• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Difference between Allergen-specific Immunotherapy (SIT) and BCG Vaccination for Improving Life Quality of Patients with Allergic Rhinitis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "The Difference between Allergen-specific Immunotherapy (SIT) and BCG Vaccination for Improving Life Quality of Patients with Allergic Rhinitis"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Perbedaan Imunoterapi Alergen Spesifik (ITS) dengan

Vaksinasi BCG dalam meningkatkan kualitas hidup penderita

Rinitis Alergi

The Difference between

Allergen-specific Immunotherapy (SIT) and BCG

Vaccination for Improving Life Quality of Patients with Allergic Rhinitis

Andriana Tjitria Widi1

ABSTRACT

Background: Allergen-specific immunotherapy (SIT) is a therapy for allergic disease with a common natural allergen. BCG vaccination have been shown remedical clinical symptom and reduces drugs usage at asthma patient. This research was conducted to prove that BCG vaccination is more effective compared to SIT for remedical clinical symptom and life quality of allergic rhinitis patients.

Design and Method: The study was designed as a Control Group Pre test - Post test conducted between April 2004 and September 2005 in Ear and Nose Therapy (ENT) clinic at Dr. Kariadi Hospital, Semarang. All patients with medium degree allergic rhinitis attending allergic clinic, part of ENT department at Dr. Kariadi Hospital Semarang, were included in the study. Data was analyzed by Mann Whitney U test, Mc Nemar test, and Chi Square test (p<0.05).

Result: The BCG and SIT group on clinical sympthom for every week showed no significant differences (p>0.05). There was no significant difference between the BCG vaccination and SIT group on life quality (p>0.05).

Conclusion: TheBCG vaccination and SIT were shown the same effect in improving and medicating clinical symptoms and life quality, (Sains Medika, 1 (1) : 24-35).

Keywords: allergic rhinitis, allergen-specific immunotherapy (SIT),BCG, life quality

ABSTRAK

Pendahuluan: Imunoterapi alergen spesifik (ITS) adalah pengobatan penyakit alergi dengan paparan alergen alami. Penggunaan vaksinasi BCG pada penderita asma menunjukkan perbaikan gejala klinik dan penurunan penggunaan obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa vaksinasi BCG lebih efektif dibandingkan ITS terhadap perbaikan gejala klinik dan kualitas hidup penderita Rinitis alergi.

Metode Penelitian: Desain penelitian yang digunakan Randomized Control Group Pre test – Post test Design yang dilaksanakan pada bulan April 2004 sampai dengan September 2005 di Klinik Kesehatan THT RS Dr. Kariadi, Semarang. Populasi penelitian adalah semua penderita Rinitis Alergika derajat sedang berat menurut kriteria WHO yang berobat di Klinik Alergi, bagian THT RS. Dr. Kariadi Semarang. Analisis data menggunakan Mann Whitney U test, Mc Nemar test, dan Chi Square Test. Derajat kemaknaan yang digunakan adalah p<0,05. Hasil Penelitian: Tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok dengan vaksinasi BCG dan kelompok dengan ITS dalam memperbaiki gejala klinik (p>0,05). Tidak ada perbedaan secara signifikan antara kelompok dengan vaksinasi BCG dan kelompok dengan ITS dalam memperbaiki kualitas hidup (p>0,05).

Kesimpulan: Vaksinasi BCG dan ITS mempunyai efek yang sama dalam memperbaiki gejala klinik dan kualitas hidup, (Sains Medika, 1 (1) : 24-35).

Kata Kunci: rhinitis allergika, imunoterapi alergen spesifik (ITS), BCG, kualitas hidup

PENDAHULUAN

Rinitis alergi (RA) merupakan reaksi inflamasi pada mukosa hidung akibat reaksi

hipersensitifitas tipe I yang diperantarai Ig E (Gell & Comb tipe I). Gejala klinik berupa

hidung buntu, bersin, gatal dan rinore.Hidung buntu bisa bilateral – unilateral dan

Bagian Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung

(2)

berpindah-pindah terutama terjadi pada malam hari (Baraniuk, 1997; Durham, 1997;

Skoner, 2001). RA tidak mengancam jiwa, akan tetapi dapat mengganggu, menurunkan

kualitas hidup penderita dan memerlukan biaya yang sangat besar untuk pengobatannya.

Menurut Malone (1999) 39 juta orang di Amerika Serikat terkena RA , namun hanya

12,3% (4,8 Juta) yang mendapat pengobatan. Angka absen kerja 811.000 hari dan absen

sekolah 824.000 hari, total biaya tahun 1994 US $ 1,23 milyar.

Penanganan RA pada dasarnya adalah mengatasi gejala RA akibat reaksi alergi

fase segera (RAFS) dan reaksi alergi fase lambat (RAFL), dengan cara avoidance,

medikamentosa dan imunoterapi dengan alergen spesifik (Bousquet et al., 2001).

Penanganan cara tersebut saat ini belum dapat menyembuhkan dengan sempurna.

Imunoterapi dengan alergen spesifik (ITS) adalah pengobatan penyakit alergi

dengan paparan alergen alami sehingga mengurangi beratnya penyakit. ITS digunakan

pada pasien yang memerlukan pengobatan tiap hari untuk jangka waktu lama, karena

obat yang diberikan tidak memberikan respon yang cukup, biasanya merupakan terapi

akhir yang digunakan (Corey et al., 2000). ITS sampai saat ini masih digunakan sebagai

pilihan terakhir, walaupun mempunyai banyak kekurangan, antara lain: waktu pengobatan

yang lama atau merupakan pengobatan jangka panjang, untuk itu diperlukan kepatuhan

penderita dan biaya yang mahal sehingga sering menyebabkan penderita drop out. Maka

perlu dicari pengobatan RA yang lebih efektif dan efisien.

Penelitian yang menghubungkan antara efisiensi penggunaan BCG dan ITS dengan

perbaikan gejala klinik dan kualitas hidup pada penderita penyakit atopi (alergi) khususnya

rinitis alergi masih sedikit dilakukan. Penyakit atopi, diantaranya asma bronkial, rinitis

alergi, dan dermatitis mempunyai mekanisme yang identik, yaitu adanya

ketidakseimbangan antara sel Th1/Th2 sehingga terjadi polarisasi ke arah produksi sitokin

sel Th2 (IL-4, IL-5) dan peningkatan produksi Ig E oleh sel B (Baraniuk, 1997). Penelitian

menggunakan vaksinasi BCG pada penyakit atopi terutama asma sudah banyak dilakukan

yang menunjukan hasil berupa perbaikan pada gejala klinik asma dan kualitas hidupnya.

Akan tetapi, masih banyak ahli yang meragukan manfaat klinik terapi ini.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas vaksinasi BCG dibanding ITS

terhadap proporsi perbaikan gejala klinik dan kualitas hidup pada penderita rinitis alergi.

Penilaian terhadap gejala klinik dan kualitas hidup mengacu pada penelitian Choi & Koh

(3)

dan penurunan penggunaan obat-obatan. Hasil penelitian ini diharapkan bahwa BCG

dapat memberikan hasil yang baik pada rinitis alergi seperti pada penderita asma,

sehingga dapat dipakai sebagai terapi alternatif disamping imunoterapi.

METODE PENELITIAN

Desain penelitian yang digunakan Randomized Control Group Pretest – Posttest

Design. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2004 sampai dengan September 2005

di Klinik Kesehatan THT RS Dr. Kariadi Semarang.

Populasi penelitian adalah semua penderita Rinitis alergi derajat sedang berat

menurut kriteria WHO yang berobat di Klinik Alergi, bagian THT RS. Dr. Kariadi Semarang.

Pengambilan sampel dengan cara consecutive sampling. Pemilihan untuk tiap-tiap

kelompok dipakai secara acak dengan menggunakan tabel random.

Besar sampel dihitung berdasarkan rumus uji hipotesis terhadap 2 proporsi. Dari

perhitungan dengan menggunakan software PEPI 2002 maka diperoleh jumlah sampel

sebanyak 19, dan untuk menghindari data yang tidak sempurna maka ditambah 10 % =

21 sampel untuk masing-masing kelompok.

Kriteria inklusi penelitian ini adalah laki-laki dan wanita, umur 15 – 50 tahun

dengan hasil test alergi “prick test” positif 3 atau lebih terhadap satu/lebih aeroalergen

terutama mite, test PPD (Mantoux) negatif dan bersedia ikut penelitian sampai selesai.

Kriteria eksklusi penelitian ini adalah penderita TBC aktif, penderita asma berat,

penderita mempunyai penyakit lain yang mempengaruhi hasil terapi seperti septum

deviasi, sinusitis, dan polip, pengguna steroid sistemik jangka lama sedikitnya 1 bulan

sebelumnya, pengguna obat-obatan βBloker, pernah mendapat imunoterapi, dan wanita

hamil atau menyusui.

Kriteria drop-out penelitian ini adalahpenderita yang mengalami efek samping

obat yang berat meliputi gejala klinik makin berat dan shock anapilaktif, serta penderita

yang kemudian diketahui hamil.

Ekstrak alergen yang digunakan untuk tes tusuk kulit dibuat oleh LAPI Jakarta.

Dikerjakan dengan cara intrakutan, yaitu dengan menyuntikan ekstrak alergen sehingga

timbul bentol (wheal) dan eritema. Sebagai kontrol positif dipakai larutan histamin dan

kontral negatif dipakai larutan buffer fosfat yang merupakan pelarut alergennya. Reaksi

(4)

di regio volar lengan bawah, ditunggu 15 menit. Reaksi dibandingkan dengan kontrol (+)

dan (-). Reaksi yang timbul sama dengan histamin diberi skor 3+, lebih besar dari histamin

4+, reaksi antara keduanya diberi nilai 2+ dan 1+.

Vaksin BCG yang digunakan adalah vaksin BCG kering yang mengandung kuman

hidup dari biakan Bacillus Calmete & Guerin Institut Pasteur Paris No. 1173 P2 buatan

Biofarma Bandung. Vaksin dilarutkan dengan pelarutnya kemudian disuntikkan di regio

deltoid kiri dengan dosis 0,1ml sampai membentuk wheal berdiameter 8 - 10 mm. ITS

adalah terapi menggunakan alergen spesifik dari ALK-ABELLO Spanyol, terdiri dari 4 botol

dengan label berbeda. ITS 1 (label abu-abu) berisi alergen dengan konsentrasi 1:1000.

ITS 2 (label hijau) berisi alergen dengan konsentrasi 1: 100. ITS 3 (label kuning) berisi

alergen dengan konsentrasi 1:10, sedangkan ITS 4 (label merah) berisi alergen dengan

konsentrasi 1:1.

Kuisioner data penderita dan catatan harian penderita yang berisi pertanyaan

tentang skor berat ringannya gejala-gejala hidung dan kuisioner kualitas hidup sebelum

dan sesudah mendapat terapi.

Penderita diminta untuk mengisi kuisioner gejala klinik, efek samping setiap hari

yang diisi di rumah selama 7 hari. Setiap 1 minggu diminta kontrol untuk dinilai kembali

gejala klinik melalui kuesioner. ITS disuntikkan secara subkutan pada penderita 2x per

minggu dengan dosis yang dinaikkan secara bertahap. Evaluasi berjalan selama 8 minggu.

Penilaian gejala klinik dalam penelitian ini menggunakan “skor total gejala klinik”

(GK ). GK merupakan suatu jumlah dari skor gejala yang dinilai pasien untuk: bersin,

rinore, hidung gatal dan hidung buntu. Masing- masing gejala dinilai berdasarkan 4

(empat) skala meliputi skala 0 (tidak ada gejala/pilek), skala 1 (gejala pilek ringan, tidak

mengganggu), skala 2 (gejala pilek mengganggu tapi tak mengganggu aktifitas atau tidur),

skala 3 (gejala pilek mengganggu aktifitas dan atau tidur).

Gejala total hari tersebut adalah jumlah skor dari masing-masing gejala, sedangkan

skor gejala dalam 1 minggu adalah nilai rerata skor gejala harian dalam 1 minggu. Respon

terapi gejala klinik dibagi menjadi skor baik bila rentang nilai 0 – 4 dan skor buruk bila

mempunyai rentang nilai 4,1 – 12.

Pada penelitian ini dilakukan evaluasi pada saat pertama datang, tiap minggu

(5)

sebelum evaluasi skor dari setiap gejala maksimal 1 atau rerata jumlah skor maksimal ke

4 gejala pokok RA = 4.

Penilaian kualitas hidup menggunakan skor dari kuesioner dengan 7 skala meliputi

skala 0 (tidak terganggu) sampai dengan skala 6 (sangat terganggu sekali). Skala ini

digunakan untuk menilai 7 domain kualitas hidup yaitu aktifitas, gangguan tidur, gejala

non hidung/non mata, masalah praktis, gejala hidung, gejala mata dan emosi.

Respon terapi dari skor kualitas hidup dan skor total masing-masing domain dibagi

menjadi: skor baik bila mempunyai rentang 0 – 3 dan skor buruk bila mempunyai rentang

3,1 – 6. Perbaikan kualitas hidup apabila terdapat perbedaan pengurangan skor kualitas

hidup sebelum dan sesudah terapi.

Imunoterapi setelah 2 tahun efektif pada 90% pasien dan akan tetap membaik

selama 2-3 tahun setelah dihentikan. Pada penelitian ini imunoterapi yang digunakan

adalah dosis eskalasi selama 8 minggu. Hasil penelitian ini dianggap efektif bila lebih dari

25%. Perhitungan minum obat, dilakukan dengan menghitung rerata dan dilakukan

dengan skor sedikit bila minum obat 1-3 perminggu dan banyak bila minum obat 4-7

perminggu.

Data yang diperoleh dianalisa menggunakan Mann - Whitney U test untuk menguji

perbedaan umur antar kelompok, menggunakan Mc Nemar test untuk menguji proporsi

respon terapi dalam kelompok BCG dan ITS, dan menggunakan Chi Square test untuk

menguji proporsi respon terapi antar kelompok BCG dan ITS.Derajat kemaknaan yang

digunakan adalah p<0,05.

HASIL PENELITIAN

Dari 44 penderita rinitis alergi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta

bersedia mengikuti penelitian, 42 penderita menyelesaikan sampai akhir penelitian (21

penderita kelompok ITS dan 21 penderita kelompok BCG), 1 penderita tidak melanjutkan

oleh karena pindah alamat dan 1 penderita tidak dapat dihubungi. Banyaknya minum

obat pada kelompok BCG dibanding ITS pada tiap-tiap minggu tampak perbedaan yang

(6)

Karakteristik subyek penelitian menurut umur dan jenis kelamin

Umur responden kelompok BCG rata-rata 26,7 tahun dengan umur termuda 15

tahun dan umur tertua 44 tahun. Umur responden kelompok ITS rata-rata 31,1 dengan

umur termuda 18 tahun dan umur tertua 50 tahun (Tabel 1.).

Jenis kelamin responden kelompok BCG 33,3% laki-laki dan 66,7% perempuan.

Jenis kelamin responden kelompok ITS 38,1 % laki-laki dan 61,9 % perempuan. Pada

kelompok BCG ada riwayat alergi keluarga 40,0 % dan tidak ada riwayat alergi keluarga

59,1 %. Kelompok ITS ada riwayat alergi keluarga 60,0 % dan tidak ada riwayat alergi

keluarga 40,9 % (Tabel 2.). Distribusi berdasarkan jenis kelamin (p=0,75) dan riwayat

alergi keluarga (p=0,22) antara dua kelompok tidak ada perbedaan bermakna.

Keluhan utama sebelum mendapat terapi BCG maupun ITS

Sebelum mendapat BCG responden yang mengalami hidung gatal 9,5%; bersin

47,5%; hidung berair 28,6%; dan hidung tersumbat 14,3%. Sebelum ITS responden yang

mengalami hidung gatal 19,0%; bersin 19,0%; hidung berair 33,3%; dan hidung tersumbat

28,6% (Tabel 3). Distribusi berdasarkan umur antara dua kelompok tidak ada perbedaan

bermakna (p=0,24).

Gejala klinik BCG maupun ITS per minggu

Hasil uji Chi Square perbaikan gejala klinik per minggu, selama 8 minggu pada

pengobatan BCG dibandingkan dengan ITS menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna

(p>0,05), sebagaimana disajikan pada Tabel 4.

Tabel 1. Karakteristik responden kelompok BCG dan ITS menurut umur

p= Mann- Whitney U

Tabel 2. Karakteristik responden kelompok BCG dan ITS menurut jenis kelamin dan

riwayat alergi

(7)

Tabel 3. Keluhan utama responden sebelum mendapat BCG maupun ITS

Tabel 4. Gejala klinik tiap minggu kelompok BCG dan ITS

p =Chi Square

Kualitas hidup sebelum dan sesudah BCG maupun ITS

Pada kelompok BCG sebelum terapi terdapat 3 (14,3%) penderita dengan kualitas

hidup baik, dan 18 (85,7%) penderita kualitas hidup buruk. Dari jumlah tersebut yang

mengalami perbaikan kualitas hidup sejumlah 15 (71,4%) penderita dan 6 (28,6%)

penderita tetap buruk (Tabel 5). Hasil uji McNemar menunjukkan perbedaan yang

(8)

Pada kelompok ITS sebelum terapi terdapat 5 (23,8%) penderita dengan kualitas

hidup baik dan 16 (76,2%) penderita kualitas hidup buruk. Dari jumlah tersebut yang

mengalami perbaikan kualitas hidup menjadi 19 (90,5%) penderita dan 2 (9,5%) penderita

tetap buruk (Tabel 6.). Hasil uji McNemar menunjukkan perbedaan yang bermakna

(p<0.05) pada kualitas hidup sebelum dan sesudah ITS.

Kualitas Hidup Sesudah BCG dan Sesudah ITS

Hasil uji Chi Square pada perbaikan kualitas hidup sesudah vaksinasi BCG dan

sesudah ITS menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05), sebagaimana

disajikan pada Tabel 7.

Kualitas Hidup Masing Masing Domain Sesudah BCG dan Sesudah ITS.

Untuk mengetahui kualitas hidup masing-masing domain sesudah BCG dan ITS

digunakan statistik non parametrik dengan uji Chi Square (Tabel 8). Kualitas hidup

masing-masing domain kelompok BCG dibanding kelompok ITS tidak berbeda bermakna (p>0,05).

Tabel 5. Kualitas hidup sebelum dan sesudah BCG

p = McNemar test

Tabel 6. Kualitas hidup sebelum dan sesudah ITS

p = McNemar test

Tabel 7. Kualitas hidup sesudah BCG dan ITS

(9)

Tabel 8. Kualitas hidup masing-masing domain sesudah BCG dan ITS

p =Chi Square

PEMBAHASAN Gejala Klinik

Vaksinasi BCG memberikan perbaikan bermakna (p<0,0001) pada gejala klinik

sesudah minggu ke-8. Hal ini sesuai dengan penelitian Choi & Koh (2002) bahwa vaksinasi

BCG pada penderita asma menurunkan skor gejala asma secara bermakna pada minggu

ke-8 sampai minggu ke-16.Penelitian ini sesuai dengan yang dilakukan oleh Jing Li et al.

(2005) didapatkan penurunan skor gejala klinik rinitis lebih rendah secara bermakna

pada hari ke-36 dan 72 ( minggu ke-5 dan ke-10). Protein mikobakterium terikat pada

TLRs makrofag, sehingga makrofag menjadi aktif. Makrofag aktif ini memproduksi IL-12

yang akan menginduksi sel Th1 untuk menghasilkan IFNγγγγγ. IFNγγγγγ merupakan counterbalance

sitokin sel Th2, menghambat produksi IgE sehingga produksi mediator inflamasi sel mast

berkurang dan selanjutnya gejala klinik alergi akan berkurang (Baraniuk, 1997; Supomo,

1995). Dengan demikian terjadi perbaikan gejala klinik sesudah pemberian BCG.

Gejala klinik sesudah mendapat ITS terjadi perbaikan bermakna (p<0,05) pada

penderita rinitis alergi. Hasil penelitian ini berbeda dengan teori bahwa paparan alergen

dosis eskalasi berhubungan dengan peningkatan produksi IL-4 dan penurunan produksi IFNγ sehingga perbaikan gejala klinik belum ada (Creticos, 2000; Haugaard, 1999).

Zhikang et al. (1991) melaporkan bahwa perbaikan gejala klinik rinitis alergi

dengan ITS dosis moderat tidak tampak sampai 2 tahun.Corey (2000) melaporkanbahwa

(10)

periode 1 sampai 2 tahun. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan Akdis & Blaser (2000)

yang melaporkan bahwa kadar IgE belum menunjukkan penurunan setelah dilakukan

ITS selama 6 bulan, sehingga perbaikan gejala kliniknya pun masih belum ada.

Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian (belum dipublikasikan) dengan

menggunakan subyek yang sama, didapatkan hasil ITS dosis eskalasi sudah menyebabkan penurunan kadar IL-4 yang tidak bermakna dan belum dapat meningkatkan kadar IFNγ

(Sudarmini, 2006). Hal ini dimungkinkan karena sel T reg sudah terpacu, dimana Sel T

reg ini dapat menghambat respon sel Th1 dan Th2, sehingga secara aktif menghambat

reaksi autoimun dan respon alergi (Jing et al., 2005), sehingga sudah dapat memperbaiki

gejala klinik. Pada penelitian ini tidak diukur rasio IL4/IFNγ maupun IL10 yang merupakan

produk dari sel T reg.

Pada penelitian ini banyaknya hari minum obat mingguan pada kelompok BCG

dibanding kelompok ITS tidak berbeda bermakna, sehingga dapat disimpulkan gejala

klinik pada kelompok BCG maupun ITS tidak dipengaruhi dengan banyaknya hari minum

obat.

Berdasarkanhasil penelitian ini, gejala klinik mingguan pada kelompok BCG

dibanding ITS tidak berbeda bermakna. Apabila diamati lebih lanjut terlihat bahwa

perbaikan gejala klinik pada kelompok ITS lebih banyak dibandingkan kelompok BCG,

tetapi tidak berbeda bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa kedua terapi mempunyai

pengaruh yang sama terhadap perbaikan gejala klinik atau dengan kata lain BCG tidak

lebih efektif dibandingkan dengan ITS.

Penelitian lain (belum dipublikasikan) dengan menggunakan subyek kelompok BCG yang sama, didapatkan hasil kenaikan rasio IL-4/IFNγγγγγ dan skor gejala klinik yang

tidak berbeda bermakna dengan kontrol (Sudrajat, 2006). Hal ini kemungkinan disebabkan

faktor genetik, strain BCG, dan dosis vaksinasi yang berbeda. Pada penelitian ini digunakan

vaksin BCG strain 1173 P2 Paris dengan dosis 0,1 ml (2×105 CFU), merupakan vaksin BCG

yang direkomendasikan di Indonesia untuk mengurangi resiko terjadinya tuberkulosis.

Pada penelitian Koh et al. (2002) di Korea dengan menggunakan vaksin BCG strain 172

Tokyo dengan dosis 58,2×107 CFU. Dosis ini 10 kali lebih besar dari dosis yang digunakan

di Eropa menghambat terjadinya asma, dimana penderita asma diasumsikan sama dengan

(11)

Kualitas Hidup

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sesudah BCG dan ITS sama-sama

bermakna terhadap peningkatan kualitas hidup. Peningkatan kualitas hidup pada

masing-masing domain antara kelompok BCG dan kelompok ITS tidak berbeda bermakna. Hal ini

menunjukkan bahwa BCG dan ITS sama-sama efektif untuk meningkatkan kualitas hidup

penderita rinitis alergi. Okubo et al. (2005) melaporkan bahwa perbaikan kualitas hidup

pada penderita RA berhubungan secara signifikan dengan perbaikan gejala klinik.

Peningkatan kualitas hidup terjadi pada masing-masing domain yaitu pada aktivitas yang

terganggu, masalah praktis, gejala hidung dan gejala mata. Masalah praktis, gejala mata,

dan keterbatasan aktivitasmengalami perbaikan secara signifikan.

Durham (2005) menyimpulkan bahwa penggunaan imunoterapi serbuk sari dapat

meningkatkan kualitas hidup pada penderita RA musiman dan menurunkan gejala asma

musiman dan asma bronkhial. Hasil penelitian menunjukkan perbaikan gejala klinik lebih

dari 25% pada kelompok BCG maupun kelompok ITS setelah minggu ke-8. Namun

perbaikan gejala klinik kelompok BCG dibanding kelompok ITS tidak berbeda bermakna,

sehingga dapat disimpulkan bahwa vaksinasi BCG tidak lebih efektif dibanding ITS.

KESIMPULAN

Vaksinasi BCG dan Imunoterapi Alergen Spesifik (ITS) mempunyai efek yang sama

dalam memperbaiki gejala klinik dan kualitas hidup penderita rinitis alergi.

SARAN

Vaksinasi BCG dapat dipakai sebagai terapi kombinasi dengan imunoterapi pada

penderita rinitis alergi. Penelitian terkait vaksinasi BCG dengan dosis BCG yang

ditingkatkan atau dengan strain BCG yang berbeda perlu dilakukan agar diperoleh hasil

yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Akdis C.A. and Blaser K., 2000, Mechanisms of Allergen Spesific Immunotherapy, Allergy,

55 : 522-30.

(12)

Bousquet J., Cauwenberge P.V., and Khaltaev N., 2001, Allergic Rhinitis and its Impact on

Asthma, J Allergy Clin Imunol, 108.

Choi S.I. and Koh Y.I., 2002, Therapeutic Effect of BCG Vaccination in Adult Astmatic Patiens:

a Randomized Controlled Trial, Ann Allergy Asthma Immunol, 88: 584 – 591.

Corey J.P., Kemker B.J., Branca J.T., Kuo F., Chang Y., and Gliklich R.E., 2000, Health Status

in Allergic Rhinitis, Otolaryngol Head and Neck Surgery, 122: 681- 5.

Creticos P.S., 2000, The Consideration of Immunotherapy in the Treatment of Allergic

Asthma, J Allergy Clin Immunol, 105: S 559-74.

Durham S.R., 2005, Grass Pollen Immunotherapy using a Cluster Regime for Seasonal

Rhinitis and Asthma, Royal Brompton Hospital, NHLI Imperial College London

United Kingdom.

Haugaard L., 1999, Immunologic Effect of Immnutherapy, Allergy, 54 (suppl. 58): 56 – 8.

Jing L., Ding–Fen L., Sui-ying L., Bao-Qing S., and Nan-Shan Z., 2005, Efficacy of Intramuscular BCG Polysaccharide Nucleotide on Mild to Moderate Bronchial Asthma Accompanied with Allergic Rhinitis: a Randomized, Double Blind,

Placebo-Controlled Study, Chinese Medical Jurnal, 19: 1559-1603.

Koh Y.I., Choi I.S., and Park S.C., 2000, BCG Infection During Pre-Sensition or Even

Post-Sensition Inhibits Airway Post-Sensitions in an Animal Model of Allergyc Asthma, J

Korean Med Sci, 15: 265 – 272.

Malone D.C., Lawson K.A., Smith D.H., Arrighi H.M., Battista C.A., 1999, Cost of Illness

Study of Allergic Rhinitis in the United States, J Allergy Clin Immunol, 1007: 22-7.

Okubo K., Gotoh M., Shimada K., Ritsu M., Okuda M., and Crawford B., 2005, Fexofenadine Improves the Quality of Life and Work Productivity in Japanese Patients with

Seasonal Allergic Rhinitis during the Peak Cedar Pollinosis Season, Allergy and

Immunology, 136: 148-154.

Skoner D.P., 2001. Allergy Rhinitis: Definition, Epidemiology, Pathofisiologhy, Detection

and Diagnosis, J Allergy Clin Immunol, 108: 2-8.

Sudarmini M., 2006, Pengaruh ITS terhadap Rasio IL-4/IFN

γ

γ

γ

γ

γ

Perbaikan Gejala Klinik Rinitis

Alergi (belum dipublikasi), Tesis Program Pasca Sarjana Magister Ilmu Biomedik

dan Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher, Semarang.

Sudrajat H., 2006, Pengaruh Vaksinasi BCG terhadap Rasio IL-4/IFN

γγγγγ

Perbaikan Gejala

Klinik Rinitis Alergi (belum dipublikasi), Tesis Program Pasca Sarjana Magister Ilmu

Biomedik dan Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher, Universitas Diponegoro, Semarang.

Supomo S., 1995, Manfaat Kortikostiroid Topikal pada Rinitis Alergi, Dalam: Losin K., (ed.),

Kumpulan Naskah Konas XI Perhati Yogyakarta: 21-34.

Zhikang P., Robert N.M., Philips N.S., and Franklin N.A., 1991, Quantitative IgE – and IgG

– Subclass Responses During and After Long Term Ragweed Immunotherapy,

Gambar

Tabel 2.Karakteristik responden kelompok BCG dan ITS menurut jenis kelamin dan
Tabel 4.Gejala klinik tiap minggu kelompok BCG dan ITS
Tabel 8.Kualitas hidup masing-masing domain sesudah BCG dan ITS

Referensi

Dokumen terkait

Didalam movie station yang penulis rancang ini, ruangan studio film dibuat seperti home theater yang dikemas dalam nuansa high tech, sehingga para penikmat film

Namun jika hal ini sulit untuk dilaksanakan, artinya jika ke depannya gubernur tetap mempunyai fungsi ganda sebagai kepala daerah dan sekaligus sebagai kepala

Analisis data mencakup kerapatan jenis, kerapatan jenis relatif, frekuensi jenis, frekuensi jenis relatif, penutupan jenis, penutupan jenis relatif serta indeks

Dalam kegiatan komunikasi yang dijalankan oleh Humas Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Tengah yaitu sosialisasi anti Golput pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009

Salah satu peraturan internasional yaitu SCTW- F 1995 menyebutkan bahwa kewajiban seluruh awak kapal penangkap ikan harus memiliki keterampilan dasar keselamatan

a. Keberhasilan capaian Target dari indikator kinerja tersebut adalah 100%, target tersebut dapat dicapai, Dan realisasinya 100%, pencapaiannya dengan cara membentuk

Untuk nilai ruang pejalan kaki sebesar 178,423 m²/ orang adalah termasuk pada kategori tingkat pelayanan ”A” ,dimana pada tingkat pelayanan ini arus bebas un-

menunjukkan bahwa model pembelajaran berdasarkan logika Toulmin tahap 1, 2, dan 3 berhasil meningkatkan kemampuan subjek penelitian untuk mengungkapkan gagasan dalam