• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP DASAR dalam analisis ENTREPENURSHIP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KONSEP DASAR dalam analisis ENTREPENURSHIP"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP DASAR ENTREPRNEURSHIP

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Januari 2015

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia dalam kehidupannya membutuhkan kebutuhan untuk hidup. Dan untuk dapat memenuhi kebutuhannya, maka ia memerlukan pekerjaan. Manusia membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi keperluan sehari-hari. Diantara manusia tersebut ada yang mempunyai kemampuan untuk mendirikan lapangan pekerjaan sendiri dan dapat mempekerjakan untk manusia yang lainnya seperti berwirausaha, untuk memenuhi keuntungan dalam mendirikan usaha tersebuat dan selalu siap dalam menerima kegagalan atau kerugian terhadap usaha tersebut.

Kini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan dalam hal membantu untuk mendapatkan modal, kredit, dan tempat usaha dengan teknologi cepat. Oleh karena itu masyarakat hanya perlu mengembang usahanya dengan memproduksi barang-barang dan bisa menarik hati para konsumen.

(2)

usahanya tersebut. Untuk itu, penulis perlu membahas sebuah paparan tentang konsep entrepreneurship dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah

1. Apa saja macam pandangan dari ilmuan tentang konsep entrepreneurship? 2. Bagaimana definisi konsep enterpreneur dan enterpreneurship?

3. Bagaimana maksud dari entrepreneurship sebagai suatu proses? 4. Apa saja jenis entrepreneuship?

5. Apa saja kendala yang muncul terhadap entrepreneurship? 6. Apa saja faktor yang memfasilitasi intrapreneurship? 7. Apa saja faktor yang mempengaruhi entrepreneurship? 8. Apa pentingnya enterpreuneurship?

C. Tujuan

1. Menjelaskan dan menyebutkan macam pandangan dari ilmuan tentang konsep entrepreneurship.

2 Menjelaskan definisi konsep enterpreneur dan entrepreneurship. 3 Menjelaskan maksud dari entrepreneurship sebagai suatu proses. 4 Menjelaskan jenis entrepreneuship.

5 Menjelaskan dan menyebutkan kendala yang muncul terhadap entrepreneurship.

6 Menjelaskan faktor yang memfasilitasi intrapreneurship.

7 Menyebutkan dan menjelaskan faktor yang mempengaruhi entrepreneurship.

(3)

BAB II BAHASAN

A. Berbagai Macam Pandangan tentang Konsep Entrepreneurship

Pada tahun 1776 ,Adam Smith, Bapak Ilmu Ekonomi, dalam karya akhirnya yang berjudul :An inquiry into The Nature and The wealth of Nations, menggambarkan seorang entrepreneur sebagai seorang individu yang menciptakan sebuah organisasi untuk tujuan-tujuan komersial. Memandang entrepreneurship adalah orang yang memiliki pandangan ke depan.

Seorang ahli ekonomi perancis yang bernama Jean Baptiste Say, pada tahun 1803 ,menulis sebuah karya yang berjudul: Traite D’ anominei Politique, Say melukis seorang entrepreneurship sebagai seorang yang memiliki seni serta ketrampilan untuk menciptakan perusahaan-perusahaan baru.

Pada tahun 1848, seorang ahli ekonomi Inggris bernama John Stuard Mill, membahas pandangan perlunya entherpreneurship pada perusahaan-perusahaan swasta, maka istilah entherpreneur menjadi istilah yang lazim digunakan untuk mendeskripsikan pendiri-pendiri perusahaan bisnis.

Di Australia, seorang ekonom yang bernama Carl Manger menetapkan apa yang dikenal sebagai: Perspektife subjektifitis ekonomi. Menurut Manger, perubahan ekonomi bukanlah timbul karena keadaan yang berlaku, tetapi dari kesadaran dan pemahaman individu tentang keadaan tersebut.

Pada abad ke – 19, para entherprener merupakan apa yang dinamakan “Captains of Industry”, yakni kelompok individu yang mendambakan kekayaan, dan yang menghimpun serta memenej sumber-sumber daya ekonomi dalam rangka menciptakan ekonomi dalam rangka menciptakan perusahaan dan badan-badan usaha baru. Model Manger tentang realokasi sumber-sumber daya secara produktif, sangat berkembang di Amerika Serikat, dan para petualang Amerika. Menciptakan rantai yang mengaitkan sumber daya mentah dengan produk yang bermanfaat bagi manusia. Kemudian gambar yang disajikan mengalami perubahan, sewaktu individu tertentu di Amerika Serikat meraih kekayaan raksasa secara mengejutkan.

(4)

Kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis, entre berarti 'antara' dan prendre berarti 'mengambil'. Kata ini pada dasarnya digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang berani mengambil risiko dan memulai sesuatu yang baru. Selanjutnya, pengertian entrepreneurship diperluas hingga mencakup inovasi. Melalui inovasi munculah kebaharuan yang dapat berbentuk produk baru hingga sistem distribusi baru. Produk baru misalnya, tidak mesti terkait dengan teknologi canggih karena produk yang sederhana juga dapat menyajikan kebaharuan, contohnya rasa baru pada produk makanan. Kemampuan inovasi dapat diamati dari sejarah suatu bangsa. Bangsa Indonesia telah mampu mendirikan bangunan tinggi seperti Candi Borobudur pada tahun 825. Kemampuan inovasi tetap dimiliki bangsa Indonesia hingga kini, misalnya dapat dilihat dari kemampuan untuk menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura melalui Jembatan Suramadu pada tahun 2009.

Menurut Schumpeter, seorang entrepreneur berusaha untuk mereformasi atau merevolusionisasi pola produksi dengan jalan mengeksploitasi (menerapkan) sebuah penemuan baru (invention) atau secara lebih umum, sebuah kemungkinan teknikal yang belum pernah dicoba untuk menghasilkan sebuah komoditi baru atau untuk memproduksi komoditi lama dengan cara baru. Hal tersebuut dilaksanakan melalui pemanfaatan sebuah sumber baru suplai bahan-bahan atau sebuah jalur pemasaran baru (a new outlet) untuk produk-produk yang dihasilkan.

Entrepreneurship menurut rumusnya terdiri dari rangkaian tindakan yang biasanya tidak dilakukan dalam hal melaksanakan tindakan-tindakan bisnis rutin. (Schumpeter, 1934:74).

Entrepreneur adalah seseorang yang mengambil risiko yang diperlukan untuk mengorganisasikan dan mengelola suatu bisnis dan menerima imbalan jasa berupa profit non-financial. (skinner, 1992).

(5)

baik yang telah atau yang belum dimiliki untuk mewujudkan gagasanya untuk membangun bisnis baru.

Hal menarik yang perlu diperhatikan dari definisi Schumpeter adalah adanya perbedaan antara entrepreneur dengan para inventor, karena menurutnya inventor hanya menciptakan sebuah produk baru sedangkan entrepreneur menghimpun sumber-sumber dana, mengorganisasi bakat-bakat dan menyediakan kepemimpinannya agar produk yang dihasilkan mencapai keberhasilan secara komersial.

“Enterpreneurship merupakan sebuah proses dinamik dimana orang menciptakan kekayaan incremental. Kekayaan tersebut diciptakan oleh individu-individu yang menanggung resiko utama, dalam wujud resiko modal, waktu, dan atau komitmen karir dalam hal menyediakan nilai untuk produk atau jasa tertentu. Produk atau jasa tersebut mungkin tidak baru, atau bersifat unik, tetapi nilai jual harus tetap diciptakan oleh sang entrepreneur melalui upaya mencapai dan mengalokasi ketrampilan-ketrampilan serta sumber-sumber daya yang diperlukan. (Ronstad, 1984:28).

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang entrepreneur adalah seorang yang memulai suatu bisnis baru dan yang melakukan hal tersbut dengan jalan menciptakan sesuatu yang baru, atau dengan jalan memanfaatkan sumber-sumber daya dengan cara yang tidak lazim, dalam upaya menghasilkan nilai bagi para pelanggan.

(6)

Karl Vesper, dalam risetnya tentang entrepreneurship menemukan fakta bahwa sifat enterpreneurhip seringkali merupakan persoalan persepsi, (Vesper, 1980:2).

Para ahli eknonomi, khususnya kelompok ekonomi yang menganut paham usaha bebas (free enterprise) mengikuti pandangan Schumpeter bahwa para entrepreneur menyatukan sumber-sumber daya dalam wujud aneka macam kombinasi tidak lazim (unusual combinations) untuk mencapai laba.

Para ahli jiwa cenderung memandang para entrepreneur dari sudut pandang behavioral, sebagai individu-individu yang berorientasi pada prestasi (Achievment oriented) yang dirangsang untuk mencari tantangan-tantangan dan hasil-hasil baru.

Entrepreneurship adalah proses kemanusiaan (human proses) yang berkaitan dengan kreatifitas serta inovasi tentang memahami peluang, mengorganisasi sumber-sumber, mengelola sehingga peluang itu menjadi wujud yang nyata menjadi suatu usaha yang mampu menghasilkan laba atau nilai untuk jangka waktu yang lama.

Ciri-ciri orang kreatif: a. Mandiri

b. Terbuka terhadap yang baru c. Percaya diri

d. Berani mengambil resiko

e. Melihat sesuatu yang tidak biasa

f. Memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar g. Dapat menerima perbedaan

h. Objektive dalam berfikir dan bertindak Kegiatan yang bersifat entherprenuership :

a. Menghasilkan produk baru dengan usaha baru pula

b. Menemukan peluang pasar yang baru dengan produk yang baru pula c. Mengkombinasikan factor-faktor produksi dengan cara baru

(7)

Peranan entherprenuer:

a. Meningkatkan standart /Kualitas hidup manusia

b. Sebagai motor penggerak dalam pembangunan nasional

c. Menciptakan lapangan kerja baru dengan mengurangi pengangguran C. Entrepreneurship Sebagai Suatu Proses

Entrepreneurship kerap kali merupakan kekuatan lembut yang menentang keteraturan masyarakat melalui perubahan-perubahan kecil marjinal. Tetapi menurut pandangan Schumpeter, hal tersebut dapat merupakan sebuah kekuatan dahsyat seperti halnya penemuan alat “Reaper” dari McCormick, atau proses-proses yang mentransformasi minyak bumi mentah menjadi sebuah sumber daya energi. Schumpeter melukiskan entrepreneurship sebagai sebuah proses dan para entrepreneur dianggapnya sebagai inovator yang memanfaatkan proses tersebut untuk menghancurkan kondisi Status quo melalui kombinasi-kombinasi baru sumber-sumber daya metode-metode perniagaan baru. (Schumpeter, 1934 : 42-46) dan (Schumpeter : 1965 : 45-46).

Schumpeter juga terkenal dengan ungkapannya yang menyatakan bahwa para entrepreneurs merupakan “Durchsetzer neue kombinationen” (pengusaha yang ingin mencari dan menerapkan kombinasi-kombinasi baru faktor-faktor produksi). Neue kombinationen yang berhasil dapat membuahkan:

1. Produk baru yang belum pernah diketemukan (Invention atau Innovation).

2. Metode kerja baru yang lebih efisien dan lebih efektif. 3. Lapangan kerja baru.

4. Teknologi baru.

5. Daerah penjualan (pasar) baru.

(8)

Para penganjur dan pihak pro entrepreneurship telah muncul dengan bendera usaha bebas (free enterprise).

Ada sejumlah pemerhati konsep entrepreneurship pada tahun-tahun belakangan ini, yang mengemukakan pandangan-pandangan mereka, tetapi konsep entrepreneurship masih tetap samar-samar.

Literature dalam bidang manajemen, sebagian besar kurang memperhatikan konsep entrepreneur, karena adanya mitos popular, yang menyatakan bahwa entrepreneurship dan perusahaan-perusahaan kecil kurang lebih sama, dan perusahaan-perusahaan kecil tidak pernah popular dalam pembahasan-pembahasan sekolah-sekolah bisnis. Adapula mitos yang dianggap benar, tentang entrepreneur yang menggambarkan mereka sebagai kelompok penjudi, atau orang-orang yang tidak benar, yang mengalami kegagalan dalam karier korporat mereka.

Adapun pandangan modern tentang entrepreneurship menerima kenyataan bahwa individu-individu memainkan peranan maha penting dalam hal mengintroduksi perubahan inovatif, dan bahwa pertumbuhan serta pengembangan muncul karena perubahan konstruktif, dan bahwa birokrasi-birokrasi yang stagnan, perlu diganti dengan organisasi-organisasi entrepreneurial yang terdesentralisasi, adaptif serta kreatif.

Pihak manajemen akan terus menerus memusatkan perhatian mereka pada pengembangan sistem-sistem kepemimpinan, dan efisiensi administrative, tetapi para entrepreneur akan terus menerus memegang peranan penting, yang dicirikan oleh sifat: injenuitas, individualisme, serta rangsangan untuk melaksanakan petualangan-petualangan kreatif.

D. Aneka Macam Jenis Entrepreneuship (Williamson, 1961:205)

Seorang yang bernama Clarence Danhof, dalam buku EconomicDevelopmen, dengan editor H.F Williamson dan J.A Buttrick meyajikan klasifikasi berikut tentang entrepreneuship.

(9)

bereksperimentasi secara agresif, dan mereka terampil mempraktekkan transformasi-transformasi kemungkinan-kemungkinan atraktif.

b. Imitative entrepreneuship: Entrepreneuship demikian didirikan oleh kesediaan untuk menerapkan (intinya:meniru) inovasi-inovasi yang berhasil diterapkan oleh kelompok para inovating entrepreneur.

c. Fabian entrepreneuship: Entrepreneuship demikian, didirikan oleh sikap yang teramat berhati-hati dan sikap skeptikal (yang mungkin sekedar sikap inersia) tetapi yang segera melaksanakan peniruan-peniruan menjadi jelas sekali, bahwa apabila mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan posisi relatif di dalam industri yang bersangkutan.

d. Drone entrepreneuship: Entrepreneuship demikian (ingat Drone berarti : malas) didirikan oleh penolakan untuk memanfaatkan peluang-peluang untuk melaksanakam perubahan-perubahan dalam rumus produksi, sekalipun hal tersebut akan mengakibatkan mereka merugi dibandingkan dengan para produsen lainnya.

Ada sebuah konsep entrepreneuship yang perlu ditonjolkan. Pada banyak negara yang sedang berkembang senantiasa dapat dijumpai sekelompok entrepreneur yang senantiasa menungu kesempatan dalam kesempitan, dan begitu ada peluang untuk mendapatkan laba, sekalipun hal tersebut secara optimal untuk keuntungan diri sendiri. Dalan ilmu ekonomi di sebut para “rent-seekers” (para pemburu rente) didalam masyarakat tergolong pada kelompok entrepreneur demikian. Entrepreneuship macam ini dapat dinamakan : Parasitic entrepreneuship (Winardi,1977 :84)

E. Sejumlah Kendala terhadap Entrepreneurship. ( Stoner, Et Al., 166 ) Memahami adanya suatu kebutuhan dan munculnya ide untuk memenuhinya, jarang sekali merupakan faktor yang kuat untuk membentuk sebuah usaha baru, terutama, apabila sang calon entrepreneur, perlu meminjam model.

(10)

rencana bisnis, para entrepreneur perlu memahami adanya sejumlah kendala untuk memasuki industri yang bersangkutan.

Mengapa para entrepreneur mengalami kegagalan? Karl Vesper memberikan jawabannya, dan ia mengatakan: karenya tidak adanya konsep yang bertahan. Problem lain yang umumnya dihadapi adalah kurangnya pengetahuan tentang pasar. Kesulitan mendapatkan modal yang di perlukan merupakan problem lain. Disamping itu sejumlah entrepreneur mengalami kegagalan setelah mereka mendirikan usaha atau perusaahaan mereka, karena mereka tidak memiliki pengetahuan bisnis dasar.

Entrepreneurship merupakan contoh jelas tentang bagaimana orang-orang dalam dunia bisnis bergerak, dan membentuk hubungan-hubungan pada waktu serta tempat tertentu.

Para entrepreneur menciptakan organisasi-organisasi. Tetapi setelah organisasi-organisasi terbentuk, spirit perubahan dan bahaya tidak akan berakhir, dan hal tersebut berkaitan erat dengan upaya Reinventing Organization (memperbaharui, menrestrukturisasi, memodifikasi, mendinamisasi organisai-organisasi). Pendek kata: penataan kembali organisasi-organisasi.

F. Sejumlah Faktor yang Memfasilitasi Intrapreneurship

Intrapreneurship adalah entrepreneurship yang ada di dalam perusahaan-perusahaan besar. Agar supaya intrapreneurship dapat berkembang di dalam sebuah organisasi besar, Pinchot berpendapat bahwa perlu terdapat adanya lima (5) macam “faktor kebebasan” sebagai berikut:

1. Seleksi diri. Perusahaan-perusahaan harus memberikan peluang kepada para inovator untuk mengemukakan ide-ide mereka, dan bukan menjadikan tanggung jawab untuk menghasilkan ide-ide baru, tanggug jawab yang ditugaskan kepada beberapa individu atau kelompok-kelompok tertentu. 2. Jangan ide yang diciptakan ditengah jalan, diserahkan kepada pihak lain

(11)

3. Pihak yang melakukanlah yang mengambil keputusan. Kepada pihak yang memunculkan ide, perlu diberikan kebebasan tertentu untuk mengambil keputusan tentang pengembagan dan implementasi ide tersebut.

4. Perlu diciptakan apa yang dinamakan waktu untuk membatu penciptaan inovasi (corporate “slack”). Perusahaan-perusahaan yang menyediakan dana dan waktu ( “slack”) memvasilitasi inovasi.

5. Akhirilah falsafah penemuan “akbar” (end the “home-run” philosophy). Pada beberapa perusahaan, terlihat gejala bahwa pimpinan puncaknya hanya berminat terhadap ide-ide inovatif, yang dapat meciptakan hasil-hasil luar biasa, (major breakthroughs). Dalam kultur demikian intrapreneurship dikekang.

G. Sejumlah Faktor yang Mempengaruhi Entrepreneurship

Di negara-negara atau perekonomian-perekonomian tertentu, misalnya Amerika Serikat, Korea Selatan, dan banyak negara-negara di Asia, seperti misalnya di Negara Muangthai, Indonesia, Malaysia, dan Singapura banyak terdapat entrepreneur.

Dahulu, pada waktu rezim sosialisi amat berkuasa di Sovie Russia, dan di RRC, jumlah entrepreneur sangat terbatas, tetapi setelah berlangsungnya proses reformasi ekonomi di sana dan setelah Gorbachov di Russia mencanangkan konsep Perestroika (restrukturisasi) danGlasnost (Pembaharuan), Iklim berusaha berubah. Entrepreneurs dan entrepreneurship mulai berkembang dengan cepat di sana.

Di Inggris, di mana banyak perusahaan penerbangan dan perusahaan-perusahaan mobil di operasi oleh pemerintah, pada tahun-tahun belakangan ini, perusahaan-perusahaan tersebut sudah mulai di alihkan pada industry swasta.

Negara-negara lain seperti misalnya, Jepang, yang sangat terikat oleh tradisi kuat , kerjasama dunia bisnis dengan pihak pemerintah, dewasa ini akan menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada entrepreneurship. Kondisi-kondisi ekonomi, maupun Kondisi-kondisi-Kondisi-kondisi non-ekonomi dapat mempengaruhi tingkat entrpreneurship di dalam suatu perekonomian.

Faktor-faktor Ekonomi

(12)

memajukan pertumbuhan dan pengembangan ekonomi, mempengaruhi pula munculnya entrepreneurship. Ada dua macam jenis faktor ekonomi berupa:  Adanya perangsang (intensif-intensif) pasar: kebutuhan social baru dapat

diupayakan untuk dipenuhi oleh sang entrepreneur dengan cara-cara baru.

 Adanya cukup persediaan modal, guna mendanai perusahaan-perusahaan, dan institusi-institusi (seperti misalnya Bank-bank), yang mengarahkan modal ke orang-orang yang ingin memanfaatkannya untuk proyek-proyek entrepreneurial.

Hingga tingkat tertentu, kekayaan lama,merupakan sebuah pra kondisi bagi kekayaan baru, pada Negara-negara yang mengalami kekurangan vitalitas ekonomi, atau tidak memiliki peluang-peluang pasar, maupun modal yang diperlukan untuk mendanai kegiatan para entrepreneur mereka.

Banyak Negara dewasa ini (inkluksi Negara kita) yang mengalami kekurangan modal sendiri mengundang paracalon investor, guna memperbesar arus masuknya modal kedalam perekonomian mereka.

Faktor-faktor Non Ekonomi

Soviet Rusia merupakan sebuah Negara yang lebih miskin, di bandingkan dengan Amerika Serikat dewasa ini, tetapi ia lebih kaya di bandingkan dengan Amerika Serikat pada abad ke-19.

Soviet Rusia hanya memiliki beberapa entrepreneur, sedangkan Amerika Serikat baik pada masa lampau maupun pada masa kini memiliki cukup banyak kelompok entrepreneur. Adapun penyebabnya terletak pada perbedaan-perbedaan cultural serta social antara kedua Negara tersebut.

(13)

dibandingkan dengan situasi di Soviet Rusia, yang berlandaskan suatu struktur legal, ekonomi sosialis.

Faktor lain yang mempengaruhi entrepreneurship, adalah mobilitas social. Di India misalnya, kebanyakan orang tergolong kepada kasta-kasta, yang merupakan pembagian-pembagian social yang melaksanakan fungsi-fungsi ekonomi khusus, seperti misalnya dalam bidang perikanan atau dalam bidang pertanian.

Sekalipun struktur social sudah mulai memudar, disana, ia masih berlaku tetap pada daerah-daerah pertanian.Akibatnya, adalah bahwa lebih sulit bagi anak seorang tukang kayu di sana untuk menjadi seorang entrepreneur dalam bidang lain. Hal tersebut sangat berbeda sekali dengan anak seorang tukang kayu di Amerka Serikat yang dapat mengembangkan diriya di berbagi bidang usaha.

H. Pentingnya Enterpreuneurship

Dewasa ini enterpreuneurship telah menjadi populer di berbagai negara, terutama di kalangan mahasiswa yang meplajarai ekonomi dan manajemen. Pada tahun 1960, kebanyakan ahli ekonomi memang memahami arti penting enterpreuneurship, tetapi selama dekade berikutnya mereka cenderung meremehkannya. Perhatian mereka hanya dipusatkan pada perusahaan perusahaan besar, menyebabkan pudarnya fakta bahwa kebanyakan pekerjaan-pekerjaan baru sebenarnya diciptakan oleh perusahaan yang lebih kecil. Kemudian pada tahun 1970, suasana kembali berubah, ilmu ekonomi yang utama menitikberatkan kepada permintaan konsumen, tidak mampu mencegah inflasi yang konstan terjadi selama dekade tersebut.

(14)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan bab II, penulis dapat menyimpulkan tentang konsep entrepreneurship. Entrepreneur adalah seorang yang memulai suatu bisnis baru dan yang melakukan hal tersbut dengan jalan menciptakan sesuatu yang baru, atau dengan jalan memanfaatkan sumber-sumber daya dengan cara yang tidak lazim. Entrepreneur yang sukses itu sesuai dengan laju keberhasilan yaitu, pertama Visi untuk pertumbuhan, yang kedua adalah tekad bulat (determination) ntuk

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Winardi, J. 2004. Entrepreneur dan Entrepreneurship. Jakarta: Kencana.

Schumpeter, Joseph. 1965. Economic Theory and Entrepreneurial History, In G. Hugh, J. Aitken (Eds). Explorations In Enterprise, Homewood University Press. Heilbroner, Robert.1962. The Making of Economic Society. Prentice Hall Inc, Engelwoods Cliffs.

Soeryanto Soegoto, Eddy. 2010. Entrepreneurship Menjadi Pebisnis yang Ulung. Jakarta:PT GRAMEDIA.

(16)

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan dengan meningkatnya kesadaran kelompok lansia dalam memeriksakan kesehatan diri telah berhasil terwujud melalui aksi Program Promosi Kesehatan yaknsi

Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan perspektif yang benar mengenai nilai keadilan terhadap asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan melalui mediasi dalam

Kemampaun TCPDump akan berkurang jika kita menggunakan switch, jadi untuk mempelajari paket jaringan secara detail dengan memakai TCPDump sebaiknya memakai hub

Tahun 2003 menjadi awal titik balik dari perkembangan BMT Ki Ageng Pandanaran, dibawah pengurus baru ini BMT dapat berkembang dengan baik, karena pengurus dan anggota koperasi

hasil penelitian menunjukan kelompok eksperimen yang diberikan video tutorial memperoleh hasil peningkatan dalam kemampuan kognitif di bandingkan kelompok kontrol,

Tujuannya adalah melihat secara komprehensif strategi kampanye komunikasi ASI Eksklusif yang dilakukan oleh AIMI Jateng dikota Semarang.. Penelitian ini menggunakan

Dalam kajian untuk menentukan sejauh manakah penggunaan lagu dapat meningkatkan penglibatan murid dalam pelajaran, apakah kaedah pengumpulan data yang sesuai.

Irma Suswati, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian