• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urgensi Peranan Keluarga bagi Perkembangan Self-Esteem Remaja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Urgensi Peranan Keluarga bagi Perkembangan Self-Esteem Remaja"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

dan Info Artikel:

Diterima 04/06/2014 Direvisi 13/06/2014 Dipublikasikan 30/06/2014

Volume 2 Nomor 2, Juni 2014, Hlm 19-24

Ur

Nikmarijal & Ifdil

Universitas Negeri Padang

Abstract

Adolescence is the period o society. The one that affe interaction of individuals providing something fun, s negative, further support p parents give a direct influ expose further the importan

Keyword:Self-esteem, Remaja, K

Copyright © 2014 IICE - Multika Rights Reserved

Indonesian Institute for Counselin

PENDAHULUAN

Self-esteem merupakan perkembanganself-esteempada an Sebagai penilaian terhadap diri pendidikan karena diharapkan mam (2005)self-esteemadalah (1) keya keyakinan dalam hak untuk baha kebutuhan dan keinginan-keingina

Coopersmith (1967) ju kebiasaan memandang dirinya te kepercayaan individu terhadap ke esteem adalah “personal judgmen sikap individu terhadap dirinya. P self-esteemadalah penerimaan dir dan berguna, tak peduli dengan a “aku berharga” merupakan inti dar

dan

Volume 2 Nomor 2, Juni 2014, Hlm 19-24

Urgensi Peranan Keluarga bagi Perkembangan

Self-EsteemRemaja

d of interest due to their properties and its role in determin ffects its development is self-esteem. Self-esteem is forme ls with their environment. One family environment, if th

, esteem would be positive, but if its not fun and self-rt parents, parental control, and relationship to each othe influence on the development of adolescent self-esteem. Th tance of the role of the family in developing the self-esteem

, Keluarga, Orangtua

ltikarya Kons (Padang - Indonesia) dan IKI - Ikatan Konselo

ling and Education (IICE) Multikarya Kons

kan salah satu faktor keberhasilan individu dalam anak-anak akan menentukan keberhasilan maupun kegagala iri sendiri, maka pengembangan self-esteem menjadi

ampu memproses penemuan konsep diri positif pada jiwa yakinan dan kemampuan untuk bertindak dan menghadapi ahagia, perasaan berharga, layak. Memungkinkan untuk m

inan.

juga menungkapkan self-esteem merupakan evaluasi yan a terutama mengenai sikap menerima dan menolak, ju kemampuannya, keberartian, kesuksesan, dan keberhargaa ent” mengenai perasaan berharga atau berarti yang dieks . Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Lutan (2003) ya

diri sendiri, oleh diri sendiri yang berkaitan dengan kita pa apa yang sudah, sedang atau bakal terjadi. Tumbuhnya pe daripengertianself-esteem.

dan

Ikatan Konselor Indonesia (IKI)

Volume 2 Nomor 2, Juni 2014, Hlm 19-24

mining the life of med through the if the environment elf-esteem will be ther between the This article will

m of teenage.

elor Indonesia - All

kehidupannya, karena galan di masa mendatang. i bagian penting dalam a anak. Menurut branden pi tantangan hidup ini, (2) menegaskan

(2)

melakukan dan bagaimana cara m rendah telah terbukti berhubung remaja, penyalahgunaan narkoba, faktor seperti keluarga, jenis kela self-esteem(Twenge & Campbell,

Meningkatkan self-este kakek-nenek. Beberapa karya terb tua. Orangtua mempengaruhi ting bagian ini dibahas dampak dan perhatian diberikan untuk remaja tua untuk memberikan pengalaman

Pengertian Self-esteem

Self-esteem merupakan perkembanganself-esteempada an Sebagai penilaian terhadap diri pendidikan karena diharapkan m branden (2005) self-esteem adala hidup ini, (2) keyakinan dalam ha kebutuhan-kebutuhan dan keingina

Coopersmith (1967) ju kebiasaan memandang dirinya te kepercayaan individu terhadap ke esteem adalah “personal judgmen sikap individu terhadap dirinya. P self-esteemadalah penerimaan dir dan berguna, tak peduli dengan a “aku berharga” merupakan inti dar

Menurut Maslow, self-e akanself-esteemoleh maslow dib yang mencakup hasrat untuk mem dan kebebasan. Individu ingin m tantangan dalam hidupnya, (2) Pe pernghargaan atas apa-apa yang dila

Disini individu akan b cinta dan rasa memilikinya telah bahwa self-esteem individu tidak Tetapi lebih ditentukan oleh kriter

Dari uraian tersebut dia secara umum terhadap dirinya s menghasilkan perasaan keberharg

a mereka melakukannya mungkin tergantung pada self-es ngan dengan banyak fenomena negatif, termasuk tinggin

a, minuman keras, kekerasan, depresi, kecemasan sosial, d elamin, ras, tingkat ekonomi, orientasi seksual, tampaknya ell, 2002)

steem remaja adalah tugas gabungan orang tua, guru, p terbaik psikolog mengenaiself-esteemberada pada hubungan tingkah laku dan juga menemukan pentingnya dukungan dan

n proses interaksi terkait orangtua-anak, dan menyarank ja aktif, peran hubungan orang tua dengan satu sama lain,

an bersosialisasi yang optimal untuk anak-anak mereka.

kan salah satu faktor keberhasilan individu dalam anak-anak akan menentukan keberhasilan maupun kegagala iri sendiri, maka pengembangan self-esteem menjadi mampu memproses penemuan konsep diri positif pada alah (1) keyakinan dan kemampuan untuk bertindak dan hak untuk bahagia, perasaan berharga, layak. Memungkin

inan-keinginan.

) juga menungkapkan self-esteem merupakan evaluasi yan a terutama mengenai sikap menerima dan menolak, ju kemampuannya, keberartian, kesuksesan, dan keberhargaa ent” mengenai perasaan berharga atau berarti yang dieks . Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Lutan (2003) ya diri sendiri, oleh diri sendiri yang berkaitan dengan kita pa apa yang sudah, sedang atau bakal terjadi. Tumbuhnya pe dari pengertianself-esteem.

lf-esteemsebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi ole ibagi menjadi dua bagian, yaitu : (1) Penghormatan atau p emperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, mengetahui atau yakin bahwa dirinya berharga serta ma Penghargaan dari orang lain, antara lain prestasi. Dalam

dilakukannya.

berusaha memenuhi kebutuhan akan self-esteem, apabila lah terpenuhi atau terpuaskan (Koeswara, 1991). Coopersm idak ditentukan oleh tingginya kemampuan individu dala iteria yang digunakan individu untuk menilai dirinya dan ting

diatas, maka dapat disimpulkan bahwaself-esteemadalah : sendiri, baik berupa penilaian negatif maupun penilian argaan atau kebergunaan diri dalam menjalani kehidupan,

-esteem. Self-esteem yang ginya tingkat kehamilan l, dan bunuh diri. Faktor-ya mempengaruhi tingkat

pengasuh, konselor dan gan antara anak dan orang dan kontrol mereka. Pada nkan harus lebih banyak in, dan kemampuan orang

kehidupannya, karena galan di masa mendatang. i bagian penting dalam a jiwa Remaja. Menurut an menghadapi tantangan inkan untuk menegaskan

yang dibuat individu dan juga indikasi bersarnya gaan. Secara singkat self-iekspresikan dalam sikap -yang memaparkan bahwa pantas, berharga, mampu perasaan “aku bisa” dan

oleh manusia. Kebutuhan penghargaan diri sendiri adi, edukasi, kemandirian mampu mengatasi segala m hal ini individu butuh

bila kebutuhan akan rasa smith (1981) menyatakan alam sumber self-esteem. tingkat pencapaiannya.

(3)

memahami apa yang dapat dilaku (4) kemampuan untuk percaya pad

Pembentukan Self-Esteem

Self-esteem mulai terb berinteraksi dengan orang-orang penerimaan peran yang saling te menimbulkan pengertian tentang k penilaian orang lain terhadap dirin sehingga individu mempunyaiSelf

Self-esteem mengandun dengan seseorang, selalu menda melekat pada remaja akan menda menguji individu, yang memperlih

Coopersmith (1967) m fenomena kompleks yang terdiri Terdiri dari dua ekspresi bagian-s seseorang. Ini adalah proses “kin berkembang selama masa remaja.

Green dan Kolos (2010 kritis remaja, sesuai dengan penga partisipasi pada aktivitas ekstra ku keluarga dirumah dan hubungan d lebih tinggi dari temannya (Gala kelamin, status sosial ekonomi, da

Violet Oaklander (1988 esteemanak, yaitu : (1) mendeng dengan hormat, (3) memberikan p memiliki reaksi terhadap remaja, pilihan, (8) melibatkan mereka dala

Dukungan Orangtua

Konsistensi formulasi s persetujuan orangtua, dorongan, dengan self-esteem remaja, serta 1990). Untuk alasan teoritis dan berkorelasi dengan persepsi rema (Demo, Small, & Savin-Williams, mengidentifikasi, dan merasa deka

Dukungan orangtua m menunjukkan minat pada anak berbicara, mendengarkan, menyen Tentu saja, anak-anak sering men

kukan dan apa yang telah dilakukan, (3) penetapan tujuan pada kemampuan sendiri, dan tidak merasa iri pada prestasi

terbentuk setelah anak lahir, ketika anak berhadapan de ng di lingkungan sekitarnya. Interaksi secara minimal m

tergantung pada orang yang bicara dan orang yang d g kesadaran diri, identitas, dan pemahaman tentang diri. H irinya sebagai orang yang berarti, berharga, dan menerima k Self-esteem(Burn, 1993:46).

dung pengertian ”siapa dan apa diri saya”. Segala sesua dapat penilaian berdasarkan kriteria dan standar tertentu dapat masukan dari orang lain dalam proses berinteraksi d rlihatkan standar dan nilai diri yang terinternalisasi dari mas

meneliti perkembangan pada anak-anak sekolah percay iri dari self-evaluation dan manifestasi reaksi defensive u n-subyektif dan perilaku manifestasiself-esteemadalahself kinerja, kapasitas dan atribut” sesuai dengan standar priba ja.

10) menyatakan bahwa pengembanganself-esteem,komple galaman anak-anak di usia sekolah, yang meliputi : (1) aka kurikuler dan kompetensi, (3) diterima atau ditolak teman n dengan orang tua berpengaruh signifikan. Remaja sering alambos, Barker & Krahn, 2006). Selanjutnya variabel d dan etnis berdampak padaself-esteem.

988), membuat beberapa daftar pedoman dasar sehari-hari engarkan, mengakui dan menerima perasaan remaja, (2) m

pujian khusus, (4) spesifik dalam mengkritik remaja, (5) ju ja, (7) memberikan tanggung jawab, independensi dan keb dalam pemecahan masalah, (9) menjadi contoh yang baik ba

si self-esteem menekankan pentingnya penilaian diri, ada n, respons, kehangatan, pemeliharaan, dukungan, dan k ta aspek lain dari penyesuaian sosial, emosional, dan aka dan metodologis, penting untuk dicatat bahwa self-este maja dari perilaku orangtua dibandingkan dengan perseps s, 1987). Sebagian besar remaja menghormati dan mengha ekat dengan orangtua mereka (Bachman, Johnston, & O'Malle

menunjukkan manfaat bagi self-esteem remaja. Teruta k mereka, menerima, menghabiskan waktu dan melaku yentuh, memeluk, bermain, mendorong dan memberikan

enolak, mencegah, menantang, dan melemahkan upaya or

n dan arah hidup sendiri, si orang lain.

dengan dunia luar dan l memerlukan pengakuan, diajak bicara. Interaksi Hal ini akan membentuk a keadaan diri apa adanya

suatu yang berhubungan tentu, atribut-atribut yang i dimana proses ini dapat asyarakat dan orang lain.

caya self-esteem menjadi untuk evaluasi tersebut. self-evaluation kelayakan ibadi dan nilai-nilai yang

pleksitas dari komponen kademik dan evaluasi, (2) an sebaya, (4) kehidupan ng menilai mereka sendiri l demografis seperti jenis

ri untuk mendukung self-) memperlakukan mereka ) jujur dengan mereka, (6) ebebasan untuk membuat bagi remaja.

da bukti persuasif bahwa kasih sayang berkaitan kademik (Gecas & Seff, steem remaja lebih kuat epsi orang tua itu sendiri ghargai orang tua mereka,

alley, 1987).

(4)

responsif dalam mendukung mer untuk self-esteem remaja khusuny paling penting untuk self-esteem mereka (Rosenberg, 1985), yaitu terjadi pada mereka.

Kontrol Orangtua

Dimensi perilaku orang adalah kontrol orangtua. Dukunga sangat penting. Studi menunjukka pengawasan orangtua, pemantaua kontrol otoriter, yang melibatkan p evaluasi diri remaja (Gecas & Sef kontrol keluarga yang positif ber efficacy).

Kontrol keluarga diartik mengerjakan pekerjaan rumah, m dilihat oleh remaja. Kurdek dan Fin memantau anak-anak mereka, sem untuk temuan tersebut adalah b orangtua mereka peduli tentang m

Remaja tidak hanya pe yang disarankan oleh teori-teori menolak, dan menggagalkan upay tua untuk menyerah, mundur, seh memunculkan antisosial, dan pemb

Dengan kepribadian me remaja mengganggu pemantauan bekerja sama dengan orang tua mengawasi dan mendisiplinkan m yang sangat buruk, mereka dapat (Ambert, 1995). Perilaku seperti orang tua membuat remaja bertan

Hubungan Orangtua

Komponen penting lain adalah sifat hubungan orang tua single parent, dan pernikahan kem orangtua-anak dan penyediaan s kesejahteraan anak-anak. Studi mempengaruhiself-esteemremaja di rumah tangga) tidak memberik 1984).

ereka (Ambert, 1997), kesesuaian dan pentingnya perila unya dalam menemukan situasi dan tahap perkembangan. m remaja adalah bahwa mereka merasa bahwa orang tua itu bahwa orang tua mereka berpikir mereka penting dan p

angtua dengan konsekuensinya yang berpangaruh besar b gan orangtua, kontrol orangtua bersifat multidimensi, tetapi kkan bahwa kontrol otoritatif, menekankan pada penjelask uan, dan pembatasan yang lebih positif terkait dengan k n pemaksaan, ancaman, dan hukuman fisik, memiliki konse Seff, 1990). Kurdek dan Fine (1994) mengamati bahwa pe berkaitan dengan kompetensi psikososial (termasuk indek

iartikan sebagai kegiatan pemantauan orangtua yaitu mem mengetahui di mana remaja dan apa yang dia lakukan, Fine (1994) menemukan tidak ada batas untuk kontrol, sem semakin besar manfaat bagi penilaian anak-anak. Satu pen bahwa pengawasan orangtua adalah “pengingat harian mereka atau anak penting bagi meraka”.

penerima pasif dari perilaku orangtua. Berbeda dengan p ri sosial, adalah umumnya bahwa remaja aktif dan kre aya orang tua untuk memantau dan mendisiplinkan, merek sehingga permisif dan toleran. Situasi ini diperburuk dan

mberontakan remaja tersebut (Ambert, 1997).

mereka sendiri dan dengan banyak pengaruh ekstra membe an orangtua dan kontrol dengan berbagai cara: Remaja tua mereka, dapat memilih untuk tidak taat dengan ora

mereka, dapat mengabaikan saran, dan dapat tiba di rum pat badmouth, menghina, melecehkan, dan bahkan menye

rti mengurangi keterlibatan orang tua, dukungan dan eva tanggung jawab dalam menyangkalself-esteemyang lebih b

lain dari lingkungan keluarga remaja yang berimplikasi un tua satu sama lain. Tingginya tingkat ketidakbahagiaan p kembali meningkatkan kekhawatiran tentang stabilitas dan sumber daya yang diperlukan seperti sosial, emosion i menemukan bahwa tingginya tingkat konflik perkaw aja, tetapi struktur keluarga (jumlah dan status perkawinan

rikan pengaruh yang signifikan dalam membentuk self-es

ilaku orangtua bervariasi an. Tapi tampaknya yang ua mereka peduli kepada peduli tentang apa yang

r bagi self-esteem remaja tapi jenis kontrol orang tua laskan penalaran induktif, konsep diri anak, tetapi nsekuensi merugikan bagi penerimaan keluarga dan eks self-esteem dan

self-emastikan bahwa remaja n, dan menjaga apa yang semakin banyak orang tua penjelasan yang mungkin ian untuk mereka bahwa

n pandangan tabula rasa reatif dalam menentang, reka menginginkan orang n semakin sulit sehingga

bentuk tindakan mereka, ja dapat menolak untuk rang tua yang mencoba umah dalam suasana hati yerang orang tua mereka valuasi yang positif dari h baik.

(5)

Seringnya muncul Kon remaja dari diri mereka sendiri d sendiri karena interaksi negatif an perkawinan, merasa terjebak di a orang tua kurang responsif terhad McCoy, & Forehand, 1992). Per destruktif, termasuk agresi intersp keras yang ditujukan terhadap rem keluarga mereka dan diri mereka s

Sekali lagi, penting untu menjadi sumber, memberikan ko pengalaman keluarga bermasalah y

PENUTUP

Keluarga adalah lingku kemudian dapat dikembangkan ke orang tua dalam menjalankan tuga kebiasaan memandang dirinya te anggota keluarga berhubungan d berpengaruh sepanjang hidup. M berkurangnya peran keluarga terha Bukti di sini menegaskan pentingn

DAFTAR PUSTAKA

Ambert, A.-M. (1997).Parents, c New York: Haworth.

Ambert, A.-M. (1995). A critica research, intervention, an changing families(pp. 29

Bachman, J. G., Johnston, J. J., 8c the nations high school se

Branden, Nathaniel. 1996.The Po

Brody, G. H., Stoneman, Z., M associations of sibling co problems.Child Developm

Burn, R.B .1993.Konsep Diri : Te : Arcan.

onflik perkawinan dan belum terselesaikan masalah berb i dalam beberapa cara. Pertama, remaja, khususnya, cende antara orang tua (Hammen, 1992). Remaja sering ditarik i antara orang tua dan harus memihak. Selama dan setela adap kebutuhan emosional remaja, dan mempertinggi kon erselisihan perkawinan sering mengendapkan proses kelu rspousal dan kekerasan, konflik orang tua-anak, dan orang remaja (Jouriles, Barling, & O'Leary, 1987). Dalam situasi a sendiri mau tidak mau disibukkan dengan hal negatif dan

ntuk mengenali sifat dua arah dari hubungan orangtua-anak kontribusi bagi remaja atau eskalasi konflik interparenta h yang menghambat remaja (dan juga orang tua) untuk men

gkungan pembimbing yang pertama dan utama, terutama ke tahap berikutnya. Perkembangan self-esteemsangat dip

gas pokok dan fungsinya.Self-esteemmerupakan evaluasi y terutama mengenai sikap menerima atau menolak. Hub dengan pandangan dan evaluasi dari diri mereka sendir . Meskipun banyak teori sosialisasi remaja dan pengem

rhadap remaja sehingga menjauhkan diri dari anggota kelua gnya keterlibatan orang tua, dukungan, dan kontrol bagiself

, children, and adolescents: Interactive relationships and d

itical perspective on the research on parents and adolesc and policy. In D. H. Demo 8c A.-M. Ambert (Eds.),Pare 291-306). Minneapolis, MN: National Council on Family R

, 8c O'Malley, P. M. (1987).Monitoring the future: Questio l seniors, 1986.Ann Arbor: University of Michigan, Institute

Power of Self Esteem: Health Communications inc. Florida.

McCoy, J. K., 8c Forehand, R. (1992). Contemporan conflict with family relationship assessments and family dis lopment, 63,391-400.

: Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Perilaku. Alih Bah

erbahaya bagi pandangan derung menyalahkan diri rik ke dalam perselisihan telah konflik perkawinan, onflik (Brody, Stoneman, eluarga sehingga menjadi g tua bersifat agresif dan si ini, pikiran remaja dari an suka mengkritik.

nak, dengan remaja sering ntal, menciptakan siklus engevaluasi diri.

a agar kepribadian yang dipengaruhi oleh peranan si yang diuat individu dan ubungan remaja dengan diri, dan proses ini tetap embangan menunjukkan luarga, terutama orangtua.

self-esteemremaja.

d development in context.

lescents: Implications for arents and adolescents in

Relations.

stionnaire responses from titute for Social Research.

a. Deenfield Beach

raneous and longitudinal discussions about sibling

(6)

Cashion, B. G. (1984). Female-he B. C. Miller (Eds.),Family

Coopersmith, S. 1981.The Antece

Demo, D. H., Small, S. A., 8c Sa and their parents.Journal

Gecas, V., 8c Seff, M. A. (199 Contemporary families: Council on Family Relatio

Greenberg, J. (2008). Understan Science,3, 48–55.

Green, E.J., Crenshaw, D., & Kolo of Play Therapy,19(2), 95-105.

Hammen, C. (1992). Cognitive, model of depression.Dev

Ho, C. S., Lempers, J. D., & Cla esteem: A family mediatio

Jouriles, E. N., Barling, J., 8c O families.Journal of Abno

Koeswara, E. 1991.Teori-Teori K

Kurdek, L. A., & Fine, M. A. (19 adolescents: Linear, curvilin

McLoyd, V. C, Jayaratne, T. E., C African American moth Development, 65,562-89

Oaklander, Violet. (1988).Window

Rosenberg, M. (1985). Self-con development of the self (p

Rusli Lutan. (2003). Self Esteem: dan Tenaga Keolahragaan

Twenge, J. M., & Campbell, W Personality and Social Ps

-headed families: Effects on children and clinical implicatio mily studies review yearbook(pp. 481-89). Beverly Hills, C

tecedents of Self-Esteem, Palo Alto, CA: Consulting Psychol

Savin-Williams, R. C. (1987). Family relations and the self nal of Marriage and the Family, 49,705-15.

990). Families and adolescents: A review of the 1980s. s: Looking forward, looking back (pp. 208-25). Minne lations.

tanding the vital human quest for self-esteem. Perspectiv

olos, A. (2010). Counseling children with preverbal trauma .

e, life stress, and interpersonal approaches to a developm evelopment and Psychopathology, 4,189-206.

Clark-Lempers, D. S. (1995). Effects of economic hardsh iation model.Adolescence, 30,117-31

O'Leary, K. D. (1987). Predicting child behavior problem normal Child Psychology, 15,497-509

i Kepribadian. Bandung: PT. Eresco

1994). Family acceptance and family control as predictors rvilinear, or interactive effects?Child Development, 65,113

., Ceballo, R., & Borquez, J. (1994). Unemployment and w thers: Effects on parenting and adolescent socioemotio 89

dows to our children: A Gestalt therapy approach to childre

oncept and psychological well-being in adolescence. In lf (pp.205-246). New York: Academic Press

em:Landasan Kepribadian. Jakarta : Bagian Proyek Pening aan Dirjen Olahraga Depdiknas.

W. K. (2002). Self-esteem and socioeconomic status: A l Psychology Review,6, 59–71.

ations. In D. H. Olson, 8c , CA: Sage.

hologists Press.

selfesteem of adolescents

0s. In Alan Booth (Ed.), inneapolis, MN: National

ectives on Psychological

ma. International Journal

pmental psychopathology

dship on adolescent

self-lems in maritally violent

rs of adjustment in young 137-46.

work interruption among tional functioning. Child

ildren and adolescents.

In R. Leahy (Ed.), The

ingkatan Mutu Organisasi

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini adalah: Ada hubungan positif yang sangat signifikan antara self-esteem dengan resiliensi pada remaja di Panti Asuhan Keluarga Yatim Muhammadiyah

Hasil dari penelitian ini adalah: Ada hubungan positif yang sangat signifikan antara self-esteem dengan resiliensi pada remaja di Panti Asuhan Keluarga Yatim Muhammadiyah

Umpan balik netral hanya sedikit berdampak terhadap perkembangan self esteem pada anak ini desababkan karena pemberian umpan baliknya itu bersifat umum tidak kepada

Umpan balik netral hanya sedikit berdampak terhadap perkembangan self esteem pada anak ini desababkan karena pemberian umpan baliknya itu bersifat umum tidak kepada

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa konseling individu dengan pendekatan realitas berpengaruh terhadap peningkatan self esteem anak.. Hal ini dibuktikan

Tingkat Dukungan Keluarga dan Hubunganya dengan Self Esteem Remaja yang Mengalami Gejala Kecemasan The Level Of Family Support and Its Relationship With Self Esteem Adolescents Who

Hasil Uji Beda Self-Esteem Berdasarkan Prestasi Akademik Prestasi Akademik N Rata- rata t p Memiliki Prestasi Akademik 76 29,407 - 2,667 0,00 8 Tidak Memiliki Prestasi Akademin

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa remaja yang mengalami body shaming memiliki self esteem yang rendah dimana hal ini dilihat dari aspek kekuatan dalam mengatur diri sendiri dan