• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTI PENTING MANAJEMEN LIKUIDITAS PADA I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ARTI PENTING MANAJEMEN LIKUIDITAS PADA I"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Lembaga keuangan (financial institution) dapat didefinisikan sebagai suatu badan usaha yang aset utamanya berbentuk aset keuangan (financial assets) maupun tagihan-tagihan (claims) yang dapat berupa saham (stocks), obligasi (bonds) dan pinjaman (loans), daripada berupa aktiva riil misalnya bangunan, perlengkapan (equipment) dan bahan baku (Rose & Frasser, 1988 : 4). Salah satu fungsi lembaga keuangan adalah sebagai intermediasi keuangan yaitu fungsi yang menjalankan penghimpunan dana dari masyarakat untuk disalurkan kembali kemsyarakat dan perusahaan. Fungsi intermediasi pada lembaga keuangan dijalankan oleh lembaga perbankan Indonesia.

Perbankan dan lembaga keuangan lainnya sangat menentukan pertumbuhan perekonomian suatu negara. Hal ini mengharuskan lembaga keuangan untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dengan cara menjaga likuiditas. Likuiditas merupakan masalah yang sangat esensial bagi lembaga keuangan untuk menjaga kontinuitas usahanya. Bank yang tidak dapat memenuhi penarikan dana oleh nasabahnya akan menghilangkan kepercayaan nasabah dan hal ini akan menyebabkan terjadinya penarikan besar-besaran dana oleh nasabah yang disebut dengan istilah Bank Run. hal ini akan menjadi penyebab masalah likuiditas pada Bank tersebut.

Masalah likuiditas telah melanda dunia lembaga keuangan khususnya perbankan sejak terjadinya krisis moneter dan ekonomi paro kedua pada tahun 1997. Ketika dunia perbankan diguncang masalah likuiditas, pemerintah melalui Bank Indonesia telah mengambil langkah untuk menyelamatkan perbankan nasional antara lain dengan penyediaan fasilitas bantuan likuiditas yang diberi nama Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Kemudian Bank yang mengalami likuiditas dan telah memanfaatkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) di klasifikasikan kedalam beberapa kelompok untuk membedakan kategori bank-bank yang mengalami likuiditas berdasarkan kondisi bank pada saat itu antara lain, bank dalam likuidasi, bank beku kegiatan usaha, bank take over dan bank beku operasi sejak diluncurkannya fasilitas dari BLBI ini.

Tabel 1: Daftar Bank yang tergolong dalam kategori Bank dalam likuidasi dan Bank beku kegiatan usaha Penerima BLBI

No Nama Bank Nilai BLBI (Rp Miliar)

(2)

1 Bank Umum Majapahit 9

(3)

Likuiditas pada prinsipnya merupakan kemampuan untuk memenuhi permintaan dana yang harus segera dipenuhi. Yang mungkin menjadi pertanyaan disini adalah kewajiban segera mana yang harus dipenuhi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi kewajiban segera tersebut dan berapa biaya yang pantas dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas. Likuiditas dibutuhkan terutama untuk memenuhi cadangan wajib minimum, penarikan nasabah giro dan kewajiban lainnya yang telah jatuh tempo.

Disamping itu, likuiditas diperlukan pula untuk memenuhi permintaan kredit oleh debitur. Banyak lembaga keuangan mengembangkan hubungan jangka panjang dengan nasabahnya dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kredit para nasabahnya. Konsekuensinya tidak dapatnya memenuhi permintaan kredit oleh nasabah tidaklah seserius dengan konsekuensi atas kegagalan untuk memenuhi penarikan oleh deposan, namun secara jangka panjang hal tersebut akan tetap menjadi masalah serius.

Salah satu tujuan manajemen likuiditas bagi Intermediasi keuangan adalah dapat memenuhi permintaan dan menjaga kepercayaan nasabah. Dalam penulisan ini, bertujuan untuk menjelaskan secara rinci tentang arti penting manajemen likuiditas bagi Intermediasi keuangan dan alternatif yang dapat digunakan oleh Intermediasi keuanganagar dapat menjaga likuiditasnya pada posisi normal, baik terkait risiko yang terjadi pada sisi aset maupun pada sisi utang.

Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari Intermediasi Keuangan? 2. Apa pengertian dari manajemen likuiditas?

3. Seberapa pentingnya manajemen likuiditas bagi intermediasi keuangan?

4. Bagaimana Alternatif Pemecahan Masalah Likuiditas?

Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian dari Intermediasi Keuangan. 2. Untuk mengetahui arti manajemen likuiditas

3. Untuk mengetahui arti penting manajemen likuiditas bagi intermediasi keuangan

4. Mengetahui Alternatif Pemecahan Masalah Likuiditas intermediasi keuangan

(4)

1. Bagi Penulis, Artikel ini sebagai syarat untuk memenuhi tugas Manajemen Lembaga Keuangan dan sebagai sarana untuk menambah ketrampilan menulis.

2. Bagi Pembaca, Artikel ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi bacaan untuk menambah pengetahuan.

TUJUAN

Likuiditas adalah suatu istilah yang dipakai untuk menunjukkan persediaan uang tunai dan aset lain yang mudah untuk diubah menjadi uang tunai. Lembaga keuangan dianggap likuid kalau lembaga keuangan tersebut mempunyai cukup uang tunai atau aset likuid lainnya, disertai kemampuan untuk meningkatkanjumlah dana dengan cepat dari sumber lainnya, untuk memungkinkannya memenuhi kewajiban pembayaran dan komitmen keuangan lain pada saat yang tepat. (Herman Darmawi: 2011).

Risiko-risko dapat terjadi pada lembaga keuangan khususnya yang berperan sebagai intermediasi keuangan, salah satunya adalah risiko likuiditas. Manajemen likuiditas yang berarti pengelolaan likuiditas dimaksutkan untuk menjaga ketersediaan kas dan mengelola aset dan kewajiban dari risiko-risiko likuiditas yang akan terjadi pada lembaga keuangan. Risiko likuiditas pada lembaga keuangan muncul karena dua alasan. (Drs Warsono, M.M :2010, Bahan Ajar Manajemen Lembaga Keuangan).

Pertama, dari sisi kewajiban. Dari sisi kewajiban terjadi ketika para pemegang kewajiban suatu Intermediasi keuangan seperti para deposan atau para pemegang polis asuransi mengambil untuk mengurangkan klaim keuangannya dengan segera. Ketika para pemegang kewajiban menarik deposito, dan ketika ketersediaan kas kosong maka FI akan meminjam dana atau menjual aset-aset untuk memenuhi penarikan tersebut.

Kedua, dari sisi Aset. Risiko dari sisi aset ini muncul dari hasil komitmen meminjamkan. Ketika peminjam mencairkan komitmen pinjaman, FI harus mendanai pinjaman pada neraca dengan segera, sehingga ini akan menyebabkan permintaan akan kebutuhan dana dengan segera.

(5)

dengan jumlah kebutuhan likuiditasnya, memiliki likuiditas kurang dari kebutuhan tetapi mempunyai surat-surat berharga yang dapat segera dialihkan menjadi kas, dan memiliki kemampuan untuk memperoleh likuiditas dengan cara menciptakan utang.

Salah satu tujuan manajemen likuiditas bagi Intermediasi keuangan adalah dapat memenuhi permintaan dan menjaga kepercayaan nasabah. Dalam penulisan ini, bertujuan untuk menjelaskan secara rinci tentang arti penting manajemen likuiditas bagi Intermediasi keuangan dan alternatif yang dapat digunakan oleh Intermediasi keuangan agar dapat menjaga likuiditasnya pada posisi normal, baik terkait risiko yang terjadi pada sisi aset maupun pada sisi utang.

METODE PENULISAN

Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah dengan studi pustaka dari referensi-referensi buku di Perpustakaan Laboratorium Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang dan Perpustakaan Pusat Universitas Muhammadiyah Malang. Dan melalui media sosial untuk mendapatkan berita dan fenomena aktual mengenai risiko likuiditas. Waktu yang digunakan dalam pencarian informasi dan penulisan ini selama satu bulan dengan pengolahan data dari buku-buku referensi.

Tulisan Terdahulu, Pertama, Kasus Risiko Likuiditas pada Bank Century oleh Ika Maya Rahmawati (2011) yang menyebutkan bahwa kegagalan Bank Century dalam likuiditas disebabkan oleh kurangnya manajemen Risiko pada Bank. Kedua, Kasus Perbankan Umum mengenai Likuiditas oleh Cecep Nugraha (2014) yang menyebutkan bahwa Bank Century adalah salah satu Bank yang mengalami risiko likuiditas akibat gagal kliring sehingga banyak uang nasabah yang tidak dapat dikembalikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengertian Intermediasi Keuangan

(6)

uang dari dan menyalurkannya ke dalam masyarakat. Lembaga Keuangan dibagi menjadi dua, yaitu Lembaga Keuangan Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank. Salah satu fungsi dari lembaga keuangan adalah sebagai intermediasi keuangan yang melakukan fungsi utama menghimpun dana dari mesyarakat dan menyalurkannya kepada masyarakat dan perusahaan. (Ade Arthesa & Edia Handiman, 2006)

Intermediasi keuangan secara umum diklasifikasikan menjadi dua macam. Pertama, lembaga depositori, yaitu lembaga keuangan yang secara langsung menarik dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat atau perusahaan. Lembaga depositori meliputi Bank, Tabungan dan Pinjaman dan Credit Union. Kedua, lembaga non depositori yang kegiatan usahanya bersifat kontraktual, yaitu menarik dana masyarakat dengan menawarkan kontrak untuk memproteksi penabung terhadap risiko ketidakpastian. Lembaga non depositori meliputi Perusahaan Asuransi, Perusahaan Sekuritas, Bank Investasi, Perusahaan Pembiayaan, Dana Pensiun dan Reksadana. ( Drs. Warsono, MM: Bahan Ajar Manajemen Lembaga Keuangan, 2010).

Pengertian Manajemen Likuiditas

Masalah kunci dibidang manajemen yang dihadapi lembaga keuangan terutama bank meliputi manajemen likuiditas, kebijakan perkreditan, kebijakan investasi, pengelolaan pendanaan, manajemen modal dan manajemen aktiva-pasiva untuk keberhasilan kinerja lembaga keuangan (Rose, PS & Fraser, DR: 281-429).

Manajemen likuiditas merupakan aspek penting dalam manajemen lembaga keuangan. Melalui perencanaan yang cermat terhadap perubahan-perubahan penarikan dan penyaluran dana akan dapat mengendalikan likuiditas bank. Manajemen juga dapat menetapkan kebijakan jumlah likuiditas yang relatif besar atau kecil terhadap antisipasi kebutuhan dana tergantung pada preferensi risiko, faktor-faktor risiko dan pertimbangan lain. Likuiditas bukanlah merupakan suatu konsep mutlak, tetapi menyangkut konsep waktu dan biaya.

(7)

lebih tinggi pada saat lembaga-lembaga keuangan lain juga sedang membutuhkan likuiditas.

Arti Penting Manajemen Likuiditas

Manajemen likuiditas sangat diperlukan dalam kelangsungan hidup suatu lembaga keuangan, salah satunya adalah lembaga Intermediasi Keuangan. Manajemen likuiditas sendiri adalah perkiraan terhadap permintaan dana oleh masyarakat dan penyediaan cadangan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Cadangan ini berupa uang kas atau aset yang cepat untuk bisa diubah menjadi kas.

Manajemen likuiditas dimaksutkan untuk menjaga kemampuan lembaga keuangan agar dapat meminimalisir risiko likuiditas. Risiko ini salah satunya adalah tidak dapat memenuhi penarikan oleh nasabah dalam jangka waktu tertentu. Hal ini akan menyebabkan Intermediasi keuangan khususnya bank mengalami tingkat kesehatan yang buruk dan akan menghilangkan kepercayaan masyarakat. Masalah likuiditas juga menyebabkan lembaga keuangan mengalami gagal kliring.

Contoh pada kasus Bank Century yang kini berubah nama menjadi Bank Mutiara. Kasus ini diharapkan bisa terbongkar dan transparan untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional. Gagal mengikuti kliring pada 13 November 2008 menjadi awal terbongkarnya berbagai kesalahan dan penipuan yang dilakukan oleh Bank Century. Dana dari Lembaga Penjamin Simpanan sudah diberikan kepada Bank Century, namun setahun kemudian Bank Century belum juga pulih. Uang nasabah belum dapat kembali dan uang negara juga menjadi sumber dana yang diberikan kepada Bank ini.

Gagal kliring oleh Bank Century dikarenakan kekuarangan saldo atau uang di Bank Indonesia. bahkan saldo Bank Century di Bank Indoensia sudah dibawah saldo minimal. Penyebab lain dari memburuknya keuangan di Bank Century adalah adanya surat berharga valuta asing (valas) yang bermasalah. Surat berharga yang dibeli pada 2003 yang seluruhnya (sekitar US$203,4 juta) diterbitkan oleh bank asing itu tergolong macet karena tidak memiliki rating.

(8)

Kasus ini menjadi kasus masalah kesulitan likuiditas dan modal Bank Century. Pada tanggal 15 Oktober 2008, Bank Sentral telah memerintahkan tiga pemegang saham untuk menandatangani letter of commitment yang isinya perjanjian mereka untuk membayar surat berharga yang jatuh tempo dan menambah modal bank serta mencari investor baru. Namun mereka tidak menepati janjinya sehingga Bank Century masih dalam kondisi kesulitan likuiditas.

Segala bantuan dana telah diberikan oleh BI sampai dengan Lembaga Penjamin Simpanan untuk memberi bantuan dana kepada Bank Century. Namun pelanggaran-pelanggaran peraturan tetap dilakukan oleh ketiga pemegang saham, sehingga diperkirakan Bank Century akan ditutup. Penutupan ini akan berdampak banyak nasabah akan menarik uang mereka pada bank-bank kecil sekelas Bank Century dan akan memindahkan uang-uang mereka pada Bank-Bank lebih besar (bank run).

Alternatif Pemecahan Masalah Risiko Likuiditas Menggunakan Manajemen Likuiditas

Masalah risiko likuiditas yang dialami oleh Bank Century disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi kegagalan Bank Century memenuhi kewajibannya. Faktor ini antara lain, kurangnya tata kelola bank yang sehat (good corporate governance), kurangnya kesadaran akan pentingnya manajemen risiko salah satunya adalah manajemen risiko likuiditas, dan kurangnya kesadaran para pemegang saham untuk mematuhi peraturan perbankan nasional. Melihat dari kasus Bank Century, maka manajemen likuiditas bagi Lembaga Keuangan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Pertama, dengan pengelolaan asset (assets management) yaitu ketika Lembaga Intermediasi Keuangan mengalami kekosongan deposit maka lembaga keuangan dapat mengelola aset untuk memenuhi kewajibannya. Ada dua cara yang dapat dilakukan, yaitu manajemen likuiditas yang dibeli (meminjam dana di pasar uang untuk selanjutnya dipinjamkan ke peminjam) dan manajemen likuiditas yang disimpan (menurunkan aset kas milik bank).

(9)

Ketiga, melaksanakan monitoring secara harian atas besarnya penarikan dana yang dilakukan oleh nasabah baik penarikan melalui kliring maupun penarikan tunai. Penarikan melalui kliring adalah penarikan oleh nasabah bank X pada Bank Y. Jika saldo Bank Y pada Bank Indonesia dibawah penarikan yang dilakukan oleh nasabah maka Bank Y dikatakan kalah kliring.

Keempat, melaksanakan montoring secara harian atas semua dana masuk baik melalui incoming transfer maupun setoran tunai nasabah. Pelaksanaan ini akan memudahkan bank dalam menganalisa kas yang masuk ke bank sehingga bank akan mudah dalam merencanakan penggunaan kas yang ada untuk diputar kembali agar tidak ada idle cash sehingga profit/ keuntungan bank akan meningkat.

Kelima membuat analisa sensitivitas likuiditas Bank terhadap skenario penarikan dana berdasarkan pengalaman masa lalu atas penarikan dana bersih terbesar yang pernah terjadi dan membandingkannya dengan penarikan dana bersih rata-rata saat ini. hal ini akan membuat bank dapat meramalkan kebutuhan dana oleh nasabah dan dana yang harus tersedia untuk memenuhi kewajiban jangka pendek Bank.

Keenam, menetapkan secondary reserve untuk menjaga posisi likuiditas Bank, antara lain menempatkan kelebihan dana kedalam instrumen keuangan yang likuid. Kelebihan dana yang ada diharapkan dapat dijadikan instrumen keuangan yang likuid artinya dapat segera dicairkan ketika harus memenuhi kewajiban.

Ketujuh, menetapkan kebijakan Cash Holding Limit pada kantor-kantor cabang. Dan melaksanakan fungsi ALCO ( Assets And Liabilities Comittee) untuk mengatur tingkat bunga dan usahanya. Cash Holding Limit dimaksutkan untuk mejaga posisi kas pada kantor cabang agar tidak mengalami kekosongan, sehingga tidak mengalami risiko likuiditas.

(10)

KESIMPULAN

Likuiditas merupakan kemampuan lembaga keuangan salah satunya adalah yang menjalankan fungsi intermediasi keuangan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Likuiditas juga meliputi banyaknya kas yang harus tersedia pada lembaga keuangan. Likuiditas bukanlah merupakan suatu konsep mutlak, tetapi menyangkut konsep waktu dan biaya. Hampir semua aktiva lembaga keuangan pada akhirnya akan jatuh tempo dan beralih menjadi kas. Pengalihan aset tersebut dapat dipercepat dengan cara menjualnya dan pada dasarnya semua aset dapat dijual.

Ketika lembaga Perbankan atau Lembaga Intermediasi Keuangan lain mengalami kegagalan dalam memenuhi kewajibannya maka lembaga tersebut dapat dikatakan menghadapi masalah risiko likuiditas. Jika risiko ini tidak ditangani maka akan menurunkan kepercayaan nasabah sehingga menimbulkan penarikan dana besar-besaran oleh masyarakat yang biasa disebut dengan Bank Run, jika hal ini terjadi masalah likuiditas akan semakin parah. Disinilah manajemen likuiditas mempunyai arti penting dalam Lembaga Perbankan atau Lembaga Intermediasi lain.

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum proses sertifikasi mencakup : peserta yang telah memastikan diri kompetensinya sesuai dengan standar kompetensi untuk paket/okupasi Operator Kran Putar Tetap

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dikelola langsung oleh DRPM Ditjen Risbang untuk kompetitif nasional dan penugasan dan dikelola PT untuk skema

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis didapatkan kesimpulan bahwa penerapan metode Eksperimen dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA

Budi Nuryanto. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN TATA NIAGA TAHUN 2011. Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa formulasi campuran pati sorgum- kitosan 7:3 dengan plasticizer sorbitol terbaik adalah pada konsentrasi 20% dan

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh

Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar (0,0000).Temuan ini menyimpulkan bahwa semakin rendah pendapatan yang diterima oleh

• Siklus karbon dapat dijelaskan dalam proses fotosintesa tumbuhan melalui proses ekstraksi CO2 dan H2O dari lingkungan:. Radiasi matahari + nCO2+nH2O -  (CH2O)n+nO2