• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Struktur Perilaku dan Kinerja I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Struktur Perilaku dan Kinerja I"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

i

Analisis Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri

Taksi di Provinsi Banten

(Analysis of Structure, Conduct, and Performance Taxi Industry in Banten Province)

Tugas ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas

Mata Kuliah Ekonomi Industri

Dosen Pengampu: Bapak Sayifullah, SE., M.Akt.

Disusun Oleh:

EDWIN RONALDO (NIM. 5553121723)

MUHAMMAD IRHAM FADEL (NIM. 5553121884)

SYINTIA DWI ANGGRAENI (NIM. 5553121735)

Kelas : V F/ 5F

2014

JURUSAN ILMU EKONOMI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena, atas berkat dan kehendak-Nyalah paper ini dapat selesai tepat pada waktunya.

Dalam penulisan paper ini penulis menemukan banyak kesulitan, terutama keterbatasan mengenai penguasaan Ilmu Ekonomi Industri. Tetapi berkat bimbingan yang diberikan oleh berbagai pihak akhirnya penulis pun dapat menyelesaikan paper ini. Karena itu penulis turut mengucapkan terima kasih kepada:

Dosen Ilmu Ekonomi Industri, Bapak Sayifullah, SE., M.Akt., yang telah memberikan izin untuk mengkaji variabel ekonomi industri.

 Ayah dan Ibu penulis tersayang yang telah memberikan dukungan atau motivasi secara moral, spiritual, dan materil.

Penulis menyadarai bahwa paper ini masih ditemukan banyak kekurangan. Maka, kritik dan saran dirasakan sangat dibutuhkan untuk kemajuan penulis di masa yang akan datang.

Penulis berharap, agar dengan adanya paper ini, dapat berguna bagi semua Mahasiswa yang mengikuti Mata Kuliah Ekonomi Industri khususnya mahasiswa/i Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Serang, 22 Oktober 2014

(3)

iii

2.1.3 Approach Structure, Conduct, and Performance ... 11

2.1.3.1 Pendekatan SCP ... 11

2.1.3.2 Pengertian Structure, Conduct, dan Performance .... 12

2.1.3.3 Hubungan antara Structure, Conduct, dan Performance. ... 31

2.1.4 Efficiency Structure Hypothesis ... 32

2.2 Penelitian Terdahulu ... 33

BAB III DATA PENELITIAN ... 35

3.1 Data Mengenai Industri Taksi di Provinsi Banten Tahun 2013: ... 35

BAB IV PEMBAHASAN ... 37

4.1 Analisis Struktur Industri Taksi ... 37

4.1.1 Jumlah Perusahaan Taksi... 37

4.1.2 Pangsa Pasar ... 38

4.1.3 Barrier to Entry di Industri Taksi ... 39

4.2 Perilaku Perusahaan Industri Taksi ... 39

4.3 Kinerja Perusahaan Industri Taksi ... 42

BAB V PENUTUP ... 55

5.1 Kesimpulan ... 55

(4)

iv

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Tipe-Tipe Struktur Industri... 14

Tabel 2. 2 Variabel Pengukur Perilaku ... 30

Tabel 3. 1 Data Industri Taksi di Provinsi Banten Tahun 2013. ... 35

Tabel 4. 1 Data Perusahaan Taksi di Provinsi Banten ... 37

Tabel 4. 2 Daftar Pangsa Pasar ... 38

(5)

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Kurva Hubungan Total Produksi (TP), Produksi Rata-Rata (AP) dan

Produksi Marginal (MP) ... 6

Gambar 2. 2 Kurva Biaya Total Jangka Pendek ... 7

Gambar 2. 3 Kurva Biaya dalam jangka Panjang ... 8

Gambar 2. 4 Hubungan antara Structure Conduct Performance ... 12

Gambar 2. 5 Kurva Biaya Jangka Pendek dan Jangka Panjang Persaingan Monopolistik ... 17

Gambar 2. 6 Kurva Pembeli yang Bersaing ... 18

Gambar 2. 7 Kurva Pembeli dalam Pasar Monopsony ... 18

Gambar 2. 8 Kurva Permintaan Pasar Monopoli dan Pasar Monopsoni ... 19

Gambar 2. 9 Kerugian Bobot Mati dari Kekuatan Monopsoni ... 20

(6)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Apabila kita mendengar kata taksi maka yang timbul dipikiran setiap orang adalah angkutan umum yang cara pembayarannya berbeda dengan kendaraan umum lain seperti bus, metromini, bajai ,dll. Cara membayar taksi sesuai dengan argometer yang tertera pada taksi itu atau dengan kata lain kita membayar sesuai dengan jauh dekatnya jarak yang kita tempuh. Sangat banyak taksi yang terdapat di indonesia contoh: Bluebird taxi, taksi koperasi, taksi express dan lain sebagainya. Tapi tahukah kalian bagaimana awal ditemukannya taksi?

Seperti yang kita ketahui bahwa taksi adalah alat kendaraan bermotor yang menggunakan mesin. Tapi ternyata sebelum dunia mengenal yang namanya mesin, taksi sudah jauh ditemukan oleh Nicholas Sauvage pada tahun 1640 di Paris. Tapi yang berbeda adalah taksi yang ditemukan oleh Nicholas Sauvage menggunakan bantuan kuda. Cara bayarnya pun sama dengan taksi yang ada di jaman sekarang, besar kecilnya pembayaran taksi jaman tersebut juga tergantung jauh dekatnya jarak yang ditempuh. Ada yang menggunakan alat ukurnya sesuai dengan bola yang jatuh sepanjang perjalanan, lalu kejatuhan bola ini dibuat dengan interval yang sama dan diakhir perjalanan tinggal menghitung saja bola yang jatuh lalu dikalikan dengan tarifnya.

(7)

2

Taximeter atau lebih dikenal dengan nama argometer pada awalnya di pasang di luar kabin, tepat diatas sisi pengemudi. Untuk memudahkan, alat itupun dipindahkan ke dalam kabin, lalu di tahun 1980-an kemajuan teknologi pun mengubah alat tersebut menjadi alat yang berbasis elektronik dan digital, seperti yang sekarang dirasakan oleh masyarakat banyak.

Di Indonesia taksi pertama kali masuk pada tahun 1930 an pada masa kolonial Belanda melalui Batavia (Jakarta). Tidak banyak jumlah taksi pada masa tersebut, hanya sekitar puluhan dan hanya orang-orang tertentu saja yang naik taksi ini (orang Belanda) sehingga taksi ini menjadi ukuran status sosial. Sistem taksi pada saat itu sangat tertib, supir hanya boleh menaikan dan menurunkan penumpang pada tempat tertentu (terminal taksi).

Perkembangan taksi yang terus berkembang, membuat kebutuhan akan taksi semakin meningkat. Pada tahun 1971 untuk pertama kalinya taksi diresmikan sebagai angkutan umum di Jakarta oleh Ali Sadikin yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Untuk dapat membentuk Badan Usaha pertaksian dibutuhkan minimal 100 armada mobil baru. Jakarta sebagai kota metropolitan dan pusat perekonomian membutuhkan sebuah sarana transportasi yang memadai.

Hingga kini perkembangan taksi di Indonesia sudah sangat berkembang. Bahkan kini sudah banyak operator penyedia taksi di Indonesia dan tersebar disebagian kota besar di Indonesia. Bahkan banyak fasilitas yang diberikan seperti Taxi Order atau pesan taksi dan aneka fasilitas pilihan mobil yang eksklusif.

Dengan melihat perkembangan industri taksi yang signifikan terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi, hal tersebut merupakan peluang pasar yang perlu diamati lebih dalam oleh semua pihak baik Pemerintah, maupun Swasta. Dengan semakin berkembangnya zaman, permintaan akan transportasi darat yang bersifat aman, nyaman, ekslusif dan tepat waktu sangat diimpikan oleh setiap masyarakat. Sehingga hal tersebut menjadi peluang yang besar untuk industri taksi, yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

(8)

3

Provinsi Banten yang dapat membantu pengambil kebijakan dalam mendesain kebijakan yang sesuai dengan pendekatan Struktur, Prilaku, dan Kinerja, serta membantu pengembangan penelitian analisis faktor permintaan taksi di masa yang akan datang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam paper ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana struktur pasar Industri Taksi di Provinsi Banten?

2. Bagaimana prilaku perusahaan dalam Industri Taksi di Provinsi Banten? 3. Bagaimana kinerja perusahaan dalam Industri Taksi di Provinsi Banten?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui dan memahami pentingnya Industri Taksi dalam percepatan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Banten.

2. Untuk mengetahui perusahaan – perusahaan yang terlibat dalam industri Taksi di Provinsi Banten.

3. Untuk mengetahui struktur pasar , perilaku dan kinerja perusahaan dalam Industri Taksi di Provinsi Banten.

(9)

4

BAB II

KAJIAN LITERATUR

2.1 Kajian Pustaka

Tinjauan pustaka di dalam penelitian ini akan digunakan sebagai acuan atau landasan teori untuk penyusunan kerangka pemikiran teoritisnya. Teori yang digunakan yaitu sebagai berikut:

2.1.1 Teori produksi

Tati SJ dan Fathorrozi (2003) menyatakan bahwa produksi merupakan hasil akhir dari proses atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input. Hubungan teknis antara input dan output tersebut dalam bentuk persamaan, tabel atau grafik merupakan fungsi produksi (salvatore, 1994). Sehingga fungsi produksi dapat didefinisikan sebagai suatu persamaan yang menunjukkan jumlah maksimum outpout yang dihasilkan dengan kombinasi output tertentu (Ferguson dan Gould, 1975). Pada umumnya terdapat dua pengertian mengenai produksi, yaitu pengertian produksi secara ekonomis dan produksi secara teknis/fisik. Secara ekonomis produksi didefinisikan sebagai kegiatan untuk menaikkan nilai tambah pada suatu barang, baik melalui penambahan guna bentuk (formutility), guna waktu (time utility) dan guna tempat (place utility). Sedangkan secara teknis/fisik, produksi didefinisikan sebagai hubungan anatar faktor- faktor produksi yang disebut input dengan hasil produksi yang disebut output (Sudarsono, 1984).

Dengan beberapa definisi tersebut maka hubungan antara input dan output dalam proses produksi tersebut dapat diformulasikan dalam sebuah fungsi produksi yang menurut Soekartawi (2003) dinyatakan bahwa fungsi produksi adalah hubungan fisik antara variabel yang dijelaskan (Y) dan variabel yang menjelaskan (X) dimana variabel yang dijelaskan biasanya berupa output dan variabel yang menjelaskan biasanya berupa input dan secara matematis hubungan tersebut dapat ditulis sebagai berikut :

(10)

5

Dimana dengan fungsi produksi seperti tersebut diatas, maka hubungan Y dan X dapat diketahui dan sekaligus hubungan Xi,…..Xn serta X lainnya juga dapat diketahui. Sedangkan menurut Nicholson (2000) dapat ditulis dalam bentuk matematis sebagai berikut:

= , , , …

Dimana :

Q = Output yang dihasijkan pada periode waktu tertentu K = penggunaan modal (Kapital)

T = Jam Masukan (Tenaga Kerja)

M = Bahan mentah yang dipergunakan (Material)

… = Berbagai kemungkinan digunakannya input yang lain.

(11)

6

Sumber: Soekartawi, 2003.

Gambar 2. 1 Kurva Hubungan Total Produksi (TP), Produksi Rata-Rata (AP) dan Produksi Marginal (MP)

Gambar diatas dapat menjelaskan bahwa terdapat 3 (tiga) daerah produksi, yaitu :

a) Daerah I : Daerah pada saat produksi marginal (MP) lebih besar dari pada produksi rata-rata (AP) dan daerah ini tidak rasional sehingga penggunaan input belum mencapai efisiensi (optimal) karena secara ekonomis produksi masih dapat ditingkatkan.

b) Daerah II : Daerah yang dimulai dari titik AP maksimum (AP=MP) sampai dimana MP=0 dengan elastisitas produksi antara 0 dan 1. Daerah ini merupakan daerah rasional bagi produsen dan efisiensi teknis tercapai yaitu pada saat MP memotong kurva AP maksimum.

c) Daerah III : Daerah pada saat MP negatif dengan elastisitas produksi kurang dari 0 dan daerah ini tidak rasional karena setiap terjadi penambahan input justru akan menurunkan total output sehingga terjadi inefisiensi.

(12)

7

dipromosikan dimana kurva biaya menunjukkan biaya produk minimum pada berbagai faktor input.

Tati SJ dan Fathorozi (2003) membedakan biaya menurut realitas dan sifatnya dimana dilihat dari realitasnya, biaya terdiri dari biaya eksplisit, yaitu pengeluaran yang nyata untuk membeli atau menyewa input atau faktor produksi yang diperlukan dalam proses produksi serta biaya implisit yaitu nilai dari input milik sendiri yang digunakan oleh perusahaan dalam proses produksi. Sedangkan menurut sifatnya, biaya terdiri dari 3 (tiga), pertama adalah biaya tetap, yaitu kewajiban yang harus dibayar suatu perusahaan per satu satuan waktu tertentu untuk keperluan pembayaran semua input tetap dan besarnya tidak tergantung dari jumlah produksi yang dihasilkan, kedua adalah biaya variabel, yaitu kewajiban yang harus dibayar suatu perusahaan pada waktu tertentu untuk pembayaran semua input variabel yang digunakan dalam proses produksi, ketiga adalah biaya total yang merupakan penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel dalam proses produksi. Dalam jangka pendek, jumlah satu atau lebih dari faktor produksi adalah tetap. Fungsi biaya total dalam jangka pendek dapat digambarkan pada Gambar 2.2 berikut :

Sumber: Salvatore, 1994.

Gambar 2. 2 Kurva Biaya Total Jangka Pendek

(13)

8

jangka pendek dan fungsi biaya rata-rata dalam jangka pendek dan jangka panjang tersebut dapat digambarkan pada gambar 2.3 berikut :

Sumber : Sadono Sukirno, 2003

Gambar 2. 3 Kurva Biaya dalam jangka Panjang

(14)

9

berusaha memperpanjang garis horisontal dari biaya rata-rata tersebut diantaranya dengan melakukan efisiensi.

2.1.2 Industri Taksi

Angkutan umum khususnya angkutan jalan raya di daerah perkotaan dilihat dari penggunaannya menurut Vuchic (1981) dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:

a) Pengangkut penumpang umum atau yang dikenal sebagai transit (mass transit atau mass transportation), dimana pada sistem ini angkutan umum melayani suatu rute dan jadwal yang tetap dan tersedia bagi semua penumpang dengan membayar sejumlah ongkos yang telah ditetapkan pemerintah. Adapun jenis modanya antara lain, bus, mobil penumpang, kereta api ringan dan sebagainya.

b) Angkutan sewa atau yang dikenal dengan paratransit, dimana suatu layanan angkutan yang disediakan oleh operator dan tersedia untuk siapa saja yang memenuhi syarat kontrak untuk pengangkutan (membayar sejumlah ongkos) namun masih tergantung dari tingkat kebutuhan konsumen sehingga umumnya paratransit tidak memiliki jadwal dan rute tetap karena disesuaikan dengan kebutuhan pengguna (demand responsive). Jenis moda angkutan paratransit ini antara lain taksi, dial-a-bus, rental kendaraan, ojek dan sebagainya.

Vuchic (1981) juga membedakan angkutan umum berdasarkan kapasitas daya angkutnya yang dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu :

a) Angkutan umum dengan kapasitas rendah, seperti taksi, dial-a-bus, angkutan kota;

b) Angkutan umum dengan kapasitas sedang, seperti bus reguler, bus cepat, trem;

c) Angkutan umum dengan kapasitas tinggi, seperti kereta api ringan

(15)

10

kebijakan: tarif, energi, rute/ tata ruang, fiskal/ pajak dan investasi. Angkutan umum sebagai pendukung pertumbuhan ekonomi diarahkan agar dapat melayani masyarakat secara handal dengan biaya murah namun dengan kualitas yang optimal sehingga harus dikembangkan angkutan publik yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara luas.

Selanjutnya taksi sebagai salah satu angkutan umum dinyatakan oleh Levinson dan Weant (1982) bahwa taksi adalah salah satu jenis layanan transportasi yang mempunyai karakteristik pelayanan khusus yang merupakan perpaduan antara kendaraan pribadi dan angkutan umum. Beberapa keunggulan taksi dibanding moda angkutan umum lainnya anatara lain : Mempunyai pelayanan yang bersifat door to door; dapat menjangkau semua tempat yang tidak dapat terjangkau oleh angkutan umum; waktu operasi hampir 24 jam; dapat dipanggil melalui telepon; lebih nyaman dan bersifat pribadi; lebih cepat dan aman; tepat bagi orang tua maupun penyandang cacat serta tepat untuk hal-hal darurat. Pengguna jasa taksi dilihat dari sisi sosial ekonomi juga bervariasi namun secara garis besar Levinson dan Weant (1982) mengelompokkan dalam 2 (dua) kelompok, yaitu orang yang naik taksi karena menginginkan pelayanan yang lebih baik dan orang yang naik taksi karena memang tidak mempunyai pilihan lain sepert dalam keadaan darurat/sakit, orang tua maupun para penyandang cacat.

Tujuan penggunaan jasa taksi juga beragam, dapat untuk ke tempat kerja, belanja, ke sekolah maupun untuk keperluan sosial atau keluarga. Untuk memperoleh jasa pelayanan taksi ada 3 (tiga) cara, yaitu : pesanan melalui telepon; pada beberapa kota besar, calon penumpang menunggu taksi yang lewat pada jalur khusus di sisi tempat berjalan (trotoar); pada beberapa kota telah disiapkan pangkalan taksi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas, pangkalan taksi ini umumnya berada pada impul-simpul transportasi (Bandar udara, pelabuhan, terminal, stasiun kereta api), hotel, pusat perbelanjaan ataupun tempat-tempat strategis lainnya.

(16)

11

gabungan yang besar dan memiliki permintaan yang inelastis serta mereka bekerja sama dalam penentuan harga maka perusahaan tersebut termasuk dalam tipe pasar oligopoli ketat. Dengan jumlah perusahaan yang relatif sedikit maka perusahaan taksi di kota Semarang saling tergantung dan selalu memiliki dorongan yang penuh konflik baik dalam hal bersaing maupun bekerja sama dengan para pesaing. Dalam hal ini keberadaan perusahaan taksi yang terdapat di kota Semarang bergabung dalam Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda). Melalui organisasi ini perusahan taksi di kota Semarang melakukan kesepakatan- kesepakatan guna mengendalikan dan melindungi usaha jasa taksi.

2.1.3 Approach Structure, Conduct, and Performance

2.1.3.1 Pendekatan SCP

Mason dan Bain dalam Lipczynski (2005) menjelaskan struktur pasar mempengaruhi perilaku perusahaan, dari perilaku ini akan menimbulkan strategi untuk mencapai kinerja perusahaan yang lebih baik. Dengan melihat struktur, perusahaan akan mengetahui kekuatan dari suatu perusahaan. Perusahaan akan menetapkan strategi-strategi yang sesuai dengan kekuatan perusahaan pesaing. Strategi-strategi ini yang akan mempengaruhi kinerja perusahaan. Sederhananya pendekatan SCP ini digunakan untuk mengetahui kondisi struktur dan persaingan usaha dalam suatu industri dilihat dari struktur industri, perilaku perusahaan, dan kinerja perusahaan.

(17)

12

Sumber: Talattov, 2010.

Gambar 2. 4 Hubungan antara Structure Conduct Performance

2.1.3.2 Pengertian Structure, Conduct, dan Performance

A. Structure

Teguh (2010), menjelaskan bahwa struktur pasar menunjukan karakteristik pasar, seperti elemen jumlah pembeli dan penjual, keadaan produk, keadaan pengetahuan penjual dan pembeli, serta keadaan rintangan pasar. perbedaan tersebut yang akan menetukan perilaku dan kinerja perusahaan. Lipezinski (2005), mengemukakan 4 variabel utama dalam struktur pasar yaitu :

1. Jumlah pembeli dan penjual serta besaran pangsa pasar

Variabel ini digunakan untuk mengetahui kekuatan pasar perusahaan dominan dalam suatu industri. Variabel ini dapat dilihat dari kekuatan penjualan, asset, atau karyawan yang dimiliki. Struktur pasar yang baik terjadi ketika penjual dan pembeli mempunyai kekuatan pasar yang sama.

2. Hambatan untuk masuk pasar

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh perusahaan baru yang akan memasuki suatu pasar. Hambatan atau kesulitan ini dapat diciptakan oleh perusahaan dominan. Hambatan atau kesulitan ini akan membuat perusahaan baru keluar dari suatu pasar.

3. Diferensiasi produk

Diferensiasi produk untuk menentukan perbedaan karakteristik produk dari setiap perusahaan. Perusahaan yang melakukan diferensiasi produk akan mendapatkan pangsa pasar yang lebih luas dari sebelumnya.

4. Integrasi vertikal dan diversifikasi

(18)

13

mengusai bahan baku untuk suatu produk sehingga akan menyulitkan perusahaan lain untuk mendapatkan bahan baku yang sama. Integrasi vertikal akan berdampak pada perilaku dan peforma perusahaan. Sedangkan diversifikasi adalah pemanfaatan bahan baku yang tidak terpakai. Bahan baku yang tidak terpakai dapat dibuat produk lainnya yang berbahan baku sama. Diversifikasi akan mendatangkan keuntungan yang lebih dalam pemanfaatan bahan baku.

Struktur pasar mempunyai 4 jenis utama struktur pasar (Samuelson dan Nordhaus, 1994):

a. Pasar Persaingan Sempurna

Pasar Persaingan Sempurna adalah suatu pasar dimana terdapat banyak penjual dan pembeli yang memperdagangkan produk identik, sehingga masing-masing dari mereka akan menjadi penerima harga (Mankiw, 2006). Pembeli dan penjual tidak dapat mempengaruhi harga. Harga tercipta dengan kekuatan pasar melalui permintaan dan penawaran. Hal tersebut juga disebut price takers.

b. Pasar Oligopoli

Pasar oligopoli adalah struktur pasar dimana hanya terdapat sedikit penjual, masing-masing menjual barang yang sama atau identik dengan yang lain (Mankiw, 2006). Menurut Case and Fair (2007), oligopoli adalah suatu bentuk struktur industri yang dicirikan terdapat beberapa perusahaan dominan di industri tersebut. Inti dari pasar oligopoli adalah hanya terdapat sedikit penjual. Hasilnya, tindakan salah satu penjual dalam pasar dapat mempengaruhi keuntungan penjual-penjual lain. Artinya, perusahaan-perusahaan oligopolistik saling terikat satu sama lain dengan cara yang berbeda dengan perusahaan kompetitif.

c. Pasar Monopoli

(19)

14

monopoli adalah suatu industri dengan satu perusahaan yang berproduksi dimana tidak ada barang substitusi dan ada hambatan bagi perusahaan lainnya untuk masuk ke dalam industri. Jadi pada intinya pasar monopoli adalah suatu industri yang hanya terdapat satu peusahaan di dalam industri tersebut tanpa ada pesaing. Penjual dalam pasar monopoli dapat menentukan harga karena tidak ada saingan dalam pasar.

d. Pasar Persaingan Monopolistik

Pasar Persaingan Monopolistik menurut Pindyck (2003), adalah pasar dimana perusahaan-perusahaan dapat masuk dengan bebas, yang memproduksi mereknya sendiri atau versi suatu produk yang dibedakan. Pasar persaingan monpolistik mendekati pasar persaingan sempurna. Perbedaan pasar persaingan monopolistik dan pasar persaingan sempurna terletak di produk, dimana pasar persaingan monopolistik memproduksi produk yang heterogen sedangkan pasar persaingan sempurna memproduksi produk yang homogen.

Berikut adalah tabel yang menggambarkan perbedaan antar struktur pasar :

Tabel 2. 1 Tipe-Tipe Struktur Industri

No. Tipe Ciri-ciri Contoh

(20)

15

4 Monopoli 1. Satu produsen dengan produk yang unik tanpa subtitusi 2. Sangat bisa mengendalikan

harga tetapi

3. Periklanan dan media jasa

Gas, telepon, listrik

Sumber : Dimodifikasi dari Samuelson dan Nordhaus (1994)

Selain keempat pasar utama yang dijelaskan dalam Tabel 2.1, terdapat pasar pembelian, yaitu pasar oligopsoni dan monopsoni. Pasar oligopsoni adalah pasar yang hanya mempunyai sedikit pembeli dan banyak penjual (Pindyck, 2003). Sedangkan pasar monopsoni merujuk pada suatu pasar dimana hanya ada satu pembeli (Pindyck, 2003).

Pasar oligopsoni adalah kondisi pasar dimana terdapat beberapa pembeli dengan banyak penjual dimana para pembeli mempunyai kekuatan untuk menentukan harga dengan cara bekerjasama. Para pelaku oligopsoni mendapat pasokan barang ataupun jasa dari banyak penjual. Ciri-cirinya adalah terdapat beberapa pembeli, pembeli bukan konsumen akhir tetapi pedagang pengepul/besar/eceran, barang yang dijual adalah bahan mentah, harga cenderung stabil.

Pasar monopsoni adalah pasar dengan satu pembeli dan banyak penjual. Output yang diminta oleh perusahaan monopsoni akan menekan harga dari penjual dan akan merugikan penjual. Ciri-ciri pasar monopsoni adalah hanya ada satu pembeli, adanya hambatan bagi pembeli lain untuk masuk ke dalam pasar, dan pembeli sebagai penentu harga (price maker).

(21)

16

Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai pasar persaingan monopolistik dan pasar monopsoni.

Pasar Persaingan Monopolistik

Pasar Persaingan Monopolistik menurut Pindyck (2003), adalah pasar di mana perusahaan-perusahaan dapat masuk dengan bebas, yang memproduksi mereknya sendiri atau versi suatu produk yang dibedakan. Pasar persaingan monpolistik mendekati pasar persaingan sempurna. Perbedaan pasar persaingan monopolistik dan pasar persaingan sempurna terletak di produk, dimana pasar persaingan monopolistik memproduksi produk yang heterogen sedangkan pasar persaingan sempurna memproduksi produk yang homogen. Case and Fair (2007) memberikan ciri-ciri pasar monopolistik sebagai berikut:

1. Jumlah perusahaan besar 2. Tidak ada hambatan masuk 3. Diferensisasi produk

Case and Fair (2007) menambahkan bahwa tidak ada yang dapat mempengaruhi harga dengan mengandalkan ukurannya saja, tetapi kualitas dan harga dari produk tersebut. Persaingan monopolistik dapat mencapai kekuatan perusahaan yang diinginkannya melalui diferensiasi produk dan kekuatan iklan yang akan membuat calon konsumen tertarik membeli produknya.

Pindyck (2003), menyatakan dua hal yang menyebabkan terjadinya persaingan monopolistik, yaitu:

1. Perusahaan-perusahaan bersaing dengan menjual produk yang telah terdiferensiasi.

2. Ada kemungkinan untuk masuk dan keluar secara bebas. Seperti monopoli, pada perusahaan dalam persaingan monopolistic mempunyai kurva permintaan yang ber-slope menurun (Pindyck, 2003).

(22)

17

Sumber: Pindcyk, Mikroekonomi, 2003.

Gambar 2. 5 Kurva Biaya Jangka Pendek dan Jangka Panjang Persaingan Monopolistik

Pada gambar 2.5, kurva (a) menunjukkan satu-satunya perusahaan yang membuat produk, perusahaan mempunyai laba yang ditunjukan oleh arsiran segi empat warna biru. Hal ini karena biaya rata-rata dibawah harga. Pada jangka panjang, potensi laba yang dihasilkan akan menarik minat perusahaan lainnya untuk ikut bersaing. Seperti yang digambarkan oleh kurva (b), kurva permintaan akan turun ke bawah sehingga akan membuat laba ke titik nol atau mendekati titik nol (menjadi kecil).

Pasar Monopsoni

Dengan sedikit atau satu pembeli, pembeli dapat mempengaruhi harga yang disebut kekuatan monopsoni. Kekuatan monopsoni memungkinkan pembeli membeli barang dengan harga yang lebih rendah dari harga yang seharusnya terjadi di pasar persaingan sempurna (Pindyck, 2003).

(23)

18

Biaya tambahan dengan membeli satu unit lagi unit barang disebut pengeluaran marjinal (marginal expenditure). Pengeluaran marjinal tergantung dari di pasar manakah anda berada. Jika dalam persaingan sempurna, pembeli tidak akan mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga. Dalam kasus ini berapapun jumlah yang dibeli harga akan tetap sama (Pindyck, 2003). Hal ini dapat dilihat pada gambar 2.6.

Sumber: Pindcyk, Mikroekonomi, 2003.

Gambar 2. 6 Kurva Pembeli yang Bersaing

Harga yang dibayarkan per unit adalah pengeluaran rata-rata (average expenditure) per unit dan harga tersebut sama per unit. Pembeli seharusnya membeli barang ketika nilai marjinal barang sama dengan pengeluaran marjinal barang tersebut atau di titik QM dengan harga sebesar PM.

Sekarang apabila perusahaan berada di pasar monopsoni, perusahaan tidak perlu membayar dengan harga yang berlaku di pasar. Hal ini dapat digambarkan melalui gambar kurva berikut :

Sumber: Pindcyk, Mikroekonomi, 2003.

(24)

19

Gambar 2.7 menunjukkan kurva penawaran pasarnya adalah kurva pengeluaran rata-rata pelaku monopsoni (AE). Pengeluaran rata-rata naik sehingga kurva pengeluaran marjinal berada di atasnya. Pelaku monopsoni akan membeli barang sejumlah Q* yaitu titik potong antara nilai marjinal dan pengeluaran marjinal (MV=ME). Harga yang dibayarkan adalah harga yang ditawarkan oleh pasar yaitu sebesar P*. Pada pasar persaingan jumlah dan harga lebih besar di titik potong MV dan AE atau penawaran (S).

Perilaku pada pasar monopsoni hampir sama dengan perilaku pada pasar monopoli. Hal ini dapat digambarkan malalui gambar 2.8. :

Sumber: Pindcyk, Mikroekonomi, 2003.

Gambar 2. 8 Kurva Permintaan Pasar Monopoli dan Pasar Monopsoni

Gambar 2.8, kurva A menunjukkan permintaan dan penentuan harga dalam monopoli. Perusahaan monopoli dapat menjual barang dengan harga yang lebih tinggi (P*) daripada harga yang diminta konsumen (Ps) dengan jumlah barang yang diproduksi lebih rendah (Q*) daripada jumlah yang diminta konsumen (Qs). Hal tersebut terjadi karena perusahaan dapat menentukan jumlah yang diproduksi karena pengusaan bahan baku maupun alasan lainnya. Maka perusahaan dapat menentukan harga yang terjadi dalam pasar.

(25)

20

monopsoni membeli barang pada Q* dimana titik perpotongan ME dengan nilai tambahan (MV). Nilai tambahan adalah nilai tambah yang didapat ketika menambah satu unit yang dibeli. Sedangkan pengeluaran marjinal (ME) adalah biaya tambahan untuk membeli satu lagi unit barang. Harga yang dibayarkan per unit berada pada P* dari kurva penawaran rata-rata (AE). Harga yang ditawarkan dan jumlah yang dibeli lebih rendah dari harga dan jumlah yang dibeli pada pasar persaingan sempurna.

Biaya Sosial Kekuatan Monopsoni

Kita dapat menemukan kesejahteraan pembeli dan penjual dengan membandingkan nilai surplus konsumen dan produsen. Gambar 2.9 menggambarkan tentang keadaan surplus konsumen dan surplus produsen.

Sumber: Pindcyk, Mikroekonomi, 2003.

Gambar 2. 9 Kerugian Bobot Mati dari Kekuatan Monopsoni

(26)

21

Kerugian bobot mati adalah kerugian yang sama sekali tidak dapat diubah-ubah. Sekalipun adanya pajak dan diredistrubusikan ke petani, akan terjadi ketidakefisienan (Pindyck,2003).

Faktor yang menyebabkan monopsoni (Pindyck,2003):

Elastisitas penawaran pasar

Keuntungan yang didapat pembeli monopsoni ialah kurva penawaran yang menurun, sehingga pengeluaran marjinalnya melebihi pengeluaran rata-rata. Semakin kurang elastis kurva penawarannya, semakin besar kekuatan monopsoninya. Semakin elastis kurva penawarannya, semakin kecil kekuatan monopsoninya dan hanya sedikit keuntungan yang diperoleh.

Jumlah pembeli

Jumlah pembeli merupakan faktor penentu kekuatan monopsoni. Semakin banyak jumlah pembeli, tidak ada pembeli yang mempunyai pengaruh terhadap harga. Semakin sedikit jumlah pembeli akan semakin besar kekuatan monopsoni dan pengaruh terhadap harga.

Interaksi di antara pembeli

Apabila terdapat beberapa pembeli, interaksi menjadi faktor penentu kekuatan monopsoni. Jika semua pembeli dihadapkan pada persaingan yang ketat, maka mereka akan berlomba menaikan harga hingga mendekati harga marjinal mereka dan kekuatan monopsoni mereka akan mengecil. Jika para pembeli tidak bersaing dengan ketat, bahkan bersekongkol, maka harga yang ditawarkan tidak akan tinggi dan akan besar kekuatan monopsoni pembeli.

Rasio Konsentrasi

(27)

22

digunakan untuk mengetahui struktur pasar adalah CR4, dimana CR4 mengukur pangsa pasar dari empat perusahaan teratas yang mempunyai total asset terbanyak maupun total dari penjualan. Rumus dari CR4 adalah sebagai berikut:

� =∑ 4 ℎ × %

Metode tersebut mengacu pada penelitian Kaesti (2010). Jika rasio CR4 menunjukkan angka 50% berarti 50% pangsa pasar dimilik oleh empat perusahaan teratas. Jika lebih dari 50 mengindikasikan adanya pasar oligopoli dalam pasar, jika kurang dari 50% berarti semakin mendekati pasar persaingan monopolistik dan pasar persaingan sempurna. Nilai CR4 berkisar dari 0% sampai 100%. Semakin bertambah jumlah perusahaan maka akan semakin mengecil nilai dari CR4 nya dan semakin kompetitifnya pasar dalam industri tersebut. Variabel yang dapat digunakan untuk penghitungan rasio konsentrasi adalah nilai output, value added, jumlah tenaga kerja, dan nilai asset.

Hasil dari analisis concentration ratio dapat digambarkan sebagai berikut:

Sumber: Buzzelli dan Ma dalam Kaesti(2010) Gambar: Tipe dari Struktur Pasar

(28)

23

Pada pasar persaingan sempurna, terdapat banyak perusahaan, sehingga perusahaan tidak dapat mengendalikan harga dan pembeli dapat mengetahui informasi yang sempurna sehingga pembeli dapat mengetahui harga barang tersebut dan barang yang dijual juga homogen. Sebaliknya, dalam pasar monopoli, perusahaan dapat bebas mengendalikan harga produknya karena tidak ada perusahaan pesaing yang masuk dalam pasar. Akan tetapi pada kenyataannya jarang terjadi pasar persaingan sempurna maupun pasar monopoli, yang paling banyak adalah pasar persaingan monopolistik dan pasar oligopoli. Pasar persaingan monopolistik cenderung ke arah pasar persaingan sempurna dan pasar oligopoli cenderung ke arah pasar monopoli. Untuk mengukur struktur industri di tingkat perusahaan adalah dengan melihat concentration ratio dengan data jumlah armad. Hal ini dapat menunjukkan kekuatan yang dimiliki perusahaan taksi dalam struktur industri taksi. Kekuatan perusahaan taksi juga dapat ditunjukkan dengan apakah ada hambatan bagi pengusaha taksi untuk menjual jasa ke pedagang lain. Hambatan ini akan menurunkan kekuatan pengusaha taksi dalam menentukan harga tarif. Untuk mengukur struktur industri taksi adalah dengan melihat concentration ratio dengan data kepemilikan modal. Hal ini dapat menunjukkan kekuatan yang dimiliki pengusaha taksi dalam struktur industri taksi. Kekuatan pengusaha taksi juga dapat dilihat dari adanya hambatan yang diciptakan oleh pengusaha taksi kepada penumpang. Kekuatan pengusaha taksi dapat dilihat dari adanya ketergantungan penumpang terhadap layanan taksi.

B. Conduct

Perilaku suatu perusahaan tidak terlepas dari adanya struktur pasar suatu industri. Perilaku pasar menunjukkan strategi perusahaan dan keputusan yang diambil oleh suatu perusahaan dalam menghadapi situasi pasar. Lipczinski (2005), mengemukakan 6 variabel utama perilaku pelaku pasar (conduct) yaitu:

1. Tujuan perusahaan

(29)

24

tujuan perusahaan bukan hanya meraih profit maksimal, melainkan juga pendapatan penjualan, pertumbuhan perusahaan dan kepuasan manajerial.

2. Kebijakan harga

Kebijakan harga didasarkan pada strategi yang dilakukan oleh perusahaan saingan lainnya yang lebih besar dalam suatu struktur industri. Kebijakan harga antara lain predator pricing, price leadership, dan price discrimination. Dalam pasar oligopoli, ini penting untuk menghindari perusak harga.

3. Karakteristik produk

Karakteristik produk memberikan nilai tambah untuk bersaing dengan produk dari perusahaan dominan yang nantinya akan menentukan strategi dari perusahaan pesaing lainnya seperti strategi iklan dan pemasaran.

4. Pengembangan produk

Pengembangan produk dilakukan untuk mempertahankan pangsa pasar perusahaan. Konsumen akan merasa bosan dengan produk yang tidak berkembang dan akan mencari produk lain yang lebih inovatif. Perusahaan akan melakukan inovasi atau pengembangan produk untuk mempertahankan konsumen agar tidak pindah ke produk lain

5. Kolusi

Kerjasama antar perusahaan baik dalam hal strategi harga maupun strategi lainnya yang bertujuan membentuk penghalang bagi perusahaan baru untuk masuk ke dalam industri.

6. Merger

Penggabungan dua perusahaan atau lebih yang bertujuan memperluas pangsa pasar atau pun untuk memperkuat posisi dalam struktur pasar. Terdapat 3 tipe merger, yaitu :

Merger vertical

Dua perusahaan atau lebih dalam satu industri yang sama.

Merger horizontal

(30)

25  Merger konglomerat

Dua perusahaan atau lebih dalam industri yang berbeda. Perilaku perusahaan dapat diterangkan melalui strategi penetapan harga, strategi penetapan produk, dan strategi kerja sama.

Strategi Penetapan Harga

Dalam pasar pesaingan sempurna, harga ditentukan oleh pasar. Perusahaan tidak dapat mempengaruhi harga atau disebut pula price takers. Dalam pasar persaingan tidak sempurna (monopoli, monopsoni, oligopoli, dan oligopsoni) perusahaan dapat menentukan harga. Dalam pasar monopoli dan oligopoli dikenal adanya istilah diskriminasi harga dengan memaksimumkan keuntungan dan menciptakan suatu penghalang bagi perusahaan baru yang akan masuk ke pasar. Dalam pasar monopsoni dan oligopsoni, penetapan harga dapat dilakukan karena produsen tidak memiliki perusahaan lainnya yang membeli produk dari produsen utama. Ketergantungan terhadap perusahaan pembeli, menjadi kekuatan utama dari perusahaan monopsoni maupun oligosoni.

Strategi Kerjasama

Kerjasama merupakan salah satu perilaku perusahaan yang memaksimalkan keuntungan. Kerjasama dapat dilakukan dalam penetapan harga, penetapan jumlah produksi, dan penetapan advertising. Perilaku kerjasama ini akan mendorong perusahaan untuk menciptakan suatu pengahalang dan mempunyai kekuatan yang besar untuk menetapkan harga. Semakin solid kerjasama akan semakin mirip dengan praktek monopoli maupun monopsoni.

(31)

26

a. Kolusi

Kolusi adalah persetujuan dan kerjasama mengenai jumlah dan harga barang antara perusahaan-perusahaan dalam pasar yang sama (Mankiw, 2006). Perusahaan yang melakukan kolusi biasanya merupakan perusahaan yang sudah lama berada dalam pasar sehingga perusahaan-perusahaan yang melakukan kerjasama bisa membuat suatu penghalang bagi perusahaan baru.

Kolusi dilakukan karena suatu perusahaan akan terancam karena adanya perang harga. Untuk melindungi perusahaan agar bisa bertahan, sebagian perusahaan melakukan suatu kolusi. Kolusi akan menimbulkan suatu penghalang bagi perusahaan baru. Perusahaan baru tidak akan memiliki pangsa pasar yang sudah dimiliki oleh perusahaan yang melakukan kolusi. Maka keuntungan yang diperoleh akan lebih besar daripada persaingan bebas.

Perusahaan kolusi akan melihat perilaku perusahaan lainnya dalam menetapkan strategi. Hal ini dapat dijelaskan dengan keseimbangan nash, suatu perusahaan akan menetapkan strategi dengan melihat keuntungan atau kerugian jika menggunakan strategi yang sama atau tidak sama dengan strategi perusahaan lainnya. Hal ini menimbulkan ketergantungan antar perusahaan.

Dalam pasar monopsoni atau oligopsoni, pembeli dapat bekerjasama untuk menekan harga dari penjual. Perusahaan akan berkolusi dalam penetapan harga dan jumlah produk yang diminta. Ketika ada penetapan harga oleh pembeli, penjual tidak akan mempunyai peluang untuk menjual ke pembeli lain. Penjual terpaksa menjual produknya ke pembeli dengan harga yang diinginkan oleh pembeli. Ketika jumlah produk yang diminta semakin banyak, harga akan semakin turun. Perusahaan oligopsoni akan berkolusi untuk menambah jumlah produk yang diminta dan akan semakin menekan harga.

b. Kartel

(32)

27

diproduksi total dan masing-masing anggota kartel (Mankiw, 2006). Kartel dapat berupa sebuah perkumpulan yang terorganisasi yang tujuannya adalah mendapatkan keuntungan bagi semua anggota kartel.

Keuntungan utama yang didapat perusahaan dalam sebuah kartel adalah adanya pembatasan output sehingga perusahaan kartel dapat memperoleh keuntungan. Kartel mempunyai susunan pengurus yang mengatur tentang alokasi produksi, kuota, keadaan pasar dan keuntungan yang diperoleh. Dengan kartel, perusahaan dapat lebih mudah mendapatkan keuntungan.

Kerugian yang didapat oleh konsumen (oligopoli) dan penjual (oligopsoni) adalah kartel akan menekan harga. Pada pasar output, harga akan semakin tinggi karena adanya pembatasan output. Pada pasar input, harga akan turun dengan meningkatkan jumlah output yang diminta pembeli input.

Dengan melakukan kartel akan tercipta sebuah monopsoni resmi di mana para pembeli dapat menentukan harga yang diinginkan. Kerugian ini akan ditanggung oleh para penjual. Penjual akan menurunkan harga sesuai dengan harga yang diinginkan oleh pembeli karena tidak adanya pembeli lain dalam pasar. Kartel akan berperilaku seperti monopsoni dengan menekan harga dan perusahaan kartel akan mendapatkan keuntungan dari perilaku tersebut.

c. Merger

Merger merupakan penggabungan dua atau lebih perusahaan untuk meningkatkan keuntungan. Merger terdiri dari tiga jenis, yaitu merger horizontal, merger vertikal, dan merger konglomerat. Merger horizontal merupakan penggabungan dua perusahaan atau lebih dalam jenis industri yang sama dan merupakan produsen produk yang sama. Merger vertikal adalah penggabungan dua perusahaan atau lebih dalam jenis industri yang sama tetapi produsen produk yang berbeda. Merger konglomerat adalah penggabungan dua perusahaan atau lebih dalam jenis industri yang berbeda (Lipczinski , 2005).

(33)

28

mempunyai tujuan memperluas pangsa pasar. Sedangkan merger konglomerat tidak menaikan kekuatan perusahaan karena terdapat pada industri yang berbeda.

Strategi Penetapan Produk

Strategi penetapan produk dapat dilakukan dengan cara differensiasi produk dan strategi pengiklanan. Differensiasi produk adalah pembuatan produk baru untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin berkembang. Strategi pengiklanan adalah strategi pencitraan produk agar konsumen loyal terhadap produk.

Capital to Labor Ratio

Perilaku perusahaan biasanya diukur menggunakan variabel rasio modal terhadap tenaga kerja atau Capital to Labor Ratio (CLR). Semakin tinggi CLR mengindikasikan perusahaan semakin efisien sehingga mampu membuat pesaingnya yang tidak efisien keluar dari pasar. Semakin tinggi CLR mengindikasikan perusahaan tersebut menggunakan lebih banyak modal daripada tenaga kerja. Maka dapat disimpulkan bahwa jika nilai CLR semakin tinggi, perusahaan tersebut merupakan perusahaan padat modal.

Sebaliknya, semakin kecil nilai CLR, maka perusahaan tersebut merupakan perusahaan padat karya. Semakin padat modal maka perusahaan akan semakin efisien (Kaesti, 2010). Rumus perhitungan CLR dalam Roberto Plazza dalam Kaesti (2010), yaitu sebagai berikut :

= ∝ −∝

Jumlah output yang dihasilkan adalah Y ketika menggunakan sejumlah K dan L dari capital (modal) dan labor (tenaga kerja).

Upah tenaga kerja per jam adalah wage (w) sementara sewa modal mempunyai biaya rent(r) per unit modal. Output Y dijual pada tingkat harga p. Seperti yang kita ketahui kondisi efisiensi produksi memerlukan marginal productivity of capital dan labor. MPL dan MPK memenuhi persamaan:

(34)

29

= � ×

Tidak semua marginal productivity mudah dimasukkan sebagai classical model, untuk fungsi produksi secara umum menggunakan dasar kalkulus sebagai berikut :

=� =∝� ∝− −∝

=� = −∝� ∝− −∝

Kemudian dimasukan w dan r, sehingga :

= =�� = ∝ ∝− −∝

� = =�� = − � � −�

Adapun total biaya modal dan tenaga kerja adalah:

� = = ∝ ∝− ∝−

� = � = −∝ ∝− ∝−

Kita memasukan capital cost share dan labor cost share sehingga

� ℎ = =∝

ℎ = = −∝

Kemudian masukkan tingkat rasio upah/ bunga (w/r)

= −∝ � −�

�− −� = −∝

=�= �

Sehingga diperoleh rumus akhir sebagai berikut :

(35)

30

Dimana capital cost share adalah total modal yang dialokasikan untuk proses produksi. Sedangkan capital labor share adalah total modal yang dialokasikan untuk tenaga kerja. Selain CLR, perilaku perusahaan dapat diukur melalui beberapa variabel berikut:

Tabel 2. 2 Variabel Pengukur Perilaku

Variabel SCP Referensi Keterangan

Delivery Speed Jayaran et al. (1999) Christopher and Towill

Use of IT tools Yu, Yan, and Edwin Cheng Membantu perusahaan untuk terus mengalirkan

Sumber: Ashish Agarwal dan Ravi Shankar, 2005.

C. Performance

Kinerja adalah hasil dari kekuatan perusahaan dan perilaku perusahaan. Kinerja merupakan tolok ukur dari keberhasilan strategi perusahaan. Apabila kinerja perusahaan baik maka dapat dianggap strategi perusahaan berhasil. Lipczinski (2005), mengemukakan 5 variabel utama performance yaitu

1. Keuntungan

(36)

31

2. Pertumbuhan

Pertumbuhan penjualan, asset, dan pekerja dapat menjadi alternatif lain dari indikator performa. Dengan melihat perbandingan pertumbuhan penjualan, asset, dan pekerja dapat menjadi dasar pengambilan strategi.

3. Kualitas produk dan pelayanan

Indikator ini penting untuk menjaga kepercayaan dari konsumen.

4. Pertumbuhan teknologi

Indikator ini adalah hasil dari pengembangan produk melalui pengembangan teknologi. Dengan adanya pertumbuhan teknologi, efisiensi produksi akan tercipta dan akan menurunkan biaya produksi sehingga akan tercipta keuntungan yang lebih besar.

5. Efisiensi produksi dan alokasi

Efisiensi produksi merupakan hasil penggunaan teknologi perusahaan dalam membuat sebuah produk dengan mengkombinasikan beberapa input. Efisiensi alokasi merupakan kondisi kesejahteraan sosial dalam keadaan maksimal dalam keseimbangan pasar.

2.1.3.3 Hubungan antara Structure, Conduct, dan Performance.

2.1.3.3.1. Structure Conduct

Hubungan antara struktur dan perilaku adalah hubungan linier. Market share perusahaan akan menimbulkan hambatan masuk bagi perusahaan lainnya sehingga perusahaan-perusahaan akan melakukan kerjasama baik dalam bentuk kolusi, kartel, maupun merger. Jika beberapa perusahaan itu melakukan kerjasama maka akan menimbulkan kekuatan gabungan antar perusahaan sehingga membuat perusahaan lain tidak dapat masuk ke dalam pasar.

2.1.3.3.2. Conduct Performance

(37)

32

perusahaan adalah keuntungan maksimum, maka perusahaan akan melakukan kebijakan harga. Jika tujuan perusahaan adalah efisiensi maka perusahaan akan melakukan strategi kerjasama dan pengembangan produk.

2.1.3.3.3. Structure Performance

Hubungan antara struktur dan kinerja adalah hubungan linier. Semakin besar kekuatan perusahaan atau sekelompok perusahaan yang melakukan kartel, semakin besar tingkat efisiensi biaya. Semakin efisien itulah yang menyebabkan banyak perusahaan yang tidak efisien keluar dari persaingan. Semakin sedikit perusahaan yang bersaing, maka keuntungan perusahaan akan semakin meningkat.

2.1.4 Efficiency Structure Hypothesis

Efficiency Structure Hypothesis mengatakan bahwa struktur industry didapatkan dari besarnya efisiensi produksi perusahaan (Allen , at al., 2005). Teori ini berasumsi bahwa perusahaan dengan biaya yang rendah dapat menciptakan kekuatan perusahaan yang besar sehingga ada hubungan positif antara efisiensi dan struktur (Allen, at al., 2005).

Marcelo (2000) menyatakan bahwa kinerja akan mempengaruhi struktur industri. Marcelo (2007) juga menyatakan bahwa peningkatan dalam efisiensi melalui penurunan biaya, akan menaikkan kekuatan perusahaan dalam memperoleh pangsa pasar.

(38)

33

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang membahas tentang analisis industri dengan pendekatan structure conduct - performance ataupun yang terkait dengan penelitian ini adalah :

1. Teguh Adi Wuryanto. 2011. Analisis Industri Batik Tulis di Kelurahan Kalinyamat Wetan dan Kelurahan Bandung Kota Tegal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis industri batik tulis di Kota Tegal dengan pendekatan Struktur-Perilaku-Kinerja. Variabel bebas yang digunakan adalah Pangsa Pasar, Rasio Modal dan Tenaga Kerja, dan X- Efisiensi. Variabel terikatnya adalah Price Cost Margin. Hasil penelitian ini menunjukkan struktur pasar industri batik tulis di Kota Tegal adalah persaingan monopolistik. Dari hasil regresi diketahui bahwa variabel Pangsa Pasar dan Rasio Modal dan Tenaga Kerja berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap variabel Price Cost Margin. Sedangkan variabel X-Efisiensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Price Cost Margin.

(39)

34

perilaku perusahaan, serta menganalisis hubungan antara struktur, perilaku dan kinerja industri TPT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur pasar industri TPT di Indonesia adalah oligopoli. Adanya pengaruh struktur industri terhadap perilaku perusahaan. Dari hasil regresi diperoleh bahwa

(40)

35

BAB III

DATA PENELITIAN

3.1 Data Mengenai Industri Taksi di Provinsi Banten Tahun 2013:

Tabel 3. 1 Data Industri Taksi di Provinsi Banten Tahun 2013.

Sumber: Data Dinas Perhubungan Tahun 2013 (Rekap Taksi Provinsi di Indonesia)

NO NAMA PERUSAHAAN NAMA PERUSAHAAN TAKSI

5 KOPERASI TAKSI MITRA SEJAHTERA TAKSI MITRA KOTA TANGERANG 170 2.4

6 KOPERASI TAKSI INDONESIA KOPERASI TAKSI KOTA TANGERANG 550 7.7

7 PT. SARDO BAKTI PERDANA ASTRO TAKSI KOTA TANGERANG 86 1.2

8 PT. WAHYU MUSTIKA KINASIH EXPRESS TAKSI KOTA TANGERANG 575 8.1

9 KOPERASI WARTAWAN INDONESIA KATI TAKSI KOTA TANGERANG 42 0.6

10 PT. MITRA TRANSPORT OPERATOR MITRA TAKSI KOTA TANGERANG 70 1.0

11 PT. MEDAN ANDALAS PAMILI TAKSI KOTA TANGERANG 200 2.8

12 PT. TUNAS GADING ILHAM GADING TAKSI KOTA TANGERANG 30 0.4

13 PT. ANUGERAH MANGGALA PUNNASIRI BOROBUDUR TAKSI KOTA TANGERANG 60 0.8

14 PT. BART DAKASMORI KOSTI KOTA TANGERANG 25 0.4

15 PT. MERSINDO PUTRA PRATAMA PUSAKA BIRU KOTA TANGERANG 150 2.1

16 PT. PERMATA PUSAKA INDONESIA PUSAKA PRIMA KOTA TANGERANG 15 0.2

17 KOPERASI NASIONAL

TRANSPORTASI (KONTRAS) TAKSI KITA KOTA TANGERANG 100 1.4

18 PT. SUMATRA RAYA PAMILI TAKSI KOTA TANGERANG 200 2.8

19 PT. SABDA KENCANA PRADANA CENTRIS GROUP KABUPATEN TANGERANG 20 0.3

20 PT. LINTAS BUANA LINTAS BUANA TAKSI KABUPATEN TANGERANG 700 9.9

21 PT. ADHI CITRA SARANA - KABUPATEN TANGERANG 250 3.5

22 PT. PUSAKA SATRIA UTAMA PUSAKA TAKSI KABUPATEN TANGERANG 1300 18.3

23 PT. GEMA CIPTA SARANA GEMILANG KABUPATEN TANGERANG 50 0.7

24 PT. PUTERA TRANSPORT

NUSANTARA PUTERA TAKSI KABUPATEN TANGERANG 225 3.2

25

KOPERASI SOPIR TAKSI

TANGERANG BANTEN INDONESIA (KOSTABI)

BINTANG TAKSI KABUPATEN TANGERANG 70 1.0

26 PT. SAROSOAN KENCANA SAKTI JAYA SAKTI TAKSI KABUPATEN TANGERANG 100 1.4

27 KOPERASI SERBA USAHA (KSU) MERAH PUTIH KABUPATEN TANGERANG 20 0.3

28 KOPERASI PENGEMUDI EXPRESS

(KOPEX JAYA) - KABUPATEN TANGERANG 75 1.1

29 PT. SUMIT JAYA ABADI MANUK MIRA TAKSI KABUPATEN TANGERANG 133 1.9

30 PT. SINABUNG MULTI PRIMA DEN TAKSI KABUPATEN TANGERANG 50 0.7

31 PT. TAXI CAB TAXI CAB KABUPATEN TANGERANG 100 1.4

32 KOPERASI TAKSI SEPAKAT TAKSI SEPAKAT KABUPATEN TANGERANG 206 2.9

33 PT. LINTAS MANDIRI EXPRESS TAKSI 18 KABUPATEN TANGERANG 50 0.7

34 PT. TRANSPORTASI NASIONAL

INDONESIA PUSAKA LINTAS KABUPATEN TANGERANG 50 0.7

(41)

36

Dari data tersebut dapat terlihat bahwa hasil pengukuran konsentrasi rasio menunjukkan perusahaan taksi yang cenderung terkonsentrasi di Provinsi Banten adalah sebagai berikut:

1) Gading Taksi (5,6 %) 2) Blue Bird Taksi (13.4 %) 3) Koperasi Taksi (7.7 %) 4) Express Taksi (8.1 %) 5) Lintas Buana Taksi (9.9 %) 6) Pusaka Taksi (18.3 %)

Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa ternyata PT. Blue Bird Group sendiri terdiri dari beberapa anak perusahaan yaitu:

1) Blue Bird Taksi (13.4 %) 2) Pusaka Biru (2.1 %) 3) Pusaka Prima (0.2 %) 4) Pusaka Taksi (18.3 %) 5) Pusaka Lintas (0.7 %)

Dari ke lima anak perusahaan tersebut PT. Blue Bird Group sendiri mengusai pangsa pasar sebesar 34,7 persen.

Jadi dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pangsa pasar industri taksi di provinsi Banten dikuasi oleh perusahaan sebagai berikut ini:

(42)

37

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Analisis Struktur Industri Taksi

4.1.1 Jumlah Perusahaan Taksi

Beberapa perusahaan taksi yang beroperasi di Provinsi Banten :

Tabel 4. 1 Data Perusahaan Taksi di Provinsi Banten

No. Nama Perusahaan Nama Taksi

1 PT. ABDI GADING KENCANA GADING TAKSI 2 PT. ARIMBI JAYA AGUNG AJA TAKSI

3 PT. BLUE BIRD BLUE BIRD TAKSI

4 PT. SARDO BAKTI PERSADA ASTRO TAKSI 5 KOPERASI TAKSI MITRA SEJAHTERA TAKSI MITRA 6 KOPERASI TAKSI INDONESIA KOPERASI TAKSI 7 PT. SARDO BAKTI PERDANA ASTRO TAKSI 8 PT. WAHYU MUSTIKA KINASIH EXPRESS TAKSI 9 KOPERASI WARTAWAN INDONESIA KATI TAKSI 10 PT. MITRA TRANSPORT OPERATOR MITRA TAKSI 11 PT. MEDAN ANDALAS PAMILI TAKSI 12 PT. TUNAS GADING ILHAM GADING TAKSI 13 PT. ANUGERAH MANGGALA PUNNASIRI BOROBUDUR TAKSI

14 PT. BART DAKASMORI KOSTI

15 PT. MERSINDO PUTRA PRATAMA PUSAKA BIRU 16 PT. PERMATA PUSAKA INDONESIA PUSAKA PRIMA 17 KOPERASI NASIONAL TRANSPORTASI (KONTRAS) TAKSI KITA 18 PT. SUMATRA RAYA PAMILI TAKSI 19 PT. SABDA KENCANA PRADANA CENTRIS GROUP 20 PT. LINTAS BUANA LINTAS BUANA TAKSI 21 PT. ADHI CITRA SARANA -

22 PT. PUSAKA SATRIA UTAMA PUSAKA TAKSI 23 PT. GEMA CIPTA SARANA GEMILANG

24 PT. PUTERA TRANSPORT NUSANTARA PUTERA TAKSI

25

KOPERASI SOPIR TAKSI TANGERANG BANTEN

INDONESIA (KOSTABI) BINTANG TAKSI 26 PT. SAROSOAN KENCANA SAKTI JAYA SAKTI TAKSI 27 KOPERASI SERBA USAHA (KSU) MERAH PUTIH

28 KOPERASI PENGEMUDI EXPRESS (KOPEX JAYA) -

29 PT. SUMIT JAYA ABADI MANUK MIRA TAKSI 30 PT. SINABUNG MULTI PRIMA DEN TAKSI

31 PT. TAXI CAB TAXI CAB

32 KOPERASI TAKSI SEPAKAT TAKSI SEPAKAT 33 PT. LINTAS MANDIRI EXPRESS TAKSI 18 34 PT. TRANSPORTASI NASIONAL INDONESIA PUSAKA LINTAS

(43)

38

4.1.2 Pangsa Pasar

Tabel 4. 2 Daftar Pangsa Pasar

Sumber: Data DishubTahun 2013 (Rekap Taksi Provinsi di Indonesia)

Dari data di atas dapat disimpulkan:

Pada tahun 2013 : CR4 industri taksi terbesar = 60.45

No. Nama Perusahaan Nama Taksi Pangsa

Pasar 2012 5 KOPERASI TAKSI MITRA SEJAHTERA TAKSI MITRA 2.4 6 KOPERASI TAKSI INDONESIA KOPERASI TAKSI 7.7 7 PT. SARDO BAKTI PERDANA ASTRO TAKSI 1.2 8 PT. WAHYU MUSTIKA KINASIH EXPRESS TAKSI 8.1 9 KOPERASI WARTAWAN INDONESIA KATI TAKSI 0.6 10 PT. MITRA TRANSPORT OPERATOR MITRA TAKSI 1.0 11 PT. MEDAN ANDALAS PAMILI TAKSI 2.8 12 PT. TUNAS GADING ILHAM GADING TAKSI 0.4 13 PT. ANUGERAH MANGGALA PUNNASIRI BOROBUDUR TAKSI 0.8

14 PT. BART DAKASMORI KOSTI 0.4

15 PT. MERSINDO PUTRA PRATAMA PUSAKA BIRU 2.1 16 PT. PERMATA PUSAKA INDONESIA PUSAKA PRIMA 0.2

17 KOPERASI NASIONAL TRANSPORTASI

(KONTRAS) TAKSI KITA 1.4

18 PT. SUMATRA RAYA PAMILI TAKSI 2.8 19 PT. SABDA KENCANA PRADANA CENTRIS GROUP 0.3 20 PT. LINTAS BUANA LINTAS BUANA TAKSI 9.9

21 PT. ADHI CITRA SARANA - 3.5

22 PT. PUSAKA SATRIA UTAMA PUSAKA TAKSI 18.3 23 PT. GEMA CIPTA SARANA GEMILANG 0.7 24 PT. PUTERA TRANSPORT NUSANTARA PUTERA TAKSI 3.2

25 KOPERASI SOPIR TAKSI TANGERANG

BANTEN INDONESIA (KOSTABI) BINTANG TAKSI 1.0 26 PT. SAROSOAN KENCANA SAKTI JAYA SAKTI TAKSI 1.4

27 KOPERASI SERBA USAHA (KSU)

32 KOPERASI TAKSI SEPAKAT TAKSI SEPAKAT 2.9 33 PT. LINTAS MANDIRI EXPRESS TAKSI 18 0.7

34 PT. TRANSPORTASI NASIONAL

(44)

39 Concentration rasio 4 perusahaan > 60. Menurut Stigler menunjukan struktur pasar pada industri taksi di Provinsi Banten adalah pasar oligopli ketat.

4.1.3 Barrier to Entry di Industri Taksi

Barrier to entry atau hambatan masuk merupakan salah satu indikator untuk melihat bagaimana struktur pasar di suatu industri. Di Industri taksi terdapat beberapa hambatan, yaitu;

Untuk memasuki industri taksi memiliki total fix cost yang cukup besar, terutama dalam pembuatan pool disetiap daerah dan penyediaan armada yang cukup besar. Selain itu, industri taksi juga memiliki hambatan untuk keluar dari pasar yaitu total sunk cost dari pembuatan pool. Sunk cost merupakan biaya yang sudah ditimbulkan, sehingga tidak dapat diubah dengan pembuatan keputusan, baik sekarang maupun waktu yang akan datang.

 Terjadinya holding company diantara perusahaan-perusahaan di Industri taksi. Misalnya: PT. Blue Bird Group merupakan beberapa bagian dari perusahaan yaitu: PT. BLUE BIRD, PT. MERSINDO PUTRA PRATAMA, PT. PERMATA PUSAKA INDONESIA, PT. PUSAKA SATRIA UTAMA, dan PT. TRANSPORTASI NASIONAL INDONESIA

 Pangsa pasar beberapa perusahaan yang sangat besar menjadi hambatan bagi perusahaan baru untuk masuk ke industri tersebut. Perusahaan baru yang ingin masuk harus memiliki keunggulan untuk dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang sudah lama masuk dan memiliki pangsa pasar yang besar.

4.2 Perilaku Perusahaan Industri Taksi

Product

(45)

bak-40

bank besar diIndonesia seperti, Bank Mandiri, Bank BCA, Bank BNI, dll. Sejauh ini yang terutama untuk (taksi reguler) armada yang disediakan cukup bagus, bersih, nyaman dan berkualitas. Di setiap armada taksi terdapat nomor customer care yang akan menanggapi keluhan, saran dan kritik dari para pelanggan. Serta terdapat juga indentitas supir taksinya tersebut untuk memberikan rasa percaya bahwa kita sebagai pelanggan berada di tangan yang benar dan akan selamat hingga ke tujuan.

Place

Outlet-outlet perusahaan taksi tersebar di berbagai wilayah strategis , seperti: di mall, tempat-tempat hiburan dan hotel, sehingga pelanggan dengan mudah menemukan taksi. Selain itu taksi-taksi yang keliling mencari penumpang juga banyak beroperasi di jalan raya karena armada yang dimiliki perusahaan taksi sudah mulai banyak.

Kerjasama dengan pesaing

Kerja sama merupakan sebuah sistem pekerjaan yang kerjakan oleh dua orang atau lebih untuk mendapatkan tujuan yang direncanakan bersama. Salah satu bentuk kerjasama adalah holding company.

Strategi Penetapan Tarif Harga

Karena persaingan yang ketat, perusahaan taksi membutuhkan strategi untuk menarik konsumen.Persaingan yang terjadi berupa persaingan tarif harga yang ditawarkan masing-masing perusahaan taksi:

Tabel 4. 3 Mekanisme Penetapan Tarif Taksi di Berbagai Kota

Kota Medan DIY Bandung Semarang Makassar DKI Jakarta dan Banten Tarif Taksi satu tarif satu tarif Batas atas

dan batas

(46)

41

Tabel tersebut menunjukkan bahwa mekanisme penetapan tarif taksi di berbagai daerah berbeda-beda. Sebagian menerapkan satu tarif seperti di Medan, Yogyakarta dan Makassar, sedangkan sebagian yang lain menetapkan tarif batas atas dan bawah (DKI Jakarta dan Yogyakarta). Di Semarang, tarif batas atas dan bawah seluruhnya ditetapkan oleh Organda, sedangkan di DKI Jakarta dan Banten tarif batas atas ditetapkan Pemda dan tarif batas bawah ditetapkan oleh Organda.

Dalam Keputusan Menteri 35 tahun 2003, pelayanan angkutan taksi merupakan pelayanan angkutan dari pintu ke pintu dalam wilayah operasi terbatas meliputi daerah kota atau perkotaan (Pasal 29). Sementara menurut Pasal 29 ayat (2), pelayanan angkutan taksi diselenggarakan dengan ciri – ciri sebagai berikut :

a. Tidak terjadwal

b. Dilayani dengan mobil penumpang umum jenis sedan atau station wagon dan van yang memiliki konatruksi seperti sedan sesuai standar teknis yang ditetapkan direktur jenderal

c. Tarif angkutan berdasarkan argometer d. Pelayanan dari pintu ke pintu

Promotion

Promosi tentang pelayanan taksi kebanyakan melalui word to mouth dari pelanggan-pelanggan yang pernah menggunakan jasa taksi. Pihak Perusahan taksi sendiri juga memasang neon box di jalan-jalan kota besar agar yang berisi tentang iklan tentang taksi ataupun car rent dan tidak lupa pula disertakan no. Telepon agar pelanggan dapat dengan mudah memesan produk taksi lewat telepon.

Resiko Investasi

Untuk mengurangi resiko dalam usaha taksi, para pengusaha taksi melakukan manajement risk investment dengan melakukan pola sebagai berikut:

(47)

42

2. Pengemudi wajib menyetorkan uang sejumlah Rp. 350.000 per hari dan Rp. 150.000 per hari, hal tersebut sudah terkalkulasi dengan cicilan mobil, profit perusahaan, dan gaji pegawai, serta jasa service mobil.

Hal ini dimaksudkan agar perusahaan tidak mengalami kerugian akibat kelalaian pengemudi. Selain itu perusahaan juga mengeluarkan biaya produksi yang lebih efisien

4.3 Kinerja Perusahaan Industri Taksi

Kinerja Perusahaan dapat dilihat dari berbagai hal yaitu, harga dan pola keuntungan, X-efisiensi alokasi, Kemajuan teknologi (inovasi), keseimbangan distribusi. Berikut adalah inovasi yang dikembangkan oleh perusahaan taksi sebagai contoh PT. Blue Bird:

Taksi Reguler – Taxi Order Terbaik di Indonesia:

Mulai melayani tahun 1972, Blue Bird merupakan mitra transportasi terpercaya. Selama beberapa tahun nama Blue Bird sinonim dengan standar tinggi layanan taksi penumpang, mengangkut lebih dari 8,5 juta orang di seluruh Indonesia per-bulan.

Agar bisa mengikuti pertumbuhan keinginan pasar dalam transportasi yang dapat diandalkan, dalam dekade-dekade silam Blue Bird Group telah melebarkan sayapnya dengan mendirikan anak anak perusahaan termasuk Bali Taksi, Lombok Taksi, Surabaya Taksi, Pusaka Banten dan Pusaka Group.

(48)

43

Di sisi operasi, strategi penempatan outlet taksi di sejumlah kota besar Indonesia telah memudahkan akses taksi ini di dalam dan di luar kawasan bisnis utama. Ini termasuk pusat turis serta bandara nasional dan internasional di seluruh negeri.

Fitur

Pengemudi terpercaya

Di belakang kemudi setiap taksi Blue Bird duduk seorang pengemudi yang kompeten, terlatih baik, dan berkomitmen memberi Anda perjalanan yang aman dan nyaman.

Layanan GPS 24 jam

Seluruh armada telah dilengkapi perangkat GPS sehingga keberadaan armada termonitor setiap saat.

Armada yang terawat baik

(49)

44

Layanan pengembalian barang tertinggal

Setiap barang bawaan yang tertinggal di dalam taksi akan dilaporkan dan terdaftar dalam database yang dapat diakses dari seluruh jaringan Blue Bird Group. Hal ini memungkinkan Blue Bird Group untuk melacak barang tertinggal.

Mudah didapat dan mudah dalam pembayarannya

Blue Bird menawarkan sistem pembayaran yang mudah dengan credit voucher sebagai alternatif pembayaran tunai, baik untuk pelanggan pribadi maupun perusahaan. Taksi Blue Bird Group juga mudah didapatkan di mana saja dan kapan saja. Pemesanan selain dapat menghubungi Call Center 24 jam, juga dapat dilakukan lewat aplikasi Taxi Mobile Reservation pada Smartphone.

Tips Keamanan Penumpang

Sebagian pelanggan mungkin bertanya mengapa kami tak menamai seluruh armada dengan satu nama saja, yakni taksi Blue Bird. Sayangnya hal ini tak mungkin karena peraturan pemerintah yang membatasi jumlah kendaraan yang boleh dioperasikan sebuah perusahaan swasta.

Mengingat kebutuhan akan taksi kami yang jauh lebih besar, armada kami yang terus bertambah pun kami namai Morante Jaya, Cendrawasih, Pusaka Nuri, Pusaka Biru, Pusaka Lintas, Pusaka Satria, Pusaka Sentra, Pusaka Banten, Pusaka Prima, Surabaya Taksi, Bali Taksi dan Lombok Taksi.

Perhatikanlah hal berikut untuk membedakan taksi kami dari yang lain:

(50)

45

Nomor dashboard serta identitas pengemudi

Nomor taksi yang ada di belakang mobil

Seragam pengemudi

Logo skrin matahari

Logo perusahaan

Nomor pada kaca spion

(51)

46

Sandaran kepala

Credit Voucher

Untuk mengontrol pengeluaran, Anda dapat menggunakan sistem pembayaran denganvoucher. ‘Begitu mudah, ’ tersedia untuk penggunaan pribadi ataupun korporat. Beberapa keuntungan membayar dengan voucher:

Tak perlu uang tunai

Menggunakan voucher merupakan cara efektif untuk menghindari pengeluaran tunai yang tak perlu. Juga menghemat waktu untuk naik dan turun kendaraan.

Bayar lewat kartu kredit

Pembayaran untuk penggunaan voucher otomatis akan dibebankan ke kartu kredit Anda.

Aman dan nyaman

Dengan melihat catatan voucher, Anda akan bisa memperhitungkan berapa banyak yang akan Anda alokasikan untuk keperluan transportasi di masa mendatang.

Tagihan bulanan

Voucher yang diterima Blue Bird grup juga berlaku sebagai kwitansi dan akan dikembalikan ke Anda atau perusahaan Anda setiap akhir bulan.

Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi 021-79171234 Email: [email protected]

SMS Taxi

(52)

47

Registrasi via SMS

1. Ketik REGTAKSI spasi NAMA 2. Kirim ke nomor 9123

3. Anda akan menerima konfirmasi dari petugas kami untuk mendaftarkan alamat penjemputan anda. Contoh : alamat rumah [rumah], kantor [kantor] dan kantor 2 [kantor 2], dll.

4. Registrasi anda aktif

1. Pemesanan

Segera Ketik SMS : ORD S RUMAH ORD = Order, B = Jenis taksi (B = Blue Bird, S = Silver Bird), RUMAH (Lokasi penjemputan). Kirim ke

nomor 9123

2. Hari yang sama

Ketik SMS : ORD S RUMAH 1700 GAMBIR ORD = Order, B = Jenis taksi (B = Blue Bird, S = Silver Bird), RUMAH (Lokasi

penjemputan),1700 (Waktu Penjemputan), GAMBIR (Tujuan). Kirim ke nomor 9123

3. Hari yang berbeda

Gambar

Gambar 2. 1 Kurva Hubungan Total Produksi (TP), Produksi Rata-Rata (AP) dan Produksi Marginal (MP)
Gambar 2.2 berikut :
Gambar 2. 3 Kurva Biaya dalam jangka Panjang
Gambar 2. 4 Hubungan antara Structure – Conduct – Performance
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis, saran yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu: industri diharapkan mampu menekan biaya produksi dan mampu meningkatkan nilai output

Sedangkan biaya tidak tetap (biaya variabel) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi, yang terdiri dari biaya penyediaan bahan

316.196.250 yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel, sedangkan sedangkan Penerimaan yang di peroleh Peternakan Kambing Etawa dalam setahun adalah sebesar Rp. 763.940.000 dan

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh, saran untuk peningkatan kinerja industri minuman ringan di Indonesia yaitu pelaku industri diharapkan agar tetap mengembangkan produk

Pemberian bunga deposito yang besar dapat mendapatkan banyak nasabah untuk mendepositokan dananya ke bank tersebut, dan pemberian bunga kredit mikro terbesar

Komponen biaya dapat dibagi menjadi tiga yaitu biaya tetap ( fixed cost ), biaya variabel ( variable cost ), dan biaya keseluruhan ( total cost ). Sedangkan komponen

akuntansi keuangan dan biaya pada semua jenjang perusahaan, termasuk untuk perusahaan secara menyeluruh, per devisi, per pabrik, dan per satuan, untuk dapat mencatat secara

Biaya tidak tetap dalam usaha kapal mini purse seine 9 GT dan 12 GT di PPI Oeba terdiri dari biaya BBM dan makanan serta kebutuhan lainnya per tahun dan biaya