LEGAL OPINION
TINJAUAN PELANGGARAN HAM BERAT TERHADAP ETNIS ROHINGYA DALAM HUKUM INTERNASIONAL
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Internasional
Dosen Pengampu Ridwan Arifin, S.H., Ll.M.
Oleh:
Dani Bagus Aris Tyawan (8111416140)
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG FAKULTAS HUKUM
Legal Opinion: Tinjauan Pelanggaran Ham Berat Terhadap
Etnis Rohingya Dalam Hukum Internasional
Oleh:
Dani Bagus Aris Tyawan
POSISI KASUS & FAKTA
UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pada Pasal 1 angka 6 memberikan pengertian tentang pelanggaran HAM. Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara, baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh
penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.1
Terdapat banyak sekali jumlah etnis yang ada di dunia ini, banyak juga etnis minoritas yang tersebar di berbagai negara. Nasib etnis minoritas ini pun tidak luput dari pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh penguasa seperti yang terjadi di Myanmar, ratusan ribu warga sipil dari masyarakat etnis minoritas telah dipaksa untuk meninggalkan desa mereka, sebagai strategi untuk memotong dukungan kepada kelompok-kelompok
oposisi bersenjata. Seluruh desa telah diratakan dengan tanah, menghilangkan kepemilikan atas rumah-rumah penduduk dan harta benda mereka. Banyak korban lain pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah, termasuk eksekusi diluar hukum dan penyitaan tanah mereka.2
Reaksi yang timbul dari kelompok-kelompok etnis ini pun beragam. Sebagian ada yang secara keras menunjukkan perlawanan terhadap pemerintah sehingga terlibat bentrok dengan pemerintah,3 dan ada yang
melarikan diri ke negara lain untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik atau untuk menghindari pemindahan paksa dan pelanggaran lain.4
Suatu negara dapat menolak atau menerima orang asing yang masuk kedalam wilayahnya setelah memenuhi syarat-syarat tertentu. Dalam situasi khusus ada kemungkinan seseorang diperkenankan masuk ke wilayah suatu negara tanpa memiliki dokumen lengkap, misalnya dalam kasus pengungsi atau pencari suaka.5
Minoritas Muslim Rohingya di Myanmar, menjadi suatu masyarakat yang memiliki nasib terkucilkan di tempat tanah kelahirannnya.6 Meskipun telah
berabad-abad tinggal di Myanmar, pemerintah junta militer Myanmar
1 Pasal 1 angka 6 UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
2 Nic Dunlop, http://www.amnesty.org/en/library/asset/ASA16/001/2007/en/196b18ba-d3c5-11dd-8743-d305bea2b2c7/asa160012007en.pdf.
3 Andi Purwono, “Perlawanan Uigur pada Kekuasaan China”,
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/07/08/71515/Perlawanan-Uighur-pada-Kekuasaan-China
4 Dunlop, op.cit.
menganggap bahwa Rohingnya termasuk dalam etnis Bengali sehingga
pemerintah junta militer Myanmar tidak mengakui mereka sebagai salah satu etnis Myanmar.7 Dengan diberlakukannya Burma Citizenship Law 1982,
membuat etnis Rohingya kehilangan kewarganegaraannya.
Etnis Rohingya juga mengalami pelanggaran HAM dalam hal beragama, diantaranya Junta memprovokasi kerusuhan diantara warga dengan
mengijinkan untuk membagikan buku-buku dan catatan yang menghina Islam; masjid dan madrasah dihancurkan dan ditutup; pelarangan membangun masjid dan madrasah yang baru; tidak diizinkan merenovasi masjid dan madrasah.8
Tindakan-tindakan tersebut merupakan mekanisme yang dijalankan junta militer Myanmar dalam operasi-operasi militernya dengan tujuan
memusnahkan etnis Rohingya dari Myanmar. Operasi militer tersebut antara lain:
1. Operasi Militer (resimen ke-5) pada November 1948; 2. Operasi Burma Territorial Force pada 1949-1950;
3. Operasi Militer (2nd Emergency Chin regimen) pada 1951-1952; 4. Operasi Mayu Oktober pada 1952-1953;
5. Operasi Mone-thone pada Oktober 1954;
6. Operasi Tentara dan Imigrasi pada Januari 1955; 7. Operasi UMP pada 1955-1958;
8. Operasi Keptan Htin Kyat pada 1959; 9. Operasi ShweKyi pada Oktober 1966;
10. Operasi Kyi Gan pada Oktober-Desember 1966; 11. Operasi Ngazinka pada 1967-1969;
12. Operasi Myat Mon pada Februari 1969-1971; 13. Operasi Major Aung pada Februari 1973; 14. Operasi Sabe pada Februari 1974-1978; 15. Operasi Nagamin pada Februari 1978-1980; 16. Operasi Shwe Hintha Ogos pada 1978-1980; 17. Operasi Galone pada 1979;
18. Operasi Pyi Thaya pada 1991-1992;
19. Operasi Na-Sa-Ka sejak 1992 hingga kini.9
ANALISIS ATURAN HUKUM
Bentuk-bentuk pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya antara lain adalah:
1. Diskriminasi Rasial terhadap Etnis Rohingya
Dalam Pasal 1 ayat 1 Internatinal Convention on the Elimination of Racial Discrimination, diskriminasi rasial diartikan sebagai:
“... any distinction, exclusion, restriction or preference based on race, colour, descent, or national or ethnic origin which has the purpose or effect of nullifying or impairing the recognition, enjoyment or exercise, on an
6 Jawahir Thontowi, Perlakuan Pemerintah Myanmar terhadap Minoritas Muslim Rohingya Perspektif Sejarah dan Hukum Internasional, (Pandecta, Volume 8, Nomor 1, Januari 2013), hlm. 43.
7 Avyanthi Azis, “Locating The Rohingya in A Difficult World of Nation: A Study in Statelessness”, (makalah disampaikan pada Orientation and Country Workshop of API Fellowship, kerjasama antara Nippon Foundation dan LIPI, Depok, 23-24 Maret 2011), hlm 5.
8 Sultan Muhammad Islam, “Nasib Umat Islam Rohingya yang Dilupai”, makalah disampaikan dalam acara Universal Justice Network Meeting di Penang, Malaysia, pada 1-4 Juli 2011.
equal footing, of human rights and fundamental freeedoms in the political, economic, social, cultural or any other field of public life.”
Dalam kasus Rohingya, pemerintah Myanmar telah melakukan tindakan diskriminasi terhadap etnis Rohingya yang didasarkan atas ras, etnis, warna kulit, dan agama. Pemerintah Myanmar melaksanakan kebijakan “Burmanisasi” dan “Budhanisasi” yang mengeluarkan dan memarjinalkan warga Muslim Rohingya di tanahnya sendiri, Arakan.
International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination memberikan perlindungan terhadap kebebasan dari
diskriminasi. Konvensi ini meminta Negara peserta untuk dapat mengambil langkah-langkah yang dapat menghilangkan praktik diskriminasi dan
mempromosikan kesetaraan kesempatan dan hubungan baik antara orang-orang dari kelompok ras yang berbeda.10
Pasal 27 International Convenant on Civil and Political Rights menjamin hak atas identitas nasional, etnis, agama, atau bahasa, dan hak untuk
mempertahankan ciri-ciri yang ingin dipelihara dan dikembangkan oleh
kelompok tersebut. Dalam pasal ini tidak dibedakan perlakuan yang diberikan negara kepada kelompok minoritas yang diakui atau tidak. Sehingga ketentuan ini berlaku bagi kelompok minoritas yang diakui oleh suatu negara maupun kelompok minoritas yang tidak mendapat pengakuan resmi negara.11
2. Tidak diberikan kewarganegaraan (stateless person)
“Setiap orang memiliki hak untuk berwarganegaraan”. Ketentuan ini terdapat dalam Pasal 15 ayat (1) Deklarasi Hak Asasi Manusia 1948. Instrumen internasional lainnya juga melengkapi ketentuan ini adalah Pasal 5
Internasional Convention on the Elimination of All Forms of Racial
Discrimination, mewajibkan negara untuk menjamin hak setiap orang, salah satunya adalah hak atas kewarganegaraan (the right to nationality).12
Hak seseorang atas kewarganegaraan tidak dapat dihilangkan. Sehingga jika alasan Myanmar tidak mau mengakui etnis Rohingnya karena menganggap etnis Rohingya berkebangsaan Bangladesh, maka alasan ini sangat
diskriminatif dan bertentangan dengan hukum internasional. Perlindungan terhadap orang-orang yang tidak memiliki
kewarganegaraan terdapat dalam Convention Relating to The Status of Stateless Persons 1954. Konvensi ini menyatakan bahwa orang-orang tanpa kewarganegaraan dapat mempertahankan hak dan kebebasan mendasar tanpa diskriminasi.13
3. Tidak diberikan kebebasan untuk beragama
Sejak awal Juni 2012, hampir semua masjid di ibukota Arakan yaitu Sittwe/Akyab telah dihancurkan atau dibakar. Pelarangan membangun masjid dan madrasah yang baru ditetapkan dan tidak diizinkan untuk merenovasi masjid dan madrasah. Banyak masid dan madrasah serta sekolah di Maungdaw dan Akyab yang ditutup dang muslim tidak boleh beribadah di dalamnya.14
4. Kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes againt humanity)
Pembantaian terhadap etnis Rohingya telah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Yang paling tragis berlangsung pada tahun 1945. Sekitar
10International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination Pasal 2
11 International Convenant on Civil and Political Rights Pasal 27
12International Convention on the Elimination of All Forms of Radical Discrimination Pasal 5 D butir (3)
13Convention Relating to The Status of Stateless Persons 1945 Pasal 3
14 Irma D. Rismayanti, Manusia Perahu Rohingya Tantangan Penegakan HAM di ASEAN.
100.000 orang Rohingya dibantai dan disempitkan ruang gerak dan tempat tinggalnya menjadi hanya di negeri Arakan bagian utara. Pada 3 Juni 2012 warga Rakhine Buddhist bekerjasama dengan militer Burma, polisi dan angkatan bersenjata melakukan pembantaian dan kekerasan terhadap 10 muslim Myanmar (non Rohingya). Kekerasan ini adalah bagian dari
perencanaan dan serangan yang sistematis yang di desain untuk
memusnahkan populasi Rohingya yang tersisa di Arakan dan menjadikan Arakan sebagai “muslim-free region”.15
5. Kejahatan Genosida (Genocide) atau etnic cleansing
Dalam kasus Rohingya ini, pemerintah Myanmar telah terbukti melakukan hal-hal yang disebutkan dalam Pasal 2 Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide dan Pasal 5 Statuta Roma. Dimana pemerintah Myanmar telah melakukan tindakan yang dapat menyebabkan punahnya sebagian atau keseluruhan anggota etnis Rohingya, seperti membunuh anggota-anggota Rohingya, dengan sengaja mengakibatkan penderitaan pada kondisi kehidupan etnis Rohingya yang diperkirakan
menimbulkan kerusakan jasmani seluruhnya atau sebagian.
UJI SYARAT
Dengan melihat unsur-unsur yang terdapat dalam hukum yang berlaku serta juga melihat fakta yang ada, apakah fakta-fakta yang ada tersebut memenuhi semua unsur dalam hukum yang berlaku sesuai pasal-pasal yang diterangkan diatas ?
Lahirnnya beberapa instrumen hukum sebagai legal standing kaitannya dengan Hak Asasi Manusia (HAM) dilatar belakangi oleh isu-isu hak asasi manusia dimata dunia, yang tertuang dalam bentuk perjanjian-perjanjian Internasional seperti Statuta Roma, International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), Universal Declaration of Human Rights (UDHR), International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights (ICESCR), Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW), Convention on the Rights of Child (CRC), dan International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (ICERD).
Dalam menangani kasus HAM berat terhadap Etnis Muslim Rohingya, ada beberapa cara yang dapat ditempuh, diantaranya melalui Mekanisme Peradilan Pidana Internasional yaitu di International Criminal Court (ICC) karena secara umum, berdasarkan fakta-fakta hukum yang ada, tindakan-tindakan militer/Pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya dapat diklasifikasikan dan dikatagorikan sebagai tindakan Genosida dan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan sebagaimana diatur di dalam Pasal 6 dan Pasal 7 Statuta Roma.
Namun yang menjadi persoalan saat ini adalah, Myanmar tidak meratifikasi seluruh perjanjian internasional tersebut, sehingga tidak terikat dan terbebani tanggung jawab sebagaimana yang tercantum dalam perjanjian-perjanjian tersebut jika akan dilakukan mekanisme berbasis perjanjian-perjanjian internasional (Treaty Based Mecanism) seperti Statuta Roma.
Akan tetapi, International Criminal Court (ICC) dapat mengambil alih kasus kejahatan yang dilakukan terhadap etnis Rohingya ini jika Myanmar dianggap tidak mampu menyelesaiakan dan mengadili kasus tersebut sesuai pasal 17 ayat (1) huruf (a) yang menyebutkan "Kasusnya sedang diselidiki atau
dituntut oleh suatu Negara yang mempunyai jurisdiksi atas kasus tersebut, kecuali kalau Negara tersebut tidak bersedia atau benar-benar tidak dapat melakukan penyelidikan atau penuntutan". Terkait sanksi hukum terhadap Myanmar yang dapat diberikan oleh ICC adalah pengenaan prinsip tanggungjawab pidana individu (individual criminal responsibility) sesuai dalam pasal 25 statuta roma, dan tanggung jawab komandan dan atasan (commander and superior responsibility) sesuai dalam pasal 27 statuta roma.
Selanjutnya, pelaku kejahatan tersebut dapat dikenakan hukuman ganti rugi kepada korban termasuk restitusi, kompensasi dan rehabilitasi (sesuai dalam pasal 75 statuta roma) serta dapat pula dikenakan pidana penjara paling lama 30 tahun atau penjara seumur hidup dengan melihat beratnya kejahatan serta kondisi-kondisi personal dari terpidana ditambah denda dan pembekuan harta kekayaan yang didapat secara langsung atau tidak langsung dari kejahatan yang dilakukannya sesuai dalam pasal 77 statuta roma.
Pada dasarnya, dalam kasus Kejahatan luar biasa (Extraordinary Crime)
seperti yang terjadi pada etnis muslim Rohingya di Rakhine Myanmar tersebut diatas jelas bertujuan untuk menghilangkan suatu polpulasi berdasarkan etnis atau agama tertentu. Ini merupakan pelanggaran HAM berat yang berbentuk Genosida dan Kejahatan terhadap Kemanusian sama seperti yang terjadi pada saat suku Tutsi oleh suku Hutu yang memakan korban 800.000 jiwa di republic Rwanda, Afrika Tengah. Tentu saja pencabutan nobel perdamaian bukan puncak hukuman. Sesuai yurisdiksinya, pimpinan yang bertanggungjawab dan membiarkan terjadinya kejahatan kemanusaiaan dan Genosida ini harus diadili di Peradilan Internasioal sebagaimana penulis sampaikan diatas.
Penyelesaian pada konflik-konflik yang terjadi di dalam masyarakat dapat dilakukan dengan dua pilihan, yaitu dengan jalur litigasi dan non-litigasi. Jalur litigasi merupakan cara penyelesaian masalah melalui jalur Pengadilan, sedangkan non-litigasi merupakan cara penyelesaian masalah di luar Pengadilan.16 Dalam menyelesaikan konflik berkepanjangan ini hukum
Internasional harus tegas dalm menegakkan keadilan. Dalam Pasal 33 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dijelaskan bahwa untuk menyelesaikan kasus seharusnya menggunakan cara diplomasi terlebih dahulu sebelum ke ranah hukum. Hal tersebut berbunyi sebagai berikut :
Ayat 1, Pihak-pihak yang tersangkut dalam sesuatu pertikaian yang jika berlangsung secara terus menerus mungkin membahayakan pemeliharaan perdamaian dan keamanan nasional, pertama-tama harus mencari
penyelesaian dengan jalan perundingan, penyelidikan, mediasi, konsiliasi, arbitrasi, penyelesaian menurut hukum melalui badan-badan atau pengaturan-pengaturan regional, atau dengan cara damai lainnya yang dipilih mereka sendiri.
Ayat 2, Bila dianggap perlu, Dewan Keamanan meminta kepada pihak-pihak bersangkutan untuk menyelesaikan pertikaiannya dengan cara-cara yang serupa itu.
Adapun bentuk-bentuk mekanisme diplomasi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan kasus yang terjadi di Myanmar ialah dengan menggunakan Mediasi. Mediasi adalah cara penyelesaian dengan melalui perundingan yang diikutsertakan pihak ketiga sebagai penengah. Pihak ketiga disini disebut sebagai mediator. Mediator disini tidak hanya negara tetapi dapat individu, organisasi internasional dan lain sebagainya. Mengenai kasus yang terjadi pada etnis rohingya, PBB dapat sebagai mediator untuk menengahi para pihak yang 16 Cacuk Sudarsono, “Pelaksanaan Mediasi Penal Dalam Penyelesaian Tindak Pidana Penganiayaan”,
bersengketa (etnis rohingya dengan pemerintah Myanmar dan penduduk warga negara Myanmar). Serta PBB dapat membantu memberikan usulan-usulan bagi para pihak untuk menyelesaikan masalah yang terjadi tanpa
adanya salah satu pihak yang dirugikan. Dalam menyikapi kasus yang terjadi di Myanmar terhadap etnis rohingya, PBB memang telah mengecam keras kepada pemerintah Myanmar untuk segera mengakhiri kekerasan yang terjadi. Namun, hal tersebut tidak ditanggapi dengan baik oleh pemerintah Myanmar dan
hingga saat ini masih belum ada upaya penyelesaian.17
Jika dalam menggunakan cara mediasi sudah digunakan oleh negara dalam mengakhiri permasalahan yang terjadi, namun masih belum dapat menyelesaikan masalah yang terjadi dengan hal ini kasus yang terjadi dapat diambil alih oleh Dewan Keamanan PBB untuk diselesaikan menggunakan cara melalui Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court) yang sudah diterangkan diatas. Dengan memperhatikan empat yurisdiksi pada ICC yaitu;18 a) rationae materiae, b) rationae personae, c) ratione loci, d) ratione
temporis.
KESIMPULAN
Perlindungan terhadap kelompok etnis dan hak atas berkewarganegaraan sudah cukup banyak pengaturannya dalam hukum internasional. Tetapi dalam prakteknya masih banyak pelanggaran. UU No 39 tahun 1999 tentang HAM pada Pasal 1 angka 6 telah menjelaskan bahwa pengertian dari Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara, baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Etnis Rohingya adalah salah satu contoh kelompok etnis yang tidak diakui kewarganegaraannya sehingga hak-haknya sering dilanggar, bahkan mereka sering mendapatkan penganiayaan.
Bentuk-bentuk pelanggaran HAM yang telah dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya diantaranya adalah diskriminasi rasial terhadap etnis Rohingya; tidak diberikan kewarganegaraan (stateless
person); tidak diberikan kebebasan untuk beragama; kejahatan
terhadap kemanusiaan (crimes against humanity); kejahatan genosida (genocide) atau ethnic cleansing.
Penyelesaian pada konflik-konflik yang terjadi di dalam masyarakat dapat dilakukan dengan dua pilihan, yaitu dengan jalur litigasi dan non-litigasi. Jalur litigasi merupakan cara penyelesaian masalah melalui jalur Pengadilan,
sedangkan non-litigasi merupakan cara penyelesaian masalah di luar Pengadilan. Dalam menyelesaikan konflik berkepanjangan ini hukum Internasional harus tegas dalm menegakkan keadilan.
Berdasarkan Pasal 17 Statuta Roma, yurisdiksi Mahkamah Pidana Internasional dapat berlaku apabila terjadi kurangnya penyelidikan dan
17 NN, “PBB Kutuk Kekerasan Terhadap Muslim Myanmar”, diunggah pada 25 Oktober 2014, http://www.tempo.co/read/news/2013/10/25/118524655/PBB-Kutuk-Kekerasan-terhadap-Muslim-Myanmar, diakses pada 10 September 2017 pukul 20:32 WIB.
penuntututan nasional yang sungguh- gungguh, maupun adanya keengganan dan ketidakmampuan negara tempat pelaku atau perbuatan pelanggaran HAM dilakukan, untuk memproses pelanggaran tersebut. Berdasarkan pasal ini, pemerintah Myanmar terbukti seperti tidak melakukan upaya hukum dan enggan untuk menyelesaikan kekerasan terhadap etnis Rohingya.
Dalam kasus ini Statuta Roma mengizinkan Dewan Keamanan PBB merujuk atau meneruskan sebuah keadaan pelanggaran HAM yang tampak kepada Mahkamah Pidana Internasional. Sayangnya, Pasal 12 ayat 2 Statuta Roma menyatakan, suatu negara dinyatakan menerima
yurisdiksi Mahkamah jika ia telah meratifikasi Statuta. Hal ini, tentu tidak menguntungkan karena negara yang tidak meratifikasi tidak dapat di adili. Berbagai pasal yang dapat dibuktikan telah dilanggar oleh
pemerintahan Myanmar menjadi tidak dapat diterapkan, karena Myanmar tidak menjadi Negara yang meratifikasi satupun peraturan- peraturan mengenai Hak Asasi Manusia diatas. Oleh sebab itu, pertanggungjawaban terhadap setiap pelanggaran yang telah dilakukan pemerintah Myanmar menjadi sulit untuk diterapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Pasal 1 angka 6 UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Nic Dunlop,
http://www.amnesty.org/en/library/asset/ASA16/001/2007/en/196b18ba-d3c5-11dd-8743-d305bea2b2c7/asa160012007en.pdf.
Andi Purwono, “Perlawanan Uigur pada Kekuasaan China”,
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/07/08/71515/Perlawan an-Uighur-pada-Kekuasaan-China
Atik Krustiyati, Penanganan Pengungsi di Indonesia, Tinjauan Aspek Hukum Internasional & nasional, (Surabaya: Brilian Internasional, 2010).
Jawahir Thontowi, Perlakuan Pemerintah Myanmar terhadap Minoritas Muslim Rohingya Perspektif Sejarah dan Hukum Internasional, (Pandecta, Volume 8, Nomor 1, Januari 2013).
Avyanthi Azis, “Locating The Rohingya in A Difficult World of Nation: A Study in Statelessness”, (makalah disampaikan pada Orientation and Country Workshop of API Fellowship, kerjasama antara Nippon Foundation dan LIPI, Depok, 23-24 Maret 2011).
Sultan Muhammad Islam, “Nasib Umat Islam Rohingya yang Dilupai”, makalah disampaikan dalam acara Universal Justice Network Meeting di Penang, Malaysia, pada 1-4 Juli 2011.
International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination Pasal 2
International Convenant on Civil and Political Rights Pasal 27
International Convention on the Elimination of All Forms of Radical Discrimination Pasal 5 D butir (3)
Convention Relating to The Status of Stateless Persons 1945 Pasal 3 Irma D. Rismayanti, Manusia Perahu Rohingya Tantangan Penegakan HAM di ASEAN. http://pustakahpi.kemlu.go.id.
Rohingya 101, data dan fakta, www.indonesia4rohingya.org.
Cacuk Sudarsono, “Pelaksanaan Mediasi Penal Dalam Penyelesaian Tindak Pidana Penganiayaan”, Unnes Law Journal, No. 4, Januari, 2015.
NN, “PBB Kutuk Kekerasan Terhadap Muslim Myanmar”, diunggah pada 25 Oktober 2014, http://www.tempo.co/read/news/2013/10/25/118524655/PBB-Kutuk-Kekerasan-terhadap-Muslim-Myanmar, diakses pada 10 September 2017 pukul 20:32 WIB.