Mudik Ketupat dan Petasan Sebagai Identi

Teks penuh

(1)

Mudik, Ketupat dan Petasan Sebagai Identitas Idul Fitri Oleh: Ali Thaufan DS

Suka cita datangnya bulan Ramadhan menjadi cerita menarik bagi seorang muslim. Ada banyak hal yang bagi setiap muslim Indonesia menyisahkan cerita-cerita menarik itu. Seakan telah menjadi “tradisi”, setiap Ramadhan terlebih menjelang Idul Fitri, telah “memaksa” orang muslim untuk menyibukkan diri. Kesibukan seperti membeli baju baru, menyiapkan kue-kua lebaran, antri untuk membeli tiket dan liburan pulang kampung halaman, yang akrab disebut mudik. Tulisan ini hadir dari “refleksi” liputan mudik yang penulis amati baik di televisi maupun surat kabar; makanan ketupat yang menjadi bagian tak terpisah di meja makan saat lebaran; serta pesta petasan yang memeriahkan meski membahayakan pada saat malam-malam bulan Ramadhan.

Jauh sebelum Ramadhan tiba, para pekerja yang bekerja diluar daerahnya (perantau) telah merencanakan secara matang persiapan mudik. Kota-kota besar semisal Jakarta tampak sepi ditinggal penghuninya yang mudik ke kampung halaman. Ada banyak proses para pemudik yang bagi penulis, menarik untuk diamati. Tidak sedikit dari mereka harus rela mengantri untuk membeli tiket angkutan umum (bus, kereta, kapal, dan pesawat). Mereka yang tidak menggunakan angkutan umum mempersiapkan kelaikan kendaraan pribadinya untuk persiapan mudik. Selain sarana kendaraan, pemudik juga menyiapkan oleh-oleh yang beragam dari tanah perantauannya. Buah tangan khas daerah menjadi pilihan. Pada saat yang sama, jasa pertukaran uang pun menjadi buruan.

(2)

Tentu, ada pertanyaan yang menarik melihat fenomena mudik, “Kenapa harus rela macet dijalan?”. Oleh kebanyakan pemudik, hal tersebut – kemacetan- akan terobati karena kangen kampung halaman yang terlampau besar. Sepanjang apapun macet di jalan tidak menjadi halangan. Harga tiket kendaraan angkutan umum yang melonjak pun tidak menjadi alas an untuk tidak mudik.

Ditengah suka cita ber-Idul Fitri, salah satu makanan yang tidak akan ketinggalan adalah ketupat. Makanan berbahan dasar beras yang dibungkus dengan daun kelapa muda (janur) menjadi bagian integral dari Idul Fitri. Makanan penuh makna, simbol dari pengakuan kesalahan. Sehingga di hari yang Fitri seorang muslim saling memberi maaf pada muslim lainnya. Hal ini sangat berkaitan dengan Fitri, yakni kembali pada fitrah manusia yang terlahir tanpa dosa.

Hampir diberbagai daerah di Indonesia melakukan tradisi makan ketupat pada saat Idul Fitri. Umumnya di beberapa daerah Jawa, terdapat acara tersendiri untuk merayakan makan ketupat. Di Jombang misalnya, ada istilah “riyoyo kupat” (lebaran ketupat) yang diperingati hari ketujuh pasca Idul Fitri. Warga berdondong-bondong ke langgar (mushallah) membawa ketupat untuk kemudian bersantap bersama di teras langgar.

Hal lain yang tak kalah men-tradisi-nya saat Idul Fitri adalah petasan. Orang Jombang menyebut “mercon”, orang yang melakukan aktivitas atau menyalakan mercon di “merconan”. Suara petasan oleh sebagian orang sangat mengganggu, tetapi oleh sebagain lainnya suara itu menghibur. Orang yang terlanjur “ngefans” petasan tak segan mengeluarkan rupiahnya demi merayakan Hari Fitri dengan kemeriahan petasan. Musim lebaran tentu mendatangkan rezeki melimpah bagi penjual petasan. Tetapi harus diakui bahwa petasan dapat mendatangkan musibah jika ceroboh dalam menyimpan dan menyalakannya. Setiap kali musim lebaran, selalu saja terdapat korban meninggal akibat petasan.

Mudik, ketupat dan petasan sudah menjadi identitas Idul Fitri di Indonesia. Idul Fitri yang tentu berbeda dengan negara-negara lainnya. Diatas tiga identitas tersebut di atas, hal yang menjadi subtansi Idul Fitri adalah perubahan yang lebih baik seorang muslim pasca hari Fitri. Busana baru yang dikenakan saat Idul Fitri harus memperbarui prilaku dari tercela menjadi terpuji. Itulah hakikat dan subtansi Idul Fitri.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : idul fitri adalah