• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Struktur, Perilaku Dan Kinerja Industri Karet Remah (Crumb Rubber) Di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Struktur, Perilaku Dan Kinerja Industri Karet Remah (Crumb Rubber) Di Indonesia"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU DAN KINERJA

INDUSTRI KARET REMAH (

CRUMB RUBBER

)

DI INDONESIA

DWI RANI WIDIASTUTY

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Struktur, Perilaku dan Kinerja Industri Karet Remah (Crumb Rubber) di Indonesia adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, April 2016

Dwi Rani Widiastuty

(4)

ABSTRAK

DWI RANI WIDIASTUTY. H14120030. Analisis Struktur, Perilaku dan Kinerja Industri Karet Remah (Crumb Rubber) di Indonesia. Dibimbing oleh ARIEF DARYANTO.

Crumb rubber merupakan karet alam yang diolah secara khusus sehingga mutunya terjamin secara teknis. Perkembangan ekspor crumb rubber mengalami pertumbuhan yang baik. Kondisi ini membuat banyak perusahaan tertarik untuk masuk dalam pasar industri crumb rubber. Banyaknya perusahaan baru yang masuk dalam industri crumb rubber membuat industri crumb rubber semakin berkembang. Terjadinya peningkatan jumlah perusahaan serupa yang masuk pasar menyebabkan persaingan di industri crumb rubber juga akan meningkat, baik produsen lokal maupun multinasional. Pertumbuhan sektor industri crumb rubber yang pesat memungkinkan munculnya perusahaan-perusahaan besar yang memiliki modal kuat dan berskala besar, serta menimbulkan ketatnya persaingan antar perusahaan dalam industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur, perilaku dan kinerja industri crumb rubber, serta menganalisis hubungan antara struktur dan faktor-faktor lain dengan kinerja industri crumb rubber di Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data yang digunakan adalah data time series dari tahun 1990-2013. Metode deskriptif digunakan untuk menganalisis perilaku industri crumb rubber di Indonesia. Metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis struktur dan kinerja industri crumb rubber dengan pendekatan SCP (Structure-Conduct-Performance), sementara untuk menganalisis hubungan antara struktur dan faktor-faktor lain dengan kinerja digunakan pendekatan OLS (Ordinary Least Square).

Hasil penelitian menunjukan bahwa struktur Industri crumb rubber di Indonesia dapat dikatakan tidak terkonsentrasi (unconcentrated) atau mendekati pasar persaingan sempurna, terlihat dari nilai rata-rata rasio empat perusahaan (CR4) sebesar 17,48 persen dan Herfindahl-Hirschman Index (HHI) sebesar 98,74 persen. Selain itu, nilai rata-rata Minimum Efficiency Scale (MES) sebesar 6,48 persen, artinya hambatan masuk pasar termasuk rendah. Rendahnya Minimum Efficiency Scale (MES) dapat menjadi peluang masuknya perusahaan baru ke industri crumb rubber di Indonesia. Perilaku pasar dapat terlihat dari beberapa strategi yang digunakan perusahaan crumb rubber dalam meningkatkan keuntungan, yaitu strategi harga, produk dan promosi. Kinerja industri crumb rubber terlihat dari nilai rata-rata tingkat keuntungan (PCM), efisiensi internal (X-eff) dan pertumbuhan nilai output (growth) kurang dari 50 persen, sehingga kinerja industri crumb rubber di Indonesia masih kurang baik.

(5)

ABSTRACT

DWI RANI WIDIASTUTY. H14120030. Analysis of Structure, Conduct and Performance Crumb Rubber Industry in Indonesia. Supervised by ARIEF DARYANTO.

Crumb rubber is a natural rubber that is treated specifically so that technically quality is guaranteed. The development of crumb rubber exports is experiencing good growth. This condition makes many companies interested to enter in the crumb rubber industry market. The number of new companies entering the industry make the crumb rubber industry continue to growing. An increasing number of similar companies that entered the market led to a rivalry in the crumb rubber industry. This will also increase, both local and multinational manufacturers. Growth in the industrial sector crumb rubber which enables the rapid emergence of large companies, have strong capital and large-scale, and creates competition between companies in the industry.

This study aims to determine the structure, conduct and performance of the crumb rubber industry, as well as to analyze the relationship between structure and other factors to the performance of crumb rubber industry in Indonesia. The data used in this research is secondary data. Data taken from the agencies concerned, BPS, PT Indonesian CAPRICORN Consultants Inc, the Ministry of Industry, Association of Indonesian Rubber Companies (Gapkindo), UN Comtrade. These books and a variety of sources support the research. The data used are time series data from the year 1990 to 2013. Descriptive method is used to analyze the behavior of crumb rubber industry in Indonesia. Quantitative methods are used to analyze the structure and performance of crumb rubber industry to approach SCP (Structure-Conduct-Performance), while to analyze the relationship between structure and other factors to the performance approach is used OLS (Ordinary Least Square).

The results showed that the structure of crumb rubber industry in Indonesia can be said to be unconcentrated or close to a perfectly competitive market, seen from the average value of the ratio of the four firms (CR4) of 17,48 percent and the Herfindahl-Hirschman Index (HHI) of 98,74 percent. In addition, the average value of Minimum Efficiency Scale (MES) of 6,48 percent, which means that market entry barriers are low. Low Minimum Efficiency Scale (MES) can be chances entry of new firms into crumb rubber industry in Indonesia. Market behavior can be seen from some of the strategies the company uses crumb rubber to improve profits, the strategy of price, product and promotion. Performance of the crumb rubber industry can be seen from the value of the average rate of profit (PCM), internal efficiency (X-eff) and growth of less than 50 percent, so the performance of crumb rubber industry in Indonesia is still not good.

(6)
(7)
(8)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Ilmu Ekonomi

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU DAN KINERJA

INDUSTRI KARET REMAH (

CRUMB RUBBER

) DI

INDONESIA

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2016

(9)
(10)
(11)
(12)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini adalah analisis crumb rubber dengan judul Analisis Struktur, Perilaku dan Kinerja Karet Remah (Crumb Rubber) di Indonesia.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr Ir Arief Daryanto MEc selaku dosen pembimbing atas saran dan arahan yang diberikan kepada penulis selama penulisan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr Ir Sri Mulatsih MScAgr selaku dosen penguji utama dan Ibu Dr Ir Wiwiek Rindayanti MSi selaku penguji dari komisi pendidikan yang telah meluangkan waktu untuk memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini. Penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Agus Susanto (Badan Pusat Statistik), Bapak Ahmad Badaruddin (Gapkindo) yang telah membantu selama pengumpulan data.

Penulis juga mengucapkan terima kasih banyak kepada ayah Usman, ibu Ida Nuraida, kakak serta seluruh keluarga atas doa dan dukungannya. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh dosen dan staf Departemen Ilmu Ekonomi, keluarga besar ESP 49, Mabruroh, Ans, Teti, Shelvy, Veni, Vivi, Noviza, Sofie, Reni dan Ihsan Fikrie sebagai tempat berbagi suka dan duka, serta kepada Annisa Safitri dan Aryani Sundari selaku teman sebimbingan yang saling mendukung dan juga kepada teman-teman yang tidak bisa disebutkan satu per satu, terima kasih atas dukungan dan bantuannya selama empat tahun belajar disini. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi para pembaca.

Bogor, April 2016

(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 1

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

Ruang Lingkup Penelitian 2

TINJAUAN PUSTAKA 3

METODE 12

Jenis dan Sumber Data 12

Metode Analisis 12

Uji Statistika dan Ekonometrika 17

HASIL DAN PEMBAHASAN 20

Gambaran Umum Karet 20

Perkembangan Industri Crumb Rubber di Indonesia 22 Profil Beberapa Perusahaan Crumb Rubber di Indonesia 23 Regulasi Pemerintah yang berkaitan dengan Crumb Rubber di Indonesia 24 Analisis Struktur Pasar Industri Crumb Rubber di Indonesia 24 Analisis Perilaku Industri Crumb Rubber di Indonesia 26 Analisis Kinerja Industri Crumb Rubber di Indonesia 27 Hasil Analisis hubungan antara struktur dan faktor-faktor lain dengan kinerja

industri crumb rubber di Indonesia 28

SIMPULAN DAN SARAN 31

Simpulan 31

Saran 31

DAFTAR PUSTAKA 32

LAMPIRAN 34

(14)

DAFTAR TABEL

1 Ekspor karet alam Indonesia menurut jenis mutu 2009 - 2013 1

2 Tipe-tipe Pasar 6

3 Pengukuran-pengukuran konsentrasi perusahaan 6 4 Perusahaan crumb rubber dan jumlah pekerja tahun 1990-2013 22 5 Tingkat konsentrasi industri crumb rubber tahun 1990-2013 25

DAFTAR GAMBAR

6 Bagan kerangka pemikiran 11

7 Pertumbuhan nilai ekspor dan konsumsi domestik industri crumb rubber

tahun 1990-2013 23

8 Fluktuasi PCM, Growth dan X-eff 27

DAFTAR LAMPIRAN

9 Nilai MES industri crumb rubber 34

10 Nilai PCM, growth dan efisiensi industri crumb rubber 34 11 Nilai dependent dan independent industri crumb rubber 35 12 Hasil estimasi Ordinary Least Square (OLS) 36

13 Uji normalitas 36

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Karet alam merupakan salah satu komoditas penting bagi perekonomian Indonesia. Nilai ekonomi yang diperoleh dari komoditas karet alam antara lain sebagai penyumbang devisa negara dan sebagai salah satu mata pencaharian masyarakat Indonesia. Komoditas karet alam yang diperdagangkan dalam bentuk primer dan turunan atau hasil olahannya. Pada produk primer terdapat tiga golongan utama yaitu crumb rubber, karet konvensional dan lateks pekat. Data ekspor karet alam Indonesia dalam angka tahun disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Ekspor karet alam Indonesia menurut jenis mutu 2009 - 2013 (‘000 ton)

Sumber: BPS (diolah Gapkindo, 2015)

Tabel 1 menunjukan bahwa ekspor karet alam Indonesia berdasarkan jenis mutu dari tahun 2009-2013 mengalami fluktuasi. Pada tahun 2009-2011 total ekspor karet alam mengalami pertumbuhan, namun pada tahun 2012 terjadi penurunan sebesar 0,04 persen. Pada tahun 2013 terjadi peningkatan sebesar 0,11 persen. Hampir mencapai 90 persen dari total ekspor produk karet alam Indonesia diolah menjadi crumb rubber dengan kodifikasi SIR (Standard Indonesia Rubber), sedangkan sisanya diolah dalam bentuk RSS (Ribbed Smoked Sheet), lateks pekat dan lainnya (BPS, 2013).

Pada tahun 2009-2013 ekspor crumb rubber mengalami pertumbuhan yang baik. Perkembangan ini membuat banyak perusahaan tertarik untuk masuk dalam pasar industri crumb rubber. Banyaknya perusahaan baru yang masuk dalam industri crumb rubber membuat industri crumb rubber semakin berkembang. Terjadinya peningkatan jumlah perusahaan serupa yang masuk pasar, membuat persaingan di industri crumb rubber juga akan meningkat baik produsen lokal maupun multinasional.

Perumusan Masalah

Pertumbuhan sektor industri crumb rubber yang pesat memungkinkan munculnya perusahaan-perusahaan besar yang memiliki modal kuat dan berskala besar, serta menimbulkan ketatnya persaingan antar perusahaan dalam industri. Perusahaan-perusahaan besar yang bermodal kuat akan memiliki kekuatan yang

Jenis Mutu 2009 2010 2011 2012 2013

Lateks pekat 9,1 12,9 9,5 7,6 5,9

RSS (Ribbed

Smoked Sheet) 77,0 60,2 67,3 66,7 69,3

SIR (Technically

Specified rubber) 1.905,0 2.278,8 2.370,1 2.370,1 2.625,1

Jenis karet lain 0,1 - - - 1,6

(16)

2

besar di dalam pasar. Kekuatan ini bisa diperoleh karena perusahaan-perusahaan mempunyai kemampuan untuk memanfaatkan kebijakan proteksi dan penanaman modal asing. Persaingan antar perusahaan yang semakin ketat menandakan semakin nyata akibat dari persaingan itu sendiri, baik persaingan yang bersifat sehat maupun kurang sehat. Hal ini secara langsung akan memengaruhi struktur, perilaku dan kinerja dari suatu industri. Fenomena yang terjadi selanjutnya yaitu mengarah pada terbentuknya konsentrasi dalam pasar. Terkonsentrasinya struktur pasar pada industri crumb rubber secara tidak langsung berimplikasi pada kinerja industri dan menyebabkan keuntungan yang lebih besar bagi perusahaan. Kinerja juga secara tidak langsung dipengaruhi oleh struktur dan perilaku pasar. Apabila tidak ada pengawasan yang ketat, maka akan menciptakan suatu bentuk persaingan tidak sehat sehingga menyebabkan kerugian bagi pesaing lain.

Berdasarkan penjelasan di atas, ada beberapa hal yang dapat dikaji dalam menentukan struktur, perilaku dan kinerja industri crumb rubber. Oleh karena itu, permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana struktur, perilaku dan kinerja industri crumb rubber di Indonesia?

2. Bagaimana hubungan antara struktur dan faktor-faktor lain dengan kinerja industri crumb rubber di Indonesia?

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Menganalisis struktur, perilaku dan kinerja industri crumb rubber di Indonesia.

2. Menganalisis hubungan antara struktur dan faktor-faktor lain dengankinerja industri crumb rubber di Indonesia.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi terbaru bagi para pelaku industri crumb rubber. Bagi pemerintah maupun lembaga atau instansi terkait, penelitian ini dapat menjadi bahan masukan untuk pengembangan industri crumb rubber di Indonesia. Bagi penulis merupakan proses belajar untuk lebih kritis dalam menganalisis suatu permasalahan yang sedang terjadi di sektor industri dan dapat lebih memberikan wawasan yang lebih luas mengenai industri

crumb rubber di Indonesia.

Ruang Lingkup Penelitian

(17)

3 yaitu 25123. Data yang digunakan adalah data tahunan (time series) dari tahun 1990-2013. Pada penelitian ini tidak dibahas lebih jauh mengenai aspek perdagangan internasional, hanya diberikan informasi mengenai perkembangan nilai ekspor crumb rubber di Indonesia.

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Industri

Konsep-konsep industri sangat penting untuk diketahui dan dipahami. Konsep industri berkaitan erat dengan aspek ekonomi. Ekonomi industri merupakan seperangkat konsep dan analisa mengenai persaingan dan monopoli dengan berbagai macam pasar yang berada di antara keduanya (Jaya, 2001).

Ekonomi industri merupakan suatu keahlian khusus dalam ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi ini membantu menjelaskan mengapa pasar perlu diorganisir dan bagaimana pengorganisasiannya memengaruhi cara kerja pasar industri. Definisi ekonomi industri adalah bahwa pada dasarnya teori-teori yang terdapat dalam ekonomi industri menekankan pada ilmu ekonomi studi empiris dan faktor-faktor yang memengaruhi struktur pasar, perilaku dan kinerja sehingga tercapai tingkat efisiensi bagi perusahaan, industri serta perekonomian secara keseluruhan (Jaya, 2001).

Menurut Hasibuan (1993) pengertian industri dapat dibedakan secara mikro dan makro. Secara mikro, industri adalah kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang menghasilkan barang-barang yang homogen, atau barang-barang yang mempunyai sifat saling mengganti (substitusi). Secara makro, industri adalah kegiatan ekonomi yang menciptakan nilai tambah, yaitu semua produk barang maupun jasa. Sehingga dapat simpulkan bahwa pengertian industri secara luas adalah suatu unit usaha yang melakukan kegiatan ekonomi yang mempunyai tujuan untuk menghasilkan barang dan jasa yang terletak pada satu bangunan atau lokasi tertentu serta memiliki catatan administrasi tersendiri mengenai produksi dan struktur biaya serta ada yang lebih bertanggung jawab atas usaha tersebut.

Pendekatan Structure-Conduct-Performance (SCP)

(18)

4

Teori organisasi industri menjelaskan bahwa terdapat sebuah konsep SCP atau structure, conduct and performance. Teori tersebut menjelaskan bahwa kinerja suatu industri pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh struktur pasar. Struktur pasar dianggap akan mempengaruhi perilaku dan strategi perusahaan dalam suatu industri dan perilaku akan mempengaruhi kinerja. Ada beberapa model pendekatan SCP yaitu SCP School dan Chicago School, serta The New Industrial Economics. a. Structure-Conduct-Performance (SCP School)

Pandangan ini menekankan bahwa tingkat konsentrasi dan keuntungan yang tinggi diinterpretasikan sebagai indikator penguasaan dan penyalahgunaan penguasaan pasar. Dengan demikian masyarakat akan merasakan dampak negatifnya dan pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan untuk membatasi perilaku perusahaan (Lubis, 1997).

b. Chicago School

Aliran Chicago School mempunyai argumen bahwa tingkat konsentrasi dan keuntungan yang tinggi merupakan ukuran keberhasilan perusahaan. Hanya perusahaan yang efisien dan inovatif yang mampu mendapatkan keuntungan dan memperbesar pangsa pasar serta meningkatkan konsentrasi pasar. Sebaliknya, perusahaan yang efisien justru menguntungkan konsumen melalui tingkat harga yang lebih rendah maupun kualitas produk yang lebih baik. Berbeda dengan pandangan klasik, pandangan ini menyatakan arah hubungan yang terbalik, di mana tingkat efisiensi perusahaan merupakan determinan posisi suatu perusahaan dalam pasar dan perilakunya. Aliran ini juga menyatakan bahwa sumber utama terjadinya kekuatan monopoli adalah pemerintah, sehingga agar tercapai kinerja pasar yang diinginkan diserahkan pada mekanisme pasar (Yunianti, 2001). Paradigma Chicago

meyakini bahwa keberhasilan perusahaan (firm success) yang diukur dengan tingkat keuntungan dan pangsa pasarnya mengindikasikan kepuasan konsumen, bukan kinerja yang buruk (Daryanto, 2004).

c. New Industrial Economics

Pandangan ini memberi perhatian lebih pada peran perilaku yaitu apresiasi terhadap dimensi strategis dari keputusan perusahaan. Perusahaan tidak hanya bereaksi dan beradaptasi terhadap kondisi eksternal, tapi berusaha agar lingkungan ekonomi dimana perusahaan berada dapat memberi keuntungan dengan pertimbangan bahwa pesaingnya juga akan melakukan hal yang sama (Lubis, 1997).

Struktur Pasar

(19)

5 eksternal serta mendeskripsikan karakteristik dan komposisi pasar dalam perekonomian. Pasar secara sederhana disebut sebagai pertemuan antara penjual dengan pembeli. Pengertian penjual disini telah mencakup setiap individu perusahaan dalam industri, sedangkan pengertian pembeli telah tergabung dalam sejumlah pembeli.

Hasibuan (1993) menjelaskan bahwa dalam struktur pasar terdapat elemen-elemen yang menjelaskan pangsa pasar, konsentrasi dan hambatan untuk masuk (barrier to entry). Setiap perusahaan memiliki struktur pada masing-masing keadaan tertentu. Menurut Jaya (2001) elemen utama struktur pasar dapat digabungkan dalam suatu kesamaan dan dicocokkan dengan data perusahaan aktual. Asumsinya adalah bahwa tingkat keuntungan perusahaan merupakan motivasi dasar perusahaan. Oleh karena itu, tingkat keuntungan merupakan suatu ukuran yang baik dalam menggambarkan kinerja suatu perusahaan.

Pangsa Pasar

Menurut Shepherd (1979) pangsa pasar menggambarkan besarnya tingkat penjualan relatif perusahaan, yaitu rasio antara besarnya penjualan perusahaan dengan total penjualan industri. Setiap perusahaan memiliki pangsa pasarnya sendiri dan besarnya berkisar antara 0 hingga 100 persen dari total penjualan seluruh pasar. Pangsa pasar mencerminkan proksi keuntungan bagi perusahaan karena pangsa pasar yang besar biasanya menandakan kekuatan pasar yang besar dalam menghadapi persaingan dan sebaliknya. Pangsa pasar dapat dihitung dengan beberapa cara yaitu berdasarkan nilai penjualan, unit penjualan, unit produksi dan kapasitas produksi. Pada produk yang bersifat homogen biasanya pangsa pasar diukur dengan menggunakan unit atau volume penjualan, sedangkan pada pasar yang produknya heterogen pangsa pasar dihitung terhadap total penjualan.

(20)

6

Tabel 2 Tipe-tipe pasar

Konsentrasi (Concentration)

Menurut Jaya (2001) konsentrasi merupakan kombinasi pangsa pasar dari perusahaan-perusahaan oligopoli, dimana adanya hubungan saling ketergantungan antar perusahaan tersebut. Kelompok perusahaan ini biasanya terdiri dari dua sampai delapan perusahaan, kombinasi pangsa pasar yang mereka lakukan membentuk suatu tingkat pemusatan dalam pasar. Pengukuran-pengukuran konsentrasi perusahaan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Pengukuran-pengukuran konsentrasi perusahaan

Pengukuran Rumus �

Tipe Pasar Kondisi Utama Contoh

Monopoli murni Suatu perusahaan menguasai 100 persen dari pangsa pasar. dan tanpa pesaing yang kuat.

Surat kabar lokal atau nasional, film kodak, batu baterai.

Oligopoli ketat

Penggabungan empat perusahaan terbesar yang memiliki pangsa pasar 60-100 persen. Kesepakatan

Penggabungan empat perusahaan terkemuka yang memiliki pangsa pasar 40 persen atau kurang, kesepakatan di antara mereka untuk menetapkan harga sebenarnya tidak mungkin.

Kayu, perkakas rumah tangga, mesin-mesin kecil, perangkat keras, majalah, batu baterai, obat-obatan.

Persaingan monopolistik

Banyak pesaing yang efektif, tidak satu pun yang memiliki lebih dari 10 persen pangsa pasar.

Pedagang eceran,penjual pakaian Persaingan murni

Lebih dari 50 persen pesaing yang mana tidak satupun yang memiliki pangsa pasar yang berarti.

Sapi dan unggas Sumber: Jaya, 2001

(21)

7 dimana:

���= jumlah perusahaan terbesar

�� = pangsa pasar perusahaan ke-i (%) = jumlah perusahaan terbesar Pengukuran indeks konsentrasi:

a) Rasio konsentrasi yang standar memerlukan data mengenai ukuran pasar secara keseluruhan dan ukuran-ukuran pasar yang memimpin pasar.

b) Indeks Hirschman-Herfindahl merupakan penjumlahan kuadrat pangsa pasar utama dalam suatu industri.

c) Indeks Rosenbluth didasarkan pada peringkat suatu perusahaan dan pangsa pasarnya.

d) Indeks Entropy mengukur semua pangsa pasar semua perusahaan dalam industri.

Hambatan Masuk (Barrier to Entry)

Persaingan potensial adalah sebuah persaingan yang terjadi dimana perusahaan-perusahaan di luar pasar yang mempunyai kemungkinan untuk masuk dan menjadi pesaing yang sebenarnya. Menurut Jaya (2001) hambatan-hambatan mencakup seluruh cara dengan menggunakan perangkat tertentu yang sama (contoh: paten, franchise). Pada intinya hambatan untuk masuk mencakup segala sesuatu yang memungkinkan terjadinya penurunan kecepatan pesaing baru.

Shepherd (1990) menyatakan bahwa terdapat dua jenis hambatan, yaitu hambatan eksogen dan hambatan endogen. Hambatan eksogen merupakan hambatan masuk ke dalam pasar yang sifatnya berada di luar kontrol dari lending firm dan merupakan penyebab fundamental yang tidak dapat diubah, seperti modal, skala ekonomi, diferensiasi produk, diversifikasi, intensitas penelitian dan pengembangan, high durability of firm spesific capital dan integrasi vertikal. Sedangkan, hambatan endogen dapat berupa kebijakan harga dari establish firm, starategi penguasaan produk, strategi penguasaan bahan baku, strategi penguasaan produk dan image dari loyalitas merek suatu produk itu sendiri.

Perilaku Industri

Menurut Hasibuan (1993) perilaku industri adalah pola tanggapan dan penyesuaian yang dilakukan suatu perusahaan di dalam pasar untuk mencapai tujuannya. Biasanya perilaku itu dilakukan dengan melihat kondisi pasar yang akan dimasuki.

(22)

8

Menurut Jaya (2001) perilaku industri dapat menjelaskan mengenai persaingan harga dan jumlah yang ditetapkan perusahaan, kolusi yang terjadi antara perusahaan, diskriminasi harga, differensiasi produk, pengeluaran iklan dan promosi serta pengeluaran riset dan pengembangan. Dalam perilaku perusahaan terdapat kekuatan pemusatan pasar yang terdiri dari pasar monopoli, oligopoli, dan pasar persaingan sempurna. Pada pasar monopoli dimana terdapat kekuatan pasar pada perusahaan tertentu, perilaku perusahaan bertujuan untuk menggapai kondisi perekonomian secara umum bukan untuk menghadapi pesaing. Perilaku perusahaan monopoli dalam menetapkan harga dan jumlah produk bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Monopoli juga menetapkan harga secara administratif bukan melalui mekanisme pasar. Perilaku setiap perusahaan akan sulit diperkirakan pada kondisi pasar oligopoli. Berbeda halnya dengan kondisi pasar persaingan sempurna dimana perusahaan hanya bersifat sebagai penerima harga, pada oligopoli yang dipimpin oleh suatu perusahaan dominan pada umumnya perusahaan yang mendominasi pasar akan berlaku seperti halnya perusahaan monopoli.

Kinerja Industri

Menurut Jaya (2001), kinerja industri adalah hasil kerja yang dipengaruhi oleh struktur dan perilaku industri. Menurut para ekonom, kinerja industri biasanya memusatkan pada tiga aspek pokok yaitu efisiensi, kemajuan teknologi dan kesinambungan dalam distribusi.

Efisiensi

Efisiensi adalah menghasilkan suatu nilai output yang maksimum dengan menggunakan sejumlah input tertentu, baik secara fisik maupun nilai ekonomis (harga). Efisiensi terdiri dari dua kategori, yaitu efisiensi internal (efisiensi-X) dan efisiensi alokasi. Efisiensi internal biasanya menggambarkan perusahaan yang dikelola dengan baik, menggambarkan usaha yang maksimum dari para pekerja dan menghindari kejenuhan dalam pelaksanaan jalannya perusahaan. Sedangkan efisiensi alokasi menggambarkan sumber daya ekonomi yang di alokasikan sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi perbaikan dalam berproduksi yang dapat menaikan nilai dari output.( Jaya, 2001).

Kemajuan Teknologi

(23)

9

Kesinambungan dalam Distribusi (Keadilan/ Equity)

Keadilan yaitu keseimbangan dalam distribusi. Keadilan mempunyai tiga dimensi, yaitu kesejahteraan, pendapatan dan kesempatan. Keseimbangan mempengaruhi etika dan terdapat kriteria etika yang harus dikombinasikan, yaitu kesamarataan, upaya, dan kontribusi atau produktivitas (Jaya, 2001). Berdasarkan elemen-elemen yang diketahui, maka dapat diketahui bagaimana jenis pasar berdasarkan struktur-perilaku dan kinerja yang dihadapi oleh suatu industri.

Tabel 3 Jenis pasar berdasarkan struktur-perilaku dan kinerja N

o

Struktur Perilaku Kinerja

Pangsa

Rendah Heterogen Unrecognized

interdependence a Normal

Rendah Heterogen Unrecognized

interdependence a Normal

diferen independen a=b,c Tinggi Buruk

Keterangan: 1; pasar persaingan sempurna, 2; pasar monopolistik, 3; oligopoli longgar, 4; oligopoli ketat, 5; perusahaan dominan, a; promosi berbentuk merk, b; promosi berdasarkan industri/pasar, c; promosi secara politik.

(24)

10

Mengukur kinerja suatu industri, variabel yang paling umum digunakan adalah Price-Cost-Margin (PCM). Penggunaan PCM sebagai variabel kinerja pertama kali oleh Collins dan Presto (1968-1969). Selain PCM, pengukuran kinerja juga dapat dilakukan dengan metode-metode lain. Pada umumnya, pengukuran kinerja dalam studi empiris terbagi menjadi empat macam. Selain PCM, pengukuran lain yang dapat digunakan adalah rasio dari kelebihan profit terhadap penjualan, tingkat pengembalian dari asset atau modal, dan yang terakhir adalah dengan mengukur nilai pasar dari surat-surat berharga perusahaan (Putra, 2009).

Tinjauan Penelitian Terdahulu

Rizkyanti (2010) dalam analisis struktur pasar industri karet dan barang karet periode tahun 2009 menunjukan berdasarkan hasil analisisis struktur pasar karet dan produk olahan karet didapatkan bahwa terdapat empat perusahaan yang memiliki pangsa pasar tertinggi yaitu sub-industri karet remah, sub-industri pengasapan karet, sub-industri barang-barang dari karet yang belum termasuk 25591 dan 25592 dan sub-industri ban luar dan ban dalam. Dengan nilai CR4 sebesar 75,21 persen (Jaya, 2001). Dilihat dari konsentrasi Indeks Hirschman-Herfindahl menurut klasifikasi struktur pasar dalam indeks herfindahl bahwa industri karet dan barang karet secara keseluruhan termasuk dalam pasar oligopoli sebesar 0,2060. Dikatakan dalam pasar oligopoli karena kisaran herfindahl 0,2 sampai dengan 0,6.

Amalia et al (2013) dalam sistem pemasaran rakyat di provinsi Jambi dengan pendekatan struktur, perilaku dan kinerja pasar menunjukkan bahwa konsentrasi rasio empat perusahaan terbesar (CR4) di tingkat pabrik crumb rubber sebesar 75,70 persen. Karakteristik struktur pasar menunjukkan bahwa pasar terkonsentrasi dengan tingkat persaingan yang kecil. Struktur pasar yang terbentuk mengarah pada struktur pasar oligopoli dan terdapat lembaga pemasaran yang dominan dalam proses penentuan harga, yaitu pabrik crumb rubber.

Subanidja (2005) dalam analisis struktur pasar dan kinerja industri penggilingan menunjukan bahwa melihat struktur pasar industri penggilingan dengan menggunakan kode ISIC /KBLI 153 beberapa industri yang memiliki struktur pasar oligopoli. Dengan menggunakan analisa regresi, pengaruh yang signifikan terhadap margin laba pada tingkat kepercayaan 95 persen. Dengan kata lain persamaan regresi ini dapat dipakai untuk memprediksi (menduga) laba yang diterima oleh perusahaan industri. Melalui ketiga variabel independent : IHH, pangsa pasar, ROA yang signifikan dapat memengaruhi laba serta dapat menjelaskan perubahan kinerja perusahaan industri dalam bentuk margin laba serta secara bersama-sama.

Prastiwi (2011) dalam analisis struktur perilaku dan kinerja industri minuman ringan di Indonesia menunjukan hasil analisis Struktur Conduct Performance

(25)

11 Andiani (2006) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Struktur-Perilaku-Kinerja Industri Susu di Indonesia, menyimpulkan bahwa struktur pasar pada industri susu di Indonesia adalah oligopoli ketat dengan tingkat konsentrasi yang cukup tinggi dan jenis produk yang heterogen. Selain itu, dalam penelitian juga disimpulkan bahwa semua variabel yang diuji yaitu Herfindahl-Hirschman Index (HHI), produktivitas, X-efisisensi dan Growth berpengaruh nyata dan mempunyai hubungan positif terhadap tingkat keuntungan perusahaan (PCM).

Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Bagan kerangka pemikiran

Hipotesis Penelitian

Penelitian mengenai Analisis Struktur-Perilaku-Kinerja suatu industri telah banyak dilakukan oleh para peneliti ekonomi. Hubungan antara variabel-variabel dalam estimasi model yang dianalisis dapat menghasilkan kesimpulan yang berbeda tergantung penggunaan proksi atau variabel yang dipakai peneliti.

Berdasarkan pengamatan teori dan penelitian terdahulu yang mendasari penelitian ini, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Industri karet spesifikasi teknis (crumb rubber)

STRUKTUR Pangsa Pasar Konsentrasi Hambatan masuk

Perkembangan ekspor karet alam Indonesia mengalami pertumbuhan yang baik

Ekspor karet alam Indonesia sebagian besar dalam bentuk karet spesifikasi teknis (crumb rubber)

Analisis regresi dengan OLS

KINERJA

Price Cost Margin Efficiency

Growth

PERILAKU Strategi harga Strategi produk

Strategi promosi

Hubungan antara struktur dan faktor-faktor lain dengan kinerja industri

(26)

12

1. Herfindahl-Hirschman Index (HHI) atau total kuadrat pangsa pasar empat perusahaan terbesar memiliki pengaruh positif terhadap PCM. Semakin tinggi konsentrasi suatu perusahaan maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan (Juwita, 2004).

2. Efesiensi-X (X-eff) memiliki pengaruh positif terhadap PCM. Semakin efisien suatu perusahaan maka tingkat produksi suatu perusahan lebih sedikit untuk memproduksi komoditi karena efisiensi merupakan pengurangan biaya sehingga biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam jangka panjang lebih murah. Adanya efisiensi maka tingkat keuntungan perusahaan akan meningkat.

3. Pertumbuhan nilai output (Growth) memiliki pengaruh positif terhadap PCM. Semakin tinggi tingkat permintaan pasar dalam pertumbuhan nilai output maka tingkat keuntungan yang diperoleh akan semakin meningkat karena adanya dorongan perusahaan untuk meningkatkan output.

4. Produktivitas (Prod) memiliki hubungan yang positif dengan PCM. Produktivitas merupakan perbandingan antara nilai output dengan nilai input tenaga kerja. Semakin tinggi nilai output akan meningkatkan nilai produktivitas suatu perusahaan. Produktivitas yang meningkat menunjukkan kinerja yang meningkat pula. Kinerja yang meningkat akan menambah penghasilan dan keuntungan bagi perusahaan.

5. Ekspor (Ex) memiliki pengaruh positif terhadap PCM. Kemampuan perusahaan untuk melakukan ekspor yang tinggi dapat meningkatkan keuntungan perusahaan.

METODE

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data diambil dari instansi-instansi terkait yaitu Badan Pusat Statistika (BPS), PT CAPRICORN Indonesian Consultan Inc, Departemen Perindustrian, Gabungan perusahaan karet Indonesia (Gapkindo), UN Comtrade, skripsi, buku dan berbagai sumber yang menunjang penelitian ini. Data yang digunakan adalah data time series dari tahun 1990-2013.

Metode Analisis

(27)

13

Analisis Struktur Industri

Pangsa Pasar

Setiap perusahaan memiliki pangsa pasarnya sendiri, dan besarnya berkisar antara 0 hingga 100 persen dari total penjualan seluruh pasar. Peranan pangsa pasar adalah sebagai sumber keuntungan bagi perusahaan (Jaya, 2001).

MSi= SStotI x % (1)

dimana:

MSi : pangsa pasar perusahaan i (persen)

Si : penjualan perusahaan i (juta rupiah)

Stot : penjualan total seluruh perusahaan (juta rupiah)

Konsentrasi Industri

Tingkat konsentrasi dapat dihitung dengan dua cara yaitu Concentration Ratio (CR) dan Herfindahl-Hirschman Index (HHI). Dimana Concentration Ratio

(CR) menggambarkan struktur pasar sedangkan penggunaan HHI untuk mengetahui industri karet remah (crumb rubber) berada pada struktur pasar yang bagaimana berdasarkan interval indeksnya (Puspasari, 2006).

Concentration Ratio (CR)

Rasio konsentrasi merupakan persentase dari total output industri atau pendapatan penjualan. Rasio konsentrasi sejumlah perusahaan besar mengukur pangsa relatif dari total output industri yang dipertanggungjawabkan oleh perusahaan-perusahaan itu. Kelompok perusahaan terdiri dari 2 sampai 8 perusahaan. Penerimaan (return) rata-rataindustri yang terkonsentrasi adalah lebih tinggi daripada penghasilan jenis industri yang kurang terkonsentrasi (Jaya, 2001). Semakin besar angka persentasenya (mendekati 100 persen) maka semakin besar konsentrasi industri dari produk tersebut. Jika rasio konsentrasi suatu industri mencapai 100 persen berarti monopoli. Dengan demikian maka konsentrasi dapat dikatakan sebagai berikut:

CR = jumlah penjualan empat perusahaan terbesar total penjualan industri x % (2)

Konsentrasi suatu perusahaan juga dapat dihitung melalui pangsa pasarnya, yaitu:

(28)

14 dimana :

CR : rasio konsentrasi sebanyak 4 perusahaan (persen)

MSi : pangsa pasar perusahaan i (persen)

Herfindahl-Hirschman Index (HHI)

Pengukuran ini didasarkan pada jumlah total dan distribusi ukuran dari perusahaan-perusahaan dalam industri. Dihitung dengan penjumlahan kuadrat pangsa pasar semua perusahaan dalam suatu industri (Jaya, 2001).

= ∑ MSni= i (4)

dimana:

HHI = Herfindahl-Hirschman Index

MS

i = pangsa pasar perusahaan ke-i (persen) m = jumlah perusahaan terbesar

n = jumlah total seluruh perusahaan yang berada pada industri

Indeks akan mendekati 0 (nol) ketika terdapat banyak perusahaan dalam satu pasar dengan distribusi yang hampir sama (mendekati pasar persaingan sempurna), dan mendekati 10.000 ketika terjadi monopoli. Pada indeks ini terdapat karakteristik pada bobot, yang dibebankan relatif pada pangsa pasar perusahaan besar dibandingkan dengan pangsa pasar perusahaan kecil (Juwita, 2004).

Hambatan Untuk Masuk

Hambatan masuk pasar dapat dilihat dari mudah atau tidaknya pesaing-pesaing potensial untuk masuk ke pasar. Semakin tinggi hambatan masuk maka akan semakin lemah ancaman dari pendatang baru yang hendak masuk ke dalam suatu industri.

Beberapa hal mengenai hambatan memasuki suatu pasar. Pertama, hambatan-hambatan muncul dalam kondisi pasar yang mendasar, tidak hanya dalam bentuk perangkat yang legal ataupun dalam bentuk kondisi-kondisi yang berubah dengan cepat. Kedua, hambatan dibagi dalam tingkat mulai dari tanpa hambatan sama sekali, hambatan rendah, sedang sampai tingkatan tinggi di mana tidak ada lagi jalan masuk. Ketiga, hambatan merupakan sesuatu yang kompleks. Cara yang digunakan untuk melihat hambatan masuk adalah dengan menggunakan skala ekonomis yang didekati melalui output perusahaan yang menguasai pasar lebih dari 50 persen. Nilai output tersebut kemudian dibagi dengan total output industri. Data ini disebut sebagai Minimum Efficiency Scale (MES) (Jaya, 2001).

(29)

15

Analisis Perilaku (Conduct) Industri

Perilaku industri crumb rubber dalam penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif. Analisis tersebut lebih ditekankan pada strategi apa saja yang digunakan industri crumb rubber untuk mendapatkan pangsa pasarnya. Adapun strategi-strategi tersebut terdiri dari strategi-strategi harga, strategi-strategi produk dan strategi-strategi promosi. a. Strategi harga

Setiap perusahaan dalam lingkup industri tentu memiliki strategi yang berbeda dalam hal penetapan harga. Struktur pasar yang memiliki kecenderungan oligopoli, akan menciptakan perilaku saling ketergantungan antara perusahaan yang kurang mendominasi terhadap perusahaan lain yang lebih mendominasi (Kuncoro, 2007).

b. Strategi produk

Setiap perusahaan yang bergerak dalam bidang industri pasti akan melakukan strategi dalam mengeluarkan produknya. Strategi produk ini akan menjadi salah satu aspek penting yang akan membedakan produk dari perusahaan satu dengan perusahaan lainnya (Septiani, 2013).

c. Strategi promosi

Selain strategi dalam harga dan produk, dalam suatu industri terdapat pula aspek strategi promosi. Promosi digunakan sebagai salah satu upaya perusahaan untuk meningkatkan penjualan. Setiap perusahaan akan mengalokasikan anggaran yang berbeda-beda untuk mempromosikan produknya. Hal demikian sangat terkait dengan ukuran dari perusahaan dalam industri (Kuncoro, 2007). Semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka kemampuan untuk mengalokasikan dana untuk promosi akan semakin besar. Tingkat kreativitas dan inovasi pun akan sangat menentukan, sehingga produk dapat diterima masyarakat.

Analisis Kinerja Industri (Market Performance)

Analisis kinerja industri crumb rubber dilakukan dengan menggunakan analisis Price Cost Margin (PCM), efisiensi internal (X-Eff) dan pertumbuhan output (Growth). PCM merupakan salah satu indikator kinerja yang digunakan sebagai perkiraan kasar dari keuntungan industri. PCM dalam penelitian ini digunakan dengan menggunakan proksi nilai tambah yang diperoleh. Artinya semakin tinggi nilai tambah maka semakin efisien kinerja industri tersebut dalam rangka meminimumkan biaya sehingga keuntungan industri semakin besar. PCM juga didefinisikan sebagai persentase keuntungan dari kelebihan penerimaan atas biaya langsung, PCM dapat dirumuskan sebagai berikut:

PCM =nilai tambah - upah totalnilai output x % (1)

Sumber: Sheperd (1990)

(30)

16

Efisiensi internal menunjukkan kemampuan perusahaan dalam suatu industri dalam menekan biaya produksi yang harus dikeluarkan. Semakin efisien suatu perusahaan, semakin besar pula keuntungan yang akan diperoleh. Untuk mengukur tingkat efisiensi internal adalah dengan membagi nilai tambah dengan input industri tersebut (Jaya, 2001).

X-eff =nilai tambah industrinilai input x % (2)

Pertumbuhan output (Growth) dapat menunjukkan permintaan pasar, sehingga dapat diketahui tingkat pertumbuhan dari industri itu sendiri. Growth

dapat ditentukan dengan cara membagi selisih antara output pada tahun ke-i dan output tahun sebelumnya dengan output tahun sebelumnya (Putra, 2009).

� �ℎ = nilai outputt - nilai output

t-nilai outputt- % (3)

Faktor lain yang dapat mempengaruhi kinerja suatu industri ialah variabel produktivitas. Produktivitas mengindikasikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan output pada periode waktu tertentu (Puspasari, 2006). Produktivitas dapat ditulis dalam persamaan berikut:

Produktivitas =Nilai input tenaga kerjaNilai output x % (4)

Hubungan Struktur dan Faktor Lainnya dengan Kinerja

Metode yang digunakan untuk menganalisis hubungan struktur dan faktor lain yang memengaruhi kinerja adalah dengan menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square) atau metode kuadrat sederhana. Hal ini dipilih karena metode OLS merupakan metode yang paling tepat untuk menggambarkan hubungan antara variabel, selain itu metode ini merupakan metode sederhana dibandingkan metode lainnya serta adanya kemudahan dalam penggunaan serta pendeskripsian hasil regresi dan yang paling penting metode OLS ini yang paling sering digunakan peneliti di bidang ekonomi untuk melihat hubungan antar variabel ekonomi.

Variabel tidak bebas (dependent) yang digunakan dalam metode OLS adalah variabel Price Cost Margin (PCM). Penggunaan variabel PCM sebagai proksi keuntungan telah dilakukan oleh Collins and Preston (1969), Winsih (2007).

(31)

17

PCMt= β + β HHIt+β X-efft+β � �ℎt+β �� �t+β � t+Ut

dimana:

PCM� : rasio keuntungan industri pada unit industri tahun ke-t (%)

HHI� : total kuadrat pangsa pasar empat perusahaan terbesar tahun ke-t (%)

X-efft : efisiensi-X pada unit industri tahun ke-t (%)

Growtht: pertumbuhan nilai output pada unit industri tahun ke-t

Prodt : produktivitas industri pada tahun ke-t (rupiah)

Ext : nilai yang diekspor (ton)

Ut : galat

β : intersep (� >0)

β ,β ,β ,β ,β : koefisien kemiringan parsial β ,β ,β ,β ,β > )

Uji Statistika dan Ekonometrika

Metode statistika yang akan digunakan dalam menganalisis hubungan antara variabel dimana setelah menentukan parameter-parameter yang akan diestimasi, maka dilakukan pengujian-pengujian agar suatu model dapat dikatakan baik. Pengujian tersebut dilakukan dengan uji statistik terhadap model penduga melalui uji F dan pengujian untuk perameter-parameter regresi melalui uji t serta melihat berapa persen variabel bebas (independent) dapat dijelaskan oleh variabel tidak bebas (dependent) melalui koefisien determinasi (R-Squared). Pengujian ekonometrika yang sudah dilakukan antara lain uji normalitas, uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas dan uji multikolinearitas.

Uji R-Squared (R2)

R-Squared (R2) atau biasa disebut uji koefisien determinasi digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan model regresi yang digunakan dalam memprediksi nilai keragaman yang dapat dijelaskan oleh variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai R2 akan bertambah besar sesuai dengan bertambahnya jumlah variabel yang dimasukan ke dalam model. Nilai R2 memiliki dua sifat yaitu memiliki besaran positif dan besarannya adalah 0 ≤ R2 ≤ 1 (Gujarati, 1995).

Nilai R2 digunakan untuk melihat layak atau tidaknya suatu model dimana semakin banyak variabel maka semakin tinggi nilai R2. Selain nilai R2 terdapat juga nilai adjusted-R2. Nilai ini digunakan untuk membandingkan dua model, semakin besar nilai R2 adj maka makin baik model tersebut. R2 adj dapat digunakan untuk membandingkan dua model karena niali R2 adj sudah mengalami koreksi terhadap derajat bebas model (koreksi terhadap Σ variabel) sehingga dua model yang berbeda derajat bebasnya dapat dibandingkan secara adil.

Uji F

(32)

18

menunjukan signifikan tidaknya model yang diperoleh secara keseluruhan. Pengujian pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dilakukan melalui pengujian besar perubahan dari variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh perubahan nilai semua variabel independen.

Hipotesis:

H0 : β1 = β2 = ... = βk = 0 (artinya tidak ada variabel independen yang berpengaruh nyata terhadap variabeldependen)

H1 : minimal ada satu nilai β ≠ 0 (artinya ada varibel independen yang bepengaruh nyata terhadap variabel dependen)

Uji statistik F dapat dihitung dengan formula:

Fhitung= R

k-⁄ -R

n-k

⁄ (5)

dimana:

R2 : jumlah kuadrat regresi (1-R2) : jumlah kuadrat sisa n : jumlah pengamatan k : jumlah parameter

Fhitung > Ftabel, (k-1)(n-k) maka tolak H0

Jika tolak H0 berarti secara bersama-sama variabel independen dalam model berpengaruh nyata terhadap variabel dependen pada taraf nyata _ persen, begitu pula sebaliknya.

kriteria uji:

Probability F-Statistic < taraf nyata ( _ ), maka tolak H0 dan simpulkan minimal ada satu variabel bebas (independent) yang memengaruhi variabel tak bebas (dependent).

Probability F-Statistic > taraf nyata ( _ ), maka terima H0 dan simpulkan tidak ada variabel bebas (independent) yang memengaruhi variabel tak bebas (dependent).

Uji t

Uji ini sebenarnya dimaksudkan untuk mengetahui tingkat signifikan variabel bebas (independent) atau untuk menguji secara statistik apakah regresi dari masing-masing variabel independen yang dipakai secara terpisah berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel dependen.

Hipotesis:

H0 : βk = 0 (artinya variabel independen k tidak memengaruhi variabel dependen).

(33)

19 kriteria uji:

Probability t-Statistic < ( _ ), maka tolak H0 dan simpulkan variabel independen k berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependennya.

Probability t-Statistic > ( _ ), maka terima H0 dan simpulkan variabel independen k tidak memengaruhi variabel dependennya secara signifikan.

Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk melihat error term. Jika data sampel yang digunakan dalam penelitian kurang dari 30 maka perlu dilakukan uji normalitas dan jika sampel lebih dari 30 maka error term akan terdistribusi normal.

Hipotesis:

H0 : error term terdistribusi normal H1 : error term tidak terdistribusi normal Kriteria uji:

Jika nilai probabilitas > taraf nyata ( _ ) maka terima H0 dan kesimpulannya error term terdistribusi normal.

Uji Autokorelasi

Suatu model dikatakan baik jika telah memenuhi asumsi tidak terdapat gejala autokorelasi. Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah hasil estimasi model tidak mengandung korelasi serial diantara distrubance term. Pada program E-Views 6, uji autokorelasi dilakukan dengan melihat pengujian pada uji Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test dengan ketentuan nilai probabilitas Obs*R Squared

harus lebih besar dari taraf nyatanya untuk membuktikan tidak adanya gejala autokorelasi pada model.

Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas terjadi jika ragam error tidak konstan. Gejala heteroskedastisitas menunjukan bahwa model tersebut tidak memenuhi syarat sebagai model yang baik. Model yang baik adalah jika memenuhi ragam error yang sama. Gejala tersebut dapat ditunjukan melalui uji Breush-Pagan pada program E-Views 6.

Hipotesis:

H0 : Homoskedastisitas H1 : Heteroskedatisitas

(34)

20

Uji Multikolinearitas

Asumsi lain yang harus dipenuhi adalah tidak terdapat gejala multikolinearitas di dalam suatu model regresi, yaitu adanya korelasi yang kuat antar sesama variabel bebas (eksogen). Uji multikolinearitas dalam E-Views 6

dinamakan uji kolinearitas, yaitu untuk melihat apakah terjadi korelasi yang kuat antara variabel-variabel independennya. Pengujiannya ada dua cara yaitu:

a. Nilai korelasi dua variabel independen mendekati satu b. Nilai korelasi parsial akan mendekati nol.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Karet

Karet merupakan polimer hidrokarbon yang bersifat elastis dan terbentuk dari emulsi kesusuan yang dikenal sebagai lateks. Berdasarkan cara memperolehnya karet dapat digolongkan menjadi dua yaitu karet alam dan karet sintetis. Karet alam diperoleh dengan cara penyadapan pohon karet (Hevea brasiliensis). Sedangkan karet sintetis dibuat dari secara polimerisasi fraksi-fraksi minyak bumi. Jumlah produksi dan konsumsi karet alam masih di bawah produksi karet sintetis. Namun demikian, karet alam belum dapat digantikan oleh karet sintetis karena keunggulan yang dimiliki karet alam belum dapat ditandingi oleh karet sintetis. Keunggulan karet alam dibandingkan karet sintetis antara lain:

1. Memiliki daya elastis atau daya lenting yang sempurna

2. Memiliki plastisitas yang baik sehingga pengolahannya mudah 3. Mempunyai daya aus yang tinggi

4. Tidak mudah panas (low heat build up)

5. Memilki daya tahan yang tinggi terhadap keretakan

Karet sintetis memiliki kelebihan seperti tahan terhadap berbagai zat kimia dan harganya yang cenderung bisa dipertahankan supaya tetap stabil. Karet alam dan karet sintetis sudah mempunyai pangsa pasarnya masing-masing dan tidak saling mematikan atau bersaing penuh. Keduanya mempunyai sifat saling melengkapi atau komplementer.

Karet Alam di Indonesia

Karet alam menjadi produk alam yang sangat bervariasi dalam produk akhir. Ada beberapa macam karet alam yang dikenal secara luas, diantaranya merupakan bahan olahan. Bahan olahan dapat berupa setengah jadi atau sudah jadi. Ada juga karet yang diolah kembali berdasarkan bahan karet alam yang sudah jadi. Jenis-jenis karet alam yang dikenal luas adalah:

1. Bahan olah karet

(35)

21 olah karet bukan produksi besar, melainkan bokar (bahan olah karet rakyat) karena biasanya diperoleh dari petani yang mengusahakan kebun karet. Menurut pengolahannya bahan olah karet dibagi menjadi 4 macam yaitu lateks kebun, sheet

angin, slab tipis dan lump segar. 2. Karet alam konvensional

Menurut Green Book yang dikeluarkan oleh International Rubber Quality and Packing Conference (IRQPC), karet alam konvensional dimasukan ke dalam beberapa golongan mutu. Karet alam konvensional menurut standar mutu pada

Green Book terbagi menjadi ribbed smoked sheet (RSS), white crepes dan pale crepe, estate brown crepe, compo crepe, thin brown crepe remills, thick blanket crepes ambers, flat bark crepe, pure smoke blanket crepe, dan off crepe.

3. Lateks pekat

Lateks pekat adalah jenis karet yang berbentuk cairan pekat, tidak berbentuk lembaran atau padatan lainnya. Lateks pekat yang dijual di pasaran ada yang dibuat melalui proses pendadihan atau creamed lateks dan melalui proses pemusingan atau

centrifuged lateks. Biasanya lateks pekat banyak digunakan untuk pembuatan bahan-bahan karet yang tipis dan bermutu tinggi.

4. Karet bongkah atau block rubber

Karet bongkah adalah karet remah yang telah dikeringkan dan dikilang menjadi bandelan-bandelan dengan ukuran yang telah ditentukan. Karet bongkah ada yang berwarna muda dan setiap kelasnya mempunyai kode warna tersendiri. Standar mutu karet bongkah Indonesia tercantum dalam SIR (Standard Indonesian Rubber).

5. Karet spesifikasi teknis atau crumb rubber

Karet spesifikasi teknis adalah karet alam yang dibuat khusus sehingga terjamin mutu teknisnya. Penetapan mutu juga didasarkan pada sifat-sifat teknis. Warna atau penilaian visual yang menjadi dasar penentuan golongan mutu pada jenis karet sheet, crepe maupun lateks pekat tidak berlaku untuk jenis karet spesifikasi teknis. Persaingan karet alam dengan karet sintetis merupakan penyebab timbulnya karet spesifikasi teknis.

6. Tyre rubber

Tyre rubber adalah bentuk lain dari karet alam yang dihasilkan sebagai barang setengah jadi sehingga bisa langsung dipakai oleh konsumen, baik untuk pembuatan ban atau barang yang menggunakan bahan baku karet alam lainnya.

Tyre rubber sudah dibuat di Malaysia sejak tahun 1972. Pembuatannya dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing karet alam terhadap karet sintetis dan

Tyre rubber memiliki daya campur yang baik sehinnga mudah digabungkan dengan karet sintetis.

7. Karet reklim atau reclaimed rubber

(36)

22

Industri Karet Remah (Crumb Rubber) di Indonesia

Industri karet remah (crumb rubber) merupakan salah satu industri antara utama (olahan karet) pada kelompok industri karet dan bahan olahan karet, dengan kode Internasional Standard Industrial Classification (ISIC) 25123 (kementrian perindustrian). Industri karet remah merupakan suatu usaha industri pengolahan karet yang melakukan kegiatan mengubah bahan baku karet (lump, slab dan scrap)

menjadi karet remah dalam Standar Karet Indonesia (BPS, 2010). Industri karet remah merupakan industri hulu karet alam yang produknya merupakan bahan baku yang banyak digunakan oleh industri hilir karet alam, seperti industri ban, conveyor,

barang-barang karet, dan lain-lain.

Perkembangan Industri Crumb Rubber di Indonesia

Pada awalnya sebagian besar karet alam Indonesia diperdagangkan dalam bentuk karet lembaran yaitu karet sit asap (ribbed smoked sheet). Teknologi crumb rubber diperkenalkan sejak tahun 1968. Sejak saat itu, produksi karet sit menurun digantikan dengan crumb rubber. Hampir 90 persen karet alam Indonesia setiap tahunnya diproduksi menjadi crumb rubber. Crumb rubber menjadi salah satu olahan karet yang diperjualbelikan di pasar baik dalam negeri maupun internasional.

Tingginya permintaan pasar terhadap crumb rubber untuk dijadikan bahan pembuatan komponen teknik terutama ban kendaraan bermotor dan ditunjang dengan jaminan ketersediaan bahan bakunya (bahan olah karet), menyebabkan perkembangan teknologi crumb rubber saat ini sudah sedemikian pesat. Pada tahun 1990 terdapat 131 unit perusahaan crumb rubber di Indonesia dan pada tahun 2013 tercatat ada sekitar 193 unit perusahaan crumb rubber di Indonesia. Data perusahaan crumb rubber dan jumlah pekerja di Indonesia dapat dalam angka tahun disajikan pada Tabel 4.

(37)

23 Tabel 4 menunjukan bahwa perusahaan crumb rubber belum berkembang cukup baik di Indonesia. Jumlah perusahaan crumb rubber Indonesia berfluktuatif atau tidak stabil pada tahun 1990-2013. Namun, pada tahun 2013 jumlah perusahaan crumb rubber indonesia mencapai 193 unit perusahaan. Perusahaan

crumb rubber Indonesia juga menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat, lebih dari 20.000 orang pekerja setiap tahunnya dapat terserap di bidang pengolahan

crumb rubber. Karet alam merupakan komoditas ekspor yang memberikan kontribusi besar dalam upaya peningkatan devisa negara.Perusahaan karet alam Indonesia lebih memprioritaskan produksi crumb rubber diekspor dibandingkan untuk kebutuhan dalam negeri. Ekspor karet alam Indonesia sebagian besar dalam bentuk karet remah (crumb rubber).

Gambar 2 menunjukan bahwa ekspor dan konsumsi domestik crumb rubber

Indonesia tahun 1990-2013 mengalami fluktuasi. Ekspor crumb rubber lebih mendominasi dibanding untuk konsumsi domestik di Indonesia. Pada tahun 2002 terjadi peningkatan ekspor, namun memasuki tahun 2007 ekspor crumb rubber

mengalami penurunan sampai tahun 2009 sebesar 394.306 ton. Hal ini karena dampak dari krisis yang melanda Amerika Serikat tahun 2008. Penjualan otomotif di Amerika Serikat mengalami penurunan dan memengaruhi turunnya permintaan karet oleh industri ban termasuk yang menggunakan karet Indonesia.

Profil Beberapa Perusahaan Crumb Rubber Indonesia

PT Lonsum Tbk.

Perusahan ini dan anak perusahaannya memiliki 38 perkebunan inti dan 14 perkebunan plasma yang berlokasi di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Saat ini PT Lonsum memiliki kebun karet seluas 17,394 Ha di Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan. PT Lonsum memilki tujuh pabrik sheet rubber dan crumb rubber. Karet hasil produksi dijual di pasar dalam negeri maupun ke pasar ekspor (Capricorn Indonesia Consult Inc.).

Sumber: BPS, 1990-2013 (diolah)

1990 1993 1997 2001 2005 2009 2013

(38)

24

PT Kirana Megantara

Kirana Megantara Group merupakan produsen crumb rubber terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar lebih dari 18 persen. Produk yang dihasilkan berupa karet dengan spesifikasi teknis (technical specified rubber) yang dikenal dengan istilah Standard Indonesian Rubber (SIR) dan diekspor ke berbagai negara sebagai bahan baku utama ban yang di produksi oleh pabrik-pabrik ban terkemuka dunia. PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan dan pengolahan karet. Kegiatan penanaman karet memakai jenis Havea Brasilliensis dan mengolahnya menjadi Crumb Rubber. PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate

PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate merupakan pabrik yang mengolah getah karet menjadi produk Crumb Rubber atau SIR yang sudah melalui tahapan pengontrolan kualitas pada bagian Quality Control Department. Sehingga produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang tinggi dibandingkan produk-produk Crumb Rubber atau SIR pada perusahaan yang lainnya. Oleh karena itu, banyak negara-negara yang membeli produk Crumb Rubber atau SIR yang dihasilkan oleh PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate.

Regulasi Pemerintah yang Berkaitan dengan Crumb Rubber Indonesia

Hampir semua hasil perkebunan atau pertanian, misal karet merupakan komoditi ekspor. Crumb rubber merupakan salah satu produk hasil olahan atau barang setengah jadi dari produksi industri karet alam Indonesia yang mendominasi untuk ekspor. Kebijakan ekspor karet Indonesia tertera dalam Undang-undang Nomor 18 tahun 2000, yaitu tentang pajak pertambahan nilai barang jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. Dimana ekspor komoditi perkebunan dalam bentuk primer tidak dikenakan pajak ekspor (nol persen), karena merupakan bahan baku (raw material) yang belum mengandung nilai tambah. Sedangkan komoditas karet alam yang diperdagangkan di pasar domestik dikenakan pajak pertambahan nilai sebesar 10 persen. Kebijakan pajak ekspor karet alam pernah beberapa kali mengalami perubahan. Pada tahun 1969-1975 ekspor komoditas karet alam dikenakan pajak sebesar 10 persen, kemudian sebesar 5 persen pada periode tahun 1976-1981 dan 0 persen sejak tahun 1982 (Limbong, 1994). Namun adanya kebijakan ini membuat hasil produksi karet alam Indonesia masih kurang bisa diserap oleh pasar domestik karena adanya pengenaan pajak pertambahan nilai. Kebijakan ini menyebabkan konsumen domestik karet alam impor menjadi lebih murah dari pada karet alam yang di produksi di dalam negeri (Prabowo, 2006).

Analisis Struktur Pasar Industri Crumb Rubber Indonesia

Analisis struktur pasar pada industri crumb rubber dapat diketahui dengan melihat pangsa pasar dari perkembangan penjualan masing-masing industri, konsentrasi rasio empat perusahaan terbesar (CR4), Herfindahl-Hirschman Index

(39)

25 maka pangsa pasar dari masing-masing perusahaan crumb rubber tidak dapat ditentukan.

Analisis Rasio Konsentrasi Industri Crumb Rubber Indonesia

Pengukuran rasio konsentrasi dilakukan pada empat perusahaan terbesar (CR4) dan Herfindahl-Hirschman Index (HHI). Pengelompokan empat perusahaan didasarkan pada nilai output yang dihasilkan oleh empat perusahaan terbesar dalam industri crumb rubber. Rasio konsentrasi diperoleh dengan mengukur besarnya kontribusi output yang dihasilkan oleh empat perusahaan terbesar terhadap total output industri.

Menurut Greer (1992) satu perusahaan menguasai 50-100 persen dan

Herfindahl-Hirscman-Index bernilai (2500 < HI < 10000) menghasilkan struktur pasar bersifat perusahaan dominan, dimana kesepakatan diantara mereka untuk menetapkan harga sangat mudah. Sedangkan pangsa pasar tiap perusahaan kurang dari 1 persen (< 1%) dan nilai Herfindahl-Hirscman-Index bernilai kurang dari 100 ( <100) menghasilkan struktur pasar bersifat pasar persaingan, dimana kesepakatan diantara mereka untuk menetapkan harga tidak memungkinkan. Tingkat konsentrasi industri crumb rubber dalam angka tahun disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Tingkat konsentrasi industri crumb rubber tahun 1990-2013

(40)

26

Tabel 5 menunjukan bahwa rata-rata konsentrasi empat perusahaan terbesar (CR4) dari tahun 1990-2013 yaitu sebesar 17,48 persen dan rata-rata Herfindahl-Hirschman Index (HHI) mencapai 98,74 artinya pasar industri crumb rubber

memiliki konsentrasi yang rendah. Menurunnya nilai CR4 disebabkan karena bertambahnya jumlah perusahaan crumb rubber, sehingga pangsa pasar empat perusahaan terbesar diambil alih oleh perusahaan lain yang mengakibatkan konsentrasi pasar empat perusahaan terbesar semakin menurun. Hal ini menunjukan bahwa kesepakatan antar perusahaan crumb rubber untuk menetapkan harga sangat sulit dilakukan atau tidak mungkin.

Analisis Hambatan Masuk Industri

Menurut Camanous dan Wilson (1967) dalam Alistair (2004), nilai MES yang lebih besar dari 10 persen menggambarkan hambatan masuk yang tinggi pada suatu industri. Nilai MES yang tinggi tersebut dapat menjadi penghalang bagi masuknya perusahaan baru kedalam pasar industri di Indonesia.

Berdasarkan hasil analisis pada Lampiran 1 terlihat bahwa hambatan masuk Indusri crumb rubber di Indonesia termasuk rendah dengan rata-rata nilai MES dari tahun 1990-2013 sebesar 6,48 persen. Rendahnya MES tersebut dapat menjadi peluang masuknya perusahaan baru ke industri crumb rubber di Indonesia. Karena bertambahnya jumlah perusahaan sehingga mengurangi pangsa pasar dari empat perusahaan terbesar (CR4) yang berarti hambatan masuk (barrier of entry) menjadi berkurang.

Analisis Perilaku Industri Crumb Rubber di Indonesia

Strategi Harga

Pada industri crumb rubber dimana menurut analisis memiliki struktur pasar tidak terkonsentrasi (unconcentrated), berarti adanya saling ketergantungan dan saling memengaruhi antara satu perusahaan dengan pesaing-pesaing lainnya Perusahaan-perusahaan dalam industri crumb rubber kurang potensial untuk melakukan kolusi, sehingga perusahaan tidak dapat menentukan harga sesuai keinginan mereka karena harus tetap mempertimbangkan kemampuan membeli masyarakat yang masih memiliki kekuatan dalam memengaruhi penetapan harga.

Strategi Produk

(41)

27 masih menggunakan SNI lama yaitu 06-1903-2000 sebagai standar untuk menggambarkan produk mereka.

Selain itu, strategi produk yang sesuai dengan Standar Internasional yaitu mengolah getah karet menjadi produk crumb rubber atau SIR yang sudah melalui tahapan pengontrolan kualitas pada bagian Quality Control Department, sehingga produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang tinggi dibandingkan produk-produk

Crumb Rubber atau SIR pada perusahaan yang lainnya.

Strategi Promosi

Strategi promosi merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan penjualan dengan cara menginformasikan kepada konsumen tentang adanya suatu produk di pasar, sehingga dapat menarik konsumen kepada produk. Pada dasarnya beberapa strategi yang dilakukan oleh industri crumb rubber di antaranya melalui jasa dan keahlian tehnical service dalam mempromosikan produk di media internet.

Analisis Kinerja Industri Crumb Rubber Indonesia

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menganalisis kinerja industri crumb rubber di Indonesia adalah melalui seberapa besar keuntungan yang diperoleh dalam industri tersebut. Namun karena keterbatasan data yang diperoleh, data keuntungan tersebut tidak dapat dipublikasikan. Oleh karena itu untuk menggantikan data keuntungan perusahaan maka digunakan nilai Price Cost Margin (PCM) sebagai proksi keutungan dari perusahaan crumb rubber. Kinerja industri crumb rubber juga dapat dilihat dari nilai efisiensi internal (X-eff) dan

growth.

Fluktuasi PCM dan X-eff memiliki tren yang cenderung meningkat. Fluktuasi PCM tergolong stabil dengan peningkatan dan penurunan yang tidak terlalu tajam. Peningkatan mulai terlihat dari tahun 1999-2002 dan cenderung stabil. Nilai X-eff pada tahun 2000 sampai tahun 2003 cenderung meningkat, namun pada tahun berikutnya mengalami penurunan sampai tahun 2006. Sementara fluktuasi growth

sangat tajam, dimana peningkatan dan penurunan terjadi secara tajam dari tahun ke Sumber: BPS (diolah)

Gambar 3 Fluktuasi PCM, Growth dan X-eff

(42)

28

tahun. Sehingga variabel growth tidak memiliki tren tertentu dimana peningkatan dan penurunan terjadi secara tajam dari tahun ke tahun.

Berdasarkan hasil analisis pada Lampiran 2 terlihat bahwa pertumbuhan nilai output (growth) terendah bernilai -19,08 persen pada tahun 1999, diduga karena adanya krisis ekonomi pada tahun 1998. Krisis ini membuat perusahaan-perusahaan yang tidak dapat bertahan dalam kondisi krisis akan mengalami kemunduran. Penurunan ini tentunya akan berpengaruh pada menurunnya jumlah output yang dihasilkan industri crumb rubber hingga pertumbuhannya bernilai negatif. Ketiga faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa kenerja industri crumb rubber di Indonesia kurang baik.

Hasil Analisis Hubungan antara Struktur dan Faktor-Faktor lain dengan Kinerja industri Crumb Rubber di Indonesia

Indikator Kebaikan Model

Menurut Gujarati (1995) model ekonometrika yang baik harus memenuhi kriteria ekonometrika dan kriteria statistik. Berdasarkan kriteria ekonometrika, model harus sesuai dengan asumsi klasik yang artinya harus terbebas dari gejala multikolinearitas, autokorelasi dan heteroskedastisitas. Kesesuaian model dengan kriteria statistik dilihat dari hasil uji koefisien determinasi (R2), uji F dan uji t.

Berdasarkan kriteria statistik pada Lampiran 4 diperoleh nilai koefisien determinasi atau nilai R-squared sebesar 91,3 persen yang artinya 91,3 persen keragaman PCM sebagai variabel dependent pada industri crumb rubber dapat dijelaskan oleh variabel independent pada model yang terdiri dari X-eff, Growth,

Herfindahl-Hirschman Index (HHI), Produktivitas dan Ekspor. Selain itu, sisa dari nilai koefisien determinasi sebesar 8,7 persen dijelaskan oleh variabel lain diluar model.

Uji F

Kriteria statistik yang dipakai yaitu uji F dan taraf nyata yang digunakan adalah 0,05 (lima persen). Nilai probabilitas F-statistik yang dihasilkan pada Lampiran 4sebesar 0,00 yang lebih kecil dari taraf nyata 0,05 (lima persen), artinya minimal ada satu variabel independen yang berpengaruh nyata terhadap variabel dependen sehingga model tersebut layak untuk menduga parameter yang ada dalam fungsi.

Uji t

Gambar

Tabel 1 Ekspor karet alam Indonesia menurut jenis mutu 2009 - 2013 (‘000 ton)
Tabel 3 Pengukuran-pengukuran konsentrasi perusahaan
Tabel 3 Jenis pasar berdasarkan struktur-perilaku dan kinerja
Gambar 1. Bagan kerangka pemikiran
+5

Referensi

Dokumen terkait

diolah menjadi bahan baku karet alam seperti crepe, sheet, crumb rubber, lateks. pekat dan lain-lain dan masih diusahakan secara sederhana sehingga

Untuk mengamati hubungan antara struktur-perilaku-kinerja dalam ekonomi industri maka dapat dilihat dari hubungan struktur dan kinerja industri, pengamatan kinerja dan perilaku

Dalam menentukan kualitas crumb rubber (karet remah), banyak parameter- parameter yang harrus dipenuhi guna meningkatkan kualitas dari karet remah tersebut, salah satunya

Hasil perhitungan statistik berupa tabel Anova yang digunakan sebagai acuan pembahasan untuk dapat mengetahui pengaruh jumlah limbah padat crumb rubber dan

Pengaruh Nilai Viskositas Mooney Terhadap Jumlah Berat Molekul Karet Remah SIR 20 [Karya Ilmiah].. Universitas Sumatra Utara: Fakultas Matematika dan Ilmu

Dalam menentukan kualitas crumb rubber (karet remah), banyak parameter- parameter yang harrus dipenuhi guna meningkatkan kualitas dari karet remah tersebut, salah satunya

Insan Bonafide diperoleh dengan urutan pengolahan crumb rubber SIR 20 yaitu adalah sebagai berikut : Sortasi bahan olah karet, Pengolahan lembaran blanket (Lembaran Crepe),

Produksi karet Indonesia, harga karet internasional dan nilai tukar rupiah terhadap USD sebagai variabel independen, bersama dengan ekspor karet remah indonesia sebagai variabel