• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum - Analisis Daya Dukung Pondasi Tiang Bor Kelompok Pada Proyek Pembangunan Gedung Pendidikan FAK. MIPA Universitas Negeri Medan (UNIMED)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum - Analisis Daya Dukung Pondasi Tiang Bor Kelompok Pada Proyek Pembangunan Gedung Pendidikan FAK. MIPA Universitas Negeri Medan (UNIMED)"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum

Secara umum, perencanaan pondasi tiang mencakup daya dukung sebagai

end bearing pile (daya dukung ujung ) maupun friction pile (daya dukung gesek). Sifat tanah yang variabel yang mengkombinasikan dengan beban-beban yang tak

diperhitungkan sebelumnya atau gerakan tanah yang terjadi kemudian

(umpamanya oleh gempa) dapat menyebabkan penurunan-penurunan berlebihan.

Setiap pondasi harus mampu mendukung beban sampai batas keamanan

yang telah ditentukan, termasuk mendukung beban maksimum yang mungkin

terjadi. Jenis pondasi yang digunakan tergantung pada kondisi tanah dan kondisi

sekitarnya. Pondasi yang baik harus mampu menopang beban-beban yang bekerja

diatasnya.

2.2. Penyelidikan Tanah (Soil Investigation)

Pekerjaan penyelidikan tanah (soil investigation) mempunyai peranan yang penting pada suatu lokasi pekerjaan. Tanah merupakan pendukung dari suatu

bangunan. Dalam perencanaan pondasi konstruksi dalam hal ini diperlukan

adanya penyelidikan tanah untuk mengetahui parameter-parameter tanah yang

akan digunakan dalam perhitungan daya dukung tanah pondasi. Daya dukung

tanah sangat berpengaruh pada bentuk dan dimensi pondasi agar diperoleh

perencanaan pondasi yang optimal.

(2)

harus kuat dan aman untuk mendukung beban dari konstruksi atas (upper structure) serta berat sendiri pondasi.

Untuk dapat memenuhi hal terssebut diatas, dilaksanakan penelitian tanah

(soil investigation) di lapangan dan laboratorium untuk memperoleh parameter-parameter tanah berupa perlawanan ujung/konus (cone resistance) dan hambatan lekat (skin friction) yang di peroleh dari hasil pengujian sondir, jenis dan sifat tanah dari pengujian pengeboran tanah pondasi serta dari hasil pengujian

Laboratorium yang digunakan dalam perhitungan daya dukung pondasi dan cara

perbaikan tanah.

2.2.1. Sondering Test/Cone Penetration Test (CPT)

Pengujian CPT atau sondir adalah pengujian dengan menggunakan alat

sondir type Dutch Cone Penetration yang mempunyai konus seluas 10 cm2, sudut lancip kerucut 60o untuk mengukur perlawanan ujung, dan dilengkapi mantel

(sleave) yang berdiameter sama dengan konus dan luas selimut 100 cm2, untuk mengukur lekatan (friction) dari lapisan tanah. Alat ini digunakan dengan cara

ditekan ke dalam tanah terus menerus dengan kecepatan maksimum 1 cm/detik,

sementara itu besarnya perlawanan tanah terhadap kerucut penetrasi (qc) juga

terus diukur.

Dilihat dari kapasitasnya, alat sondir dapat dibedakan menjadi dua jenis,

yaitu sondir ringan (2 ton) dan sondir berat (10 ton). Sondir ringan digunakan

untuk mengukur tekanan konus sampai 150 kg/cm², atau kedalam maksimal 30 m,

dipakai untuk penyelidikan tanah yang terdiri dari lapisan lempung, lanau dan

(3)

kedalaman maksimal 50 m, dipakai untuk penyelidikan tanah di daerah yang

terdiri dari lempung padat, lanau padat dan pasir kasar.

Keuntungan utama dari penggunaan alat ini adalah tidak perlu diadakan

pemboran tanah untuk penyelidikan. Tetapi tidak seperti pada pengujian SPT,

dengan alat sondir sampel tanah tidak dapat diperoleh untuk penyelidikan

langsung ataupun untuk uji laboratorium. Tujuan dari pengujian sondir ini adalah

untuk mengetahui perlawanan penetrasi konus dan hambatan lekat tanah yang

merupakan indikator dari kekuatan tanahnya dan juga dapat menentukan

dalamnya berbagai lapisan tanah yang berbeda.

Dari alat penetrometer yang lazim dipakai, sebagian besar mempunyai

selubung geser (bikonus) yang dapat bergerak mengikuti kerucut penetrasi

tersebut. Jadi pembacaan harga perlawanan ujung konus dan harga hambatan

geser dari tanah dapat dibaca secara terpisah. Ada 2 tipe ujung konus pada sondir

mekanis yaitu pada (Gambar 2. 1) :

1. Konus biasa, yang diukur adalah perlawanan ujung konus dan biasanya

digunakan pada tanah yang berbutir kasar, dimana besar perlawanan

lekatnya kecil;

2. Bikonus, yang diukur adalah perlawanan ujung konus dan hambatan

lekatnya dan biasanya digunakan pada tanah yang berbutir halus.

Hasil penyelidikan dengan alat sondir ini pada umumnya digambarkan

dalam bentuk grafik yang menyatakan hubungan antara kedalaman setiap lapisan

tanah dengan besarnya nilai sondir yaitu perlawanan penetrasi konus atau

perlawanan tanah terhadap ujung konus yang dinyatakan dalam gaya per satuan

(4)

yang dinyatakan dalam gaya per satuan panjang. Dari hasil sondir diperoleh nilai

jumlah perlawanan (JP) dan nilai perlawanan konus (PK), sehingga hambatan

lekat (HL) dapat dihitung sebagai berikut :

1. Hambatan Lekat (HL)

B A x PK JP

HL ( ) ...(2.1)

2. Jumlah Hambatan Lekat (JHL)

n

i JHL

JHL

0 ... (2.2)

dimana :

JP = Jumlah perlawanan, perlawanan ujung konus + selimut (kg/cm²)

PK = Perlawanan penetrasi konus, qc (kg/cm²)

A = Interval pembacaan (setiap kedalaman 20 cm)

B = Faktor alat = luas konus/luas torak = 10 cm

I = Kedalaman lapisan tanah yang ditinjau (m)

(a). Konus (b). Bikonus

(5)

Data sondir tersebut digunakan untuk mengidentifikasikan dari profil

tanah terhadap kedalaman. Hasil akhir dari pengujian sondir ini dibuat dengan

menggambarkan variasi tahanan ujung (qc) dengan gesekan selimut (fs) terhadap

kedalamannya. Bila hasil sondir diperlukan untuk mendapatkan daya dukung

tiang, maka diperlukan harga kumulatif gesekan (jumlah hambatan lekat), yaitu

dengan menjumlahkan harga gesekan selimut terhadap kedalaman, sehingga pada

kedalaman yang ditinjau dapat diperoleh gesekan total yang dapat digunakan

untuk menghitung gesekan pada kulit tiang.

Besaran gesekan kumulatif (total friction) diadaptasikan dengan sebutan jumlah hambatan lekat (JHL). Bila hasil sondir digunakan untuk klasifikasi tanah,

maka cara pelaporan hasil sondir yang diperlukan adalah menggambarkan tahanan

ujung (qc), gesekan selimut (fs) dan ratio gesekan (fR) terhadap kedalaman tanah.

2.2.2. Standard Penetration Test (SPT)

Standard Penetration Test (SPT) sering digunakan untuk mendapatkan daya dukung tanah secara langsung di lokasi. Metode SPT merupakan percobaan

dinamis yang dilakukan dalam suatu lubang bor dengan memasukkan tabung

sampel yang berdiameter dalam 35 mm sedalam 305 mm dengan menggunakan

massa pendorong (palu) seberat 63, 5 kg yang jatuh bebas dari ketinggian 760

mm. Banyaknya pukulan palu tersebut untuk memasukkan tabung sampel sedalam

(6)

Kepadatan relatif SPT lapisan pasir.

N : 0 – 4 Sangat lepas.

N : 4 – 10 Lepas.

N : 10 – 30 Sedang.

N : 30 – 50 Padat.

N : > 50 Sangat padat.

Kepadatan relatif SPT lapisan lempung.

N : 0 – 2 Sangat lunak.

N : 2 – 4 Lunak.

N : 4 – 8 Sedang.

N : 8 – 15 Keras/ Kaku.

N : 15 - 30 Sangat keras.

N : > 30 Padat.

Tujuan dari percobaan SPT ini adalah untuk menentukan kepadatan relatif

lapisan tanah dari pengambilan contoh tanah dengan tabung sehingga diketahui

jenis tanah dan ketebalan tiap-tiap lapisan kedalaman tanah dan untuk

memperoleh data yang kualitatif pada perlawanan penetrasi tanah serta

menetapkan kepadatan dari tanah yang tidak berkohesi yang biasa sulit dia mbil

sampelnya. Percobaan SPT ini dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Siapkan peralatan SPT yang dipergunakan seperti : mesin bor, batang bor,

split spoon sampler, hammer, dan lain – lain;

2. Letakkan dengan baik penyanggah tempat bergantungnya beban

(7)

3. Lakukan pengeboran sampai kedalaman testing, lubang dibersihkan dari

kotoran hasil pengeboran dari tabung segera dipasangkan pada bagian

dasar lubang bor;

4. Berikan tanda pada batang peluncur setiap 15 cm, dengan total 45 cm;

5. Dengan pertolongan mesin bor, tumbuklah batang bor ini dengan pukulan

palu seberat 63,5 kg dan ketinggian jatuh 76 cm hingga kedalaman

tersebut, dicatat jumlah pukulan untuk memasukkan penetrasi setiap 15 cm

(N value);

Contoh : N1 = 10 pukulan/15 cm

N2 = 5 pukulan/15 cm

N3 = 8 pukulan/15 cm

Maka total jumlah pukulan adalah jumlah N2 dengan N3 adalah 5 + 8 = 13

pukulan = nilai N. N1 tidak diperhitungkan karena dianggap 15 cm

pukulan pertama merupakan sisa kotoran pengeboran yang tertinggal pada

dasar lubang bor, sehingga perlu dibersihkan untuk memperkecil efisiensi

gangguan;

6. Hasil pengambilan contoh tanah dari tabung tersebut dibawa ke

permukaan dan dibuka. Gambarkan contoh jenis - jenis tanah yang

meliputi komposisi, struktur, konsistensi, warna dan kemudian masukkan

ke dalam botol tanpa dipadatkan atau kedalaman plastik, lalu ke core box; 7. Gambarkan grafik hasil percobaan SPT;

(8)

2.3. Pondasi Tiang

Pondasi tiang adalah suatu konstruksi pondasi yang mampu menahan gaya

ort hogonal ke sumbu tiang dengan jalan menyerap lenturan. Pondasi tiang dibuat

menjadi satu kesatuan yang monolit dengan menyatukan pangkal tiang bor yang

terdapat dibawah konstruksi, dengan tumpuan pondasi (Nakazawa, 2000).

Pondasi tiang digunakan untuk mendukung bangunan bila lapisan tanah

kuat terletak sangat dalam. Pondasi jenis ini dapat juga digunakan untuk

mendukung bangunan yang menahan gaya angkat keatas, terutama pada

bangunan-bangunan tingkat yang tinggi yang dipengaruhi oleh gaya-gaya

penggulingan akibat angin. Tiang-tiang juga digunakan untuk mendukung

bangunan dermaga (Hardiyatmo, 2003).

2.4. Klasifikasi Pondasi Tiang

Berdasarkan metode instalasinya, pondasi tiang pada umumnya dapat

diklasifikasikan atas :

1). Tiang Pancang

Pondasi tiang pancang merupakan sebuah tiang yang di pancang

kedalam tanah sampai kedalaman yang cukup untuk menimbulkan tahanan

gesek pada selimutnya atau tahanan ujungnya. Pemancangan tiang dapat

dilakukan dengan memukul kepala tiang dengan palu atau getaran atau

(9)

2). Tiang Bor

Sebuah tiang bor dikonstruksikan dengan cara menggali sebuah lubang

bor yang kemudian diisi dengan material beton dengan memberikan

penulangan terlebih dahulu.

2.5. Penggolongan Pondasi Tiang

Pondasi tiang dapat dibagi menjadi 3 kategori sebagai berikut:

1. Tiang Perpindahan Besar (large displacement pile).

Tiang perpindahan besar (large displacement pile), yaitu tiang pejal atau berlubang dengan ujung tertutup yang diBorke dalam tanah sehingga

terjadi perpindahan volume tanah yang relatif besar. Termasuk dalam tiang

perpindahan besar adalah tiang kayu, tiang beton pejal, tiang beton

prategang (pejal atau berlubang), tiang baja bulat (tertutup pada ujungnya).

2. Tiang Perpindahan Kecil (small displacement pile)

Tiang perpindahan kecil (small displacement pile), adalah sama seperti tiang kategori pertama hanya volume tanah yang dipindahkan saat

pemancangan relatif kecil, contohnya: tiang beton berlubang dengan ujung

terbuka, tiang beton prategang berlubang dengan ujung terbuka, tiang baja

H, tiang baja bulat ujung terbuka, tiang ulir.

3. Tiang Tanpa Perpindahan (non displacement pile)

Tiang tanpa perpindahan (non displacement pile), terdiri dari tiang yang dipasang di dalam tanah dengan cara menggali atau mengebor tanah.

Termasuk dalam tiang tanpa perpindahan adalah bore pile, yaitu tiang

(10)

tanah (pipa baja diletakkan di dalam lubang dan dicor beton (Hardiyatmo,

Gambar 2.2 Jenis-jenis Pondasi tiang berdasarkan teknik pemasangannya

(Nakazawa, 2000).

2.6. Pondasi Tiang Bor

Pondasi tiang bor (bored pile) adalah pondasi tiang yang pemasangannya dilakukan dengan mengebor tanah pada awal pengerjaannya. Tiang bor dipasang

ke dalam tanah dengan cara mengebor tanah terlebih dahulu, baru kemudian diisi

tulangan dan dicor beton. Tiang ini biasanya dipakai pada tanah yang stabil dan

kaku, sehingga memungkinkan untuk membentuk lubang yang stabil dengan alat

bor. Jika tanah mengandung air, pipa besi dibutuhkan untuk menahan dinding

(11)

keras atau batuan lunak, dasar tiang dapat dibesarkan untuk menambah tahanan

dukung ujung tiang.

Ada beberapa jenis pondasi tiang bor:

1. Tiang bor lurus untuk tanah keras

2. Tiang bor yang ujung nya diperbesar berbentuk bel

3. Tiang bor yang ujungnya diperbesar berbentuk trapesium

4. Tiang bor lurus untuk tanah yang berbatu-batuan ( Braja M. Das).

Gambar 2.3 Jenis Pondasi Tiang bor

Fungsi pondasi tiang bor pada umumnya dipengaruhi oleh besar atau bobot

dan fungsi bangunan yang hendak didukung dan jenis tanah sebagai pendukung

konstruksi seperti :

1. Transfer beban dari konstruksi bangunan atas (upper structure) ke dalam tanah melalui selimut tiang dan perlawanan ujung tiang.

2. Menahan daya desak ke atas (up live) maupun guling yang terjadi akibat kombinasi beban struktur yang terjadi.

(12)

4. Mengontrol penurunan yang terjadi pada bangunan terutama pada

bangunan yang berada pada tanah yang mempunyai penurunan yang

besar.

. Pondasi tiang bor mempunyai karakteristik khusus karena cara

pelaksanaannya yang dapat mengakibatkan perbedaan perilakunya di bawah

pembebanan dibandingkan pondasi tiang pancang.

Hal-hal yang mengakibatkan perbedaan tersebut diantaranya adalah :

1. Tiang bor dilaksanakan dengan menggali lubang bor dan mengisinya

dengan meterial beton, sedangkan pondasi tiang bor dimasukkan ke tanah

dengan mendesak tanah disekitarnya (displacement pile).

2. Beton dicor dalam keadaan basah dan mengalami masa curing di bawah permukaan tanah.

3. Kadang-kadang digunakan casing untuk menjaga stabilitas dinding lubang bor dan dapat pulacasing tersebut tidak tercabut karena kesulitan di lapangan.

4. Kadang-kadang digunakan slurry untuk menjaga stabilitas lubang bor yang dapat membentuk lapisan lumpur pada dinding galian serta

mempengaruhi mekanisme gesekan tiang dengan tanah.

5. Cara penggalian lubang bor disesuaikan dengan kondisi tanah.

Keuntungan menggunakan tiang bor, antara lain:

6. Tidak ada resiko kenaikan muka air tanah.

7. Kedalaman tiang dapat divariasikan.

(13)

9. Tiang dapat dipasang sampai kedalaman yang dalam, dengan diameter

besar, dan dapat dilakukan pembesaran ujung bawahnya jika tanah dasar

berupa lempung atau batu lunak.

10. Penulangannya tidak dipengaruhi oleh tegangan pada waktu

pengangkutan dan pemancangan.

Kerugian:

5. Pengeboran dapat mengakibatkan gangguan kepadatan, bila tanah berupa

pasir atau mengakibatkan yang berkerikil.

6. Pengecoran beton sulit bila dipengaruhi air tanah karena mutu beton tidak

dapat dikontrol dengan baik.

7. Air yang mengalir ke dalam lubang bor dapat mengakibatkan gangguan

tanah, sehingga mengurangi kapasitas dukung tanah terhadap tiang.

8. Pembesaran ujung bawah tiang dapat dilakukan bila tanah berupa pasir

(Hardiyatmo, 2002).

2.7. Metode Pengeboran

Pada saat ini ada tiga metode dasar pengeboran (variable-variable tempat proyek

mungkin juga memerlukan perpaduan beberapa Metode), yaitu:

1. Dry Method

Pada metode ini urutan pelaksanaan pekerjaan adalah sebagai berikut:

 Pertama-tama dibuat lubang dengan cara mengebor tanah dengan alat bor

sedalam yang diinginkan.

 Dasar dari lubang diisi beton secukupnya untuk dudukan besi penulangan.

Pengecoran dapat dilakukan dengan cara jatuh bebas dan ketinggian yang

(14)

 Penulangan besi diturunkan ke dalam lubang.

 Seluruh lubang diisi dengan beton , sampai dengan elevasi yang

ditetapkan.

Cara ini dilakukan pada kondisi tanah yang cohesive, dan memiliki muka air tanah (MAT) di bawah dasar lubang atau tanah memliki permeabiliti yang rendah,

sehingga air tanah tidak menyulitkan pelaksanaan. Oleh karena itu disebut dengan

metode kering.

Gambar 2.4 Tiang bor dengan Dry Metod 2. Casing Method

Metode ini digunakan, bila kondisi tanah mudah terjadi deformasi ke arah

lubang galian, sehingga dapat menutup sebagian dari lubang. Cara ini juga

digunakan bila menginginkan untuk menahan aliran air tanah ke dalam lubang,

tetapi ujung casing harus mencapai tanah yang kedap (impermeable).

Untuk memelihara kondisi lubang, maka ketika memasukkan casing

disertai dengan pengisian lumpur (slurry) ke dalam lubang bor. Setelah casing duduk pada tempatnya, maka slurry dipompa ke luar dari lubang bor. Tergantung

(15)

dari diameter dalam casing, kurang –lebih antara 25 sampai 50 mm. Ada dua

alternatif tentang casing yaitu: casing ditinggal dan casing dicabut kembali selama

proses pengecoran beton.

Bila dipilih alternatif casing ditinggal, maka diperlukan pekerjaan grouting

yang dimasukkan dengan tekanan untuk dapat mengganti slurry yang ada di antara

casing bagian luar dengan tanah.

Bila dipilih alternatif casing dimabil lagi (dicabut), maka pada saat

menarik casing ke luar, harus dilakukan dengan hati-hati, dimana saat penarikan

harus dilakukan harus keadaan beton masih cair, dan beton betul-betul dapat

mendesak slurry ke luar.

Gambar 2.5 Tiang Bor dengan Casing Method

3. Slurry Method

Metode ini dapat diaplikasikan pada semua situasi penggunaan casing.

Slurry di sini juga difungsikan untuk menahan air tanah yang dapat masuk ke

dalam lubang. Perlu dicatat dalam metode ini, bahwa kecukupan slurry yang

ditandai dengan elevasi slurry (harus ditambah bila kurang), atau dengan

(16)

runtuhnya tanah ke dalam lubang bor. Urutan pelaksanaan metode ini dapat dilihat

pada gambar 2.3

Material bentonite umum digunakan dengan cara dicampur dengan air

sehingga merupakan cairan lumpur (slurry bentonite). Diperlukan percobaan pencampuran bentonite untuk memperoleh jumlah persentase yan optimum.

Biasanya antara 4 sampai dengan 6 persen dari berat sudah mencukupi. Bentonite

dan air harus dicampur dengan benar agar tidak terlalu kental.

Secara umum denganmetode slurry ini dharapkan agar slurry tidak terlalu

lama dalam lubang., karena akan dapat membentuk dinding yang tipis yang sulit

untuk dihilangkan/diganti dengan beton selama pengecoran beton.

Selama proses pengecoran, pipa tremi harus terbenam dalam beton,

sehingga harus diperhatikan antara kecepatan beton dengan kecepatan menarik

pipa tremi.

Slurry Disposal

Pada saat pengecoran beton ke dalam lubang bor, maka beton akan

mendesak ke luar bentonite slurry. Sehingga bentonite slurry akan meluap ke luar

lubang. Oleh karena itu, agar bentonite slurry tidak terbuang percuma dan tidak

mengotori lapangan kerja, maka buangan bentonite slurry ini harus dapat

disalurkan yang dapat menerima luapan bentonite slurry tersebut dan

mengalirkannya ke tempat penampunagan. Sebagai penampung sementara

(17)

Gambar 2.6 Tiang Bor dengan Slurry Method

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam metode ini adalah:

a) Jangan membiarkan adonan terlalu lama dalam sumuran sehingga

terbentuk lapisan penyaring yang terlalu tebal pada dinding sumuran

karena lapisan yang tebal sukar untuk digeserkan oleh beton selama

pengisian sumuran;

b) Memompa adonan keluar dan partikel-partikel yang lebih besar dalam

suspensi dipisahkan dengan memakai adonan „conditioned‟ yang

dikembalikan lagi kedalam sumuran sebelum beton;

c) Hati-hati sewaktu menggali lempung melalui adonan, sehingga penarikan

kepingan yang besar tidak menyebabkan tekanan atau pengisapan pori

negatif yang bisa meruntuhkan sebagian dari sumuran.

Setelah sumuran selesai digali, tulangan kerangka dimasukkan ke dalam

sumuran dan corong pipa-cor (treme) dipasang (urutan ini perlu diperhatikan sehingga corong pipa-cor tidak perlu ditarik sewaktu akan memasang kerangka

(18)

sehingga corong pipa-cor selalu terendam dalam beton sehingga hanya ada sedikit

daerah permukaan yang terbuka dan yang terkontaminasi oleh adonan (Asiyanto,

2009).

2.8. Metode Pelaksanaan Tiang Bor

Aspek teknologi sangat berperan dalam suatu proyek konstruksi.

Umumnya, aplikasi teknologi ini banyak diterapkan dalam metode pelaksanaan

pekerjaan konstruksi. Penggunaan metode yang tepat, praktis, cepat dan aman,

sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan pada suatu proyek konstruksi.

Sehingga target waktu, biaya dan mutu sebagaimana ditetapkan dapat tercapai.

Prosedur pelaksanaan pekerjaan tiang bor

1. Pekerjaan Persiapan :

 Persiapan lahan untuk merakit dan mendirikan mesin bor pada titik yang

akan di bor.

 Persiapan titik-titik yang akan di bor

 Pengadaan material

(19)

Gambar 2.7 Persiapan titik yang akan di bor

3. Pengeboran

 Pengeboran dengan sistem slurry method: tanah dikikis dengan

menggunakan mata bor crossbit yang mempunyai kecepatan 375 rpm dan

tekanan ± 200 kg. Pengikisan tanah dibantu dengan tiupan air lewat lubang

stang bor yang dihasilkan pompa sentrifugal 3‟‟. Hal ini menyebabkan

tanah yang terkikis terdorong keluar dari lubang bor.

 Pengeboran dengan sisten dry method : tanah di bor dengan menggunakan

mata bor spiral dan diangkat setiap interval kedalaman 0,5 meter. Hal ini

dilakukan berulang-ulang sampai kedalaman yang ditentukan

 Setelah mencapai kedalaman rencana, pengeboran dihentikan, sementara

mata bor dibiarkan berputar tetapi beban penekanan dihentikan dan air

sirkulasi tetap berlangsung sampai cutting atau serpihan tanah betul-betul

(20)

 Selama pembersihan ini berlangsung, baja tulangan dan pipa tremi sudah

dipersiapkan di dekat lubang bor.

 Setelah cukup bersih, stang bor diangkat dari lubang bor. Dengan

bersihnya lubang bor diharapkan hasil pengecoran akan baik hasilnya.

Gambar 2.8 Pekerjaan pengeboran tanah

3. Pemasangan kerangka baja tulangan dan pipa tremi

 Kerangka baja tulangan yang telah dirakit diangkat dengan bantuan diesel

winch dalam posisi tegak lurus terhadap lubang bor dan diturunkan dengan

hati-hati agar tidak terjadi banyak singgungan dengan lubang bor.

 Baja tulangan yang telah dimasukan dalam lubang bor ditahan dengan

potongan tulangan melintang lubang bor. Apabila kebutuhan baja tulangan

lebih dari 12 meter bisa dilakukan penyambungan dengan diikat kawat

beton dengan panjang overlap 30 - 40 D atau dengan cara las.

 Setelah rangka baja tulangan terpasang, pipa tremi disambung dan

(21)

 Apabila pada waktu pemasangan baja tulangan terjadi singgungan dan

terjadi keruntuhan di dalam lubang bor, maka diperlukan pembersihan

ulang dengan memasang head kombinasi diameter 6″ ke diameter 2″.

Dengan memompakan air kedalam stang bor dan pipa tremi, maka

runtuhan-runtuhan dan tanah yang menempel pada besi tulangan dapat

dibersihkan kembali.

 Pada saat pembersihan dilakukan, pengadukan beton bisa mulai dilakukan

.

Gambar 2.9. Pemasangan kerangka besi (tulangan)

4. Pekerjaan pengecoran;

Setelah pembersihan lubang bagian akhir selesai, head kombinasi dibuka

dan diganti corong cor yang disambung dengan pipa tremi.

Pengecoran awal :

Pengecoran adalah bagian akhir dari pekerjaan bored pile dimana langkah

pengecoran awal adalah bagian terpenting dari pekerjaan ini. Prosedur pengecoran

(22)

1. Untuk memisahkan adukan beton dari lumpur bor pada pengecoran awal,

digunakan kantong plastik yang telah diisi adukan beton dan diikat dengan

kawat beton yang digantung di bagian dalam lubang tremi.

2. Setelah tenaga cor siap, beton ditampung di dalam corong cor dan ditahan

oleh bola-bola beton pada kantong plastik. Setelah cukup penuh, bola

kantong plastik dilepas sehingga terdorong beton yang ada di dalam

lubang tremi. Selanjutnya penuangan beton dilakukan dengan cepat

sehingga cukup untuk mendorong air lumpur bor yang ada di dalam

lubang tremi. Slump adukan beton untuk bored pile tidak boleh terlalu

rendah (minimal 16 cm) sehingga mudah mengalir dan mendorong lumpur

yang ada di dalam lubang bor.

3. Pengecoran selanjutnya dilakukan secara kontinyu dan tidak terputus lebih

dari 10 menit. Dengan sistem tremi ini pengecoran dimulai dari dasar

lubang dengan mendorong air / lumpur dari bawah keluar lubang.

4. Setelah pipa tremi penuh dan ujung pipa tremie tertanam beton biasanya

beton tidak dapat mengalir karena ada tekanan dari bawah. Untuk

memperlancar adukan beton didalam pipa tremi, dilakukan hentakan

hentakan pada pipa tremi. Pipa tremi harus selalu terbenam dalam adukan

beton dan pengisian di dalam corong harus dijaga terus menerus agar

corong tidak kosong.

5. Pipa tremi dilepas setiap 2 meter dan dilakukan setelah pipa tremi naik ke

permukaan lubang lebih dari 2 meter.

6. Pengecoran dihentikan setelah adukan beton yang naik ke permukaan telah

(23)

(karena perhitungan adanya galian tanah), maka tinggi pengecoran

minimal harus 0,5 meter di atas level rencana bagian atas bored pile

(sampai beton pada rencana bagian atas tidak tercampur Lumpur lagi).

7. Pembersihan dan pemasangan kembali.

Setelah pekerjaan pengecoran selesai, semua peralatan dibersihkan dari

sisa beton dan lumpur dan disiapkan kembali untuk dipakai pada titik bor

berikutnya.

Gambar 2.10 Proses pengecoran

Dengan kesimpulan dari metode pelaksanaan tiang bor dapat dilihat dari

gambar berikut:

(24)

2.9Kapasitas Daya dukung

2.9.1. Kapasitas daya dukung tiang dari data sondir

Diantara perbedaaan tes dilapangan, sondir atau Cone Penetration Test

(CPT) seringkali sangat dipertimbangkan berperanan dari geoteknik. CPT atau

sondir ini tes yang sangat cepat, sederhana, ekonomis dan tes tersebut dapat

dipercaya dilapangan dengan pengukuran terus-menerus dari permukaan

tanah-tanah dasar. CPT atau sondir ini dapat juga mengklasifikasi lapisan tanah-tanah dan

dapat memperkirakan kekuatan dan karakteristik dari tanah. Didalam perencanaan

pondasi tiang bor (pile), data tanah sangat diperlukan dalam merencanakan kapasitas daya dukung (bearing capacity) dan tiang bor sebelum pembangunan dimulai, guna menentukan kapasitas daya dukung ultimit dari tiang bor. Kapasitas

daya dukung ultimit ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :

Qu = Qb + Qs = qbAb + f.As ...………(2.3)

Dimana :

Qu = Kapasitas daya dukung aksial ultimit tiang .

Qb = Kapasitas tahanan di ujung tiang.

Qs = Kapasitas tahanan kulit.

qb = Kapasitas daya dukung di ujung tiang persatuan luas.

Ab = Luas di ujung tiang.

f = Satuan tahanan kulit persatuan luas.

As = Luas kulit tiang .

Untuk menghitung daya dukung tiang berdasarkan data hasil pengujian

(25)

Daya dukung ultimit pondasi tiang dinyatakan dengan rumus :

Qult = (qc x Ap) + (JHL x K11) ...……….(2.4)

Dimana :

Qult = Kapasitas daya dukung tiang bor tunggal.

qc = Tahanan ujung sondir.

Ap = Luas penampang tiang.

JHL = Jumlah hambatan lekat.

K11 = Keliling tiang.

Daya dukung ijin pondasi dinyatakan dengan rumus :

Qijin=

Qijin = Kapasitas daya dukung ijin pondasi.

qc = Tahanan ujung sondir.

Ap = Luas penampang tiang.

JHL = Jumlah hambatan lekat.

K11 = Keliling tiang.

2.9.2. Kapasitas daya dukung tiang dari data SPT

Harga N yang diperoleh dari SPT tersebut diperlukan untuk

memperhitungkan daya dukung tanah. Daya dukung tanah tergantung pada kuat

geser tanah. Hipotesis pertama mengenai kuat geser tanah diuraikan oleh

Coulomb yang dinyatakan dengan:

(26)

dimana :

τ = Kekuatan geser tanah (kg/cm²)

c = Kohesi tanah (kg/cm²)

σ = Tegangan normal yang terjadi pada tanah (kg/cm²)

= Sudut geser tanah (º)

Table II.1 Hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk penentuan harga N

(Sosrodarsono, 1983)

Klasifikasi Hal-hal yang perlu diperhatikan dan

dipertimbangkan

Hal yang perlu dipertimbangkan

secara menyeluruh dari hasil-hasil

survei sebelumnya

Unsur tanah, variasi daya dukung vertikal

(kedalaman permukaan dan susunannya),

adanya lapisan lunak (ketebalan konsolidasi

atau penurunan), kondisi drainase dan

lain-lain

Hal-hal yang perlu diperhatikan

(27)

Untuk mendapatkan sudut geser tanah dari tanah tidak kohesif (pasiran)

biasanya dapat dipergunakan rumus Dunham (1962) sebagai berikut :

1. Tanah berpasir berbentuk bulat dengan gradasi seragam, atau butiran pasir

bersegi segi dengan gradasi tidak seragam, mempunyai sudut geser sebesar :

15

12N ... (2.7)

15

12N ... (2.8)

2. Butiran pasir bersegi dengan gradasi seragam, maka sudut gesernya adalah :

27 3 .

0 N ... (2.9)

Angka penetrasi sangat berguna sebagai pedoman dalam eksplorasi tanah

dan untuk memperkirakan kondisi lapisan tanah. Hubungan antara angka penetrasi

standart dengan sudut geser tanah dan kepadatan relatif untuk tanah berpasir,

secara perkiraan dapat dilihat pada tabel II.2 berikut :

Tabel II.2 Hubungan antara angka penetrasi standard dengan sudut geser dalam

dan kepadatan relatif pada tanah pasir (Das, 1985)

Angka Penetrasi Standart, N Kepadatan Relatif

(28)

Hubungan antara harga N dengan berat isi yang sebenarnya hampir tidak

mempunyai arti karena hanya mempunyai partikel kasar (tabel II.3). Harga berat

isi yang dimaksud sangat tergantung pada kadar air.

Table II.3 Hubungan antara N dengan Berat Isi Tanah (Sosrodarsono, 1983)

Tanah tidak

kohesif

Harga N <10 10 - 30 30 - 50 >50

Berat isi

γ kN/m3 12 – 16 14 - 18 16 - 20 18 – 23

Tanah

kohesif

Harga N <4 4 – 15 16 - 25 >25

Berat isi

γ kN/m3 14 – 18 16 - 18 16 - 18 >20

Pada tanah tidak kohesif daya dukung sebanding dengan berat isi tanah,

hal ini berarti bahwa tinggi muka air tanah banyak mempengaruhi daya dukung

pasir. Tanah dibawah air mempunyai berat isi efektif yang kira-kira setengah berat

isi tanah diatas muka air..

1. Daya dukung ujung pondasi bore pile (end bearing), (Reese & Wright,1977). Qp = Ap . qp ... (2.10)

dimana :

Ap = Luas penampang bore pile (m²)

qp = Tahanan ujung per satuan luas (ton/m).

(29)

Untuk tanah kohesif :

Qp = Ap . qp

qp = 9 cu ... (2.11)

cu = (N-SPT x 2/3 x 10) ...(2.112)

Untuk tanah non kohesif :

Reese & Wright (1977) mengusulkan korelasi antara qp dan NSPT seperti terlihat

pada Gambar 2.12 berikut ini

Gambar 2.12 Daya dukung ujung batas bore pile pada tanah pasiran

(Reese & Wright, 1977)

untuk N 60 maka qp = 7 N (t/m²) < 400 (t/m²)... (2.13)

untuk N > 60 maka qp = 400 (t/m²)………...………... (2.14)

2. Daya dukung selimut bore pile (skin friction), (Reese & Wright, 1977). Qs = f . Li . p ... (2.15)

dimana :

f = Tahanan satuan skin friction ( ton/m²).

Li = Panjang lapisan tanah (m).

(30)

Qs = Daya dukung selimut tiang (ton).

Pada tanah kohesif :

f = α . cu... (2.16)

dimana :

α = Faktor adhesi

( menurut Reese dan Wright koefisien α untuk tiang bor = 0,55)

cu = Kohesi tanah (ton/m²).

Pada tanah non kohesif :

Qs = qs . Li . p... (2.17)

Untuk N < 53, qs N 0,32N

34 (ton/ m²)... (2.18)

Untuk 53 < N ≤ 100 maka f diperoleh dari korelasi langsung dengan NSPT

(Reese & Wright).

Gambar 2.13 Daya dukung selimut bore pile pada tanah pasiran

(31)

2.9.3. Berdasarkan data Pile Driving Analizer (PDA)

Uji PDA adalah uji beban secara dinamik yang dilakukan untuk

mendapatkan daya dukung aksial tiang daya dukung ujung (end bearing) maupun daya dukung friksi (friction bearing). Berdasarkan pengukuran strain dan gaya. Percepatan dapat diperoleh daya dukung

Jumlah pengujian PDA test biasanya minimal 2atau 2% dari jumlah tiang

yang terpasang. Jenis Pondasi tiang yang dapat diuji dengan PDA tidak terbatas

pada tiang Borsaja. „ PDA‟ juga dapat digunakan untuk tiang yang dicor di tempat

seperti tiang bor tiang franki dan jenis Pondasi tiang lainnya. Tujuan pengujian

tiang dengan Pile Driving Analyzer ( PDA ) adalah untuk mendapatkan data

tentang :

A. Daya Dukung Aksial Tiang

Penentuan daya dukung aksial tiang didasarkan pada karakteristik dari

pantulan gelombang yang diberikan oleh reaksi tanah ( lengketan dan tahanan

ujung) . Korelasi yang baik antara daya dukung tiang yang diberikan dari hasil

PDA dengan cara statis yang konvensional telah diakui yang membawa pada

pengakuan PDA sebagai metode yang sah dalam ASTM D-4945-1996. Meski

demikian harus dicatat korelasi yang ditujukan dalam grafik didasarkan pada hasil

pengujian jika daya dukung batas ( ultimate) dicapai baik dengan PDA Test

maupun dengan pengujian statis yang konvensional.

B. Keutuhan Tiang

Kerusakan pada Pondasi tiang dapat terjadi karena beberapa hal antara lain

(32)

pengecilan penampang dan longsornya tanah adalah kerusakan yang paling umum

dijumpai.

C. Efisiensi Palu Bor

Pile Driving Analyzer ( PDA ) mengukur energi pemancangan actual yang

ditranfer selama pengujian. Karena berat palu Bordan tinggi jatuh palu Bordapat

diketahui maka efisiensi enerji yang ditransfer dapat dihitung.

Peralatan untuk pengujian PDA terdiri dari : Pile Driving Analyzer ( PDA ) Dua (

2) strain transducer Dua ( 2) accelerometer dan Kabel Penghubung. Peralatan

dapat dimasukkan dalam kotak perjalanan yang cukup kuat. Setiap set PDA dan

perlengkapannya membutuhkan satu atau dua kotak yaitu berukuran sekitar 600

mm x 500 mm x 400 mm: dengan berat sekitar 30 kg. Pengujian dinamis tiang

didasarkan pada analisis gelombang satu dimensi yang terjadi ketika tiang dipukul

oleh palu. Regangan dan percepatan selama pemancangan diukur menggunakan

strain transducer dan accelerometer. Dua buah strain transducer dan dua buah

accelerometer dipasang pada bagian atas dari tiang yang diuji ( kira-kira 1 5- x

diameter dari kepala tiang) . Pemasangan kedua instrument pada setiap

pengukuran dimaksudkan untuk menjamin hasil rekaman yang baik dan

pengukuran tambahan jika salah satu instrument tidak bekerja dengan baik.

Pengukuran direkam oleh PDA dan dianalisis dengan „ Case Method‟ yang sudah

umum dikenal berdasarkan teori gelombang satu dimensi.

Pemasangan Instrumen Pengujian dinamis dilaksanakan untuk

memperkirakan daya dukung aksial tiang. Karena itu pemasangan instrument

dilakukan sedemikian rupa sehingga pengaruh lentur selama pengujian dapat

(33)

transducer harus dipasang pada garis netral dan accelerometer pada lokasi

berlawanan secara diametral Posisi dari palu Borharus tegak lurus terhadap garis

strain transducer.

Persiapan Pengujian PDA TEST Persiapan pengujian terdiri dari :

Penggalian tanah permukaan sekeliling kepala tiang apabila kepala tiang sama

rata permukaan tanah. Pengeboran lubang kecil pada tiang untuk pemasangan

strain transducer dan accelerometer. Pemasangan instrument.

Informasi yang diperlukan dalam PDA Test : Gambar yang menunjukan

lokasi dan identifikasi tiang Tanggal pemancangan Panjang tiang dan luas

penampang tiang dan Panjang tiang tertanam Pedoman Pengujian PDA Test

dilaksanakan berdasarkan prosedur yang tercantum dalam ASTMD-4945-1996.

Dalam melaksanakan pengujian PDA Test maka harus mempersiapkan peralatan

sebagai berikut:

 Peralatan pemancangan dengan energi pemancangan yang mencukupi

sesuai dengan besarnya kapasitas aksial tiang yang ingin dicapai.

 Accelerometer dan tranducer yang digunakan PDA Test harus sudah

dikalibrasi oleh lembaga yang diakui, hal ini bisa dibuktikan dengan

menunjukkan surat kalibrasi.

 Jika tidak menggunakan casing permanen maka bagian atas tiang harus

mencapai 2 kali diameter tiang di atas permukaan tanah. Daerah ini

disebut dengan “test area”. Sebelum peralatan dipasang dan pengujian

dilakukan engineer haru memeriksa “test area”.

 Daerah sekitar tiang yang akan diuji harus dibersihkan sehingga memberi

(34)

 Untuk mendapatkan permukaan tiang bor yang rata, solid maka beton

harus di level dengan atau diatas casing.

 Berat hammer minimal 1-2% dari kapasitas tiang, atau jika ditentukan oleh

engineer. Bentuk hammer harus bentuk yang umum dipakai seperti bujur

sangkar, hexagonal, dan lingkaran. Luas impak (impccing surface)berkisar antar 70% sampai 139% dari luas penampang tiang.

 Tinggih jatuh hammer antara 1.0-2.0 meter tergantung pada arahan

engineer.

 Pada kepala tiang digunakan pile cushion dari plywood dengan ketebalan

2 sampai 6 inchi (50 mm sampai 150 mm).

 Alat-alat yang dipersiapkan

 Pile Driving Analyzer (PDA).

 Dua calibrated strain transducers.

 Dua calibrated accelerometer.

 Sebelum pengujian dilakukan maka kontraktor harus mempersiapkan

data-data seperti hasil boring tanah, mutu beton, data-data hammer. Engineer harus

melakukan analisis persamaan gelombang untuk menentukan peralatan

pemancangan yang dibutuhkan. Sehingga berat ram yang digunakan tidak

terlalu kecil atau terlalu besar.

Prosedur pelaksanaan:

 Pengujian harus dilakukan sesuai dengan prosedur pengujian standard.

 Jika tidak diperlukan casing maka bagian atas tiang harus 2 kali diameter

di atas permukaan tanah. Permukaan penampang tiang harus dibuat level

(35)

Gambar 2.14 Perataan permukaan tiang bor

 Jika menggunakan casing maka sebelum pengujian di buat lubang dengan

ukuran 150 mm x 150 mm secara diametral berlawanan satu dengan yang

lain. Permukaan beton pada bagian lubang tersebut harus rata sehingga

sensor yang akan dipasang dapat dipasang dengan baik. Sensor harus

dipasang ke baja jika persentase impedansi baja cukup tinggi dan jika

casing permanen cukup panjang di bawah sensor.

 Jika tidak menggunakan casing maka permukaan pondasi bor harus

diratakan dengan grenda sehingga sensor dapat dipasang dengan baik.

 Sensor dipasang pada titik yang ditentukan oleh engineer. Sensor harus

terpasang dengan baik sehingga tidak terjadi slip ketika pengujian

(36)

Gambar 2.15 Pemasangan kabel transducers dan accelerometer

 Minimal 2(dua) pemukulan dilakukan kepada kepala tiang. Pukulan

pertama dilakukan dengan tinggi minimal sehingga engineer dapat

mengevaluasi peralatan pemancangan. Sistem pemancangan dan tegangan

pada pondasi. Pukulan selanjutnya dilakukan dengan tinggih jatuh yang

lebih besar dan dihentikan ketika tegangan melebihi atau ketika shaft

permanent setelah mencapai 2,5 mm atau 1.0 inchi.

(37)

 Segera setelah pengujian selesai maka harus segera mengembalikan

kondisi tiang bor ke kondisi awal.

2.10. Kapasitas Kelompok dan Effisiensi Tiang

Pada keadaan sebenarnya jarang sekali didapatkan tiang Boryang berdiri

sendiri (Single Pile), akan tetapi kita sering mendapatkan pondasi tiang Bordalam bentuk kelompok (Pile Group)

Untuk mempersatukan tiang-tiang tersebut dalam satu kelompok tiang

biasanya di atas tiang tersebut diberi poer (footing). Dalam perhitungan poer dianggap/dibuat kaku sempurna, sehingga :

1. Bila beban-beban yang bekerja pada kelompok tiang tersebut menimbulkan

penurunan, maka setelah penurunan bidang poer tetap merupakan bidang

datar.

2. Gaya yang bekerja pada tiang berbanding lurus dengan penurunan tiang-tiang.

2.10.1 Jarak antar tiang dalam kelompok

3 Tiang 4 Tiang 5 Tiang 6 Tiang

7 Tiang 8 Tiang 9 Tiang

10 Tiang 11 Tiang 12 Tiang

(38)

Beberapa persamaan effisiensi tiang yang diusulkan untuk menghitung

kapasitas kelompok tiang, namun semuanya hanya bersifat pendekatan.

Persamaan-persamaan yang diusulkan didasarkan pada susunan tiang, dengan

mengabaikan panjang tiang, variasi bentuk tiang yang meruncing,variasi sifat

tanah dengan kedalaman dan pengaruh muka air tanah. Salah satu dari persamaan

effisiensi tiang tersebut, yang digunakan adalah :Converse-Labare Formula,

sebagia berikut:

(39)

Metode Los Angeles Group

s : Jarak pusat ke pusat tiang (lihat gambar)

2.10.2 Kapasitas Kelompok Tiang

Qp= Daya dukung ujung tiang (t)

Qs = Daya dukung selimut tiang (t)

2.10.3 Faktor aman tiang bor

Kapasitas ijin tiang bor, diperoleh dari jumlah tahanan ujung dan tahan

gesek dinding yang dibagi dengan faktor aman tertentu

Untuk dasar tiang yang dibesarkan dengan D<2 m

= ...(2.22)

Untuk dasar tiang tanpa pembesaran dibagian bawah

(40)

2.11 Perhitungan pembagian tekanan pada tiang bor kelompok 2.11.1 Kelompok tiang yang menerima beban normal sentris

Beban yang bekerja pada kelompok tiang bor dinamakan bekerja secara

sentris apabila titik rangkap resultan beban-beban yang bekerja berimpit dengan

titik berat kelompok tiang tersebut. Dalam hal ini beban yang diterima oleh

tiap-tiap tiang adalah

Gambar 2.19 Beban normal sentris pada kelompok tiang

N =

n V

...………(2.24)

dimana :

N = Beban yang diterima oleh tiap-tiap tiang bor.

V = Resultant gaya-gaya normal yang bekerja secara sentris.

n = banyaknya tiang bor.

2.11.2Kelompok tiang yang menerima beban normal eksentris

(41)

Reaksi total atau beban aksial pada masing-masing tiang adalah jumlah

dari reaksi akibat beban-beban V dan My, yaitu :

Qi =

V = Jumlah beban vertikal yang bekerja pada pusat kelompok tiang.

xi = Absis atau jarak tiang ke pusat berat kelompok tiang ke tiang nomor-i.

My = Momen terhadap sumbu y.

∑x2

= Jumlah kuadrat jarak tiang-tiang ke pusat berat kelompok tiang.

2.11.3 Kelompok tiang yang menerima beban normal sentris dan momen yang bekerja pada dua arah

Kelompok tiang yang bekerja dua arah (x dan y), dipengaruhi oleh beban

vertikal dan momen (x dan y) yang akan mempengaruhi terhadap kapasitas daya

dukung tiang .

(42)

Untuk menghitung tekanan aksial pada masing-masing tiang adalah

V = Jumlah beban vertikal yang bekerja pada pusat kelompok tiang.

Mx = Momen yang bekerja pada bidang yang tegak lurus sumbu x.

My = Momen yang bekerja pada bidang yang tegak lurus sumbu y.

n = Banyaknya tiang bordalam kelompok tiang bor(pile group).

xi,yi = Absis atau jarak tiang ke pusat berat kelompok tiang ke tiang

nomor-i.

∑x2

= Jumlah kuadrat absis-absis tiang bor.

∑y2

= Jumlah kuadrat ordinat-ordinat tiang bor.

2.12. Gaya Lateral Ijin

2.12.1 Penentuan Kriteria Tiang Pendek dan Tiang Panjang

Untuk menghitung besarnya daya dukung akibat gaya lateral, harus ditentukan terlebih

dahulu tiang bor yang direncanakan termasuk tiang panjang atau tiang pendek. Dengan

ketentuan :

Pada tanah lempung teguh yang over consolidated, modulus subgrade tanah (ks)

umumnya diasumsi konstan terhadap kedalaman tanah. Faktor kekakuan R untuk

menentukan tiang pendek atau panjang

.

4 I E

(43)

di mana:

Ep = modulus elastisitas tiang (ton/m2)

Ip = momen inersia (m4)

ks = modulus subgrade tanah dalam arah horisontal (ton/m3)

B = diameter atau sisi tiang (m)

Sedangkan pada tanah lempung yang terkonsolidasi normal dan tanah berbutir

kasar (tanah granular), nilai modulus subgrade umumnya meningkat terhadap

kedalaman, sehingga digunakan kriteria lain, yaitu

dimana:

E= modulus tiang

I= momen inersia tiang

nh = konstanta modulus dari reaksi subgrade horizontal (kN/m3)

Tabel II.4 Kriteria tiang pendek atau panjang ditentukan berdasarkan nilai R atau

T

Jenis tiang Modulus Tanah

Kaku (Pendek) L 2 T L 2R

Elastis (panjang) L 4T L 3.5 R

2.12.2 Dengan Metode Broms (Tiang dalam Tanah Granuler)

Untuk tiang dalam tanah granuler (c = 0), Broms (1964) menganggap

sebagai berikut :

1. Tekanan tanah aktif yang bekerja di belakang tiang, diabaikan.

(44)

2. Distribusi tekanan tanah pasif di sepanjang tiang bagian depan sama dengan

3 kali tekanan tanah pasif Rankine.

3. Bentuk penampang tiang tidak berpengaruh terhadap tekanan tanah ultimit

atau tahanan lateral ultimit.

4. Tahanan lateral sepenuhnya termobilisasi pada gerakan tiang yang

diperhitungkan.

Tahanan tanah ultimit (pu) sama dengan 3 kali tekanan pasif Rankine adalah didasarkan pada bukti empiris yang diperoleh dari membandingkan hasil

pengamatan dan hitungan beban ultimit yang dilakukan oleh Broms.hasil ini

menunjukkan bahwa pengambilan factor pengali 3 dalam beberapa hal mungkin

terlalu hati-hati, karna nilai banding rata-rata antara hasil hitungan dan beban

ultimit hasil pengujian tiang adalah kira-kira 2/3. Dengan anggapan tersebut,

distribusi tekanan tekanan tanah dapat dinyatakan oleh persamaan:

pu = 3 po Kp ………...……….………... (2.27)

dengan,

po = tekanan overburden efektif

Kp = (1 + sin υ”)/(1 –sin υ‟) = tg2(45°+υ/2)

υ‟ = sudut gesek dalam efektif

(45)

Hu= (3/2) γ d Kp f ………...……..…… (2.29)

dan f = 0,82

p u dK

H

.………...……….. (2.30)

sehingga momen maksimum dapat dinyatakan oleh persamaan :

Mmak = Hu (e +2f/3) ..………... ………...…… (2.31)

Jika pada persamaan (2.29), diperoleh Hu yang bila disubstitusikan kedalam persamaan (2.31) menghasilkan Mmak>My, maka tiang akan berkelakuan

seperti tiang panjang. Kemudian besarny Hu dapat dihitung dari persamaan – persamaan (2.30) dan (2.31), yaitu dengan mengambil Mmak =My. persamaan –

persamaan untuk menghitung Hu dalam tinjauan tiang panjang yang diplot dalam grafik hubungan Hu/(Kpγd3) dan My /(Kpγd3) ditunjukan dalam gambar 2.23b. Bila

tanah pasir terendam air, maka berat volume tanah (γ) yang dipakai adalah berat

volume apung (γ‟).

(a)

(b)

Gambar 2.22 Tiang ujung bebas pada tanah granuler

a) Tiang pendek

(46)

Pada tiang ujung jepit, asumsi tahanan momen pada kepala tiang paling

sedikit sama dengan My akan dipakai lagi. Model keruntuhan untuk tiang – tiang pendek, sedang dan tiang panjang, secara pendekatan diperlihatkan dalam gambar

2.22 untuk tiang ujung jepit yang kaku, keruntuhan tiang berupa translasi, beban

lateral ultimit dinyatakan oleh:

Hu= (3/2)γdL2Kp………..………...…………...………..(2.32)

(a) tiang ujung pendek

(b) Tiang panjang

(47)

Persamaan (2.32) diplot dalam bentuk grafik ditunjukkan dalam gambar

2.23a. gambar tersebut hanya berlaku jika momen negative yang bekerja pada

kepala tiang lebih kecil dari tahanan momen tiang (My). Momen (negatif) yang

terjadi pada kepala tiang, dihitung dengan persamaan:

Mmak = (2/3) HuL = γ d L3 Kp………..……….………… (2.33)

Jika Mmak>My, maka keruntuhan tiang dapat digarapkan akan berbentuk

seperti yang ditunjukan dalam gambar 2.24b. Dengan memperhatikan

keseimbangan horizontal tiang pada gambar 2.14b ini, dapat diperoleh:

F = (3/2) γ dL2

Kp - Hu………..…….……..………. (2.34) Dengan mengambil momen terhadap kepala tiang (pada permukaan tanah)

dan dengan mensubstitusikan F pada persamaan (2.33), maka dapat diperoleh

(untuk Mmak>My) :

My= (1/2) γ dL3 Kp - HuL……….…….. (2.35)

Harga My dalam perhitungan pondasi tiang menahan gaya lateral merupakan momen maksimum yang mampu ditahan tiang (ultimate bending

moment). Dari persamaan (2.31), Hu dapat diperoleh.

Perhatikan, persamaan (2.35) hanya dipakai jika momen maksimum pada

k edalaman f lebih kecil daripada My, jarak f dihitung dari persamaan (2.30).

(48)

Dari persamaan (2.36), dapat diplot grafik yang ditunjukan dalam gambar 2.23b.

Beberapa pengujian yang dilakukan Broms (1964) untuk mengecek ketepatan ketepatan persamaan – persamaan yang diusulkan, menunjukan bhwa

untuk tanah granuler (c = 0), nilai banding antara momen lentur hasil pengamatan

pengujian menunjukan angka – angka diantara 0,54 – 1,61, dengan nilai rata – rata

0,93.

(a)

(b)

Gambar 2.24 Tiang ujung jepit dalam tanah granuler

(a) Tiang pendek

(49)

Gaya Horizontal pada masing masing tiang

n H

……..…….………...………(2.37)

Defleksi lateral untuk tiang ujung jepit

yo =

Untuk tiang dalam tanah granuler (pasir, kerikil), defleksi tiang akibat beban

lateral, dikaitkan dengan besaran tak berdimensi αL dengan

α =

 Tiang ujung bebas dan ujung jepit dianggap sebagai tiang panjang (tidak

kaku), bila αL >4.

(50)

Tabel II.5 nilai-nilai nh untuk tanah granular (c=0)

Kerapatan relative (Dr) Tak padat Sedang Padat

Interval nilai A 100-300 300-1000 1000-2000

Nilai A dipakai 200 600 1500

nh pasir kering atau lembab (Terazaghi)

kN/m3

2425 7275 19400

nh pasir kering terendam air kN/m3 Terazaghi

Reese dkk

1386

5300

4850

16300

11779

Gambar

Gambar 2.1 Dimensi Alat Sondir Mekanis (Sardjono, 1991)
Gambar 2.2 Jenis-jenis Pondasi tiang berdasarkan teknik pemasangannya
Gambar 2.3 Jenis Pondasi Tiang bor
Gambar 2.4 Tiang bor dengan Dry Metod
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisa tersebut dapat diketahui bahwa pada bor 1 beban kolom struktur tersebut dapat dipikul oleh konfigurasi kelompok tiang 3x3 diameter tiang spacing 2D dengan

Jika kelompok tiang dipancang dalam tanah lempung lunak, pasir tidak padat, atau timbunan, dengan dasar tiang yang bertumpu pada lapisan kaku, maka kelompok tiang tersebut

Pondasi yang Saat ini digunakan pada proyek pembangunan gedung kantor pemkab Lamongan adalah pondasi dalam jenis tiang pancang (spun pile) yang mempunyai beberapa

Termasuk dalam tiang tanpa perpindahan adalah bored pile, yaitu tiang beton yang pengecorannya langsung dalam lubang hasil pengeboran tanah (pipa baja diletakkan di dalam lubang

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui nilai daya dukung pondasi bore pile dan nilai penurunan tiang pondasi bore pile yang terjadi di proyek

Tujuan dari Tugas Akhir ini untuk menghitung daya dukung tiang dari hasil sondir, standar penetrasi test (SPT), pile driving analizer (PDA) dan bacaan manometer pada alat

Dari hasil analisa tersebut dapat diketahui bahwa pada bor 1 beban kolom struktur tersebut dapat dipikul oleh konfigurasi kelompok tiang 3x3 diameter tiang spacing 2D dengan

Paper ini menyajikan tentang hasil karya imliah skripsi penulis tentang studi banding perencanan pondasi tiang pancang beton dan bored pile, dimana konstruksi