Perkembangan
Arsitektur,
Tanggung
jawab Arsitek
dan
Masyarakat
Ir. Budi Fathony, MTA
Ka.Laboratorium Perkembangan Arsitektur Institut Teknologi Nasional Malang
Arsitektur hadir sebagai hasil persepsi masyarakat yang memiliki berbagai kebutuhan. Untuk itu, arsitektur adalah wujud kebudayaan yang berlaku di
masyarakatnya, sehingga
perkembangan arsitektur tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kebudayaan masyarakat itu sendiri.
Pada saat ini, ketika perkembangan budaya dan peradaban sudah
sedemikian maju, maka
perkembangan arsitektur – terutama di Indonesia – nampak berjalan mulus
tanpa ada saringan yang cenderung menghilangkan jatidiri.
Arsitek sebagai salah satu penentu arah perkembangan arsitektur di Indonesia dituntut untuk lebih aktif berperan dalam menentukan arah dengan pemahaman terhadap nilai dan norma yang hidup di masyarakat sebagai tolok ukurnya.
Selain itu, diperlukan pula kreativitas untuk menjabarkan rambu-rambu tradisional – sebagai suatu konsep yang telah lama dimiliki masyarakat – ke dalam bentuk-bentuk yang akrab dengan lingkungan dan mudah dicerna apa makna serta pesan yang akan disampaikan.
Pada saat ini terasa sulit membedakan mana karya yang baik dan cocok
untuk Indonesia, karena
perkembangan arsitektur cenderung mengarah pada gaya ‘internasional’ yang tidak mempunyai ‘jati diri indonesiawi’-nya.
Interaksi antara Pemilik Bangunan, Peraturan Daerah dan Arsitek perlu memiliki kesamaan pandang – kendati pada kenyataannya terdapat banyak perbedaaan yang tidak terlalu jauh – sehingga karya-karya arsitektur tersebut tidak sekedar emosi dari Arsiteknya.
Peran Arsitek adalah menciptakan suatu wadah atau ruang sebagai kelangsungan hidup manusia yang memungkinkan tercapainya kondisi
optimal bagi pengembangan
masyarakat sebagai pemakai dan terpeliharanya fungsi-fungsi alam dalam kesinambungan yang dinamis.
isinya akan berantakan, sebab sikap Arsitek berbeda dengan pemakai maupun pengamat karya arsitektur dalam memandang dan memikirkan tata lingkungan buatan sebagaimana dilakukan sebagian orang.
Dengan hadirnya arsitektur,
masyarakat mempunyai persepsi dan kebutuhan yang berbeda karena dipengaruhi berbagai cara oleh sifat lingkungan sebagai akibat dari perilaku
Arsitek dalam melakukan
rancangannya.
Karena arsitektur bertujuan untuk masyarakat, maka hasil karya arsitektur seringkali dinilai kurang kompromi dengan lingkungannya. Terciptanya karya arsitektur yang cocok dan sesuai dengan lingkungan-nya tentu bukan monopoli dari si Arsiteknya saja.
Penjabaran dan perwujudan akan tata nilai ekonomis karya arsitektur akan melibatkan semua pihak. Hal tersebut terjadi karena masyarakat sudah memiliki preferensi dalam kognisinya
tentang bentuk-bentuk yang
ditampilkan sebagai bentuk-bentuk yang secara historis pernah menjadi miliknya.
Dari Pemberi Tugas (bouwheer) tentu sangat diharapkan bisa menahan emosi kehendaknya, sehingga Arsitek
dapat merealisir
gagasan bouwheer dengan baik dan optimal.
PERKEMBANGAN ARSITEKTUR INDONESIA
Wujud arsitektur bukan merupakan hasil ‘seni yang bebas’ kehendaknya dan melukis untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, seni arsitektur merupakan ‘seni yang terikat’ oleh kaidah-kaidah
mampu dinikmati semua pihak, menjadi milik masyarakat, bangsa dan para pengamat yang berhak menikmati karya arsitektur setempat (bukan impor dari luar). Arsitektur mencoba berusaha untuk berada di tengah masyarakatnya, para pemakai dan pemerhati.
Banyak bangunan yang sebetul-nya gagal secara fungsional atau tidak sesuai dengan perilaku pemakai, namun tetap diciptakan dengan ‘keterpaksaan’ karena faktor-faktor lain yang sama sekali melupakan ‘jati diri’-nya. Latar belakang dalam melakukan aktifitas sosial budaya, dalam masyarakat tradisional Jawa misalnya, banyak belajar menyesuaikan diri dengan alam lingkungannya.
Mereka memilih untuk berusaha hidup ‘selaras’ dengan alam, walaupun tidak merasa bahwa dirinya takluk kepada alam. Bentukan arsitekturnya merupakan karya yang secara arif
memanfaatkan potensi dan
sumberdaya setempat serta
menciptakan keselarasan yang harmonis antara ‘jagad cilik’ (mikro kosmos) dengan ‘jagad gede’ (makro kosmos).
Menurut Koentjaraningrat (1983)
masyarakat Jawa merasa
berkewajiban untuk ‘memayu-ayuning bawana’ yaitu pandangan hidup untuk selalu berupaya memperindah lingkungannnya, baik fisik maupun spiritual; menyangkut adat, tata cara, cita-cita ataupun nilai-nilai budaya lainnya.
Dalam kaitannya dengan arsitektur, konsep ini mendasari pola keselarasan
antara bangunan dengan
Ditilik dari kacamata arsitektur, Budiharjo (1997) menilai bahwa hal yang paling merisaukan dalam perancangan bangunan tinggi adalah penampilannya yang nyaris steril, serba polos, tunggal rupa serta tak menyisakan peluang bagi penghuni, pemilik maupun pengamatnya untuk berimajinasi.
Tak heran jika pencakar langit seperti itu acap diejek sebagai salah satu bentuk pornografi arsitektural, tak menyimpan misteri, kurang menyentuh rasa, tak memperkaya jiwa dan vulgar. Bentuk bangunan dan kota yang cocok, tentunya muncul dan tumbuh dari dalam, dibuat untuk menanggapi keinginan, tuntutan dan dambaan manusia yang hidup dan bekerja di sana.
Pembahasan tentang perkembangan arsitektur tidak bisa dipisahkan dengan perkembangan kebudayaan.
Pembahasan perkembangan arsitektur modern, juga tidak dapat dilepas dari perkembangan teknologi serta perkembangan sosial ekonomi masyarakat penduduknya.
Kebudayaan adalah sesuatu yang dinamis, selalu berubah dari waktu ke waktu. Arsitektur sebagai bagian dari
kebudayaan juga senantiasa
memperbaharui diri sesuai dengan perkembangan jaman. Perkembangan arsitektur dari waktu ke waktu merupakan cerminan dari budaya masyarakat dimana karya arsitektur tersebut berada.
Menurut Atmadi (1997) perkembangan arsitektur di Indonesia sesudah kemerdekaan menunjukkan corak perkembangan tersendiri. Ungkapan arsitekturnya disesuaikan dengan tantangan, pengaruh perkembangan
teknologi dan bahan bangunan yang ada.
Perkembangan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan tata ruang atau tata masa massa bangunan saja, tetapi juga terpengaruh oleh nilai sosial dan budaya serta ekosistem yang berubah cepat. Namun, pada umumnya para Arsitek kurang memperhatikan pengembangan konsep perancangan
dalam menyelesaikan suatu
rancangan.
Pembaharuan konsep perancangan tidak berarti pembaharuan komponen bangunan yang ditunjukkan dengan mengambil komponen dari berbagai macam lapangan bangunan lain. Hal ini menjurus pada ungkapan ‘arsitektur eklektis’.
Penggunaan tiang Yunani dan jendela Spanyol yang banyak bermunculan dan bertahan akhir-akhir ini
merupakan petunjuk adanya
perkembangan yang demikian itu. Keadaan semacam itu tentunya kurang menguntungkan bagi usaha mencari arsitektur berkepribadiaan Indonesia.
Sebuah teguran dari Van Romond (1950) dalam pidato Ronald, mengatakan bahwa:
Dengan perkataan lain, kalau ingin maju dengan pesat, hendaknya mau mundur barang selangkah sebagai awalan melakukan loncatan yang lebih jauh.
Cepatnya pertumbuhan penduduk, kecepatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta terbatasnya sumber daya alam mengharuskan para Perencana dan arsitek untuk segera menjawab tantangan tadi.
Perkembangan keanekaragaman
kebutuhan fasilitas, masih adanya masalah kemiskinan serta distribusi yang belum sesuai, merupakan beberapa tantangan utama yang perlu diperhtikan para Arsitek Indonesia. Usaha perbaikan fasilitas umum dan
permukiman pada dasarnya
merupakan kegiatan yang strategis dalam pembangunan.
Untuk itu, seyogyanya konsep perancangan bangunan serta perencanaan lingkungan dan wilayah mendapat perhatian khusus, agar pembangunan dapat mendukung pembinaan budaya dan peradaban bangsa.
Perkembangan arsitektur nampak berjalan begitu mulus tanpa ada penyaring sebagai akibat apa yang terjadi untuk sementara ‘dipersilakan masuk’, sehingga bisa dikatakan ada perubahan nilai untuk menghilangkan ‘jatidiri’-nya.
Hal ini sebagai akibat proses modernisasi, yang bilamana tidak dikendalikan dengan baik, dapat menimbulkan ‘krisis identitas’. Krisis ini
terjadi karena terganggunya
keakraban manusia dengan ruang.
Dengan demikian, walau ruang tidak mengalami perubahan, namun digunakan dengan fungsi yang sangat berbeda. Untuk itu, tata nilai yang berlaku akan mengalami perubahan dan menjadi sumber konflik antara yang lama dengan yang baru.
Timbul keprihatinan dalam diri
beberapa pihak yang
mempertanyakan apakah arsitektur seperti itu akan menjadi arah perkembangan arsitektur Indonesia.
Prijotomo dalam bukunya Pasang Surut Arsitektur di Indonesia mempertanyakan: “Tahukah Anda bahwa kesemuanya itu telah dimiliki sejak 1970-an? Tapi kenapa
perjalanan meng-Indonesia-kan
arsitektur masih pusing tujuh keliling?”
Beberapa kemungkinan ini adalah jawaban dari pertanyaan tadi, yaitu:
Pertama, konon dikatakan oleh Arsitek bahwa pasaran arsitektur masih menggemari yang ‘barat’ ketimbang yang tradisional.
Kedua, lembaga pendidikan arsitektur belum melakukan penafsiran, karena belum mampu bicara soal ruang dan rupa arsitektur tradisional Indonesia. Arsitektur ini masih diletakkan dalam
kerangka antropologis dan
kebudayaan, belum diletakkan dalam kerangka arsitektur itu sendiri.
Ketiga, kurangnya gairah Arsitek profesional dan Pendidik untuk meletakkan arsitektur tradisional itu sebagai sumber praktek dan sumber pengajaran.
Keempat, ada pihak-pihak yang
sengaja menyembunyikan
apa yang dimilikinya oleh pihak lain demi pengembangan arsitektur tadi dicurigainya sebagai pengambil-alihan pengetahuan dan kemampuan.
Kelima, belum tumbuhnya sikap Arsitek Indonesia dalam melihat arsitektur modern itu sendiri. Tafsiran, alih ragam, modifikasi ataupun penyederhanaan haruslah menjadi bagian yang tak terpisah dari sebutan tradisional pada arsitektur daerah kita.
KESIMPULAN
Sikap Arsitek harus berubah, karena seorang Arsitek bukan hanya menuangkan sebuah misi ke dalam perencanaan saja, namun harus memahami reaksi manusia yag terlibat guna dicarikan pemecahannya bila akan timbul konflik.
Sebenarnya, tugas Arsitek belum
berakhir sampai dengan
rencana ‘blueprint’ saja. Walau proyek telah selesai dibangun, bahkan telah
diresmikan, Arsitek masih
berkewajiban paling tidak secara etis sampai dengan obyek tersebut benar-benar berfungsi.
Dalam hal ini si Arsitek berfungsi sebagai moderator untuk duduk dalam satu meja demi terselenggaranya peran masing-masing disiplin ilmu dengan baik.
Dengan demikian, dibutuhkan arsitek-arsitek yang komunikatif dan peka terhadap masalah-masalah kultural, kuat dalam penelitian lapangan serta berani melepaskan konsep-konsep ruang yang standar dan berani mengusulkan sesuatu yang orisinil. Pemahaman terhadap nilai-nilai dan norma-norma yang terdapat di lingkungan masyarakat merupakan hal yang perlu dilakukan oleh Arsitek sebagai dasar pijak dalam menciptakan karya arsitekturalnya.
Dengan demikian, hasil yang diwujudkan akan merupakan arsitektur yang akrab dengan lingkungannya serta mudah dicerna apa makna dan pesan yang disampaikannya. Warisan arsitektur tradisional akan sangat bermanfaat sebagai sumber untuk memperoleh inspirasi dan inovasi dalam mendorong imajinasi para arsitek. Dalam hal ini diperlukan kemampuan kreativitas untuk menjabarkan rambu-rambu tradisional, agar karya yang dihasilkan tidak terjebak pada bentuk-bentuk yang monoton, tetapi justru perlu memberikan peluang pada unsur-unsur kontradiksi dan konflik yang harus diwadahi dalam bentukan-bentukan yang unik.
DAFTAR PUSTAKA
Atmadi, Parmono., Bismo Sutedjo, Eko Budihardjo, Sidharta. 1997.
Per-kembangan Arsitektur dan Pendidikan Arsitek di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Goot Fied, H and Jenings, Jac. 1985. American Vernacular Design1870-1940. Von Nostrad Reinhold Company.
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Koentjaraningrat. 1993. Kebudayaan
Mentalitasdan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Kuntowijoyo, 1987.
Budaya Masyarakat. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.
Moore, Gary T. 1984/1979. Pengkajian Lingkungan Perilaku. dalam Snyder. Pengantar
Arsitektur. Jakarta: PT. Gramedia.
Prijotomo, Josef. 1995. Pasang Surut Arsitektur di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Rapoport, Amos. 1969. House Form and Culture. New Jersey: Precentice Hall, Inc. Englewood Cliffs.
_____________. 1979. Development,