Imas Qurhothul Ainiyah 1306383155
Tugas – Perilaku Organisasi
Peran Budaya dalam Membentuk Perilaku Sektor Publik
PENDAHULUAN
Kebudayaan suatu bangsa mencerminkan berbagai nilai, norma, symbol, bahasa dan kepercayaan yang dijadikan sebagai pedoman bertingkah laku bagi setiap individu. Kebudayaan pada hakikatnya merepresentasikan kekayaan suatu bangsa atau dengan kata lain menjadi sumber jati diri bangsa. Menurut Koentjaraningrat (dalam Setyawan, 2014), kebudayaan adalah keseluruhan dari hasil budi dan karya. Dengan kata lain, kebudayaan adalah keseluruhan dari apa yang pernah dihasilkan oleh manusia karena pemikiran dan karyanya. Jadi Kebudayaan merupakan produk dari budaya.
mencapai tujuannya. Hasil karya manusia tersebut pada akhirnya menghasilkan sebuah produk dalam bentuk yang konkret berupa benda-benda hasil karya manusia, seperti tulisan-tulisan dan bangunan.
Setiap bangsa di dunia hampir tidak memiliki kebudayaan yang sama. Hal ini disebabkan karena kebudayaan tumbuh dan berkembang pada situasi dan kondisi yang berbeda dan bergantung pada master values yang dianut oleh suatu bangsa. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh adanya kerangka kebudayaan. Kerangka kebudayaan merupakan dimensi analisis dari konsep kebudayaan yang
Grafik 1.1 Kerangka Kebudayaan Sumber: Setyawan, 2014
Ilustrasi atau gambar di atas memperlihatkan bahwa, Sistem Budaya
digambarkan dengan lingkaran yang “paling dalam dan merupakan inti, kemudian ‟
tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain sehingga menimbulkan suatu sistem yang disebut kebudayaan, dimana kebudayaan tersebut dijadikan pedoman berperilaku bagi setiap bangsa serta merupakan cerminan jati diri suatu bangsa.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mendeskripsikan pengaruh kebudayaan terhadap perilaku organisasi dalam sektor publik. Fokus kajian dalam tulisan ini adalah analisis mengenai Hallyu atau Korean Wave dan peran budaya Indonesia dalam mempengaruhi perilaku organisasi pada sektor publik. Teori yang penulis gunakan antara lain sebagai berikut:
1. Hallyu atau Korean Wave
Hallyu berasal dari dua kata yaitu Han yang mengacu pada “kualitas atau keadaan Korea “dan Ryu yang berarti “mengalir”. Oleh karena itu, secara harfiah Hallyu berarti aliran Korea. Lebih jelasnya, Hallyu atau Korean Wave adalah suatu istilah untuk menggambarkan produk kebudayaan populer (pop culture) dari Korea Selatan yang berhasil diekspor ke negara-negara lain di wilayah Asia, Eropa dan Amerika. Istilah Korean Wave itu sendiri muncul pada pertengahan tahun 1999 oleh media yang tekejut dengan gelombang kepopuleran produk budaya Korea pada kalangan muda di Cina. Kini istilah Korean Wave lebih sering digunakan untuk menjelaskan mengenai penyebaran budaya populer Korea di berbagai Negara. Melalui musik, film, dan produk industri hiburan seperti drama televisi, Korean Wave ‘menjual’ kebudayaan Korea Selatan yang memadukan gaya tradisional dan kehidupan modern sebagai senjata utamanya. Korean Wave yang berhasil masuk ke pasar dunia kemudian tidak hanya sekedar memasarkan budaya Korea Selatan, namun juga diiringi dengan pemasaran produk-produk komersial dan pariwisata Korea Selatan kepada publik di berbagai negara yang menerima Korean Wave dengan baik.
2. Perilaku Organisasi
Menurut Stephen P. Robbins (1999), perilaku organisasi atau
organisasi memfokuskan perhatian terhadap perilaku yang beragam dalam suatu organisasi termasuk perilaku yang berkaitan dengan pekerjaan dan hal-hal yang terjadi dalam organisasi. Sasaran dari perilaku organisasi adalah untuk
membantu memberikan penjelasan, prediksi dan mengendalikan perilaku manusia dalam sebuah organisasi.
3. Reformasi Administrasi
Menurut Caiden (dalam Nasirin) yang dimaksud dengan reformasi administrasi adalah perubahan administrasi yang menggambarkan perbaikan dalam praktek administrasi, organisasi, prosedur dan proses. Artinya setiap perubahan prosedur dapat dikategorikan sebagai reformasi administrasi.
Pelaksanaan reformasi administrasi pada dasarnya adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mengubah struktur dan prosedur birokrasi serta sikap dan perilaku birokrat guna meningkatkan efektivitas organisasi atau terciptanya administrasi yang sehat dan menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional. Sasaran dari reformasi administrasi adanya perbaikan administrasi, seperti perbaikan produk dan layanan, struktur, proses dan perbaikan teknologi dalam organisasi. Selain itu, perbaikan tingkat politik meliputi perbaikan peraturan, dukungan dan legitimasi juga menjadi tujuan lain dalam proses reformasi administrasi.
PEMBAHASAN
Kebudayaan Korea Selatan
memiliki tradisi atau kebudayaan yang menjadi dasar berbagai aktivitas bagi masyarakatnya. Kebudayaan di Korea Selatan dapat diklasifikasikan ke dalam dua aspek, yaitu non-material aspect dan material aspect. Non-material aspect meliputi berbagai nilai, norma, symbol, bahasa dan kepercayaan yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat. Sedangkan material aspect meliputi berbagai aspek fisik untuk menunjang aktivitas masyarakat seperti pakaian, rumah, tempat tinggal dan mata pencaharian.
Korea Selatan merupakan Negara yang sangat memperhatikan aspek kebudayaan. Terbukti dengan proses perkembangan negaranya yang tidak terlepas dari aspek kebudayaan baik budaya dalam hal makanan, fashion, kesenian,
kepercayaan dan bahasa. Hal inilah yang menjadi dasar bagi pemerintah Korea untuk memberikan perhatian khusus terhadap kebudayaan dalam rangka meningkatkan eksistensi Korea Selatan di mata internasional. Prinsip yang digunakan ketika menjadikan budaya sebagai sebuah ikon dalam mengembangkan Korea Selatan adalah “Be more attention to your culture” (Kim, 2015). Prinsip tersebut bermakna bahwa baik pemerintah, media massadan non-governmental organization (NGO) maupun masyarakat harus memperhatikan aspek budaya ketika ingin mengambil sebuah kebijakan yang berdampak pada prestige Korea Selatan. Dapat pula dikatakan bahwa setiap aktivitas atau perilaku yang dilakukan oleh masyarakat Korea Selatan harus berlandaskan budaya atau culture, karena budaya adalah menunjukkan siapa identitas sebenarnya mereka dan memperlihatkan kontribusi mereka terhadap negaranya.
mulai diputar di China dan negara-negara di Asia pada umumnya, kemudian menyebar sampai ke negara-negara di belahan dunia lainnya, seperti Amerika, Australia, negara di Timur Tengah, Mesir, Turki, bahkan sampai jazirah Arab terutama Uni Emirat Arab. Lebih dari itu, perkembangan musik K-Pop juga mendorong perkembangan Hallyu yang semakin pesat dan berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan di Korea termasuk dalam bidang organisasi. Korean wave juga berpengaruh terhadap kegiatan ekspor di Korea, seperti yang terlihat dalam diagram dibawah ini:
Diagram diatas memperlihatkan bahwa ekspor Korea Selatan dalam produk program televisi mengalami peningkatan yang cukup signifikan sejak tahun 2000 (yang termasuk dalam periode awal kemunculan Korean Wave) hingga tahun 2007 dengan hanya 13 juta US dolar pada tahun 2000 menjadi 162 juta US dolar pada tahun 2007. Bahkan jika sebelumnya pada tahun 2000 impor Korea lebih tinggi dari ekspornya, yakni 29 juta US dolar, pada tahun 2007 neraca berbalik ketika Korea Selatan mengekspor sekitar 130 juta US dolar lebih banyak dari jumlah impornya yang hanya sebesar 32 juta US dolar.
meningkatkan produktivitas (Ha, 2015). Sasaran dari inovasi tersebut diharapkan mampu memenuhi semua target yang telah ditetapkan dalm visi dan misi pemerintah Korea dan berdampak pada peningkatan pendapatan per kapita masyarakat. Di samping itu, pemerintah Korea juga gencar dalam hal research and design. Reaserach and design ini berfungsi sebagai evaluasi terhadap inovasi-inovasi yang telah
dilakukan sebelumnya dan digunakan sebagai acuan untuk menentukan strategi lebih lanjut dalam mengembangkan produk-produk Korea.
Korean wave atau Hallyu memiliki pengaruh terhadap perilaku sektor publik di Korea. Pengaruh ini terlihat pada bagaimana sector publik melakukan perubahan pada proses manajemen menjadi lebih transparan dan melakukan monitoring secara terus menerus terhadap perkembangan output yang dihasilkan. Pengaruhnya juga terlihat pada restrukturisasi organisasi dari big organization menjadi slim
organization dan adanya spesialisasi antar masing-,asing unit untuk memudahkan sektor-sektor publik mencapai target atau sasarannya. Selanjutnya,terdapat perubahan dari future oriented function menjadi performance oriented management yang
menekankan kepada outcome atau hasil dari produk yang dikembangkan. Outcome atau hasil dari produk tersebut lebih diorientasikan untuk meningkatkan kontribusi masyarakat lokal pada proses pencapaian kesejahteraan.
Perubahan sektor publik di Korea difokuskan pada tiga area yaitu sosial, agricultur and fishery serta culture and arts. Pada area social, perubahan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan pendapatan per kapita serta dan mengkonstruksikan peran-peran sector privat tanpa melalui kompetisi. Area agricultur and fishery difokuskan untuk menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat Korea pada umumnya serta pada aspek culture and arts, dilakukan upaya peningkatan akan ketertarikan terhadap aspek-aspek budaya dan kesenian melalui pelatihan dalam bidang olahraga dan seni.
Kebudayaan di Indonesia
ribuan pulau yang tersebar di seluruh nusantara. Karena terletak di daerah
khatulistiwa maka sebagian besar wilayahnya terdiri dari wilayah tropis. Wilayah Negara Indonesia juga berkaitan dengan sejarah bangsa Indonesia yang dimulai dari penyatuan kerajaan-kerajaan besar nusantara mengakibatkan Indonesia memegang teguh nilai kesatuan dan persatuan. Esensi dari kesatuan dan persatuan juga terlihat pada keberadaan berbagai budaya yang meliputi bahasa, symbol, kesenian,
kepercayaan, adat dan tradisi masyarakat lokal di Indonesia. Beragam budaya masyarakat lokal tersebut saling berdampingan dan menunjukkan identitas nasional Indonesia dimata dunia. Untuk menjembatani berbagai budaya lokal masyarakat tersebut, bangsa Indonesia menitikberatkan pada sikap toleransi antar sesama masyarakat.
Kebudayaan Indonesia atau biasa disebut dengan budaya nasional menurut Tap MPR No II tahun 1998 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara, yakni kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia
Indonesia untuk mengembangkat harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Kebudayaan nasional juga merupakan cerminan nilai-nilai luhur bangsa dan diarahkan pada pembangunan nasional yang dilandasi oleh
semangat Pancasila. Proses pelaksanaan pembangunan nasional ini tidak terlepas dari peranan sektor publik sebagai agent yang merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi kegiatan pembangunan. Peranan agent pembangunan ini biasanya dipengaruhi oleh budaya yang ada dalam organisasi khususnya organisasi sector publik.
birokratis. Tidak adaptif di sini dimaksudkan bahwa para aktor sector publik kurang kreatif, tidak berani mengambil risiko dan bersifat reaktif serta tidak proaktif.
Dampaknya adalah, adanya inefisiensi informasi karena kurangnya ketertarikan para aktor untuk mengetahui fakta-fakta terbaru yang ada dalam masyarakat. Kondisi stagnansi ini dilatarbelakangi adanya kontrol yang terlalu ketat dan luas sehingga tidak memberikan keleluasaan bagi aktor sector publik untuk berperilaku di luar yang telah ditetapkan oleh prosedur.
Peranan budaya organisasi juga terlihat dalam proses perekrutan pegawai dimana hingga saat ini, sector publik tertentu masih menggunakan spoil system. Perekrutan semacam ini mengakibatkan pegawai tersebut cenderung berperilaku bukan berdasarkan kemampuan dan keahliannya, namun hanya sebagai pelaksana dari tugas-tugas organisasi. Efek yang ditimbulkan dengan adanya perilaku semacam ini yaitu adanya diskriminasi peluang bagi setiap orang untuk bersaing secara
kompetitif dalam rangka menduduki jabatan tertentu dalam organisasi. Kondisi ini juga memberikan gambaran bahwa terdapat suatu budaya dominan dalam struktur birokrasi di Indonesia yang mana budaya tersebut dapat memicu keterlambatan proses pembangunan nasinoal. Oleh karena itu, agar sektor publik mampu mengikuti perkembangan zaman maka harus mampu mengubah kondisi stagnansi tersebut dengan pola-pola yang lebih dinamis dan mengikuti perkembangan zaman seperti mengubah mekanisme perekrutan dari spoil system menjadi meryt system yang lebih menekankan keterampilan yang dimiliki oleh calon pegawai ketika akan menduduki posisi tertentu dalam organisasi.
mengambil keputusan untuk menmperbaiki perubahan tersebut atau kembali kepada kondisi semula.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh sebuah Negara bukan hanya menjadi patokan bagi tingkah laku
individu. Akan tetapi, nilai-nilai budaya tersebut juga memiliki peran dalam menentukan arah dan strategi dari sebuah organisasi. Lebih jauh, budaya juga
Daftar Pustaka
Buku
Robbins, Stephen P. 1999. Prinsip-prinsip Perilaku Organisasi: Edisi Kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Internet
Ha, Joonkyung. 2015. “The Dynamics of Korea’s Economic Development: Growth Strategies and Public Sector Reform”. Kuliah Umum: “Korea Foundation 2015 Special Lecture Series on Korea” pada 16 November 2015
Kim, Andrew Eungi. 2015. Korean Culture and Hallyu: Beyong The Familiar. Kuliah Umum: “Korea Foundation 2015 Special Lecture Series on Korea” pada 16 November 2015
Membangun Budaya Organisasi di lingkungan pegawai pemerintah.___. http://www.bppk.
kemenkeu.go.id/images/file/malang/attachments/354_0%20Membangun
%20Budaya%20Organisasi%20Web%20BDK.pdf (Diunduh pada 17 November 2015)
Nasirin, Chairun.____. Reformasi Administrasi Publik: Sebuah Kajian Konseptual.
http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=258303&val=7023&title=REFORMASI%20ADMINISTRASI %20PUBLIK:%20%20SEBUAH%20KAJIAN%20KONSEPTUA (Diunduh pada 17 November 2015)
Rhamdini, Rizki Nisfi. 2014. Inilah Kebiasaan Unik Masyarakat Korea Selatan
http://www.kompasiana.com/rizkinisfie/inilah-kebiasaan-unik-masyarakat-korea-selatan_54f99439a3331178178b5240 (Diakses pada 18 November 2015)
Setyawan, Dodiet Aditya. 2014. Pengertian dan Konsep Dasar Kebudayaan.
Tap MPR No II Tahun 1998 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara.