan hanya terdapat 1 sampel yang negatif mengandung residu antibiotik tilosin. Apabila dibandingkan dengan Maximum Residue Limit (MRL) yang ditentukan oleh Codex Alimentarius Commision, terdapat 7 dari 10 sampel positif residu antibiotik tilosin yang melebihi MRL yang telah ditetapkan. Hal ini menyebabkan sampel susu segar tersebut tidak layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat atau diolah kembali menjadi produk olahan susu. Hasil pengukuran kadar residu tilosin pada susu sapi segar yang mencakup waktu retensi (menit), luas area (mAU), konsentrasi (ppm) dan kadar residu ¿/kg) dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Hasil pengukuran kadar residu tilosin pada susu sapi segar
Sampel Waktu Retensi
1 4.858 73.28021 0.6453 320.1369 Positif
2 4.825 59.03197 0.5060 240.0152 Positif
3 4.812 59.86490 0.5141 245.2299 Positif
4 4.806 33.64970 0.2577 121.5509 Positif
5 4.812 28.60169 0.2083 102.8083 Positif
6 4.845 85.86108 0.7684 379.5208 Positif
17
8 4.867 13.87305 0.0643 30.4641 Positif
9 4.869 7.38930 0.0008 0.3795 Positif
10 4.859 8.61280 0.0128 6.0729 Positif
11 4.865 - - - Negatif
4.5 Residu Antibiotik Tilosin pada Susu Sapi Segar
Residu antibiotik tilosin yang ditemukan pada susu sapi dipengaruhi oleh penggunaan tilosin pada hewan ternak. Tilosin sering ditambahkan ke dalam pakan (feed additive) sebagai imbuhan pakan untuk pemacu pertumbuhan (growth promotor). Selain digunakan sebagai growth promotor, tilosin juga sering digunakan sebagai pengobatan yang akan berpengaruh terhadap kuman penyebab penyakit. Kematian kuman oleh antibiotik dapat disebabkan oleh terikatnya antibiotik dengan dinding sel, membran sel atau pada reseptor di dalam kuman. Hal ini terjadi karena antibiotik mampu menghambat sintesis dinding sel kuman atau mengubah struktur (susunan) dinding sel, mengganggu fungsi sel membran, dan mempengaruhi sintesis protein atau metabolisme asam nukleat (Subronto dan Tjahajati 2008). Berdasarkan cara kerjanya, tilosin termasuk ke dalam golongan antibiotik yang bekerja dengan menghambat sintesis protein pada bakteri.
Food and Drug Administation atau FDA (2009) menyatakan bahwa penggunaan tilosin untuk pengobatan digunakan untuk penyakit pernafasan, foot-rot (infeksi pada kulit dan jaringan lunak di sekitar belahan kuku sapi) dan penyakit metritis pada sapi potong dan sapi perah. Metritis merupakan penyakit infeksi pada rahim yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Pada sapi perah, tilosin juga kadang-kadang digunakan secara topikal untuk mengatasi infeksi saluran kelamin dan penyakit mata pink eye (Subronto dan Tjahajati 2008).
Keberadaan antibiotik di dalam susu juga biasanya dihubungkan dengan pengobatan mastitis pada sapi. Hal ini disebabkan tingkat prevalensi penyakit mastitis cukup tinggi di Indonesia. Mastitis merupakan penyakit radang pada kelenjar mammae hewan betina yang disebabkan oleh mikroorganisme. Menurut Jayarao dan Wolfgang (2004), bakteri patogen penyebab mastitis terdiri atas tiga jenis bakteri patogen yaitu Staphylococcus aureus, Streptococcus agalactiae dan Mycoplasma bovis. Tilosin merupakan antibiotik makrolida berspektrum luas yang juga dapat digunakan sebagai pengobatan mastitis pada sapi (Dudrikova et al. 1999).
Pengobatan tilosin dapat dilakukan secara oral dan parental. Setelah melewati proses absorbsi dan transportasi, tilosin akan didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh termasuk otot, hati dan ginjal. Antibiotik yang diberikan pada hewan ternak akan masuk ke dalam sirkulasi darah. Sebagian obat akan mencapai organ tubuh yang menjadi sasaran kerja dari obat di dalam sirkulasi darah tersebut sehingga penyakit dapat diobati.
didisitribusikan ke seluruh tubuh terutama melalui cairan dan jaringan. Adanya tilosin dalam susu dapat disebabkan karena tilosin lebih banyak diekskresikan bersamaan dengan susu pada sapi yang sedang mengalami masa laktasi. Tilosin merupakan antibiotik golongan makrolida yang dieksreksikan terutama melalui empedu namun sekitar 50% dapat ditemukan di dalam susu.
Residu antibiotik yang terdapat pada susu dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, peternak belum paham mengenai waktu henti obat (withdrawal time) antibiotik tilosin, artinya ternak dipotong sebelum waktu henti antibiotik habis di dalam tubuh ternak dan belum dieksresikan secara sempurna. Selain itu, banyak peternak yang dengan sengaja untuk memenuhi kebutuhannya atau karena desakan ekonomi, padahal peternak itu mengetahui tentang ilmu dan cara penggunaan antibiotik (Murdiati dan Bahri 1991).Waktu henti adalah kurun waktu dari saat pemberian obat yang terakhir hingga ternak boleh dipotong atau produknya seperti daging, telur dan susu boleh dikonsumsi. Menurut Subronto dan Tjahajati (2008), waktu henti antibiotik tilosin yang diberikan pada sapi adalah 8 hari sehingga peternak dapat menggunakan susu sapi untuk digunakan atau dijual ke koperasi setelah 8 hari dari pemberian antibiotik tilosin. Kedua, adanya penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan spesies ternak. Beberapa peternak menggunakan antibiotik pada semua spesies ternak, tanpa memperhatikan kesesuaian antara jenis antibiotik dan spesies ternak. Ketiga, dosis antibiotik yang digunakan pada hewan ternak melebihi dosis yang telah ditetapkan sehingga menyebabkan timbulnya residu pada susu.
Kusumaningsih et al. (1996) mengungkapkan hanya 20% peternak sapi perah di Jawa Barat yang mengetahui jenis obat yang digunakan oleh petugas Dinas Peternakan atau koperasi. Setelah itu, dari 20% tersebut hanya 14.28% yang mengetahui waktu henti obat (withdrawal time), dan yang mematuhi waktu henti obat dengan tidak menjual susu ke koperasi setelah pengobatan hanya 8.16%. Kesalahan penggunaan antibiotik yang dilakukan oleh peternak dapat disebabkan oleh pengetahuan peternak yang kurang akan dampak akan kesehatan masyarakat akibat mengkonsumsi produk hewan yang mengandung residu antibiotik dan tidak ada pengawasan atau penyuluhan dalam penggunaan antibiotika di peternakan.
4.6 Dampak Residu Antibiotik Tilosin pada Susu Sapi
Kehadiran residu antibiotik tilosin pada susu dapat menjadi perhatian besar karena berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat dan dapat menyebabkan kerugian pada peternak. Semakin besar penggunaan antibiotik, baik untuk pengobatan maupun sebagai imbuhan pakan, semakin besar pula manfaat yang diperoleh namun semakin besar resiko dalam keamanan pangan. Kehadiran residu antibiotik tilosin pada susu dapat berpengaruh terhadap kesehatan manusia yang mengkonsumsi produk tersebut. Residu antibiotik dalam makanan dan penggunaannya dalam bidang kedokteran hewan berkaitan dengan aspek kesehatan masyarakat veteriner dan aspek ekonomi.
19
aspek imunopatologis. Berdasarkan aspek toksikologis, residu antibiotik bersifat racun terhadap hati, ginjal dan pusat hemopoitika (pembentukan darah). Berdasarkan aspek mikrobiologis, residu antibiotik dapat mengganggu mikroflora dalam saluran pencernaan dan menyebabkan terjadinya resistensi mikroorganisme, yang dapat menimbulkan masalah besar dalam bidang kesehatan manusia dan hewan. Berdasarkan aspek imunopatologis, residu antibiotik dapat menyebabkan alergi.
Susu segar yang mengandung residu antibiotik tidak hanya membahayakan kesehatan manusia, namun juga dapat menghasilkan produk olahan susu yang kurang baik, contohnya adalah keju dan yoghurt. Keberadaan antibiotik dalam susu sebagai bahan dasar pembuatan keju atau yoghurt dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme yang digunakan untuk proses fermentasi pada yoghurt dan keju. Tilosin merupakan antibiotik bakteriostatik yang sangat efektif terhadap bakteri gram positif (Plumb dan Pharm 1999). Bakteri asam laktat yang digunakan dalam pembuatan keju atau yoghurt tergolong bakteri gram positif sehingga dapat dihambat oleh tilosin. Bakteri yang akan dihambat oleh tilosin adalah bakteri Lactobacillus dan Streptococcus.
Berdasarkan dampak ekonomi, adanya residu antibiotik pada susu dapat menyebabkan terjadinya penolakan produk, terutama bila produk tersebut di ekspor ke negara yang konsisten dan serius dalam menerapkan sistem keamanan pangan. Susu yang mengalami cemaran antibiotika akan menunjukan kualitas yang rendah dan tentunya akan memberikan efek negatif yang sangat tinggi. Oleh karena itu, penyingkiran atau penolakan oleh negara pengimport akan terjadi dan berujung pada kerugian ekonomi negara.
4.7 Upaya Pencegahan Residu Antibiotik Tilosin pada Susu Sapi
Mutu susu yang bebas residu antibiotik termasuk residu tilosin perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini disebabkan mutu susu yang bebas residu antibiotik merupakan salah satu persyaratan agar susu diterima oleh industri pengolahan susu dan juga aman bagi konsumen. Jaminan keamanan produk susu yang bebas dari residu antibiotik tidak akan tercapai tanpa kerjasama atau koordinasi yang melibatkan semua pihak terkait.
Upaya pencegahan yang dilakukan oleh peternak terhadap residu antibiotik dapat tercapai apabila penanganan sapi perah dan cara produksi susu segar menerapkan aspek-aspek Good Farming Practices (GFP). Langkah pengamanan dalam penggunaan antibiotik dalam terapi penyakit perlu diperhatikan. Penggunaan antibiotik untuk penyakit harus didasarkan atas diagnosa yang tepat dan penggunaannya lebih selektif, seperti pembatasan dalam pemakaiannya. Langkah pengamanan dalam penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (growth promotor) juga dapat dicegah apabila peternak memperhatikan jenis antibiotik, dosis, dan withdrawal time.
usaha dalam penyediaan, pembuatan, peredaran, dan pemakaian obat hewan, dengan tujuan agar obat hewan yang beredar dalam masyarakat terjaga khasiat, mutu, dan keamanannya, terdaftar serta tepat dalam pemakaiannya.
Tindakan pencegahan dan pengendalian residu antibiotik antara lain kebijakan jenis antibiotik di kedokteran hewan (tidak menggunakan jenis antibiotik yang digunakan manusia untuk hewan), pengawasan pemakaian antibiotik, penerapan good practices sepanjang rantai pangan (from farm to table), penerapan jaminan keamanan pangan di unit usaha pangan asal hewan, serta pelaksanaan pemantauan dan surveilens residu antibiotik pada pangan asal hewan (Yuningsih et al. 2005). Selain itu, pelatihan pada peternak perlu dilakukan agar peternak memahami mengenai waktu henti obat, dosis, cara pemakaian dan jenis antibiotik sehingga tidak terjadi kesalahan pada saat diberikan antibiotik pada hewan ternak. Peran pemerintah lainnya dapat dilakukan dengan cara menyediakan fasilitas laboratorium untuk menguji produk hewan yang diduga mengandung residu antibiotik.
Industri yang mengolah produk susu juga harus menerapkan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), salah satu sistem manajemen keamanan pangan yang menerapkan antisipasi adanya residu antibiotik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengontrol bahan baku yang masuk, sehingga dapat dilakukan pencegahan dengan menolak bahan baku yang mengandung residu antibiotik. Pihak konsumen juga mempunyai tanggung jawab dengan mengetahui bahaya residu antibiotik sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan.
5 SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Penentuan kadar residu antibiotik tilosin pada susu sapi segar dilakukan di Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Hasil penentuan kadar residu tilosin pada susu sapi segar menunjukkan bahwa terdapat 10 sampel positif mengandung residu antibiotik tilosin dan hanya terdapat 1 sampel negatif mengandung residu antibiotik tilosin. Dari 10 sampel positif residu tilosin, terdapat 7 sampel susu yang melebihi MRL yang telah ditetapkan oleh Codex Alimentarius Commision yaitu 100 g/kg sehingga tidak layak
dikonsumsi oleh masyarakat.
21
5.2 Saran
Perlu adanya pengawasan dan pemberian informasi yang jelas mengenai waktu henti obat (withdrawal time), dosis dan jenis antibiotik untuk mengurangi dampak residu tilosin pada produk ternak, terutama untuk susu sapi segar.
DAFTAR PUSTAKA
Anjarsari. 2010. Pangan Hewani: Fisiologi Pasca Moterm dan Teknologi. Yogyakarta: Graha Ilmu
[AOAC] Association of Official Analytical Chemists. 2002. AOAC International methods committee guidelines for validation of qualitative and quantitative food microbiological official methods of analysis.
Buckle, K.A., R. A Edward, G. H. Fleet., M. Wootton. 1997. Ilmu Pangan. H. Purnomo dan Adiono, penerjemah. Jakarta (ID): UI Press. Terjemahan dari Food Science
[CAC]. Codex Allimentarius Commision. 2012. Maximum Residue Limit for Veterinary Drugs in Food. http://codexalimentarius.net [1 Mei 2014]
Dudrikova E, Jozef S, Jozef N. Liquid Chromatography Determination of Tylosin in Mastitic Cow’s Milk Following Therapy. 82(6): 1303-1307. The Slovak Republic: University of Veterinary Medicine.
[FDA]. Food and Drug Administration. 2009. Animal and Veterinary.
http://www.fda.gov/ [1 Mei 2014]
Gustiani, Erni. 2009. Pengendalian Cemaran Mikroba Pada Bahan Pangan Asal Ternak (Daging dan Susu) Mulai Dari Peternakan Sampai Dihidangkan. Jurnal Litbang Pertanian. 28(3): 96-100. Lembang: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat.
Hendayana, S. 2006. Kimia Pemisahan: Metode Kromatografi dan Elektroforesis Modern. Bandung (ID): PT. Remaja Rosdakarya
Johnson, Edward L., Stevenson, Robert. 1991. Dasar Kromatografi Cair. Bandung: Institut Teknologi Bandung
Kusumaningsih A, Murdiati TB, Bahri S. 1996. Pengetahuan peternak serta waktu henti obat dan hubungannya dengan residu antibiotika pada susu. Media Kedokteran Hewan. 12:260-267. Bogor: Balai Penelitian Veteriner
Martos PA, Lehotay SJ, Shurmer. 2008. Ultratrace Analysis of Nine Macrolides, Including Tulathromycin A (Draxxin), in Edible Animal Tissues with Minicolumn Liquid Chromatography Tandem Mass Spectrometry. Journal Agricultural and Food Chemistry. 56: 8844-8850. Ontario: University of Guelph
McMaster, M.C. 2007. HPLC A Practical User’s Guide. New Jersey: John Wiley and Sons Inc.
Murdiati TB, Bahri S. 1991. Pola penggunaan antibiotik dalam peternakan ayam di Jawa Barat, kemungkinan hubungan dengan masalah residu. 445-448. Prosiding Kongres llmiah ke-8. Jakarta: ISFI.
[PERMENTAN]. Peraturan Menteri Pertanian. 2007. Keputusan Menteri Pertanian NO 074/U/2007 tentang Pengawasan Obat Hewan. Jakarta: Permentan
Plumb DC, Pharm D. 1999. Veterinary Drug Handbook. Third Edition. Lows: lowa State Univ Press
Subronto, Tjahajati. 2008. Ilmu Penyakit Ternak III. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
23
KEPALA SUBBAG TATA USAHA KEPALA BALAI PENGUJIAN MUTU SERTIFIKASI
PRODUK HEWAN
KEPALA PENYIAPAN SAMPEL KEPALA SEKSI PELAYANAN TEKNIS
JABATAN FUNGSIONAL
PENGAWASAN MUTU HASIL
PERTANIAN
MEDIK VETERINER PARAMEDIK VETERINER
25
Lampiran 1 Struktur Organisasi Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk
Lampiran 2 Pembuatan Larutan Standar Tilosin dan Fase Gerak
1. Pembuatan Stok Standar Tilosin 1000 ppm
Bobot Standar Tilosin : 5000 g
Purity standar : 100%
Volume pelarut (Asetonitril) 1000 ppm = 1000 g/mL
= 10001mlgx 5000x mlg = 5 ml pelarut
2. Pembuatan Larutan Standar Kerja
Standar Tilosin 100 ppm (VxM)1 = (VxM)2
V1. 1000 ppm = 1 ml. 100 ppm
V1 = 0.1 mL (larutan standar tilosin) dan 0.9 mL pelarut fase gerak
3. Pembuatan Larutan Kurva Standar
1. Standar Tilosin 10 ppm (VxM)1 = (VxM)2
V1. 100 ppm = 1 ml. 10 ppm
V1 = 0.1 mL (larutan standar tilosin) dan 0.9 mL pelarut fase gerak
2. Standar Tilosin 5 ppm (VxM)1 = (VxM)2
V1. 10 ppm = 1 mL l. 5 ppm
V1 = 0.5 mL (larutan standar tilosin) dan 0.5 mL pelarut fase gerak
3. Standar Tilosin 2.5 ppm (VxM)1 = (VxM)2
V1. 5 ppm = 1 mL. 2.5 ppm
V1 = 0.5 mL (larutan standar tilosin) dan 0.5 mL pelarut fase gerak
4. Standar Tilosin 1.25 ppm (VxM)1 = (VxM)2
V1. 2.5 ppm = 1 mL. 1.25 ppm
V1 = 0.5 mL (larutan standar tilosin) dan 0.5 mL pelarut fase gerak
5. Standar Tilosin 0.625 ppm (VxM)1 = (VxM)2
V1. 1.25 ppm = 1 mL. 0.625 ppm
27
6. Standar Tilosin 0.3125 ppm (VxM)1 = (VxM)2
V1. 0.625 ppm = 1 ml. 0.3125 ppm
V1 = 0.5 mL (larutan standar tilosin) dan 0.5 mL pelarut fase gerak
4. Pembuatan Larutan Fase Gerak
Ammonium asetat : Asetonitril (8:2)
Ammonium asetat = 8010 x 1000 mL = 80 mL
Lampiran 3 Hasil Pengukuran Standar Tilosin
1. Contoh Kromatogram Standar Tilosin 5 ppm
waktu retensi (menit)
2. Hasil Pengukuran Kurva Standar Tilosin
Standar Konsentrasi (ppm) Waktu Retensi (menit)
Area
Tilosin
0.3125 4.865 39.65716
0.625 4.865 68.22265
1.25 4.865 138.84882
2.5 4.865 261.65955
5 4.865 518.44928
Standar Tilosin 5 ppm
L
u
as
A
re
a
(m
A
U
29
Lampiran 4 Contoh Kromatogram Sampel Susu Sapi Segar
waktu retensi (menit)
Lampiran 5 Contoh Perhitungan Konsentrasi Sampel
Sampel 1
y = a + bx
Luas Area (mAU) = a + bx
73.28021 = 7.3021 + 102.23x x = 73.28021−7.3021102.23 x = 0.6453 ppm
Lampiran 6 Contoh Perhitungan Kadar Residu Tilosin
Sampel 1
Kadar Residu (g/kg) = KonsentrasiBobot sampel(ppm)x Volume Akhir Sampel(gram)x1000mL(mL)x1L
= 2.05170.6453xx10001x1 = 3.2013 x 10-4 mg/g = 0.3201369 mg/kg = 320.1369 g/kg
Sampel 1
L
u
as
A
re
a
(m
A
U
Lampiran 7 Penentuan Persen Recovery
1. Hasil Pengukuran Sampel Recovery
Sampel Luas Area (mAU) Waktu Retensi
(menit) Konsentrasi(g/kg)
Sampel 11 + spike tilosin 1 ppm
97.68485 4.890 88.41
2. Pembuatan spike tilosin 1 ppm (VxM)1 = (VxM)2
V1 . 100 ppm = 1000 L . 1 ppm
V1 = 10 L (Larutan standar tilosin 100 ppm)
y = a + bx
Luas Area (mAU) = a + bx
97.68485 = 7.3021 + 102.23x x = 97.68485−7.3021102.23 x = 0.8841 ppm
3. Perhitungan Persen Recovery
Persen Recovery (%) = Konsentrasi standarKonsentrasi x 100%
= 0.88411ppmppm x 100%
31
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Dina Crownia, lahir pada tanggal 11 Februari 1994 di Jakarta. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan bapak Syafruddin Syukur dan ibu Ermiati.
Tahun 2005 penulis menyelesaikan pendidikan di SDIT Al-Manar Bekasi, Tahun 2008 penulis menyelesaikan pendidikan di SMPN 1 Bekasi. Tahun 2008 penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA Korpri Bekasi dan aktif dalam organisasi OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) sebagai Ketua 1. Tahun 2011 penulis melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan diterima sebagai mahasiswi Supervisor Jaminan Mutu Pangan Program Diploma Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur USMI.