I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan sumberdaya alam, terutama dari hasil pertanian. Sektor pertanian menjadi sektor penting sebagai penyedia input bagi sektor lain, sehingga sektor pertanian dikatakan berpengaruh dalam struktur perekonomian Indonesia. Seiring dengan berkembangnya perekonomian bangsa, maka Indonesia mulai mencanangkan masa depan menuju era industrialisasi, dengan pertimbangan sektor pertanian akan semakin kuat.
Sektor perkebunan merupakan bagian dari sektor pertanian yang dianggap pertumbuhannya paling konsisten jika dilihat dari hasil produksi, luas areal lahan, dan produktivitasnya. Sektor perkebunan merupakan salah satu subsektor yang mempunyai kontribusi penting dalam hal penciptaan nilai tambah yang tercermin dari kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB). Berdasarkan harga yang berlaku, subsektor perkebunan mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Sebagai negara berkembang dimana penyediaan lapangan kerja merupakan masalah yang mendesak, subsektor perkebunan mempunyai kontribusi yang cukup signifikan. Menurut BPS (2011), tanaman perkebunan Indonesia mampu menghasilkan 153 884.70 miliar rupiah terhadap PDB Indonesia, sedangkan untuk tenaga kerja sektor ini mampu menyerap 39 328 915 tenaga kerja.
2 perkebunan lainnya dengan laju pertumbuhan lebih dari lima persen per tahun. Pertumbuhan yang pesat dari ketiga komoditas tersebut pada umumnya berkaitan dengan tingkat keuntungan pengusahaan komoditas tersebut relatif lebih baik dan juga kebijakan pemerintah untuk mendorong perluasan areal komoditas tersebut guna meningkatkan jumlah produksi.
Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang memegang peranan cukup penting dalam perekonomian Indonesia, yakni sebagai penghasil devisa negara, penyedia lapangan kerja, mendorong pengembangan agribisnis dan agroindustri, karena kakao dianggap sebagai salah satu komoditas unggulan subsektor perkebunan dari 15 komoditas unggulan nasional yang dicanangkan untuk dikembangkan secara besar-besaran di Indonesia karena ekspor kakao Indonesia mampu membantu untuk meningkatkan devisa Indonesia, hal ini dibuktikan dengan mampunya kakao sebagai penyumbang devisa Indonesia peringkat keempat setelah kelapa sawit, karet, dan kelapa. Indonesia yang juga dikenal sebagai negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia turut berperan aktif dalam ekspor komoditas kakao dunia karena Indonesia menyumbang sebesar 15 persen kakao untuk dunia. (Direktorat Jendral Perkebunan , 2010).
Indonesia sebagai negara pengekspor dituntut untuk meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan pasar internasional sehingga sering mengesampingkan permintaan dalam negeri sendiri. Konsumsi kakao dalam negeri hanya berkisar sepertiga dari total produksi kakao Indonesia. (Direktorat Jendral Perkebunan, 2010).
39.46 persen per tahun sedangkan pada tahun 1967-1986 rata-rata pertumbuhan luas areal kakao PR hanya sebesar 21.56 persen per tahun. Sebaliknya luas areal kakao PBN dan PBS tidak mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama periode 1987-2009, namun cukup besar peningkatannya pada periode sebelumnya yakni pada tahun 1967-1986 yang mana besarnya masing-masing adalah 23.59 persen dan 37.97 persen.
Tabel 1 akan menunjukkan bahwa periode empat tahun terakhir yakni 2005-2008, luas areal kakao PR dan PBN mengalami peningkatan masing-masing sebesar 7.14 persen dan 11.06 persen, sementara luas areal kakao PBS relatif tidak mengalami peningkatan luas areal yaitu sebesar 0.36 persen
Tabel 1. Perkembangan Luas Areal Kakao Indonesia Menurut Status Penguasaannya Tahun 2005-2008
4 Tabel 2. Produksi kakao di Indonesia Menurut Status Pengusahaan Tahun
2000-2009
6 Disisi lain, pada kenyataannya harga kakao ini masih dianggap rendah dibanding komoditas sawit dan karet, sehingga banyak perkebunana kakao yang dikonversi menjadi sawit maupun karet. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa butuh adanya perbaikan kinerja industri pada kakao. Menurut Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas (Bappebti, 2011), harga kakao pada tahun 2011 menurun dari tahun 2010 yaitu dari 3 400 dolar AS per ton menjadi 2 200 dolar AS per ton. Hal ini juga diakibatkan dari nilai ekspor yang menurun dari tahun 2010 ke tahun 2011 sebesar 40 persen, yakni dari 430 000 ton menjadi 207 000 ton, sedangkan produksi kakao terus meningkat. Hal ini dipengaruhi karena terjadinya krisis eropa pada tahun 2011, sedangkan tujuan utama ekspor kakao Indonesia adalah Eropa. Selain itu pada penutupan perdagangan di Bursa ICE, harga kakao terus melemah karena prediksi bahwa permintaan terhadap komoditas pangan akan mengalami penurunan. Harga kakao berjangkan untuk kontrak pengiriman bulan September mengalami penurunan sebesar 12 dolar AS (0.52 persen) dan ditutup pada posisi 2 307 dolar AS per ton. Penurunan harga yang terjadi pada kakao ini diprediksi karena permintaan akan komoditas pangan, termasuk kakao ikut menurun sehingga berimbas pada pukulan harga yang melemah. (Kompas, 2012)
15 perusahaan yang tersedia dan dari 15 perusahaan pengolahan kakao hanya 10 perusahaan saja yang melakukan aktivitas produksi dan sisanya lima perusahaan lagi tidak melakukan aktivitas produksi. Hal ini menggambarkan bahwa kondisi pengolahan kakao di Indonesia belum berkembang dengan baik, namun pada kenyataannya permintaan akan kakao terus mengalami peningkatan baik di pasar domestik maupun pasar intenasional. Menurut data BPS (2011), terdapat beberapa perusahaan baru yang masuk dalam industri kakao. Masuknya perusahaan baru dalam pengolahan kakao menggambarkan bahwa produksi kakao Indonesia mengalami peningkatan dan menjadi perhatian yang terus dikembangkan. Daerah-daerah yang menjadi sentra pemasok kakao juga terus mengalami peningkatan produksi sebagai penyumbang kakao Indonesia. Industri dinilai mampu memperbaiki kondisi yang tidak stabil dalam perkebunan kakao. Melalui peran industri maka dapat dilihat bagaimana persaingan kakao secara industrialisasi. Selain itu dari struktur industri yang tercipta dapat ditentukan bagaimana kinerja industri yang tepat dan faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kinerja dari masing-masing industri.
8 1.2. Rumusan Masalah
Kakao merupakan salah satu komoditas sektor perkebunan yang memiliki peran penting dalam sektor perekonomian Indonesia. Menurut Direktorat Jendral Perkebunan (2010), kakao merupakan salah satu komoditas unggulan dalam subsektor perkebunan yang dicanangkan untuk dikembangkan secara besar-besaran di Indonesia karena kakao Indonesia mampu meningkatkan devisa negara.
Potensi kakao sebagai salah satu komoditas unggulan menyebabkan tingginya permintaan akan kakao, tingginya permintaan yang meningkat setiap tahun diiringi dengan meningkatnya konsumsi kakao di Indonesia.
Tabel 4. Proyeksi Permintaan Kakao Indonesia, 2010-2012
Selama periode tahun 2010-2012, permintaan kakao diproyeksikan akan naik sebesar 0.73 persen. Kenaikan ini disebabkan karena volume ekspor 0.43 persen. Pada tahun 2010 total permintaan biji kakao kering diproyeksikan mencapai 726.38 ribu ton, kemudian naik menjadi 746.50 ribu ton pada tahun 2011 dan diproyeksikan naik kembali pada tahun 2012 menjadi sebesar 766.63 ribu ton.
10 Tabel 5. Jumlah Perusahaan yang Masuk Dalam Industri Kakao, 2000-2009
Tahun Jumlah Perusahaan Tahun Jumlah Perusahaan
2000 24 2005 31
2001 26 2006 25
2002 34 2007 18
2003 25 2008 18
2004 17 2009 15
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2011
Masuk dan keluarnya jumlah perusahaan ini membuktikan bahwa persaingan akan kakao Indonesia cukup kompetitif, semakin sedikit jumlah perusahaan dalam suatu industri menunjukkan bahwa tingginya hambatan untuk masuk dalam industri, selain itu tingginya hambatan juga menggambarkan kinerja yang baik dalam suatu industri. Sedangkan mudahnya suatu perusahaan baru untuk masuk ke dalam industri kakao terjadi karena mudahnya memperoleh informasi, rendahnya hambatan masuk indusri, banyaknya penjual, dan produk yang homogen. Hal ini menjadi satu perhatian karena akan meninmbulkan suatu struktur pada industri kakao Indonesia yang berdampak pada penetapan harga (perilaku industri) dan kinerja industri kakao dalam negeri. Namun untuk memasuki suatu industri kakao tidaklah mudah, industri kakao baru harus dapat memahami kondisi pasar yang ada.
rumusan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi perumusan masala dalam penelitian ini yaitu:
1. Bagaimana struktur industri kakao di Indonesia? 2. Bagaimana perilaku industri kakao di Indonesia?
3. Bagaimana kinerja industri kakao yang ada di Indonesia?
4. Bagaimana hubungan struktur, perilaku, dan kinerja industri kakao, serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja industri kakao di Indonesia?
Dari keempat rumusan masalah ini penulis berharap dapat mengetahui hasil yang menjadi penelitian penulis sehingga dapat memperoleh dan menyajikan hasil yang tepat.
1.3. Tujuan Penelitian
Melihat dari rumusan masalah yang telah dipaparkan maka tujuan penelitian dilakukan untuk menjawab rumusan masalah, yang akan dipaparkan dalam empat poin yaitu:
1. Mengetahui struktur industri kakao yang ada di Indonesia 2. Mengetahui perilaku industri kakao yang ada di Indonesia 3. Mengetahui kinerja industri kakao yang ada di Indonesia
4. Mengetahui hubungan struktur, perilaku, dan kinerja industri kakao, serta mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja industri kakao di Indonesia
12 1.4.Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pembaca, pelaku usaha/industri kakao, maupun stakeholder yang berpartisipasi di dalamnya sehingga dapat mengambil kebijakan yang sesuai, maka diharapkan dari penelitian ini dapat :
1. Memberikan informasi mengenai persaingan kakao dari segi industri melalui pendekatan struktur, perilaku, dan kinerja industri (SCP).
2. Membantu industri kakao dalam mengambil keputusan yang tepat dengan melihat aspek SCP.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini membahas mengenai struktur, perilaku, dan kinerja industri kakao di Indonesia dengan data yang digunakan bersifat time series pada tahun 2000-2009 melalui pendekatan SCP. Dalam penelitian ini akan dibatasi dengan hasil olahan kakao menjadi cokelat, dalam arti penelitian ini lebih mengkerucutkan pada cokelat. Data yang diperoleh untuk melanjutkan penelitian ini berasal dari kode industri KBLI 15314 yaitu industri pengupasan, pembersihan, dan pengeringan kakao menjadi konsumsi cokelat. Adapun penelitian ini dilakukan untuk melihat bahwa kakao Indonesia juga bersaing didalam negeri. Disamping itu penelitian mengenai SCP ini mampu melihat persaingan yang terjadi didalam industri dengan melihat bagaimana struktur dan perilakunya. Dan melalui kinerja mampu melihat keuntungan yang diperoleh sehingga dapat memprediksi produksi
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Teoritis
Ekonomi pertanian merupakan suatu aplikasi ilmu ekonomi dengan bidang pertanian, dimana ilmu ini digunakan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan pertanian. Menurut Mubyarto (1989), ekonomi pertanian pertama kali diperkenalkan oleh Adam Smith dalam bukunya yang berjudul Wealth of Nations. Ilmu ekonomi pertanian didefinisikan sebagai bagian dari ilmu ekonomi umum yang mempelajari fenomena-fenomena dan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan pertanian baik mikro maupun makro. Cramer and Jensen (1994), mengemukakan bahwa ekonomi pertanian adalah pengaplikasian ilmu sosial yang menghadapkan bagaimana manusia memilih untuk menggunakan teknik ekonomi dengan kondisi sumberdaya yang semakin terbatas dan langka seperti lahan, tenaga kerja, kapital, dan manajemen untuk memproduksi makanan dan serat hingga untuk memproduksinya kepada masyarakat. Terjadinya permintaan kakao merupakan jumlah dari seluruh permintaan individual, karena masing-masing individu dihadapkan pada pilihan, seperti permintaan yang tidak terbatas dan adanya keterbatasan sumberdaya.
14 kebijaksanaan harga yang kurang mendorong perbaikan mutu. Keragaan pasar sangat ditentukan oleh struktur pasar dan perilaku pasar. Keragaan pasar dapat dilihat dari tingkat harga dan marjin pemasaran.
Cramer and Jensen (1994) juga mengungkapkan bahwa terdapat beberapa jenis struktur pasar berdasarkan persaingan yang terjadi, yaitu:
(a) Persaingan Sempurna/Persaingan Murni (Pure Competition). Pasar ini ditandai dengan banyaknya perusahaan dalam industri, produknya bersifat homogen, dan terdapat kebebasan perusahaan secara individu dalam masuk atau keluar industri.
(b) Monopoli Murni (Pure Monopoly). Pasar ini ditandai dengan hanya ada satu perusahaan dalam industri serta produk perusahaan yang bersifat diferensiasi. (c) Monopsoni (Monopsony), yaitu pasar dengan satu pembeli yang menghadapi
banyak penjual.
(d) Pasar persaingan tidak sempurna (Imperfect Competition). Beberapa struktur pasar yang termasuk di dalamnya, yaitu pasar yang terdiri atas dua penjual disebut duopoli dan pasar yang terdiri dari sejumlah kecil penjual (lebih dari dua) disebut oligopoli. Sebaliknya, situasi pasar dengan dua pembeli disebut duopsoni dan pasar dengan sejumlah kecil pembeli disebut oligopsoni.
(e) Persaingan Monopolistis (Monopolistic Competition). Pasar jenis ini merupakan suatu organisasi pasar yang terdiri dari banyak perusahaan yang menjual komoditi sangat serupa tetapi tidak identik.
terdiri dari produsen dan konsumen. Struktur pasar dibedakan menjadi empat kelompok. Adapun faktor-faktor dalam struktur pasar yaitu:
1. Banyaknya Penjual dan Pembeli
Penjual dan pembeli yang bertindak sebagai pelaku pasar akan mempengaruhi pengambilan keputusan yang terjadi dalam sebuah pasar. Banyaknya penjual dan pembeli tentu akan mempengaruhi penentuan harga dan besarnya penguasaan pasar. Semakin sedikit jumlah penjual dalam suatu pasar maka penguasaan terhadap pasar semakin kuat dan cenderung monopoli.
2. Derajat Perbedaan Produk (Homogen atau Terdiferensiasi)
16 membuat keputusan pasar. Dengan demikian pasar cenderung kompetitif dan produsen tidak dapat mengendalikan keadaan pasar guna menentukan harga dan output di dalam pasar yang secara semena-mena. Selanjutnya, harga dan output pasar akan tercipta melalui mekanisme pasar.
3. Hambatan Untuk Memasuki Pasar
Hambatan untuk memasuki sebuah pasar dapat dilihat dari mudah tidaknya suatu pesaing untuk masuk ke dalam suatu pasar. Hambatan untuk memasuki sebuah pasar dapat disebabkan oleh munculnya persaingan yang semakin ketat. Hambatan ini dapat dilihat dari mudah atau tidaknya pesaing-pesaing potensial untuk masuk ke pasar. Salah satu cara yang digunakan untuk melihat hambatan masuk dalam penelitian ini adalah dengan mengukur skala ekonomi yang dillihat melalui output perusahaan yang menguasai pasar.
4. Mudah atau Tidaknya Informasi yang Diperoleh
Adanya informasi yang tidak sempurna akan mempengaruhi kemampuan pasar untuk menetapkan harga keseimbangan/ekuilibrium. Pembuktian efisiensi dari harga persaingan mengasumsikan bahwa harga ekuilibrium ini diketahui oleh semua pelaku ekonomi. Jika beberapa pelaku ekonomi tidak memiliki informasi penuh tentang harga yang berlaku dan mutu produk tidak tersedia secara bebas, tangan tak terlihat Adam Smith tidak akan sangat efektif. Keputusan-keputusan yang tidak tepat yang didasari oleh informasi yang salah tentang harga atau mutu dapat menghasilkan alokasi yang tidak efisien.
mengenai pasar mudah untuk diperoleh. Sebaliknya, pada pasar monopoli hanya ada satu penjual dan berperan sebagai penentu harga, produk yang dipasarkan terdiferensiasi, hambatan yang sulit untuk memasuki sebuah pasar karena sudah ditentukan, seperti: modal teknologi, skala ekonomi, dan informasi mengenai pasar sangat sulit untuk diperoleh. Tidak jauh berbeda dengan pasar monopoli, pasar oligopoli juga hanya terdiri dari beberapa penjual, produk yang dipasarkan homogen maupun terdiferensiasi, ada hambatan yang cukup besar untuk memasuki sebuah pasar, dan sulit untuk memperoleh informasi mengenai pasar oligopoli. Sedangkan, pada pasar monopolistik hampir sama dengan pasar persaingan dimana banyak penjual dan pembeli dalam pasar, produk yang dipasarkan terdiferensiasi, tidak ada hambatan untuk masuk dan keluar pasar, dan mudah untuk memperoleh informasi. (Gambar 2)
CenderungPerfect Competition CenderungMonopoly
Sumber:Agricultural Product Prices(Tomek, 1990)
18 Tomek (1990) mengungkapkan bahwa penetapan harga dan keuntungan yang terjadi pada pasar persaingan sempurna berasal dari jumlah permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar sehingga terjadi harga keseimbangan pada titik
equilibrium. (Gambar 3 dan 4)
P P
S
P P MR= MC= P
D Q Q
i.) PPS pada pasar ii.) PPS pada perusahaan Gambar 3. Penetapan Harga Pasar Persaingan Sempurna
P MC AC P* AVC AC*
Q* Q
Gambar 4. Keuntungan Pasar Persaingan Sempurna
Menurut Nicholson (1999), penentuan harga pada pasar monopoli akan memaksimalkan laba dengan berproduksi di tingkat dimana pendapatan marginal sama dengan biaya marginal dan akan dijelaskan dalam gambar 5.
P
MC
P* AC
MR D Q
Gambar 5. Penentuan Harga Pasar Monopoli
Gambar selanjutnya menunjukkan bahwa Q* akan menghasilkan harga sebesar P* di pasar sehingga laba yang diperoleh pada perusahaan monopli adalah sebesar P*EAC. (Gambar 6)
Harga, biaya MC
P* E AC
C A
MR D
Keluaran per periode Q*
Gambar 6. Keuntungan Pasar Monopoli Penetapan harga pada pasar oligopoli terdiri dari empat model, yaitu:
1. Quasi-competitive model: mengasumsikan bahwa perilaku pengambilan keputusan harga oleh semua perusahaan (harga diberlakukan tetap), dengan kata lain tindakan perusahaan dalam oligopoli tidak mempengaruhi harga pasar dan perusahaan lain. Perusahaan bertindak sebagaiprice taker.
2. Cartel model: mengasumsikan bahwa perusahaan-perusahaan yang ada dipasar bergabung membentuk kartel, dimana kartel bertindak sebagai monopoli.
3. Cournot model: mengasumsikan bahwa perusahaan menganggap tindakannya dapat mempengaruhi harga pasar, tetapi tidak berpengaruh pada tindakan perusahaan lain.
20 Penetapan harga pada pasar monopolistik yang dijelaskan oleh gambar dibawah ini terjadi ketika kurva permintaan berpotongan dengan biaya rata-rata sehingga tidak mungkin memperoleh laba yang lebih. Perusahaan hanya dapat bertahan pada tingkat output dimana MR=MC. (Gambar 7)
P
P* MC
AC MR D
Q* Q
Gambar 7. Penetapan Harga Pasar Monopolistik
Keuntungan maksimum pada pasar monopolistik dapat dilihat dari kurva permintaan yang terletak diatas kurva biaya rata-rata yang dijelaskan pada gambar 8.
P
MC
P* a AC
c b
MR D Q
Q*
Gambar 8. Keuntungan Pasar Monopolistik
disebabkan oleh dua hal yaitu: barang itu berguna dan barang itu jumlahnya terbatas. Barang-barang yang berguna bagi manusia dan jumlahnya terbatas ini disebut barang-barang ekonomi.
2.1.1. Keseimbangan Pasar
Keseimbagan pasar terjadi karena adanya permintaan dan penawaran dalam suatu pasar. Permintaan adalah Jumlah barang atau komoditas yang mampu dibeli oleh seorang konsumen karena peningkatan pendapatan riil akan tergantung dari efek substitusi dan efek pendapatannya. Penawaran dapat dilihat dari kurva penawaran agregat yang merupakan merupakan penjumlahan secara horizontal kurva penawaran individual di pasar. Kurva penawaran dapat didefinisikan sebagai kurva tempat kedudukan hubungan antara jumlah barang atau komoditas yang ditawarkan pada berbagai tingkat harga.
Mubyarto (1989) menyatakan bahwa inti dari teori permintaan dan penawaran adalah terjadinya harga keseimbangan sebagai akibat permainan bersama gaya-gaya permintaan dan penawaran. Teori keseimbangan ini akan dijelaskan dalam gambar 9 berikut.
P S
P*
D Q
q*
22 Kondisi keseimbangan yang terjadi di pasar tentunya menjadi relatif tidak stabil apabila ada kekuatan-kekuatan yang mendorong harga dan jumlah barang atau komoditas yang pada akhirnya akan mencapai keseimbangan baru.
2.1.2. Konsep Ekonomi Industri
Jaya (2001) menyatakan bahwa konsep-konsep industri sangat penting untuk diketahui dan dipahami. Konsep ekonomi industri berkaitan erat dengan aspek ekonomi. Ekonomi industri merupakan seperangkat konsep dan analisis mengenai persaingan dan monopoli dengan berbagai macam pasar yang berada diantara keduanya. Ekonomi industri merupakan suatu keahlian khusus dalam ilmu ekonomi yang membantu menjelaskan mengapa suatu pasar perlu diorganisir dan bagaimana pengorganisasiannya mempengaruhi cara kerja pasar industri. Ekonomi industri menelaah struktur pasar dan perusahaan yang secara relatif lebih menekankan pada studi empiris dari faktor-faktor yang mempengaruhi struktur pasar, perilaku, dan kinerja pasar.
tersendiri mengenai produksi dan struktur biaya serta ada seseorang atau lebih yang bertanggungjawab atas resiko usaha tersebut.
2.2. Pendekatan Struktur, Perilaku, dan Kinerja Pasar
Ekonomi industri menyebutkan bahwa para ahli ekonomi melakukan pendekatan-pendekatan untuk melihat hubungan keterkaitan antara struktur, perilaku, dan kinerja pasar yang masing-masing pendekatan memiliki pola tersendiri di dalam mempelajari hubungan keterkaitan perilaku industri sehingga mewarnai perbedaan dalam struktur analisis yang dilakukan, akan tetapi antara struktur, perilaku, dan kinerja pasar memiliki hubungan ketergantungan satu dengan yang lainnya. Teori Structure, Conduct, Performance (SCP) ini menjelaskan bahwa kinerja suatu industri pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh struktur pasar. Struktur pasar (structure) dianggap akan mempengaruhi perilaku dan strategi perusahaan dalam suatu industri dan perilaku (conduct) akan mempengaruhi kinerja (performance), Paradigma SCP menyatakan bahwa konsentrasi pasar yang tinggi akan membuat perusahaan lebih mudah untuk menguasai pasar dan menghasilkan keuntungan atau marjin yang tinggi, dimana srtuktur pasar mempengaruhiprofitabilitassecara positif.
2.2.1. Struktur Pasar
24 jumlah dan distribusi penjual dalam pasar mempengaruhi harga jual yang berlaku dan output yang terdapat di dalam pasar.
Pada struktur pasar persaingan sempurna ditandai oleh adanya sejumlah besar penjual di dalam pasar dan masing-masing diantara mereka memiliki kekuatan pasar yang relatif sama. Sebagai akibatnya para pesaing pasar tidak memiliki kekuatan pasar yang berguna untuk mengendalikan keadaan pasar, selanjutnya keadaan harga dan output pasar berjalan menurut mekanisme pasar. Berbeda dengan kondisi pada pasar monopoli dimana jumlah penjual bersifat tunggal sehingga keadaan pasar dapat dikendalikan sepenuhnya oleh monopolis, baik dari segi penentuan harga maupun jumlah output. Menurut Jaya (2001), elemen dalam struktur pasar terdiri dari: pangsa pasar, konsentrasi, dan hambatan. 1) Pangsa Pasar(Market Share)
Pangsa pasar menunjukkan besarnya persentase pendapatan perusahaan dari total pendapatan industri yang dapat diukur dari 0-100 persen. Semakin tinggi pangsa pasar maka semakin tinggi pula kekuatan pasar yang dimiliki perusahaan tersebut. Perusahaan yang memiliki pangsa pasar yang sangat dominan akan menciptakan monopoli yang bersandar pada profit yang maksimal, hal sebaliknya juga jika pangsa pasar suatu perusahaan rendah maka persaingan yang tercipta yaitu persaingan sempurna/persaingan efektif.
2) Konsentrasi(Concentration)
dan tingkat konsentrasi ini adalah merupakan halangan masuk yang besar bagi perusahaan baru karena dengan keuntungan yang diperoleh maka perusahaan-perusahaan yang ada dalam industri akan berusaha untuk meningkatkan konsentrasinya.
3) Hambatan Masuk Pasar(Barrier to Entry)
Hambatan untuk memasuki sebuah pasar dapat dilihat dari mudah tidaknya suatu pesaing untuk masuk ke dalam suatu pasar. Hambatan untuk memasuki sebuah pasar dapat disebabkan oleh munculnya persaingan yang semakin ketat. Salah satu cara yang digunakan untuk melihat hambatan masuk dalam penelitian ini adalah dengan mengukur skala ekonomi yang dillihat melalui output perusahaan yang menguasai pasar. Nilai output tersebut kemudian dibagi dengan output total industri. Data ini disebut denganMinimum Efficiency Scale(MES).
Produsen yang efisien dalam berproduksi pada dasarnya memiliki kekuatan alamiah untuk menghambat para pesaing potensial untuk memasuki pasar. Harga jual produk yang ditawarkan oleh produsen kepada konsumen dapat diatur pihak produsen yang mapan menurut selera yang diinginkan. Produsen yang mapan dapat menentukan tingkat harga dan output yang diinginkan untuk menentukan keuntungan. Sebaliknya pada produsen yang memiliki keputusan yang lemah dalam memasuki pasar akan sulit menentukan tingkat harga dan output, hal ini pula yang menyebabkan produsen lemah akan sering gagal melakukan penetrasi pasar dan menguasai keadaan pasar.
26 hambatan eksogen dan hambatn endogen. Hambatan eksogen merupakan hambatan untuk masuk ke dalam suatu pasar yang berasal dari luar perusahaan, seperti: modal, skala ekonomi, diferensiasi produk, diferensiasi intensitas penelitian dan pengembangan, investasi yang besar dan integritas vertikal. Sedangkan hambatan endogen dapat berupa kebijakan harga dari establish firm, strategi penguasaan produksi, strategi penggunaan bahan baku, strategi pemasaran produk dan image
dari loyalitas merek produk itu sendiri. Pada tabel 4 akan dipaparkan perbedaan mendasar dari masing-masing struktur pasar.
Tabel 4. Perbedaan Pasar Berdasar Struktur Pasar
Tipe pasar Pangsa pasar Produk Hambatan Informasi Persaingan
sempurna
Pesaing >50 persen dan tidak satupun produsen yang dapat menguasai pangsa pasar dan didalamnya banyak penjual menguasi pangsa pasar >10 persen dan didalamnya
Oligopoli Menguasai pangsa pasar sekitar 60 persen dan
Setiap pesaing yang berada pada pasar oligopoli pada dasarnya memiliki dua pilihan untuk berkolusi, yaitu menganut kolusi formal atau kolusi informal. Kolusi formal ditandai dengan adanya perjanjian-perjanjian yang bersifat mengikat. Perjanjian ini dapat meliputi persetujuan harga, produksi, wilayah pasar dan lainnya yang sifatnya saling menguntungkan. Disamping itu pada persekutuan yang bersifat formal diberlakukan pula ancaman-ancaman yang dikenakan kepada setiap anggota yang melakukan pelanggaran perjanjian yang telah disepakati.
Berbeda dengan kolusi informal, anggota yang tergabung dalam persekutuan ini tidak saling mengenal secara langsung satu dengan yang lainnya secara tepat. Sebaliknya mereka akan bersekutu secara diam-diam guna menciptakan situasi yang aman bagi masing-masing pesaing yang terdapat di dalam pasar. (Teguh, 2010)
Pemimpin pasar (leader) biasanya akan menentukan harga dan output menurut pandangannya yang menguntungkan dan terhindar dari ancaman pemerintah dan persaingan pasar. Sebaliknya perusahaan-perusahaan kecil akan mengikuti harga yang telah disepakati oleh pemimpin pasar. Perusahaan-perusahaan kecil bebas menentukan pilihan apakah akan mengikuti keputusan pemimpin pasar atau menentukan harga jual sesuai keputusan sendiri, namun dengan konsekuensi yang diterima yaitu akan menghadapi ancaman kemungkinan keluar dari pasar. (Teguh, 2010)
2.2.3. Kinerja Pasar
28 kondisi pasar. Kinerja pasar dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti harga, keuntungan, dan efisiensi.
Harga sering dijadikan sebagai faktor terpenting dalam pembedaan kinerja pasar yang bersaing sempurna dengan pasar yang tidak bersaing. Pada pasar persaingan sempurna harga jual yang terjadi di pasar cenderung lebih rendah karena mengikuti gejolak pasar yang berlangsung dikarenakan di dalam pasar tidak ada satupun produsen yang dapat mengendalikan pasar. Sebaliknya pada pasar yang tidak bersaing seperti monopoli harga jual di pasaran cenderung tinggi karena produsen monopolis memiliki kemampuan penuh guna mengendalikan pasar sehingga monopolis dapat menentukan harga jual yang tinggi sesuai kehendaknya dibanding harga jual yang ditentukan oleh persaingan pasar sempurna.
Dalam hal keuntungan, pasar persaingan sempurna akan menerima keuntungan normal (normal profit). Produsen umumnya berproduksi pada situasi harga sama dengan biaya marjinal dan biaya rata-rata. Sebaliknya pada pasar monopoli, keuntungan yang diterima adalah super normal (extra profit) karena produsen berproduksi pada tingkat harga diatas biaya rata-rata pada rentangan kurva biaya rata-rata yang sedang menurun. Dengan kata lain, monopolis sengaja berproduksi pada situasi kapasitas produksi yang rendah sehingga keuntungan yang diperolah menjadi lebih tinggi. Akibat dari penentuan keuntungan ini akan mempengaruhi efisiensi ekonomi.
2.3. Tinjauan Penelitian Terdahulu
1. Sari (2011) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Struktur, Perilaku, Kinerja Industri Pengolahan Susu di Indonesia, menyimpulkan bahwa bentuk struktur pasar industri susu di Indonesia adalah oligopoli ketat dengan rata-rata ratio konsentrasi empat perusahaan terbesar (CR4) sebesar 72.68 persen,
hambatan masuk pasar dengan melihat nilai MES sebesar 29.05 persen yang tergolong cukup tinggi. Perilaku industri pengolahan susu ini dapat dilihat dari strategi penerapan harga, strategi produk, dan promosi. Kinerja industri ini tergolong rendah dengan nilai PCM sebesar 25.10 persen, growth sebesar 37.62 persen, dan x-eff sebesar 20.32 persen. Hasil kinerja yang masih rendah ini disimpulkan terjadi karena dalam proses produksi terjadi peningkatan biaya dan industri belum mampu menekan biaya produksi dengan baik.
2. Sucianti (2011) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Pakan Ternak di Indonesia menyimpulkanbahwa struktur industri pakan ternak di Indonesia tergolong dalam pasar oligopoli longgar dengan rata-rata konsentrasi sebesar 38.33 persen. Penetapan harga bergantung pada harga bahan baku pakan, peningkatan mutu produk ditingkatkan sesuai dengan SNI, promosi yang dilakukan melalui iklan, majalah, dan internet. Kinerja industri dilihat dari nilai rata- rata PCM sebesar 20.43 persen, x-eff sebesar 31.96 persen, dan growthsebesar 25.17 persen. Hal ini menyimpulkan bahwa kinerja perusahaan yang masih rendah belum dikelola dengan baik. 3. Is (2008) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Daya Saing Kakao di
30 namun sedikit memiliki kekuatan monopoli dengan nilai CR4 sebesar 82
persen dan nilai rata- rataHerfindahl Indexsebesar 2.621.
4. Rahmanu (2009) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Daya Saing Industri Pengolahan dan Hasil Olahan Kakao Indonesia menyimpulkan bahwa kakao olahan Indonesia tidak memiliki keunggulan komparatif pada tahun 1988 hingga tahun 1995 dengan nilai RCA dibawah satu dan memiliki keungulan komparatif pada tahun 1996 sampai dengan tahun 2006 dengan nilai RCA diatas satu. Hal ini dikarenakan pada tahun 1988 sampai dengan tahun 1995 nilai ekspor hasil olahan kakao masih relatif sedikit dan mulai meningkat pada tahun 1996 sampai dengan tahun 2006 seiring dengan meningkatnya permintaan hasil olahan kakao dunia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi industri makanan dan minuman dunia.
5. Yuliati (2010) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Daya Saing Ekspor Kakao Indonesia Tahun 2005-2009 menyimpulkan bahwa dengan hasil perhitungan Revealed Comparative Advantage (RCA) komoditi kakao Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tinggi. Pada periode tersebut nilai RCAnya selalu lebih besar dari satu dan Indeks konsentrasi pasar kakao berada pada kisaran 39.47- 44.45 persen.
III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Operasional
Penelitian ini akan membahas tentang struktur, perilaku, dan kinerja industri pasar kakao yang ada di Indonesiaselama periode 2000-2009. Penelitian ini berguna untuk mengetahui bagaimana struktur, perilaku, dan kinerja industri kakao yang ada di Indonesia. Berdasarkan kerangka pemikiran analisis struktur, perilaku, dan kinerja industri kakao di Indonesia, penelitian ini bermula dari permintaan kakao yang terus mengalami peningkatan, sehingga menciptakan persaingan pada sektor industri. Disamping itu persaingan yang terjadi antar industri akan mempengaruhi penerapan harga dan kinerja bagi masing-masing industri tersebut. Selanjutnya hal ini akan mempengaruhi struktur, perilaku, dan kinerja industri kakao di Indonesia.
Masuknya industri baru juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan persaingan dalam industri sehingga dapat menciptakan perbedaan dalam suatu industri baru dapat menyebabkan persaingan yang baru bagi industri lainnya.
produktivitas (PROD), jumlah perusahaan dan efisiensi internal (X-eff) yang ditetapkan sebagai variabel independen, dan PCM ditetapkan sebagai variabel dependen. Pada akhirnya hasil yang diperoleh akan dapat menjelaskan kebijakan yang seharusnya diambil.
Gambar 10. Alur Kerangka Pemikiran Penelitian
IV. METODE PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Bogor, Provinsi Jawa Barat dengan studi kasus Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Kakao di Indonesia. Kegiatan penelitian ini dilakukan pada bulan Februari- Juli 2012.
4.2. Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementrian Pertanian, Direktorat Jendral Perkebunan seperti nilai input, nilai output, nilai tambah, input tenaga kerja, barang yang dihasilkan dari seluruh perusahaan kakao yang ada di Indonesia, dan data lainnya, serta referensi lain (perpustakaan, buku, penelitian terdahulu, dan internet). Data yang diperoleh merupakan time series dari tahun 2000-2009.
4.3. Metode Analisis Data
4.3.1. Analisis Struktur Pasar
Untuk mengetahui suatu struktur pasar maka ada komponen yang harus diperhatikan seperti: pangsa pasar, derajat perbedaan produk, hambatan masuk pasar, informasi yang diperoleh untuk memamsuki sebuah pasar, dan konsentrasi rasio.
4.3.1.1. Pangsa Pasar
Penguasaan pasar bagi perusahaan memiliki pangsa pasar yang berbeda-beda berkisar 0-100 persen dari total penjualan seluruh pasar. Secara ringkas pangsa pasar menggambarkan keuntungan yang diperoleh perusahaan dari hasil penjualan. Jaya (2001) merumuskan pangsa pasar sebagai berikut:
MSi= 100%
Dimana:
Msi = Pangsa pasar perusahaan i (%) Si = Penjualan perusahaan i (rupiah)
Stot = Penjualan total seluruh perusahaan (rupiah)
4.3.1.2. Derajat Perbedaan Produk
36 4.3.1.3. Hambatan Masuk Pasar
Hambatan dalam memasuki pasar dapat dilihat dengan munculnya berbagai pesaing baru dalam suatu pasar guna mendapatkan keuntungan dan menguasai pasar. Untuk melihat suatu hambatan dalam pasar dapat mengunakan pengukuran skala ekonomis melalui pendekatan output peusahaan. Nilai ini disebut dengan
Minimum Efficiency Scale (MES) yang dirumuskan oleh Jaya (2001) sebagai berikut:
MES = 100%
4.3.1.4. Informasi
Informasi yang diperoleh oleh suatu pasar akan dijelaskan secara deskriptif karena ketika informasi yang tidak sempurna terjadi maka akan mempengaruhi kemampuan pasar untuk menetapkan harga keseimbangan/ ekuilibrium. Pembuktian efisiensi dari harga persaingan mengasumsikan bahwa harga ekuilibrium ini diketahui oleh semua pelaku ekonomi.
4.3.1.5. Rasio Konsentrasi (CR)
Tingkat konsentrasi dapat dihitung melalui rasio konsentrasi (CR). Rasio konsentrasi merupakan presentase dari total output industri atau pendapatan penjualan. Rasio sejumlah perusahaan mengukur pangsa pasar relatif dari total output industri yang dipertanggungjawabkan oleh perusahaan-perusahaan itu. Jaya (2001) merumuskan konsentrasi rasio sebagai berikut:
CRm =
Penelitian ini menggunakan rasio dari empat perusahaan (CR4) yang menunjukkan
CR4= atau CR4= ms1+ ms2+ ms3+ ms4
Dimana:
CR4 : Rasio konsentrasi sebanyak 4 perusahaan (%)
Msi : pangsa pasar perusahaan i (%)
Pangsa pasar diukur dari tingkat konsentrasi melalui rasio konsentrasi. Rasio konsentrasi yang digunakan menunjukkan besarnya kontribusi nilai penjulan output perusahaan terbesar terhadap total nilai produksi industri. Semakin besar angka persentasinya (mendekati 100 persen) maka konsentrasi industri dari produk tersebut semakin besar, yang menggambarkan bentuk pasarnya adalah monopoli. Sebaliknya, jika empat perusahaan menguasai minimal 40 persen pangsa pasar maka struktur industri tersebut adalah berbentuk oligopoli.
4.3.2. Analisis Perilaku Pasar
Perilaku pasar dianalisis secara deskriptif dengan tujuan untuk memperoleh informasi mengenai perilaku perusahaan dalam industri itu sendiri. Perilaku menganalisis tingkah laku dan penerapan strategi perusahaan dalam suatu industri untuk merebut pangsa pasar dan mengalahkan pesaing. Perilaku industri kakao di Indonesia akan dianalisis dengan melihat strategi harga, strategi produk dan promosi yang dilakukan.
4.3.2.1. Strategi Harga
38 yang menghasilkan pendapatan bagi para produsen. Harga juga merupakan unsur yang paling flexibel dimana unsur ini dapat berubah dengan cepat.
4.3.2.2. Strategi Produk dan Promosi
Strategi yang dilakukan oleh perusahaan ataupun industri- industri lain dalam memproduksi suatu produk perlu melihat kondisi pasar karena dalam memilih barang konsumen cenderung memperhatikan tiga hal, yaitu: nilai, biaya, dan kepuasan. Selanjutnya akan dilihat pula apakah terdapat stategi khusus yang perlu dilakukan seperti melakukan diversifikasi produk ataupun kesepakatan jumlah penawaran produk. Selain itu ada pula strategi lain yang dilakukan oleh produsen seperti promosi. Promosi merupakan suatu bagian yang penting dalam menjual produk untuk mempertahankan keberlangsungan produksi, pengembangan inovasi, dan mendapatkan keuntungan(profit).
4.3.3. Analisis Kinerja Pasar
Analisis kinerja industri kakao di Indonesia dilakukan dengan analisisPrice Cost Margin (PCM), efisiensi internal (X-eff) dan pertumbuhan output (Growth).
struktur pasar terhadap kinerja perusahaan, Jaya (2001) merumuskan PCM sebagi berikut:
PCM = 100%
Efisiensi internal (X-eff) menunjukkan kemampuan perusahaan dalam suatu industri untuk menekan biaya produksi. Semakin efisien suatu industri maka keuntungan yang diperoleh akan semakin besar pula. Untuk mengukur tingkat efisiensi internal dirumuskan dengan: (Jaya, 2001)
Efisiensi-X = 100%
Produktivitas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan output pada periode waktu dengan membandingan input tenaga kerja yang dikeluarkan. Untuk mengukur produktivitas memerlukan rumus: (Jaya, 2001)
Produktivitas = 100%
4.3.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Industri Kakao di Indonesia
Analisis hubungan struktur dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kinerja dapat dianalisis dengan menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square) atau metode kuadrat sederhana. Hal ini dilakukan karena penggunaan metode OLS dianggap paling tepat untuk menggambarkan hubungan antara variabel dan penggunaannya juga lebih mudah dibanding metode lainnya dalam pendeskripsian hasil regresi. Bentuk umum dari persamaan dari regresi linear sederhana ini yaitu:
Yi = β0+ β1Xi+ εi
40 sendiri, sedangkan nilai CR4, Minimum Efficiency Scale (MES), Growth,
produktivitas (PROD), efisiensi internal (X-eff), dan jumlah perusahaan (JLP) menjadi variabel independen karena diduga dapat mempengaruhi variabel dependen (PCM). Berdasarkan variabel dependen dan variabel independen maka bentuk persamaan yang diduga yaitu:
PCMt= β0+ β1CR4+ β2MES +β3PROD + β4X-eff +β5JLP+ εi
Dimana:
PCM : Proksi keuntungan perusahaan terbesar (%) CR4 : Rasio konsentrasi empat perusahaan terbesar (%)
MES :Minimum Efficiency Scale(%)
X-eff : Efisiensi internal (%)
PROD : Produktivitas tenaga kerja (%)
JLP : Jumlah perusahaan
ε : Galat
β0 : Intersep(β0 >0)
β1, β3,β4,β5,β6 :Koefisien kemiringan parsial (β0, β1, β3,β4,β5> 0)
4.4. Uji Statistik
4.4.1. Uji R- Squared (R2)
Menurut Gujarati (1978), besaran R2 atau yang dikenal sebagai koefisien determinasi merupakan besaran yang paling lazim digunakan untuk mengukur kebaikan-suai (goodness of fit) garis regresi.secara verbal, R2 mengukur proporsi (bagian) atau prosentase total variasi dalam Y yang dijelaskan oleh model regresi. R2 memiliki dua sifat, yaitu: R2 merupakan besaran yang nilainya selalu positif, dan batas R2adalah 0≤ R2 ≤1. Dengan kata lain, R2digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan model regresi yang digunakan dalam memprediksi nilai keragaman yang dapat dijelaskan oleh variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai R2 akan bertambah besar sesuai dengan bertambahnya jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model.
4.4.2. Uji F
Uji F digunakan untuk melihat apakah model penduga yang digunakan sudah layak untuk menduga parameter yang ada dalam model, selain itu Uji F dapat juga digunakan untuk mengetahui pengaruh seluruh variabel independen terhadap variabel dependen.
Hipotesis:
H0: b1 = b2=...= bi = 0 (dimana tidak ada variabel independen yang berpengaruh
terhadap variabel dependen)
H1: minimal ada salah satu bi ≠ 0 (dimana terdapat variabel independen yang
berpengaruh terhadap variabel dependen) Kriteria uji:
42
Probability F-Statistic > α, maka terima H0 dan simpulkan tidak ada variabel
independen yang mempengaruhi variabel dependen. 4.4.3. Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui tingkat signifikan variabel independen atau untuk menguji apakah regresi dari masing- masing variabel independen yang dipakai terpisah berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel dependen.
Hipotesis:
H0: b1 = b2 =...= bi= 0 (dimana variabel independen-i tidak mempengaruhi variabel
dependen)
H1: bi≠ 0 (dimana variabel independen- i mempengaruhi variabel dependen)
Kriteria uji:
Probability t-Statistic < α, maka tolah H0 dan simpulkan variabel independen-i
berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Probability t-Statistic > α, maka terima H0 dan simpulkan variabel independen-i
tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. 4.5. Uji Ekonometrika
Pengujian ekonometrika dalam suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui perilaku atau kejadian dalam hal ekonomi dengan mengaji secara statistik atau matematika. Dalam ekonometrika dilakukan empat pengujian, yaitu:uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas.
4.5.1. Uji Normalitas
distribusi normal baku. Distribusi normal baku adalah data yang telah ditransformasikan ke dalam bentuk Z-Score dan diasumsikan normal. Hipotesis pada ujiKolmogorov-Smirnovadalah sebagai berikut (Lains, 2006):
H0: Sisaan menyebar normal
H1: Sisaan tidak menyebar normal
Uji statistik yang digunakan: Z(X) =
Keterangan:
Z(X) = Angka baku X = Angka pada data S = Simpangan baku Kaidah pengujian:
Jika Zhit < Ztabel maka tolak Ho Jika Zhit > Ztabel maka terima Ho
Jika keputusan yang diperolah menolak Ho, artinya error term atau sisaan yang diperolah tidak menyebar normal dan sebaliknya, jika keputusan menerima Ho maka sisaan yang diperoleh telah menyebar normal.
4.5.2. Uji Multikolinearitas
44 Juanda (2009) mengemukakan bahwa pedoman regresi yang bebas dari multikolinearitas adalah mempunyai nilai dibawah 10. Sebaliknya, nilai VIF yang lebih besar dari 10 mengindikasikan terjadinya multikolinearitas.
4.5.3. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu. Adanya autokorelasi dalam persamaan regresi dapat mengakibatkan bahwa penduga yang diperoleh dengan menggunakan OLS tidak lagi bersifat BLUE. Untuk mendeteksi adanya autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Durbin-Watson. Dalam Firdaus (2004), untuk melihat autokorelasi dapat menggunakan ketentuan sebagai berikut:
DW Kesimpulan
Sumber: Ekonometrika Suatu Pendekatan Aplikatif (Firdaus, 2004)
4.5.4. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas pada umumnya terjadi pada data cross-section. Jika ragam sisaan tidak sama atau var (εi)=E(εi2)=σi2 untuk setiap pengamatan dari
peubah respon hasil transformasi tersebut, atau dapat juga dilakukan dengan uji
White Heteroscedasticity.Hipotesis yang digunakan dalam pengujian ini yaitu: Ho : Tidak terdapat heteroskedastisitas
H1: Terdapat heteroskedastisitas
Kaidah pengujian yaitu:
Probabilitas observasi R-Squared < α maka tolak Ho
Probabilitas observasi R-Squared > α maka terima Ho
V. GAMBARAN UMUM
5.1. Prospek Kakao Indonesia
Indonesia telah mampu berkontribusi dan menempati posisi ketiga dalam perolehan devisa senilai 668 juta dolar AS dari ekspor kakao sebesar ± 480 272 ton pada tahun 2005. Mengingat kakao sebagai komoditas ekspor unggulan setelah karet dan minyak sawit, maka pemerintah bertekad untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen utama dalam perkakaoan dunia. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab potensi lain lahan yang cukup dan sesuai untuk pertanaman kakao, juga didukung fasilitas riset yang memadai dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kakao Indonesia, tersedianya SDM yang memadai sehingga mempunyai potensi untuk menjadikan Indonesia mampu menghasilkan kakao selaras dengan pertumbuhan dan permintaan dunia. (Departemen Pertanian, 2006)
Indonesia masih memiliki prospek yang sangat besar untuk pengembangan perkakaoan baik dari tingkat hulu sampai dengan hilir. Negara maju lainnya seperti Amerika Serikat, Singapura, dan Malaysia mampu membangun industri kakao yang notabene tidak memiliki bahan baku. Industri kakao bukan hanya semata-mata untuk industri makanan, tetapi industri kosmetika juga memerlukan bahan baku hasil olahan kakao. (Departemen Pertanian, 2006)
tahun. Sementara tingkat konsumsi di negara berkembang seperti Indonesia diperkirakan baru mencapai 0.06 kg/kapita/tahun juga akan meningkat sejalan dengan tingkat kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. (Departemen Pertanian, 2006)
Indonesia berhasil menjadi produsen kakao kedua terbesar dunia berkat keberhasilan dalam program perluasan dan peningkatan produksi yang mulai dilaksanakan sejak awal tahun 1980-an. Pada saat ini areal perkebunan kakao tercatat seluas 914 ribu hektar, tersebar di 29 propinsi dengan sentra produksi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur dan Jawa Timur. Sebagian besar (lebih dari 90 persen) areal perkebunan kakao tersebut dikelola oleh rakyat (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2004).
5.1.1. Produksi Kakao di Indonesia
Produksi kakao Indonesia pada tahun 2005 dapat digambarkan sebagai berikut: wilayah Sulawesi sebesar 439 167 ton (67.3 persen), wilayah Sumatera sebesar 99 725 ton (15.3 persen), wilayah Jawa-Bali- Nusa Tenggara sebesar 47 910 ton (7.3 persen), wilayah Maluku dan Irian Jaya sebesar 37 673 ton (5.8 persen) dan wilayah Kalimantan sebesar 27 875 ton (4.3 persen). Hal tersebut menunjukkan bahwa wilayah Sulawesi merupakan sentra kakao terbesar di Indonesia dengan luas areal tanaman kakao 593 448 ha (59.8 persen). (Departemen Pertanian, 2006)
48 konstan dan beberapa diantaranya mengalami penurunan. (Departemen Pertanian, 2006)
Sementara itu, disisi lain industri pengolahan kakao dalam negeri menghasilkan semi dan final produk dengan jumlah perusahaan yang ada di Indonesia sebanyak 16 perusahaan dengan kapasitas terpasang 325 000 ton/th dan kapasitas terpakai baru mencapai 165 000 ton/th atau hanya 51 persen. Hal ini dikarenakan keterbatasan untuk memperoleh bahan baku yang berkualitas di dalam negeri. (Departemen Pertanian, 2006)
5.1.2. Konsumsi Kakao di Indonesia
Menurut data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang dipublikasikan oleh BPS (2010), konsumsi kakao Indonesia dibedakan atas konsumsi cokelat bubuk dan cokelat instan. Perkembangan konsumsi kedua jenis cokelat tersebut dari tahun 1982-2008 relatif berfluktuatif namun cenderung mengalami peningkatan yakni masing-masing sebesar 35.71 persen untuk konsumsi cokelat instan dan 17.31 persen untuk konsumsi cokelat bubuk. Konsumsi cokelat bubuk sangat berfluktuatif dan tertinggi terjadi pada tahun 1996 yang mencapai 20.8 gr/kapita. Sementara data konsumsi cokelat instan hasil SUSENAS hanya tersedia sejak tahun 1999-2008.
5.2. Industri Kakao di Indonesia
kakao nasional yang kini sedang digalakkan pemerintah Kementerian Perindustrian diharapkan mampu meningkatkan perolehan nilai tambah di dalam negeri yang pada gilirannya akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah, meningkatkan penyediaan lapangan kerja dan mendongkrak perolehan devisa dari kegiatan ekspor produk olahan biji kakao. (Kementerian Perindustrian, 2012)
Beberapa kebijakan yang kurang mendukung upaya pengembangan industri hilir kakao dalam negeri sehingga industri hilir kakao nasional kurang berkembang, antara lain adanya kebijakan pengenaan pajak produk primer dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 18 Tahun 2000 tentang PPN atas komoditi primer. Pengenaan PPN sebesar 10 persen mengakibatkan beralihnya biji kakao yang tadinya diolah di dalam negeri menjadi diekspor dalam bentuk biji, sehingga industri pengolahan kakao tidak memperoleh bahan baku yang cukup. Akibatnya, beberapa perusahaan pengolahan biji kakao tidak dapat beroperasi. (Kementerian Perindustrian, 2012)
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1. Analisis Struktur Pasar Industri Kakao di Indonesia
Struktur pasar dapat dianalisis dengan tiga pokok elemen, yaitu nilai pangsa pasar, konsentrasi rasio empat perusahaan terbesar (CR4), dan hambatan masuk
pasar yang dianalisis dengan pendekatanMinimum Effisiency Scale(MES). Namun dalam penelitian yang dilakukan terdapat keterbatasan data mengenai data penjualan sehingga penentuan struktur pasar industri kakao ini akan dianalisis melalui konsentrasi rasio empat perusahaan terbesar (CR4) danMinimum Effisiency Scale(MES).
6.1.1. Konsentrasi Pasar
Konsentrasi rasio empat perusahaan terbesar (CR4) menggambarkan
perwakilan dari empat perusahaan terbesar yang ada di Indonesia sehingga melalui pendekatan CR4 akan digunakan untuk melihat persentase total output empat
perusahaan terbesar terhadap total output keseluruhan industri. Dalam industri kakao yang ada di Indonesia diperoleh nilai rata-rata CR4 dari tahun 2000 hingga
38,96 43,95 57,38
45,37
55,6 70,13 99,28
80,67
92,39 95,56
0 20 40 60 80 100 120
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
P
e
r
se
n
6.1.2. Hambatan Masuk Pasar
Masuk dan keluarnya suatu industri dapat menggambarkan persaingan yang terjadi dalam industri tersebut sehingga hambatan untuk masuk pasar dapat terdeteksi. Melalui pendekatan Minimum Effisiency Scale (MES) dapat diketahui besarnya persentase hambatan untuk masuk pasar. Nilai MES yang diperoleh dengan cara membagi nilai output terbesar perusahaan dengan total output dalam industri. Sepanjang tahun 2000 hingga 2009, rata- rata nilai MES industri kakao di Indonesia adalah sebesar 45.12 persen. Semakin tinggi nilai MES, maka hambatan untuk memasuki pasar akan semakin sulit pula. Menurut Comanous dan Wilson (1967) dalam Sari (2011) nilai MES yang lebih dari 10 persen menggambarkan hambatan masuk pasar yang tinggi pada suatu industri. Nilai MES terbesar terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 89.81 persen. Hal ini disebabkan karena melonjaknya nilai output kakao pada tahun 2006. Tidak jauh berbeda dengan pengaruh output pada nilai CR4, peningkatan nilai output ini dapat disebabkan
23,56 29,3 21,73 15,51
54,86
45,61 89,81
53,46 64,13
53,18
0 20 40 60 80 100
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
P
e
r
se
n
6.1.4. Informasi
Sifat oligopoli pada industri ini memungkinkan sulitnya untuk memperoleh informasi untuk memasuki pasar kakao ini karena adanya tekanan yang kuat dari masing-masing industri. Salah satu sumber menyebutkan bahwa untuk informasi yang sulit diperoleh adalah mengenai biaya mencakup dari biaya input, biaya produksi, hingga pada biaya output. Adanya teknologi yang dilakukan juga bagian yang sulit untuk diperolah pesaing lain, bagi pesaing baru yang ingin memasuki pasar ini terlebih dahulu harus mengetahui strategi perusahaan lain yang sudah bertahan sebelumnya. Ketika pesaing baru mendapatkan informasi yang tidak sempurna maka akan dapat menyebabkan kesalahan dalam harga keseimbangan sehingga pesaing baru ini harus mengetahui posisi harga keseimbangan yang ada pada industri lain, sedangkan pada kenyataannya tidak ada satupun industri yang mau memberikan informasi mengenai harga ini.
6.2. Analisis Perilaku Pasar
Perilaku pasar menggambarkan tingkah laku dan penerapan strategi yang dilakukan perusahaan untuk menguasai pangsa pasar sebesar mungkin. Dalam analisis perilaku pasar akan dibahas mengenai penerapan strategi harga, strategi produk dan promosi yang dilakukan.
6.2.1 Strategi Harga
56 dengan yang biasa diartikan sebagai bentuk kerjasama, seperti melakukan kesepakatan harga terhadap industri lain sehingga harga dari hasil pengolahan kakao tidak akan jauh berbeda.
Hal pertama yang diperkirakan dalam penentuan harga dengan melihat biaya produksi yang dikeluarkan. Hal ini bisa meliputi biaya input seperti bahan baku, biaya teknologi, biaya pemasaran, dan biaya input lainnya. Namun perlu diperhatikan ketika terjadi kenaikan biaya input tidak menutupi kemungkinan akan terjadi kenaikan biaya output pula, selama biaya produksi masih dapat diatasi.
Bagi pelaku ekonomi, keunggulan produk juga tetap mempengaruhi harga karena penentuan harga didasari dengan kualitas produk. Industri biasanya akan melihat responden konsumen terhadap penerapan harga yang dilakukan, seperti melakukan kuisioner acak untuk melihat kesesuain harga dengan cara membandingkan preference pelanggan terhadap suatu produk. Hal ini tentu saja menjadi strategi bagi beberapa industri untuk melihat peluang mereka berdasarkan penerapan harga.
Kesepakatan penentuan harga yang dilakukan beberapa perusahaan ini tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan kerugian pada konsumen, pasalnya masing-masing perusahaan akan menetapkan harga yang tinggi pada produknya. Namun disisi lain pemberlakuan kesepakatan harga ini juga dilakukan untuk mencegah terjadinya pemotongan harga atau dengan kata lain agar tidak ada pihak produsen lain yang merasa dirugikan.
6.2.2. Strategi Produk dan Promosi
perusahaan akan melakukan promosi guna menarik perhatian dari konsumen sehingga konsumen akan membeli produk tersebut. Namun, pada dasarnya strategi produk yang dilakukan oleh perusahaan ataupun industri bertujuan untuk menghasilkan keuntungan. Akan tetapi perusahaan ataupun industri harus teliti melihat keadaan pasar. Jenis pasar oligopoli ini memiliki produk terdiferensiasi yang umumnya dilakukan oleh perusahaan untuk memberikan pilihan kepada konsumen dalam menarik perhatian.
58 semakin banyak konsumen dengan loyalitas, dan pada akhirnya mampu memberikan keuntungan.
6.3. Analisis Kinerja Pasar
Analisis kinerja pasar akan tergambar pada besarnya nilai Price Cost Margin (PCM), hal ini dikarenakan PCM dijadikan sebagai indikator kemampuan perusahaan untuk meningkatkan harga diatas biaya produksi dan menggambarkan keuntungan/ kelebihan penerimaan atas biaya langsung. Pada industri kakao yang ada di Indonesia ini PCM dipengaruhi oleh variabel- variabel lain, seperti konsentrasi rasio empat perusahaan terbesar (CR4), Minimum Efficiency Scale
(MES), efisiensi internal (X-eff), Produktivitas (PROD), dan jumlah perusahaan (JLP).
6.3.1 AnalisisPrice Cost Margin(PCM)
Pendekatan dengan PCM dilakukan karena tingkat keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan bersifat rahasia dan tidak untuk dipublikasikan sehingga PCM bertindak sebagai indikator keuntungan atas biaya langsung yang diperoleh suatu perusahaan. Pada industri kakao ini nilai PCM memiliki nilai rata- rata sebesar 21.29 persen, dengan nilai PCM tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 87.68 persen dan PCM terendah terjadi pada tahun 2001 yaitu sebesar 2.06 persen.
13,06
2,06 5,71
26,34 12,98
35,32 87,68
10,41 12,06 7,31
0 20 40 60 80 100
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
p
e
r
se
n
72,12 52,46 29,49 126,27 42,44
82,02 774,71
11,77 13,76 15,99
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
P
e
r
se
n
dikatakan baik apabila lulus uji statistik dan uji ekonometrika. Uji statistik meliputi uji koefisiensi determinasi (R2), uji t, dan uji f. Sedangkan dalam uji ekonometrika, suatu model harus terbebas dari pelanggaran asumsi-asumsi seperti multikolinearitas, heteroskedastisitas, autokorelasi, dan uji normalitas. Alat analisis yang digunakan dalam model ini adalahminitab 14danE-views 6.
6.4.1 Uji R-Squared (R2)
Berdasarkan nilai pada model regresi maka nilai R-Squared atau nilai koefisien determinasi yang diperoleh adalah sebesar 91.8 persen yang artinya sebesar 91.8 persen keragaman variabel dependen (PCM) dapat dijelaskan oleh variabel independen pada model yang terdiri dari variabel MES, CR4, Produktivitas
(PROD), X-eff, Jumlah Perusahaan (JLP). Sedangkan sisa nilai koefisien determinasi sebesar 8.2 persen dapat dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Sedangkan untuk uji R-adjusted, nilainya adalah sebesar 81,6%.
6.4.2 Uji F
Nilai Probability F-Statistic yang diperoleh dalam model adalah sebesar 0.027 dengan besarnya taraf nyata adalah lima persen atau sebesar 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa nilai Probability F-Statistic lebih kecil dibanding nilai taraf nyata (0.027 < 0.05) sehingga dapat disimpulkan bahwa minimal terdapat satu variabel independen yang berpengaruh nyata terhadap variabel dependen sehingga model ini layak digunakan sebagai parameter penduga.
6.4.3 Uji t
Hasil uji t dapat dilihat dari nilai variabel independen yang nilai probabilitasnya lebih kecil dari taraf nyata. Variabel MES, CR4, PROD, dan JLP
62 nilainya lebih besar daripada taraf nyata lima persen atau sebesar 0.05 sehingga variabel ini tidak beperngaruh nyata terhadap variabel dependen (PCM). Sedangkan variabel efisiensi internal (x-eff) memiliki nilai sebesar 0.028 dimana nilainya lebih kecil dari taraf nyata 0.05 sehingga variabel ini berpengaruh nyata terhadap PCM. Dapat disimpulkan bahwa dalam model ini hanya variabel x-eff saja yang berpengaruh nyata pada variabel dependen (PCM).
6.4.4 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk melihat apakah terdapat hubungan linear antara variabel bebas didalam model regresi. Uji multikolinearitas dapat dilihat dari nilai VIF dalam model, dengan ketentuan jika nilai VIF pada variabel kurang dari 10 maka terdapat multikolinearitas. Dari hasil regresi dapat dilihat bahwa tidak ada nilai VIF dari masing-masing variabel yang besarnya lebih dari 10 sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model ini tidak terjadi multikolinearitas sehingga model layak.
Predictor Coef SE Coef T P VIF
Constant -13,47 26,94 -0,50 0,643
MES 0,1630 0,4267 0,38 0,72 7,3
CR4 0,0568 0,3242 0,18 0,869 4,2
X-eff 0,08949 0,02639 3,39 0,028 2,9
PROD -0,0000420 0,0003935 -0,11 0,920 1,8
JLP 0,5553 0,7942 0,70 0,523 1,9
6.4.5 Uji Autokorelasi
Heteroskedasticity Test: White
F-statistic 1.595952 Prob. F(5,4) 0.3356
Obs*R-squared 6.661035 Prob. Chi-Square(5) 0.2471
Scaled explained SS 0.817098 Prob. Chi-Square(5) 0.9759
0 1 2 3 4
-15 -10 -5 0 5 10 15
64 6.4.8. Hubungan Struktur dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Hasil regresi model pada lampiran 7, menunjukkan bahwa variabel MES, CR4, X-eff, dan JLP berpengaruh positif terhadap PCM, sedangkan variabel PROD
berpengaruh negatif terhadap PCM. Keterkaitan antara PCM dengan variabel independen dirumuskan dengan model berikut:
PCM = - 13.5 + 0.163 MES + 0.057 CR4 + 0.0895 X-eff – 0.000042 PROD +
0.555 JLP + ε
Hal ini berarti menunjukkan bahwa peningkatan MES sebesar satu persen akan meningkatkan PCM sebesar 0.163 persen, yang artinya semakin meningkatnya hambatan untuk memasuki pasar maka besarnya keuntungan akan meningkat. Hipotesis ini sesuai dengan hipotesis awal karena meningkatnya hambatan masuk pasar menyebabkan persaingan semakin ketat karena hanya industri yang kuatlah yang dapat bertahan dalam menghadapi pasar ini. Peningkatan CR4sebesar satu persen akan meningkatkan PCM sebesar 0.057 persen
pula. Selain itu, peningkatan x-eff sebesar satu persen akan turut meningkatkan PCM sebesar 0.0895 persen, hal ini tentu saja didukung dengan semakin meningkatnya efisiensi maka keuntungan yang diperoleh akan semakin besar. Hal yang sama juga terjadi pada JLP, peningkatan JLP sebesar satu satuan akan meningkatkan PCM sebesar 0.555 persen. Jumlah perusahaan akan mendukung kinerja suatu industri, ketika jumlah perusahaan semakin meningkat maka kinerja suatu industri akan turut meningkat dan ketika kinerja industri meningkat maka dapat diartikan dengan semakin efisien industri tersebut yang berujung pada peningkatan keuntungan, hal inilah yang menyebabkan nilai PCM ikut meningkat.
disimpulkan bahwa model regresi yang tepat untuk kasus industri kakao ini yaitu: PCM = - 13.5 + 0.0895 X-eff + ε.
Hubungan antara x-eff dan PCM tentu jelas akan saling berpengaruh karena efisiensi internal (x-eff) menggambarkan kemampuan suatu industri untuk menekan biaya produksinya, semakin efisien maka semakin besar pula keuntungan yang diperoleh. X-eff yang memiliki besar 0.028 ini terbukti lebih besar dari taraf nyata 0.05 sehingga dapat disimpulkan x-eff berpengaruh nyata dan sesuai dengan hipotesis karena industri akan menekan biaya produksi mereka untuk tetap memperhatikan keuntungan.
Empat variabel yang tidak signifikan seperti CR4, MES, PROD, dan JLP ini
dianggap tidak sesuai dengan hipotesis awal. Besarnya masing- masing variabel ini adalah sebesar 0.869, 0.722, 0.920, 0.523 memiliki besar yang melebihi taraf nyata 0.05. CR4 tidak berpengaruh signifikan karena semakin tinggi konsentrasi industri
66 Model estimasi yang menunjuk variabel produktivitas ternyata berpengaruh negatif terjadap PCM. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis karena semakin tinggi produktivitas yang dihasilkan maka seharusnya akan meningkatkan keutungan pada suatu industri. Namun pada kenyataannya peningkatan produktivitas sebesar satu persen akan menurunkan keuntungan sebesar 0.000042 persen. Hal ini diduga karena tingginya produktivitas akan meningkatkan output ataupun barang yang dihasilkan juga ikut meningkat. Hal ini dapat dikatakan sebagai suatusupply, ketika
supply terlalu tinggi maka akan menurunkan harga dari yang semestinya. Akibatnya, produk menjadi tidak bersaing dan tidak memberi keuntungan lebih. Kondisi ini mampu dikatakan sebagai alasan mengapa produktivitas tidak berpengaruh nyata terhadap PCM.
VII. KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
Hasil penelitian yang dilakukan pada industri kakao di Indonesia periode 2000-2009 ini memiliki beberapa kesimpulan yaitu:
1. Struktur pasar pada industri kakao yang di Indonesia diperoleh melalui pendekatan konsentrasi rasio dan hambatan masuk pasar. Struktur pasar industri kakao di Indonesia bersifat oligopoli dengan besaran rata- rata konsentrasi rasio sebesar 67.41 persen, dan rata-rata hambatan masuk pasar sebesar 45.12 persen. Dengan besaran seperti ini, maka sifat oligopoli ini dikelompokkan dalam oligopoli ketat atau quasi-competitive model, yaitu dimana masing-masing pelaku industri melakukan kolusi atau adanya kerjasama. Struktur pasar dapat pula dijelaskan secara deskriptif dengan melihat banyaknya jumlah penjual dan derajat perbedaan produk. Banyaknya industri dari tahun 2000-2009 berkisar antara 15-34. Jenis produk terdiferensiasi, dan masing-masing industri sulit memperoleh informasi terutama bagi industri baru.
2. Perilaku pasar pada industri kakao di Indonesia dapat dilihat dari strategi harga, strategi produk dan promosi. Strategi harga dilakukan dengan kolusi antar pelaku pasar yaitu menjadikan biaya produksi tertinggi sebagai pertimbangan harga penjualan. Strategi produk dilakukan dengan cara mengklasifikasikan produk berdasarkan ukuran, harga, dan manipulasi penawaran. Sedangkan strategi promosi dilakukan melalui iklan secara visual.