• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Teks Narasi dan Surat Dalam Per

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Teks Narasi dan Surat Dalam Per"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

Ukuran bukunya 15, 5 x 23 cm

Untuk Papa & Mama,

Rina dan Filipe,

(2)

Kata Pe ga tar

Buku ini merupakan hasil pergumulan penulis dalam penafsiran teks kitab suci selama 6 tahun mengajar di Sekolah Tinggi Teologi Soteria Purwokerto (STTSP). Selama menulis dan mengajar mahasiswa, penulis terus mencari berbagai teori atau metode penafsiran teks yang lebih teliti, detil, dan akurat dibandingkan teori penafsiran teks yang ada selama ini. Selain belajar dari berbagai buku penafsiran, hermeneutik, linguistik, dan sastra, penulis juga diajar dan dimentor secara langsung oleh seorang pakar Perjanjian Baru (PB) di Indonesia ketika penulis sedang menempuh program studi S-2 dalam bidang PB (2008-211). Penulis sangat bersyukur bisa ketemu dan dibimbing oleh Pdt. Ir. Armand Barus, Ph.D. Selain itu, berbagai tulisan beliau menjadi panduan dan rekan bacaan di dalam tulisan ini. Tidak lupa juga, penulis mengucap terima kasih kepada para mahasiswa yang ikut berdiskusi dan menajamkan pemikiran penulis dan tulisan di dalam buku ini.

Berbagai teori atau metode penafsiran teks yang penulis ajarkan tersaji di dalam buku ini. Teori ini dapat diterapkan sesuai dengan genre atau jenis teks di dalam PB. Setiap teori yang diuraikan disertai dengan beberapa contoh penafsiran sehingga memudahkan pembaca untuk memahami teori tersebut dan dapat menerapkannya sendiri ketika menganalisis teks. Ada bagian analisis teks yang teknis sehingga memerlukan pengetahuan bahasa Yunani yang cukup.

Buku ini memang dikhususkan terutama kepada pembaca yang ingin mempelajari analisis atau penafsiran teks PB lebih dalam. Buku ini dapat menjadi pengantar atau perbandingan untuk mempelajari teks jenis perumpamaan atau narasi, surat-surat, dan Injil. Selain itu, kepada

pembaca yang haus menggali kebenaran Firman Tuhan dan mengetahui aplikasinya dapat membaca dan menerapkan teori dalam buku ini seperti analisis tokoh dan peristiwa, dan analisis kalimat inti dalam teks Injil Yohanes. Kedua teori ini dapat dengan mudah diterapkan.

Penulis mengharapkan buku ini dapat menstimulir para pembaca untuk mengembangkan teologi biblika di Indonesia dengan terus menggali dan menulis serta mengajarkan firman Tuhan kepada umat sehingga umat mendapatkan pengajaran firman Tuhan yang tepat dan dapat semakin menumbuhkan iman, kasih, dan pengharapan mereka.

Akhir kata, penulis menyadari buku ini jauh dari sempurna sehingga penulis terbuka menerima saran atau masukan yang berarti dari para pembaca untuk perbaikan bagian-bagian yang tidak tepat.

Selamat membaca dan menggumuli teks firman Tuhan. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Amin.

Baturaden, Januari 2014

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ………..

Daftar Isi ……….

Bab 1: Analisis Tokoh dan Peristiwa Di dalam Teks Narasi ……….

Bab 2: Analisis Kalimat Inti (Kernel Analysis) ………

Bab 3: Analisis Semantis ……….

(4)

BAB

Pe dahulua

Perkembangan ilmu linguistik dan sastra begitu cepat sementara para pakar atau ahli PB terutama di Indonesia kurang menangkap dan memanfaatkan perkembangan kedua disiplin ilmu ini untuk studi biblika. Studi biblika masih terpisah dengan kedua disiplin ilmu ini.1 Buku ini

merupakan salah satu upaya kecil untuk memanfaatkan ilmu linguistik dan sastra dalam analisis atau eksegesis teks PB. Memanfaatkan ilmu linguistik seperti semantik untuk penafsiran teks PB baru saja muncul beberapa dekade belakangan ini.2

Buku ini adalah sebuah upaya penulis untuk memperkenalkan beberapa teori atau metode analisis teks Perjanjian Baru (PB). Teori itu mencakup analisis teks jenis narasi, surat, dan Injil. Untuk teks narasi, penulis mengambil sampel teks perumpamaan Tuhan Yesus dan pelayanan-Nya di dalam Injil Matius. Teks ini akan dianalisis memakai metode analisis peristiwa dan tokoh. Untuk teks surat, penulis mengambil surat-surat yang ada di dalam PB dengan memakai teks analisis kalimat inti atau kernel analysis dan analisis semantis. Untuk teks Injil, penulis mengambil sampel teks Injil Yohanes dengan memakai metode analisis kalimat inti.

Uraian atau analisis teks dalam buku ini lebih bersifat akademis sehingga pembaca perlu mengetahui beberapa hal teknis seperti istilah-istilah linguistik dan sastra, bahasa Yunani, struktur teks, dan alur berpikir yang sistematis.

Teori pertama, analisis tokoh dan peristiwa yaitu suatu analisis teks narasi dengan tesis: tema merupakan gabungan karakter dan peristiwa di dalam cerita. Tema merupakan pokok cerita dan dibangun dari analisis tokoh untuk mendapatkan karakter dan analisis peristiwa dari awal hingga akhir cerita. Penggabungan ini penting karena bukan hanya menekankan karakter. Penulis akan menganalisis 10 sampel teks dengan metode ini.

Teori kedua dan ketiga, analisis kalimat inti dan analisis semantis yaitu suatu analisis dengan tesis: arti atau meaning dari sebuah teks terdapat pada deep structure sehingga perlu dilakukan transformasi dari surface structure ke deep structure dan mempelajari meaning berarti melakukan suatu studi konsep bukan studi kata. Meaning tidak bergantung pada satu kata melainkan kata-kata lain yang saling berelasi arti di dalam suatu teks atau wacana yang dalam buku ini tertuang dalam bentuk studi konsep atau konsep teologis. Misalnya, meaning“firman hidup”idi dalam 1 Yohanes 1:1-4 tidak hanya studi kata “firman”idan “hidup”isehingga kita mencari arti katanya berdasarkan etimologinya (sejarah katanya) atau penggunaan kata (usage) di dalam kamus teologi melainkan meaning tersebut menjadi sebuah konsep “firman hidup”i yang dibangun dari kata-kata lain yang saling berelasi arti di dalam wacana tersebut yaitu 1 Yohanes 1: 1-4. Konsep “firman hidup”isekaligus menjadi sebuah konsep wacana bukan lagi konsep leksikal.

1 Hal ini juga diakui olehPeter Cotterell dan Max Turner, Linguistics & Biblical Interpretation

(Downers Grove: InterVarsity Press, 1989), 9.

2 Lihat juga Johanes P. Louw, Semantics of New Testament Greek (Georgia: Scholar Press, 1981),

(5)

Perbedaan teori kedua dan ketiga terdapat pada aturan atau langkah dan penekanan analisisnya. Pada analisis kalimat inti menerapkan sejumlah langkah yang sistematis dan

menekankan kernel dan hubungan antar kernel sehingga menghasilkan terjemahan dinamis dan konsep wacana. Pada analisis semantis menekankan transformasi untuk mendapatkan

terjemahan dinamis dan menemukan meaning dalam bentuk konsep wacana.

(6)

BAB

A alisis Tokoh da Perisiwa Di dala

Teks Narasi

Ada 3 landasan teori yang dipakai dalam buku ini. Analisis tokoh dan peristiwa merupakan teori yang digunakan untuk menafsirkan teks narasi. Analisis kalimat inti atau kernel analysis

dan analisis semantis merupakan landasan teori berikut yang akan digunakan untuk menafsirkan berbagai jenis teks dalam Perjanjian Baru (PB).

Di dalam bab ini, penulis akan menguraikan landasan teori terlebih dahulu sebelum menganalisis beberapa teks di dalam kitab Matius sebagai sampel atau contoh sehingga pembaca dapat memahami dan menganalisis sendiri dengan langkah-langkah yang akan diuraikan di bawah ini.

Landasan Teori:

Analisis Tokoh Dan Peristiwa

Ada beberapa alat pedoman untuk menganalisis struktur sebuah cerita. Salah satu alat yang utama adalah premis. Premis adalah sebuah usul yang dinyatakan sebagai pembawa kepada suatu kesimpulan. Orang-orang teater menggunakan kata-kata lain untuk hal yang sama yaitu tema, tesis, gagasan akar, gagasan sentral, tujuan, tenaga pendorong rencana, plot, emosi dasar. Ferdinand Brunetiere menghendaki supaya dalam cerita/lakon ada “tujuan”iatau goal. Ini adalah premis. John Howard Lawson mengatakan, “Gagasan akar adalah awal proses.”iIa maksudkan premis. Brander Matthew mengatakan, “Sebuah cerita/lakon harus mempunyai tema.”iItu mestilah premis. George Pierce Baker mengutip ucapan Dumas Jr berkata, “Bagaimana Anda dapat mengatakan jalan apa yang Anda ambil, kecuali Anda tahu ke mana Anda menuju?”i Premis akan menunjukkan kepada pembaca jalan tersebut.

Penulis skenario harus paham dan menguasai prinsip-prinsip dramaturgi. Tanpa pemahaman itu, ceritanya pasti akan kedodoran, tidak ketahuan ujung pangkalnya. Dengan pemahaman, maka ceritanya jelas mengutarakan gagasan pokok atau ide sentralnya, pencirian pelaku-pelaku yang terlibat konflik, kesatuan protagonis dan antagonis yang tidak boleh melemah sampai tercapainya klimaks atau puncak cerita, orkestrasi atau penyusunan watak-watak secara meyakinkan dan masuk akal.

(7)

kepada konklusi yang logis tanpa suatu premis yang jelas. Pembaca harus punya premis yang akan membawa kepada tujuan cerita.

Premis/tesis dalam tulisan ini adalah gabungan antara tokoh (karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)) menghasilkan tema atau pokok cerita.3 Sebagai contoh sebuah lakon yang premisnya adalah: Egoisme

membawa kepada kehilangan kawan-kawan. Karakternya adalah “egoisme;”i“Membawa kepada”i merupakan peristiwa dari awal sampai konflik; “kehilangan kawan-kawan”imerupakan peristiwa akhir/kesimpulan cerita. Jadi, Premis/Tesisnya adalah karakter dan peristiwa menghasilkan tema atau pokok cerita. Alat pedoman kita untuk menganalisis cerita sehingga mendapatkan tema cerita berdasarkan premis di atas adalah karakter dan peristiwa.

Kisah atau narasi adalah sebuah pokok dalam sebuah cerita, lakon dan kadang-kadang sebuah sajak, berkembang dalam kurun waktu tertentu dari awal sampai suatu akhir.Tiga ciri khas kisah: Rentetan kejadian mendugakan urutan waktu; kisah bukan hanya penyebutan sejumlah gejala lepas, dalam kisah kejadian-kejadian saling berkaitan; kejadian dalam kisah disebabkan atau dialami oleh tokoh yang mempunyai tujuan. Secara sadar atau tidak sadar, eksplisit atau implisit kisah memperoleh dinamikanya karena tokoh pelakunya mempunyai suatu tujuan. Ketiga ciri khas yang dimiliki kisah menjadi dasar bagi tiga cara analisis kisah.

Berikut tiga cara yang harus diperhatikan dalam menganalisis sebuah cerita.4

1. Analisis Peristiwa5

Peristiwa dalam cerita dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu permulaan cerita yang disebut prolog, puncak cerita atau pertentangan atau perumitan yang disebut konflik, dan keadaan akhir atau kesimpulan cerita yang disebut epilog.

Peristiwa digambarkan sebagai peralihan dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Ada banyak peristiwa di dalam cerita tentunya. Namun, penulis hanya akan mencari peristiwa-peristiwa yang mempunyai akibat. Pengamatan apakah suatu peristiwa-peristiwa mempunyai akibat, menuntut pembaca membaca terus dan mengaitkan kelanjutannya. Hal ini merupakan ciri kisah karena peristiwa memang tidak berdiri lepas. Ini juga menggiring pembaca agar dia membaca terus. Kategori peristiwa-berakibat atau peristiwa fungsional bukanlah satu-satunya kategori. Ada pula kejadian yang dimaksudkan untuk menghubungkan peristiwa fungsional. Apabila pembaca ingin menyusun lebih lanjut peristiwa fungsional yang sudah dikumpulkan, terbuka beberapa kemungkinan: salah satu cara ialah mengelompokkannya dalam kumpulan yang lebih besar yang disebut episode.

Peristiwa merupakan peralihan dari satu keadaan kepada keadaan yang lain, demikian pula episode adalah serentetan peristiwa yang mengandung suatu keadaan awal, suatu perubahan, seringkali suatu perumitan dan suatu keadaan akhir.

Perumitan yang terkandung dalam proses perubahan dapat merupakan proses perbaikan atau sebaliknya proses kemunduran. Apakah keadaan pelaku membaik atau mundur dengan perubahan itu? Perumitan atau konflik dapat bersifat statis, meloncat dan meningkat perlahan-lahan.6

3 Bandingkan dengan premis yang diusulkan oleh Rosihan Anwar, Sejarah Kecil Petite Histoire

Indonesia Jilid 2 (Jakarta: Buku Kompas, 2009), 45-47.

4 Jan van Luxemburg, Mieke Bal dan Willem G. Weststeijen, Tentang Sastra (Jakarta: Intermasa,

1991), 136-37.

(8)

2. Analisis Tokoh

Tujuan analisis tokoh adalah mendapatkan karakter atau watak. Tokoh adalah pelaku atau subjek yang mengalami peristiwa. Dia adalah subjek yang mengalami peralihan keadaan. Citra tokoh yaitu mendeskripsikan tokoh sebagai satu kesatuan, dengan menderetkan ciri-ciri mereka; mengamati mereka dalam hubungannya satu sama lain; dan melihat mereka dalam kaitannya dengan peristiwa.7 Ada tokoh tersendiri, tapi juga bisa dibandingkan dengan tokoh lain

(persamaan dan perbedaan antar tokoh). Jadi ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam analisis tokoh:

1. Tokoh tersendiri sebagai satu kesatuan

2. Tokoh dengan tokoh lain sebagai perbandingan (persamaan dan perbedaan)

3. Tokoh dengan peristiwa.8 Penentuan seorang tokoh yang kita anggap sebagai pelaku

bertujuan dalam kisah.

Tokoh membawakan karakter berdasarkan tindakan-tindakan yang mereka lakukan. Hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana pertumbuhan karakter.9 Karakter kelihatan oleh

konflik. Konflik dimulai dengan keputusan. Dan keputusan dibuat oleh karena ada premis. Contoh-contoh pertumbuhan watak:

1. Macbeth mulai dengan ambisi, berakhir dengan pembunuhan.

2. Othello mulai dengan cinta, berakhir dengan pembunuhan dan bunuh diri. 3. Hamlet mulai dengan curiga, berakhir dengan pembunuhan.

4. Nora dalam lakon Hendrik Ibsen mulai sebagai “burung nuri,”iberakhir sebagai wanita dewasa.

Demikianlah pertumbuhan adalah reaksi watak terhadap suatu konflik di mana dia terlibat. Hal lain yang harus diperhatikan ialah watak poros atau pivotal character, yaitu watak pusat yang kekuatannya, tekadnya, dan kepemimpinannya bertanggung jawab terhadap konflik. Watak poros selalu memaksakan konflik. Hal yang juga penting ialah orkestrasi atau orchestration. Ini menghendaki pelaku-pelaku yang jelas dilukiskan, yang tidak mengenal kompromi satu sama lain, yang berada dalam oposisi, bergerak dari satu kutub ke kutub lain. Hamlet adalah contoh watak, pelaku yang tidak kenal kompromi, yang mencari pembunuh-pembunuh ayahnya. Seterusnya yang harus diperhatikan ialah persatuan lawan atau unity of opposites. Taruhlah sebuah lakon diorkestrasikan dengan bagus, lalu apakah jaminan bahwa antagonis-antagonis tidak mengadakan gencatan senjata (perdamaian) di tengah-tengah cerita, kemudian berhenti saja bertarung? Jawabannya ialah dalam unity of opposites. Adapun unity of opposites adalah suatu keadaan di mana kompromi tidaklah mungkin.

3. Analisis Peristiwa & Tokoh

Analisis ini menggabungkan antara tokoh (karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)) sehingga menghasilkan tema atau pokok cerita.

7 Jan van Luxemburg, Mieke Bal dan Willem G. Weststeijen, Tentang Sastra, 131. 8 Lihat dalam analisis perisitiwa dan tokoh.

(9)

Struktur Perumpamaan

Sebuah teks perumpamaan terdiri atas:

1. Pengajaran Pembuka = rumus/formula perumpamaan Tema/Pokok Ajaran Perumpamaan

Penjelasan = di akhir perumpamaan sama seperti

2. Narasi Kisah/Cerita Analisis Kisah Tema/Pokok Cerita

Tesis = Alegoris; fokus pada bagian tertentu dalam

perumpamaan; Analisis karakter; dan karakter dan peristiwa.

Tema perumpamaan adalah tema pengajaran perumpamaan. Tema pengajaran perumpamaan adalah tema narasi perumpamaan yang ditambah dengan penjelasan perumpamaan (jikalau penjelasan perumpamaan ada di dalam perumpamaan).

Konsep Teologis & Aplikasi

Tema perumpamaan akan dijelaskan dalam konsep teologis. Aplikasi bagi pembaca kontemporer akan dibuat berdasarkan penjelasan di dalam konsep teologis.

(10)

Sa pel Teks

Maius : ;

-Kese pata Sa a Na u Hasil Akhir Berbeda

Pendahuluan

Kondisi gereja pada zaman sekarang begitu rentan terhadap konflik seperti perselisihan, perpecahan sampai pada berbagai kasus kejahatan moral. Namun harus disadari bahwa gereja bukanlah perkumpulan orang-orang kudus tanpa celah dosa. Gereja merupakan perkumpulan orang-orang yang mengaku percaya kepada Kristus. Realitanya, gereja terdiri atas orang-orang yang hidup secara benar maupun jahat. Keduanya saling hidup bersama. Gereja sekarang belum mengalami pemurnian secara mutlak. Namun bukan berarti, gereja membiarkan umatnya hidup secara sembarangan dan melakukan dosa atau kejahatan. Berbagai nasihat dan peringatan dari kitab suci terus menerus diajarkan kepada umatnya sehingga setiap umat dapat hidup secara benar. Bahkan disiplin dan hukum gereja harus jelas dan semakin ditegakkan pada zaman sekarang. Pengajaran perumpamaan Matius 13:24-30, 36-43 memberikan gambaran jelas tentang kondisi tersebut. Umat disadari bahwa Kerajaan Sorga sedang memasuki tahap pertumbuhan di mana orang benar dan jahat hidup secara bersama termasuk di dalam gereja. Perumpamaan ini menjadi semakin penting diajarkan di tengah realitas gereja yang terpuruk. Umat menyadari bahwa hidup sebagai orang benar merupakan urgensi memasuki tahap penuaian.

Beberapa penafsiran perumpamaan ini menekankan tahap atau aspek penuaian atau penghakiman eskatalogis. Menurut penulis, perumpamaan ini harus dilihat secara utuh. Tulisan ini hendak membuktikan bahwa aspek penuaian bukan satu-satunya aspek yang harus

ditonjolkan. Sebetulnya, perumpamaan ini mengajarkan perjalanan Kerajaan Sorga dari awal hingga akhir. Kerajaan Sorga memiliki tiga aspek penting yaitu penaburan, pertumbuhan, dan penuaian. Uraian berikut akan mencoba menjelaskan ketiga aspek ini secara terperinci.

Teks10

(11)

36 Τότεiἀφεὶςiτοὺςiὄχλουςiἦλθενiεἰςiτbνiοἰκίαν.iκαὶπροσcλθονiαὐτῷοἱμαθηταὶαὐτοῦλέγοντες,i

Teks Matius 13:24-30, 36-42 adalah teks Yunani yang stabil menurut UBS4 dan NA 2711 karena

tidak memperlihatkan adanya masalah tekstual yang memerlukan penelitian naskah.

Ayat 43. Teks ὦτα oleh UBS4 dikategorikan {B} yang menunjukkan sedikit keragu-raguan. Teks ini lebih pendek dibandingkan dengan varian lain seperti ὦτα avkou,ein yang ditambahkan oleh penyalin. Menurut Bruce M. Metzger,

In view of the frequent occurrence elsewhere of the fuller expression w=ta avkou,ein (Mk 4.9, 23; 7.16; Lk 8.8; 14.35), it was to be expected that copyists would add the infinitive here (and in 13.9 and 43). If the word had been present in the original text, there is no reason why it should have been deleted in such important witnesses as B D 700 al.12

Terjemahan13

24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan

Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. 25 Tetapi pada

waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. 26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. 27 Maka

datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? 28 Jawab tuan itu: Seorang musuh

yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? 29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut

tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. 30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai

waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku." 36Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang.

Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu." 37 Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak

Manusia; 38 ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si

jahat. 39 Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan

11 Teks versi United Bible Society edisi ke-4 dan Nestle-Aland edisi ke-27.

12 Bruce M. Metzger, Textual Commentary on the Greek New Testament (New York: American

Bible Society, 1994), 24.

(12)

para penuai itu malaikat. 40 Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api,

demikian juga pada akhir zaman. 41Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan

mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang

melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. 42Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur

api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. 43 Pada waktu itulah orang-orang benar

akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

Struktur Perumpamaan

Perumpamaan ini dibagi menjadi dua bagian besar yaitu:

A. Pengajaran Perumpamaan 1. Pembukaan perumpamaan:

a. Yesus menyampaikan perumpamaan lain kepada mereka b. Kerajaan Surga sama seperti narasi perumpamaan 2. Penjelasan Perumpamaan:

a. Pertanyaan para murid tentang narasi perumpamaan kepada Yesus b. Jawaban Yesus adalah:

i. Orang yang menaburkan benih baik adalah Anak Manusia. ii. Ladang adalah dunia.

iii. Benih baik adalah anak-anak Kerajaan. iv. Lalang adalah anak-anak si jahat.

v. Musuh yang menaburkan benih lalang adalah Iblis. vi. Waktu menuai adalah akhir zaman.

vii. Para penuai adalah malaikat.

viii.Pada akhir zaman lalang dikumpulkan dan dibakar dalam api. ix. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya.

x. Para malaikat akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.

xi. Mereka semua akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.

xii. Pada akhir zaman orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka.

xiii.Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.

B. Narasi Perumpamaan: cerita yang dibangun dari berbagai peristiwa seperti berikut. 1. Ada seorang menabur benih baik di ladangnya.

2. Pada saat semua orang sedang tidur, seorang musuh datang menabur benih lalang di antara gandum.

3. Musuh tersebut pergi.

4. Gandum itu tumbuh dan berbulir.

5. Lalang juga bertumbuh bersama gandum.

6. Hamba-hamba pemilik ladang datang dan berdialog dengan si pemilik ladang sebagai berikut.

a. Pertanyaan hamba-hamba tersebut kepada si pemilik tentang sumber lalang. b. Pemilik ladang menjawab sumber lalang adalah dari seorang musuh.

c. Hamba-hamba tersebut menawarkan diri untuk mencabut lalang tersebut. d. Pemilik ladang menolak tawaran hamba-hamba itu sebab kedua tanaman itu bisa

(13)

e. Pemilik ladang menjelaskan lebih lanjut bahwa biarkan kedua tanaman tumbuh bersama sampai waktu menuai.

f. Pada waktu menuai para penuai akan mengumpulkan lalang itu dan mengikat berberkas-berkas untuk dibakar.

g. Para penuai akan mengumpulkan gandum itu ke dalam lumbung si pemilik ladang.

Survei Pustaka

Sebagai rekan pembacaan, penulis memilih beberapa pakar seperti Margaret Davies, Donald A. Hagner, Leon Morris yang menekankan aspek berbeda dari penulis. Berikut inti tafsiran mereka dan ringkasannya di bawah ini.

Margaret Davies

Menurut Davies perumpamaan ini mengajarkan tentang misi (pemberitaan Yesus tentang kedatangan Kerajaan Surga) akan menghasilkan pengikut (orang percaya). Namun, tidak setiap orang akan menjadi pengikut. Misi pasti akan berbuah (pengikut), namun tidak boleh

dipisahkan dari dunia. Davies menuliskan,

“The parable offers further encouragement to disciples, crowdsand readers. In spite of the activity of an enemy, the mission would be fruitful, but they are warned not to separate

followers from other people, not to form a separate clique and harm those followers. Rather they should leave that separation to other agents at the time when the kingdom was established.”14

Davies juga menjelaskan pada bagian penjelasan perumpamaan menekankan aspek peristiwa eskatologis. Davies menuliskan, “The explanation serves to confirm or correct the readers’i understanding of the original parable, but it also highlights aspects of the eschatological events which had received no attention in the original parable: the son of man would send his angels and gather from his kingdom all offensive things and those who did lawlessness, and they would throw them into the furnace of fire.”15 Selain itu, penjelasan perumpamaan ini mengajarkan

pendirian satu Kerajaan eskatologis. Davies menuliskan, “It is more likely therefore that the explanation refers throughout to the establishment of the one eschatological kingdom through the son of man’s command to the angels that they remove offensive things and those who did lawlessness.”16

Donald A. Hagner

Menurut Hagner, bagian narasi perumpamaan mengajarkan ladang yang ditabur oleh penabur adalah ladang yang belum ideal artinya ada gandum dan lalang tumbuh bersama. Ini menggambarkan Kerajaan Allah telah datang, namun belum sampai pada waktu penghakiman eskatologis. Hagner menuliskan,

If we restrict ourselves here to the self-contained world of the parable, suspending its

application until the discussion of vv 36–43, we may at least conclude that the field sown by the man did not turn out as he desired. He had sown good seed, but an enemy had sown weeds in the same field. The result was a mixture of wheat and weeds. The solution, however, was not to be in an immediate separating of the two. Instead, for the time being the two were to be allowed to grow together, so that the field was not an ideal field but one manifesting the contradiction of

14

Margaret Davies, Matthew (Sheffield: Sheffield Phoenix Press, 2009), 112. 15

Davies, Matthew, 112. 16

(14)

good and bad. This state of affairs, moreover, was to remain so until the full maturity of the wheat and the time of harvest, when finally the wheat would be separated from the weeds. Then the evil would be brought to its end, and the good alone would remain. The kingdom of God has indeed come, but it has not yet brought the eschatological judgment.17

Selanjutnya, Hagner menyatakan bahwa zaman sekarang adalah sementara yang terdiri atas campuran orang baik dan jahat. Pada waktunya, Kerajaan eskatologis yang sudah dimulai akan mencapai puncak pada saat penuaian atau pemisahan antara orang baik dan jahat.18

Leon Morris

Menurut Morris pada bagian 13:24-30 menekankan tentang eskatologis. Morris

menyatakan, “I i i i i i ,i i i i y i i i

about the admixture of those who belong to the kingdom and those who do not in the time

i i .”19 Pada bagian 13:36-43 juga memperjelas kembali tentang eskatologis. Morris

menyatakan, His reply has a marked eschatological emphasis and makes it clear that he is

i i i i i i i i i i .i iG ’ i i i i i

v i i i i i i i .”20

Ringkasan

Davies dan Hagner menekankan pada peristiwa dalam narasi. Ada peristiwa penaburan dan penuaian. Penaburan mengajarkan pemberitaan (Davies) dan Kerajaan Allah telah datang, namun belum sampai pada waktu penghakiman eskatologis (Hagner). Penuaian mengajarkan pemisahan orang baik dan orang jahat pada zaman eskatologis (Davies dan Hagner). Sedangkan Morris yang menekankan peristiwa eskatologis sebagai pengajaran perumpamaan lebih melihat pada sisi penuaian.

Baik Davies, Hagner dan Morris melihat perumpamaan ini pada sisi peristiwa dalam narasi yaitu penaburan dan penuaian. Sepertinya peristiwa penuaian mendapat sorotan penting. Sisi lain mereka mengabaikan peristiwa lain dalam narasi yaitu pertumbuhan. Selain itu, sisi karakter atau tokoh dalam narasi diabaikan. Penafsiran atau pembacaan yang demikian tidak utuh atau komprehensif dalam memahami perumpamaan. Analisis berikut akan mencoba membaca perumpamaan jauh lebih komprehensif dengan pendekatan bukan hanya pada sisi peristiwa tetapi juga tokoh dalam narasi perumpamaan.

Analisis Narasi Perumpamaan

Tujuan menganalisis narasi perumpamaan adalah mendapatkan tema atau pokok cerita perumpamaan. Premis/tesis dalam studi perumpamaan ini adalah gabungan antara tokoh (karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)) menghasilkan tema atau pokok cerita. Analisis narasi ini akan dibagi dalam tiga tahap yaitu analisis peristiwa, tokoh dan peristiwa dan tokoh.

17 Donald A Hagner, Word Biblical Commentary: Matthew 1-13 (Dallas: Word, Incorporated,

2002), 384.

18 Lihat Hagner, Word Biblical Commentary: Matthew 1-13, 394.

(15)

Analisis Peristiwa

Di dalam narasi perumpamaan, peristiwa berlangsung dari awal hingga akhir. Peristiwa awalnya adalah penaburan benih baik yaitu gandum di ladang oleh si penabur. Selain itu, di awal cerita juga ada peristiwa penaburan benih lalang di antara gandum oleh seorang musuh pada saat semua orang tidur. Peristiwa awal meliputi peristiwa nomor 1-3. Peristiwa puncak adalah pertumbuhan gandum dan lalang secara bersamaan. Peristiwa puncak meliputi peristiwa nomor 4-5. Peristiwa akhir adalah penuaian yaitu lalang dan gandum dipisahkan. Lalang dikumpulkan, diikat, dan dibakar. Gandum disimpan di dalam lumbung pemilik ladang. Peristiwa akhir dibungkus dalam dialog antara hamba-hamba pemilik ladang dengan si pemilik ladang. Perisitiwa akhir meliputi peristiwa nomor 6.

Analisis Tokoh

Tujuan analisis tokoh adalah mendapatkan karakter atau watak. Di dalam peristiwa awal terdapat tokoh utama yaitu seorang penabur dan musuh. Peristiwa puncak tidak terdapat tokoh. Peristiwa akhir terdapat beberapa tokoh yaitu hamba-hamba pemilik ladang, pemilik ladang, dan penuai. Tokoh utamanya adalah penuai. Penabur merupakan tokoh yang memberikan

kesempatan sama kepada semua benih baik untuk tumbuh. Penabur membawakan karakter permulaan pertumbuhan gandum. Musuh adalah tokoh antagonis terhadap tokoh penabur. Musuh memberikan kesempatan kepada benih lalang untuk tumbuh. Musuh membawakan karakter permulaan pertumbuhan lalang. Penuai merupakan tokoh yang memisahkan tanaman gandum dan lalang dan menjalankan hasil akhir dari gandum dan lalang. Penuai membawakan karakter akhir pertumbuhan gandum dan lalang atau kondisi akhir gandum dan lalang.

Analisis Peristiwa dan Tokoh

Analisis ini menggabungkan antara tokoh (karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)) sehingga menghasilkan tema atau pokok cerita. Tema ceritanya adalah kesempatan sama bertumbuh membawakan kondisi akhir yang berbeda/kontras.i“Kesempatan sama bertumbuh”imerupakan karakter yang ditonjolkan di dalam narasi. “Membawakan kondisi akhir yang kontras”imengandung unsur peristiwa awal hingga akhir di dalam narasi.

Konsep Teologis

Berdasarkan struktur perumpamaan di atas, pengajaran perumpamaan terdiri atas pembukaan dan penjelasan perumpamaan. Tema pengajaran perumpamaan adalah gabungan dari pembukaan dan penjelasan perumpamaan. Pembukaan perumpamaan menunjukkan tema pengajaran perumpamaan sama dengan tema narasi perumpamaan. Penjelasan perumpamaan memberikan penjelasan tambahan terhadap tema pengajaran perumpamaan. Jadi, tema

pengajaran perumpamaan sama dengan tema narasi perumpamaan ditambah dengan penjelasan perumpamaan. Tema pengajaran ini sekaligus menjadi tema perumpamaan. Tema pengajaran perumpamaan adalah kesempatan sama bertumbuh membawakan kondisi akhir yang

(16)

manusia dan musuh adalah tokoh yang memberikan kesempatan sama kepada anak-anak Kerajaan dan si jahat untuk bertumbuh bersama di dunia. Namun, dengan jelas digambarkan bagaimana kondisi akhir mereka pada akhir zaman nanti. Perumpamaan ini mengajarkan kepada umat bahwa ada perbedaan yang sangat kontras antara anak-anak Kerajaan dan anak-anak si jahat. Perbedaan tersebut baru akan kelihatan pada akhir zaman. Anak-anak si jahat akan dicampakkan oleh para malaikat ke dalam dapur api sedangkan anak-anak Kerajaan akan bercahaya di dalam Kerajaan Sorga. Pada masa pertumbuhan tidak ada perbedaan diantara keduanya karena mendapat kesempatan sama namun pada masa penuaian hasil akhir menunjukkan perbedaan kontras. Pada masa pertumbuhan Kerajaan Sorga, baik orang jahat maupun orang benar hidup berdampingan atau bersama di dunia. Pada masa akhir zaman atau akhir dunia ini, terjadi pemisahan oleh para malaikat. Kerajaan Sorga hanya akan berisi orang benar. Jadi, perumpamaan ini menjelaskan tentang perjalanan Kerajaan Sorga mulai dari penaburan, pertumbuhan, sampai akhir pertumbuhan. Proses penaburan menjelaskan bahwa baik orang benar dan jahat diberi kesempatan untuk bertumbuh. Proses pertumbuhan

menjelaskan bahwa keduanya hidup bersama di dunia. Proses akhir pertumbuhan atau penuaian menjelaskan kondisi akhir keduanya yang sangat kontras. Perumpamaan ini bukan hanya mengajarkan pemisahan antara orang benar dan jahat atau penghakiman eskatologis saja, tetapi juga bagaimana awal sampai akhir Kerajaan Sorga.

Ringkasan

Beberapa tafsiran melihat perumpamaan ini mengajarkan tentang penghakiman

eskatologis. Pendekatan mereka terfokus pada masa penuaian atau akhir pertumbuhan gandum dan lalang. Menurut penulis, perumpamaan ini menekankan tiga aspek Kerajaan Sorga yaitu aspek penaburan, pertumbuhan, dan penuaian. Aspek penaburan memberikan dampak awal pertumbuhan Kerajaan Sorga. Aspek penaburan bukan hanya melibatkan gandum saja tetapi juga lalang. Hal ini menandakan kesempatan sama untuk bertumbuh. Aspek pertumbuhan menjelaskan pertumbuhan Kerajaan Sorga. Di dalam pertumbuhan Kerajaan Sorga, orang benar dan jahat hidup bersama/berdampingan di dunia. Aspek penuaian menjelaskan puncak Kerajaan Sorga. Aspek penuaian menekankan kondisi akhir yang kontras antara orang benar dan jahat. Orang jahat di dalam Kerajaan Sorga akan dipisahkan dari orang benar oleh para malaikat untuk dibuang dan dibakar di dalam dapur api sedangkan orang benar akan bercahaya di dalam

Kerajaan Sorga. Aspek penuaian merupakan penghakiman eskatologis.

Aplikasi

(17)

Sa pel Teks

Maius :

-Pe abura Ya g Me ghasilka

Pendahuluan

Perumpamaan biji sesawi mengajarkan lebih lanjut tentang rahasia Kerajaan Surga. Tafsiran perumpamaan ini umumnya melihat ke arah kontras yakni yang terkecil menjadi

terbesar. Kerajaan Surga yang kecil akan menjadi besar dan mulia kelak. Tafsiran ini hanya fokus pada biji sesawi yang paling kecil dari semua jenis biji. Tafsiran ini mengabaikan unsur lain di dalam cerita seperti peristiwa penaburan dan pertumbuhan. Selain itu, perumpamaan ini difokuskan pada pertumbuhan. Kerajaan surga yang kecil akan bertumbuh menjadi besar. Tafsiran ini sepertinya halnya dengan Armand Barus hanya menekankan karakter penabur yang menabur dengan harapan pertumbuhan namun mengabaikan unsur lain seperti biji sesawi. Tulisan berikut mencoba melihat perumpamaan ini secara utuh atau komprehensif yakni dengan tesis karakter dan peristiwa membawakan tema perumpamaan. Tulisan ini mencoba untuk meresponi dan memberikan satu tafsiran baru yang berbeda dengan Barus. Berikut analisis perumpamaan ini dengan tesis karakter dan peristiwa sebagai pembawa tema perumpamaan.

Teks21

31 Ἄλληνiπαραβολbνiπαρέθηκενiαὐτοῖςiλέγων,iὉμοίαiἐστὶνiἡβασιλείαiτῶνiοὐρανῶνiκόκκῳσινάπεως,iὃνi

λαβὼνiἄνθρωποςiLσπειρενiἐνiτῷἀγρῷαὐτοῦ·

32 μικρότερονiμένiἐστινiπάντωνiτῶνiσπερμάτων,iὅτανiδὲαὐξηθῇμεῖζονiτῶνiλαχάνωνiἐστὶνiκαὶγίνεταιi

δένδρον,iὥστεiἐλθεῖνiτὰπετεινὰτοῦοὐρανοῦκαὶκατασκηνοῦνiἐνiτοῖςiκλάδοιςiαὐτοῦ.

Penelitian Naskah

Teks Matius 13:31-32 adalah teks Yunani yang stabil menurut UBS4 dan NA 27 karena tidak memperlihatkan adanya masalah tekstual yang memerlukan penelitian naskah.

Terjemahan Literal

31 Dia menceritakan sebuah perumpamaan lain kepada mereka dengan berkata, Kerajaan Surga

adalah seperti sebuah biji sesawi yang seseorang mengambilnya dan menaburkannya di ladangnya; 32

yang paling kecil dari semua biji, tetapi ketika biji itu ditumbuhkan, dia adalah tanaman sayuran terbesar dan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang dan membuat sarang di cabang-cabangnya.”i

Terjemahan Dinamis

31 Yesus menceritakan sebuah perumpamaan lain kepada murid-murid-Nya. Yesus berkata, Hal

Kerajaan Surga diumpamakan cerita berikut. Ada seorang petani mengambil dan menabur sebuah biji sesawi di ladangnya. 32 Biji itu adalah paling kecil dari semua biji. Namun, ketika biji

(18)

itu sudah tumbuh, dia bisa menjadi sebuah tanaman sayuran terbesar dari semua tanaman sayuran yang ada. Bahkan, dia menjadi sebuah pohon sehingga banyak burung di udara datang dan membuat sarang di cabang-cabang pohon tersebut.”

Struktur Perumpamaan

Perumpamaan di atas dibagi menjadi dua bagian besar yaitu: A. Pengajaran Perumpamaan:

- Pembukaan perumpamaan: Kerajaan Surga sama seperti narasi perumpamaan. B. Narasi Perumpamaan:

- Cerita yang dibangun dari peristiwa-peristiwa berikut ini:

1. Ada seorang petani mengambil sebuah biji sesawi yang paling kecil dari semua biji. 2. Petani itu menaburkan biji tersebut di ladangnya.

3. Biji itu bertumbuh menjadi tanaman sayuran terbesar di antara tanaman sayuran yang lain.

4. Tanaman itu menjadi sebuah pohon.

5. Banyak burung-burung di udara datang dan membuat sarang di cabang-cabang pohon tersebut.

Survei Pustaka22

Sejarah penafsiran perumpamaan ini umumnya dibagi atas 2 tafsiran utama. Pertama, beberapa penafsir seperti Joachim Jeremias, Hagner, Craig Blomberg, Gundry, dan Davies-Allison menafsirkan perumpamaan ini sebagai perumpamaan kontras. Hal ini disebabkan fokus perumpamaan diarahkan pada perubahan yang terjadi pada benih sesawi. Suatu kontras benih terkecil menjadi tanaman pohon tempat burung-burung bersarang. Penafsiran alegoris masih terus dijumpai. Gundry mengikui Jeremias, menafsirkan burung-burung pada bangsa-bangsa di dunia bahkan penabur biji sesawi dipahami sebagai Yesus. Hagner menolak penafsiran burung-burung menunjuk pada orang-orang bukan Yahudi karena burung-burung-burung-burung disebutkan untuk memperlihatkan kekuatan tanaman sesawi tersebut. Kedua, Armand Barus menghindari

pembacara alegoris dan melihat perumpamaan penabur biji sesawi bukan sebagai perumpamaan kontras karena fokus perumpamaan diarahkan pada karakter sebagai dramatis personae. Di dalam perumpamaan penabur biji sesawi terdapat satu karakter yakni penabur biji sesawi (ayat 31). Dengan demikian pokok ajaran yang termuat dalam perumpamaan dibawa oleh penabur biji sesawi. Pokok ajaran tersebut adalah penaburan benih yang kecil. Penabur menabur benih yang dianggap paling kecil (ayat 32). Tetapi ternyata benih kecil tersebut bertumbuh menjadi besar. Pokok ajaran perumpamaan adalah penaburan benih terkecil. Benih terkecil yang ditabur pasti bertumbuh. Pertumbuhan benih jelas di luar jangkauan penabur. Benih bertumbuh secara luar biasa dari biji kecil hingga tanaman besar dan kuat. Penabur tidak perlu kuatir meski benih yang ditaburnya sangat kecil. Benih sesawi yang kecil dalam proses pertumbuhan sesawi. Penabur tahu bahwa pertumbuhan benih tidak dapat dikendalikannya. Tetapi penabur sadar dan berharap bahwa benih yang ditabur sekecil apapun akan bertumbuh. Penabur tidak melihat

22 Armand Barus telah melakukan sejumlah tinjauan pustaka yang komprehensif di sini. Lihat

(19)

kenyataan biji sesawi sekarang namun melihat masa depan biji sesawi yang ditaburnya. Penabur membawa tema pengharapan. Penabur menabur biji sesawi karena yakin bahwa pada diri biji sesawi memuat kuasa untuk bertumbuh menjadi besar dan kuat. Demikian juga halnya dengan Kerajaan Allah. Pada diri Kerajaan Allah tersimpan kuasa dalam dirinya sendiri untuk menjadi besar meski awalnya kecil dan tidak berarti. Tanpa perlu campur tangan manusia, Kerajaan Allah akan bertumbuh besar. Inilah rencana Allah sejak dunia dijadikan (13:35). Perumpamaan ini bukan perumpamaan kontras tetapi perumpamaan pengharapan akan pertumbuhan.

Perumpamaan sedang menyingkapkan pengharapan Kerajaan Allah menjadi besar. Permulaan yang kecil namun akhir yang besar dan kuat tidak menyatakan kontras melainkan adanya pengharapan. Gagasan kontras melemahkan konsep kekinian dan keakanan Kerajaan Allah. Sementara gagasan pengharapan menjaga ketegangan keduanya (already- not yet).

Analisis Perumpamaan

Tujuan menganalisis narasi perumpamaan adalah mendapatkan tema atau pokok cerita perumpamaan. Premis/tesis dalam studi perumpamaan ini adalah gabungan antara tokoh (karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)) menghasilkan tema atau pokok cerita. Analisis narasi ini akan dibagi dalam tiga tahap yaitu analisis peristiwa, tokoh dan peristiwa dan tokoh.

Analisis Peristiwa

Di dalam narasi perumpamaan, peristiwa berlangsung dari awal sampai akhir. Peristiwa awal adalah penaburan biji sesawi yang paling kecil. Selanjutnya, peristiwa awal bergerak ke perumitan atau puncak cerita yaitu biji sesawi tumbuh menjadi tanaman sayuran dan bahkan menjadi pohon. Dan peristiwa akhir adalah banyak burung di udara datang dan membuat sarangnya di pohon tersebut. Peristiwa awal sampai akhir adalah peristiwa penaburan, pertumbuhan, dan hasil atau dampak.

Analisis Tokoh

Di dalam narasi perumpamaan hanya ada satu tokoh yaitu seorang petani sesawi. Yang dilakukan petani itu adalah mengambil biji sesawi yang paling kecil dan menaburkannya di ladang. Petani merupakan tokoh sentral di dalam peristiwa awal cerita. Selanjutnya, di dalam peristiwa pertumbuhan dan hasil atau dampak, petani tidak melakukan peranan apapun. Biji sesawi yang paling kecil memiliki potensi di dalam dirinya untuk bertumbuh menjadi tanaman sayur yang besar atau bahkan menjadi pohon. Ini adalah gambaran pertumbuhan berdasarkan potensi yang dimiliki. Tidak adanya peranan petani di dalam peristiwa pertumbuhan

menunjukkan petani tahu bahwa biji itu memiliki kemampuan bertumbuh berdasarkan potensi yang dimiliki. Petani hanya cukup berusaha menabur biji itu di ladang dengan benar.23 Biji

23 Bandingkan dengan Barus yang menyatakan bahwa petani memiliki pengharapan akan

(20)

sesawi yang ditabur pasti bertumbuh menjadi tanaman sayuran yang besar karena adanya potensi di dalam biji itu sendiri. Karakter petani di dalam narasi perumpamaan adalah penaburan. Tanpa penaburan, maka tidak ada pertumbuhan dan hasil. Penaburan menjadi karakter utama di dalam narasi perumpamaan.

Analisis Peristiwa dan Tokoh

Dalam analisis ini kita akan mendapatkan tema narasi perumpamaan. Tema dibangun dari peristiwa dan karakter. Peristiwa di dalam narasi di atas adalah peristiwa penaburan,

pertumbuhan, dan hasil atau dampak. Karakter yang menonjol adalah karakter petani yang menabur. Jadi, tema narasi perumpamaan ini adalah penaburan yang pasti memberikan hasil atau dampak. Kata “penaburan”imenjadi karakter utama, “yang pasti memberikan”imenunjukkan peristiwa pertumbuhan yang pasti oleh karena potensi biji sesawi itu, dan “hasil atau dampak”i menunjukkan peristiwa akhir cerita.

Konsep Teologis

Berdasarkan struktur perumpamaan di atas, bagian pengajaran perumpamaan hanya terdiri atas pembukaan perumpamaan. Tema pengajaran perumpamaan adalah tema narasi perumpamaan. Tema pengajaran perumpamaan merupakan tema perumpamaan. Tema narasi perumpamaan adalah penaburan yang pasti memberikan hasil atau dampak. Tema ini sekaligus menjadi tema perumpamaan. Kerajaan Surga sama seperti penaburan yang pasti mendatangkan hasil atau dampak. Tuhan Yesus hendak mengajarkan kepada murid-murid-Nya bahwa tanpa penaburan maka tidak ada proses pertumbuhan dan hasil. Kerajaan Surga yang kecil jikalau ditabur maka pasti akan menjadi besar dan memberikan dampak. Kerajaan Surga identik dengan biji sesawi yang paling kecil namun menyimpan potensi untuk menjadi besar. Kerajaan Surga dimulai dari jumlah yang paling kecil. Penaburan Kerajaan Surga yang kecil pasti akan bertumbuh dan menjadi besar. Penaburan di dalam Matius identik dengan pewartaan tentang Kerajaan Surga. Kata σπείρω“menabur”ipaling banyak muncul (8 kali) di dalam perumpamaan tentang seorang penabur (Matius 13:3-23) selain di perumpamaan selanjutnya (2 kali di Matius 13:24-30). Kata ini memberikan makna wacana yakni usaha pewartaan tentang Kerajaan Surga kepada orang lain sehingga mereka mendengar warta tersebut. Perumpamaan ini menekankan pada aspek pewartaan yang baik sehingga potensi Kerajaan Surga dapat bertumbuh menjadi besar. Matius mengingatkan jemaatnya untuk tidak ragu mewartakan Kerajaan Surga yang masih kecil karena di balik itu ada kepastian Kerajaan Surga akan tersebar di mana-mana. Ini adalah kabar yang baik dan sekaligus memotivasi para murid Yesus dan pembaca dari jemaat asuhan Matius. Kepastian Kerajaan Surga menjadi besar dari permulaan yang sangat kecil diharapkan mendorong atau memacu mereka untuk mewartakan Kerajaan Surga. Hal yang kecil di sini bukan berarti tidak ada pertumbuhan dan hasil atau dampak, melainkan memberikan suatu kepastian akan pertumbuhan yang besar dan memberikan dampak. Kuncinya adalah pewartaan Kerajaan Surga.

(21)

Ringkasan

Perumpamaan ini mengajarkan tentang penaburan Kerajaan Surga yang pasti memberikan dampak atau hasil. Kepastian pertumbuhan memberikan dorongan kepada para murid Yesus dan jemaat asuhan Matius untuk terus mewartakan Kerajaan Surga. Perumpamaan ini memberikan suatu motivasi tersendiri kepada mereka sebagai bagian dari Kerajaan Surga yang masih kecil. Kerajaan Surga akan terus bertumbuh ketika dimulai dari penaburan yang kecil ini. Penaburan merupakan kunci atau penentu di dalam perkembangan Kerajaan Surga yang masih kecil sehingga Yesus memberikan suatu kepastian akan pertumbuhan Kerajaan Surga.

Aplikasi

(22)

Sa pel Teks

Maius :

Usaha Tra sfor asi Ya g Me bawa Hasil

Pendahuluan

Perumpamaan ragi adalah kelanjutan dari perumpamaan biji sesawi (Matius 13: 31-32). Perumpamaan ini oleh sebagian penafsir dipahami sebagai perumpamaan yang mengajarkan suatu kontras. Namun, Armand Barus melihat perumpamaan ini mengajarkan proses

transformasi yaitu perubahan secara diam-diam dan menyeluruh. Di sini, Barus menekankan aspek transformasi oleh ragi. Menurut penulis, penekanan ini boleh saja namun tidak melihat cerita perumpamaan secara menyeluruh atau komprehensif. Tulisan ini akan mencoba

meresponi dan memberikan satu tafsiran baru yang berbeda dengan Barus. Apa sebetulnya tema atau pokok pengajaran perumpamaan ini? Berikut penulis akan menganalisis perumpamaan singkat ini dengan tesis karakter dan peristiwa sebagai tema pembacaan.

Teks24

33Ἄλληνiπαραβολbνiἐλάλησενiαὐτοῖς· Ὁμοίαiἐστὶνiἡβασιλείαiτῶνiοὐρανῶνiζύμd, ἣνiλαβοῦσαiγυνb

ἐνέκρυψενiεἰςiἀλεύρουiσάταiτρίαiἕωςiοὗἐζυμώθηiὅλον.

Penelitian Naskah

Teks Matius 13:33 adalah teks Yunani yang stabil menurut UBS4 dan NA 27 karena tidak memperlihatkan adanya masalah tekstual yang memerlukan penelitian naskah.

Terjemahan Literal

33 Dia menceritakan sebuah perumpamaan lain kepada mereka, Kerajaan Surga adalah sama

seperti ragi yang seorang perempuan mengambil dan menyembunyikan di dalam empat puluh liter tepung terigu sampai tepung itu khamir seluruhnya.

Terjemahan Dinamis

33 Yesus menceritakan sebuah perumpamaan lain kepada mereka, Hal Kerajaan Surga

diumpamakan cerita berikut. Ada seorang perempuan mengambil ragi dan mengaduknya ke dalam empat puluh liter adonan tepung terigu. Kemudian seluruh adonan tersebut pun mengembang.”

Struktur Perumpamaan

Perumpamaan di atas dibagi menjadi dua bagian besar yaitu: A. Pengajaran Perumpamaan:

(23)

- Pembukaan perumpamaan: Kerajaan Surga sama seperti narasi perumpamaan B. Narasi Perumpamaan:

- Cerita yang dibangun dari peristiwa-peristiwa berikut ini: 1. Ada seorang perempuan mengambil ragi

2. Perempuan itu mengaduk ragi ke dalam 40 liter adonan tepung terigu. 3. Seluruh adonan menjadi mengembang.

Survei Pustaka25

Dalam sejarah penafsiran perumpamaan ini, fokus pada ragi sebagai pembawa pesan dan karakter perempuan mendapat perhatian dari para penafsir. Pertama, fokus pada ragi seperti tafsiran dari Jeremias, Albert Schweizer, Gundry, Hagner, Blomberg, Davies-Allison. Pada umumnya penafsir perumpamaan penabur ragi menjadikan ragi sebagai titik berangkat untuk memahami pesannya. Meski titik tolak keberangkatan berasal dari titik yang sama, mereka berakhir pada titik yang sama sekali berbeda. Sebagian besar seperti Davies-Allison, Jeremias, Hultgren, Hagner, Schnackenburg, dan Bruner melihat perumpamaan ini memuat pesan kontras, sementara yang lain seperti C. H. Dodd, Morris melihat ini sebagai tranformasi atau pertumbuhan. Bahkan ada juga yang melihat pesannya tentang kontras dan pertumbuhan seperti dari Bruner. Sementara Barus menekankan pada karakter perempuan sebagai pembawa pesan perumpamaan. Pokok ajaran perumpamaan ditelaah melalui karakter perempuan bukan pada ragi. Perempuan tersebut menyembunyikan ragi ke dalam adonan tepung. Jumlah adonan tepung relatif banyak. Proses mengkhamirkan tepung oleh ragi adalah proses alam yang tidak memerlukan campur tangan manusia. Tindakan perempuan tersebut ternyata merubah keberadaan adonan tepung menjadi khamir. Jika perempuan itu tidak menyembunyikan ragi, maka adonan tepung tidak akan mengalami apa pun. Ragi bukan bagian adonan tepung, ia harus ditabur pada adonan tepung. Proses penyembunyian ragi oleh perempuan yang menjadi fokus perumpamaan. Pesan apa yang muncul? Transformasi diam-diam dan menyeluruh. Ragi mentransformasi adonan tepung secara diam-diam dan menyeluruh.26Perumpamaan ini

mengajarkan bahwa ragi yang disembunyikan perempuan bekerja secara rahasia dan diam-diam ketika mentransformasi tepung dalam jumlah besar menjadi khamir seluruhnya. Perumpamaan ini memperlihatkan intensitas perubahan Kerajaan Allah yang bersifat holistis. Perumpamaan penabur ragi mengungkapkan perubahan menyeluruh Kerajaan Surga berlangsung secara diam-diam namun nyata. Kata kunci adalah ὅλον“menyeluruh.” Transformasi tidak kelihatan secara visual tetapi efeknya jelas terlihat. Ragi yang disembunyikan perempuan ke dalam adonan tepung sehingga mengkhamirkannya secara menyeluruh.

Analisis Narasi Perumpamaan

Tujuan menganalisis narasi perumpamaan adalah mendapatkan tema atau pokok cerita perumpamaan. Premis/tesis dalam studi perumpamaan ini adalah gabungan antara tokoh

25 Armand Barus telah melakukan sejumlah tinjauan pustaka yang komprehensif di sini. Lihat

Armand Barus, “Tersembunyi Namun Berpengaruh: Matius : ,”iDiktat Kuliah Eksposisi Perumpamaan (STTRII: 2007): 1-9.

26 Menurut penulis, pembacaan seperti ini tetap terikat pada ragi dan mengabaikan peranan tokoh

(24)

(karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)) menghasilkan tema atau pokok cerita. Analisis narasi ini akan dibagi dalam tiga tahap yaitu analisis peristiwa, tokoh dan peristiwa dan tokoh.

Analisis Peristiwa

Analisis peristiwa dilakukan dengan tiga tahap. Peristiwa awal adalah ada seorang

perempuan mengambil ragi. Selanjutnya, perempuan itu menyembunyikan atau memasukan ragi dan mengaduk ragi tersebut ke dalam 40 liter adonan tepung terigu. Tidak disebutkan berapa banyak ragi yang dimasukkan untuk adonan tepung yang cukup banyak itu. Peristiwa ini adalah puncak cerita. Terakhir, seluruh adonan tersebut kemudian menjadi khamir atau mengembang. Peristiwa ini adalah peristiwa akhir atau epilog. Secara ringkas, peristiwa di dalam cerita ini adalah peristiwa pengkhamiran adonan tepung oleh ragi.

Analisis Tokoh

Tokoh di dalam narasi perumpamaan hanya satu yaitu si perempuan. Tokoh perempuan berperan penting atau menjadi tokoh sentral di peristiwa awal dan puncak cerita dan tidak berperan sama sekali di peristiwa akhir. Ragi yang berperan penting di dalam peristiwa akhir atau proses pengkhamiran adonan. Perempuan mengambil ragi dan mengaduk ragi tersebut di dalam adonan besar dan selanjutnya ragi yang memproses adonan tersebut menjadi khamir atau mengembang. Tokoh perempuan adalah tokoh yang mengusahakan ragi itu dapat bekerja sesuai fungsinya yaitu sebagai transformator. Tokoh perempuan membawa karakter yang

mengusahakan proses transformasi oleh ragi.

Faktor tokoh perempuan dan ragi tidak dapat dipisahkan di dalam cerita. Tokoh perempuan dan ragi adalah kunci dari peristiwa transformasi atau pengkhamiran. Namun, mereka memiliki fungsi atau peranan yang berbeda. Tokoh perempuan adalah inisiator peristiwa transformasi sedangkan ragi adalah transformatornya. Tanpa inisiator dan transformator maka tidak ada proses transformasi. Semuanya itu terlibat di dalam usaha transformasi yaitu peristiwa pengkhamiran.

Analisis Tokoh dan Peristiwa

Dalam analisis ini kita akan mendapatkan tema narasi perumpamaan. Tema dibangun dari peristiwa dan karakter. Peristiwa-peristiwa di dalam cerita menunjukkan terjadinya proses pengambilan, pengolahan, dan pengkhamiran seluruh adonan tepung. Tokoh di dalam cerita adalah perempuan yang menjadi inisiator. Dia mengambil dan mengolah ragi itu ke dalam adonan besar sehingga ragi dapat bekerja mentransformasi seluruh adonan. Dia adalah tokoh yang mengusahakan proses transformasi oleh ragi. Jadi, tema narasi perumpamaan ini adalah usaha transformasi yang membawa hasil. “Usaha transformasi”imerupakan karakter utama tokoh perempuan. “Yang membawa hasil”imerupakan peristiwa awal sampai akhir yang menunjukkan bahwa peran ragi sebagai transformator.

Konsep Teologis

(25)

perumpamaan. Tema pengajaran perumpamaan merupakan tema perumpamaan. Tema narasi perumpamaan adalah penaburan yang pasti memberikan hasil atau dampak. Tema ini sekaligus menjadi tema perumpamaan. Kerajaan Surga sama seperti usaha transformasi yang membawa hasil. Apa maksudnya? Tuhan Yesus hendak menjelaskan kepada orang banyak dan murid-murid-Nya bahwa rahasia Kerajaan Surga adalah usaha memberikan pengaruh atau perubahan pada dunia. Jemaat sebagai warga Kerajaan Surga adalah inisiator dari perubahan tersebut. Jemaat yang mengusahakan perubahan pada dunia. Jemaat menjadi ujung tombak Kerajaan Surga untuk mengubah dunia. Hal keberhasilan perubahan bukanlah urusan atau peran jemaat melainkan peran kuasa Allah di dalamnya. Peran jemaat adalah mengusahakan tranformasi terjadi pada setiap orang sehingga peran kuasa Kerajaan Allah dapat bekerja secara maksimal dan menyeluruh mengubahnya dari dalam. Transformasi oleh kuasa Allah akan terjadi atau bekerja jikalau setiap jemaat menjalankan peran mereka secara baik. Tanpa peran jemaat maka tidak ada tranformasi pada dunia. Hal yang sangat tepat ditulis oleh Barus bahwa, “Orang Kristen harus menyatu dengan dunia bila ingin merubah dunia secara menyeluruh. Menjadi Kristen berarti tidak memisahkan diri dari dunia atau mengasingkan diri ke padang gurun membentuk komunitas eksklusif. Menjadi Kristen berarti berada di dalam dunia untuk mentransformasi dunia.”27

Ringkasan

Perumpamaan ini mengajarkan bahwa peran jemaat adalah usaha memberikan pengaruh dan perubahan pada dunia sehingga kuasa Allah dapat bekerja secara menyeluruh pada dunia. Ini adalah proses transformasi Kerajaan Surga di dunia. Tuhan Yesus hendak menekankan bahwa Kerajaan Surga hadir di dunia adalah mentransformasi dunia melalui peran para murid-Nya.

Aplikasi

Peran jemaat sebagai murid Kristus adalah menjadi inisiator transformasi. Jemaat adalah murid Kristus yang harus menjalankan misi Kerajaan Allah yaitu menjadi bagian dari proses transformasi dunia. Apa peran konkret di sini? Dalam konteks Matius, jelas diajarkan bersaksi yaitu menjadikan murid segala bangsa (28:19). Kesaksian adalah pemuridan demikian menurut Barus.28 Memuridkan orang lain tentu harus dimulai dari diri kita sendiri. Mengusahakan

perubahan pada dunia harus mulai dari setiap jemaat. Setiap jemaat adalah agen perubahan dan menjadi kesaksian bagi dunia. Dan harus diingat bahwa kesaksian yang tidak baik tentu akan menghambat kerja kuasa Allah pada dunia. Kesaksian yang memuridkan adalah menonjolkan sikap hidup seperti Kristus. Jika di perumpamaan sebelumnya menekankan pewartaan Kerajaan Surga, maka pada bagian ini dilanjutkan dengan penekanan sikap hidup seperti warga Kerajaan Surga. Aspek pewartaan dan kesaksian hidup harus berjalan bersamaan.

(26)

Sa pel Teks

Maius :

Ke a pua Me ilih & Me dapatka

Pendahuluan

Perumpamaan harta terpendam adalah perumpamaan yang khusus disampaikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Perumpamaan ini oleh sebagian besar penafsir dipahami sebagai pengajaran tentang pengurbanan besar karena fokus pembacaan diarahkan pada penjualan seluruh harta milik. Namun, Armand Barus melihat perumpamaan ini mengajarkan sukacita dan komitmen total dengan fokus bacaan pada karakter penemu harta terpendam. Permasalahan tafsiran terletak pada arah atau fokus pembacaan. Arah pembacaan yang

menonjolkan satu sisi cerita tentu akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda dan tidak utuh. Bagaimana seharusnya arah pembacaan perumpamaan ini? Pembacaan berikut ini bukan hanya menonjolkan sisi karakter tapi juga sisi peristiwa awal hingga akhir cerita. Tulisan ini mencoba untuk meresponi dan memberikan satu tafsiran baru yang berbeda dengan Barus. Berikut analisis perumpamaan ini dengan tesis karakter dan peristiwa sebagai pembawa tema perumpamaan.

Teks29

44Ὁμοίαiἐστὶνiἡβασιλείαiτῶνiοὐρανῶνiθησαυρῷκεκρυμμένῳἐνiτῷἀγρῷ, ὃνiεὑρὼνiἄνθρωποςiLκρυψεν,i

καὶἀπὸτcςiχαρᾶςiαὐτοῦὑπάγειiκαὶπωλεῖπάνταiὅσαiLχειiκαὶἀγοράζειiτὸνiἀγρὸνiἐκεῖνον.

Penelitian Naskah

Teks Matius 13:44 adalah teks Yunani yang stabil menurut UBS4 dan NA 27 karena tidak memperlihatkan adanya masalah tekstual yang memerlukan penelitian naskah.

Terjemahan Literal

44 Kerajaan Surga adalah sama seperti harta yang terpendam di ladang, yang seseorang temukan

dan memendamkannya lagi, kemudian karena sukacitanya dia pergi dan menjual semua harta yang dia miliki dan membeli ladang itu.

Terjemahan Dinamis

44 Hal Kerajaan Surga itu diumpamakan seperti cerita berikut. Ada harta yang terpendam di

ladang. Kemudian seseorang menemukan harta tersebut dan memendamkannya lagi. Dia sangat bersukacita dan pergi menjual semua harta miliknya untuk membeli ladang tersebut.

(27)

Struktur Perumpamaan

Perumpamaan di atas dibagi menjadi dua bagian besar yaitu: A. Pengajaran Perumpamaan:

- Pembukaan perumpamaan: Kerajaan Surga sama seperti narasi perumpamaan B. Narasi Perumpamaan:

- Cerita yang dibangun dari peristiwa-peristiwa berikut ini: 1. Ada harta terpendam di ladang.

2. Ada orang yang menemukannya.

3. Si penemu harta memendamkan harta tersebut. 4. Si penemu harta bersukacita atas kejadian tersebut. 5. Si penemu harta pergi.

6. Si penemu harta menjual seluruh apa yang dimilikinya. 7. Si penemu harta membeli ladang itu.

Survei Pustaka30

Perumpamaan mengandung narasi yang sederhana. Namun, ada berbagai macam tafsiran yang muncul di balik cerita ini. Ada yang memfokuskan pada harta terpendam di ladang

(Julicher, Blomberg); sukacita sang penemu harta tersebut (Jeremias, Schweizer); karakter si penemu harta (Barus); penjualannya (Gundry, Hultgren, Craig Keener, Hagner, J. Linnemann, Kingsbury); sukacita dan penjualannya (R. Schnackenburg, F. D. Bruner); harta dan

penjualannya (David Wenham, Davies-Allison).

Menurut Barus, fokus perumpamaan terletak pada karakter penemu harta. Berdasarkan tesis karakter sebagai pembawa pokok ajaran, maka tema perumpamaan penemu harta

tersembunyi melekat pada karakter penemu harta. Karakter penemu harta adalah sukacita dan komitmen atau penyerahan total. Tindakannya untuk memiliki harta yang begitu bernilai terlihat penuh dan tanpa keraguan. Ia menyembunyikan kembali harta tersebut, menjual seluruh harta miliknya dan membeli ladang di mana harta tersembunyi. Semua tindakan tersebut dilakukan dengan sukacita. Pesan perumpamaan adalah penyerahan total dalam sukacita.

Analisis Narasi Perumpamaan

Tujuan menganalisis narasi perumpamaan adalah mendapatkan tema atau pokok cerita perumpamaan. Premis/tesis dalam studi perumpamaan ini adalah gabungan antara tokoh (karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)) menghasilkan tema atau pokok cerita. Analisis narasi ini akan dibagi dalam tiga tahap yaitu analisis peristiwa, tokoh dan peristiwa dan tokoh.

Analisis Peristiwa

Dalam analisis peristiwa dimulai dari peristiwa awal sampai akhir. Peristiwa awal meliputi ada harta terpendam di ladang dan seseorang menemukannya. Peristiwa awal ini terus berlanjut

30 Armand Barus telah melakukan sejumlah tinjauan pustaka yang komprehensif di sini. Lihat

(28)

pada konflik atau puncak cerita yaitu si penemu harta menyimpan kembali harta itu, kemudian dia pergi dan menjual seluruh harta miliknya. Dan peristiwa akhir atau epilognya adalah si penemu harta membeli ladang itu dan mendapatkan harta tersebut.

Analisis Tokoh

Tokoh dalam cerita ini hanya satu yaitu si penemu harta terpendam. Karakter seperti apa yang melekat pada tokoh tersebut? Perhatikan apa yang dilakukan oleh tokoh dalam peristiwa-peristiwa di atas. Sang tokoh menemukan suatu harta terpendam di sebuah ladang. Tidak diceritakan cara dia bisa menemukan harta tersebut. Hal ini tidak menjadi persoalan penting dalam analisis tokoh. Hal yang menarik adalah pada peristiwa puncak. Dia menjual seluruh harta miliknya untuk mendapatkan harta terpendam itu. Ada perbandingan dan pertimbangan antara harta terpendam dan harta seluruh milik tokoh itu. Namun, tokoh ini mampu memilih atau membedakan harta mana yang lebih berharga. Dia memiliki kemampuan untuk membedakan bahwa harta terpendam adalah harta yang lebih berharga daripada seluruh harta miliknya. Bukan hanya kemampuan memilih, dia juga memiliki kemampuan mendapatkan harta

terpendam tersebut. Dia memendam harta itu kembali, dia pergi dan menjual seluruh hartanya, dan dia membeli ladang itu untuk mendapatkan harta tersebut.

Analisis Peristiwa dan Tokoh

Dalam analisis ini kita akan mendapatkan tema cerita atau narasi perumpamaan. Tema dibangun dari peristiwa dan karakter. Peristiwa awal sampai akhir adalah ada harta terpendam yang ditemukan dan didapatkan oleh tokoh. Karakter dari tokoh adalah kemampuan memilih sesuatu yang lebih berharga dan mendapatkannya. Jadi, tema cerita ini adalah kemampuan memilih dan mendapatkan harta yang lebih berharga.i“Kemampuan”imencerminkan karakter utama tokoh di dalam cerita. “Memilih dan mendapatkan harta yang lebih berharga”imerupakan peristiwa awal hingga akhir cerita.

Konsep Teologis

(29)

Ringkasan

Rahasia Kerajaan Surga bagi jemaat adalah memilih atau memprioritaskan hal Kerajaan Surga sebagai hal yang paling utama dan berharga dan keputusan untuk mendapatkannya dengan usaha total adalah langkah paling penting. Kemampuan memilih yang paling berharga harus disertai kemampuan mendapatkannya dengan usaha total.

Aplikasi

Tuhan Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya mengenai dua hal yaitu pertama orang percaya harus memiliki kemampuan membedakan hal yang lebih berharga. Kedua, bukan hanya kemampuan memilih atau membedakan mana lebih berharga, tetapi dituntut juga memiliki kemampuan mendapatkan yang lebih berharga tersebut. Kemampuan mendapatkan yang lebih berharga menuntut para murid Tuhan untuk berusaha total. Tanpa itu maka tidak akan ada hal yang akan dicapai. Apa bentuk usaha total yang harus dijalankan? Salah satu bentuknya adalah masalah finansial. Murid yang tidak memprioritaskan finansial membuktikan bahwa Kerajaan Surga tidak hanya merupakan prioritas utama dalam hidupnya, juga menyatakan bahwa Kerajaan Surga lebih bernilai dari segala sesuatu yang dimilikinya (6:24). Pemilikan Kerajaan Surga menyebabkan kekayaan, harta dan properti dan segala sesuatunya menjadi tidak berharga. Untuk Kerajaan Surga tidak ada yang tidak rela dikurbankannya. Peristiwa orang muda kaya dalam 19:16-22 merupakan ilustrasi konkrit tuntutan penyerahan finansial untuk memiliki Kerajaan Surga.31

(30)

Sa pel Teks

Maius :

-Ke a pua Meraih -Kese pata Pali g Berharga

Pendahuluan

Perumpamaan mutiara yang paling berharga adalah kelanjutan dari perumpamaan harta terpendam yang khusus disampaikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Perumpamaan ini oleh sebagian besar penafsir dipahami sebagai pengajaran tentang komitmen total. Armand Barus juga melihat perumpamaan ini mengajarkan komitmen atau penyerahan total karena fokus pembacaan diarahkan pada karakter pedagang mutiara. Menurut penulis, karakter pedagang mutiara bukanlah komitmen atau penyerahan total melainkan kemampuan pedagang

menangkap atau meraih kesempatan langka yang berharga. Narasi perumpamaan ini mengajarkan kemampuan seperti apa yang dimiliki pedagang untuk meraih kesempatan tersebut. Pembacaan berikut ini bukan hanya menonjolkan sisi karakter tapi juga sisi peristiwa awal hingga akhir cerita. Tulisan ini mencoba untuk meresponi dan memberikan satu tafsiran baru yang berbeda dengan Barus. Berikut analisis perumpamaan ini dengan tesis karakter dan peristiwa sebagai pembawa tema perumpamaan.

Teks32

45 Πάλινiὁμοίαiἐστὶνiἡβασιλείαiτῶνiοὐρανῶνiἀνθρώπῳἐμπόρῳζητοῦντιiκαλοὺςiμαργαρίτας·46 εὑρὼνiδὲ

ἕναiπολύτιμονiμαργαρίτηνiἀπελθὼνiπέπρακενiπάνταiὅσαiεἶχενiκαὶSγόρασενiαὐτόν.

Penelitian Naskah

Teks Matius 13:45-46 adalah teks Yunani yang stabil menurut UBS4 dan NA 27 karena tidak memperlihatkan adanya masalah tekstual yang memerlukan penelitian naskah.

Terjemahan Literal

45 Lagi Kerajaan Surga adalah sama seperti seorang pedagang mencari mutiara-mutiara bagus. 46

Ketika dia menemukan satu mutiara yang sangat berharga, dia pergi menjual seluruh yang dia miliki dan membeli mutiara itu.

Terjemahan Dinamis

45 Selain itu, hal Kerajaan Surga diumpamakan seperti cerita berikut. Ada seorang pedagang

mencari mutiara-mutiara bagus. 46 Selanjutnya, di tengah pencarian dia menemukan satu

mutiara yang sangat berharga. Dia memutuskan untuk menjual seluruh hartanya dan membeli mutiara tersebut.

(31)

Struktur Perumpamaan

Perumpamaan di atas dibagi menjadi dua bagian besar yaitu: A. Pengajaran Perumpamaan:

- Pembukaan perumpamaan: Kerajaan Surga sama seperti narasi perumpamaan B. Narasi Perumpamaan:

- Cerita yang dibangun dari peristiwa-peristiwa berikut ini: 1. Ada seorang pedagang mencari mutiara-mutiara bagus.

2. Di tengah pencarian, dia menemukan satu mutiara yang sangat berharga 3. Dia memutuskan untuk menjual seluruh hartanya.

4. Dia membeli mutiara tersebut.

Survei Pustaka33

Pada umumnya ada dua macam cara penafsiran terhadap perumpamaan ini. Pertama, sebagian penafsir memfokuskan pada mutiara (Davies-Allison, Simon Kistemaker). Kerajaan surga diidentikkan dengan mutiara sangat berharga. Untuk memperoleh Kerajaan Surga ada harga yang harus dibayar. Kedua, sebagian lagi memfokuskan pada pedagang (Jeremias, Gundry, Hultgren, Keener, Wenham, Barus). Biasanya tindakan pedagang menjual seluruh miliknya dipahami sebagai pengurbanan. Tindakan menjual seluruh harta miliknya untuk mendapatkan apa yang ditemukan dipahami sebagai suatu pengurbanan. Barus menyatakan mencari mutiara adalah hal biasa, menemukan mutiara indah merupakan hal tidak biasa. Sehingga menemukan mutiara yang sangat berharga adalah hal luar biasa. Menjual seluruh milik lebih tidak biasa lagi. Inilah alasan mengapa fokus pembacaan terarah pada tindakan pedagang yang menjual seluruh milik. Dengan memperhitungkan tindakan pedagang yang sepenuh hati dan tanpa lelah mencari mutiara berharga dan kemudian dengan sepenuh hati memilikinya, maka tema komitmen lebih tepat menggambarkan pesan perumpamaan. Komitmen total atau penyerahan total. Inilah pesan perumpamaan pedagang mutiara.34

Analisis Narasi Perumpamaan

Tujuan menganalisis narasi perumpamaan adalah mendapatkan tema atau pokok cerita perumpamaan. Premis/tesis dalam studi perumpamaan ini adalah gabungan antara tokoh (karakter) dan peristiwa (prolog (mulai cerita) – konflik (puncak/perumitan cerita) – epilog (akhir cerita)) menghasilkan tema atau pokok cerita. Analisis narasi ini akan dibagi dalam tiga tahap yaitu analisis peristiwa, tokoh dan peristiwa dan tokoh.

Analisis Peristiwa

Dalam analisis peristiwa dimulai dari peristiwa awal sampai akhir. Peristiwa awal meliputi ada seorang pedagang mencari mutiara-mutiara bagus. Peristiwa awal atau prolog ini terus berlanjut pada konflik atau puncak cerita yaitu ketika dalam pencarian, si pedagang menemukan

33 Armand Barus telah melakukan sejumlah tinjauan pustaka yang komprehensif di sini. Lihat

artikel Armand Barus, “Keutamaan Hidup Manusia: Matius 13:45- ,”iDiktat Kuliah Eksposisi Perumpamaan (2007): 3-6.

(32)

satu mutiara yang sangat berharga, kemudian dia pergi dan memutuskan menjual seluruh harta miliknya. Dan peristiwa akhir atau epilognya adalah si pedagang membeli mutiara tersebut.

Analisis Tokoh

Tokoh dalam cerita ini hanya satu yaitu si pedagang mutiara. Karakter seperti apa yang melekat pada tokoh tersebut? Perhatikan apa yang dilakukan oleh tokoh dalam peristiwa-peristiwa di atas. Seorang pedagang mutiara menjalankan mata pencaharian dengan mencari mutiara-mutiara dari satu tempat ke tempat lain. Mutiara-mutiara yang diperoleh akan dijual untuk mendapatkan keuntungan tentunya. Mencari mutiara di berbagai tempat adalah pekerjaan utama/seharian seorang pedagang. Namun ketika dia mencari dan menemukan ada satu mutiara sangat berharga yang berbeda dengan mutiara lainnya. Itu adalah sebuah kesempatan dan dia mampu berjuang meraih kesempatan itu. Karakter utama dari tokoh si pedagang mutiara ini adalah dia memiliki kemampuan meraih kesempatan paling berharga. Hal ini dapat dilihat diakhir peristiwa, dia mendapatkan mutiara tersebut dengan cara menjual seluruh hartanya dan membeli mutiara itu. Menjual seluruh hartanya merupakan kemampuan paling penting untuk meraih kesempatan langka tersebut.

Analisis Peristiwa dan Tokoh

Dalam analisis ini kita akan mendapatkan tema narasi perumpamaan. Tema dibangun dari peristiwa dan karakter. Peristiwa awal sampai akhir adalah seorang pedagang mutiara mencari mutiara – mutiara berharga, menemukan 1 mutiara paling berharga, dan meraih 1 mutiara tersebut. Karakter dari tokoh adalah kemampuan meraih kesempatan paling berharga. Jadi, tema cerita ini adalah kemampuan meraih kesempatan paling berharga yang membawakan hasil.

“Kemampuan meraih kesempatan paling berharga”imerupakan karakter utama tokoh di dalam cerita dan “membawakan hasil”imerupakan peristiwa awal hingga akhir di dalam cerita.

Konsep Teologis

Berdasarkan struktur di atas, bagian pengajaran perumpamaan hanya terdiri atas

pembukaan perumpamaan tanpa ada penjelasan perumpamaan. Tema pengajaran perumpamaan adalah tema narasi perumpamaan. Tema pengajaran perumpamaan merupakan tema

perumpamaan. Tema narasi perumpamaan adalah kemampuan meraih kesempatan paling berharga. Tema ini sekaligus menjadi tema perumpamaan. Kerajaan Surga sama seperti kemampuan menangkap atau meraih kesempatan paling berharga. Tema ini melengkapi tema perumpamaan sebelumnya (Mat 13:44). Tema perumpamaan sebelumnya menekankan

kemampuan memilih dan mendapatkan sesuatu yang lebih berharga. Tema perumpamaan bagian ini menekankan kemampuan memanfaatkan setiap kesempatan berharga yang muncul. Kerajaan Surga adalah harta dan kesempatan yang paling berharga dari semua hal apapun di dunia. Jadi, kedua perumpamaan ini pada intinya mengajarkan setiap umat harus memiliki kemampuan membedakan dan menangkap hal yang paling berharga.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis data menggunakan teknik analisis konten dan dilakukan beberapa langkah, yaitu: (1) mengumpulkan data berupa karya siswa, (2) mengidentifikasi kesalahan baik

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menyertai serta memberikan berkat dan rahmat sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis/tugas akhir

Rita Dewi Sartika, selaku pemilik perusahaan CV Hoge Honjo yang telah mengizinkan penulis mengumpulkan data yang diperlukan dalam menyelesaikan laporan akhir ini. Semua

Segala Puji Syukur yang tidak ada hentinya penulis haturkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat, bimbingan dan penyertaanNya yang selalu baru setiap pagi, sampai pada

Misalnya p elaksanaan Pembacaa Yasin hari jum’at pagi dimana semua petugas diserahkan kepada kelas yang bertugas dari yang membawakan acara (MC) dengan

Film produksi Alenia Picture menjadi menarik untuk diteliti dikarenakan mencoba menggambarkan suku Papua dalam sebuah pandangan yang lain, yang berbeda dari gambaran

di Kahyangan Jagat Luhur Natar Sari semua masyarakat Desa Apuan menerima dengan baik masyarakat dari luar untuk sekedar berisitirat dirumah mereka.Hubungan yang harmonis

Hasil penelitian menampilkan alur awal, alur tengah dan alur akhir sesuai dengan teori Tzvetan Todorov serta terdapat empat belas scene yang ditemukan dalam film Noktah Merah Perkawinan